Try to let you go part 5

“Kangin oppa menerima cokelatku, onnie…” seru YongAh kegirangan saat kami sampai rumah.
“Chukkhae…” kataku pelan.
“Gomawo ya onnie, sudah nemenin aku tadi…” kata YongAh dan menghempaskan tubuhnya ke kasurku.
“Ne, chunmaneo….” jawabku.
“Oh iya, minggu depan Kangin oppa ngajak kita ke taman bermain lo, onnie…”
“Oh ya?” tanyaku sambil duduk di meja belajar dan mulai membuka buku-buku pelajaran yang sangat tebal.
YongAh menegakkan tubuhnya.
“Onnie pasti ikut kan?” tanyanya.
“Entahlah, aku punya banyak  tugas akhir-akhir ini…” jawabku asal.
“Sayang sekali. Kuharap tugas itu sudah selesai minggu depan nanti. Aku ke kamarku dulu ya…” seru YongAh.
YongAh berjalan dan masuk ke kamarnya.
“Aku harap tugasku tidak akan pernah selesai sampai hari itu datang. Aku belum siap melihatmu dengan Youngwoon” gumamku pelan.

**********

“Bagaimana onnnie? Sudah selesai tugas-tugasnya?” tanya YongAh dari balik pintu.
Aku menggeleng.
“Yah, sayang sekali….”
“Sudah, kau pergi sendiri saja besok…”
“Onnie, ayolah, temani aku…” bujuk YongAh sambil menarik-narik tanganku.
Aku menghentikan kegiatanku menulis-nulis di buku dan menatapnya.
“Mian, YongAh. Tapi aku benar-benar tidak bisa menemanimu kali ini….” ucapku.
“Padahal besok kan aku mau…….”
“Mau apa?” tanyaku penasaran.
“Aku mau menyatakan perasaanku pada Kangin oppa…” bisik YongAh dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus sekarang.
Ya! Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong untukku.
“Menyatakan perasaanmu pada Youngwoon? Besok?” tanyaku tidak percaya.
YongAh mengangguk semangat.
“Kenapa onnie jadi lemas begitu?” tanya YongAh.
“Benarkah? Mungkin aku hanya kecapekan? Bisakah kau membiarkan aku sendirian sekarang?” mohonku.
“Ehm, baiklah…” kata YongAh dan keluar dari kamarku.
Perlahan pandangan mataku mulai kabur. Air mata mulai memenuhi mataku. Kuhempaskan tubuhku ke tempat tidur dan menyembunyikan wajahku di balik bantal.
“Ya! Babo kau EunYong! Kenapa menangis? Tidak ada yang harus ditangisi bukan?” kataku pada diriku sendiri.
Aku mencoba untuk mengusap air mataku dengan punggung tanganku. Hal yang percuma karena air mata ini seakan tidak bisa berhenti.
“Aduh, ayo cepat berhenti! Aku tidak mau air mataku terbuang sia-sia! Beritahu aku alasannya kenapa aku bisa menangis seperti ini! Ini adalah pertama kalinya aku menangis dalam sepuluh tahun terakhir!” kataku pada bayangan wajahku di cermin.
Hal yang sia-sia memang. Air mataku terus mengalir tanpa henti hingga akhirnya aku terlelap.

**********

Kukucek mataku dan mencoba melihat ke arah jam dinding di hadapanku. Jam 4 aku yakin belum ada yang bangun. Memang biasanya eomma sudah bangun, tapi mengingat kemarin eomma harus menghadiri acara keluarga dan pulang tengah malam, mustahil kalau eomma sudah bangun sekarang.
Kubuka pintu kamarku perlahan dan berjalan ke halaman belakang. Hmmmm, udara di pagi hari memang sangat segar. Selama ini aku tidak pernah bisa menikmatinya, di hari kerja, aku selalu terburu-buru mandi dan berangkat ke kampus, hingga tidak sempat menikmatinya. Sedangkan di hari libur seperti ini bisa dipastikan aku baru membuka mata saat jam menunjukkan pukul 9.
“Emmm, oppa, saranghae, would you be….. would you be… my….. boyfriend?”
Suara siapa itu? Aku maju beberapa langkah dan mendapati YongAh sedang berbicara dengan pohon yang ada di sudut halaman belakang rumah kami. Mungkin dia sedang latihan. Lebih baik aku masuk kamar lagi saja.
“Onnie…” panggil YongAh.
Kubalikkan badan dan mendapatinya sudah berada persis di depanku dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya. Meski janji bertemu dengan Youngwoon masih 3 jam lagi, tapi dia terlihat sudah sangat rapi. YongAh mengenakan bodycon dress pink dan jaket yang berwarna senada dipadu dengan legging hitam dan sneakers pink. Sebuah topi rajut cantik yang juga berwarna pink bertengger di kepalanya. Aku tahu, dia memang masih minder dengan rambutnya yang sangat tipis sekarang.
“Tumben sudah bangun…” lanjut YongAh.
Aku membalas senyumannya.
“Tadinya sich cuma mau ke kamar mandi terus…”
“Onnie mendengar saat aku latihan tadi?” potong YongAh.
Aku menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. Wajah YongAh memerah seketika.
“Aku masih belum bisa mengucapkannya dengan lancar, onnie…”
“Tenang saja! Aku yakin kau pasti bisa! YongAh hwaiting!!!” kataku sambil mengangkat dan mengepalkan tangan memberi dukungan padanya.
“Ne, aku pasti bisa! YongAh hwaiting!!!” seru YongAh.
“Ah iya, kenapa mata onnie bengkak? Onnie habis menangis ya?” lanjut YongAh.
Celaka….
“Aniyo, aku hanya kecapekan saja. Ehm, YongAh, aku tidur dulu ya…”
YongAh mengangguk dan kembali memamerkan senyum manisnya padaku sebelum aku masuk kamar.
Di kamar ku tarik kursi dan menyalakan komputer, mencoba untuk mengalihkan pikiranku dengan mengerjakan tugas. Tapi rasanya percuma, pikiranku terus melayang entah kemana. Membayangkan Youngwoon berpacaran dengan YongAh memang hanya membuat hatiku sakit, tapi kenapa rasanya susah sekali mengenyahkan pikiran itu.
Akhirnya kumatikan komputer itu dan berbaring di ranjang. Kupejamkan mata dan mencoba kembali tidur. Mungkin inilah satu-satunya cara untuk menenangkan pikiranku.
Ternyata percuma, aku tidak bisa tidur dan pikiranku semakin melayang-layang tak karuan.
Mandi? Ya, mungkin dengan mandi pikiranku akan segar. Dengan malas kusambar handuk yang tergantung di belakang pintu dan berjalan ke kamar mandi.
“Ada orang gak?” seruku dari luar pintu kamar mandi.
Tak ada jawaban. Akhirnya kuputar kenop pintu dan mendorongnya.
“YA! YONGAH!!!!!”
YongAH tergeletak di lantai kamar mandi dan dari hidungnya mengalir darah segar.
“Waeyo Eunyong?” tanya Appa sambil berlari keluar dari kamar.
Aku tak mampu menjawab apa-apa dan hanya bisa menunjuk YongAh. Appa yang sama terkejutnya denganku langsung membopong YongAh. Eomma yang baru keluar dari dapur dengan sigap langsung mengambil kunci mobil.
“Ayo, cepat EunYong!” perintah Eomma dan mendorongku masuk mobil.
Saat aku lewat kamar YongAh kudengar ponselnya berbunyi. Dengan tergesa-gesa kuambil ponselnya dan melihat siapa peneleponnya. Youngwoon?
“Yobseyo? YongAh, mian ya, kita tidak jadi ke taman bermain hari ini. Aku harus menggantikan jadwal Sungmin karena dia sakit. Jeongmal mianhae….” kata Youngwoon dengan cepat dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
“EunYong! Cepat! Atau kau mau kami tinggal?” teriak Appa dari luar.
“Ne, tunggu sebentar…” jawabku.
Kumasukkan ponsel YongAh ke saku piyamaku dan segera berlari keluar.

**********

“Bagaimana keadaan YongAh, Eomma?” tanyaku pada Eomma yang baru saja keluar dari ruang dokter.
“Operasi nya tidak berhasil, virus kanker yang ada di tubuhnya kembali mengganas. Besok Eomma dan YongAh harus kembali ke Belanda….” jawab Eomma dengan suara tertahan.
“Kau mau ikut? YongAh pasti membutuhkan dukunganmu…” lanjut Eomma sambil menatapku.
Aku terdiam sejenak. Kalau ada seseorang yang bisa mendukung YongAh melawan penyakitnya, pastilah orang itu Youngwoon, bukan aku.
“Bukan aku yang bisa membuat YongAh kuat melawan penyakitnya, Eomma…” kataku.
“Siapa?”
“Aku tahu orangnya dan aku akan mencoba meyakinkan dia agar bisa ikut dengan Eomma dan YongAh besok…” lanjutku.
“Aku pergi dulu. Annyyeong…” kataku dan berlari meninggalkan Eomma menuju dorm Super Junior.

**********

Ternyata jarak dari rumah sakit ke dorm ini jauh juga.
Tok Tok Tok….
Kenapa lama sekali orang-orang di dorm ini membukakan pintu? Akhirnya aku jatuh terduduk di depan pintu. Capek sekali rasanya, nafas ku pun masih belum teratur.
Tiba-tiba pintu itu terbuka. Sungmin mengangkat kedua alisnya. Mungkin dia bingung dengan kedatanganku yang tiba-tiba dan masih memakai piyama. Aku segera bangkit dari dudukku dan mengatur nafas.
“Cepat panggilkan Youngwoon!” seruku.
Belum habis kekagetan Sungmin kini dia kembali terkejut dengan seruanku.
“Kangin hyung!!!! Cepat kemari!!!!” panggil Sungmin sambil berlari masuk ke dalam dorm.
“Kenapa kau mencariku? Tolong cepat, ya! Aku harus buru-buru berangkat siaran…” sahut Youngwoon.
“Kau punya jadwal besok?” tanyaku cepat.
Youngwoon menggeleng.
“Mulai besok sampai minggu depan kami dibolehkan libur oleh manajer hyung…” katanya.
“Bagus! Pulang siaran nanti cepat bereskan barang-barangmu dan temui aku di bandara besok pagi, arasseo?”
“Tapi…”
“Kau tidak boleh menolaknya! Arasseo?” selaku.
“Ne, ara ara…” kata Youngwoon akhirnya.
“Bagus! Aku tunggu kau besok jam 6 pagi! Tidak boleh telat!!! Sudah, aku pulang dulu. Annyeong!” kataku dan kembali berjalan ke rumah sakit.
Semoga saja Youngwoon bisa membantu YongAh melawan penyakitnya.

**********
“Mana orang itu, EunYong?” tanya Eomma.
Mungkin ini adalah keseratus kalinya Eomma menanyakan hal yang sama. Sebenarnya aku juga gelisah menunggu kedatangan Youngwoon. Pesawat Eomma dan YongAh akan berangkat beberapa menit lagi dan Youngwoon masih belum menunjukkan batang hidungnya.
“Ya! EunYong!”
Kutolehkan kepalaku dan mendapati Youngwoon sedang sambil menyeret kopernya.
Segera saja aku berlari menghampirinya.
“Ya! Babo! Bukankah kemarin sudah kubilang untuk datang jam 6 tepat!!!”
“Sebenarnya kita mau kemana sich?” tanya Youngwoon sambil mengatur nafasnya.
“Kita? Kau saja yang akan pergi, ini tiketmu…”
“Aku? Coba jelaskan padaku apa maksudmu. Aku tidak mengerti…” kata Youngwoon sambil menarikku duduk di sampingnya.
“Kanker YongAh kembali mengganas. Dia butuh orang untuk mendukungnya melawan semua itu. Dan aku yakin orang yang tepat untuk mendukungnya adalah kau…” jelasku pelan.
“Kenapa harus aku?” tanya Youngwoon.
“Karena… karena YongAh…menyukaimu…” jawabku dengan susah payah dan menundukkan kepalaku.
“Tapi kau tahu kan aku suka pada yeoja lain?” Youngwoon menatapku tajam.
Aku mengangguk pelan.
“Kau tahu siapa yeoja itu?”
Lagi-lagi aku hanya bisa membisu dan menjawabnya dengan gelengan. Youngwoon menghela napas panjang.
“Bagaimana kalau yeoja itu adalah kau…”
Aku tersentak mendengarnya.
“Bagaimana?” ulang Youngwoon.
“En…Entah…lah…” jawabku sambil kembali menunduk.
“EunYong! Pesawatnya sudah mau berangkat! Cepat beritahu orang itu!!!” seru Eomma dari kejauhan.
Aku bangkit dari tempat dudukku dan menarik tangan Youngwoon.
“Sudah saatnya kau pergi…”
“Aku tidak terima jawabanmu tadi dan aku tidak akan beranjak dari tempatku ini sebelum kau menjawabnya dengan jelas…” kata Youngwoon tegas.
Aku menarik napas panjang.
“Aku tidak perduli apakah benar aku adalah yeoja itu atau bukan, yang penting sekarang, tolong pergilah dan dukung YongAh. Dia benar-benar menyukaimu…” jawabku mantap.
Ya ampun, sungguh yang kukatakan sekarang ini berbeda jauh dengan isi hatiku. Sejujurnya aku ingin sekali melompat-lompat kegirangan dan bilang padanya kalau aku juga suka padanya. Tapi dengan keadaan yang seperti ini, jelas sekali hal itu mustahil kulakukan.
“Pergilah sekarang…”
“Baiklah kalau itu jawabanmu…” kata Youngwoon dingin dan pergi meninggalkanku.
Begitu Youngwoon pergi air mataku menetes. Apa benar yang dia katakan tadi? Kenapa setelah aku tahu Youngwoon menyukaiku aku harus benar-benar melepasnya? Kenapa? Akh, aku suka Youngwoon tapi aku juga sayang YongAh. Pilihan yang susah…
“Benar apa yang dikatakan hyung tadi, noona…” kata Sungmin yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Sejak kapan kau ada di sini?” tanyaku sambil buru-buru menghapus air mataku.
“Aku kan ikut datang sama Kangin hyung tadi. Kangin hyung senang sekali mengira noona mengajaknya liburan. Dia memintaku menemaninya ke sini karena tadinya dia ingin mengungkapkan perasaannya pada noona. Tidak usah menyembunyikan air matamu, noona, menangislah sepuasnya. Aku tahu pasti susah memilih antara Kangin hyung dan dongsaengmu…” kata Sungmin panjang lebar dengan tatapan yang selalu mengarah ke depan.
“Aku boleh pinjam punggungmu?” tanyaku pelan.
Sungmin menoleh ke arahku dan membelalakkan matanya.
“Apa maksud noona?” tanyanya.
Aku tidak menjawabnya. Aku hanya berjalan ke balik punggungnya dan mulai menangis.
“Menangislah sepuasmu, noona. Paling tidak itu akan sedikit melegakan perasaanmu….”

**********

“Yobseyo. Waeyo Eomma?”
“Mwo? Besok?”
“Sepertinya bisa sich, aku sedang tidak banyak tugas sekarang…”
“Hmmm, annyyeong….”
Sudah beberapa waktu terlewat semenjak kejadian di bandara itu. Youngwoon sudah pulang dari Belanda beberapa hari yang lalu, namun belum pernah kami berkomunikasi. Begitu juga dengan YongAh, aku tidak tau perkembangan hubungannya dengan Youngwoon, dia belum pernah memberi kabar untukku. Mungkin aku bisa menanyakannya besok. Eomma baru saja menelpon dan menyuruhku menyusul mereka ke Belanda tadi.
Ah, harusnya kan besok aku jalan-jalan ke taman bermain sama Sungmin besok. Kutekan-tekan tombol ponselku untuk menelpon Sungmin. Kejadian di bandara itu juga yang membuatku bersahabat dengannya.
“Yobseyo…”
“Yobseyo, noona, waeyo?”
“Ehm, mian ya, kayaknya besok aku gak bisa pergi dech. Eomma menyuruhku ke Belanda besok…”
“Oh ya? Pesawat jam berapa besok?”
“Pesawat pertama seperti biasa, jam 6”
“Oh, baiklah…”
“Mian ya…”
“Gwenchana, noona…”
“Ok, udahan dulu, ya, annyyeong…”
“Ne, Annyeong…”
Baiklah, sekarang saatnya merapikan pakaian. Harus cepat EunYong! Kau tidak mau tidur terlalu malam dan ketinggalan pesawat besok, kan?

Genre : Romance, Continue
Tag : Kangin, Sungmin, SuperJunior

By : Ocha

3 Comments (+add yours?)

  1. ilalang navisa
    Jan 13, 2011 @ 19:16:48

    kasihan eunyong…
    Eunyong, hwaiting!
    *sksd*

    Reply

  2. JinkiLover
    Jan 13, 2011 @ 20:56:28

    aku baru mau nangis, eh ternyata tbc. nggak jadi deh. hehehehe. lanjutannya ditunggu yaa, jarang2 yg main cast-nya bang kangin.

    Reply

  3. SooMinHaeTeuk789
    Jan 13, 2011 @ 21:04:24

    alah umin , maennya sama noona* #plaak

    nextpart ditunggu y author .

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: