Decision (1/?)

“ Saya ucapkan selamat jalan pada seluruh lulusan. Semoga kalian semua sukses di universitas yang kalian inginkan,”

Pidato Kepala Sekolah pun selesai, seluruh murid dan para undangan bertepuk tangan. Aku ikut bertepuk tangan bersama murid-murid yang lain. Senang rasanya bisa lulus bersama dengan teman-teman yang lain. Tapi disisi lain, aku merasa sedih. Karena sebentar lagi, aku tak bisa bertemu dengan Jungsoo.

****

Beberapa hari telah berlalu. Aku menghela nafas berkali-kali. Leherku terasa pegal. Delapan jam belajar tata bahasa dan kosakata. Membuatku pusing. Suasana kelas juga tak kondusif. Berisik sekali. Tak bisakah mereka diam dan mencatat? Ck.

Drrt…Drrrt!

Sepertinya ada yang bergetar. Ponselku? Siapa yang mengirim pesan?

Aku melirik sekilas kearah sonsaengnim. Perlahan tanganku mengambil ponsel dalam tasku. Ada satu pesan masuk.

Message from Jungsoo

HAH? JUNGSOO?

Tumben sekali dia mengirim pesan. Ada apa?

From: Jungsoo
Ryuu, apa kau punya kumpulan soal untuk tes universitas?

…………………………………………………..

Sepertinya aku terlalu berharap (-_____-)

To: Jungsoo
Tidak.
From: Jungsoo
Lalu kau belajar darimana?
To: Jungsoo
Kumpulan soal-soal pelajaran tambahan kelas 3.

Rasanya bodoh jika aku berharap dia mengirimiku pesan karena ingin berbicara denganku. Dia hanya akan menghubungiku jika dia butuh. Sedikitpun ia tak peduli denganku. Dasar Jungsoo bodoh…..

Ku tutup ponselku lalu ku taruh dalam tas. Aku harus fokus dengan urusanku sendiri. Tak ada waktu memikirkan orang bodoh itu. Ya, tak ada waktu….

Drrrrt…..Drrrrt!

Apa lagi sih?

From: Jungsoo
Kapan kau akan ada di rumah?
To: Jungsoo
Sabtu-Minggu
From: Jungsoo
Sabtu aku ke rumahmu y. Kau ada di rumah jam berapa?
To: Jungsoo
Jam 1 siang.

Jemariku menekan tombol send. Sedetik kemudian, konsentrasiku buyar. Jungsoo…..

****

Jungsoo… Aku tak tahu harus bersikap apa dihadapanmu. Sikapmu membuatku bingung. Aku tahu, aku telah menjerumuskanmu kedalam masalah. Aku memang pembawa sial. Tapi bukan berarti kau boleh menyakitiku. Disatu sisi, aku marah padamu. Ya, aku marah. Jemariku menekan keypad ponsel, membuka inbox. Ku buka salah satu pesan darimu. Pesan yang membuatku marah padamu.

From: Jungsoo
Apa kau sudah memaafkanku?
From: Jungsoo
Aku hanya tak enak jika masih punya salah. Karena sebentar lagi aku akan tes IELTS.

Saat itu, aku benar-benar marah. Kau minta maaf padaku hanya karena kau akan tes??? Nonsense!!! Apa dia tak berpikir bagaimana perasaanku? JUNGSOO BRENGSEK!!

Aku menutup ponselku. Ingatanku kembali pada peristiwa itu. Ya, peristiwa yang membuat hubungan kami jauh lebih renggang.

****

Februari 2011….

From: Jungsoo
Temui aku di kantin sekolah. Jangan ajak siapa-siapa.

Apa ini? Tidak biasanya ia mengajakku bertemu. Hm, ya sudahlah. Tapi….kenapa firasatku gak enak ya?

Pikiranku sedikit kacau saat berjalan menuju kantin. Dimana Jungsoo?

Ah, itu ada Siwon. Wah, ada Eunhyuk dan Jongwoon juga. Tapi dimana Jungsoo?

“ Hei, kau,”

Aku berbalik badan. Jungsoo. Bahkan ada Kangin. Tapi kenapa mereka melihatku dengan tatapan sinis?

“ Duduk,”

Auranya tak enak. Insting alamiku berkata, aku berada dalam masalah. Apa aku telah berbuat salah?

“ Apa maksudmu berkata seperti itu?” tanya Jungsoo.

A..apa? Memangnya aku berbuat apa?

“ Aku tak mengerti maksudmu,”

Ya Tuhan….aku takut… Jungsoo benar-benar seperti monster.

“ JANGAN BERLAGAK BEGO!”

Aku terhenyak. Baru kali ini Jungsoo membentakku. Apa salahku?

“ Kangin melihatnya sendiri! Kau menulis di twittermu, ‘Semoga dia mendapat balasan setimpal’. Jadi kau senang aku terluka begini, hah? Kau senang?”

“ Iya. Apa maksudmu? Kau benar-benar tega,” Kangin ikut memanaskan suasana.

Kangin….kau yang biasanya tenang, kenapa jadi begini?

“ Dasar brengsek kau!”

PLAK!!

Aduh!

Jungsoo memukulku? Selama kami berpacaran, belum pernah ia memukulku. Jungsoo….kenapa kau?

“ Kau senang aku kecelakaan? Kau senang, hah?”

Tidak…sedikitpun aku tak merasa senang… Aku prihatin padamu… Tapi aku hanya diam saat ia memaki-makiku. Aku melirik kearah Siwon, memohon bantuan. Namun ia hanya diam menonton. Siwon, kau jahat!! Aku tak percaya kau membiarkan temanmu sendiri dihina-hina. Siwon keterlaluan!

“ Aku membaca mentionmu dan Chan Ni. Apa maksudmu? Kau benar-benar keterlaluan!”

Mention? Ya ampun…jangan-jangan Kangin melihatnya semalam? Ini benar-benar salah paham!

Kangin berusaha menghentikan Jungsoo, membawanya pergi. Kini aku sendirian. Dadaku sesak. Tapi aku tak boleh menangis disini.

Ku coba ingat-ingat kembali tweetku semalam. Ah, pasti itu. Sesaat setelah aku mendengar kabar Jungsoo kecelakaan motor, aku berpikir bahwa itu balasan akibat kesombongannya. Ya, sejak ia mendapat ranking 1 di kelas 2, ia sombong dan tak lagi mengajakku bicara. Aku kesal. Dia mencampakkanku setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Aku hanya berpikir, semoga ia sadar atas kesalahannya. Kangin salah paham. Dasar Kangin bego! Aku tak mau percaya padanya lagi!

Aku bergegas keluar dari kantin. Tanganku bergerak mengambil ponsel. Satu nama yang terlintas dalam benakku. Chan Ni.

Ku tekan nomor ponsel Chan Ni. Hanya dia yang ku butuhkan sekarang.

Rrrrr…..Trek!

“ Yoboseo?”

Mendengar suara Chan Ni, air mataku tumpah. Aku tak bisa menahannya lagi.

“ Chan Ni…”

Suaraku pasti terdengar parau. Aku bersembunyi dibalik mobil, menangis sejadi-jadinya.

“ Chan Ni, tolong aku….”

****

Malamnya, Jungsoo mengirimiku pesan. Dia minta maaf. Tapi aku terlanjur sakit hati. Kata-katanya, caciannya membuatku benci setengah mati. Dan yang membuatku sakit hati, dia menyuruhku untuk datang sendirian. Tapi ternyata ia membawa empat temannya! Dasar pengecut!

Ku tutup ponselku. Terlalu menyakitkan saat mengingat peristiwa itu. Dua bulan setelah peristiwa itu, ia masih menghubungiku. Awalnya aku marah karena sikapnya. Tapi akhir-akhir ini aku melunak. Ah, Jungsoo….kau selalu bisa membuat emosiku turun. Semakin aku mencoba membencimu, semakin aku mencintaimu…

****

Hari demi hari Jungsoo berubah drastis. Tiba-tiba saja ia menjadi sering main ke rumahku. Aneh rasanya, mengingat sikap kasarnya padaku beberapa bulan lalu. Entah sejak kapan kami jadi akrab lagi seperti dulu. Aku senang bisa sedekat ini dengan Jungsoo. Tapi…apakah hal ini akan terus berlangsung?

Sebulan telah berlalu sejak test masuk universitas berakhir. Fuuh…aku bisa santai sejenak sebelum pengumuman.

Drrrt….Drrrt!

Hm? Siapa yang mengirim pesan?

From: Jungsoo
Ryuu, aku dapat beasiswa ke Jepang!

Detik itu juga hatiku terasa seperti ditusuk. Jungsoo? Ke Jepang? Aku tahu ia sangat memimpikan bisa kuliah di Jepang. Tapi….kenapa harus secepat ini?

To: Jungsoo
Selamat

Dadaku sesak. Hatiku memberontak. Aku tak ingin ia ke Jepang! Jika ia ke Jepang, maka…..dia akan melupakanku….. Aku belum siap!

Air mataku mengalir. Kenapa…kenapa harus secepat ini?

Tak bisakah kau menunggu setahun?

Jemariku bergerak, mengetik pesan untuk Jungsoo.

To: Jungsoo
Kapan kau berangkat?
From: Jungsoo
Akhir Agustus

Akhir Agustus….Itu artinya…dua bulan lagi! Arrrrgggh!! Kenapa harus akhir Agustus? Kenapa?

To: Jungsoo
Kalau sudah di Jepang, jangan lupakan aku ya
From: Jungsoo
Kenapa? Kau sedih karena aku akan ke Jepang?
To: Jungsoo
Tidak
From: Jungsoo
Kenapa? Reaksimu itu gak senang. Kalau bicara yang jujur.

Jujur? Untuk apa? Toh kau sudah tak peduli dengan perasaanku. Tak ada gunanya aku berkata jujur padamu. Tak ada.

Aku meremas ponselku, menahan tangis. Ya Tuhan….Kenapa aku ini? Sedetik pun aku tak bisa melepaskan pikiranku darinya. Tapi kenapa Jungsoo bisa? Kenapa?

Andai aku bisa membenci Jungsoo, seperti Chan Ni membenci mantan kekasihnya, mungkin aku tak akan tersiksa. Kepalaku sakit membayangkan akhir Agustus nanti. Gawat, bisa-bisa asmaku kambuh. Tenang Ryuu, tenang. Jangan biarkan tubuhmu ikut tersiksa. Aku tak mau dijejali obat lagi.

Aku memeriksa kalender, menghitung berapa hari lagi aku bisa bertemu dengannya. Sekarang 14 Juni, seminggu lagi ia akan ke Eropa untuk liburan dan ia baru pulang pertengahan Juli. Itu artinya…..aku tak kan bisa bertemu dengannya lagi. Hingga empat tahun mendatang…

****

Aku menyibukkan diri dengan mengurus berkas-berkas universitas. Setiap hari aku harus ke kampus untuk mengisi berbagai macam formulir. Aku berusaha melupakannya, tapi sulit bagiku untuk benar-benar  melupakannya.

Tak tahan, aku mengirim beberapa message pada Jungsoo. Aku mengelak setiap kali ia menanyakan ‘Kau kangen aku?’. Aku selalu menjawab ‘Tidak’. Tapi aku tahu, Jungsoo tak bisa dibohongi semudah itu. Ia pasti tahu.

Dan hari yang ku tunggu pun tiba. Jungsoo pulang dari Amsterdam. Ia datang ke rumahku, beberapa jam setelah ia sampai. Ia bercerita banyak hal. Dari heningnya kota Amsterdam hingga mahalnya biaya di Paris. Aku menyimaknya, menanggapinya dengan beberapa pertanyaan konyol. Ia mengeluhkan tentang eonni nya yang salah jadwal kereta hingga mereka harus membeli tiket yang baru. Ia bahkan menceritakan saat ia dan keluarganya harus berdesakan dalam satu kamar.

Aku tertawa mendengar ceritanya.

Caranya bercerita selalu membuatku tergelak.

Jungsoo sangat ekspresif. Aku suka Jungsoo yang seperti ini.

Tanganku gatal, ingin sekali merapikan rambutnya seperti yang biasa ku lakukan dulu.

Aku ingin sekali mengenggam tangannya, memeluknya, saling menempelkan pipi seperti dulu.

Aku rindu merasakan detak jantungnya setiap kali ia memelukku.

Aku merindukan saat-saat kami makan bersama di kantin, bersenda gurau di perpustakaan dan pulang bersama.

Aku teringat saat ia memberikan kejutan di hari ulangtahunku yang ke-16. Bahkan memberikanku kalung dan boneka setiap kali kami pergi menonton. Bayangan-bayangan masa lalu itu menyesakkan dadaku.

Aku berusaha menjaga emosiku agar tetap tenang. Sampai ia pamit pulang, aku tetap memaksakan diri tersenyum dihadapannya.

Aku menaiki tangga, memasuki ‘studio’ kecilku. Sebenarnya, ini kamar yang ku jadikan studio foto untuk blog pribadiku.

Kenapa aku menyebutnya studio kecil?

Karena disinilah aku memotret fashion style ku dan latihan dance.

Dan disinilah hadiah pemberian Jungsoo ku simpan. Satu diantaranya adalah ukiran kaca berwarna biru. Aku menggigit bibir saat aku membaca tulisannya.

‘Kau tak akan sendirian lagi’

 

Kau bohong, Jungsoo. Kini aku sendirian lagi. Seperti sebelum kita bertemu.

Mataku berpindah ke sofa. Tas-tas menumpuk dan tak terurus. Diatas tumpukan tas, sebuah boneka beruang kecil memakai baju pink seolah memandangku. Hadiah ulangtahunku yang ke-17. Dibawahnya, boneka lumba-lumba berwarna biru tersenyum bahagia. Pemberian dari Jungsoo pada hari kencan kami yang kedua. Saat itu kami baru saja berpacaran.

Aku duduk ditepi kasur, mengambil komik favorit kami berdua.

Psychometrist Eiji.

Aku ingat saat Jungsoo meminjamkannya padaku. Awalnya aku tak suka dengan komik rating dewasa seperti itu, namun lama kelamaan aku justru mengoleksinya.

Mataku menangkap obyek lain di kasurku. Boneka beruang cokelat. Hadiah pertama dari Jungsoo.

Ternyata aku memang tak bisa melupakannya. Buktinya, aku masih menyimpan semua hadiah-hadiah itu. Aku tersenyum miris melihat semua pemberian Jungsoo.

Aku menaruh komik itu di rak semula. Ada benda lain yang menarik perhatianku. Komik Black Butler milik Jungsoo. Aku selalu lupa mengembalikannya.

Ku alihkan pandanganku ke tempat lain, namun aku justru melihat satu benda yang pernah Jungsoo berikan padaku. Bantal pink berbentuk hati.

Aku memilih benda ini karena aku iri dengan eonni ku. Ia mendapat bantal pink ukuran besar dari seorang lelaki.

Ku usap bantal itu perlahan, memeluknya. Hm. Aku benar-benar merindukan Jungsoo. Sangat merindukannya.

Oh iya, aku hampir lupa sesuatu. Tadi kan aku ingin mengambil anting. Aku berjalan masuk lagi kedalam kamar. Ku buka kotak aksesorisku, bukannya mencari anting, aku malah terpaku pada gelang berwarna biru dan kalung putih. Hadiah dari Jungsoo ketika ia berwisata bersama orangtuanya.

Ah…Jungsoo….

Setelah aku menemukan antingku dan memakainya, aku beranjak keluar dari kamar. Namun yang terjadi aku justru menemukan benda lain.

Pemberian Jungsoo diawal kami berpacaran.

Tas berukuran besar dan berwarna hitam-hijau terkulai di sofa.

Aku jadi ingat saat ia memberikan tas ini sepulang sekolah. Gara-gara tas ini, eomma ku marah dan akhirnya mengajakku pergi membeli semua keperluanku :p

Aku menuruni tangga, menuju ‘ruang kerja’ ku.

Yang ku maksud ruang kerja adalah kamar kosong yang terletak di lantai satu. Aku sering menggunakan kamar itu sebagai tempat aku menulis dan beristirahat.

Baru saja aku membuka ponsel dan duduk di kasur, mendadak aku teringat ucapan temanku beberapa hari lalu.

“Pandangan matamu berubah saat kau menceritakan Jungsoo. Kau terlihat bahagia,”

 

Sejelas itukah ekspresi wajahku? Apa iya aku terlihat bahagia?

Ah…ternyata aku tak bisa menipu diriku sendiri. Aku masih mencintai Jungsoo. Jungsoo, akankah kita bertemu lagi?

Akankah kau mengingatku meski kita berada di negara yang berbeda?

Aku memeluk diriku sendiri, membayangkan kisah kami empat tahun mendatang.

Dan tiba-tiba saja, tubuhku terasa dingin.

Jungsoo….

T. B. C

PS: Hey, readers! Sorry for late update >.< I’m so busy with my college task and I don’t have much time for writing T___T  Buat yang belum tahu, Decision merupakan sekuel dari My Immortal. Sengaja aku bagi jadi beberapa part karena ceritanya sangat panjang. Tidak ada penambahan cerita. Hanya sedikit pengurangan pada bagian-bagian yang tidak penting ^^ Buat Snakes On The Plane dan Seven Princess, aku belum tahu kapan bisa melanjutkan. Mungkin pas libur kuliah ^^

Well, enjoy this FF and happy reading, fellas! ^^

Previous Post
Next Post
Leave a comment

10 Comments

  1. Alina

     /  November 21, 2011

    ceritanya seru thor… :D
    Daebakk!!! part selanjutnya jangan lama-lama

    Reply
  2. Kyuhyun's wife

     /  November 21, 2011

    Author lanjutannya jgn lama2

    Reply
  3. Eumm.. aku rada2 ga ngerti, mungkin krn lsng baca yg ini… bkn my immortal dulu… hehe…

    tp nii jg bagus koq!!

    Reply
  4. Flo

     /  November 22, 2011

    huhuhu….
    habis baca jd sedih…
    lanjut yah thor, pgn cepet2 tw lanjutannya…

    Reply
  5. Ceritanya daebak!

    Reply
  6. jarang2 nih yg cast nya ee teuk oppa!
    hwaiting thor buat lanjutannya!

    Reply
  7. vanny

     /  November 22, 2011

    ceritany seru..
    epnasaran ama jungsoo POV

    Reply
  8. Kayaknya bakal seru ni
    Lanjutannya jangan lama-lama ya thor

    Reply
  9. Nurranti Azzahra Iskandar Putri

     /  November 22, 2011

    Author!!! lanjutin ya..jgn lama2! okokok #maksa

    Reply
  10. chodictator

     /  February 23, 2012

    waahh min lanjutt >< bikin penasaran sama deg degan :D hehe.. cerita ini ada hubungannya sm crita sekuel sblomnya ya thor? haii soo oppa baik bangeet… x3

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,058 other followers

%d bloggers like this: