Try To Let Go Part6

“Ne, Eomma, pesawatku sudah mau berangkat ini, annyeong!!!”
Eomma kalau sudah ceramah gak kenal waktu. Segera saja kumatikan ponselku dan menaruhnya ke dalam tas.
“Noona…”
Aku membalikkan badanku. Terlihat Sungmin sedang berlari sambil membawa sebuah tas.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku hanya ingin mengantar noona dan memberikan ini saja…” kata Sungmin sambil memberikan tas yang ia bawa.
“Apa ini?”
“Lihat saja sendiri…”
Aku membuka tas itu dan melihat isinya. “Mie instant?” tanyaku sambil mengangkat alis.
Sungmin mengangguk dan memamerkan senyumnya. “Waktu Kangin hyung ke Belanda kemarin dia bilang susah sekali mencari makanan yang cocok dengan lidah kita, jadi aku membawakan itu agar noona tidak kesulitan mencari makan nanti…”
Aku mencubit pipinya gemas. “Gomawoyo, Sungmin ah..”
“Ne, cheonmaneo, noona…” katanya dengan pipi yang seperti tomat.
“Hahahaha, neomu kyeopta….”
“Ah ya, ada satu hal yang harus kukatakan…” kata Sungmin tiba-tiba.
“Apa?”
“Kangin hyung juga ada di sana sekarang…”
Aku membelalakkan mataku.
“Dia berangkat kemarin malam, noona tidak akan menghindar kali ini kan?”
“Hmmm?”
“Noona dan Kangin hyung selalu seperti saling menghindar akhir-akhir ini…”
Aku menundukkan kepala dan menggigit bibir. Yah, bukan salah Youngwoon kalau kami jadi jauh begini, akulah yang menghindarinya.
“Ah, sebentar lagi pesawatku berangkat, annyyeong Sungmin ah..” kataku sambil memaksakan seulas senyum dan bergegas pergi.

**********

“Aduh, mana ni? Katanya Eomma bakal ada orang yang jemput, bisa nyasar aku kalo disuruh jalan sendiri ke rumah sakit…”
“Ya! EunYong!!”
“Eomma!!!”
Terlihat Eomma sedang duduk santai sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahku.
“Ya! Kenapa Eomma yang menjemputku?” tanyaku sambil berjalan mendekati Eomma.
Eomma menarik koperku dan mengerucutkan bibirnya.”Kau tidak suka kalau Eomma yang jemput, hah?”
Aku mengikuti Eomma berjalan ke mobilnya. “Bukan begitu, tapi kalau Eomma menjemputku siapa yang menjaga YongAh?”
Eomma tersenyum sekilas. “Ada Youngwoon yang menjaganya, tenang saja..” kata Eomma sambil mulai menjalankan mobil.
DEG
“Youngwoon sekarang ada di rumah sakit menjaga YongAh?” gumamku.
“Ne..”
Sepertinya gumamanku terlalu keras. Eomma bisa mendengarnya.
“Kau benar EunYong, keadaan YongAh makin membaik sejak Youngwoon menjenguknya…” kata Eomma tiba-tiba.
Aku hanya bisa diam.
“Mereka sudah jadian?” tanyaku pelan.
Eomma mengerutkan keningnya sejenak. “Entah, YongAh dan Youngwoon tidak pernah bilang apa-apa pada Eomma, tapi Eomma rasa sich mereka sudah jadian, terlihat dari tingkah laku mereka. Syukurlah YongAh bisa mendapatkan namja sebaik Yongwoon. Kapan kau mau nyusul EunYong? Masa’ sampai sekarang kau belum punya pacar…” oceh Eomma.
Aku hanya bisa menjawabnya dengan senyum pahit.
“Kenapa aku tidak pacaran saja dengan siapa namanya itu, Lee Su… Aduh, siapa ya, Lee Sumbing? Eh, bukan….”
“Lee Sungmin maksud Eomma?”
“Ah, ne, Lee Sungmin….”
Aku menghela napas panjang. “Yang benar saja, aku hanya bersahabat dengannya Eomma, lagipula dia kan lebih muda…”
“Halah, umur itu cuma angka, gak ngaruh…” kata Eomma.
“Terserah Eomma sajalah, yang jelas aku dan Sungmin hanya bersahabat, titik…”
Eomma hanya bisa tersenyum saja mendengarnya.
“Lalu kapan kau mau mulai cari pacar?”
“Kapan-kapan..” jawabku asal.
Lagi-lagi Eomma hanya bisa diam dan geleng-geleng kepala mendengarnya.
“Nah, kita sudah sampai, ayo turun…”
Aku segera membuka pintu mobil dan melihat sebuah rumah sakit yang sangat besar. Kudengar rumah sakit ini adalah rumah sakit khusus menangani pasien kanker.
“Tidak apa-apa kan kalau kita mengunjungi YongAh sebentar sebelum ke hotel?” tanya Eomma sambil mengunci mobil.
Aku hanya mengangguk dan mengikuti Eomma masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
“Excuse me, Mrs.Kim, we need to talk about Ms. YongAh…”
Tiba-tiba seorang pria bule datang, sepertinya dia adalah dokter yang menangani YongAh.
“Okay, wait a minute, please…” kata Eomma sambil tersenyum.
“EunYong, masuk saja ke kamar nomor 103 itu, disitulah YongAh dirawat. Eomma harus bicara sebentar dengan dokter ini…”
Aku mengangguk dan berbalik mencari kamar nomor 103. Setelah berjalan agak jauh, kutemukan juga kamar itu.
“YongAh, ayo makan, kau harus makan. Keadaanmu makin memburuk sekarang…”
Dari balik jendela terlihat Youngwoon sedang menyuapi YongAh yang terbaring lemah di ranjangnya. YongAh menggeleng lemah. “YongAh, ayo makan, jebal. Aku tidak mau keadaanmu memburuk terus seperti ini…” bujuk Youngwoon.
Mungkin Eomma benar, Yongwoon dan YongAh mungkin memang sudah jadian.
“Onnie, kenapa onnie berdiri di situ saja, ayo masuk…”
Aku terkejut. YongAh sudah duduk tegak di ranjangnya sekarang dan tersenyum ke arahku. Youngwoon juga sama terkejutnya begitu menyadari kehadiranku. Aku membalas senyum YongAh sekilas dan membuka pintu kamarnya.
“Annyeong YongAh! Apa kabar?” sapaku lembut.
“Annyeong onnie, jeongmal bogoshippoyo, kenapa onnie baru menjengukku sekarang?” tanya YongAh lemah sambil mengembangkan senyumnya.
Aku membalas senyumnya dan memeluknya. “Nado bogoshippoyo, YongAh. Mian aku baru bisa menjengukmu sekarang. Kau tahu sendiri tugasku selalu menumpuk..”
“Apakah tugas-tugas itu lebih penting dari aku?” tanya YongAh dan membalas pelukanku.
“Aniyo, bukan begitu, hanya saja kau tau dosenku sangat cerewet dan tidak akan mentolerir keterlambatan pengumpulan tugas barang sedetikpun…”
“Ne, ara, oh ya, mana namjachingu mu onn?”
Aku duduk di samping Youngwoon yang sedari tadi diam saja. “Ne? Namjachingu?”
YongAh mengangguk. “Bukankah selama aku dirawat di sini onnie mulai pacaran dengan Sungmin oppa?”
Youngwoon langsung menoleh ke arahku dengan tatapan seakan-akan memintaku langsung menjelaskan hal itu sedetil-detilnya.
“Darimana kau dengar berita itu?”
“Appa…” jawab YongAh dengan polosnya.
Aku mengibas-ngibaskan tanganku. “Aniyo, aku hanya bersahabat saja dengannya…”
“Ah, onnie, jangan malu-malu, mengaku sajalah…” kata YongAh dengan lirikan jahilnya.
“Ya! Aku benar-benar hanya bersahabat dengannya saja, tau!!!”
“Kalau cuma sahabat, kenapa hampir tiap hari Sungmin oppa selalu mengantar jemput onnie ke kampus?” pancing YongAh.
“Memangnya tidak boleh diantar jemput sama sahabat sendiri…”
“Dulu saja aku selalu mengantar jemputmu, benar kan?” potong Youngwoon tiba-tiba.
Aku terdiam sejenak dan mengangguk pelan.
Hening. Tidak ada yang membuka percakapan lagi.
“Excuse me, Ms. YongAh, we must do the routine check…”
Seorang perawat bule datang dan membantu YongAh naik ke kursi roda.
“Onnie, aku tinggal dulu ya, aku mau di periksa lagi. Ngobrollah dengan Kangin oppa. Kalian ini kan sahabat, kenapa diam-diaman saja daritadi?”
Suster itu lalu mendorong kursi roda YongAh keluar kamar dan menutup pintunya.
“Tidak mungkin kau pacaran dengan Sungmin…” kata Youngwoon tiba-tiba.
“Kenapa kau bisa bicara begitu?” tanyaku.
“Karena aku tau kau  menyukaiku…” katanya sambil menatapku tajam.
Kualihkan pandanganku, menghindari tatapannya. Aku harus mengelak. “Aniyo, pede sekali kau bilang aku menyukaimu…”
Youngwoon tetap menatapku tajam. “Aku bisa melihatnya dari tatapanmu. Itulah sebabnya kau menghindari tatapanku bukan? Kau takut perasaanmu yang sebenarnya kuketahui…”
“……”


“Benar kan? Akui saja, aku juga menyukaimu, EunYong. Sangat menyukaimu. Jeongmal saranghae, jangan bohongi lagi perasaanmu…” kata Youngwoon sambil menggenggam tanganku.
“Aku tidak boleh menyukaimu, Youngwoon. Itu masalahnya…”. Aku menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan air mataku yang hampir tumpah.
“Karena YongAh? Aku tidak bisa menyukainya. Dia tidak menyukaiku..”
“Dia sangat menyukaimu, Youngwoon. Kau salah…” kataku sambil menegakkan kepalaku.
Youngwoon membulatkan matanya. “Dia menyukai Kangin, bukan Youngwoon. Bukan aku. Dia bahkan tidak pernah memanggilku Youngwoon…”
“Hanya karena masalah nama?” potongku dengan nada tinggi.
“Aku bisa merasakannya, EunYong! Dia menyukaiku hanya sebatas rasa suka fans pada idolanya. Tidak seperti kau yang bisa menerimaku apa adanya, selalu ada di saat aku susah atau senang!!! Dia hanya peduli pada Kangin!! Dia tidak bisa menerimaku saat sisi Youngwoon ku muncul!!!” seru Youngwoon.
“Saranghaeyo….” kata Youngwoon pada akhirnya sambil tertunduk.
Aku hanya bisa menganga mendengarnya. “Aniyo, kau tidak boleh suka padaku! Kau harus menyukai YongAh dan membantunya melawan penyakit jahat ini…” kataku dengan suara tertahan.
Youngwoon mengangkat kepalanya dan menatapku dalam-dalam. “Aku tidak bisa menyukainya…”
“Cobalah…”
“Tidak akan bisa!!!”
“Aku pergi dulu. Aku rasa aku butuh sedikit udara segar…” kataku pelan dan melepaskan genggaman tangannya.
Tepat saat kubuka pintu terlihat YongAh sedang duduk di kursi rodanya tepat di depan pintu dengan posisi membelakangiku.
“YongAh? Sedang apa kau di sini?” tanyaku gugup.
“Ah, onnie, suster tadi ada urusan sebentar, jadi dia meninggalkanku di sini…” jawab YongAh singkat. “Onnie sudah mau pulang?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk sambil mencoba tersenyum. “Aku rasa Eomma sudah selesai berbicara dengan doktermu…”
“Besok onnie datang lagi kan?”
Aku menjawabnya dengan anggukan. “Hmm, apa kau tadi mendengar…”
“Mendengar apa onnie? Aku hanya mendengar keributan orang-orang berlalu lalang saja dari tadi…”
Aku menghela napas lega. Baguslah kalau YongAh tidak mendengarnya.
“Itu Eomma sudah datang, onn…”
“Ayo kita pulang EunYong!!” panggil Eomma. Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi wajah Eomma terlihat agak sedih sekarang. Berbeda dengen ekspresinya sebelum bertemu dengan dokternya YongAh.
Aku memberikan pelukan singkat pada YongAh dan segera berjalan mengikuti Eomma. “Gwenchana Eomma?”
“Keadaan YongAh makin memburuk…” kata Eomma lemah. Matanya sudah berkaca-kaca. “Dia harus segera dioperasi lagi….”
Aku memeluk Eomma dan mencoba menenangkannya. “Tenang saja Eomma, aku yakin YongAh pasti akan segera sembuh…”.
Eomma akhirnya menumpahkan air matanya dipelukanku.
“Kapan operasinya, Eomma?”
“Tidak lama lagi, para dokter masih mencari sumsum tulang belakang yang cocok untuk YongAh…”
Eomma melepaskan pelukanku dan melangkahkan kakinya ke parkiran.
“Coba tes sumsum ku saja, siapa tau cocok…” kataku sambil berjalan mengikuti Eomma.
Langkah Eomma terhenti. Eomma membalikkan badannya dan menatapku dalam-dalam. “Sepertinya kemungkinan cocoknya hanya sedikit…”
“Bukankah kalau masih satu keluarga kemungkinan cocoknya besar?” tanyaku keheranan.
Eomma mempercepat langkahnya dan masuk ke mobil.
“Eomma, jawab pertanyaanku….” kataku dan duduk di jok samping Eomma.
Eomma hanya diam.
“Eomma….” panggilku pelan.
Setelah kami sampai di parkiran hotel, Eomma menghentikan mobilnya dan menarik napas panjang. “Kau bukan saudara kandung YongAh dan juga bukan anakku…”
Napasku tercekat. “Jadi aku anak pungut?”
Eomma cepat-cepat menolehkan kepalanya dan menatapku. “Kau anak angkat kami tapi kami sangat menyayangimu…”. Eomma mengangkat tangannya hendak mengelus kepalaku.
“Mana kunci kamarku? Aku mau ke kamar duluan, aku lelah sekali Eomma….”
Gerakan tangan Eomma terhenti. Ia segera mengambil kunci kamarku di tasnya. “Kamar nomor 703..”
Aku hanya mengangguk singkat dan segera mengambil koperku di bagasi. Pikiranku amat berantakan sekarang. Jujur aku belum siap menerima kenyataan ini.

**********

Setelah menutup pintu kamar aku terdiam sebentar. Aku mencoba mengulang kata-kata Eomma di pikiranku. Siapa tau saja ada bagian yang terlewat tadi.
Setelah sekian lama berpikir, aku sadar. Aku memang anak angkat. Pantas saja wajahku berbeda jauh dengan Eomma, Appa, dan YongAh.
Akhirnya kuputuskan untuk membongkar koperku dan memindahkan baju-baju di dalamnya ke lemari. Sampai akhirnya kutemukan album foto yang sengaja kubawa untuk menghibur YongAh dan mengingatkannya pada masa kecil kami. Kubuka lembaran-lembaran album itu. Entah kenapa rasanya air mataku ingin sekali mengalir keluar dari tempatnya. Hatiku juga sakit melihat lembaran-lembaran fotoku bersama Eomma dan Appa, mengingat aku bukanlah anak kandung mereka.
Apa yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikan mereka selama ini? Memberikan sumsum tulangku pada YongAh saja tidak bisa. Aku memang tidak berguna.

**********

Drrrt drrt
“Yobseyo..”
“Yobseyo, EunYong, cepat bersiap-siap, Eomma tunggu di bawah ya, kita makan malam sambil menjenguk YongAh…”
“Ne, Eomma..”
Kuputuskan sambungan telponnya dan bangkit dari tempat tidur. Kuhapus bekas air mataku dan mencuci muka.
Setelah merasa wajahku sudah mendingan aku segera keluar kamar dan menemui Eomma di lobby.
“Kau pasti baru bangun tidur ya? Wajahmu kucel sekali…” kata Eomma dengan senyum lebarnya.
Aku hanya bisa menjawabnya dengan senyuman singkat. “Kita mau makan dimana?” tanyaku.
“Molla, Eomma juga tidak tahu, selama di sini Eomma belum menemukan makanan yang cocok, jadi cuma makan roti saja…”
“Omona, pantas saja Eomma jadi kurus sekarang…”
“Bagus kan, sekalian diet gitu, kekeke…” kata Eomma sambil terkekeh.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. “Kebetulan aku punya mi instant di kamar, kita makan itu aja yuk…” ajakku.
“Jinjja? Aduh, Eomma sudah kangen sekali makan mi instant Korea. Kkaja…”

**********

“Ehmmmm, masshita. Hebat kau EunYong, bisa kepikiran bawa mi instant…”
“Hmm? Sungmin membawakannya untukku saat di bandara. Sebenarnya aku juga ga kepikiran buat bawa mi instant, Eomma…” kataku sambil membereskan peralatan makan yang berserakan di lantai kamar.
Eomma memandangku sambil tersenyum jahil. “Itu yang dinamakan sahabat?”
Aku mengangkat alis. “Iya kan? Kalau bukan apa namanya?”
“Kau yakin tidak ada perasaan lebih untuk Sungmin?”
“Tidak, aku 100% menganggapnya sebatas sahabat, Eomma…”
“Sampai kapan kau akan terus menyendiri begini?” kata Eomma sambil menghela napas.
“Omona, Eomma, aku masih harus menyelesaikan kuliahku. Belum waktunya memikirkan hal itu…” kataku sambil duduk di tepi ranjang.
Eomma ikut duduk disampingku. “Apa kau sudah menyukai seseorang?”
Aku menengadahkan kepalaku ke langit-langit hotel. “Ne, Eomma…”.
“Nugu?”
“Eomma tidak perlu tau orangnya. Orang yang kusayangi membutuhkannya, Eomma. Aku tidak bisa mengambilnya begitu saja…”
“Jadi kau bingung harus memilih siapa, begitu?” tanya Eomma sambil mengelus kepalaku.
“Ne…” kataku pelan.
Eomma tersenyum kecil. “Ikuti saja kata hatimu…”
Ake menoleh menatap Eomma. Sadarkah Eomma kalau aku sedang membicarakan namja yang amat disayangi anak kandungnya? Huh, tentu saja aku tidak akan tega merebut Youngwoon dari anak sebuah keluarga yang sudah membesarkanku dengan penuh kasih sayang walaupun aku bukanlah anggota keluarga mereka.

**********

“Annyeong, YongAh!!!”
YongAh yang baru saja meminum obatnya langsung menolehkan kepalanya dan tersenyum kepadaku.
“Masuklah, Onnie. Mian ya, kalau kamarnya bau obat…”
Aku melangkah masuk dan memeluk YongAh. Wajahnya makin pucat, dan tadi pagi Eomma mendapat kabar kalau keadaan YongAh memang terus memburuk.
“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku.
“Sudah jauh lebih baik…” katanya mencoba ceria.
“Kau memang dongsaengku yang paling hebat…” kataku dan duduk di kursi yang ada di samping ranjangnya.
“Mana Youngwoon?” tanyaku lagi.
“Dia belum datang, Onnie…”
Aku manggut-manggut mendengarnya.
“Tolong telpon Kangin oppa donk, Onnie, suruh dia ke sini…”
“Eh, kau telpon saja sendiri…” tolakku.
“Ayolah onnie, cuma telpon saja apa susahnya sich…” rengek YongAh.
“Ne, tunggu sebentar…”
“Yobseyo….”
“Errrr, Yobseyo Youngwoon ah, bisakah kau ke rumah sakit sekarang?” tanyaku gugup.
“Ne, aku baru saja akan berangkat, tunggu saja sebentar lagi…”
“Sudah aku telpon, katanya sebentar lagi dia sampai…” kataku pada YongAh.
“Baguslah kalau begitu…”katanya sambil tersenyum.
“Dasar pasangan baru, kalau tidak bertemu sebentar saja hebohnya minta ampun….”
“Eh iya, Eomma dimana?”
“Eomma pagi-pagi sekali menjemput Appa di bandara dan sepertinya sekarang sedang menemani Appa memeriksa sumsum tulang belakangnya…”
“Oh, jadi Appa yang akan memberikan sumsumnya untukku, semoga saja sumsum Appa cocok denganku. Kalau cocok aku jadi bisa operasi secepatnya…” kata YongAh dengan suara yang melemah.
“Gwenchana YongAh?” tanyaku khawatir.
YongAh menggeleng pelan. “Gwenchanayo, onnie…”
Tak lama kemudian, Youngwoon datang. Entah kenapa, wajah YongAh tak secerah biasanya. Wajahnya amat pucat. Aku tau kalau keadaan YongAh memang terus memburuk tapi aku tak pernah menyangka akan seburuk ini.

**********

Seharian penuh aku lewatkan dengan menemani YongAh di kamarnya. Yah, YongAh memang sangat erbeda hari ini. Tidak pernah sekalipun senyum lebar keluar dari mulutnya. Terlihat jelas ia menahan sakit yang teramat sangat.
“Kau belum pulang EunYong?”
Tiba-tiba Eomma dan Appa sudah berdiri di depan pintu.
“Eh, Eomma, Appa, baru saja aku mau pulang…” jawabku.
“Eomma sama Appa mau tinggal sini?” tanyaku.
Eomma dan Appa mengangguk mengiyakan. “Kami mau menemani YongAh, besok dia akan dioperasi…” jawab Eomma.
“Bagaimana kabar YongAh?” tanya Appa.
“Sst, dia sedang tidur nyenyak sekarang. Ngomongnya pelan-pelan aja, Appa. Mungkin kelihatannya baik-baik saja, tapi wajahnya sangat pucat, sepertinya penyakitnya bertambah parah…” jawabku pelan sambil mengusap pelan kepala YongAh.
“Ya sudah, kau pulang saja dulu. Kau juga Youngwoon. Biar kami yang gantian menjaga YongAh…” kata Eomma padaku dan Youngwoon.
Aku segera beranjak dari tempat duduk dan mengambil mantelku yang tergantung di balik pintu.
“Mau pulang bareng? Kita menginap di hotel yang sama kan?” tanya Youngwoon ketika kami berada di luar kamar YongAh.
“Hmm, boleh saja…” jawabku.
Selama perjalanan pulang tidak satupun dari kami membuka pembicaraan. Kami hanya terdiam memandang jalan.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Youngwoon memecah keheningan.
“Seperti yang kau lihat sendiri sekarang. Aku baik-baik saja…” jawabku.
“Bagaimana denganmu?” tanyaku.
Youngwoon menghela napas panjang. “Tidak begitu baik sebenarnya…”
Aku memandangnya sekilas. “Oh ya? Kenapa?”
“Kau selalu  menghindariku sekarang…” jawab Youngwoon.
“Aku tidak pernah menghindarimu…”
“Kalau begitu kenapa kau tidak pernah menghubungiku? EunYong, sudah berapa kali kukatakan aku tidak menyukai dongsaengmu. Aku hanya bisa menyukaimu…”
“Kumohon, cobalah buka hatimu untuk YongAh. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk membalas semua kasih sayang yang pernah Eomma, Appa, dan YongAh berikan untukku…”
Youngwoon menolehkan kepalanya dan menatapku dalam-dalam. “Untuk apa kau membalas kasih sayang mereka? Mereka adalah keluargamu. Sudah sewajarnya mereka menyayangimu…”
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman pahit. “Aku hanya anak angkat…” kataku sambil berlalu pergi.

TBC

By : Ocha

9 Comments (+add yours?)

  1. leedantae
    Dec 01, 2010 @ 06:53:30

    Owwwh…
    Kangin-ssi, kasihan yong-ah,
    Lanjut author…

    Reply

  2. kyucanasoofishy
    Dec 01, 2010 @ 07:31:23

    Uuuuaaaaa aaa…..pagi2 baca ff castny kangin oppa, jd kangeeeen….
    Lanjutt author, ffny keren 🙂

    Reply

  3. LopeLopeKJW
    Dec 01, 2010 @ 08:00:30

    haahh.. kelewat beberapa part, wkwk
    weis
    selalu bagus thor!
    oke, bkunjung k’part sblom’a dulu ah

    Reply

  4. 황윤헤--->韩真♥EvilYuuElf
    Dec 01, 2010 @ 14:22:47

    boe??
    nie part 5.a udh klwr yach??
    kq aq blom bca???
    or??

    huhuhu,,
    yong ah kasihan…
    tpi gk bsa dPksain jga sih..
    udh ah! Part 7!!!! Hwating!!!

    Reply

  5. sarangHyuk
    Dec 01, 2010 @ 18:02:28

    part 7 part 7 part 7 !!

    huwaaaa ;_____;

    Reply

  6. yokyuwon
    Dec 01, 2010 @ 21:44:58

    ya,aku jg sma kyk chingu! *nunjuk2 keatas*part 7 – part 7 – part 7…!!!!!

    Reply

  7. Jung Ae Rha
    Dec 01, 2010 @ 22:51:13

    wwwww…..!

    ff yang wonderful!

    i like your ff…

    SUNGMIN >_<

    Reply

  8. liathespaniard
    Dec 02, 2010 @ 13:33:26

    Waduh, oppa bogoshippo

    Reply

  9. cheerly srianingsih
    May 07, 2011 @ 20:49:12

    part 7.a manee nie admin???

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: