Decision (1/?)

“ Saya ucapkan selamat jalan pada seluruh lulusan. Semoga kalian semua sukses di universitas yang kalian inginkan,”

Pidato Kepala Sekolah pun selesai, seluruh murid dan para undangan bertepuk tangan. Aku ikut bertepuk tangan bersama murid-murid yang lain. Senang rasanya bisa lulus bersama dengan teman-teman yang lain. Tapi disisi lain, aku merasa sedih. Karena sebentar lagi, aku tak bisa bertemu dengan Jungsoo.

****

Beberapa hari telah berlalu. Aku menghela nafas berkali-kali. Leherku terasa pegal. Delapan jam belajar tata bahasa dan kosakata. Membuatku pusing. Suasana kelas juga tak kondusif. Berisik sekali. Tak bisakah mereka diam dan mencatat? Ck.

Drrt…Drrrt!

Sepertinya ada yang bergetar. Ponselku? Siapa yang mengirim pesan?

Aku melirik sekilas kearah sonsaengnim. Perlahan tanganku mengambil ponsel dalam tasku. Ada satu pesan masuk.

Message from Jungsoo

HAH? JUNGSOO?

Tumben sekali dia mengirim pesan. Ada apa?

From: Jungsoo
Ryuu, apa kau punya kumpulan soal untuk tes universitas?

…………………………………………………..

Sepertinya aku terlalu berharap (-_____-)

To: Jungsoo
Tidak.
From: Jungsoo
Lalu kau belajar darimana?
To: Jungsoo
Kumpulan soal-soal pelajaran tambahan kelas 3.

Rasanya bodoh jika aku berharap dia mengirimiku pesan karena ingin berbicara denganku. Dia hanya akan menghubungiku jika dia butuh. Sedikitpun ia tak peduli denganku. Dasar Jungsoo bodoh…..

Ku tutup ponselku lalu ku taruh dalam tas. Aku harus fokus dengan urusanku sendiri. Tak ada waktu memikirkan orang bodoh itu. Ya, tak ada waktu….

Drrrrt…..Drrrrt!

Apa lagi sih?

From: Jungsoo
Kapan kau akan ada di rumah?
To: Jungsoo
Sabtu-Minggu
From: Jungsoo
Sabtu aku ke rumahmu y. Kau ada di rumah jam berapa?
To: Jungsoo
Jam 1 siang.

Jemariku menekan tombol send. Sedetik kemudian, konsentrasiku buyar. Jungsoo…..

****

Jungsoo… Aku tak tahu harus bersikap apa dihadapanmu. Sikapmu membuatku bingung. Aku tahu, aku telah menjerumuskanmu kedalam masalah. Aku memang pembawa sial. Tapi bukan berarti kau boleh menyakitiku. Disatu sisi, aku marah padamu. Ya, aku marah. Jemariku menekan keypad ponsel, membuka inbox. Ku buka salah satu pesan darimu. Pesan yang membuatku marah padamu.

From: Jungsoo
Apa kau sudah memaafkanku?
From: Jungsoo
Aku hanya tak enak jika masih punya salah. Karena sebentar lagi aku akan tes IELTS.

Saat itu, aku benar-benar marah. Kau minta maaf padaku hanya karena kau akan tes??? Nonsense!!! Apa dia tak berpikir bagaimana perasaanku? JUNGSOO BRENGSEK!!

Aku menutup ponselku. Ingatanku kembali pada peristiwa itu. Ya, peristiwa yang membuat hubungan kami jauh lebih renggang.

****

Februari 2011….

From: Jungsoo
Temui aku di kantin sekolah. Jangan ajak siapa-siapa.

Apa ini? Tidak biasanya ia mengajakku bertemu. Hm, ya sudahlah. Tapi….kenapa firasatku gak enak ya?

Pikiranku sedikit kacau saat berjalan menuju kantin. Dimana Jungsoo?

Ah, itu ada Siwon. Wah, ada Eunhyuk dan Jongwoon juga. Tapi dimana Jungsoo?

“ Hei, kau,”

Aku berbalik badan. Jungsoo. Bahkan ada Kangin. Tapi kenapa mereka melihatku dengan tatapan sinis?

“ Duduk,”

Auranya tak enak. Insting alamiku berkata, aku berada dalam masalah. Apa aku telah berbuat salah?

“ Apa maksudmu berkata seperti itu?” tanya Jungsoo.

A..apa? Memangnya aku berbuat apa?

“ Aku tak mengerti maksudmu,”

Ya Tuhan….aku takut… Jungsoo benar-benar seperti monster.

“ JANGAN BERLAGAK BEGO!”

Aku terhenyak. Baru kali ini Jungsoo membentakku. Apa salahku?

“ Kangin melihatnya sendiri! Kau menulis di twittermu, ‘Semoga dia mendapat balasan setimpal’. Jadi kau senang aku terluka begini, hah? Kau senang?”

“ Iya. Apa maksudmu? Kau benar-benar tega,” Kangin ikut memanaskan suasana.

Kangin….kau yang biasanya tenang, kenapa jadi begini?

“ Dasar brengsek kau!”

PLAK!!

Aduh!

Jungsoo memukulku? Selama kami berpacaran, belum pernah ia memukulku. Jungsoo….kenapa kau?

“ Kau senang aku kecelakaan? Kau senang, hah?”

Tidak…sedikitpun aku tak merasa senang… Aku prihatin padamu… Tapi aku hanya diam saat ia memaki-makiku. Aku melirik kearah Siwon, memohon bantuan. Namun ia hanya diam menonton. Siwon, kau jahat!! Aku tak percaya kau membiarkan temanmu sendiri dihina-hina. Siwon keterlaluan!

“ Aku membaca mentionmu dan Chan Ni. Apa maksudmu? Kau benar-benar keterlaluan!”

Mention? Ya ampun…jangan-jangan Kangin melihatnya semalam? Ini benar-benar salah paham!

Kangin berusaha menghentikan Jungsoo, membawanya pergi. Kini aku sendirian. Dadaku sesak. Tapi aku tak boleh menangis disini.

Ku coba ingat-ingat kembali tweetku semalam. Ah, pasti itu. Sesaat setelah aku mendengar kabar Jungsoo kecelakaan motor, aku berpikir bahwa itu balasan akibat kesombongannya. Ya, sejak ia mendapat ranking 1 di kelas 2, ia sombong dan tak lagi mengajakku bicara. Aku kesal. Dia mencampakkanku setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Aku hanya berpikir, semoga ia sadar atas kesalahannya. Kangin salah paham. Dasar Kangin bego! Aku tak mau percaya padanya lagi!

Aku bergegas keluar dari kantin. Tanganku bergerak mengambil ponsel. Satu nama yang terlintas dalam benakku. Chan Ni.

Ku tekan nomor ponsel Chan Ni. Hanya dia yang ku butuhkan sekarang.

Rrrrr…..Trek!

“ Yoboseo?”

Mendengar suara Chan Ni, air mataku tumpah. Aku tak bisa menahannya lagi.

“ Chan Ni…”

Suaraku pasti terdengar parau. Aku bersembunyi dibalik mobil, menangis sejadi-jadinya.

“ Chan Ni, tolong aku….”

****

Malamnya, Jungsoo mengirimiku pesan. Dia minta maaf. Tapi aku terlanjur sakit hati. Kata-katanya, caciannya membuatku benci setengah mati. Dan yang membuatku sakit hati, dia menyuruhku untuk datang sendirian. Tapi ternyata ia membawa empat temannya! Dasar pengecut!

Ku tutup ponselku. Terlalu menyakitkan saat mengingat peristiwa itu. Dua bulan setelah peristiwa itu, ia masih menghubungiku. Awalnya aku marah karena sikapnya. Tapi akhir-akhir ini aku melunak. Ah, Jungsoo….kau selalu bisa membuat emosiku turun. Semakin aku mencoba membencimu, semakin aku mencintaimu…

****

Hari demi hari Jungsoo berubah drastis. Tiba-tiba saja ia menjadi sering main ke rumahku. Aneh rasanya, mengingat sikap kasarnya padaku beberapa bulan lalu. Entah sejak kapan kami jadi akrab lagi seperti dulu. Aku senang bisa sedekat ini dengan Jungsoo. Tapi…apakah hal ini akan terus berlangsung?

Sebulan telah berlalu sejak test masuk universitas berakhir. Fuuh…aku bisa santai sejenak sebelum pengumuman.

Drrrt….Drrrt!

Hm? Siapa yang mengirim pesan?

From: Jungsoo
Ryuu, aku dapat beasiswa ke Jepang!

Detik itu juga hatiku terasa seperti ditusuk. Jungsoo? Ke Jepang? Aku tahu ia sangat memimpikan bisa kuliah di Jepang. Tapi….kenapa harus secepat ini?

To: Jungsoo
Selamat

Dadaku sesak. Hatiku memberontak. Aku tak ingin ia ke Jepang! Jika ia ke Jepang, maka…..dia akan melupakanku….. Aku belum siap!

Air mataku mengalir. Kenapa…kenapa harus secepat ini?

Tak bisakah kau menunggu setahun?

Jemariku bergerak, mengetik pesan untuk Jungsoo.

To: Jungsoo
Kapan kau berangkat?
From: Jungsoo
Akhir Agustus

Akhir Agustus….Itu artinya…dua bulan lagi! Arrrrgggh!! Kenapa harus akhir Agustus? Kenapa?

To: Jungsoo
Kalau sudah di Jepang, jangan lupakan aku ya
From: Jungsoo
Kenapa? Kau sedih karena aku akan ke Jepang?
To: Jungsoo
Tidak
From: Jungsoo
Kenapa? Reaksimu itu gak senang. Kalau bicara yang jujur.

Jujur? Untuk apa? Toh kau sudah tak peduli dengan perasaanku. Tak ada gunanya aku berkata jujur padamu. Tak ada.

Aku meremas ponselku, menahan tangis. Ya Tuhan….Kenapa aku ini? Sedetik pun aku tak bisa melepaskan pikiranku darinya. Tapi kenapa Jungsoo bisa? Kenapa?

Andai aku bisa membenci Jungsoo, seperti Chan Ni membenci mantan kekasihnya, mungkin aku tak akan tersiksa. Kepalaku sakit membayangkan akhir Agustus nanti. Gawat, bisa-bisa asmaku kambuh. Tenang Ryuu, tenang. Jangan biarkan tubuhmu ikut tersiksa. Aku tak mau dijejali obat lagi.

Aku memeriksa kalender, menghitung berapa hari lagi aku bisa bertemu dengannya. Sekarang 14 Juni, seminggu lagi ia akan ke Eropa untuk liburan dan ia baru pulang pertengahan Juli. Itu artinya…..aku tak kan bisa bertemu dengannya lagi. Hingga empat tahun mendatang…

****

Aku menyibukkan diri dengan mengurus berkas-berkas universitas. Setiap hari aku harus ke kampus untuk mengisi berbagai macam formulir. Aku berusaha melupakannya, tapi sulit bagiku untuk benar-benar  melupakannya.

Tak tahan, aku mengirim beberapa message pada Jungsoo. Aku mengelak setiap kali ia menanyakan ‘Kau kangen aku?’. Aku selalu menjawab ‘Tidak’. Tapi aku tahu, Jungsoo tak bisa dibohongi semudah itu. Ia pasti tahu.

Dan hari yang ku tunggu pun tiba. Jungsoo pulang dari Amsterdam. Ia datang ke rumahku, beberapa jam setelah ia sampai. Ia bercerita banyak hal. Dari heningnya kota Amsterdam hingga mahalnya biaya di Paris. Aku menyimaknya, menanggapinya dengan beberapa pertanyaan konyol. Ia mengeluhkan tentang eonni nya yang salah jadwal kereta hingga mereka harus membeli tiket yang baru. Ia bahkan menceritakan saat ia dan keluarganya harus berdesakan dalam satu kamar.

Aku tertawa mendengar ceritanya.

Caranya bercerita selalu membuatku tergelak.

Jungsoo sangat ekspresif. Aku suka Jungsoo yang seperti ini.

Tanganku gatal, ingin sekali merapikan rambutnya seperti yang biasa ku lakukan dulu.

Aku ingin sekali mengenggam tangannya, memeluknya, saling menempelkan pipi seperti dulu.

Aku rindu merasakan detak jantungnya setiap kali ia memelukku.

Aku merindukan saat-saat kami makan bersama di kantin, bersenda gurau di perpustakaan dan pulang bersama.

Aku teringat saat ia memberikan kejutan di hari ulangtahunku yang ke-16. Bahkan memberikanku kalung dan boneka setiap kali kami pergi menonton. Bayangan-bayangan masa lalu itu menyesakkan dadaku.

Aku berusaha menjaga emosiku agar tetap tenang. Sampai ia pamit pulang, aku tetap memaksakan diri tersenyum dihadapannya.

Aku menaiki tangga, memasuki ‘studio’ kecilku. Sebenarnya, ini kamar yang ku jadikan studio foto untuk blog pribadiku.

Kenapa aku menyebutnya studio kecil?

Karena disinilah aku memotret fashion style ku dan latihan dance.

Dan disinilah hadiah pemberian Jungsoo ku simpan. Satu diantaranya adalah ukiran kaca berwarna biru. Aku menggigit bibir saat aku membaca tulisannya.

‘Kau tak akan sendirian lagi’

 

Kau bohong, Jungsoo. Kini aku sendirian lagi. Seperti sebelum kita bertemu.

Mataku berpindah ke sofa. Tas-tas menumpuk dan tak terurus. Diatas tumpukan tas, sebuah boneka beruang kecil memakai baju pink seolah memandangku. Hadiah ulangtahunku yang ke-17. Dibawahnya, boneka lumba-lumba berwarna biru tersenyum bahagia. Pemberian dari Jungsoo pada hari kencan kami yang kedua. Saat itu kami baru saja berpacaran.

Aku duduk ditepi kasur, mengambil komik favorit kami berdua.

Psychometrist Eiji.

Aku ingat saat Jungsoo meminjamkannya padaku. Awalnya aku tak suka dengan komik rating dewasa seperti itu, namun lama kelamaan aku justru mengoleksinya.

Mataku menangkap obyek lain di kasurku. Boneka beruang cokelat. Hadiah pertama dari Jungsoo.

Ternyata aku memang tak bisa melupakannya. Buktinya, aku masih menyimpan semua hadiah-hadiah itu. Aku tersenyum miris melihat semua pemberian Jungsoo.

Aku menaruh komik itu di rak semula. Ada benda lain yang menarik perhatianku. Komik Black Butler milik Jungsoo. Aku selalu lupa mengembalikannya.

Ku alihkan pandanganku ke tempat lain, namun aku justru melihat satu benda yang pernah Jungsoo berikan padaku. Bantal pink berbentuk hati.

Aku memilih benda ini karena aku iri dengan eonni ku. Ia mendapat bantal pink ukuran besar dari seorang lelaki.

Ku usap bantal itu perlahan, memeluknya. Hm. Aku benar-benar merindukan Jungsoo. Sangat merindukannya.

Oh iya, aku hampir lupa sesuatu. Tadi kan aku ingin mengambil anting. Aku berjalan masuk lagi kedalam kamar. Ku buka kotak aksesorisku, bukannya mencari anting, aku malah terpaku pada gelang berwarna biru dan kalung putih. Hadiah dari Jungsoo ketika ia berwisata bersama orangtuanya.

Ah…Jungsoo….

Setelah aku menemukan antingku dan memakainya, aku beranjak keluar dari kamar. Namun yang terjadi aku justru menemukan benda lain.

Pemberian Jungsoo diawal kami berpacaran.

Tas berukuran besar dan berwarna hitam-hijau terkulai di sofa.

Aku jadi ingat saat ia memberikan tas ini sepulang sekolah. Gara-gara tas ini, eomma ku marah dan akhirnya mengajakku pergi membeli semua keperluanku :p

Aku menuruni tangga, menuju ‘ruang kerja’ ku.

Yang ku maksud ruang kerja adalah kamar kosong yang terletak di lantai satu. Aku sering menggunakan kamar itu sebagai tempat aku menulis dan beristirahat.

Baru saja aku membuka ponsel dan duduk di kasur, mendadak aku teringat ucapan temanku beberapa hari lalu.

“Pandangan matamu berubah saat kau menceritakan Jungsoo. Kau terlihat bahagia,”

 

Sejelas itukah ekspresi wajahku? Apa iya aku terlihat bahagia?

Ah…ternyata aku tak bisa menipu diriku sendiri. Aku masih mencintai Jungsoo. Jungsoo, akankah kita bertemu lagi?

Akankah kau mengingatku meski kita berada di negara yang berbeda?

Aku memeluk diriku sendiri, membayangkan kisah kami empat tahun mendatang.

Dan tiba-tiba saja, tubuhku terasa dingin.

Jungsoo….

T. B. C

PS: Hey, readers! Sorry for late update >.< I’m so busy with my college task and I don’t have much time for writing T___T  Buat yang belum tahu, Decision merupakan sekuel dari My Immortal. Sengaja aku bagi jadi beberapa part karena ceritanya sangat panjang. Tidak ada penambahan cerita. Hanya sedikit pengurangan pada bagian-bagian yang tidak penting ^^ Buat Snakes On The Plane dan Seven Princess, aku belum tahu kapan bisa melanjutkan. Mungkin pas libur kuliah ^^

Well, enjoy this FF and happy reading, fellas! ^^

We’re Meet In Same Fate

Kita bertemu dalam lautan kegelapan

Kita bersatu dalam lautan kegelapan

Tapi mengapa kita menaiki perahu yang berbeda?

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“ Saya Kim Kibum. Saya yang akan menjadi bodyguard Anda selama satu bulan ini,” Pria itu melirik, mengamati penampilan Kibum dari atas hingga bawah. Kibum berusaha mempertahankan senyumnya, meski dalam hati sedikit kesal. Ia diminta menjadi bodyguard seorang pengusaha oleh atasannya. Kalau saja ia sedang tidak butuh uang, ia tak akan berada di tempat itu.

Pria itu bangkit dari kursinya, mengambil jasnya. Tangannya meraih pintu. Matanya melirik kearah Kibum. Kibum sedikit kaget dilihat seperti itu. “ Kenapa kau masih disitu? Bukankah bodyguard seharusnya membukakan pintu untuk majikannya?” Ucapan pria itu membuat Kibum semakin panas. Namun sebisa mungkin, ia tahan emosinya. Sambil menahan kesal, Kibum membukakan pintu untuk pria itu. Dalam hatinya, ia mengutuk pria itu dan bersumpah akan membunuhnya!

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“ Jangan mengeluh, Bummie. Tugasmu kali ini berdasarkan permintaan langsung dari Tuan Kyuhyun,” ujar Sungmin saat Kibum meneleponnya untuk protes. “ Tapi dia menyebalkan! Rasanya aku ingin membunuhnya,” protes Kibum gusar. Ia melirik Kyuhyun yang sedang sibuk melakukan inspeksi di perusahaannya. Majikannya itu sibuk memeriksa setiap detail produk yang dihasilkan dan menegur karyawannya jika ada produk yang cacat. Kibum membelakangi Kyuhyun, melanjutkan protesnya. “ Pokoknya, setelah pekerjaan ini selesai, aku mau cuti!” desis Kibum. Terdengar helaan nafas dari seberang.

“ Ya, aku mengerti. Sekarang, laksanakan tugasmu. Jangan banyak protes!”

“Ya!”

Trek! Sungmin memutuskan sambungan. Emosi Kibum memuncak. Ponsel dalam genggamannya nyaris retak, karena digenggam terlalu erat.

“ Hei, kau,” Kibum menoleh, merapikan pakaiannya. Ia melihat majikannya yang angkuh berdiri tak jauh darinya.

“Ada apa Tuan?” tanya Kibum berlagak sopan. Kyuhyun mengeluarkan secarik kertas, memberikannya pada Kibum. “ Belikan barang-barang yang ada dalam daftar itu,” perintah Kyuhyun. Kibum melongo melihat isi daftar itu. Ia menatap Kyuhyun dengan ragu. “ Ini semua?” tanyanya. Kyuhyun mengangguk mantap. “ Ya. Semuanya,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“ MATI KAU BRENGSEEEKKK!!!!!” jerit Kibum sejadi-jadinya. Ia tak peduli meski beberapa orang berbisik, membicarakannya dan menganggapnya gila. Baru sehari ia bekerja, ia sudah dibuat stres oleh majikannya. Rasanya ia ingin menembaki majikannya dengan Remington saat itu juga. Dilihatnya daftar barang yang harus ia beli. Sesaat ia ingin merobeknya, namun ia tahan karena ia tak mau bermasalah di hari pertama kerja.

“ Tenang Kibum, tenang. Kau mesti tahan emosi. Anggap saja ini cobaan di hari pertama kerja,” ucap Kibum mencoba bersabar. Didorongnya troli ke rak minuman, memilih beberapa kaleng cola.

“ Cola…lalu kimbap…lalu…” Kibum sibuk memilih-milih makanan, sampai-sampai ia tak sadar ada orang didepannya.

BUK!

“ Gyaa!!”

“ Huwaaaa….maaf, maaf! Kau tak apa-apa?” Kibum membantu orang itu berdiri. Orang itu menatap Kibum, mata mereka pun bertemu.

 

Saat aku melihatmu

Aku merasakan seberkas cahaya menyinari hidupku

Aku merasa…kau bagai bintang dalam hidupku yang kelam

 

Kibum tertegun. Kini dihadapannya ada seorang gadis berambut cokelat dan bermata sipit. Selama sedetik, ia seperti tersihir. Hanya diam melongo, memperhatikan gadis itu.

“ Tu..Tuan?” panggil gadis itu. Kibum tetap diam mematung. Gadis itu melambaikan tangannya, namun tak ada respon.

“ Tuan!” seru gadis itu. Teriakan itu membuat Kibum tersadar. “ Ah..maaf…sepertinya aku melamun,” ujar Kibum. Matanya tetap memperhatikan gadis itu.

“ Anda..baik-baik saja kan, Tuan?” tanya gadis itu khawatir.

“ Aku baik-baik saja. Kau sendiri? Tak ada yang luka kan?” Kibum balik bertanya. Gadis itu menggeleng. “ Aku baik-baik saja. Maaf aku benar-benar tak sengaja,” Gadis membungkuk, memohon maaf. Kibum yang merasa tak enak, menyuruh gadis itu tegak. “ Aku juga salah. Seharusnya aku melihat-lihat jalan,” ucap Kibum. Gadis itu tersenyum lega mendengar ucapan Kibum.

 

Senyumanmu membuatku tersihir

 Kau bagai Rosalind yang merindukan Orlando

 

“ Hei, apa yang kau lakukan disitu? Cepat kembali!” Terdengar seseorang meneriaki gadis itu.

“ Ba..baik!” balas gadis itu. Ia berbalik menghadap Kibum, membungkuk lalu pergi berlari menuju orang itu.

“ Tunggu dulu!” seru Kibum. Gadis itu berhenti, menoleh kearah Kibum.

“ Ya, Tuan?”

Kibum menelan ludah, berusaha menahan rasa gugupnya. “ Kau…namamu siapa?” tanya Kibum. Gadis itu tersenyum, “ Aku Kaoru. Hasegawa Kaoru,”

Gadis itu pun bergegas pergi sebelum Kibum sempat menanyakan lebih lanjut. “ Sial…aku belum menanyakan alamatnya…”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Kyuhyun menatap sinis Kibum, sementara Kibum menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap langsung majikannya itu. Karena terlalu lama saat di supermarket, Kibum terlambat lima menit dari waktu yang ditentukan majikannya.

“ Baru hari pertama, sudah melakukan kesalahan…” kata Kyuhyun sambil tetap menatap sinis. Kibum menelan ludah, berharap ia tak diberi hukuman selain di pukul

(di Korea, jika pegawai/buruh melakukan kesalahan kerja meski hanya kesalahan kecil, ia akan dipukul kepalanya oleh majikannya. Tapi, hal ini hanya berlangsung sementara. Tak ada rasa dendam antara pegawai dan atasan)

“ Karena kau sudah terlambat….kau akan ku beri hukuman spesial,” lanjut Kyuhyun. Kibum berkeringat dingin. Padahal ia sudah mewanti-wanti diri sendiri agar tidak melakukan kesalahan. Kyuhyun terlihat sibuk membuka-buka notes jadwalnya. Tangannya terhenti pada salah satu halaman, matanya melirik Kibum.

“ Ini,” Kyuhyun menunjukkan halaman yang ia baca. Sebuah alamat.

“ Antar surat ini ke alamat ini. Dalam waktu sepuluh menit,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“ AAAARRRRGGGGHHH!!!!!!!!!!!!!”

Kibum mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Lama-lama ia merasa diperlakukan seperti budak.

“ MATI KAU, CHO KYUHYUN!!!!!!!!!!!!!!!!”

Kibum memberhentikan motornya, mengecek nomor rumah dengan alamat yang ia terima. “ Fuh. Tepat sepuluh menit,” ujar Kibum bernafas lega. Setelah mematikan motor, Kibum berjalan mendekati pagar. Tangannya baru mau menekan bel, seseorang sudah berteriak memanggilnya.

“ Tuan!”

Kibum menoleh, wajahnya mendadak cerah melihat siapa yang memanggilnya.

 

Suara indahmu saat memanggilku

Bagai nyanyian burung dikala pagi hari

 

“ Apa yang Tuan lakukan disini?” tanya Kaoru. Kibum mendadak salah tingkah dan gugup, namun ia berusaha menyembunyikannya.

“ Kau…kenapa ada disini?” Kibum balik bertanya. Nada suaranya terdengar gugup.

“ Ini rumahku. Kau sendiri sedang apa?”

 

Cupid mempertemukan kita kembali disaat yang tak terduga

Apakah ini takdir?

 

“ Ah…majikanku menyuruhku mengantar surat ini,” Kibum menyerahkan surat itu pada Kaoru.

“ Baiklah. Nanti akan kusampaikan jika kakakku sudah pulang,” ujar Kaoru.

Ia tersenyum, berbalik badan masuk kedalam rumah. Kibum balas tersenyum, menyalakan motornya kembali. Namun ia tampak enggan untuk pergi. Selama beberapa saat, ia menatap rumah itu. Kaoru yang sedang menaruh surat di ruangan kakaknya, tersenyum saat matanya bertemu dengan mata Kibum.

 

Aku benci perpisahan

Mengapa setiap pertemuan harus ada perpisahan?

Tak bisakah kita bersama selamanya?

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“ Sudah kau berikan?” tanya Kyuhyun. Kibum mengangguk. “ Bagus. Tiga hari lagi, kau ambil balasannya. Mengerti?” perintah Kyuhyun. Kibum membungkuk, “ Saya mengerti, Tuan,”. Kyuhyun memutar kursinya, menghadap ke jendela. “ Bagus. Kau boleh keluar sekarang,” Kibum membungkuk singkat, menegakkan diri lalu berjalan keluar pintu.

Keluar dari ruangan, Kibum berhenti sebentar dan meregangkan badan.

“ Sepertinya kau lelah, Bummie,” Kibum menoleh kearah sumber suara, mencibir saat mengetahui pemilik suara tersebut.

“ Dia benar-benar mengesalkan. Rasanya aku ingin menembaki kepalanya,” ujar Kibum kesal.

Sungmin merangkul Kibum, “ Sudah, sudah. Daripada kau marah-marah, lebih baik kita minum bersama. Bagaimana?”

Tanpa pikir panjang, Kibum mengiyakan ajakan Sungmin. Lagipula ia memang butuh istirahat setelah bekerja seharian.

Sesampainya di bar, Sungmin dan Kibum memilih meja yang terletak disudut. Sungmin memanggil pelayan, memesan minuman untuknya dan Kibum. Setelah memesan, Sungmin melirik Kibum yang kelihatannya masih kesal.

“ Kau…masih marah ya?” tanya Sungmin hati-hati. Kibum menghela nafas. Sungmin menganggap itu sebagai jawaban.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.

“ Silakan,” Pelayan itu menaruh pesanan mereka diatas meja.

“ Terimakasih…eh? Kau?” Kibum terbelalak, tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“ Tuan..” Kaoru sama terkejutnya dengan Kibum.

“ Eh? Kalian saling kenal?”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“ Hoo…jadi kalian bertemu di minimarket toh..” Sungmin manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Kibum.

“ Lalu? Kenapa kau memanggil Kibum dengan sebutan ‘Tuan’?” tanya Sungmin heran. Kaoru tersipu malu, wajahnya memerah. “ Itu…aku tak tahu namanya. Jadi aku memanggilnya ‘Tuan’,” jawab Kaoru. Sungmin melirik Kibum. Ia tahu pemuda itu menahan rasa malunya.

“ Maaf, Tuan. Aku harus kembali bekerja,” Kaoru beranjak dari kursinya. Belum sempat ia pergi, Kibum menahannya. Kaoru terkejut dengan tindakan Kibum. Hatinya berdebar-debar saat tangan Kibum mengenggam erat tangannya.

“ Tolong temani aku sebentar, Kaoru,” pinta Kibum. Kaoru terperangah mendengarnya.

“ Tuan…”

 

Detik itu juga, aku merasa menjadi orang yang egois

Egois karena diriku, jiwaku menginginkanmu sepenuhnya

 

Sungmin berdehem keras, mengagetkan Kaoru dan Kibum.

“ Ehm..mungkin sebaiknya aku segera pulang. Tak enak berlama-lama disini,” Sungmin merapikan jasnya, pergi meninggalkan Kibum bersama Kaoru. Sementara itu, Kibum masih mengenggam tangan Kaoru. Kibum menatap Kaoru, menyuruhnya duduk. Kaoru menurut saja, meski ia sebenarnya gugup.

“ Kaoru,” panggil Kibum.

Kaoru menatapnya takut-takut. “ Ya, Tuan?”

Kibum tersenyum kecil mendengar panggilan itu. “ Tolong, panggil aku Kibum. Jangan panggil aku Tuan. Ok?” pinta Kibum. Ekspresi wajah Kaoru berubah. Ada perasaan senang muncul dari dalam dirinya.

“ I..iya… Kibum,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Pukul 23.30….

Kibum melepas jasnya, melemparnya sembarang. Ia benar-benar merasa lelah setelah bekerja seperti budak seharian.

“ Haaah….hari yang berat..” Kibum membaringkan diri.

Pikirannya melayang pada pertemuannya dengan Kaoru hari ini. Padahal ia baru sehari bertemu dengan Kaoru, namun ia merasa seperti ada yang hilang. Ia jatuh cinta pada gadis itu. Pada Hasegawa Kaoru.

 

Meninggalkanmu seribu kali lebih buruk ketimbang saat dekat denganmu

Seorang pecinta mendekati kekasihnya ibarat siswa senang meninggalkan buku

Ketika ia meninggalkan kekasihnya, ia merasa kesal seperti siswa berangkat sekolah

-Babak II Romeo&Juliet-

 

Kibum membuka ponselnya. Wallpapernya sudah berganti menjadi foto Kaoru. Ia memotretnya saat bertemu di bar. Kibum tersenyum melihat wallpapernya. Baru kali ini ia merasa jatuh cinta.

 

Apakah hatiku pernah mencinta sebelumnya?

Mataku yang telah berbohong

Karena aku tak pernah melihat kecantikan sejati sebelum malam ini

-Babak I Romeo&Juliet-

  

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Kaoru POV

Kibum… Ternyata namanya Kibum. Entah kenapa, aku merasa ia lain dari pria yang pernah ku temui sebelum ini. Ah, bicara apa aku ini? Aku baru bertemu dengannya hari ini. Tapi kenapa aku berdebar-debar? Belum pernah aku merasakan ini. Kibum-ssi…kehadiranmu membuatku gila. Ya, cinta telah membuatku gila.

 

Cinta datang begitu cepat

Seperti halnya Oliver mencintai Celia

 

Tok, Tok! “ Siapa?”

Pintu kamarku terbuka. Seseorang dengan pakaian hitam berdiri disana.

“ Tuan mencarimu. Ia ingin kau segera ke ruangannya,”

Ah, rupanya salah satu pesuruh kakak. Ada apa ia memanggilku selarut ini?

Ku percepat langkahku menuju ruangan kakak. Ia bukan orang yang sabar, aku tahu itu. Sesampainya didepan ruangan, aku mengetuk pintu perlahan.

“ Masuklah,”

Aku membuka pintu itu, mendapati kakak sedang duduk sambil memeriksa dokumen-dokumen.

“ Kemarilah,”

Aku berjalan menghampirinya. Dalam hati, aku merasa takut. Tak biasanya dia memanggilku bertemu empat mata seperti ini. Apa aku membuat kesalahan?

“ Tadi kau yang menaruh surat ini?” tanyanya.

Tangannya melambaikan amplop suratyang tadi ku taruh di mejanya. Aku mengangguk, mengiyakan. Itu surat dari majikan Kibum, namun aku sendiri tak tahu apa isi surat itu. Tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah. Ia menyeringai, membuatku takut.

“ Dasar kuno. Kenapa ia mesti menulissurat? Kenapa ia tidak mengirimkan e-mail saja?”

Benar juga. Aku baru sadar. Kenapa majikan Kibum mengirimi kakakku surat? Padahal ada cara yang lebih praktis ketimbang repot-repot menulis surat.

“ Ternyata ia masih takut menggunakan e-mail. Padahal aku sudah menyakinkannya. Tak akan ada yang bisa meng-hack e-mailnya,” Aah…begitu rupanya. Majikan Kibum takut jika ada yang mengetahui pesannya. Pasti itu sangat rahasia.

“ Kaoru,”

“ Ya, Kak?”

“ Tiga hari lagi…apa kau ada kegiatan?” Pertanyaannya mengejutkanku. Tak biasanya ia menanyakan jadwal kegiatanku.

“ Mmm….sepertinya tak ada,” jawabku. Ia beranjak dari kursinya, menghampiriku dan meremas bahuku.

“ Temani aku pergi ke suatu tempat. Tiga hari lagi,” Apa? Menemani Kakak?

“ Kemana?” tanyaku. Kakakku tersenyum, menepuk bahuku.

“ Nanti kau juga tahu,”

Setelah ia mengucapkan itu, aku disuruh kembali ke kamar. Aku masih tak mengerti. Kenapa ia memintaku? Bukankah ada pesuruh yang bisa menemaninya? Aku tak mengerti.

Drrrt…Drrrt!

Ponselku bergetar. Sepertinya ada pesan masuk.

 

From: Mr. Kibum
Kaoru, apa kau besok sibuk?

 

Ki…Kibum? Kyaa!!! (>///<)

Aku bergegas masuk kedalam kamar sambil membalas pesannya.

 

To: Mr. Kibum
Besok? Mmm…sepertinya tidak.
Kenapa?

 

Tanganku gemetar saat mengirim balasan. Ini benar-benar keajaiban!! ><

 

From: Mr. Kibum
Besok kau mau jalan-jalan disekitar ShinDangDong? Atau ke Dongdaemun?

 

To: Mr. Kibum
Tentu! ^^
Jam berapa?

 

From: Mr. Kibum
Jam sembilan. Aku akan menjemputmu didepan rumahmu.

 

Kyaa!! Aku tak menyangka ia akan mengajakku pergi! Apa ini yang namanya kencan?

Eh..tapi aku tak punya pakaian bagus. Aku membuka lemariku. Mataku tertumbuk pada satu blouse berwarna kuning cerah. Sepertinya ini cocok untuk besok. Apalagi dipasangkan dengan celana jeans. Hihi..aku jadi tak sabar menunggu besok.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Keesokan harinya, Kibum menjemput Kaoru tepat jam sembilan pagi. Mereka pergi menuju ShinDangDong, menikmati ttokbokki bersama. Selesai makan, mereka pergi ke salah satu toko aksesoris. Kibum membelikan Kaoru gelang perak. Kaoru terkejut saat Kibum memberikan gelang itu.

“ Kau yakin?” tanya Kaoru. Kibum mengangguk. Kaoru tampak senang dan mengucapkan ‘Terimakasih’ berkali-kali.

Seharian penuh Kibum dan Kaoru menghabiskan waktu bersama. Tanpa mereka sadari, matahari telah bersembunyi dibalik awan. Kibum mengecek jam tangannya. Pukul 19.00.

“ Cepat sekali hari ini,” komentar Kaoru.

“ Iya. Sebaiknya ku antar kau pulang sekarang,” Kaoru mengeluh mendengar ucapan Kibum. Ia tak ingin berpisah dengan Kibum.

“ Ayo. Nanti kakakmu marah,lho,” Kaoru terpaksa menurut. Meski ia sama sekali tak ingin pulang.

 

Satu jam terasa satu menit bagiku saat aku bersamamu
Mengapa hari berakhir begitu cepat?

 

Kibum sebenarnya merasa enggan, namun ia takut jika Kaoru dimarahi oleh kakaknya. Rasanya hari ini terlalu singkat.

 

Berpisah merupakan hal yang paling ku benci
Dan hal yang paling ku takuti di dunia ini

 

Kibum memberhentikan motornya tepat didepan rumah Kaoru. Setengah hati Kaoru turun dari motor Kibum. Kibum yang merasa tak enak, menghibur Kaoru.

“ Tenanglah. Dua hari lagi aku akan datang,”

Wajah Kaoru berseri-seri mendengar ucapan Kibum.

“ Benarkah?”

Kibum mengangguk.

“ Majikanku menyuruhku mengambil balasan surat dari kakakmu. Jadi kita bisa bertemu di hari itu,”

Kaoru berusaha menahan luapan kegembiraan dalam dirinya. Ia sangat senang, sampai-sampai ia tersenyum sangat lebar.

“ Nah. Sampai ketemu dua hari lagi, Kaoru,”

“ Ya. Sampai ketemu dua hari lagi, Kibum,”

 

Dua hari terasa lama bagiku
Tak bisakah waktu dipercepat?

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Dua hari kemudian….

Seperti yang dijanjikan Kibum, ia datang ke rumah Kaoru. Namun yang memberikan balasan surat bukan Kaoru melainkan seorang pemuda. Sepertinya ia pesuruh di rumah ini.

“ Nona sedang pergi bersama Tuan Muda,” jawab pesuruh itu saat Kibum menanyakan keberadaan Kaoru. Kecewa, Kibum memutar balik motornya kearah rumah Kyuhyun.

Sesampainya disana, Kibum bergegas masuk menemui Kyuhyun.

“ Masuk,” perintah Kyuhyun. Kibum membuka pintu perlahan, membungkuk singkat lalu memberikan balasan surat yang diminta Kyuhyun. Kyuhyun membacanya dengan seksama. Tak lama kemudian, ia meremas surat itu. Raut wajahnya terlihat kesal. “ Dasar. Keparat bodoh,” umpat Kyuhyun sambil menginjak surat itu. Kibum terkejut melihat majikannya naik darah. Ia sendiri tak tahu apa isi surat itu.

“ Kau,” Kyuhyun menunjuk Kibum.

“ Ya Tuan,” Kibum menegakkan diri.

“ Siapkan pistolmu. Ikut aku sekarang juga,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“ Berhenti,”

Kibum menghentikan mobilnya. Ia mendapati sekelilingnya hanyalah pepohonan. Entah kenapa Kyuhyun menyuruhnya berhenti disini. Kyuhyun keluar dari mobil, tampak kesal. Kibum mengikutinya dari belakang. Tangannya memegang pistol, waspada dengan keadaan sekitar.

Mereka berjalan sampai didepan rumah tua. Kyuhyun menyuruh Kibum membuka pintu rumah itu. Saat pintu dibuka, tampak bagian dalam rumah sangat rapuh. Kibum memasuki rumah itu, diikuti Kyuhyun. Sekilas semuanya aman-aman saja. Tapi Kibum yang sudah terlatih selama menjadi polisi, merasakan ada bahaya mengintai mereka.

 

DOR! DOR!

 

“ Tuan, lari! Terlalu berbahaya disini!” Kyuhyun berlari menyelamatkan diri, sementara Kibum mengejar si penembak.

 

DOR! DOR!

 

“ Sial! KELUAR KAU BRENGSEK!!” Kibum terus berteriak sambil menembak kesegala penjuru. Ia terus mengejar hingga ke lantai dua.

DOR!

“ Akh!”

Kaki Kibum tertembak. Ia pun jatuh tersungkur.

Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki. Kibum pasrah, ia tak bisa berlari dalam keadaan terluka. Suara langkah kaki itu semakin dekat dan dekat….

“ Kibum?”

Kibum terkejut mendengar suara itu. Kaoru. Tapi hari ini ia berbeda. Kaos putih dipadu dengan blazer hitam, celana hitam dan boots hitam membuatnya berbeda 180 derajat. Tangan kirinya mengenggam rifle. Ia sendiri juga sama kagetnya dengan Kibum.

“ Kibum….”

Air mata menetes dari kedua pelupuk matanya. Kibum tersenyum lemah, menghapus air mata Kaoru.

“ Maaf…aku tak tahu…” lirihnya.

Kaoru menaruh riflenya, menarik Kibum kedalam pelukannya.

“ Maafkan aku….maafkan aku…” Kaoru menangis. Ia merasa bersalah telah menembak Kibum hingga kakinya terluka.

“ Kaoru…sudahlah…” Kibum mencoba menghibur.

“ Aku…hanya diperintahkan untuk berjaga…tapi…ku pikir…kau…” Kibum menutup bibir Kaoru dengan jarinya.

“ Aku mengerti…Aku mengerti…” ucap Kibum.

Kaoru membantu Kibum berdiri, tiba-tiba saja ia merasa ada yang aneh. Udara dalam rumah mendadak panas. Tak hanya itu, nafasnya terasa sesak.

“ Kenapa disini menjadi panas?” Kibum melirik ke arah jendela. Asap. Kibum terbelalak menyadari sesuatu.

“ Ka…Kaoru…cepat pergi…” desak Kibum.

“ Kenapa?” tanya Kaoru. Kibum menunjuk keluar. Api. Dan mulai mengerogoti bangunan. Kaoru panik. Tak ada pilihan lain. Ia harus menggendong Kibum dan membawanya keluar.

“ Tinggalkan aku,” pinta Kibum. Kaoru menggeleng.

“ Tidak. Kita harus pergi bersama-sama,” Kaoru mengangkat tubuh Kibum, menendang pintu hingga pintu itu hancur.

“Ada untungnya juga aku belajar taekwondo,” gumam Kaoru.

Ia melihat ada tangga. Dengan cekatan ia berlari menaiki tangga sambil membawa Kibum. Kibum tak menyangka Kaoru mampu membawanya tanpa merasa lelah.

Sekeliling mereka hampir seluruhnya terbakar. Kaoru memutar otak. Ia harus menemukan jalan keluar. Pandangannya tertuju pada salah satu jendela yang terbuka. Kaoru menurunkan Kibum. Ia bersiap memecahkan jendela.

“ HEAAH!!!”

PRANGG!!

Dengan satu tendangan, Kaoru berhasil memecahkan jendela.

“ Hhh…hhh….ayo, kita harus keluar dari sini,” Kaoru mengangkat Kibum, namun Kibum menolak.

“ Jangan…kau saja…” pinta Kibum. Kaoru menggeleng.

“ Tidak. Apapun yang terjadi kita harus bersama,” Kaoru membuka blazernya, menggulungnya dan mengikatkannya di tubuh Kibum dan dirinya.

“ Ya ampun…kau ini…” Kibum takjub terhadap tindakan Kaoru.

Kaoru mengangkat tubuh Kibum dengan hati-hati sambil mengulurkan kakinya. Ia melihat ada tumpukan kardus bekas dibawah mereka. Kaoru menarik nafas. “ Bersiap untuk melompat, Kibum,” Kibum mengangguk, mengeratkan pegangannya. “ Siap…satu…dua…TIGA!!!”

 

Aku akan mengikutimu kemana pun kau melangkah

Tak peduli sesulit apa pun jalan yang kita tempuh

Aku akan selalu bersamamu

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Perlahan Kibum membuka matanya. Sekelilingnya berwarna putih. Aroma obat-obatan menusuk penciumannya.

“ Akhirnya kau sadar juga,” Kibum menoleh ke samping ranjangnya. Tampak Sungmin menutup korannya dan melipatnya.

“ Ini…”

“ Rumah Sakit. Polisi menemukan kalian diantara tumpukan kardus. Syukurlah kalian masih hidup,” Sungmin menaruh korannya, membetulkan posisi duduknya. Kibum menghela nafas lega. Sedetik kemudian ia teringat sesuatu.

“ Mana Kaoru?” tanya Kibum panik.

Sungmin menyuruh Kibum untuk tenang, menunjuk kearah sofa. Gadis itu tertidur di sofa. Tak ada luka sedikit pun di tubuhnya.

“ Ia hanya kekurangan oksigen. Selebihnya ia baik-baik saja,” ujar Sungmin. Kibum bangun dari ranjangnya, namun dicegah Sungmin.

“ Jangan membuatnya panik dengan melihat kondisi kakimu. Ia terlalu lelah. Terutama setelah interogasi tadi,” Kibum mengerutkan kening mendengar kata ‘interogasi’.

Sungmin menghela nafas, “ Hasegawa Kaoru menjadi saksi penting dalam peristiwa kebakaran kemarin. Pelakunya adalah Choi Siwon, kakak tiri Kaoru dan majikanmu, Cho Kyuhyun,” jelas Sungmin.

Tangannya merogoh sesuatu dalam saku jaketnya. Selembar kertas yang sudah diremas.

“ Bacalah,” perintah Sungmin. Kibum membaca isi kertas itu dengan seksama.

 

Sepertinya aku tahu alasan Kaoru menolakmu
Salah satu pesuruhku memergoki Kaoru sedang bersama seseorang di minimarket.
Dia juga memberikanku foto orang itu.
Aku yakin orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang mengantarkan surat ini.
Apa kau mengenalnya?
Jika iya, bawa dia ke tempat kita pertama kali bertransaksi.
Selesaikan semuanya disana secepat mungkin.
Aku akan membawa Kaoru juga.
 
Regards.
C.S.

 

“ Kaoru adalah calon tunangan Kyuhyun. Namun karena satu dan lain hal, Kaoru menolak pertunangan itu. Siwon sepertinya marah saat tahu adik kesayangannya itu pergi bersama orang lain. Itu sebabnya ia membakar rumah itu, untuk membunuhmu, Kibum,”

Penjelasan Sungmin membuat Kibum pusing. Dalam hati ia merasa bersalah pada Kaoru. Sungmin menepuk bahunya, menenangkannya. “ Sekarang istirahatlah. Jangan memaksakan diri,” Kibum melirik Kaoru, meremas surat itu.

“ Ya, baiklah,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Seminggu kemudian, Kibum diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Bersama dengan Kaoru, Kibum berjalan-jalan disekitar taman. Menikmati udara segar.

“ Seharusnya aku memberitahumu sebelumnya,” ucap Kaoru saat Kibum menanyakan tentang pertunangan Kaoru dengan Kyuhyun.

“ Aku menolaknya karena merasa ia bukanlah pria yang baik. Dan firasatku benar,” lanjut Kaoru.

“ Apa kau tak menyesal?” tanya Kibum.

Kaoru menggeleng.

“ Aku akan lebih menyesal jika aku tak memilihmu, Kim Kibum,” jawab Kaoru.

Kontan wajah Kibum memerah mendengar ucapan Kaoru. Kaoru terkikik geli melihatnya.

Kibum memainkan syalnya, seperti ada yang ia pikirkan.

“ Kaoru?” panggil Kibum.

“ Ya?” jawab Kaoru. Kibum mengenggam tangan Kaoru.

“ Maaf sudah merepotkanmu,” ucap Kibum. Kaoru kaget mendengarnya, namun dengan segera ia menguasai dirinya.

“ Tak apa-apa. Itu salahku karena membuatmu terluka,” balas Kaoru. Kaoru menyandarkan kepalanya di bahu Kibum, memejamkan mata. Kibum melepas genggamannya, merangkul Kaoru.

“ Terimakasih,”

Kaoru mengernyitkan dahi, “ Untuk apa?”

Kibum tersenyum kecil, “ Atas pertolonganmu,”

Ucapan Kibum membuat Kaoru senang. Dalam hatinya ia merasa damai. Dan tenang.

 

Aku bersyukur menemukanmu sebagai pendamping hidupku

Aku berjanji, aku tak akan melepaskanmu

Selamanya

 

THE END~

A/N: Rosalind, Orlando, Celia dan Oliver adalah nama tokoh-tokoh dalam cerita As You Like It karya William Shakespeare.

Seven Princess Part 9: Reason

Kyuhyun terkejut melihat pemandangan disekelilingnya. Semua terasa gelap. Ilusi yang dibuat Saki hancur berantakan, tepat setelah Saki pingsan. “ Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan?” ucap Kyuhyun panik. Ia belum pernah menghadapi hal seperti ini. Ia tak tahu bagaimana caranya menghilangkan ilusi. “ Kyuhyun-ssi! Saki!” Terdengar suara seseorang memanggil mereka. “ Ryuu?” panggil Kyuhyun. “ Ya! Ini aku!” jawab Seiryuu. Hanya suaranya yang terdengar, namun wujudnya tak ada. “ Kau dimana?” tanya Kyuhyun. Ia semakin panik. Saki tak kunjung sadar, sementara kegelapan mulai menyelimuti mereka. “ Tutup matamu! Aku akan melakukan sesuatu agar kalian bisa keluar!” perintah Seiryuu. Kyuhyun mengikuti saran Seiryuu, ia pun menutup mata seraya memeluk erat Saki. Ia tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Ia hanya merasa berputar dan berputar. Tanpa arah.

  ****

“ Kalian baik-baik saja?” Suara itu menyadarkan Kyuhyun. Perlahan ia membuka mata, dan mendapati dirinya berada di tengah lapangan Mansion Hiragawa. Ia melihat Saki masih belum sadar dalam pelukannya. “ Apa yang terjadi, Ryuu?” tanya Kyuhyun. Seiryuu berjongkok, menyamakan posisinya dengan Kyuhyun. “ Kalian tiba-tiba menghilang. Dan saat itu, aku melihat hembusan angin yang tidak biasa. Dari situ, aku menduga Saki sedang melakukan ilusi dan kau ikut kedalamnya,” jelas Seiryuu.

“ Setelah itu, kalian tak kunjung kembali setelah satu jam berlalu. Akhirnya, aku mendobrak paksa dinding ilusi yang dibuat Saki,” sambung Genbu. Kyuhyun terlihat bingung dengan penjelasan Genbu. “ Dinding ilusi Saki melemah karena pembuatnya juga melemah. Itu sebabnya aku bisa merusaknya dengan cakar batu,” tambah Genbu seraya menunjukkan tangannya yang sekeras batu.

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya, memeluk erat Saki. “ Mianhae….aku gagal menjadi Medium. Aku gagal…” gumam Kyuhyun. Genbu menepuk punggung Kyuhyun. “ Tidak. Aku mengerti apa yang menjadi penyebab insiden ini. Sekarang, lakukan apa yang sudah seharusnya kau lakukan,” ujar Genbu. Kyuhyun berdiri, menggendong Saki. “ Ya. Aku akan merawatnya. Kali ini, aku akan menjaganya dengan baik,” ucap Kyuhyun. Kemudian ia berjalan meninggalkan Seiryuu dan Genbu.

  ****

Kyuhyun POV

Bodoh. Aku benar-benar bodoh. Aku gagal mencegah  Saki menggunakan jurus Verbindung. Maafkan aku, Saki….

Tok, tok!

Siapa itu? “ Kyu, boleh aku masuk?” Itu seperti suara Donghae. “ Masuk saja. Tak ku kunci, kok,” balasku. Pintu kamar terbuka, tampak Donghae membawa tasku. “ Ini. Tadi tergeletak di lapangan mansion,” kata Donghae sambil menaruh barang-barangku. “ Gomawo,” ucapku pelan. Buru-buru aku menghapus air mataku. Jangan sampai Donghae melihatnya. “ Bagaimana keadaannya?” tanya Donghae. Aku menggeleng. Donghae menghampiriku, meremas bahuku, “ Kyu…” Aku menggigit bibirku, tubuhku gemetar, “ Aku gagal, Hae…aku gagal…” Tanganku mencengkram sprei tempat tidur Saki. Baru saja aku diperingatkan ZhouMi hyung untuk berhati-hati, sekarang sudah terjadi peristiwa buruk. Aku benar-benar bodoh!

“ Jangan menyalahkan diri sendiri, Kyu. Ini bukan salahmu,” hibur Donghae. “ Ini salahku…Aku tak bisa mencegah Saki melakukan jurus Verbindung…” sesalku. Donghae duduk disampingku. Dia menatap wajah Saki dengan ekspresi sedih. “ Setiap orang…pasti pernah melakukan kesalahan. Meskipun kita Medium, tapi kita bukanlah Angels yang bisa menjadi sempurna seperti yang mereka mau. Kita tetap manusia biasa, Kyu,” Aku terdiam mendengar ucapan Donghae. Tak biasanya ia berbicara seperti ini. Aku tahu, mau bagaimanapun, kami memang hanya manusia biasa. Tapi, tetap saja ada penyesalan yang membuatku merasa terbebani.

Tok, tok! Lagi-lagi ada yang mengetuk pintu. Siapa? “ Kyuhyun,” Ah, suara itu. Sepertinya ZhouMi hyung. Aku bergegas membuka pintu, mendapati ZhouMi hyung sedang bersandar. “Ada apa?” tanyaku. Raut wajah ZhouMi hyung terlihat serius.Ada apa ini? “ Kyu, Yang Mulia memanggilmu. Dia ingin kau segera menemuinya di menara timur,”

  ****

Menara timur White Castle merupakan salah satu sudut tergelap didalam bangunan White Castle.Para pelayan menyebutnya ‘Neil Maison’. Neil adalah nama Devil pemberontak yang diasingkan oleh Holy Queen pada abad 19. Disebut demikian karena menara timur merupakan tempat dimana Neil diasingkan hingga ia menjadi abu. Banyak yang percaya bahwa Neil masih ada di menara timur dalam wujud lain. Dan disanalah, Kyuhyun menghadap Raja Henry.

Kyuhyun mengetuk pintu menara perlahan. Tak ada suara, Kyuhyun membuka pintu itu. Tampak sosok Raja Henry sedang berdiri menghadap jendela menara. Cahaya rembulan menyusup masuk melalui jendela yang terbuka. Kyuhyun membungkuk, tak sanggup menatap Raja Henry secara langsung. “ Tegak, Kyu,” perintah Raja Henry. Kyuhyun menegakkan diri, namun wajahnya masih tertunduk. “ Angkat wajahmu, Kyu,” perintah Raja Henry. Kyuhyun mengangkat wajahnya, meski dalam hati ia merasa takut. “ Kyu, apa kau ingat tugasmu sebagai Medium?” tanya Raja Henry. Kyuhyun mengangguk, “ Tentu saja, Yang Mulia,”. Raja Henry berbalik badan, raut wajahnya terlihat serius. “ Aku kecewa padamu, Kyu,” ucap Raja Henry. Kyuhyun tertunduk, menggigit bibirnya. “ Mianhamnida…Henry-nim…. Mianhamnida…” ucap Kyuhyun lirih. Raja Henry mendekati Kyuhyun, meremas bahunya. “ Kesalahanmu terlalu besar untuk dimaafkan, Kyu,” Kyuhyun menatap nanar, tubuhnya terasa lemas. “ Apa yang harus saya lakukan?” tanya Kyuhyun. Raja Henry membisikkan sesuatu di telinga Kyuhyun. Mendadak raut wajah Kyuhyun berubah, bola matanya berubah menjadi merah pekat. Raja Henry menatap Kyuhyun, “ Laksanakan,” Kyuhyun tersenyum sinis, “ Baik, Yang Mulia,”

****

Malam semakin larut. Bulan bersinar menerangi Mansion Hiragawa.. Cahayanya menyusup melalui jendela kamar Saki. Gadis itu mengerjapkan matanya.

“ Ini…kamarku?” gumamnya setengah sadar. Saki menegakkan diri. Hal pertama yang ia lihat adalah Kyuhyun. Pemuda itu duduk sambil menyilangkan kaki dan melipat tangan. Wajahnya terlihat dingin. “ Akhirnya kau sadar juga,” ucapnya. Saki mengernyitkan dahi. Seperti bukan Kyuhyun, pikirnya. Kyuhyun bangkit dari kursinya. Mendadak tubuh Saki merinding saat Kyuhyun menghampirinya.

“ Ayo. Sebentar lagi waktunya patroli,”

Dingin bagaikan es. Kyuhyun seperti orang lain saat berbicara. Saki menatapnya dengan perasaan takut. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Tampak sosok Kanna berlari kegirangan menghampiri Saki. “ Akhirnya kau sadar! Kami benar-benar cemas. Kau baik-baik saja kan?” Kanna memeluk Saki dengan erat. “ Aku tak apa-apa, Kanna,” Saki melepas pelukan Kanna. Pandangannya beralih pada Kyuhyun yang berdiri tak jauh dari mereka. Kanna mengikuti arah pandangan Saki. Hal yang sama terjadi pada Kanna.Ada rasa takut muncul dari dalam dirinya. “ Apa kalian sudah selesai?” tanya Kyuhyun datar. Saki mengerling kearah Kanna. “ Sebentar,” Kyuhyun mendengus, “ Ku tunggu kau di luar,” Kyuhyun keluar dari kamar, menutup pintu. Kanna meremas tangan Saki. “Ada apa?” tanya Saki. Kanna menggigit bibir bawahnya, “ Auranya….sama seperti saat aku pertama bertemu dengannya,”

****

“ Kali ini tim kita akan patroli disekitar Roche,” Leeteuk memimpin rapat. Kanna mendengarkan dengan seksama. Kyuhyun mendengarkan dengan sikap angkuh, sementara Saki sama sekali tak bisa konsentrasi. Ia masih memikirkan tingkah laku Kyuhyun yang berubah drastis. Kyuhyun seperti orang lain sekarang.

“ Baiklah. Berpencar sekarang!”

“ Siap!”

Leeteuk terbang menuju arah timur, Kyuhyun menuju utara dan Kanna menuju selatan. Sementara Saki berdiri sendiri di barat. Angin malam ini sangat tidak bersahabat. Bagi Saki, angin malam ini terlalu tajam. Bercampur dengan aura kegelapan yang pekat. Sedetik kemudian Saki tersadar.Ada orang lain di wilayah patrolinya. Sebagai pengguna angin, Saki mampu merasakan aura orang lain bahkan dalam jarak jauh sekalipun.

Saki mengambil pisau kecil yang selalu ia taruh di saku celananya. Kondisinya tidak memungkinkan dirinya memakai kekuatan Angels. Ia belum pulih sepenuhnya. Yang bisa ia lakukan hanya menggunakan ilmu bela diri yang ia latih bersama Seiryuu.

Suara gesekan daun membuatnya terlonjak. Seseorang telah menyusup. Saki menahan nafas. Berbahaya jika ia bergerak sembarangan. Sambil menggenggam pisau, Saki berjalan perlahan.

“ GRRAAWW!!!”

Saki tak percaya dengan apa yang ia lihat. Monster. Dan makhluk buas itu berniat memangsa Saki. Gadis itu bertindak cepat, menusuk tangannya. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Shadow hanya bisa ditenangkan oleh Angels yang memiliki kemampuan khusus seperti dirinya. Darah mengalir dari tangan Saki. Ia bergerak mundur saat Monster itu mendekatinya. Awalnya Monster itu merunduk, mencium bau darah Saki. Namun tanpa diduga, Monster itu malah semakin buas dan menyerang Saki. “ Apa? Tidak mungkin!” jerit Saki. Panik, ia menyerang Monster itu dengan tendangan karatenya. Monster itu berkelit, menangkap kaki kanan Saki. Saki berputar, melepaskan diri dari cengkraman Monster itu. “ Tak ada pilihan lain,” desisnya. Saki melepas paksa kalungnya. Dalam hitungan detik, kalung itu berubah menjadi harpa. Monster itu bergerak semakin cepat. Saki memegang harpa itu dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya bersiap memainkan senar harpa itu.

“ GRRRAAAWW!!!”

Suara dentingan harpa membuat Monster itu menjerit kesakitan. Semakin lama tempo permainan Saki semakin cepat. Dan Monster itu menggeliat, menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.

“ GRRAAA!!!”

Permainan harpa Saki berakhir, bersamaan dengan matinya Monster itu. Saki menghela nafas lega. Namun ia lengah. Seseorang menusuknya dengan panah dari belakang. “ Arrggh!!!” Saki jatuh tersungkur. Dicabutnya panah itu dengan hati-hati. Ia menjerit kesakitan setelah ia berhasil mencabut panahnya. Saki menoleh ke belakang. Rupanya ada orang lain selain Monster itu. Orang itu mengenakan jubah hitam. Wajahnya tak terlihat. Tangan kirinya memegang busur. Archer atau Hood? batin Saki.

DOR!

Suara tembakan itu mengejutkan Saki. Orang itu tertembak. Tepat di dada kanannya.

“ Saki!” Kanna berlari menghampirinya. Rupanya Kanna yang menembak. Tangannya menggenggam senapan laras panjang. “ Kurang ajar,” desis orang itu. Saki bersiap menyerang, begitu juga Kanna. Namun tanpa diduga, seseorang sudah menerjang terlebih dahulu.

“ KYUHYUN!”

Saki terperangah melihatnya. Orang itu tersungkur setelah diterjang Kyuhyun. Baru kali ini Saki melihat kekuatan fisik Kyuhyun. Orang itu menggeram marah. Kyuhyun memasang kuda-kuda, bersiap untuk serangan kedua. “ Saki, kau tak apa-apa?” Leeteuk  membantu Saki berdiri. Ia masih tak percaya melihat partnernya berubah menjadi liar. Tiba-tiba saja Saki merasakan aura jahat dari suatu tempat.

“ KANNA! BELAKANGMU!”

Tepat setelah peringatan Saki, seseorang menyerang Kanna. Namun berhasil dilumpuhkan oleh Kanna. Saki berdiri, mengambil harpanya. Angin malam semakin menusuk. Ini buruk, pikirnya. Kanna menembaki setiap sudut. Beberapa berhasil dimusnahkan, namun sebagian masih tetap menyerang. “ Kanna, jangan bertindak seperti Human! Mereka itu Shadow!” teriak Saki mengingatkan. “ Cih. Aku tahu itu,” Kanna melempar senapannya. Ia berlutut. Tiba-tiba saja bola mata Kanna berubah menjadi putih. Ditatapnya para Monster itu. Gerakan mereka terhenti. Seperti terhipnotis, Monster-Monster itu diam membeku. Kanna tersenyum sinis.

“ Senpai, sekarang!”

Leeteuk mengangguk, mengeluarkan sayapnya. Saki baru menyadarinya. Ketika Leeteuk mengepakkan sayapnya, muncul jarum-jarum kecil dari sayapnya. Jarum-jarum itu menusuk Monster-Monster itu. Dalam hitungan detik, Monster-Monster itu berubah menjadi abu.

“ TIDAK!!”

Orang itu berteriak marah. Kyuhyun menggunakan kesempatan itu untuk menyerangnya. Diterjangnya orang itu dengan tendangan karatenya. “ Kena kau, sialan!” umpat Kyuhyun. Orang itu mundur selangkah, tangannya bersiap membidik Kyuhyun. Saki yang melihat itu, dengan sigap melempar pisau kecilnya. “ AARRRGHHH!!!” Orang itu menjerit. Pisau kecil milik Saki menancap di tangan kanannya. Saki mengambil harpa, bersiap memainkannya. Sementara Kyuhyun berlari menyerang orang itu. Secara bersamaan, Saki memainkan harpanya dan Kyuhyun menghajar orang itu. Kombinasi yang sempurna. Orang itu tak sanggup melawan karena permainan harpa Saki. Musik yang dimainkan Saki sangat mematikan bagi lawannya. Dan Kyuhyun melihat celah itu, menghabisinya sampai orang itu tak sanggup bergerak.

Saki berhenti memainkan harpanya. Ia mendelik kearah jasad musuhnya. Meski orang itu sudah tewas, namun Saki masih merasakan aura jahat dari tubuh orang itu. Mendadak Kanna merintih kesakitan. “ Kanna!” Leeteuk menahan tubuh Kanna. Entah kenapa gadis itu merasa kesakitan. “ Panas…” lirihnya. Saki terbelalak mendengarnya. Ia menoleh kearah Kyuhyun.

“ KYUHYUN! MENYINGKIR!!”

Terlambat. Tiba-tiba saja jasad orang itu meledak. Leeteuk melindungi Kanna dengan sayapnya, sementara Saki tiarap menghindari ledakan. Kebakaran tak terhindarkan. Kanna memadamkan api dengan kekuatan airnya, meski kulitnya seperti ditusuk karena panas api. Saki membeku di tempatnya. Hal yang terakhir yang ia lihat adalah sosok Kyuhyun yang berada didekat jasad itu. Saki berlari menuju tempat kebakaran itu. Namun Leeteuk menahannya. “ Jangan! Disana berbahaya!” larang Leeteuk. Saki memberontak. Ia ingin menyelamatkan Kyuhyun. “ Lepaskan aku!”

“ Tidak! Kau tak boleh kesana!”

“ Tapi, tapi….”

Air mata Saki meleleh. Ia tak ingin kehilangan Kyuhyun. Bagaimanapun juga, Kyuhyun adalah partnernya. Hatinya sakit melihat dirinya tak berdaya.

“ Kyuhyun….Kyuhyun….KYUHYUN!!!!!”

“ Kenapa berteriak seperti itu?”

Saki terkejut mendengar suara itu. Ia menoleh. Ekspresi wajahnya mendadak cerah. Ia berlari, memeluk Kyuhyun dengan erat. Kyuhyun kebingungan, membalas pelukan Saki dengan perasaan kikuk. “ Syukurlah…kau…selamat…” Kyuhyun tersenyum, membelai rambut Saki. Leeteuk berlari menghampiri mereka. Ia juga tampak senang melihat dongsaengnya selamat. “ Kyuhyun!” panggil Leeteuk girang. “ Hyung, ada apa ini? Apa yang terjadi?” tanya Kyuhyun beruntun. Leeteuk kaget mendengarnya. Namun dengan segera ia menguasai diri. “ Tak ada apa-apa. Yang penting kau selamat,” ucap Leeteuk setengah berbohong. Kyuhyun menghela nafas lega. Saki mengernyitkan dahi, bingung mendengar ucapan Leeteuk. “ Memang kau tak ingat, Kyu?” Kyuhyun menggeleng. “ Itu wajar…”

“ LEETEUK!!!!! BERHENTI MENGOBROL! BANTU AKU, SIALAN!!”

Mereka bertiga terlonjak kaget. Mereka nyaris melupakan keberadaan Kanna. “ I..iya..aku datang!” Leeteuk buru-buru menghampiri Kanna, membantunya memadamkan api. Sementara Saki dan Kyuhyun tertawa melihat tingkah laku Leeteuk dan Kanna. Saki memeluk Kyuhyun, menyandarkan kepalanya. “ Aku senang kau baik-baik saja,” gumamnya.  Kyuhyun tersenyum, “ Aku juga,”

****

Pagi-pagi sekali Kyuhyun dan Saki menyusuri Apple Forest, menghirup udara segar. Berjalan santai membuat mereka lebih rileks. Saki yang masih penasaran dengan keadaan Kyuhyun semalam, bertanya secara langsung pada Kyuhyun.

“ Jadi kau tak ingat apa-apa tentang peristiwa semalam?” ulang Saki tak percaya. Kyuhyun mengangguk. Saki terperangah.

“ Aku hanya ingat saat aku di menara timur. Lalu tiba-tiba saja aku sudah di Roche,” Pengakuan Kyuhyun semakin membuat Saki melongo. Saat mendengar kata ‘menara timur’, bulu kuduknya merinding.

Saki tahu persis sejarah menara itu. Apalagi yang mengasingkan Neil adalah nenek buyutnya sendiri. Holy Queen generasi ke-20.

“ Tapi aku masih tak mengerti satu hal,” ujar Saki.

“ Apa?”

“ Bagaimana kau bisa selamat dari ledakan itu?” tanya Saki. Kyuhyun mencoba mengingat-ingat, kemudian ia menggeleng. “ Sepertinya ada yang mendorongku. Tapi aku tak tahu apa itu,” duga Kyuhyun.

Mereka berdua terus berjalan hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat. Saki bersandar disalah satu pohon. Pandangannya mengarah keatas pohon. Rupanya sudah banyak apel yang bisa dipetik. “ Kau mau?” tawar Kyuhyun. Saki mengangguk.

Kyuhyun mengulurkan tangannya, mencoba mengambil salah satu apel. “ Yeah!” Kyuhyun berhasil mengambil apel itu, memberikannya pada Saki. “ Kamsahamnida,” kata Saki. Kyuhyun tertawa seraya mengacak-acak rambut Saki, ikut bersandar di pohon.

Angin sepoi-sepoi menari bersama dengan pepohonan. Sambil memejamkan mata, Saki menarik nafas lalu menghembuskannya. Apple Forrest merupakan salah satu tempat yang bagus untuk bersantai setelah seharian beraktivitas. Apel dari hutan ini pun terkenal sangat manis. Saki mengigitnya sedikit. “ Bagaimana rasanya?” tanya Kyuhyun penasaran. Saki mengunyahnya sebentar. Ia merasakan rasa manis dan segar keluar dari apel itu. “ Enak,” gumamnya.

Kyuhyun mengambil satu apel lagi. Ia penasaran dengan rasa apel itu. Setelah ia coba, ia merasakan tubuhnya segar kembali. Kyuhyun teringat dengan ucapan Hankyung hyung semalam. Ia bilang, apel yang dipanen dari Apple Forrest sangat laku dijual. Banyak produk makanan dan minuman berbahan dasar apel hasil dari Apple Forrest.

“ Saki,” panggil Kyuhyun tiba-tiba

“ Ya?”

“ Kenapa kau melatih jurus ilusi?” Saki terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Matanya menatap lurus kedepan, namun pikirannya tak fokus. “ Dan lagi…kau selalu membuat ilusi Ibumu…” lanjut Kyuhyun. Saki tertunduk. Tangannya merogoh bagian dalam pakaiannya. Mengeluarkan sebuah kalung. Saki tersenyum sedih saat melihat kalung itu. “ Saat aku masih berumur lima tahun, Ibu memberiku kalung harpa, Sakura mendapat kalung pedang dan Seiryuu mendapat kalung es. Sewaktu aku berumur tujuh tahun, aku baru sadar kalau kalung ini bisa berubah menjadi benda nyata. Selain itu, bisa memainkan musik kematian seperti yang dimainkan Aria. Kalung ini satu-satunya peninggalan Ibuku yang ku miliki,” Saki menarik nafas, berusaha mengendalikan emosi. “ Ibuku…tewas saat aku berumur sepuluh tahun….” sambungnya. Pandangannya menerawang. Kyuhyun hanya diam, mendengarkan setiap kata yang diucapkan Saki dengan seksama. “ Kami benar-benar terpukul mendengar kabar kematian Ibu. Aku tak percaya…Ibu yang kuat dan tangguh, bisa dikalahkan oleh Monster…” Air matanya kini tumpah. Ia tak bisa menahan emosinya. “ Ilusi itu….ku pelajari dari buku rahasia milik Ryuu…” Mendengar nama Ryuu membuat Kyuhyun terkejut. “ Ryuu? Dia juga mempelajari jurus ilusi?” Saki mengangguk. “ Sebenarnya hanya Ryuu yang mempelajari jurus ilusi sampai tingkat tiga. Aku…menyalin catatannya saat ia pergi ke laboratorium dua bulan lalu,” ungkap Saki. Pengakuan Saki mengejutkan Kyuhyun sampai-sampai ia menganga. Saki mendelik sinis melihat sikap Kyuhyun. “ Kenapa? Aku salah melakukan semua itu?” tuntut Saki. Kyuhyun mengatupkan bibirnya. Tangannya bergerak membelai rambut Saki. “ Aku tak tahu apakah perbuatanmu benar atau salah. Bukan hakku untuk menilai semua itu,” Suara tenang Kyuhyun mengalun lembut di telinga Saki. Bagai terhipnotis, amarah Saki mereda. “ Aku hanya mencoba memahami alasanmu melakukan semua itu,” lanjut Kyuhyun.

“ Alasan? Apa yang kau tahu tentang alasanku?” Suara Saki bergetar. Perasaannya kini campur aduk.

“ Aku tak tahu. Tapi ilusi itu sangat nyata bagiku. Perasaanmu terhadap Ibumu mengalir kuat didalamnya. Aku merasa, meskipun itu hanya ilusi, tapi sosok Ibumu terasa hidup,” Kyuhyun teringat saat ia berada dalam ilusi buatan Saki.

Saki terduduk, air matanya mengalir. Ingatan tentang Ibunya muncul dalam benaknya. “ Saki, sebaiknya kau hentikan latihan ilusimu,” Saki tersentak. “ Apa maksudmu?” bentak Saki. Kyuhyun berusaha tenang. Seharusnya ia tak mengucapkan hal itu.

“ Apa kau tahu? Ilusi membuatmu tak bisa membedakan hal yang nyata dan yang tidak. Dan lagi, kau hanya akan terus melihat ke belakang. Kau akan lupa cara untuk maju. Kau hanya akan ingat untuk mundur,” Ucapan Kyuhyun diakhiri dengan tinju Saki yang mengarah ke perut Kyuhyun. Emosinya menggelegak. Saki bagai gunung api yang siap meledak.

“ Itu bukan urusanmu! Kau tak akan pernah mengerti!”

“ Aku mengerti! Tapi itu bukan jalan keluar yang baik, Saki!”

“ Kau tak mengerti, Kyu. Aku tak punya pilihan!!”

Saki pergi meninggalkan Kyuhyun. Hatinya sakit mendengar ucapan Kyuhyun. Ia menyesal telah mempercayai Kyuhyun. Sementara Kyuhyun terdiam di tempatnya. Padahal ia hanya ingin menyadarkan Saki. “ Aku sudah kasar padanya….”

****

Saki POV

Kyuhyun bodoh! Kyuhyun jelek! Kyuhyun jahat!!! Dasar tak tahu diri!

Seenaknya saja dia bilang aku harus berhenti latihan jurus ilusi. Dia tak tahu apa-apa tentang perasaanku. Dia pikir aku akan senang jika aku berhenti melatih jurus ini? Dasar sok tahu.

“ Kanna, apa ini cukup?”

Suara itu. Pasti Leeteuk. Akhir-akhir ini ia semakin akrab dengan Kanna. Saat patroli pun mereka selalu bersama. Menyenangkan sekali melihat Kanna bisa akrab dengan lelaki.

“ Cukup. Tolong taruh di gudang. Sisanya biar aku yang membereskan,” Hoo…ternyata mereka sedang membereskan hasil panen musim semi. Oh iya, hari ini panen ya? Aku sampai lupa.

“ Saki, sedang apa kau?” Genbu-senpai tiba-tiba muncul didekatku. Aku masih belum terbiasa dengan kemunculannya yang tiba-tiba seperti ini. “ Hanya melihat-lihat saja,” jawabku asal. Genbu-senpai kelihatannya tak semudah itu untuk dibohongi. Instingnya tajam. Ditambah lagi dia memiliki kemampuan mendeteksi pikiran orang lain dengan menyentuhnya. Eh? Menyentuh? Aku berbalik badan, mendapati jari telunjuk Genbu-senpai menyentuh rambutku. Ia hanya menyunggingkan senyuman melihat ekspresi kagetku. Sial. Senpai yang satu ini memang licik. Hanya dengan menyentuh ujung rambut, dia bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang itu.

“ Maaf,” ucapnya dengan wajah tak bersalah. Aku mencibir, berbalik membelakanginya.

“ Aku hanya ingin tahu kenapa Kyuhyun terlihat sedih,” Kyuhyun? Sedih karena apa?

“ Tapi sepertinya itu bukan urusanku. Jadi sebaiknya aku pergi saja,” Genbu-senpai berbalik pergi. Namun beberapa saat kemudian, ia berhenti. “ Ah iya. Sebaiknya kau membantu Angels Warrior yang lain. Sepertinya mereka kekurangan orang,” Kali ini ia benar-benar pergi meninggalkanku. Mungkin Genbu-senpai benar. Sebaiknya aku ikut membantu.

****

Musim semi merupakan musim paling menyenangkan bagi para petani dan pedagang. Karena di musim semi mereka bisa menjual hasil panen mereka. Biasanya para pedagang menurunkan harga dagangannya di musim semi. Dan hal itu membuat dagangan mereka laku keras.

Hari ini perkebunan White Castle sedang panen besar.Para pelayan dan Angels Warrior sibuk membereskan hasil panen. Sebagian akan dibawa menuju pabrik, sebagian disimpan dalam gudang.

“ Kau yakin mau ikut denganku?” Kanna bersiap menyalakan truk. Ekspresi wajahnya tampak khawatir. Saki mengangguk tegas. Kanna menghela nafas, mengalah.

Mereka berdua ditugaskan pergi ke pabrik pengolahan makanan. Pabrik tersebut terletak di kawasan industri yang jauh dari pemukiman penduduk. Berdasarkan Undang-Undang White Pasal 12, kawasan industri merupakan zona terlarang bagi para penduduk mendirikan suatu pemukiman. Saki hanya pernah membacanya dari buku. Belum pernah ia merasakan menginjak tanah kawasan industri.

Selama perjalanan, Saki dan Kanna tak berbicara satu sama lain. Kanna berkonsentrasi menyetir sementara Saki melihat-lihat pemandangan.

Truk mereka berbelok, melewati pagar hitam besar. Saki membuka jendela, membaca tulisan besar yang terukir di pagar. “ ‘Industries Zone’….Apa sebentar lagi kita akan sampai?” Kanna menggeleng, “ Kita baru melewati pagar perbatasan. Masih ada dua pabrik yang harus kita lewati sebelum kita sampai di tujuan,”

Seperti yang dikatakan Kanna, setelah mereka melewati dua pabrik, mereka sampai di pabrik pengolahan makanan. Kanna menghentikan mesin truk, bergegas turun untuk mengambil barang-barang. Saki ikut membantu mengangkat barang-barang. Beberapa buruh pabrik membantu mereka menyimpan barang-barang itu kedalam gudang. Selesai menyimpan barang, Kanna dan Saki pergi meninggalkan pabrik..

“ Akhirnya selesai!” pekik Kanna sembari menyalakan mesin truk. Saki melongo. “ Selesai?” ulangnya. Kanna mengangguk, “ Hari ini kita hanya mengantar ke pabrik makanan. Besok Leeteuk-sunbae dan Sungmin-ssi yang akan pergi ke pabrik minuman,” Saki hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Kanna.

Seperti saat mereka berangkat, mereka saling diam selama perjalanan. Saki mengerling sesaat. Kanna diam seribu bahasa tanpa menyadari Saki tengah meliriknya. Raut wajahnya serius. Saki mendadak penasaran dengan sikap Kanna. Tak biasanya gadis itu diam.

“ Kanna,” panggil Saki

“ Hm?”

“ Apa kau sedang bertelepati?” tanya Saki langsung

“ Yup,”

“ Dengan siapa?” tanya Saki lagi.

“ Cerberus,” jawab Kanna singkat. Saki kemudian teringat bahwa sebagai Angels, mereka memiliki kemampuan bertelepati dengan spirit masing-masing. Tapi Saki jarang bertelepati dengan Falcon karena Falcon jarang berpisah dengannya.

“ Sepertinya belum ada tanda-tandanya,” gumam Kanna. Raut wajahnya berubah menjadi cemas. Saki paham maksud ucapan Kanna. Pasti yang ia maksud adalah Mia, batin Saki.

“ Hmm….mungkin memang belum saatnya bertemu,” ucap Kanna pada dirinya sendiri. Saki mengerutkan dahi. Ia heran dengan nada bicara Kanna. “ Kenapa kau bisa sepasrah itu?” spontan Saki bertanya. Bukannya menjawab, Kanna malah tertawa. Saki merengut kesal. Tawa Kanna semakin menjadi-jadi melihat ekspresi wajah Saki. “ Gomen, gomen. Wajahmu benar-benar lucu. Aku jadi tak tahan,” Kanna memukul-mukul setir. Beberapa menit ia menghembuskan nafas, menenangkan diri. “ Dan lagi pertanyaanmu konyol,” lanjut Kanna. Wajah Saki memerah. “ Apanya yang konyol?” sergah Saki. Kanna bersiul nyaring, “ ‘Kenapa kau bisa sepasrah itu?’ Ya ampun. Pantas saja kau selalu muram. Ternyata kau belum menjadi gadis yang kuat,” ujar Kanna sambil menirukan cara bicara Saki. Mata emasnya melirik sekilas, penasaran dengan reaksi Saki. Yang dilirik hanya diam. Termenung setelah mendengar ucapan Kanna.

“ Tak ada gunanya meratapi kepergian seseorang,”

Saki mendelik. Namun Kanna mengabaikan tatapan mata Saki.

“ Aku khawatir arwah mereka akan gentayangan karena kita tidak bisa merelakannya,” Ucapan Kanna membuat Saki tercengang. Tiba-tiba saja ia teringat Ibunya. Bagaimana jika sekarang arwah Ibunya gentayangan? Saki merinding membayangkan arwah Ibunya berkeliaran hanya karena dirinya belum bisa menerima kepergian Ibunya.

“ Berhentilah melatih jurus ilusi,”

Suara Kyuhyun bergema di telinganya. Terdengar jelas seolah Kyuhyun berada didekatnya saat ini.

“ Nah, sebentar lagi sampai,” Kanna membelokkan truk. Bangunan putih menjulang tinggi tampak jelas dari kejauhan. Saki termenung, teringat Kyuhyun. Kata-kata Kyuhyun berputar dalam otaknya.

Kanna mematikan mesin truk segera setelah mereka sampai. Saki bergegas dari truk, berlari meninggalkan Kanna. Gadis berkepang itu kebingungan melihatnya. “ Mungkin dia ingin ke toilet,”

****

Kyuhyun termenung. Meski tubuhnya berada di taman, namun pikirannya melayang entah kemana.

“ Bunga mawar memang cantik ya,”

Kyuhyun mengerjapkan mata. Matanya menangkap sosok Byakko yang sedang berdiri sambil memandangi bunga-bunga.

“ Terutama mawar merah. Bagus untuk orang yang sedang jatuh cinta,” sindir Byakko. Merasa dirinya disindir, Kyuhyun merengut kesal. Ia beranjak dari kursinya.

Dasar sensitif, batin Byakko.

“ Senpai!”

Byakko membalikkan badan, melambaikan tangan saat melihat siapa yang memanggilnya. “ Wah, wah. Ada apa ini? Tak biasanya Lady memanggil saya,” canda Byakko. Saki mendesis. Ia tak suka dipanggil ‘Lady’. “ Mana Kyuhyun?” tanya Saki secara langsung. Bola mata Byakko berputar-putar jenaka mendengar nama ‘Kyuhyun’. Saki menghentak-hentakkan kakinya tak sabar.

“ Ok, ok. Tuan Kyuhyun baru saja pergi. Ada yang bisa saya bantu, Lady?” tawar Byakko setengah bercanda. Kesal dengan tingkah laku senpainya, Saki berlari menyusul Kyuhyun. Byakko menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. Dipetiknya bunga mawar merah, dibelainya dengan lembut. “ Angels perempuan memang sensitif. Benar kan, mawar?”

****

“ Kyuhyun!!!”

Kyuhyun berhenti melangkah, berbalik arah. Wajahnya tampak kaget melihat Saki berlari terengah-engah. Sambil menarik nafas, Saki menatap Kyuhyun lekat-lekat. Mendadak Kyuhyun teringat ucapannya. Membuatnya merasa bersalah.

“ Maaf,”

Kyuhyun tercengang. Saki meminta maaf?

“ Kau tak perlu minta maaf,” Kyuhyun membalikkan badan. Raut wajah Saki mengeras.

“ Tunggu!”

Teriakan Saki sukses menghentikan langkah Kyuhyun. Pemuda itu tak lagi berbalik. Enggan berhadapan dengan lawan bicaranya.

“ Seharusnya aku mendengarkanmu,” sesal Saki. Nafasnya tak beraturan, kelelahan akibat berlari.

“ Jadi, aku minta maaf,” Saki membungkukkan badan singkat. Kyuhyun tak bereaksi. Namun dalam hatinya ia merasa lega. Saki akhirnya sadar akan perbuatannya.

“ Dan terimakasih,”

Kyuhyun lagi-lagi tercengang. Ia berbalik badan. Dalam diam, mereka saling berhadapan. Tanpa mereka sadari, seseorang mengamati gerak-gerik mereka dari kejauhan.

****

Malam telah tiba. Suara gagak meramaikan suasana. Tak hanya suara gagak, terdengar pula suara derap langkah kaki manusia. Sosok manusia itu berhenti didepan sebuah pintu. Diketuknya pelan.

“ Masuklah,”

Ia membuka pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara. Dalam ruangan itu hanya ada satu orang selain dirinya. Tangannya membuka jubahnya, membungkuk hormat pada pemilik ruangan.

“ Bagaimana? Ada perkembangan?” tanya pemilik ruangan. Orang itu menegakkan diri seraya tersenyum. “ Banyak, Yang Mulia. Ia bahkan tak ingat apa yang terjadi padanya di malam itu,” jawabnya. Pemilik ruangan membalikkan badan. Sinar rembulan menerangi ruangan itu. Sosok pemilik ruangan itu pun tampak jelas. Yang Mulia Raja Henry.

“ Bagus. Tetap awasi mereka, Shindong,” perintah Raja Henry.

Shindong membungkuk hormat, bergegas keluar dari ruangan. Raja Henry tersenyum puas seraya memandang bulan.

“ Apa yang kau lakukan, Henry?”

Pintu ruangan terbuka lebar. Tampak sesosok wanita berdiri, melipat tangannya. Rambutnya terurai hingga punggung. Gaun tidurnya yang berwarna hitam kontras dengan kulitnya yang pucat.

Raja Henry terkekeh. Wanita itu tampak tak suka dengan sikap Raja Henry.

“ Maaf, Lady Shiori. Aku hanya mengawasi para Medium, itu saja,” tegas Raja Henry. Ratu Shiori membalas dengan cibiran. “ Mengawasi? Sepertinya sejak tadi kau hanya memandangi rembulan,” Wajah Raja Henry memerah. Sulit membohongi Ratu Shiori. Instingnya terlalu tajam.

“ Apa yang kau lakukan pada Kyuhyun?” tanya Ratu Shiori tajam. Raja Henry menghela nafas, “ Bukan apa-apa,” Jawaban Raja Henry tak memuaskan rasa penasaran Ratu Shiori.

“ Jawab, Henry,” desak Ratu Shiori. Suara Ratu Shiori seperti merasuki tubuhnya, membuatnya gemetar. “ Noona! Jangan gunakan Stimme!” desis Raja Henry. Tubuhnya gemetar tak henti-henti. Ratu Shiori tergelak melihat Eternal King seperti ketakutan. “ Akan ku cabut, tapi jawab pertanyaanku,” Syarat Ratu Shiori sebenarnya mudah, namun Raja Henry tampak enggan. Ratu Shiori membuka mulut, akan tetapi dicegah Raja Henry. “ Baik, baik! Akan ku jawab!” Raja Henry terengah-engah, tubuhnya berhenti gemetar. Ratu Shiori tersenyum penuh kemenangan, “ Bagus,”

Raja Henry menarik nafas sebelum mulai berbicara. “ Aku hanya menarik kepribadiannya yang lain. Itu saja,” jawab Raja Henry enteng. Ratu Shiori mengerutkan dahi. Tak mengerti maksud perkataan Raja Henry.

“ Kyuhyun yang kau lihat sekarang adalah Kyuhyun yang polos. Sedangkan yang ikut bertarung bersama Leeteuk, Kanna dan Saki adalah Kyuhyun yang kejam, dingin dan tak berperasaan,”

Ratu Shiori terbelalak mendengarnya. “ Kau pasti bercanda,” bantah Ratu Shiori. Raja Henry menggeleng, “ Aku terpaksa melakukannya. Dia gagal mencegah Saki dan mengakibatkan gadis itu terluka. Jadi, aku mengubah Kyuhyun yang polos menjadi Kyuhyun yang kejam,”

“ Bagaimana caranya?” tanya Ratu Shiori lirih. Raja Henry membuka mulutnya, menggerakkan bibirnya membentuk kata ‘Sang’.

“ Hanya dengan satu kata itu?” Ratu Shiori tak percaya. Raja Henry menghembuskan nafas, mengangguk mengiyakan, “ Aku tahu hal itu dari ZhouMi. Entah apa yang membuatnya bisa memiliki dua kepribadian yang berbeda,”

Mereka berdua diam. Suara gagak memecahkan sunyinya malam. Raja Henry memandangi langit. Sinar bulan menerangi White Castle. Raja Henry menghela nafas, “ Sekarang, giliran untuk Donghae,”

T.B.C

Cho Kyuhyun: Pelajar berusia 17 tahun yang polos, baik dan ramah. Ia penderita split-personality, yang membuat dirinya memiliki dua kepribadian. Sejak kecil, ia paling dekat dengan ZhouMi dan sering bermain bersama. Elemen kekuatannya sama seperti Saki. Jika ia dalam kondisi normal, Kyuhyun tampak seperti anak SMA biasa. Namun jika ia sudah berubah, akan terasa aura membunuh yang pekat (seperti yang dirasakan Kanna saat pertama kali bertemu Kyuhyun). 

France Dictionary:

Sang: Darah     

 

 

 

 

 

 

 

 

Faith

Setahun telah berlalu sejak aku bergabung didalam Cop Squad ini. Setahun pula aku mengikuti sebuah program yang menurutku…cukup unik. Awalnya, ku pikir program ini hanya sebuah permainan. Tapi tak ku sangka, program ini mengubah hidupku 180 derajat.

“ Hai, Kyuhyun!” Suara itu menyadarkanku. Hiragawa Saki. Dia yang mengajakku kedalam program ini. Ah iya, dia juga seorang Kapten Divisi 3 atau nama lainnya Protection Division. Sebuah divisi yang bertugas untuk kepentingan medis dan anggotanya semuanya perempuan. Saki merupakan satu-satunya gadis yang mengikuti program ini. Padahal aku pernah dengar, jarang ada seorang gadis yang mampu bertahan mengikuti program ini. Dan Saki mampu bertahan selama dua tahun.

“ Hari ini ada rapat tidak?” tanya Saki. Aku menggeleng. Meskipun aku adalah seorang Wakil Kapten Divisi 1, aku jarang mengikuti rapat Divisi. “ Kalau begitu, kita makan siang bersama, yuk. Katanya, hari ini akan ada menu spesial untuk peserta program,” ajak Saki. Menu spesial? Hmm….seingatku kalau ada kata ‘menu spesial’ pasti berakhir dengan ‘sepiring berdua’. Aku malu kalau mengingat saat kami harus makan dari kotak makan siang yang sama. Apa boleh buat, hampir semua peserta program adalah laki-laki. Hanya aku yang… “ Mohon perhatian. Kepada seluruh peserta Partner Program, harap segera mengambil jatah makan siang di lantai 3. Sekali lagi…” Suara resepsionis mengejutkan kami berdua. Saki menarik tanganku, memaksaku untuk berlari. “ Ayo cepat! Nanti kita ketinggalan!” ucap Saki semangat. Yah, sudahlah. Lagipula, ini tidak terlalu burukkan?

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Partner Program. Sebuah program khusus yang dibuat untuk kepentingan militer. Cop Squad mewajibkan setiap Divisi (kecuali Divisi 3) untuk memiliki partner. Menjadi partner tidaklah mudah. Harus memiliki ikatan batin yang kuat. Ku dengar, mengikuti Partner Program berarti siap fisik dan mental. Tidak sembarang orang bisa mengikuti program ini. Hanya ada sepuluh pasangan yang berhasil bertahan.Ada rumor yang mengatakan, jika sudah berpasangan, harus menanggung suka dan duka bersama. Tapi aku tak mengerti, apa maksudnya menanggung suka dan duka bersama?

“ Kyuhyun!” Lagi-lagi suara Saki mengagetkanku. Aku mengerjapkan mata, melihat semangkuk sup ayam dan sepiring salad buah dihadapan. Mataku terbelalak saat menyadari jumlah mangkuk dan piring yang ada di meja kami. “ Sepiring berdua lagi???” pekikku. Saki mengangguk. Sepertinya ia tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. “ Wajar kan? Kita harus saling berbagi,” ujar Saki kalem. Ia menyendok sup, menyuapkannya kedalam mulutnya. Aku memperhatikannya dengan seksama. Aku berpikir, apa ia tidak risih harus makan satu piring dengan seorang laki-laki? Sepertinya ia sudah terbiasa dengan kondisi ini selama dua tahun.

“ Tidak makan?” tanya Saki. “ Ah, i..iya. Maaf aku melamun,” ucapku. Saki menghela nafas, menatapku tajam. “ Kau tidak suka menjadi partnerku?” tanya Saki tiba-tiba. Aku kaget mendengar pertanyaan Saki seperti itu.Ada apa ini? “ Tidak, kok. Aku hanya…belum terbiasa,” ujarku. Aku melihat raut wajah Saki berubah. Namun sulit ku tebak apakah ia sedih atau biasa saja. “ Wajar saja. Kau baru setahun menjadi partnerku dan kita belum pernah menjalani pertarungan yang mengharuskan kita saling berbagi,” ucap Saki. Aku mengernyitkan dahi, bingung dengan penjelasannya. Saki menatapku, bibirnya menyimpulkan senyuman yang manis. “ Jika sudah saatnya tiba, kau akan mengerti,” Setelah berbicara begitu, Saki menyuruhku melanjutkan makan. Kami melanjutkan makan siang tanpa ada yang berbicara satu sama lain.

Setelah makan siang, kami memutuskan untuk pergi ke gym Cop Squad. Aku menyuruh Saki untuk pergi duluan dengan alasan ingin mengambil handuk dan mengganti pakaian. Tapi, sebenarnya aku ingin menyendiri sebentar.

Aku membuka kunci kamar, memasukinya dan menutupnya lagi. Aku duduk di kursi yang terletak di pojok ruangan. Pikiranku kembali ke masa lalu, saat aku pertama kali bergabung dengan Cop Squad. Saat aku pertama kali berkenalan dengan Saki.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“ Perkenalkan. Ini Hiragawa Saki, Kapten Divisi 3. Dia yang akan menjadi pemandumu selama masa orientasi ini,” Aku mengerjapkan mata, tertegun melihat penampilan gadis yang berdiri dihadapanku saat ini. Tinggi semampai, kulit putih dan bermata sipit. Rambut coklatnya diikat keatas. Jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans hitam membungkus tubuhnya. “ Halo. Selamat datang di Cop Squad. Boleh aku tahu siapa namamu?” Suaranya indah sekali. Aku menatapnya, menggerakkan bibirku. “ Namaku Kyuhyun. Cho Kyuhyun,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“ Selamat datang di Cop Squad. Organisasi kepolisian dan militer yang bernaung dibawah FBI,” Aku takjub melihat isi gedung Cop Squad. Semua anggota Cop Squad memakai jaket kulit yang sama seperti Saki. Bersih dan nyaman. Kesan pertama yang ku tangkap saat pertama kali masuk kedalam gedung Cop Squad. Saki membawaku berkeliling lantai satu dan dua. Di lantai satu, ada resepsionis dan ruangan yang seperti Bank. “ Disana tempat kami menyimpan gaji kami. Kau cukup isi formulir pendaftaran, lalu mereka akan memberikan kartu berisi nama lengkap, jabatan dan nomor rekening,” jelas Saki. Mataku mengitari seluruh lantai satu. “ Apa disini hanya ada Bank dan resepsionis?” tanya Kyuhyun. Saki menggeleng. “ Tidak.Ada ruang serba guna dan tempat pemeriksaan untuk setiap paket yang masuk ke Cop Squad,” jawab Saki.

Setelah kami mengitari lantai satu, kami naik ke lantai dua dengan lift. Sesampainya di lantai dua, Saki menunjukkan satu persatu ruangan yang ada di lantai dua. “ Ini ruangan Divisi 1, Military Division. Mereka yang berada di garis depan pertempuran,” jelas Saki. Ruangan Divisi 1 berisi peralatan-peralatan perang seperti shotgun, meriam, dan jaket anti peluru. Kemudian Saki mengajakku menuju ruangan berikutnya. Saat kami beranjak ke ruangan berikutnya, aku melihat selembar kertas yang menempel di dinding. Aku membacanya perlahan. “ ‘Open Selection for Partner Program! Take your formulir now!’ Apa ini?” gumamku. Saki mendekat, senyum simpul mengembang di wajahnya. “ Sepertinya Partner Program sudah membuka pendaftaran untuk semester baru,” ujar Saki. Aku bingung mendengarnya. “ Apa itu Partner Program?” tanyaku. Saki melirikku. Ekspresinya tak bisa ditebak. “ Semacam program pelatihan. Kau tertarik?” Aku menggaruk kepalaku, meski tak gatal. Aku penasaran dengan program ini, tapi….. “ Bagaimana kalau kau ikut mendaftar?” Ucapan Saki mengejutkanku. Aku? Mendaftar ikut Partner Program? “ Iya. Kebetulan salah satu peserta Partner Program semester lalu kehilangan partnernya. Karena satu dan lain hal, peserta itu berhenti sementara dari Partner Program,” jelas Saki. Aku hanya manggut-manggut. Apa sebaiknya ku coba saja ya? “ Bagaimana, Kyu? Kau mau?” tanya Saki. Aku mengangguk. “ Ya. Aku mau,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Saat itu, aku tak menyangka bahwa peserta yang dimaksud Saki adalah diri Saki sendiri. Masih terngiang di telingaku, saat aku mulai mengikuti Partner Program.

“ Jika kau menjadi partnerku, kau akan belajar arti kepercayaan,”

Sampai saat ini, aku tak mengerti apa maksud kata-katanya itu. Aku masih bingung.

Rrrrr!!!! Telepon kamarku berdering. Aku mengangkatnya dengan rasa malas. “ Halo?” jawabku. “ Ya, Kyuhyun! Dimana kau? Tadi kau bilang hanya sebentar, ini sudah 10 menit!” Aku tersentak, teringat janjiku untuk nge-gym bersama Saki. “ Mi…mianhae, Saki. Aku tertidur tadi,” Bohong. Aku tadi melamun, bukan tertidur. “ Oh..cepat kesini! Jangan lupa bawa handuk dan botol minum, ya,” Klek! Sambungan terputus. Aku geli mendengar ucapan Saki. Ternyata dia masih ingat tentang kebiasaanku. Terkadang aku lupa membawa barang penting. Sebaiknya aku segera mengganti baju dan menyusulnya ke gym. Jangan sampai membuatnya menunggu lebih lama lagi.

Selesai mengganti baju, aku bergegas menuju gym. Sesampainya disana, aku mendapati Saki sedang melakukan treadmill bersama dua anggota Divisi 3. “ Yo, Kyuhyun!” sapa Saki sambil terus berlari. Aku membalas sapaannya dengan lambaian tangan. Aku mengambil posisi agak jauh dari Saki. Kali ini aku ingin mencoba angkat beban. Lumayan untuk melatih otot. Saat aku memulai latihan, tanpa sengaja aku mendengar percakapan Saki dan dua anggota Divisi 3 itu. “ Jadi dia partnermu kali ini?” tanya gadis yang berambut coklat. Aku melirik Saki, terlihat jelas ia mengangguk. “ Waw, aku tak menyangka dia yang menjadi partner Kapten selama setahun terakhir. Ku pikir Kapten akan berpasangan lagi dengan Minho,” Ucapan gadis berambut hitam itu menyentakku. Ya, aku tahu siapa Minho. Choi Minho, Letnan Divisi 1 dan merupakan orang terkuat di Cop Squad *menurut gosip yang ku dengar*. “ Tak mungkin. Dia sekarang sudah bersama Taemin,” ujar Saki. Taemin? Siapa dia? “ Ah! Dia kan anggota Divisi 2 yang dulu selalu dihukum Komandan kan?” Ucapan gadis berambut coklat itu seolah menjawab pertanyaanku. Aku menghentikan latihanku, membelakangi mereka dan mengambil botol minum. Telingaku menangkap jelas setiap kata yang mereka ucapkan. “ Benar sekali. Mereka  menjadi pasangan yang tak tertandingi saat ini. Minho memang lebih cocok bersama Taemin,” Aku memutar kepalaku ke belakang, melihat Saki sedang menambah kecepatan treadmill nya. Dan gadis-gadis yang berada disampingnya….sepertinya aku kenal. Ah, mereka itu Natsumi dan Aria. Anak buah Saki. Pantas saja aku merasa tak asing.

“ Kapten?” panggil Aria.

“ Ya?” jawab Saki.

“ Kenapa Kapten memilih Kyuhyun sebagai partner Kapten?” tanya Aria polos. Aku melihat Saki tertegun. Mendengar ucapan Aria, Saki menghentikan kegiatannya. Sesaat ia seperti ragu untuk menjawab.

“ Mmm…mungkin ini yang namanya takdir,” jawab Saki. Namun aku tahu, Aria tak akan puas dengan jawaban itu. “ Apa mungkin?” tanya Natsumi. Saki mengangkat bahu. “ Hanya waktu yang bisa menjawabnya,” gumam Saki.

Aku berjalan menuju ruang ganti. Rasanya tidak baik menguping pembicaraan orang lain. Sebaiknya aku segera ke ruang Divisi 1. Ah, tapi kenapa aku masih kepikiran ucapan Aria? Sepertinya jauh dalam lubuk hatiku, aku pun berpikir hal yang sama. Kenapa Saki memilihku menjadi partnernya? Tanpa ada keraguan dalam hatinya. Aku masih tak mengerti.

“ Kepada Hiragawa Saki dan Cho Kyuhyun, harap menuju Ruang Komandan sekarang juga. Sekali lagi…” Ruang Komandan?Adaapa ya?

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“ Misi untuk kami berdua?” ulangku tak percaya. Komandan mengangguk. Aku tak percaya hari ini akan tiba. Ya, saat dimana aku dan Saki harus bersama dalam sebuah misi. Aku melirik Saki, penasaran dengan reaksinya. Sepertinya ia sudah siap mental. “ Siapa target kali ini, Komandan?” tanya Saki. Nada suara Saki terdengar tegas. Ia benar-benar siap dengan misi kali ini.

Komandan mengeluarkan map hitam, membukanya dan menunjukkan foto seorang pria gemuk berjas coklat. “ Tugas kalian adalah mengambil CD software virus berbahaya yang sedang ia kembangkan. Jika kalian sudah paham, laksanakan!” jelas Komandan. Kami membungkuk hormat. Saat kami hendak keluar dari ruangan, Komandan tiba-tiba memanggil Saki. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinya…itu hal yang serius.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“ Apa Komandan katakan padamu, Saki?” tanyaku heran. Saki melirikku, tersenyum simpul. “ Nanti kau juga tahu,” jawabnya. Ia memasukkan kunci mobil, menyalakannya lalu mengemudikannya dengan kecepatan tinggi. “ Sa..Saki!! Ini terlalu cepat!!” jeritku. Bukannya menurunkan kecepatan, Saki malah tertawa senang. “ Ini belum seberapa, Kyu. 120 km/jam sudah biasa bagiku,” 120 km/jam? Ya ampun, gadis ini benar-benar gila! “ Lagipula, kita harus cepat. Semakin lambat kita bergerak, penjahat akan semakin leluasa melakukan kejahatan mereka,” Aku tahu itu, tapi…ini terlalu cepaaatttt!!!!!!!

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Akhirnya kami tiba di sebuah gedung tua. Saki memarkirkan mobil jauh dari posisi gedung tersebut. Sesaat aku merasa lega karena perjalanan ala balapan sudah berakhir. Aku mengambil senapanku dan jaket anti peluru. Tunggu…kenapa Saki tidak mengambil pistolnya? Ia malah terdiam dan menatap gedung tua itu tanpa ekspresi. “ Saki, kau tak mengambil pistolmu?” tanyaku. Saki menggeleng. Tangannya merogoh saku jaketnya, mengeluarkan dua buah rantai panjang. Saki tersenyum, memasang salah satu rantai di tangannya. “ Kemarikan tanganmu,” pinta Saki. Aku mengulurkan tanganku. Rupanya rantai panjang tadi diikat ke tanganku. Apa yang akan dia lakukan? “ Kyu, berjanjilah padaku. Kau mau kan?” Saki mengenggam erat tanganku. Aku berusaha mengabaikan detak jantungku yang mendadak aneh. Aku mengangguk mengiyakan. “ Saat kau bertemu musuh, lawan dia sekuat tenaga. Jangan pedulikan rasa sakit yang mengenai dirimu. Jika kau terluka, kau harus terus melawan. Mengerti?” Aku mengangguk lagi. Saki menyentuh rantai itu, membisikkan sesuatu. “ Perjanjian telah diikat. Jika rantai ini patah, maka kau telah melanggar perjanjian,” kata Saki. Raut wajahnya terlihat serius. “ Pergilah,” Suara itu seperti menghipnotisku. Aku menurut saja disuruh pergi, tubuhku bergerak dengan sendirinya. Aku berjalan menuju pintu masuk gedung tua. Aku mengintip dari balik pintu, melihat ada dua orang penjaga dan seorang pria besar. Aku masuk perlahan, berusaha tidak menarik perhatian. Semuanya aman. Aku bersembunyi didekat tong, mengintip apa yang sedang mereka lakukan. Tampak target sedang memasukkan sesuatu kedalam tasnya. Itu pasti softwarenya. Kalau begitu…

DOR! PRAKK!!

“ Suara apa itu?” Salah satu dari penjaga itu terpancing dengan jebakanku. Aku sengaja merusak salah satu meja yang ada disudut. Penjaga itu berjalan mendekati meja itu. Perlahan, aku mengarahkan pistolku ke kepalanya. Sekarang dia sedang memeriksa meja itu. Ku tarik pelatuk pistolku dan… DOR!

“ Will!!!” Satu mati. Aku mengintip sedikit, terlihat penjaga itu menghampiri tubuh temannya. Ku gunakan kesempatan itu untuk menembaknya… “ AKH!!” Bagus. Tinggal… DOR!! Ugh! Apa barusan? “ Bagus, Josh. Kematianmu tak akan sia-sia..” Apa? Jangan-jangan…aku sudah ketahuan? “ Keluar kau, pecundang. Hadapi aku dengan jantan,” Sial. Bagaimana ini? Kalau begini, tak ada jalan lain…. DOR! DOR! Aku menembakinya, namun meleset. Dia balas menembakiku, dua diantaranya mengenai tangan dan kakiku. Tapi entah kenapa, aku tak merasa sakit. Ini aneh. Tapi biarlah! Aku berlari menghindari tembakannya. Aku mengambil sebatang kayu dan menyerangnya dengan kayu itu. Dia melawan, namun aku tak menyerah. Pukulanku mengenai kepalanya. Tanpa membuang waktu, aku mengambil tas berisi software itu lalu kabur.

DOR! Ugh! Sial…dia masih hidup? Aku menoleh ke belakang, mendapati tubuh pria itu terkapar. Tangannya mengenggam pistol. Sial, tembakannya mengenai bahuku. Eh? Tunggu…rasanya lukaku mengering. Bahkan tak terasa sakit. Kenapa ini?

Setelah memastikan semua targetku telah mati, aku berlari menuju mobil. Aku ingin tanya pada Saki tentang keanehan ini. Aku membuka pintu mobil, “ Saki!”. Aku terkejut melihat pemandangan didalam mobil. Saki berlumuran darah. Seperti habis ditembak. “ Sa…SAKI!!!!”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Aku baru mengerti maksud dari perjanjian rantai yang ku buat bersama Saki. Rantai itu hanya akan digunakan jika kita sudah mempercayai partner kita. Dan rantai itu merupakan penguji kesetiaan. Jika kita menyanggupi memakai rantai itu, itu artinya kami sudah saling percaya. Rantai itu membuat luka kita berpindah ke partner kita. Ternyata ini maksudnya berbagi suka dan duka. Jika kau terluka, maka partnermu akan ikut merasakan sakit yang sama. Seperti satu tubuh.

Rantai itu diwariskan turun temurun di Cop Squad. Natsumi bilang, salah satu pimpinan Cop Squad dulunya pendeta kuil. Dan dia yang membuat rantai itu menjadi rantai berkekuatan magis. Setengah tidak percaya, tapi itulah kenyataannya.

Tapi satu hal yang masih membuatku bingung. Bagaimana bisa Saki mempercayaiku? Apa yang membuatnya percaya?

“ Kyu,” Aku menoleh, melihat sosok Aria berdiri didekatku. “ Bagaimana keadaannya?” tanyaku. “ Lumayan membaik. Aku tak percaya ia bisa bertahan dengan luka seperti itu,” Aku terdiam mendengar ucapan Aria. Saki memang gadis tangguh. Hebat sekali dia bisa bertahan meski terluka parah. Hanya saja…. “ Aria?” “ Ya?” “ Boleh aku tanya sesuatu?” Aku meliriknya sekilas. Ia mengangguk mengiyakan. “ Kenapa…Saki memilihku menjadi partnernya?” Aria tak terlihat kaget. Seperti biasa, ia terlihat tenang. “ Mungkin…takdir?” tebak Aria. Aku mengangkat bahu. Aku pun tak mengerti apa alasan Saki memilihku. “ Tapi yang ku tahu, Kapten sangat mempercayaimu. Dalam Partner Program, dibutuhkan kepercayaan yang besar terhadap partner masing-masing. Jika tidak, mana mungkin Kapten memilihmu sebagai partner? Itu artinya dia sangat mempercayaimu, Kyu,” Ucapan Aria membuatku termangu. Aku memang bodoh, terlambat menyadarinya. Selama ini, belum pernah ada yang mempercayaiku seperti Saki mempercayaiku. Hanya Saki yang mempercayaiku, sampai-sampai ia berani melakukan perjanjian rantai. Yah, ternyata Komandan yang memerintahkan Saki untuk melakukan perjanjian rantai. Karena Komandan ingin menguji kesetiaanku dan kepercayaan Saki. Dan sepertinya Komandan puas dengan hasilnya. Aku melihatnya tersenyum saat keluar dari kamar tempat Saki dirawat. Ia menoleh kearahku, tersenyum padaku. “ Temui dia. Dia ingin berbicara padamu,” ucap Komandan. Aku mengangguk. Dalam hati, aku merasa senang. Senang karena kondisi Saki mulai membaik. Senang karena aku tahu, meskipun aku tak setangguh Minho, Saki tetap mempercayaiku. Aku pun masuk kedalam ruangan dengan perasaan bahagia. Saki pun menyambutku dengan senyuman termanis yang ia miliki.

 

~FIN~

PS: Another random fanfics LOL. Actually, I made this cause I’m join on fanfics competition. In the end, I’m lose kkk~

Well, enjoy it fellas ^^

 

Raven

Mereka menyebutnya Raven.

Assassin terhebat sepanjang masa.

Tak seorang pun mengetahui namanya.

Bahkan tak seorang pun pernah bertemu dengannya.

Hanya satu yang mereka ketahui.

Dia adalah pembunuh.

Jika kau berurusan dengannya.

Bersiaplah bertaruh nyawa.

Pilihanmu hanya dua.

Mematuhi perkataannya atau mati.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Siwon mengernyitkan dahi saat membaca laporan yang diberikan kepadanya. Hampir seluruhnya laporan orang hilang. Dalam kurun waktu tiga bulan, terjadi 50 kasus orang hilang. Tak satupun dari 50 orang itu berhasil ditemukan. Siwon menaruh laporan itu, menghela nafas panjang. Belum pernah ia menemui kasus sesulit ini. Tak ada petunjuk ciri-ciri pelaku seperti apa. Sidik jari tak ditemukan. Sangat rapi. Menurut Kibum, hanya profesional yang bisa melakukannya.

Tok, tok! “ Masuk,” perintah Siwon. Pintu terbuka, tampak sosok Kibum berdiri disana. “ Ah, kau.Ada apa?” tanya Siwon. Kibum menaruh map hijau diatas meja. Tanpa membukanya, Siwon sudah bisa menebak isi map itu. “ Haissh…lagi?” Siwon mengacak-acak rambutnya, frustasi. “ Tenanglah. Yang ini berhasil ditemukan dua hari yang lalu,” ujar Kibum. Ekspresi wajah Siwon menjadi cerah. Buru-buru ia membuka map hijau itu, namun sedetik kemudian wajahnya memucat. “ Ma…mati?” pekik Siwon tak percaya. Kibum mengangguk, menaruh setumpuk foto. “ Tim forensik memberikanku foto-foto autopsi dan hasil olah TKP. Hasilnya…yah…kau pasti tak akan percaya,” Siwon menatap Kibum, seolah memaksa Kibum menjelaskan apa yang baru saja ia ketahui. “ Hmm…menurut tim forensik, penyebab tewasnya adalah racun Tetrodoxin.Ada bekas suntikan di lehernya. Kemungkinan besar racun langsung menyerang syaraf korban,” jelas Kibum. Siwon tercengang, otaknya berusaha mencerna kata-kata Kibum. “ Ah, ada lagi,” tambah Kibum. Siwon melirik Kibum, “ Apa lagi?” Kibum menggigit bibir bawahnya, ragu untuk mengatakannya. “ Apa, Bummie? Katakan!” desak Siwon. Kibum menghela nafas berat, “ Kemungkinan yang membunuhnya adalah Raven,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Angin malam berhembus pelan, seirama dengan suara ombak laut. Menyibakkan rambut seseorang yang sedang duduk diatas mobil Ferrari. Sebatang rokok ia hisap sampai habis. Baru saja ia mau mengambil batang rokok kedua, terdengar suara klakson mobil lain. Mobil itu berhenti didekatnya. Pintu mobil terbuka. Seorang pria separuh baya keluar dari mobil itu. Ia melirik pria itu tanpa ekspresi. Tanpa memperdulikan pria itu, ia menyalakan rokoknya dan menghisapnya. “ Hebat kau. Aku tak menyangka kau akan membunuhnya dengan cepat. Kau benar-benar luar biasa,” puji pria itu. Namun yang disanjung tak merasa senang. Ia terus menghisap rokoknya, tak merespon ucapan pria itu. “ Oh iya, ini bayaranmu. 20 juta won. Sesuai perjanjian,” kata pria itu sambil menaruh sekoper uang. Ia melirik sekilas, mematikan rokoknya. “ Ya. Sesuai perjanjian, setelah aku melakukan tugas darimu, maka kita tak akan berhubungan lagi,” ujarnya. Pria itu terlihat bingung. “ Apa maksudmu? Itu tak ada dalam perjanjian…”

DOR!

Pria itu roboh seketika. Tembakan mengenai kepalanya dan ia tewas seketika. Orang itu tersenyum licik saat ia mengetahui siapa yang menembaknya. Ia menghampiri penembak itu, menepuk bahunya. “ Kau memang penembak jitu, Raven,”

 

 ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“ Sekitar pukul 8 malam, ditemukan mayat seorang pria mengapung di Sungai Han. Diperkirakan ia tewas seketika akibat tembakan di kepalanya. Polisi menduga pelakunya adalah orang yang melakukan pembunuhan tiga hari lalu. Dari tubuh korban, ditemukan sehelai bulu gagak dan huruf ‘R’ yang ditulis dengan darah…”

Kibum mematikan TV, kesal melihat berita yang baru saja ditayangkan. “ Lagi-lagi dia…” gerutunya. Siwon menyeruput secangkir kopi, heran melihat raut wajah Kibum yang terlihat kesal. “ Kenapa kau?” tanya Siwon. “Ada pembunuhan lagi. Pasti Raven yang melakukannya,” duga Kibum seraya bangkit dari kursinya. Siwon mendelik heran, bagaimana bisa Kibum tahu? “ Dia selalu meninggalkan tanda ‘R’ di tubuh korbannya dan sehelai bulu gagak,” jawab Kibum melihat keheranan di wajah Siwon. Mendengar ucapan Kibum, Siwon semakin bingung. Diambilnya laporan Kibum kemarin, dibacanya dengan seksama. “ Mmm….tapi sepertinya tidak ada tuh di jasad korban yang kemarin kau laporkan,” komentar Siwon. “ Ah, itu sudah diamankan tim forensik. Darah itu bukan darah manusia, melainkan darah gagak,” ujar Kibum.

Kibum beranjak dari sofa, mengambil berkas-berkas. “ Sebaiknya aku pergi ke TKP sekarang. Kau mau ikut?” tawar Kibum. Siwon menaruh cangkirnya, merapikan jasnya. “ Tentu saja. Aku ingin tahu siapa itu Raven dan motif pembunuhannya,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Sungai Han, pukul 09.00…

Siwon bergidik melihat mayat yang baru saja diangkut. Bekas tembakan tepat berada dibelakang kepala pria itu. “ Pembunuhnya benar-benar gila. Tanpa ragu ia menembak kepala korban,” ujar Kibum. Siwon membelakangi Kibum, ia tak kuat melihat jasad itu lama-lama. Membuatnya mual.

Siwon berjalan menjauhi TKP, mencari udara segar. Belum pernah ia merasa mual saat memeriksa TKP. Bayangan bekas tembakan di kepala korban terlihat jelas dalam pikiran Siwon. Buru-buru Siwon menepisnya, mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Pandangannya jatuh pada seorang gadis yang tengah berdiri tidak jauh dari posisinya. Siwon melihat gadis itu, mengamatinya dari atas hingga bawah. Kelihatannya ia mahasiswi, batinnya. Gadis itu menoleh, menyadari dirinya diperhatikan Siwon. “ Hai,” sapa Siwon. Gadis itu membalas dengan senyuman. “ Sedang apa?” tanya Siwon. Gadis itu merapikan rambut cokelatnya yang berkibar, “ Hanya melihat-lihat,” Siwon mengangguk kecil. “ Sepertinya…polisi kesulitan ya,” gumam gadis itu. “ Yah, begitulah. Pembunuhan ini sangat rapi, tak ada sidik jari yang mencurigakan,” jawab Siwon. Gadis itu hanya mengangguk. Matanya menatap kebawah, dimana Kibum sedang sibuk menyisir TKP. “ Kau tidak membantu temanmu?” tanya gadis itu. Siwon melihat kearah yang dilihat gadis itu, tertawa pelan. “ Ah…bukannya aku tidak mau membantu, tapi…ini pertama kalinya aku merasa….yah…aneh dengan mayat itu,” ucap Siwon. Gadis itu mengangguk paham, lalu ia terdiam seraya menatap langit.

“ Siwon! Cepat kemari!” seru Kibum. Siwon tersentak, lalu balas berteriak, “ Ya! Aku segera kesana!” Ia menoleh kearah gadis itu. Gadis itu menatapnya seraya tersenyum seolah memberi isyarat pada Siwon untuk segera turun. “ Pergilah,” ucapnya. Siwon mengangguk, lalu bergegas turun. Namun langkahnya terhenti. Ia kembali menoleh pada gadis itu. “ Agasshi, boleh aku tahu siapa namamu?” tanya Siwon. Gadis itu lagi-lagi tersenyum. “ Kaori. Nakajima Kaori,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“ Kaori…Kaori…Kaori…” Siwon mengulang nama itu berkali-kali. Wajahnya terlihat sumringah setiap kali ia menyebut nama itu. Kibum yang baru saja kembali dari ruang interogasi, terheran-heran melihat partnernya senyum sendirian. “ Ya! Siwon!” panggil Kibum. Siwon terkejut, nyaris terjungkal dari kursinya. “ Apa-apaan sih?” protes Siwon. “ Kau sendiri bersikap aneh. Dari tadi menyebut nama ‘Kaori’,” balas Kibum. Siwon menutup mulutnya, menyadari sikapnya memang sedikit aneh. Terutama setelah ia bertemu dengan Kaori. “ Siapa dia?” tanya Kibum. “ Bukan siapa-siapa,” Siwon tersenyum, ia teringat saat bertemu dengan Kaori. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat menjuntai kebawah, tubuhnya langsing dan kulitnya putih bersih. Ditambah lagi mata cokelatnya cemerlang. Entah mengapa, Siwon terus-menerus memikirkan gadis itu. Kibum yang merasa jengah, membiarkan Siwon berada dalam alam mimpinya.

Kibum kembali menekuni pekerjaannya, memeriksa hasil otopsi. Dibacanya berulang kali, namun tetap saja tak menemukan petunjuk. “ Nihil ya?” tanya Siwon. Kibum melirik Siwon, mengangguk. “ Sudah sadar dari alam mimpi?” ledek Kibum. Siwon menggembungkan pipinya, cemberut mendengar ucapan Kibum. “ Jangan begitu. Aku kan partnermu. Sudah seharusnya aku membantu,” ujar Siwon. Kibum mencibir, “ Membantu? Bukannya dari tadi kau memikirkan Kaori?” “ Ya, ya, ya. Aku mengerti. Aku salah. Nah, apa yang harus ku lakukan,” Siwon menghampiri Kibum. Ia melihat hasil otopsi yang sedang diperiksa Kibum. “ Perkiraan kematian: 3 jam dari waktu ditemukan. Penyebab kematian: tembakan di tempurung otak,” Siwon membaca hasil otopsi. “ Tak ada yang aneh, tuh,” komentar Siwon. Kibum berdecak kesal, malas menanggapi komentar Siwon.

BRAK! “ Detektif Kibum! Detektif Siwon!” Kibum dan Siwon tersentak, terkejut mendengar suara pintu dibuka. “ A..ada apa,Minho?” tanya Siwon tergagap. Minho mengatur nafas, raut wajahnya pucat. “ I..itu…” Minho menunjuk keluar, tangannya gemetar. “Ada rumah terbakar! Kalian harus segera kesana!”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Suasana disekitar rumah itu sangat kacau. Orang-orang berlarian, menyelamatkan diri masing-masing. Namun diantara orang-orang itu, seorang pemuda menatap rumah itu tanpa rasa takut. Ia justru tersenyum.

Suara sirine menghapus senyuman pemuda itu. Ia berdecak kesal, pergi dari tempat itu.

Siwon keluar dari mobil, berlari menuju lokasi kebakaran. Sementara Kibum memerintahkan para petugas pemadam kebakaran untuk bergegas memadamkan api. “ Apa masih ada orang didalam?” tanya Siwon pada salah satu petugas. “ Entahlah. Kita tidak bisa mengetahuinya sampai api bisa dipadamkan,” jawab petugas itu. Siwon berbalik menangani penduduk yang tengah mengungsi. Sebagian yang mengungsi adalah para wanita yang bekerja di pabrik dekat rumah yang terbakar itu. Mata Siwon menangkap seseorang yang tak asing baginya. Orang itu memberikan cardigannya pada salah satu pengungsi. “ Kaori!” seru Siwon. Kaori menoleh, terkejut dengan kehadiran Siwon. “ Kau…” Siwon menghampiri Kaori, raut wajahnya terlihat cemas. “ Apa yang kau lakukan disini? Disini berbahaya!” Ditariknya Kaori menjauh dari kerumunan. Membawanya ke tempat aman. “ Tunggulah disini,” pinta Siwon. Kaori bingung dengan sikap Siwon, “ Tunggu!” Langkah Siwon terhenti. Kaori berjalan mendekat, “ Aku..belum tahu namamu..Jangan pergi, sebelum kau memberitahu siapa kau,” Siwon tersenyum, mengelus pipi Kaori. “ Aku Choi Siwon, detektif polisi,”

Siwon berlari kembali menuju lokasi kebakaran. Api sudah bisa dipadamkan seluruhnya. Namun beberapa sudut rumah terlihat hancur, tak bersisa apapun. Siwon dan Kibum mendekati TKP, mulai mencari barang bukti. Kibum menemukan selembar foto yang sudah terbakar setengah. “ Ternyata ini rumah korban,” gumam Kibum. Siwon mengintip dari balik bahu Kibum, “ Korban? Siapa?” Kibum menyimpan foto itu dalam plastik untuk diperiksa. “ Pria yang tadi pagi kita temukan di sungai Han. Rupanya ini rumahnya,” jawab Kibum. Siwon menatap kearah ruangan sebelah timur. Didekatinya ruangan itu. Setengah isi dari ruangan itu habis terbakar. Namun mata tajam Siwon menemukan sesuatu. Selembar kertas tergeletak di lantai. Setengahnya sudah terbakar, tapi bagi Siwon, kertas itu pasti termasuk petunjuk penting. Diambilnya kertas itu, diperhatikannya dengan teliti.Ada tulisan kanji tertera di kertas itu. Siwon mengernyitkan dahi. Ia tak mengerti isi kertas itu. “ Kibum!” panggil Siwon. Kibum berlari menghampiri Siwon, “Ada apa? Apa yang kau temukan?” Siwon menunjukkan selembar kertas yang setengah terbakar itu. “ Apa ini?” tanya Kibum bingung. Siwon menggeleng. “ Aku menduga…kertas ini akan menjadi petunjuk terkuat kita. Bisa saja pelaku tidak sadar bahwa ada barang penting yang tidak berhasil ia musnahkan,” duga Siwon. “ Baiklah. Aku akan menanyakannya pada Sungmin. Dia pasti tahu arti tulisan ini,”

Selesai memeriksa TKP, Siwon bergegas kembali menemui Kaori. Namun gadis itu tak ada. Padahal Siwon hanya meninggalkannya sebentar. “ Kemana dia?” tanyanya. “ Siwon! Ayo pulang!” seru Kibum. Dengan berat, Siwon pergi meninggalkan tempat itu. Dalam hati ia berharap, semoga Kaori baik-baik saja.

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Seorang pemuda duduk diatas meja reot. Tangan kirinya menggenggam rokok sedangkan tangan kanannya mengetuk meja berulang-ulang. Terdengar suara pintu dibuka, sesosok tak dikenal masuk kedalamnya. “ Oh, kau, Raven,” Raven bersandar di dinding, melirik sinis pemuda itu. “ Kenapa kau membakar rumahnya?” tanya Raven. Pemuda itu tertawa sinis. “ Pria bodoh itu menyimpan surat dariku. Jadi ku putuskan untuk membakar rumahnya,” jawab pemuda itu tanpa merasa bersalah. Raven terdiam. Ia memutuskan begitu karena ia tahu, percuma membalas ucapan rekannya itu. Apalagi kalau sudah menyangkut urusan nyawa orang lain.

“ Lalu? Kenapa kau meneleponku? Ada pekerjaan lagi?” tanya Raven beruntun. Pemuda itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan dua lembar foto. “ Ini,” Pemuda itu memberikan foto-foto itu pada Raven. Wajahnya memucat saat ia melihat siapa yang ada dalam foto itu. “ Mereka targetmu berikutnya,” ujar pemuda itu singkat. “ Kenapa mereka?” tanya Raven. Pemuda itu tersenyum dingin kearah Raven. “ Mereka itu ancaman bagi kita. Aku bisa merasakannya,” Raven mengenggam erat foto-foto itu, melipatnya dan memasukkannya kedalam saku kemejanya. “ Bunuh kedua detektif itu. Bila perlu, gunakan pancingan. Mengerti?” Raven mengangguk. “ Yes, sir,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Markas Kepolisian Pusat…

“ Bagaimana? Sudah diketahui arti tulisan kanji itu?” tanya Siwon. “ Belum. Sungmin bilang, besok dia baru bisa memberitahu kita,” jawab Kibum sambil memeriksa laporan. Siwon membaca salah satu laporan tim penyidik, memeriksa apakah ada petunjuk baru atau tidak. “ Menurut tim penyidik, penyebab kebakaran berasal dari peledak yang ditanam di halaman belakang. Kemungkinan besar peledak tersebut dinyalakan dari jarak jauh,” jelas Kibum. Siwon menaruh laporan itu, mengambil laporan yang lain. “ Sepertinya korban hanya tinggal sendirian,” ujar Siwon. “ Hmm…” Kibum mengambil sekaleng kopi, mengocoknya perlahan. “ Haish..ternyata kosong. Oi, belikan kopi, dong. Untuk begadang malam ini,” perintah Kibum. Dipukulnya kepala Kibum dengan koran. Kontan Kibum menjerit kesakitan. “ Apa-apaan kau?” protes Kibum. “ Seenaknya nyuruh orang. Kau saja yang beli,” balas Siwon. “ Jangan begitulah. Kita kan partner,” Kibum mengeluarkan dua lembar uang 10.000 won. “ Sisanya boleh kau pakai,” bujuk Kibum. Siwon mengambil uang itu, melambaikannya dihadapan Kibum. “ Thankyou, bro,” ucapnya berlari keluar ruangan. “ Dasar…”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Sesampainya di minimarket, Siwon berjalan menuju barisan rak minuman. Beberapa kaleng kopi dan minuman ringan ia beli untuk kerja lembur malam ini. Tak lupa ia membeli makanan ringan. Saat ia mengambil snack, tangannya tak sengaja menyentuh tangan seseorang. “ Kaori?” Siwon tak percaya melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini. “ Annyeong,” sapa Kaori. “ Ah, annyeong. Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Siwon masih dalam keadaan terkejut. “ Berbelanja. Kau sendiri?” Kaori balik bertanya. “ Aku juga berbelanja. Oh ya, tadi siang kau kemana? Aku khawatir, jangan-jangan kau terkena musibah,” Kaori tertawa pelan mendengar ucapan Siwon. Siwon tersipu malu melihat Kaori tertawa. “ Aku ada urusan mendadak. Maaf ya, sepertinya aku membuat tuan detektif pusing tujuh keliling,” Ucapan Kaori membuat Siwon semakin salah tingkah.

Setelah membayar belanjaan di kasir, mereka pun berjalan bersama. Selama perjalanan, Siwon tak henti-hentinya tersenyum saat menatap Kaori. Terutama saat Kaori tertawa. “ Ah, aku jadi teringat sesuatu,” ujar Kaori tiba-tiba berhenti. “ Ingat apa?” tanya Siwon. Kaori berbalik, menatap Siwon. “ Besok kau ada waktu?” Siwon mengingat-ingat jadwalnya. “ Sepertinya tidak. Memangnya kenapa?” Siwon balik bertanya. Kaori tersenyum misterius, “ Besok…aku ingin bertemu denganmu. Di taman. Bagaimana? Kau mau?” tawar Kaori. Siwon melongo sesaat, tak percaya dengan ucapan Kaori. “ Te..tentu saja! Jam berapa?” tanya Siwon. Kaori melirik jamnya, tersenyum penuh arti. “ Jam 10 pagi,”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Keesokan harinya….

Siwon meminta izin pada Kibum untuk pergi sebentar. “ Boleh, tapi jangan matikan ponselmu. Sungmin akan memberitahu hasilnya hari ini,” kata Kibum saat Siwon meminta izin. Tepat jam 10 Siwon tiba di taman. Namun sepertinya Kaori sedikit terlambat. “ Siwon!” Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya. “ Kaori!” Siwon melambaikan tangannya. Kaori berlari menghampirinya. Rambut coklatnya diikat keatas. Blazer coklat dan sepatu boots hitam membalut tubuhnya. Ia tampak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. “ Sudah siap?” tanya Kaori. Siwon tampak bingung mendengarnya. “ Siap kemana?” Siwon balas bertanya. Kaori tak menjawab, menarik tangan Siwon. Bibirnya mengulas senyuman, matanya menatap Siwon. Membuat Siwon salah tingkah. Kaori menarik Siwon masuk kedalam bus. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka dengan tatapan menusuk dan nafsu membunuh yang besar…..

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Markas Kepolisian Pusat…

Kibum sibuk merapikan berkas-berkas kedalam lemari sambil mengerjakan laporan terbaru. Ia agak kerepotan karena ia harus melakukan semua pekerjaan ini sendirian. Saat ia menutup lemari, terdengar suara ketukan pintu. “ Masuk. Pintunya tak ku kunci,” perintah Kibum. Pintu terbuka, tampak sesosok pemuda berambut coklat dan bermata sipit berdiri disana. “ Ah, Sungmin. Bagaimana? Sudah tahu arti tulisan itu?” tanya Kibum sambil memberi isyarat pada Sungmin untuk duduk. “ Ya, aku sudah tahu. Awalnya ku pikir itu hanya nama satu orang, ternyata dua orang,” jawab Sungmin seraya duduk dihadapan Kibum. Ia membuka notesnya, memberikannya pada Kibum. “ Kamsahamnida…” Kibum tertegun membaca notes itu. Wajahnya memucat dan tegang. “ Oh tidak…” bisiknya. “Ada apa?” tanya Sungmin. Kibum mendongak, menatap Sungmin dengan tatapan panik. “ Aku harus memberitahu Siwon!”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Siwon heran melihat pemandangan sekelilingnya. Sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. “ Tempat apa ini?” gumam Siwon. Kaori tersenyum, mendadak ia berlari menuju bangunan reot yang tampak dari kejauhan. “ Kaori!” panggil Siwon. Ia mengejar Kaori sampai masuk kedalam bangunan. Tak terlihat sosok Kaori dimana pun. “ Kaori, dimana kau?” Percuma. Kaori tak menjawab sama sekali.

Mendadak terdengar suara pintu berdecit. Siwon menoleh, tampak seorang pemuda berdiri dengan mengenggam shotgun Browning A-5. “ Siapa kau?” tanya Siwon. Tangan kirinya mengambil Revolver Nagant M1895 perlahan. “ Jangan bergerak,” perintah pemuda itu. “ Jika kau bergerak, peluru rekanku akan menembus kepalamu,” Siwon memutar kepalanya perlahan, betapa terkejutnya ia mengetahui siapa yang berada di belakangnya. “ Kaori?” desis Siwon. Penampilan Kaori berbeda 180 derajat. Ia mengenakan tanktop hitam, shortpants dan boots hitam. Tangannya memegang Colt Anaconda. Wajahnya terlihat dingin. Berbeda dengan Kaori yang biasa Siwon lihat. “ Kau melakukan tugasmu dengan baik, Raven,” ucap pemuda itu. Siwon terbelalak mendengar ucapan pemuda itu. “ Ra..Raven? Kau pasti bercanda!” Pemuda itu menggeleng, tersenyum sinis. “ Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya, Tuan,” Pemuda itu maju, mengarahkan shotgunnya pada Siwon. “ Letakkan pistolmu dibawah, Tuan. Jika kau ingin selamat, turuti perkataanku,” Siwon mengambil revolvernya, menaruhnya di lantai. Pemuda itu tersenyum sinis lagi. “ Bagus. Kau memang anak pintar,”

DOR!

“ Siapa itu?!” bentak pemuda itu.

“ Keluar kalian semua! Kalian sudah terkepung!”

Siwon mengenali suara itu. Kibum, pikirnya. Ia pun berpikir keras bagaimana caranya kabur dari dua pembunuh gila ini. Perhatian mereka saat ini teralihkan oleh kehadiran Kibum dan para polisi lainnya. Siwon melirik ke belakang, tempat Raven muncul.Ada pintu terbuka lebar. Ini kesempatan, pikir Siwon. Cepat-cepat ia ambil revolvernya, lalu ia bergegas lari. “ Sial! Raven, kejar dia!” perintah pemuda itu. Siwon berlari mencari jalan keluar. Suara tembakan beruntun mengiringi pelariannya. Raven mengejarnya sambil terus menembaki Siwon. Namun Siwon lebih gesit. Ia menghindari setiap peluru yang ditembakkan dengan tepat.

DOR! DOR! DOR!

“ Leo!!” Siwon mendengar Raven menjerit, memanggil rekannya. Siwon menduga suara tembakan itu berasal dari Kibum atau polisi lainnya.

“ Berhenti kau!!!” raung Raven. Entah apa yang mendorong Siwon, mendadak tubuhnya membeku. Aura membunuh terasa dari tubuh Raven. Siwon bisa merasakan Colt Anaconda milik Raven mengacung kearahnya. “ Maaf…” Siwon terperangah mendengarnya. Suara itu terdengar gemetar. “ Kaori..” bisik Siwon. Ia memberanikan diri menoleh ke belakang. Kaori menurunkan pistolnya, air matanya mengalir. “ Aku terpaksa melakukan ini…” bisiknya. Kaori mengangkat pistolnya, mengarahkannya pada Siwon. Siwon memejamkan matanya. Ia sudah pasrah akan dibunuh oleh Kaori. “ Mianhamnida….Saranghaeyo, Choi Siwon,”

DOR!

Siwon membuka matanya, tak terjadi apa-apa. Ia berbalik badan, mendapati Kaori tergeletak berlumuran darah. “ Mianhae….” ucap Kibum sambil menurunkan pistolnya. “ Seharusnya aku memberitahumu lebih cepat…” Siwon menggeleng. Ia menghampiri Kaori yang terkapar. Memeluknya dengan erat. “ Gwenchana, Kibum…” Ditatapnya wajah Kaori yang mulai memucat. Dibelainya rambut Kaori dengan lembut. “ Nado saranghae…Kaori…”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Hujan turun membasahi bumi beserta isinya. Membasahi batu nisan yang berdiri kokoh disana. Siwon menaruh setangkai bunga di batu nisan itu, begitu juga Kibum. Siwon menghela nafas berat. Ia melirik orang yang berada didepannya. Orang itu menangis seraya mengelus batu nisan itu. “ Well…goodbye, my friend. Thanks for all,” gumamnya. Siwon merangkul orang itu, menyandarkannya di bahunya. “ Mulai hari ini, aku tak akan lagi memakai nama pemberianmu. Aku akan menjalani hidup baru sebagai Nakajima Kaori,” Siwon tersenyum mendengarnya. Sejak peristiwa penangkapan itu, Kaori yang berhasil selamat dari masa kritisnya, memutuskan untuk menyerahkan diri. Namun belakangan diketahui, bahwa pembunuh sebenarnya adalah Leo. Kaori hanya sebagai cadangan jika Leo tidak bisa menuntaskan tugasnya. Leo sengaja memberi nama Raven pada Kaori. Karena dengan nama sandi itu, Kaori tak akan dikenali oleh siapapun. Hal itu dilakukan Leo untuk melindungi Kaori. Bahkan ia sengaja menyuruh Kaori yang mengejar Siwon karena ia tahu, terlalu berbahaya bagi Kaori menghadapi para polisi. Bahkan sampai akhir hayatnya, Leo tetap melindungi Kaori.

“ Aku senang ini semua sudah berakhir,” ujar Kibum. Siwon mengangguk, “ Aku juga merasa demikian,” Kibum menengadahkan kepalanya ke langit, “ Ah, sepertinya hujan akan semakin deras. Ayo, kita pulang,” Siwon merangkul erat Kaori, “ Ayo, Kaori. Kau masih harus beristirahat,” Kaori mengangguk. Mereka pun berjalan menuju mobil. Kaori menoleh kebelakang, menatap sedih batu nisan itu. “ Tenang saja. Leo pasti sudah berada ditempat yang lebih baik untuknya,” hibur Siwon. Ucapan Siwon membuat Kaori lega. Sebelum ia masuk kedalam mobil, ia menatap sekali lagi kearah batu nisan. Tapi kali ini, ia tersenyum manis. Seolah ia melihat Leo sedang melambaikan tangan kearahnya. Ia pun masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan pemakaman. Dibukanya jendela mobil, lalu ia tersenyum kearah batu nisan untuk terakhir kalinya.

 

~FIN~

 

PS: Mianhae kalo FF ini rada gak jelas. Ini author tulis pas lagi nonton Athena >< karakter Kaori memang terinspirasi dari tokoh Yoon Hae In dalam K-drama Athena ^^

 

Happy reading fellas ^^

 

 

Seven Princess Part 8: Illusion

Saki membolak-balik halaman buku yang sedang ia baca. Sejenak ia merasa bosan. Dilemparnya buku itu, lalu ia berbaring. “ Bosan,” gumam Saki. Sudah seminggu ia dirawat di Rumah Sakit karena penyakitnya kambuh. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali membaca buku.

“ Berhenti mengeluh, Lady. Justru saat-saat seperti ini adalah waktu yang tepat untuk beristirahat dari rutinitas Anda,” kata Falcon sambil menuangkan teh. Saki tak percaya melihat apa yang dilakukan Falcon, spirit sekaligus butlernya itu. “ Bisa-bisanya kau menyiapkan morning tea di tempat seperti ini?!” pekik Saki terheran-heran. Satu set perlengkapan teh tersedia diatas meja dekat tempat tidurnya. Bahkan camilannya pun tersedia. “ Pagi ini saya hanya membuat pai buah. Nanti jika Lady sudah keluar dari Rumah Sakit, akan ku buatkan dessert terenak yang Anda suka,” ucap Falcon sambil menaruh secangkir teh dan sepiring pai buah. Saki mengambil cangkir teh tersebut, mencicipnya sedikit. “Milk tea?” tebak Saki. “ Anda benar. Teh Cheylon yang dicampur dengan susu,” jawab Falcon. Continue reading

Snakes On The Plane Part 11

Yun Hee POV

Tidak! Ahjussi pasti bohong! Tidak mungkin Siwon memiliki kekuatan Sagitarius! Tidak boleh ada yang memiliki kekuatan itu kecuali Hitoshi. Tidak boleh!

“ Hawkins…” Aku memanggil spiritku. Aku ingin pergi dari tempat ini.

“ Yes, my lady?”

“ Bawa aku pergi. Ke tempat dimana tak seorang pun bisa menemukanku,” perintahku. Ahjussi jahat…ahjussi pembohong!!! Aku tak terima jika ada orang lain yang memiliki kekuatan Sagitarius. Meskipun itu adalah pilihan ahjussi.

Aku menaiki punggung Hawkins. Ku perintahkan ia untuk segera terbang sebelum ada yang melihatku kabur. Selamat tinggal, Cop Squad. Dan selamat tinggal….Saki.

**********************************

Saki tertegun. Mendadak seperti ada yang memanggilnya. Saki membuka pintu van. Hanya ada Hankyung yang sedang berjaga dengan Seiryuu dan Ryeowook. Mungkin hanya perasaanku saja, pikir Saki.

Seiryuu mengeluarkan peta yang diberikan Jenderal Shin.Ada beberapa tempat yang dilingkari dengan spidol merah. Menurut Jenderal Shin, tempat-tempat yang dilingkari adalah tempat yang dijadikan Snakes Army sebagai tempat persinggahan. Pasti ada bukti-bukti yang mereka tinggalkan di tiap lokasi.

“ Ryuu, Kapten telah kembali,” ujar Hankyung. Siwon, Kyuhyun dan Eunhyuk datang dengan membawa sesuatu yang besar dan hitam. “ Apa yang kalian temukan?” tanya Seiryuu. Eunhyuk membuka bungkusan hitam itu, mengeluarkan satu persatu benda yang mereka ambil. “ Teleskop, kandang ular, dokumen-dokumen, dan……sejumlah senapan,” Ryeowook terkesima dengan kandang ular, mengamatinya seraya memainkannya. “ Aigooo…..bahkan mereka memiliki benda seperti ini di markas mereka,” gumam Ryeowook. “ Lebih tepatnya tenda. Ah, kami juga menemukan sejumlah foto. Diantaranya bertanda merah. Entah apa maksudnya,” Eunhyuk menyerahkan foto-foto itu pada Seiryuu. Sekilas foto-foto itu terlihat biasa, namun beberapa ditandai dengan spidol merah. Mata Seiryuu terpaku pada salah satu foto. Ia merasa tak asing dengan sosok yang ada dalam foto itu. “ Tak mungkin…” bisik Seiryuu. Hankyung ikut melihat foto itu dari belakang, “ Kenapa?”. “ Ini…Hitoshi kan?” tanya Seiryuu. Siwon mengambil foto itu, memperhatikannya dengan seksama. “ Benar juga. Kenapa fotonya ada disini?” Siwon membalik foto itu, berharap menemukan petunjuk. “Ada tulisannya,” Anggota lain mendekat, membaca pelan tulisan itu.

Hiragawa Hitoshi

Die:16 December 2007

Mission accomplished

“ Apa?!” pekik Seiryuu. “ Jadi…Hitoshi termasuk target mereka?” duga Hankyung. Siwon mencari-cari foto lain, berharap dugaannya meleset. “Ada apa, Kapten?” tanya Eunhyuk. “ Kalau ada foto Hitoshi, berarti ada….” Siwon menemukan yang ia cari. Wajahnya memucat saat ia melihat siapa yang ada dalam foto itu. “ Park Yun Hee,”

Park Yun Hee/Ayanami Sayuri

Lost:07 December 2010

**********************************

Hoshi mengetuk pintu Ruang Kesehatan perlahan. Tak ada jawaban. Hoshi mengetuk lagi. Namun tetap tak ada jawaban. Penasaran, Hoshi membuka pintu Ruang Kesehatan. “ Sayuri-neechan, waktunya makan,” kata Hoshi. Ia celingukan melihat kondisi kamar. Gelap dan tak ada tanda-tanda kehidupan. “ Oneechan, lampunya ku nyalakan ya,” ujar Hoshi sambil berjalan menuju saklar. Saat lampu menyala, Hoshi terbelalak melihat kasur kosong. Tas milik Yun Hee juga tak ada. “ Oneechan!” jerit Hoshi. Ia melihat salah satu jendela terbuka. Sehelai bulu coklat tertinggal disana. “ Ini…”

**********************************

Drrrt…Drrrt…. Saki menoleh, mendapati ponsel Seiryuu bergetar. “ Siapa yang menelepon?” Saki mengambil ponsel Seiryuu, melihat layarnya. “ Hoshi? Ada apa?” Saki mengangkat telepon, “ Yoboseo?”

“ Oneechan!!”

“Ada apa, Hoshi?”

“ I…itu…Sayuri-neechan…hilang!”

Saki terbelalak. Rasanya ia baru saja dihantam sesuatu yang berat. “ Kau…tidak bohong kan?” tanya Saki. “ Tidak! Tempat tidurnya kosong, bahkan tas miliknya juga tak ada,” jawab Hoshi dari seberang. Saki mengetuk meja, berpikir keras. “ Tak mungkin….jika ia pergi, pasti ada yang melihatnya. Tak mungkin ia hilang tanpa bekas!” gumam Saki.

“ Oneechan…aku rasa itu mungkin saja,”

“ Apa maksudmu?”

“ Aku menemukannya…sehelai bulu berwarna coklat tertinggal didekat jendela..”

Saki tertegun. Ia lupa Yun Hee masih memiliki kekuatan Zodiac. Besar kemungkinan Yun Hee menggunakan spiritnya. “ Hawkins…” bisik Saki. Ia mengintip keluar van. Seluruh anggota tim sedang melakukan rapat darurat. Untuk sesaat ia ragu, apakah sebaiknya ia melapor pada Siwon atau tidak?

“ Hoshi, kau sudah lapor pada Jenderal Shin?”

“ Belum. Aku benar-benar panik sampai lupa melapor pada Jenderal,”

“ Segera lapor pada Jenderal! Aku akan melapor pada Kapten,”

“ Siap!”

Saki menutup telepon, berlari keluar dari van. Anggota yang lain terkejut melihat kedatangan Saki yang tiba-tiba. “ Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Seiryuu. Saki menggeleng. “ Tidak, ada kabar buruk dari Markas,” jawab Saki. “ Kabar buruk?” ulang Siwon. Saki mengangguk. “ Yun Hee hilang. Ia kabur dari Markas,”

**********************************

Jenderal Shin terbelalak, menjatuhkan dokumen yang sedang ia periksa. “ Hilang? Bagaimana mungkin…” Jenderal Shin kehabisan kata-kata. Wajahnya pucat pasi. Sementara Hoshi tampak gelisah, kalut karena ia yang pertama kali mengetahui hilangnya Yun Hee. “ Jenderal…” panggil Hoshi. Jenderal Shin bangkit dari kursinya, raut wajahnya mengeras. “ Cepat panggil Tim Pencari! Cari dia secepat mungkin!!” perintah Jenderal Shin. “ Baik!”

Jenderal Shin terhenyak. Tak pernah terbesit dalam pikirannya bahwa Yun Hee berani kabur dari Markas. Kenapa, Yun Hee? jeritnya dalam hati. Jenderal Shin mengambil telepon, memencet salah satu nomor. “ Hayate? Kau sedang dimana sekarang?” tanya Jenderal Shin. “ Ruangan Komisaris. Ada apa?” Komisaris Hayate balik bertanya. Jenderal Shin tertunduk, berbicara dengan suara yang berat, “ Cepat ke ruanganku. Adayang ingin ku bicarakan,”

**********************************

“ Hilang? Tak mungkin! Markas kita dalam penjagaan ketat! Bagaimana bisa ia hilang dalam sekejap? Dia bukan penyihir, DongHee!” Komisaris Hayate menggebrak meja dan membentak Jenderal Shin. Pikirannya kacau. Sama seperti Jenderal Shin saat ini. “ Aku juga tak tahu, Hayate! Anak itu….kenapa ia ingin sekali lepas dari kita? Kenapa?” Jenderal Shin terlihat frustasi. Komisaris Hayate mengambil telepon, menekan nomor. “ Hubungi Siwon dan teamnya. Perintahkan mereka untuk mencari Yun Hee!” Ucapan Komisaris Hayate membuat Jenderal Shin tersadar. “ Hayate…” bisik Jenderal Shin. Ditatapnya Komisaris Hayate dengan tatapan tajam. “ Jangan-jangan….Yun Hee sudah tahu?” Komisaris Hayate mengernyitkan dahi, tak paham dengan perkataan Jenderal Shin. “ Tahu apa?” Komisaris Hayate balik bertanya. “ Ya, dia pasti tahu…bahwa kekuatan Sagitarius ada dalam tubuh Choi Siwon,”

To be Continued~

Seven Princess Part 7: Daddy

White Castle….

Sungmin POV

Aneh. Benar-benar aneh. Sepertinya dia benar-benar menghindariku. Memangnya aku salah apa? Apa karena peristiwa itu ia menjauhiku?

“ Hyung, tolong bantu bereskan kamar Tomomi ya. Ku dengar, sudah dua hari ia tak pulang ke apartement nya,” kata Donghae. Dua hari? Kemana saja dia?

Ya sudahlah. Aku ke apartement nya saja sekarang. Mungkin aku bisa tahu sesuatu dari sana. Continue reading