Ahh menyenangkan sekali, aku kembali ke kota ini setelah sekian tahun pergi. Tempat ini, belum berubah dari terakhir kali aku menginjakkan kaki di sini.
Seorang laki-laki dengan mantel biru dongker yang membalut tubuhnya ditambah syal berwarna senada tengah menghirup dalam-dalam udara dingin kota Seoul sore itu. Tak hentinya, senyum mengembang dari bibirnya.
“Appa~” panggil gadis kecil berumur sekitar tiga tahun sembari menarik ujung mantel laki-laki itu.
Laki-laki itu menengok ke bawah, tersenyum lalu berjongkok, “Ada apa, Jagi?” Jari-jari laki-laki itu merayap ke pipi gadis mungil yang bersemu merah.
“Kita harus berangkat, Appa. Eomma sudah selesai dari swalayan. Kajja.”
“Memang Eomma sudah di mobil?”
Anak perempuan itu memainkan syal yang terkalung di leher laki-laki yang ia sebut Appa, “Ani, Appa. Eomma di sana.” Anak itu menunjuk jauh sisi kanannya.
Terlihat di bawah lampu taman, seorang wanita muda berdiri dengan kantung belanjaannya.
Sebelah tangannya melambai pada mereka dari kejauhan, “Donghae-ya, Eun Mi! Kajja! Nanti kita sampai rumah terlalu malam.” teriak wanita itu.
Donghae melambaikan tangan dan mengangguk pelan. Ia bersiap menggendong Eun Mi ketika anak itu mendaratkan bibirnya di atas bibir Donghae, “Aku sayang Appa.”
“Nado, Mi-ya.”
***
Donghae kembali datang ke tempat dimana seminggu lalu ia kunjungi ketika sampai di Korea. Taman.
Ia menyesap lagi kopi susunya saat duduk di salah satu bangku taman. Matanya berkeliling, melihat beberapa anak sedang bermain sepeda, beberapa ibu muda yang sedang bercengkrama sembari mendampingi anaknya bermain, dan seorang gadis yang baru saja duduk di bangku taman di seberangnya.
Gadis itu.. Mungkinkah dia.. Sepertinya, ya.
Donghae tersenyum simpul.
“Aish, babo! Kenapa harus aku yang dapat tugas mengurus keperluan Heechul Oppa? Dia itu kan sangat cerewet, perfeksionis, sensitif, belum lagi aneh. Ahh, wae? Waeyo?” gerutu gadis yang kira-kira berumur 22 tahun itu dengan mengerutkan alisnya dan tangan disilangkan di dada.
Tangannya beralih menuju tas selempanganya, mencari sesuatu.
“Aish, kemana coklatku? Pasti bocah itu yang mengambilnya. Awas kau, Kim Ryewook, tak akan kulepaskan jika aku pulang nanti,” Ia menutup tasnya, “Apa dia tidak tahu bahwa aku sangat membutuhkannya saat sedang kesal seperti ini, huh? Sungguh dongsaeng yang tidak pengertian.”
“Ini,” ucap Donghae singkat ketika mendudukkan tubuhnya di sebelah gadis itu. Di tangannya sebatang coklat tengah menunggu disambut.
“Ah?”
Donghae tersenyum, “Aku memberi coklat ini untukmu, terimalah.”
Mata gadis itu mengerjap tak percaya, ada rasa takut yang terselip di matanya, “Ah? Ani, tidak perlu.” Gadis itu pun beranjak dari duduknya meninggalkan Donghae yang masih saja tersenyum.
Anak itu, belum berubah. Masih saja melampiaskan kekesalan pada sebatang coklat dan tidak mau menerima apapun dari ‘orang asing’. Orang asing, dasar bodoh.
***
“Aish, hujannya mengapa begitu deras? Bagaimana kita akan pulang?” keluh seorang gadis berkacamata yang menengadahkan tangannya menampung air hujan yang turun dari tepian atap kedai yang sudah tutup malam itu.
“Aku belum mempersiapkan apapun untuk besok, bagaimana ini, Hae Ra?” si gadis kacamata menyikut temannya yang sedang menunduk sedari tadi, “Hei, Kim Hae Ra. Kau tidak mendengarkanku bicara? Kau ini, menyebalkan.”
Gadis bernama Hae Ra menghembuskan nafas berat, “Mianhae, Hyun.” Kepala Hae Ra mendongak, menatap nanar hujan yang tak kunjung berhenti.
“Wae, Jagi? Malhaebwa.”
Hae Ra menarik nafas pelan, tersenyum, “Hari ini tepat tiga tahun kematian Kim Dora Ahjussi,” Min Hyun merangkul pinggang Hae Ra dan bersandar di pundaknya, mencoba merasakan kesedihan temannya, “Kau tahu dia siapa? Dia adalah ayah angkatku. Aku bisa sampai seperti saat ini pun berkat dia yang menyekolahkanku semenjak kematian Appa ketika umurku lima tahun. Dia terlampau baik walau kadang aku risih dengan sikapnya yang terlalu memanjakanku. Dan sekarang, aku malah belum sempat mengunjungi makamnya. Anak bodoh. Hae Ra babo.” rutuknya pada diri sendiri.
Min Hyun menatap sahabatnya sembari mengusap pelan bahunya yang sedikit bergetar. Dia bisa melihat ada genangan air mata di kedalaman mata coklat Hae Ra.
“Ahh, sedang apa aku ini? Ayo kita pulang. Kita hujan-hujanan.” ajak Hae Ra berpura-pura ceria.
Min Hyun yang sudah tahu tabiat Hae Ra yang selalu menyembunyikan air mata di antara hujan, langsung menggelengkan kepala, “Aniyo, Hae Ra. Hujan masih kelewat deras dan ini sudah malam. Ingat, pukul 4 dini hari nanti kita harus sudah berada di tempat acara bukan? Besok ada event besar. Jangan buat dirimu sakit dan mendapat amukan dari Han Sajangnim, arasseo?”
“Hujan ini tidak akan membuat sakit, Hyunnie.”
Min Hyun membulatkan matanya, “Hae Ra – “
Sementara itu, Donghae yang sedari tadi berdiri di samping Hae Ra hanya tersenyum mendengar segala percakapan yang ditangkap telinganya. Sedetik kemudian dia berlari menembus hujan, tidak peduli dengan rintiknya yang deras menghantam tubuhnya.
“Beberapa orang aneh terkadang makan es krim untuk mencegah air matanya keluar.” ujar Donghae sembari mengatur nafasnya ketika sampai di depan kedai yang tutup tadi. Tubuhnya basah kuyup dan di salah satu tangannya terdapat kantung plastik berwarna putih.
“Ini,” Donghae menyerahkan dua buah es krim cone pada dua gadis yang masih terlihat kebingungan.
Merasa tak ada respon yang baik, Donghae tersenyum, “Dulu, aku mengenal seorang anak perempuan yang selalu makan es krim ketika air matanya hampir jatuh. Dia anak perempuan yang aneh. Sudahlah, ambil.”
Dengan keraguan, Hae Ra dan Min Hyun menerima es krim tersebut. Ketika es krim berpindah tangan, Donghae melemparkan senyumnya lagi lalu berlari melawan hujan.
“Ahh? Ah? Kkk.. kamsahamnida, Oppa!” teriak Min Hyun yang kesadarannya baru saja terkumpul dari keterkejutannya.
“Hei, Hae Ra. Kau melamun lagi? Kau lihat namja tadi? Aigoo, neomu kyeopta! Tapi, untuk apa dia memberi kita es krim? Aku tidak mengerti. Ah sudahlah, lumayan, es krim gratis.”
Min Hyun sudah mulai menjilat es krimnya sementara Hae Ra masih terdiam dengan es krim yang mulai meleleh di tangannya.
Es krim saat hujan? Anak perempuan aneh? Bukankah itu.. Ah, namja tadi. Siapa dia? Arrghh, aku tidak bisa ingat apapun.
***
“Menyebalkan!” Hae Ra beberapa kali menendang bebatuan kecil yang mampir ke ujung sepatu kets-nya.
“Dasar wajah sengak,” Hae Ra menjatuhkan tubuhnya di bangku taman yang kosong sore itu, “Maniak game menyebalkan! Untuk apa memintaku datang hanya untuk menemaninya main game? Dia pikir aku suka? Aku kan tidak pernah menyentuh apapun itu yang berbau game. Main saja tidak pernah, bagaimana bisa aku main game? Dasar babo! Cho Kyuhyun babo! Awas saja kau, kalau sekali lagi mengajak, membicarakan, atau memperlihatkan game padaku, akan kuhancurkan PSP-mu, Cho Kyuhyun!” amuknya pada diri sendiri.
“Aaarrghh!!” Hae Ra terlampau geram sehingga ia sedikit mengacak-acak rambut panjang ikalnya yang berwarna coklat.
“Ini,” Hae Ra mendongak dan ia mendapati laki-laki yang sama ketika terakhir bertemu di depan kedai saat hujan turun seminggu yang lalu kini hanya berjarak satu meter darinya.
Mata Hae Ra masih mengerjap tak percaya dengan penglihatannya. Di tangan kanan Donghae terdapat satu balon pink yang dikaitkan dengan sehelai benang dan ujungnya dijepit ibu jari dan telunjuknya.
“Kau – “ Kata-kata Hae Ra masih menggantung ketika Donghae menyelipkan benang balon tersebut di antara jari-jari Hae Ra.
Donghae pun berlalu, berjalan pelan meninggalkan Hae Ra yang masih tidak mengerti.
Laki-laki itu.. Aish, mengapa aku tidak bisa ingat apa-apa? Ah? Apa ini?
Sebuah gulungan kertas kecil menjadi pemberat balon pink tersebut. Hae Ra melepasnya dan membuka kertas itu perlahan, membacanya.
Annyeong,
Kau Kim Hae Ra bukan? Pasti tebakanku benar. Kau masih belum mengenaliku? Ah ya, kita sudah tidak bertemu sejak…15 tahun lalu. Lama sekali. Jadi, kau benar-benar lupa padaku? Coklat, es krim, hujan, dan balon, bahkan kau tidak ingat? Sungguh kau belum berubah, Ra-ya, ingatanmu sangat buruk.
Hmm, ini hal terakhir yang bisa mengingatkanmu padaku, mungkin.
Would you marry me? I do, Oppa!
“Would you marry me? I do, Oppa!”? Aish dia.. Siapa? Ayo, Hae Ra coba ingat. Dia.. Ah ya!
“Hei, chakkaman!” teriak Hae Ra pada punggung Donghae yang semakin menjauh.
Ia berlari sekuat tenaga menyusul Donghae dan Donghae pun sudah berbalik dengan menyuguhkan senyum.
Hae Ra sampai di depan Donghae. Ia masih mengatur nafasnya sembari memegangi lututnya yang terasa lemas.
“Ok,” Hae Ra menegakkan tubuhnya, “Kau.. Ngg, apa kau ‘ikan asin’?” Mata Hae Ra menyiratkan kebingungan dan menuntut jawaban secepatnya dari bibir laki-laki di hadapannya itu.
Donghae tertawa sebentar, “Ikan asin. Kau masih menyebutku dengan sebutan itu? Ayolah, Hae Ra, kita sudah dewasa. Kau masih mau memanggilku dengan sebutan ketika kita di TK, ‘puffy’?”
Wajah Hae Ra bersemu merah, “Jadi, benar kau.. Lee Donghae? Lee Donghae, ikan asinku?” Donghae mengangguk mantap.
“Oppa!” Hae Ra menjatuhkan tubuhnya ke dada Donghae, memeluknya erat. Donghae pun membalas pelukannya sembari mengacak rambut Hae Ra.
“Selama ini kau kemana, Oppa? Kau jahat sekali tidak memberiku kabar apapun.” tanya Hae Ra ketika mereka berdua duduk di salah satu bangku taman.
“Aku berpindah-pindah tempat, Hae Ra. Mengikuti Appa yang pekerjaannya terkadang menugaskannya berkeliling Korea. Mian aku tak sempat mengabarimu karena waktu itu terlalu banyak masalah yang terjadi. Tapi sekarang, aku kembali. Kembali ke Seoul.”
Hae Ra mengangguk paham, “Oh ya, lalu bagaimana bisa kau mengenaliku? Kita sudah tidak bertemu selama 15 tahun, Oppa!”
“Luka di lutut kirimu tidak mudah dilupakan.”
“Ah?”
“Iya, luka yang berbentuk bulan sabit. Luka itu ada karena aku pernah mengagetkanmu sehingga kau terjatuh ke kolam ikan. Ingat?”
“Ah, ne ne. Tak ku sangka kau masih mengingatnya, Oppa.”
“Kim Hae Ra!” teriak sebuah suara bariton dari kejauhan.
“Kau?” kata Hae Ra.
Laki-laki yang baru saja berlutut di depan Hae Ra, menggenggam tangan Hae Ra, “Hae Ra, mian. Bukan maksud aku mendiamkanmu dan memilih bermain game tadi. Sungguh, aku tidak sengaja.”
Hae Ra tidak merespon, hanya menyipitkan matanya.
“Ayolah, Hae Ra. Maafkan aku. Aku janji, tidak akan mengulanginya lagi. Bagaimana?”
Donghae yang melihat adegan tadi malah menepuk-nepuk puncak kepala Hae Ra, “Kalau Ra-ya sedang marah seperti ini, dia hanya bisa dibujuk dengan menepuk kepalanya.”
Kyuhyun yang baru menyadari keberadaan Donghae di samping Hae Ra terkejut, “Hae Ra, siapa dia?”
“Ah ya, perkenalkan. Ini,”
“Donghae imnida,” Donghae berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya yang kini disambut hangat oleh Kyuhyun yang sudah berdiri, “Ah, Donghae-ssi. Aku Cho Kyuhyun, namjachingu dari Kim Hae Ra.”
Bagai tersambar petir, Donghae langsung melunturkan senyumnya dan mematung.
Namjachingu? Jinja? Wae? Aaa.. Apa aku datang di saat yang salah? Oh Tuhan..
Hae Ra hanya bisa menelan ludah melihat reaksi Donghae.
“Hei, Donghae-ssi, wae?” Kyuhyun mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah Donghae.
“Ah? Ah ani. Aniyo. Gwenchana.”
“Appa!” Donghae menengok, mendapati balita perempuan tengah berlari kecil ke arahnya.
“Oh, Jagi.” Donghae langsung menggendong bocah kecil itu, mendekapnya dalam pelukan.
“Appa, nuguya?” Telunjuk Eun Mi mengarah pada Hae Ra dan Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum sembari memainkan matanya sementara itu Hae Ra tertegun.
Appa? Dia sudah menjadi seorang ayah? Ah, Donghae. Ya, Tuhan, ottokhae?
“Ini Hae Ra Ahjumma dan ini Kyu Ahjusshi. Nah kalian, kenalkan, ini Eun Mi.”
Eun Mi? Lee Eun Mi? Dia anak Lee Donghae, ikan asinku? Ah, mengapa taman ini berputar-putar di kepalaku?
“Eun Mi-ya, Hae-ya!” teriak salah satu suara.
“Eomma!” jawab Eun Mi dengan meneriakkan suaranya.
Eomma? Jadi, itu istri Donghae? Ah, mengapa begitu gelap? Ada apa ini?
***
Donghae Pov
“Appa!” teriak Eun Mi yang kini berumur empat tahun. Ia berlari kecil kearahku dengan dress putihnya yang berenda pink.
“Hai, Jagi. Mana Eomma?” Aku berjongkok, menyejajarkan tinggi dengannya. Tangannya terulur, menunjuk pada satu kerumunan orang.
Aku menoleh, mencari apa yang ia tunjuk. Dapat kulihat wanita berbalut mini dress putih bergradasi biru tersenyum ke arah kami dan melambaikan tangannya. Ia menghampiri kami dengan susah payah karena heels 7 cm-nya.
Aku bangkit, sebelah tanganku menggenggam tangan Eun Mi yang enggan dilepaskan dan sebelahnya lagi menggenggam wanita cantik yang sudah berdiri di depanku.
“Jagi~” ucapnya berbisik sembari tersenyum.
Aku membalasnya dengan menempelkan bibirku di atas bibirnya sekilas, “Ya, puffy-ku?”
Dialah puffy-ku. Kim Hae Ra, ah tidak hari ini dia sudah menjadi Lee Hae Ra, istriku.
“Hei, kalian. Jangan berciuman di depan anak di bawah umur. Terlebih lagi anakku.” Seorang wanita yang berada di belakang Hae Ra langsung meraih Eun Mi dan menggendongnya.
“Aish, Noona.” Aku bisa merasakan wajahku yang memanas kepergok oleh kakak perempuanku, Lee Soohae.
Hae Ra sendiri kulihat hanya menundukkan kepalanya.
“Sudahlah, yeobo. Biarkan mereka menjadi raja dan ratu seharian ini. Jangan larang-larang mereka seperti itu. Kita kan juga seperti mereka waktu itu.” ungkap seorang laki-laki yang baru 4 bulan ini menjadi kakak iparku, Cho Kyuhyun. Ia melingkarkan lengannya ke pinggang Soohae Noona dan mengecup puncak kepalanya sekilas.
Tidak kusangka kami berempat yang sekarang jauh berbeda dengan kami setahun yang lalu ketika semua mulai berubah.