The One

Author                         : Autumn Lee

Judul Cerita                  : The One

Charaters                     : Lee Sooin ( OC ), Kim Heechul

Genre                         : Romance, Fantasy

Rating                        : G ( General )

Length                         : Ficlet

Catatan Author           :

Warning ! Alternate Universe.

Cerita ini dibuat berdasarkan sebuah text post kreatif di tumblr. Dan ficlet ini pertama kali dipublikasikan di blog pribadi author. Hopefully you like this story. Enjoy ~

 

Di dunia—yang—ini  setiap orang memiliki waktu yang berhitung mundur—seperti jam—di pergelangan tangan mereka. Waktu yang terus bergerak ini bukan waktu yang menghitung sisa hidup manusia seperti di film “In Time”. Tidak seekstrim itu.

Jam ini menghitung mundur waktu untuk bertemu belahan jiwamu. Ya, belahan jiwa. Mendebarkan tapi romantis bukan ? Dan ini lah kisah salah satu orang beruntung itu, yang telah bertemu  pasangan hati, belahan jiwanya.

00:02:00

2 menit lagi. 2 menit lagi !! Pekikku tertahan. Aku sudah menunggu di sini, perpustakaan kesukaanku sejak 2 jam yang lalu. Sudah 2 hari ini juga waktu di pergelangan tanganku makin mengecil angkanya. Ku putuskan memilih tempat ini sebagai tempat pertemuan pertama kami—aku  dan belahan jiwaku—karena  kupikir lebih baik jika orang itu punya hobi yang sama denganku, membaca dan bergumul diantara buku-buku tebal yang beraroma lucu. Continue reading

LAST WISH [-2nd Story] Heart’s Scent [5/5]

Author    : Metaz05

Title         : LAST WISH  [-2nd Story] Heart’s Scent (5/5)

Cast         : Kim Jongwoon, Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kim Heechul, Park Jungsoo, Kim Youngwoon

Genre      : Fantasy, AU

Rating     : G

Length    : chapter

 

***LAST WISH***

[2nd Story]

_Heart’s Scent (5th Part)_

 

***

 

Don’t you ever dare to think you know everything because of your freakin’ ability. You are just human. Only human, same as me.

—- Cho Ahra

 

***

“Pulang…” ujar jongwoon singkat saat sampai di depan ruangan kyuhyun.

Hyejin menatapnya bingung tapi ia memutuskan untuk menurut saja melihat nada dan wajah jongwoon yang se-angker itu. Ia melongok kebelakang jongwoon, melirik mencari keberadaan Ahra tapi tak berani menanyakannya sampai mereka duduk di dalam mobil.

“Kau tak bertemu dengan Ahra eonni?” Tanyanya hati-hati. Saat jongwoon sudah melarikan sedan miliknya.

‘Kau masih marah padanya?’  Tambahnya hanya dalam hatinya.

“Bagaimana keadaan kyuhyun?” Ujar jongwoon malah balik bertanya malas menjawab dua pertanyaan hyejin.

“Ia lolos dari masa kritis. Barusan ia akan dikembalikan pada ruang VIPnya.” Jawab hyejin memberikan informasi terakhir pada Jongwoon. Continue reading

LAST WISH [-2nd Story] Heart’s Scent [4/5]

Author    : Metaz05

Title         : LAST WISH  [-2nd Story] Heart’s Scent (4/5)

Cast         : Kim Jongwoon, Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kim Heechul, Park Jungsoo, Kim Youngwoon

Genre      : Fantasy, AU

Rating     : G

Length    : chapter

Author’s note : thanks for reading..

Incase you missed it

Part1

Part2

Part3

 

***LAST WISH***

[2nd Story]

_Heart’s Scent (4th Part)_

 

***

Ketakutanku menginjak-injak kebebasanku, mengikat hidupku, keinginanku, dan aku membiarkannya. Hidup didalamnya. Lalu mempercayainya sebagai hidupku. Jika pemberontakan perdanaku gagal, perlukah ada yang kedua dan selanjutnya?

– Cho kyuhyun

***

 

Jongwoon masih mengatur napasnya didepan ruangan icu dengan lampu yang menyala. Ia berlari secepat yang ia bisa walaupun tak ada yang dapat dilakukannya saat sampai disana.

“Dimana kyuhyun? Kau tak melihatnya? Dimana kyuhyun? Ia tak ada disini?” cecar ahra saat melihat Jongwoon terengah-engah dihadapannya. Ia tak dapat menguasai emosinya lagi, tangannya gemetar saat menggenggam lengan kemeja jongwoon.

“Dimana adikku… kau bersamanya-kan..?” tuturnya putus asa.

Jongwoon tak menjawabnya lalu merengkuh ahra dalam pelukannya. Tangan ahra terjatuh lemas dari kemeja jongwoon. Ia terduduk lesu tanpa berbicara lagi. Jongwoon mengusap punggungnya pelan lalu tangannya berhenti bergerak, Ia dapat merasakan badan ahra bergetar dalam rengkuhannya. Setetes air mata kemudian meleleh dari kelopak matanya membuat jongwoon makin khawatir karena tak mengetahui apa yang ada di benak ahra sekarang. Jongwoon mengurai pelukannya, meraih tangan ahra lalu menggenggamnya erat.

“Kyuhyun tak mungkin pergi begitu saja. Tidak pada kondisinya sekarang. Angel wishnya tak akan tinggal diam jika sampai terjadi apa apa padanya” ucapnya lugas. Jongwoon tak pernah mau repot repot menjelaskan segalanya, tapi ia membuat pengecualian kali ini. Setidaknya ia membagi logika yang juga mengurangi kecemasannya atas keadaan kyuhyun.

let’s think that angel is on move.

 

***

.

.

.

“Aku terlalu takut menghadapinya. Takut membantah segala aturan yang diperintahkannya. Selama lebih dari 26 tahun aku bersembunyi, berpura pura tak menganggap semuanya terjadi. Menurutmu aku dapat mengubahnya hanya dalam dua minggu?”  Kyuhyun berujar datar tanpa mengharapkan jawaban apapun dari lawan bicaranya.

“Seumur hidupku aku sibuk menyangkal segalanya. Mencari pembelaan agar aku mampu bersembunyi tanpa menghadapinya. Dengan kata lain, aku pengecut.

Lalu pada saat itu aku mempertanyakan keberanianku, menimbangnya apa aku rela berakhir sebagai pengecut atau aku dapat lepas darinya. Aku mulai meragukan pilihanku untuk menetap di hutan berduri ini. Mempertanyakan mengapa aku menyerah tanpa memastikan apa aku mampu melompati jurang besar yang menghalangiku pada apapun yang ada diseberang sana atau tidak.”

 

Jungsu masih menatapnya, menyimak seluruh penjelasannya lalu mengangguk. “Kau bertahan disini karena alasan itu. Karena kau ingin memperjuangkan setitik ketidakpuasanmu sebelum kembali kesana.”

 

“Tapi bagaimana caraku meyakinkan diriku sendiri untuk kembali kesana sementara aku dapat bernapas dengan begitu lega lepas dari segalanya saat ini.” Jungsu mendelik mendengar kalimat kyuhyun,“Apa yang membuatku begitu percaya diri untuk kembali kesana sementara aku sudah tau rencana apa yang akan dilakukan nya pada orang disekitarku saat aku kembali nanti.” Kyuhyun menghentikan kalimatnya. Kembali memikirkan persoalan yang sama yang mengikatnya sejak kemarin. Jungsu lalu mencengkram kerah bajunya dan menegakkan kepala kyuhyun yang sama sekali tak mau menatapnya.

“HENTIKAN PIKIRANMU.” desis jungsu menatapnya galak, kyuhyun membalas tatapan mata jungsu tanpa merespon amarahnya. Tak tahu kenapa emosinya tak menyambar kali ini. Ia hanya ingin membagi kebingungan yang sejak tadi jadi beban pikirannya.

“Seharian ini aku terus memikirkanya…”  lanjutnya penuh kebimbangan.

“Cho kyuhyun. Berhenti melanjutkan apapun yang kau pikirkan sekarang. Just stop over there.” potong jungsu cepat.

Bagaimana jika saat ini, aku justru tak ingin kembali pada tubuhnya – bagaimana jika aku menolak kembali pada Cho Kyuhyun.”

“CHO KYUHYUN!!” Bentak jungsu tegas.

.

.

.

 

***

 

Tak begitu jauh dari keadaan Kyuhyun dan Jungsu, tiga sosok tampan berkumpul mendiskusikan beberapa hal dengan serius, About having greed and being greedy.

“Jika kau lihat perbedaan kecil dari keduanya, Sena tak akan menghilang jika ia bertahan berbaur tanpa ketamakan terhadap apapun yang ada di dunia ini. Heart’s scent-nya akan menjaga jiwa manusianya tak habis disini, ia tidak boleh, ia tidak bisa mempunyai keinginan untuk memiliki apapun bagi dirinya, karena ia tak akan pernah kembali sebagai orang yang sama.

Lain dengan Kyuhyun, keinginannya untuk tetap hidup dengan nama Cho Kyuhyun akan menguatkan scent-nya. Dengan kata lain ia tak boleh kehilangan semangat hidup itu, karena ia tak bisa tetap dalam keadaan itu tanpa scent yang menjaganya kestabilan jiwanya.” Jelas Heechul pada yunho dan youngwoon yang termangut mangut dihadapannya.

 

“Lalu mengapa kau masih mengganggunya dengan urusan sena, hyung? Pantas saja jungsu hyung begitu kesal padamu.” Sambar youngwoon setelah mencerna informasi yang didapatnya.

 

“Biarkan Jungsu menangani Kyuhyun. Aku tak punya pilihan lain untuknya. Takdir menghubungkan mereka, dan sena membutuhkannya untuk tetap menjadi sena. Aku memerlukannyauntuk menjaga Sena tetap menjadi Sena. Kau sendiri juga tau bahaya yang akan terjadi jika kaum seperti sena melupakan heart’s scent miliknya.” jawab heechul membela dirinya.

 

“Karena itu juga kau menarik jongwoon kedalamnya? Karena ia juga tau betul bahaya seperti apa yang menantinya jika ia tak berhati hati menjaga scent sena?” lanjutnya lagi menyambungkan potongan potongan informasi yang menyulam jalan pikiran heechul.

“Tunggu sebentar, tak bisakah kalian menjelaskan padaku apa yang terjadi saat itu?” Potong yunho.

Tanpa bicara dua orang itu hanya bergerak resah pada tempat duduk mereka, tak ada yang ingin mengulang cerita ini pada yunho. Tidak keduanya.

 

***

 

Jongwoon dan hyejin berbagi sofa di ruang rawat kyuhyun sementara Ahra duduk di samping ranjang kyuhyun. Kyuhyun masih di ruang icu sementara mereka berkumpul disana dalam ketegangan yang tak begitu berbeda.

 

“Kau sempat bertemu dengan kyuhyun?” bisik hyejin mengulang informasi yang ditangkapnya tadi. Jongwoon mengangguk samar, lalu hyejin kembali bungkam.

“Mengapa kau tak pertemukan saja mereka?” Ujar ahra pelan memecah kesunyian di ruangan itu. “Choi siwon dan sena.. mengapa kau harus mengulur-ngulur waktu menghabiskan banyak waktu kyuhyun.” Sambungnya.

“Aku punya alasan yang kuat untuk tidak melakukannya. Jika aku belum bisa memastikan hal itu maka lebih baik aku tak mempertemukan mereka sama sekali. Dari awal aku sudah mengajukan syarat itu sebelum menyetujui permintaan sena dan kyuhyun. So please don’t make things complicated.” Tutupnya tak ingin kompromi soal itu.

“Kau sendiri yang membuat semuanya jadi rumit. Kau hanya perlu mempertemukan mereka lalu masalah selesai, mengapa kau harus membuat syarat ini itu. Hentikanlah semua ini.” Tutur ahra sinis “Wajar jika manusia lari tunggang langgang setelah mengetahui hal gila ini. Apa yang kau harapkan? Siwon berhambur ke pelukannya dengan penuh sukacita karena bertemu dengan kekasihnya yang sudah meninggal? Ia bahkan bukan tunangannya lagi kau pikir ia akan terus mencintai sena? Sena sudah tidak ada. Dia arwah. Tentu saja manusia ketakutan. Menurutmu ada manusia lain yang tak normal sepertimu. Tidak.” Debat ahra yang sejujurnya sejak awal frustasi mengenai keputusan dua pria ini menolong sena.

“Eonni…” ujar hyejin memotong mereka sebelum ahra kembali berargumen lain. Ia melirik ke arah kakak sepupunya dengan khawatir, Hyejin yang dari tadi diam melihat mereka hendak bangun beranjak dari sofa tapi jongwoon mencekal tangannya.

“Geumanhaja….” ujarnya malas melanjutkan perdebatan ini. “Aku tau aku berbeda. Berbicara denganmu belakangan ini terus membuatku lupa akan hal itu, tapi terima kasih telah mengingatkannya kembali.” Jongwoon menoleh pada hyejin lalu menggeleng padanya.

“Soal sena, ia tetap bertemu dengan siwon setelah mendapatkan persetujuanku. Karena aku tidak normal dan aku tau lebih banyak darimu. Jadi tolong jangan buang waktuku untuk mendebatkan hal ini dengan mu” Ia bangkit berdiri lalu keluar dari kamar itu dengan pikiran yang kembali penuh. Dadanya kembali sesak dengan nama yang ingin dilupakannya. Ia harus kembali fokus pada tujuan awalnya yang kebetulan atau tidak, sama dengan tujuan yang diútas the angel of death – Kim Heechul.

“Aku harus memastikan Sena berbeda dengan Jung Jihyun.” Bisiknya dalam langkah besarnya menjauh dari sana.

 

***

.

.

.

2001 april – Seoul, South Korea

 

Jongwoon mengenakan seragam sekolahnya, kali ini ia telah membulatkan tekadnya untuk tak lagi pindah dari sekolah terakhirnya. Ia akan bersekolah dengan tenang tanpa menjadi pusat perhatian.

Jongwoon berubah, ia berusaha tak menjadi lebih misterius seperti sebelumnya. Belakangan ini ia belajar lebih terbuka, bertanya walaupun sudah mengetahui apa jawaban mereka, mencari tau walaupun sesungguhnya ia tak pernah penasaran dengan pilihan teman temannya. Jongwoon memperlambat daya tangkapnya mengikuti alur yang dibawa teman sebayanya seperti yang dilakukannya ketika berdialog dengan Jung jihyun – sosok yang ada dibalik semua perubahan Kim Jongwoon.

Mengenalnya membawa angin segar dalam kepribadian jongwoon. Tak perlu waktu lama baginya untuk meluluhkan dinding es di hati jongwoon. Sikap cerianya memancarkan cahaya hangat bagi anak muda itu.

jongwoon menarik simpul dasi yang dikenakannya untuk lebih dekat dengan lehernya. Umur mereka tak terpaut jauh, bahkan mungkin sama. Mungkin saja sebelumnya jihyun juga menggunakan seragam yang sama, aksesori yang sama, tapi jongwoon mengenal Jihyun hanya sebagai gadis polos yang kebetulan bertemu dengannya tanpa ingatan apa-apa. Tanpa meminta apapun jihyun terus berada disebelahnya sampai ia sadar, ia mulai terbiasa melewati kesendiriannya dengan celoteh hangat dari gadis itu.

Hanya satu hal yang kemudian selalu ia sesalkan dalam kepalanya, jika saja jung jihyun manusia.

Jongwoon berjalan disebelahnya sekarang, melewati pagar sekolahnya setiap pagi dengan kehadirannya. Jongwoon tak ingin belajar memahaminya walau memang tak banyak yang dapat diketahuinya, gadis ini hanya mengetahui namanya dan jongwoon tak pernah repot-repot mencari informasi tentangnya.

Jongwoon tak pernah tau apa yang ada dalam kepalanya, karena kemampuannya tak berpengaruh pada makhluk sepertinya -dan-jongwoon-menikmati-hal-itu-. Saat berbicara dengan jihyun, ia merasa perbedaan itu terangkat darinya. Ia tak mendapat tatapan aneh itu, tak mendengar pikiran-pikiran yang mengacaukan daya sosialnya, semuanya sempurna. Jongwoon kembali hidup justru saat jihyun mengajaknya membantu kaumnya – kaum dengan pikiran yang tak terbaca, bergaul menyelesaikan urusan mereka di dunia.  Jongwoon berhenti berlari dan berbalik menghadapi takdirnya semua berawal darinya.

 

Hari ini sekolahnya nampak lebih ramai dari biasanya. Entah perayaan apa, jongwoon tak pernah perduli pada acara seperti ini. Kelihatannya setiap tahun mereka melakukannya. beberapa corak berbeda nampak diantara lalu lalang seragam yang biasa dilihatnya. Jongwoon menepi setelah melewati kerumunan manusia di lapangan olahraga sementara jihyun dengan bersemangat mampir kesana kemari diantara kios yang ada disana.

“Aku tak akan mencarimu jika kau menghilang disini….aku sudah memperingatkanmu.” bisik jongwoon. Jihyun sedikit merajuk tapi ia patuh pada jongwoon. Mereka sekali lagi melewati kerumunan orang dilorong untuk mencapai kelas jongwoon. Jongwoon sedikit tersenyum melirik jihyun yang kembali berjalan ceria diantara kerumunan manusia disana, tingkahnya berulang kali membuat jongwoon semakin kabur dengan identitasnya, membuatnya kembali bersusah payah memilah kenyataan dan kreatifitas otaknya.

Jika manusia hidup pada masa kini, jihyun dan kaumnya hidup dari masa lalu mereka. Ia tau hanya masalah waktu hingga jihyun menemukan kembali masa lalunya yang hilang dan sepertinya waktu itu telah tiba. Mereka bertemu dengannya, masa lalu jihyun.

 

#brakk.

seorang pria terjatuh begitu saja disamping jongwoon.

“Ya.. Apa yang terjadi padamu? Kau tak apa?” Ujar jongwoon sambil mengguncang pundaknya. Mereka berpapasan dengannya – Lee Hyunwoo, begitu nama yang tertera di seragam sekolahnya. anak ini mencengram dada kirinya kuat-kuat. kemeja putihnya sudah kusut dalam genggamannya sementara keringat dingin mengucur dari dahinya. Jongwoon berusaha memapahnya menuju ruang kesehatan sementara jihyun membeku disebelahnya dengan Air mata mengalir dari kelopaknya. Jongwoon menoleh kebelakang, menyaksikan satu sosok pria muncul meniupkan asap putih yang kemudian membawa jihyun dari depan matanya. Ia tak melihatnya lagi untuk waktu yang cukup lama.

.

.

.

Two years later…

2003 September – Seoul, South Korea

 

Ia mengharapkan pertemuan itu terulang bagi mereka, dan itu yang akan terwujud sebentar lagi.

“I trust this to you….” ujar pria itu lalu pergi darinya. Jongwoon masih berdiri tak bergerak disana. Kim Heechul sudah pergi dari hadapannya dan angel itu bilang tak lama lagi Ia akan bertemu gadis itu. Gadis yang membuatnya tak berani melangkah keluar dari jalur ini. Alasan yang membuatnya terus mengeratak pekerjaan heechul yang ia tau dari mulut ember guardiannya, kangin. Jihyun kembali.

Gumpalan asap kembali terbentuk disekitarnya, rasanya belum lama ini jihyun menghilang didalamnya lalu sekarang Ia kembali berdiri dihadapannya dari asap yang sama. Wajahnya masih sama seperti dulu walau aura yang dimiliknya jauh berbeda. Jihyun tak lagi ceria seperti dulu, dan jongwoon telah menduga sedikit perubahan akan terjadi saat ia kembali bertemu dengannya.

“sudah kuperingatkan saat itu. Aku tak akan mencarimu jika kau menghilang disana. Mengapa kau masih menghilang? Kemana saja kau selama ini?” Sapanya akrab mencoba berkomunikasi dengan jihyun perlahan walau sesungguhnya banyak pertanyaan yang mengantre keluar dari mulutnya.

“Kau mencariku?” ujarnya balik bertanya pada jongwoon

“Apa yang terjadi padamu.?” Ulangnya menyederhanakan kalimat tanyanya untuk jihyun.

“Aku sudah mengetahui semuanya. Aku sudah menemukan ingatanku yang hilang usai operasi sebelum aku meninggalkan tubuh itu” jelas Jihyun lengkap

Jongwoon hanya diam sejenak memperhatikan wajah yang beberapa waktu ini absen dilihatnya. “Lalu mengapa kau masih ada disini” balasnya lagi

“Aku mengetahui semuanya, aku mengingat segalanya, termasuk alasanku tetap berada disini”  jawabnya lagi. ” aku ingin kembali bertemu dengannya, Lee Hyunwoo.” Lanjutnya menceritakan kepada jongwoon dengan penuh beban dalam hatinya. Tak ada lagi jihyun yang ceria. Tak ada lagi jihyun yang dulu selalu melangkah dengan ringan.

“Lee hyunwoo?” berulang kali Jongwoon mengulang nama familiar itu dalam kepalanya mencoba mengingat kembali kapan ia pernah mendengar nama itu, lalu Ingatannya kembali pada situasi terakhir saat jihyun menghilang dari hadapannya. Pria itu Lee Hyunwoo, pria yang pingsan saat itu memakai nametag Lee Hyunwoo.

“Apa hubunganmu dengannya? Mungkinkah…. kesakitan nya waktu itu…?”

Jihyun mengangguk samar. “Jantung itu milikku. Mungkin ia bereaksi karena keberadaanku disana. Itu yang dijelaskan junu, angel yang datang menarikku menghilang dari sana waktu itu.”

“Dia guardian pria itu?”

Jihyun mengangkat bahunya. “Mungkin.”

Jongwoon kembali diam memperhatikan jihyun dihadapannya. Sedikit kesedihan pecah dalam hatinya melihat ekspresi jihyun saat ini. “Tidakkah menurutmu jauh lebih baik saat kau melupakannya? Kau terdampar disini begitu lama mencari ingatanmu hanya untuk bertemu dengannya?” sedikit rasa iri tercurah saat jongwoon menyelesaikan kalimatnya.

“Bagaimana jika aku….menolaknya?” Tuturnya kemudian berdiri dari tempat duduknya berbalik hendak memunggungi jihyun. Satu satunya alasan yang membuat Jongwoon  berhenti bergerak adalah karena jihyun berlutut di hadapannya. Jihyun-nya yang tak pernah berhenti tersenyum berubah karena orang itu, sejujurnya hal itu saja cukup membuat hatinya tak senang – apalagi sampai seperti ini.

“Bukankah kau sudah mengingat segalanya? Dimana ia sekarang kau tak bisa mencarinya sendiri?” bentaknya sedikit terbawa emosi dalam dirinya.

“Hyunwoo sudah pindah dari tempat tinggal terakhirnya… Semua keluarganya pindah dari sana… lalu Aku tak dapat bertanya pada siapa siapa dengan keadaanku sekarang… aku hanya berharap kau dapat membantuku.” ujar jihyun lirih. airmata kembali menggenang di kelopak matanya saat merangkum kalimatnya.

Jongwoon menghembuskan napasnya berat, ia tak menimbangnya terlalu lama karna orang yang menangis bersimpuh dihadapannya adalah Jihyun, ia tak tahan melihat keadaan ini lebih lama lagi. “aku mengerti. Baiklah, kita akan mencarinya.” Jawabnya pasrah. jongwoon tak berharap dapat menemukan pria itu, hanya saja Ia ingin melihat jihyun kembali tersenyum seperti saat ia pertama mengenalnya dulu.

.

.

.

 

***

2014 August – Seoul, South Korea

 

Semilir angin mengacak tatanan rambut hitamnya. Ia membenahi letak kacamatanya lalu kembali dari lamunanya. Angin peralihan musim panas masih berhembus pada taman rumah sakit itu dan untuk kesekian kalinya Jongwoon mengibaskan kepala hendak mengembalikan helaian rambutnya pada tempatnya semula tanpa menyadari seseorang berjalan mendekat padanya.

 

“Dimana Cho ahra aku perlu menemuinya.” Ujarnya lugas.

Jongwoon sedikit terkejut menatap wajah hampir sempurna yang tiba-tiba ada disebelahnya. Ia mundur sedikit canggung dengan pria yang duduk terlalu dekat dengannya. Ia meneliti pria itu dari ujung kepala sampai kaki lalu menolah membuang muka darinya.

“Jangan temui dia. Keadaannya tak terlalu baik. Apalagi jika kau ingin menanyakan soal Sena padanya.” Jawab jongwoon cuek.

Siwon merenyit sedikit bingung lalu memutuskan untuk bertanya pada jongwoon, Toh jongwoon dan ahra sama saja.

“Bagaimana ahra bisa menanyakan sena padaku? Kalian mengenalnya?”

“Sena.. ya.. aku juga mengenalnya. Kau penasaran tentang bagaimana aku mengenalnya, atau mungkin sejak kapan aku mengenalnya? Jika kau tak pernah mengenal sena, kurasa aku tak perlu menjelaskannya kan?” kejar Jongwoon yang tau Siwon tak pernah dengan lugas mengatakan ia mengenal sena.

Siwon tak menjawabnya, sebentuk liontin tergambar dalam kepalanya, ia diam membiarkan jongwoon menyelam didalam pikirannya yang memberikan jawaban pertanyaan jongwoon walau ia tak bemaksud seperti itu.

“Apa kau datang padaku untuk mencari tahu soal nya? Soal apa yang dilakukannya sebelum meninggal?” Ujar Jongwoon menumpahkan pikiran siwon dalam bahasa verbal untuk memancingnya.

Pikiran siwon kembali berputar arah, Ia tak tau apa yang menyebabkan kakinya menghampiri jongwoon saat melihatnya di taman tadi. Kebencian kembali menutup pikirannya dari jongwoon.

“Aku dan dia sudah berakhir. Sejak lama. Aku sempat mengenalnya, tapi tidak lagi, dan tidak akan lagi. Aku dan dia sudah lama selesai.” Siwon menutup kalimatnya lalu berdiri meninggalkan jongwoon yang hanya diam sedikit terperangah dengan pikiran siwon.  Siwon tidak berbohong saat mengatakanya. Mungkin saat ini ia tergoyah, tapi tak akan ada selanjutnya. Itu yang terus diulang siwon dalam kepalanya.

 

Jongwoon tertawa absurd sambil menyilangkan kakinya tanpa bergerak dari kursinya. Ia memutar kepalanya untuk merenggangkan otot lehernya lalu kembali tertawa tanpa sebab.

 

“Lalu…… kau akan menuruti keinginanya begitu saja? Kau tak akan mempertemukan nya dengan sena?” Tanya ahra yang tiba tiba muncul dari balik semak. Jongwoon menoleh untuk mencari sumber suara itu dan menemukan ahra berdiri dibelakangnya.

“Ia tak ingin menemui sena.” Jawabnya singkat.

“Tapi sena ingin menemuinya,” bantah ahra tak percaya dengan jawaban jongwoon “setelah kyuhyun menghabiskan sebagian waktunya untuk masalah ini kau sungguh akan membiarkannya terbuang percuma?”

“Siwon tak ingin menemuinya.” Jawabnya lagi.

“Lalu?? Siwon tak ingin menemuinya, lalu??” Tekan ahra menuntut penjelasan lain darinya.

“Siwon tak ingin menemuinya.” Ulangnya untuk ketiga kalinya. “Manusia itu menolaknya. I-a m-e-n-o-l-a-k-n-y-a padahal sena tak boleh mendapat penolakan, karna itu lebih baik ia menyerah dan kembali tanpa menemuinya.” Terangnya sambil merentangkan kedua tangannya.

Ahra menganga speechless mendengar penjelasannya. “Ia mencarimu itu berarti ia perduli pada sena. Kau tak dapat melihat bagaimana sorot matanya saat menyebut nama itu?” Bantahnya kemudian.

“Ia tak menginginkan sena. Bahkan dalam pikirannya.” Balas jongwoon yakin.

“Berhenti bersikap angkuh dengan kemampuanmu membaca pikrain manusia.” Timpal ahra sinis.

Jongwoon kembali terperangah mendengar ucapan ahra, setaunya ia tak pernah membeberkan hal ini pada ahra,

“Aku tak tau bagaimana cara kerja kemampuanmu, tapi kau selalu mengetaui maksud ibuku. Kau selalu menebak dengan benar semua yang diinginkannya, dan aku tau itu bukan kebetulan.” Jongwoon masih terdiam ia tak pernah menyangka ahra mengetahui kelebihannya.

“Kau tau, aku akan menyampaikan perihal sena pada choi siwon.” Ujarnya singkat lalu meninggalkan jongwoon berjalan dengan sangat cepat ke arah yangjongwoon tau menuju kamar rawat siwon.

“tsk, Kau tak bisa seenaknya Cho ahraa ..”  kejarnya membuntuti ahra di belakangnya.

 

***

.

.

.

2003 September – Seoul, South Korea

 

“Jangan tanya padaku, aku juga bingung bagaimana bisa menemukan sekolahnya hanya dari selembar kertas daftar undangan Schoolcup dua tahun lalu.”

Mereka berjalan ke lapangan bola yang disebut salah satu murid saat mereka menanyakan Hyunwoo. Segelintir siswa masih berlarian diatas lapangan hijau itu dan jongwoon tak ingin susah payah memicingkan matanya untuk mencari hyunwoo. Dengan cuek jongwoon menyapu keadaan sekitarnya yang mau tidak mau memperhatikan corak seragamnya yang lain dari mereka. Ia melirik jas yang mencuat dari salah satu tas yang tertumpuk di bench, melihat nametag yang beberapa tahun lalu sempat dilihatnya lalu mendekat untuk duduk disana.

Tak berapa lama satu orang lari keluar lapangan mendekat ke tempat mereka berada. Jihyun berdiri bergerak mundur memberikan jarak yang mungkin akan dibutuhkannya.

“Kau mencariku?” Ujarnya sambil mengambil botol air dari tas yang dari tadi menarik perhatian jongwoon. Ia meneguk banyak air dari botol yang dipegangnya lalu duduk sedikit mencengkram kaus bagian dada kirinya. Ia menarik napas banyak banyak lalu kembali meneguk air yang mungkin dapat melegakan kesesakannya.

Jongwoon menggeleng saat pria itu menoleh padanya, “Ada orang lain…. kau tak merasakannya? Sepertinya kali ini efeknya tak separah dua tahun lalu.. saat kau pingsan di sekolahku.”

Hyunwoo menautkan kedua alisnya

“Apa yang kau inginkan dariku?” Wajahnya berubah tak begitu ramah seperti sebelumnya.

“Saat ini Jihyun ada disebelahku. Song Jihyun.” Jelas jongwoon singkat. Melirik jihyun yang ekspresi wajahnya tak terlalu baik.

Ia mendelik lalu memastikan tak ada orang lain yang mendengar omongan Jongwoon barusan.

“Ikuti aku.” Ujarnya mengajak jongwoon pindah ke tempat yang lebih sepi di belakang gedung sekolah. Ia berbalik lalu menatap jongwoon tajam.

“Apa yang sesungguhnya kau inginkan dariku. Aku tak mengenalmu.” Ujarnya pedas sambil tetap mencengkram kaus seragamnya.

“Aku juga tak mengenalmu.” Jawabnya santai. “Orang lain bernama Song jihyun perlu bertemu denganmu. Sepertinya jantungmu mengenailnya.” Ujarnya melihat hyunwoo masih tak melepas cengkramannya. Wajah hyunwoo berubah sinis,

“Huh. Kau pikir aku akan begitu saja percaya padamu? Lalu apa maunya? Apa lagi yang akan diambilnya dariku? Karena aku sudah bahagia sekarang dia tak rela lalu ingin mengambil semuanya lagi dariku? Berhenti melucu. Kau pikir aku sedih kehilangannya? Aku bahagia dengan kepergiannya.”

“Mwo?” Bisik jongwoon kaget “Apa kau tak salah bicara? Jangan mengada ada. Aku tau bagaimana jihyun”

“Kau tak tau apa-apa,” Potongnya “Apa kau tau bagaimana dia membuatku tak bisa bergerak karenanya, apa kau tau bagaimana dia membuatku jauh dari lingkungan sosialku? Karena keberadaan dirinya yang tak berguna aku kehilangan masa mudaku. Jika dia pergi maka lebih baik begitu. Aku tak pernah berharap dia kembali. “

 

Tangan jongwoon sudah mengepal melayang hampir mengenai wajahnya tapi hyunwoo lebih dulu terdorong kebelakang. Tubuhnya sempat terangkat keatas sebelum kembali jatuh membentur lantai aspal hitam dibawahnya. Jongwoon menoleh kaget melihat siapa pelakunya.

“SONG JIHYUN HENTIKAN!!!” ia sungguh kaget tak tau harus berbuat apa melihat jihyun yang sama sekali tak dikenalnya. Ia hendak berlari mendekatinya tapi jihyun mendorongnya dengan kekuatannya lagi. Untungnya saat itu youngwoon dan dua angel lain datang ke lokasi itu, youngwoon menangkap jongwoon sebelum ia membentur tumpukan kursi bekas di belakangnya. Satu dari dua angel itu mengikat tubuh jihyun yang dengan konsisten memberontak dengan seluruh tenaganya sementara satu lagi mendekat pada hyunwoo yang sepertinya mulai membuka matanya.

 

Angel yang mengikat jihyun, Heechul – jongwoon mengenalnya setelah mengikutinya dua tahun belakangan ini untuk mencari Jihyun. Ia terus mencoba berkomunikasi dengan Jihyun sementara jongwoon membeku gemetar hanya bisa diam melihat kejadian dihadapannya.

“Song jihyun, sudah ku bilang kau tak bisa begini. Aku harus melenyapkanmu jika kau melukainya” perlahan ia melepas ikatannya yang menyerupai kelopak bunga saat jihyun sudah tak memberontak di dalamnya.

 

Jihyun meneteskan air maatnya saat menatap hyunwoo yang melotot ketakutan saat ia dapat melihat wujud jihyun. Jihyun menunggu jawaban dari pandangan hyunwoo yang tak berubah sampai akhir lalu ia melirik ke arah bangku bekas dibelakang mereka.

“Andweee!! Song jihyuuun!!!” Teriak Jongwoon kalab bersamaan dengan tumpukan bangku yang berhamburan menimpa hyunwoo. Junu dan youngwoon yang ada disebelahnya bekerja sekuat tenaganya menangkis sebanyak yang mereka bisa. Heechul melihatnya kecewa, Ia memalingkan wajahnya saat merentangkan tangannya menarik cahaya yang tersisa dari jihyun sampai bayangan itu kini tak ada lagi. Badai itu berhenti dan mereka hanya diam menjadi saksi diantara kursi bekas yang kini berserakan tak bergerak di lantai.

.

.

.

 

***

 

Yunho menggeleng bingung dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Jadi jika hyunwoo lebih dulu meninggal ginjalnya akan menjadi milik jihyun, sebaliknya jika jihyun lebih dulu meninggal jantungnya menjadi milik hyunwoo. Dan hyunwoo yang mendapat jackpot itu.” simpul yunho amazed dengan perjanjian aneh yang dapat dibuat kedua orangtua mereka, manusia.

“Tak seperti kondisi jihyun yang terlihat parah, hyunwoo dapat mencegah penyakitnya kambuh asal ia tak banyak bergerak. Tapi sepertinya ia tak menyadari maksud ayahnya.” Tutup youngwoon

“Lalu apa yang terjadi pada manusia itu.?” Tanya yunho lagi

“Ia selamat tentu saja. shindonghee menghapus ingatannya dan tak ada yang akan mengingat jihyun lagi.” Timpal heechul.

“Aku tak membenarkan perbuatannya, tapi bukankah ini tak adil bagi jihyun. Lepas dari fakta jihyun melukainya, dari awal jihyun hanya melindunginya. Jika ayahnya tak membuat jihyun sebagai alasan untuk menahannya dirumah, ia bahkan tak akan hidup lebih panjang dari jihyun. jantungnya tak akan sempat bertahan sampai donor dari jihyun datang. Jihyun menolongnya berulang kali tapi ia tak pernah mengetahuinya. Menurutku wajar jika jihyun kecewa menerima penolakannya.”

“Aku memaklumi kekecewaannya, tapi seharusnya kebencian tidak menguasai hatinya. Seharusnya ia tak mengabaikan heart’s scent miliknya.” Urai heechul soal pendapatnya pada kasus jihyun. “Ia tak perlu menghilang jika ia dapat mengendalikan keinginannya.” Tuturnya tak dapat menutupi rasa kecewanya pada seluruh kejadian itu.

 

***

 

“Apa yang kau lakukan di sini, Noona?” tanya Minho melihat Ahra berdiri didepan pintu ruang rawat Choi siwon

“Dimana choi siwon?” Tanya ahra tanpa membuang waktu

Minho melirik pada dipan kosong di dalam ruang rawat siwon. Ia mengangkat bahunya lalu melambaikan tangannya memamerkan ponsel yang ditempeli memo kuning diatas layarnya.

“Ini ponsel siwon. Dan ya, Ia sengaja meninggalkannya lalu pergi hanya dengan dompet dan kunci mobilnya.

Ahra kemudian menoleh ke arah jongwoon yang baru saja tiba disana “Ia tak bilang apapun padamu?”

Masih dengan wajah dingin Jongwoon berjalan mendekatinya, menggenggam pergelangan tangan ahra lalu menariknya untuk berbicara lebih dekat dengannya tanpa terdengar minho. Ia menggeleng pelan lalu berbisik pada ahra, “Case closed, miss ahra.”

 

***

 

“Apa kyuhyun baik baik saja?” Ujarnya ragu pada angel yang selalu menghilang jika ia mendekati kyuhyun.

Jungsu mengangkat kedua ailsnya santai saat menatap sena. Kali ini ia tidak menghindar darinya. “Selama ia masih menyisakan sedikit kebimbangannya, aku dapat menyelamatkannya jiwanya.”

“Ia dapat kembali kan?” Tanyanya khawatir membuat Jungsu justru berputar menghadapnya

“Apa kau sungguh khawatir pada keadaan kyuhyun atau kau khawatir pada inang yang akan kau tunggangi?”

Sena terdiam menelan gegugupannya dengan pertanyaan mendadak dari angel berwajah tampan ini.  Ia menangis frustasi meneteskan air mata pada wajah pucatnya.

“Aku benci mengatakannya, tapi aku tak dapat berhenti bergantung pada kyuhyun. Kau dapat memastikan kyuhyun tetap dapat kembali pada keluarganya kan?”

Jungsu masih menatapnya penuh curiga lalu ia menyandarkan punggungnya dan mengusap kepala sena.

“Gwenchanha…aku mengerti keadaanmu. I will do something about that, jadi kau tenang saja. Kyuhyunie akan ku selamatkan. Pasti. Kau juga jaga kyuhyun untukku.”

 

Jungsu berbalik meninggalkannya. Ia tak tau apa yang barusan membuatnya mengatakan hal itu, tapi menyampaikan nya sepertinya tak terlalu buruk.

 

***

 

Pria itu menggenggam erat kalung itu dalam tangannya. Liontin biru itu melengkapi lubang yang ada pada tutup jam milikny. Jantungnya berpacu lebih cepat. Matanya panas hingga air mata tanpa permisi ikut turun diantaranya. Sebelah tangannya menopang kepalanya yang terasa berat menanggapi memori yang berlomba bermunculan dalam benaknya mengoyak hatinya sekali lagi.

“Aku sudah pernah kehilanganmu sekali. Masih jelas rasanya, saat dunia pertama kali runtuh dihadapanku. When I feel wronged everytime I saw your face. Saat kebencian selalu mencekiku setiap aku melihat sosokmu. Jika kupikir sekarang, betapa beruntungnya saat itu aku masih dapat melihatmu.” kenangnya

“Jika kau sungguh akan pergi maka sebaiknya dari awal kau tak perlu mengenalkan rasa itu padaku. Sebaiknya kau tak perlu membuatku menyaksikan bagaimana bunga-bunga bermekaran dalam hatiku. Dari awal seharusnya aku tak perlu melihatmu. Sejak awal…”

 

 

***TBC***

 

***Last_Wish***

__chapter 2 Heart’s Scent (Part4)__

 

 

 

Immortal snow

 

Author : Farrah Cho

Length : Oneshoot

Rated: Teens

Main cast : Cho Kyuhyun, Han Hyora

Genre : Fantasy

Summary: Terkadang seseorang yang begitu tak peduli dengan kita dapat menjadi paling peduli dengan kita.

Note~

Wahh its my 2nd Fanfiction, after Good bye my love. And very thanks to admin who will post this ff to SuperJunior Fanfiction 2010 >_<. And enjoy it ^^. Ahh please follow my Twitter @ChoKYUlatae, who knows we’ll be friend :D

Story begin~

Immortal snow - salju abadi-  hanya kami yang keturunan Eticmo yang mempunyainya. Di dunia ini hanya ada seratus orang yang mempunyainya. Dan kami sudah ditakdirkan untuk saling berpasangan. Akan tetapi, butuh perjuangan agar kami dapat menemukan pasangan kami.  Salah satunya ialah harus menemukan  Immortal snow di pegunungan Edelwis. Mom dan dad merupakan pasangan yang ditakdirkan mempunyai salju abadi, begitu juga grandma dan grandpa. Dan kini saatnya aku mencari salju abadi, mom dan dad sangat semangat menceramahiku untuk segera mencari pasanganku dan itu membuatku muak. Aku ingin bebas, umurku baru menginjak dua puluh tahun dan aku harus mendaki gunung untuk mencari benda itu. “ Mom bisakah tahun depan aku mencarinya?”

“ Tidak sayang, ini keharusan. Kau harus mencarinya untuk mensejahterakan bangsa Eticmo

Well, bye mom, I want go to bed now”  aku berpamitan untuk tidur pada mom

Okay, dear. Sweet dream” Dan mom mencium keningku, dan dad sedang tidak ada di rumah malam ini. Dia bekerja pada perusahaan Grandpa di California. Dan di rumah ini hanya tinggal aku,mom, dan Denis. Kakak ku yang saat ini masih bermain Playstation  di rumah David,  tetangga kami. Continue reading

{Snakes On The Plane’s Side Story} Betrayal

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Don’t Go {Side Story: Saki’s POV}

19

Unexpected {Side Story: Sakura’s POV}

20

Seiryuu

Dimana? Dimana? Dimana????!!!!

Aku yakin aku menaruhnya disini. Kenapa sekarang hilang?

Tenang, Ryuu, tenang. Tadi aku menaruhnya disini. Dibalik buku catatan penelitian. Dan aku yakin tak ada seorang pun yang masuk.

Sialan. Itu satu-satunya bukti penting untuk memojokkan kakek Hayate. Kalau benda itu hilang—

“ Ryuu,”

Saki melongok kedalam ruangan.

“ Kenapa kau lama sekali?” tanyanya heran. Awalnya aku ingin mengatakan aku mencari kertas silsilah keluarga Hiragawa, tapi itu sama saja merusak rencanaku. Ku putuskan untuk berbohong.

“ Tidak, aku lupa dimana aku menaruh jaketku tadi,”

Aku harus segera menemukan kertas itu.

Tapi bagaimana jika itu berada di tangan yang salah?

* * *

Continue reading

Snakes On The Plane {20/25}

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Don’t Go {Side Story: Saki POV}

19

Unexpected {Side Story: Sakura POV}

Two bottle of water, please,”

Dengan sigap pramugari itu mengambil dua botol air mineral dan memberikannya pada penumpang tersebut.

“ Oh, thank you,” Penumpang itu membuka satu botol dan meneguknya perlahan. Matanya terpaku pada layar laptop yang kini menampilkan e-mail masuk. Ia buka e-mail itu, alisnya terangkat sebelah ketika ia membaca nama pengirimnya.

Ia menggerutu sambil mengetikkan balasan.

“ Kau selalu saja terlambat memberitahuku, Shin-sama,”

Tangannya terhenti ketika sebuah e-mail lain masuk. Wajahnya memucat setelah ia membuka e-mail itu.

“ Mei Lin?”

Buru-buru ia mengirim balasan. Dalam hati ia bersyukur melihat foto Mei Lin yang dikirim kepadanya. Sekuat tenaga ia menahan haru yang kini memenuhinya.

“ Kau masih hidup, sayangku…. Kau masih hidup,”

* * *

Jenderal Shin menyeringai, tangannya bergerak dengan cepat diatas keyboard laptopnya. Sesekali ia melirik sesosok anak perempuan yang tertidur di sofa ruangannya. Ia berhenti sebentar, mendesah lega sambil memandangi anak itu.

“ Permisi,”

Yun Hee melongokkan kepalanya, mengamati sekitarnya. Jenderal Shin melambaikan tangannya. Akhir-akhir ini ia jauh lebih santai, terutama setelah Yun Hee mengetahui rahasia dirinya dan keluarganya.

“ Anda memanggil?”

Jenderal Shin menunjuk Mei Lin dengan jempolnya, “ Aku yakin dia lebih suka jika kau yang menggendongnya,”

Yun Hee mengangkat Mei Lin perlahan, berusaha tidak membangunkannya. Wajah Mei Lin terlihat damai seolah tak ada peristiwa berbahaya yang terjadi dalam hidupnya. Yun Hee menggigit bibir bawahnya. Ia harus tegar demi Mei Lin.

“ Oh ya, apa kau sudah bertemu dengan Tomomi?” tanya Jenderal Shin melanjutkan mengetik e-mail. Yun Hee menggeleng, “ Anda ingin saya mencarinya?”

Jenderal Shin menekan ‘send’ seraya berpikir sejenak.

“ Tidak perlu. Aku hanya ingin memastikan ia sudah kembali atau belum,”

Yun Hee menatap Jenderal Shin sesaat. Ada rasa canggung yang menyusup di antara mereka sejak Yun Hee tahu Jenderal Shin adalah ayahnya. Ia belum sanggup memanggilnya ‘otoosan’. Pada akhirnya ia hanya bisa berbicara dalam bahasa formal di hadapannya. Bertahun-tahun ia memanggil Jenderal Shin dengan sebutan ‘ahjussi’ dan ‘ojiisan’. Kini, ia harus mengubahnya. Namun memanggilnya ‘otoosan’ tak semudah membalikkan telapak tangan.

“ Nanti aku ingin mengadakan rapat dengan kalian setelah Tomomi kembali. Tolong sampaikan itu pada yang lain,”

Yun Hee membalikkan badan. Ia tak ingin memandang Jenderal Shin terlalu lama.

“ Roger,”

* * *

Continue reading

{Snakes On The Plane’s Side Story} Unexpected

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

Don’t Go {Side Story: Saki POV}

19

Sakura

Tindakanku benar kan, Hitoshi?

Setelah berbicara dengannya, aku sedikit lega. Ya, hanya sedikit. Masih ada yang mengganjal, sebenarnya.

Tapi…

“ Sakura,”

Ini bukan waktunya memikirkan hal lain.

“ Semoga berhasil,”

Ada yang lebih penting saat ini.

“ Persiapan selesai. Sistem akan dinyalakan dalam sepuluh detik. 10…9…8…”

Aku harus konsentrasi dalam simulasi ini.

“ 5…4…3…”

Aku siap.

“ 1,”

* * *

Meskipun sudah berkali-kali aku masuk kedalam simulasi, tetap saja ini terasa nyata. Tanah, udara, semuanya terasa nyata. Tapi ada yang lebih nyata.

Target yang harus ku hadapi saat ini.

Simulasi fisik yang pertama bertujuan menguji sejauh mana kemampuan kita bertahan dan mengendalikan diri terutama emosi ketika melawan orang yang paling tidak ingin kita lawan. Dalam pertarungan sebenarnya, melawan kawan sendiri merupakan hal tersulit dan emosi yang muncul sangat menganggu. Untuk itulah, kami harus melatih diri menghadapi kemungkinan itu.

Nah, siapa lawanku hari ini? Saki atau Seiryuu?

Melawan Saki lebih mudah dari Seiryuu. Setidaknya untuk pertarungan tangan kosong. Tapi jika harus memakai senjata, lebih baik aku melawan Saki.

Ugh, apa yang ku pikirkan? Aku tak ingin melawan saudara kembarku sendiri hari ini. Tapi aku juga tak mau kalau sampai Tomomi atau Kanna yang muncul.

Hei…ini aneh.

Kenapa lawanku tak muncul?

TREK

Suara pistol?

Aku segera berbalik, seseorang yang tak terduga muncul. Orang yang tak pernah ku harapkan untuk berada disini.

“ Kau?!”

DOR Continue reading