Try To Let You Go Part 4

“Entahlah…” jawabnya.
“Ya! Kau tega sekali! Aku kan sahabatmu! Ayo cepat ceritakan padaku!!!” kataku sambil menarik-narik tangannya.
“Kau akan tahu dengan sendirinya nanti…” jawab Youngwoon sambil tersenyum dan merangkulku.
Aku memajukan bibir tanda ngambek dan mencoba melepaskan rangkulannya.
“Sudah donk, jangan ngambek terus, ntar jadi jelek lo mukanya…” bujuk Youngwoon.
“Ayo pulang! Aku mau melanjutkan tidurku…”
“Tapi kalau kita pulang kau janji gak bakal ngambek lagi ya?” tanya Youngwoon dan  mengangsurkan jari kelingkingnya.
“Apa-apaan itu? Seperti anak kecil saja…” cibirku.
”Ya sudah, kau pulang jalan kaki saja…” kata Youngwoon dan menyilangkan tangan di dadanya.
“Mwo? Aku masih ngantuk, Youngwoon ah. Bisa saja aku tertabrak mobil di jalan nanti…” rengekku.
Youngwoon kembali tersenyum dan mengangsurkan jari kelingkingnya.
“Oh, baiklah…”
Dengan terpaksa kuulurkan jari kelingkingku dan mengaitkannya dengan jari kelingking Youngwoon.
“Nah, tinggal begitu doank daritadi apa susahnya  sich..” kata Youngwoon dan berlari ke mobilnya.
Ckckck, baru saja tadi dia mengucapkan kata-kata yang membuatku berpikir dia sudah berubah, ternyata dia masih saja sama dengan yang dulu, masih kekanak-kanakan.
“Ya! EunYong jangan melamun saja! Ayo cepat naik!” panggil Youngwoon dari dalam mobilnya.
“Ne…”

**********

“Gomawo, Youngwoon ah….” kataku begitu kami sampai di depan pagar rumahku.
“Ne, gwenchanayo. Mian, aku gak bisa mampir. Sampaikan saja salamku pada ahjumma dan ahjusshi ya…” kata Youngwoon.
“YongAh?”
“Ah, aku lupa. Sampaikan salamku padanya juga. Oke?”
“Hm….” gumamku.
“Ah, boleh aku minta tolong satu hal?” tanyaku.
“Apa?”
“Kalau ada waktu, jangan lupa sms YongAh ya? Kau sudah punya nomor ponselnya kan?”
“Mwo? Kenapa aku harus sms dia?”
“Ayolah, sms saja, minimal satu kali sehari oke?”
Youngwoon tampak berpikir sebentar.
“Permintaan aneh, tapi baiklah…” kata Youngwoon akhirnya.
“Gomawo Youngwoon ah, annyeong!!!” kataku sambil membuka pintu mobilnya dan masuk rumah.
Youngwoon hanya mengangguk dan langsung menjalankan mobilnya.
Baru saja kubalikkan tubuhku dan membuka pintu pagar, tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencengkeram tanganku dan menariknya.
“Kkaja, onnie…” teriak YongAh.
“Ya! YongAh! Kita mau kemana?” balasku sambil mencoba melepaskan cengkeraman tangannya.
“Ke mini market…”
Aku terdiam sejenak.
“Mini market?” tanyaku.
YongAh mengangguk dan kembali menarik tanganku.
“Diam dulu…” kataku dan menahan YongAh.
“Kalau cuma ke mini market gak usah lari-lari kayak begini kali…”
“Tapi nanti barangnya keburu habis, onnie….” kata YongAh dengan nada memelas.
“Apa yang mau kamu beli sich?”
YongAh tidak menjawab dan malah kembali menarik-narik tanganku.
“Nanti juga onnie tau sendiri….” balasnya.
Akhirnya aku pasrah dan membiarkan YongAh terus menyeretku.

**********

“Ketemu!!!!” seru YongAh.
“Memangnya apa sich yang kau cari?” tanyaku sambil berjalan mendekatinya.
YongAh hanya tersenyum malu-malu dan menunjukkan sebungkus dark chocolate ke hadapanku.
“Ini barang yang kau cari?” tanyaku tidak percaya.
YongAh mengangguk dan berjalan ke meja kasir.
“Ayo, pulang, onnie…” kata YongAh begitu selesai membayar belanjaannya.
“Mau kau apakan benda itu?”
“Beberapa hari lagi hari valentine, onnie….”
“Jadi?”
“Aku mau ngasih cokelat ke Kangin oppa…” kata YongAh pelan.
Aku terkejut dan menatapnya. Wajahnya sudah memerah sekarang.
“Kasih cokelat ke Youngwoon?”
YongAh hanya mengangguk.
Tiba-tiba ponsel YongAh berbunyi.
“Kyaa!!!! Sms dari Kangin oppa!!!!! OMO!!!!” teriak YongAh.
Dia langsung memberikan bungkusan cokelatnya kepadaku dan membalas sms Youngwoon.
“Jangan-jangan Kangin oppa juga suka padaku. Dia kan artis sibuk, tapi bisa-bisanya di sela-sela kesibukannya itu dia mengirim sms hanya untuk menanyakan keadaanku…” oceh YongAh.
“Bagaimana menurut onnie?” tanya YongAh tiba-tiba.
“A…N…Ne, mungkin saja dia suka padamu….” kataku.
“Semoga saja….”

**********

“Bagaimana cokelatmu, YongAh?” tanyaku pada YongAh yang sedang serius membaca buku resepnya.
“Masih belum ada kemajuan, onnie. Aku selalu mengacaukannya…” kata YongAh sambil menghempaskan tubuhnya  ke kursi di sampingku.
“Mau kubantu? Valentine tinggal beberapa hari lagi, lo…”
“Gomawo, tapi tidak usah, onnie. Aku ingin membuat cokelat ini benar-benar dari hasil jerih payahku sendiri…” jawab YongAh sambil tersenyum.
Aku balas tersenyum dan mencubit pipinya.
“Tak kusangka kau sudah dewasa, YongAh…”
“Hehehe, ngomong-ngomong onnie gak ngasih cokelat ke siapa-siapa?
Aku tertegun sejenak. Cokelat? Hm, sejak dulu aku memang selalu berencana memberi cokelat untuk Youngwoon. Tapi sekarang? Rasanya mustahil mengingat YongAh juga ingin memberikan cokelatnya untuk Youngwoon.
“Onnie?” panggil YongAh dan membuyarkan lamunanku.
Aku menggeleng pelan.
“Masa’ tidak ada satupun namja di kampus onnie yang onnie sukai?”
“Sudah malam, kau tidak tidur?” kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Sepertinya aku ingin mencoba sekali lagi…” gumam YongAh.
“Kau tidak capek?”
“Yah, memang agak capek sich, tapi karena akhir-akhir ini Kangin oppa rajin mengirim sms buatku, rasa capekku jadi hilang…”
Iri? Sakit hati? Yah, itulah yang kurasakan saat mendengarnya. Padahal akulah dulu yang menyuruh Youngwoon rajin mengirim sms untuk YongAh. Kenapa sekarang aku jadi sakit hati begini? Aneh…

**********

“Onnie!!! Cepat bangun!!!!” teriak YongAh sambil mengguncang-guncangkan tubuhku.
“Ada apa?” tanyaku dengan mata yang masih terpejam.
“Cepat lihat kalender, onnie…” seru YongAh dan membawa kalender yang tergantung di depan pintu kamar ke hadapanku.
Aku mencoba membuka mataku dan melihat ke arah tanggal yang ditunjuk YongAh.
“Tan….ggal….em….pat…be…las….” kataku dan kembali tertidur.
Beberapa waktu kemudian otakku sudah berhasil mencerna apa maksud YongAh.
“Hah? Tanggal 14? Bagaimana cokelatmu YongAh?” tanyaku sambil buru-buru bangkit dari tempat tidur.
“TADA!!!” seru YongAh sambil menunjukkan cokelat yang lumayan besar dengan bentuk hati.
“Keren. Kau mengerjakan ini semalaman?” tanyaku dan mengamati cokelat itu.
YongAh mengangguk pelan.
“Pulang kuliah nanti temani aku kasih cokelat ini ke Kangin oppa ya, onnie…” rengek YongAh.
“Mwo? Kau sendiri saja, YongAh…”
Jujur, aku takut akan tambah sakit hati saat melihat Youngwoon menerima cokelat YongAh.
“Ayolah, onnie. Aku mohon…”
Aku hanya menggeleng.
“Onnie….” rengek YongAh dengan puppy eyes nya.
“Puppy eyes mu tidak mempan kali ini…” kataku sambil berjalan meninggalkannya.
“Jadi sia-sia selama ini aku begadang bikin cokelat. Onnie tidak mau menemaniku memberikan cokelat ini untuk Kangin oppa. Padahal onnie kan tau sendiri aku orangnya pemalu dan tidak berani melakukan apa-apa sendirian…” kata YongAh pelan.
“Ne, baiklah. Aku akan menemanimu nanti…” kataku menyerah.
“Hahahaha, onnie emang the best dech. Chu~” seru YongAh sambil mencium pipiku.
Bersiaplah EunYong. Pura-pura saja kau buta dan tuli jadi kau tidak bisa melihat apa yang dilakukan YongAh dan Youngwoon nanti.

**********

Tok Tok Tok…
“Onnie yakin ini dorm Super Junior?” bisik YongAh.
Aku kembali mengecek sms Youngwoon.
“Yah, kalau menurut sms dari Youngwoon sich, memang ini dorm mereka…” jawabku.
Ckrek…
Tiba-tiba muncul Youngwoon membukakan pintu.
“Oh, kalian, silahkan masuk….” kata Youngwoon.
“Memangnya kau ada perlu apa sampai menanyakan alamat dorm ku segala?” tanya Youngwoon padaku.
“Bukan aku yang ada perlu, tapi YongAh…” jawabku dan masuk sambil melihat-lihat keadaan dorm. Berantakan sekali.
“Oh, iya, mana Sungmin, Donghae, dan Siwon?” tanyaku.
“Untuk apa kau menanyakan mereka?”
“Mereka kan namja paling cakep di Super Junior menurutku, sayang sekali kalau capek-capek datang ke sini tapi gak bisa melihat mereka…” jawabku santai.
“Heh, namja paling cakep di Super Junior itu aku, tau! Jangankan di Super Junior, di Korea ini akulah namja yang paling cakep! Korean No.1 Handsome Guy Kangin!” kata Youngwoon tidak terima.
“Hehehe, sudah, ayo cepat katakan dimana mereka…” kataku sambil duduk di sofa.
“Donghae dan Siwon sedang tidak ada di sini sekarang, kalau Sungmin ada di kamar itu…” kata Youngwoon.
“Oke, aku mau ketemu sama Sungmin dulu. YongAh, cepatlah selesaikan urusanmu…” kataku sambil beranjak dan pergi ke kamar yang tadi ditunjuk Youngwoon.
Saat kubuka kamar itu terlihat Sungmin yang sedang tertidur. Bagus sekali, padahal tujuanku mencarinya itu biar aku punya temen ngomong dan gak usah ngeliat YongAh yang bermesraan dengan Youngwoon. Baiklah, lebih baik kubaca saja majalah yang baru kubeli tadi.
“EunYong!” panggil Youngwoon yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu.
“Kenapa kau ke sini? Sana temani YongAh!” pintaku.
“Dia diam saja dari tadi, aku bingung harus ngapain. Lebih baik kamu keluar saja, aku tidak enak berdua dengan YongAh diam-diaman begitu…” kata Youngwoon.
“Aniyo, aku mau di sini saja…”
“Ngapain juga kamu di sini, Sungmin kan lagi tidur…” kata Youngwoon sambil berjalan mendekatiku.
“Aku mau melihat wajah imutnya saat tidur…” kataku berbohong. Kalian sudah tau kan alasanku tidak mau keluar?
“Huh, dasar..” kata Youngwoon dan berjalan dengan malas keluar.
Aku menghela napas panjang.
“Saranghae…” bisikku.
“Noona menyukai Kangin hyung kan?”
Aku segera membalikkan tubuhku. Sungmin masih tertidur, siapa yang bicara tadi?
“Jangan berbohong, noona. Aku mendengarnya tadi…” kata Sungmin dengan mata yang masih terpejam.
“Kau! Sejak kapan kau bangun?” tanyaku.
“Sejak noona masuk kamarku tadi. Ayo, jawab pertanyaanku, noona. Noona suka Kangin hyung kan?”
“Eh…”
“Buktinya noona tadi bilang saranghae. Gak mungkin kan noona bilang itu ke majalah noona. Majalah itu kan sedang membahas tentang girlgroup, kecuali noona lesbi ya mungkin saja. Tidak mungkin juga noona bilang itu untukku, sejak noona masuk kamarku, tidak pernah sedikitpun noona melirikku. Noona pasti bilang itu untuk Kangin hyung yang baru masuk tadi, kan? Noona ke sini mau kasih cokelat ke Kangin hyung ya?” kata Sungmin sambil bangun dan merapikan selimut yang tadi dipakainya.
“Eh, itu…”
“Ya! Sungmin! Cepat bangun! Aku dapat cokelat! Kau mau tidak?” teriak Youngwoon dari luar.
“Betul kan kataku, itu pasti cokelat dari noona…”
“Bukan…” kataku.
“Masih mau bohong lagi…” kata Sungmin dan membuka pintu kamarnya.
Tiba-tiba langkah Sungmin terhenti. Dia berbalik dan memandangku.
“Cokelat itu….”
“Dari dongsaengku…” ucapku melanjutkan kata-kata Sungmin.
Sungmin terdiam sesaat dan tersenyum seakan-akan mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
“Jadi itu alasan noona bersembunyi di kamarku…” katanya sambil tersenyum dan pergi meninggalkanku.

TBC

By : Ocha

6 Comments (+add yours?)

  1. theWingersIstriSahTeukieTeukieLeeTeuk(TeukieBikinGuePingsanDiBonamana)
    Oct 05, 2010 @ 18:44:30

    part 3nya mna chingu?
    Kug lgsg part 4?

    Reply

  2. LopeLopeKJW
    Oct 05, 2010 @ 18:51:49

    makin penasaran,
    tapi ttep dkung si kakak daripada si adek
    hahaha..

    Reply

  3. Ocha
    Oct 05, 2010 @ 19:21:48

    Part 3 nya udah dipublish duluan sebelom part 1 nya, disearch aja 🙂

    Reply

  4. mei.han.won
    Oct 05, 2010 @ 20:11:58

    lanjot!!!

    Reply

  5. 1295hadira
    Oct 06, 2010 @ 07:47:34

    lanjuut….

    Reply

  6. park kyuchi
    Oct 10, 2010 @ 11:20:03

    kasian eun yong…
    pasti sakit hati banget deh…
    part 4 aku tunggu…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: