THIS IS MY STORY

Author: Kim YoonJa

Tag: Kim Heechul, Tan Hankyung

Genre: Romance, Friendship, Continue

Annyeong naneun Kim YoonJa imnida. Aku author freelance baru disini dan kebetulan dan sangat kebetulan, ini adalah ff pertamaku. Pertama-tama, makasih banget buat authornya yang udah mau ngeposting ff-ku ini *nangis di depan mimbar* Maaf jika banyak typo dan ceritanya rada…..ewh. Hehe namanya juga baru coba-coba. Jika banyak yang suka, ff ini bakal aku lanjutin. Makanya jika ada salah satu dari readers yang suka, ya comment aja. Aku juga sangat terima jika comment itu berupa kritikan yang membangun C:

Oke daripada aku banyak ngoceh, mending langsung aja deh. Enjoy CC:

-1998-

Sepertinya aku terlambat masuk sekolah tapi sekolah ini masih sepi sekali. Ah aku belum terbiasa dengan keadaan sekolah baruku. Aku terus menyusuri koridor sekolah sampai aku menemukan kelasku. Dimana tempatnya? Oh ternyata disini, kelas X-A.

Ketika aku masuk kelas, aku langsung terlonjak kegirangan.

“Sun Ra! Ternyata kita sekelas ya? Ah aku senang sekali kau tahu,” langsung kupeluk teman SMP-ku ini.

“Hahaha kau telat Mi In, aku sudah tahu dari kemarin-kemarin! Hahaha siapa suruh kau tidak ikut MOS,”

“Aku kan sudah izin, Sun Ra. Lagipula waktu itu aku sakit, apa kau tidak tahu?”

“Aku tahu. Sudahlah lupakan. Aku ingin ke kantin. Kau mau ikut?”

“Kukira ini sudah bel, mengapa kau mengajakku ke kantin?”

“Ini baru jam setengah 7 Mi In, ayo ikut aku,”

+++

“Namaku Mi In, Park Mi In. Tadinya aku bersekolah di SMP yang tak jauh dari sini. Tahun ini umurku 15 tahun. Sekian perkenalan dari saya, mannaseo bangapseubnida chingudeul. Semoga kita bisa berteman baik.”

Aku membungkuk dan langsung kembali ke bangkuku. Selama aku memperkenalkan diri di depan kelas, teman-teman sekelasku menatapku dengan tatapan…..aneh. Oh selalu, selalu seperti ini. Aku benci diperlakukan seperti ini. Tidak jauh beda dengan pengalamanku di SMP dulu. Namaku dengan wajahku memang sangat tidak sejalan, gadis yang manis. Ku rasa kalau yang dimaksud lebih manis daripada kembaranku yang di kebun binatang, itu benar. Tidak ada yang mau berteman denganku kecuali Sun Ra sahabatku ini. Memang apa salahnya dengan kacamata tebal yang bulat, kulit kasar, dan rambut model bob yang kusam? Semua orang yang kukenal selalu melihatku dari luar saja, mereka tidak mau berusaha mengenalku lebih dekat. Setidaknya sifatku tidak seburuk penampilan fisikku.

“Abaikan saja tatapan mereka,” Sun Ra menenangkanku seolah dia membaca pikiranku. “Ayolah kau masih punya aku, kita kan sahabat,” lanjutnya. Mau tidak mau aku tersenyum. Aku langsung memfokuskan tatapanku kedepan ketika ada seseorang yang memperkenalkan dirinya lagi.

“Hemm… Annyeonghaseo,” ucapnya membungkuk. Dia namja kan? “Kim Heechul imnida. Mannaseo bangapseupnida,” ucapnya lalu kembali ketempat duduk. Perkenalan yang singkat, hemat dalam berkata-kata. Aku melihatnya kembali ke tempat duduknya. Dia berada di kursi pojok paling belakang dan…. Sendiri? Sepertinya dia belum mempunyai teman, dia itu namja kan? Wajahnya manis sekali. Bukan, bukan seperti lelaki yang manis, tetapi wajah manis perempuan.

“Sun Ra, dia namja kan?”

“Tentu saja! Kau tidak dengar suaranya?”

“Tidak, aku hanya memastikan. Kali saja dia seorang gadis yang mempunyai tipe suara alto.”

“Kau babo,”

“Hahaha memang. Tapi namja itu aneh, hawanya benar-benar tidak mengenakkan,”

“Iya, seperti kau,”

“Enak saja!” Segera kujitak kepalanya.

+++

“Bukumu jatuh,” aku menoleh ketika aku sedang terburu-buru ingin ke kamar mandi. Oh namja cantik itu lagi.

“Argh,” segera aku membungkuk dan mengambil buku itu. Aku sengaja membawa buku ini ke kamar mandi karena setelah jam istirahat ini ada ulangan.

“Terimakasih,” ucapku sambil membungkuk, lalu membetulkan letak kacamataku.

“Cheonman,” Dia menatapku lalu langsung melenggak pergi. Namja yang irit bicara.

“Eishh… ahh perutku,” aku langsung terbirit ke kamar mandi.

Setelah selesai ulangan, kelas kami langsung dihadapkan pada pelajaran yang berisi deretan angka yang sangat memuakkan.

“Sun Ra, ajarkan aku teori logaritma yang ini,” Satu lagi kekuranganku, tidak cukup pintar dalam pelajaran eksak. Penampilanku saja seperti seorang kutubuku, aslinya tidak usah ditanya.

“Aku juga tidak paham Mi In,” aku menatap Sun Ra heran. Tumben sekali dia tidak bisa. Padahal kukira pelajaran ini hanya diibaratkan mengedipkan mata baginya.

“Apanya yang tidak paham?” Kami menoleh kearah sumber suara. Ah namja irit bicara itu lagi.

“Emm maaf sebelumnya, mungkin kalian heran mengapa aku bergabung, tapi aku benar-benar frustasi karena selama MOS hingga sekarang aku belum juga dapat teman jadinya aku ikut bergabung kalian saja. Boleh kan?”

Bisa kau hitung berapa kata yang dia ucapkan barusan? Itu kalimat terpanjang yang pernah kudengar dari mulutnya!

“Tentu saja boleh!” aku bersorak senang. Tentu saja aku senang, akhirnya temanku bertambah satu.

“Gomawo. Yang mana yang kau tidak paham tadi? Apa matematika? Mungkin aku bisa membantu kalian,”

“Tepat sekali. Soal yang ini, yang terakhir. Tolong kau jelaskan secara rinci,” Ucap Sun Ra.

“Jadi begini……,” Dia mulai menjelaskan. Ternyata dia lumayan juga dalam hal ini, walaupun dia juga sempat kebingungan dalam mengerjakannya.

“Daritadi aku telah berbicara panjang lebar tapi kita belum berkenalan,” ucapnya nyengir sambil menggaruk kepalanya “Namaku Kim Heechul,” dia lalu mengulurkan tangannya ke Sun Ra.

“Lee Sun Ra,” Sun Ra menyambut uluran tangannya. Setelah itu dia mengulurkan tangannya lagi ke arahku.

“Park Mi In, semoga kita dapat berteman dengan baik,” ucapku menyambut uluran tangan Heechul sambil tersenyum.

+++

Berminggu-minggu sudah berlalu. Semenjak hari itu, aku, Sun Ra dan juga Heechul selalu bersama. Apa-apa bertiga, ke kantin bertiga, mengerjakan tugas bertiga, tapi kami tidak mungkin pipis bertiga.

“Ya Heechul, coba kau lihat kearah sana!” ucap Sun Ra sambil berbisik.

“Ada apa Sun Ra?” ucap kami berbarengan. Aish.

“Kau lihat gadis itu? Sepertinya dia memperhatikanmu terus,”

“Sok tahu sekali kau, apa buktinya? Mungkin hanya perasaanmu saja,” Heechul membantah. Sejalan dengan pikiranku rupanya.

“Lihat saja tadi, ketika kau berbalik melihatnya dia langsung membuang muka menghindar pandangan darimu. Hanya orang peka yang tidak sadar Heechul-a. sepertinya dia menyukaimu,” Dasar sok tahu. Gumamku dalam hati. Tapi sepertinya gadis itu sekelas dengan kami.

“Jeongmal?” tanyaku. Ah temanku sok tahu sekali, aku tidak pernah sekesal ini sebelumnya hanya karena sifat ke-sok-tahuannya itu.

“Iya! Kau itu kenapa sih? Jangan bilang kau cemburu? Kau menyukai Heechul ya? Kau ngaku saja,” sontak mukaku memerah. Ketika kulihat Heechul, dia tampak biasa saja, stabil.

“Tidak.” Aku membantah dengan sigap. Mukaku tambah memerah. Bukan, bukan karena aku menyukainya, tetapi memang karena setiap digoda mukaku memang selalu begini.

“Sun Ra, kau bicara apasih? Ada-ada saja,” akhirnya Heechul angkat bicara.

“Sudahlah lupakan. Ohiya ngomong-ngomong apa kalian diberitahu tentang acara ulang tahun Mon Gyu?” Akhrinya dia mengalihkan topik juga.

“Tidak. Memangnya dia siapa?” jawabku disertai anggukan kepala Kim Heechul.

“Aku juga tidak tahu orangnya yang mana. Yang jelas dia sekelas dengan kita. Maklum saja kita tidak tahu, sedangkan kita tidak ingin membaur. Apa-apa selalu bertiga,” ucapnya disertai anggukan dan tawa dari kami. Lalu dia melanjutkan ucapannya.

“Kudengar dia mengundang seluruh murid di kelas kita,”

“Ah benarkah? Walaupun diundang, aku tidak ingin ikut jika….,” jawaban Heechul mengagetkan kami.

“Ah wae? Mengapa kau tidak ingin hadir Heechul-a? Kukira tadi kau…..,” ucapku antusias memotong ucapan Heechul.

“Hai! Aku Chung Mon Gyu. Kau Kim Heechul kan?” Kini giliran ucapanku yang terpotong. Ahh karma berlaku rupanya. Ketika aku melihat ke sumber suara ternyata……hey, itu bukannya gadis yang memperhatikan Heechul tadi ya? Sejak kapan dia sudah berada disini? Ternyata Mon Gyu itu dia. Kalau dilihat lebih dekat, ternyata dia sangat cantik berbanding terbalik denganku. Sudahlah, jangan membahasnya itu sangat menyakitkan.

“Iya. Ada apa?” Dasar irit bicara.

“Apa kau akan datang ke acara ulang tahunku minggu depan? Ku harap kau akan menghadirinya,” dia berbicara sumringah sekali. Aku ralat ucapanku tadi. Ternyata sangat kelihatan sekali kalau dia menyukai Heechul. Dari tatapannya, gaya bicaranya, semuanya sangat terlihat jelas.

“Tergantung. Kalau teman-temanku ini diundang, aku ikut,” apa dia bilang? mengapa begitu?

“Hemm….. bagaimana ya?” ucapnya ragu seraya menatap aku dan Sun Ra meremehkan. Bukan, lebih tepatnya dia menatapku. Aku benci tatapannya. Kalau begini aku lebih memilih tidak ikut.

“Kudengar kau mengundang seluruh anak sekelas? Apa aku salah atau kau yang tidak konsisten?” Tanyanya sarkastik. Lidahnya tajam juga rupanya, tapi itu yang aku suka darinya sekarang.

“Yah mereka boleh ikut tapi apa kau tidak tahu kalau syarat untuk datang ke pestaku harus membawa pasangan? Sedangkan dia……….,” dia sengaja menggantung ucapannya dan menatapku dengan tatapan meremehkan (lagi).

“Yasudah kalau begitu Mi In yang menjadi pasanganku” Aku hampir tersedak ludahku sendiri ketika mendengar ucapannya. :’D RT @Yozageelsy: gaakan. gaakan gue buka. gaakan :’) RT @diantantii@Yozageelsy –>> RT @rahne… 
http://kvs.co/gAEF

“Ya! Bagaimana denganku??” Sun Ra protes. Yang kutahu, dia memang sangat gila pesta dan kurasa tidak adil baginya jika dia tidak bisa ikut ke pesta hanya karena tidak dapat pasangan.

“Kim Heechul, kau hanya akan denganku nanti,” ucap Mon Gyu to the point.

“Tidak mau. Kau dengan yang lain saja lagipula kau kan cantik pasti banyak yang mengejarmu,” Heechul mengabaikan ucapan Sun Ra. Ketika dia mengatakan itu, aku menghela nafas kecewa. Setidaknya yang ada dipikiranku adalah jika dia mengajakku menjadi pasangannya karena dia kasihan padaku. Pasti dia memilihku karena dia berpikir bahwa tidak ada yang mau denganku.

Mon Gyu lalu menatapku penuh dendam “Huh yasudah!” Dia mendelik lalu berbalik pergi menjauhi kami.

“Ya! Aku juga ingin pergi ke pesta! Kau tega sekali Kim Heechul! Mengapa kau tidak memilihku saja hah?” Setelah Mon Gyu pergi, Sun Ra kembali bersuara dengan protesya.

“Iya Kim Heechul, kau pergi dengan Sun Ra saja, aku juga tidak begitu menyukai pesta,”

“Tapi…….,” ucapan Heechul terpotong ketika ada seseorang yang datang menghampiri kami. Ah, sudah berapa kali ucapan kami terpotong dalam beberapa menit ini?

“Hai Sun Ra, apa kau mau pergi ke pesta Mon Gyu bersamaku?” Siapa itu? Oh rupanya Hankyung. Setidaknya itu yang ku tahu. Beruntung sekali Sun Ra, namja favoritnya sejak SMP itu datang menghampiri dan mengajaknya menjadi pasangannya.

“Boleh…. Ohiya Heechul, kau pergi dengan Mi In saja,” Jawabnya malu-malu. Dasar nyonya pesta. Dia lalu menghampiri Hankyung dan pergi meninggalkan kami.

“Beruntung sekali kau Sun Ra,” gumamku.

“Apanya yang beruntung?” ternyata Heechul mendengar gumamanku.

“Setidaknya Sun Ra lebih baik dariku. Dia pintar, cantik, namja yang menyukainya juga jauh darikata sedikit,” Entah mengapa aku malah melanjutkan ucapanku lagi. Bergumam pada diri sendiri tepatnya. “ Tapi memang dasar dianya saja yang selalu menunggu pangerannya itu, Hankyung, makanya dia menolak semua pria,” lanjutku.

“Memangnya Sun Ra menyukai Hankyung?” aku menoleh kearahnya.

“Kau tidak tahu kalau Hankyung itu teman SMP kami? Sun Ra bahkan sangat menggilai namja itu” aku lalu menghadapkan kepalaku ke depan “Ah beruntung sekali kau Sun Ra, sepertinya Hankyung juga menyukaimu,” gumamku lagi, lagi, dan lagi. Dan sialnya lagi, sepertinya Heechul mendengarnya.

“Memangnya kau tidak pernah pacaran?” Tanya Heechul. Sepertinya dia tidak tahu. Biar kujelaskan.

“Kau gila?! Siapa namja yang mau denganku?? Kau menghinaku ya? Mereka melihatku saja sudah ingin muntah, bagaimana ingin berpacaran denganku? Hahaha kau ada-ada saja,” aku tertawa keras. Tidak tahu mengetawakan apa. “Setidaknya kau adalah namja pertama yang mau dekat denganku” aku lalu menatapnya lagi.

“Hahaha kau ini,” dia tertawa lalu mengacak-acak rambutku. Eish rambutku berantakan.

“Ya kau! Dasar beraninya kau mengacak rambutku!” Aku lalu menggelitikinya dan mulai membicarakan hal yang tidak jelas.

Ahh ternyata dia tidak seburuk yang kukira.

+++

Aku benar-benar tidak ingin hari itu datang. Hari dimana aku pasti akan diremehkan tentang penampilanku. Dan hari itu adalah hari ini, hari dimana acara pesta itu dimulai. Heechul bilang padaku bahwa dia akan menjemputku jam setengah 4. Lebih cepat dari dugaanku. Ku kira dia akan menjemputku jam 7 karena acaranya akan dimulai sejam setelahnya. Mengapa dia begitu bernafsu.

Setelah aku berberes, dengan gaya andalanku, poni dijepit keatas dengan membiarkan rambut bob abstrak seleherku tergurai lalu memakai kaos tidak jelas dan ditutupi dengan cardigan warna krem. Belum lama aku membenahi jepitan di poniku, eomma-ku berteriak memanggilku

“Park Mi In, ada yang memanggilmu!”

Ah pasti Kim Heechul

“Iya eomma tunggu sebentar,” Aku langsung turun ke lantai bawah dan mendapati Heechul sedang duduk di ruang tamu di atas sofa rumah ini. Aku kaget melihatnya. Ah pasti pulang dari sini eomma-ku langsung mengejekku bahwa Heechul itu adalah pacarku.

“Hey, ayo kita berangkat,” aku  lalu mengajak Heechul untuk keluar dari rumah ini sebelum eommaku menanyakan hal yang tidak-tidak.

“Tunggu sebentar. Aku masih punya tata karma, aku ingin berpamitan dulu dengan eomma-mu,” dia berbisik sangat pelan ke arahku lalu dia mulai berbicara pada eommaku. “Ahjumma, kami pergi dulu ya untuk menghadiri pesta ulang tahun teman kami. Ku harap aku tidak akan memulangkan gadismu ini terlalu malam,” entahlah, ini terdengar seperti seorang namja yang ingin meminta izin kepada orangtua si gadis untuk pergi berkencan. Wajahku panas sekali entah kenapa.

“Oh baiklah bawa saja dia, tidak membawanya pulang justru lebih baik,” Heechul lalu tertawa keras.

“eomma….,” keluhku. “Yasudah kami pergi dulu, annyeong”

“Heechul-a, aku baru tahu kalau rumah Mon Gyu seperti tempat salon” Aku bergumam heran. Apa Mon Gyu tinggal di salon, atau rumahnya memang dekat salon ini?

“Tentu saja tidak. Kau babo sekali,” ucapnya mencibir.

“Lalu untuk apa kita kesini? Ada yang berjanji bertemu denganmu? Atau jangan-jangan kau juga menjemput gadis lain untuk diajak ke pesta Mon Gyu dan setelah itu aku dilupakan? Aku tahu aku tidak cantik tapi setidaknya…….,”

“Kau cerewet sekali. Ayo ikut aku,” Dia lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku keluar setelah itu dia menarik tanganku masuk ke dalam salon itu.

Ketika kami sudah memasuki salon itu, dia lalu menyuruhku duduk ke salah satu kursi. Tentu saja aku tidak mau, dia pikir dia siapa menyuruh-nyuruhku begitu saja. Tapi ketika dia memelototkan matanya yang besar itu aku langsung menurut.

“Em… pelayan, bisa kau benahi dia? Buat dia semenarik mungkin,”

“Hey aku tidak mau! Aku memang tidak cantik tapi aku benar-benar tidak betah jika harus dipolesi dengan kosmetik berbahan kimia seperti itu! Aku tidak mau! Tidak mau!” Aku tersinggung sekali ketika dia meminta tukang salon itu untung membenahiku. Aku merasa dia malu denganku jika aku berdandan seperti ini  ke pesta.

“Diam atau aku tinggalkan kau,”

Menyebalkan.

Wajahku serasa panas sekali ketika didandani. Wajahku seperti susah untuk digerakkan, dan mataku…. Ah aku tidak tau lagi seperti apa rasanya. Seperti….. ada sesuatu yang membebani kedua bulu mataku, aku tidak tahu apa nama benda ini. Ketika ku tanyakan, ternyata ini adalah benda bernama eyeliner.

“Mau kau apakan bibirku?” tanyaku ketika dia mulai mengoleskan benda runcing ke bibirku. Sepertinya itu lipstick. Itu kalau aku tidak salah.

“Hanya ingin mempertegas bibirmu. Bentuk bibirmu cukup bagus rupanya, hanya saja aku membutuhkan sedikit lipstick berwarna pink agar bibirmu terlihat lebih terang,” Dan ternyata aku benar.

“Ah jeongmal? Terserah kau saja,” Dia lalu mulai mengoleskan benda itu ke bibirku. Ketika dia sudah selesai, sumpah demi kucingnya Heechul, bibirku kelu sekali. Seperti ada yang menduduki  wajahku, berat sekali. Lalu rambutku…. Entahlah. Rambutku seperti di ikat keatas entah dengan apa. Padahal rambutku inikan pendek.

“Apa sudah selesai?” sedari tadi Heechul hanya tertidur dan tiba-tiba dia menghampiriku. “Ah sudah selesai rupanya.

“Heechul-a, aku benar-benat tidak nyaman,” Keluhku sambil menundukkan wajahku dan meremas-remas baju bagian bawahku. Kasihan sekali kau baju, kuremas-remas sedari tadi.

“Angkat kepalamu,” ketika aku mengangkat kepalaku, aku melihat ekspresinya yang…………..biasa saja. Tuhkan benar pasti pelayan laknat tadi membuat wajahku terlihat seperti badut berjalan.

“Tunggu sebentar disini,” dia lalu keluar dari salon ini. Ah mau apa lagi dia? Sejak awal dia memang susah sekali ditebak. Apa yang kupikirkan pasti selalu berbeda dengan apa yang akan dia lakukan. Ketika dia kembali, dia membawa sebuah kantong besar. Apa itu?

“Pakai ini,” ucapnya lalu melemparkan kantong tadi kepadaku. Refleks aku menangkapnya. Dia lalu melanjutkan dan menatapku serius. “Aku hanya ingin kau tampil berbeda hari ini,” Demi Heebum! Aku hampir tersedak.

“Em…aku ganti baju dulu ya,” ucapku sambil menundukkan kepalaku dan berbalik menuju ruang ganti. Saat ini aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya.

Ketika aku sudah selesai mengganti pakaian, aku langsung mengeluarkan keluhanku lagi. “Kulitku benar-benar merasa gatal memakai ini! Kau tahu, ini benar-benar tidak nyaman!”

“Hahaha sudahlah ayo berangkat,” Dia benar-benar tidak peka. Apa dia tidak tahu kalau aku sangat ingin dipuji dengan penampilanku ini. Belum selesai aku dengan pikiranku, dia langsung menarik tanganku (lagi) masuk ke dalam mobil.

Oh tuhan, ada apa denganku??

TBC

Maaf jika ceritanya aneh, alurnya kecepetan, dan berbagai kekurangan lainnya *bow*

THIS IS MY STORY

Author: Kim YoonJa

Tag: Kim Heechul, Tan Hankyung

Genre: Romance, Friendship

Aku baru sadar kalau ternyata Heechul mengajakku pergi lebih awal karena dia ingin me-make over-ku dulu. Dan sekarang, ketika kami sudah berada di dalam mobil, aku benar-benar tidak tahu harus membicarakan apa. Suasana di dalam mobil ini benar-benar lengang. Sunyi sekali. Aku merasa canggung sekali sekarang.

“Heechul-a, gomawo,” aku benar-benar tidak betah dengan keadaan yang sunyi ini. Akhirnya ku ungkapkan saja apa yang ingin kuucapkan.

“Untuk apa?” Babo, pakai bertanya lagi. Ucapku dalam hati.

“Untuk semuanya. Dari mulai kau ingin pergi ke pesta bersamaku, menjemputku, mengajakku ke salon, sampai memberikan baju ini. Walau sebenarnya aku benar-benar tidak nyaman dengan semua ini tapi……. Gomawoyo” ucapku sambil tersenyum kearahnya.

“Kau benar-benar tidak nyaman ya?” dia lalu menghadapkan kepalanya kesamping, menghadapku. “Kalau kau tidak nyaman kau boleh ganti,”

“Ya kau pikir aku gadis macam apa? Aku memang tidak nyaman, tapi aku masih menghargai semua pemberianmu ini,” aku mendelik kearahnya.

“Kalau begitu……cheonmaneyo,” dia lalu mengacak-acak rambutku. Sontak aku langsung menepis tangannya.

“Aku sudah berusaha menghargai pemberianmu, tapi kau sendiri malah tidak menghargai pemberianmu. Lihat ini jadi berantakan,” protesku sambil merapikan rambutku yang diacak oleh dia.

“Maaf,” dia lalu tersenyum kearahku. “Kau tidak jelek-jelek amat kok”

Apa katanya? Aku sungguh tidak dengar.

+++

Akhirnya kami sampai juga setelah lelah berkeliling mencari rumah Mon Gyu. Kupikir rumahnya seperti apa karena perjalanan yang ditempuh untuk menuju ke rumahnya sangatlah ekstrem. Banyak bebatuan, lumpur dan berbagai macam benda tanah yang menggelikan. Rumahnya bagus, kurasa rumahnya yang paling mewah diantara rumah-rumah yang ada disekitarnya. Tuhan sungguh kejam.

“Heechul-a, aku malu. Eotteokhae?” aku benar-benar nervous ketika melihat teman-teman yang lain berpakaian benar-benar layaknya seperti seorang manusia normal.

“Mengapa malu? Kan ada aku,” dia tersenyum lembut lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil (lagi) untukku. “Ayo,” dia lalu menggamit lenganku dan kami berjalan bersama.

“Sun Ra-ya!” aku berteriak kearah Sun Ra lalu memeluknya. Setidaknya hanya dialah satu-satunya teman perempuan yang dekat denganku.

“Mi In! aigoo….,” setelah dia memelukku, dia lalu menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Mengapa? Pasti aneh. Sudahlah, tanpa kau bilang aku juga tahu bahwa aku aneh,” seketika aku langsung menciut ketika aku menyadari betapa sempurnanya Sun Ra malam ini. Hankyung benar-benar tidak salah memilih yeoja. Justru aku malah mengasihani Heechul sekarang.

“Apanya yang aneh,” gumamnya.

“Apa? Kalau berbicara yang jelas sedikit aku tidak dengar.”

“Tidak. Lupakan saja,” seketika itu juga Hankyung datang menghampiri kami.

“Hey!” Heechul yang sedari tadi dilupakan akhirnya bersuara juga. Dia mengampiri  Hankyung lalu segera memeluknya. Aku dan Sun Ra langsung tercengang heran.

“Sejak kapan kalian…….?” Sun Ra menatap Hankyung dan Heechul bergantian. Pertanyaan Sun Ra mewakili perasaanku juga saat ini.

“Memangnya Heechul belum bilang kalau kami ini teman satu tempat khursus?” Tanya Hankyung. Hah? Dia berbicara apa sih? Aku tidak mengerti.

“Ohiya aku lupa. Dia ini teman khursusku sejak SMP,” Heechul lalu menjelaskan kepada kami.

“Lalu kenapa kalian bersikap seperti orang yang tidak saling mengenal kalau di kelas? Kenapa kau tidak pernah bilang kepadaku?” tanyaku. Mereka ini aneh sekali. Terus untuk apa dia berteman dengan aku dan Sun Ra dan mengatakan bahwa dia tidak punya teman?

“Tidak apa-apa. Memangnya tidak boleh?” ingin sekali aku mencakar wajah cantiknya itu ketika dia mengucapkan kalimat tadi.

“Tidak. Tidak apa-apa. Sudahlah kau pergi saja sana dengan Hankyung, aku ingin berjalan-jalan sebentar dengan Sun Ra. Sun Ra-ya, ayo,” aku lalo menarik tangan Sun Ra menjauh. Aku benar-benar tidak mood dengan Heechul sekarang.

+++

“Sun Ra! Mi In!” kami menoleh ketika ada seseorang memanggil. Rupanya Mon Gyu. Benar-benar seorang dewi. Gaun merahnya itu terbalut sempurna di tubuhnya yang ramping dan tinggi itu. Tapi aku risih sendiri dengan pakaiannya. Gaunnya sih memang panjang malah sampai mengenai dasar untuk berpijak, tapi belahan pada gaunnya itu benar-benar mengerikan. Belum lagi belahan gaun pada bagian atasnya itu membuat sesuatu yang tidak terlihat malah terpampang dengan  sangat jelas.

“Oh kau Mon Gyu, saengil chukkaeyo kadonya sudah kutitipkan tadi di depan,” ucap Sun Ra

“Aku juga,” aku ikut menimpali ucapan Sun Ra.

“Terimakasih sudah datang. Mana Heechul?” tanyanya. Untuk apa dia menanyai orang itu? Dia kan pasanganku, apa dia ingin merebutnya? Atau bahkan dia sendiri yang tidak mempunyai pasangan?

“Untuk apa kau menanyainya?” apa yang kuucapkan barusan? Dengan seenaknya mulut laknat ini mengatakan sesuatu yang seharusnya kukatakan dalam hati saja.

“Tidak ada,” ucapnya sangat jutek lalu berbalik meninggalkan kami berdua yang saling bertatapan bingung.

+++

“Kau lihat Kim Heechul tidak? Rasanya aku ingin menggaruk seluruh badanku. Benar-benar gatal,” Aku celingak-celinguk mencari sesosok namja cantik itu sambil menggaruk-garukkan tanganku.

“Dimana ya? Itu dia!” ujarnya berseru. “Aku tinggal ya! Aku ingin ke kamar mandi sebentar,” dengan segera dia meninggalkanku dan kehadirannya digantikan dengan Heechul yang sudah berada di sampingku.

“Kau baik-baik saja Mi In?” dia bertanya kepadaku. Dia khawatir atau hanya sekedar basa-basi? Apa dia benar-benar melihat wajahku yang ‘baik-baik-saja’?

“Badanku gatal-gatal sekali Heechul-a. Sepertiinya aku benar-benar tidak cocok dengan gaun ini,”

“Kau ingin pulang? Padahal aku masih ingin mengobrol dengan Hankyung,”

“Yasudah kau lanjutkan saja acaramu dengan Hankyung. Aku pulang sendiri saja,”

“Tidak bisa. Aku sudah berjanji dengan eomma-mu bahwa aku yang akan membawamu pulang,”

“Sungguh tidak apa-apa Heechul. Nanti biar aku yang menjelaskan dengan eommaku. Sungguh”

“Baiklah ayo kita pulang,” ajaknya lalu menggamit lenganku. Sudahlah, aku sudah mulai mempan dengan sikapnya, Walau tetap saja ada rasa yang aneh.

“Benar tidak apa-apa?” tanyaku memastikan.

“Iya benar Mi In-a” dia berbicara. Lembut sekali.

“Kau baik sekali Heechul-a,” ucapku tersenyum kearahnya lalu mengeratkan lengannya yang ada di lenganku.

“Mi In-a bangun. Kita sudah sampai,” aku merasa tubuhku sedikit terguncang. Rupanya Heechul sedang membangunkanku.

“Emh… oh… sudah sampai?” tanyaku setengah sadar. Aku mengantuk sekali. Sungguh.

“Tidurmu pulas sekali,” cibirnya. “Apa perlu ku antar ke dalam?”

“Tidak usah. Makasih untuk semuanya Heechul-a,” aku tersenyum tulus.

“Cheonman. Terimakasih juga sudah mau menjadi pasanganku,”

“Iya aku juga,” aku lalu keluar dari mobil-nya dan setelah itu dia melambaikan tangannya kearahku.

“Jaljayo,” sedetik itu juga dia langsung melesatkan mobilnya. Senyum sedikit mengembang di bibirku.

Previous Post
Leave a comment

5 Comments

  1. adaaja

     /  October 5, 2011

    kok tiba2 ada RT ttg twitter. Aku gk ngerti, haha. Tpi ceritanya seru! ^^ trus penyusunan kata2 sama huruf besar huruf kecil udah bagus. ini ada lanjutannya lagi gk?

    Reply
  2. chullie

     /  October 6, 2011

    Gantung ya thor ??

    Reply
  3. aku suka critanya…..
    lanjut ya thor… :)

    Reply
  4. Cieee… Yoon Ja ff nya dipublish juga. Cie cie.. Haha

    Reply
  5. ini masih TBC :)
    makasih udah baca

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,062 other followers

%d bloggers like this: