Untitled

CHAPTER 1. WORLD’S MOST QUIET MAN

Cerita sahabatku, Im Ga-in dan kekasihnya, Kim Kibum, mungkin bukan kisah yang menyenangkan. Tapi untukku, kisah mereka adalah kisah cinta yang paling berharga…

Kim Kibum bagiku adalah pria paling pendiam di dunia ini. Dia hanya akan bicara hal-hal yang penting pada siapapun, termasuk pada Ga-in kekasihnya. Biarpun wajahnya tampan, tapi aku yang hanya teman biasa saja mulai merasa kebiasaannya itu menyebalkan. Aku pernah menanyakan hal tersebut pada Ga-in, tapi jawabnya,

“Haha, matanya bicara seribu kali lebih banyak dari bibirnya, Roori-ah.”

Memang susah bicara sama orang kasmaran.

Tapi tahukah kalian, Ga-in dan Kibum sudah berpacaran sejak tingkat 2 Junior High. Yup, lebih dulu setahun dariku dan Siwon. Kini sudah 8 tahun berjalan, dan aku tak pernah mendengar ribut-ribut besar di antara mereka, bahkan ketika harus berpacaran jarak jauh selama 3 tahun Kibum di AS. Tak sepertiku dan Siwon yang terus on-off, mereka melangkah mulus begitu saja, dan aku harus mengakui bahwa sahabatku Ga-in memang memiliki kesabaran yang luar biasa.

Sampai ketika Kibum harus kembali ke AS selama seminggu untuk mengunjungi neneknya yang sakit. Anehnya, kali ini Ga-in sedikit memberi penolakan. Tapi memang sudah sifatnya, Ga-in akhirnya mengerti dan melepas Kibum dengan senyum hangat.

Sehari setelahnya, aku sedang berada di rumah Ga-in untuk mengerjakan tugas designing ketika Kibum menelepon untuk pertama kalinya semenjak berangkat ke AS.

“Yoboseyo, Kibummie oppa?” Ga-in menjawab teleponnya dengan riang.

“Hei.” Jawab Kibum.

“Oppa, gimana keadaan disana?”

“Begitulah, kamu doain aja ya semoga Granny cepet sembuh.”

“Pasti. Terus kamu ngapain aja disana? Sekarang lagi apa?”

Not much to do. Aku dan sepupu-sepupuku takut Granny kenapa-kenapa pas kita pergi, jadi kita ga kemana-mana juga. Oh ya, mereka bilang kamu harus kesini kapan-kapan.”

“Sepupu-sepupumu tau aku?”

“Aku dipaksa nunjukin foto kamu kemarin.”

“Omo… oppa aku kan jadi malu.” Ujar Ga-in yang wajahnya memang benar tersipu-sipu. Aku geleng-geleng kepala. Dasar kasmaran-all-the-time couple. “Tapi ngomongin keluarga, disini yang kangen sama kamu malah Umma, lho. Nanyain… mulu. Innie, Kibum mana? Kok jarang main lagi? Gitu-gitu deh. Bahkan Umma udah rencana mau masak enak pas kamu pulang nanti.”

Kibum tersenyum. “Bilangin gamsahamnida ke ahjumma ya.”

“Yup.” Tiba-tiba, Ga-in mendengar suara tawa anak kecil di seberang sana. “Oppa, kamu sama siapa?”

“Oh, ini keponakanku, Hyesa. Baru 2 tahun, pinter banget. Hyesa, ini Ga-in Unnie.”

“Ga-innie?” suara bocah mungil di seberang sana.

“Ne, ini Hyesa-ah ya?”

“Ne-ne. E-sa.”

“Ya, Im Ga-in,” Kibum mengambil alih telepon lagi. Tiba-tiba satu ide terlintas di benaknya. “Let’s hear something. Hyesa-ah, sayang Kibum oppa?”

“Ahaha… ahaha, BumBum oppa, salanghae…” jawab Hyesa dengan suara riang.

“Artinya: Hyesa sayang Kibum oppa…” telepon kembali diambil alih Kibum. “Umm, kalau Ga-in Unnie, sayang Kibum oppa juga ga?” godanya sambil senyam-senyum. Seketika wajah Ga-in merona. Kalau di Amerika pacarnya itu frontal sekali sih?

“Uuuhh, oppa!” gerutunya yang masih tersipu sambil mematikan telepon. Di Amerika sana…

“Lho, mati?” Tanya Kibum terheran-heran. Tapi kemudian, seulas senyum terbentuk di bibirnya. “Hyesa-ah, liat deh, masa Ga-in Unnie cemburu sama kamu…”

“Temulu?” ulang Hyesa sambil mengerjap-ngerjapkan mata besarnya.

CHAPTER 2. A FATAL CURIOSITY

“Zap!” malam itu, tiba-tiba listrik di rumah keluarga besar Kim di Amerika, mendadak mati.

“Lho? Hyesa-ah, mati lampu nih. Cari lilin yuk…” ajak Kim Danhee, ibu Hyesa, sambil menggendong anaknya. Dalam trip ke Amerika kali ini, kebetulan Park Jungsoo, suaminya, tidak bisa ikut karena sedang mengikuti military service alias wajib militer di ating asal mereka. “Nah… tuh, terang lagi deh. Hore, karena udah terang, sekarang Hyesa tidur ya…”

“Danhee-ah, Danhee-ah…!”

“Ye, aboji…” jawab Danhee sambil buru-buru menidurkan Hyesa di ranjang. “Hyesa-ah, tidur ya. Umma dipanggil Hal-aboji tuh.”

“Danhee-ah…!”

“Ye, aboji!” jawab Danhee lagi sambil terburu-buru meninggalkan Hyesa.

Sepeninggal umma-nya, alih-alih tidur, mata Hyesa malah makin membulat, berputar memperhatikan seisi kamar. Tiba-tiba matanya tertuju pada satu-satunya sumber cahaya di kamar yang remang-remang itu: lilin yang berdiri di dalam tempat lilin atin yang diletakkan umma-nya di atas meja. Naluri penasaran Hyesa muncul. Merangkak, ia mendekati meja tempat lampu minyak tersebut diletakkan.

“Aduh, ‘nas!” jerit Hyesa ketika mencoba menyentuh benda tersebut. Ingin sekali ia memegangnya. Tapi… pake apa ya? Matanya kembali meneliti seisi ruangan. Aha! Her bunny bolster! Kembali merangkak, Hyesa dengan susah payah menarik guling tersebut.

“Uuhh… uuhhh…!” serunya yang hanya berhasil menggeser tempat lilin tersebut ke tepi meja dengan guling kelincinya. Setelah beberapa saat, Hyesa yang putus asa langsung mengemut jempolnya dan tertidur.

“Prangg!!” Lilin yang sudah di ambang meja tersebut akhirnya jatuh juga. Tak berapa lama api mulai merambat dan seketika menjalar keseluruh kamar yang didominasi kayu khas country style Amerika itu.

“Aboji, aboji… kirain ada apa, ternyata Cuma mau minta dibikinin susu…” ujar Danhee yang berjalan dari dapur sambil mengaduk susu untuk ayahnya, geleng-geleng kepala. Tapi… kok udaranya jadi agak panas gini ya? Masih spring padahal… Pikirnya sambil mengusap peluh di dahinya akibat kepanasan.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara riuh-rendah dan tak berapa lama terdengar pula derap-derap langkah Heechul, adiknya yang ating mendekat.

“Danhee noona! Kebakaran, kebakaran!!” teriak Heechul dengan napas memburu. “Kaja, noona! Yang lain semua sudah menyelamatkan diri. Kaja, kaja!!” ujar Heechul sambil menarik-narik Danhee.

Api semakin membesar dan terlihat sudah melahap sebagian rumah besar bergaya country tersebut. Konstruksi dari kayu yang membangun sebagian besar rumah itu pun makin mempercepat menyebarnya api.

Danhee sampai di luar dengan napas terengah-engah. Dilihatnya sekeliling. Hanya ada aboji-nya, Granny-nya, dan beberapa ahjumma dan ahjusshi-nya. “Heechul, yang lain kemana?” Tanya Danhee setengah was-was.

“Lho, tadi yang muda-muda pada izin ke mal kan? Noona lupa ya? Ya emang tinggal segini jadinya.” Jawab Heechul, bingung.

“Aniyo, Hye—“

“Danhee!” seru aboji-nya sambil berlari mendekat. “Mana Hyesa?”

“Ga ad— OMO!! HYESA!!” teriak Danhee sambil menatap nelangsa si jago merah yang sedang menjilat-jilat rumah keluarga besarnya itu.

CHAPTER 3. THE PROPOSAL

“Ya, are you still mad at me?” Tanya Kibum pada Ga-in yang baru diteleponnya lagi itu. Di kanan-kirinya, para sepupu-sepupu gilanya sudah mulai berbisik-bisik, “Loudspeaker, loudspeaker!”

“Siapa yang marah?” jawab Ga-in, jutek.

“Mianhaeyo…”

“Ya, Im Ga-in! Maafin aja deh, Kibummie udah beli banyak oleh-oleh lho buat kamu…” terdengar teriakan banyak suara di ujung sana.

Ga-in mengernyit, “Aigoo, oppa! Kamu loudspeaker ya??” tebak Ga-in yang mukanya langsung memerah. Kibum hanya terkekeh. “Omo, aku kan malu banget…” ucap Ga-in pelan, masih belum bisa menyembunyikan rasa malunya.

“Aissh, Ga-in unnie, sama kita aja ga usah malu kali…” kali ini terdengar suara cewek. Mungkin sepupu-sepupunya yang sering dia certain, pikir Ga-in positif.

“Ne, Ga-in Hyeongsu!” timpal suara lainnya. Kali ini cowok.

Hyeongsu?

“Aissh, Ryeowookie! Diem ga!” seru Kibum sambil menggeplak adik sepupunya itu.

“Jadi begini, Ga-in-ssi, Kibummie ada rencana propose kamu buat married… Mau ga?”

“Youngwoon hyung…!!”

“Udah minta izin Granny segala lho…”

“Kim Saera!”

“Sepupu kita cuma gagu doang kok… ga punya penyakit kelamin! Tenang aja.”

“Nyetir, nyetir aja deh Hae Hyung!!” sembur Kibum dengan muka blushing kepada Donghae, kakak sepupunya yang lagi nyetir di depan. Donghae cekikikan.

“Jadi… mau ga, Ga-in-ssi??” koor para sepupu-sepupu gilanya itu.

Kibum hanya bisa pasrah. Astaga…

Di Seoul, Ga-in hanya bisa terbengong-bengong mendengar ‘lamaran ga langsung’ yang baru saja disampaikan sepupu-sepupu Kibum ‘dengan sangat tidak romantis’ tadi (abis, propose kok kayak marching band gitu jdarr, jderr sana-sini, rutuk Ga-in dalam hati).

“Ga-in-ssi, kok diem?” teriak Donghae dari belakang setir.

“Iya, Unnie…”

“Iya, iya…” sambung sepupu-sepupu Kibum yang lain sambil ngangguk-ngangguk.

Awalnya Ga-in speechless, tapi kemudian… “Oppa, emangnya bener?” tanyanya ragu-ragu.

“Eng… Umm…”

“Lama, lama!” teriak sepupu-sepupunya dari belakang. Kibum langsung mendelik tajam.

“Omo… si gagu ngamuk! Gawat gawat…” ujar mereka sambil mengelus dada, menghindari tatapan Kibum.

“Hmph…” Ga-in menahan tawanya di ujung sana.

“Im Ga-in…” Kibum mulai bersuara lagi. Ga-in tersentak. Omo! Dia bakal dilamar, dia bakal dilamar!! “Nawa gyeolhanhaejurae?” (Will you marry me?—taken from the last lyric of Marry U by Super Junior)

Hening.

“I do, Kim Kibum-ssi.” Jawab Ga-in mantap.

Dan acara wedding proposal itupun berlangsung sukses…!!

“Horee…!!” sorak para sepupu-sepupu noraknya itu setelah Kibum menutup teleponnya. “Chukaeyo, Kibummie…!!”

“Gomawo…” jawab Kibum happy.

“Ya, guys, itu apa ya?” tiba-tiba Jongwoon, salah satu sepupu juga yang duduk di jok depan sebelah Donghae, bertanya bingung sambil menunjuk ke arah bumbungan asap tebal yang meninggi di depan mereka. Seketika semua menoleh ke arah yang ditunjuk Jongwoon tadi.

“Kayak dari arah rumah kita ga sih?”

“Kim Saera, do NOT frightened us!” omel yang lainnya langsung. Saera mengekeret.

“Telepon rumah, telepon rumah! Perasaanku ga enak nih beneran!” suruh Donghae sambil menghentikan mobil. Wajahnya gusar.

“Kok jadi dianggep serius gitu sih Hyung?”

“Bentar, bentar… Nada sibuk! Aissh, siapa sih main telepon hari gini??” ujar Youngwoon, ikutan kesal.

Tiba-tiba HP Jongwoon berbunyi. “Ah, ah, ada telepon nih.” Ucapnya sambil merogoh saku celana. “Heechul Hyung!” bisiknya pelan, dan semua mata langsung tertuju padanya, harap-harap cemas.

“Yoboseyo, Hyung?”

“Jongwoon, rumah kebakaran—“ setelah itu tak ada yang mendengarkan lagi. Seketika semua berpandangan dan Donghae langsung menghidupkan mobilnya dan melesat menuju rumah.

CHAPTER 4. DEATHLY RESCUE

Sesampainya di rumah, anak-anak itu pun tertegun melihat sebagian rumah besar Granny mereka sudah dilalap api. Terlebih ketika mendengar ribut-ribut yang terjadi antar sanak-saudara mereka.

“Hyesa masih di dalem??” teriak Kibum khawatir. Ialah yang memang paling menyayangi Hyesa dari awal. Ia pun sudah berancang-ancang untuk menerobos masuk.

“Andweyo, oppa!!” cegah Saera, si maknae.

“Ga bisa, Saera. Nunggu firefighters mah lama!!” jawab Kibum sambil berlari ke arah rumah.

“Kibummie!!”

Di dalam rumah, segalanya tambah kacau lagi. Api sudah nyaris membakar seluruh ruang tamu. Untung Kibum masih bisa melewati ruang demi ruang, menuju… emm, menuju…

“Shit! Lupa nanya Hyesa ditinggal dimana, lagi! Shit, shit, shit!” gerutu Kibum yang akhirnya memutuskan mencoba melihat ke seluruh kamar.

“Umma… appa… BumBum oppa…!!” sayup-sayup terdengar jerit tangis anak kecil dari kamar yang berada tepat di depan Kibum. Pasti Hyesa!

“Hye-ah…” Kibum memasuki kamar yang menurutnya paling ‘gawat’ itu. Nyaris seluruh ruangan sudah terbakar, plafon-plafon sudah berjatuhan, dan hanya menyisakan tempat tidur yang memang terletak di sudut ruangan. Tempat Hyesa.

“BumBum oppa…!” tangis Hyesa makin pecah melihat kedatangan om kesayangannya ini.

Hush, little one…” ujar Kibum sambil mengangkat Hyesa dan menggendongnya. Hyesa berhenti menangis, tetapi tetap meninggalkan sedikit isakan-isakan dari bibir kecilnya itu.

Dengan hati-hati Kibum melangkahi kayu-kayu yang jatuh akibat terbakar.

“Bum oppa… ‘nas…” keluh Hyesa sambil melepas pelukan tangannya di leher Kibum. Sesaat Kibum melihat ada luka bakar yang lumayan besar di lengan Hyesa.

“Ne, harassimnida… Tahan ya sayang, tuh liat, bentar lagi sampe. Nanti ketemu umma ya…”

Dan benar, mereka sudah berada di ambang pintu ketika Kibum menyadari ada runtuhan besar menutupi pintu rumah Granny-nya itu.

Aissh, mana bisa lewat kalau gini caranya? Mau mutar lewat pintu samping, cari mati namanya. Lagian belum tentu juga itu pintu aman. Tapi prioritas Hyesa dulu deh. Pikir Kibum sambil melirik Hyesa.

“Danhee noona! Danhee noona!” teriak Kibum memanggil ibu Hyesa.

“Ne, Kibummie?” jawab Danhee terburu-buru dari luar. “Hyesa, Hyesa gimana?”

She’s with me. Sekarang noona coba ke jendela di kanan pintu, kanan noona. Cepet, cepet!”

“Y-Ye.”

Kibum kembali melangkahi runtuhan-runtuhan terbakar dengan hati-hati kearah jendela itu.

“Noona, jauhin jendelanya sebentar.” Dan prangg!! Kibum menendang kaca jendela tersebut sampai berkeping-keping. Danhee akhirnya bisa melihat Kibum yang sedang menggendong putrinya.

“Umma…” tangis Hyesa sambil menggapai-gapai tangan ibunya. Danhee pun melakukan hal yang sama, dan hap! Hyesa pun berpindah tangan dan selamat.

Kibum tersenyum lega. Kini saatnya dia mematahkan kusen jendela tersebut agar bisa ikut keluar. Tapi…

“BRUKK!!”

“KIBUMMIE!!!”

CHAPTER 5 (END). JEONGMAL GAMSAHAMNIDA, KIM KIBUM-SSI

“Kim… Ahjumma.” panggil Ga-in pelan di hari pemakaman Kibum, tatapannya kosong. Kami—aku, Siwon, dan Ga-in—baru saja datang di kediaman Kibum itu kira-kira 10 menit lalu, yang langsung disambut teman-teman Kibum yang juga temannya, yang menyatakan bersimpati atas kepergian orang yang paling Ga-in sayang selain kedua orangtuanya tersebut. Dan akhirnya dia baru ingat, ia sama sekali belum memberi salam pada orangtua Kibum.

Jadilah sekarang ia mencoba masuk ke ruang tamu yang telah disulap menjadi tempat persemayaman sebuah peti yang berisi jasad Kibum, sebelum dimakamkan (keluarga Kim yang half Amerika, memilih tidak mengkremasi Kibum dan memakamkan jasadnya seperti biasa).

“Ga-in-ah…” jawab ibu Kibum yang langsung menghambur memeluk Ga-in sambil menangis tersedu-sedu. “Ga-in-ah… Mianhamnida, ahjumma ga bisa ngejaga Kibum disana… Jeongmal mianhamnida, ahjumma… ahjumma…” ibu Kibum pun tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi. Ia menangis tanpa henti sambil memeluk Ga-in lebih erat. Tatapan Ga-in tetap kosong ke arah peti mati Kibum. Hatiku sakit melihat kondisi sahabatku itu. Sudah 2 hari sejak ia dikabari hal ini, dan sejak hari itu Ga-in mogok makan dan terus menatap kosong. Aku meremas tangan Siwon yang langsung mendekapku ke dadanya.

Mendengar ribut-ribut tersebut, sepupu-sepupu Kibum yang berkumpul di sudut lain ruangan berinisiatif mendatangi Ga-in.

“Annyeonghaseyo, Im Ga-in?” sapa Jongwoon pelan. Ga-in menoleh. “Saera-ah, tolong bawa Minji ahjumma ke kamar.” Bisiknya pada Saera. Saera mengangguk. Ia pun segera membujuk dan memapah ahjumma-nya itu ke kamar.

“Kim Jongwoon, sepupunya Kibummie.” Katanya sambil mengulurkan tangan. Ga-in menyambutnya. “Ini Kim Youngwoon, kakakku, itu Lee Donghae dan Kim Ryeowook. Dan yang tadi nganterin ibunya Kibum namanya Kim Saera, adiknya Ryeowookie. Kita semua sepupunya Kibummie.”

“Ah, annyeonghaseyo.” Sapa Ga-in pelan sambil membungkuk.

“Mianhaeyo, kita ga bisa jagain Kibummie disana…” ujar Donghae sambil menunduk.

“Aku… boleh liat oppa?” pinta Ga-in pelan sambil menatap lurus peti mati Kibum, seakan tidak mendengar perkataan Donghae.

“B-Bwoh?” sahut koor sepupu-sepupu Kibum.

“Aku mau liat Kibum oppa… boleh?” ulang Ga-in lebih lambat dengan bibir bergetar. Ia nyaris menangis.

“An… andweyo… “ sepupu-sepupu Kibum mencoba melarang, tapi mereka sendiri tak juga menemukan alasan yang tepat untuk menahan Ga-in. Mereka teringat bagaimana Kibum telah sedikit berubah berkat Ga-in… Kibum yang introvert, sekarang mulai terbuka dengan orang-orang dan mereka berenam akhirnya tak sekadar sepupu lagi, tapi sahabat, dan itu semua karena Kibum menyayangi Ga-in…

“Kondisi Kibummie oppa mengenaskan, unnie.” Seketika sepupu-sepupu Kibum, aku dan Siwon, dan tentu saja Ga-in menoleh. Itu suara Saera, si maknae yang baru memulai semester keduanya di Senior High. “Ketika mau menyelamatkan diri dari kebakaran setelah berhasil menyelamatkan Hyesa, langit-langit rumah yang terbakar jatuh tepat menimpa oppa.”

“Tapi oppa belum meninggal. Dia meninggal di RS.” Saera terdiam sejenak, seakan tidak ingin mengingat kenangan terakhir yang buruk itu. “Umm… oppa kasih aku ini, buat Unnie.” Lanjutnya dengan susah payah menahan tangis. Ia memberikan sebuah kotak beludru bertuliskan Harry Winston di atasnya.

Ga-in mengambil dan membukanya. Sebuah cincin bermata berlian kecil berwarna pink, dan di bagian dalamnya terukir ‘Kibum loves Ga-in’. Ga-in jatuh terduduk sambil menangis. Aku segera meninggalkan Siwon dan menyongsongnya untuk memberikan pelukan sahabat.

“Aku udah tau bakal kayak begini Roori-ah… Perasaanku ga enak waktu dia berangkat, aku tau bakal kayak gini…”

Hush, dear…” ujarku menenangkan sambil mengelus-elus rambutnya.

“Aku ga butuh cincin ini, aku ga butuh!! Kenapa harus orang lain yang kasih cincin ini ke aku?? Oppa, oppa…” tangis Ga-in mulai deras memanggil-manggil kekasihnya. Sepupu-sepupu Kibum menatap dengan pandang kasihan. Mereka mengerti perasaan Ga-in, karena mereka juga menjadi saksi bahagianya Kibum setelah melamar Ga-in… Tapi, siapa sangka jika kebahagiaan itu hanya bertahan 15 menit…

Berbulan-bulan setelah itu, Ga-in mencoba bangkit kembali. Dia sudah menyadari, bahwa Kibum tidak meninggal sia-sia. Kibum meninggal untuk satu nyawa lain, yang jalan hidupnya masih panjang, Hyesa. Ga-in tidak pernah melepas cincin pemberian Kibum, dan ketika aku bercerita kalau aku mulai merengek meminta cincin yang mirip kepada Siwon, Ga-in hanya tertawa.

“Ya, Siwon kan kaya, dia bisa kasih kamu yang jauh lebih bagus dari ini kalau dia mau.”

“Masalahnya, aku minta yang kayak kamu aja dia ga mau kasih.” Aku mencibir.

Ga-in tertawa. Sepertinya melihat model hubunganku dengan Siwon saja sudah merupakan hiburan baginya. Baguslah, aku suka melihatnya tertawa. Ya, Kim Kibum, biarpun awalnya aku sedikit kesal padamu yang jarang bicara, tapi melihat akhir hidupmu—ya, aku bercanda kok—melihat caramu memberi pelajaran pada kami semua tentang arti kehidupan sebuah nyawa kecil, kekesalanku sedikit hilang. Dan dengan melihat kebahagiaan yang mungkin memang tidak abadi yang kau berikan pada Ga-in, kekesalanku pun hilang sudah. Instead, gamsahamnida, Kim Kibum-ssi. Jeongmal gamsahamnida…

***

BY : Lolita

19 Comments (+add yours?)

  1. ciiciiminie
    Jul 04, 2010 @ 12:32:17

    terharu bacanya .
    huhuhu .
    kenapa kibum mesti mati sihh ??
    padahal kan baru lamaran .
    hiks hiks hiks
    lnice FF

    Reply

  2. mei.han.won
    Jul 04, 2010 @ 12:32:59

    Andwaeeee…..
    Author tnggung jwb…. Aku nangisssssss….. Huwaaaaaaaa…. 😦 😦 jdi kangen kibum oppa….

    Reply

  3. mixstyle95
    Jul 04, 2010 @ 12:33:43

    Aaa..
    So sweet..
    Kasian ga-in nya..
    Nice ff

    Reply

  4. KyuSeoJun
    Jul 04, 2010 @ 12:33:54

    TT–TT HUWAAA KIBUM MENINGGAL?! 😦

    nice!! hehe~ 😀 🙂

    Reply

  5. Sebastian
    Jul 04, 2010 @ 12:37:26

    Mengharukan, gw suka banget pas adegan Kibum melamar Ga-in…menurut gw malah itu cara ngelamar yang romantis…dan lucu…
    ‘Haha, matanya bicara seribu kali lebih banyak dari bibirnya, Roori-ah.’..gw suka kata kata itu–Kibum banget.
    nice ff author -)

    Reply

  6. faraLoveDonghae
    Jul 04, 2010 @ 12:53:02

    Nice FF

    Reply

  7. Ami_cutie
    Jul 04, 2010 @ 13:55:05

    like this ff! serius! apik banget…
    salam kenal buat author…

    Reply

  8. SungYoung
    Jul 04, 2010 @ 13:57:05

    Huaaaaa kibum oppa 😥

    BTW, nice ff chingu 🙂

    Reply

  9. chris~wonnie~hyunnie
    Jul 04, 2010 @ 14:00:11

    really2 nice ff onnie….!
    air mata rasanya ngalir teruss…
    kibum oppa~~~
    ga-in bener2 kasian…
    salam kenal ya buat authornya…
    ^__^

    Reply

  10. baboo=doriesself
    Jul 04, 2010 @ 14:46:24

    MAMA~~~~~
    my prince bum!!!!!!!!!
    HUWEEEEEEEE!!!!!
    hiks.hiks
    arghhh bumbum..TT^TT
    sukses buat aku nangis..

    Reply

  11. sungheedaebak
    Jul 04, 2010 @ 14:46:49

    tuh kan..pas ada kebakaran aku udah firasat kibumnya mati. bener T_T
    terharu aku..aahh kenapa akhirnya sedih?! aku berkaca-kaca bacanya..

    Reply

  12. aichan
    Jul 04, 2010 @ 17:19:03

    like this ff….hiks..hiks…terharu…T_T

    Reply

  13. Mentari
    Jul 04, 2010 @ 19:04:20

    miris aq bcanya T.T

    Reply

  14. sungwookie
    Jul 04, 2010 @ 23:47:45

    ga in bangga pnya cwo yg mw nolong org lain smpe ngorbanin nyawa.a.. ff.a bikn terharu.. ksian kibum hrus pergi
    aku ska ff nieh sngkat tpi dpat maknanya

    Reply

  15. firma
    Jul 05, 2010 @ 13:14:10

    yyaaaahhhh,,,
    ki bum mati….
    ssseeeeddddiiiihhhhhh…

    Reply

  16. vanny
    Jul 05, 2010 @ 15:58:14

    another fanfic about kibum
    nice Ff 🙂

    Reply

  17. ndeehyuk
    Jul 06, 2010 @ 06:52:07

    sedih….sedih…
    Huhuhu….

    Tapi cara nglamarnya oke punya tuh !! Pengen deh (??)

    Reply

  18. meliameimei
    Aug 07, 2010 @ 23:33:12

    omo.. sdih banget? kibum-ah :((((

    Reply

  19. ParkYR
    Dec 19, 2010 @ 22:28:24

    sumpah aku nanggis pas bca ending na T.T

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: