“RAEMIN SPECIAL STORIES (GOMAWO…SARANGHAE..)”


Author : Wari Hidayati a.k.a Shin Ai Reen

Main cast : Lee Sungmin

                    Shin Rae Jin

Support cast : Cho Kyuhyun

                         Kim Eun Ri

Rating : PG – 13

Genre : Romance / Love

Annyeong Readers… Salam hangat dari author untuk semua…^^

Disini saya ingin menyampaikan kalau sebenarnya cerita ini merupakan bagian dari FF “Gomawo…Saranghae..”. Masih ingat kan? Sebenarnya ini FF mau saya gabungin dengan after storynya Gomawo…Saranghae, tapi karena kepanjangan dan banyak yang minta kisahnya RAEMIN, maka jadilah seperti ini.

So, bagi chingu yang kemarin penasaran sama kisah RAEMIN, sekarang rasa penasarannya udah bisa dihilangin. Maaf ya Chingu kalau ceritanya gak bagus. Dan maaf juga FFnya baru di publish sekarang. *bow*

Buat Reader semua,,Selamat membaca…

 

 

*FLASH BACK*

“Ahjumma, terima kasih atas bantuan dan kasih sayang Anda selama ini. Berkat Anda saya bisa menyelesaikan sekolah dan sekarang bisa merasakan bangku perkuliahan.” Ucap Raejin pada Ga In.

“Aaa,,cheonmaneyo Raejin~ah..Aku juga berterima kasih atas bantuanmu selama ini. Oh ya, kalau kau butuh sesuatu untuk kuliahmu katakan saja ya…” jawab Ga In sambil tersenyum ramah.

“Ne ahjumma..gomawo.. Hmm, ahjumma, sebenarnya ada yang ingin saya katakan. Selama sebulan ini perkuliahan libur, jadi saya ingin pergi kedesa menemui omma saya. Saya sangat merindukannya. Apakah Anda mengizinkan saya untuk pulang kedesa?”

“Tentu saja, selama omma-mu masih ada, sayangilah ia dan jagalah dengan sepenuh hatimu. Jangan sia-siakan ia. Kalau perlu bawa kesini omma-mu untuk tinggal bersama kita.”
”Ne Ahjumma. Saya akan menjaganya semampu saya. Kamsahamnida…” Raejin memberi salam sambil membungkuk dan segera pergi kekamarnya menyiapkan barang yang akan ia bawa besok. Tak dapat dipungkiri bahwa hatinya saat ini sangat senang, akhirnya setelah sekian lama ia baru bisa menemui ibunya. Senyum bahagia pun selalu menghiasi wajahnya.

Keesokan hari…

Setelah berkeliling mencari tempat duduknya didalam kereta, akhirnya Raejin bisa duduk tenang didalamnya.

“Haa,,akhirnya. Omma bogoshipo… Omma harus sehat untukku, tunggu aku, aku akan segera tiba.” Ucap Raejin dalam hati sambil melihat-lihat sekelilingnya.

“Hmm,,pria itu tampan juga. Tapi apa dia tidak bosan dari tadi baca buku terus? Buku yang dibaca pun lumayan tebal. Kalau aku jadi dia, buku itu pasti akan kujadikan hiasan saja dimeja belajarku.” Ucapnya kembali, sembari melihat seorang pria yang duduk diseberang bangkunya.

Setelah 3 jam perjalanan, akhirnya kereta yang ia tumpangi tiba di stasiun kota kelahirannya. Karena menahan lapar sangat lama, ia segera menuju sebuah warung jajangmyeon yang letaknya tidak jauh dari stasiun tersebut.

“Onnie, saya pesan 1 porsi jajangmyeon.” Ucap Raejin ketika masuk kedalam warung(?) tersebut.

“Ne, tunggu sebentar.”
”Noona, aku pesan 1 porsi jajangmyeon” ucap seorang pria saat masuk ke warung yang sama. Pria itu duduk diseberang bangku yang diduduki Raejin. Raejin yang semula tidak acuh terhadap sekelilingnya sangat terkejut melihat pria yang baru masuk tersebut.

“Hohh! Itu kan pria yang dikereta tadi…” ucapnya kaget.

Beberapa saat kemudian..

“Hah!! Tapi kenapa pesanan dia yang duluan diantar??” Ucap Raejin kembali seraya berdiri dan segera menghampiri pria tersebut.
”Changkammannyo! Mian tuan sepertinya ini pesananku.”

“Mwoya? Mian nona, Tapi jajangmyeon ini diantar kepadaku, berarti ini pesananku.” Jawab pria itu.

“Andwae… Aku yang memesan jajangmyeon ini lebih dulu. Berarti ini untukku.” Bantah Raejin dan membawa makanan tersebut ke mejanya.

“Hah! Nona tidakkah tadi anda LIHAT kalau jajangmyeon ini DIANTAR KE MEJAKU?! Ini punyaku. Tidak sopan sekali Anda mengambil jajangmyeonku” Ucap pria itu kembali mengambil jajangmyeon yang ada dimeja Raejin.

“Yak, ahjussi  ini…”

“Mwo??! Ahjussi?! Aiish..apa kau tidak lihat aku masih muda ha??! Tidak bisa! Ini punyaku! Kau tunggu saja punyamu sampai datang” pria itu menatap Raejin tajam.

“Memang kau seorang ahjussi. Buktinya kau terlihat lebih tua dariku. Dan akan lebih baik kalau yang lebih tua itu mengalah pada yang muda.” Bantah Raejin kembali membawa jajangmyeon itu ke mejanya.

Setelah berdebat panjang, akhirnya pria tersebut mengalah. Dan memberikan jajangmyeon tersebut pada Raejin.

*****

“Ommaaaaaa… aku pulang…” teriak Raejin dari kejauhan sambil berlari menghampiri ibunya yang sedang duduk disalah satu bangku ditaman kecil yang terletak dihalaman rumahnya.

“Ng? Raejin~ah…kau sudah pulang anakku. Omma sangat merindukanmu. Bagaimana keadaanmu selama ini?” jawab ommanya Raejin ketika anaknya tersebut sudah sampai dihadapannya.

“Omma,,aku baik-baik saja. Omma bagaimana? Aku sangat rindu pada omma. Aku akan disini selama libur kuliah. Aku ingin bersama omma. Aku sudah memiliki cukup uang untuk kita. Jadi sekarang omma tidak perlu khawatir. Aku juga akan kembali memasakkan makanan kesukaan omma dan masakan lain yang omma inginkan.” Celoteh Raejin panjang lebar melepas rindu dan memeluk ibunya.

“Aku dengar dari tetangga yang bertemu denganku saat dijalan, mereka bilang omma sedang sakit. Besok kita berobat ya omma..?” Lanjut Raejin ketika melepas pelukannya sambil memandang wajah ibunya.

“Raejin~ah Omma baik-baik saja. Selama kau pergi banyak tetangga yang membantu omma. Omma senang kau merindukan omma. Bagi omma kalau kau bahagia, dan omma bisa bertemu denganmu itu adalah obat yang paling baik untuk omma.”

“Omma… Gomawo..tapi besok omma harus tetap berobat ya..” Raejin pun menangis dipelukan ibunya, setelah berbicara panjang melepas rindunya.

Esok hari….

“Omma, sudah siap? Ayo kita berangkat. Aku dengar dari tetangga, di klinik desa mulai sekarang hingga 2 minggu kedepan ada pengobatan dengan harga murah. Bagaimana kalau kita kesana saja?”
”Hmm,, baiklah ayo kita pergi.”

30 menit kemudian…

“Hooouuh…Akhirnya sampai juga di klinik ini. Sudah lama aku tidak berjalan kaki sejauh ini. Lelah juga. Omma duduklah, aku daftarkan nama omma dulu.” Ucap Raejin sambil berjalan kemeja resepsionis.

“Ne.” Sahut Seung Mi omma singkat.

Selama mendaftarkan nama ibunya, Raejin tidak sengaja melihat seseorang mengenakan baju kemeja pink dan berjas putih layaknya dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Ia tidak terlalu memperhatikan wajah orang tersebut. Namun untuk menghilangkan rasa panasarannya ia pun bertanya pada perawat yang bertugas di resepsionis tersebut.

“Maaf suster, boleh aku bertanya. Siapa pria itu?” tanya Raejin sambil menunjuk pria yang ia maksud.
”Maaf, yang mana nona?”
”Pria yang baru keluar dari ruangan itu? Apakah dia dokternya?” ulang Raejin lagi.

“Owh,, pria tadi? Benar, dia dokter yang akan bertugas selama 2 minggu ini. Lagi pula ia anak dari pemilik klinik ini. Dan juga pewaris RS ternama yang ada di Seoul, milik Dokter Lee ayahnya. Dia juga sangat tampan dan baik. Sikapnya sangat lembut pada setiap orang. Termasuk kami para perawat.” Ucap sang perawat dengan pandangan yang memuja.

“Oooo…pasti setiap hari Anda akan semangat bekerja kalau melihat pria tampan dan ba…ik se…perti dia.” Kata-kata Raejin tiba-tiba tersendat setelah melihat secara jelas pria yang ia maksud kembali masuk kedalam ruangan tadi. Mulut Raejin terasa kaku, ia hanya bisa mematung setelah mengetahui bahwa dokter yang akan ia temui nanti adalah pria yang kemarin melayaninya berdebat jajangmyeon.

“Tentu saja semangat. Sangat jarang ada dokter muda dan setampan itu bekerja di klinik ini. Bahkan tidak pernah. Oh ya, nama dokter itu Sungmin-ssi. Lee Sungmin.” Perkataan suster tersebut menyadarkan Raejin dari rasa kagetnya. Lee Sungmin. Hanya kata itu yang dia tangkap dari sekian panjang penjelasan suster itu.

*****

“Ny. Seung Mi, silahkan masuk untuk pemeriksaan.” Ucap seorang perawat dari dalam ruang pemeriksaan.

“Ne,, Raejin~ah ayo temani omma. Kenapa kau jadi tidak semangat begini?” tanya ibunya heran.
”Aaah….Ani…Aku masih semangat kok omma. Kajja.” ucapnya segera bangkit.

Kreekk…pintu terbuka
”Annyeonghaseo uisa…” ucap SeungMi omma sambil membungkuk kepada dokter tersebut.

“Oh, Annyeonghaseyo Ahjumma. Silahkan duduk.” Balas Sungmin lembut.

“Ne uisa. Raejin~ah ayo masuk. Kenapa masih berdiri diluar?”

“Oh, Anda bersama anak Anda?”

“Ne uisa. Saya heran kenapa dia tidak mau masuk, padahal tadi dia yang semangat membawaku berobat kesini.”
”Hahahaha…mungkin anak Anda tidak terbiasa dengan suasana klinik atau rumah sakit.”
”Tidak mungkin, dulu dia juga sering berobat kesini. Bahkan dr.Lee sudah sangat mengenalnya. Raejin ~ah ayo masuk, kalau kau tidak masuk omma tidak jadi berobat.” Gertak sang ibu sambil melirik anaknya yang masih berdiri diluar.

“Hmm,,Raejin-ssi, lebih baik anda masuk. Tidak perlu takut. Anda tidak kasihan pada ibu Anda? Ia sudah memanggil Anda berkali-kali. Nanti kalau Anda tidak masuk, ibu Anda tidak jadi berobat. Anda tidak ingin ibu anda sehat?” Ucap Sungmin tetap dengan senyumnya yang khas.

Dengan sangat terpaksa Raejin pun masuk. Suasana hening sejenak. Perassaan kaget menyelimuti Sungmin melihat yeoja yang ada didepannya. Namun dengan cepat ia sadar dari keterkejutannya. Dan ia mempersilahkan Raejin duduk.

“Ng?? owh,,si..silahkan duduk RAEJIN-ssi” ucap Sungmin dengan sedikit menekankan intonasi pada nama Raejin.
”Raejin~ah beri salam padanya. Kau ini bagaimana sih?” ucap Seung Mi omma memukul lengan anaknya.
”Nnn..ne, ne omma. An..annyeonghaseyo uisa.” ucapnya singkat dengan sedikit bungkuk.
”Oo..annyeonghaseyo. Baiklah ahjumma, apa keluhan Anda?”

“Mmm,, akhir-akhir perut saya terasa nyeri. Kira-kira apa ya penyebabnya dokter?”
”Hmm,, kalau begitu coba saya periksa. Berbaringlah dikasur. Mari saya Bantu.” Sungmin beranjak dari duduknya dan membantu Seung Mi omma berbaring.
”Aaah ne, kamsahamnida dokter…”

Setelah pemerikasaan…

“Bagaimana Sung…mm, uisa? Ibu saya sakit apa?” tanya Raejin ragu.
”Ne?(terlihat kaget saat Raejin mengatakan Sung). Aaa,,algessumnida. Hmm, apakah ada keluhan lain selain yang disebutkan ibu Anda tadi?”
”Ne, kemarin omma demam. Tapi, ada apa ya dengan ibu saya….dok?”

“Hmm,, apakah sebelumnya Anda pernah check up di rumah sakit Seung Mi Ahjumma? Atau pemeriksaan dilab?” tambah Sungmin.
”Changkammanyo! Anda dokter bukan? Kenapa Anda justru balik bertanya pada kami?! Saya membawa ommaku kesini untuk diobati, bukan untuk ditanya! Kalau seperti ini lebih baik saya membawanya ke klinik lain yang dokternya lebih tanggap.” Raejin mulai kesal.

“Raejin~ah kau kenapa? Kenapa kau membentaknya? Lagi pula tidak apa-apakan dokter bertanya pada omma. Mungkin ada hubungannya dengan penyakit omma. Ayo minta maaf padanya.”

“Tapi memang benar kan kataku. Kalau dia dokter seharusnya dia tahu apa penyakit omma dari awal. Bukan menghujani omma dengan pertanyaan yang tidak jelas seperti itu. Aku tidak mau minta maaf padanya. Ayo kita pulang omma.” Raejin berdiri dan mencoba menarik tangan ibunya.

“Raejin~ah tidak boleh seperti itu! Omma tidak pernah…” belum selesai Seung Mi omma menyelesaikan perkataannya Sungmin segera memotong pembicaraan mereka.
”Saya bukannya tidak tahu apa penyakit ibu Anda. Hanya saja saya butuh banyak informasi tentang penyakitnya. Ini klinik bukan rumah sakit. Jadi saya tidak bisa memeriksa lebih lanjut karena keterbatasan alat. Oleh karenanya saya banyak bertanya untuk mendapatkan informasi yang jelas. Saya tanya pada Anda, Anda ingin ibu Anda kembali sehat? Sekarang tergantung pada Anda. Kalau Anda ingin membawanya ke klinik lain silahkan, saya tidak akan melarang jika memang itu menurut Anda baik.” Ucap Sungmin sabar dan masih dengan senyumannya yang khas.

Suasana diam sejenak, namun tiba-tiba Sungmin kembali memecahkan suasana.

“Ini resep obatnya. Diminum 3 kali sehari. Dan tolong obat ini dihabiskan. Obat ini untuk menghilangkan nyeri sedangkan untuk antisipasi. Anda makanlah dengan teratur. Akan lebih baik kalau nasinya sedikit lebih lunak dan kurangi makanan yang pedas. Karena menurut diagnosa saya ahjumma ada gejala penyakit maag.”
”Oh, ye uisa. Kamsahamnida…” Ucap ahjumma.
”Ah, ye cheonmanneyo ahjumma. Semoga lekas sembuh.”
”Mmm,,uisa berapa biaya pemeriksaan tadi?” Tanya ahjumma polos.

“Oh, Anda cukup membayar biaya obatnya saja. Dan itu bisa dibayar langsung di apoteker, ketika Anda mengambil obatnya nanti.” Jawab Sungmin ramah.
”Ne, kamsahamnida uisa… Mianhamnida atas kelakuan anakku yang tidak sopan pada Anda.”
”Aaah,,gwaenchana ahjumma.” Ucap Sungmin tetap dengan senyum manisnya.

Sesampainya dirumah….

“Raejin~ah! Kenapa anak omma sekarang tidak sopan?” ucap ibu Raejin

“Mianhaeyo omma,,aku tidak bermaksud untuk tidak sopan. Tapi ada hal yang membuat aku kesal dengan uisa tersebut.”

“Kesal? Kesal kenapa? Kau sudah pernah bertemu dengan Sungmin uisa sebelumnya?” Tanya ibu Raejin penasaran.

“Kemarin aku bertemu dia dikereta saat perjalanan pulang. Ia melakukan hal senonoh padaku omma. Makanya aku kesal padanya.” Jawab Raejin asal.

“Hal senonoh?! Mwo?!”

“Ne ommaaaaaa…Saat aku ditoilet, aku mendapatinya sedang mengintipku. Aku rasa dia itu punya kelainan. Aku saja heran kenapa dia bisa menjadi dokter?” Raejin memandang ibunya dengan pura-pura kesal.*Alaaah.. Raejin bohong  euy..*

“Ng?? Mwo??! Kurang ajar sekali dia. Omma akan memberi pelajaran padanya. Tapi kau yakin dengan perkataanmu itu? Tadi omma lihat, sepertinya dia tidak mungkin melakukan hal itu.” Ucap ibunya ragu.

“Kenapa tidak mungkin?! Semua itu mungkin saja omma… Tidak mungkin kan omma aku membenci dia kalau dia itu orang yang baik..?” Raejin meyakinkan ibunya.

“Kalau memang itu benar, omma harus memberi pelajaran padanya.”

Saat itu juga Seung Mi ahjumma pergi menuju klinik tempat Sungmin bekerja. Sepanjang perjalanan Seung Mi ahjumma tidak berhenti mengoceh, karena ia tidak rela anak kesayangannya dilecehkan. Sedangkan Raejin mengejar Ommanya dengan perasaan panik yang luar biasa. Ia takut ibunya melakukan hal yang macam-macam nanti.

“Omma,, omma mau kemana? Bukannya omma sakit?” Raejin mencegah ibunya pergi.

“Omma mau menemui uisa kurang ajar itu!” ucap Seung Mi ahjumma emosi.

“Tidak perlu omma, lebih baik kita pulang saja. Omma harus banyak istirahat.”

Percuma saja Raejin membujuk ibunya tersebut, Seung Mi ahjumma masih tetap berjalan menuju klinik dengan perasaan kesal.

*****

Di klinik…

“Ooowh,,ottohkae? Ottohkae…??” ucap Raejin dalam hati.

Duk..duk..dukk..

“Yaaaakk.. Sungmin-ssi! Cepat keluar!” Seung Mi ahjumma menggedor-gedor pintu ruangan praktek Sungmin.

Kreekk..(pintu dibuka)

“Ng?? Waeyo ahjumma? Apakah ahjumma merasa ada yang sakit?” Tanya Sungmin sopan ketika melihat Seung Mi ahjumma berdiri didepan pintu.

“Beraninya kau bermuka sok polos dihadapanku! Apa yang sudah kau lakukan pada anakku, Hah?!”

“Memangnya apa yang sudah aku perbuat pada anakmu ahjumma?” Tanya sungmin bingung.

“Mwo? Kau masih pura-pura tidak tau?!” Suara ahjumma semakin meninggi, sehingga mengagetkan para pasien yang sedang menunggu.

“Nyonya, tolong pelankan suara anda, ini klinik. Dan tolong jangan buat keributan disini.” Pinta para suster yang sedang bertugas.

“Omma, ayo kita pulang. Tidak baik marah-marah disini. Semua orang memperhatikan kita.” bujuk Raejin karena takut kebohongannya akan terbongkar.

“Andwe! Aku harus memberi pelajaran pada bocah ini karena telah melakukan hal yang tidak senonoh padamu Raejin~ah!”

“Mwo? Hal tidak senonoh? Apa maksud ahjumma?” Sungmin kaget dengan pernyataan Seung Mi ahjumma.
Seluruh suster dan pasien yang datang hari itu terheran-heran mendengar perkataan Seung Mi ahjumma.

“Hah!! Beraninya kau mengintip anakku dikamar mandi saat dikereta! Pantas saja anakku dari tadi tidak sopan padamu. Jangan karena kau dokter, kau bisa berbuat sesukamu!!” Hardik wanita itu sambil menatap Sungmin sengit.

Sungmin hanya terdiam kaget mendengar perkataan Seung Mi ahjumma. Setelah mendapatkan kesadarannya kembali, ia segera meminta Seung Mi ahjumma dan Raejin masuk keruangan prakteknya. Sementara diluar semua orang membicarakannya.

Didalam ruangan…

“Begini ahjumma, saya rasa ahjumma salah sangka pada saya. Saya tidak pernah melakukan hal seperti yang ahjumma katakan tadi. Bahkan selama dikereta saya tidak ada ke toilet. Sebenarnya saya memang ada sedikit masalah dengan anak anda, tapi tidak seperti yang Anda pikirkan ahjumma.” Jawab Sungmin sabar.

“Kau! Beraninya berbohong! Anakku sudah menceritakan semuanya. Kau harus tanggung jawab! Minta maaf sekarang juga pada anakku dokter mesum!” teriak sang ahjumma.

“Cukup ahjumma! Kesabaran saya ada batasnya. Sudah saya katakan, saya TIDAK pernah melakukan hal sebodoh itu. Masalah kami hanyalah karena makanan yang tertukar dan tidak lebih. Dan Anda Raejin-ssi, tidak kusangka kau seperti ini. Aku sudah memberikan makanan itu padamu, lalu kenapa sekarang kau memfitnahku dengan hal-hal yang tidak benar?! Pasti sekarang aku sudah dipandang jelek oleh pasienku dan juga perawat disini. Hah..!” jawab Sungmin kali ini dengan nada yang sedikit tinggi dan memandang Raejin kesal..

Raejin dan ibunya hanya terdiam mendengar penjelasan Sungmin. Seung Mi ahjumma terkejut mendengar perkataan Sungmin. Terlihat jelas rasa bersalah dari wajah Seung Mi ahjumma. Ia terduduk lemas mendengar penjelasan Sungmin tadi, dan menyesali sikapnya.

“Ooohh..Aku sungguh bersalah pada Anda Sungmin-ssi. Mianhae, Sungmin-ssi. Aku terbawa emosi saat anakku mengatakan hal bodoh itu. Jeongmal mianhae uisa.” Ucapnya sambil membungkuk.

“Sudahlah ahjumma, tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi. Minumlah ini Anda pasti sangat terkejut. Setelah ini lebih baik Anda istirahat. Saya permisi,  Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.” Ucap Sungmin ketika sudah mulai tenang.

“Dokter, bagaimana ini, banyak pasien yang memilih pulang. Mereka bilang tidak ingin diperiksa oleh dokter.” Ucap salah seorang perawat tiba-tiba masuk keruangan tempat mereka berada.

“Mworago? Lalu apakah masih ada yang menunggu?” Sungmin benar-benar terkejut.

“Hmm.. Ne. Ada, hanya tinggal 4 orang yang masih menunggu dokter. Saya sudah coba menjelaskan dan meyakinkan mereka. Tapi mereka tetap memilih pergi. Mereka bilang, tidak percaya dengan dokter.” Jelas perawat itu sekali lagi.

“Ottohkae? Baiklah aku akan tetap memeriksa pasien yang masih menunggu. Anda bisa keluar, dan katakan pada mereka untuk menunggu 5 menit lagi. Bagaimanapun juga aku harus tetap menjaga nama baik klinik ini. Terima kasih atas informasinya.” Jawab Sungmin tertunduk. Dan perawat tersebut segera keluar.

“Uisa, sungguh maafkan aku dan anakku. Karena kami Anda jadi seperti ini. Izinkan kami untuk membantu Anda. Kali ini kami tidak akan mengecewakan Anda.” Ucap ahjumma tiba-tiba mengagetkan Sungmin dan Raejin.

“Omma…” belum selesai Raejin bicara Sungmin segera memotongnya.

“Tidak perlu ahjumma. Saya bisa mengatasinya. Anda tidak perlu khawatir.”

“Anni.. Anda terlihat sangat kacau. Saya yakin Anda sangat frustasi saat ini. Bagaimanapun juga kami harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Walaupun Anda tidak mengijinkan saya. Tapi biarkan anakku yang melakukannya. Dia akan bertanggung jawab atas semuanya, hingga Anda mendapatkan kepercayaan pasien Anda kembali.” Bantah ahjumma meyakinkan.

“Dan kau Raejin~ah, tidak ada alasan untuk menolaknnya. Ini semua juga karenamu. Kau harus bertanggung jawab padanya. Mulai sekarang kau harus mendengarkan kata-katanya, dan kau tidak boleh menentangnya. Kau tidak boleh pulang sebelum Sungmin-ssi pulang. Arasseo?! Omma pulang duluan.” Lanjut Ahjumma itu langsung beranjak pergi.

Sungmin hanya menatap bingung atas perkataan Seung Mi ahjumma. Sementara Raejin juga tidak bisa berkata-kata. Ia tahu benar bahwa ibunya sangat marah. Dan ia hanya mengangguk menyetujui permintaan ibunya.

*****

*Sungmin POV

“Apa kau akan terus mengatakan itu sambil berdiri disitu?” ucapku pada Raejin yang terus berdiri sambil bergumam tak jelas didepan pintu masuk ruang praktekku.

“Tidak ada cara lain. Kau diam saja. Jangan banyak bicara.” Raejin menatap tajam ke arahku.

“Baiklah. Tapi bukankah pasien sudah tidak ada. Lalu bagaimana dengan pasien yang sudah dulu pulang? Mereka kan belum tau masalah yang sebenarnya.”

“Aiissshh,,jadi maksudmu aku harus mendatangi rumah mereka satu per satu untuk minta maaf? Huh! Kau ingin membunuhku?!” protesnya.

“Tapi tetap saja fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.” ucapku dengan senyum yang tersimpul, mencoba untuk meluluhkan hatinya. Aku memang kaget dengan perkataan ahjumma tadi, tapi setelah kupikir ada baiknya juga kalau dia ada disini untuk mengembalikan nama baik klinik ini. Sebenarnya dengan ia mengatakan maaf saja itu sudah cukup bagiku. Tapi keadaan berkata lain. Kita lihat saja berapa lama makhluk sadis ini akan bertahan untuk tidak minta maaf padaku.

“Shireo! Aku tidaak mau membuang tenagaku dengan mendatangi rumah mereka satu per satu. Kalau bukan karena ommaku yang menyuruh untuk menemanimu bekerja, aku tidak akan berada disini. Lagian kalau aku pulang, aku bisa dibunuh oleh omma. Lebih baik aku disini. Toh cuma menemani kau saja kan?” jawab Raejin cuek.

“Aishhh…Tapi ommamu juga menyuruhmu untuk melaksanakan semua perintahku sebagai permintaan maaf dari kalian.” Ucapku sambil menyeringai. Hahaha…Lihat saja.  Aku akan membuatmu menyesal telah memfitnahku.

“Shireo! Pokoknya aku tidak mau! Kau kira mudah mendatangi rumah mereka satu per satu. Kalau kau mau, kau saja yang melakukannya. Aku capek.” Ucapnya lalu meduduki salah  satu sofa yang ada diruanganku sambil berpangku tangan.

“Aaahh! Terserah kau saja, aku masih banyak kerjaan. Lagi pula ini kan salahmu. Pokoknya aku tidak mau tahu. Nama baik klinik ini harus kau kembalikan.” Ucapku sambil meneruskan pekerjaanku yang tinggal sedikit lagi. Hahaha… Dia tidak tahu saja kalau sebenarnya pekerjaanku sudah hampir selesai. Baiklah,, akan ku tunggu kau sampai tertidur. Lihat saja pembalasanku. Kau pasti akan menyesal.

2 jam kemudian…

Hah…..Sepertinya yeoja itu sudah benar-benar tertidur. Sebaiknya aku kemaskan dulu barang-barangku, setelah itu aku kurung saja dia diruangan ini. Aku menyeringai melihat dia tertidur lelap.

“Hahaha…selamat tinggal Yeoja gila yang manis. Kau tidak takut kan sendirian disini?… Hmm…Tapi aku yakin kau tidak akan takut. Kau saja lebih menyeramkan dari hantu. Hahaha…Sampai jumpa besok….” Ucapku sambil mengunci pintu ruanganku.

*Author POV

Pukul 2 pagi…

Raejin terbangun dari tidurnya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya disekitarnya. Namun alangkah terkejutnya ia saat mengetahui ruangan tersebut gelap gulita. Seketika itu juga Raejin menjadi panik, dengan cepat ia mencari sakelar lampu sambil meraba-raba sekitarnya, sehingga ia banyak menjatuhkan barang yang ada dimeja kerja Sungmin. Saat ia berhasil menemukan sakelar lampu dan menghidupkannya, dengan segera ia mencari sosok pria yang ia ketehui terakhir kali bersamanya diruangan tersebut. Namun orang yang dia maksud sudah tidak ada. Raejin pun segera keluar, namun alangkah kagetnya ia saat mengetahui ruangan itu terkunci dari luar. Ia berusaha untuk mendobrak pintu itu berkali-kali, namun sia-sia dan itu hanya membuat tubuhnya sakit. Dia terus berteriak minta tolong agar ada yang mendengarnya. Namun usaha itu tetap gagal hingga akhirnya ia kembali tertidur hingga pagi di balik pintu ruangan itu.

Pukul 7 pagi…

Suara kegaduhan diklinik itu membangunkan Raejin. Ia segera mendapatkan kesadarannya dan kembali berteriak minta tolong berharap ada yang mendengarkannya. Kali ini perjuangannya tidak sia-sia saat seorang perawat yang kebetulan melewati ruangan tersebut mendengar teriakannya.

“Ng? Siapa didalam?” Tanya perawat tersebut.

“Aku.. Aku Raejin. Siapapun itu tolong bukakan pintu ini. Jebal…aku terkurung dari  tadi malam.” Jelas Raejin pada perawat itu.

“Ooh? Raejin-ssi? Aaa…mmm… Maaf Raejin-ssi bukannya saya tidak mau membukakanya, tapi kunci ruangan ini hanya Sungmin uisa yang memegangnya.” Jawab perawat itu dari balik pintu.

“Aigoo…Sungmin-ssi?! Bagaimana ini..Ooh andwae.. Lalu jam berapa ia akan tiba diklinik?” Tanya Raejin kembali.

“Dokter Sungmin biasanya tiba satu jam lagi Raejin-ssi. Maaf Raejin-ssi, saya tidak bisa berlama-lama disini. Saya harus kembali bekerja. Saya permisi dulu.” Jawab perawat itu kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.

“Ah, Ne. Gomawo!” Teriak Raejin.

‘Mwo? Satu jam lagi? Yang benar saja. Apa maksudnya mengurungku disini?! Bukankah aku sudah melaksanakan tugasku dengan benar.’ Batin Raejin.

Selama satu jam Raejin masih menggerutu tidak jelas didalam ruangan tersebut. Ia terus berjongkok dibalik pintu menunggu hingga Sungmin tiba sambil menghitung semut yang lalu lalang di dinding *kurang kerjaan banget nih anak*. Namun tiba-tiba terbesit dibenaknya ‘ng? ini kan ruangan dokter, tapi kenapa ruangan ini banyak semutnya? Aigoo… pasti namja itu manusia jorok. Aigoo aigoo…’batin Raejin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Cklek..! Terdengar suara seseorang membuka kunci pintu,lalu membuka pintu tersebut. Raejin yang sedang jongkok dibalik pintu ikut terdorong dan terjatuh.

“Awwh…yak! Appo! Aww sakiiiiiitt…” Teriak Raejin.

“Ng? Annyeong Raejin-ssi… Kenapa kau ada dibalik pintu? Hmm…Sedang menungguku ya…Hehe..” ucap Sungmin dengan tampang tak bersalahnya.

“Yak, Sungmin-ssi… Appoooo!! Sakiiiiiiiittt…aaaaaahh…” teriak Raejin kembali, dan kali ini lebih keras.

“Ya ya yak! Kau kenapa?! Bukannya membalas salamku, malah teriak seperti melihat hantu saja. Bagaimana tidurmu tadi malam? Nyenyak tidak? Yak, kenapa hanya diam? Aneh sekali kau ini. Ya sudah minggir sana aku mau masuk.” Ucap Sungmin kembali mendorong pintu tersebut. Dan membuat jari kaki Raejin yang dari tadi terjepit diantara pintu dan lantai semakin terluka. Sungmin yang tidak mengetahuinya terus masuk keruangan tersebut dan meletakkan tas yang dari tadi disandangnya. Namun ia membiarkan Raejin yang terus meringis kesakitan dibalik pintu.

“Omo.. omo… Kenapa ruanganku jadi berantakan seperti ini? Yak, Raejin-ssi! Apa yang kau lakukan di ruanganku?! Aigoo…Mejaku berantakan seperti ini. Omo,,sisa cappuccino kemarin juga berserakan. Yak! Kau ini! Aiiissshh…” Ujar Sungmin sambil marah-marah,dan mulai membereskan mejanya yang berantakan tersebut. Ditengah kesibukan membereskan meja kerjanya ia melihat Raejin yang masih berada di balik pintu. Ia terheran-heran karena Raejin tiba-tiba menangis.

“Yak, yeoja pabo. Kau kenapa? Masa karena aku tinggalkan semalaman diruangan ini saja kau menangis? Manja sekali kau ini.” Ucap Sungmin. Bukannya berhenti menangis, namun Raejin justru menangis lebih kencang. Hal ini sontak membuat Sungmin terkejut dan menjadi panik.

“Aigoo…Yak Raejin-ssi, aku kan hanya bercanda. Kenapa kau menangis semakin keras. Yak, berhentilah menangis… Atau kau menangis karena tadi aku membentakmu?” pinta Sungmin.

“Huuuuuaaaaaaaa…hiks hiks…Kau yang pabo!! Kau tidak lihat kakiku seperti ini?! Hiks hiks…” ucap Raejin terisak-isak sambil menunjuk kakinya yang berdarah tersebut.

“Mworago? Kakimu kenapa bisa terluka seperti itu? Duduklah disofa, biar aku obati lukanya.” Suruh Sungmin pada Raejin.

Raejin hanya diam dan tidak melaksanakan perkataan sungmin. Karena Raejin tidak kunjung berdiri, Sungmin pun mengambil inisiatif membantunya berdiri dan membopongnya hingga ke sofa. Tanpa berkata-kata Sungmin pun segera mengambil peralatan medisnya untuk mengobati luka pada jari kaki Raejin. Raejin yang dari tadi masih cemberut lebih memilih diam dan memperhatikan Sungmin mengobati lukanya. Sesekali terdengar suara Raejin yang meringis kesakitan saat sungmin mengobati jari kakinya. Hingga selesai diobati, Raejin masih tetap diam sambil memandang kesal pada Sungmin.

“ Kalau seperti ini lebih baik kau pulang saja. Istirahatlah selama kau dirumah. Tapi ingat, jam 2 siang kau harus kembali kesini. Kau masih punya janji padaku.” Ucap Sungmin sambil merapikan peralatan medisnya.

“Haiiisshh…hoouh, kalau seperti ini sama saja kau membunuhku secara pelan-pelan. Siang hari, jam 2? Kau sadar tidak cuaca saat itu sangat panas. Dan kakiku sedang sakit. Sementara kau ingin aku mendatangi rumah warga satu per satu!”

“Yak. Aku kan cuma bilang kau bisa datang jam 2 kesini. Aku tahu kakimu sakit, makanya aku beri kau waktu untuk istirahat. Apa kau mau disini terus dengan keadaan seperti itu? Dengan pakaian yang tidak diganti seharian? Dan dengan rambut yang kacau balau seperti itu? Yang ada justru klinik ini semakin tidak ada pasien.” Jelas Sungmin panjang lebar. Karena tidak ingin berdebat, ditambah dengan kaki yang sakit, Raejin pun akhirnya menuruti perintah Sungmin untuk segera pulang.

Pukul 3 sore…

“Kemana dia? Ini sudah pukul 3 lewat 15 menit. Tetapi kenapa dia belum juga datang? Apa dia baik-baik saja?” pikir Sungmin mencemaskan Raejin.

“Boleh aku masuk? Lelah sekali rasanya. Huft…” Ucap Raejin tiba-tiba mengagetkan Sungmin. Sungmin hanya terdiam melihat yeoja itu berjalan pincang menuju sofa yang tidak jauh dari meja kerjanya.

“Aku istirahat sebentar ya. Berjalan dari rumah kesini terasa sangat jauh, apalagi dengan kaki seperti ini. Aku lelah…” ucap Raejin kembali sambil menahan sakit kakinya. Ia memilih duduk disofa. Dan sekali lagi Sungmin hanya terdiam melihat reaksi Raejin yang sangat berbeda dari kejadian tadi pagi. Setelah berpikir panjang, akhirnya Sungmin pun memutuskan untuk tidak menyuruh Raejin berkeliling desa untuk meminta maaf. Ia berinisiatif untuk meringankan tugas Raejin dengan mengumpulkan warga di lapangan terdekat pada sore harinya.

Sore harinya..

“Mmm…?? Sungmin-ssi, ada keramaian apa disana?” Raejin berjalan menuju keramaian orang yang ia maksud dengan kakinya yang pincang.

“Yak! Raejin-ssi, hati-hatilah… Kakimu sedang sakit..” ucap Sungmin sedikit berteriak sambil memegang tangan Raejin. Raejin terkejut dengan perlakuan Sungmin terhadapnya. Entah kenapa ia merasa jantungnya akan keluar dari tubuhnya ketika Sungmin menyentuhnya.

‘Aneh…Kenapa aku ini..’ batin Raejin sambil memandang Sungmin. Sungmin yang merasa sedang diperhatikan melihat kearah Raejin yang berada disampingnya. Sama seperti Raejin tadi, ia benar-benar merasa gugup ketika memandang Raejin. Akhirnya Sungmin memilih melepaskan pegangan tangannya terhadap Raejin dan memilih untuk berjalan terlebih dulu daripada Raejin.

“Itu dokternya. Tapi, bukankah yeoja yang bersamanya itu anak dari Seung Mi-ssi?” ucap salah seorang wanita yang melihat mereka tiba.

“Benar, dia dokter tampan yang katanya ‘mesum’ itu kan? Kemarin kan Seung Mi-ssi memarahinya habis-habisan. Katanya karena dokter itu bertindak senonoh pada yeoja itu.” Kata seorang wanita lagi.

Semakin lama semakin banyak penduduk yang berkumpul. Sungmin sudah bersiap-siap dengan apa yang akan dilakukannya. Sedangkan Raejin hanya berdiri disamping Sungmin dengan pandangan bertanya-tanya ketika melihat Sungmin.

Beberapa menit kemudian…

“Perhatian seluruhnya, Annyeonghaseyo Lee Sungmin imnida. Langsung saja tujuan saya meminta Anda semua untuk berkumpul disini adalah untuk menyampaikan beberapa hal terkait  tentang kejadian kemarin. Seperti yang Anda lihat, saya datang kesini bersama seorang yeoja yang kalian semua tahu siapa dia kan? Dan hal terkait yang saya maksud itu akan dijelaskan oleh yeoja ini. Raejin-ssi silahkan.” Ucap Sungmin mempersilahkan Raejin berbicara yang membuat suasana tiba-tiba menjadi hening.

“Mwo? Choiga? Naega wae? Ouuhh…Arasseo..” jawab Raejin gugup.

Dengan perasaan gugup Raejin pun menceritakan permasalahan yang ia hadapi dengan Sungmin. Terlihat sangat banyak warga yang kesal padanya karena telah memfitnah Sungmin. Melihat situasi yang kacau, Sungmin pun kembali angkat bicara untuk lebih meluruskan penjelasan yang disampaikan Raejin tadi. Dan suasana kembali tenang. Namun pernyataan terakhirnya sungguh membuat kaget warga dan juga Raejin. Dengan perasaan puas dan sedikit kecewa, warga pun akhirnya bubar meninggalkan Sungmin dan Raejin.

*Raejin POV

“Kajja… Kita juga harus pulang. Akan ku antar kau kerumahmu.” Ucapnya memulai pembicaraan diantara kami.

“Shireo. Kau pulang saja duluan, aku masih ingin disini.” Sedikit pun aku tidak ingin memandang wajahnya. Aku berpaling dan hanya memandang hampa pada jalanan desa yang sudah mulai sepi.

“Kau kenapa? Ayolah Raejin-ssi. Kasihan ibumu lama menunggumu.” Ucapnya kembali membujukku.

“Kau yakin dengan keputusanmu tadi? Kenapa kau suka membuatku kesal hah?” Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan. Aku kesal? Dengan keputusannya untuk kembali ke Seoul besok, lalu berangkat ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya?  Owh, tidak bisa dipercaya. Seharusnya aku senang, karena tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk melawannya beradu argumen yang akan berujung pada pertengkaran.

“Tentu saja. Lagi pula kenapa kau kesal? Seharusnya kau senang. Hmm,, Aku disini menggantikan ayahku hanya untuk sementara, dan juga untuk mengumpulkan beberapa data yang kubutuhkan untuk tugas akhirku. Ngomong-ngomong, aku minta maaf atas kelakuanku padamu selama ini. Termasuk masalah kakimu itu. Kau mau kan memaafkanku?” Ia memandang tepat pada manik mataku. Dari caranya seakan ada yang ingin disampaikannya. Aku benar-benar merasa gugup dengan tatapannya. Namun beberapa saat kemudian yang kurasakan adalah kecupan dari bibirnya yang masih terasa hangat dibibirku.

“Aku yakin kau pasti mengerti yang ku maksud. Tunggu aku. Aku akan kembali untukmu Raejin~ah.” Ucapnya setelah melepas ciuman kami. Aku hanya terdiam mendengar perkataannya. Aku harus tersenyum atau bersedih?  Disatu sisi aku memang senang karena dia memiliki perasaan yang sama denganku yang aku tidak tahu kapan perasaan ini muncul, dan berjanji akan kembali untukku meskipun itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun disatu sisi yang lain aku sangat sedih karena harus berpisah darinya dalam waktu secepat ini. Tetapi apa boleh buat. Ia sangat menghargai cita-citanya. Dan ia sangat ingin meraih apa yang sudah diimpikannya selama ini. Tugasku sekarang adalah menyemangatinya. Aku tidak ingin mengecewakannya lagi.

“Baiklah. Aku mengerti yang kau maksud. Aku akan menunggumu.” Ucapku mengakhiri pembicaraan yang disusul dengan sebuah pelukan darinya.

“Sarangahae Raejin-ah..” bisiknya ketika memelukku.

“Nado..” jawabku sambil membenamkan wajahku didadanya. Air mataku mulai menetes mengiringi pertemuan terakhir kami. Yah…Pertemuan singkat itu berujung dengan pernyataan cinta dari kami. Dan aku tidak menyesal telah bertemu dengannya, aku sangat bersyukur mengenal pria seperti dia. Hanya beberapa kali bertemu, tetapi kau benar-benar sudah mengambil hatiku. Saranghae Lee Sungmin…Jeongmal saranghae… Aku akan menunggumu.

@ Dua tahun kemudian…

Seoul city…

“Ouuuhh… Kau berhasil membuatku penasaran dengan pria dalam ceritamu itu Raejin~ah. Kapan kau akan memberitahuku?” Ucap Eunri penuh semangat.

“Tidak perlu terlalu panasaran seperti itu Eunri~ah. Kurang lebih sifatnya sama seperti Kyuhyun, pacarmu itu.” Jelasku padanya. Anak ini, semenjak aku menceritakan tentang pertemuanku dengan Sungmin ia selalu menanyaiku dengan pertanyaan yang sama.

“Hmm…baiklah. Tapi Kau harus janji padaku. Jika pria itu benar-benar kembali, orang pertama yang harus kau beritahu adalah aku, seperti yang kulakukan padamu saat aku awal berpacaran dengan Kyu. Arasseo?”

“Arasseo Eunri~ah. Kau adalah sahabat terbaikku, orang yang paling dekat denganku, tentu saja kau yang akan kuberitahu lebih dulu.” Ucapku yang kemudian disusul dengan senyum manis dari sahabatku itu.

2 hari kemudian…

“Raejin~ah…Kau sudah tahu tentang dokter muda yang mengajar di fakultas kedokteran itu? Kabarnya ia juga bekerja diklinik kampus kita.” Jelas Eunri tiba-tiba mengagetkanku yang sedang duduk dikantin.

“Ng? Eunri~ah, kau mengagetkan saja! Ani, aku tidak tahu. Memangnya kenapa?” tanyaku penasaran.

“Tidak ada apa-apa sih. Aku hanya ingin memberitahu saja. Aku pikir kau sudah tahu. Biasanya kan kau duluan yang tahu masalah yang ada dikampus. Kita cari tahu yuk?” ajak Eun Ri semangat.

“Aaah,,andwae…Aku sedang tidak mood sekarang ini. Lain kali saja ya. Lagi pula kita kan sedang banyak tugas. Kau tahu sendiri kan aku tidak terlalu bisa kalkulus?” elakku.

“Ayolah Raejin~ah…Aku penasaran dengan dokter itu. Kata kebanyakan mahasiswa yang sudah melihatnya, ia itu seorang yang sangat tampan dan baik. Lagi pula kepalaku sedang sakit. Mau ya?  Masalah kalkulus itu nanti saja, aku akan minta Kyuhyun untuk mengajarimu. Oke?!  Kajja!” Dengan segera Eunri menarik tanganku. Aku heran dengan sahabatku ini. Kenapa dia bisa sepenasaran ini? Aishh…Tumben sekali dia ganjen dengan namja lain. Lalu kenapa sekarang justru aku yang tidak semangat? Entahlah, aku tidak tahu lagi harus bagaimana memikirkannya.

Tok..Tok..Tok..

“Silahkan diisi daftar pasiennya nona.” Ucap salah seorang petugas yang bekerja di klinik kampus ketika kami memasuki ruangan tersebut. Aku mengisi beberapa data yang dibutuhkan petugas tersebut.

“Menyeramkan sekali masuk ke klinik…Onnie, aku minta obat sakit kepala saja, boleh tidak?” ucap Eunri gugup.

“Maaf nona, kami tidak bisa memberikan sembarangan obat tanpa resep dari dokter.”

“Baiklah, tapi tidak diperiksa yang macam-macan kan? Hanya kepalaku saja yang sakit..” ucap Eunri kembali meyakinkan petugas itu. Aku memandangnya heran. Aneh sekali anak ini, bukannya dia tadi yang bersemangat ingin bertemu dengan dokter baru itu.

“Tenang saja nona, dokter pasti lebih tahu.” Jawab petugas itu kembali.

Kreekk…Pintu ruangan praktek didekat mereka tiba-tiba terbuka.

“Minyoung-ssi, tolong di cancel sebentar ya, ada yang ingin aku cari di ruang obat-obatan sebentar.” Ucap seseorang yang baru saja keluar dari ruang dokter tersebut.

“Baik Dokter. Saya…” ucapan petugas itu terputus saat mendengar perkataan Raejin.

“Sungmin-ssi..” Ucap Raejin tiba-tiba.

“Ne?(menoleh ke Raejin). Raejin~ah?” ucapnya kaget.

“Sungmin-ssi? Sungmin,,sungmin,,(berpikir), aaaaahhh,,pria yang kau ceritakan itu?” teriak Eunri mengagetkanku dan Sungmin.

“Ah, ne. Raejin~ah bagaimana kabarmu? Ommamu?” Sungmin tersenyum melihatku. Aku hanya diam sesaat melihatnya.

“Oh, aku dan ommaku baik. Kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Sepertinya cita-citamu sudah tercapai. Selamat ya. Ah ya, perkenalkan ini sahabatku Kim Eun Ri.” Ucapku bertubi-tubi seakan tidak mengizinkannya untuk berbicara. Kali ini hatiku benar-benar sakit melihat reaksinya yang bahkan seperti sudah melupakan janjinya beberapa tahun yang lalu kepadaku. Air mataku benar-benar tidak bisa kutahan lagi. Aku memilih keluar meninggalkannya dan Eunri didalam klinik tersebut. Aku sadar beberapa orang yang berlalu lalang disekitar klinik itu memandang heran padaku. Tapi tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan rasa kecewaku. Aku berlari menjauh dari klinik tersebut. Setelah beberapa lama aku berlari, aku memilih untuk menenangkan diri di taman belakang kampusku.

“Raejin~ah…Disini kau rupanya. Hah…Hah… Ikutlah denganku. Hufftt…Ada yang ingin kubicarakan padamu.” Ucapnya terengah-engah ketika sampai didekatku. Aku benar-benar terkejut melihatnya. Namja ini sepertinya berusaha untuk mengejarku. Tiba-tiba ia menarikku dan membawaku kesebuah ruangan yang aku tahu itu adalah ruangan untuk istirahat para dokter yang bertugas.

“Disini tidak akan ada yang melihat. Yang bertugas hari ini hanya aku.” Ia memandangku.

“Sudahlah Sungmin-ssi, pasienmu banyak yang menunggu. Aku permisi.” Ucapku berusaha untuk pergi dari hadapannya. Ia menarik tanganku. Aku memandangnya kesal.

“Raejin~ah.. Kau tahu, aku mencarimu kemana-mana. Bahkan hingga kerumahmu yang ada didesa. Saat aku menanyakanmu, mereka bilang kau sudah pindah ke Seoul dan kau menjual rumahmu. Mungkin bisa dibilang aku sudah gila karena mencari sesuatu yang tidak pasti. Hanya karena aku masih mengingat jelas janjiku saat itu, dan karena aku sungguh-sungguh mencintaimu, aku terus mencoba untuk mencarimu disela-sela kegiatanku. Dan aku beruntung bisa bertemu denganmu disini. Jadi tolong Raejin~ah,,jangan berpikir bahwa aku akan melupakanmu. Arasseo?” Aku terdiam memandangnya dan hanya bisa mengangguk dengan air mata yang perlahan terus mengalir dipipiku. Yah, mengalir.. tapi kali ini bukan karena aku kecewa. Tetapi karena aku bahagia bisa bertemu kembali dengan orang yang selama ini ku rindukan. Orang yang pada akhirnya akan menghabiskan waktunya bersamaku. Orang yang akan selalu memberikan bahunya untuk menjadi sandaranku dikala kubersedih. Orang yang akan selalu memberikan senyumannya untuk memberikanku semangat. Ia memegang kedua pipiku sambil memandangku lekat, menghapus air mataku dengan lembut dan menarikku kedalam pelukannya. Ia terus menciumi pucak kepalaku dan semakin mengeratkan pelukannya. Pelukan ini, sudah lama aku tidak merasakannya. Masih sama seperti dulu, hangat dan nyaman. Aku tak bisa menyembunyikan senyumku dan memilih membalas pelukannya. Maafkan aku Sungmin-ah…Aku salah berpikiran yang bukan-bukan terhadapmu. Mulai saat ini aku akan selalu percaya terhadapmu. Selamanya..

END RAEMIN SPECIAL STORY….

 

Readers, mian yah kalau ceritanya gak bagus, kepanjangan, n terlalu berbelit-belit. Namanya juga manusia, gak bakalan bisa sempurna. Aku juga bukan seorang professional Author. Jadi aku mohon pengertiannya yah…#maksa deh#

Kritik, saran, cacian, makian, hinaan yang membangun atau apapun bentuknya aku terima dengan sangat lapang dada….

Sekali lagi makasi buat readers yang udah bersedia membaca FF ini…^^ #bow#

Gomawo.. Saranghae Readers..^^

Leave a comment

3 Comments

  1. @iamsantahappy

     /  September 24, 2011

    Umiiiiinnn!!!! (っ˘з˘)っ
    Aku juga mau diobatin dokter umin thor *gananya*
    Rada bingung kok tiba2 jadian thor?ngga kecepetan?
    *reader lemot,mohon maklum*
    Tapi akhirnya happy-ending juga *\(´▽`)/*
    *komen ga mutu,abaikan*

    Reply
  2. park min rin

     /  September 24, 2011

    Prok prok prok… keren ceritanya.. aku suka endingnya kirain mau ngapain ke tempat sepi #kumat hahaha

    Reply
  3. ituuu , aku ngakak .. pas abang umin di pitnah (?) lawak gimna gitu #syololol .. ituu jadiannya kok kecepetan sih thor ?? XD

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,457 other followers

%d bloggers like this: