Waiting For Your Love ~ part 1

Aku sedang membuka pagar rumahku ketika seseorang memanggilku. Aku menoleh ke arahnya. Tubuhku membeku seketika. Apakah aku bermimpi? Aku hanya terdiam menatapnya, tidak tahu apa yang harus aku katakan.

“Heechie,” panggilnya. “ Donghwa-oppa,” bisikku, lirih. Dia tersenyum canggung. Kami berdua saling menatap lama, tidak tahu apa yang harus kami katakan. “Boleh aku masuk?” tanya Donghwa akhirnya. Aku tersentak, terbangun dari lamunanku. “Mian, tentu saja, silahkan,” kataku sambil mendahuluinya masuk ke dalam rumah.

“Silahkan oppa,” aku meletakkan cangkir teh di atas meja. Donghwa terlihat gelisah dan bingung. Aku duduk di sofa dan menunggunya mengatakan sesuatu. Tapi Donghwa hanya diam, dia bahkan tidak menyadari kehadiranku. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius. “Oppa?” aku memanggilnya. Dia tersentak, terkejut mendengar panggilanku. “Ah, ya, gomawo,” katanya sambil meraih cangkir teh dan meminumnya. Setelah itu dia kembali terdiam.

Sedang apa dia disini? Bukankah seharusnya dia di Mokpo? Berbagai pertanyaan muncul dikepalaku. Aku menatap wajah Donghwa yang sedang melamun. Dia tidak berubah, tetap saja tampan. Ingatanku melayang ke kejadian tiga tahun lalu.

~~~

“Oppa, sudah ya, capek!” kataku sambil meluruskan kakiku. “Hey, baru segini, ayo bangun, kamu masih harus melakukan nareochago-nareochagi bolak-balik,” Donghwa menyebutkan salah satu jurus tae kwon do. “Apa?! Oppa, aku sudah tidak sanggup,” kataku sambil merengek. “Baiklah, baiklah, cukup sampai disini, kamu mau minum?” kata Donghwa akhirnya. “Asyik! Aku mau! Aku mau!” kataku bersemangat. Donghwa memberikan botol minuman kepadaku. Aku meminumnya.

Donghwa menatapku, kemudian menghela nafas. “Kau benar-benar akan melanjutkan SMA di kangnam?” tanya Donghwa. Aku mengangguk. “Wae?” tanyaku, tidak mengerti. “Donghwa-oppa takut kesepian jika tidak ada kamu, oonnie,” kata Saeri, tiba-tiba. Dia merangkulku dari belakang. “Benarkah, oppa?” tanyaku, penasaran. Donghwa mengangguk dan menghela nafas. “Ya, aku akan kesepian, habis kau ini cerewet sekali sih,” katanya sambil tersenyum nakal. “Ah! Oppa!” pekikku kesal. Aku memukul pundaknya.

“Kalau sudah sampai disana, salam untuk Donghae ya,” kata Donghwa, menangkap tanganku. Aku mengangguk. “Ne, akan kusampaikan,” kataku. “Akan kukatakan padanya, bahwa kakaknya merindukannya,” candaku. Saeri dan aku tertawa, sedangkan Donghwa cemberut diledek seperti itu.

~~~

Ya, dulu aku, Saeri, Donghwa, dan Donghae sama-sama belajar Tae kwon do pada guru yang sama. Karena itu kami saling mengenal. Tapi kemudian Donghae pergi ke kangnam untuk mengikuti audisi. Meninggalkan kami bertiga di Mokpo. Dan 3 tahun kemudian, aku menyusulnya ke kangnam. Tapi aku ke kangnam bukan untuk mengikuti audisi. Aku pergi ke kangnam untuk melanjutkan sekolahku. Orangtuaku di pindah tugaskan ke kangnam, sehingga aku harus mengikuti mereka.

Sebenarnya aku tidak ingin pergi. Ada orang yang aku sayangi di Mokpo. Meski aku tahu, selama kami bersama, dia tidak pernah melihat ke arahku. Dia melihat orang lain. Yang lebih menyakitkan, orang yang dilihatnya adalah sahabatku sendiri.

“Saeri,” Donghwa membetulkan letak kacamatanya. Perkataannya membawaku kembali ke alam nyata. Aku menoleh ke arahnya. “Saeri kabur dari rumah,” ucapnya. Aku tersentak kaget. Saeri? Aku menatap wajahnya yang terluka. Dia benar-benar terlihat bingung. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,” kata Donghwa, menunduk. “Kamu adalah sahabatnya, kuharap kamu mau membantuku mencarinya,” pinta Donghwa.

“Tapi, oppa, aku sudah lama tidak berbicara dengannya, aku sudah tidak menelpon dia lagi,” kataku. Sejak kepergianku dari Mokpo, aku jarang menelpon Saeri. Terutama satu tahun ini, aku sama sekali tidak pernah mengontak Saeri. “Tapi aku mendengar kabar bahwa dia kabur bersama Yoona, teman SMP kalian, kamu pasti bisa membantuku,” Donghwa menatapku, memohon.

Aku menghela nafas. Bisakah aku menolak permintaannya? Tidak, sudah pasti tidak bisa.

“Baiklah oppa, tapi aku tidak tahu kemana harus mencari mereka,” kataku akhirnya. “Gomawo, Heechie, gomawo!” Donghwa langsung memelukku. Ah, aku merasakan perasaan nyaman itu lagi. aku memang tidak dapat melupakannya.

“Annyeong! Heechie ada?” kata seseorang di pintu masuk. “Ya!” sahutku. Aku segera membukakan pintu rumah. Ternyata Donghae. Dia segera masuk ke dalam rumah dan memukul kepala kakaknya. “Hyung, kau ini,” katanya. “Hey, sopan sedikit!” balas Donghwa. “Habis, kau ini datang ke kangnam, bukannya pergi ke apartemen dongsaengmu malah pergi ke rumah Heechie lebih dulu!” keluh Donghae. “Mian, aku ada perlu dengannya,” balas Donghwa, menyesal.

“Bagaimana kau tahu Donghwa-oppa datang ke kangnam?” tanyaku. Donghae menatapku. “Yah, dia memberitahuku ketika sampai di stasiun,” jawab Donghae. Dia menjatuhkan dirinya ke sofa.

Donghae memang sudah beberapa kali ke rumahku.. Ketika kami pertama kali menempati rumah ini, dia yang membantu kami membereskan barang-barang. Dan saat aku ulang tahun, beberapa bulan yang lalu, dia juga datang merayakannya bersama keluargaku. Walau sebenarnya, aku tidak terlalu akrab dengannya. Ketika kami di Mokpo juga kami jarang berbicara.

“Aku akan menginap selama beberapa hari disini,” kata Donghwa. Donghae membelalakkan matanya. “Ada apa hyung?” tanyanya, penasaran. Donghwa terdiam mendengar pertanyaan Donghae. “Saeri kabur,” jawabku. Donghae menatap kami tidak percaya. “Saeri?” tanyanya lagi, meyakinkan. Aku mengangguk. “Siapa yang tahu dia ada dimana, dia bisa dimana saja,” kata Donghae.. Donghwa menggeleng. “Dia ada di kangnam, itu berita terakhir yang kudengar,” kata Donghwa yakin.

Donghae menghela nafas. “Baiklah, tapi hari ini sudah sore, bagaimana kalau kita mencarinya besok saja?” kata Donghae. Donghwa mengangguk setuju. “Aku boleh menginap disini?” tanya Donghwa. Aku tersentak, terkejut. “Mwot??!! Tidak, kau menginap di apartemenku, hyung,” sahut Donghae cepat.. Aku lebih terkejut mendengar reaksi Donghae. “Tapi kaukan satu apartemen dengan anggota super junior lain, aku tidak enak,” tolak Donghwa. “Lebih tidak enak lagi jika kau harus menginap di rumah seorang cewek, hyung,” kata Donghae bersikeras. “Heechie kan tinggal bersama orangtuanya,” balas Donghwa.

“Iya, umma dan appa tidak akan keberatan,” kataku, mengangguk. “Tidak, masa kau mau tinggal di rumah orang lain, padahal aku punya apartemen disini,” Donghae tetap memaksa Donghwa menginap di apartemennya. “Lagipula yang lain tidak akan keberatan,” tambah Donghae. “Arasso, arasso, kalau begitu Heechie, kami pulang dulu,” kata Donghwa sambil mengangkat barang-barangnya.

“Besok kami akan kesini lagi,” kata Donghwa ketika aku mengantarnya ke pagar rumah. Aku mengangguk, mengerti. “Ah,” dia teringat sesuatu. “Aku senang kau baik-baik saja,” Donghwa mengacak-acak rambutku, lembut. Aku merasa jantungku berdegup cepat. Perasaan ini, kenapa tidak dapat aku lupakan? “Hyung! Cepat!” ucap Donghae tidak sabar. “Iya, iya,” Donghwa segera menyusul adiknya yang sudah jalan lebih dahulu.

Aku menatap kepergian mereka kemudian masuk kembali ke dalam rumah.

~~~

Seperti perkataan Donghwa kemarin, hari ini mereka datang lagi. Donghae memakai kacamata hitam, jaket, dan topi. Sedangkan Donghwa terlihat santai memakai kaos dan celana jeans. “Apa oppa tidak memiliki jadwal hari ini?” tanyaku pada Donghae. Donghae menggeleng. “Tidak, kebetulan ini hari minggu, jadi aku tidak ada jadwal,” jawabnya.

“Jadi, dari mana kita akan memulai pencarian kita?” tanyaku. Donghwa mengeluarkan secarik kertas. “Aku mendapatkan alamat Yoona ketika dia di kangnam, bagaimana kalau kita ke sana?” kata Donghwa, menunjukkan kertas itu. Donghae meneliti alamat yang tertera di kertas. “Oh, aku tahu alamat ini,” katanya.

“Kalian mau kemana?” umma keluar membawakan teh dan kue. “Ah, ajumma, kami mau mengajak Heechie pergi, bolehkan?” kata Donghwa. “Lho, kamu di sini Donghwa, bagaimana kabar orangtuamu?” umma baru menyadari kehadiran Donghwa. “Mereka baik-baik saja, ajumma,” jawab Donghwa, tersenyum.. “Salam untuk mereka jika kamu kembali ke Mokpo,” kata umma sambil kembali masuk ke dalam.

Kami menghabiskan teh dan kue yang dihidangkan oleh umma sebelum berangkat pergi. “Umma, aku berangkat,” sahutku. “Hati-hati!” jawab umma dari dalam.

~~~

“Maaf, pemilik sebelumnya sudah pindah sejak bulan lalu,” kata seorang wanita yang membukakan pintu. “Apakah anda tahu kemana dia pindah?” tanya Donghwa berharap. “Ah, maaf, aku tidak tahu,” jawab wanita itu, menyesal. Kami menghela nafas bersamaan. “Baiklah, terima kasih,” kata Donghwa, membungkuk. Wanita itu menutup pintu rumahnya.

Kami berjalan tanpa tahu tujuan. “Bagaimana sekarang?” tanya Donghae. Aku menggeleng, tidak tahu. “Bagaimana kalau kita tanyai tetangganya saja, mungkin ada yang pernah melihatnya?” ajak Donghwa.. Aku dan Donghae saling menatap. “Baiklah,” kata kami akhirnya.

Akhirnya kami mengetuk setiap pintu di daerah itu dan menanyakan apakah mereka mengenal Han Yoona. Aku mencoba menyebutkan deskripsi dirinya serinci mungkin, tapi tetap saja tidak ada yang mengenalnya.

“Oppa, mau sampai kapan kita seperti ini?” kataku, bersandar kepundaknya. “Tanganku sudah lecet dari tadi mengetuk pintu,” keluhku. “Lagipula, aku lapar,” aku memegangi perutku. “Ahaha, baiklah, kita makan siang dulu,” Donghwa mengacak-acak rambutku. Aku merasa Donghae menatap kami. Ada yang aneh dalam pandangannya. Dan aku tidak mengerti apa itu.

Kami masuk ke dalam cafe dan memesan makanan. “Apakah kamu masih menyimpan nomor Yoona yang dulu?” tanya Donghwa, ketika kami sedang menunggu pesanan. Aish, bahkan saat makan dia tidak bisa melupakan Saeri. “Ne, aku menyimpannya oppa, tapi tidak bisa dihubungi,” jawabku. Donghae memutar-mutar pulpen ditangannya, bosan. “Setelah ini, apa yang akan kita lakukan?” katanya.

“Aish! Yoona! Saeri! Dimana kalian sekarang?!” pekik Donghae frustasi. Beberapa pengunjung memandang kami heran. “Oppa,” kataku, malu. Aku merasa seorang pelayan kafe memandang ke arah kami.

Akhirnya makanan kami datang. Pelayan kafe itu masih memandang kami. Ketika kami makan, pelayan kafe itu tetap memandang kami. Aku merasa tidak enak dengan pandangannya. Apakah ada yang salah dari kami?

Tiba-tiba pelayan kafe itu datang mendekat. “Maaf,” katanya. “Ya?” sahut Donghwa. Donghae membuang muka, takut wajahnya terlihat. “Apakah Yoona yang kalian cari adalah Han Yoona? Yang dulu sempat tinggal disini?” tanyanya. “Iya!” sahut Donghwa cepat. Wajahnya langsung berubah ceria. “Apa kau tahu dimana dia sekarang?” tanya Donghwa, berharap. Pelayan kafe itu mengangguk.

“Aku tidak tahu dimana dia tinggal, tapi dia bekerja di toko CD di pertokoan Apgeujong,” jawab pelayan kafe itu. Donghwa segera mencatat alamat yang diberikan oleh pelayan kafe itu. “Kamsahamnida,” kata Donghwa sungguh-sungguh. Dia membungkuk. “Cheonmaneyo,” balas pelayan kafe itu. dia segera kembali bekerja.

“Apakah kita akan pergi ke toko CD itu sekarang?” tanyaku setelah kami selesai makan. “Ah, kau capek ya, Heechie?” tanya Donghwa. Aku menggeleng. “Tidak kok, oppa,” jawabku. “Kita sudahi saja pencarian hari ini, kau ingin pergi ke suatu tempat Heechie?” tanya Donghwa. “Donghae, kemana sebaiknya kita menghabiskan minggu sore ini?” Donghwa menatap adiknya yang menjadi pendiam selama pencarian.

“Kita pergi ke taman saja,” jawab Donghae. “Ide bagus, kamu mau ke taman, Heechie?” tanya Donghwa. Aku mengangguk. Kemanapun asal bersamamu, oppa.

Akhirnya kami ke taman. Tapi suasana diantara kami benar-benar canggung. Donghwa hanya diam. Sepertinya dia masih memikirkan Saeri. Donghae juga hanya diam. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Kami duduk disebuah bangku panjang di taman. Donghwa duduk disebelah kananku dan Donghae disebelah kiriku. Aku merasa tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Kenapa mereka berdua? Apakah mereka mengajakku ke taman untuk mengacuhkan aku?

“Ah, aku belikan es krim ya? Oppa, aku akan membelikanmu es krim mint kesukaanmu,” kataku sambil berdiri. Donghwa menatapku, lalu tersenyum. “Gomawo,” katanya mengangguk. “Donghae-oppa, kamu mau rasa apa?” kemudian aku menoleh ke arah Donghae dan bertanya. Dia menatapku sejenak. “Strawberry,” jawabnya singkat. Apakah dia kelelahan? Pikirku, heran.

Aku berjalan menuju toko es krim. “Satu es krim mint, satu es krim strawberry, dan satu es krim blueberry, tolong tunggu sebentar,” kata pelayan toko itu. Aku mengangguk.

“Bagaimana kau akan membawanya?” tanya seseorang dari belakangku. “Punya Donghwa-oppa di tangan kananku dan punya Donghae-oppa ditangan kiriku,” jawabku sambil tersenyum. “Lalu punyamu?” tanyanya lagi. “Eh, aku,” aku tidak bisa menjawabnya. “Pabo! Harusnya kamu minta tolong,” katanya sambil menggetok kepalaku pelan. “Uwh,” aku menatapnya, cemberut.

(to be continued)

by : Ra

17 Comments (+add yours?)

  1. MayyaSong
    Jan 16, 2010 @ 17:26:31

    wah.,. sapa itu? sapa? dong hwa ya? *sotoy*

    dong hae .. maw dong eskrimnya.. *tunjuk2 es krim stroberii*

    Reply

  2. A Lin
    Jan 16, 2010 @ 17:56:39

    Hwaaaaa seru.Lanjooot!

    Reply

  3. thand Wonnie
    Jan 16, 2010 @ 18:07:30

    Donghae pasti suka am heechie kan ?
    Trus..trus yg tadi mau ngebantu heechie bwa ice krim pasti donghae juga .. *asal nebak.. Hehe*
    Waah ..
    Saia suka .. Saia suka..

    Reply

  4. minheecho
    Jan 16, 2010 @ 18:44:48

    heechie imnida a.k.a Ra^^

    hah, nggak nyangka nih ff di post juga,,, gyahaha~~~
    makasih ya ELF4SUJU^^

    sebelumnya, aku mau curhat gaje,,,
    ini kejadian asli lho, aku jadiin ff,
    jadi saeri (temenku) beneran kabur dari rumah
    n donghwa (sunbae ku di taekwondo) beneran dateng nemuin ku,
    dulu aku suka ma tuh sunbae, tapi sekarang udah biasa sih,,,
    trus cerita2 laennya kukarang2 sendiri deh, hehe^^

    gomawo all, komennya^^

    Reply

  5. christi♥donghae
    Jan 17, 2010 @ 00:15:33

    D0nghae…d0nghae…d0nghae…
    Kyaaa.. Ngebayangin d0nghae pzen es krim rsa str0beri jd pgen..

    Reply

  6. rebecca
    Jan 17, 2010 @ 00:20:13

    cinta segitiga… bner tidak?

    Reply

  7. Dewi-ssi 'yoomin' luph d0nghae
    Jan 17, 2010 @ 01:12:34

    Spa t yg d blkg heechie? Donghae ya??
    Kyak’a bklan ad cnta segi3 neh..
    *s0toy*
    raaaa…lnjut yo! *sksd k ra* ^^

    Reply

  8. putri
    Jan 17, 2010 @ 03:40:30

    lanjot lanjot lanjot,,mao iktan maen tebak2an? kyk na sama kyx yang laen,,donghae suka heechie,,trus yg bantu heechie donghae,,hehehe

    Reply

  9. Ami_cutie
    Jan 17, 2010 @ 03:59:05

    ayo lanjutkan…penasaran…

    Reply

  10. kelteuk 'sangmi'
    Jan 17, 2010 @ 06:42:42

    Ra…aku mau es krim coklat.

    Reply

  11. icha_leeteuk
    Jan 17, 2010 @ 07:29:02

    ouw..
    bru sdar ni ffx Ra..*babo!*

    Ra syg..
    ako bca dulu y..
    ntar mlm bru kmen ato g bsok..
    hahaha*dbejek!*

    Reply

  12. Shinta (NtaKyung)
    Jan 17, 2010 @ 09:01:05

    Uch….. Hae, mau es krim nya dunk…..^_^
    hehehehehe…….^^
    Lanjut yah….^^ dengan kekuatan turbo….^^
    hehehehe…..

    Reply

  13. minheecho
    Jan 17, 2010 @ 10:09:31

    k kel, knapa jdi psen es krim k aku? Da yang mw psen lg? Biar skalian aja, gyahahaha~~~
    K icha, kutunggu yah, komennya^^ hehehe,,,
    Yang maen tebak2an, smangat yoo, nebaknya,,,
    Gyahahaha

    Reply

  14. icha_leeteuk
    Jan 18, 2010 @ 02:28:31

    setelah bca ulang ampe 3x..
    emmm..
    apa y?
    apa krn bru part1 jd knflikx blum t’lalu klytan..*tp ako bsa nebak,ni psti cnta sgi4*
    ju2r prtma x bca, bner2 g nyangka klo ni ff bwtan ra..
    krn yg aq tw.. d ffmu it ad suatu ‘cri khas’/’taste’ yg bgtu skali q bca q lgsg tw klo it ff bwtan ra..
    n aq g nemuin ‘ciri khas/tastemu’ it d ff ini*apa krn msh part 1?*
    ako g blg ffmu jlek,ffx ckup bguz koq
    cma ako ykin ra pzti bsa bwt ff ni ‘lebih’ koq, hwaiting!

    Reply

  15. icha_leeteuk
    Jan 18, 2010 @ 02:41:13

    mian y klo kmenq bkin ra trsinggung..
    *aq tkut kya kmren, ffx org q kritik, authorx lgsg pundung*

    sbnrx ad lg yg pngn q kmen, lbih tpatx ksh saran*yg bgian prckapan antra donghae,donghwa,ma heechi*
    tp g jd d *tkut dblg crwet* XD
    oia, no misstyped,
    bguz2..
    mian lgi,klo kmenq beda dri reader2 yg laen..
    kbiasaan ngsih kritik ma sran.. jdx gini d..
    hehehe ^.^v

    Reply

  16. minheecho
    Jan 18, 2010 @ 09:21:09

    ah~~~
    k icha,,,
    aku mah selalu nerima saran,,
    omongin aja,
    kali aja bisa kuperbaiki,,,
    masa sih, ff-ku punya “taste”?
    seneng deh dibilang gitu,
    mank apa taste nya?
    k icha,,,
    sranghaeyo *peluk2 k icha*
    aku nggak mungkin marah n tersinggung kok^^

    Reply

  17. yoorin92
    Jan 18, 2010 @ 09:28:15

    Annyong Ra^^
    Oia, FF yg pernah kujanjiin ma kamu, tuh udah dalam proses lho *penting gag c infonya, hwakakak ;)*
    Tp mau nanya dulu, nama koreany dirimu sapa?? Min Hee Cho??
    Hopefully, Q bisa nyelesain secepatnya, bareng ma punya A Lin, hehe 🙂

    Sekarang komennya :
    Ada taste-nya, Ra, pedes manis gimana gitu *langsung dicekek ma Ra, hwakakak*
    Q setuju ma icha_leeteuk unnie, berasa gimana gitu waktu baca FF ni
    Gag nyangka kalo ini punya Ra >.<
    Bagus sih, tapi gimana gitu *komen gaje, ckakakak*

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: