The Violin Sketch (part 3)

Satu hari kemudian, malam hari..
‘Aku tidak mau melihat gadis jelek di depan pintuku!’ kalimat itu seakan tiada lelahnya berlari di kepala Xiao Yin. “Gadis jelek?? Euuh…jadi kau mau menghinaku ya??” Xiao Yin bergumam di depan lemari pakaiannya di mana terdapat kaca pada kedua daun pintunya. Tapi aku kan tidak punya baju?? Uangku tidak pernah lagi kugunakan untuk beli baju dan hal-hal seperti itu, semuanya habis untuk membeli pensil, drawing pen, rotring, dan segala urusan gambar menggambar itu, pikir Xiao Yin. Dibongkarnya lemarinya hingga ke bagian atas.
Xiao Yin menemukan sebuah gaun. Gaun berwarna violet yang dihadiahkan ibunya saat ulang tahun ke lima belas. Ulang tahun terakhir bersama mama, pikirnya. Gaun itu bermodel halterneck dengan bahan satin. Ah, sudah agak mini, tapi biarlah, toh pahaku masih tidak terlihat, pikirnya. Xiao Yin jadi teringat hari ulang tahunnya dulu, ada mama, ada papa, ada Ami. Aku terlihat kurus sekali dengan gaun ini, tidak seperti saat ulang tahunku dulu, pikir Xiao Yin. Ia mengambil kotak make up di meja riasnya. Rasanya sudah lama ia tidak mengaduk-aduk kotak make up itu karena ia adalah tipe gadis yang jarang bersolek. Tidak sampai dua puluh menit, lipstick nude, eyeshadow pink muda dan sebatang sumpit di rambut telah menemani Xiao Yin untuk menjadi seorang putri bagi pangerannya.
Xiao Yin kini berdiri di depan pintu ruangan nomor enam puluh delapan. Jari telunjuknya menekan bel. Aku terlihat seperti orang bodoh yang pergi ke pesta tetangga kamarnya, pikir Xiao Yin. “Henry..Henry….Henry!!!” teriak Xiao Yin ketika tidak ada orang yang membuka pintu. Xiao Yin memutar-mutar gagang pintu itu yang ternyata tidak dikunci. Dengan hati berdebar, dilangkahkan kakinya ke ruangan gelap itu.
Hah? Kok gelap? Henry! Kau pasti mau mengerjai aku ya…? Xiao Yin bertanya-tanya dalam hati ketika disadarinya ia menginjak sesuatu. Lilin dan korek api?? Henry? Ini tidak lucu, kita tidak mau main petak umpet kan?? Kembali ia bertanya-tanya. Dinyalakannya lilin itu dan mulai berjalan ke ruang tengah. Didapatinya sebuah meja kecil untuk berdua yang di atasnya tersusun dua buah lilin putih yang tidak dinyalakan, 5 mawar putih yang tersusun dalam sebuah vas bunga, dan yang paling penting, sepiring besar yakiniku! Tidak jauh dari tempat itu, di tirai tergantung sebuah spanduk…tidak itu bukan spanduk, itu sebuah kaos!Kaos yang ditulisi dengan pilox kuning. Tulisan itu…对不起. Ia meminta maaf padaku dengan ini? Xiao Yin tampak tak percaya.
Sebuah suara yang dikenalnya, suara gesekan biola, memainkan sepotong lagu ‘last carnival’. “Jadi, apakah sekarang kau mau memaafkanku?” tanya Henry. “Bahkan aku telah memaafkanmu sebelum kau memintanya…ini semua…kau tidak perlu menyiapkan ini…”
“Diam. Dan duduklah bersamaku di sini..” Henry mengajak Xiao Yin duduk di meja itu bersamanya. Henry yang berbeda dengan yang ia temui beberapa hari yang lalu. Henry yang tidak berteriak. Henry yang tidak kekanak-kanakan.
Mereka duduk saling berhadapan di meja itu. Tidak ada yang memulai pembicaraan. “Ah…terima kasih..” kata Xiao Yin yang dibalas dengan senyuman oleh Henry. Tiba-tiba tangannya mengambil vas bunga itu dan melemparnya ke atas sofa. “Lho, mengapa kau buang bunga itu?” tanya Xiao Yin. “Yang dapat kulihat adalah lima mawar putih dan kau jauh lebih indah daripada itu semua…” jawabnya tenang. Xiao Yin menunduk malu.
Suasana akhirnya berubah menjadi lebih hangat. Mereka telah memakan hidangan permohonan maaf itu dan kini mereka berdua duduk di atas sofa yang empuk. Xiao Yin senang ketika karpet bulu itu menggelitiki kakinya namun ia lebih senang lagi ketika kepalanya bersandar pada dada pangerannya. “Hei, yakinikunya enak sekali, pasti kau beli di restoran Jepang ya?” “Aku kan sudah bilang kalau aku tidak punya pemanggang,..ehm, by the way, do you want a glass of champagne?” “I want more glass if I drink it with you…” “Hahahaha…!!” Henry melepas sumpit pada rambut Xiao Yin sehingga kini rambutnya tergerai hingga menyentuh sofa. “Eh, tapi kau ini tidak nyambung sekali. Lihat, tatanannya a la Eropa, makanannya Jepang, lalu sekarang minumnya champagne dan bukan sake!” “Biarkan saja, tapi kau suka kan??”goda Henry lalu berjalan ke arah lemari di mana ia menyimpan gelas dan minuman itu. “Tapi ada yang lebih aku inginkan dibandingkan sebuah champagne. Aku ingin kau memainkan biolamu, di sini, di depanku..” Xiao Yin tersenyum lalu menaikkan kakinya ke atas sofa sehingga kini ia berbaring di sana. “Apa pun untuk yang tercantik!” balas Henry.
Disanalah mereka kini. Xiao Yin yang berbaring di atas sofa dan Henry memainkan biola di depannya. Sebotol champagne yang telah kosong, dan jendela yang mengabadikan kota Beijing di malam hari. Bintang-bintang. Percakapan. Lagu. Cinta. Dan harapan, berkumpul menjadi satu. Dan Xiao Yin memungut semuanya. Ia akan ingat. Ia tidak akan pernah lupa. Hari itu. Suasana itu. Biola putih itu. “Tanganku lelah, dan aku mengantuk!” kata Henry ketika akhirnya ia berhenti bermain biola dan bergabung bersama Xiao Yin di sofa. “Permainanmu indah…” kata Xiao Yin. Ia menangis terharu. “Kau bisa menangis?” tanya Henry.
“Itu tidak lucu Henry, kau benar-benar pemain biola handal…” Xiao Yin terus menangis. Bukan karena biola itu, tetapi karena waktu yang tersisa baginya untuk mendengar permainan itu. “Kau juga tidak lucu kalau menangis…” Henry mencium pipi gadis itu dan menjilat air matanya. “Ah kau ini…” kata Xiao Yin, namun Henry tidak menghiraukannya dan justru beralih ingin mencium bibir Xiao Yin. “Oh, tidak Henry…tidak sekarang! Sekarang sudah malam dan aku harus kembali…” Xiao Yin menaruh jari telunjuknya di bibir Henry. “Ah tapi, kita berdua sudah di sini dan….” Xiao Yin meletakkan kepala Henry di lengan sofa, tidak lama lalu Henry tertidur. Sepertinya ia kelelahan dan terlalu banyak minum, pikir Xiao Yin sambil memainkan jarinya di wajah Henry, mengikuti lekukannya, bermain dengan pipinya, namun Henry tetap tertidur. “Kau tahu..kau itu imut sekali!” bisiknya lalu keluar dengan perlahan.
Apartemennya lagi. Sepi.Sendiri. Pukul 00.30. Aku tidak punya banyak waktu, pikir Xiao Yin dan berlari ke meja tulisnya. Dikeluarkannya gambar yang sudah cukup lama tidak disentuhya. Sketsa biola putih. Diraihnya sebatang pensil dan mulai digerakkannya di atas kertas itu. Pikirannya seakan menceritakan kembali rupa biola itu dan tangan Xiao Yin menyalinnya seperti seorang komponis menyalin nada-nada pada garis-garis birama. Lekuknya, senarnya, bownya, semua terus menari-nari di pikirannya, di tangannya, di pensilnya, di kertasnya. Xiao Yin tidak ingat lagi akan penyakitnya, akan dinginnya AC yang meniup lengannya yang telanjang.

Beijing———-pagi hari, 07.00
Xiao Yin tidak tidur malam itu. Entah mengapa ia merasa tubuhnya sangat berkeringat. “Uhuk! Uhuk!” batuknya mulai lagi, namun kali ini dadanya terasa benar-benar sesak. Xiao Yin terbatuk-batuk lagi. Ia berdarah lagi. Ia terbatuk lagi. Ia berdarah lagi. ‘Ah, sakit sekali…’ pikir Xiao Yin. Ia berlari mengambil obat. Tidak ada! Ya, Xiao Yin tidak membeli semua obatnya karena uangnya tidak cukup, sudah ia habiskan demi sebuah drawing pen. ‘Aduh…Tuhan…Mama….sakit sekali’ pikiran Xiao Yin memutar kata-kata itu sampai ia tidak ingat apa-apa lagi.
“Xiao Yin!!” Henry berteriak. Ia mimpi buruk. Mimpi yang benar-benar buruk hingga ia tidak berani membayangkannya. Henry berlari keluar kamar. Mengunjungi Xiao Yin. Memastikan bahwa Xiao Yin benar-benar baik-baik saja. “Xiao Yin..? Xiao Yin?” Henry membuka pintu apartemen Xiao Yin tapi ia tidak dapat menemukan gadis itu. “Xiao Yin? Xiao Yin? Kau di mana?” tanyanya namun hanya dijawab oleh suara detak jam dinding. ‘Apa dia di kamarnya?’ pikirnya ketika ia berada di depan pintu kamar itu.
Mata Henry terbelalak. Ketika Sembilan puluh Sembilan sketsa itu menyambutnya di dalam kamar. Sketsa itu. Wajahnya….
‘Hei! Kau pikir aku ini tong sampah!?’
‘Ya, aku memang suka Super junior M, tapi aku tidak suka Henry Lau!!’
‘Tidak. Aku hanya mau bilang kau berhutang padaku sepiring Yakiniku!’
Kalimat-kalimat itu….lalu apa artinya semua ini?’ pikirnya. Apakah selama ini dia menyukaiku, seperti aku menyukainya??
Namun Henry tidak melihat senimannya, gadis yang ia cintai tidak duduk menggambar di atas kursinya.
Gadis itu kini terbaring di lantai yang dingin, dengan wajah pucat dan darah mengalir dari mulutnya.
“Xiao Yin!!!! Xiao Yin!!!” Henry mengangkat tubuh Xiao Yin. Namun Xiao Yin tidak merasakannya, dan ia tidak akan pernah mengingatnya.
*****************************
Beijing——–rumah sakit———10.00
Xiao Yin membuka matanya. Apakah aku sudah di surga, pikirnya. Namun ia dapat melihat Papa. Ia dapat melihat Yi Lian. Ia dapat melihat Ami. Ia dapat melihat pangerannya.
“Xiao Yin! Kau sudah sadar?” Henry menggenggam tangan Xiao Yin dengan erat seakan-akan Xiao Yin telah meninggalkannya ke tempat yang sangat jauh dan sangat lama.
“Ah..kalian…mana gambarku!? Mengapa…?” Xiao Yin masih tampak bingung. Henry menaruh jari telunjuknya di bibir Xiao Yin. “Ssssh..jangan banyak bicara” bisiknya.
Ami tersenyum lalu keluar bersama Papa Lu dan Yi Lian.
“Ah, Henry…apa yang terjadi? Apa ada sesuatu di pesta itu…atau..??”
“Kau pingsan Xiao Yin. Tadi Papamu bilang padaku bahwa kau harus tinggal bersamanya.”
“Tidak..tidak mau! Aku tidak mau pergi dari apartemen itu, aku tidak mau berpisah darimu!” rengek Xiao Yin.
“Sudah, kau turuti saja Papamu, toh aku juga tidak akan lama di apartemen itu. Aku harus bekerja lagi. Ehm….ngomong-ngomong, terima kasih ya..”
“Terima kasih? Untuk apa?”
“Untuk Sembilan puluh sembilan gambar wajahku dan sebuah sketsa biola”
“Ah? Sketsa biola!? Itu kan belum selesai! Belum kuarsir…”
“Semua orang juga tahu kalau biolaku berwarna putih, jadi kurasa kau tidak usah repot-repot mengarsirnya,” Henry tersenyum.
“Henry, maukah kau berjanji sesuatu padaku..”
“Tentu saja, setelah kau berjanji padaku..”
“Soal apa?” tanya Xiao Yin
“Bahwa kau akan menggambar wajahku yang ke seratus sebelum aku pergi..”
“Tentu saja, aku akan menggambar kalaupun kau tidak minta. Tapi kau juga harus berjanji untuk memainkan satu lagu untukku setiap hari selama aku di rumah sakit dan kau juga harus berjanji untuk tidak melupakanku..”
“Wah kau minta dua, kalau gitu aku mau minta satu lagi..”
“Apa itu?” Xiao Yin tersenyum.
“Aku ingin mengambil ciuman yang tertunda di pesta itu…hari ini..”
“Ah..tidak! tidak mau!!” jerit Xiao Yin namun tampaknya Henry tidak peduli, dimasukkannya tangannya di sela-sela rambut gadis itu dan diciumnya bibir gadis itu dengan lembut. Di bawah terang lampu kamar rumah sakit. Di bawah memori tentang sketsa biola, tentang apartemen, tentang lift, tentang air mineral, tentang drawing pen, tentang yakiniku, tentang bunga matahari, tentang mesin penjawab telepon, tentang tuberculosis, tentang permohonan maaf, tentang pesta, tentang permainan waktu.
“Xiao Yin…kau tahu? Saat aku melupakanmu adalah saat di mana aku melupakan biola dan nada-nada…”
“Sama denganku, aku mungkin akan melupakanmu ketika aku sudah lupa caranya menggambar..”

Beijing——–berapa hari telah berlalu, di apartemen Henry
“Hei, kau jangan gerak-gerak!!” Xiao Yin membentak Henry, yang kini menjadi modelnya. “Ah dasar kau ini seperti tidak tahu pemain biola saja, kalau pemain biola bermain itu nggak cuma tangannya saja yang goyang!” balas Henry, menghentikan permainannya. “Tuh kan! Sekarang kau malah berhenti! Sebaiknya kau turuti saja apa yang kuminta, supermodel!” Xiao Yin memanyunkan bibirnya. “Ih, Kau ini nggak dulu nggak sekarang galaknya nggak berubah-berubah ya..” “Kau juga nggak berubah-berubah nyebelinnya.”
Hari ini, Xiao Yin akan pindah ke rumah papa. Itu berarti ia tidak akan bertemu Henry lagi. Besok Henry juga harus kembali bekerja bersama Super Junior. Papa mengizinkan Xiao Yin menghabiskan setengah hari ini bersama Henry. Sebagai waktu terakhir bersama, begitu kata Papa.
Hari ini juga Xiao Yin menepati janjinya kepada Henry. Janjimya tentang gambar yang ke seratus. Tapi ada yang berbeda dari gambar ini. Ya, gambar ini adalah kali pertama Xiao Yin melukis Henry dengan model dan bukan dengan ingatan saja. Entah akan jadi lebih bagus atau tidak, tetapi Xiao Yin merasa lebih bahagia. Karena ia tidak menggambar sendirian.
Tak berapa lama….”Bagaimana Xiao Yin? Sudah selesaikah? Aku sudah pegal nih, kata kamu kan nggak boleh gerak-gerak,” tanya Henry. “Sabar ya…tinggal sedikit lagi…” Xiao Yin tersenyum pada gambarnya yang hampir sempurna itu. “Nah sudah selesai!!” Xiao Yin mengangkat gambarnya tinggi-tinggi. Lukisan itu, tidak lagi berupa sketsa, tetapi sebuah lukisan yang digaris dengan sempurna. Lukisan itu, Henry yang memainkan biola putihnya. Di sebelahnya, terbentang kota Beijing di siang hari dari balik jendela.
“Xiao Yin….itu indah sekali…” puji Henry, air mata hampir meleleh di pipinya, sama seperti Xiao Yin di pesta tempo hari. “Gege Henry! Aku mau kau membawa gambar yang ke seratus ini, sebagai kenangan tentang aku!” Xiao Yin tersenyum. Senyum termanis yang pernah dilihat Henry terkembang di wajah gadis itu. Tiba-tiba dipeluknya gadis itu dengan sangat erat. “Tentu Xiao Yin, apa pun yang kau minta…” “Gege Henry, aku senang sekali karena pernah mengenalmu..” “Aku juga senang sekali karena pernah menyukaimu,” bisik Henry. Bisikan itu, yang akan selalu diingat Xiao Yin hingga Tuhan menjemputnya nanti.
Setengah hari ini. Setengah hari paling bahagia bagi Xiao Yin maupun Henry. Papa telah menjemput Xiao Yin di depan pintu. “Terima kasih, untuk semuuuaaanya..!” kata Xiao Yin sambil melambaikan tangannya. Ia tidak tahu apakah ia akan bertemu lagi dengan pangerannya itu, seperti ia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Henry juga melambai. Ia tersenyum hingga wajah serta suara yang disukainya menghilang seiring pintu yang ditutup. Beijing… Henry sangat bahagia. Di sini ia bertemu dengan orang yang benar-benar mencintainya dengan tulus. Yang ingin namun tidak dapat menonton konsernya. Bukan yang dapat menonton lalu di sana hanya menghina.

by : elya

13 Comments (+add yours?)

  1. ami_cutie
    Jul 01, 2010 @ 18:23:06

    kyaa.bagus bgt ffnya..
    hmm..udah the end kah?

    Reply

  2. Vaniiy Hyesun Lee
    Jul 01, 2010 @ 18:25:42

    tambah cinta deh ma henry . haaah, aku bljar biola masii susah2, selalu ajah kena senar yg laen, henry, help meee >,<
    nice ff
    lanjud eonn 😀

    Reply

  3. rebie
    Jul 01, 2010 @ 18:32:55

    Likee!!! Hahahah..ini tbc ato tamatt??
    So sweet bgt.

    Reply

  4. t3ukt4ct0rym05tw4nt3d
    Jul 01, 2010 @ 18:38:58

    kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………..

    hiks hiks hiks… co cuwitttt….

    ^____^

    Reply

  5. michiko.ELF
    Jul 01, 2010 @ 18:39:01

    Akhirnya muncul jugaa..
    Ini tbc tw the end ya?haaaahh..yang penting baguss ff’a..

    Reply

  6. t3ukt4ct0rym05tw4nt3d
    Jul 01, 2010 @ 18:43:28

    hiks hiks hiks…..

    mochi…. coooooooo cuwit……

    TT_TT

    Reply

  7. ciiciiminie
    Jul 01, 2010 @ 19:00:17

    adegan makan malam nya romantis abisss .

    udah tamat pa blom nihh ???
    mudah – mudahan blomm
    heheeh

    Reply

  8. dhikae
    Jul 01, 2010 @ 19:26:31

    so sweeettttt

    Reply

  9. monpin_
    Jul 01, 2010 @ 19:47:44

    cieee henry cuit cuit… *gaje*
    so sweet ^^ ffnya uda end ya? atau masih tbc? moga-moga terus lanjut

    Reply

  10. atyaloveskyu
    Jul 01, 2010 @ 20:00:28

    eonnie,mnta PW bru dunk,,,,ni emailq holy.avril@gmail.com

    Reply

  11. gei's
    Jul 01, 2010 @ 21:20:10

    keren kok. lanjut ya ^^

    Reply

  12. haevia
    Jul 02, 2010 @ 21:13:32

    Henry romantis deh .. jdi suka *gelo* *dijitak hae*

    Reply

  13. Park Eunsoo
    Jul 08, 2010 @ 12:17:21

    tamatkah….??? waduh……

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: