Unperfect Girl Stories (Silent Sonata part3)

By : Monca
***
Zume’s Part…
Hari ini latihan berjalan sangat menyenangkan. Aku sudah bisa mengikuti permainian mereka. Kata Ryeowook ssi aku sudah jauh lebih baik dari kemarin. Saat mau pulang aku dipanggil oleh Sonkyung. “Ajarkan kami bahasa isyarat. Jadi kami bisa mengerti apa yang kau ucapkan.”. Aku senang sekali mendengarnya. Aku mulai dengan yang paling mudah seperti angka, lalu membiarkan mereka menentukan sendiri apa yang ingin mereka ketahui. “Oh ya, apa bahasa isyarat untuk aku cinta kamu?”. Aku menunjuk diriku sendiri, membuat tanda love dengan tanganku di dada kanan, lalu menunjuk Sonkyung.
Aku melihat jam tangan menunjukan pukul 5 sore. Kenapa Sungmin oppa masih belum menjemputku sih?. Lalu aku melihat Sungmin oppa berlari kearahku. Dengan nafas memburu dia memberi tahuku bahwa hari ini dia ada rapat dengan para staf untuk membicarakan resital minggu depan. “Tapi aku bisa menyuruh mereka untuk menunggu sebentar.”. Aku buru-buru melaranganya. “Tidak usah, aku bisa pulang sendiri.”. “Ya sudah, jaga dirimu baik-baik”. Dia tersenyum dan mengecup keningku. Tuh kan, dia aneh banget!.
Aku menunggu taksi, tidak ada yang datang. Sampai sebuah klakson mobil mengagetkan ku, Ryeowook ssi. “Zume, kau mau pulang kerumah?”.

Aku mengangguk. “Mau ku antar?. Lagi pula jam segini jarang taksi yang lewat.”. Aku bingung, tapi sepertinya Ryeowook sii bukan orang yang jahat. Jadi aku membuka pintu mobilnya.
Selama perjalanan kami tidak berbicara sepatah katapun, yang terdengar hanya suara musik klasik yang mengalun lembut dari stereo mobil. “Hemmhh Zume, ini sudah waktunya makan malam. Kamu mau makan apa?” aku buru-buru menggeleng. Krryyyuuuuukk… “Ok kalau ga mau. Tapi sepertinya perutmu membutuhkannya.”. Ya ampuunn malu banget!.
Kami tiba disebuah rumah makan. Aku sangat kaget ketika Ryeowook memesan parfait. Kok cowok suka makanan yang manis-manis sih?. “Kenapa tertawa?”. “Kok cowok suka yang manis-manis sih?”. Ryeowook hanya memandangku tidak mengerti. Aku langsung mengeluarkan notes dan menulis apa yang aku katakan. “Memangnya ga boleh ya?. Aku kan suka yang manis-manis. Selain itu parfait disini tuh enak. Aku pesenin buat kamu.”. Dia memanggil waitress dan memesan parfait untuk ku. Dan ternyata memang benar, parfait disin tuh enak banget!.
Aku membicarakan banyak hal dengannya. Tentu saja melalui notes, sampai-sampai notes ku mau habis. “Heii bagaimana jika kau mengajarkan ku bahasa isyarat?”. Aku mengangguk dan menulis kata rumah, lalu membuat isyarat rumah dengan tanganku. Bahkan sambil makan pun aku tetap mengajarinya bahasa isyarat (Semua yang ada di piring dan isi dari parfait.). “Tunggu Zume, ada sisa eskrim disini.”ujarnya sambil menunjuk pipiku. Dia mencondongkan tubuhnya, lalu menjilat eskrim yang ada di pipiku. Hal ini membuat ku kaget setengah mati, jantung ku berdetak lebih cepat sampai rasanya mau copot. “Vanila, rasa favoritku.”ucapnya.

Ryeowook’s part…
Ya Tuhan, aku membuatnya menangis. Mungkin ini memang terlalu cepat baginya. Bagaimana jika nanti dia tidak mau bicara lagi denganku? Padahal kami baru saja dekat. Tapi mungkin aku juga kan menangis bila aku merasakan apa yang dia rasa. Akkhh Ryeowook bodoh!.
Hari ini tidak ada latihan resital, aku membawa kameraku dan ke theme park yang ada di Seoul. Aku memotret semua yang menurut ku menarik, walau mungkin itu bukan hal yang menarik bagi orang lain. Sampai tiba-tiba kamera lensaku menangkap sebuah objek. Cewek yang ingin kutemui, Zume. Aku melihatnya menghampiri seorang anak kecil yang sedang menangis. Anak itu menunjuk keatas pohon, rupanya balonnya tersangkut di dahan pohon.
Tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri mereka. “Balon mu tersangkut diatas ya gadis manis?. Tunggu sebentar disini, akan kakak ambilkan untuk mu.”. Aku terbiasa memanjat pohon waktu kecil, jadi ini bukan masalah besar untuk ku. Aku berhasil mengambil balon itu. Namun saat akan turun kebawah dahan yang kupijak patah. Aku jatuh dengan sukses. Lumayan sakit. Mereka berdua tertawa melihatku. Melihat tawa mereka berdua, rasa sakit yang kurasak perlahan memudar, lalu aku ikut tertawa bersama mereka.
Tapi tiba-tiba anak kecil itu menangis. “Sepertinya dia terpisah dari orang tuanya. Bagaiman kalau kita anatarkan dia ke pusat informasi?”. Zume mengangguk. Kami berdua jalan ke pusat informasi, sepi. Mungkin karena ini jam makan siang. “Lapar lapar lapar. Aku mau makan burger.” Ucap anak itu sembari menarik lengan bajuku. Yasudahlah, aku juga lapar. Kami bertiga makan di kedai burger di sekitar situ.
Belum selesai makan anak itu menunjuk sebuah komedi putar. “Ayo naik ayo naik.”. Zume tersenyum dan menuliskan sesuatu di notesnya. “Kalau kau sudah menghabiskan burgernya baru kita main.”. Lalu dengan semangat anak itu melahap burgernya. Sesuai janji kami bertiga nik komedi putar. Zume bersama dengan bocah kecil itu naik yang berbentuk cangkir, sedangkan aku dibelakangnya yang berbentuk kuda. Foto kami! Tulis Zume di notes. Aku mengambil kamera dan memotret mereka berdua.
Jadilah selama seharian itu kami bertiga main di taman bermain. Jam menunjukan pukul 8 malam. Setiap pukul 8 di taman ada permainan laser yang sangat bagus dekat air mancur. Jadi kami bertiga memutuskan untuk melihat permainan laser tersebut. Ditengah permainan laser, anak tersebut tidur di pangkuan Zume. Aku tersenyum melihatnya.
Setelah permainan laser selesai kami mendengar pengumuman anak hilang. Ya ampun, aku sampai kelupaan karena terlalu asyik bermain. Aku menggendong anak tersebut, sedangkan Zume memegang sandal serta tas anak kecil. “Ya Tuhan, Eunyon. Terimakasih Tuhan, kalian juga aku mengucapkan terimakasih.” Ucap orang tua gadis tersebut.
Kami berdua mununduk sopan pergi dari pusat informasi, pukul 9. “Sudah jam 9. Bagaimana jika aku mengantarmu sampai rumah?”. Zume menunduk sopan dan berkata kalau dia mau pulang naik taksi. Aku menarik lengannya, “Maafkan aku atas kejadian tempo hari. Terserah kau mau memaafkan ku atau tidak tapi sekarang izinkan aku mengantarmu ke rumah. Aku mengkhawatirkan keselamatn mu.”. Gadis itu terlihat ragu namun akhirnya dia mengangguk.

Zume’s part…
Tadinya aku mau menolak ajakan Ryeowook, namun pikiran ku ga sinkron dengan hatiku. Jadinya aku mengangguk. Selama perjalan tak butuh waktu lama untuk bisa mencairkan suasana. Kami bisa mengobrol seperti di rumah makan tempo hari. Tapi aku ga bisa menatap matanya seperti dulu lagi. Entah mengapa ada rasa yang lain ketika aku menatap matanya. Mendengar suaranya saja sudah bisa membuatku merinding. Hal ini seperti apa yang kurasakan terhadap Sungmin oppa, tidak, apa yang kurasakan lebih kuat.

Sungmin’s part…
Aku terbangun mendengar suara bel. Ternyata ada sebuah paket dari… Wina?. Aku buru-buru membuka paket tersebut. Dari ayah ku. Isinya surat, brosur dan segela informasi mengenai Mozart School of Music. Juga sebuah tiket pesawat. Ternyata aku mendapatkan beasiswa ke Wina. Dulu mungkin aku senang, karena ini adalah impianku dari dulu. Tapi sekarang aku mempunyai Zume yang harus ku jaga. Aku melihat tanggal keberangkatan pesawat. 9 Juni, sehari setelah resital musik.
Aku menelpon Zume, menyuruhnya untuk kesini. Beberapa menit kemudian aku mendengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumahku, mobil Ryeowook!. Setelah mobil Ryeowook pergi HP-ku berdering, SMS dari Zume. Dia memintaku untuk membuka pintu. Aku bergegas keluar, membuka pintu dengan wajah sebiasa mungkin. Namun gagal, karena Zume menanyakan keadaan ku. “Oh, aku paling cuma kurang tidur.”. Aku mengajaknya ke taman belakang, yang sudah kuhias sedemikian rupa.
“Zume, ada yang ingin aku katakana kepadamu..”.
“Ada apa?”
“Aku mendapatkan beasiswa ke Wina, aku berangkat tanggal 10 Juni. Tapi aku akan membatalkannya jika kau memintaku. Lagi pula masih banyak kesempatan untuk ku belajar di Wina. Aku juga…”. Aku begitu kaget dengan reaksi Zume. Dia memeluk ku, lalu menulis kata ‘selamat’ di punggung ku dengan jarinya. “Kau pasti butuh banyak waktu untuk berbenah. Keberangkatan mu 4 hari lagi. Aku tidak ingin mengganggu waktumu yang sedikit ini.”. Setelah berkata demikian dia berlari keluar rumah, mencegat taksi, lalu pergi. Sial!
Aku langsung menelpon Ryeowook, entah mengapa aku menelpon oran itu.
“Halo Ryeowook, cepat kau cari Zume!!” Ucapku lalu buru-buru menutuh HP sebelum Ryeowook berbicara sepatah katapun.

Zume’s part…
Sungmin oppa terus menerus menelpon ku. Aku me-reject telponnya lalu menekan angka 7. Ryeowook. “Halo Zume, kau dimana?.” Tanya Ryeowook berkali-kali. Aku baru akan berbicara ketika aku ingat sesuatu. Kau bodoh Soo Zume, kau kan bisu! Yang terdengar sekarang pasti hanya isak tangismu saja. Aku langsung menutup telponnya dan membanting HP tersebut kedalam tas. Aku merobek notes dan menuliskan tempat tujuan ku pada sopir.
Seoul theme park. Terakhir aku kesini beberapa hari yang lalu dengan Ryeowook. Entah mengapa aku ingin dia ada disini, tapi aku tak ingin menelponnya. Aku mencoba semua permainan disini sampai puas. Jam 8 malam, semua orang bergegas menuju ke dekat air mancur termasuk aku. Tililiiitt… sms dari Ryeowook. Naik bianglala yuk!.
Aku melangkahkan kaki ku menuju bianglala. Sesuatu dalam hatiku mengatakan bahwa Ryeowook ada di dalam bianglala. Tapi ternyata dia tidak ada disana. Namun aku tetap memutuskan untuk naik bianglala. Bianglala naik perlahan, begitu pula dengan air mataku. Kenapa aku tidak ingin Sungmin oppa pergi? Padahal aku tau aku tidak boleh egois. Bagaimanapun ke Wina adalah impian dari tiap musisi, aku yakin Sungmin oppa pasti akan jadi orang hebat jika ke Wina. Namun entah mengapa, yang membuat hatiku lebih sakit adalah karena Ryeowook tidak ada disini. Padahal saat ini yang paling aku butuhkan adalah dirinya.
HP-ku berbunyi, Ryeowook. Aku buru-buru mengangkatnya. “Halo Zume?. Coba kau lihat ke bawah sekarang.”. Dari jendela aku melongok kebawah. Semua area theme park terlihat dari sini. Bahkan gemerlap kota Seoul.Dan saat aku mengarahkan pandanganku ke air mancur aku melihat seseorang berdiri disitu. Jangan-jangan…
“Ambil teropong yang ada disampingmu.” Aku meneropong orang itu, Kim Ryeowook!. “Ini adalah kursi khusus untuk mu. Lihat aku main ya?”. Aku mengangguk, walaupun aku tau Ryeowook ga bisa melihatku.
Ryeowook, pikiranku penuh dengan Ryeowook. Setiap hembusan nafasku menginginkan Ryeowook. Setelah pertunjukannnya selesai Ryeowook memintaku untuk tetap di bianglala. Saat aku sudah turun dibawah aku melihat Ryeowook berdiri di depanku. “Kamu mau kan nemenin aku naik bianglala sekali lagi?”.
Bianglala naik perlahan. Tak ada satupun diantara kami yang saling berbicara. Hingga akhirnya kami sampai di puncak bianglala. “Sungmin sudah menceritakan semuanya kepadaku.”. Mendengar itu air mataku kembali meleleh keluar. Ryeowook mendekatkan tubuhnya padaku, lalu memeluk ku dengan hangat. Pelukannya membuat semua beban yang ada di pundak ku serasa menguap tak bersisa.
“Sungmin memintaku untuk menjagamu. Tapi aku akan menjagamu bukan karena keinginan Sungmin. Ini keegoisan ku sendiri, mencintai seorang cewek yang dicintai sahabatnya.” Aku terhenyak mendengarnya. Jadi selama ini Sungmin dan Ryeowook…? Kenapa aku tidak menyadarinya?. Ryeowook melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan ku. “Soo Zume, maukah kau jadian dengan ku?”. Pikiran ku seketika itu juga beku. Kalau tiba-tiba begini mana bisa aku mengambil keputusan.
Namun sesuatu dalam hatiku mengatakan bahwa dialah yang benar-benar aku cintai. Orang yang akan menyayangi ku sepenuh hati adalah Ryeowook. Aku mengangguk dan menjawab dengan bahasa isyarat. “Aku cinta kamu”. Tangannya yang menggenggam tangan ku beralih ke wajahku, menghapus air mataku. Lalu aku merasakn hembusan nafas Ryeowook menerpa wajahku, aku tidak bisa melihat dengan jelas karena terhalang oleh air mataku. Setelah itu pikiranku benar-benar beku, aku tidak ingat apa-apa lagi selain Ryeowook. Ryeowook yang mencium lembut bibirku di hadapan gemerlapnya kota Seoul.

To Be Continued…

10 Comments (+add yours?)

  1. mei.han.won
    Sep 04, 2010 @ 16:29:00

    aichhh….TBC….cepetan lanjutttt….seneng wook ma zume dh jdi’n…

    Reply

  2. wookiega
    Sep 04, 2010 @ 16:57:06

    wook!!

    Reply

  3. liathespaniard
    Sep 04, 2010 @ 19:03:26

    Lnjt, penasaran ma reaksinya umin

    Reply

  4. hansaera
    Sep 04, 2010 @ 22:03:10

    sungmin gimana ya ?

    ditunggu lanjutnyaa

    Reply

  5. HeeHwa
    Sep 05, 2010 @ 03:54:31

    aaaaa….wookie oppa koq popo”an sih…ini kan masih bula ramadhan…..ckckck

    nice ff…lanjutttttttttttttttt…^^

    Reply

  6. Ocha
    Sep 06, 2010 @ 00:46:49

    akh cepetan lanjut…
    Zume udah jadian sama Wookie ni…

    Reply

  7. weinara
    Sep 06, 2010 @ 10:50:33

    annyeong aku baru nih (:

    makin seru ceritanya XDD
    ahh wookie , lanjuuut

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: