Author: hakaer/ @ratna2303
안녕하세요!!! (eh bener gak nih tulisan hangul gw? ). Perkenalkan, saya author baru disini dan mau nampilin ff pertama yang saya publish disini. Karena saya ELF maka tokohnya personil Suju (kalo bukan mah gak diterbitin disini juga kali), tapi ada beberapa member grup lain. Maaf ya kalo ceritanya jelek, kampungan, gak berkelas, gak jelas, atau bahasanya susah dimengerti, maklum pemula. Dan judulnya mian kalo ga nyambung, gak jago bikin judul soalnya.
FF saya ini udah pernah diterbitin sebelumnya di blog pribadi saya di sini jadi kalo ada salah satu yang merasa pernah liat gak usah kaget karena itu emang saya yang nulis. Dan kalo ada yang beda dikit dari yang asli maaf karena saya modif biar sedikit sempurna wkekeek.
happy reading all
Hyerin’s POV
Setelah kami berdua menghabiskan makanan di sebuah restoran bintang empat…
“Oppa?”
“Ne, gwenchaneyo?”
“Aku senang sekali hari ini kita bisa makan bersama.”
“Aku juga begitu,” katanya. Lalu Sungmin menatap mataku tajam, menatapku serius. “Hyerin?”
“Ne?” tanyaku yang balas menatap Sungmin. Kami berdua saling bertatapan dan diam. Tiba-tiba saja aku menjadi canggung. Lalu Sungmin tersenyum, dengan senyuman gigi kelincinya yang khas, “Saranghae chagiya, jeongmal saranghae.” Entah kenapa wajahku kelihatannya memerah, padahal bukan pertama kalinya ia mengucapkan kalimat itu padaku. Dia selalu mengatakan ini sejak enam bulan yang lalu. Aku membalasnya dengan malu-malu, “Nado… saranghae… oppa.”
“Dan…” Sungmin mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Apa yang akan diberikan padaku? Jangtungku berdegup kencang, dugeun dugeun dugeun. Dan ternyata dia mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu ia membukanya. Aku tercengang, ternyata di dalamnya sebuah cincin. “Um, Kim Hyerin…” katanya gugup, “um… maukah… kau… menikah… denganku?”
Mwoya? Sungmin melamarku? Aishh, apa aku bermimpi? “Mwo?”
“…maukah kau menikah denganku, Kim Hyerin?”
Terlalu cepat, pikirku. Tetapi ini yang kuharapkan. Lebih cepat lebih baik (jiah, kayak tagline capres pas pemilu 2009 dulu *plak *digamparyesung) Dengan gugup aku menjawabnya, “Ne, oppa, I will…” Sungmin tersenyum kembali. Aah, kenapa senyumanmu selalu membuatku meleleh sih? Senyumanmu seperti bocah yang tidak berdosa, imut sekali seperti anak kecil. Ia langsung meraih tangan kiriku yang memegang garpu lalu memasangnya di jari manisku. “Gomawo chagi, saranghae.”
“Nado saranghae, oppa.”
Sungmin sekarang tidak tersenyum lagi, ia memasang wajah serius, “Hyerin, mian karena perkerjaanku, kita jadi jarang bertemu.”
“Aaah gwenchana, oppa,” kataku. “Bukankah instansi pemerintah memang selalu sibuk?” Sungmin hanya tersenyum, “Yah begitulah, sekali lagi, mianhae.” Tiba-tiba handphone Sungmin berbunyi. Sungmin mengangkatnya, “Yoboseyo?” dan ekspresinya kini berubah menjadi sangat serius. “Ne sajangnim, aku segera kesana.” Aku menghela napas, ah pasti dia mendapat tugas lagi. Sungmin menatapku dengan wajah sedih, “Hyerin, mianhae. Barusan atasanku menelpon. Aku harus kembali bekerja. Mian.”
Aku hanya membalasnya dengan senyum, “Gwenchana, oppa. Lakukan tugasmu.” Kami berdua pun berdiri lalu Sungmin berjalan menuju kasir dan membayar semua makanan kami, lalu kami berdua keluar restoran. Di depan pintu masuk restoran Sungmin memegang kedua tanganku, “Kim Hyerin, jeongmal mianhae. Kalau bukan karena pekerjaanku kita tidak akan seperti ini. Kalau semua ini berakhir aku pasti menikahimu, segera!” Dia menciumi kedua tanganku, “Mianhae, aku tidak bisa mengantarmu pulang,” lalu berlari entah kemana. Aah Lee Sungmin, kenapa selalu ada halangan setiap kita bersama. Resiko memiliki namjachingu super sibuk. Sebenarnya aku tidak tahu persis dia bekerja apa. Tetapi aku percaya padanya, dia pasti benar-benar sibuk bekerja, bukan bersama wanita lain. Akupun pulang ke apartemen dengan naik bus.
*****
“Mwo? Dia melamarmu?”
Aku mengangguk sambil terus mencuci piring, “Ne, dia memberiku cincin dan bilang dia akan segera menikahiku kalau urusannya selesai.”
“Kau yakin dia akan menikahimu?”
Aku tercengang, tanganku penuh sabun, air keran terus mengucur menuju wastafel, “Apa maksudmu? Tentu saja. Dia yang bilang seperti itu, Yonhee.”
Yonhee mengembuskan napasnya sambil tetap mengelap piring-piring yang telah kucuci, “Maksudku, kau tidak curiga padanya?” Aku menoleh pada Yonhee sambil menyipitkan mataku, “Curiga? Buat apa? Aku percaya pada Sungmin.”
“Mungkin saja dia berbohong. Mungkin saja dia berhubungan dengan wanita lain, mejadikanmu sebagai wanita yang entah keberapa,” kata Yonhee. Aku kembali mencuci piring-piring sambil tersenyum mendengar perkataan Yonhee, “Hahaha, sepertinya kau terlalu banya menonton drama.”
“Kau tidak curiga padanya sama sekali?” tanya Yonhee sekali lagi. Aku menggeleng, “Aku kenal dia sejak SMA, Yonhee. Dia tidak pernah berbohong.”
“Tidak berbohong? Itu kan waktu SMA, itu kan sudah lama. Mungkin saja dia sekarang berubah sifatnya. Lagipula kau baru pacaran dengannya enam bulan,” ujar Yonhee memperkuat argumennya. Aku tetap tersenyum sambil mencuci piring. Kebetulan tidak ada lagi piring yang kucuci, aku mematikan keranku, “Park Yonhee, aku tidak peduli argumenmu. Dan oke, aku memang terkadang curiga dengannya. Tetapi aku yakin kalau dia berbuat seperti itu pasti mendapat karmanya suatu saat nanti. Jadi, aku santai saja.” Yonhee hanya menggaruk-garukkan kepalanya. Tiba-tiba pintu dapur terbuka.
“Kenapa kalian hanya mengobrol saja!? Cuci piring ini!!!” kata Zhou Mi sambil menaruh beberapa piring di wastafel. “Ne,” kataku.
“Oh ya, Hyerin, bagaimana makan malammu kemarin? Menyenangkan? Baju yang kupilih bagus kan?” tanya Zhou Mi. Aku tersenyum kecil, “Ne, lumayan. Tetapi endingnya selalu sama, Mimi, pergi-entah-kemana. Tapi Sungmin suka baju yang kupakai, aku juga suka, nyaman.” Zhou Mi tersenyum, “Terima kasih. Hah, sebenarnya namja itu apa sih kerjanya!? Selalu saja menghilang.”
“Molla,” ujarku. Zhou Mi terbelalak, “Mwoya? Sampai sekarang kau tidak tahu pekerjaannya!? Aigoo Hyerin, yeoja chingu macam apa kau ini? Aneh.” Aku hanya mengangkat kedua bahuku, ”Entahlah Mimi. Aku ingin cuci piring saja.” Zhou Mi lalu keluar dari dapur dan kembali melayani para pembeli.
*****
Di apartemenku, aku melempar tas kecilku di kursi. Seperti biasa hari yang melelahkan. Bekerja di restoran Shindong-ssi dan baru selesai jam 11 malam. Aku pergi mengambil air minum lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi. Setelah itu aku memakai baju dan duduk di depan televisi. Kunyalakan televisi yang sedang menyiarkan berita.
“Breaking news. Seorang jurnalis televisi Arirang Kim Heechul, ditemukan tewas dengan lebih dari 3 tusukan di apartemennya di daerah Seoul pada pukul 23.05 tadi. Sampai sekarang polisi belum mengetahui siapa pelakunya dan masih mencari informasi lebih lanjut.”
Kim Heechul, si jurnalis-bermulut-pedas, selalu mengkritik pelaku kejahatan berdasi, mungkin saja pembunuhnya para koruptor atau penjahat berdasi lainnya itu. Aku pindah ke channel lain, semuanya sama. Berita tewasnya Kim Heechul. Tiba-tiba handphoneku yang kutaruh di dalam tas berdering. Aku langsung mengambilnya. “Yoboseyo?”
“Kau nona Kim Hyerin?”
“Ne, ini aku. Kau siapa?”
“Kau menonton berita barusan kan?”
“Berita, ne, tentu saja. Gwenchaneyo?”
“Kau menonton berita tewasnya Kim Heechul-ssi kan?” Hah, kenapa manusia ini bertanya hal yang menurutku tidak penting seperti ini. Seperti petugas survei saja. “Ne, aku baru saja menontonnya. Tapi mianhae, kau ini siapa?”
“Tolong buka pintu apartemenmu sekarang.”
Mwoya? Aku harus membuka pintu? Memangnya ada apa? Tunggu, apa Sungmin memberiku kejutan ya? Tapi yang menelpon bukan suara Sungmin. Walaupun Sungmin suka bicara aegyo di telepon padaku dan yeoja lain tetapi aku tahu suara Sungmin tidak seperti ini saat serius atau bicara di hadapan para namja. Ulang tahunku juga bukan hari ini. Jangan-jangan aku dimintai keterangan mengenai kematian Kim Heechul. Ah, mana mungkin. Aku kan bukan siapa-siapanya Kim Heechul, walaupun nama kami berdua sama-sama Kim. Aku akhirnya menjawab kembali telepon itu, “Memangnya ada apa?”
“Sudah, kubilang buka saja.” Dan terdengar bel berbunyi.
Akupun berjalan menuju pintu. Kusimpan hanphoneku di kantong celana. Ada apa ini? Akupun membuka pintu. Ternyata dua namja yang memakai jas hitam, celana hitam, dasi hitam, dan kemeja hitam, bahkan berkacamata hitam. Namja pertama sedikit cool, namja kedua berbibir tebal. Namja sedikit cool bertanya padaku, “Mianhae, apa benar ini apartemen Kim Hyerin?”
“Ne, naega Kim Hyerin. Nuguseyo?”
“Maaf nona Kim Hyerin, kau harus ikut kami,” kata namja bibir tebal. Lalu menarik paksa tanganku keluar apartemen. Aku memberontak, “Ya! Apa-apaan kau ini!? Kenapa menarik tanganku hah!? Kalian ini siapa!?”
“Mian, tapi kami berdua disuruh oleh sajangnim kami,” jawab namja bibir tebal itu. Aku tetap memberontak, memaksa agar mereka melepas kedua tanganku. Tiba-tiba handphoneku yang kusimpan di dalam kantong celanaku berdering. “Yoboseyo?”
“Kau sudah membuka pintunya?”
“Ne, ada dua namja tidak jelas dan serba hitam.”
“Ne. Turuti apa perintah mereka.”
“Mwo? Tetapi mereka siapa? Dan kau? Kau ini juga siapa? Nugu!?”
“Aku ini sajangnim mereka. Namaku Choi Siwon.”
“Choi… Choi siapa!? Hei, halo!” Dan telepon ditutup. Aishh! Aku menoleh ke arah dua namja serba hitam itu, “Jadi? Sajangnimmu itu tuan Choi?”
“Ne, sajangnim kami adalah Choi Siwon-ssi,” jawab namja sedikit cool. “Dia menugaskan kami untuk membawamu.”
“Membawaku? Buat apa!?” Aku semakin bingung. Kemudian namja bibir tebal memegang tangan kananku yang memegang handphone, “Sudahlah, nanti di mobil kami jelaskan. Ini urusan penting! Arasseo?”
Dengan terpaksa aku mengangguk, “Ara. Tunggu! Aku harus mengunci pintu aparetemenku dulu, oke?”
“Ppali!”
Aku menghela napas. Mimpi buruk apa aku semalam sampai harus bertemu dua namja serba hitam layaknya agen dalam Men in Black. Hah, semalam aku tidak bermimpi bertemu Will Smith dan temannya untuk membasmi alien kok. Ah, persetanlah. Aku masuk apartemenku mengambil kunci lalu keluar mengunci pintunya dan kembali menghampiri dua namja itu. Namja bibir tebal siap memegang tanganku, aku langsung mengelak, “Tidak perlu! Aku akan mengikuti kalian!”
Sampailah kami di luar apartemen. Terdapat sedan hitam disana. Aku dibawa masuk oleh mereka di belakang supir. Sementara namja bibir tebal di sebelah supir, namja sedikit cool berada di sebelahku.
*****
“Sebenarnya kenapa aku dibawa oleh kalian!? Siapa kalian? Dan kenapa sajangnim kalian si Choi itu menyuruh kalian membawaku?” kataku yang memulai pembicaraan.
Namja sedikit cool itu menarik napas, dan bicara, “Oke, sebelumnya, mianhae. Namaku Lee Donghae.” Dia akhirnya membuka kacamata hitamnya, ternyata wajah aslinya seperti bayi. Ah masih tampan dan imut namja chinguku si Sungmin oppa, pikirku. “Dan yang di sebelah supir itu namanya Lee Hyukjae.” Ooh, ternyata namja yang menarik tanganku pertama kali dan berbibir tebal itu Hyukjae namanya. Lalu namja yang bernama Hyukjae itu menoleh ke belakang, “Ne, aku Hyukjae. Tapi panggil saja Eunhyuk.”
“Oke, lalu, apa tujuan kalian membawaku?”
Donghae menunjukkan sebuah tanda pengenal padaku, “Kami dari kepolisian Korea Selatan bagian intel. Kami berdua tidak tahu kenapa Siwon-sajangnim menyuruh kami membawamu. Tapi katanya, kau ada kaitannya dengan hal ini.”
Aku semakin bingung, “Hal apa?” Tetapi mereka berdua diam.
Hah daripada menunggu jawaban yang belum tentu mereka jawab lebih baik aku bermain Angry Birds saja di handphoneku.
*****
Mobil pun berhenti di depan sebuah gedung.
“Sudah sampai,” kata Donghae padaku. “Kaja! Kita keluar.” Aku menuruti saja perintahnya. Eunhyuk juga keluar, lalu mobilnya pergi saat kami bertiga sudah keluar.
“Ikut kami,” kata Donghae. Akupun mengikuti Donghae dan Eunhyuk yang berjalan memasuki suatu tempat. Ternyata sebuah apartemen yang sedikit lebih mewah daripada apartemenku. Kami bertiga lalu masuk ke dalam lift. Eunhyuk memencet tombol nomor 8, berarti kita menuju lantai delapan.
“Hyerin-ssi, kurasa lebih baik kalau kau memakai ini,” kata Donghae sambil melepas jas hitamnya. Aku yang hanya memakai T-Shirt hijau kebesaran bingung, “Kenapa aku harus pakai ini?”
“Sudahlah, untuk keamanan.”
Dengan terpaksa aku menerimanya dan memakainya.
Tombol nomor 8 mati. Pintu lift terbuka. Tibalah kami di lantai delapan. Aku memakai jas hitam milik Donghae. Kami bertiga berjalan menuju sebuah ruangan.
“Fuhh… aman. Disini sepi,” kata Eunhyuk. Tetapi Donghae tetap mengisyaratkan untuk diam. Aku semakin bingung. Dan tibalah kami di depan pintu nomor 824. Donghae mengambil kunci lalu membuka pintunya. “Ayo, kita masuk,” kata Donghae. Aku menurut saja. Setelah kami bertiga masuk Donghae mengunci pintunya kembali.
Sepi, tidak ada orang, itu kesan pertamaku. Seperti ruangan yang tidak pernah dipakai saja. Aku menjadi bingung, “Hei, kenapa kalian mengajakku ke tempat seperti ini?” Tiba-tiba terlintas di pikiranku: Sungmin. Yah, mungkin saja Sungmin tiba-tiba memberiku kejutan. Tetapi aku tidak terlalu berharap.
“Aah, sebenarnya bukan disini, nona. Hyuk, tarik talinya,” kata Donghae ke Eunhyuk sambil menunjuk ke atap dan terdapat tali tambang yang cukup panjang. Eunhyuk langsung menarik talinya dengan keras lalu atap tembok itu hancur seketika dan muncullah sebuah tangga tali yang panjangnya sampai lantai.
“Nona Hyerin, kau bisa naik tangga ini kan?” tanya Donghae. Aku mengangguk. Haha, menaiki tangga seperti ini mah pekerjaan kecil bagiku, memanjat pagar tinggi saja aku bisa.
“Kalau begitu kau naik duluan,” kata Donghae. Untung saja aku pakai celana dan sepatu. Kalau pakai rok bisa mati aku. Dengan cepat aku langsung menaiki tangga tali itu sampai ujungnya.
“Omo! Cepat juga dia memanjatnya!” ujar Eunhyuk dari bawah.
Akhirnya aku sampai di sebuah ruangan. Karena ujung tali ini memang di tempat ini. Sepertinya ini satu lantai di atas tempatku dan dua namja tadi. Aku melihat sekeliling. Rak buku. Kenaa semua rak buku? Sebenarnya ada apa sih aku dibawa kesini? Lalu Donghae dan Eunhyuk menyusul.
“Kenapa kalian membawaku kesini?” tanyaku yang semakin bingung.
“Ah Hyerin-ssi, sebenarnya bukan disini,” kata Eunhyuk. “Ikut kami.” Akupun mengikuti mereka berdua. Donghae membuka pintu. Dan tibalah kami di ruangan yang berbeda. Di depan pintu kami disambut oleh seorang namja yang kelihatannya seumuran denganku, tinggi, dan badannya kekar. Dia memakai kemeja putih dan celana hitam.
“Apa kau nona Kim Hyerin?” tanya namja itu dengan sopan. Aku mengangguk, “Ne, aku Kim Hyerin. Mianhae, nuguseyo?”
“Oh iya, Choi Siwon imnida. Aku yang menelponmu tadi,” jawab Siwon.
“Ada apa kau menelponku?” tanyaku. Siwon hanya tersenyum sambil mengisyaratnkanku agar mengikutinya.
“Sajangnim?” kata Eunhyuk. “Oh ya, kau, Donghae, Eunhyuk, jaga di luar. Sepertinya masih banyak wartawan yang berusaha memasuki kamar ini. Padahal mereka sudah kuberi kesempatan mengambil foto. Kalian jaga di arah yang berbeda. Ah, lebih aman lewat lantai bawah saja,” perintah Siwon pada Eunhyuk dan Donghae. Mereka berdua hanya menghembuskan napas lalu kembali ke ruangan yang penuh rak buku itu.
“Hyerin-ssi, kaja!” kata Siwon mengajakku. Aku hanya menurutinya. Dan semakin bingung. Kali ini pikiranku tentang Sungmin yang memberi kejutan padaku menjadi hilang. Siwon membawaku ke sebuah ruangan. Ia membuka pintunya. Aku melihat ada apa di dalam ruangan itu.
Omo! Ternyata memang bukan kejutan dari Sungmin sama sekali. Aku hanya menutup mulut saat melihatnya.
Sebuah mayat, tergeletak, dan itu mayat yang baru saja kulihat di televisi…
…Kim Heechul… ya, itu mayat Kim Heechul. Dan di sampingnya terdapat seseorang, mungkin seorang peneliti atau ahli forensik, atau apalah itu. Dia membelakangi kami berdua. Tetapi sepertinya aku pernah melihat orang itu.
“OMO!!!” teriakku kaget. “Jadi, kau mengundangku karena ini, Choi Siwon-ssi!?”
Siwon mengangguk sambil tersenyum, “Ne, maka dari itu aku menelponmu dan bertanya apa kau menonton kasus ini di berita.”
Aku semakin bingung, “Lalu, kenapa kau harus memanggilku?”
Siwon hanya tersenyum, lalu berkata, “Kau Kim Hyerin kan? Dari bagian persandian Badan Intelejen Korea Selatan? Yang mencari kerja sampingan lain sebagai tukang cuci piring di restoran Beer n Chicken milik Shin Dong Hee di daerah Ilsan?”
Mataku melebar, kaget. Kenapa dia bisa berkata ini padaku, “Kau… kau… darimana kau tahu identitasku?”
Siwon hanya tersenyum, “Hah, mudah saja. Aku ini kan kepala intelejen kepolisian Seoul. Lalu saat ada kasus ini, kami kebingungan karena ada sesuatu yang tidak bisa kami pecahkan. Lalu datanglah Jungsoo hyung dari bagian persandian yang ‘tak-kelihatan’ ke kantorku memberi nomor telepon, setelah kuhubungi, ternyata itu nomor teleponmu.”
Aku menganga sesaat, lalu menyeringai, “Jadi…”
“Ini tugasmu, Kim Hyerin,” sela orang yang sejak tadi menatap mayat Heechul dan membelakangi kami. Orang itu menoleh, dan ternyata…
“…Leeteuk-sajangnim?”
Dia hanya mengangguk sambil tersenyum, “Ne, ini tugasmu, Kim Hyerin. Kali ini giliranmu yang bertugas.” Leeteuk, atau Park Jungsoo, adalah atasanku. Dia adalah kepala bagian persandian di kantorku.
“Jinjja?” tanyaku masih bingung. Leeteuk mengangguk, “Ne. Selamat datang kembali, Kim Hyerin.” Akhirnya, setelah satu setengah tahun menganggur karena tidak ada kerjaan di bagian ini dan harus mencari kerja sampingan di restoran milik Shindong-ssi, aku kembali ke pekerjaan-tak-kelihatan ini. Aku tersenyum sendiri. Saat kulihat kembali mayat Kim Heechul yang ternyata disiksa cukup sadis oleh pembunuhnya, beberapa sayatan, tusukan, aku melihat sesuatu yang mengejutkan dan menjijikkan.
“Kenapa mata kanannya tidak ada?”
ada apa selanjutnya………….????? ditunggu lanjutannya…………………
lanjut chinguuu…
kerenn n bikin penasarann..
jangan lama2 ya lanjutannya
Sabar, sabar ntar kebagian kok (sembako kale)
keren,,,
penasaran,,,,,
smangat chingu,,,, *____*
Keren.. Part selanjutnya ditunggu yah! Fighting!
thor mnta link blog pribadi
author .___.V
thor mnta link blog pribadi author .___.V
http://hkrratna.blogspot.com ama http://aweirdfanfic.wordpress.com gomawo yang udah baca, moga dapet pahala ya hehe tunggu cerita selanjutnya
asyiik nih..
DD
kayak kenal nih bocah deh
Ada apa selanjutnya yaaa???
Lanjut cepetan yaaa
wah keren nih ffnya…
kayak forensik gitu yah # sok tw…
lanjut thor, suka ma cerita ff ini…
cepet2 dipost lanjutannya…
penasaran nih…
wah jangan” yang ngebunuh heechul sungmin lagii?
aku sukaaa, alurnya bagus chinguu. lanjutiin yaa
Lajutannya apa yaaAaa???????
Mkin penasaran aja nih
Wuahh~ kereeennnn nihh ceritanya,,, berhasil bikin penasaran…
Di lanjut yahh… ^^
tag tunggu lanjutannya…
wuooo, daebak… o.O