[One shot] Never Say I love U..

By SeoRin
***
Sebanyak apapun aku mencoba memasukkan oksigen dalam paru-paruku.. Dada ini tetap saja terasa sesak dan semakin sesak..

Apa.. apa yang seharusnya kulakukan..

___***___

“Mungkin sebaiknya kita memang berpisah,” aku mengulang kata-kata yang begitu berat untuk keluar dari mulutku itu sekali lagi. Pedih.. Menyakitkan.. Tapi tetap harus kukatakan..

Pria yang ada di depanku itu bergeming. Dia diam seribu bahasa. Hanya satu kata yang terdengar dari mulutnya.”Baiklah.”

Baiklah??? Hanya itukah yang bisa kau katakan Kim Heechul??? Hanya itukah?? Tak adakah kata-kata lain?? Aku sudah berusaha menahan semua kepedihan yang begitu meluap dalam dadaku dan hanya itu yang bisa kudapatkan darimu?

Aku menatap Heechul-oppa, berusaha berakting seakan semuanya baik-baik saja. Kutahan air mataku supaya nggak keluar sebelum waktunya.

“Ah.. Kure..” ucapku lirih. ”annyeong hi kyeseyo oppa..” Aku tersenyum, meski dengan terpaksa dan berbalik dari hadapannya. Hanya satu harapanku saat ini.. Ia mengejarku dan menahanku untuk pergi. Tapi, tak ada yang terjadi.. bahkan setelah air mata ini nggak bisa berhenti mengalir dari mataku.. Setelah aku berjalan begitu jauh dengan rasa sakit ini..

Kenapa.. Kenapa bahkan di saat seperti ini pun kau nggak bisa mengerti perasaanku Kim Heechul??

___***___

Enam tahun.. itu waktu yang coba kami jalani selama membina hubungan yang telah retak ini. Selama itu, nggak satu kata cintapun pernah keluar dari mulutnya. Akulah yang selalu mengatakan hal itu padanya. Bahkan, aku juga yang memberanikan diriku untuk memintanya jadi namjachinguku saat SMA dulu..

Aku nggak pernah tahu apa yang ada di dalam hatinya..

Kupikir, aku bisa tahan dengan sifatnya yang dingin itu, tapi.. hati ini sesak tiap kali melihat pasangan lain yang ada di sekitar kami..

Mereka bisa bercanda, tertawa bersama, menghadapi masalah mereka berdua, sedangkan aku.. Ia hanya tersenyum padaku, nggak pernah lebih dari itu..

Semuanya bertambah menyakitkan saat 3 tahun berlalu sejak hubungan kami, saat dia sudah menjadi fotografer professional seperti keinginannya.. Kami menyembunyikan status kami.. Ia semakin jarang menemuiku.. jarang menelponku.. membuatku selalu bertanya-tanya.. masihkah ia mencintaiku? Masihkah?? Atau.. mungkinkah memang sejak awal dia nggak pernah mencintaiku??

Rasanya sakit.. sakit sekali saat memikirkan semua itu.. Aku nggak tahan dengan rasa sakit dan keraguan yang terus menderaku itu.. Karena itulah akhirnya kuputuskan untuk mengajukan kata itu.. berpisah..
Aku yang memulai dan aku yang berniat mengakhiri semuanya.. tapi.. kenapa hati ini malah semakin sakit..

___***___

“Sudahlah Eun Mi, lupakan dia,” ucap Ha Rin saat ia membuka pintu restoran kecil tempat kami biasa bertemu dan menyuruhku masuk duluan. Kami memilih duduk di meja dekat pintu.

“Kau ini bicara apa sih. Aku nggak mengerti,” elakku cepat.

“Ya! Jangan pura-pura lagi, kau masih belum bisa melupakan orang itu, kan? Kim Heechul?”

Hatiku teriris saat nama itu disebut. Sudah 3 bulan sejak kami putus, tetapi mendengar namanya saja aku masih belum bisa. Aku hanya diam dan menatap meja yang ada di depanku dengan lesu.

“Oh ya, kau mau pesan apa?” tanya Ha Rin.

“Emm.. Aku nggak makan..” jawabku ringan yang langsung disambut pelototan mata besar Ha Rin.

“Kau harus makan! Aku membawamu ke sini bukan cuma buat jadi pengawal saja tahu.”

“Tapi..”

“Karena itulah aku bilang kau harus melupakan orang itu sekarang juga. Kau nggak bisa makan karena ingat dia terus kan? Kau juga masih sering terus menangis hingga tengah malam dan nggak bisa tidur lalu matamu bengkak karena dia, kan?”

“Aku..”

“Kau harus lanjutkan hidupmu Eun Mi! Kau sudah cukup kurus karena kurang makan selama 3 bulan ini dan aku nggak ingin melihat sahabatku masuk rumah sakit hanya gara-gara kurang gizi. Kau harus makan. Titik!”

Aku nggak bisa membantah ucapan Ha Rin kali ini. Semua yang dikatakannya benar, termasuk perasaanku pada orang itu. Ha Rin memang selalu mengatakan semuanya dengan blak-blakan dan terus terang, berbeda denganku.. Aku selalu memilih untuk diam dan menunggu.. walaupun pada akhirnya jawaban itu nggak muncul-muncul juga..

“Arasso..” jawabku pada akhirnya.

“Bagus! Kalau begitu aku akan pesankan makanan yang sama denganku!” Ia sibuk memilih makanannya dengan ceria lalu segera memberikannya pada pelayan.

Aku selalu iri tiap kali melihat senyum lebar sahabatku satu ini.. Seandainya saja aku memiliki sedikit saja sifat cerianya saat ini..rasa sesak di dadaku ini pasti akan berkurang.

“Mungkin kau perlu memulai cinta yang baru.” Kata Ha Rin.

“Anni.. Kurasa nggak perlu kok..,” jawabku.”Aku.. hanya butuh waktu sedikit lagi..”

“Tapi nggak ada salahnya mencoba, kan? Aku akan mengenalkanmu pada seseorang.”

“Sudah kubilang nggak perlu, kan?”

___***___

Aku sedang membereskan buku-buku lama ketika selembar foto yang terselip di salah satu bukuku itu melayang dan jatuh ke lantai. Aku memungutnya. Fotoku dan Heechul saat SMA, saat kelulusan kami. Aku tersenyum lebar sambil mengacungkan tanda peace sementara dia seperti biasanya, menatap kamera dengan wajah tanpa ekspresinya.

Kalau dipikir-pikir.. Sejak dulu.. kami ini memang pasangan yang sangat berlawanan yah.. Dia jarang sekali menunjukkan ekspresinya padaku sementara aku selalu berusaha tersenyum dan bersikap ceria saat ada di dekatnya. Dialah salah satu sumber kebahagiaanku, itu yang pernah kuyakini dulu.. Tapi, kenapa sekarang semuanya jadi berakhir seperti ini..

Dia seperti gunung es yang menjulang tinggi dan aku hanyalah sebuah lilin kecil yang sendirian dan berusaha keras mempertahankan nyalaku. Tapi, sebesar apapun nyalaku, gunung es itu nggak akan pernah bisa kulelehkan.. Akulah yang akhirnya akan mati karena kehabisan nyala..

Kim Heechul.. Pernahkah kau mencintaiku..

___***___

“Bagaimana makanannya?”

“Eh, oh? N..ne, enak kok..” aku gelagapan menjawab pertanyaan Sung Min, orang yang dikenalkan Ha Rin padaku. Ia mengajakku makan siang ini.

“Oh ya Sung Min-ssi..”

“Jangan terlalu formal padaku. Panggil saja aku Sung Min. Lagipula kita seumuran kan?”

“Ah, ne.. mianhe..”

“Gwenchana..” Sung Min tersenyum ramah. Ah, ingin sekali aku bisa melihat senyum seperti itu di wajah Heechul.

“Jadi kau mau tanya apa?” Tanya Sung Min.

“Ah, anni.. hanya mau minta maaf. Kau pasti repot karena dipaksa Ha Rin menemaniku. Mian..”

“Gwenchana. Aku melakukan ini nggak terpaksa kok, soalnya aku memang ingin mengenal Eun Mi sejak dulu.”
Aku terdiam. Ingin mengenalku sejak dulu.. Apa itu artinya..

___***___

“Hwaaa!! Kim Heechul!!!>,.<” Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kau pikir sudah berapa lama aku menunggu ha?? Kau pikir kenapa selama ini aku memilih tetap sendiri dan nggak pernah bersama namja lain ha?? Aku masih mencintaimu Heechul pabo!! Aku tetap mencintaimu meski terus mencoba membencimu, pabo!” Aku melepaskan semua emosiku saat itu juga. Semua yang selama ini kupendam. Semua yang membuatku ingin meledak tiap melihatnya. Semua hingga aku kehabisan napas dan nggak punya kata-kata lagi untuk kuteriakkan padanya.

Ia mengelus kepalaku dengan lembut saat aku mulai terisak pelan dan menunduk lagi.

“Apa itu berarti kau menerima pernyataan cintaku kali ini?” tanya Heechul. Aku hanya bisa mengangguk lemah.

“Gomawo Eun Mi-ah..”

“Heechul pabo..” ucapku lagi.

“Tapi kau mencintai manusia pabo ini,kan?” ucapnya seraya tersenyum tipis.

“Nde.. cheongmal cheongmal saranghae..” ucapku seraya membalas senyumannya. Ia masih terus tersenyum sementara aku kembali terisak pelan. Kali ini isakan bahagia.. Aku senang karena akhirnya gunung es ini akhirnya bisa mencair juga sedikit demi sedikit.. Karena akhirnya aku tahu apa yang ada di pikirannya saat ini.. Karena ia nggak ragu lagi untuk mengatakan apa yang dia rasakan padaku.. Senang sekali..

“Lalu.. bagaimana dengan gadis itu..” ucapku kemudian.

“Siapa? Maksudmu Seo Rin?”

“Mana aku tahu namanya pabo!”

Heechul mengacak-acak rambutku.

“Ya! Tenang saja, dia itu kan keponakanku, nggak mungkin aku punya hubungan khusus dengannya.”

” K.. keponakan??” ucapku kaget. “T.. tapi dia memanggilmu..”

“Aisshh, anak satu itu kan memang nggak sopan sama sekali. Dia itu nggak pernah hormat sedikitpun padaku tahu. Padahal sudah jelas-jelas aku ini adik dari ibunya, tapi dia tetap saja memanggilku sesukanya saja. Cheongmal..” maki Heechul bersungut-sungut. Aku hanya bisa tersenyum melihat ekspresinya saat itu. Ia melirik ke arahku.“Kau sendiri.. bukannya datang ke tempat ini bersama seorang namja?”

“Eh, ah,d.. dia hanya temanku kok..” jawabku buru-buru.

“Oh.. teman ya..” tanyanya seraya mempertajam pandangannya.

“YA! Apa kau nggak percaya padaku?” Aku membalas tatapan matanya secara langsung.

“Siapa bilang? Aku percaya kok!” ucapnya seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Bohong. Tatap mataku kalau begitu.”

“Buat apa?” Ia melangkahkan kakinya dan beranjak pergi dari hadapanku begitu saja.

“Ya! Oppa~!” Aku berlari menggejar Heechul yang terus saja berjalan tanpa menengok ke belakang sedikitpun.

“Oppa marah ya?” tanyaku saat ada di sampingnya.

“Kenapa aku harus marah?”

“Padahal aku senang sekali lho..” ucapku kemudian.

“Mwo?”

“Aku senang kalau oppa cemburu saat aku bersama namja lain..” ucapku seraya tersenyum dan menggandeng tangannya. Aku bisa melihat ekspresi Heechul oppa berubah dengan cepat saat itu. Mukanya langsung memerah dan ia nggak berani menatapku sama sekali. Benar-benar lucu.

“A..Apaan sih?” ucapnya salting.

Apa kau tahu.. bukan hanya bunga matahari yang nggak bisa melepas pandangannya dari matahari.. tapi.. matahari juga nggak bisa sedetikpun berhenti berharap untuk bisa menghangatkan bunga matahari.. Ia memang selalu datang di pagi hari dan harus pergi setiap malam tiba, tapi ia nggak pernah melupakan bunga matahari..selalu menunggu saat untuk bisa bertemu lagi..

Mereka memang tidak punya kesempatan untuk bicara karena jarak yang memisahkan mereka.. tapi mereka punya cara sendiri-sendiri untuk menyatakan rasa cinta mereka..

_the end___

Ah, mian kalau ceritanya jelek..TT_TT

15 Comments (+add yours?)

  1. sungheedaebak
    Jul 18, 2010 @ 11:38:16

    sama sekali ga jelek! good job, no critic! feelingnya ngena bgt deh

    Reply

  2. Ami_cutie
    Jul 18, 2010 @ 12:00:22

    like this ff! so nice and…(lost words)

    Reply

  3. kang shin min
    Jul 18, 2010 @ 13:03:05

    keren 🙂

    chul oppa akhirnya mencair juga hehehe

    nice FF 🙂

    Reply

  4. gieliciouz
    Jul 18, 2010 @ 13:15:07

    chul oppa…
    terus aq gmna????
    hiks

    btw, nice ff

    Reply

  5. eun.zen
    Jul 18, 2010 @ 13:21:34

    hweeee,, beneran ada part yang ilang TT_TT,, aku pikir gara2 ngenet lewat hapeku yang ngambeg-an*curcol*

    buat yang mau au versi lengkap’a k blogQ aj ya,, zen404.wordpress.com

    gomawo buat yang dah comment…

    Reply

  6. kim ga in
    Jul 18, 2010 @ 16:18:34

    Omo!
    I like it!

    Reply

  7. KyuSeoJun
    Jul 18, 2010 @ 16:43:42

    hohho~ aku suka perumpamaannya [emang ada ya? /gampar/]

    Reply

  8. nandz
    Jul 18, 2010 @ 19:57:05

    pantes ngerasa ada yang aneh, ada part yg ilang toh~
    tapi aku suka yg kalimat gunung ama lilin itu..

    Reply

  9. DJ.merr
    Jul 18, 2010 @ 21:09:48

    Merr suka cerita sama perumpamaannya. ^^
    tapi bisa gak kata ‘enggak’ d ganti jadi ‘tidak’ ?
    Biar lebih kena ..hehe.
    Maaf ya..cuman saran.

    Reply

    • eun.zen
      Jul 19, 2010 @ 11:36:13

      hhe.. mian, habis dah kebiasaan dari smp,,XP

      gomawo saran’a,, nanti aku perhatiin buat yang kedepan’a,hhe..*bow*

      Reply

  10. SarangHAE
    Jul 19, 2010 @ 03:57:09

    Keren, not bad *kyk criticus no 1aja

    Reply

  11. syahsyah
    May 30, 2014 @ 13:53:57

    Bagusss 😉 pertamanya sih agak gimana yaa, tapi ujung”nya bagus ;;)

    Reply

  12. sone24
    May 10, 2015 @ 23:23:47

    Bagus thor. Aku suka kalau yang happy ending. tapi aku boleh kritik dikit ga? Gini jadi sebenarnya dalam penulisan ff juga akan lebih bagus dan kebih enak bacanya kalau EYD yang kita gunakan baik dan benar. Semuanya bagus thor EYD nya kecuali pas part bagian “Anni.. Kurasa nggak perlu kok..,” menurut saya akan lebih baik kalau penulisannya seperti ini “Anni.. Kurasa tidak perlu kok ” jadi setiap bagian nggak nya diganti tidak. Maksud aku begitu, oiya tanda baca di setiap kalimat juga lebih diperhatikan ya thor. Aku yakin kalau sudah diganti akan lebih baik lagi. Semangat terus ya thor aku tunggu ff selanjutnya karya author. Makasih juga nih udah numpang baca. Semoga komennya bermanfaat 😊😊

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: