Unperfect Girl Stories (Silent Sonata part1)

By : Monca

Unperfect Girl Stories ini ada beberapa cerita, tapi yang pertama Monca keluarin yang Silent Sonata. Nanti ada cerita-cerita lainnya kok. Semoga kalian suka dengan cerita Monca ^-^

Zume’s Part…

Aku memperhatikan kertas partitur itu sekali lagi. Yap! Sudah beres. Aku menyambar biolaku dengan sedikit kasar, habis aku sudah tidak sabar lagi untuk memainkannya. Namun menyadari kekeliruanku aku langsung mengelus-elus biola tersebut. Aku mengambil posisi untuk memainkannya, memainkan lagu yang baru saja ku tulis. Rasanya seperti Mozart atau Beethoven saja hahaha 😀

Perkenalkan namaku adalah Soo Zume. Umurku 16 tahun. Aku sama seperti kalian, remaja, pada umumnya. Aku suka jalan, ngegosipin cowok keren, dan segudang kegiatan remaja lainnya. Tapi aku sedikit lebih istimewa dari kalian, aku spesial.

Ryeowook’s part…

Seoul Airport. Pertamakali aku menginjaknya ketika aku berusia 10 tahun. Berarti itu sudah 7 tahun yang lalu. Aku memandang dengan cermat orang-orang yang berjajar disamping kiri kanan, mencari namaku.

Akhirnya aku menemukan namaku disebuah karton putih yang ditulis dengan… lipstick merah??. Yang memegangnya adalah kakak ku yang bodoh, Kim Heechul. Rambutnya acak-acakan, pake sandal jepit, kemeja dan celananya kusut. Pasti tidak ada yang percaya orang dengan tampang kampungan ini datang ke bandara dengan mengendarai Audy merah menyala.

“Heh Heechul apa kau tidak pernah mengenal kata mandi?? Lalu bau apa ini.” Ujarku sambil mengendus kemejanya.

“Omona, kau seperti anjing saja. Ini soju pemberian temanku.” Ujarnya sambil menjitak kepalaku. Matanya terus tertuju pada jalan.

“Teman mu yang mana haah? Jessica? Shoon Mi? Jeong Ran? Yong…”

“Heh sudahlah jangan disebut semuanya.”

“Berapa malam kalian ada di rumah? Atau jangan-jangan di hotel?”

“Aaakkkhh itu bukan urusanmu kan? Bawel!. Eh tapi dari mana kau tau kalau aku bersama perempuan?”

“Kau kira tadi kau menuliskan namaku pake apa haah? Aku akan adukan ini ke papah.”. Heechul tertawa renyah.

“Silahkan saja kau lapor pada komputer.”. Aku menepuk jidatku sendiri. Aku lupa kalau papah sedang di London dalam rangka tour musim dingin.

Ayahku adalah seorang composer. Orang-orang bilang dia adalah Mozart-nya Asia. Umurnya baru 32 tahun. Kakakku sendiri adalah seorang pemain harpa yang sangat handal. Dan aku adalah seorang pianist. Keluarga kami memang tidak jauh dari musik.

Zume’s Part…

Hari ini aku berjalan menuju rumah Sungmin oppa. Dadaku bergemuruh karena bersamangat, aku tidak sabar untuk memperdengarkan laguku padanya. Taksi yang kutumpangi berhenti disebuah rumah yang cukup mewah dengan dominasi cat warna putih, warna kesukaannya.

Sungmin oppa dan keluarganya adalah orang yang sangat berjasa besar terhadapku ataupun keluargku. Saat kedua orang tuaku meninggal 6 tahun yang lalu mereka yang mengurusku selama ini. Mereka memberikan ku rumah dan membiayai sekolahku di tempat khusus. Orang tua Sungmin oppa adalah sahabat orang tuaku. Karena pernikahan orang tuaku tidak disetujui mereka nekat kawin lari. Karena itulah yang bisa diandalkan hanya keluarga Sungmin oppa.

Sungmin oppa lebih tua 2 tahun dariku. Dia teman ku dari kecil, bisa dianggap kami ini seperti saudara. Aku sangat menyayanginya seperti kakak ku sendiri. Hal yang aku sukai dari Sungmin oppa adalah suaranya yang selalu membuatku tenang, senyumnya yang selalu bisa membuatku bersemangat, juga permainan gitarnya yang menakjubkan. Jangan lupakan juga kejutannya yang selalu manis.

Aku merogoh tas untuk mengambil hp dan mengirim sms pada Sungmin oppa. Aku sudah ada di depan pintu. 1 menit, 2 menit, 5 menit. Sungmin oppa tidak membuka pintu. Aku meniup peluit perak yang pemberian Sungmin oppa. Tidak ada reaksi. Jadi aku memutuskan untuk langsung masuk ke dalam.

Rumahnya tidak dikunci, berarti dia ada di dalam. Aku meniup peluit dengan keras, masih tak ada reaksi. GLOMPRAANG!!! Terdengar suara sesuatu terjatuh dari arah dapur. Aku berlari kearah dapur dan menemukan Sungmin oppa sedang memungut panci yang jatuh. Aku melemparkan tas  kearahnya, tepat mengenai kepala.

“Awww apaan sih ini tas… oh ehmm… hmmm… Hai Zume… udah lama nunggu ya?”. Aku memasang muka cemberut, aku sebal dengan Sungmin oppa apalagi setelah mendengar jawabannya itu. Sungmin oppa menghampiriku dan menutup mataku dengan handuk yang sedari tadi menggantung dilehernya.

“Yah apa boleh buat. Kamu terlalu cepat datang, jadi aku gak bisa ngambil sapu tangan. Jangan ngintip ok.” Bagaimana mau ngintip coba?. Sungmin oppa menuntunku kesebuah tempat lalu dia menyuruhku duduk.

“Buka handuknya saat sampai hitungan ke 3 ok. 1… 2… 3…”. Saat aku membuka handuk didepanku ada Sungmin oppa yang memegang buket bunga anyelir putih, bunga favoritku. Taman belakang sekarang dipenuhi nyala lilin yang ditebar di setiap sudut taman. Dia juga menyiapkan candle light dinner. Padahal inikan bukan ulangtahunku.

“Kau datang terlalu cepat. Aku kan belum mandi, bajuku juga masih begini. Tunggu aku mandi dulu baru kita makan sama-sama. Jangan mulai tanpa aku.”. Aku mengangguk. Sungmin oppa, selalu saja.

Sungmin’s Part…

Zume, dia selalu saja cantik seperti biasa. Aku buru-buru mandi dan memakai setelan jas yang sengaja kubeli untuk acara hari ini. Dengan terburur-buru aku turun kebawah dan menuju taman belakang. Namun langkah ku terhenti di depan pintu. Wajah Zume yang diterangi nyala lilin sangat sangat… mempesona.

“Maaf lama menunggu. Nah bagaimana penampilanku?” tanyaku. Zume tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Selesai makan Zume berlari kedalam rumah dan mengambil gitar dari kamarku. Dia memintaku untuk memainkan Ave Maria. Aku bisa melihat matanya yang berbinar-binar ketika aku memainkan Ave Maria untuknya, binaran mata yang membuatku jatuh cinta kepadanya.

Mungkin rasa sayang yang dia rasakan padaku berbeda dengan rasa sayangku kepadanya. Aku menyayanginya seperti seorang laki-laki menyayangi perempuan. Aku berusa menarik perhatiannya terhadap kehadiranku, namun sepertinya gagal. Mungkin dia memang merasa setiap kejutan, setiap perkataan, setiap lagu yang aku mainkan untuknya adalah lagu yang biasa. Dia adalah gadis yang polos, itulah yang membuatku jatuh hati kepadanya. Mungkin memang lebih baik seperti ini, jika perasaan ku ini diketahui olehnya mungkin dia tidak akan mengerti dan membuatnya bingung.

Zume’s Part…

Aku ikut Sungmin oppa ke sekolah musik yang dia kelola di Seoul. Kata Sungmin oppa hari ini anak muridnya akan mengadakan latihan untuk resital minggu depan. Selain itu akan ada musisi terkenal yang turut unjuk gigi. Aku sangat senang. Aku menyuruh Sungmin oppa untuk ngebut supaya cepet samapi ke sekolahnya.

Holly School Music, besar sekali!!!. Gedung ini terbagi menjadi 4, gedung untuk sekolah musik, gedung pengajar, perpustakaan, dan gedung konser. “Aku akan ke ruang pertemuan dulu. Jalan-jalan saja tapi jangan terlalu jauh ok.” Aku mengangguk. Aku melangkahkan kaki ku menuju ruang konser. Entah mengapa atmosfernya begitu menyejukan, menyeruak memenuhi tenggorokan ku. Aku begitu terkagum-kagum melihat isinya. Interiornya bergaya khas Eropa Timur, banyak ukiran-ukiran menakjubkan disekitar panggung. Dan ruangan ini mungkin bisa menampung sampai ratusan orang.

Mataku tertuju pada sesuatu yang ada di tengah panggung, sebuah biola cantik yang berwarna coklat keemasan. Tanpa sadar kaki ku telah berjalan menuju ke arah biola tersebut. Sumpah, biolanya jauh lebih indah dari jarak sedekat ini. Aku mencoba memainkan beberpa nada dengan biola ini. Suaranya indah, sampai-sampai aku tidak bisa berhenti memainkannya.

Ryeowook’s Part…

Aku mendapat undangan dari teman semasa kecil ku dulu, Sungmin. Dia mengajak ku untuk ikut dalam acara resital musik minggu depan. Tentu saja aku tidak menolaknya, diakan teman ku. Aku memacu mobil Audy Heechul dengan kecepatan tinggi (aku tidak mau mendengar suara Heechul yang berkoar-koar karena mobilnya ku “pinjam”).

Holly Music School sudah banyak berubah, ini adalah sekolah musik yang ku masuki sewaktu kecil. Disini jugalah aku bertemu dengan Sungmin. Aku mengeluarkan HP dan menelpon Sungmin. Non aktif. Jadi idmana si Sungmin ini? Akkkhhh.

Tiba-tiba aku  mendengar suara alunan biola yang indah. Pachelbels Canon in D. Asalnya dari gedung konser, sepertinya si pemain lupa untuk menutup pintu karena suaranya bisa terdengar sampai luar. Padahal kan gedung konser mustinya kedap suara. Seperti tersihir kaki ku melangkah menuju gedung konser, bahkan aku ga memikirkan apapun saking terkesimanya mendengar suara gesekan biola.

Dari pintu aku melihat seorang gadis tengah memainkan biola. Rupanya dari situlah asal suara indah ini. Cantik, mungkin seperti inilah gambaran malaikat-malaikat dalam buku dongeng. Aku terus menerus memperhatikannya hingga lagu itu selesai. Aku turun kebawah untuk menghampiri gadis tersebut. “Musik yang indah, nona…” aku sengaja memotongnya sampai situ supaya dia bisa memberi tahuku namanya.

Gadis itu kaget. Dia meletakan biolanya ketempat semula lalu lari keluar ruangan. Aku berteriak terika memanggil gadis itu, tapi dia hanya membuat gerakan-gerakan ajaib dengan tangannya, seperti mencoba menyihirku supaya tidak bergerak dan berhenti mengejarnya. Aku mencoba mengejar gadis tersebut namun larinya sangat cepat, aku tidak berhasil menangkapnya. Atau… mungkin dia benar-benar malaikat yang sedang turun kebumi?.

Sungmin’s Part…

Bruuukkk!!

Zume menubruk ku dengan kencang sampai-sampai aku terpental dan jatuh, kami berdua sama-sama jatuh. “Ada apa Zume? Kau itu seperti maling jemuran yang kabur karena dikeroyok masa.” Ucapku sambil tertawa. Dia memberi tahuku bahwa ada seseorang yang tiba-tiba muncul di gedung konser, dia mengira itu hantu. Zume, Zume, masa dia masih percaya begituan??. “Hantu itu ga ada Zume.”. Tapi gadis itu tetap bersikukuh bahwa yang tadi itu hantu.

“Oooiiiii Sungmin!!!.” Aku menoleh ke belakang, ternyata itu Ryeowook. Zume buru-buru berlari ke belakngku, bersembunyi. Ahhh sekarang aku mengerti. “Jadi ini yang kau maksud hantu itu?” Zume mengangguk. “Ini temanku Ryeowook. Dia baru pindah dari Boston. Sekarang kau jalan duluan ke mobil, aku akan segera menyusul mu.” Zume buru-buru berlari kearah mobil.

“Tadi itu siapa Sungmin?” tanya Ryeowook.

“Dia adik ku.”

“Hahh? Adik?? Bukannya kamu ga punya adik?”

“Zume itu sudah seperti adik ku sendiri. Dia anak dari almarhum teman orang tuaku. Namanya Soo Zume.”

“Wow, namanya cantik. Seperti oranganya.” Aku tersenyum mendengar perkataan Ryeowook.

“Tapi sayangnya dia itu penakut. Susaaah banget diajak kenalan.”

“Ooohh, jangan mikir macem-macem dulu. Dia itu special.”

“Maksudnya?”

“Kim Ryeowook. Zume itu bisu.”

To Be Continued…

9 Comments (+add yours?)

  1. chris~wonnie~hyunnie
    Oct 10, 2010 @ 19:44:12

    Keren…!
    Lanjuuuuuuuuuuuut………………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Reply

  2. syalala
    Oct 10, 2010 @ 19:53:25

    looh? Bukannya udah pernah dipublish dan udah tamat ya? Tapi gapapa deh XD ada yeoboku wookie di ff ini haha

    Reply

  3. mei.han.won
    Oct 10, 2010 @ 19:54:14

    attractive….jeongmael….
    Lanjuttt!!!

    Reply

  4. wookayevil
    Oct 10, 2010 @ 20:20:55

    bkn.a udh tamat ya?
    aish, mw.a gw jd zume!

    Reply

  5. kuyunarha
    Oct 10, 2010 @ 21:23:50

    critanya ada episode2 lain crita gitu yah ?
    *bahasaribet
    suka kok ma critanya .
    Lanjud ..

    Reply

  6. far_far
    Oct 11, 2010 @ 01:23:46

    penasaran lanjotannya…
    keyen keyen #plakk, nulis aja gak tetehhhh..
    X))

    Reply

  7. Ocha
    Oct 11, 2010 @ 21:04:37

    Keren banget…
    Lanjut donk…

    Reply

  8. mochamonca
    Oct 12, 2010 @ 18:08:46

    Iyaaaa sebenernya ini udah tamatt dan udah di publish, tapi admin nge-post dari chapter 2.
    lanjutan Unperfect Girl Stories-Silent Sonata udah keluar dari minggu kemaren. Judulnya Unperfect Girl Stories- After Dark. Tokohnya masih punya hubungan satu sama lain. Baca juga yaaa, mnca tunggu komen, daran kriti dan tanggapan kalian… =))

    Reply

  9. chan
    Jun 29, 2011 @ 15:17:13

    eh sumpah, wktu baca endingny lgsg “deg”, top bgt

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: