THE WAY TO LOVE PART 2

Saat sarapan pagi…

Seohyun-unni memandangku dengan tatapan curiga. Kemarin malam, ketika Unni masuk ke kamar, aku pura-pura tidur dan akhirnya memang aku benar-benar tertidur (haahh…makhluk macam apa aku ini yang saat patah hati juga masih bisa tertidur). Lagipula, aku belum siap menerima cerita bahagia dari Unni.

Tapi kalau sekarang, yah…aku sudah menata hatiku sih.

“Kenapa kau terlihat berantakan?” tanya Unni, menyelidik.

Aku menggeleng, mengambil sepotong roti dan mengolesinya dengan selai kacang. “Hahaha,” tawaku, berusaha terlihat baik-baik saja. “Hanya kecapekan kok. Gara-gara kemarin menolong orang, dan pulang malam.” Seohyun-unni terlihat tak percaya. Yah, tentu saja sih, mataku lumayan bengkak gara-gara menangis, dan penampilanku awut-awutan. Tapi please deh, siapa juga yang mau peduli dengan penampilan!

“Unni, kemarin Unni diantar Siwon-sunbae ya? Hayoo?!” aku menggodanya. Walau bagaimanapun, aku kan adiknya. Jangan sampai dia tahu aku cemburu.

Unni terbelalak. Wajahnya memerah. “Sejak kapan Unni pacaran dengannya?”

“Hem…resminya sih baru kemarin juga, saat perjalanan pulang dari Busan,” jawabnya, tersenyum malu-malu, lalu menggigit rotinya untuk menutupi rsa malunya.

“Waahh…chukkae, Unni… Aku bakal dapat kakak ipar yang tampan dan baik!” Aku tertawa lagi, berusaha menyembunyikan perasaanku. Lama-lama, entah kenapa aku jadi tidak tertarik lagi dengan Siwon-sunbae. Mereka berdua sudah sangat serasi sih.

“Aish…apa-apaan sih kau?” Dia tersenyum malu-malu lagi.

*

Aku keluar kelas dengan lesu. Mata kuliah hari ini benar-benar membuat tenagaku terkuras habis. Diawali dengan kalkulus, lalu fisika dasar, selanjutnya kimia, dan diakhiri dengan bahasa Inggris. Benar-benar parah. Mana aku keluar kelas saat hari sudah gelap. Aish, ini gara-gara harus menyelesaikan tugasku yang wajib dikumpulkan hari ini juga. Nasib…

Dan hari ini juga aku tak sempat ke ruang musik, tempat Seohyun-unni biasa berlatih piano. Aku juga malas pergi kesana. Pasti ada Siwon-sunbae. Dan walaupun sudah belajar untuk mengikhlaskan mereka, tetap saja aku masih patah hati.

Aku sedang menuruni tangga ketika tiba-tiba ponselku berbunyi. Seohyung-unni? Untuk apa dia menghubungiku? “Yoboseyo?” sapaku.

“Yoboseyo, Sunri-ya,” sapanya dari seberang. Dari nada suaranya, dia terlihat sedang senang sekali. “Mungkin nanti aku pulang telat. Tolong katakan pada Appa dan Umma, ya.”

“Memangnya Unni ada di mana?”

“Hem…Siwon mengajakku makan malam…”

BRAKK!

“SUNRI-YA! KAU KENAPA?!” Suara jeritan Seohyun-unni terdengar keras sekali.

Aku hanya meringis. Aku baru saja jatuh dari tangga, dan sekarang menggelosor di lantai. Untung aku jatuh dari anak tangga yang tidak begitu tinggi. Walau begitu, tetap saja kakiku sakit. “Gwenchana, Unni, hanya terjatuh. Aku tidak lihat-lihat sih, ehehe… Tidak apa-apa kok,” jawabku, meyakinkannya.

“Jinja?”

“Ne. Kalau begitu, Unni tutup teleponnya sekarang. Siwon-sunbae pasti sedang menunggu. Annyeong…”

“Ne, hati-hati, jangan terjatuh lagi.” Dia lalu mematikan sambungan telepon. Kututup flip ponselku tepat ketika seseorang berdiri di depanku. Aku mendongak.

“Ya! Kau ini bodoh atau apa sih?! Menuruni tangga saja bisa jatuh!” katanya sengak. Siapa lagi yang bisa berkata dengan nada begitu kecuali si Rusuh Donghae?

Aku hanya mendengus. Malang sekali aku. Sudah patah hati, kuliah yang melelahkan, jatuh dari tangga, sekarang harus bertemu dengan makhluk ini pula!

“Cepat berdiri!” katanya, membuyarkan lamunanku. Aku tergagap. Dia mengulurkan tangannya. Malas berdebat dengannya, kusambut uluran tangganya, tapi…

“Ups…” Aku nyengir bodoh ketika menyadari ternyata kakiku terkilir dan susah berdiri apalagi berjalan.

“Aish…dasar merepotkan.” Dia geleng-geleng kepala. Aku mengerutkan dahiku. Kalau memang merepotkan, tidak usah dibantu sekalian dong! Donghae dengan cepat berjongkok di depanku.

“Ngapain kau?” tanyaku lugu. “Mau main jalan jongkok?”

“Cepat naik, Pabo! Kugendong!” ucapnya. “Lagipula ini sudah malam.”

Mataku terbelalak, membesar hingga beberapa kali lipat. “Mwo?!”

“Aish…” Dia kehabisan kesabaran. Ditariknya tanganku. Membuatku mau tak mau menempel di punggungnya. Dengan canggung kubenarkan posisiku. Dia berdiri. Ya ampun, ini untuk pertama kalinya ada laki-laki yang menggendongku, selain Appa. Donghae mulai berjalan.

“Astaga, ternyata kau berat!” pekiknya tertahan.

Aku memukul bahunya pelan. “Ya! Kalau begitu tidak usah sok baik! Turunkan aku!”

“Hahaha…” Dia terkekeh. “Aniyo, aku bercanda. Kau lebih ringan dari yang kukira.”

“Jadi aku terlihat berat?”

“Tidak juga…hem…tapi mungkin begitu…” Donghae tertawa lagi. Mau tak mau aku ikut tertawa. Entah kenapa suasana hatiku sedikit lebih baik.

Kami sudah melewati gerbang kampus, dan berjalan di trotoar pinggir jalan. Rumahku memang tak begitu jauh dari kampus. Tapi lumayan lelah juga sih kalau harus berjalan, apalagi sambil menggendong orang. Aku jadi merasa salut padanya. Sedikit…

“Kau tahu rumahku?” tanyaku.

“Tentu saja. Kau kan serumah dengan Seohyun-unni,” sahutnya.

Aku mengangguk lemah. Dia tahu rumahku, tentu saja. Karena dia MEMANG tahu rumah Unni.

“Ya! Apa kabar Seohyun? Kenapa tadi aku tak melihatnya di ruang musik? Apa dia belum pulang dari Busan?” tanyanya tiba-tiba.

Aku tergagap. Aku sama sekali lupa bahwa ada satu lagi namja yang punya perasaan khusus pada kakakku itu. Bagaimana harus kukatakan? Bahwa Unni sekarang berpacaran dengan Siwon-sunbae? Entah kenapa, aku tak tega mengatakannya pada Donghae. Dia telah begitu baik, sejak kemarin membantuku terus. “Ehm…molla. Maksudku, aku tak tahu kenapa tadi dia tidak ada di ruang musik, aku harus mengerjakan tugas sih. Mungkin…dia juga sedang sibuk kuliah. Ini kan minggu-minggu dia ujian. Tapi Unni sudah pulang dari Busan…” Akhirnya aku berbohong juga. Eh, teknisnya sih tidak. Aku hanya tidak mengatakan bahwa mereka berdua sudah berpacaran. Toh yang ditanyakan Donghae adalah hal yang berbeda.

“Oh…” sahut Donghae, mengangguk-anguk. “Hem…Sunri?”

“Ne?”

Donghae terdiam sejenak, menghela nafas, dan berkata pelan, “Dadamu…kena pundakku.”

Hening.

Sedetik.

Dua detik.

Lalu…

“TURUNKAN AKU!!!” teriakku keras. Entah seperti apa merahnya wajahku sekarang. Aku berontak di gendongannya.

“Ya! Ya! Ya! Jangan bergerak! Kita bisa jatuh!” sahutnya, berusaha memegangiku yang ada di punggungnya. Kujauhkan dadaku dari pundaknya, berusaha tidak menyentuhnya lagi.

“Turunkan aku!” bentakku lagi. Aku sudah malu setengah mati.

“Aniyo… Araseoh, araseoh, aku tidak akan mengatakannya lagi! Sekarang diamlah, atau kau bisa jatuh. Kau dan aku. Dan percayalah, jatuh ketika kakimu sedang terkilir bukan pilihan yang baik.”

Aku hanya diam. Selanjutnya, selama sisa perjalanan, aku terus diam. Dia juga diam. Kami sama-sama malu, tentu. Saat sudah berada di depan rumahku, dia menurunkanku dengan hati-hati dan mengucapkan kata maaf. Aku mengangguk, lalu berterimakasih.

*

Esoknya, aku masuk kuliah seperti biasa. Kakiku sudah benar-benar pulih. Berkat Appa, yang memijatnya dengan baik. Aku juga baru tahu ayahku punya kemampuan sebagai tukang pijat, selain sebagai banker.

Aku berniat pergi ke ruang musik. Kali ini, Unni pasti ada di sana. Saat sarapan tadi kami tidak sempat bertemu karena aku berangkat lebih dulu, ada kuliah pagi.

Tapi, saat aku tinggal selangkah lagi masuk, pemandangan itu muncul lagi. Siwon-sunbae, sedang berdiri, merangkul leher Unni, saat kakakku itu memainkan pianonya. Aku mengeryit, entah kenapa, sekarang aku tidak lagi merasa sakit hati. Aneh sekali bukan? Aku tenang-tenang saja. Yang ada di pikiranku sekarang malah, “Ya ampun, kayak tidak ada tempat lain saja.”

Aku memutar badanku, dan menjauh. Kan tidak sopan mengintip orang yang sedang bermesraan. Tapi baru beberapa langkah, aku melihat Donghae, mendekatiku. Dadaku berdebar hebat. Pasti ini gara-gara kejadian kemarin yang bikin malu.

“Kakimu sudah pulih?” tanyanya, memandang kaki kananku. Aku mengangguk. “Baguslah,” katanya, nyengir. Dia melangkah lagi, menuju ke…ruang musik!

“Donghae!” panggilku, sambil mencekal tangannya. Dia menoleh, heran.

“Waeyo?”

“Jangan masuk…”

Keningnya berkerut. “Apa maksudmu?”

“Jangan masuk ke ruang musik,” ulangku.

“Kenapa tidak boleh? Kau ini aneh…” Dia melepaskan cekalan tanganku, lalu berjalan makin cepat ke arah ruangan itu. Aku mengikutinya. Bahkan sebelum Donghae mencapai pintu ruangan itu, dia sudah berhenti. Pintu ruangan yang sedikit terbuka itu, memperlihatkan dua orang yang saling berciuman mesra. Aku memutar bola mataku. “Kubilang juga apa, jangan masuk,” kataku.

Donghae terdiam. Tidak, dia membeku. Matanya menatap ke arah Unni dan Siwon-sunbae. Lalu berbalik menatapku. “Kau tahu ini, kenapa tidak memberitahuku?” desisnya penuh amarah. Lalu dia berlari, menjauh.

“Ya! Lee Donghae!” panggilku, mengejarnya. Ternyata di luar sedang hujan deras. Aku buru-buru merampas payung seorang temanku yang baru datang. “Kupinjam sebentar, Miyung-ah!” teriakku.

Aku mengejar Donghae yang berlari ke arah taman. Hanya orang bodoh (dan patah hati) yang mau berhujan-hujan tanpa payung di tengah hujan begini. Aku menemukannya.

“Lee Donghae! Berhenti! Ya! Berhenti!” teriakku, diantara suara hujan. Dia berhenti, terengah-engah. Bajunya, otomatis sudah basah kuyup. Aku berdiri di belakangnya, tidak berani menatapnya.

“Waeyo?” tanyanya, dengan nada rendah tapi penuh amarah. “Waeyo, Sunri? Kau sudah tahu kan? Kenapa tak memberitahuku? Kenapa?! Kau mau balas dendam?”

“Donghae…tidak begitu…” Aku berkata dengan terbata-bata. Bingung bagaimana menjelaskannya.

Dia tertawa sinis. Lalu berbalik. Aku bisa melihatnya, rahangnya mengeras, dan matanya menatapku tajam. Aku yakin, wajahnya basah bukan hanya karena air hujan. “Kau membenciku kan? Kau ingin balas dendam, dengan menyembunyikannya! Membiarkanku berharap terlalu tinggi, dan ternyata malah…” Dia menggantung kalimatnya.

Aku menggeleng kuat-kuat. “Aniyo! Tidak be…”

“Pergi!” bentaknya, memotong kata-kataku. Aku tersentak kaget. “Aku muak melihatmu!”

Entah kenapa mataku terasa panas. Kata-katanya kali ini membuat hatiku lebih sakit daripada saat pertama kali melihat Unni dan Sunbae berciuman. Aku menatap Donghae lekat-lekat. “Kau pikir aku tak patah hati?! AKU MENYUKAI SIWON-SUNBAE! BODOH!!!”

Kulihat Donghae cukup terkejut dengan pernyataanku. Tapi aku tidak peduli. Aku berbalik, lalu berlari pergi, meninggalkannya. Masa bodoh dengan si Rusuh itu!

*

Malamnya, aku diam di dalam kamar. Tak peduli dengan Unni yang mengoceh tentang mengapa-banyak-anak-yang-tertarik-main-piano-tapi-tidak-menekuninya. Aku hanya mengangguk sesekali. Dan selanjutnya aku melamun.

“Oh iya, kenapa akhir-akhir ini aku jarang melihat Donghae ya?”

Pertanyaan Unni berhasil membuatku keluar dari lamunan. “Ne?”

“Donghae, aku jarang melihatnya. Tadi juga dia tidak datang ke ruang musik.”

“Ehm…” Aku menggigit bibir bawahku. Tak mungkin kan kubilang padanya bahwa Donghae cemburu melihatnya berciuman dengan namja lain. Keadaan sudah cukup buruk tanpa aku mengatakan yang sebenarnya.

Esoknya, aku tak melihat Donghae di kampus. Bahkan aku datang ke fakultasnya. Kata salah satu temannya, dia memang tidak masuk, entah kenapa. Hingga esoknya lagi, dia tetap tak masuk. Sudah dua hari, kemana dia?!

Akhirnya, sore sepulang dari kampus, aku datang ke apartmennya. Seorang teman dekatnya, Eunhyuk, dengan senang hati memberiku alamat apartmen Donghae. Aku juga baru tahu kalau ternyata dia tinggal sendiri. Kata Eunhyuk, keluarga Donghae ada di Mokpo. Jauh sekali.

Aku memencet bel kamarnya. Sampai beberapa kali, tidak ada sahutan. Aku sudah berniat pulang saja, ketika selot kunci itu bergerak, dan pintu membuka. Donghae, dengan wajah pucat, berantakan, dan mata setengah terpejam, menyambutku.

“Kau ke… Ya! Lee Donghae!” Pertanyaanku terpotong ketika tiba-tiba Donghae ambruk di depanku. Untung aku masih sempat menyangga tubuhnya. Oh Tuhan…apakah semua namja seberat ini?! Dengan susah payah kupapah tubuhnya (mungkin lebih tepatnya menyeret), setelah kututup kembali pintu apartmennya.

Kamarnya mudah ditemukan, karena dekat dengan ruang tamu. Kubaringkan dia di ranjang, lalu kuselimuti. Kuraba keningnya. Buset, panas amat.

“Kau sakit?” tanyaku. Lagi-lagi pertanyaan bodoh. Dia hanya mengangguk lemah. Matilah aku. Bagaimana ini?! Apa gara-gara kehujanan kemarin lusa? Rupanya ungkapan bahwa ‘orang bodoh tak akan sakit’ tidak berlaku padanya.

“Kau sudah minum obat?” tanyaku lagi, kali ini dia menggeleng. “Kenapa belum? Kau sudah makan?” Dia menggeleng lagi.

Inilah yang mengerikan jika tinggal jauh dari rumah orang tua. Kalau sakit, tidak ada yang merawat.

“Mau kubuatkan makanan?” Aku menawarkan dengan baik hati, padahal aku hanya bisa memasak air.

“Persediaan bahan makanku habis,” sahutnya dengan suara pelan.

“Kenapa tidak beli?”

Keningnya mengeryit, bahkan saat dia terpejam. “Aku tidak kuat berjalan ke minimarket, Bodoh!”

Aku hampir membuka mulutku untuk mendebatnya, tapi urung. Sabar, Sunri, sabar, yang kauhadapi adalah orang sakit yang keras kepala.

“Tapi aku masih punya ramen…”

Aku membelalakkan mataku. “Aish, kau berniat mati? Sakit sakit malah makan ramen!” makiku. Dia hanya mendengus.

Kulihat dia menggigil. Kuraba lagi keningnya, panas sekali. Aku membuka lemari pakaiannya, mengambil satu selimut tebal lagi, dan menyelimutkannya pada Donghae. Aku keluar, mengambil baskom kecil, mengisinya dengan air dingin. Kuambil juga sebuah handuk tangan berwarna putih. Aku kembali ke kamarnya, dan mulai mengompresnya. Biasanya ini yang dilakukan Umma kalau aku demam.

“Aku ke minimarket dulu ya, membeli makanan, kau baik-baik di sini,” kataku. Dia mengangguk lemah.

Aku keluar apartmennya, menguncinya dari luar, lalu menuju sebuah minimarket yang tadi kulewati saat menuju ke sini. Aku membeli beberapa kemasan bubur siap makan. Maklum, aku tak bisa memasak sama sekali. Donghae bisa mati kalau makan masakanku. Juga kubeli obat penurun demam.

Ketika aku kembali, Donghae sedang merintih-rintih di ranjangnya. Dengan cepat kudekati dia. Dia terlihat sangat kesakitan dan tangannya mencengkeram perut.

“Kau lapar?” tanyaku. Bingung sekaligus takut.

Dia menggeleng.

Aku menyadari sesuatu. “Donghae… Oh, jangan bilang kau punya penyakit lambung!”

Dan kali ini dia mengangguk!

Mampus kuadrat! Kenapa aku selalu dihadapkan pada hal-hal semacam ini? Hei, aku bukan dokter! Aku mahasiswa teknik! Apa sebaiknya aku keluar, dan mengambil jurusan kedokteran saja?! Aish, apa yang kupikirkan sih!

“Bagaimana ini? Aku tidak membeli obat macam itu! Ya ampun…” keluhku. Aku hendak beranjak, tapi Donghae memegang tanganku.

“Di meja makan…ada obatku…” katanya, setengah mengerang. Dengan cepat aku menuju dapur, dan benar saja, di meja makan ada botol ukuran sedang berisi pil-pil kecil. Dengan cepat kuraih botol itu, lalu kembali ke kamar Donghae. Kubuka botol itu, dan kuberikan padanya. Donghae mengambil beberapa butir, dan menelannya sekaligus. Aku ternganga. Tanpa air, dia bisa menelannya? Dan berapa tadi yang dia telan? Kalau tidak salah, tidak kurang dari lima butir. Oh, dia tidak akan mati karena overdosis kan?

“Gwenchanayo?” tanyaku pelan-pelan. Kugenggam tangannya yang berkeringat. Dia tidak menjawab, tapi wajahnya mengisyaratkan bahwa rasa sakitnya belum hilang. Dia semakin erat menggenggam tanganku.

“Sunri…sakit sekali…” keluhnya, tak jelas.

“Gwenchana, gwenchana…” Aku berusaha menenangkannya. Kuusap kepalanya. Kalau aku jadi dia, pasti aku sudah menangis tersedu-sedu. Rasanya pasti merana sekali, sakit tanpa ada Umma atau Appa di samping kita.

Donghae menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakitnya. Rasanya aku ingin menangis melihatnya seperti ini. Tapi kalau aku menangis, percuma saja aku di sini.

Sekitar lima belas menit kemudian, Donghae berangsur-angsur tenang. “Sudah tidak sakit?” tanyaku, dia mengangguk. Kubenarkan posisi tidurnya agar terlentang. Badannya masih panas. Kembali kuganti kompresnya.  Lalu kuseduh bubur yang tadi kubeli.

“Kau harus makan,” ucapku, membangunkannya. Dia membuka matanya sedikit, lalu memejamkannya lagi.

“Kepalaku pusing.”

Tadi perut, sekarang kepala. Aku heran bagaimana seorang dokter bisa bekerja dengan baik umpama pasiennya semanja dan seaneh Donghae?! Ckckck, untung aku bukan dokter.

“Tapi kau tetap harus makan, setelah itu minum obat, agar demammu turun!” keukeuhku.

Dia mengangguk sedikit. Kusuapkan sesendok bubur itu, dia mengunyahnya pelan-pelan. Awalnya sih lancar-lancar saja, tapi begitu sekitar enam atau tujuh sendok, dia menutup mulutnya. “Ayo, makan lagi, buburnya masih banyak.”

“Aku bisa muntah kalau terus kau paksa,” kilahnya.

Aish…benar-benar deh! Karena tidak mau mengambil resiko harus membersihkan muntahannya (kalau dia benar-benar muntah), maka kuhentikan saja aksiku menyuapinya. Dan berhubung bubur itu masih banyak, akhirnya malah aku yang menghabiskannya. Maklum, aku juga belum makan malam.

“Nih, minum obatnya,” Kusodorkan sebutir tablet obat padanya dan segelas air putih. Dia meminumnya dengan patuh. Anak baik. Hehehe…

Setelah minum obat itu, dia langsung tertidur pulas. Oh, aku lupa, yang kubeli tadi memang obat demam yang menyebabkan kantuk (aku tidak mau mengambil resiko memberinya obat yang tidak menyebabkan kantuk, karena semalaman nanti pasti dia akan mengerang-erang dan mengeluh tidak jelas, dan aku sedang tidak ingin mendengar erangan atau keluhan). Beberapa kali aku mengganti kompresnya. Badannya masih panas.

Tanpa sengaja, aku menoleh ke arah jam dinding. Ya Tuhan, jam sepuluh malam?! Aku kelabakan mencari ponselku. Yang pertama kuhubungi adalah Miyung, sahabatku.

“Yoboseyo? Sunri-ya, kenapa telepon malam-malam begini?” tanyanya, heran.

“Hem…aku mau minta tolong, kalau nanti Seohyun-unni atau orangtuaku mengecek, katakan aku menginap di rumahmu ya.”

“Memangnya sekarang kau ada dimana?”

“Di…eh…apartmen Donghae…”

“MWO?!” Pekikan Miyung mampu memecahkan gendang telingaku.

“Aish, Miyung-ah! Kenapa menjerit sih?”

“Kau! Kau…ya ampun…sedang apa disana? Kau mau…astaganaga, Sunri-ya, kau menyerahkan keperawananmu pada Donghae? Sunri-ya, dia memang tampan, tapi bukankah kau bilang dia menyebalkan? Atau jangan-ja…”

“Ya! Ya! Ya!” Aku buru-buru menghentikan imajinasinya yang bergerak liar. “Miyung-ah, tentu saja tidak! Pertama, aku ada di sini karena menjaganya, dia sedang sakit. Kedua, aku tak berniat menyerahkan kepe…” Aku sedikit ragu mengatakannya, malu kan kalau Donghae ternyata belum tidur dan mendengarnya. “…yah, itulah pokoknya, kepada namja sebelum aku menikah. Dan ketiga, dia tidak semenyebalkan yang dulu. Araseoh?!”

“Oh, dia sakit?” Suara Miyung melunak. “Baiklah, aku akan bilang kalau kau menginap di sini. Tapi hati-hati ya, jangan sampai Donghae menyerangmu.”

Aku memutur bola mataku, menatap Donghae yang tertidur dengan nafas teratur. “Terakhir, aku yakin seribu persen, aku lebih kuat darinya saat ini, dan tidak, dia tidak akan menyerangku, atau apapun istilahmu itu.”

Miyung hanya terkikik geli. Aku mengucapkan terima kasih, lalu menutup flip ponselku. Selanjutnya aku menelepon Umma, dan mengatakan aku menginap di rumah Miyung. Umma sih percaya saja, aku kan memang sering menginap di rumah sahabatku itu.

*

Pagi harinya…

Aku terbangun karena merasa Donghae bergerak. Aku mengucek mataku dengan malas, lalu menguap lebar. Ternyata semalam aku tertidur di sampingnya. Badanku, tentu saja terasa makin pegal dan kaku. Bayangkan, aku tidur dengan posisi duduk menelungkup di pinggir ranjangnya, dengan tangannya tak melepaskan genggaman tangan kami.

“Ugh…” keluhku, melemaskan otot-otot leherku yang kaku.

Tanpa sengaja, ternyata gerakanku itu membangunkan si Rusuh. Entah memang dia sudah bangun, atau terbangun gara-gara aku.

“KIM SUNRI!!!” jeritnya, ketika menyadari kehadiranku.

“Ya! Kenapa berteriak?!” Aku mengusap telingaku pelan. Kemarin Miyung yang berteriak, sekarang Donghae, sebentar lagi gendang telingaku pasti pecah.

“Sedang apa kau disini?” tanyanya dengan ekspresi tak habis pikir.

Aku melongo. Apa demam bisa menyebabkan amnesia?

“Aku menjagamu yang hampir mati, Bodoh!” jawabku asal. Kesal juga dengan tingkahnya yang sok kaget itu.

Donghae terlihat mengingat-ingat. Lama-lama dia mengangguk-angguk. “Oh, iya… Mianhe, aku lupa. Kupikir aku hanya bermimpi melihatmu semalam.”

“Hah?!” Aku mengeryit. Kurang ajar betul dia menganggapku hanya mimpi, padahal aku sudah capek-capek mengurusnya!

Aku memeriksa keningnya. Panasnya sudah turun. Aku mendesah lega. “Kau sudah sembuh kan, berarti aku bisa pulang sekarang…”

“Chamgaman!” katanya, menahanku. Aku duduk di sampingnya, pasang muka bertanya. “Aku…” Dia berkata ragu-ragu. “…aku minta maaf atas kejadian kemarin…”

“Oh…”

“Mianhe. Aku salah sangka terhadapmu.”

“Ya, memang.”

“Ya!” Donghae menepuk tanganku keras-keras. “Kenapa kau sama sekali tidak manis? Harusnya kau bilang ‘sudahlah, lupakan saja, kau tidak bersalah sepenuhnya kok’ begitu!”

Aku menaikkan sebelah alisku. “Tidak sudi. Lagipula, yang salah kan memang kau, jadi kau pantas minta maaf dong.”

“Aish…benar-benar!” Donghae mendengus kesal. Dia bangun dan bersandar di bantal yang ditumpuknya. “Lalu, kenapa kau masih mau mengurusku?”

Aku mengedikkan bahu. “Molla. Hanya kasihan saja, aku tidak mau ada berita kematian yang menyangkut salah satu temanku,” jawabku cuek. Donghae mendengus lagi, berkata bahwa aku benar-benar tak punya hati nurani.

“Kau bilang kau menyukai Siwon?” tanyanya setelah kami terdiam cukup lama.

“Ne. Dulu. Sekarang sih tidak lagi.” Aku tersenyum geli, entah kenapa rasa sukaku pada Siwon-sunbae hilang sama sekali. “Lagipula, dia dan Unni saling mencintai…,” tambahku.

Donghae menatapku dengan pandangan sendu. “Lalu bagaimana denganku? Aku juga menyukai Seohyun…”

Aku diam, bingung harus menjawab apa. Aku tidak pernah tahu bagaimana menghibur orang yang patah hati. Mau bilang “gwenchana”, dia tidak sedang baik-baik saja. Mau bilang “ikhlaskan saja”, takut Donghae akan menggamparku dan mengataiku tak punya empati. Jadi aku diam saja, dan hanya bilang, “Ya sudah, mau bagaimana lagi.”

Reaksi Donghae? Oh tidak, tidak, dia tidak menamparku (tentu saja, untuk bangun saja dia sudah mengerahkan tenaganya habis-habisan, mana kuat menamparku?), dia hanya mengangguk sambil menunduk. Namun, beberapa detik kemudian, dia mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Na gwenchana,” katanya. Mungkin lebih pada dirinya sendiri.

“Bagus lah,” timpalku.

Dia lalu berusaha bangun, tapi aku mencegahnya. “Ya! Apa yang kau lakukan? Kau kan belum sembuh benar!”

Donghae menatapku dengan pandangan sedikit kesal. “Aku mau mandi. Badanku berkeringat, dan asal kau tahu, sejak dua hari yang lalu aku belum mandi sama sekali!”

Aku mengeryit. Kuendus badannya. “Kau memang berkeringat, tapi percayalah, kau tidak bau kok,” kataku, berusaha meyakinkannya. Tapi sepertinya gagal, karena dia tetap berusaha bangun dan berdiri. Aku melepasnya, ingin tahu apa dia memang bisa berdiri.

Hahaha! Benar saja kan, baru saja dia berdiri, dia langsung ambruk lagi. Aku membiarkannya merangkak ke tempat tidur dan kembali berbaring. “Sudah puas berdiri, Tuan?” godaku.

Dia menutup matanya dengan punggung tangannya. “Kepalaku pusing sekali, Bodoh! Sialan.” Dia mendengus kesal. “Sunri! Siapkan air panas untukku!”

“Kau pikir aku pelayanmu?!”

“Aku kan sedang sakit!”

“Ya! Memangnya kau mau menjadikan sakitmu sebagai alasan, hah?! Sakit saja terus sampai mati, aku tidak peduli!”

“Kenapa kau jahat sekali?” Dia membuka matanya, memelototiku. “Aish…kepalaku semakin sakit berdebat denganmu…”

“Baiklah, baiklah!” kataku akhirnya, aku benar-benar risih dengan keluhannya. “Tunggu sebentar!” Aku pergi ke dapur dengan malas, lalu memanaskan air. Setelah air itu hangat, aku menaruhnya di baskom dan membawanya kembali ke kamar.

“Lepaskan bajumu,” perintahku. Dia menatapku ngeri. “Ya! Kubilang lepaskan bajumu! Dan jangan menatapku seakan-akan aku akan memperkosamu!” Aku benar-benar dibuat kesal. Donghae tersenyum malu-malu sok manis, lalu duduk bersandar. Dia melepas piyama atasnya. Dan…ya ampun! Oh Tuhan. Oh Tuhan. Oh Tuhan. Dia benar-benar seksi!

Aku mencelupkan handuk yang baru kuambil dari lemari ke dalam air hangat itu, lalu memerasnya. Kuseka badan Donghae dengan hati-hati. Oh Tuhan…ampuni aku, aku memegang badan seorang namja yang bahkan setengah kubenci ini…

“Kenapa wajahmu merah?” Tiba-tiba saja Donghae bertanya. Aku langsung menunduk, setengah meringis. Kenapa aku bisa malu!? Ah, Kim Sunri pabo! Namun tetap saja aku meneruskan kegiatanku menyeka tubuhnya.

“Ya, aku bertanya padamu, Kim Sunri! Jawab aku.” Suara Donghae, walaupun terkesan memaksa, tapi sekarang lebih lembut.

“Aniya…tidak apa-apa,” sahutku, bingung mau menjawab apa. Masak aku mau menjawab ‘ini gara-gara aku menyentuh badanmu, Lee Donghae’ begitu? Ah, aku bisa mati gara-gara malu!

“Lalu kenapa kau menunduk?” dia bertanya lagi.

Ah…apa yang harus kulakukan? Aku kan tidak berani menatap wajahnya. Kenapa pula tadi aku setuju untuk menyeka badannya? Sial…

Sekarang aku menyeka dadanya. Ugh…oke, kenapa ada orang yang punya dada sehalus dan sedatar dia? Dan…ah, apa tadi dia bercanda? Dia masih harum kok…

Kim Sunri, kau sudah gila!!!

Aku mati-matian membuat pikiranku kembali fokus dan tidak melayang-layang sembarangan. Ya ampun…sebentar lagi aku pasti jadi kepiting rebus. Kurasa wajahku makin merah saja.

“Do… Donghae-ya?”

“Ne?”

“Bisakah…uhm…bisakah kau berbalik? Aku perlu menyeka punggungmu…”

“Oh, ne.” Dia lalu berbalik, membelakangiku. Aku mencelupkan handuk itu lagi, dan memerasnya. Lalu mulai kuseka punggung Donghae. Pantas saja dia merasa tidak nyaman, punggungnya basah penuh keringat begini. Tapi walaupun begitu dia tetap saja…seksi.

Oh, aku pasti sudah gila.

Kembali, aku menarik diriku yang terbuai oleh hal-hal macam begini. Fokus, Sunri, fokus. Kuperhatikan punggungnya, ada sebuah luka sayat yang panjang di punggungnya bagian kanan. Tanpa sadar, tanganku malah merabanya.

“Itu luka bekas operasi.” Ucapan Donghae mengagetkanku. Buru-buru kutarik tangan jahanamku yang seenaknya saja meraba-raba. Bikin malu saja!

“Eh…apa?” tanyaku, tidak mengerti.

“Itu luka bekas jahitan. Saat aku baru lima tahun, aku jatuh dari balkon lantai dua hingga ada beberapa tulangku yang patah.” Donghae malah menceritakan kisahnya, membuatku bergidik ngeri.

“Kenapa bisa sampai jatuh dari balkon?” tanyaku hati-hati.

Donghae tertawa, terlihat seperti mengingat-ingat. “Seingatku, aku sedang bermain dengan Donghwa-hyung di pinggir balkon. Dan aku dengan bodohnya memanjat balkon itu, lalu…terjatuh, menimpa deretan pot bunga, dan selanjutnya aku koma sampai sebulan. Untungnya, aku masih hidup.”

“Eugh…” Aku merinding sendiri. Nanti kalau aku punya anak, aku akan memasang teralis pada balkon rumahku agar anakku tidak terjatuh dan mengalami nasib seperti orang di hadapanku ini.

Aku melanjutkan menyeka punggungnya selama beberapa lama hingga…

“Sunri?”

“Ne?”

“Sampai kapan kau mau menyeka tubuhku?”

Aku terdiam sebentar.

Untuk saat ini, aku ingin menenggelamkan tubuhku dalam-dalam ke dasar bumi.

*

“Aish, kenapa orang botak itu selalu galak sih?” keluhku, merutuki dosen kalkulusku yang botak sekaligus kejam itu.

Miyung, yang berjalan di sampingku, hanya terkikik geli. Dia sih enak, punya pacar sepintar Kyuhyun, yang walaupun gila game, tapi kemampuannya di matematika tak perlu diragukan lagi. Dan Miyung bebas minta diajari olehnya.

“Ya! Kau saja yang tidak mengerti tentang pelajarannya. Makanya belajar, Sunri-ya, belajar! Kau ini kerjaannya hanya nonton film dan bermain saja,” sahut Miyung. Aku berdecak kesal.

“Kau ini membelaku atau malah menyalahkan aku sih, Mi…”

Perkataanku terpotong karena aku melihat Donghae berjalan ke arah kami. Dia bersama teman-temannya. Untungnya, dia tidak melihatku. Secepat kilat aku menarik tangan Miyung, lalu berbalik. Kupakai tasku untuk menutupi wajahku. Oh tidak, aku tidak siap untuk bertemu dengan Donghae setelah kejadian dua hari yang lalu. Mau ditaruh dimana mukaku?

“Sunri-ya, waeyo?” tanya Miyung tidak mengerti dengan sikapku.

“Sussshh…” Aku menutup mulutnya. “Ada Donghae.  Dan aku sedang tidak ingin bertemu dengannya!”

Kening Miyung berkerut. “Bukankah dua hari yang lalu kau bilang sedang merawatnya yang…”

“Nanti kuceritakan!” Aku menarik tangannya, berusaha menjauh tanpa menarik perhatian Donghae atau teman-temannya. Sialnya, Eunhyuk malah memanggilku.

“Sunri-ya!” pekiknya.

Dan refleks, aku berbalik menoleh. Seketika itu pandangan mataku bertemu dengan pandangan Donghae. Aku langsung melengos dan berlari, menyeret Miyung. Kudengar Donghae memanggil namaku. Tapi aku tidak peduli dan terus berlari. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak ingin bertemu dengan dia lagi, untuk saat ini.

*

Aku membuka pintu lokerku, dan beberapa barang langsung berjatuhan menimpaku. Mulai buku-buku, komik, sepatu sneakers, sisir, bungkus jajanan, sampai perahu kayu bekas riset sederhanaku untuk tugas fisika. Oh, aku memang payah. Aku selalu menjejalkan barang-barangku di loker. Dan sekarang, ketika dibuka, barang-barang itu berhamburan keluar. Payah…

Dengan sedikit kesulitan aku menata kembali barang-barang itu. Sebenarnya bukan menata, karena faktanya aku kembali menjejalkan benda-benda itu tanpa menatanya dengan rapi. Persetan lah.

Dan tiba-tiba ponselku berbunyi. Waktu kulihat di layar siapa yang menelpon, aku panik. Donghae! Lee Donghae!

Ya ampun, bagaimana ini? Aku kebingungan, dan langsung saja kutekan tombol reject . Aku mendesah lega. Tapi, baru saja aku menghela nafas, seseorang melingkarkan lengannya di leherku.

“GYAAAAAA!!!” teriakku kaget. Aku langsung berbalik untuk melihat siapa yang melakukan hal itu.

Dan rasanya aku ingin terjun ke jurang begitu melihat siapa yang ada di hadapanku. Mampus lah aku…

“Kenapa kau menghindariku?” tanyanya langsung, dengan pandangan mata tajam.

“Ugh… Donghae, hahaha… Lee Donghae…hahaha…” Aku tertawa bodoh, berusaha menutupi kegugupan dan keterkejutanku.

“Ya!” bentaknya.

Aku langsung mengkeret. Tidak berani menatap matanya, dan malah menunduk.

“Kim Sunri, jawab aku! Kenapa kau menghindariku?” ulangnya. Kini dia memepetku, kedua tangannya menempel di tembok, dengan kepalaku di tengah-tengahnya. Wajahnya begitu dekat, sampai-sampai aku bisa merasakan desah nafasnya. Dan, hey, kenapa jantungku berdebar dua kali lebih cepat?

“Aku…tidak…aku…”

“Lihat aku!”

Dengan takut-takut aku mengangkat kepalaku, kutatap matanya yang terlihat…merana? Kenapa lagi dia?

“Aku…hanya…aku tidak…tidak…” Aku gelagapan. Dia memukul tembok, tepat berada di sebelah telingaku. Membuatku berjengit dan semakin takut. Kugigit bibir bawahku. “Mianhe. Aku tidak bermaksud menakutimu,” katanya, melunak. Aku mengangguk. “Aku tahu,” sahutku. “Aku hanya…aku hanya…entahlah. Aku malu bertemu denganmu,” kataku ragu-ragu.

“Kenapa malu? Kau tidak mencuri celanaku kan?”

“Hah?! Apa yang kaukatakan?”

Dia tersenyum jahil. “Hanya bercanda. Baiklah, sekarang jelaskan padaku kenapa kau menghindariku, aku pusing tidak tahu bagaimana bertemu denganmu, tahu! Dasar Bodoh!”

Aku terdiam sebentar, mencerna kata-katanya. Tadi dia bilang dia ingin bertemu denganku? Untuk apa? Untuk memalukanku? Dan dia bilang aku bodoh? Hey, ada orang yang lebih bodoh yang membuatku salah tingkah sekarang!

“Kim Sunri, kau tidak mendadak bisu kan?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng. “Aniyo…”

“Lalu?”

Aku mendesah kesal. “Aku lelah berpura-pura terus dan menghindar. Aku menyukaimu, Bodoh!!!”

Donghae terhenyak sebentar. Aku memang benar-benar bodoh. Kenapa aku bisa-bisanya menyatakan perasaanku pada orang yang jelas-jelas menyukai kakakku? Aish… ya sudahlah, sudah terlanjur. Toh aku sudah kepalang basah, nyebur saja sekalian.

Dia diam, tertawa kecil lalu tiba-tiba… dia menciumku!

“hae… Donghae… DONGHAE!!!” Aku berteriak, meronta, berusaha melepaskan cengkeramannya dan ciumannya. Donghae mundur selangkah. Aku sangat terkejut dengan apa yang barusan dia lakukan. Oh, dia pasti sudah tidak waras juga. Tapi…itu ciuman pertamaku!!! Aigooo…

“Wae?” tanyaku. “Kenapa menciumku? Kau mau mempermainkan aku?”

Donghae menatapku tak percaya. Dia memijit keningnya. “Ah…kepalaku benar-benar sakit sekarang. Kenapa kau bodoh sekali sih, Kim Sunri?!”

“Aku tidak bodoh!!!” jeritku, kesal karena dia terus mengataiku bodoh.

“LALU APA NAMANYA KALAU BUKAN BODOH JIKA TAK MENGERTI ARTINYA KETIKA SEORANG NAMJA MENCIUMMU?!?!?!” Dia ikutan berteriak.

Aku terdiam lagi. “Tapi bukankah kau menyukai Unni?”

“Apa cinta tak boleh berubah dengan cepat?” dia balik bertanya. Aku tersenyum, menggeleng. Aku juga mengalaminya kan, perasaanku berubah dari menyukai Siwon-sunbae, lalu menyukai namja bodoh satu ini. Dan kurasa dia juga begitu.

Apa cinta tak boleh berubah dengan cepat?

Tentu saja boleh!

THE END

By: ILALANG NAVISA

27 Comments (+add yours?)

  1. noviiwhiteukii
    Dec 09, 2010 @ 10:31:21

    ceritanya bagus bgt..tp sayang udh tamat..
    Lanjutin dong..hehehe xp

    Reply

  2. jhyaz
    Dec 09, 2010 @ 11:26:24

    baguuussss….
    sweet banget..
    tapi kok udah selese???
    bikin after storynya dong \plak..
    wkwkwk…

    Reply

  3. im hae ra
    Dec 09, 2010 @ 11:35:43

    bgus bgt…….b
    bwt after storynya dong????

    Reply

  4. sabiinyukk
    Dec 09, 2010 @ 11:53:36

    hyaaa.!! udh tamat lgii.? 😦
    ahahaha 😀 reader jd kbawa yadong nii gra2 sunri.!! *byangin ngelapin badan dongee <,<)//

    Reply

  5. kyucanasoofishy
    Dec 09, 2010 @ 12:20:15

    Lucu nie ceritanya 😀
    Ketawa2 melulu liat tingkah 2org bodoh itu
    Hahahaha….

    Reply

  6. Ree_HaeKyu
    Dec 09, 2010 @ 12:28:27

    keren ff nya
    aq ketawa trus bacanya… lucu banget
    akhirnya mereka jatuh cinta juga

    Reply

  7. vien
    Dec 09, 2010 @ 14:33:13

    huuaa… bagus..
    hehehehehe.. lucu n bagus critany

    Reply

  8. Mrs.Lee
    Dec 09, 2010 @ 14:37:21

    YAaaaaah…kok tamat?? Lanjut dong bikin sequelnya atau apa kek. Hehehe maksa niiih aku^m^

    Reply

  9. hepyu
    Dec 09, 2010 @ 15:03:20

    after story dong >\\\< kekeke

    Reply

  10. babyhae
    Dec 09, 2010 @ 15:12:09

    bwahahahaha,…sungri langsung gak fokus begitu liat Hae topless,,,siapa juga yang bisa fokus kalo ada pemandangan begitu wkwkwkwk *otak ngeres*

    Reply

  11. Rha
    Dec 09, 2010 @ 15:25:03

    ceritaN suka
    eon bt afterN dund pngen tau mreka pcrnN gmana??
    Pa msh ska brantem pa mesra bt ya author hehehe

    Reply

  12. honeyJung
    Dec 09, 2010 @ 16:32:28

    Donghae terdiam sejenak, menghela nafas, dan berkata pelan, “Dadamu…kena pundakku.”

    hening….

    Muahahaha~~~ ngakak guling2 baca part itu!!
    yaoloh donge,, gmna rasanya dempetan ama dada cewe? /PLAAKK kekeke~~

    ending na bikin mupeng lg
    bang ikan maen nyosor bibir orang ajh..
    sosor bibir ak jg dong *PLAK lagi*

    Reply

  13. ilalang navisa
    Dec 09, 2010 @ 17:18:31

    ahahahaha…gomapta udah baca dan komen.ehehe… 😀
    iya, oke deh, aku bikin afterstory, tp kalian komen lg ya. 🙂
    gomapta.

    Reply

  14. fiqihelf
    Dec 09, 2010 @ 17:41:49

    udah selesai ??? ya ampun cepet banget -,-
    bikin sekuelnya dong thor ^^

    Reply

  15. May4teukie
    Dec 09, 2010 @ 19:57:16

    Ayo bkin after story’a.*toel2 author*
    Aq suka beud ma nie ff..
    d^^b 😀

    Reply

  16. shilla_park
    Dec 09, 2010 @ 19:58:09

    wah kerennnn….
    pasangan yg unik…
    suka deh…
    🙂

    Reply

  17. mei.han.won
    Dec 09, 2010 @ 20:33:48

    Dia melepas piyama atasnya. Dan …ya
    ampun! Oh Tuhan. Oh Tuhan. Oh Tuhan.
    Dia benar-benar seksi!

    Pas bagian ini nih…ngiler+mupeng bgt…. XDDDD
    nice chinguu…

    Reply

  18. audrevil07
    Dec 09, 2010 @ 20:41:57

    Bagus banget!!

    Reply

  19. yokyuwon
    Dec 09, 2010 @ 21:04:25

    mwo!!sunri nyuri celana donghae…?! kwkwkwk …lucuuuuu bow!!couple yg aneh…nice ff chingu..

    Reply

  20. yeapy yeap
    Dec 09, 2010 @ 23:56:56

    wah,,, endingnya bagus,,,
    tapi sayang ya,,, kok udah tamat,,,
    hehe,,

    Reply

  21. ilalang navisa
    Dec 10, 2010 @ 05:10:40

    hehehe…ini lg kepikiran mau bikin afterstory. 😀

    Reply

  22. Nymphaprincess
    Dec 10, 2010 @ 08:26:14

    so sweeeeeeet

    🙂

    Reply

  23. nanyshflydictator
    Dec 10, 2010 @ 08:44:23

    seru..seru..
    lucu banget liat tingkah 2org pabo ini…hahaha…
    Chingu..after storynya dong…

    Reply

  24. Ocha
    Dec 10, 2010 @ 21:05:38

    Edeh…
    SunRi enak banget tu bisa ngelapin badan Donge…
    Nice ff (y)
    Bikin after story nya dong…

    Reply

  25. 황윤헤--->韩真♥EvilYuuDKHELF
    Dec 11, 2010 @ 23:31:06

    nice FF….
    (gak tau mau koment apa lagi)
    hahaha,,
    after story.a donk!!!!

    Reply

  26. Wirazhuho
    Dec 14, 2010 @ 22:59:57

    Yha tamatnya nanggung. Mupeng. Lagi. Lagi.
    Bdw author ska baca novel meg cabot gag ??*ptnyaan menyimpang.

    Reply

  27. ilalang navisa
    Dec 29, 2010 @ 21:35:44

    hahaha…lumayan suka.
    Makanya gaya nulisku jg rada2 niru dia. 🙂

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: