PRINCE CHARMING – CHAPTER 5

Nara melihat kyuhyun yang masih mendengkur.kalau boleh,dia mau meletakkan bom di mulut kyuhyun.sedangkan hae sedang mengemas barang-barang yang ada dilokernya.

“woyy,ayo kita makan.aku laparr.dari pagi belum makan.”

“okeyy siapa yang traktir?”tanya yesung.

“tanggung sendiri.”siwon berkata sambil menghampiri kyuhyun.

“hey,bangun.ayo kita makan.”

Serentak itu,kyuhyun langsung mengangkat kepalanya.

“makan?ayo,ayo!”kyuhyun bergegas pergi.

“nara ayo kita makan?”tanya siwon

“ehmm…aku tadi sudah makan.it’s okay,”balas nara.

“heyy,siwon,cepatlah!jerit kyuhyun yang sudah tidak sabar.

“hae?”siwon memberi isyarat.

“kamu pergi dulu.nanti aku menyusul.”balas hae.

“okey.”

Kini hanya tinggal nara dan hae.nara yang merasa janggal dengan situasi ini langsung memasukkan barang-barangnya ke dalam tas sekolah.dia mau keluar dari ruangan itu secepatnya.kalau tidak,nanti pasti akan ada gosip tentang dia dan hae yang berdua-duaan dalam ruangan itu.memang mengerikan!.

“aku pulang dulu,”ujar nara yang sudah akan pergi.

“tunggu!”

Langkah nara terhenti saat hae bersuara.

Lalu hae menutup lokernya dan mengunci ruangan itu.

‘kenapa?”tanya nara.

“tentang apa yang dibicarakan tadi apa kamu mengerti semuanya?”tanya hae sambil berjalan disamping nara. (more…)

Love Relay

Love Relay

[A/N: Here's my first fan fiction ever. Lol! If there are some mistakes, jeongmal mianhae, I'm a newbie in writings T_T And about the casts, I choose them as my main cast because simply I ship them badly  :D ]

Cast: Cho Kyuhyun, Kwan Nara.

Today is supposed to be our third anniversary. I have got this bracelet to my Kyuhyun. I had been saving my money just to buy this gift. I kept this box that consisted of that bracelet tightly in my hand.

And here we were, at the park near my house where usually be a place to meet. I glanced at him, but still. Almost two hours we spoke no words. His eyes were still gluing straight at his lovely PSP. Yeah, seems like he was in a relationship with his PSP instead of me. I used to be in this condition. Really used to. Then, secretly I hid that box in my bag.

“Ergh, I lost.” finally words came out from his mouth. “Jagiya, aren’t you thirsty or something? I’ll be back to buy you an ice cream.” He was about to stand up and grab my left hand, but I stopped him. He stared at me with a “why” look. Simply, I just shook my head lightly to answer him. “Uh, okay then.” He started again. He was busy with his PSP again. I took a deep sigh and he noticed it.

“Waeyo?” even when he asked, his eyes were still looking at his darling. Omo, you can still ask it in this situation?

“Oppa,” I said lightly.

“Hm?”

“Did you forget…. something?” FINALLY I spilled it out.

“What?”

“Today is our…,”

“Ergh! I lost again. Ya! Don’t make me lost again this time. If you wanna talk to me, wait until I win, arraseo?” He interrupted my words as he pressed the restart button. Huh. Everybody has their own limit right? Me too. I have my own patience limit. I took a big exhale again and decided to leave him to go home.

“Ya! Ya! Ya! Kwan Nara! Where are you going?” I heard he asked me. Curious, huh? I was still on my way to home and I started to run. I am nothing to him. I couldn’t take this tears no more.

“Hey,” He grabbed my wrist, turned me around to face him. But I was too shy to show my tears so I just looked down. “Are you crying? Why?” He lifted my chin up.

My tears ran down my cheek. He swept it away by his thumbs. I didn’t want to answer his question then bit my lower lip.

“Don’t be like this. Just… Just tell me, what’s your problem, hm?” His voice was kinda worried.

I still had no words. He patted my head.

“Kyu! You’re mean! I hate you!” I ran from him again but he grabbed my wrist again. Tighter than before. “Let go of me!”

“You even didn’t call me ‘Oppa’. Seriously, what’s wrong with you?”

“What am I to you?” I said in a minimum voice like whispering. But I was sure he heard that.

“What kind of question is that? Of course you’re my Kwan Nara.”

“You still don’t realize something huh?” I searched the box in my bag then threw it to Kyuhyun. He seemed surprised and confused and quickly caught it. “You even forget our anniversary! You’re always busy with your own stuffs, ignore me like I’m nothing. You’re mean Cho Kyuhyun! I hate…,”

Suddenly he pulled me to his embrace. I wanted to escape but he was stronger than me. “Mianhae, I didn’t mean it. You better told me before, okay? And about our anniversary, I’ll never forget about it,” He let go of me gently and gave me a box also. A silver one. I opened it. “Ta da! Happy third anniversary, my lovely Kwan Nara!”

It was a necklace. With stars as its pendant. He kissed my forehead. I smiled, didn’t expect it could be end this sweet.

“Wow, I got a bracelet. Nice one, gomawo jagiya!” Within a second, he wore that bracelet.

“Oppa, saranghae.” I hugged him. Tears were rolling down my cheeks again.

“What did you say? I can’t hear it.” He teased me. Uh, typical my boy.

“No repetition.” I murmured.

“Hahaha, just kidding. Na ddo saranghae. Sorry for making you cry. So, call me oppa again?” He asked that as he let go his hug and then he patted my head.

“Oppa~~ I know I was really childish before. It’s because you play games too much. I’m jealous of it.”

He laughed. Evil one.

“Listen to me. Trust me. There’s no other in my heart except you.”

“Cho Kyuhyun, what a sudden you are being a romantic one?”

“Call me oppa!” He whimpered. So cute.

“Ara, ara. Oppa~ what a sudden you are being a romantic like this?” I repeated my question with my full aegyeo.

“Gosh, you don’t fit cute image. Ha ha ha.”

“Oppa I’m being serious!!!!”

He didn’t answer but pulled me again tightly in his hug. Tightened it that I could feel his heart was beating so fast, made me love him more and more.

“I love you… my Nara.” He murmured in our hug. I nodded and smiled happily. But suddenly, he pushed me lightly then said, “Ah! We must celebrate our happy day right?”

Me, who was shocked because of his sudden reaction, just nodded and agreed to him.

“What about spending this day in game center?” I stared at him with the most evil stare I had.

“Big NO, Cho Kyuhyun!” I denied it as well.

His evil grins appeared. Yeah, he just teased me. Again. “Just kidding, jagiya. Ice cream?”

“Eung~!” I nodded happily. Our hands intertwined as we walked away to Ice Cream store near my house.

Happy third anniversary, Cho Kyuhyun. Never change!

Author: wook93

Hold Me Tightly, Please..

“Sebaiknya kita berpisah.”

Aku tersentak. “Kenapa, Oppa?” Aku menatap matanya, menuntut penjelasan. Dadaku
terasa sesak.

Dia menghindari mataku, hanya menatap lantai di depannya. “Aku.. Mencintai orang

(more…)

Hari Di Mana Pacar Kyuhyun Jatuh Sakit

Hari ini konser K.R.Y yang pertama di Seoul. Meskipun masih lelah, Kyuhyun harus memberikan penampilan terbaik hari ini, karena fans sudah menunggu konser ini sejak lama. Saat ini, Ia sedang mendengarkan instruksi dari manager-managernya di ruang tunggu. Ia menengok ke teman-temannya yang lain. Yesung dan Ryeowook sibuk mendengarkan apa yang diucapkan oleh managernya, Sungmin di sebelahnya sedang menyeruput susu coklat panas miliknya. (more…)

love is unpredictable

Pengarang: Luky

Seorang yeoja cantik menarik sebuah koper besar dan memegang selembar kertas berisi sebuah
alamat di tangan kanannya. Tampaknya yeoja itu tersesat. “ah ya ampun, aku dimana? Dimana sih
kantornya SME itu?” tanya Karin sambil membolak-balik kertas ditangannya yang bertuliskan sebuah
alamat. “apa aku nyasar ya?” gumamnya lagi. “kayaknya iya.” Gerutunya, lalu menutup wajahnya
dengan sebelah tangannya.

(more…)

Fight, Love, And Revenge (Part 3)

Donghae’s POV

“Saat ini kau bisa menolak tawaranku, Fishy. Tapi suatu saat nanti, kau yang akan datang

sendiri mencariku.”

“Aku bisa memastikan bahwa itu hanyalah harapanmu, tuan Choi.” (more…)

I’ll be OK (2 of 2)

Aku menyeret koperku sambil memandangi pesawat-pesawat yang siap take-off di landasan

pacu dan beberapa pesawat lain yang masih stay di apron. Aku berjalan berdampingan dengan

eunhyuk oppa menuju terminal check-in. Aku harus kembali untuk sidang tesis-ku. Bagaimanapun

aku harus meraih gelar master of saints setelah dua tahun aku meninggalkan tanah kelahiranku.

Tapi entah kenapa kaki ini terasa berat saat berjalan. Rasanya ada yang kutinggalkan di Seoul. Aku

menatap jam sudah menunjukkan pukul 11.20 siang. Kemudian menatap badan pesawat lagi.

“Tetaplah tinggal, Ryena-ah kalau ada sesuatu yang membuatmu merasa tertahan” aku

menghentikan langkahku seketika.

“Maksudmu apa, Oppa?” alisku naik sebelah. Entah ragu atau bagaimana, oppa menarik nafasnya

cukup dalam seolah dadanya tengah dihimpit segumpal batu.

“Aku melihat kalian di area basket waktu itu” dia menatapku lekat.

Rasanya mukaku baru ditampar dengan keras oleh sebuah tangan yang kasar. Jantungku

(more…)

The Misterious Soul

Dering jam weker yang memekakkan telinga mengusik tidurku. Dengan bersungut -
sungut,kuraih weker tersebut dan kumatikan. Kulirik jam tersebut, aaah ternyata sudah jam 5 pagi. Aku
beranjak dari kasurku yang empuk,beringsut ingsut dan kemudian berjalan ke kamar mandi dengan
malas. Baru saja aku membuka pintu kamar mandi,sesosok makhluk membuatku terlonjak kaget.

“ Waaa… “ Teriakku sambil melangkah mundur. “ Kau siapa? “

Makhluk itu menatapku dengan tatapan takjub bercampur heran, “ Kau dapat melihatku? “
Tanyanya . Jari telunjuk kanannya menunjuk dirinya dan diriku.

Aku mengangguk kecil,masih disergap keterkejutanku atas kemunculannya yang tiba - tiba. Dia
tersenyum senang. “ Namaku Yesung. “ Ujarnya riang.

Aku membulatkan mulutku. “ Kau meninggal kenapa? “ Tanyaku basa basi.

“ Kecelakaan. “ Wajahnya berubah sendu. “ Tapi aku belum bisa pergi karena aku belum
mengungkapkan perasaanku pada gadis yang kusuka sejak kecil. “

Aku mengangguk paham,dalam sekejap bayangannya menghilang begitu saja. Ku hembuskan
napas lega dan kembali melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar mandi. “ Waaaa… “ Namun ternyata
rasa lega itu hanya berlangsung sesaat karena di kamar mandi , lebih banyak lagi ‘makhluk - makhluk ‘
yang menungguku.

***

Namaku Ryeowook. Dari lahir,ibuku mewariskan aku kekuatan untuk melihat roh orang yang
sudah mati. Aku sadar kalau aku dapat melihat roh pada saat aku kelas 5 SD. Aku tak tau harus bersikap
bagaimana akan ‘anugerah’ku yang satu ini. Yang pasti,setiap hari aku harus tahan berhadapan dengan
makhluk - makhluk aneh yang bentuknya beraneka ragam ini setiap hari.

Seperti pagi ini,aku sedang berlari kencang menghindari salah satu roh yang bentuknya -
sumpah demi apapun - sangat menyeramkan. Wajahnya sudah tak berbentuk lagi,kaus yang
dikenakannya telah berubah warna,sewarna dengan darah. Di tangannya terdapat memar berwarna
biru,begitupun di kakinya. Menurut dugaanku,dia merupakan korban kecelakaan. Dan menakutkannya
lagi,dia tau aku dapat melihatnya dan memintaku - dengan menangis sendu - untuk membantunya.
Melihatnya saja sudah membuat jantungku melompat,mana mungkin aku bisa membantunya dengan
ketakutan yang memenuhi ruang pikiranku?

Akhirnya,setelah berlari sekian lama,aku menapakkan kaki juga di sekolah. Perasaan bahagia
dan pancaran lega langsung memenuhi wajahku. Dengan terengah - engah kulangkahkan kaki menuju
kelas dan meletakkan tas di salah satu kursi yang kosong.

“ Ryeowook,kau kenapa? “

Hampir saja aku terjatuh dari kursiku mendengar suara yang tiba tiba berbisik di telingaku,kalau
saja aku tak menyadari bahwa yang sedang berbicara adalah makhluk nyata.

“ Jongwoon!! Kau mengagetkanku! “ Refleks,aku tumpahkan rasa kesalku kepada
Jongwoon,sahabatku.

“ Lho? Kenapa aku yang kau maki maki? Ckck… Padahal,aku kan hanya bertanya padamu. “
Jongwoon kemudian menatapku dengan tatapan aneh. “ Melihat roh lagi? “

Aku mengangguk.

“ Bagaimana bentuknya? “

“ Menyeramkan. “

“ Itu jawaban mengapa kau datang ke sekolah dengan keringat yang mengalir deras di sekujur
tubuhmu? “ Aku mengangkat bahu.

“ Memangnya kenapa? Dia jahat? “

Aku menggeleng. “ Dia memintaku membantunya. Tapi aku tak bisa. “

“ Kenapa? “

“ Melihatnya saja , aku sudah ketakutan setengah mati,apalagi membantunya. “

Jongwoon membulatkan mulutnya. Aku mengalihkan tatapanku dan pandanganku beradu
dengan seorang gadis yang sedang menatapku. Menyadari arah tatapanku,dia menundukkan wajahnya
dan berpaling. Aku merasa heran namun akhirnya kubiarkan pikiran tentang gadis itu menguap begitu
saja saat bel sekolah berbunyi dengan sumbangnya.

***

Waktu sudah menujukkan pukul 1 malam,namun insomniaku kumat. Sudah dua jam lebih,aku
hanya berbaring sambil menatap langit langit kamarku. Roh roh aneh berterbangan liar di sekitarku dan
menatapku heran,bertanya tanya mengapa aku belum juga terlelap. Kuacuhkan tatapan mereka dan
berusaha agar bisa terlelap.

Seberkas cahaya putih menyilaukan mataku. Membuatku terkesiap,baru kali ini aku melihat roh
yang mengeluarkan cahaya putih menyilaukan seperti ini. Hatiku bertanya - tanya,apa yang sedang
terjadi? Perlahan - lahan,cahaya itu pudar dan digantikan oleh sesosok makhluk yang entahlah
bagaimana caraku menjelaskannya? Yang pasti dia tampak begitu sempurna,begitu berkharisma dan
anehnya dia tersenyum padaku. Jantungku berdebar - debar. Siapa dia?

“ Kau… kau siapa? “ Terbata,aku bertanya padanya.

Dia hanya tersenyum,sembari mengulurkan tangannya yang juga mengeluarkan cahaya putih
menyilaukan. Aku memandangi tangannya dengan takjub,tapi yang masih belum kumengerti,mengapa
ia mengulurkan tangannya padaku?

“ Ada apa? “ Tanyaku lagi. Dan sama seperti sebelumnya,dia tetap menyimpan jawabannya
dalam diam. Dia ingin membuka mulutnya,namun ditutupnya lagi. Kemudian dia menatapku mulai dari
ujung kaki hingga ujung rambut.

“ Sampai jumpa. “ Ujarnya lembut dan kemudian menghilang diiringi cahaya putih yang
menyilaukan mataku. Aku terkesima. Siapa dia? Pikiranku sibuk mencerna cerna kejadian yang baru saja
kualami. Namun raungan sumbang sesuatu mengusik telingaku. Ternyata suara sumbang itu , bunyi
wekerku. Lho? Apakah aku baru saja bermimpi? Mimpi yang aneh.

***

Tuhan,jika setiap pagi aku dikejar arwah yang bentuknya menyeramkan seperti ini,mungkin aku
lebih memilih gak punya kekuatan apa apa. Tadi saja saat aku menyeberang,hampir saja aku ditabrak
oleh truk besar,tapi untung saja aku bisa menghindarinya. Jika sedikit saja aku tak berkelit,mungkin
entah bagaimana nasibku sekarang.

Untung saja,ketika di sekolah, Para roh itu tak mengikutiku lagi. Entah kenapa,tapi mereka tak
pernah menampakkan diri jika di sekolah. Tapi bagiku,itu merupakan keajaiban karena aku dapat belajar
dengan tenang.

Ku letakkan tas dengan tenang di kursi yang kosong dan kemudian menyapu pandanganku ke
seluruh sudut kelas ini. Di pojok sebelah kanan,kulihat sosok Jongwoon sedang sibuk mengerjakan
sesuatu dan entah apa itu. Ingin rasanya aku menghampirinya tetapi tak jadi,mengingat aku dan
Jongwoon sedang bertengkar . Pikiranku langsung mengingatkanku pada kejadian kemarin.

“ Hei,lihat! Aku baru saja membeli sebuah PSP baru. “ Jongwoon melambai lambaikan PSP
barunya di hadapanku.

“ Itu PSP yang sudah lama kau incar? “

“ Yoi. Dan aku berhasil menabung dan membelinya. “ Tampak binar binar bahagia di matanya.

“ Ooooo… “ Aku lalu kembali memfokuskan pikiranku untuk menjawab soal soal fisika di
hadapanku. Jongwoon bersungut sungut kesal dan kemudian menarik paksa buku soal soal tersebut.

“ Kenapa kau…? “ Ucapanku terhenti saat menatapnya yang berkacak pinggang.

“ Aku mengundangmu kesini agar kau bisa santai sekali saja,tapi nyatanya kau malah berlajar
disini. Bisa gak sih kau nikmati hidupmu sekali saja? “

“ Tapi… “

“ Aku gak mau dengar alasan apapun. Ini,aku pinjamkan PSPku. “

Aku mengangguk saja dan kemudian mulai memainkan PSP Jongwoon itu. Sedikit sulit,namun
aku yakin aku akan dapat menamatkannya. Tetapi ternyata dugaanku salah. Sedari tadi aku masih

tersandung di level ketiga.Karena kesal, tanpa sadar aku membanting PSP itu hingga layarnya
pecah.Jongwoon yang mendengar suara ribut langsung menatapku dan ternganga.

“ Ryeowook,apa kau baru saja… “

“ Maaf. Maaf. Maaf,aku tak sengaja… “ Aku syok. Sumpah,aku benar benar melakukannya
tanpa unsur kesengajaan sedikit pun.

“ Apa kau tau betapa berharganya PSP itu bagiku? Tapi mengapa kau sekarang… “

“ Maaf. Maaf . Maaf,Jongwoon… “

Sambil menahan amarah,Jongwoon berjalan ke arahku dan kemudian menerjangku hingga aku
terjatuh. Ia kemudian menarik kerah seragamku - yang masih ku kenakan,karena sehabis sepulang
sekolah aku langsung ke rumah Jongwoon - dan meninju rahangku. Kurasakan darah segar mengalir
dari sudut bibirku.

“ Jongwoon,aku tau kau marah padaku,tapi… “

“ PERGI!! Aku tak mau melihatmu lagi!! “

“ Jongwoon,aku… “

“ PERGI!! “

Aku kemudian merapikan barang barangku dengan tergesa gesa dan berjalan lunglai penuh
penyesalan ke arah pintu rumah Jongwoon. Sebelum aku sempat mengucapkan sesuatu,ia membanting
pintu rumahnya dengan keras,membuatku terkejut karena dengan frekuensi suara bantingan itu dapat
menyebabkan kerusakan pada telingaku.

Tiba tiba , Jongwoon menatap ke arahku dan membuatku salah tingkah. Tapi tatapan tersebut
hanya bertahan selama beberapa detik,karena kemudian ia memalingkan wajahnya dan berjalan keluar
kelas.

***

Aneh. Hari ini begitu aneh. Semua orang sepertinya sepakat mendiamkan aku. Apa karena
Jongwoon menceritakan perihal masalahku dengannya itu? Tapi masa iya dia tega menghasud semua
anak agar menjauhiku? Disaat kebingungan yang memuncak di otakku,seorang gadis yang tempo hari
kupergoki sedang menatapku kemudian duduk di sebelahku.

“ Hai… “ Sapanya padaku.

“ Hai… “ Balasku dengan lemah,tanpa semangat.

“ Ada apa? “ Tanyanya lembut padaku.

“ Kenapa semua orang mendiamkanku? Bahkan menatapku saja tidak? “ Aku mendesah
kecewa. “ Salahku apa? “

Gadis itu tak menjawab,dia hanya menatapku dengan sendu. Dari tatapannya,aku rasa dia
kasihan padaku.

“ Jangan mengasihaniku! “ Kataku tajam padanya. Dia terkejut tetapi kemudian menguasai
dirinya lagi.

“ Kau tak salah apa apa . “ Jawabnya tenang.

“ Lalu mengapa mereka bersikap seperti itu padaku? “

Dia menatapku dan kemudian mengangkat bahunya. Tangannya terulur dan menepuk
pundakku,berusaha membagi sedikit kekuatannya padaku - mungkin -. Sembari tetap tersenyum,ia
kemudian kembali ke bangkunya.

***

Hari ini,pertama kalinya aku melihatnya. Roh itu sedang duduk sambil menatap lurus lurus ke
arah jendela kelasku. Tatapannya begitu menyayat dan menyedihkan. Aku kemudian berjalan
mendekatinya.

“ Hai… “ Sapaku.

Dia menatapku dan tampak sedikit terkejut. “ Kau dapat melihatku? “ Aku mengangguk. “
Kecuali wajahmu yang ditutupi topeng… “ Kucoba untuk bercanda.

Dia hanya menanggapi candaanku dengan senyum hambar. Melihat senyumnya,kucoba untuk
mengalihkan pembicaraan.

“ Apa ada seseorang yang mengganjalmu di dalam kelas itu? “ Aku menunjuk kelasku. Dan roh
itu menggangguk.

“ Kekasihmu kah? “

“ Bukan. Hanya seseorang yang berarti di hidupku. “

“ Sahabat? “

“ Sejenis itu. “

“ Siapa namanya? “

Belum sempat ia menjawab,Bel sekolah berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah. “
Maaf,nanti saja ya kita ngobrol lagi. Aku harus belajar. “

“ Ya. “ Jawabnya singkat dan kemudian menghilang.

***

“ Hai… “ Hampir saja aku terlonjak kaget mendengar sapaannya.

“ Eh,hai… Kau mengagetkanku. Kau roh yang tadi kan? “

Dia mengangguk. “ Siapa namamu? “

Dia tampak ragu ragu untuk menjawab,seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.

“ Kau lupa siapa namamu? “

Dia mengangguk lagi.

“ Kalau begitu , kau kuberi nama ddabongi. Bagaimana? “

Dia tersenyum,dan aku tau , semua baru saja bermula.

***

Lagi lagi kudapati Ddabongi menatap kelasku lagi. Aku menatapnya penasaran dari dalam kelas -
karena aku sedang menyerap pelajaran - , sebenarnya siapa yang mengganjal di hatinya? Aku
memperhatikan seluruh kelas, tapi tetap tak punya dugaan apapun. Ditambah lagi,aku tak dapat
mengorek informasi karena sampai hari ini seluruh murid masih mendiamkanku. Huh,menyebalkan
sekali.

Suara bel istirahat membuyarkan lamunanku. Aku masih duduk di kelas ,hingga hanya ada aku
dan gadis kemarin di kelas ini. Dia menepuk pundakku,membuatku mendongak menatap bola matanya
yang coklat kelam. Ternyata dia cantik juga.

“ Kenapa melamun? “ Suara lembutnya menyeretku kembali pada alam sadarku.

“ Eh? Ah,gak ada. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu. “

“ Sesuatu apa? Roh itu? “ Dia menunjuk ke arah jendela dimana Ddabongi sedang menatapku
dan tersenyum - seperti biasa - hambar dan pucat.

“ Ka - kau dapat melihatnya juga? “ Aku terkesiap,ternyata gadis ini juga punya kelebihan yang
sama denganku.

“ Ya. Kuperhatikan kau terlalu sering menatap ke arah sana. “

“ Eh? Benarkah? “

Gadis itu mengangguk. “ Namaku Park Chaeri. “

“ Eh? Maaf,aku tak pernah menanyakan namamu. “ Aku menunduk malu dan meringis
menyadari betapa apatisnya aku.

“ Biasa aja lagi. “ Dia tertawa kecil,namun kurasakan ada nada getir dalam tawanya. Aku
menatapnya,mencari tau apa yang menyebabkan nada getir tersebut. Melihat aku menatapnya seperti
itu, Chaeri terdiam . “ Ada apa? “ Tanyanya,sedikit khawatir.

“ Kau kenapa? “ Tanyaku.

“ Maksudmu? “

“ Tertawa tetapi sebenarnya menyembunyikan kesedihan. “

Chaeri terdiam. “ Bagaimana kau tau? “

“ Kau pikir,itu tak tampak? Bahkan untuk seseorang yang apatis seperti aku,itu kelihatan sangat
JELAS !! “

Chaeri memandangku dengan tatapan nelangsa. “ Nothing. “ Dia tersenyum dan kemudian
keluar dari kelas. Mataku memperhatikan punggungnya yang berjalan menjauh. Langkah langkahnya
terasa gontai dan begitu berat. Ada apa dengannya? Hatiku sibuk menerka nerka.

***

Ponselku bergetar. Membuatku yang sedang berbaring sambil menatap langit langit kamar
terkejut dan segera meraih benda kecil itu.

Satu pesan masuk. Aku membuka inbox hpku.

From : Jongwoon

Maaf. Waktu itu,aku emosi.

Maaf. Aku membebani pikiranmu.

Maaf. Aku membuatmu terluka.

Dan maaf untuk semuanya,meski maafku akan terombang ambing terus di atas awan. Atau akan
terus mengendap di sudut hatiku terdalam,aku harap kau akan memaafkanku,meski aku harus
menunggu hingga beribu tahun lagi atau hingga jantungku berhenti . Maaf hingga sampai kapanpun.
Sekali lagi,maaf.

Tanpa sadar,aku meneteskan air mataku. Rasanya tabu jika aku menangis,tapi mau bagaimana
lagi, aku juga manusia yang punya hati. Segera kutekan pilihan replay .

To : Jongwoon

Maaf. Aku juga bersalah. Dan aku menerima maafmu .

Dengan semangat,kutekan tombol send. Namun pesan itu gagal dan terus gagal. Aish,kenapa di
saat saat genting seperti ini jaringannya malah ngadat? Yasudah,besok saja ku katakan langsung

padanya di kelas.

***

Aku melihat Ddabongi lagi. Dia berdiri di depanku,tak lagi menatap ke arah kelasku.

“ Hai… “ Sapanya saat melihatku.

“ Hai… “ Jawabku sambil tersenyum. “ Tumben,kau tidak menatap ke dalam kelasku lagi… “
Sindirku.

Mendengar perkataanku,dia terkejut dan menatapku ragu ragu. Tatapannya - terus terang -
membuatku merasa tak nyaman.

“ Ryeowook,kau pernah bertanya padaku kan,siapa yang mengganjalku? “ Pertanyaan berubah
menjadi begitu serius.

“ I -iya. Memangnya kenapa? “

“ Orang itu,dia… “ Ddabongi menunjuk seseorang yang duduk diam di dalam kelasku,tatapannya
menerawang.

“ Jongwoon?! “ Desisku tanpa sadar.

Ddabongi mengangguk.

“ Apa hubunganmu dengannya? “

Ddabongi menghela napasnya. “ Dan Kau. “

“ Aku? “

Ddabongi mengangguk.

“ Apa hubunganmu dengan kami berdua? “

Ddabongi menatapku sendu. “ Kau tak sadar? “

“ Sadar apa? “ Aku tak mengerti kemana arah pembicaraan ini.

Ddabongi kemudian menarikku ke depan wastafel. Disana terdapat cermin besar untuk
bercermin. “ Nah,sekarang apa yang kau lihat,Ryeowook? “

Aku menatap cermin tersebut,dan perlahan lahan tubuhku terasa tak berdaya seakan semua
kekuatanku tersedot oleh lubang tak kasat mata. Tetes demi tetes air mengalir dari kedua sudut
mataku.Kepalaku terasa sangat berat dan sekarang , semua menjadi jelas bagiku.

Ddabongi tersenyum dan perlahan topeng di wajahnya lepas. Sekarang aku dapat melihat
wajahnya dengan sangat jelas.

Ddabongi adalah aku.

***

EPILOG

“ Jongwoon. “ Teriakan seseorang membuyarkan lamunan Jongwoon.

“ Kau siapa? “

“ Aku Chaeri. Teman sekelasmu. “

“ Oh. “

“ Aku turut berduka cita. “

“ Makasih. “

“ Ini semua bukan salahmu. “

“ Bukan salahku bagaimana? Pasti gara gara aku dia menjadi terbebani dan akhirnya tak sempat
menghindari truk besar itu. “

“ Semuanya takdir,Jongwoon. Sadarlah! “

“ Kau tak tau rasanya jadi aku. “

“ Meskipun aku tak tau,tak baik kau tetap seperti ini! “

“ Kau tau apa hah?! “

“ Yang aku tau,tindakanmu ini menahan Roh Ryeowook disini!! Apa kau tega membiarkannya
seperti itu hah?! Dia bahkan berusaha membohongi dirinya sendiri bahwa ia belum mati!!! “

“ Kau dapat melihatnya? Bagaimana ia? Apa ia masih tetap seperti biasa? Katakan padanya,aku
merindukannya!! Aku menyayanginya .“

“ Bodoh!! Kalau kau menyayanginya,mengapa kau menahannya disini? “

“ Lalu bagaimana caranya untuk menghilangkan ganjalannya? “

“ Hanya kau yang tau bagaimana… “ Chaeri lalu pergi,meninggalkan Jongwoon yang termangu.

***

Chaeri menatap arwah Ryeowook yang sedang tersenyum menatapnya.

“ Terima kasih . “ ujar Ryeowook.

“ Sama sama. “

“ Sejak kapan kau tau? “

“ Sehari sebelum kematianmu,aku sudah merasakan firasat mengenai hal ini. “

“ Benarkah? Sebenarnya kau ini siapa? “

Chaeri tersenyum,dan tiba tiba saja cahaya putih menyilaukan keluar dari tubuhnya. Sosoknya
sekarang berubah,menjadi sosok yang dulu pernah menyambangi mimpi Ryeowook.

“ Ka - kau… “

Chaeri tersenyum. “ Kau ingat aku? “ Ryeowook mengangguk. “ Sekarang,inilah saatnya aku
berkata ‘ Ayo pergi ‘ “ . Chaeri mengulurkan tangannya yang juga mengeluarkan cahaya putih yang
menyilaukan.

Ryeowook tersenyum sambil menerima uluran tangan tersebut.

- Tamat -
Penulis : Dark Knight

Good person, my namja – Part 3

Romance, Continue, Fanfiction, Friendship, Family, Humour.

Author : Rinchun

Akhirnya part3 uda keluar ne..

Makasih yah admin SUJUff yang uda ngepos..

Dan bagi readers yang baca,makasih juga yahh..

Ouw ya, kalo ada yang belum baca Good person, my namja part1 dan part2, kalian bisa baca disini..

Klik disini

Klik disini

*************

Jam makan siang…

Saatnya meja ku dan meja HyeChan disatuin.

Seperti biasa, kami makan bareng.

Hmm,,entah kenapa jadi teringat pas Kyuhyun datang kekelas kami, entah saat itu dia mencari siapa. Kenapa aku tiba2 jadi penasaran y??

Mungkin sebaiknya kutanyakan pada HyeChan?

Ngg…Kurasa tidak. Karena aku yakin dia akan menertawaiku seperti dokter hyung itu..!!

Sepertinya si Cho Kangta yang dokter sekolahku, lebih baik kupanggil begitu. Dokter hyung^^.

“kenapa melamun?”

Ah. Iya. Aku melamun. Kenapa sekarang yang ada di dalam pikiranku hanyalah Cho Kyuhyun??

Kenapa dia? (more…)

Mianhae Oppa!!

Mianhae oppa

KRIIINGGG….KRIIIIINGGGG

Suara jam weker yang sangat keras membangunkan sang empunya dari perjalanan mimpinya.

Namja  pemilik weker itu mengambil weker yang masih berbunyi itu dengan malas dan langsung mematikannya.

Dia terduduk di ranjangnya dengan keadaan setengah sadar, tapi seketika ia terlonjak kaget saat melihat jarum jam  weker itu yang menunjukan pukul 6:45.

namja itu beregegas ke kamar mandi dan setelah 5 menit mandi dia menyiapkan segala peralatan yang akan dia bawa ke sekolah.

Donghae  pov

Aisssh kenapa aku selalu telat bangun, aku bergegas menuruni tangga dan beranjak ke ruang makan tapi langkahku terhenti saat aku melihatnya, dia yang sedang duduk di meja makan sedang melahap roti bakar buatan choi ahjuma.

Tanpa banyak bicara aku langsung mengambil 2 helai roti yang telah tersedia dan bergegas pergi, aku tak mau merasakan suasana yang tidak menyenangkan saat pagi hari saat aku dan dia bertemu.

Namaku Lee donghae umurku 18 tahun umur Korea aku bersekolah di Nadam High School tingkat tiga.

Yang tadi duduk di meaj makan itu adalah Lee Jiyoo saudara kembarku dia juga bersekolah di sekolah yang sama denganku.

Hubunganku dengan Jiyoo sangat lah buruk, kami jarang sekali bertegur sapa apalagi berbicara panjang lebar, padahal waktu kami masih kecil kami sangaat dekat dan sering bemain bersama, tapi sejak masuk  Senior High School hubunganku dan Jiyoo menjadi canggung seperti ini.

Aku tidak memungkiri kalau sebenarnya aku juga yang selalu menghindarinya itu karena dia selalu bersikap dingin padaku.

Seperti biasa aku berangkat sendirian ke sekolah dengan menggunakan motor besar kesayanganku dan Jiyoo membawa mobil ke sekolah, dia menolak pergi bersamaku.

Hari ini adalah hari pertamaku menjadi siswa tingkat tiga di Nadam High school.

Aku berajlan memasuki kelas baruku dengan menunduk, tapi saat aku mendongakan kepalakku melihat siapa saja yang sekelas denganku aku melihatnya…. (more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,277 other followers