Melihat kepergian dia. Hanya sesaat menikmati waktu bersamanya. Kali ini dia pergi dengan kata pamitan. Tidak seperti dulu, yang langsung meninggalkanku dalam kegalauan. Dalam ketidak tahuan. Tapi, perpisahan kali ini malah membuatku sangat jatuh.
“ Carilah laki-laki lain yang bisa lebih mencintaimu . “ Itu salah satu kalimat yang ia utarakan saat berpamitan denganku.
“ Walaupun kau memilih mati untukku, sesampainya di sana kita juga tidak akan bisa bersama . “ Itu kata-katanya saat aku meminta untuk hidup bersamanya, tapi dia menolak.
“ Mulai saat ini, tolong berhenti untuk terus mencintaiku . “ Itu kata-katanya agar aku bisa melupakan semua kisah yang pernah ada dengannya.
“ Aku tidak ingin meninggalkanmu dengan rasa sakit saja. Seharusnya kau bisa mencerna rasa bahagiamu juga saat lepas denganku. “ Itu juga kalimat yang dia tegaskan padaku. Tapi aku tetap saja tidak bisa.
“ Berjanjilah kau akan merasa bahagia setiap harinya hanya demi aku. Hanya demi aku. “ Pintanya sekali lagi padaku.
“ Selama kau bisa berbesar hati melepas kepergianku, aku pun akan tenang di sana. “ Katanya lagi mengingatkanku. Saat itu aku hanya menunduk. Air mata yang sedari tadi sudah mampu aku bendung dengan kuat, akhirnya tumpah juga. Aku pun menangis sesenggukan. Aku benar-benar tidak bisa lepas darinya.
Satu kata yang bisa aku katakan padanya , “ Aku tidak bisa .. Aku tidak bisa .. “ Hanya kata itu yang terus berulang-ulang aku ucap. Dia menatapku perih. Aku tahu dia juga merasakan sakit yang teramat. Tapi ntah bagaimana bisa dia mampu menutupi rasa sakitnya itu. Itu mencoba kuat. Ia berusaha terlihat tegar di depanku.
“ Jangan membuatku semakin rumit. Tolong .. “ Pintanya lagi waktu itu. Aku benar-benar tidak bisa. Aku tidak bisa.
“ Aku benar-benar tidak bisa. “ Ucapku lagi untuk kesekian kalinya. Spontan di detik itu juga semua kenangan-kenangan saat kami bersama terputar lagi di memori otakku. Semuanya terlalu indah. Aku tidak bisa menghapusnya begitu saja.
“ Aku mohon. Cobalah untuk bisa berbesar hati. “ Pintanya lagi seraya memelukku erat. Aku mendekapnya lebih erat lagi. Kucakarkan jari-jariku di bidang punggungnya yang luas. Aku tidak mau melepaskannya. Aku tahu. Aku tahu dia sedang berusaha terlihat jauh lebih tegar.
Dia melepaskan pelukannya. Aku tidak mau. Aku bersikeras dengan kembali menarik tangannya. Tapi dia mengacuhkannya.
Akhirnya dia membelakangiku. Melangkah satu satu saat mulai meninggalkanku. Aku mengikuti langkahnya. Tapi pada akhirnya aku berhenti juga. Aku tidak bisa terus terlihat bodoh seperti ini. Aku tidak bisa terus terlihat lemah seperti ini. Aku pun coba berdiri tegar menemani punggungnya yang semakin jauh dari hadapanku. Bayangnya tak tampak lagi. Kali ini aku melihatnya pergi dengan cara baik-baik. Sungguh, ntah kenapa aku tidak mampu mengucapkan selamat tinggal padanya. Hanya bisa berharap dia tenang di sana. Dan di sini, aku bisa lebih tegar. Bisa mengiyakan semua pintanya. Semoga saja aku bisa. Aku lakukan ini hanya untukmu. Hanya demi kau , “
Ost.49 Days ..