THIS IS MY STORY part 2

Author: Kim YoonJa

Tag: Kim Heechul, Tan Hankyung. Park Mi In, Lee Sun Ra

Genre: Romance, Friendship, Continue

 

Saya kembali dengan part 2 dari ff ini. Gimana? Apa ada perubahan? Lebih bagus atau malah sebaliknya? Kalau sempat jangan lupa buat komen ya :D

 

+++

 

Aku baru sadar kalau ternyata Heechul mengajakku pergi lebih awal karena dia ingin me-make over-ku dulu. Dan sekarang, ketika kami sudah berada di dalam mobil, aku benar-benar tidak tahu harus membicarakan apa. Suasana di dalam mobil ini benar-benar lengang. Sunyi sekali. Aku merasa canggung sekali sekarang.

 

“Heechul-a, gomawo,” aku benar-benar tidak betah dengan keadaan yang sunyi ini. Akhirnya ku ungkapkan saja apa yang ingin kuucapkan.

 

“Untuk apa?” Babo, pakai bertanya lagi. Ucapku dalam hati.

 

“Untuk semuanya. Dari mulai kau ingin pergi ke pesta bersamaku, menjemputku, mengajakku ke salon, sampai memberikan baju ini. Walau sebenarnya aku benar-benar tidak nyaman dengan baju dan dandanan ini tapi……. Gomawoyo” ucapku sambil tersenyum kearahnya.

 

“Kau benar-benar tidak nyaman ya?” dia lalu menghadapkan kepalanya kesamping, menghadapku. “Kalau kau tidak nyaman kau boleh ganti,”

 

“Ya kau pikir aku gadis macam apa? Aku memang tidak nyaman, tapi aku masih menghargai semua pemberianmu ini,” aku mendelik kearahnya.

 

“Kalau begitu……cheonmaneyo,” dia lalu mengacak-acak rambutku. Sontak aku langsung menepis tangannya.

 

“Aku sudah berusaha menghargai pemberianmu, tapi kau sendiri malah tidak menghargai pemberianmu. Lihat ini jadi berantakan,” protesku sambil merapikan rambutku yang diacak oleh dia.

 

“Maaf,” dia lalu tersenyum kearahku. “Kau tidak jelek-jelek amat kok”

 

Apa katanya? Aku sungguh tidak dengar.

 

 

+++

 

 

Akhirnya kami sampai juga setelah lelah berkeliling mencari rumah Mon Gyu. Kupikir rumahnya seperti apa karena perjalanan yang ditempuh untuk menuju ke rumahnya sangatlah ekstrem. Banyak bebatuan, lumpur dan berbagai macam benda tanah yang menggelikan. Rumahnya bagus, kurasa rumahnya yang paling mewah diantara rumah-rumah yang ada disekitarnya. Tuhan sungguh kejam.

 

“Heechul-a, aku malu. Eotteokhae?” aku benar-benar nervous ketika melihat teman-teman yang lain berpakaian benar-benar layaknya seperti seorang manusia normal.

 

“Mengapa malu? Kan ada aku,” dia tersenyum lembut lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil (lagi) untukku. “Ayo,” dia lalu menggamit lenganku dan kami berjalan bersama.

 

“Sun Ra-ya!” aku berteriak kearah Sun Ra lalu memeluknya. Setidaknya hanya dialah satu-satunya teman perempuan yang dekat denganku.

 

“Mi In! aigoo….,” setelah dia memelukku, dia lalu menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala.

 

“Mengapa? Pasti aneh. Sudahlah, tanpa kau bilang aku juga tahu bahwa aku aneh,” seketika aku langsung menciut ketika aku menyadari betapa cantiknya Sun Ra malam ini. Hankyung benar-benar tidak salah memilih yeoja. Justru aku malah mengasihani Heechul sekarang.

 

“Apanya yang aneh?” gumamnya.

 

“Apa? Kalau berbicara yang jelas aku tidak dengar.”

 

“Tidak. Lupakan saja,” seketika itu juga Hankyung datang menghampiri kami.

 

“Hey!” Heechul yang sedari tadi kami lupakan akhirnya bersuara juga. Dia mengampiri  Hankyung lalu segera memeluknya. Aku dan Sun Ra langsung tercengang heran.

 

“Sejak kapan kalian…….berteman?” Sun Ra menatap Hankyung dan Heechul bergantian. Pertanyaan Sun Ra mewakili perasaanku juga saat ini.

 

“Memangnya Heechul belum bilang kalau kami ini teman satu tempat khursus?” Tanya Hankyung. Hah? Dia berbicara apa sih? Aku tidak mengerti.

 

“Ohiya aku lupa. Dia ini teman khursusku sejak SMP,” Heechul lalu menjelaskan kepada kami.

 

“Lalu kenapa kalian bersikap seperti orang yang tidak saling mengenal kalau di kelas? Kenapa kau tidak pernah bilang kepadaku?” tanyaku. Mereka ini aneh sekali. Terus untuk apa dia berteman dengan aku dan Sun Ra dan mengatakan bahwa dia tidak punya teman?

 

“Tidak apa-apa. Memangnya tidak boleh?” ingin sekali aku mencakar wajah cantiknya itu ketika dia mengucapkan kalimat tadi.

 

“Tidak. Sudahlah kau pergi saja sana dengan Hankyung, aku ingin berjalan-jalan sebentar dengan Sun Ra. Sun Ra-ya, ayo,” aku lalo menarik tangan Sun Ra menjauh. Aku benar-benar tidak mood dengan Heechul sekarang.

 

 

+++

 

 

“Sun Ra! Mi In!” kami menoleh ketika ada seseorang memanggil. Rupanya Mon Gyu. Benar-benar seorang dewi. Gaun merahnya itu terbalut sempurna di tubuhnya yang ramping dan tinggi itu. Tapi aku risih sendiri dengan pakaiannya. Gaunnya sih memang panjang malah sampai mengenai dasar untuk berpijak, tapi belahan pada gaunnya itu benar-benar mengerikan. Belum lagi belahan gaun pada bagian atasnya itu membuat sesuatu yang tidak terlihat malah terpampang dengan  sangat jelas.

 

“Oh kau Mon Gyu, saengil chukkaeyo kadonya sudah kutitipkan tadi di depan,” ucap Sun Ra

 

“Aku juga sudah,” aku ikut menimpali ucapan Sun Ra.

 

“Terimakasih sudah datang. Mana Heechul?” tanyanya. Untuk apa dia menanyai orang itu? Dia kan pasanganku, apa dia ingin merebutnya? Atau bahkan dia sendiri yang tidak mempunyai pasangan?

 

“Untuk apa kau menanyainya?” apa yang kucapkan barusan? Dengan seenaknya mulut laknat ini mengatakan sesuatu yang seharusnya kukatakan dalam hati saja.

 

“Tidak ada,” ucapnya sangat jutek lalu berbalik meninggalkan kami berdua yang saling bertatapan bingung.

 

 

+++

 

 

“Kau lihat Kim Heechul tidak? Rasanya aku ingin menggaruk seluruh badanku. Benar-benar gatal,” Aku celingak-celinguk mencari sesosok namja cantik itu sambil menggaruk-garukkan tanganku.

 

“Dimana ya? Itu dia!” ujarnya berseru. “Aku tinggal ya! Aku ingin ke kamar mandi sebentar,” dengan segera dia meninggalkanku dan kehadirannya digantikan dengan Heechul yang sudah berada di sampingku.

 

“Kau baik-baik saja Mi In?” dia bertanya kepadaku. Dia khawatir atau hanya sekedar basa-basi? Apa dia benar-benar melihat wajahku yang ‘baik-baik-saja’?

 

“Badanku gatal-gatal sekali Heechul-a. Sepertiinya aku benar-benar tidak cocok dengan gaun ini,”

 

“Kau ingin pulang? Padahal aku masih ingin mengobrol dengan Hankyung,”

 

“Yasudah kau lanjutkan saja acaramu dengan Hankyung. Aku pulang sendiri saja,”

 

“Tidak bisa. Aku sudah berjanji dengan eomma-mu bahwa aku yang akan membawamu pulang,”

 

“Sungguh tidak apa-apa Heechul. Nanti biar aku yang menjelaskan dengan eommaku. Sungguh”

 

“Baiklah ayo kita pulang,” dia akhirnya mengalah lalu menggamit lenganku. Sudahlah, aku sudah mulai mempan dengan sikapnya, Walau tetap saja ada rasa yang aneh.

 

“Benar tidak apa-apa?” tanyaku memastikan.

 

“Iya benar Mi In-a” dia berbicara. Lembut sekali.

 

“Kau baik sekali Heechul-a,” ucapku tersenyum kearahnya lalu mengeratkan lengannya yang ada di lenganku.

 

 

 

“Mi In-a bangun. Kita sudah sampai,” aku merasa tubuhku sedikit terguncang. Rupanya Heechul sedang membangunkanku.

 

“Emh… oh… sudah sampai?” tanyaku setengah sadar. Aku mengantuk sekali. Sungguh.

 

“Tidurmu pulas sekali,” cibirnya. “Apa perlu ku antar ke dalam?”

 

“Tidak usah. Makasih untuk semuanya Heechul-a,” aku tersenyum tulus.

 

“Cheonman. Terimakasih juga sudah mau menjadi pasanganku,”

 

“Iya aku juga,” aku lalu keluar dari mobil-nya dan setelah itu dia melambaikan tangannya kearahku.

 

“Jaljayo,” sedetik itu juga dia langsung melesatkan mobilnya. Senyum sedikit mengembang di bibirku.

 

 

+++

 

 

“Mi In! Kau tahu tidak??!” baru pagi-pagi aku sudah dikejutkan dengan teriakan ala Sun Ra yang melengking.

 

“Santai sedikit. Ada apa?” berlebihan sekali sahabatku ini.

 

“Kau tahu kalau tadi malam sepulang dari acara pesta ketika dia mengantarkanku pulang…. Dia….. ohtuhan aku merasa seperti di awan saat ini” dia berbicara dengan semangat sekali. Aku pusing mendengar ocehannya.

 

“Tenang Sun Ra tenang. Tidak perlu berlebihan seperti itu,”

 

“Bagaimana kau bisa tenang jika seseorang yang kau sukai memintamu menjadi pacarnya!” jawabnya dengan lantang.

 

“AH KAU BERCANDA?!” kini aku yang bereaksi berlebihan dan langsung diserang oleh tatapan beberapa murid yang merasa terganggu. “kau berpacaran dengan Hankyung?” kini aku sedikit menurunkan volume suaraku. Untung Hankyung belum datang.

 

“Iya. Oh tuhan aku baru tahu kalau dia itu romantis sekali. Cara dia menembakku…. Ah sudahlah aku sudah gila sepertinya,” Sun Ra lalu berekspresi berlebihan lagi sambil terus menerawang kejadian tadi malam. Aku benar kan? Pasti Hankyung punya perasaan yang sama dengannya.

 

“Sun Ra-ya” nada bicaraku merajuk kali ini.

 

“Ya! Wae?” ekspresinya sekarang berubah 180 derajat dari ekspresi sebelumnya. Ah pandai sekali dia membaca pikiranku.

 

“Aku menanti traktiranmu! Ehehe,”

 

“Sudah kuduga, Mi In-a.”

 

 

 

Ahh aku bosan sekali dengan jam istirahat kali ini. Aku dilupakan oleh Sun Ra yang terus berpacaran dengan Hankyung di pojok kelas. Untung saja ada Heechul yang menemaniku di taman dekat lapangan. Kalau tidak mungkin aku sudah menjadi obat nyamuk diantara mereka.

 

“Aku benar kan? Hankyung pasti menyukai Sun Ra,” aku berbicara sambil menenggelamkan kepalaku diantara kedua kakiku.

 

“Iya kau benar hahaha untung aku tidak terlalu dekat dengan Hankyung jadinya aku tidak terlalu merasa diacuhkan,” Aku lalu menatap kearahnya. Menatapnya heran.

 

“Kau ini bagaimana sih? Aneh sekali. Kau bilang pada kami bahwa kau benar-benar tidak punya teman di kelas. Sebenarnya maksudmu apa? Aku tidak mengerti jalan pikiranmu,” dia tidak menjawab. Hanya diam. Ya, diam. Aku tidak tahan kalau seperti ini lama-lama.

 

“Mi In, ayo kita ke kelas. Udara di sini panas sekali,” Dia lalu menarik tanganku menuju ke kelas. Dia mengalihkan topikku. Seperti ada yang disembunyikan.

 

 

 

“Selamat siang anak-anak,” rupanya Lee sonsaengnim sudah masuk ke kelas. Mengganggu tidurku saja.

 

“Selamat siang sonsaengnim,” jawab kami serempak.

 

“Apa saya sudah memberi tahu kalian sebelumnya? Setelah pelajaran ini, kalian akan saya beri tugas kelompok dan dikerjakan sepasang-sepasang. Pasangannya sudah saya atur sebelum saya masuk ke kelas ini……” dia menghela nafas sebentar. Lalu menlanjutkan kembali ucapannya “Oleh karena itu, sebelum kita memulai pelajaran ini saya akan membacai kelompoknya dahulu,”

 

“Kelompok pertama, Mon Gyu dengan Hyo Min,” aku lalu melihat ekspresi kecewa dari Mon Gyu. Pasti dia sangat berharap akan dipasangan dengan namja dan itu adalah Heechul.

 

“Kelompok kedua, Hankyung dengan…….” Dia lalu mengecek daftar kelompoknya sebentar. Lalu melanjutkan kembali. “Sun Ra,” sedetik itu juga aku langsung menoleh ke tempat duduk di sebelahku.

 

“Kau dengar?” tanyanya senang.

 

“Ini sih bukan kerja kelompok namanya, paling kalian hanya sibuk pacaran nanti,” selanjutnya aku mulai bosan dengan apa yang dikatakan oleh sonsaengnim. Aku tidur sajalah sampai menunggu giliranku disebut.

 

+++

 

Sungguh bukan main aku tertidur sampai setengah pelajaran! Aku tidak tahu siapa yang akan sekelompok denganku dan ketika ku tanya Sun Ra dia malah menjawab.

 

“Nanti seusai pelajaran dia juga akan memanggilmu,”

 

“Tinggal sebutkan saja siapa mengapa susah sekali? Kau pelit Sun Ra-ya,”

 

“Salah kau sendiri mengapa tertidur,”

 

“Kau. Sangat. Menyebalkan,” ujarku menekankan setiap katanya.

 

“Baik anak-anak, pelajaran kali ini selesai. Tugas kalian sesuai dengan apa yang saya jelaskan tadi, buat satu proposal pengajuan dana untuk suatu acara. Ingat, buat proposal itu semenarik mungkin. Proposal yang paling menarik, akan saya beri nilai tertinggi. Tugas ini mulai lambat dikumpulkan 2 minggu dari sekarang,” dia lalu keluar ke kelas dan kelas langsung ribut membicarakan tugas yang diberi tadi.

 

“Mi In bagaimana dengan tugas kita?” Aku lalu menoleh kearah sebelah mejaku. Seseorang sudah berdiri disana.

 

“Heechul, aku sekelompok denganmu ya?” Dia lalu langsung duduk di kursi sebelahku yang kosong. Sun Ra memang sudah pergi ke tempat duduk Hankyung tadi setelah pelajaran selesai.

 

“Iya. Memang kau tidak dengar tadi?” dia menatapku yang ada di sebelahnya. Aku baru menyadari posisi duduk kami yang begitu dekat.

 

“Tidak tadi aku ketiduran. Sepertinya karena tadi malam aku tidak bisa tidur karena badanku gatal-gatal sesudah memakai gaun pemberianmu,” aku menjawab pertanyaannya sambil menatap ke depan. Aku menghindari tatapannya yang begitu dekat denganku.

 

“Yasudah kapan kita mengerjakannya? Bagaimana kalau besok sepulang sekolah kita mengerjakan di kafe yang tidak jauh dari sini,”

 

“Kau gila ya mengerjakan proposal tidak mungkin di kafe!” aku berbalik menatapnya dan langsung membuang muka lagi. Bodoh, bagaimana aku bisa lupa jika posisiku dengannya sangat dekat

 

“Memangnya kita langsung mengetik proposal begitu saja tanpa harus membicarakan apa yang ingin kita ketik? Kita kan harus membahas mengenai apa temanya, menghitung dana dari tema-nya, mengerjakan rinciannya. Dan itu perlu suasana yang menenangkan. Tidak mungkin kita mengerjakannya di rumahku atau rumhmu. Suasananya sangat tidak kondusif,” panjang lebar sekali dia menjelaskan dan hanya dibalas anggukan olehku. Sudahlah iyakan saja apa yang dia katakan.

 

“Baiklah terserah kau saja aku mengikutimu,”

 

 

+++

 

 

Kini kami telah berada di dalam kafe yang ternyata memang tidak jauh dari sekolah. Aku benci atmosfir kafe ini. Benar-benar seperti suasana tempat untuk kencan. Bagaimana aku mau konsentrasi jika gugup seperti ini? Heechul salah, seharusnya keadaan disini jauh lebih tidak kondusif dibanding di kerjakan di rumah.

 

“Aku tidak tahu mengapa,tapi aku merasa kita seperti sedang kencan,” ujarku pada heechul yang duduk dihadapanku. Posisi kami berseberangan sekarang sehingga aku bisa mlihat wajah cantiknya dengan jelas.

 

“Anggap saja kalau ini kencan pertama kita,” dia menjawab asal sekali. Langsung saja aku pukul dadanya.

 

“Bicara apasih kau ini. Kalau sampai Mon Gyu dengar, aku bisa dibunuh olehnya,”

 

“Biar saja. Aku tidak menyukainya,” sepertinya dia mulai serius. “Yasudah ayo kita mulai,” akhirnya dia mengganti topik juga.

 

+++

 

“Akhirnya selesai juga!” aku menghela nafas lega. “Tinggal dihitung saja dana yang ini lalu kurangkan dengan jumlah pengeluarannya,”

 

“Kita tidak memesan makanan? Sejak tadi yang kita pesan hanya minuman,” ketika dia berbicara aku langsung melihat jam.

 

“Sudah dua jam kita disini. Akan lebih baik jika perut kita dimajakan sedikit,” Aku bergurau sedikit kepadanya. Daritadi dia sangat serius, aku sempat gugup juga tadi.

 

“Hahaha kalau begitu kau ingin pesan apa?” dia lalu mengambil buku menu yang ada di meja ini. Karena kebetulan ada 2 buku menu disini, jadi aku ikut mengambilnya.

 

“Aku pesan jjangmyeon saja,” aku lalu bertanya ke Heechul “Kau apa?”

 

“Samakan saja dengan pesananmu,” aku lalu langsung memanggil pelayan dan memesan 2 mangkuk jjangmyeon. Setelah memesan, kami terdiam lagi. Dia sibuk dengan handphone-nya sedangkan aku sibuk dengan kesalah tingkahanku ketika satu lagu di putar. Especially for You-nya Kylie Minogue dan Jason Dovan. Sial, mengapa lagunya ini sih? Rutukku dalam hati.

 

“Emm… Heechul-a,” ketika aku memanggilnya, dia langsung mengalihkan tatapannya dari hp-nya lalu menatapku.

 

“Ada apa?”

 

“Oh emm.. aku ke toilet sebentar ya,” aku langsung berlari ke toilet. Tidak tahu mengapa aku ingin kesini. Yang jelas aku merasa udara di dalam kafe tadi benar-benar mendadak panas.

Ketika di kamar mandi aku bercermin sebentar lalu membetulkan letak kacamataku dan sedikit merapihkan rambutku. Tak lupa aku membasuh wajahku, kali saja aku bisa sedikit lebih tenang.

 

“Eomma, ada apa dengan anakmu ini?” gumamku lalu menatap kearah cermin.

 

 

+++

 

 

“Kau lama sekali Mi In” ucapnya ketika aku kembali.

 

“Hehehe seperti tidak tahu perempuan saja,” aku sedikit bercanda ketika menanggapinya. Untuk menghilangkan rasa gugupku lebih tepatnya.

 

“Ini pesanan kita sudah datang,” dia lalu mengambil mangkuk yang sudah tersedia sebelum aku kembali. Aku menatapnya heran.

 

“Mengapa kau tidak makan daritadi kalau pesanannya sudah datang?”

 

“Aku hanya ingin makan bersama-sama. Memangnya tidak boleh?” berarti dia ingin makan jika hanya ada aku dong?

 

“Aku tidak suka makan sendirian,” Lanjutnya.

Baiklah, sepertinya aku salah menafsirkan ucapannya yang tadi.

 

 

Selesai makan, dia langsung mengantarkanku pulang. Aku benar-benar tidak mau dimarahi eomma-ku hanya karena aku pulang terlalu larut. Sekarang sudah jam 5 sore, aku benar-benar harus beristirahat sekarang. Aku lelah sekali

 

“Heechul-a, kau yakin kau yang akan mengetik ini semua?” tadi dia memang bilang bahwa dia semua yang akan mengetik ini semua.

 

“Benar, Mi In-a. Memangnya kenapa?” dia berbicara sambil terus menyetir mobilnya. Heran juga sih seorang remaja 15 tahun sudah bisa menyetir mobil.

 

“Aku hanya takut kau merasa terbebani. Kau tadi telah mentraktirku makan, lalu kau juga ingin mengetik proposal serumit ini. Apa tidak apa-apa?”

 

“Tentu saja apa-apa. Kau memang berhutang padaku,” kukira dia ikhlas mengerjakan semuanya. Ternyata ada maksud lain. Aku menghela nafas sebentar lalu berbicara.

 

“Yasudah aku akan membayar hutang-hutangku,” aku lalu mengeluarkan dompet dan memberinya beberapa lembar uang.

 

“Ya kau ini kenapa sih? Memangnya hutang itu hanya berupa uang? Apa kau tidak mengenal istilah ‘hutang budi’? nah itu yang akan kutagih padamu,” setelah dia mengatakannya lalu aku berpikir sebentar sambil membetulkan letak kacamataku. Benar juga ya dia. Lalu aku menghembuskan nafas lega karena akhirnya bukan uangku yang melayang.

 

“Kalau begitu aku harus apa?”

 

“Rahasia Mi In-a. Aku tidak akan menagihnya sekarang. Kau tenang saja,” Dia lalu tersenyum kepadaku sambil mengelus kepalaku. “Sudah sampai,” ujarnya pelan. Aku lalu turun dari mobil dan melambaikan tanganku ke arahnya

 

“Terimakasih Kim Heechul. Hati-hati di jalan,”

 

 

+++

 

 

“Dari mana saja kau Park Mi In?” ketika aku masuk rumah eomma-ku langsung datang menanyaiku.

 

“Mengerjakan tugas,” jawabku singkat.

 

“Tugas apa? Dimana? Dengan siapa?” pertanyaannya beruntun sekali.

 

“Tugas kelompok, di kafe, dengan teman,”

 

“Mengapa mengerjakan tugas di kafe? Temanmu yang mana?”

 

“Aku mengerjakan tugas di kafe agar lebih kondusif,” aku mengikuti jawaban Heechul yang tadi. “Temanku yang kemarin menjemputku itu,” aku lalu melanjutkan ucapanku setelah sedikit ragu untuk menyebutkannya.

 

“Oh pacarmu itu ya? Kau itu sebenarnya mengerjakan tugas atau berpacaran?” eomma-ku mencibir. Sok tahu sekali sih.

 

“Mwo? Siapa yang pacaran? Aku tidak pacaran,”

 

“Terserah kau sajalah eomma mau pergi. Jaga rumah, appa-mu mungkin nanti malam akan pulang,” Lalu eomma melenggak pergi keluar. Pasti ingin arisan.

 

Aku lalu langsung menuju kamar. Mengganti pakaian, mencuci muka, dan mulai bercermin.

“Aahh aku buruk sekali ya,” aku bergumam sendiri. Aku saja heran mengapa Heechul-yang sebenarnya tampan-walau cantik lebih mendominasi-ingin dekat denganku.

 

“Aku ingin melakukan perubahan,” nada bicaraku mulai serius dan kembali menatap cermin.

 

 

~To Be Continued~

 

Leave a comment

2 Comments

  1. Lethi

     /  November 6, 2011

    lanjut author :D

    Reply
  2. Lanjut ASAP ya thor

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,901 other followers

%d bloggers like this: