Sesuatu yang begitu diperjuangkan sejak dulu, mendadak tercapai dalam kehidupanmu. Kenyataan membawanya singgah, dan menjadikannya hadiah tak terlupa. Bila saat itu terjadi, bisakah kau berhenti menganggapnya mimpi belaka? Bertingkah diamlah dan yakinkan diri sendiri untuk percaya.
Sedari tadi tanganku tak berhenti menepuk pipi, membuatku merasakan sakitnya perlahan. Dorongan kuat dari benak memintaku untuk tidak berhenti. Mungkin inilah cara yang tepat agar aku sadar.
“Berhenti menyakiti diri sendiri.” tegur Jongwoon. Dia menarik tanganku menjauhi pipi, lalu mengenggamnya erat.
“Berapa kali harus ku katakan? Jika kau bermimpi saat ini, sama artinya aku juga sedang bermimpi. Kita berada di alam yang sama.” lanjutnya, tersenyum.
Ini, satu hal yang memberatkanku untuk mempercayai kenyataan. Tidak mungkin Jongwoon mengatakan hal seperti itu! Termasuk semua pengakuannya di atas bukit ini. Mustahil.
“Astaga, Min Gi.” Jongwoon menatapku gemas. “Sekali ini saja, bisakah pikiranmu berjalan cepat? Aku sudah menyatakan perasaanku dan kau menerimanya. Apa lagi yang perlu diragukan? Apa kau sedang tidak sadar tadi?”
“Bukan begitu.” aku menggeleng. Sementara otakku bekerja keras, memberi perubahan yang membingungkan.
“Lalu apa?” tanya Jongwoon, tak sabar. “Apa kau masih menganggap semua ini lelucon? Tidak lucu, sayang. Kurang serius bagaimana lagi aku menunjukannya?”
Panggilan itu, cepat menimbulkan rona di wajahku. Aku malu. Jadi begini rasanya dipanggil seperti itu olehnya? Selama ini aku hanya merasakannya dari orang terdekat.
“Kau lelah? Sebaiknya kita turun sekarang, agar kau bisa beristirahat. Terutama pikiranmu itu.” ucap Jongwoon.
Menyindir, maksudnya? Tetapi aku diam saja mengikuti langkahnya yang semakin cepat.
“Sepertinya aku mulai mengerti apa yang membuatku bingung.” ucapku mendadak. Otomatis Jongwoon menghentikan langkah, “Apa?” tanyanya.
“Bisakah kau membuat pikiranku berubah percaya? Aku seperti berada diantara mimpi dan kenyataan. Mana menurutmu yang lebih dominan?” tanyaku. Berbelit-belit dan aneh.
Jongwoon tersenyum, dan tangannya yang bebas menepuk kepalaku pelan. “Tentu saja bisa ku buktikan. Ini adalah kenyataan, atau tepatnya takdir untukmu. Karena sejak awal, kita berada dalam takdir yang sama.”
******
“Noona dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi.” pertanyaan dari Jongjin menyambut kami yang baru datang. Setelah berkali-kali berhenti, akhirnya kami berhasil menuruni bukit dan kembali ke rumah.
“Kalian mesra sekali ya.” pandangan Jongjin mengarah pada tanganku dan Jongwoon yang masih bergandengan.
Astaga, aku lupa. Cepat ku lepaskan tanganku, lalu menyembunyikannya di belakang punggung. Bisa dipastikan ekspresi malu dan canggungku terlihat dengan jelas.
“Aku mengajaknya jalan-jalan di sekitar sini. Ada keperluan apa kau mencarinya?” Jongwoon menjawab.
“Aku bertanya pada Min Gi noona, kenapa hyung yang menjawab?” balas Jongjin gusar.
“Karena dia pergi bersamaku. Apa salahnya bila aku yang menjawab pertanyaanmu? Toh tempat yang kami tuju sama.” Jongwoon tak mau kalah.
“Onnie, mendengar mereka berdebat tidak akan ada habisnya.” Min Rin tiba-tiba berbisik padaku.
“Onnie pasti ingin beristirahat. Ayo, ku tunjukkan dimana letak kamar kita.” Dia menarikku masuk ke rumah, menjauhi dua kakak-beradik yang sibuk sendiri.
******
Selepas sore, aku masih betah berdiam di kamar. Disini aku aman, menghindari tatapan ingin tau dari beberapa orang. Dan entah kenapa, aku malu bertemu Jongwoon.
“Onnie, kenapa melamun? Memikirkan Jongwoon oppa?” tegur Min Rin, mengagetkanku. Nama itulah penyebabnya. Sudah ku bilang, jangan membahas dia saat ini.
“Orangnya ada di luar, onnie. Temui saja.” lanjutnya dengan tatapan menggoda.
“Tidak. Aku melamun pekerjaanku.” jawabku berkilah.
Aku memalingkan wajah. Semua orang seperti mudah membaca ekspresiku. Apa memang terlihat jelas?
Min Rin tertawa. “Onnie jangan berbohong. Pekerjaan apa? Pekerjaan onnie di kantor juga berhubungan dengan oppa, bukan? Ayolah onnie. Biasanya pasangan baru itu suka berduaan. Kenapa kalian malah menjauh?” cerewetnya muncul.
“Memangnya pasangan itu harus selalu berduaan? Tidak bukan? Tergantung situasi juga.” aku membahasnya.
Min Rin tersenyum sumringah. Dia bertepuk tangan sendiri. “Ternyata benar. Kapan jadinya, onnie? Apa disaat kalian pergi tadi?”
Bagus. Aku malah membeberkan semuanya.Apa yang ku pikirkan tadi? Kenapa hari ini aku banyak bertingkah bodoh?
“Onnie jangan malu-malu.” goda Min Rin lagi. Dia mengikuti arah pandangku. Tepat sudah dia mengetahui semuanya.
“Bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan oppa? Aku lihat banyak kecocokan dalam diri kalian. Terutama masalah pemahaman.” tanyanya.
“Masalah pemahaman? Maksudmu?” aku balik bertanya. “Dan apa tidak terbalik? Seharusnya aku yang menanyakan itu. Bagaimana pun juga, kau yang pernah menjalin hubungan dengannya.”
“Menjalin hubungan dengan oppa itu..” Min Rin terdiam. “Sangat memalukan, onnie!” dia menyambung cepat, disertai tawa keras.
“Aku sendiri bingung, kenapa sempat menaruh perasaan padanya. Dia itu oppaku, dan perhatian yang diberikannya tak lebih dari seorang kakak! Mungkin aku bisa dekat dengannya karena ada hubungan darah.”
“Dan kau tau, onnie?” Min Rin dengan cepat bercerita kembali, tidak memberiku kesempatan menyela.
“Aku melihat perhatian lebih yang diberikannya untukmu. Tidak pernah dia menjaga seseorang seserius itu. Selaras juga dengan onnie, yang baik padanya. Aku suka memperhatikan tingkah kalian saat berdua.”
Aku ingin menjawab, namun terganggu oleh suara ponselku. Aku menjangkaunya cepat. Eomma menelpon.
“Yobseo eomma.”
“Iya, sayang. Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja?” suara lembut itu, aku merindukannya.
“Baik, eomma. Apalagi setelah eomma menelpon. Kabar disana bagaimana? Aku merindukan semuanya.”
Min Rin memberi isyarat tak ingin mengganggu. Dia keluar perlahan dari kamar. Ku hargai privasi yang diberikannya.
“Disini semuanya baik-baik saja, sayang. Kau merindukan kami? Kenapa lama tidak kesini?”
“Maaf eomma, aku sibuk akhir-akhir ini. Tapi aku berjanji akan kesana secepatnya.”
Eomma tertawa. “Tidak apa-apa. Kau sibuk? Jangan terlalu banyak mengambil lembur, tidak baik kau pulang sendiri malam-malam. Jangan lupa makan yang teratur juga. Kau harus menjaga kesehatanmu.”
“Iya, eomma.” dari sekian banyak, perhatian dari eomma lah yang paling ku suka.
“O iya. Bisa kau berikan telpon ini pada Hyun Rin? Ada yang ingin eomma bicarakan dengannya.”
“Mian eomma, aku tidak sedang bersama Hyun Rin. Eomma ingin membicarakan apa dengannya? Aku bisa memberi eomma nomor telponnya. Bagaimana?”
“Ini hari libur, bukan? Biasanya kalian bersantai seharian di rumah. Apa kau sedang berada di luar?”
“Aku… Menginap di rumah temanku.” jawabku jujur, namun tak terbuka semua.
Pintu kamar diketuk tiba-tiba, menimbulkan suara berdetak pelan. Dengan ponsel yang masih menempel di telinga, aku membuka pintu.
“Maaf mengganggu. Kau dicari eomma. Dia meminta bantuanmu untuk menyiapkan makan malam.” Jongwoon berdiri disana, menyapaku.
Suara di telpon berubah ribut. “Siapa itu yang berbicara? Temanmu? Kau menginap di rumah temanmu yang laki-laki? Apa maksudnya?”
Mampus. Suara Jongwoon pasti terdengar jelas oleh eomma. Pikiran curiganya telah berkembang entah kemana.
Aku menutup pintu cepat, sebelum Jongwoon menambah kalimatnya. Gampang menjelaskan padanya nanti. Menjelaskan pada eommalah yang sulit.
“Min Gi, kau masih disana? Suara siapa itu? Temanmu yang mana?” eomma mendesak.
“Iya eomma, aku masih disini. Yang tadi itu temanku, namanya Jongwoon. Aku menginap di rumah keluarganya. Tapi tenang, aku tidak macam-macam disini. Aku tidur bersama adik perempuannya. Disini juga banyak keluarganya yang lain.”
Terdengar helaan nafas lega. Eomma mempercayaiku.
“Kim Jongwoon maksudnya? Kau sudah seserius itu dengannya? Kenapa tidak pernah mengenalkannya pada eomma? Apa memang rencanamu, memintanya datang sendiri kesini? Bagi eomma memang kejutan, tapi bagi appamu tidak.”
Perasaan malu menyergap kembali. Jadi benar apa yang dikatakan Jongwoon? Dia sendirian menemui orangtuaku?
“Appa kenapa?”
“Sayang, kau tau sendiri bagaimana pemikiran appamu. Dia tidak pernah menyukai kejutan. Apalagi ini menyangkut anak kesayangannya. Appa benar-benar selektif untuk masa depanmu.”
Aku menggigit bibir bawah bingung, sementara eomma melanjutkan kalimatnya.
“Appa akan lebih suka jika kau mengenalkannya terlebih dahulu. Dia perlu menilai calon menantunya sendiri. Memastikan apa dia pantas untukmu. Kau mengerti, sayang? Eomma rasa kebanyakan dari orangtua juga berpikir seperti itu.”
“Lalu aku harus apa, eomma? Aku bingung. Kalau mengenai pemikiran appa, aku tidak berani.” aku serasa menciut.
“Tidak perlu sebingung itu. Kau yang menjadi inti disini. Kau hanya perlu berbicara pada appa. Jongwoon juga. Jika benar dia serius, ajak orangtuanya untuk bertemu appa. Kami selalu terbuka untuk kalian.”
“Iya eomma.” Singkat. Aku bingung ingin membahas apa lagi. Cukup sudah rasa hangat yang menjalari wajahku.
“Jika dia nekat, eomma yakin malam ini juga dia akan mengajakmu menemui appa. Atau paling lama besok hari. Lihat saja.”
“Eomma, dia tidak akan senekat itu.” aku menggelengkan wajahku yang semakin memanas. Beruntung tidak ada yang bisa melihatku disini.
“Itu bisa saja terjadi, sayang. Sudah dulu ya, selamat berbaur dengan keluarga barumu. Eomma menyayangimu.”
Sambungan terputus. Aku meletakkan ponselku sembarangan. Ku amati ekspresiku di pantulan cermin. Berantakan. Tidak akan berani ku temui Jongwoon sekarang.
******
Jongwoon memahami seleraku. Selesai makan malam dia mengajakku ke luar rumah. Duduk disana, mengamati bintang yang bertabur di langit.
“Kau menghindariku sejak tadi. Kenapa? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?” tanya Jongwoon.
Aku menunduk, memainkan jemari tanganku. “Aku malu.”
“Malu? Kenapa?”
“Tidak tau.” aku mengangkat bahu bingung. “Ditambah lagi tadi eomma menelpon.” ku ceritakan semua yang dibicarakan bersama eomma. Termasuk alasan mengapa aku menutup pintu tepat di depannya.
“Oke. Malam ini juga kita berangkat ke rumahmu.” kata Jongwoon bersemangat.
“Terlalu nekat.” omelku, melotot padanya. Dia menanggapi dengan tawa.
“Lagipula ada yang lebih penting dari itu.” kali ini benar-benar ku tatap matanya. “Apa kau serius denganku? Baru hari ini kita menjalin hubungan. Apa kau yakin ingin menikahiku?”
Jongwoon tertawa lagi. Dia mengacak rambutku pelan. Matanya balas menatapku. “Apa tidak salah? Yang dilamar disini adalah kau. Sepatutnya aku yang bertanya, apa kau mau menikah denganku? Menjadi ibu untuk anak-anakku nantinya. Mendampingiku untuk selamanya. Apa kau mau menerimaku? Meskipun kita baru hari ini menjalin hubungan, apa kau tetap mempercayaiku?”
Rasa hangat mendera wajahku kembali. Tidak perlu ditanya, aku pasti menjawab ya untuknya. Masalahnya, bisa tidak aku mengatakannya langsung? Beruntunglah ini malam, cahayanya yang redup mengaburkan ekspresiku. Menerima dua pernyataan sekaligus hari ini, apa yang bisa ku lakukan?
“Hei, aku menunggu jawabanmu.” Jongwoon menyentakku. Dia menghembuskan nafas lelah.
Kemudian dia mengajakku berdiri. “Baiklah, aku tidak akan memaksamu menjawab malam ini juga. Besok ku tunggu jawabanmu. Selamat malam. Tidur yang nyenyak.”
Aku mengangguk pelan. “Selamat malam juga. Mimpi indah.” aku masih sempat tersenyum untuk hal ini. Waktuku untuk menenangkan diri sudah dimulai.
******
Sugesti yang mengatakan aku sulit tertidur malam ini, melenceng jauh dari kenyataan. Aku tertidur dengan nyenyaknya, dan terbangun lebih larut dari biasa.
“Onnie sudah bangun? Baru saja aku ingin membangunkan onnie.” sapa Min Rin. Dia sudah rapi, jauh berbeda denganku. Nampaknya dia baru selesai mandi.
“Mian. Aku bangun kesiangan ya? Ini jam berapa?” aku menguap dan meraba-raba sekitarku mencari jam.
“Tidak juga, onnie. Hari ini kita akan pergi lagi, jadi semuanya bangun pagi.” jawab Min Rin.
“Kita pulang hari ini ya? Pagi ini juga? Astaga, aku belum bersiap!” kataku panik, dan beranjak dari tempat tidur.
“Iya onnie. Kita pulang pagi ini juga. Ayo, kau harus cepat bersiap. Kita sudah ditunggu untuk sarapan.” Min Rin ikut menambah kepanikanku. Kenapa selalu aku yang terakhir untuk dikabari? Aku juga memerlukan persiapan seperti mereka.
“Kau duluan saja. Aku mandi dulu.” ucapku, bergegas. Meskipun tidak tau berapa lama lagi akan berangkat.
“Jangan lama-lama ya, onnie.” Min Rin berpesan ketika melewati pintu kamar. Namun tiba-tiba dia berbalik cepat, dan menatapku jahil.
“Mian onnie, sepertinya aku salah. Kita bukan pulang, tetapi akan bertamu. Bertamu ke rumah orangtuamu tepatnya. Jadi persiapkan dirimu baik-baik, onnie. Akan terjadi pertemuan serius antara dua keluarga.” Min Rin berbisik di kalimat akhir. Setelah itu dia nyengir dan melenggang bebas ke luar kamar.
Aku terpaku di tempat. Ada apa lagi ini?
******
Sampai sekarang masih ku pertanyakan urutan duduk di mobil ini. Kenapa di depan dibiarkan kosong? Jika tidak ada yang mau mengisinya, aku siap. Daripada harus menahan gugup karena bersebelahan dengan Jongwoon. Perasaanku bertingkah terlalu aneh.
“Kenapa? Kau pusing?” Jongwoon memecah kesunyian. Sejak awal aku tidak berani membuka pembicaraan.
“Tidak.” aku menjawab canggung. Menatapnya pun tidak bisa.
“Kau terus menunduk sejak tadi. Yakin merasa baik-baik saja?” Jongwoon mengulang pertanyaannya.
“Iya onnie, kalau kau merasa pusing atau mual, katakan saja. Oppa sudah menyiapkan banyak obat untukmu.” celetuk Min Rin. Dari arah belakang dia melempar kotak obat secara sembarangan.
Jongwoon menangkapnya dengan geram. Cepat dia berbalik ke belakang, lalu memukul kepala Min Rin. “Kenapa kau ikut-ikutan? Kami tidak berbicara denganmu.”
“Oppa!” pekik Min Rin setelah meringis. “Aku berbicara dengan Min Gi onnie, bukan denganmu. Kenapa oppa ikut-ikutan juga?”
“Hei, sudah-sudah. Aku baik-baik saja. Bila merasa tidak enak badan, aku bisa sendiri meminum obatnya. Terima kasih.” aku berusaha menengahi mereka.
Tidak bertahan lama. Mereka melirikku sekilas, kemudian melanjutkan perseteruan. Apalagi setelah Jongjin ikut turun tangan. Lama-lama aku terbiasa dengan pertengkaran mereka.
“Sudah, jangan hiraukan mereka. Kau bisa pusing sendiri jadinya.” eomma Jongwoon berkata pelan. Aku mengangguk dan tersenyum padanya.
“Jangan gugup, aku yakin Jongwoon berhasil hari ini. Sebentar lagi kau akan menjadi keluarga Kim.” bisik eomma Jongwoon. Rasa malu berlipat segera menghampiriku.
“O iya, satu lagi. Kau boleh memanggilku eomma mulai saat ini.” lanjutnya, dengan ekspresi senang.
“Eomma?”
******
Tiba ditujuan, tidak bisa ku sembunyikan senyum. Tempat yang begitu ku rindukan, akhirnya bisa ku datangi. Meskipun untuk tujuan lain.
Jongwoon mengajakku turun terlebih dulu, sementara keluarganya sibuk berbicara sesuatu. Dia menarikku menjauhi mobil, kemudian mempersilahkanku untuk mengetuk pintu depan.
Cukup lama menunggu, belum ada juga respon dari dalam. Apa orang-orang di rumah sedang pergi?
“Sebaiknya kau jauhkan adikmu dari Jongjin dan Min Rin. Jangan sampai mereka bertemu.” Jongwoon berbisik padaku.
Belum sempat menanyakan maksudnya, pintu sudah terbuka. Jongwoon langsung membungkuk dan memberi salam ketika melihat siapa orang di balik pintu itu. Sementara aku menyapanya riang. “Appa!”
“Maaf membuatmu lama menunggu. Appa terlalu asik berbicara dengan eommamu. Ayo masuk, kau pasti lelah.” appa tersenyum dan mengacak rambutku.
Kemudian dia menatap Jongwoon. “Oh, kau lagi.” responnya singkat.
“Appa, dia punya nama. Kim Jongwoon.” cecarku.
“Ya, siapa pun namamu.” balas appa cuek, namun masih menatap Jongwoon. “Ajak keluargamu masuk. Kita bicara serius di dalam.”
******
Aku berada di sebuah ruangan, tempat dimana biasanya appa menggelar rapat keluarga besar. Keadaannya yang luas namun tertutup, ku akui memang sesuai dengan kegunaannya. Jangan membayangkan terlalu jauh. Anggaplah ini sebagai ruang keluarga biasa, hanya saja lebih spesifik.
Sekarang ruangan ini terisi oleh enam orang, yang sudah bisa ditebak siapa. Aku, eomma, appa, dan Jongwoon beserta kedua orangtuanya. Sedangkan Min Rin, Jongjin, dan adikku tidak diizinkan appa untuk masuk. Seperti prinsip biasa, ‘Orang yang tidak berkepentingan diharap keluar.’
“Sebelumnya, saya pribadi mengucapkan selamat datang untuk keluarga Kim, yang sudah jauh-jauh kesini.” appa membuka pembicaraan dengan gaya formalnya.
Aku menjadi kaku sendiri. Ku mainkan jemari eomma yang sedari tadi ku genggam erat. Sementara mataku tak sekalipun berani menatap appa, maupun Jongwoon yang berada di dekatnya.
“Kami juga ingin meminta maaf, mungkin kedatangan kami terkesan mendadak. Tapi demi mengklarifikasi kejadian sebelumnya, mengapa tidak?” appa Jongwoon membalas.
Dia berdehem pelan, kemudian melanjutkan pembicaraan. “Memang benar, putraku bisa dianggap lancang datang kesini. Aku juga tidak mengerti jalan pikirannya. Biasa, anak muda zaman sekarang.”
Appa tertawa dengan wibawa yang melekat kuat. “Ya, bisa dikatakan seperti itu. Siapa yang tidak kaget melihat seorang pemuda tiba-tiba datang untuk melamar putriku? Sedangkan putriku sendiri tidak pernah menceritakan hubungan khususnya dengan seseorang.”
“Mengingat usia mereka yang memang dewasa, bisa dipertimbangkan alasan mereka melakukan itu. Pasti ada dorongan kuat untuk membina sebuah hubungan serius. Apalagi putraku sudah mapan, dan bisa dipercaya untuk menjaga seseorang.” kata appa Jongwoon.
“Kami percaya itu. Ada sumber lain yang mengatakan hal serupa pada kami.” Sahut appa.
“Syukurlah.” bisa ku bayangkan senyum dalam suara appa Jongwoon. “Apa itu berarti jawaban ‘ya’ atas lamaran dari putraku?”
“Itu tergantung keduanya. Apa putramu benar-benar serius dengan putriku? Apa dia bisa menjaga putriku dengan baik? Berjanjilah tidak akan menyakitinya. Sekali saja putramu melakukannya, jangan harap ada kata maaf untuknya. Mengerti?”
“Ya, saya benar-benar serius dengannya. Berjanji tidak akan menyakitinya. Akan selalu menjaga serta mencintainya.” jawab Jongwoon serius. Sebuah ketegasan lain ku temukan darinya.
“Baiklah, tinggal menunggu jawaban dari satu orang penentu. Min Gi, angkat kepalamu. Kenapa terus menunduk? Apa yang kau lihat di bawah sana?”
“Iya appa, ada apa?” aku menjawab appa tanpa menuruti perintahnya. Kepalaku tetap setia menunduk.
“Appa bilang angkat kepalamu. Mudah untuk berbohong dalam keadaan seperti itu.” bentak appa.
Mau tidak mau, ku angkat wajahku. Alhasil, semua mata kompak menatapku. Namun yang paling jelas ku lihat adalah Jongwoon. Dia tersenyum tipis padaku.
“Jawab dengan jujur. Apa kau mencintainya?” tanya appa, serasa menjebakku. Ditatap seperti ini, bisakah aku menjawab dengan benar?
“Min Gi, appa bertanya padamu. Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak. Dimana letak sulitnya?” desak appa. Bukan hanya appa, mungkin semua orang disini berpikiran sama. Menungguku untuk menjawab.
“I..iya..” tergagap akhirnya aku berkata.
“Iya apa? Iya menolaknya Atau iya menerimanya? Katakan yang jelas.” ujar appa lagi. Sungguh, kenapa appa begitu memberatkanku?
“Iya, aku mencintainya. Dan menerimanya.” aku berucap dengan percaya.
Lihatlah senyum yang terbentuk di wajah appa maupun Jongwoon. Berbeda, namun sama puasnya.
“Baik, kau boleh keluar sekarang.” kata appa, yang ku yakini ditujukan padaku. Tapi apa maksudnya?
Ternyata tidak hanya aku yang disuruh keluar. Eomma dan eommanya Jongwoon juga. Pasti appa menyebutnya pembicaraan antar lelaki. Tidak adil.
“Eomma, katanya aku harus berbicara dengan appa. Tapi kenapa appa malah berbicara dengan Jongwoon?” rengekku pelan, agar tak terdengar oleh eommanya Jongwoon.
“Apa lagi yang perlu dibicarakan jika appa sudah percaya padamu? Jangan terlalu dipikirkan, ikuti saja alurnya sesuai perkataan appa. Percayalah padanya.” jawab eomma. Aku mengangguk.
Kami lalu pergi ke dapur, sesuai perintah eomma. Appa meminta kami membuat hidangan makan siang, mengingat jam berapa ini. Sebentar lagi perut akan berdemo minta diisi.
Pembagian tugas di dapur tidak memberatkanku. Aku hanya diminta memotong beberapa sayuran yang lumayan jumlahnya. Sedangkan sisanya diserahkan pada eomma dan eommanya Jongwoon. Mereka mulai akrab satu sama lain.
Bisa saja aku meminta tolong adikku untuk meringankan tugas. Tapi dimana dia? Apa terlalu asik bermain dengan Jongjin dan Min Rin? Sesuatu yang sudah dilarang oleh Jongwoon. Memangnya apa yang akan terjadi?
Sambil terus memotong, aku melirik jam tak sabar. Kenapa appa lama sekali di dalam? Apa yang mereka bicarakan? Aku bosan menunggunya. Yang lain sudah memiliki teman bicara, sedangkan aku? Ponselku mati sejak awal perjalanan.
15 menit, akhirnya mereka keluar dari ruangan itu. Appa dan appanya Jongwoon sibuk berbincang berdua, entah apa. Mereka menuju halaman depan rumah, mungkin mencari tempat yang lebih leluasa.
Sedangkan Jongwoon langsung menghampiriku. “Sedang sibuk?” tanyanya.
“Tidak, hanya memotong ini. Tinggal sedikit lagi.” aku menjawab ringan.
Aku lalu mendongak, menatapnya yang lebih tinggi dariku. “Bagaimana? Kau membicarakan apa saja dengan appa?” tanyaku. Bagiku pertanyaan dari eomma Jongwoon untukku tidak sebanding dengan pertanyaan appa untuk Jongwoon.
“Banyak, tapi rahasia.” balas Jongwoon, tersenyum.
“Pelit.” ejekku, dan memalingkan wajah kembali ke tumpukan sayuran. Sementara tanganku terus bekerja.
“Memangnya apa yang ingin kau ketahui? Yang penting kau sudah menerimaku.” katanya lagi.
“Apa hubungannya? Ayolah, ceritakan sedikit. Poin pentingnya saja.” bujukku.
“Baiklah, tapi sedikit saja.” kata Jongwoon, kemudian terdiam. Dia sengaja memberi jeda. Penasaranku makin menjadi.
“Kami membicarakanmu.” lanjutnya. Ketika mataku berbinar ingin tau, dia mengunci petunjuknya. “Tapi rahasia.”
“Sekali pelit tetap saja pelit.” dengusku kesal.
Jongwoon tertawa dan mendekatiku. “Tapi ada satu hal penting yang harus kau ketahui.” bisiknya. “Tanggal pernikahan sudah ditentukan.”
“APA?” aku terpekik keras, dan sialnya itu terhubung dengan refleksku. Jariku tak sengaja teriris pisau. Tidak parah, namun aku meringis kaget dan darah itu mengalir keluar.
“Ada apa?” tanya eomma panik. Bagus, sekarang semua perhatian terfokus padaku. Termasuk Min Rin, Jongjin, serta adikku yang entah sejak kapan berada di dekat dapur. Memangnya sekeras apa tadi aku memekik?
“Tidak apa-apa. Hanya luka kecil. Aku ceroboh.” jawabku, menenangkan. Sementara Jongwoon mengambil kotak obat di dekat dapur.
Semuanya menghela nafas, dan kembali pada aktifitas semula. Tidak ada yang memperhatikanku lagi.
“Onnie, makanya jangan pacaran di dapur.” celetuk adikku. Manis sekali ya sindirannya? Aku harus menahan diri untuk tidak membalasnya.
“Bagaimana? Apa masih sakit?” tanya Jongwoon, setelah selesai menutup lukaku.
Aku menarik tanganku darinya. “Ini hanya luka kecil, tidak akan sesakit itu. Tapi terima kasih.” aku tersenyum.
“Kau mengagetkanku. Untung hanya teriris kecil.” tegur Jongwoon. Dia menyingkirkan pisau yang sempat tergeletak sembarangan.
“Kau yang mengagetkanku. Seenaknya saja menentukan tanggal pernikahan. Kenapa tidak berdiskusi denganku?” aku mengomel, lupa akan rasa nyeri di jari.
“Memangnya aku sudah memberitaukan tanggalnya? Belum bukan?” sanggahnya. Dia kemudian membisikkan sebuah tanggal padaku.
Mataku melebar kaget, lagi. “Kau gila? Tanggal itu hanya berjarak tiga bulan dari sekarang! Apa tidak terlalu mendesak?”
“Tidak.” Jongwoon menjawab santai. “Appamu saja sudah menyetujuinya.”
“Kau..” aku kehabisan kata untuk memarahinya. Harus berapa kali ku dapatkan kejutan dalam hari ini?
“Aku berjanji semuanya akan beres tepat waktu. Kau juga tidak perlu repot, aku bisa mengurusnya sendiri.” Jongwoon mengacak rambutku.
Terserah. Tapi aku yakin, hari sibukku yang baru akan dimulai besok.
******
Selesai makan siang, kami semua pamit pulang. Eomma sempat memintaku menginap, namun ku tolak. Setumpuk pekerjaan menantiku besok. Sebagai gantinya aku berjanji akan meminta cuti nanti.
Hal terakhir yang ku lakukan sebelum benar-benar pulang adalah memeluk appa. “Terima kasih untuk semuanya.” tuturku. Appa tidak menjawab apa yang ku katakan, namun balas memeluk erat.
Appa malah berbicara pada Jongwoon. “Jaga putriku baik-baik.”
Jongwoon membungkuk, mengiyakan. Aku terkikik dalam hati. Sikapnya masih kaku pada appa. Santai saja mestinya, dia kan sudah sering berbicara dengan appa.
Selama perjalanan pulang ini aku bisa tertidur kembali. Aku tidak tau bagaimana posisiku saat tertidur, yang jelas aku terbangun dalam keadaan biasa di posisiku. Aku tidak merepotkan bahu Jongwoon lagi.
Tiba di rumah aku tidak mengulur waktu lagi, langsung saja turun. Tubuhku lelah dan secepatnya ingin bertemu tempat tidur. Aku berpamitan dengan semuanya, tak lupa memberi salam. Lambaian tangan dari eomma Jongwoon lah yang terakhir ku lihat sebelum mobil mereka menghilang.
“Kau sudah pulang? Bagaimana akhir pekanmu disana?” belum sempat aku mengetuk pintu, Hyun Rin sudah membukanya dari dalam. Dia menyambutku dengan penuh penasaran. Aku mengabaikannya, melewati pintu begitu saja. Aku lelah.
“Hei, hei. Kenapa diam saja? Kau tau, kemarin orangtuamu menelpon hanya untuk menanyakan Jongwoon! Memangnya kau diapakan oleh Jongwoon? Appamu serius sekali.” ucap Hyun Rin, mengikutiku yang masuk ke kamar.
Aku berbalik cepat ke arahnya. “Lalu kau menjawab apa? Kau tidak menceritakan sesuatu yang aneh kan?” tanyaku panik.
“Hmm, aku rasa tidak.” Hyun Rin mengangkat alisnya, berpikir. “Tapi aku menceritakan bagaimana perasaanmu terhadap Jongwoon. Tidak apa-apa kan?” dia mengakhiri ‘pengakuan tak berdosanya’ itu dengan senyum puas.
Tas ku pegang jatuh mendadak, berdebam pelan di lantai kamar. Reaksi cukup kompak dengan ekspresiku yang terbengong kaget. “Kau mempermalukanku. Sungguh.” suaraku bergetar.
“Kenapa? Memangnya apa yang dilakukan Jongwoon hingga orangtuamu menanyakannya?” Hyun Rin kembali menanyakan itu.
Aku mencoba bernafas teratur dan memindahkan tasku ke atas tempat tidur. Aku membongkar isinya seraya berucap pelan. “Dia melamarku.”
“Kau serius?” Hyun Rin mengguncang bahuku lembut, namun memaksa. “Baru sehari kau menghilang dari pandanganku, dan sudah sejauh itu perubahannya? Ceritakan selengkapnya padaku.”
Ku turuti permintaannya. Merahasiakannya pun tidak ada gunanya. Dia sahabat terdekatku, orang yang mungkin memberi masukan agar aku tenang.
“Itu lamaran teraneh yang pernah ku dengar.” komentarnya, yang seratus persen ku setujui.
“Tapi seaneh apapun itu, yang penting Jongwoon pelakunya. Ciyee yang sudah jadi calon istri orang.” Hyun Rin menggodaku, tak lupa dengan kerlingan matanya. Lengkap. Ku tarik ucapanku sebelum ini mengenai dirinya.
“Aku malu. Kenapa kau malah menambahnya?” aku menyembunyikan wajah diantara lutut yang ku tekuk. “Appa sempat berbicara rahasia pada Jongwoon, dan katanya mereka membicarakanku. Bagaimana kalau appa menceritakan perasaanku pada Jongwoon?” rengekku, berupa gumaman tak jelas.
“Harusnya kau senang, Jongwoon sudah mengetahui perasaanmu. Kau tidak perlu memendamnya lebih lama lagi.” jawab Hyun Rin enteng.
“Tapi aku malu.”
“Malu apanya? Mana ada setelah dilamar orang malah malu. Senang iya. Kau ini bagaimana.” Hyun Rin mengomeli, gemas akan sikap anehku. Tapi bagaimana lagi? Jangan salahkan bila aku masih malu. Semuanya terjadi mendadak, tanpa petunjuk yang ku sadari sebelumnya.
******
Pekerjaanku selesai lebih cepat dari biasanya. Aku sudah mempersiapkan lembur untuk ini, tapi ternyata tidak perlu. Menjelang sore semuanya sudah beres. Mungkin pengaruh suasana hati yang senang, aku mengerjakan semuanya dengan mudah. Jangan sampai ada yang mengetahui ini, apalagi Jongwoon.
“Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Jongwoon tiba-tiba. Baru saja dipikirkan, dia sudah muncul di hadapanku. Kebetulan yang hebat.
“Ya, sudah beres semua. Kenapa?” aku bertanya balik.
“Pekerjaanku juga sudah selesai. Bagaimana kalau kita mengajukannya sekarang pada atasan?” tawar Jongwoon. Tangannya sudah dipenuhi banyak berkas. Aku mengiyakan bersemangat. Jarang-jarang Jongwoon cepat menyelesaikan pekerjaan kantornya.
Tapi ternyata, ini sebuah jebakan bagiku. Apa yang dikatakannya di ruangan atasan, benar-benar membuatku malu. Dia meminta izin pulang saat ini juga, dengan alasan ingin mempersiapkan pernikahan bersamaku. Hei, berapa orang lagi yang harus tau bahwa kami akan menikah?
Percaya atau tidak, atasan mengizinkan kami. Dengan syarat biasa, pekerjaan harus selesai sebelum deadline.
Namun yang membuatku tak habis pikir adalah ketika atasan kami berkata, “Kalian akan menikah? Kenapa tidak dari dulu saja? Bukankah kalian sudah lama menjalin hubungan?” Untuk ini, aku maupun Jongwoon hanya menjawab dengan senyum. Sejak kapan juga atasan memperhatikan kami.
Keluar dari ruangan itu, kami langsung menuju tempat parkir. Aku menarik Jongwoon sedikit mendekat, kemudian berbisik. “Apa maksudmu mengatakan itu pada atasan kita? Kau tidak malu?”
“Bukankah menikah itu kabar bahagia? Untuk apa malu?” dia beralasan.
“Tetap saja aku malu. Dan juga, kau tidak pernah mengajakku berdiskusi mengenai persiapan ini. Aku tidak peduli kau menyebutnya kejutan atau apa untukku. Pokoknya aku juga ingin terlibat. Memangnya yang menikah kau saja?” aku mengadu, layaknya anak kecil yang tidak diajak bermain. Jongwoon saja sampai tertawa kecil melihatnya. Begitu konyolkah aku?
“Masuk dan ku jelaskan semuanya. Jangan marah dulu.” bujuk Jongwoon. Dia membukakan pintu mobil untukku. Aku masuk dengan wajah tertekuk.
Jongwoon yang sudah duduk di tempatnya melajukan mobil dengan santai, seperti biasa. Tak ada tanda-tanda darinya akan menjelaskan sesuatu.
“Sepertinya ada barang yang terjatuh di dekat kakimu. Bisa tolong ambilkan? Penting.” pinta Jongwoon, dengan pandangan yang tetap lurus ke depan.
Aku menunduk dan meraba-raba sekitar kakiku. “Apa benda itu berbentuk kotak kecil? Aku menemukannya.” aku mengambil benda yang ku maksud.
Sebuah kotak cincin berwarna biru laut nan indah. Tekstur luarnya lembut, harus berhati-hati menyentuhnya. Terpesona sampai disana, tanganku tergoda untuk membukanya. Mengintip perlahan isi di dalamnya.
Sebuah cincin putih yang cantik menyambutku. Emas putih sebagai bahan dasar dikombinasikan elegan dengan berlian murni di atasnya. Dipermanis sentuhan akhir berupa permata biru safir kecil, yang setia mendampingi sang berlian di kedua sisinya. Ya Tuhan, cantik sekali.
“Kau menyukainya?” tanya Jongwoon.
“Tentu saja. Cincin secantik ini, siapa yang tidak menyukainya?” jawabku, dengan fokus masih pada cincin itu. Aku tertarik untuk mengambil dan mencobanya. Pas, ukurannya cocok dengan jemariku.
“Aku dengar, berlian melambangkan kemurnian dan keabadian cinta. Sedangkan permata biru safir melambangkan kesetiaan. Perpaduan yang menarik, menurutku.” lanjut Jongwoon. Menambah kekagumanku pada benda kecil namun berharga ini.
“Tapi..” aku merasakan sesuatu yang janggal. “Ini cincin siapa?” tanyaku kaget, terlebih pada diri sendiri. Aku merasa lancang telah memakai milik orang lain sembarangan.
Jongwoon mencubit pipiku keras. “Tentu saja milikmu, sayang. Memangnya ada berapa orang calon istriku? Itu cincin pernikahan kita.” jelasnya.
Aku memandangnya takjub, namun kembali merasakan kejanggalan lain. “Kau tau darimana ukuran cincinku?” tanyaku curiga.
“Mudah. Menurut Min Rin, ukurannya sama denganmu. Jadi aku meminta bantuannya.”
“Maksudmu, Min Rin yang pertama mencoba cincin ini? Bukan aku? Wow.” aku mengeluh kecewa dan mengembalikan cincin itu ke tempatnya.
Jongwoon mencubit pipiku lagi. “Dengarkan penjelasanku dulu sampai selesai.” tegurnya. “Min Rin mencoba cincin lain yang berukuran sama. Aku hanya ingin mengetahui ukurannya. Untuk menyentuhnya saja aku tidak memberi izin pada Min Rin, apalagi mencobanya. Cincin itu benar-benar ku jaga untukmu.”
Aku tersenyum dan menepuk-nepuk pundaknya. “Kau baik sekali padaku. Terima kasih.” ucapku tulus.
“Itulah alasan mengapa aku merahasiakannya. Aku memang tidak bisa seromantis orang lain, tapi aku berusaha membuatnya berbeda.” Jongwoon tertawa. Gurat malu tersembunyi tipis di wajahnya.
Dia melanjutkan, “Tapi aku berjanji, setelah ini tidak akan merahasiakan apapun darimu. Kita berdiskusi berdua.”
******
Jongwoon mengajakku ke salah satu butik, yang ku ketahui cukup ternama. Aku sendiri mengagumi berapa rancangannya di banyak majalah.
“Jongwoon? Lama sekali aku tidak melihatmu.” sapa seorang lelaki ketika kami memasuki butik. Dilihat dari wajah serta caranya berpakaian, dia mudah termasuk dalam kategori tampan.
“Kau yang terlalu sibuk, hingga lama tak bertemu denganku. Tapi ku dengar butikmu berkembang pesat dalam beberapa tahun ini. Kau memang berbakat.” puji Jongwoon. Kesimpulan yang bisa ku tangkap, mereka adalah teman lama.
“Terima kasih.” balas lelaki itu senang. “Ada keperluan apa kau kesini? Sekedar bertamu atau menginginkan salah satu rancanganku?” candanya.
“Kau bisa membuat sebuah rancangan untuk kami? Sebentar lagi kami akan menikah.” jawab Jongwoon, langsung ke poin utama. Satu lagi orang yang mengetahui rencana pernikahan kami.
“Oh, dia calon istrimu?” lelaki itu berganti menatapku. “Kenapa mau dengan Jongwoon? Kenapa tidak denganku saja?” tanyanya, kemudian tertawa.
“Apa maksudmu? Jangan menggodanya.” celetuk Jongwoon kesal. Aku ikut tertawa dibuatnya.
“Aku hanya bercanda. Kau serius sekali.” lelaki itu menghentikan tawanya.
Dia lalu mengajak kami ke sebuah ruangan mewah, lengkap dengan perabotannya. Dia mempersilahkan kami duduk di bangku yang berseberangan dengannya, dipisahkan oleh sebuah meja. Mengingatkanku pada ruang kerja atasan kami.
“Tema pernikahan kalian apa? Biar aku bisa menyesuaikannya.” tanyanya. Profesionalitas yang mulai terlihat.
Aku dan Jongwoon berpandangan berdua, bingung. “Kami belum menentukannya. Apa itu penting?” tanya Jongwoon.
Lelaki itu tertawa. “Coba bayangkan. Tanpa tema, bagaimana kalian mengurus keperluan lainnya? Gaun pengantin salah satunya. Aku bisa merancang saat ini juga, tetapi tidak menjamin akan selaras dengan tema kalian nantinya. Bisa fatal akibatnya.” terangnya.
Aku dan Jongwoon sontak tertawa. Perihal sepenting itu pun kami tak menyadarinya. Memalukan. Tapi salah siapa juga, yang begitu mendadak merencanakan semua.
“Kalau begitu, pikirkan masak-masak bagaimana keinginan kalian. Setelah itu hubungi aku lagi.”
******
Mempersiapkan pernikahan itu rumit, tak semudah kelihatannya. Banyak yang perlu diurus dan dirancang baik-baik, jika menginginkan hasil yang sempurna. Melatih kecermatan juga, mengingat sama butanya kami dalam masalah ini.
Jongwoon bertingkah. Dia bersikeras mempersiapkan semuanya berdua, tanpa bantuan keluarga. Menurutnya ini acara siapa, dan siapa pula yang berhak mengatur. Pemikiran egois. Aku ingin memarahinya, tapi tak bisa.
Setiap akhir pekan, sudah menjadi kewajiban bagi Jongwoon untuk datang ke rumahku. Menurut Jongwoon, rumahnya adalah tempat terlarang untuk mendiskusikan pernikahan kami. Siapa saja bisa mencuri dengar, lalu ikut mencampurinya. Berbeda dengan rumahku yang hanya ada Hyun Rin.
Seperti hari ini, kami membicarakan komponen yang belum tersentuh dalam persiapan kami. Undangan untuk para tamu.
“Mana menurutmu yang paling bagus? Jika kau sudah menentukannya, aku bisa memesan sore ini juga. Bagaimana?” tawar Jongwoon.
Dia memberiku banyak contoh desain undangan. Aku bingung sendiri. Semuanya sama cantik dan elegan. Bagaimana bisa aku memilih?
“Terserah kau saja yang mana. Aku bingung.” akhirnya aku menyerah. Jongwoon mengangguk, tidak memprotesnya.
Aku menepuk kedua pipinya dengan tanganku, lalu tersenyum. “Kau lelah karena lembur semalam? Kenapa memaksakan diri untuk datang? Kita bisa menunda pembicaraan.”
Jongwoon memejamkan matanya, dan memegang tanganku yang berada di pipinya. “Bagaimana mungkin aku lelah, sedangkan kau tidak? Padahal kita sama-sama lembur.” gumamnya.
Dia membuka mata, menatapku dengan sorot lain. Dia berbohong. Aku tau persis, seminggu ini dia bekerja lebih keras dari biasa. Disamping lembur, dia masih harus mengatur ini itu tanpa sepengetahuanku. Himbauanku untuk beristirahat tidak dipedulikannya.
Dia melepaskan tanganku dari pipinya, namun masih menggenggamnya. “Aku tidak apa-apa. Tenang saja. Memangnya pernah aku menunda pekerjaan? Terkecuali pekerjaan kantor.” dia bergurau.
“Kalau begitu, kau juga tidak boleh menunda istirahatmu. Aku tidak mau melihatmu sakit mendekati hari-H. Mengerti?” tegurku.
Dia tertawa dan melepaskan tanganku. “Sampai dimana tadi pembicaraan kita? Oh, siapa saja tamu yang ingin kau undang?” bukannya menjawb, dia malah mengalihkan perhatian.
Aku menahan diri untuk tidak memarahinya lagi. Dia sudah serius, kenapa aku tidak? “Pertama, yang pasti diundang adalah keluarga. Kedua, rekan kerja di kantor. Sisanya teman-teman yang lain. Bagaimana?”
Jongwoon mengangguk-ngangguk. “Teman-teman yang lain? Maksudmu teman-teman SMA kita? Benar sekali! Mereka harus melihat pernikahan kita.” nada bicaranya meninggi, senang.
“Memangnya kenapa mereka harus melihat pernikahan kita?” aku melirik curiga. “Lagipula, siapa saja yang ingin kau undang? Semuanya?”
Jongwoon terkekeh. Dia memelankan suara, layaknya berbisik. “Sebenarnya aku hanya ingat beberapa dari mereka.” dia lalu tertawa dengan polosnya. Bangga sekali.
“Kenapa sama sekali denganku? Yang paling aku ingat ya Hyun Rin dan Ryeowook.” keluhku kecewa. Menyesal, tidak memanfaatkan momen reuni dengan baik.
“Itulah guna album kenangan untuk kita.” Jongwoon tiba-tiba berdiri. Matanya mengamati rak buku besar di ruang tengah, tempatku menyimpan koleksi buku. Kemudian dia melangkah kesana dan menggapai sesuatu di rak paling atas. Cukup lama baru ku sadari, dia mengincar album kenangan SMA milikku.
Secepatnya aku menyusul dan menahan tangannya. Beruntung bisa. “Sedang apa? Kau ingin mengambil apa?” sesantai mungkin aku bertanya. Meskipun perasaanku jauh berdetak cepat.
“Aku ingin mengambil album kenangan SMA kita. Ada yang salah?” balasnya bingung.
“Tidak ada yang salah, tidak ada.” jawabku cepat, dengan tetap menahan tangannya.
Jongwoon menyentak tanganku dengan mudah. “Jangan halangi kalau begitu.”
“Kau tidak boleh mengambilnya! Buku itu rusak. Hati-hati banyak rayap di dalamnya!” kataku asal. Semuanya campur aduk.
“Kau bicara apa? Jelas-jelas buku ini masih bagus. Kau sengaja meletakkannya di rak atas agar tak tersentuh orang lain, kan?”
Bukan karena itu. Aku menggeleng dalam hati. Satu-satunya alasan adalah kelakuanku yang memalukan. Aku memberi tanda khusus di album kenangan itu, tepat di biodata Jongwoon. Awal yang iseng, dan akan berujung petaka jika Jongwoon melihatnya langsung. Aku malu.
“Aku bilang kau tidak boleh mengambilnya!” bentakku, merampas album kenangan yang sudah diambil Jongwoon dari tempatnya.
Jongwoon bersikukuh. Dia menarik kembali album itu. Terjadilah saling tarik-menarik diantara kami. Aku tidak peduli berapa kali tubuhku terbentur rak karena menarik terlalu keras.
Jongwoon bermain curang. Dia menunduk dan mendekatkan wajahnya padaku. “Kau menyembunyikan sesuatu dariku?”
Aku menggeleng kuat. Ini bukan saatnya tersipu malu. Selamatkan rahasia selagi bisa. “Aku tidak menyembunyikan apapun. Aku hanya memperingatkan kalau album itu banyak rayapnya. Bahaya.”
“Lain kali, cari alasan yang lebih masuk akal.” ejeknya. Dia hampir menang, tenaganya memang lebih kuat dariku. Kenapa tidak mau mengalah untuk kali ini saja?
Tiba-tiba, ku rasakan sesuatu bergetar dari rak atas. Kamus dan novel-novel besar bergeser dari tempatnya. Aku melepas tanganku begitu saja dari album, menjadikannya pelindung bagi kepala. Mataku refleks tertutup ketika beberapa buku besar berjatuhan dari rak atas. Seberapa sering aku menubruknya, sebesar itu juga pergeserannya hingga terjatuh semua.
Aku baru berani membuka mata ketika suara berdebam tak terdengar lagi. Aku sempat mengatur nafas sejenak, dan melihat album itu tergeletak di lantai. Jongwoon juga melepasnya. Dia menggunakan tangannya untuk menahan rak buku, benda yang mungkin akan menimpa kami juga.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya pelan. Aku terdiam, masih menghela nafas kaget. Tanpa basa-basi aku mengambil album itu, dan menyembunyikannya di balik punggung.
“Aku tidak akan memaksa lagi, jika album itu terlalu penting untukmu.” kata Jongwoon, mengalah. Dia menunduk dan membereskan beberapa buku yang tercecer.
Namun pandangannya tertuju pada album fotoku yang tak sengaja terbuka. Tepat menampakkan foto diriku yang berdiri di depan kelas. Dulu sebelum lulus, aku dan Hyun Rin iseng berfoto ria di sekolah sebagai kenang-kenangan.
“Ini album fotomu ketika SMA? Ternyata kau benar-benar apik menyimpan memori semasa SMA. Sebegitu pentingkah?” dia berbicara sambil membolak-balik albumku. Aku tidak berani bersuara. Dalam hati aku berdoa, semoga dia tak menyadari sebuah rahasia lagi yang ku sembunyikan di album itu.
“Kalian itu sedang apa? Membicarakan pernikahan atau bermain-main? Kenapa ini berantakan sekali?” tanya Hyun Rin yang baru keluar dari kamarnya. Dia mengamati kami dengan prihatin.
Aku memberinya isyarat agar memperhatikan Jongwoon. Dia pasti paham, apa yang akan terjadi jika Jongwoon menemukan rahasia itu. Aku bisa lebih malu dari sekarang.
“Tunggu.. Kenapa di setiap foto selalu ada aku? Coba kau lihat.” Jongwoon menarikku mendekat. Dia membolak-balik foto tak sabar.
“Ini, fotomu di gerbang sekolah. Ada aku di belakangmu, meskipun tidak jelas.” dia menunjuk fotoku yang berdiri di depan gerbang sekolah. Di foto itu dia berada di belakangku, bercanda dengan temannya.
“Ini juga. Ada aku!” selalu itu yang diucapkannya bila membuka sebuah foto.
Aku masih tak bersuara. Tanpa dikatakan pun, aku mengetahuinya. Justru itu yang ku sembunyikan. Aku sengaja meminta Hyun Rin mengambil potret diriku, dimana pun itu asal ada Jongwoon. Tidak peduli Jongwoon sedang apa, yang pasti dia ikut dalam foto itu. Tidak ada keberanian maupun kesempatan untuk memintanya foto berdua.
“Siapa yang memotret semua ini? Hyun Rin?” tanya Jongwoon.
“Ya, aku. Kenapa? Kau ingin memujinya?” jawab Hyun Rin santai. Percaya diri.
“Kau menyukaiku ya?” tuduh Jongwoon. Jika matanya bukan mengarah pada Hyun Rin, aku pasti sudah sibuk mencari alasan.
“Kau berbicara padaku atau Min Gi? Kenapa menatapku seperti itu?” balas Hyun Rin kaget.
“Tentu saja bicara padamu. Kau suka padaku, kan? Makanya banyak mengambil potret diriku.” lanjut Jongwoon.
“Apa maksudmu? Kau menuduhku suka padamu? Percaya diri sekali. Kau pikir kau itu siapa?” Hyun Rin terpancing emosinya.
“Lalu kalau bukan suka, apa namanya? Kenapa aku selalu ada dalam foto Min Gi? Sedangkan di foto kau sendiri tidak ada aku. Kau memang sengaja kan mengaturnya? Supaya kau bisa mengamati fotoku terus-menerus.”
Mataku melebar tak percaya. Analisis yang benar, tapi salah orang. Istilahnya begini. Pemikirannya sudah benar, namun salah pada hasil akhir. Membuat kesalahpahaman berlanjut.
Hyun Rin menahan ekspresi ingin tertawanya. “Kenapa semua tuduhan ditujukan padaku? Itu foto Min Gi. Tanyakan saja padanya.” dia membela diri, ikut menjerumuskanku.
“Tidak mungkin Min Gi.” Jongwoon melirikku sekilas. “Dia menyukai Ryeowook ketika SMA. Pasti foto Ryeowook yang banyak disimpannya. Apalagi mereka akrab.”
Hyun Rin tertawa keras. Lucu sekali. Bagaimana bisa, Jongwoon masih mempertahankan pendapatnya mengenai itu? Sudah berapa kali aku mengelak? Apa belum cukup juga? Lama-lama aku gemas dengan pemikirannya.
“Singkirkan dugaan konyolmu itu jauh-jauh. Kau terlalu berlebihan memikirkannya.” tegur Hyun Rin. Dia merebut album itu dari tangan Jongwoon.
“Kau lihat? Di beberapa foto ini memangnya kau terlihat jelas?” bentak Hyun Rin, memaksa Jongwoon memperhatikannya. Dia membolak-balik album pelan, mungkin sambil merencanakan sesuatu.
“Tidak ada yang jelas. Kenapa?” Jongwoon balik bertanya.
“Itu artinya bukan kau objek utama dalam foto ini. Jika aku mengincar fotomu, pasti kau yang paling jelas terlihat. Dan kau tau apa maksud dari semua ini?” Hyun Rin menatap Jongwoon galak.
“Kau adalah penganggu dalam foto ini! Aku sudah bagus-bagus memotret Min Gi, kenapa kau selalu ada di belakangnya? Kau pikir itu baik? Merusak pemandangan saja.” omelnya.
Ya, sangat menusuk. Namun amat berguna di saat seperti ini. Dia bisa memainkan pikiran Jongwoon. Lihat saja, Jongwoon kebingungan sendiri. “Benar begitu? Jadi bukan aku yang diincar di foto ini?” tanyanya.
“Tentu saja! Harus ku jelaskan berapa kali, hah? Ini foto Min Gi, mana mungkin kau objek utamanya! Kau sengaja membuatku emosi?” Hyun Rin menaikkan suaranya. Aku tau dia ingin memukul kepala Jongwoon, jika tidak ku larang dengan tatapanku.
“Oh, jadi begitu. Aku salah ya? Maaf. Pikiranku terlalu jauh.” Jongwoon terkekeh.
Akhirnya. Ada satu yang ku suka dari pemikiran Jongwoon. Dia mudah tertipu.
“Jangan merendah seperti itu. Pemikiranmu yang lain masih bisa dipertimbangkan. Mengenai Ryeowook dan Min Gi.” Hyun Rin berubah melunak. Dia mengambil album fotoku yang lain.
“Kau harus melihat ini. Mereka mesra sekali ya berdua.” Hyun Rin ternyata membuka fotoku yang sedang berdua dengan Ryeowook. Siapa yang akan melewatkan kesempatan berfoto dengannya? Dia baik dan lucu dimataku. Bahkan aku mendapat cukup banyak foto dengannya.
“Kau tau dari mana Min Gi menyimpan banyak foto Ryeowook? Jangan-jangan kau sudah lama menyadarinya? Hebat.” Hyun Rin menepuk-nepuk pundak Jongwoon yang mulai terlihat berbeda. Dia mencengkram erat ujung album foto itu.
Kemudian dia berdiri dan menghempas album itu begitu saja. Rahangnya mengeras, tak mau menatapku maupun Hyun Rin. “Aku keluar sebentar. Maaf aku baru ingat, ada album kenangan SMA di mobilku. Mungkin itu bisa membantu kita.” katanya datar.
Hyun Rin kembali tertawa keras setelah Jongwoon menghilang. “Dia gampang cemburu, gampang juga tertipu. Menyenangkan. Tapi kenapa dia belum juga menyadari bahwa kau menyukainya? Ternyata appamu penyimpan rahasia yang baik.”
“Atau jangan-jangan, appa sudah memberitau Jongwoon bahwa aku menyukainya? Tetapi Jongwoon tidak bisa menerimanya. Apa itu bentuk penolakan untukku?” aku meringis.
“Kalian berdua sengaja menguji kesabaranku? Kalian senang melihatku pusing? Puas melihatku marah?” bentak Hyun Rin keras. Dia melirik tajam ke arahku. Aku mundur perlahan, takut.
“Kalian tidak menyadari bahwa saling menyukai? Dan dalam situasi ini kalian merencanakan pernikahan? Hebat sekali. Silahkan lanjutkan. Aku berjanji tidak akan menganggunya. Kalian bebas mengaturnya sesuai pemikiran kalian!” Hyun Rin membanting pintu kamarnya keras.
Aku terlonjak. Apa aku salah bicara?
******
Semakin mendekati hari-H, semakin berat juga beban yang ku rasakan. Aku malas melihat tanggal, apalagi kalender. Semua kalender yang ada sudah ku singkirkan begitu saja.
Pada dasarnya, semua persiapan telah selesai. Jongwoon hanya perlu mengeceknya sesekali, menghindari kesalahan kecil. Sisanya kami bisa bersantai. Tidak ada lagi yang perlu dikerjakan. Tinggal persiapkan diri masing-masing.
Satu hari sebelum pernikahan, tekanan itu semakin menyiksaku. Aku mondar-mandir tak jelas sejak pagi. Bingung apa yang harus dilakukan. Bingung apa yang harus dipikirkan.
Untunglah keluargaku datang pada siang harinya. Mereka memberi ketenangan lain padaku, terutama oleh eomma. Dia pemberi semangat terbesar.
Eomma menyarankanku untuk menghubungi Jongwoon. Bicarakan baik-baik bagaimana rencana besok. Aku menolak, sesuai permintaan Jongwoon. Dia tidak ingin kami bertemu sebelum pernikahan. Cara yang ampuh untuk menambah kegugupanku.
Akhirnya aku memilih untuk bersantai di rumah, bergosip berdua dengan adikku. Dia memiliki segudang cerita dan pertanyaan yang harus ku jawab. Selama itu tidak melenceng, aku akan meladeninya. Aku harus mencari kegiatan untuk melupakan hari esok.
*****
Tepat tanggal 23 bulan ini, akhirnya hari itu datang. Aku terbangun lebih cepat diantara penghuni rumah yang lain. Lumayan waktu yang ku dapat untuk menenangkan diri lagi.
Setelah itu, aku harus duduk berjam-jam untuk dirias. Selama itu aku tidak berani melirik cermin sekalipun. Aku takut melihat wajahku yang mungkin jelek, aneh, terkontaminasi oleh kegugupanku. Bahkan aku tidak berani bersuara. Hyun Rin yang menemaniku, ku acuhkan begitu saja.
“Ya Tuhan, kau cantik sekali.” puji Hyun Rin ketika semuanya selesai. Kami hanya tinggal berdua di ruangan ini sekarang.
Aku berdiri, berputar mematut diriku di depan cermin besar yang awalnya ku takuti itu. Aku memperhatikan diriku dari atas ke bawah. Gaun pengantin pilihan Jongwoon nampak pas di badanku. Riasan di wajahku sengaja tak telalu tebal, aku tidak mau terlihat semakin aneh. Aku merasakan sesuatu yang lain dariku hari ini. Tapi aku tidak berani menyebutnya apa.
“Mana senyummu?” paksa Hyun Rin. Dia ikut berdiri di sebelahku, lalu tertawa. “Aku tidak sabar melihat reaksi Jongwoon ketika bertemu denganmu.”
“Dia pasti menyebutku jelek kan?” kataku pelan.
“Kau masih sempat mengajakku berdebat ya?” Hyun Rin memaksaku agar menatapnya. “Jauhkan pikiran anehmu. Ini hari pentingmu. Jangan sampai kau merusaknya.”
“Tapi aku gugup.”
“Apa yang harus kau gugupkan? Berapa tahun sudah kau mengenal Jongwoon? Setiap hari kau melihat wajahnya. Aku tau hari ini spesial bagimu, tapi kau juga harus bisa menolerirnya. Kau harus bisa membuat hari ini sempurna.” ucap Hyun Rin. Kata-kata menenangkan yang sudah ku tunggu dari dulu.
“Kenapa malah diam? Ayo, banyak yang sudah menunggumu di luar.” Hyun Rin menarik tanganku pelan, takut aku terjatuh. Aku mengikutinya dan tersenyum. Terima kasih.
******
Tema pernikahan kami adalah outdoor, dimana pelaksanaannya di sebuah taman besar yang indah. Warna yang mendominasi adalah putih. Kontras memang. Warna putih mudah kotor bila terkena sedikit noda. Namun disanalah letak istimewanya. Putih itu suci. Jika tidak ingin dia rusak, kau harus hati-hati menjaganya. Filosofi yang bagus menurut Jongwoon untuk sebuah pernikahan.
Aku turun dari mobil hati-hati, dibantu appa. Saat mendongak ke salah satu arah, saat itulah aku terdiam karena kaget. Jongwoon berdiri disana, di tempat yang sebentar lagi menyatukan kami. Jauh, tapi aku melihat jelas senyumannya.
Dari dulu aku berpikir, Jongwoon akan terlihat tampan bila mengenakan sesuatu berwarna hitam ataupun merah. Aku salah. Dia tampan sekali sekarang, memakai jas putih yang selaras dengan gaun pengantinku.
Oke, aku harus menyadarkan diri sendiri. Beruntung juga appa menggenggam tanganku hangat, menenangkan. Aku tersenyum, teringat pesan Hyun Rin. Jangan merusak hari spesial ini.
Aku dibimbing appa berjalan mendekati Jongwoon. Semua orang termasuk appa, tak henti tersenyum menatapku. Apa maksud mereka? Hanya akan menambah kegugupanku.
Aku tidak berbohong, jantungku rasanya ingin melompat keluar ketika berdiri di sebelah Jongwoon. Perlu banyak dorongan agar aku bisa menjaga ekspresi maupun intonasi. Aku tidak boleh mempermalukan siapa pun disini.
Janji yang mengikat itu terucap. Setelah berkali menarik nafas pelan, akhirnya aku bisa mengucapkannya dengan benar. Semua kegugupan itu hilang. Akhirnya aku membalas senyuman Jongwoon dengan tulus. Bebanku terangkat sudah.
Saat itulah aku mendengar dentingan lain sebuah piano, tepat berasal dari atas panggung. Melodinya lembut, dan aku menikmatinya.
Aku melangkah sedikit, agar melihat siapa orang yang memainkannya. Dan, aku tercengang. Ryeowook ada disana, memainkan piano dengan indah, lengkap dengan suara merdunya. Dia tersenyum ketika tatapan kami bertemu. Dia manis sekali.
Tiba-tiba saja, Jongwoon bergeser, menghalangi pandanganku. “Suamimu itu orang yang ada di depanmu sekarang. Bukan orang yang sedang memainkan piano disana.” omelnya.
“Iya, aku tau.” aku tidak terlalu menggubrisnya. Aku menengok sedikit untuk tetap bisa melihat Ryeowook. Dia tetap lucu seperti biasa.
“Lalu kenapa kau terus memperhatikannya? Itu namanya selingkuh secara terang-terangan. Kau tidak malu dilihat para tamu?” katanya, sok. Lebih memalukan mana, tindakanku atau kalimatnya barusan?
“Kau cemburu ya?” godaku. Dia tersenyum, dan menunduk. “Kalau iya, kenapa?” jawabnya sambil menyeringai.
Wajahku memerah seketika, dan aku terpaku selama beberapa detik. Kenapa malah begini? Padahal aku yang ingin menggodanya.
Aku baru tersadar setelah Jongwoon tertawa. “Kalau tidak cemburu, artinya aku tidak mencintaimu.” katanya.
Apa lagi ini? Berhentilah membuatku beraksi aneh dan mempermalukan diri sendiri.
“Hmm, terima kasih sudah mengizinkan Ryeowook tampil disini. Ini ide siapa? Kau atau Ryeowook?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Tentu saja ideku.Katanya, kau sangat mengagumi permainan piano Ryeowook. Jadi aku memintanya melakukan itu. Khusus hari ini saja. Bagaimana? Kau suka?” jawab Jongwoon. Dia benar. Tapi informasi dari siapa itu? Siapa lagi yang membocorkan rahasiaku?
“Aku suka. Tapi akan lebih suka bila kau ikut menyanyi bersama Ryeowook disana. Kau tau? Aku juga mengagumi suaramu.” bujukku.
“Untuk apa?” balas Jongwoon datar. “Jika aku menyanyi sekarang, semua orang akan mendengar suaraku. Bukankah kau lebih suka mendengar suaraku sendirian? Aku bisa bernyanyi kapan pun kau memintanya. Aku berjanji.”
Aku tidak tau harus menyebutnya seperti ini atau tidak. Dia mulai gombal.
“Hei kalian, kenapa diam disana? Banyak tamu yang ingin mengucapkan selamat pada kalian.” Hyun Rin menyadarkanku. Kenapa aku bisa lupa pada tujuan awal? Ini gara-gara Jongwoon.
Orang pertama yang memberi kami ucapan selamat adalah atasan kami. “Selamat, kalian akhirnya menikah juga. Tetap profesional di kantor, jangan dicampur urusan rumah tangga.”
“Permintaan cuti kalian sudah beres. Dengan catatan, setelah kalian datang pekerjaan harus selesai sebelum deadline.” lanjutnya. Aku dan Jongwoon sama-sama membalas dengan senyum. Padahal aku ingin sekali menyenggol Jongwoon dan menanyakan maksud kalimat atasan kami. Aku tidak mengerti satu pun.
Setelah atasan kami, berikutnya adalah rekan kerja kami. Ucapan selamat dari mereka hampir sama dengan atasan, yaitu selamat menempuh hidup baru.
Selanjutnya adalah teman-teman SMA kami. Ada perasaan gugup ketika mereka tersenyum ke arah kami. Apalagi ucapan selamat dari mereka. “Wah, tidak menyangka kalian akan menikah. Sejak kapan kalian pacaran? Kenapa tidak dari SMA saja?”
Entah sindiran atau pujian, tetap saja ada perasaan lain ketika aku mendengarnya. Aku takut mengingat masa-masa itu lagi. Aneh. Padahal itu adalah masa-masa yang cukup menyenangkan. Mendekati seseorang tanpa respon yang jelas.
Untunglah mereka cepat berlalu, dan aku bisa tersenyum kembali. Ryeowook dan tunangannya. Pasangan favoritku ini akhirnya muncul lagi di depanku.
“Onnie, selamat ya. Apa ku bilang, pasti onnie yang lebih dulu menikah.” ucap tunangan Ryeowook. Dia manis sekali hari ini, serasi dengan Ryeowook. Kapan pasangan ini tidak membuatku iri.
“Kalau begitu, kalian harus menyusul kami secepatnya. Benar kan, Ryeowook?” aku mengendikkan kepala ke arah Ryeowook. Dia tertawa.
“Terima kasih, kau ikut meramaikan acara hari ini. Aku benar-benar menyukainya.” kataku tulus pada Ryeowook. Dia tersenyum, dan bisa ku kenali sorot bingung dalam pandangannya.
Aku mendekat dan berbisik padanya. “Aku janji akan menceritakan semuanya padamu, nanti.” setelah itu aku mundur kembali, takut akan tatapan Jongwoon.
Ryeowook mengangguk, dan tersenyum. “Selamat menempuh hidup baru. Kalian pasti bisa langgeng selamanya.” ucapnya, yang langsung ku aminkan dalam hati. Kebahagiaan itu sudah ku dapat, jangan sampai aku merusaknya. Aku akan berusaha menjaganya.
******
Acara selanjutnya adalah melempar bunga pernikahan. Semua gadis berkurumun di depanku dengan ekspresi yang beragam. Ada yang berharap, sekedar iseng, ataupun terpaksa. Aku memusatkan perhatian ke tengah kerumunan, tempat dimana Hyun Rin dan tunangan Ryeowook berdiri. Harus ada diantara mereka berdua yang mendapatkan bunga ini. Aku ingin mereka yang secepatnya menyusulku.
Aku berbalik dan melemparkan bunga itu sembarangan. Aku kembali ke posisi semula setelah mendengar riuh ucapan selamat dari arah kerumunan. Pasti sudah ada yang mendapatkan bunga itu.
Min Rin? Aku memandang tak percaya siapa orang yang berhasil mendapat bunga itu. Namun dia terlihat bingung, bahkan lebih tak percaya. Dia diam, terpaku pada bunga di tangannya.
Jongwoon dan Jongjin tertawa terbahak di sebelahku. “Lemparan bagus, noona.” puji Jongjin.
Aku membalasnya dengan senyum. Meskipun tidak terlalu mengerti, aku ikut senang Min Rin yang mendapat bunga itu. Ada orang yang bisa digoda untuk masalah pernikahan.
“Lalu setelah Min Rin, kapan kau juga akan menikah?” tanyaku.
Jongjin terdiam. Tawanya sirna, dan dia perlahan menjauhiku. “Ah, noona. Aku pergi kesana dulu. Eomma memanggilku.” dan dia menghilang.
Jongwoon yang masih terbahak, menggantikan posisi Jongjin di sampingku. “Kau lihat sendiri kan, bagaimana ekspresi mereka ketika ditanya pernikahan? Bisa-bisanya mereka malah memintaku cepat melamarmu.” cibir Jongwoon.
“Tunggu, apa maksudmu? Memintamu cepat melamar? Jadi ini semua ide mereka?” tanyaku bingung.
Ekspresi Jongwoon berubah. Dia celingak-celinguk tak jelas. “Itu Ryeowook. Kau ingin mengobrol dengannya? Ayo.” ajaknya.
Cara pengalihan perhatian yang sama. Mereka memang kakak beradik yang mirip. Ada yang disembunyikan dariku.
******
Acara berlanjut sampai malam. Lampu-lampu taman dinyalakan, memberi kesan indah yang lain. Sengaja dipadu-padankan dengan putih, yang jelas terlihat apabila gelap. Taman ini lebih bercahaya, dan lebih mempesonaku dari sebelumnya.
Sepanjang acara, Jongwoon tidak terlihat sedikit pun lelah atau apa. Dia yang mengatur acara, pastilah dia sangat menikmatinya. Berbeda denganku. Aku ingin sekali tidur. Bayangkan rasanya memakai gaun seharian. Badanku lelah. Aku tidak akan pernah terbiasa.
“Senyum, Min Gi. Sebentar lagi acara selesai.” Hyun Rin menyemangatiku. Sedari tadi hanya dia yang terus berada di sisiku. Sedangkan Min Rin dan Jongjin menghilang entah kemana, setelah ku tanya masalah pernikahan.
Aku tersenyum lemah. Hyun Rin melirikku curiga. “Pernikahan kalian besar-besaran sekali. Siapa yang mengaturnya? Kenapa acara tidak diadakan dua hari saja? Kalau satu hari begini, tidak hanya kau yang lelah. Keluarga juga.” tanyanya.
“Ini ide Jongwoon. Menurutnya, pagi sampai sore acara untuk para tamu. Sedangkan malam untuk para keluarga.” jelasku.
“Dia benar-benar merencanakannya ya?” puji Hyun Rin. Dia lalu menepuk pundakku, “Itu orangnya sudah datang. Aku pergi dulu.” Hyun Rin menjauh, dan ku lihat dia sempat bertukar senyum dengan Jongwoon. Mereka damai hari ini.
“Siap untuk makan malam?” ajak Jongwoon. Sama sepertiku, dia sudah mengganti jasnya dengan jas yang baru. Warnanya tetap putih, namun tidak seformal sebelumnya. Dia tetap tampan.
“Tentu saja.” jawabku senang. Bersusah payah ku kendalikan diri agar tak menatapnya terus menerus. Fokus pada meja makan di depan.
Makan malam keluarga adalah acara terakhir. Keluarga besar kami berkumpul, makan malam di meja yang sangat besar. Aku bersyukur tempat dudukku di sebelah Jongwoon. Ada kalanya aku bisa tidak memperhatikannya. Seandainya dia duduk di seberangku, aku tidak akan konsentrasi makan.
Makan malam berlangsung hening, tak banyak pembicaraan yang terjadi. Menghargai prinsip appa. Makan ya makan, berbicaranya nanti saja.
Makan malam selesai, dan satu persatu keluarga pamit pulang. Aku selalu tersenyum ketika mereka melambai pulang. Ayo semuanya cepat pulang. Bukannya jahat, aku hanya ingin cepat beristirahat.
Tamu terakhir pulang, dan kini yang tersisa hanya keluargaku dan keluarga Jongwoon. Kami berbicara sebentar, terutama dengan para orangtua. Mereka memberi kami banyak nasihat, juga petuah yang bermanfaat. Setelah itu mereka juga pamit pulang. Acara resmi selesai.
Tapi tetap saja, aku dan Jongwoon yang terakhir pulang. Jongwoon harus memastikan orang-orang yang akan membereskan semua perlengkapan sudah datang. Jadi besok semuanya sudah rapi kembali.
Setelah semuanya benar-benar beres menurut Jongwoon, akhirnya kami bisa pulang. Jongwoon menyetir mobilnya sendiri menuju rumahku. Kami tinggal disana. Kembali pada pendapat Jongwoon sebelumnya, rumahnya tidak akan aman bila masih ada Jongjin dan Min Rin di dalamnya.
******
Di rumah, aku langsung mandi, memakai piyama, dan tidur. Jongwoon terlihat sibuk sendiri, entah apa. Biarlah, terserah dia.
“Kenapa kau malah tidur?” pertanyaan Jongwoon menghalangiku yang hampir memasuki alam bawah sadar.
“Aku lelah. Kalau ada yang kau cari, tanyakan pada Hyun Rin. Kamarnya dekat dari sini.” aku mengambil bantal dan menutupi wajahku. Saatnya tidur lagi.
“Hei, hei. Apa kau tidak bersiap-siap?” tanya Jongwoon lagi. Dia menyibak bantal yang menutupi wajahku.
“Bersiap-siap apa?” gumamku, membuka mata sedikit.
“Kau tidak tau? Eomma memberi kita hadiah tiket berlibur seminggu. Dua jam lagi keberangkatan. Belum lagi perjalanan ke bandara.” Jongwoon memamerkan dua tiket di depan mataku.
Aku langsung terduduk. “Kau serius? Kenapa tidak memberi tauku sebelumnya?”
“Kurang serius apalagi? Itu ada buktinya. Aku baru saja memberitaumu. Ayo cepat bersiap.” katanya enteng. Dan ku lihat sebuah koper sudah sangat siap di dekatnya.
Aku menghela nafas, dan bangun dengan terpaksa. Jongwoon, aku tidak tau harus marah seperti apa padanya.
******
T.B.C
Maaf bgt, updatenya terlalu lama. Dua bulan dari part sebelumnya. Semoga masih ada yang ingat dengan cerita sebelumnya ya. Maaf maaf *bow*
Maaf juga kalau part ini banyak kurangnya, karena pernikahan itu sulit membayangkannya. Lebih sulit dari membayangkan mereka putus #plak.
O iya, selamat menjalankan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan batin ya
Kritik dan Saran ditunggu




jung yurin
/ August 12, 2011huaaa, ini kereen!! Perfect! Komposisinya pas menurut aku, terutama bagian persiapan dan kegiatan pernikahannya. Aku tau itu susah, dan eonni bisa menjelaskan semua itu dgn pas. Cukup banyak, tp nggak ngebuat kita yg baca bosen atau capek. Pas deh pokoknya!
Udh lama aku nungguin ini ff. Semoga nanti lanjutannya nggak selama ini yaa ^^
ddangkoma25
/ August 12, 2011mkasih bgt ya ^^
Alhamdulillah kalau pas, soalnya persiapan dan kegiatan pernikahan itu aku bnyak browsing dri internet jg ^^
cari2 informasi gmana pernikahan pada umumnya ^^
eh?
Kalau aja kepanjangan, soalnya ini 30 halaman -____-
hehehe
maaf ya terlalu lama. Semoga next part bsa secepatnya
mkasih jg udh baca + komen ya
cello13
/ August 12, 2011belom baca part yg sblmnya sih, ntar nyari aaahh, oke aku komen dulu hehe :p
Si yeppa, mau ngelamar, tetep aja coolnya dapet -__-”, bener2 terasa nyata chingu, kayak aku yg mau merit sama yeppa hehehe
/plaaaakk
Detil banget, bakat deh chingu jd WO (?) hahaha
Udah rapi, alurnya lancar, enak dibaca, walo ada dikit2 misteriny yg bikin penasaran, next part pasti diungkapkan?
Bikin ga sabaaaaarr!
Hwaittiing chinguu! Kutunggu dudanya yeppa!
Eeh maksudnya ffnya haha :p
ddangkoma25
/ August 12, 2011Part sebelumnya yg mana nh? Kalau secret admirer dari awal, ada 16 part xD
hehehe.
ya ampun, aku aja meleleh (?) bayanginnya. wkwk
Ngga ada bakat, ngga ada xD
Itu masalah pernikahan dan lainnya, hasil browsing dari internet ^^
Cari informasi gmana pernikahan umumnya ^^
Mkasih bgt ya
Semoga part selanjutnya ga lama2.
Tp kalau nunggu yesung duda, itu bakal laammaaa. Hahahaha ^^v
mkasih jg udh baca + komen ya
Farida13
/ August 12, 2011KyaAAAAAA. . . -
Finally
Ada jga after Storynya.
-
Keren!
Mantap!
Tp min Gi nya msh OON*ditabok auThor*
I realLy like thIs story!
AkhIrnya Jong-Min
Nikah jga.
RibeEt jga ya,
Nah loh,
YepPa gmpang d tipu.
Wkwkwk.
Daebak saeng!
Keep wRiting!
ddangkoma25
/ August 12, 2011hehehe.
Iya, akhirnya ada ^^
Maaf kalau terlalu lama ya ^^ *bow*
Hduh, jgn memuji kami begitu. Jd maluu #plak
ok..
Mkasih ya ka ^^
Mkasih jg udh baca + komen ya
Ms.ParkChoLeeShinWooJinJjongKeyMinEmin
/ August 12, 2011Sumpah..
Aku makin jatuh cinta sama jongwoon gara2 ni ff…..
Daebak sangat..
Aaarrggh…aku sukaaa bgtttt….
Ayo chingu the next part jgn lama2..
Hhehehe
ddangkoma25
/ August 12, 2011Haduh, aku jg jatuh cinta sama Jongwoon disini *toss*
Mkasih bgt ya ^^
Semoga part selanjutnya ga terlalu lama ^^
Mkasih jg udh baca + komen ya
qkyufly19
/ August 12, 2011kyaaaaaaaa salah satu ff yg ditunggu akhirnya di post hhe
Suka yesung bener penuh kejutan hhe
dikirain bakal dikasih terima tapi bersyarat sama appa min gi
Jadi penasaran pa yg diobrolin
Dan tu ya ampun ngurusin nikahan cuma be2 tampa bantuan ke tukan ribet bgt pasti salut buat yesung
Dikirain udah tau klo min gi ngincer yesung dri dulu kekeh banget klo min gi sukanya ma wookie dsar yesung hha
Part berikutnya paati ditunggu
ddangkoma25
/ August 12, 2011hehe.
Maaf terlalu lama ya ^^
Iya, yesung penuh kejutan. Ckck
Aku jg ga tau mereka ngobrol apa, katanya rahasia #plak
Hahahahaha.
Dia bertanggung jawab, tp keras kepala sama pendapatnya kalau min gi itu suka wookie xD
Ok ^^
Mkasih udh baca + komen ya
MiiChan~Chocothic
/ August 12, 2011aah ahh ahh!
daisuki! daisuki! ^^
aku sukaaa sm pasangan ini..
dan masi inget bgt ma critanya yg beda ma yg lain..
kkk~
suka ma gaya bhasanya, dan perfecto, ga nemu typo sm sekali..
hahah
terus, terus, critanya ttep ga bisa ditebak. bkin pnasaran akut.
ah ya, di critanya kn 3bln, tp unni ga trkesan buru2 nyeritainnya.
biasanya kn klo ada rntang wktu yg lumayan pnjang d crita, bberapa writer suka ngejeglok gtu nyritainnya.
hah
pkoknya unni DAEBAK!
ddangkoma25
/ August 12, 2011Wah, mkasih bgt ya udh suka sama kami #plak
hehehe
Mkasih jg udh ingat ceritanya, walaupun selalu lama update *bow*
Mkasih lg ya ^^
Nanti kalau ada typo, tegur aja ya ^^
hehehe. Kalau diceritain langsung takut buru2, tapi kalau lama2, takut kepanjangan. Jd dicoba2 aja supaya pas ^^
Ok ^^
Mkasih jg udh baca + komen ya
renren
/ August 12, 2011Yeeeaaay…akhirnya nikah juga!!
Chukae!!!^^
Keren thor!!,lanjutannya ditunggu
ddangkoma25
/ August 12, 2011hehe.
Iya, kelamaan ya nunggu nikahnya? #plak
Mkasih ya ^^
ok..
Mkasih jg udh baca + komen ya
Vii2Junshuuu_kim
/ August 12, 2011wahhh daebakkk…
aku sukaa
gpp deh aghak lama…
hehehe
penasaran gimana merekaa ntar jdi suami istrii kekeke
sama konflik nyaaa…
di tungu. next chap naa
ddangkoma25
/ August 12, 2011Mkasih ya ^^
Hehe.
Iya, nanti ada konfliknya ^^
Semoga part selnjutnya ga terlalu lama ya ^^
Ok
Mkasih jg udh baca komen ya
imspecially
/ August 12, 2011Kyaaaaa *triakpketoa*
stelah mnunggu bertahun2*lebaykumat*
akhir’a di publish jg ni ff .
Buset dh ud kawin aj tu yesung ma min gi ?
Ok dh .
Di tunggu klanjutan’a~
ddangkoma25
/ August 12, 2011Hehehehe
Maaf terlalu lama ya *bow*
Iya, udh nikah aja #eh
Ok
Mkasih udh baca komen ya
cloudehoney
/ August 12, 2011omona…!!
ff nya bgus bnget thor..
Secret Admirer trmsuk ff favoritku, krna crita’a ngegemesin !!
thor, publish’ jgn lma2 ya, nunggu bnget nih !!
Jongwoon Pov kpan ??
pngen tau apa yg dibicrakan’a !!
cloudehoney
/ August 12, 2011omona.. ada after story nya !!
alur’a keren, byangin jongwoonnya bkin aq meleleh#lebayy
Secret Admirer trmsuk ff favoritku, krna crita’a ngegemesin bnget !!
thor, publish’ jgn lma2 ya, nunggu bnget nih !!
Jongwoon Pov kpan ??
pngen tau apa yg dibicrakan’a !!
ddangkoma25
/ August 12, 2011Wah, komen km double ^^
Aku bls jd satu ya ^^
Mkasih bgt ya ^^
Semoga part selanjutnya ga terlalu lama ^^
Eh? Yg ini ada Jongwoon Pov nya jg ya? (°O°)
Mkasih jg udh baca komen ya
May4teukie
/ August 12, 2011d^^b
ini epep yeye yg plg aq suka.
Akhrna da after story.a
ddangkoma25
/ August 12, 2011Mkasih bgt ya ^^
Hehehe.
Iya, maaf terlalu lama ya update after story nya *bow*
Mkasih jg udh baca komen ya
rinchun
/ August 12, 2011sukaa bgd ama critanya^^
Aplg yesung oppa bias kesukaanku nikah dgn org yg disuka,hehe
Ditunggu part berikutnya yah thor
ddangkoma25
/ August 12, 2011Wah, mkasih ya ^^
Hehehe. Iya, akhirnya nikah jg X)
Ok
Mkasih jg udh baca komen ya
Ghye_
/ August 12, 2011sayaaangggg~~~ *colek mingi*..
eciyeeee,,,yg di panggil sayang ma jongwoon,, prikitiwwwww,,, ga usah malu-malu gtu dong ah…. terima aja gratis qo #eh XD…
yesung otaknya udah 1 step di atas mingi,tp mingi tetep aja lemot minta ampuuunn,,, >.<
chukae,,akhirnya kalian nikah… aga aneh sih penjelasan persiapan mpe hari H pernikahan terlalu singkat deh kayanya li, kurang detail ^^….
ddangkoma25
/ August 13, 2011ka anggi >..< #plak
hahahahaha.
jgn memuji kami begitu ka #plak
Maaf ka, kalau acara pernikahan lia kurang tau ^^
Itu juga hasil browsing di internet ^^
Ciyeee, nanti lia nanya yg mau nikah duluan aja ya *colek ka anggi*
Mkasih udh baca + komen ya ka
hyukjaEunhyuk
/ August 12, 2011kyahahaha…
Ayooo lanjutnya cepet..
Waw ecung bs serius jg hahahaha….
Akhirnya nikah.. Chukkaeeeee…..
Seru….!!!!!
ddangkoma25
/ August 12, 2011Hahahahaha
Iya, akhirnya dia serius (?)
Semoga part selanjutnya ga terlalu lama ya
Ok
Mkasih udh baca komen ya
krydesh
/ August 12, 2011keren benar … ..
ddangkoma25
/ August 13, 2011Mkasih ya ^^
Mkasih jg udh baca + komen ya
Mischa Jung
/ August 12, 2011Wkakakkaka…ada lanjutannya toh…
Pernikahan mingi ma yesung keren…
Yesung lucu deh klo lg cemburu…
Makin ngefans ma jongjin disini..
ddangkoma25
/ August 13, 2011Hehehe. Iya, maaf terlalu lama ya *bow*
Mkasih ya ^^
Ayo ayo sini yg suka sama Jongjin
Jongjinnya lg malu2 tuh #plak
Mkasih jg udh baca komen ya
hee hyunai
/ August 12, 2011yeppa, ,
tuhan, ak mau deh dlamar yeppa, walo cranya rada aneh. .
Suka bgt maen rhsia sih,, yeppa it plos ato gmana y.? Gmpg bgt dtpu,,
hft min gi, hruz tetep sbr hdapin yeppa..
Uih mreka mau honey moon. . Yeppa ak ikut dong. . *msuk tas yeppa*
ak iri ma min gi
nice ff dtnggu next chap, FIGHTING
ddangkoma25
/ August 13, 2011Aku jg mau dilamar nikah sama yesung >.<
Hahahahaha
Terserah mau nganggap dia apa, yg penting dia gampang ditipu #plak
Mau ikut? Ayo ayo sini ~
Ok
Mkasih udh baca komen ya
hilma
/ August 12, 2011wahahha
Pnjang bgt
Tp puas
haha min gi kebanyakan bengongnya
Lanjut lanjut
Kereen
ddangkoma25
/ August 13, 2011Maaf ya kalau terlalu panjang *bow*
Hehehehe.
Hduh, jgn memuji min gi begitu #plak
Ok
Mkasih udh baca komen ya
kyuevil
/ August 13, 2011FINALLY. KELUAR ;~;
Ini ff slalu bs buat aku jd sung bias dehh,hahaha xD sungsungyesungnya soswit skalii. hoho. si mingi malu2 ih ama kyk aku XD Wkwkwk.
ddangkoma25
/ August 13, 2011Hehehe.
Maaf terlalu lama ya *bow*
Ciyee..
Jd bias yesung nh.. Ciyee.. #plak
Mkasih udh baca komen ya
cloud3424
/ August 13, 2011/tarik nafas/
couple malu-malu, polos, dan salah paham terus akhirnya nikah jugaa~ /tebar bunga/ hahaha chukhahae!! \(^o^)/
Eonnu eonni eonni eonni eonniiiiii!!!! /cubit pipi eonni keras keraaaas/ kenapa eonni imut bangeeeeeeeeeeeetttt??? XD
Aish, eonni paling jago bikin aku tambah cinta (eh?) Sama jongwoon ahjussi /plak huahaha. Akhirnya publish jugaa.. Ini ff paling kutunggu looh
ngakaaaks ini seru banget sumpah ga boong kereeeen xD sukaaa banget apalagi pas yesung bilang “Tidak lucu, sayang.” Sama “tentu saja milikmu, sayang.” Uwaaaa :3 mingi polooooooosss banget imut banget ngebayanginnyaa. Adoh jungkir balik baca ini haha. Yesung juga kadang kadang babonya keluar, ya? Ttg ryeowook again? Omona~ udah weird, babo, ganteng, idup lagi. Sempurna.. (?). Sukaa banget caracara aneh (bagi yesung si ‘berbeda’) yang yesung kasih ke mingii~ jadi malumalu sendiri. Berkalikali pegang pipi rasanya panaaas hahaha.
Aduh komenku panjang banget, ya? Hehe maaf eonni terlalu semangat hahaha ^^v daebaaaak, bener ga boong aku sukaaa banget. Penasaraaan sama kisah mereka setelah nikaah, eonni buat yang banyak yaa? Jangan berenti berenti nulis tenteng yesung-mingi *tingting* #harapanreader #sedikittidaktahudiri ^^vv hahaha pokoknya kereeen,, ditunggu lanjutannyaaa ^_^
ddangkoma25
/ August 13, 2011hai.. hai..hai..
Koq manggil onnie? Umur aku baru 16 lho.. *sok muda*
*cubit balik keras2*
Maaf ya kalau terlalu lama, bayangin pernikahan + jongwoon romantis itu susah bgt. Jadi hasilnya gini ^^
Hduuh, baca komennya sumpah aku malu >..<
Ga p2 panjang2, bagus lg ^^
Mkasih ya
Insya Allah kalau ada ide, nanti dibuat lg ^^ Dan semoga ga terlalu lama lg ya ^^
ok
Mkasih jg udh baca + komen ya
cloud3424
/ March 14, 2012aku kan masih 14 tahun B) hahaha. ga kooook ga terlalu lama juga, hasilnya kan sangat sangat sangat memuaskan ^^ sama sama eonni, hwaiting yaaaa
sarangchullpa92
/ August 13, 2011Liaaaa >..<
Next part li..jgn lama2,heuheu..
sarangchullpa92
/ August 13, 2011Jiahh..kenapa k0menku kep0t0ng.. -_-
Pdhal uda ngetik panjang2 juga.. ToT
sarangchullpa92
/ August 13, 2011Liaaaa >..<
ddangkoma25
/ August 13, 2011Iya kaka, ga p2 ^^
Kan komen kaka udh lia terima jg di twitter ^^
Mkasih udh baca + komen ya
Choi_hyun.Ae
/ August 13, 2011Chingu, aq suka bget loh ff ini.
N part nih pnjang bget, PUASSS!!!
Jalan critany seru.
Byk kejutanny. Jd, bukan cma mingi aja yg dbkin serangan jantung m jongwoon.
Aku jga, sering kget2 gtu bcany hihi
n udah gtu bkin penasaran jga. Udah gtu tingkah mereka menggemaskan.
Apalagi jongjin n minrin.
Duh, cpek dh liat mingi m jongwoon chingu. Slah paham trus tentang hbgan mingi m ryeowook.
Trlalu unik jd orang, kpan nih mingi ngsh tau jongwoon yg sbnernya??
Udah g sbran nih.
G nyangka loh, kalo atasanny minwoon itu sering merhatiin mreka.
N bukan cma itu aja, rata2 smuany blg knpa g dri dlu aja??
Mingi aja ngerasa kalo itu menda2k, tp kykna yg lain pda nungguin mreka itu ada hbungan.
N buat mingi, bruan dh dksh tau abg jongwoonny.
Kalo dr dlu udh ska m jongwoon, pgen liat gmana ekspresinya jongwoon.
Apalagi kalo tau album foto wktu sma itu.
Udah jels pasti mingi malu bget nyeritainny, tp kalo jongwoonny aku rada ragu.
Diakan g punya malu*plakk*.
Suka bgetlh ff nih chingu.
Btw, minrin kpan nih nikahny?? Haha
n bwat freak couple hihi
selamat menempuh hdup bru n bwat authornya selamat menjalnkn ibdah puasa.
Mohon ma’af lahir n batin jga^^.
ddangkoma25
/ August 13, 2011hehehehe.
Kalau aja kepanjangan, 30 halaman -____-
Aku aja yg bikin kaget lho,
ngebayanginnya jg malu >..<
ok
Mkasih jg udh baca + komen ya
ddangkoma25
/ August 13, 2011ini knp malah komenku sendiri kepotong -___-
Mingi itu lemot..
Dia ga sadar kpn jongwoon mulai naksir dia,
tp dia sendiri ga mau jongwoon tau kalau dia naksir
ckckck XD
Mkasih ya ^^
Nanti Min rin nikah koq, tunggu aja ^^
Freak couple? o.o
hduh, jgn memuji kami begitu >.<
V3viyaSIWONest
/ August 13, 2011Wahwah chingu..hebat dwch..jd suka ma yesung oppa..napa ya cl0n suamiku gk kyk gto..awas aj jgn d’bikin cerai ya..
ddangkoma25
/ August 14, 2011Ciyee yg jd suka sama yesung xD
iya iya,
suami kyk gtu bakal disayang terus
Mkaih udh baca + komen ya
chaseey
/ August 13, 2011seru banget thor!! Aku gasabar nunggu pas mereka honeymoon ><
Ditunggu lanjutannya ya! Jangan kelamaan kalo bisa xD
ddangkoma25
/ August 14, 2011Mkasih ya ^^
hehehe.
Ok, semoga ga terlalu lama lg ya
Mkasih jg udh baca + komen ya
Kim Tae-sun
/ August 13, 2011KYAAAAA FF FAVORITKU NONGOOOOOL *teriak pake toa* uwooooow jongwoon bikin aku ikut tersipu malu (?) *digetok min gi* hahahay daebak deh thor! Part selanjutnya jgn lama2 ya thor^^ Oiya buat min gi sm jongwoon selamat menempuh hidup baru yaaa ditunggu besek (?) nya hahay
ddangkoma25
/ August 14, 2011Mkasih ya ^^
Hahahahaha >.<
iya, semoga part selanjutnya ga terlalu lama lg ya
besek itu apa ya? O.O
Mkasih jg udh baca + komen ya
Ocha
/ August 13, 2011Uwoooo keren
Hebat banget Jongwoon bisa ngurus segala macem keperluan nikahannya sendirian, ckckckckck
Lanjut onn, penasaran bakal ada kejadian apa pas mereka honeymoon
ddangkoma25
/ August 14, 2011Hahahaha
Iya, dia kan bertanggung jawab X)
ok
Semoga ga terlalu lama lg ya
Mkasih jg udh baca + komen ya
petallicious
/ August 14, 2011Huaaa aku nungguin ff ini dari dulu akhirnya keluar juga
yang paling aku suka dari ff ini tuh logis banget, ga pake acara didramatisir sok romantis gimana. sesuai apa yang bakal terjadi di dunia nyata aja tapi justru itu yg ngenanya. Joungwoon min gi tetep aja aneh ya, padahal udah nikah -_- next part jangan lama2 ya onnie
ddangkoma25
/ August 14, 2011Maaf terlalu lama ya *bow*
Wah, mkasih ya ^^
Soalnya ngebayangin yesung romantis itu susah, jadi begini hasilnya ^^
Hahahaha.
Aduh, jgn memuji kami begitu >.<
ok
Semoga ga terlalu lama lg ya
Mkasih jg udh baca + komen ya
petallicious
/ August 14, 2011haha iya, wong yesung lagi serius aja aku tetep pengen ngakak bawaannya XD
tapi gapapa kayak gini lebih bagus, aku dari dulu tiap baca ff ini bawaannya gemes sendiri, yesung kelewat bebal! apalagi dulu pas baca pas ngalamin kejadian yang hampir persis gini -_-” #curcol
petallicious
/ August 14, 2011eh btw seriusan kamu masih 16? o.o *lirik komen di atas
kirain udah 20an gitu, abisan dari tulisannya dewasa banget kayanya ._.v
ddangkoma25
/ August 15, 2011Hahaha.
Koq malah ngakak? Dia lucu ya xD
Ngalamin kejadian yg mana?
Dilamar trus nikah?
ciyee ~
iya, 16 thn ^^
95 line ^^
kmu?
shim eunkyung
/ August 14, 2011Dapat banget feelnya,apalagi pas wedding
Gugupnya mingi sampai aku jadi ikutan gugup juga
Mereka mau honeymoon?
ddangkoma25
/ August 14, 2011Wah, bneran?
Pdahal yg wedding itu hasil browsing internet jg ^^
Hahahahaha.
Mereka liburan
Mkasih udh baca + komen ya
diktiku
/ August 14, 2011ah, ni FF kayaknya aku bacanya udah lama~~ banget. Seneng deh, Author bikinin after story-nya. Kirain dulu Author lupa bikin atau sengaja ga bikin.
Suka sama ceritanya yg ringan tapi romantis. Jujur, FF ini sangat berkesan buatku, gara2 FF ini aku jadi ngelirik Yesung. :p
Wah, penasaran. Mereka mau honey moon ya? Di mana, di mana? Post secepatnya dong, penasaran. ^^
ddangkoma25
/ August 14, 2011Hduh, maaf ya kalau terlalu lama ^^
Bukan lupa atau ga bikin, tp dalam proses #alasan
Mkasih ya ^^
Ciyee yg jadinya ngelirik yesung :p
Dimana ya? Hayoo nanti baca di part selanjutnya ^^
ok
Mkasih jg udh baca + komen ya
Cho Yu Hae
/ August 14, 2011pengen jadi min gi~! TT^TT *getoked*
nghahahaha, keren benar critanya. makin suka sama Yesung-ssi.. >///<
lanjut! kalau bisa jangan lama-lama, ya.
ddangkoma25
/ August 14, 2011Ayo sini sini ^^
Mkasih ya ^^
Ciyee yg tambah suka sama yesung >.<
ok
Mkasih jg udh baca + komen ya
ki yeo
/ August 15, 2011wah ternyata yeppa bisa tetep cool wktu ngelamar…….
wah enak dibaca…. lanjutannya di tunngu ya chingu
ddangkoma25
/ August 15, 2011Hahahaha. Iya >.<
Mkasih ya ^^
ok
Mkasih jg udh baca + komen ya
kyuwon96
/ August 16, 2011Hyaa. Akhirnya ada juga after story-nya..
Ihh, aku suka sama cara jongwoon ngelamar mingi. Aku kalo di lamar gitu mau loh, asal sama Kyu.. ^^
Aku suka sama FF ini, karena kaya FF untuk semua umur. Hahaha..
Ditunggu yang lanjutannya.. ^^
zenithtrick
/ August 16, 2011yeaaaay!!!
ada after story-nya!!!! *tiup terompet*
akhirnya nikah jugaaaaa…
wkwkwkwk, mana persiapannya kilat lagi…
kereeeeeen..
paling suka cara Yesung ngasih cincin ke Min Gi..
so sweeeeet~~
kyugaemers
/ August 16, 2011UGYAAAAAA X3 akhirnya mereka nikah jugaaaaa keren banget unn ceritanyaaaa ^___^b beneran deh aku sepanjang baca ff ini nyengir terus… si jongwoon sama minrin unyu banget X3
kyaa after story part 2 jangan lama2
*gasabarrr
BENERAN AKU SUKA CERITANYA UNNNN
kyugaemers
/ August 16, 2011kok jadi minrin-_- MIN GI MAKSUDNYAAAAA XD UNYYUUUUUUW~~ WKWK
Nabila Cho 규현 TripplesElf
/ August 18, 2011Kyaa,, akhirnya publis juga..
Jongwoonn so sweetnya,, kalo sudah menikah nanti mereka tinggal di mana /???
fishyshae
/ August 18, 2011edaaaaaaaaaaaaaaannnnn><
styap bka ff, slalu nyari2 ni… my fav author!!
ayo dong.. jgn lma2 yaaakkk^^
daebak!! really!! ^____^
Nurul LathifahKidiw✓ (@cassielf3424)
/ August 20, 2011HAYOOO lanjutin donk ff nya cepetan… *heboh sendiri*
suami ane so sweet bgt dahhh kyaaa~ *digebukin clouds*
lanjutin cepetan yah author .. plissss
gomapta ^^
elfnote13
/ August 20, 2011Wawawawa . Lucu. … Gregetan baca.nyaaaa , sumpah demi tuhan , sukaaaa agt . Jongwonn.nya lucu . Jgn2 mimrin suka jongjin ya? Eh iyaaaa . Tp knp lm bgt update.nyaaaa
Vita
/ August 26, 2011Lanjutt adminnn!! >___<
Ignimnihs
/ August 26, 2011uwoooo~~~
ini keren!!
aku suka ><
kkkkk ~
specialshin13
/ September 1, 2011unniee ini aku yang yang biasa pake id tikyumin/yoshin.
ayodooong bikin afterstory part 2nya
pengen cepet2 ke wedding, hehhehe
chibimink
/ September 15, 2011Huah, padahal aku udah nunggu”after story ny.. tapi udah lama ga buka blog ini. thanks bgt author ^^ aku suka
lanjutin lagi ya =)
lee yoon hae
/ September 21, 2011salah satu epep favorit yg pairingnya abang ecung,epepnya keren,
ngikutin epepni Dri awal cerita ttp aja keren ga prnah bosen,tp napa ko pblshnya ska lama thor?next part jangan lama2 y.
Minhye_harmonic
/ October 24, 2011Oh, ya ampun…… ceritanya sweet banget sih >///.<
jongwoon mulai gombal nih ye…
cieh, yg udah nikah, chukkae!!! ^o^
wow, baca ini buat senyam-senyum sendiri, kalimat serta penggambarannya juga pas, keren nih ff, b^^d
ChoRinLau
/ November 8, 2011Daebak! Lanjut thorr! ^o^
ChoRinLau
/ November 17, 2011Aaa~ sukasukaa XD
lanjut! Ntar dibikin konflik ya dikit,hehe ._.
Cloud Kim
/ December 15, 2011AAAAAAAAAH! Akhirnya, akhirnya…
Udah lama ga ke sini, entah knp ada ff ini…. Kangen banget…. Akhirnya sampe nikah *nangis*
aduh sweet banget…..
Ga nyangka bgt dulunya ky gimana mreka.. Tb2 akhirnyaaa…. *speechless
MinGi masih ‘bego’ wkwkwk Yesung masih meyakini MinGi suka ma ryeo….
Jongjin ma Minrin tuh… Kapan merid >< *prtanyaan sensitif
XDDD
mochi~~mochi~henrylau
/ January 4, 2012Aku kangen ff ini….
eonie adakah lanjutannya…??
hadirakjdream
/ January 22, 2012Reblogged this on My Timeless Land.
chen2
/ March 1, 2012ceritanya bgs nieh,
aplg tokoh jongwoonnya jg karakternya keren,
nie ff lama y?
ada lanjutan stlh ini gx c?
kok aq gx ktmu y?
he’E
arvie
/ March 6, 2012ini kapan ya ada lanjutannya..
tiap buka sjff, q cari lanjutan ff ini, tp blum nongol2 juga..
keburu makin gemes sama ni couple.. gemes sama authornya juga ㅋㅋㅋ >.<
haura_harvo
/ March 23, 2012onnie. ffnya keren keren. lanjut dong onnie. penasaran lanjutannya., ayo onnie semangat lanjutin ffnya. kekeke ^^
sherlyeye
/ May 25, 2012wah,, panjang ya cerita nya
dan tentu nya keren banget,,huahaha
Ifa Raneza
/ June 21, 2012udh lama ga dilanjutin lg ya ff ini?
huwaa pdahal aku penasaran loh kelanjutannya