A Design for Love – Aiden’s View [part 3]

Author: Mutiara R. Utami

 

Dengan kepala sibuk memikirkan kapan aku bisa melihat senyum Kim lagi, seminggu kemudian aku pergi ke Malaka untuk mengambil foto untuk kegiatan klubku. Aku tahu, bangunan-bangunan tua di Malaka bisa menjadi objek foto yang bagus di siang hari, dan malamnya lampu-lampu kotanya sangat cantik. Tidak terlalu gemerlap seperti jalanan dan gedung-gedung pada malam hari di KL, tapi suasananya klasik.

Aku sudah mengambil banyak foto kota, tapi belum puas. Saat itulah kulihat pantai yang terlihat dari jendela kamar penginapanku. Pantai biasa, nggak seindah pantai-pantai wisata terkenal, tapi inilah pantai pertama yang kulihat dalam bulan ini. Keinginanku untuk memotretnya langsung menggebu-gebu, aku memang mencintai laut lebih dari apa pun.

Setelah memotret banyak spot di Dataran Pahlawan pada malam hari, film kameraku pun habis. Kuputuskan untuk mencucinya malam ini juga, sekalian membeli film yang baru. Aku memasukkan film itu ke salah satu studio foto di dataran pahlawan dan bertanya apakah bisa mengambilnya malam ini juga. Pegawai toko menjanjikan aku bisa datang pukul setengah dua belas malam untuk mengambilnya, karena mereka akan buka cukup larut hari itu.

Pukul setengah dua belas Dataran Pahlawan sudah cukup sepi. Hanya ada beberapa anak muda yang nongkrong dan merokok, serta restoran-restoran 24 jam yang memang tidak pernah sepi. Aku berjalan sambil melihat-lihat foto yang sudah dicetak. Gara-gara itulah, aku tidak melihat jalan dan menubruk seseorang.

Seorang gadis, karena dia terpekik. Aku cepat-cepat mundur, supaya gadis itu tidak panik. Tapi gantian, malah aku yang kaget dan nggak bisa berpikir saat aku menyadari bahwa yang kutubruk itu adalah Kim.

“Sorry, Miss,” saking kagetnya aku reflek pakai bahasa Inggris.

“Sorry, I didn’t pay attention…” lalu aku cepat-cepat berjongkok mengumpulkan foto-fotoku yang berserakan dimana-mana, berusaha tidak mendongak agar tidak melihat wajahnya. Jantungku berpacu cepat.

Kenapa dia ada di sini? Kusadari dia ikut berjongkok mengumpulkan foto-fotoku sambil buru-buru berkata, “Sorry, I stepped on it.”

Fakta dia juga memakai bahasa Inggris berarti dia tidak mengenaliku sebagai salah satu mahasiswa Indonesia yang satu kampus dengannya. Antara lega dan sedih, senihil itukah aku dalam hidupnya? Yah, salahku juga, sih.

“Oh, it’s okay…” aku berkata pelan. Dia kelihatannya tidak mendengar karena perhatiannya mendadak terpusat pada selembar fotoku. Foto pantai itu. Agak jauh di belakangnya aku melihat Casey dan Gege sedang mengobrol. Ternyata dia datang bersama mereka. Aku tidak yakin apa aku ingin menyapa mereka saat itu.

“You can have it if you like it, Miss,” aku menawarkan foto itu untuknya

“Oh, no, no… I can’t,” Kim mengangkat wajahnya dan untuk pertama kalinya mata kami bertatapan. Dia terdiam sejenak, lalu berkata, “But, well… if you insist…” kemudian wajahnya sedikit memerah dan terlihat seperti mengutuki diri sendiri. Aku tidak tahan untuk tidak tertawa kecil.

“Udah, simpan aja, Kim,” aku keceplosan pakai bahasa Indonesia dan memanggil namanya. Dia kaget, dan aku tidak tahu lagi harus bagaimana, maka aku cepat-cepat berdiri dan berbalik pergi. Jantungku masih deg-degan. Sesuka itukah aku padanya? Sampai-sampai hanya mengobrol lima kalimat aja bikin aku panik begini?

Paginya, saat membuka jendela penginapan, aku terkejut melihat Kim berdiri di pantai itu. Kenapa dia bisa sampai di sana? Apakah dia segitunya menyukai fotoku dan mencari pantainya? Benar-benar gadis yang unik dan sulit ditebak. Aku memandanginya, dia tersenyum memandang laut di hadapannya. Aku merasakan perasaan ringan yang aneh melihatnya tersenyum melihat laut yang kuperkenalkan lewat fotoku.

Bahkan setelah dia pergi dari pantai itu, sepanjang hari ini pikiranku terus dipenuhi senyumnya dan aku merasa damai.

Malamnya, aku balik ke kampus dengan komuter (kereta listrik) terakhir, lalu naik taksi ke kolej. Saat taksi sedang berjalan di jalan yang menuju Kejuruteraan, seorang cewek berusaha menyetop taksi. Pasti dia kemalaman. Taksi ini tentu saja tidak berhenti dan terus berjalan melewati si cewek dan aku melihat bahwa cewek itu Kim. Belum lagi selesai mencerna informasi itu, mataku menangkap sosok dua lelaki India dibalik bayang-bayang pohon dan darahku terasa berhenti mengalir.

“Pak Cik, stop! Itu teman saya yang tadi, naikkan dia,” pintaku cepat dan panik. (*duh, aku nggak tega ngebayangin hae ngomong ‘pak cik’… tapi demi keselarasan setting tempatnya, terpaksa deh…*)

Untungnya jalanan kosong, jadi Pak Cik taksi ini bisa langsung berhenti dan berputar, lalu berhenti di samping Kim. Kim menoleh dan wajahnya masih menunjukkan ekspresi panik dan was-was.

Aku turun dari taksi. Sepertinya dia tidak mengenaliku karena dia berbalik dan akan meneruskan berjalan kaki.

“Kim, tunggu, naiklah,” panggilku.

Kim berbalik ragu.

“Nggak apa, aku antar sampai ke asrama,” aku berusaha meyakinkannya. Dia melihatku dengan mata disipitkan dan pandangan menilai. Kemudian aku sadar, penampilanku yang memakai jaket, topi dan kacamata serba hitam ini tentu membuatnya takut.

Aku membuka kaca mataku, “Ini aku, foto pantai, ingat?”

Wajah Kim akhirnya menunjukkan kalau dia sudah mengenaliku. Tapi pandangan curiga itu masih ada. Wajar, baginya, dia baru sekali melihatku kemarin di Malaka. Cewek waras memang pantas nggak langsung naik taksi saat ditawari cowok yang baru sekali ditemuinya. Aku tidak ingin menambah ketakutannya, karena itu aku hanya berdiri menunggunya memutuskan. Mudah-mudahan dia mengerti kalau aku tidak bermaksud menyentuhnya seujung rambut pun.

Tapi kami nggak bisa berdiri aja di sini berjam-jam. Aku membukakan pintu depan dan berkata, “Kamu duduk di depan aja,” dan sepertinya kalimatku itu akhirnya meyakinkannya bahwa aku tidak berbahaya.

Dia mengangguk dan langsung masuk. Aku menutupkan pintu, lalu sebelum masuk juga, aku melayangkan pandangan tajam pada dua lelaki India di belakang kami. Ingin sekali aku berbalik dan menghajar mereka, tapi saat ini Kim lah yang jadi prioritasku. Aku tidak boleh menambah ketakutannya dan harus secepatnya mengantarnya ke tempat aman.

Aku masuk dan menyuruh Pak Cik taksi supaya mengantar kami ke asrama Kim dulu. Kim menyebutkan asramanya, lalu tidak berkata apa-apa lagi. Pasti dia masih shock.

Nggak sampai tiga menit taksi sudah berhenti di parkiran asrama Kim. Kim cepat-cepat turun, seperti kelinci yang akhirnya menemukan liangnya saat dikejar-kejar anjing hutan. Aku juga turun dan memperhatikan wajahnya yang pucat. Aku nggak heran kalau sebentar lagi dia menangis, tapi ternyata tidak. Mungkin tidak ingin menangis di depan orang asing.

“Wajahmu pucat, cepatlah masuk dan minum minuman yang hangat. Lain kali tolong kalau mau pulang malam dari Kejuruteraan itu bareng teman-temanmu,” kataku, kusadari nadaku kasar.

Aku marah? Ya, mungkin aku marah. Kenapa cewek ini selalu sok kuat, sih? Pulang malam-malam sendirian begitu. Minta temenin Casey, kek, siapa, kek, aku nggak peduli walaupun dia ditemani lelaki lain selain aku asalkan keselamatannya terjamin. Tidak tahukah dia kalau terjadi apa-apa padanya aku bisa makin gila? Ya, dia memang nggak tahu, dan aku malah semakin marah pada diriku karenanya.

“Oh, eh, iya,” kata Kim, masih terlihat sedikit linglung.

Aku tidak bisa berdiri di sini lebih lama lagi tanpa ingin menggandeng dan menariknya masuk asramanya lalu menitipkannya pada Zoe. Maka aku masuk taksi dan langsung meninggalkan asramanya.

Senin siang, saat aku seperti biasa berjalan ke kantin fakultas, aku melihat Kim berjalan pelan di pinggir danau. Tumben, biasanya dia nggak mau makan siang di kantin. Aku tahu dari Zoe kalau Kim nggak suka bau rempah masakan di sini. Tiba-tiba kulihat dia limbung dan tubuhku bergerak cepat menahannya sebelum dia tercebur ke danau.

Kim buru-buru berbalik, “Terima ka—” ucapannya terhenti begitu melihatku. Wajahnya pucat, nyaris sama pucatnya seperti malam itu.

Duh, kenapa, sih cewek ini selalu membuatku cemas? Kalau sakit kan nggak apa-apa nggak kuliah.

“Kamu lagi sakit? Duduk di sini sebentar,” kataku sambil medudukkannya di bangku terdekat. Aku melepaskan tasku dan meletakkannya di sampingnya, lalu berjalan ke kantin. Aku langsung membeli dua styrofoam nasi dan roti canai kalau-kalau dia nggak mau makan nasi. Aku ambilkan sayur bening dan ayam goreng, dua masakan yang rempahnya paling sedikit.

Dia menatapku heran ketika aku kembali membawa makanan lalu duduk di sampingnya. Aku memaksanya makan nasi, untunglah dia tidak membantah dan mau memakannya. Selesai makan, seperti dugaanku, dia langsung bertanya kenapa aku mengenalnya dan lain-lain. Aku sebisa mungkin mencari jawaban yang tidak menyerempet nama Ryan atau Zoe. Kubilang saja aku sekedar tahu karena dia sesama anak Indonesia—bah, kalau aja dia tahu aku terus di dekatnya selama dua tahun ini dan diam-diam menyukainya. Aku berusaha membelokkan topik supaya dia tidak curiga dan bertanya kenapa semalam dia malah tidak minta ditemani Casey.

“Hari Minggu, kan, Casey nggak ke kampus. Masa dia harus datang jam segitu cuma buat sengaja ngejemput aku? Apalagi Casey sebenarnya belum boleh nyetir, emang sih dia masih melanggarnya, tapi aku nggak akan mejadi alasannya melanggar larangan dokter,” jawabnya.

Tuh, kan. Sudah kuduga itu alasannya. Seperti biasa, bertingkah kuat dan mandiri. Nggak salah, sih, tapi jangan tengah malam dong.

Aku meminjam hapenya dan langsung memasukkan nomor hapeku dan memberitahunya untuk menghubungiku kalau lain kali harus pulang malam lagi.

“Kau nggak minta nomorku?” tanyanya.

“Kau mau ngasih nomormu sama cowok yang baru dikenal?” aku balik bertanya.

Yah, sebenarnya, sih, kalau aku punya nomornya aku nggak yakin bisa nggak gatal pengen sms atau nelpon dia terus. Lagipula, aku ingin Kim yang datang padaku, karena aku nggak tahu apakah saat ini, di saat dia baru putus, dia mau membuka pintu hatinya untuk cowok lain.

“Yah, biasanya orang nggak akan dengan pedenya bagi-bagi nomor sebelum nanya nomor orang yang dikasihnya,” katanya santai, tapi dia tetap tersenyum senang. “Ohya, nasinya tadi berapa?”

“Nggak usah lah, biar aku yang traktir,” tolakku.

Kim mengangkat alis, “Kau mau aku membiarkan diriku ditraktir cowok yang baru kukenal?” dia membalikkan kata-kataku, membuatku tertawa. Kim memang jago ngomong.

“Benar juga,” kataku lalu memberitahu harganya. Kim memberikan uang dengan melebihkan lima ringgit.

“Ganti ongkos taksi waktu itu,” katanya.

Aku melihat jam tanganku dan mengeluh dalam hati, “Kuliahku mau mulai bentar lagi,” lalu berdiri sambil menyandang tasku.

Waktu memang terlalu cepat berlalu saat orang sedang senang-senangnya. Padahal aku nggak tahu apakah akan ada kesempatan lagi untukku bertemu dia seperti hari ini. Cuma satu harapanku untuk bertemu, kalau dia minta diantar pulang malam-malam.

“Kasih tahu aku kalau kau perlu diantar malam-malam,” kataku, mudah-mudahan nggak terdengar terlalu ngarep.

“Mudah-mudahan nggak terjadi, jadi aku nggak perlu merepotkamu,” kata Kim.

Tidak, jangan sampai nggak terjadi, dong.

“Sebenarnya aku justru ingin direpotkan,” gumamku tanpa sadar.

Aku berharap Kim tidak mendengar, tapi dari wajahnya yang tertegun aku tahu gumamanku tadi cukup keras untuk ditangkapnya. Aku tidak tahu harus jawab apa kalau Kim bertanya, maka sebelum dia bisa mengatakan sesuatu, aku cepat-cepat berbalik pergi. Ah, semoga dia mengerti, semoga dia enggak malah jadi ingin menjauhiku.

Mudah-mudahan besok dia makan di kantin lagi dan kami ketemu lagi…

Harapanku terkabul, walau cuma 50 persen. Siang ini Kim duduk di bangku kemarin lagi, tapi dia kembali tidak sadar aku menatapnya. Dia terlalu asyik menggambar. Mungkin sudah tiga puluh menit aku berdiri di belakangnya, menatapnya menggambar, ketika gerimis mulai turun. Kim tetap menggambar, tidak sadar hujan turun. Aku menghela nafas, lalu mengeluarkan payung dan berdiri sambil memayunginya dari belakang. Untungnya hanya gerimis tipis, jadi payung satu sudah cukup menjaganya tetap kering. Aku melirik jam tanganku, sore ini aku harus berangkat turun lapangan ke Tioman, dan aku belum membereskan barang-barangku.

Aku menyangkutkan payung di dahan pohon tepat di atas Kim. Dia masih tidak menyadari apa-apa. Ya sudahlah, ada bagusnya juga, soalnya kalau sekarang dia melihatku dan memanggilku, aku nggak yakin apa aku bisa pergi turun lapangan. Aku berbalik dan berlari kecil menembus gerimis, berharap tiga hari lagi, Kim masih bisa kutemui di tempat ini.

Turun lapangan yang biasanya kusukai kali ini jadi tidak begitu menarik. Benar, lautnya bersih, udaranya bagus, dan aku menyelesaikan pengumpulan data dengan baik, tapi aku ingin sekali kegiatan ini cepat berakhir. Kegelisahanku rupanya terlihat jelas, karena temanku bercanda mengatakan aku meninggalkan kompor menyala di rumah. Aku bahkan sulit tidur, padahal seharian menyelam bukannya tidak menguras stamina. Akhirnya tiga hari di Tioman aku hanya tidur sekitar delapan jam. Malam hari kuhabiskan dengan jalan-jalan di pantai, mengambil foto pantai di malam hari. Kurasa, kalau di cetak pasti hanya gelap yang terlihat, tapi siapa tahu aja ada yang jadinya bagus.

Kamis malam kami kembali ke Bangi dan Jumat pagi aku sampai di kamarku. Ryo sudah pergi kuliah, sedangkan Kyu pas banget lagi masang sepatu waktu aku masuk.

“Eh, udah pulang,” sapanya.

“Kuliah?” tanyaku yang dijawab dengan anggukan Kyu. Aku buru-buru mengeluarkan film dari kameraku dan menyerahkannya pada Kyu, “Titip cuci di Pusanika, dong.”

“Sip aja, pajak dua persen ya, jadi kalau sekali nyetak…” dasar anak matematika, cepet banget ngitungin pajak.

“Iya, iya,” potongku sambil berjalan ke kamarku dan Dennis untuk meletakkan barang-barang.

Dennis masih ngorok di kasurnya, dia emang paling hobi bangun siang.

“Aku pergi dulu,” pamit Kyu sambil menutup pintu.

“Oke!” aku tidak bersusah payah memelankan suara, sekalian ngebangunin Dennis.

Berhasil sih, dia bangun, ngucek-ngucek mata, melihatku, berkata, “Oh, udah pulang,” lalu balik badan dan tidur lagi.

Badanku kaku dan pegal, tiga hari full nyelam, plus perjalanan pulang pergi naik bis. Tapi aku sama sekali nggak ada niat tidur. Tujuanku siang ini adalah danau Kejuruteraan dan Kim yang mungkin ada di sana. Aku cepat-cepat mandi sambil nyanyi-nyanyi berisik.

Selesai mandi, Dennis udah bangun total, mungkin gara-gara nyanyianku.

“Hepi banget. Ada apa, sih?”

“Siang ini mungkin bakal menyenangkan,” kataku sambil berpakaian.

“Kau mau kemana? Nggak istirahat dulu?” tanya Dennis.

“Aku terlalu excited untuk tidur,” kataku.

Dennis mengangkat alis, lalu tersenyum iseng, “Pasti nggak ada hubungannya sama hasil turun lapangan kemarin, kan?”

Aku hanya mengangkat bahu, lalu cabut. Aku sampai di kampus pukul sebelas, belum saatnya makan siang. Tidak ada siapa-siapa di bangku itu, dan aku harus mengingatkan diri, kami memang nggak pernah janjian. Aku nggak boleh terlalu berharap atau kekecewaanku akan sangan menyakitkan.

Tapi, aku masih berharap, pukul dua belas nanti, saat makan siang Kim akan datang ke tempat ini. Maka aku pun duduk dan menunggunya sambil melamun.

Pukul setengah dua belas.

Pukul dua belas.

Pukul setengah satu.

Pukul satu.

Harapanku tidak ada lagi, tapi aku tidak bisa pergi dari sini, dan tidak ingin. Padahal gerimis mulai turun dan aku tidak punya payung lagi. Aku tidak bisa pergi dari sini, tenagaku tidak ada untuk menggerakkan tubuhku.

Pukul setengah dua.

Pukul dua.

Gerimis sudah berubah menjadi hujan lebat, aku basah kuyup, tapi aku tidak peduli. Aku masih tidak berniat bergerak satu senti pun. Biarlah, sudah terlanjur basah, biarlah aku terus di sini sampai langit mencurahkan semua hujannya. Mungkin saat hujan akhirnya berhenti nanti, semua kekecewaanku ikut hanyut, dan aku bisa kembali berharap…

 

*** [3]

 

__To Be Continued__

 

Biar nggak pada bingung, adegan di atas terjadi di waktu yang sama dengan adegan di A Design for Love [part 7], waktu Kim diseret pergi sama Casey dan Gege, terus dari mobil Kim ngeliat Aiden duduk di pinggir danau, tapi dia nggak bisa minta Gege menghentikan mobil.

Mian yah, kalo di part ini banyak adegan yang sama dengan ADL Author’s POV…

 

8 Comments (+add yours?)

  1. mei.han.won
    Jan 08, 2011 @ 06:11:51

    makin seru….
    Part 4 d tunggu…

    Reply

  2. DJ.merr
    Jan 08, 2011 @ 07:42:41

    suer kangen ma adfl !wkwkwk. ciee,aiden~ setia bnget nungguin kim.hehehe.

    Reply

  3. 13LIEVE AND PROM15E for SpecialFishy
    Jan 08, 2011 @ 08:32:43

    hae oppa Fighting!!! ^^

    Reply

  4. May4teukie
    Jan 08, 2011 @ 09:34:23

    Ikan babo..
    Nanti sakit lho

    Reply

  5. iwang~
    Jan 08, 2011 @ 10:54:05

    haha~ Oenni..
    sbenernya aku dah baca ampe abis..
    kekeke~
    pokona tetep keren walo dah dibaca berkali-kali…

    Reply

  6. ivelkyujung
    Jan 08, 2011 @ 12:21:10

    Br bc.. mesti bc part sblumnya nih.. keren bahasany!
    Hae,klo ud sk sm cwe kyk gitu yah? setia bgt,kyk aq 🙂 *dtabokelfishylain

    Reply

  7. nasoochan
    Jan 08, 2011 @ 18:43:20

    suka banget deh, sama ff ini… 😀

    ayo teruskan!!

    Reply

  8. Ocha
    Jan 09, 2011 @ 21:03:25

    Aduh Aiden…
    Setia banget nunggu Kim…
    Gimana kelanjutannya tu???

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: