[Prolog] The Girl Left Behind

Seorang gadis kecil berjalan santai menyusuri jalan setapak menuju rumahnya, sesekali dia bersenandung dan berlari – lari kecil. Gadis kecil itu menatap sebuah bangunan tua berasistektur rumah tradisional korea di depannya. Saat dia hendak membuka pintu pagar, dia mendengar suara ribut – ribut di dalam. Kemudian suara sesorang yang menjerit – jerit ketakutan.
“tuan, jangan bunuh suami saya, tuan ….”
“BRRAAAKKK” pedang itu telah mengujam dada seorang pria.
“Yaebo!!” teriak seorang wanita di dalam sana.Gadis kecil itu berdiri mematung di depan pintu rumah. Satu hal yang dia ketahui, ayahnya sudah tiada.
“a… appa…” gumam gadis itu perlahan.
Tiba – tiba terdengar suara sabitan pedang lagi. “BBRAAKKK”
Semuanya menjadi sunyi tak ada lagi suara wanita yang terisak. Gadis kecil itu kembali bergumam “omma…”
Seseorang menarik tangan gadis kecil itu. “samchon…” panggilnya pada seorang pria yang menarik tangannya menjauhi rumah itu.
“Ririn ah… kau tidak aman lagi disini, aku akan membawamu pergi” ucap orang itu.
“samchon,…” panggil Ririn lagi.
“wae? kau ikuti saja, ini perintah ayah mu, bagaimanapu aku akan melindungimu” ucap nya pelan. Pria itu menarik Ririn dan membawanya lari menjauh dari rumah. Ririn sempat menoleh ke rumahnya. Orang – orang berbaju tentara keluar dari rumahnya.

“mereka sudah selesai? Aish…” Pria itu menggendong Ririn dan membawanya lari ke dalam hutan. Sekelompok tentara2 itu mengikuti mereka. Ririn sangat ketakutan, dia bingung apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya? Kenapa ayah dan ibunya di bunuh dan kenapa dia harus di kejar – kejar oleh para tentara itu?
Pria yang membawa Ri rin terus menggendongnya. Mereka berhenti dan bersembunyi di bawah batu besar. Ri rin diam seribu bahasa, walaupun dia ingin sekali bertanya.
Sekelompok tentara tadi melewati batu besar tempat Ririn dan Pria itu bersembunyi. Pria yang di panggil Ririn paman itu mendekap mulut Ririn agar tidak menimbulkan suara. Para tentara itu tampak sibuk melihat – lihat gua tempat Ririn dan pamannya bersembunyi. Setelah sunyi, Paman itu membawa Ririn keluar dan kembali berjalan menyusuri hutan. Saat hari sudah petang mereka sampai di perbatasan negara. Mereka mengintip di balik semak – semak. Disana ada banyak tentara bersenjata.
“Ririn-ah…. aku akan mengeluarkan mu dari neraka ini” ucap Pria itu tersengal – sengal sambil menelan ludahnya. Ririn hanya diam, Pria itu menarik tangan Ririn. Mereka berjalan mengendap – endap melewati hutan. Banyak tentara di sekitar sana. Mereka berdua terus berjalan dan hari mulai gelap. Mereka sampai di sebuah benteng yang sangat besar dan sangat tebal yang terletak di tengah – tengah hutan. Mereka masih bersembunyi di balik semak – semak karena di atas dan disekitar benteng itu ada banyak tentara yang berjaga.
“Ririn-ah kau lihat lubang yang ada di sana?” tanya pria itu sambil menunjuk sebuah lubang kecil yang hanya bisa di lewati anak kecil. Ririn menajamkan pandagannya kemudian mengangguk.
“kau masuk kesana… lari yang cepat dan jangan menoleh ke belakang lagi, araci?” ujar Pria itu. Ririn mengangguk paham.
“sekarang pergi lah…” ujar Pria itu. Tapi Ririn masih diam dia menatap pamannya, tangannya terus berpegangan pada tangan pamannya.
“Samchon tidak ikut?” tanyanya, pria itu menggeleng.
“aku akan menemani appa dan omma mu… sekarang pergi lah…” ujarnya lagi. Ririn melangkah pelan menuju lubang itu, ia menoleh menatap pamannya yang tengah tersenyum padanya.
Langkah kaki kecil Ririn menimbulkan bunyi.
“SREK SREK”
“SIAPA DISANA???” teriak tentara – tentara itu. Ririn katakutan ia berlari menuju lubang itu dan menyusup masuk kedalamnya. ia merayap dengan cepat hingga keluar dari benteng itu. Terdengar suara dentuman peluru dan jeritan seseorang. “samchon…” gumam Ri rin semabari berlari dengan kencang meninggalkan tempat itu.
Ia sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya?? Yang berkelebat di kepalanya hanyalah bayang – bayang orang tuanya dan pamannya. Ririn menyadari ketiga orang – orang yang sangat di sayanginya itu telah pergi meninggalkannya di dunia ini sendiri,… dan di tempat asing….
Ririn berlari terlalu jauh, entah mengapa dia tidak merasa lelah. Ririn menyetop langkah kecilnya saat melihat benteng yang sangat besar, sama besarnya dengan benteng yang di lewatinya tadi. Ririn menjambak rambutnya sendiri, ia bingung, sangat bingung….
“gadis kecil? Kenapa kau ada disini?” tegur sesorang. Ri rin menoleh, ia bergerak mundur melihat seorang tentara berdiri di depannya. Ririn takut,, tentu saja. Ia baru saja mengalami trauma dengan tentara berberapa jam yang lalu dan sekarang ia bertemu dengan tentara lagi?? Ririn gemetaran, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
“jangan takut,…” ucap tentara itu sambil tersenyum lalu mengandeng tangan Ririn. Ririn menepisnya, ia menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya. Pria bertubuh kekar itu berjongkok menjajari pandangan Ririn kemudian tersenyum ramah, sangat ramah. Berbeda sekali dengan tentara yang mengejarnya tadi.
“jangan takut,… kau tersesat yaa gadis kecil?” tanyanya lembut. Ririn memandanginya saja.
“mari ikut aku akan ku antarkan kau pulang” ucap orang itu seraya menggiring Ririn masuk kedalam benteng besar itu.
Pria kekar itu membawanya ke sebuah tenda. Ririn mengamati setiap senti tenda itu… ada banyak sekali senjata. Ririn kembali gemetaran karena takut.
“gadis kecil kau dari mana?? Kenapa kau tersesat sampai di perbatasan?? Orangtuamu pasti khawatir” ucap pria kekar itu sambil menuangkan botol air kedalam gelas.
“ini… minumlah dulu…” Pria itu menyodorkan gelas itu pada Ririn. Ririn lagi – lagi hanya memandanginya.
“minumlah…” . Ririn mengambil gelas itu ragu – ragu kemudian meneguk sedikit air di dalamnya.
“namamu siapa? Kau tinggal dimana? Orang tua mu siapa? Kenapa kau tersesat? Ini sudah pukul 11 malam…” Pria itu mengajukan pertanyaan beruntun, dan membuat Ririn tambah pusing. Pria itu mengmati Ririn dari atas ke bawah.
“setauku tidak ada sekolah di dekat perbatasan” ucapnya pelan seraya memperhatikan seragam sekolah Ririn yang kotor.
“bisa kulihat tasmu?” tanya tentara itu. Ririn memeluk tasnya dengan cepat dan memandang tentara itu dengan tatapan dingin mengisyaratan untuk tidak menyentuh barang miliknya.
“ah… kalau begitu jawab pertanyaan ku,, kau dari mana?? Nama mu siapa?” tanya pria itu pada Ririn. Ririn lagi – lagi diam.
“tuuhkan tidak mau jawab, kalau begitu berikan aku tas mu, biar aku bisa mengantarkan mu kembali kerumah” kata Pria itu sambil merebut tas Ririn, Ririn meyerahkannya tanpa perlawanan.
“korea utara? Bagaimana kau bisa keluar dari sana?!” tentara itu tampak keget saat melihat tulisan di balik tas milik Ririn.
“kau kabur dari sana?? Bagaimana caranya kau keluar dari sana?? Mereka menjaga perbatasan itu dengan sanagat ketat!! tentara itu memegang pundak ririn. Ri rin tidak bergeming dia masih diam.
“kalau mereka menemukanmu kau pasti akan di bunuh…” ucap Pria itu lagi. Ririn menunduk, ia teringat dengan ayah dan ibunya.
“kau harus pergi,…” Tentara itu menarik tangan Ririn dan membawanya keluar tenda.
Tentara itu menemui tentara lain yang berjaga di gerbang yang setinggi 5 meter dan terbuat dari kawat – kawat yang tajam. Penjaga – penjaga di dekat gerbang terlihat sangat terkejut melihat seorang anak kecil ada di bascamp mereka.
“dia tersesat” ucap tentara yang membawa Ririn.
“tersesat?? Jam 11 malam??” salah seorang tentara mendekati Ririn.
“kau yakin kan dia bukan setan?..” ucap tentara yang lain sambil memandangi Ririn.
“tolong biarkan aku mengantarkannya pulang” ucap tentara yang membwa Ririn. Tentara yang lain mengangguk lalu membukkan pintu gerbang itu untuk mereka berdua.
“gadis kecil, dengarkan ahjussi baik – baik, kau berjalan lah sampai ke ujung jalan sana, disana ada halte bis, kau tunggu di sana nanti ada bis yang akan membawa mu pergi” jelas tentara itu setelah mereka berjalan agak jauh dari gerbang tadi. Ririn masih diam.
“kau takut?? Jangan takut di sini kau aman” ucap tentara itu lagi sambil tersenyum. Tanpa pikir panjang Ririn langsung pergi dari tempat itu, mengikuti intruksi tentara itu.
Ririn terus berlari entah berapa lama ia berlari langit yang mulanya gelap berangsur – angsur menjadi terang, sudah pagi. Ririn merasakan rasa akit yang teramat sangat dari kaki kecilnya. Ririn mendapati sebuah bangunan berwarna biru dan ada 2 kursi panjang disana. Ririn duduk di salah satu kursi. Ririn memang telah terlalu jauh dari rumahnya, meninggalkan ayah dan ibnya yang mungkin sudah tidak ada di dunia ini lagi. Ririn duduk di halte dalam diam, pikirannya melayang pada kematian ayah dan ibunya serta paman yang menolongnya.
Park Ririn adalah seorang anak petani yang tinggal di perbatasan korea selatan dan korea utara. Ayah dan ibunya di bunuh oleh para tentara karena memiliki kekayaan berlebih di daerahnya. Paman yang tadi menolongnya adalaah salah seorang petani yang bekerja pada ayah Ri rin dan juga merupakan saudara laki – laki ibunya.
Ri rin duduk terpaku menatap jalan dengan pandangan kosong. Dia ingin menangis tapi dia tidak bisa. Sebuah bus berhenti di depan nya. Ririn berjalan masuk kedalamnya, kedalam benda asing yang belum pernah dilihatnya selama tinggal di desa.
Ri rin memandangi kursi – kursi kosong di dalam bis itu. Dia duduk di salah satunya saat bis itu berjalan dia merasa seperti di dalam gendongan ibunya. Ririn menatap keluar jendela dan akhirnya tertidur.
___
Ririn mendengar ada banyak suara di sampingnya. Perlahan ia mencoba membuka matanya yang sangat berat.
“apa dia sudah bangun?”
“anak itu dari korea utara… lihat …”
Mendengar suara – suara itu Ri rin memaksakan membuka matanya.
“ah! kau sudah bangun?” tagur seorang wanita. Ririn berusaha untuk duduk dan memandang ke sekitarnya. Dia berada di dalam ruangan, ada banyak anak kecil di sana, berberapa ada yang seumuran dengannya serta 2 orang wanita dewasa. Ririn bangun dan segera duduk, meringkut di pojok ruangan seraya menatap takut pada orang – orang di sekitarnya.
“kau tidak usah takut, kau sudah aman, kau sekarng berada di rumah kami…” ucap salah satu wanita dewasa itu. Ririn memandang takut kearah mereka.
“siapa nama mu?” tanya seorang anak kecil pada Ririn. Ririn melirik anak kecil itu.
“namanya Park Ririn…” jawab wanita dewasa lainnya.
“Ririn-ah… ini milik mu?? Maaf kami membuka tasmu, karena kau hampir 2 hari pingsan” jelas wanita dewasa yang sedang memegang tas sekolah Ririn. Ri rin mengambil sebuah saputangan bersulamkan namanya yang di berikan wanita dewasa itu padanya. Ibunya memberikan saputangan itu padanya 2 hari lalu saat dia berulang tahun.
“Saem… aku boleh mengajaknya main?? Ririn-ah… ayo kita main” ucap seorang anak laki – laki dengan semangat. Ririn menatapnya dengan tatapan dingin, anak – anak lain tampak tidak berniat bermain dengan Ririn, kecuali anak laki – laki yang menanyakan namanya tadi.
“ah… Ririn baru bangun, dia masih harus istirahat …” kata wanita dewasa itu.
“nah… Ri rin-ah kau istirahatlah… anak – anak… ayo keluar” salah satu wanita dewasa itu mengajak anak – anak yang di dalam ruangan itu keluar dan menutup pintunya. Sedangkan satu orang dewasa lagi duduk di samping ririn.
“kemari lah,..” wanita dewasa itu memanggil Ririn yang duduk meringkut di sudut ruangan dan tampak tak berminat untuk menuruti perintahnya.
“yasudah kalau kau tidak mau… owh iya, kita belum berkenalan, nama ku Kim Ryeo Woon dan kakak yang tadi namanya Song Eun Soo, kau bisa memanggilku Kim Saem” Kim saem mendekati Ririn dan mengelus rambut Ririn lembut.
“coba panggil, Kim saem” pinta Kim Saem pada ririn. Tapi Ririn tidak menjawab dia hanya menatap Kim saem. Kim saem tampak menunggu jawabn Ririn.
“yasudah kalau kau tidak mau…” ucapnya sambil berdiri.
“Ri rin-ah,…. Saem keluar dulu yaaa,… kau istirahatlah”kata Kim saem sambil menutup pintu. Ririn memandangi pintu itu dengan tatapan kosong.
“sssttt…. Ssssttt… Ririn-ah…” panggil seseorang di jendela. Ririn yang penasaran dan meraa terganggu karena namanya di panggil seperti itu, berdiri dan mengahampiri jendela tempat suara menyebalkan itu terdengar. Ririn membuka jendela itu tampaklah anak laki – laki yang mengenakan kaos putih dan celana pendek. Wajahnya tampak ramah.
“nama ku Ie jung!” serunya ramah. Ri rin menutup lagi jendela itu dan masuk ke dalam futon tempatnya berbaring.

1 minggu kemudian ……
Ririn sudah 1 minggu berada di panti asuhan ini. 1 minggu lalu Kim saem menemukannya di bis dan membawanya ke panti asuhan. Ririn berdiri di depan gerbang sambil mengamati anak – anak panti asuhan lain bermain.
“Ririn-ah…. ayo main bersama ku” ajak Ie jung. Ririn tidak menanggapinya dia berlalu, tidak menghiraukan ucapan Ie jung. Berjalan cepat menuju danau kecil yang terletak tidak jauh dari panti. Ie Jung mengikutinya, mengejarnya dan terus mengajaknya bermain.
“Ririn-ah… awas!!” Ie jung menarik lengan Ririn hingga Ririn mundur dari tempatnya berdiri sebelumnya. Ie jung tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya hingga terjatuh. Ririn diam, sambil menatap Ie jung yang tengah berusaha berdiri.
“YAK!! APA YANG KALIAN LAKUKAN???” teriak Ie jung. Ririn melihat tali panjang yang ada di depannya. Rupanya saat Ririn berjalan ada 2 orang temannya yang berusaha membuat Ririn terjatuh. Tapi Ie jung melihatnya lalu menarik Ririn, tapi dia sendiri tidak bisa menghentikan langkahnya hingga dia yang tersandung tali itu. Ririn menunduk, sedangkan Ie jung masih memarahi ke2 temannya itu.
“Ie jung -a… untuk apa kau membela gadis dingin seperti dia?? Dia itu gadis bisu! Bisu… Bisu!! Bisu!!” olok mereka. Ririn semakin menunduk. Ia memang tidak pernah bicara pada siapapun selama seminggu ini bahkan saat makan bersama, saat semua orang bercengkrama Ririn hanya diam.
“tapi dia teman kita!! Sesama teman harus saling tolong menolong! Kalian tidak boleh menjahatinya!” teriak Ie jung. Ririn masih menunduk, tatapan matanya jatuh pada lutut Ie Jung yang berdarah.
“kalian sedang apa???” tegur Song saem.
“kalian berkelahi???” tanya Song saem membuat anak – anak terdiam.
“kita semua saudara kenapa bersaudara malah bertengkar?? Sekarang berbaikan!!” perintah Song saem. Ke 2 anak yang mengerjai Ririn tadi mengulurkan tangannya pada Ie jung, tapi Ie jung tidak menyambutnya.
“Park Ie Jung!” teriak Song saem sambil melotot ke arah Ie jung. Dengan enggan Ie jung menyambut tangan kedua temannya itu.
“mulai sekarang tidak ada yang boleh bertengkar!!! Kalian dengar??” kata Song saem sambil menatap ke 3 anak laki – laki di depannya dan juga anak – anak lain yang menonton. Ie jung menunduk, Ririn memperhatikannya lalu menarik tangannya masuk kedalam panti.
“dimana?” tanya Ri rin.
“e?” Ie jung memandangnya bingung. Ririn meninggalkan Ie jung di teras. Ri rin masuk kedalam ruangan Kim saem dan menemukan kotak obat. Ririn mengambil kotak obat itu lalu membawanya ke teras.
Ri rin menuangkan alkohol ke kapas lalu mengusapkan kapas itu ke lutut Ie jung.
“akh… sakit…” Ie jung meringis. Ri rin menatapnya berberapa saat lalu kembali mengobati lutut Ie jung. Ie jung menatapnya senang walaupun lututnya sakit tapi dia tidak bisa berhenti tersenyum.
“Wae?” tanya ri rin datar, rupanya dia menyadari kalau Ie jung terus tersenyum dari tadi.
“kau bisa bicara?” tanya Ie jung. Ri rin menatapnya dengan isyarat ‘apa kata mu? Kau kira aku bisu?’
“ah… tentu saja kau bisa…” Ie jung langsung meralat pertanyaannya saat melihat tatapan Ririn yang mengerikan.
“umur mu berapa?” tanya Ie jung. Ri rin menaruh plaster di lutut Ie jung lalu menatapnya. Ri rin membuka telapak tangannya kemudian menurunkan 4 jarinya.
“6? Kalau aku …” Ie jung menaikkan 2 jari tangan Ri rin.
“8! Kalau begitu kau harus memanggilku oppa…” ucap Ie jung. Ri rin tidak menanggapinya, ia berdri kemudian berlari menuju ruangan Kim saem dan meletakkan kembali kotak P3K di atas meja. Ririn keluar dari ruangan itu, Ie jung masih menunggunya. Ririn memasang sepatunya lalu pergi meninggalkan Ie jung.
2 Minggu kemudian ….
Ririn dan Ie jung menjadi teman akrab sejak kejadian 2 minggu lalu. Anak – anak yang lain tidak mau berteman dengan Ririn, rata – rata mereka takut dengan tatapan mata Ririn yang sangat dingin, hanya Ie jung saja yang mau berteman dengannya.
Walaupun Ririn jarang bicara tapi Ie jung tidak mempermasalahkannya, dia terus saja berceloteh tentang kehidupannya di panti dan sekolahnya. Walaupun diam, Ririn menyimak setiap perkataan Ie jung kadang – kadang dia tersenyum. Ie jung senang saat melihat Ririn tersenyum, menurutnya senyuman Ririn itu sangat langka. Ie jung telah menceritakan 10 cerita yang menurutnya lucu, tapi Ririn hanya memperhatikan, boro – boro tertawa tersenyum saja hanya 2 kali.
Ririn dan Ie jung duduk di pinggir kolam, ririn sibuk memperhatikan ikan – ikan yang berlalu lalang di dekat kakinya. Sedangkan Ie jung sibuk membuat sesuatu dari rumput – rumput yang tumbuh di sekitar kolam.
“Tdaaa….” Seru Ie jung tiba – tiba sambil memamerkan karyanya pada Ririn. Ririn menoleh, ia tertegun saat melihat bintang yang terbuat dari rumput di depannya.
“bagaimana? Bagus tidak?” tanya Ie jung. Ririn mengangguk.
“ini untuk mu…” Ie jung menyerahkan bintang itu pada Ririn. Ririn tersenyum sambil memperhatikan bintang yang di berikan Ie jung.
“lihat! Aku juga punya 1!” Ie jung berseru sambil menunjukkan 1 bintang rumput lagi pada Ririn.
“jangan menghilangkannya, kalau kau menghilangkannya kau tidak akan pernah bertemu dengan ku lagi” Ie jung mengacungkan telunjuknya di depan wajah ririn. Ririn tertawa kecil sambil mengangguk. Ie jung mengelus kepala ririn lembut. Ririn merasakan suatu perasaan yang sangat aneh, dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Perasaan di lindungi, dan di sayangi oleh seorang kakak.

3 bulan kemudian ….
Ririn berlari kencang sejak keluar dari gerbang sekolah menuju panti asuhan. Dia berlari dengan semangat, tak sabar untuk menunjukkan hasil rapornya pada Ie jung. Ririn ingin Ie jung yang pertama kali tau kalau dia dapat peringkat satu di sekolah.
Ririn berlari masuk ke pintu gerbang rumah tradisional korea itu kemudian lari menuju kamar anak laki – laki. Tapi, saat Ririn sampai tidak ada siapapun di sana. Ririn berlari menuju kolam di samping panti asuhan tempat dia dan Ie jung bermain bersama, tapi Ie jung juga tidak ada disana. Ririn berlari lagi masuk ke panti asuhan menuju ruangan kecil di panti asuhan itu, biasanya Ie jung ada disana untuk belajar. Saat Ririn membuka pintu Ririn tidak menemukan Ie jung disana, ia hanya menemukan ampolop putih. Di pungutnya amplop itu kemudian Ririn berlari keluar untuk mencari Ie jung lagi.
Kim songsaengnim menahan Ririn saat Ririn berlari melewatinya.
“kau mencarinya? Dia sudah tidak ada di sini, dia ….” Ucapan Kim songsaengnim terpotong karena Ririn menepis tangannya.
“dia tidak akan pergi”Kata Ririn singkat sambil berlari keluar dari panti asuhan menuju jalan raya. Berharap menemukan mobil yang membawa Ie jung pergi.
Ririn terus berjalan lurus tak tentu arah. Air matanya yang di tahannya sejak kehilangan kedua orangtuanya tumpah, Ririn tak mampu lagi menahan air matanya. Hatinya sakit, kenapa tuhan begitu kejam padanya? Kenapa tuhan membiarkan orang – orang yang di sayanginya pergi meninggalkannya?
“oppa…. Oppa… oppa” isak Ririn tangannya menggenggam erat bintang yang di tinggalkan Ie Jung untuknya. Ririn menatap bintang yang ada di tangannya.
“aku…. Aku tidak menghilangkannya, aku … aku tidak menghilangkannya, aku bisa bertemu dengannya lagi …”
___
Ie Jung memandang pada 2 orang dewasa di depannya. Mereka tampak sangat baik, sesekali mereka menengok kearah Ie Jung, dan tersenyum padanya. Mobil itu terus melaju, dan 2 orang dewasa yang duduk di kemudi dan di samping kemudi terus berceloteh.
“Ie Jung-a… mulai saat ini kau panggil aku abonim ya…” ucap sang pria.
“dan kau panggil aku ommanim” ucap sang wanita. Ie Jung hanya tersenyum simpul. Dia membayangkan Ririn yang sendirian di panti asuhan. Pasti menyenangkan jika Ririn ikut bersamanya.
Ie Jung memandang keluar jendela tiba – tiba mobil yang di tumpanginya terbalik.
“CKIITT! BRUUKKK!” Kepala Ie Jung terbentur atap mobil cukup keras lalu mobil itu terguling – guling di tengah jalan.
Comment Please^^

19 Comments (+add yours?)

  1. mei.han.won
    Oct 29, 2010 @ 06:30:17

    tragis bgt crita ririn….
    Lanjutin chinguuu….

    Reply

  2. cemoymoy
    Oct 29, 2010 @ 06:46:55

    prologny panjang y..
    tp bagus koq..

    lanjut part 1!

    Reply

  3. Cha Eunhae
    Oct 29, 2010 @ 07:43:17

    Bgus critany..
    Lanjut chingu..

    Reply

  4. ayaayaa
    Oct 29, 2010 @ 07:48:35

    Wodoooh..ngeri amat..

    Reply

  5. hepyu
    Oct 29, 2010 @ 08:10:05

    huaaaah….
    aku penasaran ><
    kisah hidupnya ririn tragis banget untuk anak kecil seusia dia 😦

    Reply

  6. chris~wonnie~hyunnie
    Oct 29, 2010 @ 08:52:13

    Tragis~~~
    Cuma tumben Ririn gak dipasangin ama Won2…
    Atau setelah prolog ya?? Wkwkwkwkwk…
    Iejung bukan’nya anak KelTeuk ya???
    *maafkan reader yg banyak nanya ini*
    Pokok’nya, lanjuuuuuuuuut onn……………!!!

    Reply

  7. eunrima
    Oct 29, 2010 @ 09:05:34

    Daebak !!

    Reply

  8. faaaarceu
    Oct 29, 2010 @ 09:30:14

    Tragis bgt deh hidupnya ririn, sini jadi adik aku aja yuu hahahah yah yah si lee jung pasti amnesia terus lupa sama masa kecilnya bersama ririn, lanjutannya yoo thor jgn lama-lama oke 😉

    Reply

  9. Hyun Yoo-super KyuHaeWon
    Oct 29, 2010 @ 10:12:18

    NICE!AKU SUKA PARAGRAF AWAL2! berasa nonton into the fire! 😀 ya ampun si Ie Jung baru diadopsi langsung tabrakan =.= jangan2 dia amnesia terus jadi om siwon?! haha 😀 lanjut ya~

    Reply

  10. anamie
    Oct 29, 2010 @ 12:39:59

    Nice ff

    Reply

  11. anamie
    Oct 29, 2010 @ 12:45:47

    Ditnggu lnjtan.a

    Reply

  12. fiqihelf
    Oct 29, 2010 @ 14:30:04

    bagus !!!
    keren ceritanya ^^
    lanjut~

    Reply

  13. Han Yeosin
    Oct 29, 2010 @ 15:27:03

    wah jangan2 c Ie jung amnesia tuh, trus gak inget lagi ma Ririn
    Ckckcckkkk
    mudah2an tidak

    Reply

  14. sungwookie
    Oct 29, 2010 @ 17:45:42

    apkah Ɣªήƍ bklan trjdi ama Ie jung?? duh ksian jdi ririn msih kcil uda hrus khlngan ortu’y,, part 1 dtunggu 😉

    Reply

  15. ChoAidhaKyu
    Oct 29, 2010 @ 18:03:47

    Cool! d^_^b keep movin’ on author! I like your story! Can’t wait for the first chapter! 😀

    Reply

  16. chodictator
    Oct 29, 2010 @ 19:58:42

    ahh.. seru seru
    jarang ada cerita yang dari korea utara ^o^
    loh? ie jung nya?? *bingung*

    Reply

  17. ndeehyuk
    Oct 31, 2010 @ 04:52:56

    sedihnyoo….
    Hiks… Hiks…
    Ie jung bukannya anak kell onn y ?

    Reply

  18. MinmiCho^0^HeeGI
    Oct 31, 2010 @ 15:06:03

    owh gk liat jadwal kekekeke
    udh di publish tooo

    kayaknya yang ini bkln lama dee nunggu lanjutannya hahahhaa
    gua nyelesein ff yg lama dulu deee kyaknyaaa hahahaha

    Reply

  19. Wirazhuho
    Oct 31, 2010 @ 21:37:27

    Ahhh. Pasti ie jung amnesia dan gag inget ririn lg yhaa.
    Tragis ..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: