Just Like This, Like Now (Part 2 of 3)

Author = @devinardelia

This post has been posted as “Just Like This, Like Now” in my personal blog, http://www.devinardelia.wordpress.com and this post is the 5th post that I post in SuperJuniorFanFiction2010. Hope you guys enjoy this story :)

For your reading guide, this story is Lee Donghae’s Point of View. :)

PS. THIS STORY IS ORIGINALLY MADE BY ME. Sorry if this story isn’t really well, comments are accepted. Thank you a lot!

*Let’s start reading*

Jigeum Cheoreom (part 2 of 3)

“Good morning, jagi~” sapanya sambil mencium pipiku.

“Eung? Sudah pagi?” tanyaku dengan satu mata terbuka. Dia melihatku kemudian tertawa.

“Hey, apa yang lucu?” tanyaku dan kali ini kedua mataku sudah terbuka hanya saja aku menyipitkan mataku karena sinar matahari yang terlalu silau.

“Ani, oppa lucu sekali kalau baru bangun tidur. Hahaha,” jawabnya sambil berdiri. Aku hanya bisa tersenyum. Dia segera menuju dapur, menyiapkan sarapan sepertinya. Aku pun segera bangun dan mandi.

“Hari ini aku berencana untuk menemui Eomma. Kau ikut, ya?” tanyaku saat kami sedang makan.

“Hari ini? Mianhae oppa, aku tidak bisa. Besok ya?” jawabnya tersenyum.

“Waeyo?” tanyaku lagi. Tidak biasanya ia menolak permintaanku.

“Aku…ada janji dengan teman. Mianhae oppa, jeongmal mianhae. Besok aku pasti bisa. Besok saja ya?” tawarnya. Kami seperti di pasar saja, tawar menawar.

“Alright, tomorrow, you have to accompany me,” aku menekankan kata ‘have to’ padanya dan ia mengangguk pelan.

“Oh iya, Eunmi-ah, temanmu itu…siapa?” tanyaku saat ia sedang menggunakan lip glossnya. Aku hanya heran, dia benar-benar mempersiapkan dirinya dengan sangat baik. Polo shirt, jeans berwarna gelap, heels 5 centi, cardigan. Benar-benar rapi.

“Eh? Nae chingu? Namjayeyo. Sepertinya oppa kenal, deh,” jawabnya dengan senyum iseng.

“Oppa ikut saja~ Aku kenalkan kau dengannya~” katanya sambil menghampiriku.

“Ani.. aku sudah ada janji dengan chinguku juga. Lagipula aku tidak mau mengganggu,” ucapku bohong. Sebenarnya ingin sekali aku bilang :”aku tidak mau emosiku terlepas kendali saat aku melihati kalian berduaan!” Hanya saja aku tidak mau menyakiti perasaannya. Cukup kemarin, aku tidak mau memperparahnya hari ini. 2 hari berturut-turut bertengkar itu sungguh melelahkan.

“Geuraeyo? Baiklah, aku pamit, oppa. Annyeong~” ucapnya. Aku mengangguk pelan dan tidak melihat wajahnya. Aku tidak ingin wajahku yang sudah mulai berkaca-kaca ini dilihat olehnya.

Seharian di apartment! “BOSAAAAAAAAAAAN!” teriakku. Ya, memang. Tidak ada siapa-siapa di sini. Apa aku telepon Eunhyuk saja dan memintanya untuk datang ke sini ya? Ah, ide baik.

“Yeoboseyo?” ucap suara yang sudah tidak asing lagi bagi telingaku.

“Eunhyuk-ah!” sapaku penuh semangat.

“Donghaeya?! YA! Kapan kembali?! Kenapa tidak kau kabari aku?! Aish. Kau di mana?! Ayo kita makan-makan. Kebetulan aku sedang dengan Siwon,” jawabnya tak kalah seru.

“DONGHAEYA!” seru seseorang dari kejauhan.

“Siwon-ah? YA! Long time no see! Ayo kita makan-makan! Kau datang dulu saja ke apartmentku, nanti kita pergi dengan 1 mobil saja,” ucapku.

“Okay, kami segera ke sana. Wait for us,” jawabnya dan mematikan panggilan.

“Ya Donghae.. Kenapa kau tidak bilang kalau kau kembali kemarin? Aku kan bisa menjemputmu!” ucap Eunhyuk kesal saat kami sedang berada di sebuah café di Korea.

“Mianhae, aku kan ingin membuat kejutan. Haha,” ucapku sambil tertawa.

“Sayang sekali kami tidak terkejut, Donghaeya..” balas Eunhyuk tanpa ekspresi. “Cih, lalu apa dengan teriakan-teriakan saat aku meneleponmu, hah?” balasku tak mau kalah.

“Kau kan tau kalau aku teleponan suaraku memang seperti itu,” sahutnya lebih tak mau kalah lagi.

“Bagaimana kabar Eunmi, Donghae-ah?” tanya Siwon tiba-tiba.

“Ne? Eunmi? Dia baik-baik saja. Hubunganku dan dia tidak ada masalah,” ucapku dusta karena pada kenyataannya ada masalah. Dia sedang berjalan dengan lelaki lain hari ini.

“Oh, hubunganku dengan pacarku juga baik-baik saja,” sambung Eunhyuk tanpa ditanya. Aku mengalihkan pandangan ke arah jendela. Aku melihat banyak sekali orang berlalu lalang dan….tunggu. Itu bukannya Eunmi?

“Ya! Itu Eunmi kan?” tanya Eunhyuk membuyarkan lamunanku sambil menunjuk ke arah seorang perempuan dan lelaki yang dirangkulnya.

“Dan laki-laki itu……Kyuhyun, kan?” sambung Siwon yang semakin membuatku naik darah. Tega-teganya Eunmi melakukan itu padaku.

“Biarkanlah,” ucapku sambil membuang mukaku dari arah jendela menuju minumanku.

“Kau sedang bermasalah, ya?” tebak Siwon tiba-tiba.

“Ne? Hanya pertengkaran kecil saja, tidak ada apa-apa,” jawabku setenang mungkin. Aku kembali melihat mereka dan mereka terlihat sangat bahagia. Senyum Eunmi dan Kyuhyun seperti menjadi satu…

”Sebaiknya aku pulang,” ucapku dan sejurus kemudian mengambil jaketku dan kunci mobilku.

“YA! Kau mau meninggalkan kami di sini? Ingat kami ikut mobilmu, Donghae ya!” kata Eunhyuk dan menyusul mengikutiku. Siwon segera berdiri, menuju meja kasir dan membayar semuanya. sayup-sayup aku mendengar suara Siwon.

“Ambil saja kembaliannya,” katanya.

“Mianhae Siwon-ah, seharusnya aku yang membayar tapi malah kau yang membayarnya,” batinku.

“Biarkan aku yang menyetir, kau sedang emosi. Kalau kau yang menyetir, sama saja kau membunuh kita semua,” kata Eunhyuk dan ia segera merampas kunci mobilku. Aku mencoba melihat ke arah Eunmi dan Kyuhyun dan kulihat mereka juga sedang menuju ke mobil. Keterlaluan, ini benar-benar keterlaluan. Awas kau Kyuhyun. Berani-beraninya kau merebut pacarku! Aku mengepalkan tanganku dan memandang geram ke arah mereka.

“Masuklah, tenangkan dirimu terlebih dahulu,” ajak Siwon sambil merangkulku dan mendorongku masuk ke mobil.

“Ayo…kita…ikuti…mereka…” ucap Eunhyuk perlahan sambil membelokkan setir dan sekarang mobil kami berada di belakang mobil Kyuhyun. Aku hanya memalingkan mukaku ke jendela di sebelahku. Rasa kesal dan cemburu bercampur aduk di dalam hatiku.

“Terserah kau saja, Eunhyuk-ah. Aku tidak peduli,” jawabku asal-asalan tanpa mengalihkan pandanganku.

“Kau ini… ada masalah ya harus diselesaikan baik-baik sampai tuntas. Gimana sih?” sahut Siwon dari belakang. Aku hanya memandanginya kesal. Pikiranku mulai melayang ke kejadian kemarin. Rasanya baru kemarin aku memeluk Eunmi mesra dan dia mendaratkan aku sebuah ciuman indah. Tapi hari ini dia sudah mengkhianatiku dengan orang itu! Tidak aku sangka, seorang Eunmi yang aku cintai berbuat hal ini. Pandanganku mulai agak kabur, hidungku agak panas dan sedetik kemudian air mata turun membasahi pipiku. Kenapa di saat seperti ini sifat cengengku malah keluar sih? Aku memarahi diriku sendiri.

Kami sekarang sedang berada di suatu department store. Tadinya aku tidak mau turun, tetapi Eunhyuk dan Siwon memaksaku untuk ikut dengan mereka. Mereka bilang mereka ingin membeli beberapa pakaian baru. Mau tidak mau aku ikut karena tanganku ditarik oleh mereka. Sesampainya di dalam department store, aku hanya mengikuti mereka dari belakang. Tidak ada mood untuk belanja, tidak ada mood untuk berbicara. Hanya ingin diam.

“Aku ke toilet dulu. Kalian jalan saja, nanti aku telepon kalian untuk menanyakan keberadaan kalian,” ucapku singkat dan segera meninggalkan mereka tanpa menunggu persetujuan dari mereka. Sebenarnya aku tidak tau mau jalan kemana, jadi aku memilih untuk duduk-duduk saja di sebuah café. Baru aku berjalan menuju ke arah café itu, aku lihat Eunmi dan Kyuhyun sedang berada di café itu juga dan mereka sedang tertawa-tertawa. Eunmi memamerkan sebuah jaket ke Kyuhyun dan yah.. begitulah. Aku tidak mau melihatnya, aku lebih baik pergi.

“Kalian sudah selesai? Aku sudah di tempat parkir. Cepatlah, aku ingin pulang,” ucapku singkat, jelas, padat. Wajah Eunmi dan Kyuhyun masih membayangi pikiranku. Mereka terlihat begitu bahagia, apa sebaiknya aku membiarkan mereka bersama saja? Tidak Donghae, Eunmi milikmu.

“Eunmi milikku,” ucapku meyakinkan diriku sendiri.

“Tentu saja ia milikmu,” ucap Eunhyuk di sisi lain mobilku.

“Ayo kita pulang,” ajak Siwon tanpa basa-basi. Aku segera masuk ke dalam mobil dan kali ini Eunhyuk lagi yang menyetir.

Sesampainya di apartment, aku segera masuk ke kamar mandi dan mencuci muka. Saat aku keluar, Siwon dan Eunhyuk sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, mencegatku.

“Kau ini kenapa sih? Cemburu? Oh, come on! Kita masih tidak tau apakah Eunmi benar-benar berselingkuh, bukan? Mungkin saja mereka memang habis bertemu seseorang dan Kyuhyun menawarkan diri untuk mengatar Eunmi tetapi mereka mampir dulu ke department store itu? Positive thinking, Donghae-ya. Eunmi bukan cewek yang seperti itu,” nasihat Siwon sambil memandang tepat ke arah mataku.

“Cukup Siwon-ah, aku sudah memutuskan untuk membiarkannya pergi,” ucapku datar, menerobos mereka berdua dan masuk ke kamarku.

Andai saja mereka tau bahwa sebenarnya aku tidak sekuat itu, aku tidak sekuat itu untuk membiarkan Eunmi pergi. Padahal aku sudah berjanji untuk menjadikannya yang pertama dan terakhir, tapi sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku sendiri sebagai seorang namja. Luka yang ia goreskan di hatiku terlalu sakit untuk ditahan. Aku hanya bisa menangis tanpa suara di kamarku. Kesalku semakin bertambah saat aku mengingat janjinya sebelum aku pergi ke Canada.

“Kami pergi dulu, Donghae-ya. Jangan berbuat yang aneh-aneh!” seru Eunhyuk dan Siwon dari luar. Kudengar suara pintu ditutup dan aku menangis lagi.

Entah berapa lama aku menangis hingga aku tertidur. Aku melihat jam tanganku dan waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku bangkit berdiri dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukaku yang lusuh setelah menangis dan tertidur. Aku baru saja sampai di kamar mandi saat aku mendengar suara pintu apartment terbuka.

“Oppa~ Na wasseoyo. Neo eodiya?” suara itu..suara Eunmi. Aku membanting pintu kamar mandi.

“Oppa, kau di kamar mandi? Sudah makan? Mau kubuatkan makanan?” tanyanya dari depan. Aku tidak menjawab, aku hanya membasuh mukaku lalu aku keluar untuk menuju ke kamarku lagi. Ia sedang duduk di sofa ruang tengah dan ia sedang memandangiku.

”Oppa, kau kenapa?” tanyanya cemas dan menghampiriku. Aku memandangnya tanpa ekspresi dan ia tidak melanjutkan langkahnya.

“Kau tidak perlu tahu,” jawabku datar dan segera masuk ke kamarku. Aku mengunci pintunya dan duduk di belakang pintu.

“Oppa…”ucapnya lirih. “Kau kenapa?” tanyanya lagi.

“Sudah kubilang…KAU TIDAK PERLU TAHU!” teriakku tanpa bisa kutahan. Maafkan aku Eunmi-ah, tetapi luka itu..luka yang kau buat sangat sulit untuk diobati.

“Oppa….” panggilnya lagi dan kali ini aku bersumpah aku mendengar suara isakan. Dia menangis? Oh, hebat sekali kau Donghae-ah. Kau berhasil membuatnya menangis.

“Oppa, kau kenapa sih? Kenapa jadi seperti ini padaku?” tanyanya sambil menangis.

“Pergilah, aku mohon tinggalkan aku sendiri,” ucapku yang juga sambil terisak.

“Tidak sebelum kau memberiku penjelasan,” balasnya keras kepala.

“Pergilah,” kataku dengan suara yang mulai mengeras.

“SIRHEO!” teriaknya. Aku menelan ludah, berdiri dan membuka pintu. Aku lihat dia duduk di depanku, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang lentik.

“Bangun dan segera tinggalkan aku,” ucapku tanpa perasaan.

“TIDAK MAU!” jeritnya.

“Aku mohon, Eunmi-ah. Aku butuh waktu untuk menghadapi kenyataan ini. Aku butuh waktu untuk melupakanmu,” ucapku dengan airmata yang terus menerus turun.

“Mworago?” tanyanya bingung sambil memandangku dengan airmata kami yang terus berjatuhan.

“Apa kau bilang?” tanyanya tak percaya.

“Aku… membutuhkan waktu untuk melupakanmu, Eunmi-ah,” ucapku memalingkan muka.

“But…why?” tanyanya mencoba melihat mataku. Aku menutup mataku sejenak.

“I don’t think that you’re happy with me, I saw you with…Kyuhyun today and…”aku tidak mampu menyelesaikan kata-kataku. Air mataku keluar lebih deras dan lebih cepat dari kata-kata.

“Itu tidak seperti yang kau lihat, Oppa, jebal, dengarkan penjelasan dariku…..” dia mencoba untuk bangkit berdiri dan meraih tanganku.

“I saw enough, Eunmi-ah,” ucapku memotong kata-katanya dan melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.

“I saw enough,” ucapku menekankan tiap kata. Dia menangis lagi, kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

“Ada baiknya aku yang keluar sekarang, aku ingin menenangkan diri,” kataku dan sejurus kemudian, aku mengambil kunci mobilku dan keluar dari apartment.

Aku mengendarai mobilku sampai ke sungai Han. Aku tidak keluar dari mobil, aku menangis di dalam mobil. Kejadian tadi siang berputar-putar di kepalaku seperti film yang terus menerus dimainkan. Cara ia memandang Kyu, tertawa bersamanya… ‘Kau bodoh, Donghae-ya. Kau tau Kyuhyun sudah bertunangan, kenapa kau masih terus menganggap bahwa Kyuhyun adalah rivalmu, hah?’ pikiranku memarahi diriku sendiri. Aku merasakan mataku sudah sangat berat. Sulit sekali untuk melihat dengan jelas, mataku bengkak karena menangis dan mataku ingin sekali menutup karena aku sudah sangat lelah. Aku coba memejamkan mataku tetapi aku malah kembali ingat pada kejadian-kejadian sialan itu.

Aku membuka mataku dan segera melihat jam. Jam 5 pagi. Ini masih terlalu subuh. Aku tidak bisa pulang sekarang karena seluruh badanku terasa lemas. Semalaman aku tidak tidur. Bodoh memang. Disaat aku harus menjadi namja yang menjaganya, yang setia di sampingnya dan menenangkannya saat dia menangis, aku malah terlihat seperti namja yang sangat rapuh, lemah tak berdaya. Aku harus menelepon seseorang untuk menjemputku. Aku harus menelepon Eunhyuk. Aku membuka ponselku, aku mengetik ‘eun’ dan aku memencet tombol ‘call’.

“Yeoboseyo, Eunhyuk-ah, aku sekarang sedang berada di sungai Han, semalaman aku tidak tidur, aku tidak yakin aku bisa menyetir sekarang. Tolong jemput aku, aku ingin bertemu dengan eomma hari ini,” aku menutup teleponku dan mataku.

‘Tok tok tok’

“YA DONGHAE! BUKA JENDELANYA!”

‘tok tok tok’ Aku segera memperbaiki posisi dudukku dan membuka jendela.

“Eunhyuk-ah, tolong antarkan aku pulang, aku tidak sanggup menyetir. Semalaman aku tidak bisa tidur. Kejadian kemarin benar-benar membunuhku secara perlahan sepertinya,” ucapku jujur padanya seraya membuka pintu untuk pindah ke kursi sebelah.

”Kau ini! Benar-benar! Aku harus bicara empat mata denganmu, Donghae-ya” gerutunya sambil menunjuk ke arahku dan masuk ke dalam mobil.

“Kau ini bodoh atau bodoh sih?!” teriak Eunhyuk di dalam mobil sedangkan aku masih memejamkan mataku.

“Kau tidak tahu betapa cemasnya dia semalam, hah?!” lanjutnya, masih berteriak.

“Kau pengecut, Donghae-ah!!” kali ini kata-katanya seperti petir yang menggelegar di kepalaku.

“YA! AKU MEMANG PENGECUT! AKU PENGECUT YANG MALAH MEMBIARKANNYA PERGI DARIPADA MEMPERTAHANKANNYA!” aku menatap Eunhyuk yang kini malah menatapku balik.

“Anger is just a cowardly extension of sadness. It’s a lot easier to be angry at someone than it is to tell them you’re hurt. Pahami kata-kata itu dengan baik, Donghae-ah,” ucapnya sambil membuang muka dan kemudian menyalakan mesin mobil.

Aku dan Eunhyuk tidak berbicara satu patah kata pun. Aku mendadak memikirkan kata-kata Eunhyuk tadi. Aku memang sedih, makanya aku marah. Tapi bukan berarti aku pengecut, dong? Aku memasuki apartmentku dengan langkah gontai. Aku terlalu lelah, ingin rasanya aku segera tidur. Baru saja aku memegang gagang pintu, tangan Eunhyuk sudah menahanku.

“Kita harus bicara, Donghae-ah. Aku tidak akan membiarkanmu diliputi kemarahan seperti ini terus menerus,” ucapnya sambil menarikku ke sofa di ruang tengah dan ternyata, sebuah surprise untukku, Siwon pun ada di sana.

“Untuk apa kalian kemari? Aku sudah bilang, kan kalau aku akan membiarkannya pergi? Apa itu kurang jelas untuk kalian?” ucapku marah.

“ITU BUKAN JALAN KELUAR YANG TEPAT, DONGHAE-AH! STOP BEING A FOOL! AKU BERANI BERTARUH BAHWA KAU MASIH MENCINTAINYA! BUKAN INI CARANYA DONGHAE-AH” teriak Siwon di depanku dan ia memelototiku, bukan hanya menatapku.

“LALU AKU HARUS BAGAIMANA?! SAKIT RASANYA, SIWON-AH. ANDAI KAU YANG ADA DI POSISIKU, KAU PASTI AKAN MERASAKAN HAL YANG SAMA DENGANKU!” aku meneriakinya balik. Dalam seperempat detik ia mencengkram bajuku dan mendorongku ke tembok.

“TENTU SAJA AKU TAU! Aku menyelesaikan hubunganku dengan Hyena karena hal yang sama seperti yang kau alami. Aku cemburu melihatnya dengan pria lain. Dan kau tau? Meninggalkannya hanya karena rasa cemburu itu sama rasanya seperti pisau yang menyayat hatiku setiap jam, setiap menit, setiap detik!” Ia mulai merenggangkan cengkramannya dan berbalik memunggungiku.

“Rasa sakit yang kau alami setelah kau meninggalkannya lebih parah daripada hanya sekedar melihatnya bersama lelaki lain, Donghae-ah.” Suaranya bergetar dan tangannya ia kepal dengan kuatnya.

“Sudahlah, kalian tidak perlu ikut campur dalam masalahku. Silahkan tinggalkan aku karena aku sudah lelah,” ucapku tanpa ekspresi dan sejurus kemudian aku bergegas masuk ke ruanganku.

“KAU!” teriak Siwon.

“Sudahlah, Siwon-ah. Percuma kita berbicara dengannya saat ini. Biarkan dia memikirkan apa yang telah dia perbuat dan hasilnya nanti,” kata Eunhyuk dengan suara yang dibesarkan.

Aku melawati hari-hariku tanpanya sejak saat itu. Aku bahkan jarang sekali berkomunikasi dengan Eunhyuk dan Siwon setelah hari itu. Aku hanya mengurung diriku di apartment. Mungkin bisa dibilang aku seperti mayat hidup yang tidak tau apakah harus hidup atau harus mati.

“it’s gonna be okay, Donghae-ah. It’s gonna be okay,” aku meyakinkan diriku sendiri dengan kata-kata itu. Selama waktu berjalan, aku yakin aku bisa melupakannya.

“Oppa, apa kau sudah makan? Jangan sampai telat makan, ya? Maagmu nanti kambuh.”

Tut~

“Oppa, jangan lupa makan. Aku takut maagmu kambuh.”

Tut~

“Oppa, jangan tidur malam-malam. Jangan sampai kau kurang tidur.”

Tut~

“Oppa, aku hanya ingin bilang bahwa aku rindu denganmu.”

Aku hanya bisa mendengarkan pesan suara yang ia tinggalkan selama satu bulan ini. Aku menaruh handphoneku di sebelahku.

“Kenapa kau masih peduli denganku, Eunmi-ah?” gumamku sambil memeluk lutuku dan menyandarkan kepalaku ke tembok. Pada akhirnya pun aku memang harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Siwon itu benar. Membiarkannya pergi lebih sakit daripada hanya melihatnya dengan lelaki lain.

CRING~ sebuah sms masuk. Aku mengambil handphoneku dan kemudian membaca sms tersebut.

From : Cho Kyuhyun

Datanglah ke café XX pukul 12 hari ini. Kita harus bicara.

Cih, orang itu. Mau apa lagi dia? Aku melempar handphoneku ke sofa dan aku langsung bangun untuk mandi.

“Kita memang harus bicara, Cho Kyuhyun,” batinku.

Aku memarkirkan mobilku dan segera keluar dari mobil. Aku mencoba mencari sosok Kyuhyun dan saat itu juga aku langsung menemukannya. Aku menghampirinya, menarik kursi dan berniat duduk. Belum sampai aku duduk, Kyuhyun sudah berdiri dan meninju pipiku. Aku memegang pipiku dan bibirku. Cairan merah keluar dari sudut bibirku. Aku menatapnya dan kulihat ia benar-benar marah padaku. Hey! Seharusnya aku yang marah padamu, bukan kau yang marah padaku!

“Kalau aku tau akhirnya akan seperti ini, aku tidak seharusnya membiarkannya tetap bersamamu, Donghae-ah!” ucapnya geram.

“Jadi, kau juga suka padanya? Ambillah, aku tidak peduli,” ucapku asal-asalan dan lagi-lagi dia meninjuku.

“Kau! Sungguh-sungguh lelaki tidak berperasaan! Kau kira dia barang yang bisa kau berikan sesuka hatimu, hah?! Kau tidak tahu bahwa pada saat kalian bertengkar dia meneleponku dan dia selalu menanyakan apa kesalahannya padamu sampai-sampai kalian bisa bertengkar seperti itu!” ucapnya lagi dan kali ini kemarahannya tidak bisa ditahan. Aku terdiam mencerna kata-katanya.

“Aku sudah mencoba segala cara agar ia bisa melihatku, tapi kau tau apa yang dia katakan? ‘hatiku tidak akan tergoyahkan oleh orang terkaya di dunia bahkan orang tertampan di jagat raya karena bagiku Donghae Oppa lah yang terbaik bagiku’. Aku tidak menyangka kau tega memperlakukannya demikian. Perempuan yang selalu meninggikan Donghae oppanya di manapun ia berada sekarang kau rendahkan seperti itu?! Kau benar-benar lelaki paling brengsek yang pernah aku kenal, Lee Donghae,” ucapnya tanpa sedetik pun mengalihkan tatapan mematikannya dariku.

“Stop thinking that I’m your rival, Donghae-ah. You know that I’m engaged, I just consider Eunmi as my own sister. I won’t just stay still when I know she’s hurt by you,” lanjutnya dan sedetik kemudian ia berjalan ke mobilnya. Aku hanya bsia terduduk lemas di kursi café. Eunmi..dia..benar-benar menyanjungku seperti itu di depan Kyuhyun? Oh Tuhan, namja-chingu macam apa aku ini? Aku tidak mampu berkata-kata lagi. Aku hanya bisa menangisi apa yang telah aku perbuat pada Eunmi belakangan ini. Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan memang selalu datang terlambat.

Aku memasuki kamarku dan segera menjatuhkan diri di kasur.

“AAARRGGGHH! You’re a bastard, Lee Donghae!” aku memaki diriku sendiri sambil melempar bantal kea rah fotoku yang dipajang di atas ranjang. Kata-kata Kyuhyun tadi siang memenuhi pikiranku.

“Kau tidak tahu bahwa pada saat kalian bertengkar dia meneleponku dan dia selalu menanyakan apa kesalahannya padamu sampai-sampai kalian bisa bertengkar seperti itu”

“Stop thinking that I’m your rival, Donghae-ah”

Jadi, selama ini….aku menyia-nyiakan orang yang mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Aku meninggalkanya hanya karena aku cemburu. Kau bodoh, Donghae. Bodoh sekali. Aku menangis tanpa suara di sudut kamarku.

Aku membuka mataku perlahan, sepertinya aku ketiduran tadi. Rasanya malas untuk beranjak dari posisi ini. Tidak ada semangat hidup. Hidupku sudah melayang ke negeri antah berantah sekarang. Rasa sakit yang kali ini aku rasakan jauh lebih sakit dari sebelumnya. Andai saja waktu bisa kuputar ulang. Andai saja aku mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Andai saja aku tidak cemburu. Andai saja berjuta ‘andai saja’ yang kuinginkan bisa terpenuhi…

~to be continued~

Aah, part 2! akhirnya di publish juga di SJFF! mungkin beberapa dari reader udah ada yang baca di blog pribadiku. :) sayangnya, biarpun yang baca banyak, yang comment tetep gak ada. T_T sedih banget geh. sedih pisaaan! *plak. Sebelu ymnya, author ingin meminta maaf… mian kalo ceritanya jadi gaje banget gitu. ini ff kedua setelah how to stop you in shirtless. awalnya terinspirasi aja pengen bikin ff yang sedih sedih galau gimana gitu dengan cast donghae. tapi sepertinya malah jadi cacat yah? T_T jeongmal mianhae, readers. BUT! put your hands up if you like it~ *ga ada yang naikin tangan ternyata. Author pasrah*

Again, comments are accepted! thanks for reading! Orz

Leave a comment

6 Comments

  1. keren eonni lanjut nya jangan lama lama ya

    Reply
  2. Lethi

     /  December 27, 2011

    bagus kok, aku suka :D

    Reply
  3. beee

     /  December 28, 2011

    Lanjut ya…bagus kok ^^

    Reply
  4. waaaaaa dipublish yang part 2nya! teeheee :3 heehee. thanks yang udah baca dan tidak terdeteksi jejaknya olehku~ (soalnya gak ada comment) dan terima kasih buat yang udah baca dan meninggalkan jejaknya di sini~ :))) tinggal satu part lagi dan selesai~ :p lol. tunggu aja ya, sabar – sabar! :3 oh iya, silahkan visit blog aku buat ff – ff lain :) http://www.devinardelia.wordpress.com
    sayang sekali hyperlink yang di atas ga berfungsi ._. hahahah! okeh! author cao

    Reply
  5. Aaaa
    Kerennn
    Lanjutt

    Reply
  6. donghae nih main minta putus gt ja,,,, padahal eunmi y cinta mati sama dia…..
    tu cerita y dulu kyuhyun sebelum tunangan di suka sama eunmi ya tp eunmi tolak krn cinta ma donghae ya???

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,455 other followers

%d bloggers like this: