SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part XII]

CHAESA termangu menatap lantai dengan angin musim panas yang tak henti meniup rambut cokelatnya. Ucapan Kyeon tadi tak berhenti terngiang di telinga.

“Eonni, Jaejoong-oppa menyatakan perasaannya padaku…”

Kabar pedih yang menyakitkan. Dan ia tak berhak untuk marah, terlebih pada anak itu. Mereka terpaut tiga tahun, sudah jelas yang termuda wajib untuk dilindungi.

Ingin menangis pun rasanya percuma, hal itu takkan mengubah semuanya. Dan penantiannya selama bertahun-tahun pupuslah sudah. Ingatannya melayang pada kejadian beberapa waktu lalu saat konser SMTown usai…

      JESS~ Seseorang menempelkan kaleng soft drink ke pipinya. Ia sedikit terkejut dan mendongak. “Jaejoong-oppa?!”

      Jaejoong tersenyum, menyerahkan minuman tersebut dan duduk di sampingnya.

      “Tidak lagi memanggilku ‘Yeobo’?”

      Chaesa mendengus. “Apa itu dapat mengubah perasaanmu?”

      “Mianhae…,” Jaejoong membungkukkan tubuhnya dengan kedua siku tertumpu di paha. “Aku menyakitimu lagi.”

      Dada Chaesa berdebar keras. Rasa sesak muncul ke permukaan.

      “Aku harus bagaimana?”

      “Maaf, aku minta maaf padamu. Aku benar-benar tak dapat membohongi perasaanku. Kyeon adalah gadis yang kucintai selama ini.”

      Chaesa menunduk dengan kedua tangan meremas rok pendeknya. Ia bersikukuh menahan tangis.

      Jaejoong bangkit. “Ganti pakaianmu dan cepat pulang! Bajumu dipenuhi keringat, aku tak ingin kau masuk angin.” Ia berjalan pergi.

      “Kumohon jangan seperti ini!” ujar Chaesa dan Jaejoong menghentikan langkahnya. “Berhentilah untuk peduli padaku. Itu hanya akan membuatku semakin terluka. Dan katakan pada Kyeon aku takkan pulang hari ini…”

      Chaesa buru-buru bangkit dan pergi meninggalkan Jaejoong.

      “Chaesa-ya… Yaaa, Shim Chaesa!”

 

+++

SM building. 11:23 AM.

SAAT di backstage beberapa waktu lalu seusainya konser SMTown, Hankyung mendapat pukulan di pipinya dari Heechul. Membocorkan rahasia ‘Tuan Putri’ itu di hadapan Chaeri berakibat fatal. Ia memegangi pipinya dan tak berhenti mengumpat dengan bahasa Mandarin.

“Ini… Pakai ini! Mungkin bengkaknya akan sedikit berkurang,” tawar Hyeon mengacungkan gelas kosong berisi es batu.

“Gomawo. Er, kau siapa?”

“Aku… Lee Soohyeon. Dongsaeng Chaesa-eonni.”

“Oh, jadi kau salah satu dari Sarababo itu? Aku pernah dengar cerita kalian dari Heechul. Yang kutahu hanya Chaesa dan Chaeri. Dan demi Tuhan aku bersyukur mereka berdua bukan kembar. Rasanya mengerikan jika ada dua Chaesa di dunia ini.”

Hyeon tertawa garing. “Itu belum seberapa, Oppa. Masih ada Seera-eonni yang lebih abnormal.”

“Oh, gadis yang memecahkan vas bunga tadi? Astaga, gadis-gadis macam apa kalian ini?”

“Aku normal. Hanya aku, Myu Ra-eonni, dan Jin Rin-eonni. Kami lebih normal.”

Hankyung tertawa. “Berapa umurmu?”

“Aku ’95-line. Hanya saja mengikuti kelas khusus hingga membuatku berada di kelas 3 SMA sekarang.”

Pria itu membuka mulutnya sangat lebar. “Ya, kau harusnya masih berada di kelas 3 SMP. Dan kita terpaut 11 tahun. Tapi kau tak terlihat seperti masih anak-anak.”

“Itu karena… tinggi dan make up? Aku tak suka dianggap kecil karena magnae di Sarababo. Menjadi magnae itu tak enak. Benar-benar tak bebas dan selalu disuruh-suruh,” kesal Hyeon seraya menggembungkan pipinya.

“Kau tak pulang? Ini sudah malam. Stadion ini mengerikan jika sudah malam. Kau tak takut?”

“Tidak. Aku tidak takut pada apapun. Aku bukan balita!”

Hankyung tertawa keras. “Baiklah, anak-dewasa, ayo kita ke depan. Kurasa akan ada yang mencarimu.”

“Iya,” sahut Hyeon riang.

 

+++

      “Hyung, kau lihat Hyeon?” tanya Taemin panik.

Minho menggeleng. “Mungkin sudah pulang.”

“Tidak, belum. Tadi dia bilang mau mengambil minuman saat aku ke toilet. Dan sekarang tak ada di mana pun.”

“Jangan panik!” ujar Onew yang entah sejak kapan sudah ada di samping Taemin. “Tadi aku melihatnya bersama Hankyung-hyung di taman samping dekat ruang latihan.”

“Di mana?”

Onew menunjuk arah jarum jam sebelasnya dan Taemin menarik napas lega mendapati Hyeon ada di depan matanya.

“Hyeonnie-ya,” panggilnya meninggalkan Minho dan Onew.

Onew menepuk dada Minho. “Tadi aku melihat Chaesa menangis. Apa kau tahu penyebabnya?”

“Benarkah?” Minho membulatkan matanya. “Di mana dia, Hyung?”

“Tadi aku melihatnya keluar stadion. Tanpa mengganti kostum, masih mengenakan kostum perform-nya. Dan coordi hampir gila mencari dia. Cepat temukan Chaesa dan serahkan kostum itu pada coordi. Dia pikir kostum itu untuknya. Perusahaan kan hanya menyewa. Lagipula… Yaaa, Choi Minho…”

Minho sudah tak ada lagi di sisinya…

 

+++

CHAERI menatap Heechul jijik ketika ia membukakan pintu dan mendapati pria itu berdiri di depan pintu apartemennya. Ia buru-buru menarik pintu untuk menutup, namun Heechul mencegahnya dengan sebelah tangan menahan agar pintu tak tertutup.

“Maaf…,” ucap Heechul.

“Kau… penipu!”

“Aku terpaksa, Chaeri-ya…”

“Jangan sebut namaku lagi! Sulca, Kimmie, atau apapun itu sudah tak ada lagi. Aku sama sekali tak mengenal Kim Heechul, jadi berhenti memanggilku akrab seperti itu!”

Hati Heechul mencelos. Ia merasa sangat bersalah dan bodoh. Menyesal tak mengaku sejak awal. Dan sekarang ia harus memanen apa yang telah ia tuai.

“Aku tak pernah memohon seperti ini sebelumnya. Ini pertama kalinya padamu. Aku benar- benar minta maaf. Tak pernah bermaksud menipumu, sungguh!”

Chaeri membuang muka.

“Jangan ganggu aku, kumohon!”

Dia pergi meninggalkan Heechul yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Perasaan menyesal semakin menjalar ke tiap seluk hatinya. Kalau saja ia mengatakannya sejak dulu bahwa Sulca adalah dirinya… tapi, bukankah memalukan berdandan sebagai wanita dan mengakui bahwa ia adalah pria di hadapan gadis yang entah sejak kapan disukainya itu?

 

+++

MYU RA menyandarkan tubuhnya ke dinding, lemas. Ia baru saja menyelesaikan rapat dengan tim produksi untuk sebuah variety show baru yang akan dibuat. Hasil meeting tadi harusnya membuatnya gembira, namun ada beberapa hal yang menurutnya cukup berat ia terima.

“Myu Ra-ya, kau benar-benar sangat hebat. Idemu luar biasa. Berkatmu, aku jadi bisa mengunjungi negara impianku,” celoteh PD plontos seniornya.

Myu Ra menghela napas.

“Kenapa? Kau tidak senang?”

“Bu-bukan begitu. Aku senang. Um, aku hanya merasa sedikit gugup.”

PD itu tertawa. “Tak usah cemas! Aku akan membimbingmu dengan baik. Aku pulang duluan, bye…”

Myu Ra mengangguk. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan mendapati lima panggilan tak terjawab dari Kyuhyun. Ia tersenyum, senyum pertama untuk hari ini yang cukup membuatnya gila dengan rapat besar bersama bos-bos penting membahas program baru.

Ia menekan panggilan balik…

“Yeoboseyo? Myu Ra-ya…,” jawab Kyuhyun. Tak perlu menunggu lama, karena Kyuhyun langsung mengangkatnya. “Kenapa tak menjawab teleponku?”

“A-aku sedang rapat. Ada apa?”

“Ummm, aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan. Apa kau mau?”

“Hm. Kemana?”

“Kalau begitu tunggu saja depan gerbang apartemen. Aku akan menemuimu di sana. Oke, sampai jumpa.”

Myu Ra menutup teleponnya dan bangkit untuk pergi dari sana. Senyumnya tak berhenti mengembang. Ia sangat bahagia, kini hubungannya dengan Kyuhyun tidak sedingin dulu. Tapi ia belum yakin dengan perasaan Kyu. Apa pria itu juga menyukainya?

Sesampainya di sana, ia melihat Kyuhyun tengah bersandar di samping pos penjaga. Pria itu memakai t-shirt tipis abu dilapis cardigan hitam, lengkap dengan topi dan kacamatanya. Ia tersenyum ketika melihat Myu Ra sampai.

“Kau terlambat dua menit.”

“Bukan salahku, tapi kau yang menungguku terlalu awal.”

Kyuhyun tersenyum. Salah tingkah. Ia menghampiri Myu Ra dan menggenggam tangannya, lalu mengajak gadis itu berjalan menjauhi gedung apartemen.

“Mau kemana? Bukankah kau mau mengajakku jalan-jalan?”

“Ini kan sedang jalan-jalan. Memang kau membayangkan kita akan kemana?” godanya.

Myu Ra terdiam, wajahnya bersemu merah.

Mereka berjalan mengelilingi apartemen berkali-kali sambil mengobrol banyak. Keduanya tampak menikmati momen itu. Kyuhyun tak melepas pegangan tangannya sejak awal. Hal ini membuat jantungnya berdebar sangat keras, begitupula dengan gadis yang berada di sampingnya.

“Apa tujuanmu mengajakku membesarkan betis seperti ini?” canda Myu Ra.

Kyuhyun tertawa renyah. “Kita duduk dulu, baru melanjutkan pembicaraan,” ia menarik tangan Myu Ra untuk duduk di sebuah palang lindung antara jalan dan sungai kecil, “Nah, begini lebih enak.”

“Jadi?”

“Mmm… Aku memang suka jalan-jalan malam seperti ini. Apalagi sambil mendengarkan musik bersama,” ia melepaskan headset dari sebelah telinganya kemudian memasangkannya ke telinga kanan Myu Ra. “Ini lagu solo baruku.”

Myu Ra memejamkan matanya.

“Aku yang menulis liriknya,” ujar Kyu.

“Benarkah?” Mata Myu Ra kembali terbuka. “Ini sangat bagus. Bagaimana bisa kau membuat lirik seindah ini?”

Kyu tersenyum, wajahnya bersemu merah. “Hanya memikirkanmu dan semuanya mengalir begitu saja. Tahu-tahu selembar kertas sudah penuh dengan tulisan.”

“A-aku?”

“Hm,” Kyu mengangguk, ia menarik tangan Myu Ra dan mendekapnya di dada. “Myu Ra-ya, aku… aku sangat menyukaimu…”

 

+++

JIN RIN menarik keluar trashbag yang sudah penuh terisi sampah. Ia terpaksa harus membuangnya malam ini juga karena tak tahan melihat apartemen terlihat sangat kumuh.

“Sooran-ah, antar aku membuang ini!”

Sooran menurunkan buku di depan wajahnya. “Aku sedang belajar. Besok ada ujian. Minta tolong Seera saja!”

“Aku sedang sibuk skripsi!” ujar Seera dari dalam kamar. “Hyeon sudah tidur,” timpalnya lagi.

Sooran terpaksa bangkit dan tetap membawa bukunya keluar.

“Kenapa harus membuangnya malam-malam begini?”

“Ini akan jadi sarang penyakit!” omel Jin Rin. Ia memakai sarung tangan vynil dan menenteng trashbag tersebut. Mereka jalan keluar, turun ke bawah menuju tempat pembuangan sampah yang berada di belakang gedung.

“Shin Sooran,” panggil Eunhyuk dari arah pintu masuk. Ia datang bersama dengan Leeteuk.

Sooran mengalihkan perhatian dari bukunya. “Eunhyuk-sshi?”

“Sedang apa malam-malam begini di luar?”

“Kau sendiri apa?”

Eunhyuk sedikit tersinggung. “Er, kami baru menyelesaikan jadwal di Sukira.”

“Kau…,” tunjuk Leeteuk pada Jin Rin. “Kau ‘si gadis jimat’ itu…”

Jin Rin mundur dan menarik tangan Sooran mengajaknya kembali pulang. Namun Leeteuk menarik tangannya.

“Sooran-ah, ayo pulang! Hey, lepaskan!”

“Aku Leeteuk. Kita belum sempat berkenalan saat itu. Jadi, kau tinggal di sini juga?”

“Kumohon lepaskan!” Jin Rin menarik tangannya dan berhasil terlepas, ia berlari dan masuk ke dalam lift yang disusul oleh Leeteuk.

Di lobby gedung kini hanya ada Sooran dan Eunhyuk. Keduanya terdiam, menunggu salah satu dari mereka berbicara lebih dulu.

Dari arah pintu masuk, Kyu dan Myu Ra datang. “Hey, sedang apa kalian di sini?” tanya Kyu. Baik Sooran maupun Eunhyuk menoleh dan terkejut melihat tangan Kyu dan Myu Ra saling bertaut. Hati Sooran terasa remuk saat itu juga. “Hey, beri selamat pada kami!”

Myu Ra menepuk lengan Kyu, wajahnya memerah.

“Ka-kalian…,” Sooran bahkan tak mampu melanjutkan kata-katanya.

“Pasangan baruuu,” teriak Kyu childish. “Baiklah, kita masuk duluan. Myu Ra sudah sangat lelah. Bye…”

Mereka berdua menghilang di balik lift, sedangkan Sooran hanya memelototi lantai. Pikirannya nampak kacau, pandangannya kosong. Perlahan-lahan ia terisak, lama-lama mengeras. Ia menangis sangat keras sambil berjongkok. Eunhyuk yang ada di hadapannya hanya bisa memandangi tanpa tahu harus berbuat apa.

“Ottokhae? Padahal besok aku ada ujian penting. Ottokhae?”

Eunhyuk menghampirinya dan ikut berjongkok. “Sooran-ah, jangan khawatir. Mulai saat ini aku akan selalu ada di sampingmu. Kumohon jangan menangis lagi. Aku akan menemanimu kemana pun kau pergi…”

Refleks, Eunhyuk memeluk Sooran dan tak ada perlawanan dari gadis itu…

 

+++

      “Hey, tunggu!” teriak Leeteuk. “Aku benar-benar ingin tahu namamu.”

“Tolong jangan ganggu aku!” Jin Rin berlari hingga sampai di depan pintu apartemen Sarbob. “Ahjusshi, kumohon jangan ganggu aku!”

“Siapa yang kau panggil ‘ahjusshi’?” protes Leeteuk. “Aku masih 29 dan ingin mengenalmu. Itu saja…”

“Namanya Jung Jin Rin, saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswi kedokteran…”

“Eonni,” pekik Jin Rin dan berlari bersembunyi di balik punggung Myu Ra.

“Hyung, kau menakutinya. Astaga, lucu sekali…”

“Jin Rin-ah, dia leader Super Junior, kau tak perlu takut,” ujar Myu Ra. Ia menarik tangan Jin Rin untuk berjabat tangan dengan Leeteuk. “Baiklah, kami masuk dulu. Kyu, sampai jumpa nanti.”

“Ya,” Kyu melambaikan tangannya dan mendorong Leeteuk menuju lift. “Dorm-mu ada di lantai 12, Tuan. Pergilah! Sampai jumpa, Hyung.”

“Yaaa, Cho Kyuhyun!”

Terlambat, pintu lift sudah menutup…

 

+++

PAGI ini Heechul sudah berdiri di depan sebuah pintu, di tangannya tergenggam sebuah boneka beruang kecil dengan pita baby pink di samping telinganya. Ia menunggu seseorang keluar dari sana, perasaannya sedikit kacau, ia sangat gugup.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan beruntungnya Chaeri yang ada di balik pintu tersebut. Heechul buru-buru menghampiri pintu dan berusaha menahannya agar tak menutup, karena Chaeri bersikeras ingin menutup pintu.

“Kumohon dengarkan dulu penjelasanku, Chaeri-ya!”

“Apa yang harus dijelaskan? Aku tak mengenalmu!”

“Park Chaeri!” teriak Heechul lebih tegas. “Awalnya aku ingin mengaku, tapi kulihat kau sangat nyaman bersamaku sebagai Sulca. Itulah mengapa aku mengurungkan niat untuk mengaku. Kumohon maafkan aku!”

Chaeri menghentikan tindakannya, ia menatap Heechul dingin.

“Aku memaafkanmu, tapi tolong jangan ganggu aku lagi!”

Heechul terlihat sangat kecewa dengan keputusan tersebut. Lantas ia menyerahkan boneka beruangnya pada Chaeri. “Tekan perutnya!” ujar Heechul dan pergi dari sana.

Chaeri buru-buru menutup pintu. Ia bersandar pada pintu dan memperhatikan boneka beruang tersebut. Jarinya menekan bagian tengah boneka tersebut tepat di bagian perut, hingga muncullah sebuah suara.

“Chaeri-ya, mianhae… Chaeri-ya, mianhae… Chaeri-ya, mianhae…”

Itu suara Heechul. Mendengarnya saja membuat Chaeri sedikit menyesal telah memperlakukannya seperti itu. Ia buru-buru masuk ke kamar dan menyambar ponselnya di atas kasur lalu menghubungi Chaesa.

“Chaesa-ya, apa saja jadwal Heechul-oppa hari ini?”

“Kau pikir aku manajernya?” jawab Chaesa skeptis.

“Aku serius!”

“Aku tanya dia dulu, nanti kuhubungi lagi.”

Tak sampai lima menit, ponsel Chaeri berdering. Sebuah pesan dari Chaesa. Ia memberitahu apa jadwal Heechul hari ini sekaligus memberitahukan alamat tempat di mana Heechul berada.

Chaeri menyambar tas dan cardigannya, ia menuliskan sebuah pesan di atas secarik kertas kecil, lalu menempelkannya di lemari les diapit oleh beberapa magnet. Lantas ia bergegas pergi menuju sebuah desa kecil bernama Desa Eunsuk di provinsi Gyeongi, Ansung.

 

+++

EUNHYUK berjalan di belakang Sooran, mengikuti gadis itu pergi menuju kampusnya untuk ujian. Kepala Sooran selalu merunduk, mulutnya tak berhenti bergerak menghapal pelajaran-pelajaran hasil belajarnya semalam.

“Eunhyuk-sshi,” gumam Sooran.

Merasa dipanggil, Eunhyuk buru-buru menghampiri Sooran. “Wae?”

“Sampai sini saja, jangan ikuti aku lagi!”

“Si-siapa yang mengikutimu? Aku menuju tempat filming,” sahut Eunhyuk kikuk.

Sooran tak berbicara apa-apa lagi, ia terus berjalan hingga akhirnya sampai di kampus. Eunhyuk masih terus mengikutinya, bahkan hingga Sooran masuk kelas pun Eunhyuk dengan setia menunggunya di luar. Ia mengeluarkan ponsel dan menuliskan sebuah pesan.

Di dalam kelas, ponsel Sooran bergetar. Ia membuka sebuah pesan yang masuk dan membacanya. Itu dari Eunhyuk.

      Hyukkie: Aku akan menunggumu hingga selesai. Pastikan kau jawab semuanya dengan benar. Shin Sooran, fighting!!

Sooran tersenyum tipis. Senyum pertamanya sejak semalam. Setidaknya dalam keadaan rapuh pun di sampingnya masih ada seseorang yang menghiburnya.

 

+++

“CHAESA-YA!” panggil Donghae.

Chaesa menoleh dan mendapati Donghae tengah berlari ke arahnya. “Waeyo?”

“Gwaenchana?” tanya Donghae dengan tangan menepuk kepala Chaesa. Gadis itu tahu apa yang dimaksud Donghae. “Jaejoong-hyung cerita padaku semalam. Dia sedikit khawatir karena kau tak mengangkat teleponnya.”

“Akan lebih baik kalau kita tidak berkomunikasi lagi. Sangat sulit bagiku untuk menerima ini semua. Aku dan Kyeon satu tim, tapi kenapa harus berjalan di atas hubungan seperti ini?”

“Aku paham perasaanmu,” tangan Donghae masih berada di puncak kepala Chaesa. “Er, ngomong-ngomong bagaimana kabar Seera?”

Chaesa mendelik, ia menatap Donghae murka.

“Oppa, kau tidak benar-benar menghiburku! Kau mendekatiku karena maksud lain. Benar-benar payah!”

“Yaaah! Usaha sedikit kan tak dosa!”

Chaesa mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu di sana. “Sudah kukirim nomornya. Jangan ganggu aku lagi dengan masalahmu dan Seera, juga jangan mengeluh padaku kalau Oppa ketiban sial karena bergaul dengannya!”

“Gomawo,” ujar Donghae riang. Dia berbalik dan pergi meninggalkan Chaesa dengan mata tak berhenti memandangi layar ponsel. Sedangkan di ujung koridor kantor SM, Jaejoong tengah berdiri menanti Chaesa.

“Chaesa-ya,” panggilnya.

Chaesa menoleh, namun ia langsung berbalik dan buru-buru pergi dari sana. Jaejoong mengejarnya dan berhasil menghentikan Chaesa.

“Kau ini kenapa?” tanya Jaejoong jengkel. Chaesa menunduk, tak menjawab pertanyaan tersebut. Jaejoong mencengkeram lengannya. “Yaaah, Chaesa-ya!”

“Sakit!” rintih Chaesa berusaha melepaskan cengkeraman Jaejoong.

“Jawab aku!”

“Lepaskan!”

“Kau ini kenapa?!”

“Hyung!” seru Minho, ia menghampiri mereka dan berusaha membantu Chaesa. “Tolong jangan seperti ini! Kau menyakiti Chaesa-noona.”

Jaejoong melepaskan cengkeramannya. “Chaesa-ya, kumohon jangan seperti ini!” pinta Jaejoong. “Aku minta maaf. Aku benar-benar tak bermaksud untuk menyakitimu. Kau tahu sebuah perasaan itu tak dapat dipaksakan. Aku tak bisa memaksakan diri untuk menyukaimu. Maafkan aku!”

“Ne?” sahut seseorang di belakang mereka.

“Kyeon-ah,” gumam Chaesa.

“Jaejoong-oppa, apa yang― Eonni menyukaimu? Benarkah?”

Chaesa buru-buru meralat. “Itu tidak benar! Kau salah dengar, Kyeonnie-ya!”

“Apa ‘Yeobo’ yang eonni maksud selama ini adalah Jaejoong-oppa?”

“Bukan!” pekik Chaesa panik. “I-itu…”

Minho menarik lengan Chaesa dan mencium bibirnya. Baik Jaejoong maupun Kyeon sama-sama terkejut. “Itu aku,” ujar Minho, lantas ia menarik Chaesa yang masih syok dan pergi dari sana.

 

..to be continued..

 

———

 

MIRSA-ONNIE, SELAMAT ULANG TAHUN!!!

KITA SAYANG ONNIE^^/

18 Responses to SARABABO VS SUPER JUNIOR [Part XII]

  1. hahaha~ saking lamanya gak dipub, emang jadi lupa ini harusx part berapa

    komen ff

    AHJUMMAAA…
    ASTAGA… AQ MALU…. ITU HEECHUL KYAAA~
    ihh sumpahhh.. aq suka banget moment chaeri-heechul PALING THE BEST DAH!!

    huaaa~ ada yg jadian…
    cihiiii~
    perkembangan KYu-Ra hebat juga yaaa.. tapi aq juga jadi maluuuuu~

    • gara2 c koko bodoh ya.. :P
      ahahaha tau tuh c diya ngimpi apa sampe bikin perkembangan cepet.. curiga ntar dikasih masalah abis ini..

      aku juga suka part chaesa-jaejoong.. moga2 ditolak kyeon.. jd ga dapey dua2nya.. wkwkwk

  2. AKU SUKA FF BUATAN DIYA OEN SAMA SARABABO LAINNYA#uppss,,, capslock keinjek Heebum,,heehe

    Yaeahh,,, ini udd baca yg kedua kalinya tp gx bosen,, seruu,,, biarpun alur N cast-ny banyak gx bikin bingung,,,

    Diya oen,, mana ini lnajuttanya?? Penasaran nian,,hehehe

    Joahe oen,,,*sengaja baca lagi buat ninggalin koment,,hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s