Listen to My Heart

“Aaaahh…!”

Seseorang berteriak, mengaduh kesakitan. Itu eomma, ia jatuh dari tangga! Appa segera menolong eomma dan waktu itu lantai penuh darah. Leeteuk menutupi mulutnya dengan tangan, ia takut.

“A… Anakku…” kata eomma lirih sambil memegangi perutnya yang tengah membuncit. Appa segera menyuruh Leeteuk untuk menelpon ambulans. Leeteuk mengangguk pelan, ia berlari dan mengambil gagang telepon di dekat sofa ruang keluarga. Ia memencet nomor rumah sakit dan segera meminta suster untuk mengirim ambulans…

***

“Bayi anda tidak apa-apa,” kata dokter itu. Appa dan eomma tersenyum lega.

“Tapi…” kata dokter itu terputus. Eomma menggenggam tangan appa dengan erat. Leeteuk menatap dokter itu penuh harap. ‘Jangan, kumohon jangan terjadi sesuatu dengan adikku…’ pikirnya.

“Kemungkinan besar bayi anda akan mengalami cacat… Hanya ada harapan 30% agar bayi itu sehat dan normal,” ucpa dokter itu penuh sesal. Air mata eomma tak tertahankan lagi. Leeteuk, ia masih kecil, tapi ia tau bagaimana perasaan eomma-nya. Ia mengelus rambut eomma.

“Cacat… Cacat maksud dokter?” tanya appa. Sang dokter hanya menghela nafas.

“Entahlah, yang jelas karena benturan tadi salah satu sistem syaraf dalam kandungan Nyonya Park menjadi rusak… Sampai saat ini kami belum mengetahui dengan pasti syaraf apakah yang rusak. Ah, saya permisi dulu… Saya harap Nyonya akan tegar menghadapi semua. Saya pamit,” jelas dokter itu sembari meninggalkan mereka bertiga yang hanyut dalam kesedihan.

15 tahun kemudian…

Inilah aku, Park Yeon Ah. Aku terlahir sebagai gadis bisu, tak bisa bicara. Aku mengalami ini semua karena eomma-ku terjatuh saat mengandungku. Beruntung aku mempunyai seorang kakak yang baik, namanya Park Jungsoo atau Leeteuk. Ia yang selalu menjagaku sejak aku masih kecil hingga sekarang. Ia kakak yang paling mengagumkan yang pernah kutemui. Ia selalu sabar menanyakanku ini dan itu, menyuapiku ketika makan, dan menghiburku ketika sakit. Sampai saat ini, dialah yang selalu membuatku tersenyum menghadapi semuanya. Bukan salahku ataupun eomma hingga aku jadi begini. Ini semua Tuhan yang punya rencana, aku hanya bisa menerima—pasrah—berdoa.

Aku tersenyum melihat foto keluarga kami (tanpa aku). Sedih sekali, eomma-ku menghembuskan nafas terakhir saat melahirkanku. Aku tak pernah mendapat belas kasihan dari seorang ibu. Ayahku selalu sibuk bekerja, bahkan terkadang ia tak pulang hingga seminggu. Yang ada di rumah ini adalah kakakku dan aku.

“Yeon Ah, sudah makan?” tanya Leeteuk tiba-tiba. Aku kaget setengah mati, lalu menggeleng.

“Makan, ya… Aku buatkan sesuatu, kau mau apa? Ramen?” tanyanya sambil melangkah menuju dapur. Aku menahannya, memegang pundaknya, lalu menggeleng.

“Tapi, kau harus makan…” ucapnya, mengerti isyaratku. Aku tetap menggeleng. Aku tak mau makan hari ini, entah kenapa nafsu makanku hilang mengingat kejadian itu.

“Hm… Baiklah kalau begitu, aku takkan memaksamu. Mau jalan-jalan? Ada penjual es krim baru di ujung jalan,” katanya sambil tersenyum. Mataku berbinar-binar, aku tersenyum lalu mengangguk. Ia segera mengambil sepatunya dan sepatuku, memasang sepatuku dengan penuh kasih sayang. Ia menggandeng tanganku menuju penjual es krim tadi. Ramai, begitulah keadaan di sana. Apakah seenak itu?

“Yeon Ah, tunggu di sini… Aku mau beli es krimnya dulu. Coklat? Vanilla? Atau strawberry?” tawarnya. Aku mengacungkan jari telunjuk dan tengahku.

“Vanilla? Tak seperti biasanya… Tapi baiklah. Tunggu sebentar, ya,” ucapnya. Aku menunggu dari sini, kira-kira 8 meter dari sang penjual es krim. Lima belas menit kemudian Leeteuk kembali membawa 2 cone es krim, coklat dan vanilla.

“Ini,” ucapnya sembari memberiku es krim vanilla. Aku tersenyum senang, melingkarkan jari telunjuk dan jempolku tanda terima kasih.

Cheonmaneyo,” ucapnya padaku. Aku mulai melahap es krim itu, rasanya enak sekali.

“Pulang, yuk!” ajak Leeteuk padaku. Pulang? Secepat inikah? Aku menatapnya dengan pandangan kosong.

“Ayolah… Kau ingin ke mana lagi?” tanyanya padaku. Aku meletakkan tanganku ke lengannya.

“Jalan-jalan? Sebentar saja, ya. Setelah itu pulang,” ucapnya sambil tersenyum. Aku senang. Ah, seandainya aku bisa berbicara layaknya orang normal, aku pasti akan berterima kasih berulang kali pada Leeteuk.

BRAAAKK!

Tak sampai 5 menit kami berjalan, aku sudah menabrak seorang lelaki. Sepertinya ia terburu-buru sekali. Olalala~ Es krimku jatuuuh!

Mianhamnida, mianhamnida… Ah, es krimnya!” ucapnya gagap. Aku menatap es krimku yang jatuh itu dengan tatapan nanar.

Mianhamnida, noona… Aku benar-benar terburu-buru,” ucapnya. Aku hanya diam, tak mau merespon. Leeteuk yang melihatku diam langsung mengambil pembicaraan.

“Ah, ya… Tak apa-apa, kok!” ucap Leeteuk. Orang itu tersenyum, lalu melihatku. Sepertinya ia mengira aku marah sekali sehingga aku tak bicara sepatah katapun.

“Ia… Ia bisu,” bisik Leeteuk pada lelaki itu. Ia sedikit terkejut mendengar pernyataan itu. Aku mengalihkan pandangan dan wajahku dari mereka berdua. Pernyataan itu memang benar, tetapi selalu membuat hatiku sakit.

“Perkenalkan, aku Kim Ryeowook… Aku mengajar les piano,” ucapnya sambil melihat ke arahku. Leeteuk menatap pemuda bernama Kim Ryeowook itu, lalu tersenyum menatapku.

“Aku Park Jungsoo, tapi panggil saja aku dengan nama Leeteuk. Ia adikku, Park Yeon Ah,” ucap Leeteuk. Aku tetap mengalihkan wajahku dari mereka seolah-olah aku tidak tertarik dengan pembicaraan mereka.

“Kalau boleh, aku ingin mengajarinya bermain piano…” tawar lelaki itu pada Leeteuk. Leeteuk sedikit ragu, lalu menanyakannya padaku.

“Kau mau?” tanyanya. Aku menatap pemuda itu, ragu. Ia tersenyum tulus sekali. Akhirnya, aku mengangguk. Leeteuk senang.

“Ya, dia mau,” ucap Leeteuk pada lelaki itu. Aku tersenyum seadanya.

“Baiklah, apa aku bisa mendapatkan alamat rumahmu?” tanyanya pada Leeteuk. Leeteuk segera memberikan alamat rumah kami.

Kamsahamnida, aku akan ke sana lusa nanti,” ucapnya sambil membungkuk lalu pergi.

“Aku tak tau kau punya ketertarikan pada piano,” ucap Leeteuk sambil mengucek rambutku. Aku menundukkan kepalaku.

“Sudah jalan-jalannya? Kita pulang, ya?” katanya. Aku mengangguk. Ia menggandengku dan kami melangkahkan kaki menuju rumah.

***

Siang ini lelaki bernama Kim Ryeowook akan mengajariku bermain piano, tapi ia telat lebih dari 20 menit. Aku menatap ke arah jendela, hujan sepertinya tidak mau berhenti dan mungkin ia terhalang cuaca sehingga telat.

“Ah, ia belum datang juga?” tanya Leeteuk sambil mengembalikan koran ke tumpukan buku. Aku menggeleng.

“Baiklah, kita tunggu sebentar lagi, ya?” katanya berusaha menghiburku yang lelah menunggu. Aku tersenyum.

“Aku mau mengambil buah apel, kau mau?” tawarnya. Aku menggeleng.

“Baiklah, aku ke dapur dulu!” ucapnya sembari meninggalkanku.

TING… TONG…

Akhirnya ia datang juga. Aku segera berlari ke arah pintu dan membukanya. Terlihat seorang lelaki memeluk tasnya, ia basah kuyup. Aku memberi isyarat untuk masuk. Ia mengerti.

“Ah, maaf aku telat,” ucapnya padaku. Aku menggeleng, tanda bahwa aku maklum dengan cuaca yang akhir-akhir ini sering buruk. Aku mengambil sehelai handuk dan menawarkan handuk itu.

Kamsahamnida,” ucapnya sambil menerima handuk pemberianku. Tiba-tiba Leeteuk datang sambil membawa segelas teh hangat. Oh, dia sudah menyadari kedatangan lelaki ini ternyata.

“Maaf merepotkan,” ucapnya pada Leeteuk.

“Tak apa, minumlah. Biar badanmu hangat,” ucap Leeteuk. Lelaki itu meneguk teh tersebut.

“Aku tinggal, ya. Yeon Ah, jadilah gadis yang baik. Aku mau ke supermarket,” ucap Leeteuk. Aku mengangguk kecil. Tak lama kemudian aku dan lelaki ini sudah ditinggal berdua.

“Kita belum berkenalan, ya? Namaku Kim Ryeowook, panggil saja aku Ryeowook. Salam kenal,” ucapnya padaku. Aku tersenyum.

“Namamu Yeon Ah, kan? Leeteuk memberitahuku tentang namamu. Baiklah, mau kita mulai dari mana?” tanyanya lembut. Aku terkesima, ternyata ada manusia yang sama baiknya dengan Leeteuk. Kukira orang-orang di luar sana sama saja, selalu mencemooh orang yang kekurangan seperti diriku.

Aku menunjuk ke arah piano, berharap dia mengerti apa yang kuinginkan. Dari dulu aku ingin sekali bisa memencet tuts-tuts piano dan menjadikannya sebuah alunan musik yang menenangkan jiwa.

“Oh, kau mau langsung bermain? Baiklah,” ucapnya sambil tersenyum. Ajaib sekali! Ia mengerti apa yang kuinginkan. Selama ini banyak orang yang tak mengerti akan isyaratku, bahkan appa. Tapi orang ini beda, ia mudah mengerti isyaratku. Lagi-lagi aku terpesona.

Aku tak ingin langsung main, aku ingin dia yang main lebih dahulu. Aku menarik lengan bajunya, menunjuk ke arahnya sambil memencet tuts piano tersebut. Ia mengangguk mantap. Aku senang sekali, senyumku mengembang.

Ia mulai memencet tuts piano itu dengan lembut. Sebuah lagu mengalun indah. Rasanya setiap nada yang ia mainkan mengandung sebuah kekuatan yang membuat hatiku damai. Ia bermain piano dengan hati, bukan dengan keahliannya. Ia pun seperti menikmati permainannya, dan aku tenggelam dalam alunan musiknya. Setiap nada, setiap larik yang ia mainkan masuk melalui telinga dan meresap ke dalam hatiku. Tiba-tiba air mataku terjatuh, aku menangis. Bukan menangis karena sedih, tapi aku menangis karena baru kali ini aku mendengar sebuah lagu yang benar-benar indah.

“Ah, kau menangis?” tanyanya tiba-tiba lalu berhenti memainkan piano. Aku mengusap air mataku, lalu tersenyum. Lagumu indah, mungkin begitu ucapan yang seharusnya aku katakan. Tapi aku bisu. Aku hanya bisa tersenyum, mengacungkan kedua jempolku.

“Terima kasih pujiannya, aku tak mengira bakal ada yang tersentuh dengan gubahan laguku,” ucapnya. Eh, dia tau apa maksudku?

Aku mengernyitkan dahiku, heran. Mengapa ia bisa tau maksudku? Tapi aku buru-buru membuang jauh semua pikiran itu. Mungkin hanya kebetulan saja.

“Kau mau mencoba?” tawarnya tiba-tiba, membangunkanku dari lamunan-lamunan bodohku. Aku tersenyum, mengangguk dengan mantap. Aku duduk di depan tuts-tuts piano. Ia memegang tanganku dengan lembut, menunjukkan letak chord piano. Entah kenapa tiba-tiba perasaanku berubah menjadi hangat padahal di luar sana hujan turun dengan lebat, dingin.

“Ini, di sini…” katanya mengarahkan jemariku ke tuts piano dan membentuk nada bernama nada C.

“Bagaimana? Bisa, kan?” tanyanya sambil tersenyum. Aku mengangguk riang. Hari ini aku sudah mempelajari 3 chord piano; C, E dan F.

“Ah, sudah jam segini…” gumamnya sambil melihat ke arah jam dinding. Ia buru-buru merapikan berkas-berkas les kami, bersiap untuk pulang. Ia menatapku sambil tersenyum puas.

“Aku pulang dulu, ya. Leeteuk belum pulang?” tanyanya. Aku menggeleng. Ia sempat beranjak pergi, namun tiba-tiba ia berbalik dan menatapku.

“Mungkin aku harus menunggu. Aku khawatir kau sendirian di sini. Boleh, kan?” tawar Ryeowook padaku. Aku menunjukkan wajah yang ragu, tapi entah kenapa hatiku menginginkannya untuk menemaniku sebentar saja. Aku pun mengangguk sambil tersenyum. Ia membalas senyumanku.

Sudah sejam kami menunggu, Leeteuk belum pulang juga. Aku jadi tak enak pada Ryeowook yang sedari tadi menunggu dengan bermain piano. Mungkin karena hujan semakin lebat dan tak kunjung menemukan taksi Leeteuk jadi lama seperti ini. Atau mungkin bertemu dengan pacarnya? Ah, masa’ sih. Aku pergi mengambil payung dan memberikannya pada Ryeowook. Aku benar-benar merasa tak enak.

“Kau menginginkanku untuk pulang?” tanyanya sambil tersenyum ketika aku menyodorkan payung. Tentu saja tidak! Aku menggeleng dengan keras. Ia tertawa. Aku menunjuk ke arah jam, menunjukkan waktu yang semakin sore. Aku jadi tak enak membuatnya menungguiku seperti ini, mana hujan juga belum reda, maka aku mengambilkannya payung. Aku tak apa sendirian di rumah, lagipula kawasan rumahku tak begitu berbahaya. Ia mengangguk, kurasa ia mengerti maksudku.

“Baiklah. Hati-hati di rumah kalau begitu. Aku akan berada di sini hari Senin,” ucapnya sambil menerima payung yang kuberikan. Ia berjalan menuju pintu dengan aku di belakangnya. Ia memakai sepatunya, lalu menatapku dalam-dalam. Ah, rasanya malu sekali… Ada apa denganku sebenarnya?

“Nah, baik-baik ya di rumah. Aku pulang dulu,” ucapnya sambil memakai topinya sambil tersenyum. Ia membuka payung kemudian berjalan keluar rumah. Aku tersenyum getir, aku merasa ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku dan menjalar ke seluruh tubuhku.

***

“Maaf, aku lama sekali pulangnya… Hujan turun dengan deras,” ucap Leeteuk padaku. Aku mengangguk. Yah, aku mengerti dengan keadaan cuaca yang buruk.

“Ryeowook sudah pulang?” tanyanya sambil menyiapkan piring dan sendok di meja makan. Aku mengangguk.

“Jam berapa ia pulang?” tanyanya lagi. Aku mengangkat kelima jariku, ia pulang pukul 5 sore.

“Hoo… Bukannya seharusnya ia pulang jam 4?” tanyanya lagi. Aku merengut sambil menunjuk ke arah Leeteuk. Ia tertawa.

“Jadi, gara-gara aku? Baiklah…” ucapnya sambil menuang sup ke dalam mangkok. Aku tersenyum.

“Nah, ayo kita makan. Mau disuapi? Aku rindu saat-saat menyuapimu seperti dulu,” ucap Leeteuk padaku. Aku menatapnya heran, tapi aku mengerti. Aku tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah… Buka mulutnya, aaa…” ucapnya sambil menyuapiku. Aku senang sekali. Aku senang ada Leeteuk di sisiku. Ia kakakku yang paling baik yang pernah kutemui.

***

Malam sudah semakin larut, tetapi mataku belum bisa kupejamkan. Aku merasakan sesuatu dari dalam hatiku, ‘sesuatu’ itu menjalar ke seluruh tubuh, membuat jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Orang bilang ini cinta. Cinta akan membuatmu tak bisa tidur semalaman, begitu katanya. Tapi pada siapakah aku jatuh cinta?

Tiba-tiba aku mengingat bayangan itu, bayangan dari seorang Kim Ryeowook. Jantungku berdebar lebih kencang, kencang dan kencang. Aku semakin tak bisa tidur. Aku mengingat semuanya—permainan pianonya, suaranya yang lembut, juga sikapnya—yang membuatku terkesima. Apakah aku jatuh cinta padanya? Tidak mungkin. Tidak mungkin bisa. Gadis bisu sepertiku hanya bisa membawa masalah. Lagipula mana ada orang yang mau dengan orang cacat sepertiku. Aku tak bisa bicara, aku hanya bisa mengisyaratkan semua kata-kataku dengan jemari tanganku. Bila aku marah, aku hanya bisa menyimpannya dalam hati. Bila aku sedih, aku hanya bisa menangis. Bila aku senang, aku hanya bisa tersenyum. Aku tak bisa bicara, bahkan untuk berkata ‘A’ saja aku tak mampu. Aku gadis yang tak sempurna, apalagi untuknya. Untuk seorang Kim Ryeowook.

***

Ini sudah minggu ketiga Ryeowook mengajariku bermain piano. Semakin hari rasa itu tak mau pergi, malah semakin besar saja. Aku tak sanggup menatap matanya, aku malu sekali. Setiap ia berkata, suaranya serasa mendamaikan hatiku. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku tau rasa ini mungkin salah, tapi aku tak bisa menolaknya.

“Eh, Yeon Ah… Besok Minggu ada konser piano klasik, kau mau nonton?” tawarnya padaku tiba-tiba. Aku menatapnya gamang, lalu menatap ke arah Leeteuk yang sedang membaca koran.

“Aku tak yakin, besok Minggu aku ada tugas akhir yang harus diserahkan kepada dosen,” ucap Leeteuk. Aku menatapnya penuh harap, aku benar-benar ingin menonton konser itu.

“Tak apa, biar aku yang menjaganya,” kata Ryeowook. Aku tersenyum senang. Melihatku tersenyum, Leeteuk mengangkat kedua bahunya.

“Baiklah jika kau mau menjaganya,” katanya sambil tersenyum. Aku berlari dan memeluk Leeteuk seakan ingin mengucapkan ‘Aku sayang padamu, hyung!’.

“Sudah, belajar lagi sana,” kata Leeteuk padaku sambil menegak kopinya kembali. Aku benar-benar tersenyum senang sekarang. Ryeowook-pun begitu.

Aku menatap Ryeowook dan menunjuk ke arah lenganku eperti orang yang sedang memeriksa jam tangannya. Ryeowook mengerti akan hal itu.

“Jam 10 aku jemput,” ucapnya sambil tersenyum. Aku mengangguk senang. Hari Minggu. Ya, aku akan menunggu hari Minggu dengan penuh rasa senang.

***

Aku bersiap-siap menunggu detik demi detik menuju pukul sepuluh. Rasanya tak sabar untuk segera menonton konser piano klasik itu. Banyak orang mengatakan bahwa menonton konser musik klasik akan membawamu ke alam mimpi, tapi kurasa tidak. Aku sudah berjanji akan menjadi seorang pianis handal yang bermain dengan hati, bukan dengan keahlianku.

TING… TONG…

Itu dia! Aku segera membukakan pintu, dan Ryeowook berdiri di depan pintu sambil tersenyum. Aku memberi isyarat untuk menunggu sebentar, lalu pergi ke arah kamar Leeteuk. Aku memeluknya sambil memberinya hormat dengan tangan di dahiku. Ia mengerti.

“Jaga dia baik-baik,” pesan Leeteuk pada Ryeowook.

“Tentu, hyung. Ayo!” ajak Ryeowook. Ia menggandeng tanganku dan kami berdua pergi ke konser piano klasik tersebut. Sampai di sana aku dan Ryeowook mencari tempat duduk sesuai dengan tiket kami. Beberapa pianis dari usia anak-anak maupun dewasa bermain dengan sangat bagus di panggung. Tak henti-hentinya mataku berbinar dan aku menepuk tanganku dengan keras. Permainan mereka sungguh sangat bagus, jauh dari permainanku yang sekarang.

“Bagaimana, bagus?” tanya Ryeowook di sela-sela pertunjukkan. Aku mengangguk senang. Ia tersenyum puas. Dan inilah pertunjukan terakhir dari seorang pianis berbakat yang umurnya tak beda jauh sepertiku, namanya Lee Jeong Mi. Walaupun sangat muda, ia sudah berkeliling Eropa memamerkan bakat musiknya itu.

“Wah, hebat sekali,” puji Ryeowook. Aku mengangguk kecil. Siapa yang tak kagum akan permainannya? Sesi terakhir itu disambut dengan tepuk tangan meriah dari semua penonton.

“Ah, ikut aku!” ajak Ryeowook sambil menarik tanganku menuju belakang panggung ketika pertunjukan usai.

“Jeong Mi!” panggil Ryeowook pada seorang gadis yang mengenakan gaun berwarna merah.

“Ah, Ryeowook? Bagaimana bisa kau ada di sini?” tanya anak itu.

“Tentu aku bisa,” jawab Ryeowook sambil tersenyum. Ah, ia kenal dengan Lee Jeong Mi?

“Yeon Ah, perkenalkan ini temanku. Anak dari teman ibuku, Lee Jeong Mi. Lee Jeong Mi, ini muridku. Namanya Park Yeon Ah,” kata Ryeowook memperkenalkan diriku. Ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku.

“Jeong Mi,” ucapnya sambil tersenyum manis. Aku menyambut uluran tangannya. Ryeowook lalu membisikkan sesuatu pada Jeong Mi, lalu gadis itu terkejut sambil memandang ke arahku. Pasti karena kebisuanku.

“Hmm… Begitukah? Kata Ryeowook, kau pandai bermain piano,” kata Jeong Mi. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum seadanya. Kami berbincang sekitar setengah jam karena Jeong Mi harus segera pulang dan berlatih untuk konser selanjutnya.

“Yeong Ah, ayo pulang!” kata Ryeowook. Aku berdiri mematung, tak bergerak.

“Kau ini kenapa? Ayo pulang!” katanya sambil menggandeng tanganku dan tersenyum. Jeong Mi adalah teman dari Ryeowook… Mereka terlihat sangat dekat, apa mereka berpacaran?

“Yeong Ah? Kenapa kau? Sepertinya dari tadi kau diam saja,” tegur Ryeowook padaku. Ia masih menggenggam tanganku. Aku menggeleng.

“Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ada apa? Ceritakan saja,” ucapnya padaku. Aku tersenyum, lalu menunjuk Ryeowook dan menuliskan Jeong Mi di angin, juga tanda ‘love’. Ryeowook tertawa keras.

“Aku? Dengan Jeong Mi? Tentu saja tidak!” ucapnya sambil tertawa. Hatiku lega sekali mendengar hal itu. Di sepanjang perjalanan pulang kami bercanda bersama. Ia seperti mendengar dan memahami isi hatiku juga pikiranku. Aku merasa cinta ini semakin dalam dan hanya untuknya.

***

Pagi yang cerah. Aku membuka jendela kamarku dan angin segar masuk ke dalam ruangan. Hari ini Leeteuk berjanji akan mengajakku jalan-jalan di sekitar taman. Aku segera mandi dan sarapan, lalu menagih janji pada Leeteuk. Kakakku yang satu ini terlihat tampan kalau sudah rapi begini. Tak jarang cewek-cewek di luar sana mengagumi ketampanan kakakku ini.

“Sudah siap?” tanyanya padaku. Aku mengangguk.

“Baiklah, ayo!” katanya sambil menggandeng tanganku keluar. Kami berjalan-jalan, bercanda bersama, juga memotret beberapa anak yang sedang tertawa riang.

“Ah, itu kan lolipop! Kau mau?” tawar Leeteuk padaku. Aku tersenyum senang. Ia memintaku untuk menunggu di situ, di depan sebuah toko perhiasan pinggir jalan. Aku melihat ke arah jendela toko tersebut dan aku menemukan seseorang yang sudah tak asing lagi bagiku. Kim Ryeowook! Tunggu… Ia terlihat tertawa bersama seseorang… Lee Jeong Mi?

“Lihat, cincin ini bagus tidak?” tanya Jeong Mi. Ryeowook mengangguk.

“Tentu saja, kau selalu cocok memakai apapun!” jawab Ryeowook.

“Ah, kau bisa saja,” ucap Jeong Mi tersipu. Apa? Cincin? Apa maksudnya ini?

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang luar biasa hebat, rasa sakit di dalam yang menjalar ke seluruh tubuhku. Air mataku jatuh tepat di saat Ryeowook memergokiku. Aku berlari sekencang-kencangnya ke arah jalanan, aku menangis. Aku sakit. Tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah truk melaju kencang ke arahku dan di saat itulah semua terasa gelap…

2 hari kemudian…

Kepalaku rasanya sakit sekali. Aku membuka mataku pelan-pelan. Aku ada di mana? Aku hanya melihat tubuh seseorang berbaring di sebuah ranjang, dan di sana ada Leeteuk, Ryeowook dan Jeong Mi. Aku melihat wajah sedih dari Leeteuk, kakakku. Ia menitikkan air matanya, lalu mengusapnya. Samar-samar kudengar suara seseorang memanggil namaku.

“Yeong Ah… Maafkan aku,” ucap orang itu. Ryeowook! Ah, aku tak apa-apa…

“Ini semua salahku!” ujar Jeong Mi menyalahkan dirinya. Aku tak apa-apa, tidakkah mereka melihatku tersenyum di sini?

“Tidak ada yang perlu dipersalahkan,” ucap Leeteuk tiba-tiba. Aku mengernyitkan dahi. Hei, aku baru sadar bahwa orang yang tertidur itu AKU!!

Aku mencoba kembali ke dalam tubuhku, tapi gagal. Ah, aku harus bagaimana? Aku tak mau sendirian… Aku ingin Leeteuk ada di sini menemaniku!

Aku mencoba lagi, gagal lagi. Terus mencoba, mencoba dan mencoba, itulah yang kulakukan sekarang. SLEP! Berhasil! Tunggu, di sini gelap. Aku mencoba membuka mataku…

“Yeong Ah, kau sadar!” teriak Leeteuk bahagia. Aku tersenyum kecil. Aku melihat Ryeowook dan Jeong Mi, lalu mengalihkan pandanganku.

“Em… Yeong Ah…” tegur Jeong Mi. Aku tak merespon. Aku tak mau dengar kata-kata yang cukup membuat hatiku sakit.

“Sepertinya kita salah paham,” ujar Jeong Mi. Ryeowook mengangguk. Hah?

“Kau pasti melihat cincin ini, kan…” ucapnya sambil memperlihatkan cincin perak yang indah, bertabur batu safir berwarna biru.

“Ini hadiah untuk adikku, aku benar-benar minta maaf… Tak kusangka jadinya seperti ini,” ucap Jeong Mi. Oh, aku salah paham rupanya. Aku mengangguk dan tersenyum.

“Lagipula, aku tak mungkin memberikan cincin pada orang yang tak kusukai,” ucap Ryeowook tiba-tiba. Darimana dia tau tentang hal ini?

Aku mengernyitkan dahiku, lalu membentuk angka 0 dan menunjuk ke arah Ryeowook. Pacar saja ia tak punya, suka dari mana?

“Hei, jangan salah… Aku juga punya orang yang kusukai,” ucapnya sambil tersenyum. Aku menatapnya heran. Aku ingin tau, siapakah dia?

“Sini, kubisikkan,” katanya. Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku.

Cheongmal saranghae yo,” bisiknya. Aku terbelalak. Jadi, selama ini aku-kah? Aku?

“Oh~ Jadi selama ini kau naksir adikku, ya?” tanya Leeteuk pada Ryeowook. Ryeowook tersipu malu, begitu pula aku.

NaNa do, saranghae yo…” bisikku tiba-tiba. Eh? Apa ini? Aku bisa bicara? Tidak mungkin!

“YEONG AH!? Kau bisa bicara?” tanya Leeteuk sambil menghampiriku. Aku mengangkat kedua bahuku, akupun tidak mengerti.

“Coba kau katakan Leeteuk…” pinta Leeteuk padaku. Aku membuka mulutku pelan-pelan, dan mencoba memanggil namanya.

“Lee…Lee…Leeteuk…” bisikku. Leeteuk dan Ryeowook saling berpandangan, lalu tersenyum bahagia melihatku.

“Ini sebuah keajaiban!” ucap Jeong Mi. Tanpa sadar Ryeowook memelukku dengan erat.

Saranghae yo…” bisiknya. Aku mengangguk. Leeteuk dan Jeong Mi saling berpandangan, lalu kami tertawa bersama-sama. Kini aku, Park Yeong Ah, sudah bisa berbicara lagi…

2 tahun kemudian…

“Ini adalah konser tunggal pertamamu, ingat!” ucap Ryeowook padaku. Aku mengangguk mantap sambil tersenyum. Aku melangkahkan kakiku penuh percaya diri ke piano berwarna hitam klasik di tengah panggung. Di sini, saat ini, jutaan pasang mata di seluruh dunia menyaksikanku. Aku mulai memencet tuts-tuts piano itu, dan sebuah lagu mengalun dengan indah. Aku mempersembahkan sebuah lagu karya Deutschland berjudul Bach. Usai memainkan lagu itu, aku segera pergi ke belakang panggung.

Bravo!” puji Leeteuk sambil bertepuk tangan. Aku tersenyum bangga. Ryeowook yang melihatku juga tersenyum.

“Kalau bukan karena tabrakan itu, aku tak mungkin jadi seperti ini,” ucapku tersipu-sipu pada Ryeowook. Ia tertawa kecil.

“Ya, kau benar…” ucapnya padaku. Ia mendekat, kemudian ia menyodorkanku sebuah kotak kecil berwarna biru safir. Aku mengernyitkan dahi, lalu kuambil kotak kecil tersebut dan membukanya.

“I… Ini?” ucapku terkaget-kaget setelah melihat isinya, sebuah kalung perak yang cantik sekali…

Saranghae yo,” ucapnya sambil mengecup pipiku. Aku rasa wajahku sudah memerah seperti tomat. Aku tersipu malu, lalu mengangguk.

“Jaga baik-baik dia kalau kau benar-benar mencintainya!” nasehat Leeteuk pada Ryeowook. Kami berdua tertawa cekikikan mendengar Leeteuk berkata seperti itu.

3 tahun kemudian…

“Aduh, Daejong! Mau ke mana? Sini!” tegurku sambil mengejar seorang anak kecil yang tengah bermain di halaman.

“Awas duri!” teriakku panik. Ryeowook tertawa.

“Jangan terlalu khawatir,” katanya padaku. Aku menatapnya tajam.

“Dia anak lelaki satu-satunya, kau mau sesuatu terjadi padanya?” tanyaku. Ryeowook tertawa keras. Aku segera berlari ke arah rerumputan di halaman.

“Kena, ya!” ucapku sambil menggendong Daejong ke teras halaman.

Eomma…” ucapnya sambil memainkan hidungku. Dasar anak ini…

“Sudahlah,” ucap Ryeowook sambil menepuk pundakku. Aku tersenyum.

“Kau tidak berangkat kerja?” tanyaku. Ia menepuk dahinya.

“Aku hampir lupa! Terima kasih sudah mau mengingatkan,” ucapnya sambil mengecup keningku. Aku tersenyum malu. Ia menyalakan mobilnya, lalu mobil itu melaju dengan kencang.

Untuk sementara ini aku sudah cukup bahagia. Aku sudah mendapatkan semua yang kuinginkan. Aku mendapatkan cintaku, bakatku, dan yang terpenting adalah aku sudah menjadi seorang ibu dari anak pertamaku, Kim Daejong. Aku harap senyum ini akan terus mengembang hingga aku menemui ajalku nanti. Hah… Senang sekali jika bisa seperti itu.

Eomma, ayo masuk!” kata Daejong menyadarkanku dari lamunan. Aku tersenyum.

Ne, Daejong!” ucapku sambil berlari ke arah pintu. Semuanya sudah selesai…

END

by : kim shin young

21 Comments (+add yours?)

  1. Kelteuk
    Feb 08, 2010 @ 12:42:13

    Wookie…
    Jarang bgd ff wook.

    Woi author ! Bikin yg wook nape seh?! Jgn kyu mulu…bosen ! *ditimpuk rame2 ama bini kyu*

    Reply

  2. lovekorean#1horse
    Feb 08, 2010 @ 12:46:31

    eeteuk sabar banget jadi kaka ya nice ff 🙂

    Reply

  3. Lee Ryena Shan
    Feb 08, 2010 @ 12:46:50

    good ff…

    keep the spirit for the author! 😉

    Reply

  4. Shinta (NtaKyung)
    Feb 08, 2010 @ 12:50:00

    Kya…..
    Tumben nich da ff nya Wookie oppa….>.<
    Good ff nich….^^b

    Reply

  5. kim shin young
    Feb 08, 2010 @ 13:32:21

    @Kelteuk : iya eonnie,makanya aku buat ff wookie xP

    Reply

  6. leonyquarius
    Feb 08, 2010 @ 13:54:51

    pas baca FF ini di awal-awal,aku beneran tersentuh.beneran…nggak nyangka aja ryeowook semanis itu hehe..
    ah,authornya siapa??bagus banget FF-nya…ceritanya mengalir…Keep up the good work! 😀

    Reply

  7. amelhenkyung
    Feb 08, 2010 @ 14:05:21

    iiiih~~ baguuuuus banggetttts~~
    hahhahahahhahaha wookie wookie~ guw suka gaya lo~
    hahhahahahah

    Reply

  8. thand Wonnie
    Feb 08, 2010 @ 14:11:52

    Ah~ ..
    Wookie ..
    Na do saranghaeyo .. *di bakar*

    Reply

  9. yuee_chan
    Feb 08, 2010 @ 14:35:18

    terharu aku bacanyah…
    jadi pengen kawin ama wookie…
    *digampar, dibakar, dilindes, dibejek bejek ame heechul oppa. lebay ah gue

    nice FF!!

    Reply

  10. chikaa
    Feb 08, 2010 @ 14:50:21

    nice FF .Ngebayangin diajarin piano sama wokie, ntn konser bareng, terus dilamar terus kawin terus terus punya anak sama wokie .hahaha *ditabok bolak-balik sama bini2 wokie*

    Reply

  11. Fina
    Feb 08, 2010 @ 14:54:22

    Kyaaaa,, add ff wookie oppa!!! Kn jrang bget add,,,
    Nice ff! Qw ska jlan crita.y,,, kren,,,

    Reply

  12. Fina_Wookie,,,
    Feb 08, 2010 @ 14:59:04

    Kyaaaa,, add ff wookie oppa!!! Kn jrang bget add,,,
    Nice ff! Qw ska jlan crita.y,,, kren,,, ayo, bkin ff ttg wookie oppa lgi ea!!! *mank.y spa lu? Nyuruh2* hha

    Reply

  13. SooRa
    Feb 08, 2010 @ 16:35:53

    pas baca bagian si yeon muji eeteuk,
    ketawa asli, g tau ngapa,,,

    k kel,,,
    aku setuju denganmu,
    aku juga bosan dengan ff kyu,
    kyu, kyu, kyu, kyu,
    mentang2 baru ultah~~~

    nice ff,
    sharemore ya

    Reply

  14. Riery_Raiheechul
    Feb 09, 2010 @ 00:39:22

    @keltek : stuju ma kmu.. Ku jg b0sen ma ff about kyu hyun mulu..

    Mian,,buat auth0rnya, aku cuma bs pr0tes tp, aku g bs bikin ff nya..

    Nice ff.
    I like it

    Reply

  15. Hyun mey
    Feb 09, 2010 @ 02:26:03

    Waaa ..
    BneR’ ending yg bgus bget dah .
    Hahaha .

    Reply

  16. Ami_cutie
    Feb 09, 2010 @ 08:41:27

    aku suka endingnya..
    iya, wook manis n baek bgt disini.teuk juga..

    nice ff!share more!

    Reply

  17. yoorin92
    Feb 10, 2010 @ 07:40:17

    Annyong^^
    So swittttttttttt *t-ny 100*
    Asli, ni FF manis bgd,
    Ah, Wookie, tak kusangka dirimu semanis itu 😀 *selama ni kemana aja, neng??*
    Buat athor-nya, aiio buat lagi 😀

    Reply

  18. cold.girl
    Feb 12, 2010 @ 13:54:53

    amazing… rasanya gimana gitu bacanya.. perasaan campur aduk.. keren bgt lah. gatau nih mau ngomong apa lagi.. saking kerennya :))

    Reply

  19. imasparkyu
    Oct 13, 2012 @ 21:47:13

    huaaa!! wookie oppa….. romantis juga!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: