Three Songs -chapter 3-

tumblr_mbw5r3c3jM1qm9ocvo10_250

“Pagi Haera jelek…” teriak Donghae riang ketika membuka pintu ruang rawat Haera. Kedua tangannya dipenuhi dengan parsel buah dan kotak berpita ungu muda. Di balik punggung Donghae, Hyemi, menutup pintu dan sebelah tangannya membawa buket bunga.

“Oh hei. Pagi sekali kalian datang? Ada apa?”

“Kenapa? Tak boleh kami datang pagi-pagi begini? Lagipula ini tidak terlalu pagi, sudah jam sembilan.” terang Donghae sambil meletakkan semua bawaannya di meja.

“Ngg, tidak boleh.” jawab Haera sambil menjulurkan lidahnya.

“Oh kau begitu? Baiklah. Ayo Hyemi, kita pulang. Ada manusia yang tak ingin ditemani.” Sebelah tangan Donghae menggandeng tangan Hyemi yang baru saja akan mengambil buah apel dan berniat mengupasnya.

“Hei, aku bercanda. Jangan marah.”

“Haera, siapa yang akan meninggalkanmu? Donghae hanya bercanda.” ucap Hyemi sambil melepas gandengan Donghae dan langsung mengambil pisau potong.

Donghae hanya menjulurkan lidahnya sambil jalan berputar ke arah sisi kiri ranjang Haera. Ia duduk di tepi ranjang Haera.

Haera tak pernah bisa marah pada Donghae, begitupun sebaliknya. Donghae paling tidak bisa marah pada Haera. Oleh karena itu, ketika mereka bertengkar kecil, mereka akan cepat berbaikan tanpa ada kata maaf.

Haera melirik kotak berpita ungu yang ada di sisi kanannya, “Kotak apa itu?”

“Kau ingin tahu? Buka saja.” Haera langsung meraih kotak itu dan membukanya.

“Coklat! Banyak sekali.” Haera berteriak kegirangan. Ia langsung mengambil sebatang dan mengupas plastik aluminium emasnya. Hyemi Dan Donghae hanya melihat Haera yang asyik makan coklat sambil tersenyum.

Mendadak Haera seperti tersedak. Nafasnya tersengal-sengal. Sebelah tangannya menggenggam erat tangan Donghae dan sebelah lagi mencengkeram dadanya kuat-kuat. Seketika Donghae dan Hyemi panik, mereka bingung.

(more…)

Three Songs -chapter 2-

“Apa keluarga Haera ada di sini?” ucap seorang dokter ketika keluar dari ruangan UGD sambil melepas maskernya.

“Saya dok, saya ayahnya.” Seorang pria paruh baya berdiri dengan gusar, mendekati sang dokter. Matanya sangat pedih dan perih, tapi ia tak bisa menangis. Ia terlalu shock dengan semuanya.

“Ada yang perlu saya bicarakan, mari ke ruangan saya.”

Ketika akan melangkah, Donghae menahannya. “Boleh saya ikut?”

Hanya jawaban berupa anggukan yang didapat Donghae.

“Baiklah, aku akan pulang. Kalau Haera sudah sadar, segera kabari aku. Baik-baik di sini.” ucap gadis yang sedari tadi duduk di samping Donghae yang tengah berdiri.

“Ne, Hyemi. Hati-hati di jalan.” Donghae pun membuntuti ayah Haera dan sang dokter yang sudah menjauh.

“Aku di sini saja,” Donghae memilih untuk berdiri di ambang pintu dan ayah Haera duduk berhadapan dengan dokter.

“Bagaimana kondisi anak saya, Dok? Apa ada luka serius?”

Dokter itu diam sejenak, ia merapikan stetoskop yang menggantung di lehernya, “Sejauh ini, anak Anda baik-baik saja, kepalanya hanya sedikit terbentur. Dia akan segera pulih dengan cepat,”

Ayah Haera terlihat menghela nafas panjang, “Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkannya.” Donghae tersenyum lega.

“Tapi, apakah Anda tahu bahwa anak Anda mengidap penyakit serius? Penyakit ini tak bisa dibiarkan terlalu lama, ini sudah sangat kronis.”

(more…)

Three Songs

Fishaera kembali datang dengan FF continue sebagai permintaan maaf karena salah ngepost FF -_____-a *FF yang sebelumnya di-post udah pernah di-post aku ternyata u,u*
-bersabarlah yang ingin mengetahui kelanjutannya ;D-

Happy reading!!

Seorang gadis tengah duduk di balik sebatang pohon rindang. Terlihat sekali ia sedang menunggu seseorang, kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri dengan gelisah. Sudah hampir dua jam ia menunggu, tapi yang ditunggu batang hidungnya belum juga tampak.

Hujan pun mengawali kedatangan seseorang yang ditunggu. Si gadis terpaksa berpindah tempat agar tidak terlalu merusak tatanannya hari itu. Tapi percuma, hujan mengguyur separuh tubuhnya.

“Ah, tepat sekali.” ucap seorang laki-laki yang baru sampai dari larinya. Si laki-laki berdiri di samping si gadis dengan senyum simpul. Mereka berdua terdiam di pos kosong itu.

“Cari tempat duduk yuk. Kakiku letih.” Mata Donghae berkeliling.

“Di sana saja ya?” Donghae menunjuk satu tempat yang agak teduh.

“Ok. Ayo.” jawab si gadis bersemangat. “Kau duluan, Ra-ya. Kita berdua tak ada yang bawa payung kan?” Kepala Donghae sedikit menunduk mencari-cari mata Haera.

Tanpa sepatah kata, Haera pun berlari kecil mencoba menghindari hujan. Ketika ia mendudukkan tubuhnya ke lantai keramik di beranda sebuah kios, Donghae sudah duduk dengan rapi terlebih dahulu di sampingnya.
(more…)

Waiting

1-4985330-4488-t

Annyeonghaseyo .. *bow*

Fishaera kembali XD *dijedotin*

Ok, ff ini terinspirasi pas lagi ngeliat kolam ikan dari atas dan entah kenapa jadi mendadak galau. Terinspirasi dari kolam ikan tapi ceritanya dari pengalaman author sendiri *yak tentu tanpa bagian ending*

ok, this is it!

Happy reading!

3 September 2011 – I don’t know what I feel when I write this. Just nothing bad feeling

“Yak! Bagaimana kalau kita memancing sekarang?” antusias seorang laki-laki tinggi besar yang mendadak berdiri di antara kerumunan orang yang tengah duduk santai di ruang tamu.

Seorang gadis yang bertubuh berisi menoleh cepat, “Memancing, Kangin Oppa? Setuju!”

“Ne, kita memancing!” sahut gadis berkacamata yang duduk memojok.

Sebelah tangan teracung, milik gadis pemalu yang duduk di sebelah gadis yang tidak bereaksi sedari awal.

“Waeyo, Hyun?” tanya si gadis berkacamata.

Seohyun mengigit bibir bawahnya, “Aku.. Aku tidak yakin bisa memancing, Jess.”

Hampir seluruh manusia yang berkumpul di situ mendesah panjang, “Aigoo, Hyun. Kita hanya bermain, bukan berkompetisi. Ayolah, rileks-kan sedikit tubuhmu dari tugas kuliah yang menumpuk itu.” Kangin gemas dengan Seohyun yang terlalu mencintai buku.

“Tapi, Oppa – “

“Terserah kau ikut atau tidak. Yang ikut memancing, ayo ikut aku ke bawah.” Kangin berjalan riang keluar ruang tamu menuju balkon yang memiliki tangga ke bawah di sudutnya. Ia diikuti oleh Jessica dan si gadis berisi tadi, Sunny, serta Seohyun yang akhirnya menurut.

TOK!
(more…)

The Winter

Semilir angin musim dingin sangat kurang ajar di kota Seoul, terutama untuk malam ini. Membekukan kulit, tulang, syaraf, termasuk hati seorang gadis yang tengah berjalan lunglai melawan hawa yang menggigit.
Ia berjalan dengan tatapan kosong tanpa sedikitpun mendekap tubuh kecilnya seperti halnya orang lain yang mendekap erat tubuh mereka dan berjalan cepat agar suhu tubuh mereka meningkat.
Tanpa mengeluarkan sebuah kunci, ia membuka pintu rumahnya dan langsung duduk di kursi makan, menjatuhkan kepalanya.

Pikirannya kembali melayang.
(more…)

A Fool Just For Her

Annyeonghaseyooo *bow*
Fishaera kembali dengan FF pesenan temenku, si Empuk Fasya XD. Mau narasi apa ya? Hmm dia cuma ngasih ide kurang dari lima kata ke aku u,u tapi, inilah hasilnya XD
Mian kalo karakternya gak sesuai, yang di otak aku dari kemaren-kemaren konsepnya cuma ini aja.
Udah ah, ditunggu komennya yaaa.
Happy reading :)

Kim Jongwoon atau lebih terkenal dengan sebutan Yesung, siswa laki-laki yang sejujurnya tingkat ketampanannya satu inchi berada di bawahku, entah mengapa sangat popular di sekolah. Ok, aku akui kalau suara manusia berwajah dingin itu tiada duanya. Semua orang –termasuk aku- terutama para wanita, akan langsung jatuh hati ketika mendengar suaranya.
Aku yakin, ia memakai sejenis susuk di tubuhnya. Bagaimana tidak, yeojachingu-ku saja tergila-gila padanya. Sungguh pacar yang tidak baik untuk ditiru.

“Jagiiiii~” Itu dia suara gadisku.

Aku yang sedang mencuci mobil di rumah, agak terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba di hari libur ini, “Yoora?” Ya, namanya adalah Yoora. Choi Yoora, “Kamu udah pulang?”

Dia mengangguk semangat, “Ne, sepulang menonton pentas di sekolah, aku langsung kemari.”

Di sekolah memang sedang ada pentas, sejenis pentas musik. Tapi, aku terlalu malas untuk menonton acara seperti itu, lebih baik di rumah dan bermain Starcraft!

“Lalu, apa yang membawa gadisku ini kemari sore-sore seperti ini?” ucapku sembari duduk di bangku plastik di samping mobil.
(more…)

A ‘Good’ Bye

Annyeonghaseyo .. *bow*

Fishaera imnida XD *dijedotin* kenalin, aku author baru di sini :D ng….aduh sebenernya speechless mau ngomong apa u,u pokoknya makasih makasih makasih, makasih buat admin+author SJFF yg udah nerima aku dengan hati yang besar, buat readers yang mungkin udah kenal aku *siapa lo? -__-/ya sebelumnya aku lumayan sering publish FF disini .-.* and last but not least, buat Donghae Lee, my baby fishy yang menjadi inspirasiku XD

Ok, FF ini dipublish sebagai ajang (?) perkenalan diri aku, terinspirasi pas lagi ngeliat kolam ikan dari atas dan entah kenapa jadi mendadak galau. Terinspirasi dari kolam ikan tapi ceritanya dari pengalaman author sendiri *yak tentu tanpa bagian ending*

Dimohon saran dan kritik yang membangunnya ya, demi keberlangsungan FF mendatang *tebar cipok*

ok, this is it!

Happy reading!

3 September 2011 – I don’t know what I feel when I write this. Just nothing bad feeling

(more…)

The Memory

Author : Nurul Ayu Oktavianti aka Nony aka Fishaera
Annyeonghaseyo chingudeuuuuul *flying wave*
Fishaera is back!! #plakk hmm ngomong panjang lebarnya belakangan aja yaaa hehe yuk ah langsung baca aja chingudeul :) oh iya, aku menerima segala macam bentuk kritikan looooh. jadi yang udah baca, komen yaaa. no silent reader. tapi, yg komen juga jgn cm sebaris ato empat kata aja u,u *author banyak maunya #plakk* ok deh , makasih semua sebelumnya :) *flying kiss*

Ahh menyenangkan sekali, aku kembali ke kota ini setelah sekian tahun pergi. Tempat ini, belum berubah dari terakhir kali aku menginjakkan kaki di sini.

Seorang laki-laki dengan mantel biru dongker yang membalut tubuhnya ditambah syal berwarna senada tengah menghirup dalam-dalam udara dingin kota Seoul sore itu. Tak hentinya, senyum mengembang dari bibirnya.

“Appa~” panggil gadis kecil berumur sekitar tiga tahun sembari menarik ujung mantel laki-laki itu.

Laki-laki itu menengok ke bawah, tersenyum lalu berjongkok, “Ada apa, Jagi?” Jari-jari laki-laki itu merayap ke pipi gadis mungil yang bersemu merah.

“Kita harus berangkat, Appa. Eomma sudah selesai dari swalayan. Kajja.”

“Memang Eomma sudah di mobil?”

Anak perempuan itu memainkan syal yang terkalung di leher laki-laki yang ia sebut Appa, “Ani, Appa. Eomma di sana.” Anak itu menunjuk jauh sisi kanannya.

Terlihat di bawah lampu taman, seorang wanita muda berdiri dengan kantung belanjaannya.

Sebelah tangannya melambai pada mereka dari kejauhan, “Donghae-ya, Eun Mi! Kajja! Nanti kita sampai rumah terlalu malam.” teriak wanita itu.

Donghae melambaikan tangan dan mengangguk pelan. Ia bersiap menggendong Eun Mi ketika anak itu mendaratkan bibirnya di atas bibir Donghae, “Aku sayang Appa.”

“Nado, Mi-ya.”

***

Donghae kembali datang ke tempat dimana seminggu lalu ia kunjungi ketika sampai di Korea. Taman.

Ia menyesap lagi kopi susunya saat duduk di salah satu bangku taman. Matanya berkeliling, melihat beberapa anak sedang bermain sepeda, beberapa ibu muda yang sedang bercengkrama sembari mendampingi anaknya bermain, dan seorang gadis yang baru saja duduk di bangku taman di seberangnya.

Gadis itu.. Mungkinkah dia.. Sepertinya, ya.

Donghae tersenyum simpul.

“Aish, babo! Kenapa harus aku yang dapat tugas mengurus keperluan Heechul Oppa? Dia itu kan sangat cerewet, perfeksionis, sensitif, belum lagi aneh. Ahh, wae? Waeyo?” gerutu gadis yang kira-kira berumur 22 tahun itu dengan mengerutkan alisnya dan tangan disilangkan di dada.

Tangannya beralih menuju tas selempanganya, mencari sesuatu.

“Aish, kemana coklatku? Pasti bocah itu yang mengambilnya. Awas kau, Kim Ryewook, tak akan kulepaskan jika aku pulang nanti,” Ia menutup tasnya, “Apa dia tidak tahu bahwa aku sangat membutuhkannya saat sedang kesal seperti ini, huh? Sungguh dongsaeng yang tidak pengertian.”

“Ini,” ucap Donghae singkat ketika mendudukkan tubuhnya di sebelah gadis itu. Di tangannya sebatang coklat tengah menunggu disambut.

“Ah?”

Donghae tersenyum, “Aku memberi coklat ini untukmu, terimalah.”

Mata gadis itu mengerjap tak percaya, ada rasa takut yang terselip di matanya, “Ah? Ani, tidak perlu.” Gadis itu pun beranjak dari duduknya meninggalkan Donghae yang masih saja tersenyum.

Anak itu, belum berubah. Masih saja melampiaskan kekesalan pada sebatang coklat dan tidak mau menerima apapun dari ‘orang asing’. Orang asing, dasar bodoh.

***

“Aish, hujannya mengapa begitu deras? Bagaimana kita akan pulang?” keluh seorang gadis berkacamata yang menengadahkan tangannya menampung air hujan yang turun dari tepian atap kedai yang sudah tutup malam itu.

“Aku belum mempersiapkan apapun untuk besok, bagaimana ini, Hae Ra?” si gadis kacamata menyikut temannya yang sedang menunduk sedari tadi, “Hei, Kim Hae Ra. Kau tidak mendengarkanku bicara? Kau ini, menyebalkan.”

Gadis bernama Hae Ra menghembuskan nafas berat, “Mianhae, Hyun.” Kepala Hae Ra mendongak, menatap nanar hujan yang tak kunjung berhenti.

“Wae, Jagi? Malhaebwa.”

Hae Ra menarik nafas pelan, tersenyum, “Hari ini tepat tiga tahun kematian Kim Dora Ahjussi,” Min Hyun merangkul pinggang Hae Ra dan bersandar di pundaknya, mencoba merasakan kesedihan temannya, “Kau tahu dia siapa? Dia adalah ayah angkatku. Aku bisa sampai seperti saat ini pun berkat dia yang menyekolahkanku semenjak kematian Appa ketika umurku lima tahun. Dia terlampau baik walau kadang aku risih dengan sikapnya yang terlalu memanjakanku. Dan sekarang, aku malah belum sempat mengunjungi makamnya. Anak bodoh. Hae Ra babo.” rutuknya pada diri sendiri.

Min Hyun menatap sahabatnya sembari mengusap pelan bahunya yang sedikit bergetar. Dia bisa melihat ada genangan air mata di kedalaman mata coklat Hae Ra.

“Ahh, sedang apa aku ini? Ayo kita pulang. Kita hujan-hujanan.” ajak Hae Ra berpura-pura ceria.

Min Hyun yang sudah tahu tabiat Hae Ra yang selalu menyembunyikan air mata di antara hujan, langsung menggelengkan kepala, “Aniyo, Hae Ra. Hujan masih kelewat deras dan ini sudah malam. Ingat, pukul 4 dini hari nanti kita harus sudah berada di tempat acara bukan? Besok ada event besar. Jangan buat dirimu sakit dan mendapat amukan dari Han Sajangnim, arasseo?”

“Hujan ini tidak akan membuat sakit, Hyunnie.”

Min Hyun membulatkan matanya, “Hae Ra – “

Sementara itu, Donghae yang sedari tadi berdiri di samping Hae Ra hanya tersenyum mendengar segala percakapan yang ditangkap telinganya. Sedetik kemudian dia berlari menembus hujan, tidak peduli dengan rintiknya yang deras menghantam tubuhnya.

“Beberapa orang aneh terkadang makan es krim untuk mencegah air matanya keluar.” ujar Donghae sembari mengatur nafasnya ketika sampai di depan kedai yang tutup tadi. Tubuhnya basah kuyup dan di salah satu tangannya terdapat kantung plastik berwarna putih.

“Ini,” Donghae menyerahkan dua buah es krim cone pada dua gadis yang masih terlihat kebingungan.

Merasa tak ada respon yang baik, Donghae tersenyum, “Dulu, aku mengenal seorang anak perempuan yang selalu makan es krim ketika air matanya hampir jatuh. Dia anak perempuan yang aneh. Sudahlah, ambil.”

Dengan keraguan, Hae Ra dan Min Hyun menerima es krim tersebut. Ketika es krim berpindah tangan, Donghae melemparkan senyumnya lagi lalu berlari melawan hujan.

“Ahh? Ah? Kkk.. kamsahamnida, Oppa!” teriak Min Hyun yang kesadarannya baru saja terkumpul dari keterkejutannya.

“Hei, Hae Ra. Kau melamun lagi? Kau lihat namja tadi? Aigoo, neomu kyeopta! Tapi, untuk apa dia memberi kita es krim? Aku tidak mengerti. Ah sudahlah, lumayan, es krim gratis.”

Min Hyun sudah mulai menjilat es krimnya sementara Hae Ra masih terdiam dengan es krim yang mulai meleleh di tangannya.

Es krim saat hujan? Anak perempuan aneh? Bukankah itu.. Ah, namja tadi. Siapa dia? Arrghh, aku tidak bisa ingat apapun.

***

“Menyebalkan!” Hae Ra beberapa kali menendang bebatuan kecil yang mampir ke ujung sepatu kets-nya.

“Dasar wajah sengak,” Hae Ra menjatuhkan tubuhnya di bangku taman yang kosong sore itu, “Maniak game menyebalkan! Untuk apa memintaku datang hanya untuk menemaninya main game? Dia pikir aku suka? Aku kan tidak pernah menyentuh apapun itu yang berbau game. Main saja tidak pernah, bagaimana bisa aku main game? Dasar babo! Cho Kyuhyun babo! Awas saja kau, kalau sekali lagi mengajak, membicarakan, atau memperlihatkan game padaku, akan kuhancurkan PSP-mu, Cho Kyuhyun!” amuknya pada diri sendiri.

“Aaarrghh!!” Hae Ra terlampau geram sehingga ia sedikit mengacak-acak rambut panjang ikalnya yang berwarna coklat.

“Ini,” Hae Ra mendongak dan ia mendapati laki-laki yang sama ketika terakhir bertemu di depan kedai saat hujan turun seminggu yang lalu kini hanya berjarak satu meter darinya.

Mata Hae Ra masih mengerjap tak percaya dengan penglihatannya. Di tangan kanan Donghae terdapat satu balon pink yang dikaitkan dengan sehelai benang dan ujungnya dijepit ibu jari dan telunjuknya.

“Kau – “ Kata-kata Hae Ra masih menggantung ketika Donghae menyelipkan benang balon tersebut di antara jari-jari Hae Ra.

Donghae pun berlalu, berjalan pelan meninggalkan Hae Ra yang masih tidak mengerti.

Laki-laki itu.. Aish, mengapa aku tidak bisa ingat apa-apa? Ah? Apa ini?

Sebuah gulungan kertas kecil menjadi pemberat balon pink tersebut. Hae Ra melepasnya dan membuka kertas itu perlahan, membacanya.

Annyeong,

Kau Kim Hae Ra bukan? Pasti tebakanku benar. Kau masih belum mengenaliku? Ah ya, kita sudah tidak bertemu sejak…15 tahun lalu. Lama sekali. Jadi, kau benar-benar lupa padaku? Coklat, es krim, hujan, dan balon, bahkan kau tidak ingat? Sungguh kau belum berubah, Ra-ya, ingatanmu sangat buruk.

Hmm, ini hal terakhir yang bisa mengingatkanmu padaku, mungkin.

Would you marry me? I do, Oppa!

“Would you marry me? I do, Oppa!”? Aish dia.. Siapa? Ayo, Hae Ra coba ingat. Dia.. Ah ya!

“Hei, chakkaman!” teriak Hae Ra pada punggung Donghae yang semakin menjauh.

Ia berlari sekuat tenaga menyusul Donghae dan Donghae pun sudah berbalik dengan menyuguhkan senyum.

Hae Ra sampai di depan Donghae. Ia masih mengatur nafasnya sembari memegangi lututnya yang terasa lemas.

“Ok,” Hae Ra menegakkan tubuhnya, “Kau.. Ngg, apa kau ‘ikan asin’?” Mata Hae Ra menyiratkan kebingungan dan menuntut jawaban secepatnya dari bibir laki-laki di hadapannya itu.

Donghae tertawa sebentar, “Ikan asin. Kau masih menyebutku dengan sebutan itu? Ayolah, Hae Ra, kita sudah dewasa. Kau masih mau memanggilku dengan sebutan ketika kita di TK, ‘puffy’?”

Wajah Hae Ra bersemu merah, “Jadi, benar kau.. Lee Donghae? Lee Donghae, ikan asinku?” Donghae mengangguk mantap.

“Oppa!” Hae Ra menjatuhkan tubuhnya ke dada Donghae, memeluknya erat. Donghae pun membalas pelukannya sembari mengacak rambut Hae Ra.

“Selama ini kau kemana, Oppa? Kau jahat sekali tidak memberiku kabar apapun.” tanya Hae Ra ketika mereka berdua duduk di salah satu bangku taman.

“Aku berpindah-pindah tempat, Hae Ra. Mengikuti Appa yang pekerjaannya terkadang menugaskannya berkeliling Korea. Mian aku tak sempat mengabarimu karena waktu itu terlalu banyak masalah yang terjadi. Tapi sekarang, aku kembali. Kembali ke Seoul.”

Hae Ra mengangguk paham, “Oh ya, lalu bagaimana bisa kau mengenaliku? Kita sudah tidak bertemu selama 15 tahun, Oppa!”

“Luka di lutut kirimu tidak mudah dilupakan.”

“Ah?”

“Iya, luka yang berbentuk bulan sabit. Luka itu ada karena aku pernah mengagetkanmu sehingga kau terjatuh ke kolam ikan. Ingat?”

“Ah, ne ne. Tak ku sangka kau masih mengingatnya, Oppa.”

“Kim Hae Ra!” teriak sebuah suara bariton dari kejauhan.

“Kau?” kata Hae Ra.

Laki-laki yang baru saja berlutut di depan Hae Ra, menggenggam tangan Hae Ra, “Hae Ra, mian. Bukan maksud aku mendiamkanmu dan memilih bermain game tadi. Sungguh, aku tidak sengaja.”

Hae Ra tidak merespon, hanya menyipitkan matanya.

“Ayolah, Hae Ra. Maafkan aku. Aku janji, tidak akan mengulanginya lagi. Bagaimana?”

Donghae yang melihat adegan tadi malah menepuk-nepuk puncak kepala Hae Ra, “Kalau Ra-ya sedang marah seperti ini, dia hanya bisa dibujuk dengan menepuk kepalanya.”

Kyuhyun yang baru menyadari keberadaan Donghae di samping Hae Ra terkejut, “Hae Ra, siapa dia?”

“Ah ya, perkenalkan. Ini,”

“Donghae imnida,” Donghae berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya yang kini disambut hangat oleh Kyuhyun yang sudah berdiri, “Ah, Donghae-ssi. Aku Cho Kyuhyun, namjachingu dari Kim Hae Ra.”

Bagai tersambar petir, Donghae langsung melunturkan senyumnya dan mematung.

Namjachingu? Jinja? Wae? Aaa.. Apa aku datang di saat yang salah? Oh Tuhan..

Hae Ra hanya bisa menelan ludah melihat reaksi Donghae.

“Hei, Donghae-ssi, wae?” Kyuhyun mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah Donghae.

“Ah? Ah ani. Aniyo. Gwenchana.”

“Appa!” Donghae menengok, mendapati balita perempuan tengah berlari kecil ke arahnya.

“Oh, Jagi.” Donghae langsung menggendong bocah kecil itu, mendekapnya dalam pelukan.

“Appa, nuguya?” Telunjuk Eun Mi mengarah pada Hae Ra dan Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum sembari memainkan matanya sementara itu Hae Ra tertegun.

Appa? Dia sudah menjadi seorang ayah? Ah, Donghae. Ya, Tuhan, ottokhae?

“Ini Hae Ra Ahjumma dan ini Kyu Ahjusshi. Nah kalian, kenalkan, ini Eun Mi.”

Eun Mi? Lee Eun Mi? Dia anak Lee Donghae, ikan asinku? Ah, mengapa taman ini berputar-putar di kepalaku?

“Eun Mi-ya, Hae-ya!” teriak salah satu suara.

“Eomma!” jawab Eun Mi dengan meneriakkan suaranya.

Eomma? Jadi, itu istri Donghae? Ah, mengapa begitu gelap? Ada apa ini?

***

Donghae Pov

 “Appa!” teriak Eun Mi yang kini berumur empat tahun. Ia berlari kecil kearahku dengan dress putihnya yang berenda pink.

“Hai, Jagi. Mana Eomma?” Aku berjongkok, menyejajarkan tinggi dengannya. Tangannya terulur, menunjuk pada satu kerumunan orang.

Aku menoleh, mencari apa yang ia tunjuk. Dapat kulihat wanita berbalut mini dress putih bergradasi biru tersenyum ke arah kami dan melambaikan tangannya. Ia menghampiri kami dengan susah payah karena heels 7 cm-nya.

Aku bangkit, sebelah tanganku menggenggam tangan Eun Mi yang enggan dilepaskan dan sebelahnya lagi menggenggam wanita cantik yang sudah berdiri di depanku.

“Jagi~” ucapnya berbisik sembari tersenyum.

Aku membalasnya dengan menempelkan bibirku di atas bibirnya sekilas, “Ya, puffy-ku?”

Dialah puffy-ku. Kim Hae Ra, ah tidak hari ini dia sudah menjadi Lee Hae Ra, istriku.

“Hei, kalian. Jangan berciuman di depan anak di bawah umur. Terlebih lagi anakku.” Seorang wanita yang berada di belakang Hae Ra langsung meraih Eun Mi dan menggendongnya.

“Aish, Noona.” Aku bisa merasakan wajahku yang memanas kepergok oleh kakak perempuanku, Lee Soohae.

Hae Ra sendiri kulihat hanya menundukkan kepalanya.

“Sudahlah, yeobo. Biarkan mereka menjadi raja dan ratu seharian ini. Jangan larang-larang mereka seperti itu. Kita kan juga seperti mereka waktu itu.” ungkap seorang laki-laki yang baru 4 bulan ini menjadi kakak iparku, Cho Kyuhyun. Ia melingkarkan lengannya ke pinggang Soohae Noona dan mengecup puncak kepalanya sekilas.

Tidak kusangka kami berempat yang sekarang jauh berbeda dengan kami setahun yang lalu ketika semua mulai berubah.

Misunderstanding Love

Annyeonghaseyo chingudeul .. *bow*
Fishaera kembali dengan FF yang sedikit berbau galau ~(^^)~ hahaha FF ini aku buat setelah liat MV-nya The One I Love kalo gak salah *sotoy* plus inget adegan YongSeo pas di WGM episode terakhir T_T
Oia, FF ini juga dipublish di yulljeunhye.wp.com XD *author tetep sayah*
Aku sangat menghargai adanya kritikan karena itu bisa jadi motivator aku untuk lebih baik lagi ke depannya. Jadi, dimohon kritikkannya ya J
Ok, this is it! Happy reading J
Misunderstanding Love
Author : Nurul Ayu Oktavianti aka Nony aka Fishaera
Genre : Romance, Oneshot
Cast : Super Junior Cho Kyuhyun

Seorang perempuan tengah menekan asal tombol remote TV yang digenggamnya sedari tadi. Sesekali ia menoleh ke arah pintu utama dan layar ponselnya yang gelap secara bergantian. Wajahnya terlampau gelisah.

CKLEK..

Sontak perempuan itu bangkit dari duduknya dan berlari kecil menyongsong pintu.

“Annyeong..” sapa seorang laki-laki yang baru saja melepas sneakers-nya.

“Oppa!” Perempuan tadi segera memeluk orang yang ia sebut oppa, “Mengapa tidak membalas pesanku dan segera mengangkat telepon? Aku sangat khawatir, Oppa.”

“Mian, Oppa ada lembur lagi dan tidak sempat mengabarimu. Ketika kau menelepon, Oppa sedang menyetir. Kau tidak mau Oppa kecelakaan lagi kan, Eun Mi?” ucap laki-laki itu sambil melepas pelukannya dan berlalu.

Laki-laki itu melepas sweater dan meletakkannya di sofa lalu beranjak ke dapur.

“Oppa, sudah makan?” tanya Eun Mi yang membuntuti laki-laki itu yang kini sedang meneguk air dingin dari botol di lemari es.

“Belum, nanti saja. Sudah ya, Oppa mau mandi.” Laki-laki itu pun beranjak ke ruangan di sebelah ruang TV, kamarnya. Eun Mi terpaku sambil menyipitkan matanya melihat kepergian laki-laki itu.

“Menyebalkan. Apa dia tidak sadar kalau aku menahan lapar sedari tadi sore hanya untuk menemaninya makan malam? Awas saja, kalau kau memintaku menemanimu makan, Cho Kyuhyun.” bisiknya pada diri sendiri.

Eun Mi segera merapikan sepatu Kyuhyun yang masih tergeletak sembarangan di dekat pintu dan mengambil sweater biru kotak-kotak di sofa, memasukkannya ke mesin cuci.

Kyuhyun keluar dari kamar dengan setelan kaus putih dan celana trainingnya menuju dapur. Ia membuka lemari makan dan mengambil sebungkus ramyun serta mangkuk.

“Mau kubuatkan, Oppa?” ujar Eun Mi yang melihat gerak-gerik Kyuhyun sembari menyeduh susu coklat.

“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.” Kyuhyun langsung menuang air mineral ke gelas tingginya setelah menaruh mie kering tersebut ke dalam mangkuk dan memberinya air panas.

“Cepat kau tidur, sudah larut.” ucap Kyuhyun setengah berteriak tanpa menatap Eun Mi. Ia berlalu masuk ke kamarnya sambil membawa semangkuk ramyun yang ia buat tadi.

Mata Eun Mi membelalak dan seketika ia sudah tidak berselera minum susu kesukaannya. Ia langsung membanting pintu kamarnya dengan kasar dan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.

“Aish, ada apa sih dengan makhluk kurus itu? Aku dijodohkan dengannya dan tiga bulan lalu kami bertunangan. Appa dan Umma serta Tuan dan Nyonya Cho yang memintaku tinggal di apartemennya setelah bertunangan dengan alasan agar semakin akrab. Nah sekarang, apanya yang semakin akrab? Sudah tiga bulan kami tinggal bersama dan sudah selama itu pula ia berubah. Ketika awal bertemu, ia berlaku manis padaku, terlampau manis malah. Mengapa sekarang ia menjadi cuek bebek seperti ini? Apa semakin hari ia jadi membenciku sementara aku semakin hari malah semakin menyayanginya walaupun dia tidak peduli? Ya Tuhan, ottokhae?”

Ia berguling-guling di atas kasur dan menutup wajahnya dengan bantal, tapi sia-sia. Ia belum juga bisa melepaskan pikirannya tentang Kyuhyun.

Eun Mi pun memutuskan mengambil minum untuk mengaliri kerongkongannya yang sedikit terasa kering. Ketika ia ingin kembali ke kamarnya, ia melirik pintu kamar Kyuhyun yang sedikit terbuka. Entah mengapa ia berjinjit menuju kamar Kyuhyun, menyelinap masuk.

Ia melihat wajah laki-laki yang dicintainya sudah tertidur pulas dengan sebelah tangannya yang memeluk guling. Ia hanya menggelengkan kepalanya.

Eun Mi menarik selimut biru yang teronggok di ujung kaki Kyuhyun, menyelimutinya pelan hingga ke dada.

“Sudah tahu tidak tahan AC, mengapa menyalakan AC tanpa memakai selimut? Babo.” Seketika Eun Mi mengambil sebuah remote kecil berwarna putih untuk mematikan AC di kamar Kyuhyun.

Setelah mematikan AC, Eun Mi duduk di tepi ranjang Kyuhyun, menatap wajahnya intens.

“Kau tahu, Oppa? Kau itu sungguh menyebalkan.” Sebuah jitakan bersarang di kepala Kyuhyun namun itu tidak membangunkannya sedikitpun, “Tapi, apa kau juga tahu, Oppa? Semakin hari, kau semakin memenuhi ruang di otak maupun hatiku.” Eun Mi tersenyum sekilas dan mengecup pipi Kyuhyun dengan lembut.

Eun Mi berdiri dan segera mengangkat mangkuk kosong bekas ramyun yang tergeletak di atas meja lampu tidur lalu beranjak keluar dengan pelan.

Ketika pintu ditutup berdebum pelan, sebelah tangan Kyuhyun merayap ke pipi, menggosoknya pelan dan kembali masuk ke alam mimpi.

***

“Jadi kau mau ikut atau tidak? Ini tawaran terakhirku.” Kyuhyun melipat tangannya di dada sambil bersandar pada dinding sebelah pintu utama yang tertutup.

Eun Mi juga melipat tangannya tapi ia menghadap TV, kesal dengan kelakuan Kyuhyun yang semakin hari semakin mengesalkan.

Hari ini Kyuhyun mengajaknya pergi. Bukannya Eun Mi menyia-nyiakan kesempatan langka pergi berduaan dengan Kyuhyun terlebih lagi Kyuhyun sendiri yang memintanya. Tapi ia kesal karena Kyuhyun hanya mengajaknya ke kebun binatang dan itu pun karena ia memiliki tiket gratis masuk kebun binatang dari temannya, kalau tidak pasti seumur hidup pun Kyuhyun tidak akan pernah mengajaknya pergi sekalipun.

“Baiklah, aku akan pergi sendiri untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudaramu,” Kyuhyun memutar kenop pintunya.

“Chakkaman. Aku ambil tas dulu.” Eun Mi menyerah dengan egonya. Ini kesempatan emas!

Kyuhyun berjalan memimpin tanpa menggenggam tangan Eun Mi sementara Eun Mi kesulitan menyejajarkan langkah Kyuhyun yang besar-besar.

Sedan hitam mengilap yang Kyuhyun kendarai mulai mengarungi jalanan kota Seoul yang ramai siang itu. Berkali-kali Eun Mi melipat-lipat bibirnya sembari melihat keluar jendela, bosan karena tak ada pembicaraan apapun. Setidaknya mereka adalah sepasang tunangan yang tinggal satu apartemen selama ini, tapi tampaknya tidak ada kemajuan berarti, yang ada hanyalah gerak mundur perlahan.

“Oppa~” ucap Eun Mi pada akhirnya.

“Ne?” jawab Kyuhyun tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan.

Eun Mi sedikit berpikir, “Apa perusahaanmu mewajibkan seluruh pekerjanya lembur?” “Waeyo?”

“Aniya, hanya saja aku baru menyadari kalau sejak aku tinggal di apartemenmu, kau selalu pulang larut dengan alasan lembur. Apa kau tidak lelah?” Eun Mi menggeleng kepalanya, “Aish pertanyaan bodoh, pasti kau lelah, sangat lelah malah. Lingkar matamu terlihat hitam, Oppa.”

Kyuhyun menoleh pada Eun Mi yang berbicara padanya namun tetap menatap jalanan di balik kaca jendela.

“Aku perhatikan, setiap kau pulang bekerja kau selalu makan ramyun.”

“Tidak selalu, Eun Mi.”

“Ya, setidaknya lima hari dalam semingggu kau makan ramyun di rumah. Selain itu?”

“Terkadang aku makan di restoran sebelum pulang.”

“Mengapa harus makan di restoran?” Wajah Eun Mi menunduk, “Apa kau tahu, Oppa? Setiap malam, aku selalu menunggumu untuk makan malam bersama. Aku tahu aku tidak terlalu pandai memasak tapi aku berusaha untuk menyajikan makanan kesukaanmu. Setiap hari.”

Kyuhyun menelan ludahya paksa, sulit berkata-kata.

“Kau tidak tahu kan, Oppa kalau terkadang maag-ku kambuh ketika harus terlambat makan karena menunggumu? Dan seringkali, ah bukan, bukan sering kali tapi selalu. Kau selalu menolak untuk makan malam bersamaku sehingga aku jarang makan malam lagi. Itu karenamu, Oppa.” Eun Mi tersenyum kecut, “Tapi, tidak apa, Oppa. Yang terpenting kau pulang ke apartemen dengan selamat tidak kurang satu apapun, itu sudah membuatku senang.”

Eun Mi menyandarkan kepalanya ke jok kursi.

CIITT..

“Loh, kenapa berhenti, Oppa? Kita kan belum sampai di kebun binatang.”

Kyuhyun melepas seat belt-nya dan membuka pintu, “ Sudahlah, ayo turun.”

Eun Mi mengikuti Kyuhyun yang masuk ke restoran kecil dan duduk di pojokan ruangan. Seorang waitress berseragam kuning gading menghampiri mereka berdua dan menulis sejumlah pesanan Kyuhyun sementara Eun Mi diam saja.

Tidak ada percakapan di antara mereka sampai semua pesanan datang.

“Mianhae, Oppa karena masakanku tidak enak sampai-sampai kau tidak sarapan dan malah makan di sini.”

“Ani, bukan karena itu. Ini untuk menebus 90 malam yang kau habiskan karena menungguku sekedar makan malam bersama. Makan siang sebagai gantinya tak apa kan?”

Seketika Eun Mi menatap Kyuhyun tajam, “Apa katamu, Kyu? Sekedar? Setiap hari aku menunggumu makan malam di rumah sampai sakit itu karena aku tahu kau tidak suka makan sendiri dan harus selalu di temani! Tapi apa nyatanya?!” Eun Mi sedikit berteriak pada Kyuhyun yang terlonjak kaget mendengar perkataan Eun Mi.

“Bukan seperti itu maksudku, Eun Mi-ya.” Suara Kyuhyun terdengar membujuk.

“Ya, nyatanya kau pulang dengan perut kenyang sementara tunanganmu menahan lapar hanya untuk menunggumu pulang? Oh, atau nyatanya kau pulang dengan perut kosong tapi tak sudi menyentuh masakan buatan tunanganmu sendiri dan lebih memilih makan sebungkus ramyun sendirian di kamar, begitu? Cih, apa artinya tiga bulan ini.”

Eun Mi bangkit dari duduknya dan menyambar tas kecilnya, “Kau tidak pernah tahu perasaanku yang sesungguhnya, Cho Kyuhyun.” Eun Mi pergi meninggalkan Kyuhyun yang masih duduk mematung mencerna kata-kata Eun Mi.

“Kau tidak pernah tahu perasaanku yang sesungguhnya, Cho Kyuhyun.”

Kalimat itu terus berputar-putar di kepala Kyuhyun tanpa henti, ia masih tak percaya Eun Mi bisa berkata seperti itu.

“Tidak, aku tahu perasaanmu yang sesungguhnya, Mi-ya.” Akhirnya setelah satu jam berdiam diri dengan pikiran yang kalut, Kyuhyun keluar dan melajukan sedannya.

***

“Aish, kemana sih dia? Aku sudah berkeliling kota seharian, dia tidak ada dimanapun bahkan di apartemen pun dia tidak ada. Aish, Eun Mi, kau dimana? Hujan sangat deras sekarang.” Kyuhyun sudah setengah gila, ia berbicara pada langit di dalam mobilnya yang terparkir di samping apartemen.

Berkali-kali ia memukul kemudi mobilnya untuk meluapkan kekesalan tapi tetap saja itu tidak akan membuat Eun Mi kembali dengan mudah.

“Ya, Tuhan, tolong aku. Tunjukkan dimana dia sekarang. Aku.. aku..” Kyuhyun tidak bisa melanjutkan permohonannya, ia memilih menenggelamkan wajahnya ke kemudi.

Seketika potongan-potongan gambar ia bersama Eun Mi saat awal pertemuan mereka hingga mereka satu apartemen terlintas di benak Kyuhyun dan ia tahu gadis itu dimana.

Hujan masih mengguyur saat sedan Kyuhyun melewati pinggiran kota Seoul. Matanya berkeliling menembus hujan, mencari sesosok gadis yang mungkin sedang kedinginan.

Ia menghentikan mobilnya di bawah lampu taman yang sudah menyala. Ya, waktu sudah menunjukkan malam dan ia belum menemukan apa yang ia cari.

Kyuhyun melihat seorang gadis yang tengah berlari menuju sebuah box telephone berwarna merah beberapa meter dari tempatnya dan entah mengapa ia yakin itu Eun Mi. Ia pun menerobos hujan menghampiri orang yang ia yakini Eun Mi.

“Mi-ya!” ucap Kyuhyun sembari mengetuk kaca box telephone.

Gadis itu menoleh, “Kyu Oppa?!” Matanya mengisyaratkan kekhawatiran tapi ia teringat dengan amarahnya, “Pergi! Aku tidak mau melihatmu lagi!” teriak Eun Mi dari dalam dengan tubuh yang gemetaran karena efek kehujanan.

“Biarkan aku menjelaskannya, Mi-ya. Ini tidak seperti yang kau pikirkan.” kata Kyuhyun berusaha melawan hujan agar suaranya tetap terdengar.

“Kau tak perlu menjelaskan apapun padaku! Sudah cukup aku melihat perilakumu padaku tiga bulan ini. Cukup!” Eun Mi menahan air matanya keluar, tapi rasanya percuma.

Kyuhyun mengusap matanya yang terlampau basah karena menghalangi pandangannya melihat Eun Mi, “Dengarkan aku dulu sebentar, jebal.”

Eun Mi jatuh terduduk dengan bersandar pada kaca yang memperlihatkan Kyuhyun, “Tidak, Kyu. Tidak!” Eun Mi menutup telinganya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku bukannya tidak peduli atau bersikap acuh padamu, Mi-ya,” Kyuhyun ikut terduduk, tangannya meraba-raba kaca yang menjadi pembatas mereka, “Aku hanya takut,”

“Takut? Takut apa? Kau pikir aku manusia seperti apa hingga kau takut?”

“Aku.. aku takut tidak bisa mengontrol perasaanku, Mi-ya.”

“Mengontrol perasaan? Apa maksudmu? Jangan mencari-cari alasan.”

“Aku takut tidak bisa membendung perasaanku ketika bersamamu, terlebih lagi sejak kita satu atap. Itu sangat membuatku cemas.” Ada nada takut yang nyata dari bibir Kyuhyun, “Aku bukan laki-laki yang pernah mengenal cinta sebelumnya, kumohon mengertilah.”

“Mengerti? Untuk apa aku mengerti keadaanmu sedangkan kau tidak mengerti – “

“Aku mengerti! KAU MENCINTAIKU, PARK EUN MI!!” Dada Kyuhyun naik turun dengan cepat, “dan aku.. aku sadar kalau aku juga mencintaimu.” bisiknya.

Tak ada jawaban dari Eun Mi, ia hanya menangis. Perlahan Kyuhyun mendorong pintu kaca itu dan tidak ada perlawanan dari Eun Mi yang kini meringkuk di sudut. Kyuhyun duduk di sebelah Eun Mi dengan tubuh yang sama-sama basah dan gemetaran.

“Saranghaeyo, Mi-ya.” Kyuhyun memeluk Eun Mi dan lambat laun Eun Mi mengendurkan tangannya dari memeluk lutut beralih memeluk Kyuhyun, “Nado saranghaeyo, Kyunnie.”

Kyuhyun tersenyum dan melihat keluar, “Sepertinya alam sudah tidak menangis melihat kita berbaikan. Ayo kita pulang, Mi-ya.”

“Tunggu, ada yang ingin kutunjukkan padamu.” Kyuhyun menarik tangan Eun Mi untuk mengikutinya ke arah bagasi mobil.

Eun Mi bingung dengan maksud Kyuhyun yang kini sedang membuka kuncinya, “Sekarang, bukalah.” ujar Kyuhyun sumringah.

Pelan-pelan Eun Mi membuka bagasi itu dan seketika segerombolan balon berwarna-warni menyeruak keluar dan sebuah balon berwarna biru safir mengawang lebih tinggi dari yang lainnya.

Eun Mi mengambil tali benang yang mengikat balon itu sambil tersenyum, “Apa-apaan ini, Oppa?” Eun Mi terkejut ketika melihat pemberat balon itu, sebuah cincin bermata safir.

Kyuhyun mengambil balon tersebut, tersenyum, “Ini alasanku lembur selama tiga bulan. Saengil Chukkhae, Mi-ya.” Kyuhyun menggapai jemari Eun Mi, “Mian, di ulang tahunmu ini aku hanya bisa memberimu satu kalimat.”

“Mwo, Oppa?” Rona merah menghiasi pipi Eun Mi.

Will you marry me, Park Eun Mi?”

Tanpa waktu yang lama, Eun Mi mengangguk pasti dan Kyuhyun pun menyematkan cincin yang masih terikat dengan balon itu di jari lentik Eun Mi.

“Mi-ya, bolehkah aku..” Kyuhyun mendekatkan wajahnya dan.. “HATCHII!!” Keduanya bersin secara bersamaan, membuat Eun Mi salah tingkah menyembunyikan wajah merahnya.

“Ngg, sepertinya kita harus segera pulang, Oppa.” Eun Mi mulai beranjak tapi tangannya ditahan oleh Kyuhyun.

Sebelah tangan Kyuhyun meraih tengkuk Eun Mi dan menciumnya perlahan dan lembut, dalam dan intens.

Keduanya sedikit terengah ketika Kyuhyun melepas ciumannya dengan agak terpaksa, “Sudah kubilang aku tidak bisa mengontrol perasaanku jika di dekatmu, Mi-ya.”

“Saranghaeyo, Jagiya.” ucap Kyuhyun sebelum kembali melanjutkan ciumannya.

 

-the end-

 

 

ps : AYOOO DIKOMEEEEEEEEEENN~ :)

Popo Aku, Oppa!

Annyeonghaseyo chingudeul *bow*
Author : Nurul Ayu Oktavianti aka Nony aka Fishaera
Fishaera kembali dengan FF yang sedikit bergombal ria! #plakk. FF ini terinspirasi gara-gara suka digodain tentang ciuman terus -____-
Jangan lupa tinggalin kritik ya , karena kritik itu bias memperbaharui tulisan aku ke depannya, terutama untuk silent readers :)
Ok, this is it! Happy reading :)
***
“Mwoya?! Aish, jinja.” Suara seorang gadis yang berasal dari ruang TV memecah kebisuan di apartemen minimalis siang itu.
“Wae, Jagi?” Seorang laki-laki berkacamata yang sedari tadi duduk di balik meja komputer menoleh lalu beranjak mendekati si gadis yang sedang mengutak-atik ponselnya.
Yeoja itu menunjuk-nunjuk ponselnya dengan mata takjub, “Ini, Tae-ya.”
“Tae-ya? Maksudmu Han Ri Tae, temanmu yang heboh tapi ceroboh itu?” Si namja melepas kacamatanya dan mengelus rambut gadis yang kini di sisi kanannya dengan lembut.
Si gadis mengangguk cepat tanpa melepaskan pandangannya dari ponsel.
“Apa yang terjadi dengannya?”
“Dia ciuman dengan Teuki Oppa!”
Si laki-laki memutar bola matanya cepat, “Sepenting itukah dia memberitahumu tentang ciumannya, Ra-ya? Teuki itu pacarnya.”
Hae Ra mengubah posisi duduknya menghadap laki-laki yang sudah mengisi hari-harinya satu tahun terakhir ini, “Ini beda, Haeppa. Ini first kiss-nya.”
“Apa yang beda? First kiss akan sama saja dengan ciuman-ciuman selanjutnya, tak ada yang berbeda.”
Hae Ra menyentak tangan Donghae yang memainkan jemarinya, “Aish, kau itu tidak mengerti. First kiss bagi seorang gadis adalah hal yang sakral, yang hanya dilakukan pada seseorang yang menjadi tambatan hati kita. Dan Ri Tae baru berpacaran dengan Teuki Oppa selama tiga bulan tapi dia sudah bisa memberikan ciuman pertamanya itu berarti dia sudah menemukan pangeran hatinya.”
“Kau terlalu banyak nonton drama romantis, Jagi. Otakmu sudah terkontaminasi dengan hal aneh seperti itu.” ucap Donghae sembari menunjuk-nunjuk kepala kekasihnya.
Hae Ra memicingkan matanya, “Ya sudah kalau kau tak percaya.” Hae Ra kembali sibuk dengan ponselnya sembari sesekali mengetuk bibirnya.
Donghae hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan pacarnya.
“Ra-ya,”
“Ne?” jawab Hae Ra tanpa melihat mata Donghae.
“Kapan ciuman pertamamu?” Pertanyaan singkat yang sukses membuat Hae Ra terlonjak kaget dengan mata yang nyaris melompat dari cangkangnya.
“Mworago?! Kau,” Hae Ra tak melanjutkan kata-katanya, ia hanya mendeskripsikan kalimat selanjutnya dengan sebuah tatapan sadis.
“Apa dengan Kyuhyun, mantanmu yang kau tangisi berbulan-bulan ketika kalian putus?”
“Oppa!”
“Lalu dengan siapa? Setahuku, hanya mantanmu yang bernama Kyuhyun itu yang sukses membuatmu bertekuk lutut, ya tentunya sebelum aku hadir di kehidupanmu.”
Hae Ra menyilangkan tangannya di depan dada sembari menundukkan kepalanya, “Sudahlah, lupakan pembicaraan tentang ciuman itu, Oppa.”
“Ah, aku tahu. Kau belum menyerahkan ciuman pertamamu pada siapapun, benar kan?”
Mendadak wajah Hae Ra memerah dan terlihat salah tingkah, “Oppa, hentikan!”
Donghae tersenyum puas, “Jagi, aku mau tanya.”
“Mwo?”
“Apa aku potongan mozaik yang kau cari?”
Hae Ra menoleh cepat menatap manik mata Donghae, ia melihat mata coklat itu mengatakan sesuatu lebih dari apa yang Donghae lontarkan, “Kau tak perlu bertanya, Hae-ya.”
“Kalau begitu, aku bisa – “ Wajah Donghae mendekati wajah panik Hae Ra perlahan dan Hae Ra hanya menutup matanya rapat-rapat sembari mengatupkan bibirnya kuat.
Hidung mereka sudah hampir bertemu ketika Donghae meledakan tawanya cukup keras dan membiarkan Hae Ra mematung pada posisinya yang masih terpejam.
“Wajahmu merah sekali, Jagi. Dan bisa kurasakan bahwa tadi kau menahan nafas. Hahaha.” ujar Donghae sambil mengacak-acak rambut Hae Ra.
Hae Ra membuka matanya, “Kau!”
“Aww!” Ponsel yang Hae Ra genggam mendarat kasar di kepala Donghae dan membuatnya mengaduh.
“Oppa mesum! Sekali lagi kau mencoba melakukan itu, sepatuku akan melayang hingga kepalamu.” Mata Hae Ra membulat diiringi dengan todongan ponselnya.
Donghae menyipitkan matanya, “Aish, tadi kau berharap aku menciummu kan? Mengaku padaku.” Siku Donghae menyenggol lengan Hae Ra berkali-kali, menggodanya.
“Tidak!”
“Ayo mengaku padaku. Kau sampai memejamkan mata tadi menunggu bibirku mendarat di bibirmu, ya kan?”
“Tidak, Oppa!”
Donghae tersenyum lebar sembari mencubit pipi Hae Ra yang sedikit ‘berisi’, “Tenang saja, Jagi. Aku tidak akan mencium anak kecil sepertimu.”
Aura panas kembali menguar di sekitar Hae Ra, “Aku bukan anak kecil lagi, Oppa. Aku sudah 19 tahun. Ingat itu.”
“Ah~ jadi kau sudah besar dan minta aku cium, begitu?”
“Aniyo!”
Tawa Donghae kembali pecah, “Aku tidak akan menciummu,” Donghae bergerak mendekatkan tubuhnya, “sebelum ‘tubuhmu’ tumbuh sedikit lagi.”
Lagi-lagi bola mata Hae Ra nyaris terpental keluar, “Mwo?! Tubuhku? Awas Oppa, jika kau berani melakukannya sebelum kita menikah, akan kubunuh kau!” sergah Hae Ra dengan tangan yang membentuk tanda silang di depan dadanya, mengantisipasi.
Donghae semakin mendekatkan tubuhnya hingga posisi Hae Ra sudah setengah berbaring di sofa, “Kau yakin, Ra-ya? Aku bisa – “
Sebelah tangan Donghae mulai bergerak menghampiri tujuannya dengan hati-hati.
“Aww! Kenapa kepalaku dipukul, Oppa?! Sakit.” Hae Ra setengah berteriak karena jitakan Donghae.
“Kau yang mesum, Hae Ra. Pasti kau berpikir yang macam-macam tadi, benar kan? Bersihkan isi kepalamu dulu. Hahaha.”
Hae Ra mengusap kepalanya yang sebenarnya sudah tidak sakit, “Aish, Oppa menyebalkan. Kau yang mulai.”
“Aku? Kau!”
“Kau!”
“Kau!”
“Aish, ya sudahlah. Argh, mengapa siang ini terasa begitu panas?!” gerutu Hae Ra sembari bangkit dari duduknya menuju dapur. Sementara itu, Donghae hanya terkikik geli melihat Hae Ra yang kesal padanya.
Hae Ra mengambil air dingin dari lemari pendingin dan menuangkannya ke gelas keramik bergambar ikan nemo, “Tidakkah dia tahu perasaanku? Aish.” bisik Hae Ra pada diri sendiri. Ia menenggak habis air dinginnya walau ia tidak begitu suka karena ia sadar perlu mendinginkan hatinya terutama pikirannya.
Donghae datang tiba-tiba dengan memeluk Hae Ra dari belakang dengan meletakkan dagunya di pundak Hae Ra, “Sudah, Jagi. Jangan minum air dingin lagi, nanti pusing. Kepalamu kan suka sakit kalau minum air dingin.” Tangan Donghae menurunkan gelas Hae Ra yang sudah terisi lagi.
“Apa sih? Terserah aku, kan aku yang pusing. Hei, apa yang kau lakukan? Untuk apa peluk-peluk? Sana cepat kerjakan tugas kuliahmu atau aku tidak akan menemanimu lagi lain kali.”
Donghae memutar tubuh Hae Ra lalu mengangkat dan mendudukkannya di samping wastafel sehingga tinggi mereka sekarang sejajar, “Kau marah padaku?”
“Marah? Tidak.”
Kedua tangan Donghae bertumpu pada tepian wastafel, memerangkap Hae Ra, “Aku tahu keinginanmu, Hae Ra.”
“Keinginanku? Keinginan apa? Apakah tadi aku mengatakan sebuah permohonan? Kurasa tidak. Ah~ sudahlah Oppa, cepat kerjakan tugasmu, kalau kau mendapat nilai yang buruk, aku juga yang akan kena dampak dari kekecewaan orang tuamu. Ayolah, kalau tidak – “
Donghae sukses mendaratkan bibirnya di atas bibir Hae Ra yang setengah terbuka. Ia bisa merasakan nafas Hae Ra yang tercekat seketika ia menyelipkan senyum simpul di antara ciumannya.
Donghae melepas ciuman kilatnya tapi tetap membiarkan ujung hidung mereka saling bersentuhan, “Kau cerewet sekali, Hae Ra.” Dan ia kembali melanjutkan ciumannya tanpa memberi Hae Ra waktu merapikan puing-puing keterkejutannya.
Sebelah tangan Donghae beranjak ke rahang Hae Ra dan sebelah tangan lainnya memeluk pinggang Hae Ra, menariknya lebih dekat dan dalam.
Entah mengapa sensasi mual berputar-putar di perut dan meremangnya bulu roma Hae Ra membuat ia mengalungkan kedua lengannya di leher Donghae. Dengan sedikit takut, ia membalas ciuman Donghae.
Donghae tersenyum puas.
Setelah membiarkan keduanya tidak bernafas dengan normal beberapa saat, Hae Ra melepaskan ciumannya dan langsung mengatur nafasnya.
“Itu kan yang kau inginkan tadi, Ra-ya?” Donghae mengedipkan sebelah matanya.
Alis Hae Ra bertaut, “Tidak. Siapa bilang?”
“Memang tidak ada yang bilang, tapi aku membacanya sendiri di keningmu yang lebar itu tertulis dengan jelas ‘Popo Aku, Oppa!’ Jadi, aku tahu kau – Aww! Sakit, Hae Ra!”
Sebelum Donghae menyelesaikan kata-katanya, Hae Ra memukul kepala Donghae cukup keras sehingga kali ini Donghae meringis kesakitan.
“CEPAT KERJAKAN TUGASMU, FISHY!!”
-the end-
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,052 other followers