Forgotten Love

“HaHee, tunggu!!!”
Kubalikkan tubuhku dan mendapati Soohwa onnie sedang berlari mengejarku.
“Kau sudah keluar dari rumah sakit ternyata, kenapa gak bilang-bilang?” tanya Soohwa onnie sambil mengatur napas nya.
“Onnie sudah kangen banget sama aku ya?”
Soohwa onnie membulatkan matanya menatapku. “Kangen sama kamu? Jelas gak! Onnie malah senang gak ada yang ganggu onnie selama kamu masuk rumah sakit kemarin….”
Aku menggembungkan pipiku. “Oh, gitu ya, kalo gitu aku balik ke rumah sakit aja sekarang…” sungutku.
“Dibecandain gitu aja ngambek, payah ah…” kata Soohwa onnie sambil menarik tanganku. “Ngomong-ngomong kamu beneran kecelakaan gak sih? Kok rasanya luka yang ada ditubuhmu cuma satu itu aja sich?”. Soohwa onnie menunjuk luka yang ada di kepalaku.
“Apa sih mau onnie? Aku lumpuh, hilang ingatan, tanganku patah, begitu? Sudah bagus cuma kepalaku saja yang luka….”. Lagi-lagi kugembungkan pipiku. Aku tak menyangka Soohwa onnie bisa kejam begitu.
“Aniyo, bukan begitu maksudku. Hanya saja, kau tahu. Biasanya kalau orang baru tertabrak mobil dia akan….”
“Yah, aku tahu onnie. Menurut saksi mata  yang ada di sekitarku waktu itu ada seseorang yang mendorongku ke tepi jalan, dan dialah yanng akhirnya tertabrak mobil…” jelasku.
“Bagaimana keadaan orang itu sekarang?”
“Molla, selama di rumah sakit aku tidak diperbolehkan keluar dan mencari tahu tentang pahlawanku itu. Onnie tau sendiri kalau Eomma dan Appaku overprotektif terhadapku.”
Soohwa onnie mengangguk-anggukan kepalanya. “Bagaimana bisa kau hampir tertabrak?” tanyanya lagi.
“Well, waktu itu aku sedang terburu-buru. Aku hampir terlambat ke tempat les…” kataku sambil nyengir kuda.
Soohwa onnie menjitak kepalaku. “Dasar ceroboh!!! Btw, onn masuk ke kelas dulu ya, takut telat…”
“Ne…”
“Kamu sendiri gak masuk kelas?”
“Ntar aja dech…”
“Emang guru yang ngajar di pelajaran pertama siapa?”
“Heechul songsaeknim, santai aja…”
“Mending kamu sekarang buru-buru ke kelas dech. Biar keliatan santai begitu, Heechul songsaeknim sangat mengerikan kalau marah…” kata Soohwa onnie sebelum berlari ke kelasnya.
Ngomong-ngomong kenalkan, namaku Han HaHee. Yang tadi itu adalah Soohwa onnie, sunbae yang kebetulan tetangga dan sahabatku dari kecil. Aku sudah menganggapnya sebagai onnieku sendiri, begitu juga sebaliknya. Sudah dulu ya, aku harus masuk kelas, kalian dengar kan, apa yang Soohwa onnie bilang tadi? Aku tidak mau dimarahi Heechul songsaeknim. Annyeong!!!

**********

“Bagaimana? Kau telat tadi?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Dia tu yang telat. Sampe nangis lagi pas dimarahin Heechul songsaeknim…” kataku sambil menyikut Donghae yang sedari tadi asyik bercanda dengan Eunhyuk.
“Eh, apa? Aku nangis? Jangan salahin aku donk. Heechul songsaeknim memang mengerikan pas bentak-bentak aku tadi…” kata Donghae, sekarang ia sedang joget-joget aneh bedua Eunhyuk. Pasangan aneh. Heran cewek-cewek di sekolah ini bisa bilang dia cowok paling ganteng di sekolah. Memang kuakui, Donghae mempunyai wajah tampan dan senyum yang menurutku seperti senyum anak kecil, menggemaskan. Dia juga tau bagaimana cara memperlakukan cewek dengan manis, akibatnya banyak cewek yang kegeeran. Suaranya juga bagus, jago dance, dan satu lagi, dia anak konglomerat.  Sayang aja dia cengeng, walaupun banyak cewek yang membela dia dan bilang kalau dia itu ‘sensitif’ bukan cengeng. Aneh, kalo cengeng ya cengeng aja kale.
“Noona,  HaHee, duluan ya. Aku sama Eunhyuk mau latihan dance dulu. Annyeong!!!” seru Donghae. Dia dan Eunhyuk langsung berlari sambil terus bercanda.
“Donghae kan ganteng, banyak cewek yang suka sama dia. Tapi kenapa semuanya dia tolak ya onn? Jangan-jangan dia gay lagi. Coba liat tu, akrab banget sama Eunhyuk, sampe kayak orang pacaran aja…” kataku ke Soohwa onnie.
Soohwa onnie terkikik mendengarnya. “Ngawur aja. Kita kan udah temenan sama mereka sejak kecil, emang mereka berdua udah kayak gitu dari dulu kali….”
“Tapi kan mereka sudah SMA sekarang onn, masa’ belum berubah juga. Bayangin aja, udah kelas satu SMA tapi belom pernah pacaran. Malah akrab banget sama sesama jenis. Apa gak mencurigakan tu?” sanggahku.
Soohwa onnie terdiam sebentar dan menatapku. “Kalau begitu kau juga patut dicurigai donk. Kamu juga belom pernah pacaran kan?”
Yap, aku kalah. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Segera saja kupercepat langkahku dan meninggalkan Soohwa onnie sendirian.
“Ya! HaHee! Tunggu!! Masa’ gitu aja ngambek sich?” panggil Soohwa onnie sambil berusaha mengejarku.
“Udah ah, pulang yuk, onn. Jangan bikin aku tambah bete lagi dech…” kataku kesal.
“Eh? Pulang? Kau bisa pulang sendiri kan? Aku ada rapat OSIS bentar. Anyyeong….” kata Soohwa onnie dan berjalan meninggalkanku ke ruang OSIS.
Tinggalah aku sendirian di sini. Huh, menyebalkan. Kubalikkan tubuhku dan berjalan pulang.
“HeeChan!!! Bogoshippoyo!!!” panggil seseorang, dan sedetik kemudian kurasakan seseorang memelukku dari belakang.
“KYA!!!” teriakku sambil berusaha melepaskan pelukannya. “Siapa kau?” bentakku.
“Masa’ kau lupa denganku, Hee Chan?” tanya cowok itu heran.
“Hee Chan?”
Dia hanya mengangguk.
“Kenapa kau memanggilku begitu?”
Cowok itu terdiam dan menatapku. “Kau benar-benar lupa padaku ya?”
“Memangnya siapa namamu?” tanyaku sambil berkacak pinggang.
Dia melipat tangannya di depan dada. “Coba ingat-ingat sendiri…”
“Males ah…” balasku dan langsung melenggang pergi meninggalkannya.
“Ya! Kau kejam sekali sich, HeeChan…”. Orang itu kembali memelukku dari belakang.
“Aish! Kau ini! Dasar cowok genit!!!”
“Coba ingat-ingat makanya!!”
“Beri aku sebuah petunjuk!!” pintaku.
“Dengan aku memanggilmu Hee Chan harusnya itu sudah menjadi sebuah petunjuk, bukan??”
Aku mengerutkan kening. Tidak mungkin orang ini adalah…
“Ah, lama sekali kau berpikir, sini mendekat, akan kubisikkan satu petunjuk lagi…” katanya.
Aku berjalan mendekatinya perlahan. “Cepat bisikkan!!” kataku tidak sabar.
Si genit lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku dan CHU~. Bukannya membisikkan sesuatu dia malah mencium pipiku.
“Ya! Apa-apaan kau!!”
Cowok tadi hanya tersenyum. “Anggap saja itu hadiah untukmu dalam rangka pertemuan pertama kita setelah 12 tahun tidak bertemu…” katanya santai.
“Santai sekali bicaramu. Cih, hadiah macam apa itu?”
“Bilang saja kau sebenarnya suka, mau lagi?” katanya sambil mendekatkan bibirnya ke pipiku.
“HaHee!!!”
Baru saja aku mau menampar orang ganjen itu terdengar suara Soohwa onnie memanggilku.
“Onnie? Gak jadi rapat?”
Soohwa onnie menggeleng pelan.
“Rapatnya ditunda. Kau sendiri kenapa masih di sini?”
“Gara-gara cowok genit ini, ni…” kataku kesal sambil menoleh ke belakang. Hey, mana si genit? “Lo, mana dia? Hey! Genit! Di mana kau?” panggilku. Aku berjalan mondar-mandir mencoba mencari si genit. Terlihat  Soohwa onnie hanya geleng-geleng melihatku begitu.
“Mungkin ini efek kecelakaan kemarin. Ayo, pulang…” kata Soohwa onnie sambil menarik tanganku.
“Aku yakin aku melihatnya tadi, onn…”
“Hmmm, lain kali saja kau ceritakan padaku. Ayo cepat pulang…” kata Soohwa onnie tegas dan kembali menarik tanganku.

**********

“HaHee! Cepat turun! Ada temanmu datang!!!”
Hah, siapa sich udah datang pagi-pagi begini. Padahal mumpung libur aku kan mau tidur-tiduran dulu. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidur dan turun ke ruang tamu.
“Ya! Eunhyuk! Ada apa kau datang pagi-pagi begini?”
Eunhyuk membalikkan tubuhnya dan tersenyum lebar. “Baru bangun? Dasar pemalas…” ejeknya.
“Gak usah banyak bacot! Cepet aja bilang ngapain ke sini!!” kataku cepat.
“Aku butuh bantuanmu…”
“Bantuan apa?”
“Temani aku cari kado…” kata Eunhyuk malu-malu.
Perasaan ngantukku langsung hilang. Eunhyuk minta temenin cari kado? Wah, jangan-jangan dia udah punya cewek. Kecurigaanku kemarin salah donk.
“Oke, tunggu bentar. Aku mau mandi dulu…” kataku dan langsung melesat ke kamar mandi.

**********

“Nah, cepat katakan siapa cewek yang kau taksir Eunhyuk. Kapan ulangtahunnya?” tanyaku begitu kami masuk ke dalam mall.
“Cewek?” tanya Eunhyuk.
Aku mengangguk dan terus berjalan ke deretan dress lucu yang dipajang di etalase. Sayang uang jajanku bulan ini sudah habis.
“Memangnya tadi aku bilang kalau aku cari kado buat cewek ya?” tanya Eunhyuk pelan.
Aku berbalik menghadapnya dan mengernyit heran. “Jadi, kadonya bukan buat cewek?” tanyaku.
Eunhyuk menggeleng.
“Lalu buat siapa?”
“Donghae, besok kan dia ulang tahun…” jawab Eunhyuk singkat.
Mwo? Kalau begitu buat apa aku menemaninya tadi? Dasar! Dugaanku semakin kuat sekarang! Eunhyuk dan Donghae memang tidak normal alias penyuka sesama jenis.
“Kalau cuma buat Donghae ngapain kau minta temenin aku segala?” bentakku.
“Kau kan teman Donghae sejak SD, kau tau segalanya tentang Donghae. Kupikir kau bisa membantuku memilihkan kado yang tepat untuknya…” kata Eunhyuk pelan.
“Kamu kan temennya sejak sd juga….”
“Tapi kamu 1 bulan lebih dulu kenal dengannya…” kata Eunhyuk ngotot.
Aku menghela napas panjang. “Kau punya uang berapa?” tanyaku pada akhirnya.
Eunhyuk mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan semua isinya. Hah, hanya beberapa lembar uang ribuan. Mana cukup untuk beli hadiah spesial dasar payah.
“Uangmu tidak cukup…”
“Hah? Masa’?”
Eunhyuk memandangku dengan mata berkaca-kaca. Lebay banget. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
“Kau harus menabung lagi…”
“Mana bisa? Ulang tahun Donghae kan besok…” gumam Eunhyuk.
Kasihan juga melihatnya menangis.
“Buat cake saja…” usulku.
“Cake?” ulang Eunhyuk.
“Uangmu cukup kok buat beli bahan-bahan cake…”
Eunhyuk mengangguk-angguk semangat. “Ayo, ayo cepat beli bahan-bahan cake…”
“Males, aku mau di sini saja, liat-liat dress lucu ini…” tolakku.
“Kau tega sekali, HaHee…”
Lagi-lagi mata Eunhyuk sudah berkaca-kaca. Akhirnya kuambil memo dari dalam tasku dan menulis bahan-bahannya. Biar dia yang cari sendiri nanti.
“Ini…” kataku sambil memberikan memo itu.
“Apa ini?”
“Bahan-bahan untuk membuat cake. Cari sendiri sana, biar aku tunggu di sini. Dan ini uang tambahan, takutnya uangmu kurang…” kataku dan dengan berat hati mengeluarkan seluruh isi dompetku.
“Aigo, gomawo, HaHee! Kau baik sekali…” seru Eunhyuk sambil memelukku. Jelas saja hal itu membuat orang-orang yang ada di sekitarku memandang ke arahku.
“Anak muda jaman sekarang, berani sekali memamerkan kemesraan di depan umum…” gumam seorang adjussi.
Huh, sungguh memalukan.
“Sudah, lepaskan pelukanmu…”
“Sekali lagi gomawo ya, HaHee. Aku mau beli bahan-bahan ini dulu. Jangan pulang duluan lo, kau harus mengajariku cara membuatnya nanti…” kata Eunhyuk sambil melepaskan pelukannya dan berlari pergi.
“Huh, merepotkan saja..” gumamku.
“Bogoshippoyo, HeeChan…”
Suara siapa lagi ini. Kutolehkan kepalaku dan…
“Ya! Genit! Sedang apa kau di sini?”
“Genit? Panggilan macam apa itu?” tanya si Genit gusar.
Aku meliriknya sekilas. “Salah sendiri kau tidak mau bilang siapa namamu, ya sudah, ku panggil saja genit…”
Genit memejamkan matanya sambil bergumam, “Tak kusangka kau benar-benar melupakanku Hee Chan, ingatanmu memang buruk…”. Sebuah senyuman lalu tersungging di wajahnya. “Ngomong-ngomong siapa cowok itu tadi? Pacarmu?”
“Hahahahahahaha….” tawaku meledak.
“Kau bilang gay tadi itu pacarku? Jangan sampe dech….”
“Memang pacarmu tidak marah kau jalan dengan cowok lain?” tanya genit lagi.
Aku tersenyum simpul. “Aku tidak punya pacar…”
Genit membelalakkan matanya. “Jinja?”
Aku mengangguk pelan. “Orang yang membuat nama panggilan HeeChan itulah yang membuatku tidak punya pacar sampai sekarang…”
Ups, keceplosan….
Saat kutolehkan kepalaku, terlihat genit sedang melirikku dengan lirikan jail. “Kau menyukai orang itu ya????”
“Bagaimana kalau sebenarnya orang itu aku?” tanya Genit lagi.
Aku menyipitkan mataku. “Tidak mungkin….” desisku.
“Wae?” kata Genit tidak mau kalah.
“Kelakuanmu jauh berbeda dengannya. Dia bukan orang sepertimu…” lanjutku dan bergegas berjalan meninggalkannya.
“Mungkin saja aku seperti ini karena permintaan seseorang…” katanya dan berusaha mensejajarkan langkahku.
“Seseorang?”
“Ne, mungkin saja aku berubah karena ada seseorang yang memintaku berubah seperti ini…”
“Heh? Mana ada orang yang menyuruh seseorang berubah jadi genit?” tanyaku dan mempercepat langkahku.
“Bagaimana kalau kubilang aku begini atas permintaan orang yang kucintai?” balas Genit.
Aku meliriknya tajam. “Orang yang kau cintai itu orang gila ya?”
“Hahahahaha……”
Bukannya menjawab, si Genit malah tertawa.
“Kau ini, sudah Genit, gila pula…”
“Kau benar-benar lucu, HeeChan…”
Apa lagi maksudnya? Aku tadi tidak mengatakan hal lucu bukan?
“Ya! Ha Hee! Aku sudah mendapatkan semua bahannya! Ayo pulang! Ajari aku cara membuat cake!!!” kata Eunhyuk yang tiba-tiba sudah ada di depanku.
“Eh, sejak kapan kau ada di sini?” tanyaku heran.
“Baru saja aku datang. Ayo cepat pulang!!!” kata Eunhyuk sambil menarik tanganku.
Kuarahkan pandanganku ke belakang. Mana si Genit? Kok udah gak ada sich? Bukannya dari tadi dia ada di belakangku? Cepet banget perginya. Sama kayak waktu di sekolah kemarin. Sebenarnya dia siapa?

**********

“Eomma, aku berangkat dulu ke acara ultahnya Donghae ya?” seruku sambil bergegas membuka pagar dan tak lupa menyambar kado yang ada di atas meja. Untung kemarin kemeja yang Appa beli kekecilan, jadi aku gak usah bingung-bingung lagi nyari kado buat Donghae. Uangku ludes buat nombokin Eunhyuk beli bahan-bahan buat cake. Waktu aku pulang dari rumah Eunhyuk sesudah ngajarin dia bikin cake juga toko-toko udah pada tutup.
Ketika kubuka pintu terlihat genit sedang berdiri membelakangiku.
“Genit? Sedang apa kau di sini?” tanyaku pelan.
Perlahan genit membalikkan badannya. OMO, wajahnya pucat sekali.
“Annyeong HeeChan! Bogoshippoyo…” kata genit sambil mencoba tersenyum.
“Ya! Apa kau tidak bisa mengucapkan kata-kata lain? Setiap kau bertemu denganku hanya kata-kata itu yang kau ucapkan! Bosen tau dengernya…” ucapku ketus.
Genit mencubit pipiku. “Mian kalau aku hanya bisa mengganggumu saja. Setelah ini aku janji aku tidak akan menganggumu lagi. Aku takut aku harus segera pergi. Satu hal yang ingin kukatakan, bogoshippoyo, HeeChan…”
“Tunggu! Kau tidak boleh pergi dulu!! Kau belum memberitahuku siapa kau sebenarnya!!!” seruku.
“Jeongmal mianhae, Hee Chan. Aku tidak punya banyak waktu sekarang. Suatu hari nanti kau pasti tau siapa aku..” kata Genit dan bersiap pergi.
“Ya!! Genit!! Tunggu!!”
“Ha Hee? Kenapa kau masih di sini? Bukannya kau bilang mau ke acaranya Donghae tadi? Sebentar lagi acaranya dimulai, lo…” kata Eomma mengejutkanku.
“Eh, tapi aku masih harus bicara dengan…”
“Dengan siapa? Tidak ada siapa-siapa kok…”
Aku memballik badanku. Ya, genit sudah tak terlihat.
“Sudah cepat pergi, nanti telat lo…” kata Eomma lagi.
“Ne, Eomma, anyyeong…”

**********

Selama pesta berlangsung pikiranku tertuju pada Genit. Mau kemana dia? Sebenarnya dia siapa? Tega-teganya dia pergi tanpa memberitahuku siapa dia sebenarnya.
“Ya! HaHee, apa pesta ku begitu membosankan?” tanya Donghae.
“Eh, aniyo, pestamu sangat keren kok…”
Jelaslah, gimana gak keren, pestanya diadain di hotel berbintang 5, tamu-tamunya selain teman sekelasku adalah cowok-cowok keren, ada Super Junior lagi. Heran, duit orangtuanya Donghae sebanyak apa sich?
Donghae mengerutkan keningnya.
“Kalau keren kenapa kamu dari tadi duduk di sini aja?”
“Aku cuma….”
“Ya! Donghae, ayo cepat ke sini! Kita foto-foto dulu, yuk….” panggil Eunhyuk
“Ne. Kuharap kau menikmati pestanya, HaHee. Aku ke sana dulu, ya…”
Aku hanya mengangguk.
“Mau kuantar pulang?”
“Ah, onnie….”
Soohwa onnie tersenyum dan mengulang pertanyaannya, “Mau kuantar pulang?”
“Tidak usah onnie…” kataku sambil mencoba tersenyum.
“Kau pasti sedang punya masalah sekarang…” kata Soohwa onnie sambil memakan cake yang ada di pangkuannya.
Aku menggeleng.
“Jangan berbohong! Kau lupa kita sudah berteman sejak SD, aku pasti tau kau sedang ada masalah sekarang…” gerutu Soohwa onnie sambil terus memakan cakenya.
“Oke, aku memang sedang punya masalah dan jujur, aku ingin pulang sekarang. Tapi, aku takut Donghae kecewa onn, nanti dia sangka aku pulang cepat karena pestanya yang payah, padahal kan dia sudah susah-susah merancang pesta ini jauh-jauh hari…” jelasku.
Soohwa onnie memasukkan potongan terakhir cakenya dan menatapku.
“Asal kau tahu, Donghae lah yang menyuruhku mengantarmu pulang. Daritadi aku, Donghae, dan Eunhyuk mengkhawatirkanmu. Kami yakin kau sedang ada masalah. Jadi ayo kalau mau pulang sekarang…”

**********

“Gomawo onn, sampaikan permintaan maafku ke Donghae ya…”
“Sep, tenang aja. Onnie balik dulu ya, anyyeong…”
“Annyeong….”
Kubuka pintu pagar rumah perlahan. Mobil siapa itu? Rasanya waktu aku berangkat tadi mobil itu belum ada dech, aku gak salah rumah kan?
Aku berjalan mundur dan memperhatikan rumahku. Benar ini rumahku, jadi mobil siapa itu?
Rasa penasaranku terjawab ketika melihat seorang ahjumma sedang duduk bersama Eomma dan Appa di ruang tamu.
“Aku pulang…”
Ahjumma itu langsung menatapku lekat-lekat dan berjalan ke arahku.
“Eh, ahjumma siapa?”
Tanpa menjawab pertanyaanku ahjumma itu langsung memeluk dan menangis di pelukanku.
“Eh, ahjumma kenapa?” tanyaku panik.
“Kau Han HaHee kan?” tanya ahjumma itu pelan.
“Ne, memang kenapa?”
“Syukurlah akhirnya aku menemukanmu…” kata ahjumma itu dan melepaskan pelukannya.
“Eh, sebenarnya ahjumma siapa?”
“Aku ibunya Cho Kyuhyun, apa kau masih mengingatnya?”
Cho Kyuhyun? Bagaimana aku bisa melupakannya? Tetangga dan teman akrabku sewaktu aku tinggal di Busan sekaligus cinta pertamaku. Bagaimana wajahnya sekarang ya?
“Tentu saja aku masih mengingatnya ahjumma, dimana dia sekarang?”
Cho ahjumma hanya tersenyum pahit.
“Aku akan menjemputmu sepulang sekolah besok untuk bertemu dengannya. Kyu sangat merindukanmu…”
“Aku juga ahjumma….”
“Sudah malam, aku pulang dulu, ya…”
“Ne, hati-hati di jalan, ahjumma…” seruku sambil mengantarnya ke depan gerbang.
Ah, aku lupa tanya, kenapa Cho ahjumma tadi nangis ya?
“Eomma…” panggiku saat Eomma mau masuk kamar.
“Ne?”
“Kenapa tadi Cho ahjumma nangis?” tanyaku.
“Kau akan mengetahuinya besok, HaHee. Sekarang lebih baik kau tidur saja, biar besok gak bangun kesiangan…”
Aku mengangguk dan berjalan ke kamarku. Ada apa sich sebenarnya?

**********

“HaHee, ayo pulang…” kata Soohwa onnie.
“Aku pulang sendiri saja hari ini, onnie. Ada sedikit urusan…” kataku sambil tersenyum.
“Oh,oke. Annyeong….”
“Annyeong…”
Begitu aku sampai di depan gerbang sekolah, terlihat Cho ahjumma sedang berdiri bersandar di mobilnya. Kenapa ahjumma kelihatan sedih sekali sich? Hah, ahjumma dan Kyu memang sama saja. Selalu murung.
“Ahjumma, sudah lama menungguku ya? Mian…”
“Oh, HaHee, aniyo, aku baru saja sampai. Mau berangkat sekarang?” tanya ahjumma dengan senyum yang dipaksakan.
Aku mengangguk semangat. Aku sudah kangen banget sama Kyu. Gak sabar dech pengen liat muka dia sekarang.
“Kau yakin sudah siap melihat keadaannya sekarang?” tanya Cho ahjumma lagi.
Aku memiringkan kepalaku, mencoba mencerna kata-kata Cho ahjumma. Memangnya bagaimana keadaan Kyu sekarang?
“Bagaimana? Yakin?” tanya Cho ahjumma lagi.
“Ne…” jawabku asal. Memangnya keadaan Kyu bagaimana sich? Kenapa ahjumma sampai harus tanya -tanya begini dulu.
“Kita sudah sampai. Ayo, turun…”
Rumah sakit? Kenapa berhenti di rumah sakit?
“Kyu ada di sini?” tanyaku.
Cho ahjumma hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu. Aku yang maasih bingung hanya bisa mengikutinya saja.
Tak lama, ahjumma berdiri di depan ruang ICU. Terlihat air mata mulai meluncur turun membasahi pipinya.
“Gwenchana, ahjumma?” tanyaku sambil berjalan mendekatinya.
Cho ahjumma hanya terdiam dan menatapku dalam-dalam. Lalu tatapannya beralih ke ranjang yang ada di dalam ruang ICU tersebut.
Seorang pemuda terlihat tergeletak di atas ranjang tersebut. Genit? Mataku terbelalak saat melihatnya. Ya, Genit lah yang sedang tertidur di situ.
“Itu Kyuhyun, HeeChan.” kaya Cho ahjumma akhirnya.
Aku hanya bisa terdiam mendengarnya. Kyuhyun? Si Genit itu Kyuhyun?  Kenapa sifatnya berbeda sekali?
Cho ahjumma lalu menarik tanganku masuk dan duduk di samping ranjang Kyuhyun. Terlihat banyak perban yang membalut tubuhnya.
“Dia kenapa ahjumma?” tanyaku pelan.
“Tertabrak mobil saat hendak menolong seorang perempuan…”
DEG
“Kapan?”
“Sebulan yang lalu..”
“Dimana?”
“Di dekat rumahmu…”
Omona, Kyuhyun begini karena menolongku. Tidak ada lagi kecelakaan mobil di dekat rumahku selain kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku kemarin.
“Dia sangat senang saat aku memberitahunya aku akan memindahkan bisnisku ke Seoul. Dia selalu mengatakan dia sangat rindu denganmu dan sangat ingin bertemu denganmu. Begitu  kami sampai di Seoul, dia langsung menghubungi teman-teman akrab mu saat di TK dan menanyakan alamatmu ke mereka. Tak kusangka sebelum dia bisa menemuimu dia malah harus mengalami hal ini. Keadaanya semakin lama makin memburuk saja…”.
Air mata cho ahjumma makin deras membasahi pipinya. Kurasa air mataku juga akan tumpah sebentar lagi.
“Saya pamit dulu, ahjumma. Besok saya pasti akan datang lagi, anyyeong…” kataku dan segera berbalik meninggalkan cho ahjumma dan Kyuhyun.

**********

“Aku pulang…”
“HaHee…”
“Aku mau ke kamar dulu, Eomma, aku capek sekali…” kataku sambil mencoba tersenyum.
Eomma hanya mengangguk dan membalas senyumku. Aku yakin Eomma sudah mengetahui keadaan Kyuhyun.
Segera kunaiki tangga menuju kamarku dan meghempaskan tubuhku ke kasur.
Kalau selama sebulan ini Kyuhyun terbaring di ICU, siapa yang selalu datang dan memelukku sambil mengatakan dia rindu padaku.
HaHee babo!!! Bisa-bisanya kau melupakan Kyuhyun dan tak mengenali wajahnya!! Kyuhyun saja masih bisa mengingat dan mengenal wajahmu!! HaHee babo!!!!!

**********

“Annyeonghaseo, ahjumma…”
Cho ahjumma yang sedari tadi tertidur di samping ranjang Kyuhyun langsung terbangun dan tersenyum menyambutku.
“Anyyeonghaseo, HaHee…”
“Bagaimana keadaan Kyu?”
Cho ahjumma melirik Kyu sekilas, “Tidak lebih baik dari kemarin…” katanya sambil mencoba tersenyum.
“Oh iya, hampir saja aku lupa, ini…” kata cho ahjumma sambil memberikan sebuah pin dengan gambar lingkaran kuning dengan mata dan mulut yang sedang tersenyum :D

FLASHBACK

“Kyunnie, ternyata kau ada di sini, aku capek tau mencarimu dari tadi…” omelku.
Kyu mendongakkan kepalanya dan menatapku.
“Kyunnie!! Kan sudah kubilang jangan menangis terus!! Appamu tidak akan tenang di alam sana kalau kau menangis terus…” kataku sambil duduk di sampingnya dan menghapus airmatanya dengan tanganku.
“HeeChan babo!! Aku bukan menangisi Appaku sekarang…”.
Kyu menepis tanganku.
“Terus apa donk?”
“Kau mau pindah ke Seoul kan?
“Kau tau darimana?”
“Benar kan?”
Aku mengangguk kecil, “Appaku dipindah tugaskan ke Seoul…”
Kyu mulai menangis. Hal inilah yang kubenci dari dirinya. Dia laki-laki tapi cengeng.
“Ya Kyunnie!! Jangan berlebihan seperti itu ah! Jarak Seoul-Busan itu tidak terlalu jauh…”
“Apa kau tega meninggalkan aku senidirian di sini?” tanya Kyu lagi.
“Tentu saja aku tega..” kataku dingin.
“Aku kan tidak punya teman selain kamu!!!”
“Alasan konyol! Asal kau tau, banyak orang yang mau berteman denganmu! Hanya saja kau yang selalu menutup diri!!”
Kyu hanya menunduk. Ya tuhan, sampai kapan dia mau begini terus.
Kulepas pin dari topiku dan memberikannya ke Kyu. “Ini, ambillah!”
Kyu mengambilnya dan menatapku dengan tatapan heran.
“Apa ini?”
“Ingat! Aku hanya meminjamkannya padamu dan kau harus berjanji akan mengembalikannya padaku suatu saat nanti kalau kita bertemu lagi!!”
“Daripada susah-susah lebih baik kukembalikan sekarang saja…” kata Kyu dan mengembalikan pin itu padaku.
“Kau baru boleh mengembalikan pin itu padaku dan menemuiku jika kau sudah bisa selalu tersenyum dan ceria seperti gambar wajah di pin itu!!” tolakku tegas.
Kyu membelalakkan matanya, “Kau cuma bercanda kan, HeeChan?”
Aku menggeleng tegas, “Aku serius, Kyu! Jangan pernah temui aku kalau kau belum bisa merubah sifat cengengmu itu!!”

END OF FLASHBACK

“Kyu memintaku untuk mengembalikannya padamu sebelum dia koma…” kata Cho Ahjumma.
Aku mengambilnya dan tanpa terasa air mata mulai memenuhi mataku.
“Aku keluar dulu, ya…” kata Cho ahjumma lagi.
Aku mengangguk kecil dan duduk di kursi yang tadi diduduki Cho Ahjumma. Perlahan aku menggenggam tangan Kyu.
“Mian Kyu, aku melupakanmu. Jeongmal mianhae…”
Tidak ada jawaban. Apa Kyu bisa mendengarku?
“Kyu, ayo bangun, jangan tidur terus, ayo kita main. Kita main seperti dulu…”
“Kyu, bangunlah, jebal….”
Air mataku mulai turun. Omo, kau harus bangun Kyu. Jangan pergi dulu…
“Saranghae…..” bisikku dan menundukkan kepalaku. Airmata benar-benar sudah membanjiri wajahku sekarang.
“Nado saranghae…”
Aku mengangkat kepalaku. Bisikan siapa itu? Atau aku hanya bermimpi???
Samar-samar terlihat Kyu yang sedang mencoba membuka matanya. “Nado saranghae, HeeChan…” kata Kyu sambil tersenyum.
Aku menutup mulutku dan memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
“Kau tunggu disini dulu, jangan kemana-mana…” kataku.
Kyu hanya tersenyum, “Memangnya dengan keadaan seperti ini aku bisa jalan-jalan?” tanyanya.
Tanpa menghiraukan kata-kata Kyu aku langsung keluar dan memanggil Cho ahjumma.

**********

“Annyeong….”
“Kau telat sepuluh menit!!” kata Kyu dari balik bukunya.
“Cuma sepuluh menit…” kataku sambil memamerkan senyum termanisku berharap Kyu bisa memaafkanku.
Kyu menurunkan bukunya dan menatapku kesal. “Tetap saja telat…”
Aku hanya bisa menghela napas panjang. “Oke, mian….”
“Hanya itu saja?” tanya Kyu sambil mengangkat satu alisnya.
“Kau mau aku bilang apa lagi?”
Kyu tampak berpikir sejenak dan mengeluarkan evil smile nya. “Traktir es krim…”
“Aniyo…” tolakku. “Uang jajanku bulan ini sudah menipis…”
“Kalau begitu kencan kita hari ini batal…” kata Kyu dan beranjak pergi.
Aku hanya bisa menganga. Bisa-bisanya aku berpacaran dengan cowok sepertinya. “Ya! Jeongmal mianhae Cho Kyuhyun. Jangan ngambek begitu, donk…” teriakku.
Kyuhyun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku dengan senyum evilnya. “Traktir es krim ya???”
Aku mengangguk pasrah. Habislah uang jajanku bulan ini. Tuhan, kenapa Kyu bisa jadi orang seperti ini? Rasanya lebih baik dia cengeng daripada jail begini. Salahku dulu menyuruhnya tidak cengeng. Kenapa juga aku bisa jadi pacarnya. Huh…
“Ayo berangkat, jagi…” kata Kyu sambil menarik tanganku.
Dasar, kalau kemauannya sudah dituruti, baru dia baik lagi…

**********

“Adjussi aku pesan tiga scoop es krim coklat, pakai semua topping yang ada di sini, biar nona ini yang bayar…” kata Kyu pada adjussi penjual es krim langganan kami.
“Kau mau pesan apa?” tanya Kyu.
Aku menggeleng lemah. Dengan es krim pesanannya tadi aku yakin uang di dompetku akan langsung ludes.
“Ya sudah, aku tidak mau membagi es krim ku nanti, lo…” kata Kyu dengan santainya.
“Aku tau, kau memang pelit…” balasku.
“Silakan dinikmati tuan…” kata salah seorang pelayan sambil meletakkan es krim pesanan Kyu di atas meja.
“Aku makan duluan ya…” kata Kyu dan dalam sekejap dia sudah makan dengan lahapnya.
“Kyu…” panggilku pelan.
“Hmm?”
“Waktu kau koma, bagaimana kau bisa menemuiku?”. Pertanyaan inilah yang selalu ada di bayanganku.
Kyu menghentikan kegiatannya sebentar dan berpikir. “Molla, selama koma aku hanya tidur sebenarnya walaupun masih bisa mendengar suara orang-orang di sekitarku, aku tidak bisa membuka mata, mulut, ataupun bergerak. Aku merasa mungkin sebentar lagi bidadari maut akan menjemputku…”
“Bidadari maut? Apa-apaan itu?” potongku.
“Aku tidak suka mengatakan malaikat maut, gambarannya pasti orang bertudung hitam menyeramkan. Lebih baik bidadari maut, wanita seksi dengan pakaian hitam serba ketat dan senyuman menggoda…”
“Sudah hentikan! Lanjutkan ceritamu..”.
Kyu mengerutkan keningnya. Mungkin dia tidak suka khayalan gilanya kuganggu.
“Sebenarnya aku belum mau bidadari maut menjemputku. Aku masih ingin bertemu denganmu dulu. Aku sangat merindukanmu. Kau tau bagaimana perasaanku saat Eomma memutuskan untuk pindah ke sini? Senang sekali. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata…”
“Lebay…” potongku lagi sambil mencomot es krimnya.
“Bisa tidak kau berhenti memotong kata-kataku?” geram Kyu.
“Langsung saja jawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa menemuiku waktu kau koma!!”
“Kau tau? Saat itu aku berpikir kalau aku mimpi. Karena aku sendiri tidak sadar dan tidak tau kenapa rohku bisa pergi menemuimu…” jawab Kyu singkat.
Aku hanya manggut-manggut.
“Mungkin karena aku terlalu rindu dan terlalu cinta padamu…” kata Kyu sambil tersenyum.
Tak pelak, wajahku memerah dibuatnya. “Gombal…” kataku sambil memalingkan wajahku.
Kyu menarik wajahku sehingga pandangan kami bertemu. “Aku serius, HeeChan…”
“Kalau begitu, bagi sedikit es krimmu untukku…” kataku sambil mengeluarkan evil smile andalan ku.
Kyu memajukan bibirnya beberapa centi. “Shireo. Aku sudah satu bulan lebih koma dan tidak bisa makan es krim. Tega-teganya kau mau mengambil es krim ini…”
“Kau ini! Sepertinya lebih cinta es krim ya daripada aku???” kataku dengan nada tinggi.
Wajah Kyu tiba-tiba memucat. “Kau marah ya, HeeChan? Jeongmal saranghae, tentu saja aku lebih mencintaimu daripada es krim ini…” kata Kyu pelan.
“Mana buktinya?”
Dengan berat hati Kyu mendorong mangkuk es krimnya yang masih berisi satu setengah coop es krim coklat.
Dengan senang hati kutarik mangkuk itu dan mulai memakan isinya. Kuambil sesendok dan memamerkannya ke Kyu yang sedari tadi memandang es krim itu. “Mau?” tanyaku dengan nada dingin.
“Aniyo, buat kau saja semuanya..” jawab Kyu lemah.
Aku tersenyum penuh kemenangan dan melahap es krim itu sampai titik es krim penghabisan. “Hmmmm….”
“Enak?” tanya Kyu sambil menelan ludahnya.
Aku hanya mengangguk dengan masih menampilkan ekspresi marah.
“Kau masih marah HeeChan?”
“…..”
“Ya! Jeongmal mianhae, HeeChan…”
“Hahahahah…..”. Aku tidak bisa menahan tawaku lagi. “Memangnya siapa yang marah?”
Kyu hanya menatapku bingung.
“Aku hanya bercanda, Kyunie…Kau kalah…Gomawo buat es krimnya…” kataku sambil beranjak dan pergi dari kedai es krim tempatku dan Kyu makan tadi.
“Ya! Tega sekali kau Han HaHee!!!” kata Kyu sambil mengejarku. “Kau….”
Kata-kata Kyu terpotong saat aku mengecup bibirnya pelan. “Jangan marah donk, jagi. Jadi jelek mukanya. Lagipula anggap saja itu salah satu bukti cintamu padaku…” kataku sambil tersenyum manis.
Wajah Kyu mulai memerah. “Apa pengorbananku saat menolongmu dari tabrakan truk itu masih kurang?”
Aku terdiam sesaat. “Eh…”
“Kau bilang itu masih kurang hah? Aku hampir mati gara-gara hal itu, tau?” kata Kyu serius.
Aku hanya menundukkan wajahku tidak berani menatapnya.
“Angkat wajahmu! Lihat aku Heechan!!” bentak Kyu.
Aku masih menunduk dan memejamkan mataku tidak berani memandangnya.
Kyu mengangkat daguku. Dengan takut kubuka mataku perlahan. Bukannya wajah marah, malah terlihat wajah Kyu memeletkan lidahnya di hadapanku sekarang. Apa-apaan ini?
“Satu sama. Kau tertipu…” seru Kyu. “Hahahahahaha…” tawanya meledak.
“Dasar…” umpatku.
“Jangan ngambek donk, jagi. Kalo ngambek aku kasih Ppoppo lo…” kata Kyu sambil mengerling nakal.
“Sejak kapan sich kau jadi genit begini?” tanyaku.
“Genit? Memangnya aku genit? Seingatku aku begini karena kau yang menyuruhku…” kata Kyu sambil berusaha mengingat-ingat.
“Aku hanya menyuruhmu tidak cengeng ingat? Bukannya menjadi genit begini…” kataku sambil menjitak kepalanya dan berjalan mendahuluinya.
Kyu mengejarku sambil mengelus-elus kepalanya. “Jahat sekali kau, jagi. Biar genit begini yang penting ada yang suka…”
“Siapa?”
“Han HaHee…” katanya dengan senyum evilnya.
“Nggak lucu…”
“Ya! HeeChan!! Tunggu!! Jangan ngambek jagi!! Saranghae…” teriak Kyu.
“Masa bodo…” balasku.

The End

By : Ocha

65 Responses to Forgotten Love

  1. kerennnn….jadi yang nolongin itu Kyu,,,pria sejati…ah Donghae juga pria sejati…gak maksain Heechan di pestanya….pria-pria kerennnn *drooling* wkwkwk

  2. whuaa..dasar Ha Hee babo!.cwo sckep kyu g’ dknalin..#PLAK! Gomawo,eon dah buatn ff pke namkorku dan pairing ‘kyuhee’..cium ka ocha sma lemparin kevin!

  3. mantaph cingu ff na..

    g bacanya sambil senyam senyum..
    lucu baca mereka saling ngerjain gt…

    tp hebat bgt pegorbanan kyu demi cinta na..
    so sweet…

    lanjut chingu bwt ff yg laen na.. hehehe..

  4. Waktu Kyu lg sekarat tegang bacanya… takut si evil Kyu mati..,, abisny d ff yg laen kan banyak yg nyeritain Kyu mati… kekeke :D

  5. kereeeenn…akhirny happy ending
    kbanyakan ff kyu identik dengan rumah sakit yaa..*hehehe*
    kyu..kmu ngegemesin deehh…
    crita laennya ya author…

    • Gomawo udah baca *bow*
      Eh, emang pada mau tau kelanjutannya Donghae, Eunhyuk, Soohwa ya?
      kalo banyak yang mau, ntar aku pikirin deh, mau bikin sekuelnya atau ga….

  6. Yeey, akhirnya bahagia :)
    Takut banget kalo sad ending,,
    Kyu disini manis ya, *emang manis kali*
    Ada nama baru uy, pasangan baru kyu
    Sebenarnya kyu punya berapa istri sih?! Kesal deh,, aku yg keberapa jadinya? Hahahaha *abaikan*

  7. gyahahaha…
    nice ff!
    kyu, bagi es krimnya…
    *apasih*
    waah abis baca ffnya shan onnie yg kyu yadong, aq ga jd selingkuh ama dy…
    eh, trus baca yg ini, aq mw selingkuh ama kyu…
    *dilempar ke pelukan wookie*
    mana soohwa, hae, unyuknya?
    bikin bagiannya mereka dong…
    aq penasaran, apa eunhae couple disini nyata ato nggak!
    *nyata? lu kira polpen?*
    *di tendang author krn komen gapen*

  8. wowwww… Ffnya seru dari awal mpe akhir… ^^~ suka waktu hahee bilang “genit”.. Dari awal aku mbayanginya si “genit” itu kyu :-D haha bagos dah author! Suka sangat saya

  9. Rada merinding baca tengahny, kyuuu bkin takut aja neh, gentayangan gtu *getok kyu pake palu cinta* #abaikan
    Endingny seruuuu….
    Kyuuuuu manissss kya gula :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s