Save Me…. Part 2

Pukul 3 sore, Hee Gi sudah sampai di depan panti asuhannya. Dia habis pergi bersama Min Mi dan Sung Gi. Setelah Hee Gi menutup pintu pagar, dia melihat beberapa anak kecil yang ada di panti asuhan sedang bermain dengan asiknya. Hee Gi tersenyum karena sudah terbiasa melihat keadaan seperti itu. Dari kejauhan, Hee Gi melihat wanita paruh baya sedang duduk di bangku taman sedang membacakan cerita kepada anak asuhannya. Hee Gi berjalan ke arah wanita itu.

“Dan dengan mulutnya yang besar dan penuh dengan gigi-gigi tajam, nenek itu ditelan sampai habis oleh serigala itu. ’Hmmm, kenyang sekali. Perutku serasa ingin meledak’, kata serigala tersebut setelah memakan nenek tua itu.”

Anak-anak kecil itupun meringis ketakutan. Ada juga yang anak laki-laki mencoba menggodai anak perempuan yang ketakutan mendengar cerita tersebut.

“Amma, aku tidak mau mendengarkan lagi. Aku takut,” kata anak perempuan kecil itu hampir menangis.

“Ah, kau baru cerita gitu saja sudah ketakutan. Aku saja tidak takut!”

“Apa benar kau tidak takut?” suara Hee Gi berbisik di telinga anak laki-laki itu yang sengaja diberatkan.

“Hwaaaaaa, onnie kau membuatku kaget!!” teriak anak kecil itu lalu bangkit dari duduknya.

Hee Gi dan anak-anak kecil lainnya tertawa puas karena temanya lari ketakutan.

“Anyyeonghasseo semua!!”

Hee Gi menyapa anak-anak kecil yang sedang duduk.

“Anyyeonghasseo onnie!!” teriak anak-anak tersebut.

“Anak-anakku, besok amma akan bercerita lagi. Kalian boleh bermain bersama teman-teman yang lainnya. Hati-hati jangan sampai bertengkar ya,” amanat wanita setengah baya itu.

“Iya amma!!” serentak anak-anak itu menjawab lalu berdiri dan meninggalkan mereka berdua.

Hee Gi tersenyum lalu duduk di sebelah wanita itu.

“Amma, tadi kau bercerita apa kepada mereka?” tanya Hee Gi pada wanita yang dipanggilnya amma itu.

“Aku tadi bercerita tentang gadis berkerudung merah. Mereka sangat antusias sekali mendengarkan ceritaku,” wanita itu tertawa.

“Haha, untung kau berjanji kepada mereka untuk bercerita lagi. Kebetulan tadi aku ke toko buku membeli beberapa buku cerita. Anak-anak pasti tertarik.”

Hee Gi membuka tas selempangnya dan mengeluarkan beberapa buku cerita yang dibelinya dan memberikannya kepada wanita itu.

“Wah, sepertinya menarik. Lebih baik kau saja yang bercerita didepan mereka.”

“Mengapa aku amma? Aku tidak bisa bercerita dihadapan mereka.”

Hae Tan tertawa kemudian mengelus-elus rambut anak asuhannya yang dia sayangi.

“Bercerita di depan mereka masa kau tidak mau. Tetapi jika kau bercerita di depanku sudah seperti tersambar petir saja.”

“Ah, amma saja lah.Ya ya..” Hee Gi memohon.

Tiba-tiba saja terbesit ide bagus dalam pikiran Hae Tan.

“Ah, mengapa kau tidak mengajak kyuhyun saja. Dia kan pintar sekali jika bercerita.”

“Oh iya ya amma, aku tidak kepikiran. Iya ya dia kan pintar ngomong. Nanti akan ku telfon dia besok untuk datang kesini.”

“Iya. Sepertinya aku rindu dengannya sudah lama dia tidak main kesini.”

“Amma merindukannya? Ah, malah aku bosan bertemu dengannya hampir setiap hari.”

“Hahaha, kau ini memang masih anak kecil. Oh iya, lebih baik kau simpan saja buku ini besok baru kau kasih ke kyuhyun untuk bercerita. Aku mau mempersiapkan makan malam dulu untuk kalian,” Hae Tan sambil menyodorkan buku itu ke Hee Gi.

“Baiklah. Aku ikut membantu amma!”

………

Malam hari di kamar Hee Gi.

“Yeobseo?” suara laki-laki dari seberang.

“Yeobseo. Kyu, ini aku Hee Gi.”

“Ya ada apa? Tumben kau menelfonku. Terakhir kali kau menefon aku saat kau tidak ada teman balik.”

“Ingat sekali kau padahal kejadiannya sudah lumayan lama. Kyu kau dimana sekarang?”

“Oh aku sedang ada di dalam bis.”

Hee Gi melihat jam dinding yang tergantung menunjukkan pukul 7.30 malam.

“Akhirnya kau dapat bis juga. Memangnya kau habis darimana?”

“Aku habis belanja dari supermarket membeli sayur dan perlengkapan lainnya. Berat sekali!”

“Hahaha, bukannya kau kemarin bilang pada saat membawa barang belanjaanku kau mengatakan ‘yah lumayan sekalian aku membesarkan otot-otot tanganku’. Sekarang kau mengeluh. Dasar kau ini. Apa kau belum makan malam? Memangnya kau belanja sendirian tidak bersama Hee Gyun?”

“Kau ini masih ingat saja perkataanku. Belum, soalnya bahan makanan di rumahku habis total jadi aku terpaksa menahan perutku yang sudah berteriak-teriak daritadi sedangkan si Hee Gyun mungkin sudah pulang kuliah,” kata kyu sambil mengelus-eluskan perutnya di dalam bis.

“Aduh, kasihan sekali sahabatku ini. Hahaha…”

“Kau kebanyakan tertawa membuat perutku semakin sakit.”

“Mian kyu. Oh iya, apa kau besok sore ada acara? Aku perlu bantuanmu.”

“Aku besok dari tempat kerja pulangnya sekitar jam 3 sore. Memangnya kenapa?”

“Bisakah kau sehabis pulang kerja langsung ke panti asuhan?”

“Loh, memangnya kenapa? Sebenarnya kau ini ingin meminta bantuanku untuk apa?” Kyu ber fikir sebentar. Oh, aku tahu maksudmu,” kyu tersenyum jahil.

“Tahu maksudku seperti apa?” Hee Gi penasaran.

“Seperti biasa aku disuruh untuk membacakan cerita kepada anak-anak karena kau seperti biasa juga malu untuk bercerita dihadapan mereka. Iya kan?”

“Yup, itulah maksudku. Haha, tolong aku ya kyu. Besok ku tunggu kau disini. Aku sudah menyiapkan buku ceritannya jadi kau tinggal memperagakan apa yang ada didalamnya.”

“Huh, dasar bodoh. Baiklah aku akan kesana sehabis pulang kerja.”

“Ah, terima kasih kyu kau banyak menolongku.”

“Sama-sama. Hee Gi, kelihatannya sebentar lagi aku akan segera turun. Aku mau siap-siap dulu ya.”

“Oh, baiklah. Hati-hati kyu pada saat turun. Bye…”

“Bye..”

“Akhirnya kyu mau juga. Ahahahaha….” Hee Gi tertawa di atas sofa.

……….

“Hoaaaaaammmmm…… jam berapa sekarang ini? Sepertinya aku bangun lebih awal.”

Ia melihat meja di sebelah tempat tidurnya.

“Jam 5.15, ga salah aku bangun jam segitu? Apa aku saking semangatnya untuk bertemu gadis itu? Heheheh… Lebih baik aku cuci muka dan menggosok gigi dahulu sambil menunggu gadis itu.”

15 menit kemudian.

“Hai bibi, selamat pagi!”

Bibi yang sedang menyapu halaman itu kaget mendengar salah satu penghuni apartemennya bangun pagi.

“Donghae, kau ini membuatku kaget saja. Untung aku tidak punya serangan jantung.”

Donghae tersenyum lalu menghampiri bibi itu.

“Baru kali ini aku melihat kau bangun sepagi ini. Apakah kau baik-baik saja?” kata bibi itu sambil memegang jidad donghae dan menepuk pipi donghae.

“Ah bibi, aku baik-baik saja. Badanku tidak panas kan? Hahaha…”

Bibi itu mengacak-acak rambut donghae.

“Dari 9 anak muda yang tinggal di apartemenku, hanya kau seorang anak muda yang bangun paling pagi.”

“Ah bibi, rambutku jadi kusut nihh. Kalau bibi tahu, dari lantai 2 aku selalu melihat bibi setiap pagi menyapu halaman. Aku selalu bangun jam segini,” kata donghae menunjukkan jendela apartemennya diikuti wanita itu.

“Mengapa kau hanya melihatku dari atas sana? Bukannya membantuku menyapu. Dasar anak muda jaman sekarang susah sekali diaturnya. Sejak kapan kau memperhatikan ku dari atas?”

Donghae tersenyum jahil.

“Yee, selain bibi yang aku perhatikan, ada juga yang aku perhatikan setiap pagi.”

“Hah? Laki-laki atau perempuan? Dia berada di lingkungan sisi atau dari mana?”

Donghae melihat jam tangannya. Sudah pukul 5.35. Donghae lari meninggalkan bibi itu yang masih menunggu jawaban Donghae. Saat Donghae sampai di pintu gerbang, dia menoleh ke belakang lalu tersenyum ke bibinya dan memberi isyarat dengan kedua telunjuknya mengarak ke pintu gerbang. Sepertinya bibi itu tahu apa yang diisyaratkan Donghae. Setelah memberi isyarat ke bibinya, donghae mengenggam gagang pintu gemetaran. Jantungnya berdegup kencang sehinga dia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk berhadapan dengan gadis itu. Donghae mencoba menarik nafas dan menghembuskannya lewat mulut. Donghae telah membuka pintu gerbang. Pada saat sudah diluar pintu, dia tidak melihat gadis itu. Donghae berjalan ke tengah jalan dan melihat kanan kiri jalan kosong tidak ada kendaraan yang lewat.

“Oh tuhan, apakah gadis itu sudah lewat? Aku ingin sekali bertemu dengannya setelah menunggu penantian waktu yang tepat!!”

Pukul 5.40. Donghae melihat kanan kiri jalan lagi. Saat dia menoleh ke arah kiri jalan, dari kejauhan terlihat seseorang mengayuh sepeda dengan membawa koran di keranjang depan dan di keranjang belakangnya terdapat botol susu. ‘Akhirnya dia datang. Terima kasih tuhan!!’ teriak Donghae dalam hati. Tanpa mengalihkan pandangan, pandangan Donghae tetap tertuju ke gadis bersepeda itu sampai gadis itu berhenti di pintu gerbang apartemennya. Gadis itu menstandarkan sepedanya lalu tersenyum ke donghae yang masih diam di tempat.

“Annyeong!” salam gadis itu sambil membungkuk ke arah Donghae.

“Ah, an annyeong!” donghae yang sudah kembali sadar membungkukkkan badannya.

“Mian, aku pengantar koran dan susu untuk hari ini.”

“O-oh, iya silahkan,” donghae mempersilahkan gadis itu untuk mengambil botol yang kosong lalu ditukarkan dengan botol yang berisi susu.

Dari arah pintu gerbang, keluarlah bibi yang mempunyai apartemen itu dengan membawa beberapa uang.

“Hee Gi anyeonghasseo!”

“Annyeong bibi,” Hee Gi membungkukkan badannya.

‘Jadi namanya Hee Gi? Unik sekali,’ kata donghae dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri. Bibi itu memperhatikan sikap Donghae yang aneh pagi ini, tetapi dia tahu apa arti dari sikap itu.

“Donghae, mengapa kau tersenyum-senyum sendiri?”

Hee Gi ikut menoleh ke arah donghae. Donghae langsung memakai earphone lalu mengaktifkan ipodnya.

“Bibi, aku mau olahraga dulu,” katanya langsung jogging.

“Huh, dasar anak aneh.”

“Aissssh, daripada aku dipermalukan bibi, mendingan aku pergi saja meskipun dengan berat hati meninggalkan gadis itu yang bernama Hee Gi. Tapi aku senang sudah dapat mengetahui namanya,” tiba-tiba donghae melompat di setiap gerakan joggingnya itu. Dari kejauhan, bibi dan Hee Gi tertawa melihat donghae yang loncat-loncatan seperti kelinci.

“Ngapain dia loncat-loncatan seperti itu? Apa itu yang dimaksud dengan olahraga? Dasar Donghae-donghae.”

“Apakah dia salah satu penghuni apartemenmu ?” tanya Hee Gi.

“Yah, salah satu anak muda laki-laki dari sembilan anak muda lainnya, aku lebih sayang kepadanya.”

“Oh, baru kali ini aku melihatnya.”

“Tapi dia sudah melihatmu beberapa kali ini,” kata bibi keceplosan.

“Melihatku?”

“Ah, ahahaha, aku hanya bercanda. Hahaha…” ‘Fiuhh, hampir saja ketahuan,’ bibi itu mengeluskan dadanya.

“Oh.” Hee Gi menjawab singkat tetapi masih bingung apa yang dikata bibi itu.

“Apa kau masih harus mengantarkan koran dan beberapa botol susu lagi kerumah-rumah?”

“Iya tinggal 3 rumah lagi. Mian bibi tadi aku telat datang. Aku hampir bangun kesiangan.”

“Ah, tidak apa-apa. Hati-hati dijalan Hee Gi.”

“Terima kasih bibi. Aku jalan dulu.”

………

Yaksokdwen shigani wassuhyo geudae ape issuhyo dooryuhwoome woolgo ijjiman, noon mooreul dakkajoouhssuhyo geuddae nae sonjabajjyo iruhnalguhya, hamkke haejoon geudae ege haengbogeul!” suara nyanyian Donghae yang menyanyikan lagu haengbok yang terdapat pada ipodnya. Donghae sambil tiduran dan memejamkan matanya di sebuah taman tak jauh dari apartemennya sambil menyanyi.

Juh, parangsaedeuri juhnhaejooneun haengbigiraneunguh. Neul woori gyuhte, gakkai inneunguhjyooo…ooooo!!!” lanjutnya menyanyi.

“Bagus juga suaramu.”

Donghae membuka mata dan dia melihat Hee Gi yang sedang berjongkok di sebelahnya tersenyum ke arah Donghae. Donghae mengucek-ucek matanya dan segera duduk. Donghae melepaskan dan mematikan ipodnya.

“Ka-kau mengagetkanku saja. Mengapa kau ada di sini?”

Hee Gi duduk di sebelah Donghae.

“Aku selalu istirahat di tempat ini jika aku telah selesai mengantarkan pesanan. Kau sudah selesai olahraga nya?”

“Yah lumayan,” jawab donghae yang tak mampu menatap Hee Gi.

“Tadi aku mendengar suaramu. Suaramu lumayan merdu. Lagu apa yang kau nyanyikan tadi?”

Donghae mencoba menatap gadis di sebelahnya.

“Haengbok. Padahal aku yang menyanyikan lagu itu terdengar seperti suara kaleng pecah,” donghae tersenyum.

“Hahaha, kau ini merendahkan diri sendiri. Kau tinggal di apartemen milik bibi itu?”

“Ya. Pasti tadi bibi sudah banyak bercerita tentangku ya?”

“Sepertinya tidak. Oh iya perkenalkan, namaku Min Hee Gi, kau bisa memanggilku Hee Gi,” Hee Gi mengulurkan tangannya.

“Namaku Lee Dong Hae, kau bisa memanggilku dengan Dong Hae saja,” dengan gugup, donghae membalas jabatan tangan Hee Gi.

“Senang berkenalan denganmu. Oh iya, kau pasti belum sarapan. Tadi aku diberikan bakpau hangat beserta susu dari klienku. Kita makan bersama saja,” Hee Gi beranjak menuju ke sepedanya.

Doghae yang tidak bisa berkata apa-apa hanya melihat Hee Gi menuju sepedanya. ‘Tuhan, terima kasih aku dipertemukan dengannya. Dia gadis yang sangat baik,’ kata donghae dalam hati. Tak lama kemudian, Hee Gi balik lagi ketempat donghae lalu duduk disebelahnya.

“Ini untukmu,” Hee Gi menyodorkan setengah bagian bakpau ke donghae.

“Terima kasih banyak.”

…….

To Be Continued..

(by dedep)

14 Comments (+add yours?)

  1. putri
    Feb 03, 2010 @ 11:31:46

    mao baca dolo

    Reply

  2. Abbie
    Feb 03, 2010 @ 11:42:06

    Bakpao bagi 3 dong.laper nih

    Reply

  3. Shinta (NtaKyung)
    Feb 03, 2010 @ 12:43:37

    Kya~~~~~~
    Enak nya bsa ngobrol dengan Donghae Oppa…..>o<
    Ayo lanjut…..^^b

    Reply

  4. Haemin love minnie
    Feb 03, 2010 @ 13:22:51

    Bakpao???…..nyam nyam nyam*ngebayangin ngunyah bakpao hangat pemberian Sungmin Oppa*

    Mau!!!
    author:mau ngobrol ma Donghae Oppa??
    Bukan!!Mau bakpaonya!!!*cacing diprutku pada main drum*

    Lanjutin ya….

    Reply

  5. christi♥donghae
    Feb 03, 2010 @ 13:24:47

    aku mau!!!!
    lapeeeeeeeeeerr..
    yoorin,, bagi makanan dunk*di gaplok yoorin*

    o yach…
    koq ada husby gw??
    mau di nyanyiin ma hae!!

    Reply

    • yoorin92
      Feb 03, 2010 @ 13:32:20

      Annyong^^
      Lha pas Hae ngelamar dirimu di belkang pohon jengkol waktu itu *mank di Korea ada phon jengkol, hwakakak ;)* dy kn nyanyiin Beautiful ma My Everything,
      So switt bgd mank tuh si Hae, jadi pengen dinyanyiin juga *ngelirik Minnie*
      Makanan? Tuh si Minnie baru masak bubur labu, mau??

      Reply

      • christi♥donghae
        Feb 03, 2010 @ 13:42:16

        bukan pohon jengkol..
        tapi pohon pisang yang ditanem eunhyuk…

        iy…
        aku ampe ampir pingsan..
        trakhir, dia ngelamar di pulau jeju…
        yang bnyak bunga ituch…
        *mimisan*

        hahahaha

  6. yoorin92
    Feb 03, 2010 @ 13:34:04

    Oia, aku belum ngomen >.<
    Sebenerny aku belum baca part 1-ny, mianhe, *langsung ngubrek2 library buat nyari part satunya*
    Komenny besok mnyusul iiap *puppy eyes mode on :)*

    Reply

  7. cii_miinie
    Feb 03, 2010 @ 14:54:00

    wahh .
    seru ni cerita.
    bakal ada cinta segitiga ya ??
    Lanjut.

    Reply

  8. pat.kyu.elf
    Feb 03, 2010 @ 15:13:18

    bagus bgt ffnya..
    annyeong..
    biasanya cuman jd silent reader..
    br skrg comment..
    hehe^^

    Reply

  9. Park Ah Ra
    Feb 03, 2010 @ 16:13:59

    aduh~~
    hae, hae, kalo suka mah nggak usah di sembunyiin,,,
    kok kamu lucu sih~~~
    lanjut ya,,,

    Reply

  10. Ami_cutie
    Feb 04, 2010 @ 03:36:40

    seru!!!!

    lanjutkan!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: