White Lily [Sequel of Because I Miss You]

Writer: @shvla731 changed to @shvla3124

 

“Tuan memanggil saya?”

“Ne, aku punya tugas untukmu. kau punya waktu tujuh hari untuk menyelesaikannya”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Buat dia tersenyum”

“Ne?”

“Yang benar saja, kau membuatnya kehilangan senyuman selama 2 tahun”

“Aku pasti akan membuatnya tersenyum dan bahagia”

***

Hyemi berjalan mendekati pintu di ujung ruangan. Ia mengetuk beberapa kali namun tak juga ada jawaban. Youngra yang baru tiba melihatnya,

“Kau mencari tuan Song?” tanya Youngra lalu berdiri berhadapan. Hyemi mengangguk kecil, “tuan Song sedang meeting dengan investor di Hallyu restaurant. Tapi sepertinya dia tidak akan kembali ke kantor karena dia akan langsung terbang ke Beijing.” Hyemi tampak berpikir dan kecewa, “apa yang ingin kau sampaikan?”

“Naskah novelku” Hyemi mengacungkan sebuah CD.

“Oh, benarkah? Kalau begitu kau cepat ke Hallyu restaurant. Aku akan meneleponnya agar menunggumu.” Youngra mendorong Hyemi keluar dari ruangan itu. “akhirnya, setelah dua tahun” Youngra tersenyum amat bahagia sementara Hyemi sudah keluar dari ruangan.

Hyemi berlari kecil menuju tempat parkir. Mobil ungunya melaju di jalanan yang cukup padat. Untung saja Hallyu restaurant tidak terlalu jauh dari kantornya sehingga tak butuh waktu lama untuk mencapainya.

Ketika Hyemi memasuki restaurant, ternyata tuan Song sudah menunggunya. Tuan Song duduk di meja dengan dua kursi di sisi jendela sehingga ia bisa melihat ke luar.

“Maaf menunggu” Hyemi membungkuk hormat.

“Duduklah,” tuang Song mempersilakan lalu Hyemi duduk di hadapannya. “Kau ingin menyerahkan naskah novelmu?” Hyemi mengangguk dan menyodorkan sebuah CD pada atasannya itu.

“Mohon bantuannya”

“Mungkin aku akan berada di Beijing selama tiga hari kedepan dan jadwalku sangat padat. Akan kusempatkan untuk membacanya secepat mungkin.”

Tuan Song menarik nafas sejenak lalu melempar pandangannya ke luar jendela. Ia nampak terkejut sesaat lalu ekspresinya kembali tenang. Entah apa yang ia pandangi di luar sana, namun tiba- tiba ia tersenyum sumringah.

“Sudah dua tahun kan?” Hyemi nampak sedikit terkejut dengan pertanyaan tuan Song. Ia mendongak sebentar lalu akhirnya kembali menunduk. Mereka terdiam cukup lama, merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan Hyemi beranjak berdiri.

“Saya permisi kalau begitu.” Hyemi membungkuk lalu berjalan menjauh.

“Akhirnya dia kembali.” Gumam tuan Song pelan dan tidak terdengar oleh Hyemi yang kini sudah keluar dari pintu restaurant.

Semenjak hilangnya Leeteuk akibat kecelakaan dua tahun lalu, Hyemi memang sempat vakum. Ia sama sekali tidak memiliki minat untuk menulis. Bukan hanya minat untuk menulis, tapi juga minat untuk tersenyum. Semua orang yang berada di dekat Hyemi sangat merasakan kehilangan itu, mereka kehilangan senyuman Hyemi. Senyuman yang juga dapat menampakkan kedua lesung di pipi yeoja itu.

Ini tentang rasa bersalah, Hyemi merasa sangat bersalah karena telah salah paham pada suaminya sendiri bahkan tak mempercayai perkataan suaminya. Dan pada akhirnya hal itu justru membuat Leeteuk pergi meninggalkannya sampai saat ini. Pergi dengan cara yang sangat sulit ia terima. Yang dapat ia lakukan sekarang adalah menunggu suaminya kembali sambil berusaha menekan perasaan agar tak mengeluarkan air mata sebagaimana Leeteuk katakan, ia tak suka melihat Hyemi menangis.

***

Youngra berjalan mendekati meja kerja Hyemi sambil membawa secangkir kopi di tangan kanan dan sekeping CD di tangan kiri. Hyemi terlihat asyik mengerjakan sesuatu di komputer, pandangannya amat serius tak lepas dari layar komputer di hadapannya. Youngra menyodorkan CD di tangan kirinya, membuat Hyemi mendongak sejenak untuk melihat pemilik dari tangan yang memberinya CD.

“Tugas baru untukmu.” Kata Youngra lalu menyeruput kopinya.

Hyemi meraih kepingan CD yang diberikan Youngra. Mengamatinya sejenak lalu memasukkan CD itu kedalam tasnya. Youngra berjalan ke tepi jendela tak jauh dari tempat duduk Hyemi. Rekan kerja Hyemi itu memandang keluar jendela yang langsung mengarah ke jalan raya.

“Aku dengar penulisnya seorang pecinta bunga.” Kata Youngra lagi. Hyemi sedikit tersentak mendengar penuturan dari Youngra.

Youngra mengalihkan pandangannya ke arah Hyemi yang sedang mengemasi barang. “Kau sudah mau pulang?” Hyemi menghentikan aktifitasnya.

“Sudah lama bukan aku tak tergesa- gesa pulang seperti ini?” Hyemi memandang Youngra sejenak lalu kembali mengemasi barangnya.

Sementara itu Youngra melemparkan pandangannya kembali ke luar jendela. Matanya tertuju pada sesosok yang tengah keluar dari sebuah kedai kopi di sebrang jalan. Tiba- tiba senyum Youngra mengembang. Hyemi telah selesai mengemasi barangnya dan beranjak hendak meninggalkan Youngra.

“Hyemi-ah, bersenang senanglah” teriak Youngra pada Hyemi yang mulai meraih gagang pintu untuk keluar.

Setelah keluar dari pintu utama, Hyemi berlari menghampiri mobil ungunya. Dengan kecepatan sedang ia kendarai mobilnya itu ke sebuah toko bunga. Tak butuh waktu lama, mobil Hyemi berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan papan bertuliskan “FLORIST” diatas pintunya. Hyemi membuka pintu kacanya,

“Annyeonghaseyo” sapa Hyemi dengan suara yang sedikit lebih keras dari nada normalnya.

Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya keluar dari sebuah pintu di hadapan Hyemi. Seperti biasa, wanita itu menggunakan dress panjang dengan motif bunga. Kali ini motifnya adalah bunga ester. Wanita itu tersenyum ramah, Hyemi membalasnya dengan membungkuk.

“Gaun ahjumma sangat cantik” kata Hyemi basa basi. Wanita itu tersenyum semakin lebar.

“Hari ini tepat 7 tahun suamiku meninggal, karena itu aku menggunakan gaun ini. Kau tau apa arti bunga ester?” Hyemi menggeleng pelan, “bunga ini seakan berkata ‘aku tidak akan melupakanmu’” kata wanita itu lantas tersenyum.

Namun bagi Hyemi ada sengatan tersendiri dalam hatinya.

“Oh, sudahlah akan kuambilkan dulu bungamu” wanita itu lalu kembali masuk ke pintu yang sama dengan pintu saat ia keluar.

Sementara Hyemi masih tertegun. Bayangan jajaran bunga ester yang menghiasi halaman rumahnya berkelebat di otaknya.

“Ini bungamu, lily putih” wanita yang sudah kembali ke hadapan Hyemi menyerahkan 5 tangkai lily putih pada Hyemi. Tanpa lupa menyerahkan beberapa lembar won pada wanita itu, Hyemi meninggalkan toko bunga itu.

Mobil ungu Hyemi memasuki garasi di sisi samping rumahnya. Hyemi berjalan mendekati anak tangga teras rumahnya, lalu pandangannya tertuju pada jejeran bunga ester tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia menunduk untuk dapat meraih kelopak bunga ester itu. Ia belai lembut kelopak bunga itu,

“Aku tidak akan melupakanmu, oppa” gumam Hyemi pelan.

Hyemi menghela nafas berat lalu mulai menaiki satu per satu anak tangga. Ia putar kenop pintu, pandangannya langsung tertuju pada bingkai foto yang memajang gambar dirinya dan Leeteuk. Ia pandangi bingkai itu cukup lama lalu segera menuju kamarnya di lantai atas. Dengan cekatan Hyemi mengganti 5 tangkai lily putih dalam vas di samping tempat tidurnya dengan 5 tangkai lily putih yang baru ia beli.

***

Pintu di ujung ruangan itu terbuka.

“Hyemi, tolong ke ruanganku” kata tuan Song menginstruksi.

Hyemi yang tengah disibukkan dengan pekerjaannya di komputer menghentikan kegiatannya. Ia saling berpandangan dengan Youngra sejenak lalu segera beranjak menuju ruangan tuan Song.

Hyemi duduk di hadapan tuan Song yang sedang mengamati sebuah map yang cukup tebal. Lalu ia mengambil salah satu lembaran dari map itu dan menyodorkannya tepat di hadapan Hyemi.

“Ini…” Hyemi memandang bingung atasannya itu, “ini surat acc untuk novelmu” Hyemi sedikit terkejut lalu segera mengambil kertas itu dari tangan tuan Song dan membacanya sekilas.

Hyemi bangkit dari duduknya lalu membungkuk berualang kali pada tuang Song.

“Gamsahamnida.. gamsahamnida” tuan Song hanya mengangguk.

“Cepat serahkan pada Youngra agar dapat segera diproses”Hyemi mengangguk kecil lalu beranjak dari hadapan tuan Song.

Ketika Hyemi mulai menyentuh kenop pintu dan hendak memutarnya,

“Hyemi..” sergah tuan Song sebelum Hyemi keluar dari ruangannya. Yeoja itu kembali berbalik, “setelah kau keluar dari restaurant hari itu, Leeteuk-ssi suamimu menemuiku. Ia memintaku untuk memberikan keputusan atas hasil karyamu karena katanya ia sangat ingin novelmu kali ini diterbitkan. Karena permintaannya itulah aku segera membaca draftmu dan aku memutuskan untuk menerbitkannya. Jadi aku rasa kau harus segera memberitahu suami sekarang.” tuan Song lantas tersenyum.

Apa yang di dengarnya membuat jantung Hyemi berpacu cepat. Ia tidak tau apa yang sedang dibicarakan tuan Song. Apa maksudnya ini? Leeteuk-ssi? Suaminya? Bukankah ia menghilang sejak kecelakaan itu dan tidak kembali. Bahkan sampai detik ini ia masih sangat merindukan suaminya itu dan ia masih merasakan ada ruang kosong dalam hatinya.

Masih dengan kebingungannya setelah keluar dari ruangan tuan Song, Youngra segera menyambutnya dengan teriakan yang sangat mengganggu indera pendengarannya.

“Ya! Cheon Hyemi, novelmu akan segera diterbitkan kan? Iya kan?” kebiasaan yang tak pernah hilang, gadis itu memang suka sekali menguping pembicaraan orang. Hyemi menjawabnya dengan anggukan kecil.

“Aku pastikan kita akan merayakannya. Ya! Hyemi-ah aku menyayangimu” Youngra memeluk erat tubuh Hyemi sementara Hyemi hanya diam karena diliputi kebingungan akibat perkataan tuan Song.

Benar saja esok paginya ketika Hyemi sedang serius menekuni komputernya, Youngra menghampirinya dengan tergesa gesa lalu segera menariknya keluar dari kantor.

“Kita mau kemana Youngra? Sekarang masih jam kerja”

“Diamlah dan ikuti saja” Young mempererat pegangan tangannya di pergelangan Hyemi lalu menarik Hyemi menuju tempat parkir mobil Youngra.

Youngra mendorong Hyemi untuk segera memasuki mobilnya sementara ia duduk di belakang kemudi. Dengan kecepatan yang cukup cepat mobil Youngra menuju ke pusat kota Seoul. Tak berapa lama, mobil silver metalik itu berhenti tepat di depan sebuah cafe yang sangat mereka kenal. Ya, cafe itu tak jauh dari sekolah mereka dulu.

“Kenapa kita ke sini?” Hyemi memutar pandangannya ke setiap sudut. Tidak banyak yang berubah sejak masa sekolah dulu. Cafe ini masih mempertahankan gaya klasiknya.

Tanpa banyak bicara, Youngra kembali menarik Hyemi untuk mengkutinya memasuki cafe itu. Begitu pintu cafe terbuka, suara sorakan gembira segera menyambut Hyemi dan Youngra.

“Chukkhae Hyemi-ah”

“Ya! Hyemi-ah bogoshipo”

“Uri Hyemi daebak”

Hyemi mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan itu. Semua orang dalam pandangan matanya adalah kawan kawannya semasa sekolah. mereka semua benar benar berkumpul di tempat itu setelah lama tidak bertemu.

Sejak menikah dengan Leeteuk, pergaulan Hyemi memang sangat terbatas. Bagaimanapun, sedikit perilakunya dapat turut mempengaruhi Leeteuk. Tapi Hyemi tidak terpaksa melakukannya, ia sudah sangat mengerti bahwa itu adalah konsekuensi yang harus ia tanggung begitu memutuskan menikah dengan Leeteuk. Baginya, cinta pada Leeteuk dapat mengalahkan apapun.

“Hyemi-ah bogoshipoyo” Hana salah satu teman Hyemi mendekatinya lalu memeluknya erat.

“Nado bogoshipo” jawab Hyemi dalam pelukan mereka.

“Hyemi-ah, kami di sini untuk merayakan novelmu yang akan segera diterbitkan” kata salah seorang temannya yang lain.

Hingga malam tiba, Hyemi dan teman- temannya menikmati pesta itu. Mereka bercengkrama layaknya sahabat yang telah lama tak berjumpa. Pesta itu sangat membahagiakan untuk Hyemi, namun itu tak merubah suasana hati yang sudah 2 tahun meliputinya. Ia masih saja meresa ada yang kosong tanpa kehadiran Leeteuk.

Begitu pesta berakhir, Youngra mengantarkan Hyemi sampai tepat di depan rumah.

“Gomapta Youngra-ah” Hyemi sedikit membungkuk pada Youngra di sampingnya.

“Cheonma” jawab Youngra singkat.

Hyemi membuka pintu di sisinya lalu keluar dari mobil Youngra melangkah memasuki rumah. Namun belum sempat Hyemi membuka pagar, Youngra kembali memanggilnya,

“Hyemi-ah” Hyemi menoleh pada Youngra yang masih berapa di dalam mobil. “Pesta, teman- teman, cafe, semuanya adalah rencana suamimu. Dia menyiapkan segalanya lalu memintaku mengaturnya dengan baik agar kau bahagia. Dia merindukan senyumanmu Hyemi-ah. Aku tidak tau apalagi yang membuatmu sedih. Suamimu sudah kembali tapi kau sama sekali tak menampakkan senyumanmu bahkan dengan pesta itu.” Hyemi memandangi Youngra dengan bingung.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan” kata Hyemi pelan, bahkan terlalu pelan untuk mampir di telinga Youngra.

“Pikirkan kata- kataku Hyemi” Youngra tersenyum kecil lalu segera menginjak gas meninggalkan Hyemi yang masih mematung dalam bingung.

Sekarang Hyemi benar benar tidak mengerti. bukan hanya tuan Song, bahkan Youngra bilang mereka bertemu dengan Leeteuk. Apa yang sebenarnya mereka katakan? Sampai detik ini rumah masih sangat sepi karena tidak ada Leeteuk. Hyemi pun belum dapat tersenyum kembali karena perasaan kehilangan yang teramat sangat. Dia belum menemukan Leeteuknya. Leeteuknya belum kembali sejak dua tahun lalu.

***

“Waktumu tinggal besok”

“Aku sudah melakukan semuanya namun tetap saja tidak berhasil”

“Aku tidak mau tau itu”

“Dia tidak dapat melihatku”

“Itu tantangannya”

“Ini tidak akan pernah berhasil”

“Dengarkan aku dan ingat baik- baik, Kau adalah cinta sejatinya”

“Izinkan aku bicara dengannya sekali saja”

“Bahkan kalian dapat saling memahami tanpa kata- kata”

***

Hyemi menghirup wangi kopi di cangkirnya lalu menyeruput perlahan. Ia letakkan tepat di samping laptopnya. Sore itu sepulang kerja, Hyemi mengunjungi kedai kopi favoritnya dan Leeteuk. Sudah lama tidak menikmati seduhan kopi khas kedai ini.

Tadi Yesung oppa meneleponnya karena ingin membicarakan sesuatu dan ingin bertemu dengannya. Hyemi cukup dekat dengan Yesung oppa, dia salah satu sunbaenya saat high school. dan dia adalah orang yang tepat untuk berbagi cerita. Bukan, bukan Hyemi yang suka berbagi cerita dengan Yesung tapi Leeteuk suaminya. Karena Hyemi lebih suka memendam perasaannya sendiri. Orang yang ia percaya untuk berbagai cerita hanyalah eomma dan Leeteuk. Setelah eomma meninggal otomatis hanya Leeteuklah tempatnya berbagi cerita. Dan Hyemi sangat yakin bahwa suatu saat nanti suaminya itu akan kembali.

Ia duduk di meja dengan dua kursi yang menghadap ke sisi luar kedai. Kaca- kaca transparan membuatnya dapat melihat ke arah luar. Jalanan tidak begitu ramai dan tidak banyak orang berlalu lalang. Kedai itu memang cukup jauh dari pusat kota.

Tanpa ia tau, sesosok namja tengah duduk di hadapannya sambil memandanginya intens. Namja itu adalah Leeteuk, suaminya. Sayang sekali ia tak dapat melihat sosok di hadapannya itu.

“Chagiya, apa yang harus oppa lakukan? Kenapa kau benar benar tak bisa lagi tersenyum? Bagaimana kalau oppa  tak bisa kembali padamu? Apa kau akan terus hidup seperti ini?” Leeteuk membelai lembut pipi yeoja di hadapannya. Yeoja yang begitu ia rindukan. “Walaupun oppa juga tak yakin dapat hidup tanpamu, tapi kau tak boleh begini. kau harus tetap bahagia tanpa oppa, kau percaya kan kalau oppa sangat mencintaimu?”

Hyemi menghembuskan nafas berat lalu melempar pandangan ke luar jendela. Memorinya terus memutar gambar kebersamaan dengan Leeteuk.

“Oppa pun sangat merindukanmu, oppa tersiksa tanpamu. Karena itu oppa mohon tersenyumlah, karena hanya senyumanmu yang bisa membuat oppa kembali dapat memelukmu. Saranghaeyo chagiya” Leeteuk kembali membelai pipi Hyemi dengan lembut.

Tiba- tiba ponsel Hyemi berdering, nampaknya ada sms yang masuk. Hyemi merogoh tasnya mengambil ponsel dan segera membaca sms yang masuk. Ternyata sms dari yesung.

From: Kim Jong Woon

To: You

Mianhae mendadak aku tidak dapat menemuimu. Mungkin lain kali. Bersenang senanglah.

 

Hyemi menjawabnya singkat,

To: Kim Jong Woon

From: You

Gwenchana oppa. Kau juga bersenang senanglah.

 

Hyemi hendak mengembalikan ponselnya ke dalam tas, matanya menangkap sekeping CD yang asing untuknya. Hyemi meraih kepingan CD itu lalu mengamatinya sejenak. Ah iya, ia baru ingat itu adalah novel baru yang harus ia edit. Youngra memberikan CD itu padanya beberapa hari lalu dan Youngra bilang penulisnya seorang pecinta bunga.

Kepingan CD itu dimasukkan ke dalam CD-ROOM laptop.

“Tulip putih, lambang kesempurnaan cinta” gumam Hyemi membaca baris pertama novel itu. Leeteuk tertarik dengan kalimat yang digumamkan Hyemi.

Tangan Hyemi dengan cekatan menuju halaman selanjutnya dan matanya mencari cari esai mengenai penulisnya. Dapat, ia mendapatkan nomor telepon si penulis. Hyemi merogoh tasnya untuk mengambil ponsel lalu memasukkan beberapa angka.

“Yoboseyo” sapa Hyemi lebih dulu begitu teleponnya dijawab. “Mm, Cheon Hyemi imnida. Saya editor novel anda yang akan segera diterbitkan.” Hyemi diam sejenak sementara orang di sebrang berbicara “Aniya, tidak ada masalah. Saya hanya ingin menanyakan tentang arti sebuah bunga. Ne, mmm, lily putih?” Hyemi menyimak baik penjelasan orang di sebrang lalu tiba- tiba mata Hyemi membulat terkejut. “Ne, gamsahamnida.” Hyemi memutuskan sambungan telepon.

Yeoja itu menangkupkan telapak tangannya ke muka dan menghela nafas berat. Sementara itu, lagi lagi tanpa dapat ia lihat, Leeteuk beranjak dari hadapan Hyemi. Entah pergi kemana, yang jelas namja itu keluar dari restaurant dengan tergesa gesa.

Karena Yesung batal menemuinya, Hyemi memutuskan untuk pulang.

Kini yeoja itu tengah memasak di dapur dengan interior yang didominasi warna ungu- putih seperti ruangan ruangan lain di rumahnya. Saat itu Leeteuk memasuki dapur dan duduk di meja makan tak jauh dari Hyemi. Ia memandangi punggung Hyemi dengan tatapan iba. Lagu Walkin dari super junior mengalun pelan dari ponselnya di meja makan. Hyemi menghentikan aktifitas memasaknya untuk menerima telepon.

“Yoboseyo” sapa Hyemi lebih dulu.

“Hyemi-ah maaf tadi aku tidak sempat meneleponmu dan hanya mengirim sms.” Ternyata telepon dari Yesung oppa “sebenarnya tadi aku sudah ke kedai itu tapi aku melihatmu sedang berbicara serius dengan Leeteuk hyung”

“Apa? Aku tidak mengerti”

“Iya, namja yang duduk di hadapanmu? Leeteuk hyung kan? Jadi dia sudah kembali?”

“Oppa, aku sibuk. Maafkan aku.” Hyemi memutus sambungan teleponnya.

Leeteuk dapat melihat perubahan di wajah istrinya itu. Hyemi kembali ke pekerjaannya, ia mengalihkan perasaannya dengan kembali memasak. Dan leeteuk masih memandangi punggung Hyemi dengan semakin iba. Ia terkejut ketika tiba- tiba Hyemi meletakkan pisaunya kasar, punggung Hyemi pun nampak berguncang.

“Aku sudah mencobanya oppa, aku sudah mencobanya dan aku berhasil selama dua tahun ini” kata Hyemi disela tangisnya. Leeteuk beranjak mendekati Hyemi, ia berdiri tepat di belakang Hyemi.

“Hyemi-ah” Leeteuk membelai lembut rambut hitam sebahu milih Hyemi.

“Aku tidak lagi menangis dua tahun ini tapi sekarang aku benar benar tidak bisa menahannya. Aku menangis lagi oppa, maafkan aku” tangis Hyemi semakain menjadi.

Bahunya bergunjang dan Leeteuk tak sanggup melihatnya.  Leeteuk mendekap tubuh Hyemi walaupun tak dapat dirasakan oleh istrinya itu.

“Apa oppa benar benar telah kembali? Yesung oppa, Youngra, bahkan tuan Song bisa melihat oppa tapi kenapa aku tidak? Padahal oppa ada di hadapanku kenapa aku tidak bisa melihat oppa?” Hyemi berusaha menahan air matanya namun lagi lagi gagal “sekalipun oppa kembali sebagai hantu ataupun malaikat tidak masalah bagiku asalkan aku dapat melihat oppa. aku mohon, aku merindukanmu oppa”

Hyemi jatuh terduduk dan Leeteuk tak dapat menyanggahnya. “Aku minta maaf oppa, maafkan aku karena telah salah paham. Aku bodoh karena mudah cenburu, harusnya aku mendengarkan penjelasan oppa lebih dulu. Aku yang membuat oppa pergi, oppa adalah sumber kebahagiaanku, aku yang membuat kebahagiaan meninggalkanku. Aku yang bersalah oppa, aku minta maaf. Jika ini hukuman untukku, aku akan menerimanya tapi setidaknya aku ingin bertemu oppa sebentar saja untuk mengucapkan permintaan maafku.” Tangisan Hyemi semakin deras, Leeteuk hanya terdiam iba memandangi istrinya

***

Hyemi tertidur di samping Leeteuk, bekas aliran air mata masih terlihat jelas di sekitar matanya. Leeteuk duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil membelai lembut rambut Hyemi.

“Seharusnya kau tersenyum saat oppa ada di sini agar oppa bisa kembali. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah menangis seperti ini. kau tau? Sakit rasanya melihatmu seperti ini.”

Jemari Leeteuk menyusuri lekukan di wajah Hyemi dan mengusap pipi Hyemi.

“Sekarang apa aku bisa kembali?“ Leeteuk menerawang langit langit kamar “mungkin tak sepenuhnya salahmu, seharusnya aku jujur padamu tentang semuanya.” Leeteuk kembali memandang Hyemi yang tertidur setelah lelah menangis “atau mungkin kesalahanku karena memilih bunga lily putih”

Leeteuk mengambil setangkai bunga tulip putih dari balik punggungnya. Bunga yang sudah ia persiapkan.

“Selamat tinggal chagiya…. kau harus bahagia. Aku mohon.” Leeteuk mengarahkan pandangan ke jam duduk di meja sampingnya. Jarum panjang menunjuk angka 10, hampir tengah malam. “Sudah saatnya” gumam Leeteuk lalu bangkit dari duduknya beranjak dari tempat tidur. ia meletakkan setangkai bunga di samping Hyemi lalu tubunya berubah menjadi butiran debu dan menghilang.

Tak lama, Hyemi mengerjapkan mata dan terbangun sepertinya ia baru saja mendapat mimpi buruk. Ia meraih gelas berisi air mineral di meja lalu meneguknya segera. Tangannya meraba sisi tempat tidur di sampingnya, dan ia merasakan sebuah benda menyentuh kulit telapak tangannya. Setangkai tulip putih. Hyemi meraih bunga itu dan mengamatinya seksama. Ia merengkuh tulip putih dalam pelukannya lalu ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman yang telah lama tak pernah terlihat.

“Saranghaeyo oppa, saranghaeyo” senyuman Hyemi semakin merekah “aku tau kau datang untukku, aku tau”

***

Hyemi memarkir mobilnya di depan sebuah rumah kecil dengan papan bertuliskan “FLORIST”. Ia membuka pintu kacanya lalu masuk dengan hati- hati.

“Annyeonghaseyo” katanya sedikit keras. Berbeda dengan sebelumnya, seorang wanita yang ditaksir berumur 40 tahun keluar dari pintu di ujung ruangan.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya wanita itu ramah.

“Mmm, dimana nenek yang biasanya?” tanya Hyemi ragu ragu sambil mengamati wanita itu.

“Oh, eommaku, dia meninggal beberapa hari yang lalu.”

“Mwo? Keureyo? Aku turur berduka”

“Terima kasih” wanita itu tersenyum. “Agassi mau membeli bunga?” lanjut wanita itu.

“Mmm, lily putih?”

“Oh, apakah kau Hyemi-ssi?” Hyemi mengangguk mantap. “Eommaku menitipkan rangkaian bunga untuk diberikan padamu jika kau ke sini, tapi bukan lily putih.” Wanita itu terlihat bingung, terlebih Hyemi.

“Bukan lily putih? Lalu bunga apa?”

“Tulip putih.” Wanita itu diam sejenak “apakah kau punya waktu? Ada yang ingin aku ceritakan padamu” Hyemi bingung namun akhirnya ia mengangguk.

Wanita itu mengajak Hyemi masuk ke rumahnya, ke sebuah taman dengan hamparan bunga yang bewarna warni. Hyemi dan wanita itu duduk di sebuah bangku putih.

“Dua hari sebelum eomma meninggal, suamimu datang menemui eomma. Dia bertanya tentang arti bunga lilly putih. Sebenarnya, eommaku tak tau pasti apa arti bunga itu. Setelah mencari tau, ternyata bunga itu berari ‘cinta sejati yang diiringi kesedihan’. Eomma merasa bersalah padamu dan suamimu, lalu ia merekomendasikan bunga tulip putih” setelah bicara panjang lebar, wanita itu mengehela nafas sejenak “suamimu memesan rangkaian tulip putih untukmu” katanya sambil menatap Hyemi.

Jantung Hyemi berdegup cepat mendengar cerita wanita itu. Airmatanya sudah menggantung di pelupuk mata namun ia berusaha menahan perasaannya.

“Bisakah kau buatkan rangkaian bunga lily putih dan tulip putih untukku?”

“Lily putih?”

“Itu bunga kesukaan suamiku, aku tidak mungkin menggantinya begitu saja. Aku taku dia marah saat dia kembali dan tak melihat bunga itu di kamar kami.” Kata Hyemi lantas tersenyum, menyembunyikan perasaannya yang meluap luap.

“Baiklah, dengan senang hati.”

***

Hyemi bergegas meraih pintu depan ketika mendengar bel rumah berbunyi. Dengan gerakan cepat itu memutar kenop pintu. Begitu pintu terbuka, ia tak melihat seorangpun berdiri di depan pintu. Hyemi memandang bingung lalu memutuskan untuk menuju ujung teras. Betapa terkejutnya ia melihat sesorang berdiri tiba- tiba dihadapannya sambil membawa setangkai tulip putih.

“Leeteuk oppa…” gumam Hyemi pelan lalu sebuh senyuman terukir di bibirnya. Orang di hadapannya ikut tersenyum hangat.

“Apakah aku pernah bilang kalau aku sangat sangat menyukai senyumanmu?” Leeteuk segera meraih Hyemi dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya itu sangat erat. “Bogoshipoyo” ucap Leeteuk pelan namun cukup untuk sampai di telinga Hyemi.

“Nado, oppa. aku tau oppa akan kembali” Hyemi membalas pelukan Leeteuk.

Cukup lama mereka berpelukan sampai Hyemi melepasnya lebih dulu.

“Ada yang ingin kutunjukkan pada oppa.” Hyemi menraik tangan Leeteuk, memaksanya mengikuti masuk ke dalam rumah.

Mereka menaiki tangga menuju lantai atas dan sampai di kamar mereka. Hyemi mengambil rangkaian bunga di atas meja lalu menyodorkannya tepat di hadapan Leeteuk.

“Tulip putih…..”

“dan Lily putih” lanjut Hyemi cepat.

“Waeyo? Bukankah artinya tidak mengenakkan?”

“Aku harap kisah cinta kita, cukup kesedihan untuk membuatnya semakin sempurna.” Terang Hyemi lantas tersenyum, begitu pula dengan Leeteuk.

 

END

 

Leave a comment

10 Comments

  1. Mae jong woon

     /  June 28, 2012

    Nice story. .

    Reply
  2. Wiwik dian

     /  June 28, 2012

    Bagus ff nya….

    Reply
  3. inggarkichulsung

     /  June 28, 2012

    so sweet story, msh bingung sebetulnya Leeteuk oppa nya menghilang kemana? Tapi karena kesabaran Hyemi juga akhirnya Leeteuk oppa kembali lagi dan Hyemi tersenyum kembali.

    Reply
  4. Keren ceritanya , cuma bingung selama ini leeteuknya jadi hantu atau apa

    Reply
  5. Yesungmin

     /  June 28, 2012

    Aku bingung thor. Tapi ceritanya keren. Kesimpulanku saat membaca ff ini, berarti kalau mau Leeteuk kembali, Hyemi harus tersenyum?
    Berarti saat itu Leeteuk Oppa hilang dan tak nampak cuma dimata Hyemi? Dan orang-orang bisa melihatnya namun hanya Hyemi yg gak dapat melihat Leeteuk? Dan yang bisa mengembalikan ia menjadi manusia kembali, senyuman dari istrinya? O.o

    Reply
  6. so sweet, keren daah, sad happy, semuany lgkap, leeteuk jd hantu ya ? atau malaikat bisa ngilang kaya harry potter, sequel lg chingu, ttg after story mrka mgnai kembaliny leeteuk,

    Reply
  7. Kereenn tapi endingnya kurang greget euyy,, ada sequel kah? Keep writing thor! Fighting!

    Reply
  8. anhkyu

     /  June 29, 2012

    hmmmmmm,,,
    so sweet…
    ^^
    pie aq msh hran,,
    sbner’a knpa sieh hyemi gg bsa liat leeteuk ???
    msh pnsaran nieh,,
    da sequel gg thor????
    ada ya, ada donk!
    ^^
    keep writing yea thor!!

    Reply
  9. retha_chan

     /  June 29, 2012

    sedih tapi akhirnya happy ending

    Reply
  10. kereeen~
    tapi aku msh bingung, leeteuk jdi apaan sih? hantu?
    trus dia ke mana slma 2 tahun?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,882 other followers

%d bloggers like this: