[FF Of The Week] It’s Love

Title : It’s Love

Author : Siti Fajriani (SF)

Cast : Cho Kyuhyun, Shin Suji

Genre : Romance

Happy reading…..

*****

Shin Suji’s side :

Aku tersenyum senang menatap sosok tampan itu yang saat ini sedang berdiri dengan senyum penuh kemenangannya. Menjadi sorotan dari semua orang yang menatapnya dengan kagum, termasuk aku.

“Dia memang hebat, selalu membuat sekolah kita memenangkan olimpiade matematika.” Seru seorang yeoja yang berada tidak jauh dariku.

“Beruntung sekali bisa menjadi kekasihnya.” Sambung yeoja lainnya yang berambut panjang.

“Menjadi temannya saja sudah sangat beruntung apa lagi menjadi kekasihnya.” Ujar yeoja pertama.

“Dia namja sempurna, pintar, tampan, baik, dan sangat perhatian pada semua orang, yang lebih baik dari semua itu dia bukanlah orang yang sombong. Kyaaa! Kapan aku bisa mendapatkan namja seperti dia.” Teriak yeoja berambut panjang itu dengan histeris.

Aku tersenyum tipis melihat tingkah mereka yang seolah mengenal sosok tampan di depan panggung  itu yang memegang  sebuah piagam serta piala di genggaman tangannya yang berhasil dia dapatkan dari hasil olimpiade matematika tingkat nasional, yang akan membawanya menuju tingkat internasional dalam satu test lagi.

*****

“Kyuhyun-ah…” Panggilku pada namja di depanku yang saat ini sedang sibuk buku-buku tebal di hadapannya.

“Hmmm…” Ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku-buku yang dipenuhi dengan angka-angka. Sibuk dengan dunianya sendiri.

Aku langsung mengambil tempat di hadapannya menatapnya dengan lelah karena selalu mengabaikan kehadiranku.

Aku diam menatapnya, dia benar-benar tidak menganggapku ada. Apa artinya aku untuknya?

“Kau tidak lapar?” Tanyaku padanya yang masih sibuk dengan soal matematika itu karena dua bulan lagi dia memang akan kembali mengikuti test untuk bisa sampai ke tingkat internasional.

Dia menggeleng pelan. “Aku tidak lapar, lagi pula mengerjakan semua soal ini membuatku kenyang.” Ujarnya dengan terkekeh pelan, masih tetap sibuk menulis sambil sesekali membolak-balikkan halaman buku.

Aku mengangguk setuju, tentu saja itu akan membuatnya kenyang. Jika sudah sibuk mengerjakan semua soal-soal itu dia pasti akan mengabaikanku. Melupakan semua tentangku. Selalu seperti itu!

“Kyuhyun-ah, untukmu aku siapa?” Tanyaku pelan.

“Kau?” Dia mendongak menatapku dengan bingung. “Tentu saja kau yeojachingu-ku, memangnya kenapa?” Tanyanya.

Aku tersenyum tipis menatapnya. “Aniyo.” Jawabku singkat. “Jadi kau tidak ingin menemaniku makan di kantin?” Tanyaku memastikan lagi.

“Aku sedang sibuk, kau makan saja dengan teman-temanmu.” Jawabnya dan sudah kembali sibuk dengan soal-soal matematika itu.

Ne, aku pergi…” Aku langsung beranjak dari dudukku, dengan tersenyum sedih. Namun sedetik kemudian aku memaksakan senyum manisku. Setidaknya aku masih tahu kalau dia memang mengganggapku sebagai ‘yeojachingu’nya, walaupun dia selalu mengabaikanku sebagai yeojachingu-nya.

*****

“Suji-ya…” Kerasakan seseorang berdiri di sampingku, mengikuti langkahku.

Aku menatap ke samping dan menatap senang ke arah namja itu. “Kyuhyun-ah, kau tidak ada les?’ Tanyaku.

Aniyo… hari ini aku bebas. Senangnya…” Ujarnya terlihat sangat bahagia. “PSP-ku! Akhrinya aku bisa bermain sampai puas.”

Aku tersenyum kecut, dia sama sekali tidak memasukkan kencan denganku dalam jadwal bebasnya. Kembali mengabaikanku.

“Selamat.” Ujarku dengan senyum yang sedikit aku paksakan.

“Ayo cepat pulang, aku tidak ingin melewatkan hari ini begitu saja.” Ajaknya antusias dengan langsung mempercapat langkahnya, meninggalkanku beberapa langkah di belakangnya.

Aku mempercepat langkahku, mencoba untuk menyeimbangkan langkahku dengannya. Namun sepertinya dia begitu semangat sampai membuatku harus berlari kecil mengejarnya.

*****

“Suji-ya! Kenapa kekasihmu semakin tampan saja, huh?” Tanya Hana, yang merupakan teman satu kelasku.

“Kau bertemu dengannya di mana?” Tanyaku pada Hana yang sudah mengambil tempat di sebelahku.

“Saat dia masuk ke kelasnya.” Jawabnya dengan senyum yang mengembang.

Aku tersenyum tipis, temanku ini memang begitu mengagumi namjachingu-ku itu. Dan aku memang berbeda kelas dengan Kyuhyun.

Aish, aku benar-benar cemburu melihatmu, Suji-ya. Bagaimana bisa kau berpacaran dengan namja yang hampir sempurna sepertinya?” Tanya Hana, sebuah pertanyaan yang memang selalu dia tanyakan.

“Karena aku mencintainya dan… dia mencintaiku?” Jawabku dengan sedikit ragu pada kalimat terakhirku.

*****

“Cho Kyuhyun… maukah kau menjadi kekasihku?” Tanyaku pada namja yang sedang sibuk di taman sambil membaca sebuah buku tentang sejarah.

Dia menghentikan bacaannya, menatapku sekilas dan mengalihkan kembali tatapannya pada buku bacaannya.

“Cho Kyuhyun! Aku berbicara padamu.” Seruku, sedikit kesal karena dia mengabaikanku. Setidaknya dia harus menjawab ‘tidak’ jika ingin menolakku, bukan hanya diam saja!

“Baiklah, aku mau.” Ujarnya singkat, bahkan sangat singkat dan kembali mengabaikanku.

Aku menatapnya tidak percaya. Dia menerima pernyataan cintaku?! Tuhan! Dia menerima pernyataan cintaku! Dan itu berarti… saat ini dia adalah kekasihku! Daebak!

*****

Ya… seperti itulah yang terjadi bagaimana saat ini aku bisa berpacaran dengan seorang Cho Kyuhyun. Namun sejujurnya aku masih tidak percaya dia menerima pernyataan cintaku begitu saja, padahal aku dengar banyak yang sudah menyatakan cinta padanya namun dia selalu menolaknya. Apa itu berarti dia mencintaiku? Ah, setidaknya menyukaiku? Benar begitu, kan? Aku tidak mungkin salah. Walaupun saat ini dia mengabaikanku.

Positive thinking, Suji-ya

Mungkin  dia mengabaikanku karena dia begitu sibuk dengan olimpiade dan segala lomba yang harus dia ikuti. Jika tidak, dia pasti akan selalu ada padaku.

*****

“Suji-ya, kau sungguh beruntung mendapatkan Kyuhyun-ah.” Seru Hyemi yang merupakan sahabat Kyuhyun.

Ne, tentu saja, semua orang yang berada di dekatku pasti sangat beruntung!” Ujar Kyuhyun dengan tingkat percaya diri yang tinggi.

“Kau terlalu percaya diri, Tuan Cho!” Tegur Hyemi dengan sedikit ketus. “Aku menyesal memiliki sahabat sepertimu yang selalu memenangkan perlombaan. Kau sainganku!” Terang Hyemi lagi dengan semangat.

Aku tersenyum melihat mereka yang berdebat. Sejujurnya, aku iri melihat kedekatan mereka. mereka terlihat begitu dekat, mengingat Hana pernah mengatakan bahwa mereka memang bersahabat sejak sekolah dasar, sementara aku baru bertemu dengannya saat masuk SMA dan kami baru saja berpacaran tiga bulan.

Perbedaan jarak tahun yang membuat tingkat kedekatan kami berbeda. Tapi bukankah seharusnya dia menggapku lebih dari ‘seorang’ yang hanya menjadi teman? Dia cenderung terlihat biasa padaku, tidak seperti Hyemi. Apa jangan-jangan…

Aku menggeleng cepat, tidak mungkin Kyuhyun menyukai Hyemi. Itu tidak mungkin!

“Suji-ya!”

Ne!” Aku mengerjapkan mataku berkali-kali terlihat begitu bingung. Aku memaksakan senyumku menatap Hyemi yang membuyarkan lamunanku.

Waeyo? Kenapa kau hanya diam saja?” Tanyanya.

“Tidak ada apa-apa.” Jawabku mencoba untuk bersikap biasa, Aku tidak ingin membuat mereka jadi menatapku dengan curiga.

Kembali mereka mengabaikanku, sibuk dengan obrolan mereka. Kami bertiga memang cukup sering berkumpul bersama, seperti saat ini di taman. Karena kali ini Kyuhyun memiliki sedikit waktu untuk bisa bermain denganku dan Hyemi.

Satu hal yang kutahu jika kami sedang berkumpul seperti ini adalah… aku tersesat!

*****

Tiga bulan adalah waktu yang cukup lama untukku dalam menjalin sebuah hubungan karena sebelumnya aku memang tidak pernah bertahan lama dalam menjalin sebuah hubungan. Ini adalah waktu paling lama, karena biasanya hanya akan bertahan selama satu atau dua bulan. Dan Kyuhyun adalah pacarku yang ketiga. Aku bukanlah orang yang mudah beralih, karena selama ini selalu aku yang diputuskan.

Semua mantan kekasihku mengganggapku adalah orang yang tidak menyenangkan. Mungkin karena saat itu aku tidak benar-benar mencintai mereka, hanya sekedar rasa suka atau kagum biasa. Aku pikir dengan menjalin hubungan akan membuat rasa itu bertambah namun ternyata tidak, sampai akhirnya kisahku berakhir begitu saja.

Dan kali ini adalah waktu paling lama aku menjalin suatu hubungan. Jika dulunya namja yang selalu merasa aku bukanlah orang menyanangkan. Namun saat ini aku merasa namja itu yang tidak menyenangkan. Cho Kyuhyun.

Tiga bulan adalah waktu yang cukup untuk saling mengenal. Tapi sayangnya, tidak banyak hal yang aku tahu tentang dirinya. Yang kutahu dia menyukai matematika, games, orang yang sangat ramah terhadap orang lain -kecuali aku, mungkin-, pendiam serta cuek -terhadapku tentunya-, serta memiliki seorang sahabat bernama Shin Hyemi. Hanya itu, yang bahkan mungkin semua orang sudah mengatahui tentang hal itu.

Aku tidak bosan! Aku tidak jenuh!

Hanya saja…

Aku sedih karena dia selalu mengabaikanku begitu saja, sibuk dengan dunianya sendiri tanpa pernah mau menghadirkan sosokku untuk menjadi bagian dari dunianya itu. Apa kami akan selalu seperti ini? Sama sekali tidak ada kemajuan. Kami bahkan sama sekali tidak pernah berkencan, karena dia selalu menghadirkan Hyemi diantara kami.

Aku tidak akan marah dan cemburu jika saja dia masih menganggapku ada dan menganggapku sebagai kekasihnya! Namun dia malah bersikap biasa padaku, seolah aku bukanlah siapa-siapa untuknya.

Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dengan yakin aku memasuki ruangan itu, ruangan khusus di dalam perpustakaan yang di sediakan untuk belajar bagi siswa yang akan mengikuti olimpiade, sebuah ruangan yang kedap suara agar tidak mengganggu konsentrasi belajar.

Aku membuka pintu itu perlahan, setelah sebelumnya memastikan bahwa tidak ada guru yang sedang membimbingnya saat ini.

“Suji-ya...” Serunya yang terlihat sedikit terkejut melihat kedatanganku.

Aku melangkah maju mendekati mejanya, menatap matanya lurus. “Kyuhyun-ah, untukmu aku siapa?” Tanyaku tegas, mencoba menyembunyikan rasa sedihku.

Dia menatapu dengan bingung. “Kenapa kau suka sekali bertanya hal itu, Suji-ya? Tentu saja kau yeojachingu-ku.” Jawabnya langsung.

“Kalau begitu, bisakah kau bersikap selayaknya aku adalah yeojachingu-mu? Berhenti mengabaikanku, Kyuhyun-ah!” Kurasakan mataku mulai berkaca-kaca, namun sebisa mungkin aku menahan agar tangisku tidak pecah.

“Aku tidak mengabaikanmu!” Serunya yang terlihat tidak terima dengan ucapanku.

“Ya, kau mengabaikan! Orang-orang mugkin tidak menyadarinya, namun aku merasakannya, Kyuhyun-ah!”

“Ada apa denganmu, Shin Suji?! Jika hanya itu yang ingin kau bahas, bisakah kau menundanya nanti. Aku sedang belajar, jadi jangan menggangguku.”

Aku menatapku sedih. “Apa menurutmu aku hanya seorang pengganggu?” Tanyaku dengan suara yang mulai terdengar bergetar.

“Ya, saat ini kau menggangguku!” Ujarnya dengan tegas

Tes!

Aku menghapus cepat air mataku, tidak ingin terlihat lemah di hadapannya, walaupun dia mungkin sudah tahu betapa lemahnya aku. “Kalau begitu aku butuh kejelasan untuk hubungan kita, Kyuhyun-ah.” Tuntutku langsung.

Untuk kali ini aku harus mengakui, aku lelah dengan semua ini. Aku lelah dan bosan melihatnya selalu mengabaikanku!

“Kejelasan apa? Tentang hubungan kita?” Tanyanya dengan tatapan datarnya.

Aku mengangguk pelan.

“Menurutmu bagaimana, Suji-ya?” Tanyanya pelan, terlihat begitu santai.

“Cho Kyuhyun!” Bentakku padanya, yang terlihat begitu acuh dengan masalah ini. Mungkin menurutnya ini bukanlah sebuah masalah panting, namun tidak untukku!

Ne, kau tidak perlu membentakku seperti itu. Aku bertanya padamu, Shin Suji! Bagaimana menurutmu?”

Aku menatapnya nanar, mendengar setiap ucapannya yang terdengar biasa bahkan cenderung santai, tidak peduli dengan semua ini.

“Kenapa… kenapa kau… menerima cintaku?” Tanyaku pelan, sejujurnya aku sudah tidak sanggup untuk menopang kedua kakiku lagi untuk bisa berdiri dengan baik. Aku terlalu takut mendengar jawaban darinya.

“Bukankah kau menginginkan hal itu?”

Aku menatapnya bingung. “Apa maksudmu, Kyuhyun-ah?”

“Bukankah menurutmu semua ini tidak lebih dari sebuah tantangan mengasyikan? Sampai membuat seorang Shin Suji yang memiliki genggi tinggi sampai berani menyatakan cinta pada seorang namja.” Ujarnya pelan namun menatap kedua mataku dengan tatapan tajamnya.

Deg!

Tantangan? Aku mencoba untuk mencerna dengan baik setiap kata-kata yang dilontarkannya, yang entah kenapa begitu sulit untuk aku artikan dengan baik. Seolah aku harus menterjemahkan bahasa asing yang tidak aku ketahui.

“Bukankah aku hanya sebagai tantangan untukmu? Ah, apa bisa di sebut juga sebagai taruhanmu dengan temanmu?”

Deg!

Kali ini air mataku mengalir sempurna setelah aku mengerti dengan apa yang diucapkannya.

“Bagaimana? Berapa banyak uang yang kau dapatkan dari ini Shin Suji?”

“Cho Kyuhyun!”

“Apa aku salah? Aku bersikap baik hanya pada orang yang baik padaku, begitupun sebaliknya. Jadi Nona Shin Suji, maaf untuk semua ketidakpedulianku terhadapmu. Kau tahu? Kau hampir membuatku tertarik padamu, namun syukurlah aku bisa mengatasi hatiku untuk tidak terjatuh pada ‘seseorang sepertimu’.” Dia langsung beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkanku sendiri di ruangan ini.

Aku terjatuh bersimpuh, kakiku sudah tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhku untuk berdiri. Tangisanku pecah, membuatku terisak dengan tangis yang menyakitkan. Apa maksudmu dengan ‘seseorang sepertimu’, Kyuhyun-ah? Apa kau menganggapku begitu jahat untuk menjadi sama sepertimu, manusia? Kenapa kau memandangku begitu rendah?

Kau salah, Cho Kyuhyun… aku menyukaimu jauh sebelum aku merima tantangan yang mungkin tidak pantas untuk di sebut sebagai tantangan ataupun taruhan. Karena itu hanya pembicaraan bodoh!

Dan tahukah kau? Ini adalah akhir cintaku yang paling menyakitkan dari kedua kalinya patah hatiku sebelumnya. Karena aku sadar, kali aku benar-benar mencintaimu….

******

Aku tidak tahu bagaimana berita begitu cepat tersebar. Yang kutahu saat aku keluar dari toilet setelah membersihkan wajahku dari sisa air mata. Aku mendengar semua orang bercerita tentangku dan mereka semua menatapku dengan tatapan aneh yang membuatku risih.

Aku mencoba untuk mengabaikan semua tatapan sinis mereka ke arahku. Tatapan sinis? Apa mereka berpikir aku adalah orang jahat? Yang kembali menyakiti hati namja? Berhenti menatapku seperti itu seolah kalian semua mengetahui segala hal tentangku!

“Suji-ya…” Kudengar panggilan pelan dari Hana saat baru saja aku menduduki kursiku.

Aku menatapnya dan tersenyum tipis. “Ne, Hana-ya…” Balasku pada panggilannya.

Gwaenchana?” Tanyanya yang terlihat begitu mencemaskanku.

Aku kembali mengulum senyumku ke arahnya. “Berita cepat beredar, ini bahkan belum satu jam sejak kejadian itu. Tapi semua orang sudah menatapku dengan tatapan mengerikan. Apa yang harus aku lakukan, Hana-ya?” Aku langsung menenggelamkan wajahku di lipatan tanganku di atas meja. Aku tidak ingin ada yang melihatku menangis, aku ingin terlihat tegar. Terlihat menyedihkan pun tidak akan mengubah persepsi mereka tentang sosokku yang sudah jahat di mata mereka.

Hana mengelus punggungku pelan, mencoba menenangkanku. “Jangan menangis lagi, kau membuatku juga ingin menangis Suji-ya. Aku tahu apa yang kau rasakan, karena aku juga pernah merasakannya. Itu pasti sangat menyakitkan.”

Aku mengangkat kepalaku dan menghapus air mataku cepat. “Jangan pernah mengikuti apa yang aku lakukan! Jika aku menangis kau harus tersenyum untuk menghiburku, Hana-ya.” Ujarku padanya sambil menghapus air matanya yang mengalir.

Dia tersenyum menatapku. “Aku tidak bisa, jika kau tersenyum maka aku akan tersenyum. Dan jika kau menangis maka aku juga akan menangis. Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian merasakannya, Suji-ya.” Ujarnya pelan.

Aku tersenyum senang menatapnya, dan langsung memeluknya erat. Setidaknya dari semua masalah ini aku memiliki seseorang yang bisa menghiburku dan selalu ada untukku.

Gomawo Hana-ya…

*****

“Lihatlah dia masih bisa tersenyum padahal  dia sudah menyakiti Kyuhyun.”

“Dia benar-benar yeoja yang mengerikan. Tadinya aku senang melihat Kyuhyun yang berpacaran dengannya, namun ternyata dia menyakiti Kyuhyun. Dan parahnya dia menjadikan Kyuhyun sebagai taruhan.”

“Benar-benar yeoja yang sangat mengerikan.”

“Dia terlihat pendiam dan baik namun ternyata, begitu jahat!”

Aku menghentikan langkahku langsung, mendengar semua umpatan orang–orang terhadapku. Aku kembali melanjutkan langkahku, mencoba untuk tidak peduli dengan semua pendapat orang tentangku.

“Kasihan Kyuhyun, dia pasti sangat terluka karena masalah ini.”

Aku menghentikan langkahku dengan kesal. Kasihan? Terluka? Pendapat macam apa itu? Tidak pernahkan mereka sekalipun meneliti dengan baik masalah ini?

Terluka apanya? Baru saja aku melihatnya tersenyum begitu bahagia dengan sahabatnya, Shin Hyemi. Itukah yang disebut terluka? Kenapa selalu menyudutkanku? Tidak pernahkah mereka mencoba mencari kemungkinan untuk menjadikanku yang juga terluka dengan semua ini.

Aku berbalik, berjalan menuju kumpulan empat orang yeoja yang sedang duduk santai di depan kelas mereka. Membuat mereka langsung terdiam, dan menatapku dengan sedikit takut.

“Seberapa benci pun kalian dengan seseorang jika harus berpisah pasti akan menyakitkan. Jadi aku mohon… berhenti berpikir bahwa aku bahagia dengan semua ini. Apa ada yang salah dari tersenyum? Apa aku harus selalu terlihat menyedihkan, agar kalian berhenti mengatakan sesuatu yang buruk tentangku?” Tanyaku pada mereka, mereka hanya diam, terlihat kesal dengan kedatanganku yang mengganggu cerita mereka.

“Suji-ya, apa yang kau lakukan? Berbicara dengan mereka tidak ada gunanya, mereka hanya kumpulan orang bodoh tidak pernah menganalisa setiap hal.” Hana langsung menarikku menjauh, masih kudengar umpatan mereka padaku dan Hana.

Aku hanya diam dan terus mengikuti langkah Hana. “Taman?” Tanyaku padanya yang memang sangat jarang untuk menghabiskan jam istirahat di taman belakang sekolah.

“Kau harus mengatakan apa yang terjadi pada Kyuhyun, agar dia bisa meng-handle fans-nya yang selalu menjelek-jelekkanmu, Suji-ya.” Jelasnya yang membuatku langsung menghentikan langkahku.

“Tidak pelu!” Ujarku dengan tegas. “Aku belum siap untuk bicara langsung dengannya, Hana-ya. Aku baik-baik saja.” Tolakku langsung.

“Berhenti mengatakan kalau kau baik-baik saja, Suji-ya. Karena pada kenyataannya kau tidak baik-baik saja!”

“Hana-ya, untuk kali ini biarkan aku mencoba menyelesaikan masalahku sendiri. Dengan kau di sampingku sudah membuatku menjadi lebih baik lagi.” Pintaku memohon.

“Baiklah…”

*****

Aku tidak tahu kenapa hidupku menjadi begitu buruk sejak aku berakhir dengan Kyuhyun. Semua orang menjauhiku, mengumpatku, menjelek-jelekkanku, dan kali ini mereka menyalahkanku. Menyalahkanku karena aku telah membuat idola mereka kalah dalam test terakhir yang membuatnya gagal untuk ikut olimpiade tingkat internasional.

Apa aku begitu berarti di mata seorang Cho Kyuhyun sampai membuatnya kalah dalam olimpiade karena masalah ini? Bukankah menurutnya aku hanya seorang pengganggu? Lagi pula aku sudah pergi dari hidupnya, bukankah seharusnya itu membuatnya lebih berkonsentrasi dengan olimpiadenya?

Berhenti menuduhku dengan segala sesuatu yang tidak penting seperti itu! Aku tidak melakukan apapun padanya. Haruskah aku berteriak kalau dia yang memutuskan hubungan ini dan aku juga sakit dengan semua ini. Terlebih jika aku harus kembali teringat dengan semua kata-kata yang diucapkannya.

“Aku bersikap baik hanya pada orang yang baik padamu, begitupun sebaliknya. Jadi Nona Shin Suji, maaf untuk semua ketidakpedulianku terhadapmu. Kau tahu? Kau hampir membuatku tertarik padamu, namun syukurlah aku bisa mengatasi hatiku untuk tidak terjatuh pada ‘seseorang sepertimu’.”

Seseorang sepertimu? Kata-kata itu terdengar begitu menyakitkan. Aku tidak menyangka seorang Cho Kyuhyun yang terkenal baik dan ramah bisa mengucapkan kata-kata itu.

Plak!

“Shin Suji! Apa yang kau lakukan pada Kyuhyun, huh? Kau membuatnya menjadi kalah dalam olimpiade! Ini pasti karena kau menyakitinya!”

Aku terdiam dengan tangan yang memegangi pipi kiriku, merasa terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.

“Kau membuatnya kecewa! Kau membuat sekolah kecewa! Kau membuatnya begitu lemah!”

Aku masih diam, dengan keterkejutan yang belum bisa aku hilangkan. Terlihat begitu bodoh hanya bisa diam di tengah-tengah orang-orang yang mengumpat menyalahkanku.

Aku bahkan tidak sadar entah sudah sejak kapan Hana datang membelaku dengan membalas umpatan itu. Aku berjalan mundur perlahan dan segera berbalik. Membiarkan orang-orang itu berteriak memanggilku  dengan segala macam umpatan yang mereka lontarkan untukku. Aku terus berjalan, tidak memperdulikan orang-orang yang menatapku buruk.  Seperti seorang pengecut dan pecundang.

Aku segera membuka  pintu ruangan itu, ruangan dimana dia selalu berada di saat dia sedih. Aku yakin dia berada di ruangan itu, karena dia pasti sedang kecewa dengan kekalahannya kali ini. Kekalahan telaknya yang pertama.

Aku memasuki ruangan itu dan saat itu aku melihatnya yang juga ingin berjalan keluar dengan wajah cemas.

“Suji-ya…” Gumamnya pelan.

Aku menatapnya dengan datar, dan mengalihkan tatapanku pada Hyemi yang berdiri tidak jauh darinya. Yang membuatnya langsung keluar dari ruangan lebih dulu seolah mengerti jika aku memang ingin berbicara dengan sahabatnya.

Aku diam menatap sosok di hadapanku, masih sulit untuk berbicara dengannya namun aku sudah tidak tahan lagi dengan semua umpatan orang-orang terhadapku, dimana dia selalu menjadi orang baik.

“Apa-“

“Bisakah kau menghentikan ini semua?” Tanyaku dengan suara yang bergetar. “Aku pikir semua umpatan itu akan berakhir hanya dalam waktu satu atau dua hari, namun ini sudah hampir satu bulan. Dan semua orang semakin membenciku. Berhenti membuatku… aku tidak tahu apa menurutmu ini menyakitkan atau memang pantas aku dapatkan, tapi aku sudah benar-benar tidak bisa menahannya lagi, ini semua terlalu menyakitkan, Cho Kyuhyun…” Jelasku, aku menghapus air mataku cepat.

“Suji-ya…”

“Apa aku begitu jahat sampai kau melakukan ini padaku? Kenapa kau kalah dalam olimpiade itu? Kau ingin membuatku terlihat  buruk di mata semua orang? Membuat orang-orang berpikir bahwa aku yang menyebabkan semua ini padamu. Aku memohon padamu, bisakah kau membiarkanku hidup tenang tanpa harus mendengar semua umpatan menyakitkan itu?” Tanyaku pelan.

“Jika aku mengatakan ini semua memang karenamu, bagaimana?”

“Aku minta maaf.” Jawabku walaupun aku sedikit bingung dengan pertanyaan anehnya.

“Ini semua memang karenamu, Shin Suji.”

“Huh? Bagaimana bisa?!” Tanyaku tidak terima, setelah semua orang menyalahkanku kali ini dia juga menyalahkanku. Aku tidak terima!

“Karena aku merindukanmu dan semangatmu yang selalu kau berikan untukku.”

Mwo?!” Aku membulatkan mataku tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya.

Saranghae, Shin Suji.”

Aku masih akan mencerna ucapan itu saat kurasakan sebuah dekapan hangat di tubuhku. Aku terdiam dengan tubuh kakuku, tidak percaya dengan apa yang dilakukannya. Aku masih terus diam saat kurasakan jari tangannya menyentuh pipiku.

“Pasti ini menyakitkan, mianhae.” Ujarnya lembut.

“Apa yang kau lakukan!” Aku langsung menepis tangannya cepat.

“Apa itu berarti kau menolakku? Seseorang mengatakan padaku agar aku tetap mempertahankanmu sebelum kau pergi dan membuatku sakit. Aku mengabaikan ucapan itu sampai aku benar-benar merasakan sakit karena kehilanganmu.” Ujarnya pelan, terlihat sedih. “Mianhae, untuk semua yang aku lakukkan padamu, Suji-ya. Aku mohon kembalilah padaku.”

“Siapa yang mengatakan hal itu? Lagi pula aku tidak ingin membuat orang-orang melihatku semakin buruk jika aku kembali denganmu.” Tolakku.

“Shin Hyemi, sahabatku.” Jawabnya. “ Jika aku bisa merubah persepsi orang-orang, apa kau mau kembali padaku?” Tanyanya memohon.

“Tidak semudah itu Tuan Cho Kyuhyun, setelah semua yang harus aku terima karenamu.”

“Baiklah, kalau begitu umpat aku sekarang juga, dan tampar aku.”

Aku menatap tajam, dan bersiap-siap mengeluarkan seluruh kekesalanku padanya. “Kau namja bodoh yang sok keren, menyebalkan, jahat, kau selalu mengacuhkan yeoja cantik sepertiku, kau tidak normal! Kau membuatku harus selalu menangis karena semua umpatan orang-orang untukku, kau tahu bagaimana sakitnya itu, huh? Kau tidak akan tahu karena semua orang mengidolakanmu! Kau jahat! Sangat jahat! Aku membencimu dan… aku mencintaimu…”

“Aku juga mencintaimu, Shin Suji…” Kembali kurasakan pelukan hangatnya pada tubuhku dan kali ini aku membalas pelukan hangat itu.

*****

Prolog

“Dia sangat tampan?” Seru Hana dengan mata yang berbinar indah.

Ne, kau tahu. Aku menyukainya sejak pertama kali kita masuk SMA.” Jelas Suji tidak mau kalah.

“Namun dia terlihat begitu sulit untuk bisa di dapatkan.” Hana menatap Suji penuh arti.

Waeyo?” Tanya Suji yang merasa ‘takut’ dengan tatapan Hana.

“Kau bilang kau menyukainya, kalau begitu nyatakan cintamu padanya!” Seru Hana dengan senyum jahil khasnya.

“Kau menantangku? Baiklah, aku akan membuatnya menerima cintaku.” Seru Suji dengan percaya diri.

“Kalau kau berhasil aku akan memberikanmu hadiah.”

“Aku ingin mobil.” Ujar Suji langsung yang membuat Hana tersenyum kecut.

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar hal itu, dan langsung beranjak dari tempat dengan seringaian penuh artinya.

“Aku hanya bercanda Hana-ya, lagi pula jika aku mendapatkannya itu akan menjadi hadiah yang paling indah untukku.”

*****

The End_

72 thoughts on “[FF Of The Week] It’s Love

  1. ternyata Kyu oppa tdk mendengar kalimat terakhirnya Suji jd nya selama ini dia meyakinkan dirinya untuk tdk jatuh cinta terlalu dalam kepada Suji.. Aigoo so sweet akhirnya berbaikan lagi

  2. Eumm. .end yah. .
    Psti skit bgt jdi suji. .
    Bagus thor, ,

    tpi yg jdi pertanyaan siapa org yg mengintip percakapan hana & suji??

  3. Keren tuh perkataan Hana
    “jika kau tersenyum maka aku akan tersenyum dan jika kau menangis maka aku juga akan menangis. Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian merasakannya”
    meskipun agak biasa aja, tapi kalo perkataan itu di ucapin sama seorang sahabat yang ‘REAL’ pasti bakalan buat air mata jatuh T.T

    Daebak thor aku suka ^^

  4. Aku jadi inget harrpott loh yang kasus si snape denger ramalannya setengah2 (?) jadinya Lily kebunuh LOL eh tapi keren!!

  5. Pelajaran dari ff ini adalah….. kalo mau nguping pembicaraan harus dari awal sampai akhir biar enggak ada kesalahpahaman

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s