Twins’s Love

Secarik kertas lusuh ditariknya dengan kasar dari balik tumpukan buku lama siang itu. Matahari bersinar dengan teriknya. Satu kalimat tertulis dengan rapih dalam bahasa inggris.

‘It has been you, my biscuit apple …’

Ia bersandar pada dinding sambil meneguk es lemon yang baru saja dibuatnya. Tiba – tiba perempuan di seberangnya melemparkan pensil dan telak mengenai kepalanya. “Aw! Kenapa kau melemparku dengan pensil?” gerutu gadis itu sambil mengusap kepalanya. Gadis yang diseberangnya tadi merangkak mendekatinya dan menyodorkan secarik kertas yang ia temukan tadi. Gadis yang dihadapannya sesaat menatapnya dan menerima kertas tersebut.

“Kau menemukannya darimana ?” tanya gadis yang mengenakan bando putih.

“Disana,” jawabnya sambil menunjuk kearah tumpukan buku lama yang baru saja mereka bongkar bersama. “Siapa yang memberikan ini?” tanya gadis yang diikat satu.

“Kau tidak perlu tau,” jawab gadis berbando yang kembali meneguk es lemonnya.

“Park Sebin!” seru gadis berkucir satu tadi dengan frustasi. Keduanya saling bertatapan seakan seseorang yang sedang berdiri didepan cermin dan menatap bayangannya yang terpantul di cermin. Namun nyatanya mereka adalah kembar. Kembar identik.

“Tak ada gunanya lagi jika aku mengatakannya padamu, Yebin! Sudah lima tahun yang lalu!” gertak gadis berbando tadi dengan kesal.

“Kau bahkan tak menceritakannya pada kakakmu sendiri,” keluh Park Yebin yang mundur beberapa langkah dan duduk bersila.

Park Sebin melirik sesaat dan mendengus sebal. “Kakak? Hanya berbeda 6 menit kau mengklaim dirimu sebagai kakak,” umpatnya meremehkan. Yebin yang sudah mengambil ancang – ancang untuk melempar pensil lagi kearah adik kembarnya di tariknya kembali.

Yebin kembali merangkak dan duduk disamping adik kembarnya. Ia memainkan ujung rambut adiknya meski Sebin mengelaknya. “Katakanlah padaku apa yang terjadi sebenarnya, Sebinah …” pintanya pelan.

Sebin melirik tajam kearah kakak kembarnya dan menggerutu pelan. “Ya Tuhan… mengapa kau menciptakanku untuk satu rahim bersama bocah satu ini?”

“Ceritakan. Siapa dia? Apa dia …. Kim Kibum?” tebak Yebin. Sebin terdiam dan kembali meneguk es lemonnya.

Sebin kembali mengingat peristiwa lima tahun yang lalu. Ketika keduanya masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Mengenakan seragam yang sama dan mantel yang sama. Hanya tas dan sepatu yang berbeda. Sebin selalu mengenakan bando sedangkan Yebin membiasakan rambutnya untuk diikat satu. Sehari sebelum memasuki libur musim gugur, keduanya menghabiskan waktu di taman sekolah setelah bel pulang berdering. Dengan secangkir kertas teh susu dan sekotak biskuit apel keduanya duduk di bawah pohon chestnut sambil berbincang.

Tiba – tiba Sebin tersenyum ditengah – tengah gigitan terakhir biskuitnya kearah Yebin dan mengarahkan pandangannya kearah punggung seseorang yang menggendong tas hitam, Yebin mengekor pandangan adik kembarnya.

“Apa? Kau menyukainya?” tanya Yebin. Sebin menggelengkan kepalanya namun senyumannya tak hilang dari sudut bibirnya.

“Apa yang akan kau rasakan jika seseorang mengatakan bahwa kau adalah apel yang dimakan oleh Snow White?” tanya Sebin.

“Maksudmu? Aku tidak paham,”

“Seseorang mengirimkanku surat kaleng saat pelajaran bahasa tadi,”

“Bagaimana bisa? Kita berada di ruang audiotorium,”

“Di belakang panggung. Ketika aku ingin mengambil mantel, ada sebuah botol kecil dengan secarik kertas di dalamnya. Tertulis untukku. Dan isinya … ‘Jika kau adalah apel Snow White yang beracun, maka aku adalah orang pertama yang terkena racunmu…’.”

“Hah? Orang itu berusaha untuk merayumu? Ya Tuhan itu adalah rayuan gombal yang tidak jadi,” ejek Yebin. Sebin terkekeh pelan.

“Tapi ia mengirimkan beberapa kotak biskuit apel ke dalam lokermu dengan post-it ‘Aku berharap kali ini akulah yang menjadi racun untukmu dalam biskuit ini’,” jelas Sebin tersenyum kearah biskuit apel ditangannya. Yebin dengan spontan terbatuk – batuk dan mencoba untuk mengeluarkan biskuit tadi dari dalam perutnya.

“Bodoh! Mana mungkin dalam biskuit ini terdapat racun!” Sebin menyikut perut kakak kembarnya dengan kesal. Dan kemudian ia kembali menatap punggung laki – laki bertas hitam tadi.

“Lalu mengapa kau sangat yakin laki – laki itu yang memberikanmu ini semua?” tanya Yebin.

“Teman – teman dikelas mengatakannya padaku,”

“Dan kau percaya begitu saja tanpa bukti?” Sebin terdiam dan melirik tajam kearah Yebin.

“Kalau kau iri padaku bilang saja tak perlu memanas -  manasiku seperti itu,”

Yebin menjawil hidung Sebin. “Kau harus melihat buktinya, Sebin. Kau ini entah terlalu polos atau terlalu bodoh untuk dibodohin oleh anak – anak,”

Sebin kembali mengunyah biskuitnya dalam diam, sedangkan Yebin menyeruput teh susu miliknya sampai tetes terakhir. Setelah merasa kenyang, keduanya pulang.

Malamnya, Sebin duduk di depan meja belajarnya sambil mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sedangkan Yebin sibuk dengan membaca komik diatas ranjang. Beberapa menit kemudian pintu kamar mereka terketuk, spontan, Yebin melompat dari ranjang dan menarik selimut untuk menutup komiknya dan berlari ke samping Sebin berpura – pura membereskan buku pelajaran.

“Apa kalian belajar dengan baik?” tanya seorang wanita separuh baya yang dibelakangnya mengikuti seorang wanita yang lebih muda lagi sambil membawa sebuah meja kecil. Diatasnya terdapat dua gelas jus jeruk dan dua piring kecil berisi tiramisu. “Ibu membawakan kalian cemilan, makanlah dengan baik.” Wanita separuh baya tadi meminta pembantunya untuk meletakkan meja kecil tadi diatas karpet beludru biru dan kemudian keluar kamar setelah Yebin dan Sebin mengucapkan terima kasih dan mencium pipi wanita separuh baya tadi yang masih rapih mengenakan blazer.

Yebin segera menyerbu cemilan diatas karpet sambil membaca komiknya lagi sedangkan Sebin masih duduk diatas kursi belajarnya sambil menatap kakak kembarnya.

“Lihat apa kau ?” tanya Yebin ketus. Sebin beranjak dari kursi dan duduk di seberang Yebin sambil meneguk jusnya.

“Aku …” Sebin berpikir sejenak. “Ah, apa kau mengenal Kibum? Ia tergabung dalam klub basket juga kan?”

Yebin mengunyah tiramissunya dengan lahap tanpa mengalihkan tatapannya kearah Sebin dari komiknya sambil mengangguk kecil. “Kau harus sering – sering datang ketika aku latihan,”

“Kau harus memberitahuku apapun mengenai dia,” kata Sebin yang kembali menegak jusnya.

“Kau benar – benar menyukainya?” tanya Yebin yang melahap potongan terakhir tiramissunya dan kemudian mengambil bagian milik Sebin tanpa di amuk oleh adik kembarnya.

Cukup lama Sebin terdiam dan akhirnya ia mengangguk kecil. “Kurasa…” jawab Sebin tersenyum dan kembali ke meja belajarnya. Yebin memperhatikan tingkah Sebin dengan pandangan aneh dan kembali melahap sisa tiramisu dengan sekali lahap.

*

Esoknya ketika pulang sekolah, Sebin segera berlari ke ruang basket. Membawa sebuah tas kecil berisi handuk, baju ganti, dan kotak makan berisi buah kiwi dan apel yang sudah dipotong. Ia tidak boleh terlambat kali ini.

Kaki jenjangnya berhenti didepan pintu ruang basket. Sebelumnya ia merapihkan rambut dan seragamnya, lalu menarik nafas dan menghembuskannya. Perlahan tapi pasti, ia membuka pintu dan mengintip ke dalam ruangan ketika sebuah bola basket dengan mulus mendarat di depan ujung hidungnya dan … BUGH!

Sebin terjengkang ke belakang dan bola basket tersebut menggelinding kembali masuk ke lapangan. Beberapa anak basket berlarian kearahnya terutama Yebin dan si-biang kerok.

“Sebinah!” seru Yebin yang memegang hidung Sebin yang berdarah. Sebin meringis kesakitan dan menatap Yebin.

“Sakit…” rengeknya pelan.

“Kau baik – baik saja?” tanya seseorang yang memegang dagu Sebin tanpa diminta. Orang tersebut memperhatikan darah yang mengalir dari lubang hidung Sebin.

Sebin terkesiap dan menahan nafas dalam beberapa detik. Wajahnya dan wajah …… Kim Kibum hanya berjarak 5 cm! 10 detik kemudian ia mengangguk pelan dan tersenyum simpul.

“Tapi kau berdarah,” kata Kibum yang masih memperhatikan darah di hidung Sebin.

“Tenang, ia baik – baik saja,” elak Yebin yang kali ini angkat bicara. Kibum menoleh kearahnya sesaat dan kembali menatap Sebin dalam waktu yang cukup lama.

“Baiklah, urus kembaranmu Yebin-ssi. Maaf,” Kibum kembali berlari ke tengah lapang untuk berlatih bersama teman – temannya.

Yebin membersihkan darah di hidung Sebin dengan sapu tangannya. “Aku tahu kau senang,” kata Yebin. Sebin tersenyum sambil terus menatap punggung Kibum dari atas tribune.

“Ia benar – benar memegang dagu-ku, Park Yebin …” kata Sebin berbisik.

“Jadi kau benar – benar menyukainya ?” tanya Yebin membelalakkan matanya dan menutupi pandangan Sebin dengan wajahnya.

Sebin kembali tersenyum samar dan mengangkat kedua bahunya. “Entahlah,” jawabnya polos. Yebin mengambil tas yang tadi dibawa oleh Sebin dan membuka kotak makan. Ia melahap buah yang di sediakan dan beberapa kali menyuapi Sebin.

Mendekati pukul 5 sore, Yebin dan Sebin pulang sekolah. Keduanya berjalan beriringan menuju halte bus. Baru lima menit mereka menanti bus, sebuah motor hitam metalik berhenti di depan keduanya.

“Apa kau baik – baik saja ?” tanya si pengemudi dari balik helmnya.

Yebin dan Sebin saling bertatapan dalam diam. Si pengemudi membuka kaca penutup helmnya dan tersenyum. “Hidungmu sudah tidak berdarah lagi, kan ?” ulangnya.

Yebin menyikut Sebin agar ia segera menjawabya. Sebin mengangguk kikuk. Seakan puas mendapatkan jawaban tersebut, si pengemudi kembali menutup kaca helmnya dan melaju pergi meninggalkan keduanya. Beberapa detik kemudian bus dating dan si kembar naik.

“Sepertinya ia tidak mengenalmu dengan baik,” kata Sebin setelah keduanya mendaratkan pantat mereka dengan mulus di salah satu kursi kosong. Yebin yang sibuk mengulum lollipop memainkan ujungnya.

“Ia hanya mengenal namaku saja,” jawab Yebin asal. Sebin diam dan menikmati perjalanan.

*

“Apa kau tidak menyukainya ?” tanya Sebin suatu hari kepada Yebin ketika keduanya menghabiskan waktu bersama dengan menunggang kuda di peternakan kuda milik kedua orang tua mereka.

Yebin memperlambat langkah kudanya. “Apa?” ulangnya seakan tidak mendengar pertanyaan tadi.

“Kau …,” Sebin juga ikut memperlambat langkah kudanya. “… apa kau tidak menyukainya? Kim Kibum?” ulang Sebin yang memainkan ujung rambut Yebin dari kudanya. Yebin menggembungkan pipi kirinya.

“Tentu saja tidak. Aku sudah memutuskan untuk tidak menyukai siapapun sampai Kyuhyun pulang dari Swiss,” jawab Yebin dengan yakin. Sebin tersenyum.

“Apa aku terlihat bodoh? Menyukai laki – laki yang tak ku kenal dengan baik. Yang bahkan aku tidak tahu bagaimana perasaannya terhadapku. Bahkan lebih parah lagi jika aku sama sekali tak dianggap olehnya,” celoteh Sebin tak karuan.

Yebin dengan sigap memukul kepala Sebin dengan gemas. “Ya, Park Sebin! Jangan sekali – kali kau berbicara seperti itu! Aku yakin Kim Kibum itu menyukaimu. Apa kau lupa bahwa ia yang memberikanmu surat kaleng beserta biskuit apel kesukaanmu itu?”

“Kau juga menyukai biskuit itu. Mungkin saja ia memberikan biskuit apel itu sebenarnya untukmu, tapi ia salah meletakkan,”

“Sebinah! Jangan biarkan aku mendorongmu sampai jatuh dari pelana!” pekik Yebin kesal. “Kim Kibum bukanlah tipe laki – laki bodoh. Apa kau lupa ia memiliki prestasi akademik yang bagus ? Menjadi perwakilan siswa selama dua tahun berturut – turut, tidak pernah lepas dari peringkat satu, dan ia pemilik IQ tertinggi satu sekolah? Mana mungkin ia bisa salah meletakkan biskuit apel itu!” bantah Yebin.

Sebin kembali melaju dengan kudanya meninggalkan Yebin yang menyusulnya sambil berteriak – teriak seperti orang gila.

*

Park Yebin tertawa terpingkal – pingkal sambil memegangi perutnya. Sedangkan saudara kembarnya menggerutu panjang-pendek dengan wajah datar.

“Aku ingat jelas bagaimana ekspresimu saat Kibum menyatakan perasaannya padamu!” seru Yebin yang masih memegangi perutnya sambil tertawa.

“Itu karena aku shock, bodoh!” umpat Sebin kesal sambil melempar bantal kearah Yebin.

“Bahkan aku masih ingat jelas bagaimana ekspresi kau ketika Kibum menggendongmu di punggungnya ketika kakimu kram di tengah lapangan sekolah!” Yebin kembali tertawa geli. Sebin terdiam kembali mengingat kejadian waktu itu.

*

Pertengahan musim gugur yaitu di bulan Oktober. Sekolah mewajibkan para siswanya untuk mengenakan seragam sesuai peraturan dimana pada musim gugur mereka wajib mengenakan seragam dengan temi dan bawahan berwarna cokelat tua. Saat itu, Yebin yang sedang sibuk menyiapkan seragam basket laki – laki di ruang basket kedatangan tamu. Tidak lain dan tidak bukan tamunya adalah Sebin, yang datang membawakan bekal makan malam untuknya.

“Lama – lama kau seperti Ibu,” gurau Yebin yang menyumpit lauk ke dalam mulutnya yang penuh. Sebin tersenyum.

“Ibu tadi datang mengirimkan bekal makan malam. Ia akan datang menjemput pukul 9 nanti,” jelas Sebin. Yebin melirik jam dinding dan membelalakkan matanya.

“Benarkah? Padahal masih banyak seragam yang belum ku rapihkan,” keluh Yebin kesal. Ia kembali melahap makan malamnya dengan lahap.

“Aku akan membantumu,” kata Sebin yang segera merapihkan seragam basket. Ia mensortir seragam lama yang akan di laundry dengan seragam baru yang masih di bungkus dengan plastic ke dalam tempatnya.

“Terima kasih. Kau memang adik kembar yang paling baik sedunia,” puji Yebin tersenyum. Sebin ikut tersenyum namun tak menoleh sama sekali kearah Yebin.

Pintu ruang basket terbuka dan seorang laki – laki melepaskan seragam basketnya tanpa melihat keadaan. “Yebin-ssi, jika kau tidak keberatan aku titip satu untuk ikut di laundry,” kata laki – laki itu tanpa memperhatikan siapa orang yang menerima seragam basketnya yang basah karena keringat.

“Ya letakkan saja disana,” jawab Yebin dengan mulut penuh makanan. Laki – laki tadi duduk di seberangnya sambil menegak air mineral setelah mengenakan kaus bersihnya. Beberapa detik kemudian ia menatap bingung kearah Yebin yang sedang asyik makan bekal di hadapannya.

“Makan, Kibum-ssi,” tawar Yebin tersenyum singkat dan kembali melahapnya. Laki – laki tadi yang notabene adalah Kim Kibum menatap bergantian gadis di seberangnya dengan gadis yang sedang sibuk merapihkan seragam kotor ke dalam keranjang. Ia benar – benar terlihat bingung. Karena Yebin dan Sebin sama – sama mengikat rambutnya.

“Sudah selesai! Apa kau sudah menghabiskan makan malammu?” tanya Sebin yang bertolak pinggang dan membalikkan tubuhnya. Ia dikejutkan oleh sosok Kibum yang duduk di seberangnya dalam kebingungan. Begitu pula dengan Kibum yang lebih terkejut.

Yebin yang sudah selesai pun tertawa terbahak – bahak melihat ekspresi Kibum. “Ya ya Kibum-ssi! Kau tak perlu memasang ekspresi bodoh seperti itu!” serunya dalam tawa. “Apa kau bingung dengan kehadiran dia?” tanya Yebin yang menunjuk kearah Sebin.

Kibum mengerutkan alisnya sesaat. “Jujur, ini baru pertama kalinya aku bingung bagaimana mungkin kembar identik … err …. Entahlah bagaimana cara mengungkapkannya,” Kibum kembali menegak air mineral, namun matanya tetap tertuju kearah dua anak kembar identik di hadapannya.

“Menurutmu, siapa yang lebih manis diantara kami?” tanya Yebin memancing Kibum. Ia menarik Sebin agar lebih dekat dengannya. Kibum menatap keduanya berkali – kali.

“Aku tidak bisa membedakan yang mana si jago makan dan yang mana si pendiam,” gerutu Kibum. Yebin memonyongkan bibirnya sedangkan Sebin terkekeh.

“Kau bilang apa? Si jago makan?” tanya Yebin kesal.

“Kau pasti si jago makan Park Yebin. Aku bertaruh itu karena kau terlihat tersinggung,” Kibum tertawa melihat Yebin yang kesal.

“Bagaimana dengan dia?” tanya Yebin. Kibum memperhatikan Sebin dalam diam.

Dalam keadaan diam, Kibum pun tersenyum singkat. “Aku menyukainya.”

Deg! Sebin membeku sesaat. Yebin yang sedaritadi memegangi lengannya dapat merasakan kulit kembarannya dingin seperti balok es. “Ma… maaf?”

Kibum mengangguk samar. “Ya, aku menyukaimu. Tak peduli bagaimana perasaanmu padaku,” kata Kibum tegas. Beberapa menit kemudian Sebin tersenyum. Semburat merah mewarnai kedua belah pipinya dan mengangguk. Yebin yang menjadi saksi keduanya hanya menganga tidak mempercayai apa yang ia lihat. Mimpi Sebin selama ini menjadi kenyataan. Bahkan yang membuatnya merasa semakin bodoh adalah, ia tidak sampai pikir bahwa Kibum menggunakan situasi seperti ini untuk mengatakan bahwa ia menyukai kembarannya.

“Sepertinya aku salah situasi,” keluh Yebin dengan suara keras. Sebin yang mendengarnya hanya tertawa kecil.

“Tentu saja kau salah. Kau itu perusak suasana. Ibarat kau ini buah apel sedangkan Sebin-ssi adalah biskuit apel,” Kibum angkat bicara.

“Maksudmu?”

“Aku membenci apel, tapi aku menyukai biskuit apel,” jelas Kibum dengan tenang. Yebin membelalakkan matanya kesal. Sebin tersenyum sambil membereskan sisa makan malam Yebin.

“Aku akan kembali,” katanya yang mengacungkan sumpit dan sendok yang kotor. Sebelum ia keluar ruangan untuk mencuci sumpit dan sendok, Kibum memegang lengannya yang otomatis membuat langkah Sebin terhenti. Keduanya bertatapan.

“Apa aku perlu mengucapkan terima kasih padamu?” tanya Kibum. Sebin terdiam dan menundukkan kepalanya. Malu. Lalu ia berlalu dari ruangan tersebut, meninggalkan Yebin bersama Kibum yang masih beradu mulut di dalam.

Sebin berlari di sepanjang koridor menuju keluar sekolah. Ia berlari menuju tengah lapangan sambil membawa sumpit dan sendok kotor. Bukannya mencucinya ia malah mengacungkannya ke langit malam. Uap putih keluar dari tawanya.

“Kau lihat? Kau lihat? Hari ini aku sangat senang!” serunya pada langit malam tanpa memperdulikan siswa yang masih berlalu lalang di lapangan sekolah.

“Ia menyatakannya! Mimpiku menjadi kenyataan!” seru Sebin melompat kegirangan. Sampai ia terjatuh ke tanah karena kakinya kram. Namun senyumnya tak surut jua.

“Aku baru tahu mencuci sumpit dan sendok di tengah lapangan,” ujar seseorang yang membuat Sebin menoleh kearah si empunya suara. Gadis itu kembali tersipu malu. Kibum berdiri menjulang di sampingnya. Ia mengulurkan tangannya kearah Sebin. Sebin meraihnya dan mencoba untuk bangun namun gagal. Kakinya masih kram.

“Ada banyak cara orang melakukan seremoni ketika ia bahagia. Tapi baru kali ini aku melihat orang melakukan seremoni dengan mengeramkan kakinya,” kata Kibum. Ia berjongkok di hadapan Sebin sambil menepuk punggungnya. “Naiklah,” pintanya.

Sebin terkesiap. “Tapi …” “Sudah ayo naik,” potong Kibum yang menarik lengan Sebin. Sebin pun menurut dan naik ke atas punggungnya. Kibum berjalan membawa Sebin yang berada di punggungnya menuju ke dalam sekolah. Dari balik jendela, Yebin tersenyum melihat keduanya. Err… lebih tepatnya menahan tawanya.

*

Yebin berguling mendekati Sebin yang duduk dekat jendela kamar. Ia meraih ujung rambut adiknya dan memainkannya. “Sekarang aku tahu, bagaimana perasaanmu ketika menanti kepulangan Kyuhyun dari Swiss,” ujar Sebin.

“Kau yakin?” tanya Yebin.

Sebin mengangguk. “Lagi pula ini bukan sebulan – dua bulan ia pergi. Dan jarak Korea – Amerika bukan hanya sekedar dua-tiga km, tapi beratus – ratus mil,”

“Kau lebih dewasa ya akhir – akhir ini ketimbang aku,” keluh Yebin. Sebin memukul kening Yebin gemas. “Makanya jangan membaca komik.” Keduanya terus berbincang sampai telepon bordering dan dari lantai bawah sang Ibu menyerukan nama Sebin. Sebin dan Yebin segera berlari menuruni anak tangga. Sebin segera menyambar gagang telepon.

“Halo?”

“… Akhirnya aku mendengar suaramu lagi,” ujar si penelepon dari jauh sana. Sebin terdiam sejenak mencoba untuk mencerna suara tersebut dan kemudian tersenyum sambil mengangguk. Sebulir air bening jatuh dari sudut matanya segera di hapusnya.

 

-       Ini bukan sekedar cerita cinta, tetapi lebih merupakan rasa manis biskuit apel di musim gugur, semerbak bunga daffodil, semegah angkasa, sedalam samudra, dan sejernih mata air. Seperti itulah aku mencintaimu. Dalam diam dan dalam tangis, dalam pagi maupun malam, saat badai maupun kering, perasaanku masih tetap setia. Ya, aku merindukanmu … –

Leave a comment

26 Comments

  1. littlevilkyu

     /  June 30, 2011

    agaq sedikit bgungg pertamaa sm ffnyaa tp akhrnyaa lmynn ngrtie hehe ^^
    trs kataa ” trakhir ituu kibum yaa ? O.O

    Reply
  2. eh keren sumpah !!! gaboong !!! >,<

    Reply
  3. CoRaLine

     /  June 30, 2011

    Keren bin so sweet bnggt ni crita..

    Reply
  4. CoRaLine

     /  June 30, 2011

    Keren bin so sweet bngt ni crita..

    Reply
  5. indah banget..
    unyu..
    beneran so sweet..
    uu~
    ayo bikin sekuel pas mbum pulang k’korea, tapi biar adil bikin story punya yebin juga donk..
    kesian pan kyu cuma disebut nama..

    Reply
  6. vanny

     /  July 1, 2011

    sumpah keren banget……
    bener2 pengen punya cowok kek kibum kekekeke
    cara penuturannya juga dah bagus, jadi ga perlu buru2 pas baca..
    keren deh pokoknya ^^

    Reply
  7. misiiiii aku mau ninggalin jejak duluu^^^^^^^

    Reply
  8. swear. . .
    bagus banget cerita ini!! kesannya mendalam banget dan ceritanya ga di lebih lebihkan
    kata kata terakhirnya juga menyentuh hati banget
    daebak pokoknya!!

    Reply
  9. devisnower

     /  July 1, 2011

    Ahh so sweet >o<
    Like this ^^

    Reply
  10. kei_mcsilver

     /  July 1, 2011

    waaah, keren banget ceritanya!!! aq sampe senyum2 n ketawa2 sendiri!! ini ff oneshot paling bagus yg pernah aq baca!!!! ayo bikin lagiii!!! XD

    Reply
  11. Keren, keren, keren! Hanya satu kata untuk FF ini, yaitu KEREN! Two thumbs for you, author~!
    I love this fan fiction… gaya bahasanya keren banget! Top abis! Sopan, tapi membawa sekali~ :)
    Ima sure, akhirnya si Sebin mengangkat telpon dari Kibum kan? Ehehehe…
    Walau ceritanya sederhana, tapi aku merasa makna ceritanya sangat mendalam!
    Ini pertama kalinya aku baca fan fiction sebagus ini… kalau bisa aku juga pengen berguru sama the genius author, hahaha~ LOL
    Bila ada penghargaan buat the best oneshot, aku yakin ini bakal menang XD

    Reply
  12. Sungielover

     /  July 1, 2011

    Wah….kata2nya keren banget….
    Manis dan menyentuh, g ribet, alur nya juga enak.
    Daebak deh pokoknya!

    Reply
  13. Kereen..

    Reply
  14. CHO's_2203

     /  July 5, 2011

    I like it :)
    So sweet, romantis, unyu unyu gmn gtu ^_~
    kata2′a indah…
    Klo bsa bwt sequel’a y!!!

    Kyu aku padamu!!!

    Reply
  15. shaoshao

     /  July 6, 2011

    aw, sweet ><
    pas pertama baca, sumpah ngga mudeng
    tapi yaa aku ngrasanya ni ff mnarik, yawes nyoba buat adaptasi
    eciee swiss -___-
    ngakak pas bagian sebin nyangka kibum salah orang (-.-)7

    Reply
  16. Dwi

     /  November 8, 2011

    Bgs ffny…

    Smgt chingu…
    Bkn ff yg lbh bgs lg ea…

    Reply
  17. brina

     /  November 16, 2011

    sweet bgt sih……. kibum oppa so sweet……..

    Reply
  18. Arsvio

     /  December 1, 2011

    Really nice..

    Reply
  19. Lo ga perlu tau Gue siapa!

     /  January 23, 2012

    anjir seru abis ceritanya~ jadi inget temen gue juga yang kembar hahahaha

    Reply
  20. Eun.Febby_Hae

     /  May 31, 2012

    sumpah keren banget… aku suka ceritanya thor… aku terharu….

    oh ea, aku mau tau menurut kamu sebin sama yebin cantik yang mana???

    Reply
  21. kereenn…….
    *tapi aku rada kurang dong sama ah=khirnya authior??
    bikin sequel versi Yebin sama Kyuhyun oppa deong auhtor?? jeballl.. ==”

    Reply
  22. D'LittleBee

     /  October 11, 2012

    Omo…so sweet ^^

    Reply
  23. waaaa daebak TT_TT

    Reply
  24. mslie

     /  March 5, 2013

    so sweeeeeeeettttt :’))) bayangin jadi sebin :) jadi rindu kibum dehhh :’(

    Reply
  25. saya bingung sumpah XD
    ketuker mulu sama yebin ma sebinnya,penjelasan ciri2 tokohnya kurang jelas :)

    tapi,,FF-nya keren ^^

    Reply
  26. keren banget :3

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,904 other followers

%d bloggers like this: