Nae Nampyeon

Aku berjalan menuju apartemen dengan langkah gontai sambil memeluk barang belanjaanku. Aku baru pulang dari supermarket membeli barang-barang keperluan sehari-hari yang menipis. Matahari sudah tenggelam sempurna dari tadi. Harusnya aku cepat-cepat sampai apartemen dan memasak makan malam. Tapi entah kenapa, kakiku seakan enggan melangkah menuju apartemen neraka itu. Apartemen neraka? Ya, itulah sebutanku untuk apartemen mewah yang aku tinggali saat ini. Tinggal bersama seorang suami yang dingin, kasar, dan semaunya sendiri. Sebutan evil memang sangat cocok untuknya. Namanya Cho Kyuhyun. Seorang pewaris tunggal dari perusahaan Cho corporation, dan sekarang sudah menjadi direktur muda di salah satu cabang Cho corporation. Status kami menurut negara memang menikah, tapi menikah dengan keadaan terpaksa apakah bisa disebut menikah?

Choi Yoora imnida. Aku dijual oleh ayahku untuk menebus semua hutangnya pada Tuan Cho, ayah suamiku itu. Apakah kata-kataku terlalu kasar? Kurasa tidak. Kenyataannya aku memang telah dijual. Saat itu perusahaan ayahku mengalami kebangkrutan dan Tuan Cho menawarkan bantuan pada ayahku untuk menghidupkan kembali perusahaannya. Dan ketika Tuan Cho melihatku, tiba-tiba dia mengusulkan untuk mengenalkanku pada anaknya. dan akhirnya, aku dipaksa oleh ayahku untuk menikah dengan Cho Kyuhyun.

Aku memasuki apartemen dengan enggan. Terdengar suara berisik dari dalam. ‘Kenapa ada suara TV? Apa dia sudah pulang?’ batinku. Jantungku sudah berdetak tak keruan.

“Kau dari mana? Kenapa tak meninggalkan memo?”

Aku terlonjak kaget ketika mendengar suaranya tapi tak melihat wujudnya. Kemudian kulihat dia bangkit dan duduk hingga terlihat kepalanya yang menengok ke arahku. ‘Ternyata dia tadi berbaring di sofa. Pantas saja wujudnya tak terlihat.’ batinku.

“A-aku dari supermarket. Mianhae, kukira kau pulang malam. Mianhae, aku tidak tahu.” kataku sambil menundukkan kepalaku.

“Ya sudahlah. Sekarang siapkan air untukku. Aku ingin mandi. Dan setelah mandi, aku ingin langsung makan.”

“Nde.”

Aku segera melangkah menuju dapur untuk meletakkan belanjaan dan kemudian berjalan menuju kamar mandi di kamar kami untuk menyiapkan air untuknya.

“Kenapa aku bisa begitu lalai hingga tak meninggal memo untuknya? Untung saja dia tak menamparku.” gumamku sambil mengamati bath up yang mulai terisi air.

Setelah bath up penuh terisi air, aku pun memanggilnya.

“Kyuhyun-ssi, airnya sudah siap.”

“Ne.”

Kemudian aku berjalan ke dapur dan mulai memasak makan malam. Ketika aku mengaduk sup tomat yang kumasak, kurasakan tangan kekar melingkar di perutku.

“Kyuhyun-ssi, apa yang kau lakukan?” tanyaku.

Dia diam saja dan malah makin mengeratkan pelukannya.

“Kyuhyun-ssi, aku sedang memasak. Bisa kau lepaskan tanganmu?” kataku dengan suara lirih. Aku benar-benar takut padanya.

“Kau berani menyuruhku?” tanyanya dengan nada mengancam.

“A-aniyo. Tapi aku sedang memasak. Bagaimana nanti kalau masakannya gosong? Aku tak mau kau menunggu lebih lama untuk makan malam.” lagi-lagi aku berbicara dengan pelan.

Kurasakan pelukannya mengendur. Kemudian dia berjalan menuju ruang tengah dan menyalakan TV. Aku menghela nafas lega. Aku sudah takut kalau dia akan menamparku. Dia memang sangat suka menamparku, tak jarang juga dia menjambak rambutku. Apakah aku korban KDRT? Ya, benar sekali.

Setelah masakanku matang, aku segera menghidangkannya di meja makan dan memanggilnya.

“Kyuhyun-ssi, makan malam sudah siap.” kataku.

“Ne.” Dia beranjak dari sofa menuju meja makan.

Kami makan dalam diam. Setelah selesai, aku segera membereskan meja makan dan mencuci piring. Ketika membasuh tanganku seusai mencuci piring, lagi-lagi kurasakan tangan melingkar di perutku.

“Kyuhyun-ssi…” Suaraku terdengar bergetar.

Dengan cepat dia menggendongku menuju kamar. ‘Apa yang akan dia lakukan?’ batinku. Aku benar-benar ketakutan sekarang. Apakah dia akan melakukannya lagi terhadapku? Lagi? Ya, dia sering melakukannya padaku, dan itu sangatlah kasar. Aku selalu menangis ketika dia melakukannya.

Dia merebahkanku di ranjang dan mulai mencium bibirku penuh nafsu. Kemudian, dia pun mulai melakukannya.

———–

Kurasakan silau matahari yang masuk melalui celah tirai pintu balkon ketika aku membuka mata perlahan. Wajahku menghadap dada bidang milik Kyuhyun yang tak tertutup pakaian. Tubuhku tertutup selimut, dan tangan Kyuhyun memeluk tubuhku yang polos. Kurasakan rasa nyeri di daerah sensitifku. Dengan perlahan, kusingkap selimut dan menggeser tubuhku lalu menggantinya dengan bantal sebagai ganti tubuhku yang tadi dipeluk olehnya agar dia tak terbangun.

Aku beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Kemudian aku menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya. Setelah sarapan siap, aku melihat dia sudah tak ada di ranjang. Lalu, aku mulai membersihkan apartemen.

“Yoora-ya, temani aku sarapan.” katanya. Salah satu kebiasaannya yang kuhafal adalah dia tak pernah mau makan sendiri. Kata eomonim, dari kecil Kyuhyun tak pernah mau makan sendirian.

“Ne.” Aku segera bangkit dan mengikutinya ke meja makan.

Setelah selesai sarapan, aku bangkit hendak membereskan meja makan.

“Duduk. Aku mau mengatakan sesuatu.” katanya.

“Ne?”

“Duduklah.”

“Ne.”

“Besok aku akan ke Jepang. Kemungkinan aku akan lama di sana. Appa menyuruhku membawamu ikut. Tapi kurasa, kau malah akan merepotkanku. Jadi, aku akan berangkat sendiri ke sana.” katanya.

“Boleh aku bertanya?” tanyaku pelan.

“Mwo?”

“Berapa lama kau di sana?”

“Mungkin sekitar satu-dua bulan.”

“Urusan bisnis?”

“Ne.”

“Apakah boleh jika aku menginap di rumah temanku ketika kau di Jepang, Kyuhyun-ssi?”

“Boleh. Asal ketika aku pulang, kau harus ada di rumah.”

“Kamsahamnida. Bisakah kalau kau mau pulang, kau menghubungiku dulu, Kyuhyun-ssi?”

“Ne. Aku akan menghubungimu.”

“Baiklah.”

“Aku ke kantor sekarang.” katanya ketika beranjak dari duduknya kemudian keluar.

Haaaahh… Aku benar-benar merasa kalau hubungan kami ini sangat aneh. Kaku. Entahlah, aku bingung menjelaskannya. Kami menikah karena orang tua kami. Ah, sebenarnya aku tak tahu kenapa dia mau menikah denganku. Aku pernah menanyakannya, tapi…

~flashback~

Setelah mencuci piring bekas makan malam, aku duduk di samping Kyuhyun yang sedang menonton televisi. Berusaha menikmati acara televisi yang ditonton oleh Kyuhyun. Tapi tetap saja aku tak mengerti karena yang dia lihat itu acara tentang ekonomi bisnis. Apa seorang direktur harus seperti itu?

Aku sedikit menolehkan wajahku ke arahnya. Kupandangi wajahnya yang serius itu. Tampan, sangat tampan. Tapi, dia begitu menyeramkan.

“Wae? Kenapa memandangiku?” tanyanya tanpa mengalihkan matanya sedikitpun.

“Ani-aniyo.”

Kami terdiam lagi.

“Chogi, aku ingin bertanya padamu Kyuhyun-ssi. Bolehkah?” aku memang selalu minta izin ketika hendak bertanya padanya. Karena aku pernah bertanya tanpa izinnya, dia langsung menatapku tajam dan pergi begitu saja. Aku benar-benar takut dengan ekspresinya saat itu.

“Mwo?”

“Kenapa kau mau menikahiku? Bukankah kalau kau menolak pernikahan ini, kita tidak akan menikah?”

“Kau berani bertanya seperti itu padaku?” Dia berdiri dan berteriak dengan nada tinggi.

“Ani-aniyo. Aku hanya ingin tahu.” kataku sambil menundukkan kepalaku.

Tiba-tiba dia menarikku hingga aku berdiri dan menjambak rambutku.

“Aku tak suka kau bertanya sesuatu yang menyangkut urusanku? Ara?”

“Ar-arasseo.” kataku lirih sambil menahan sakit di kepalaku.

~flashback end~

Aku benar-benar tak mengerti jalan pikirannya. Aku selalu bertanya-tanya, kenapa dia begitu kejam padaku. Tapi ya sudahlah, toh memang ini nasibku.

—————

Hari ini, sudah satu setengah bulan setelah keberangkatan Kyuhyun ke Jepang. Hampir tak ada bedanya. Apartemen tetap sepi seperti biasanya. Yang berubah hanya, tak ada lagi suara tamparan, suara jeritan tertahanku, dan suara TV yang menayangkan acara yang tak kumengerti.

Hari-hari tanpanya kulewati di rumah orang tuaku, rumah chinguku, dan di apartemen. Seolah-olah aku merasa kehilangan dirinya. Tapi tetap sama saja antara dirinya ada ataupun tidak. Malah kalau dia ada, dia akan menyiksaku. Hidupku sangat membosankan.

Aku sedang membersihkan apartemen sekarang. Tiba-tiba aku merasa pusing dan mual. Aku segera berlari ke kamar mandi dan berusaha memuntahkan sesuatu. Tapi nihil, aku hanya ingin merasa muntah.

Hal itu berlangsung terus-menerus. Tiba-tiba aku teringat kalau jadwal haidku sudah mundur 2 minggu. Karena aku tak punya testpect, aku segera ke rumah sakit dan memeriksakannya.

“Anda hamil, Yoora-ssi. Selamat.” Kata dokter yang duduk di depanku sambil memegang hasil pemeriksaanku.

“Ha-hamil?”

“Ne, umur kehamilan kira-kira sudah 5 minggu.”

“5 minggu?”

“Ne. Sekali lagi selamat, Yoora-ssi.”

“Ne. Kamsahamnida.”

“Oya, kenapa tak datang dengan suami anda?”

“Eh? Suami saya sedang ada urusan bisnis di Jepang.”

“Oh. Jaga diri anda baik-baik, Nyonya. Ini resepnya, vitamin untuk kandungan anda.”

“Kamsahamnida, uisa.”

“Ne.”

Aku keluar dari ruangan dokter. Aku hamil? Benarkah aku hamil? Apakah Kyuhyun akan senang mendengar berita ini? Atau… dia malah tak senang jika mendengar aku hamil? Agh! Entahlah.

—————–

Dua minggu kemudian, Kyuhyun pulang dari Jepang. Dia tampak lebih kurus. Kata eomonim ketika kami makan malam bersama, Kyuhyun seperti tak ada yang mengurusi. Dan abeonim mengatakn kalau Kyuhyun pasti menyesal tak membawaku ikut serta. Sedangkan aku hanya tersenyum kaku. Aku selalu teringat dengan kehamilanku ini. Aku belum memberitahukan hal ini pada siapapun. Aku takut.

Ketika sampai di apartemen setelah makan malam bersama dengan mertuaku, Kyuhyun segera mengganti bajunya dan menyalakan laptopnya.

“Kyuhyun-ssi, apa kau tak mendapat liburan setelah bekerja keras selama di Jepang?” tanyaku sambil duduk di ranjang memperhatikannya.

“Ani. Wae?”

“Kau tampak kurus. Apa kau tak pernah makan cukup?”

“Aku makan ketika aku lapar.”

“Mwo? Kenapa kau tak makan tepat waktu?”

“Apa urusanmu?”

“Aku istrimu kan?”

“Lalu?”

“Kyuhyun-ssi, apa kau tak menganggapku sebagai istrimu?”

“Apa maksudmu?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Kyuhyun hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa mengalihkan matanya dari laptop di hadapannya.

“Aku hamil.” kataku lirih.

“MWO?” Tapi sepertinya dia mendengar ucapanku tadi.

“Aku hamil, Kyuhyun-ssi.” kataku sambil menatap wajahnya.

“Dengan siapa kau hamil?”

“Mwo?”

“Katakan padaku dengan siapa kau hamil?” dia mendekatiku dengan tatapannya mengerikan.

“Kyuhyun-ssi, apa maksudmu?” aku benar-benar tak mengerti dengan ucapannya.

“DENGAN SIAPA KAU HAMIL??” Kyuhyun berteriak di depan wajahku.

“Tentu saja denganmu. Kau suamiku.”

“Aku pergi selama dua bulan, dan ketika aku pulang kau hamil? ITU ANAK SIAPA??”

“Usia kandunganku sudah 6 minggu. Dan kita sempat berhubungan dua hari sebelum kau ke Jepang. Ini anakmu, Kyuhyun-ssi. Kenapa kau bisa berpikiran bahwa ini bukan anakmu? Aku bukan pelacur!”

“Aku tak percaya padamu.” katanya sambil menarik bantal dan selimut dengan kasar.

Aku menangis sejadi-jadinya. Bagaimana mungkin suamiku tak percaya kalau ini anaknya? Apa yang harus kulakukan agar dia percaya? Ottohke?

———————

Ini sudah seminggu dia tak pernah mau tidur satu ranjang denganku dan tak pernah mau makan masakanku. Walaupun dia sering kasar denganku, jujur aku menganggapnya sebagai suamiku. Kalau aku katakan aku mencintainya, entahlah aku tak tahu. Yang aku rasakan saat ini adalah bahwa aku merasa kehilangan dirinya. Aku merasa ada yang kurang. Dan aku merasa hatiku sakit ketika melihatnya. Pagi ini aku ke dapur lebih pagi. Aku tak bisa tidur semalam. Mataku tak mau terpejam padahal aku sangat lelah dan ingin tidur.

Saat berjalan ke dapur, tiba-tiba aku merasa perutku sakit. Aku berteriak dan terduduk karena tak mampu menahan sakitnya.

“Ya! Kau kenapa?” tanya Kyuhyun sambil menguap dan mengusap-usap rambutnya.

“Sa..kit..Kyu.” kataku terbata-bata.

“Urus saja sendiri anakmu itu.”

“Kyu..tolong..hhh.”

“Aku mandi dulu ya.”

“Kyuu..hhhh”

Kulihat dia pergi meninggalkanku. Hingga tiba-tiba penglihatanku memudar dan semuanya gelap.

—————–

Aku membuka mataku perlahan mencoba menghalau sinar yang menusuk mataku.

“Sudah bangun?” tanya seseorang.

Aku menengok, ternyata Kyuhyun. Aku hanya melihatnya. Kulihat dia menekan tombol pemanggil suster dan tak lama suster datang.

“Anneyong hasseo.” sapa suster itu ramah.

“Anneyong hasseo.” balasku lemah.

Kemudian tekanan darahku diukur dan suster itu mengecek infusku.

“Anda sudah lebih baik, Yoora-ssi. Kandungan anda melemah. Sepertinya banyak hal yang sedang anda pikirkan. Cobalah rileks, Yoora-ssi. Karena jika anda stress, hal itu akan berpengaruh pada janin anda.” kata suster itu panjang lebar.

“Ne suster. Kamsahamnida.” kataku.

“Ne. Saya permisi.”

Suasana sepi. Kyuhyun hanya menatapku datar.

“Kau tak ke kantor?” tanyaku.

“Abeoji akan memarahiku kalau aku ke kantor.”

“Apa kau masih berkeyakinan kalau anak ini bukan anakmu?”

“Molla.”

“Kyuhyun-ssi, apa kau tak mendengar kata suster tadi? Stress akan berpengaruh pada janin ini. Dan kau lah yang membuatku stress arena tak mau mengakuinya sebagai anakmu.”

“Molla.”

“Kyuhyun-ssi, jebal.”

“Molla.”

“Apa hanya kata-kata itu yang bisa kau ucapkan?”

“…..”

Aku terus menangis hingga tubuhku bergetar. Kyuhyun tetap diam di tempatnya. Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikirannya.

“Bukankah selama ini kau tak pernah melihatku bersama pria lain, Kyuhyun-ssi? Kenapa kau bisa mengatakan kalau ini bukan anakmu?” tanyaku sambil terisak.

“Arasseo arasseo. Itu anakku. Kau puas?? Jangan menangis, sebentar lagi orang tua kita akan datang.” katanya.

“Apa kau terpaksa?”

“Kalau kau bertanya lagi, aku akan keluar.”

Aku hanya diam mendengar jawabannya. Apa dia benar-benar mengakui janin ini sebagai anaknya?

————

Kehamilanku sudah menginjak 9 bulan. Aku benar-benar takut menghadapi kelahiran nanti. Kata orang, melahirkan itu benar-benar menyakitkan.

Ketika aku hendak menyiapkan makan malam, tiba-tiba perutku sakit. Teramat sangat sakit. Apa aku akan melahirkan?? Aku berteriak memanggil Kyuhyun dan dia langsung menggendongku ke mobilnya, dan melajukan mobilnya ke rumah sakit.

Kyuhyun tak mau masuk ke ruang persalinan, tapi aku tetap memegang erat tangannya. Akhirnya diapun masuk dan menemaniku di ruang persalinan.

Setelah beberapa lama, tangisan bayipun terdengar.

“Selamat, bayi kalian laki-laki.” kata sang dokter.

Aku tersenyum samar, dan langsung pingsan.

————-

Aku membuka mata perlahan.

“Yoora-ya, kau sudah bangun?” kudengar suara eomma.

Aku menolehkan kepalaku dan melihat eomma duduk di samping ranjangku. Di belakang eomma, ada eomonim yang menggendong bayiku dan Kyuhyun yang menatapnya datar.

“Aigooo~ bayi ini benar-benar mirip dengan Kyuhyun ketika bayi.” kata eomonim sambil menimang-nimang bayiku.

Kulihat Kyuhyun tersenyum samar. Apakah dia akan luluh ketika melihat bayinya dan benar-benar mau mengakuinya?

“Kyuhyun-ah, apa kau tak mau menggendong bayimu ini? Dari tadi kau hanya mengamatinya tapi tak menyentuhnya sama sekali.” kata eommonim.

“Aku tak bisa menggendongnya eomma.”

“Aigoo~ Kau sudah menjadi seorang ayah, tapi tak bisa menggendong bayimu sendiri. Ayah macam apa kau ini?” Eomonim memang orang yang terbuka. Gampang sekali mengatakan apa yang dipikirkan dan dirasakannya.

“Eomma, aku tak bisa. Bagaimana nanti kalau jatuh? Bukankah itu lebih berbahaya.”

Aku hanya tersenyum melihat adu mulut ibu dan anak itu. Eommaku juga tersenyum melihatnya. Ternyata eomma juga memperhatikan mereka.

“Aish, coba dulu. Dulu ketika kau lahir, appamu itu terus saja menggendongmu. Kenapa ketika anakmu lahir, kau malah tak menggendongnya?”

“Eomma.”

“Coba dulu. Eomma bantu. Kau duduk saja, biar lebih mudah.”

Aku melihat eomonim membantu Kyuhyun menggendong bayi kami. Kami? Ya, karena bayi itu bayi kami berdua. Kyuhyun menggendongnya kaku.

“Ya! Kyuhyun-ah! Kau itu menggendong bayi tapi seakan-akan kau ingin memakannya.” teriak eomonim.

Aku dan eomma tertawa kecil mendengar kata-kata eomonim.

“Lihat, apa kau tak malu pada eomonimmu? Menggendong bayi saja tak bisa. Ayah macam apa kau?” lagi-lagi eomonim mengomel pada Kyuhyun.

“Sudahlah Nyonya. Mungkin ini pengalaman yang baru baginya.” kata eommaku.

“Dia memang tak pernah menyukai anak-anak. Terutama bayi.” kata eomonim.

Aku terkejut mendengar perkataan eomonim. Bagaimana kalau Kyuhyun benar-benar tak mengakuinya sebagai anaknya? Dia tak menyukai bayi, ottohke? Namun kulihat Kyuhyun mulai rileks menggendong bayi kami. Sepertinya, dia mulai terpesona pada anak kami. Perasaan khawatirku menghilang sedikit demi sedikit.

“O iya, siapa nama untuk bayi kalian ini?” tanya eomonim.

“Eh?” aku dan Kyuhyun menatap eomonim dengan tatapan bingung.

“Jangan bilang kalian belum menyiapkan nama untuknya.”

“Jinwoo. Namanya Cho Jinwoo.” kata Kyuhyun. Aku menatapnya terkejut. *author lagi tergila-gila sama Park Jinwoo. hahaha* #plak

“Jinwoo? Nama yang bagus.” kata eomonim.

“Ya, nama yang bagus.” eomma menimpali.

Aku tak menyangka, Kyuhyun yang memberi nama bayi kami. Entahlah, aku benar-benar merasa senang sekarang.

————-

Usia Jinwoo menginjak tiga bulan. Terkadang Kyuhyun bermain dengannya, tentunya ketika dia sedang tidak ada kerjaan. Seperti saat ini.

“Kyuhyun-ssi, bisa bantu aku menjaga Jinwoo. Aku mau memasak untuk makan malam.” kataku padanya yang baru saja selesai mandi.

“Ne.”

Kemudian dia menggendong Jinwoo dan membawanya ke sofa ruang tengah. Dia sudah bisa menggendong Jinwoo sekarang.

“Kyuhyun-ssi, apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanyaku ketika kami sedang makan malam.

“Hm.”

“Apa kau menyayangi Jinwoo?”

“Apa maksud pertanyaanmu?”

“Aku hanya ingin tahu. Katakan padaku, apa kau menyayangi Jinwoo?” Sifat manjaku keluar. Ya, sebelum menikah dengannya, aku memang gadis yang manja.

“Apa hal itu harus kau tanyakan lagi?”

“Aku ingin mendengar jawabanmu.”

Dia menatapku sebal. “Ne. Aku menyayanginya. Kau puas?”

“Ne. Aku puas Kyuhyun-ssi.”

“Dan sekarang, berhenti memanggilku Kyuhyun-ssi.”

“Eh?”

“Telingaku gatal mendengar kau memanggilku Kyuhyun-ssi.”

“Lalu, aku harus memanggilmu apa?”

“Panggil oppa saja. Aku lebih tua 4 tahun darimu.”

“Oppa?”

Dia tak menjawab dan terus melanjutkan makannya. Sedangkan aku, keningku berkerut heran. Apa maksudnya? Tapi dengan perlahan, bibirku tertarik ke atas menyunggingkan senyum simpul.

Dia sudah berubah. Ya, dia sudah berubah. Walaupun dia tetap dingin, tapi setidaknya dia sudah tak main tangan denganku. Bahkan aku kadang merasa, dia sangat memperhatikan aku. Hahaha. Jujur saja, selama dua tahun lebih bersamanya, aku sudah mulai mencintainya. Wajah tampan, pewaris tunggal Cho corp dan sekarang sudah menjadi direktur, dan cool. Menjadi istrinya, memang sangat membanggakan. Itu jika dilihat dari luarnya saja. Cinta memang bisa tumbuh seiring kebersamaan. J

————-

Setelah menidurkan Jinwoo di baby box-nya, aku merebahkan tubuhku di ranjang. Kulihat Kyuhyun menyandarkan tubuhnya yang disangga bantal di kayu sandaran kasur sambil membaca buku.

“Oppa.”

“Hm.” Dia tak mengaihkan matanya dari buku.

“Saranghae.” Sepertinya aku sudah dirasuki setan, tiba-tiba saja aku mengatakan hal tersebut. Ini adalah kata cinta pertama yang terucap selama kami bersama.

“Nado.” Terdengar seperti gumaman saja. Dia masih tak mengalihkan matanya dari buku yang dia baca.

“Mwo?”

“Wae?”

“Kau tadi bilang apa oppa?”

“Aku tidak suka mengulang perkataanku.”

“Aku tak ingin salah paham oppa. Katakan sekali lagi yang oppa katakan tadi. Jebaaal.”

“Nado.”

“Nado apa oppa?”

“Aiiish, aku tahu maksud terselubungmu itu. Tapi jangan harap aku mau memenuhinya.”

“Oppa, kau menyebalkan.”

“Bukankah dari dulu juga begitu?”

“Oppaaa, jebaaal.”

“Andwe.”

“Oppaaa…”

“Kau tahu kan aku tak suka pada orang yang merajuk?”

“Terserah. Aku akan terus merajuk sampai oppa mengatakannya.”

“Kalau begitu aku tidur diluar saja.”

“Oppaaa…”

Kyuhyun hendak turun dari ranjang, namun aku langsung memeluknya dari belakang.

“Jebaaal, aku hanya ingin mendengarnya saja. Mungkin hanya sekali seumur hidupku. Malhae oppa. Jebaaal.”

“Aiish, kenapa aku bisa memiliki istri yang menyebalkan seperti dirimu?” dengusnya pelan, tapi aku tetap mendengarnya. Kemudian dia membalikkan tubuhnya mengahadapku.

“Mwo? Istri yang menyebalkan?”

“Ne. Kau benar-benar menyebalkan.”

“Jeongmal?”

“Ne.”

“Aiish, walaupun aku menyebalkan, oppa tetap mencintaiku kan?”

“Mwo? Mencintaimu? Bermimpi sajalah kau Yoora.”

“Kenapa kau tak mau mengakuinya oppa? Tadi kau sudah bilang nado kan.”

“Nado apa? Aku tak pernah bilang aku mencintaimu.”

“Kalau  begitu katakan sekarang.”

“Sirheo.”

“Wae?”

“Sirheo.”

“Oppa, setidaknya katakan sekali saja. Seumur hidupku, aku tak pernah mendengar kata-kata cintamu padaku.”

“Memangnya aku mencintaimu?”

Aku hanya diam menatapnya dengan puppy eyesku.

“Aiish, geure geure.”

“Katakan oppa.”

Aku mendengar Kyuhyun mendengus kasar.

“Saranghae.”

“Aku tak medengarnya oppa. Ulangi sampai aku mendengarnya.”

“Kau tadi bilang hanya sekali dan aku tak mau mengulanginya lagi.”

“Oppaaa…” Aku menatapnya dengan puppy eyesku lagi.

“Aiish, jinja.”

Aku terus memandangnya dengan puppy eyesku agar dia mau mengatakannya.

“Saranghae. Kau puas?” katanya dengan suara lantang.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi.

“Oppa, kau membuat anakmu terbangun.” kataku sambil beranjak menuju box baby Jinwoo. Aku mendengarnya mendengus. Kenapa dia suka sekalis mendengus??

“Jinwoo-ya, uljima. Appamu memang seperti itu. Tapi walaupun galak, dia sangat menyayangi kita.” kataku sambil menimang-nimang Jinwoo.

“Ya! Ya! Apa maksudmu?” Kyuhyun berteriak sambil berjalan mendekatiku yang menimang Jinwoo. Jinwo menangis lebih keras ketika mendengar teriakan Kyuhyun.

“Aku hanya menenangkan Jinwoo. Lihat, tangisnya makin keras. Oppa dia sajalah.” Aku terus menimang Jinwoo agar dia berhenti menangis.

“Sini, biar aku yang menggendongnya.”

Aku memandangnya terkejut.

“Sini, berikan Jinwoo padaku.” katanya lagi.

Kyuhyun menggendongnya dan tak lama Jinwoo pun kembali terlelap.

“Lihat, dia itu takut padamu, bukan padaku.” katanya ketika dia membaringkan Jinwoo di baby box.

“Ara ara.” kataku melengos dan kembali merebahkan tubuhku di ranjang.

Aku berbaring membelakanginya. Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan memeluk pinggangku dari belakang.

“Saranghae.” kata Kyuhyun tepat di telingaku yang membuatku merinding.

Aku hanya terdiam medengar kata-katanya tadi.

“Aku tak tahu kenapa aku bisa mencintai wanita seperti dirimu. Suka merajuk, manja, cengeng, ceroboh. Semua hal yang kubenci dari seorang perempuan. Tapi kenyataannya aku malah mencintaimu dengan semua sifatmu yang kubenci.” katanya panjang lebar.

Aku menangis. Aku seakan tak percaya sudah mendengar perkataannya barusan.

“Ya! Kenapa menangis, istriku yang cengeng? Kau terharu dengan kata-kataku?” Dia bangun dan melihatku yang sedang menangis.

Aku terus saja menangis. Aku benar-benar seperti sedang bermimpi. Tiba-tiba dia menarikku hingga aku terbangun dan memelukku.

“Uljima. Mukamu jelek ketika menangis.” katanya sambil terkekeh.

Setelah aku tenang, Kyuhyun melepaskan pelukannya dan mengusap wajahku yang penuh dengan air mata keringat. *menangis itu mengeluarkan banyak tenaga, jadinya berkeringat. ehehehehe*

“Lihat, bajuku jadi basah gara-gara kau menangis di sini.” katanya sambil menunjuk bajunya yang basah.

“Siapa yang menyuruhmu memelukku?”

“Tadi ada setan lewat yang menyuruhku untuk memeluk istri cengengku ini yang menangis karena terharu dengan kata-kataku.” katanya sambil terkekeh.

Aku memukul dadanya. Enak saja dia mengataiku cengeng.

“Hahahaha.” dia terusa saja tertawa. Ini yang pertama kalinya dia tertawa lepas di depanku.

“Dasar menyebalkan.” kataku sambil merebahkan kembali tubuhku dan membelakanginya.

“Walaupun menyebalkan, tapi kau tetap mencintaiku kan?” Dia ikut merebahkan tubuhnya, dan kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku lagi.

“Ya! Seenaknya saja kau mengcopy kata-kataku.”

“Aku hanya berbicara fakta.”

“Kau benar-benar menyebalkan.”

“Memang. Hahahaha.”

Walaupun sekarang aku sedang mengerucutkan bibirku, tapi jujur aku senang sekali hari ini. Dia menyatakan cintanya padaku. Walaupun sudah 2 tahun kami menikah, tapi tak pernah ada kata terlambat untuknya. Karena kami menikah dari sebuah perjodohan.

“Oppa.”

“Hm.”

“Kenapa dulu waktu kau mengetahui aku hamil, kau menuduhku hamil dengan laki-laki lain?”

“Kenapa kau menanyakan itu?”

“Aku hanya ingin tahu, kenapa tiba-tiba kau menuduhku dengan tuduhan macam itu.”

“Saat itu aku sedang kacau, dan yang ada diotakku hanya pikiran itu. Kita berpisah selama 2 bulan tapi kau hamil. Bagaimana aku tidak curiga kalau itu bukan bayiku?”

“Tapi kan aku tak pernah berselingkuh.”

“Siapa yang tahu?”

“Aiish, apa wajahku ini tampang-tampang suka selingkuh?”

“Kau tahu kan kalau aku sedang emosi saat itu.”

“Ne ne ne. Kau kalau sedang marah sangat menakutkan. Seperti singa mengamuk dan mau menerkamku.”

“Ya! Apa maksudmu?”

“Aku hanya berbicara fakta Tuan Cho Kyuhyun yang menyebalkan.”

“Jangan mengcopy kata-kataku.”

“Kenapa tidak boleh? Kau belum mematenkannya kok.”

“Sudah, baru saja kupatenkan.”

“Dasar pembual.”

“Ya! Kata-kata macam apa itu?”

“Dasar pembual, tukang penyiksa istri, temperamental, menyebalkan…”

“Ya! Apa makasudmu?”

“Tapi aku suka.”

“Aiish. Dasar yeoja.”

“Aku memang yeoja oppa.”

“Ne. Kau memang yeoja. Yeoja manja, cengeng, lemah, menyebalkan, cerewet, ceroboh.”

“Ne ne ne. Teruskan saja olok-olokmu itu.”

“Hahahaha.”

Kemudian kamipun tertidur.

Aku tak tahu mengapa dia bisa berubah. Aku yakin ada sesuatu yang membuatnya berubah, tapi lebih baik aku tak menanyakannya. Biarlah itu menjadi rahasianya. Aku hanya ingin, dia terus menjadi suamiku seumur hidupku. Aku tak peduli dengan semua kekurangannya. Aku mencintainya. Bukankah sebagai istri yang mencintainya, aku harus bisa mengerti kekurangannya? Walaupun itu susah, tapi aku harus berusaha. Demi kami semua. Aku, Kyuhyun, dan anak kami, Jinwoo, yang saat ini berumur 2 tahun. Kami bahagia dengan cara kami sendiri. Bukankah kebahagiaan itu relatif?

END

107 Responses to Nae Nampyeon

    • kan kyu itu evil. hahaha. *dilempar sendal jepit*
      iya~ author gak terlalu suka cerita sad ending. ^^
      gomawo udah baca~

  1. uwaaaaaa FF nya Daebak!!!! Like this sangat dah!! oya kenalin aku reader baru disini..

    MM.. buat admin, aku mau ngirim FF ni, boleh gak??

  2. Kyu emg cocok jd cast ff thema2 kya gni….
    Sll dpt feelnya (?)
    Selalu kasar diawal, tp lembut diakhir…
    Nice ff :)

  3. bagus banget…. ni ff, tp sbnrnya q pnsaran nie.. apa yg nyebabin Kyu jadi ksar gitu.. sprtinya Eomma Kyu hangat tu…. trus trus trus kok dy bisa berubah ya?
    Mian, thor, q bnyk nanya. kekekekeke

  4. Bagus Bagus
    Tapi di cerita ini kurang penjelasan saat Kyuhyun mulai mencintai yoora
    dan Jalan ceritanya agak terlalu kecepetan.

    but, it’s good

  5. GOOD ! :)
    FF kedua yg aku suka alur ny jelas ama mudah dimengerti.
    Gk ada niat buat disambung onnie ? Extra part gt ? Heheheh *cuma saran*

  6. Kyaaaa daebak!!!!
    suka alurnya… kata”nya ngena banget,,berasa ikut di KDRT juga (?!) hahahaaa

    Kyuuuuu qmu bener” EVIL!!!
    Yoora… DAEBAK bisa menjinakkan EVIL..hohohohooo

  7. ff-nya DAEBAK!
    bagus chingu!
    Kyu jahat bgt tuh awalnya,kasian Yoora!untung akhirnya happy end.
    btw knp ga crita knp Kyu bs brubah?

  8. storylinenya bagus tapi bersediakan sang penulis bikin kyuhyun pov, so kita bs tau kenapa kyu kasar n kenapa kyu berubah jd baik… hanya saran sih …
    keren deh ditunggu cerita2 lainnya

  9. suka suka suka suka suka suka suka
    *perlu brp kata suka sih*
    hehe
    sukaaaaaaa bgt ceritanya!
    bikin aku sedih, nangis, senyum sendiri, malu sendiri, terharu sendiri, ketawa sendiri
    *tp aku ga gila yak*
    haha

    bagus deh pokok nya!
    d^^b

  10. hyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    baguuuussss
    aduh ceritanya keren bgt…..
    romantis…..
    dtunggu cerita2 yg lain……

  11. Salah satu FF terbaik nehh. . Bhkan d posting oleh blog laen. . . Daebak buat authornya. . Pertahankan gaya bahasa, tulisan, kreatifitas, dan ide-ide yg cemerlang. . . ^^

  12. Pingback: Top Posts — WordPress.com

  13. huwaaaa~ saia nggak nyangka dapet respon positif gini. gomawo all~ *hug atu2* ^^
    jujur ini ff pertama saia, jd surprise banget dpt respon kayak gini. hehe. makasih yaaaa~ *nangis terharu* *author lebay*

    buat yg minta kyuhyun pov, bkal aku usahain. moga otak saia gak buntu wktu buat ffnya. hehe.
    skali lagi makasiii~
    *bow*

  14. aaaaaa kyu bener2 evil bangeeeet o.o *speechless*

    So sweet~ aku ampe senyum2 sendiri pas baca yang terakhir. Gemes bangeeeet ><

    Aku kira pas anaknya lahir yoora sama kyu masih berantem terus anaknya dilempar *plak

    Daebaaak ^^ suka alurnya

  15. huwaaaa… kyu ko jahat meskipun jdi baik sii akhirnya..
    ga bisa ngebayangin klo kyu bneran kyak gtu.. ckckck
    nii FF kena banged sii.. bkin keingetan trus.. hikshiks
    DAEBAK author^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s