Author : Katherine Choi ( @cacahch ) follow me!
My 2nd one-shot fic! Find my first ff, the title is ‘True Love’, it’s posted on this blog. This fic is kinda the second part of my first ff. But, it doesn’t matter if you haven’t read “True Love”. Because i didn’t write this to be the part 2.
If I Could See You Again..
“Kau bilang kau mencintaiku!” Aku mendengarnya membentakku dengan suara paraunya yang naik beberapa oktaf. Airmatanya yang sedari tadi mengalir membuat mata indah itu sembab, bahkan lelah..
Teriakan, tangisan dan perasaan frustasi itu terlihat jelas di parasnya.
“Aku mencintaimu..” Aku menjawabnya. Tapi jawabanku, aku rasa, tak membuatnya tenang. Aku hanya berdiri tak berdaya. Meyakinkannya, yang aku tahu. Takkan berhasil. “Aku selalu mencintaimu.” Hanya itu yang bisa kukatakan saat ini. Dia berdiri dengan udara dingin yang dihiraukannya.
Jujur, aku ingin memeluknya. Memberikannya sedikit kehangatan..
“Kau tahu? Kau membuatku menjadi satu – satunya yang merasakan sakit itu.. Kau pergi dan meninggalkanku merasakan sakit ini sendirian..”
Pipinya memerah, dan uap putih keluar setiap ia mengatakan kata – katanya. Air mata itu.. Aku tahu tak lama lagi akan membeku dengan suhu udara yang rendah ditempat ini.
“Aku juga. Aku juga merasakannya.. Kau hanya tak pernah tahu itu..” Aku mendesah. Sebenarnya aku lelah. Aku lelah terperangkap disituasi seperti ini.
Kali ini dia tenggelam dalam isakannya.
Dia diam. Tangan putih itu mengusap mata yang membuatku melupakan gravitasi dan yang membuat tubuhku melayang. Mengusapnya dengan kasar.
“Apakah kau juga ingin aku merasakan rasa sakitmu?”
Dia tetap berdiri ditempatnya. Hanyut dalam isakan yang dengan mudah mengiris hatiku.
“Demi Tuhan. Kau tak perlu melakukannya…”
Kali ini aku hanya ingin mengatakan jika aku mencintainya. Jika aku merindukannya.. Aku yang juga merasa kehilangan dirinya. Dan aku yang merasakan rasa sakit itu..
Kami terdiam.
“Maaf..” Desahnya tiba – tiba. Satu kata itu mendengungkan segala perasaannya yang bisa aku dengar.. Perasaan sakit, lelah, perih itu terdengar. Semula aku terkejut akan apa yang ia ucapkan barusan.
“Aku memang bodoh.. Aku tak menerima kenyataan yang ada. Tapi, apakah itu salah jika aku mencintaimu ? Bahkan kenyataan tak bisa menerima ini semua dan membawamu pergi dariku.. ” Dia memulai kata demi kata dengan air mata yang terurai kembali.
“Mungkin, aku hanya.. Merindukanmu.” Bibir kecil itu bergerak menghasilkan kata – kata yang membuat hatiku terlena. Terlena antara rasa sakit dan rasa yang sama..
“Aku sangat merindukanmu,” Ucapku.
Ia tetap berdiri dengan isakan itu. Dan tiba – tiba ia berjalan beberapa langkah dan memelukku. Memeluk simbol duniaku. Pelukan erat dan pelukan kerinduan itu terlihat.
“Jangan pergi..” Nada terkoyak itu berdengung. “Aku mohon.. Kembalilah..” Lanjutnya lagi. Aku hanya terdiam. Aku hanya mendengarnya tanpa mampu memenuhi keinginan itu.
“Kau dulu pernah berjanji.. Kau akan selalu berada disisiku…”
“Apakah itu palsu ?”
Isakan itu membawa pergi suaranya. Airmatanya mengaliri pipinya yang merona merah, dan rambut cokelat ikalnya kini menempel berantakan. Ia tetap memelukku..
Aku memejamkan mataku. Jika saja aku bisa berada disini lebih lama lagi..
Dia memelukku tapi aku tak akan pernah bisa lagi merasakan itu.. Atau tidak, untuk kali ini.. Siapapun,, Aku mohon. Biarlah kehangatan itu aku rasakan..
Aku mendesah pelan.. Setelah mendengungkan permintaan yang aku tahu takkan pernah terwujud.
Aku tetap melihatnya. Ia kini jatuh dalam isakan panjang yang membuatnya tak mengeluarkan suatu kata-pun. Isakan itu terus mengalir – dan mengalir seiring oleh suara angin yang berhembus. Kali ini dia memejamkan matanya. Ia melepaskan dekapan eratnya dan menyandarkan kepalanya pada yang ia anggap adalah diriku.
Lama kelamaan, aku bisa mendengar isakan itu mulai hilang.. Dan kedua mata itu tertutup dengan sembab. Aku tahu dia lelah.. Beberapa jam setelah diamnya mulut itu, ia hanya terisak, dan membuatnya lelap kali ini.
3 jam tak membuatku bergeming dari tempat itu sedari tadi.
Aku telah memandanginya dengan diam. Dan aku baru tersadar.. Aku tak bisa melakukan apapun selain melihatnya. Aku tak bisa meredakan isakan itu..
“Waktumu telah habis…” Ucap seseorang yang bisa kurakan berada di belakangku.
Aku tak membantahnya. Ataupun meminta lagi. Aku tahu ini semua cukup.
Kali ini. Untuk terakhir kalinya. Aku berjalan mendekati gadis yang tengah terlelap itu. Aku menempatkan bibirku sangat dekat ditelinganya.
“Aku mencintaimu.. Untuk selamanya..” bisikku.
Kakiku melangkah mundur. Menjauh darinya.
“Kau tahu.. Gadis ini membawa sesuatu untukmu.. Lihat di genggaman tangannya..”
Aku terkejut mendengar perkataan orang yang sedari tadi telah menungguku. Dan seketika aku melihat kearah yang telah diberitahukan padaku. Tangan yang memerah akibat udara yang dingin itu mengenggam kertas yang lusuh. Aku mengambilnya perlahan.
Aku tak bisa berlama lagi disini. Aku bangkit, dan membawa kertas lusuh itu di genggamanku.
“Selamat tinggal..” Ucapku.. Dan berjalan pergi meninggalkannya…
-
Gadis dengan paras indah itu terbaring lemas di ranjang kecil rumah sakit. Matanya memandang langit – langit seolah disana terdapat sesuatu yang menyedihkan yang membuatnya mengeluarkan air mata tanpa kunjung reda. Itu wajar bagi beberapa orang yang berada dalam ruangan itu. Beberapa jam yang lalu, ia baru mengetahui sesuatu yang membuatnya shock.
Sesuatu yang ia anggap adalah hal terburuk yang pernah didengarnya. Hingga membuat dokter yang kali ini berdiri di samping gadis itu, memberinya obat penenang. Teriakan dan tangisan histeris didapat setelah semuanya terungkap.
“Aku rasa dia sudah mulai tenang.. “ Ucap perawat dengan hati – hati.
“Benar, dia sudah mengendalikan dirinya.” Dokter menyetujui ungkapan anak buahnya. “Kami mohon diri dulu, Nyonya.” Lanjut sang Dokter pada wanita tua yang tengah berdiri memandangi putrinya dengan khawatir.
Pintu itu menutup halus. Dan kini hanya ada seorang Ibu dengan putrinya yang terbaring di ranjang berukuran satu orang itu.
Wanita tua itu kini membelai rambut putrinya. Ia tak akan pernah bisa mengerti bagaimana rasa sakit yang diderita putrinya yang kini terbaring dengan mata sembab dan lelah.
“Apakah… Kau ingin pergi ke tempat peristirahatan terakhirnya?”
Lamunan gadis itu terkoyak mendengar penawaran Ibunya. Dan wanita tua itu hanya mengangguk meyakinkannya. Karena hanya ini yang bisa ia lakukan. Ia tahu putrinya saat ini merasakan perasaan sakit yang begitu dalam. Perasaan kehilangan yang amat sangat..
-
Aku memandangi kaca dan menyisir rambutku. Kelopak mataku memerah karena tangisan yang bahkan aku tak menyadarinya. Aku memejamkan mataku.. Mencoba membohongi diriku bahwa ini hanya sebuah mimpi.. Tapi aku tak sanggup… Ini terlalu nyata.. Hatiku terlalu sakit.. Dan aku tahu ini bukanlah bunga tidurku.
Bunyi derak pintu terdengar dan seketika aku membuka kedua mataku yang terpejam.
Ibu.
Ia mendekatiku, dan segera membelai rambutku dengan lembut. Hal yang sering dilakukannya sedari aku kecil .
“Aku tahu ini bukanlah hal yang mudah..” Ucapnya lembut dan memandang wajahku dari cermin yang sedang memantulkan rupaku.
“Tapi.. bagaimanapun juga.. inilah kenyataan. Sekeras kau coba mengungkirinya, kenyataan tak akan pernah berubah.” Ia mendesah perlahan. “Dan Ibu tidak bermaksud untuk membuatmu melupakannya.. Tidak. Ibu rasa, ibu juga akan bereaksi sama denganmu jika Ibu yang mengalaminya.” Lanjut Ibu.
“Putriku.., Jangan menyesal dan jangan pernah menyalahkan dirimu yang merasakan hal ini karena kau mencintainya. Tapi gunakanlah cinta itu untuk membuktikan pada dirinya bahwa cinta yang kau miliki tak akan pernah berakhir bersama dengan maut..”
Ucapan Ibu begitu menyentuh hatiku. Aku memeluknya dan meletakan wajahku dan mendekapkannya di pelukannya.
“Ibu…” Aku menangis. Aku menangis sekali lagi di pelukan Ibu. Dan Ibu hanya membelai rambutku.. seperti pertama kali.. dengan halus.
Ibu mendekati wajahku,.
“Jangan biarkan dia melihatmu menangis.. Ayo, bersiaplah. Kita akan berangkat.” Ucap ibu sembari jari – jarinya menghapus airmataku yang tengah mengalir.
“Bisakah kau memberi waktu sebentar ?” Ibu hanya tersenyum menjawab permintaanku.
“Baiklah, Ibu tunggu diluar..” Ia berjalan menuju pintu dan tak lama, hanya aku sendiri di ruangan ini.
Aku mengambil kertas dan pensil dengan segera dari laci meja kecil di sudut kamar mandi. Bertemu dengannya, aku tahu bukanlah suatu ide yang baik. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana nanti perasaanku.
Segera, aku menuliskan semua yang aku takut, aku takkan pernah bisa ucapkan dihadapannya. Suara goresan pensil mendominasi di ruangan ini. Hingga akhirnya aku selesai menuliskannya. Aku melipat kertas yang hampir basah karena air mataku. Dan mengenggamnya.
Segera aku berjalan keluar, dan seketika Ibu berdiri mendekatiku. Ia mengenggam tanganku dengan ringan.
“Kau siap?” Tanyanya.
Aku hanya menganggukan kepalaku, dan berharap.. aku memang siap.
-
Aku mendengar suara hujan yang deras. Aku mencoba membuka kedua mataku, dan menyadari Ibu sedang berdiri dan memegang payung yang membuatku tak terguyur air hujan yang dingin disekitarku. Aku menyadari bahwa aku tertidur di salah satu nisan di tempat pemakaman.
Butuh waktu lama untukku mengingat semua kejadian yang baru saja terjadi. Dan saat semuanya terputar jelas.. Aku menyadari mengapa aku disini, dan kata – kata yang aku tanyakan pada sebuah benda mati di hadapanku. Aku segera berdiri dan merengkuh Ibu yang sebagian dirinya basah akan air hujan demi memayungiku.
Aku benci mengapa bukan ia yang kali ini memelukku.. Aku tahu dia ada. Dia ada disini..
Ibu membalas pelukanku, melepaskan payung yang dibawanya agar tanganya bisa merengkuhku.
“Aku merindukannya..” Ucapku ditengah isakan dan airmataku yang menyatu bersamaan dengan hujan yang mengguyur. Dan mataku yang tak lepas dari ukiran namanya yang ada di batu hitam dihadapanku..
-
Aku tahu, kau tak pernah menginginkan ini semua. Begitupun juga diriku.
Dan aku tahu, kau pasti bertanya – tanya mengapa kepergian memilih hubungan kita.
Aku.. Tak tahu apa yang harus aku katakan.
Dan apa jawaban yang aku temukan atas pertanyaan itu..
Tapi.. yang aku tahu kali ini.. Waktu tak akan pernah berputar kembali..
Kepergianmu..
Aku tak bisa menemukan suatu kata bagaimana mendeskripsikannya, bahkan merasakannya…
Tapi yang aku tahu kali ini.. Aku takut.
Aku takut akan semua yang nantinya akan terjadi dalam hidupku..
Terlebih, tanpa dirimu..
Dan aku takut nantinya aku melupakan semua kenangan itu..
Hingga akhirnya.. Aku tak mencintaimu lagi..
Aku takut itu semua akan terjadi..
Aku tahu aku bodoh dengan memikirkan segala kemungkinan itu..
Tapi ini yang aku rasakan sekarang..
Maaf.
Aku hanya ingin.. mencintaimu hingga nanti kita bertemu kembali.
Dan aku ingin kenangan itu takkan pernah hilang, walaupun aku tahu..
Perasaan itu, saat aku mengingatnya, membuat hatiku sakit.
Tapi aku berjanji aku takkan pernah menyesal memilikinya.
Terima kasih untuk segala kenangan yang kau berikan.. dan terimakasih..
Karena kau telah mencintaiku, dan membuatku merasakan bagaimana rasanya dicintai..
Maukah kau berjanji..
Jika suatu hari nanti aku tidak lagi merindukanmu,
Jika aku tak lagi mencintaimu..
Maukah kau berjanji.. Kau takkan pernah mempercayainya ?
Im Seol.
tu yg meninggal namja’y ya???
aq kira si yeoja.
aq terharu…
menyentuh!!!
kata-kata.ny menyentuh
dapet feel.ny
nice thor
sediiihhhhhhh
terharuu…
namja nya siapa sihh thorr???? *pengen tau*
sediiihh… ini namjanya siapa ya?? allku bayanginnya ryeowook.
Nangis bacanyaa
Sedih banget
Btw,,cwonya siapa??
meinglx gmn nue,, tiba2 saja yeojanya frustasi,,,, neh neh neh ,,itu masukanq,, tapi bagus,, daebak
T_T
sedih banget.. feel.a dpet..
btw, tu cowo.a sapa?? ak mbayangin.a Kyuppa.. hehe~
Si namja bayangin aja itu bias kalian
hihi thanks for reading!
terharu setengah jiwa ini bacanya
langsung nyesek thor! inget ex-namjachingu ku :” tp dia ga meninggal, cuman kkata2 akhirnya itu loh ya~ ._.