Twins, Enemy and Love ~Part 1~

‘Aku berjalan menyusuri jalanan sepi nan asri ini sambil mendorong sepeda bututku. hanya begambarkan taman dan penuh di kelilingi dengan pepohonan. Aku masih berjalan sambil merenungi nasibku. Kakiku berhenti di sebuah tempat pemberhentian Bus. Berlahan ku gapai tempat duduk itu. Ku rebahkan tubuh mungilku di tempat duduk yang kokoh ini. ku pandangi ke arah depan, hanya jalanan yang sunyi tanpa ada seekor kendaraan pun yang menghiasinya. Di seberang jalan hanya ada sebuah taman yang ditumbuhi bunga-bunga bak pelangi berwarna-warni. Ku pejamkan mata, gelap. Alam mimpi sedang menggodaku untuk mengikutinya’

Ruangan mulai gelap, hanya di terangi warna senja yang di pantulkan dari jendela. Tirai-tirai berlari-lari, ingin bermain dengan angin senja itu. Seorang gadis masih terlelap masih dengan berpakaian acak-acakan dan masih lengkap menggunakan jas putihnya. Wajah lelahnya masih terlihat jelas.
Berlahan-lahan wajahnya berkerut. Dan tiba-tiba mencoba membuka mata berlahan. Ia menarik tangan kirinya yang terasa berat. Dan tangan itu seperti enggan tertarik. Ia tersentak! Tangannya bukan enggan di tarik. Tetapi seseorang sedang menggenggamnya dan tak ingin melepaskannya.
Sekuat tenaga Ia menarik dan beranjak bangun dari tempat tidurnya.
“SIAPA KAMU??” Gadis itu tidak dapat melihat wajahnya karena senja yang mulai menggelap.
Dia hanya bangun dengan berlahan dan mencoba berjalan ke arah gadis itu. Tirai jendela yang menari-nari membuat cahaya senja berkelap-kelip memasuki ruangan itu. Saat Ia berjalan, dan sekerlip senja menyentuh wajahnya. Terlihatlah orang yang sedang berjalan menujunya.
“KAMU????????” gadis itu langsung menuju kearah lampu. Dan menghidupkannya. “JANGAN MENDEKAT!!” Gadis itu tersentak. Dia mengenal lelaki itu.
Gadis itu berlahan mundur menuju pintu. Dan itu ternyata sia-sia. Lelaki yang Ia kenal itu telah berhasil mendekat dan menggenggam tangannya dan menguatkannya. Gadis itu mengernyit, menahan sakit.
“SAKIT!!!” sang Gadis meronta ronta. Dan lelaki itu hanya tersenyum penuh kemenangan.
“Aku lebih sakit” akhirnya lelaki itu bersuara dengan mengucapkan kalimat itu datar sekali.
“LEPASKAN!!!!” gadis itu menginjak kaki lelaki itu dengan kekuatan ekstra. Seketika genggaman lelaki itu terlepas karena kesakitan. Gadis itu secepat kilat berlari dari ruangan itu. Berlari-berlari~~ saat Ia berlari sesekali Ia mengusapkan air matanya yang menetes.
—-
Pundaknya terasa berat. Berlahan Ia membuka mata.ada seorang lelaki sedang memegang pundaknya sambil berdiri di hadapannya dan memandang ke arahnya.
“GYAAAAAAAAA~~~~~~~” gadis itu berteriak
“GYAAAAAAAAAA~~~~” lelaki itu juga berteriak.
Gadis itu menolak lelaki itu dengan kekuatan penuh. Lelaki itu tersungkur, menindih sebuah sepeda yang tepat terparkir di belakangnya. Gadis itu berlari menjauh. Berlari-berlari. Dan terus berlari.
——
“Vie~” sebutan mungil untuknya
Gadis itu masih terlelap di meja kerjanya lengkap dengan alat yang sudah menjadi sahabatnya selama Ia mendapatkan gelar berjas putih. Matanya sedikit bergerak, menandakan Ia mendengarkan panggilan itu.
“Vie Ing, bangun. Hari sudah mulai gelap. Kamu pasti lelah. Aku antar pulang?”
Gadis itu menggerakkan badan. Mulai mencoba membuka mata. Berlahan Ia bangun. Dan menghentakkan kedua tangannya ke langit.
“Iya” kata-katanya akhirnya keluar.
Dia melihat keliling seperti mencari sesuatu “Apa? Tidak ada pasien lagi Boram?”
“Tidak. Aku yang sudah membuat di pengumuman di pintu masuk. Praktekmu hanya sampai pukul 6 sore” Kata Gadis yang Ia panggil Boram.
“Apa? Jangan begitu. Kita bekerja untuk manusia Boram, ini bukan hal yang main-main.” Kata Vie pada Boram yang dari tadi hanya merapikan tempat tidur Check Up.
“Ya, bukan main-main Dokter Vie”
“Sudah ku katakan jangan panggil aku Dokter, Boram”
“Kau aneh sekali, Kau sangat mencintai pekerjaanmu ini. Tapi kamu tak mau mengakui gelar itu” Boram mulai menghitung kasa dan merapikkannya.
“Sudahlah, aku tidak suka gelar itu. Walau kenyataanya aku seorang Dokter. Tapi aku tidak mau menyematkan itu. Aku hanya ingin membantu semua orang”
“Baiklah, terserah dirimu Vie. Gadis baik-baik tidak pernah bermalam di jalan” Boram sepertinya sudah menyelesaikan pekerjaanya sebagai assisten dari seorang Dokter Vie.
“Pekerjaanku selesai Vie. Aku pulang dahulu. Sampai Jumpa besok Dokter Vie” Wajah Boram seperti menggoda Vie karena menyebutnya ‘Dokter’
“Boooorraaaammm… KAU AKAN KUPECAT!!!!” Vie berteriak karena Boram telah melangkah keluar dari Ruangan yang mungil ini.
Vie melepaskan Jas putihnya. Ia menggantungkannya ke gantungan yang tepat di belakang kursi kerjanya menghadap jendela. Ia tutup jendela dan menutup tirai agar tak terlambai-lambai oleh tiupan angin. Vie mengambil ransel. Mengambil stetoskop dan tensimeter raksa dan memasukkannya ke ranselnya. Mengeluarkan kotak P3K nya. Melihat kelengkapannya. Sedikit berekspresi seperti memikirkan sesuatu. Ia mulai bergerak ke arah lemari yang tepat berada di kanan ruangan ini. dan memilah beberapa jenis obat dan memasukkanya ke kotak P3Knya. Setelah itu memasukkanya lagi ke dalam ranselnya. Ia mengenakan ransel dan berjalan keluar. Ia melepaskan sandal jepitnya, menggantikan dengan sepatu kets yang Ia letakkan di Luar. Dia menutup pintu dan menguncikanya sambil tersenyum. Mengambil sebuah topi rajutan, sarung tangan dan kaca mata lalu memakainya. Berjalan ke arah samping, tepatnya mengambil sepeda bututnya dan segera pulang.
‘Boram, ya aku sangat mencintai pekerjaan ini. tetapi kata-kata Dokter itu sangat menyiksaku. Jika seandainya aku tidak cinta dengan pekerjaan ini, sudah pasti aku akan tidak menjadi dokter sama sekali. Baik di nama atau di perkerjaan yang ku jalani. Pasti aku akan hidup menjadi gadis biasa saja’
Vie mengayuh sepedanya. Sepeda baru. Ya sepeda yang sebelum ini telah Ia tinggalkan di Halte Bus waktu itu.
Hari memang sudah menampakkan kelelahannya dengan merona hitam dimana-mana. Dia singgah di sebuah mini market. Sepertinya ingin membeli sesuatu.
“Annyong Dokter, ada yang bisa saya bantu carikan” kata sang pemilik toko pada Vie saat menujukkan sepenggal kepalanya ke dalam toko.
“Anii.. jangan panggil aku Dokter Ahjumma. Aku sedang tidak memakai jas putihku” kata Vie yang sebenarnya tidak menyukai semua orang mengenalnya dengan sebutan itu.
“Oh iya, maaf.. bukannya dari dulu kamu tak ingin di panggil Dokter yah?” Kata bibi berperawakan tua itu terhadapnya sambil tertawa kecil.
Vie hanya tersenyum dan menuju sebuah kulkas besar di sudut ruangan. Membuka kulkas itu dan mengambil sebuah botol susu tak bermerek. Dan membawanya ke arah Bibi yang sudah menunggu di kasir.
“Beli susu lagi? Mulai sekarang anakku minum ini juga loh. Biar besar bisa jadi Dokter sepertimu” kata Bibi itu sambil tersenyum.
Vie tidak membalas. ‘Andai Bibi tahu aku tidak menginginkan gelar ini’
“Kamsahamnida” Vie menerima kembalian uang dari Bibi itu dan mulai bergerak ingin segera keluar dari minimarket itu.
“Nak tunggu!!” Bibi itu memanggilnya
“De?” Vie membalik lagi karena panggilan itu
“Bagaimana jika mulai besok aku akan menyuruh pengantar Susu mengantarkannya kerumahmu?”
Vie tersenyum ‘Betapa bodohnya kamu Vie! Memang tak ada Dokter sebodohmu di dunia ini’
“Ide bagus ahjumma!” Vie hanya tersenyum dan menerima tawaran Bibi itu.
Tepat di depan pintu mini market. Vie berhenti karena sedang membuka tutup botol susunya. Saat Ia menolak gagang pintu. Dari arah berlawanan seseorang menarik ke arah yang bersesuaian. Vie berpapasan dengan seseorang. Vie tersentak.
“GYAAAAAAAAAAA~~~~~~~~” Vie menolak lelaki yang tepat di depannya dan meraih sepedanya dan mengayuhnya secepat mungkin. Terlihat Ia pontang panting tak ada tujuan. Yang benar-benar ingin pergi dari tempat itu.
“Gadis yang aneh” lelaki itu berucap.
“Dia kenapa?”
“HUAAA~” lelaki itu berteriak setelah menoleh kesebelahnya. Bibi kasir sekarang tepat berada di sebelahnya.
“Ahjumma, kau membuatku kaget!” lelaki itu memegang jantungnya dan mengernyit.
“Kaget? Aku hanya ingin melihatnya, mengapa Ia berteriak” kata Bibi sambil melihat kearah jalan depan. Dimana Vie sudah tak terlihat lagi.
“Oh iya Ahjumma, aku kesini mengambil tagihan!” kata lelaki itu penuh senyum.
“Kamu!” Bibi itu memukul kepala lelaki itu. “ Diotakmu selalu uang. Ayo masuk!”
Mereka pun masuk ke minimarket. Bibi kasir telah mengeluarkan sebuah amplop yang mereka sebut-sebut tadi. “Ini. Oh iya, ini satu alamat lagi menunggu Susu segarmu” senyum tersungging di Bibi kasir.
“AHA~~ KAMSAHAMNIDA~” Lelaki itu senang bukan kepalang, seperti mendapatkan doorprice sebuah mobil mewah saja.

13 Comments (+add yours?)

  1. A Lin
    Jan 30, 2010 @ 00:25:45

    Yg nganter susu ke rmh Ka Vie co itu kan?Gw tebak,tu co pasti koko Geng gw?Bener kan?Yuhui,koko gw emang laris hr ne.Wkwkwkwk . . .

    Reply

  2. ami_cutie
    Jan 30, 2010 @ 01:00:02

    ff yg bagus kak chi…
    lanjutkan!

    Reply

  3. Kelteuk
    Jan 30, 2010 @ 01:32:46

    ini nih ff yg drkmrn suruh gw publish.
    Ud setaon di draft.hahaha
    Makany chi…kalo bikin ff jgn lupa judulny.

    Reply

    • yoorin92
      Jan 31, 2010 @ 11:52:40

      Annyong^^
      Mungkin ini pertanda dari yg di atas kalo Unnie Chi udah bertambah usia *pikun maksudnya* *langsung ditendang ampe Pluto ama Unnie Chi, hwakakak ;)*
      Aiio lanjut,

      Reply

  4. putri
    Jan 30, 2010 @ 02:31:54

    lanjott,,,^__^

    Reply

  5. luvnez
    Jan 30, 2010 @ 03:27:50

    test…. test…
    mnpang ngetes y…
    wkwkkwkwkwwk… *d tendang k got*

    Reply

  6. minheecho
    Jan 30, 2010 @ 06:50:19

    chi-onnie,
    kok aku nggak ngerti maksudnya ya?
    oke, ini masih part 1, mungkin part slanjutnya aku lebih ngerti,,
    k chi, lanjut yoo~~

    Reply

  7. Shinta (NtaKyung)
    Jan 30, 2010 @ 06:54:54

    Pnsaran nich……
    Lanjut dech…….^^

    Reply

  8. thand won2
    Jan 30, 2010 @ 10:48:12

    Om gang2 nganterin susu yaak ?
    Waaah !
    *mata berbinar2*

    Reply

  9. Abbie
    Jan 30, 2010 @ 12:35:13

    G ngerti.he5x.mianhe author. Apa prologx wkt dia mimpi itu kilasan ms dpn yah? Tlng dijwb

    Reply

  10. ciiciiminie
    Jan 31, 2010 @ 03:06:00

    bagus banget ni FF.
    lanjutkan !!

    Reply

  11. Trackback: Twins, Enemy and Love ~Part 2~ « Looking for a Super Fiction ?
  12. ludwig
    Jun 16, 2011 @ 09:42:33

    ninggalin jejak dulu

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: