THE WAY TO LOVE PART 1

“Kau ini kenapa selalu ada di sini sih?” Aku memandangnya tajam. Dia hanya bersiul ringan, lalu mengedikkan bahunya.

“Memangnya ada larangan?” balasnya santai. Membuat darahku naik sampai ubun-ubun.

“Kalaupun ada larangan, kau pasti tak akan menggubrisnya, dan akan tetap kesini kan! Aish…jinja!”

Dia memeletkan lidahnya. Membuatku ingin mengangkat tangan untuk menggamparnya saja.

“Ya! Jangan bertengkar. Kalian itu mempermasalahkan apa sih?” Seohyun-unni, unni-ku, menghentikan kegiatannya berlatih piano, dan memandangn kami berdua dengan tatapan yang yah… tatapan seorang bidadari.

“Dia duluan yang mulai, Noona,” ucap Donghae, menunjuk padaku. Geezzz… kurang ajar!

“Nde?! Nde?! Nde?!” Aku memotong ucapannya. Berani betul dia menyalahkanku!

“Ne! Memang benar kan? Aku datang kesini baik-baik, kau saja yang ribut kebanyakan mulut,” katanya dengan enteng.

“Ya! Aku kebanyakan mulut karena kau memang menyebalkan! Aku datang kesini karena mau minta tolong pada Unni untuk mengajariku kalkulus. Dan kau seenaknya saja malah menyuruhnya mengajarimu main piano!” Aku menunjuk dengan dagu piano di depan unni-ku itu.

Donghae mengerutkan keningnya, lalu tertawa mengejek. “Kalkulus saja minta diajari? Otakmu kemana sih, Kim Sunri?!”

Aku hanya menggeram, menahan kemarahanku. Dia, Lee Donghae, memang benar-benar menyebalkan!

“Jinja shiroyo!!!” teriakku, seraya melemparkan buku kalkulusku padanya. Lalu aku keluar dari ruang musik ini, dan membanting pintunya menutup. Kudengar kakakku memanggilku, namun aku tak peduli. Aku benar-benar kesal pada Donghae.

Lee Donghae.

Dia itu temanku seangkatan di kampus ini. Untunglah, beda jurusan. Thanks God! Dan sudah kukatakan, bukan, kalau dia itu super menyebalkan.

Oke, ini daftar mengapa aku begitu membencinya.

1.       Karena dia selalu datang di tiap jam istirahat, ke ruang musik tempat kakakku, Seohyun-unni biasa berlatih, dan memintanya mengajarkan cara bermain piano. Cih, berani bertaruh kalian putus urat nadiku, Donghae sama sekali tak mengerti apa yang diajarkan Unni. Dia kan pemain gitar! Donghae, maksudku.

2.       Kalau hanya datang dan menonton saja Unni main piano sih tak masalah. Masalahnya adalah kalau aku datang dan minta dajari sesuatu oleh Unni, Donghae akan mulai bertingkah. Dia akan mulai memotong pembicaraanku, bertanya ini-itu yang gak penting, pokoknya merebut perhatian Seohyun-unni dariku!

3.       Dia tampan. Oke, kuakui itu. Kalau dia jelek, aku masih akan memaafkannya karena biasanya orang jelek lebih gampang dikasihani (kurang ajar betul aku bicara begini). Dia itu idola para cewek di kampus ini (semoga juga idola para gay!). Dan lebih parahnya, dia menyadari ketampanan dirinya. Narsis banget! Sumpah, ingin sekali aku menggampar wajahnya.

4.       Dia over confidence. Demi Tuhan, kurasa aku tak mengenal cowok yang lebih over percaya diri dibanding dirinya.

5.       Dan terakhir, dia bermulut pedas! Sudah lihat kan, bagaimana dia mengataiku? Aish…jinja! Benar-benar ingin kusumpal mulutnya dengan kain. Dia selalu bilang aku pabo, manja, dan banyak tingkah. Lalu akan mulai membandingkanku dengan Unni. Yah, memang tak bisa dipungkiri, walaupun saudara kandung, kami berbeda sekali. Kalau meminjam istilahnya Donghae, Seohyun-unni itu seperti bidadari yang lembut, dan aku seperti malaikat pencabut nyawa berwajah hitam dan membawa trisula (Tolong deh, memangnya malaikat pencabut nyawa membawa trisula? Dia terlalu banyak membaca komik!).

Yah, pokoknya, itu daftar tertinggi mengapa aku begitu membencinya. Mungkin untuk selanjutnya, akan bertambah. Siapa tahu. Donghae kan tipe orang yang menyebalkan luar-dalam.

*

Seohyun menatap Donghae, yang hanya meringis kecil, tak habis pikir. Bagaimana bisa adiknya, Kim Sunri, selalu bertengkar dengan laki-laki yang sekarang berdiri di depannya itu?! Sejak mereka pertama kali bertemu, sudah bertengkar macam anjing dan kucing.

“Donghae-ya, kenapa kau selalu menjahilinya sih?” tanya Seohyun.

Donghae hanya mengedikkan bahunya. “Molla. Dia yang menyebalkan. Kan aku duluan yang kesini. Noona juga tahu kan, kalau aku berlari setelah bel berbunyi, dan langsung kesini. Dia saja yang tiba-tiba datang dan langsung marah-marah.”

Seohyun hanya geleng-geleng kepala. Dia juga bingung mengapa Donghae, yang tak lain adalah adik kelasnya sendiri itu selalu datang tiap jam istirahat, dan mendengarkannya bermain piano.

“Ya, Noona, kenapa aku tak boleh memanggilmu dengan Seohyun saja?” tanya Donghae tiba-tiba.

Seohyun tertawa kecil. Dia memandang Donghae dengan lembut. “Karena aku lebih tua darimu, dan karena kau dua tahun lebih muda dariku.”

Donghae cemberut. “Kenapa hanya hitungan umur saja dipermasalahkan?”

“Oh, bukan itu saja,” Seohyun menambahkan. Donghae memandangnya heran. “Sunri pasti akan membunuhmu kalau kau coba-coba memanggilku tanpa panggilan noona.”

Donghae mendesah kesal. “Aku membencinya,” gumamnya.

*

Aku berjalan pelan menyusuri taman kampus yang ramai, maklum jam istirahat. Walaupun ramai dan sama sekali tak bisa dibilang sepi, tapi masih mending daripada di dalam ruangan yang berisi si Ikan Donghae itu.

Aku duduk di salah satu bangku batu. Sendiri. Ya aku tak punya namjachigu sih. Tapi aku menyukai seseorang. Dia sunbae-ku, teman Seohyun-unni. Namanya…

“Sunri-ya? Sedang apa disini?” Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku tersentak, dan menoleh.

OMONA!!!

Choi Siwon! Dia yang baru saja ingin kukatakan namanya. Namja yang kusukai!

“Ah, eh… Sunbae, ya! Sunbae mengagetkanku!” ucapku gugup. Siwon-sunbae duduk di sebelahku. Aku berkeringat dingin jadinya, dan jantungku berdetak lebih cepat. Dia tertawa. Ah, mendengar tawanya saja bisa membuat hatiku damai, dan melupakan sejenak si Donghae sialan itu.

“Ya, Kim Sunri, sedang apa kau melamun di sini sendirian? Biasanya kan kau menunggui unni-mu itu,” tanyanya.

Aku mencibir. “Sudah ada si Rusuh itu disana, aku tidak betah.”

“Lee Donghae?”

Aku mengangguk. “Hahaha, bocah itu benar-benar mengidolakan Seohyun, ya,” kata Siwon-sunbae, tertawa lagi.

“Tapi dia benar-benar menyebalkan!”

Siwon-sunbae tersenyum, lalu mengacak rambutku pelan. “Kau kan adiknya Seohyun, jadi bisa tiap saat ketemu di rumah kan?”

Aku mengernyit, lalu menggeleng. “Ani. Seohyun-unni selalu sibuk, dan ada di rumah saat jam tidur saja.”

Siwon-sunbae mengangguk-angguk. Dia tahu bagaimana padatnya jadwal Unni. Kuliah, belajar piano sekaligus menjadi guru piano di sebuah sekolah musik untuk anak-anak, belum lagi kegiatan-kegiatannya yang lain. Tapi, tetap saja dia yang terbaik. Nilai-nilainya sempurna, dan dia cantik. Satu hal yang kadang membuatku iri. Oh ya, dan dia juga sangat baik.

“Padahal aku mau minta diajari kalkulus…hehhhh…” Aku mendesah.

“Oh, bagaimana kalau aku saja yang mengajarimu?”

Mataku membesar. “OMO?!” Omo?! Omo?! Siwon-sunbae mau mengajariku? Dia menawariku untuk diajari kalkulus? Apa aku sedang mimpi?

“Ya, Sunri-ya! Kenapa malah bengong?”

Aku menggeleng. “Ani, ani, ani. Aku tidak bengong, Sunbae. Ne, ne, aku mau diajari…”

Siwon tertawa. “Baiklah, mana bukumu?”

“Ini…”

Lho? Mana bukuku? Mana buku kalkulusku? Mampus lah aku… Tadi kalau tidak salah aku melemparkannya pada Donghae sebelum pergi kan? Aish!

“Sunri-ya?”

“Ya, Sunbae, bukuku ketinggalan di ruang musik…” Aku berkata dengan menahan tangis. Hilang sudah kesempatanku untuk belajar bersama sang Pangeran. Hiks…

“Ya sudah, ya sudah, gwenchana. Lain kali akan kuajari kau, oke?” Siwon-sunbae tersenyum.

Aku terpaksa tersenyum. “Baiklah, aku harus kembali ke kelas. Bye.” Dia berdiri, mengacak rambutku sekilas, lalu melangkah pergi.

Ini semua gara-gara Donghae! Kubunuh kau!!!

*

Aku sedang mengerjakan tugas di kamar ketika pintu terbuka, dan Seohyun-unni masuk dengan wajah ceria.

“Sunri-ya,” panggilnya, tersenyum cerah.

“Unni, kok sudah pulang?” tanyaku heran. Sekarang baru jam tujuh malam. Dan ini hari Jumat. Biasanya kan tiap hari Jumat dia mengajar piano sampai jam sembilan malam.

“Ne. Tadi Chaeyoong tidak masuk karena harus ikut ayahnya ke Incheon, jadi aku bisa pulang lebih awal.” Dia menjawab dengan senyum terus mengembang.

“Oke, baiklah,” ucapku penasaran. “Kenapa Unni kelihatan senang sekali?”

“Mwoya?!” Dia menoleh, sambil meletakkan tasnya di meja belajarnya. Kami memang sekamar. Walau ada lima kamar di rumah kami, dan hanya ditempati empat orang, Appa, Umma, dan kami, tapi aku lebih suka tidur bersama Unni di kamar yang luas ini. Lagipula, aku takut sendirian.

Aku tak kuasa untuk tidak memutar bola mataku. “Unni…”

“Hahaha, baiklah, baiklah… Aku memang sedang senang. Hem…tepatnya bahagia.” Dia tertawa. Lalu mulai berganti pakaian.

“Oh, apa ada seorang pangeran yang berhasil membuat unni-ku sesenang ini?” tanyaku, menggodanya.

Wajah Seohyun-unni merona. “Gotcha! Tebakanku benar ya?!” Aku tertawa senang.

Unni hanya mengedikkan bahu. Aku berhasil menggodanya, tapi…chagaman. Chaeyoong kan adiknya Siwon-sunbae. Mereka tidak…

“Unni, bukan Siwon-sunbae kan?” tanyaku khawatir.

“Mwo?!” Dia menatapku dengan mata membesar. “Kenapa kau pikir dia Siwon?”

“Ah, ehm… aniyo, aku hanya menebak kok… Hahaha, lupakan!” Aku tertawa bohong. Aku memang menceritakan segala hal pada kakakku, kecuali satu hal ini. Tentang aku menyukai Siwon. Setahuku, mereka memang satu jurusan, dan selalu satu kelas. Dan mereka lumayan akrab. Hanya sebatas teman, tapi. Karena jika Siwon-sunbae menyukai Unni, kurasa dia akan mengejar dan menempel pada Unni setiap hari. Nyatanya tidak.

“Oh ya, kurasa buku kalkulusmu tertinggal di ruang musik.”

Ucapan Unni mengingatkanku akan buku kalkulus yang tadi kulempar pada si Rusuh Donghae. “Ya! Unni bawa?”

Seohyun-unni menggeleng. “Ani. Mianhe, aku tak tahu kalau bukumu tertinggal. Kurasa Donghae yang membawanya, tadi dia mengirimiku pesan bahwa dia menemukan bukumu di ruang musik.”

“Donghae?!” Aku hampir menjerit. “Aish…” Dan badanku lemas seketika. Bertemu dengannya dalam waktu satu detik saja sudah seperti neraka, dan sekarang bukuku ada padanya?! Oh, Tuhan… Dosa apa yang telah kuperbuat?

Aku memandang Unni dengan pandangan memohon. “Unni, jebal, mintakan padanya…”

Dan Unni menatapku dengan pandangan minta maaf. Perasaanku sudah tak enak. “Mianhe, Sunri-ya, aku tak bisa. Aku besok sampai malam ada acara di Busan.”

Bahuku merosot. Matilah aku. “Besok Senin aku memakainya…”

“Ya! Bagaimana kalau kau hubungi Donghae untuk membawakannya?” usul Unni.

“Mwo!? Aku tak sudi!” Menelepon Donghae adalah hal terakhir yang akan kulakukan ketika dunia akan kiamat!

Unni mendesah. “Lantas bagaimana?”

Aku menggeleng. Kesal sekali. Ini memang salahku, main lempar sembarangan. Tapi pangkal masalah kan ada di Donghae. Tak akan jadi begini kalau dia nggak ngajak cekcok.

Tapi besok Senin… Aish, dosenku kan terkenal killer. Mana aku juga belum mengerjakan tugas. Apa aku harus meminjam pada Miyung, sahabatku itu? Tapi akhir pekan begini dia pasti ada di villa keluarganya di Incheon. Ugh…

“Baiklah… aku akan menghubungi Donghae,” ujarku lirih. Unni tersenyum. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu menekan keypad-nya. Diberikannya ponsel itu padaku.

Selama beberapa detik terdengar nada tunggu, hingga akhirnya…

“Yobseiyo, Noona! Wah…tumben sekali Noona mau menghubungiku…” Suara Donghae terdengar ramah dan gembira sekali. Cih, padahal kalau berbicara padaku begitu pedasnya.

“Aku Sunri,” potongku cepat.

Diam. Sedetik.

Dua detik.

Tiga detik.

“Ada apa?” Nada suaranya berubah seratus delapan puluh derajat! Menjadi dingin, dan kesal. “Cih, kukira Seohyun-noona yang menelepon. Ternyata kau.”

Tuh kan, belum apa-apa aku sudah kesal duluan. Kalau bukan dia yang membawa bukuku, sudah kumaki sejak tadi.

“Buku kalkulusku. Kau yang bawa kan?” Aku berusaha mengendalikan suaraku.

“Ne. Kau masih butuh ya?”

Kontrol emosi. Kontrol emosi.

“Tentu saja, Pab… Tentu saja, Lee Donghae.”

“Oh, kupikir kau sudah tahu kemampuan otakmu, dan menyadari bahwa sia-sia saja kau mempelajarinya.”

Tarik nafas, keluarkan. Pfiuhh… Tarik nafas, keluarkan. Pfiuhh… Jangan terpancing. Jangan terpancing.

“Jadi, dimana bukuku?”

“Sudah kubuang.”

Dia memang ingin kubunuh!!!

“YA! KAU MEMPERMAINKANKU KAN! DASAR PABO! KAU BELUM PERNAH MERASAKAN TENDANGANKU KAN?! ATAU KAU INGIN MULUTMU KUSUMPAL DENGAN GRANAT, HAH?!” Aku benar-benar meledak sekarang. Si Rusuh ini sudah keterlaluan.

“Aish…gendang telingaku bisa rusak tahu, dasar Iblis!” keluhnya, masih sempat membalas makianku.

“Kau yang iblis! Seenaknya saja menghinaku!”

“Aku tidak menghinamu, itu kenyataan!

“Kau…”

Aku belum sempat menyelesaikan ucapanku, ketika Unni mengambil alih ponselnya, dan berbicara pada Donghae.

“Donghae-ya? Ini aku, Seohyun.”

Cih, pasti sekarang si Rusuh itu bicara dengan nada manis. Dasar penjilat.

“Ne, apa buku Sunri kau yang bawa?” lanjut Unni. “Oh, masih kau simpan kan? Hem… Baiklah, tolong berikan padanya, ya. Apa? Aku? Oh, aku ada tugas untuk penelitian di Busan…. Ne, ne…. Baiklah, besok di taman Sungsugi jam sepuluh. Ne, akan kusampaikan. Gumawo.”

Klik. Unni mematikan ponselnya. Dia memandangku. “Besok, jam sepuluh di taman Sungsugi dia akan menyerahkan bukumu. Jangan lupa.”

Aku mengangguk. Masih cemberut.

Unni hanya menghembuskan nafas heran. “Ya, apa sesusah itu berbicara dengannya?”

Aku mengangguk lagi. “Dia membenciku, dan aku juga membencinya,” jawabku.

*

Ini sudah jam sepuluh. Malah jam sepuluh lebih lima belas menit. Tapi kemana si Rusuh Donghae itu?

Argh! Aku menggeram kesal. Aku orang yang tepat waktu dan hampir tak pernah ngaret kalau janjian seperti ini. Tapi kurasa, orang yang kutunggu itu memang cari masalah. Kenapa dia terlambat sekali sih???

Aku memandang daun-daun pohon maple yang berguguran. Sekarang pertengahan musim gugur. Dan udara juga sudah lebih dingin dibanding beberapa minggu yang lalu. Dan menunggu di taman, di bawah pohon yang menggugurkan daunnya, menurutku bukan hal yang menarik.

“Permisi,” ucap seseorang tiba-tiba. Aku menoleh. Seorang ibu yang kira-kira usianya tigapuluh tahunan, dan sedang hamil tua, tersenyum sambil menunjuk bangku di sampingku. “Apa ini kosong?”

Aku mengangguk, membalas senyumnya ramah. “Tentu. Silakan.” Ibu muda itu tersenyum berterimakasih, lalu duduk.

Dia mengelus-elus perutnya yang buncit sambil sesekali melirik jam tangan.

Aku tersenyum memandangnya. Dan dia tahu. “Ah, annyeong haseo, Kim Sunri imnida,” ucapku memperkenalkan diri.

Dia tersenyum. “Annyeong. Aku Shin Wonmin.”

“Boleh kupanggil Shin-Ahjumma?”

“Tentu saja.”

Kami sama-sama tersenyum. “Apa ini anak pertama Ahjumma?” tanyaku.

“Benar. Aku dan suamiku sudah menunggu selama tujuh tahun untuk mempunyai seorang anak, dan sebentar lagi kami akan memilikinya.” Shin-ahjumma tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.

“Begitu? Apa dia perempuan?”

“Hahaha,” Shin-ahjumma tertawa. “Aku tidak pernah menanyakan pada dokter apa jenis kelaminnya, biar nanti jadi kejutan saja.”

“Jinja?!” Aku menatap perutnya. Kalau nanti aku menikah dengan Siwon-sunbae, aku juga mau begitu. Memberi kejutan. Hahaha…

“Ah, mianhe,” ucapnya, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Rupanya ada telepon masuk. “Yobseiyo? Ne, ne, gwenchana. Aku bisa pulang sendiri. Apa? Jinja, aku tak apa-apa kok. Ne, nado saranghae.”

“Suami Ahjumma?” tebakku. Shin-ahjumma tersenyum malu, mengangguk. Wah, mesra sekali mereka.

“Dia bilang tak bisa menemaniku ke dokter hari ini karena ada tugas baru dari kantornya. Baiklah, aku pulang dulu ya. Senang berkenalan denganmu, Sunri-ya.” Dia berdiri, tak lupa tersenyum padaku.

Aku mengangguk. “Ne, Ahjumma, sama-sama. Hati-hati…”

Kami sama-sama melambai. Dan dalam semenit, sosoknya sudah tak terlihat di tikungan taman.

Aku kembali sendiri. Menunggu itu ternyata lebih enak kalau berdua, hehehe… Untunglah, semenit kemudian si Rusuh itu datang. Dengan wajah yang bersungut-sungut tentunya. Namun, kuakui, dia terlihat tampan. Bukan berarti aku naksir dia (amit-amit deh), karena pangeranku tetap Siwon-sunbae.

“Mana bukuku?” tanyaku. Malas berbasa-basi.

“Aish, bisakah kau sopan sedikit? Kan kau yang butuh!” balasnya, tak kalah ketus. Dia membuka tas ranselnya, dan mengeluarkan sebuah buku tebal. Bukuku!

“Gumawo,” ucapku, menerima buku itu.

“Kau bisa mengatakan terima kasih juga ternyata,” gumamnya. Ingin sekali kupukul dia! Tapi aku hanya mengedikkan bahu, dan melangkah pergi. Namun…

“Ya! Kenapa kau mengikutiku?” tanyanya, ketika kusadari kami berjalan ke arah yang sama.

Aku mengernyit. “Siapa yang mengikutimu? Aku mau ke halte bis di seberang taman, tahu!”

“Cih,” desisnya.

Cih? Cih? Cih, dia bilang? Harusnya aku yang bilang begitu! Cih!

Namun, ketika kami sampai di tikungan, kulihat seseorang yang sepertinya kukenal, sedang duduk menggelosor di tengah jalan taman. Ya ampun, itu kan Shin Ahjumma! Jangan-jangan…

Aku berlari menghampirinya, sambil tak lupa kutarik Donghae juga.

“Ahjumma!” panggilku. “Ahjumma kenapa?”

“Sun…Sunri-ya…ba…bayinya…mau lahir…,” jawabnya sambil menahan sakit di perutnya.

“MWO?!” Aku tersentak kaget. “Otohkke… Otohkke…?!” Aku ikutan panik. “Ahjumma, sebaiknya kita ke rumah sakit…”

Shin-ahjumma hanya mengangguk. Wajahnya basah oleh keringat, dan terlihat sangat kesakitan. Aku benar-benar takut. Aku menoleh pada Donghae, yang ternyata berdiri mematung memandang Shin-ahjumma.

“Donghae!” kataku. Dia tersentak kaget. Wajahnya…pias. “Kau jaga Ahjumma di sini, aku akan cari taksi.” Aku melangkah pergi, tapi tangan Donghae mencekalku.

“Chagaman!” pekiknya. “Sunri… Sunri, biar aku yang cari taksi…”

Aku memandangnya heran, lalu mengangguk. Dia tak akan kabur meninggalkan kami kan? Semoga dia masih punya hati…

“Ahjumma, Ahjumma tahan ya, Donghae sedang mencari taksi untuk kita… Bersabarlah sebentar…”

Shin-ahjumma tak menjawab. Dia mengerang-erang kesakitan, dan menggenggam tanganku erat-erat. Rasanya lama sekali, baru Donghae muncul. Berlari-lari menghampiri kami. “Ayo! Taksinya di sana. Tak jauh dari sini,” ucapnya. Kami memapah Shin-ahjumma dengan hati-hati. Beberapa meter di depan kami, ada sebuah taksi yang berhenti. Kami duduk di bangku belakang, dengan mengapit Ahjumma. “Rumah Sakit Seoul,” ucapku, menyebut rumah sakit yang menurutku terdekat dari sini. Namun, sopir taksi yang ternyata masih sangat muda itu menoleh, menatapku dengan tatapan bingung.

“Ah, mianhamnida, aku tak tahu jalan menuju ke sana, aku sopir baru di kota ini,” ujarnya.

Mampus!

Akhirnya, aku pindah ke bangku di sampingnya, sebagai penunjuk jalan.

“Ya! Kim Sunri! Kenapa kau meninggalkanku di sini?!” tanya Donghae, terdengar tidak terima.

“Aku menunjukkannya jalan! Sopir ini tak tahu jalan ke rumah sakit,” sahutku. “Oke, sekarang jalan, sampai di perempatan itu belok kanan…” Aku memberi arahan pada sopir taksi itu.

“Aku saja yang menunjukkan arah!” Donghae masih protes.

“Kau ini kenapa sih?!” Aku sedikit emosi, kenapa dia rewel sekali! “Kau jaga saja Ahjumma.”

“Masalahnya… auw!”

Aku menengok ke belakang. Ahjumma sedang menjambak rambut Donghae, dan memegang erat kerah jaketnya. Walau aku kasihan, tapi juga sedikit geli melihatnya diperlakukan begitu oleh orang yang akan melahirkan. “Sunri, aku… aahh… Ahjumma, tolong jangan menggigitku…” Sekarang Shin-ahjumma menggigit lengan Donghae.

“Ya! Hanya sebentar saja kok,” kataku. “Bersabarlah…”

“Setelah belok kita kemana, Ahgeshi?” tanya si Sopir.

“Oh, lurus saja, setelah itu, ikuti jalan yang ke kiri,” jawabku. Lalu kembali menoleh ke belakang. “Ahjumma, Ahjumma tak apa-apa?”

“Aku yang terluka, tahu!” Malah Donghae yang menjawab dengan tatapan tajam.

“Sunri…ergh…sakit sekali…” erang Shin-ahjumma.

“Baiklah, tarik nafas… hembuskan… Tarik nafas, hembuskan…” Aku memberi arahan seperti yang sering kulihat di drama-drama kalau sedang menolong orang melahirkan. Aku sendiri tak tahu instruksi itu benar atau tidak. Masalahnya, aku mahasiswa teknik, dan aku sama sekali, BELUM PERNAH membantu menolong persalinan.

“Kim Sunri! Aku ingin pindah ke depan! Aku tak tahan!” pekik Donghae, sambil meringis kesakitan karena tangannya digenggam erat oleh Ahjumma.

Aku memutar bola mataku. “Kau ini bawel sekali sih?! Yang mau melahirkan kan bukan kau!”

“Matamu dimana?!” balasnya sengit. “Ahjumma ini juga melukaiku, tahu!”

“Namanya juga orang yang mau melahirkan, wajar saja begitu!” kataku sok tahu. Kesal juga meladeni ocehan Donghae.

“Sunri-ya, tolong…tolong hubungi suamiku…” Shin-ahjumma menyerahkan ponselnya dengan tangan bergetar. Oh, iya, aku baru ingat tentang suaminya!

Kucari di daftar panggilan teratas. Ada. Kutekan tombol panggil. “Yobseiyo, Jagiya? Bagaimana kata dokter? Apa…”

“Yobseiyo, mianhamnida, mianhamnida, aku Kim Sunri,” potongku cepat.

“Nuguseiyo? Mana istriku?” tanya suami Ahjumma.

“Ahjussi, bisakah Ahjussi ke rumah sakit Seoul sekarang? Shin-ahjumma mau melahirkan, dan kami masih dalam perjalanan.”

“MWO?!” pekiknya, terkejut. Aku juga terkejut mendengar teriakannya. “Ba..bagaimana keadaannya?!” Suaranya bergetar.

“Ehm…” Kulirik Ahjumma yang kesakitan. “Dia kesakitan.” Jawaban paling tolol yang mungkin pernah didengarnya.

“Apa dia baik-baik saja?!”

“Ehm…” Aku meliriknya lagi. Bagaimana harus kujawab? “Ehm…ya, dia akan baik-baik saja…”

“AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA, PABO!” teriak Donghae, Ahjumma menggigit tangannya. Dan aku tidak mengacuhkannya.

“Baiklah, baiklah, tolong jaga dia baik-baik. Jebal, aku mohon padamu…” pintanya.

“Ne, Ahjussi.”

“Aku akan segera ke sana.”

Aku mengatakan ya, lalu menutup flip ponsel Ahjumma. “Ya! Lee Donghae, siapa yang kau bilang pabo?”

“Kau!”

“Gezzz… ini kan salahmu! Kau tidak becus mencari taksi, dan aku harus jadi penunjuk jalan!” Aku tidak terima dibilang bodoh oleh orang yang lebih bodoh dariku.

“Dasar Iblis!”

“Ahgeshi, jalannya macet,” kata-kata si Sopir menghentikan pertengkaran kami. Aku baru sadar bahwa ternyata kami terjebak macet.

“Otohkke? Bagaimana ini?” keluhku bingung. Padahal rumah sakit masih sekitar 100 meter lagi. “Donghae, otohkke?!”

Donghae juga terlihat bingung dengan keadaan ini. “Apa kita harus jalan kaki ke sana?”

Aku memandang Ahjumma. Lalu menggeleng. “Andwe! Ahjumma pasti tak kuat jalan sampai kesana.” Kalau dia disuruh berdiri juga mungkin sudah tak kuat.

“Aku saja yang menggendongnya,” putus Donghae. Aku terpana. Apa tadi dia bilang? Dia masih waras kan? Dia mau MEMBANTU orang lain? Benarkah?

“Jangan bengong! Cepat keluar! Kau yang cari jalan!” Donghae menepuk pundakku, membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk gugup.

Setelah membayar taksi, kami keluar. Aku berada di depan, mencari jalan untuk Donghae. Sedang Donghae sendiri membopong Ahjumma, mengikutiku.

“Ahjumma, jebal, bertahanlah…” bisikku. Semoga bayinya tak apa-apa.

Entah karena bersemangat atau apa, sepertinya aku berjalan terlalu cepat. Hingga Donghae berteriak memanggilku. Aku menoleh, dia tertinggal jauh di belakangku. Aku menghampirinya. Wajahnya pucat, dan bajunya basah oleh keringat. “Aku…tak kuat lagi…,” katanya parau. Aku mengerti, menggendong orang bukan hal yang mudah dan enteng. Akhirnya, aku membantunya membopong Ahjumma. Ugh…ternyata berat sekali. Mana rumah sakit masih lima puluh meter lagi.

Akhirnya, setelah perjuangan yang panjang dan berat, kami sampai. Beberapa perawat dengan sigap menyiapkan ranjang dorong. Kami membaringkan Ahjumma dengan hati-hati. “Ahjumma, kumohon berjuanglah…” kataku, menggenggam tangannya, sebelum dia masuk ke ruang persalinan. Ahjumma mengangguk.

“Kemari.” Donghae menyeretku duduk di salah satu bangku tunggu. Kami langsung duduk, dan mendesah. Walau sudah ditangani dokter, tapi tetap saja rasanya aku belum lega.

“Semoga Ahjumma dan bayinya baik-baik saja,” kataku. Donghae tak menyahut. Kulirik dia. Dia hanya diam, dengan pandangan kosong. “Waeyo? Gwenchana?” tanyaku. Apa dia masih kecapekan?

Dia mengangguk. “Apa Ahjumma akan baik-baik saja? Dia akan baik-baik saja kan?” tanyanya mendesak. Aku mengernyit, tapi aku tak bisa memberi jawaban yang pasti.

“Molla, tapi kuharap begitu.”

Donghae menghela nafas berat. “Ibuku… Umma meninggal saat melahirkanku.”

“OMO?!” pekikku tertahan. Donghae melirikku sekilas, tersenyum kecil, lalu mengangguk.

“Ne. Dan aku takut sekali ketika melihat Ahjumma tadi. Kupikir aku sedang melihat ibuku sendiri.”

Oh! Pantas saja. Dia yang lebih panik dan terlihat tertekan saat pertama melihat Ahjumma. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku bingung bagaimana harus menghiburnya. Aku kan tidak mengalami apa yang dialaminya. Masak aku harus bilang, “Aku mengerti perasaanmu.” Ya ampun, itu omong kosong. Aku tak mengerti bagaimana rasanya kehilangan ibu. Atau aku harus bilang, “Sudahlah, itu kan takdir.” Wah, bisa-bisa Donghae akan membuangku ke jurang.

Jadi akhirnya aku berkata, “Ibumu kan memang memilih begitu, agar kau bisa hidup.”

Aku sudah bersiap akan didamprat, namun Donghae malah menatapku, dan tersenyum. Dia mengangguk tulus. “Ayahku juga berkata begitu.”

Aku mendesah lega. Syukurlah, tidak jadi didamprat.

“Gwenchanayo?” tanyaku lagi beberapa saat ketika kudengar dia mendesah dengan suara berat. Ya ampun, kenapa aku jadi perhatian padanya sih?!

“Ne. Aku sedikit mual,” sahutnya lirih. Begitu dia menjawabnya, aku langsung berdiri, dan mencari mesin penjual minuman. Kuambil sebotol jus strawberry, lalu aku kembali. “Ambillah,” ucapku, menyodorkan jus itu pada Donghae.

Dia menatapku dengan pandangan bingung, lalu dengan ragu menerimanya. “Gumawoyo.” Dia lalu meminum jus itu, dan langsung habis. Buset dah, dia haus atau doyan?!

“Seohyun-noona, kemana dia perginya?” Pertanyaan Donghae tiba-tiba mengingatkanku pada unni-ku itu.

“Molla. Katanya ke Busan, ada tugas penelitian yang harus diselesaikannya di sana.”

“Bersama teman-temannya?”

Aku mengangguk. Teman-temannya… Teman-temannya? Berarti Siwon-sunbae juga?

“Jangan marah-marah padaku lagi ya,” lanjut Donghae. “Aku sedang berusaha mendekati unni-mu…”

“NDE???!!!” Aku berteriak demi mendengarnya berkata begitu. “Kau?! Menyukai Unni?!”

Mata Donghae menatapku tajam, dan dahinya berkerut. “Bukankah kau sudah tahu ini sejak lama?”

Aku menggeleng kuat-kuat. Kupikir dia hanya ingin merusuh dan mengganggu saja, atau ingin belajar bermain piano. Ternyata… Ya Tuhan…

“Ya!” katanya. “Jangan bilang padanya!”

“Tapi… tapi… Kau kan adik kelasnya!”

“Lalu?”

“Kau lebih muda.”

“Lalu?”

Aku diam. Benar juga, lalu apa? Memangnya kenapa kalau dia menyukai Unni? Siapapun yang mengenal Unni pasti terpesona padanya. Tapi Donghae? Ya ampun, salah apa Unni sehingga ditaksir oleh Donghae?!

“Ya! Kim Sunri!” Dia menyentakkan lamunanku. Aku tergagap. “Kenapa kau malah bengong?”

Aku menggeleng. Masih shock.

Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin. Aku dan Donghae saling pandang. Entah kenapa percakapan tentang Seohyun-unni tadi terlupakan begitu saja. Yang ada di pikiranku sekarang adalah Shin-ahjumma dan bayinya. Tak berapa lama, pintu ruang bersalin menjeblak terbuka, dan muncul seorang laki-laki dengan wajah gembira luar biasa, memanggil kami.

“Lee Donghae, Kim Sunri,” panggilnya, melambai pada kami. “Anakku sudah lahir. Wongmin minta kalian untuk masuk.”

Aku dan Donghae saling berpandangan lagi. Sejak kapan suami Shin-ahjumma datang? Tapi, dengan cepat kami mengikutinya, masuk ke ruangan itu. Kurasakan badan Donghae yang gemetar di sampingku, dan tanpa sadar aku menggenggam tangannya. Dia memandangku sambil mengucapkan terima kasih. Aku mengangguk.

Ruangan ini berbau aneh, bau khas rumah sakit yang menyengat. Dan bau…darah? Yah, namanya saja ruang persalinan. Tidak heran sih. Aku melihat Shin-ahjumma duduk bersandar pada bantal yang ditumpuk di ranjangnya. Dan di gendongannya ada seorang bayi mungil yang masih merah. Aku tersentak. Kutarik tangan Donghae untuk mendekat.

“Ahjumma, chukkae,” ucapku memberi selamat. Shin-ahjumma mengangguk. Dia tersenyum lebar.

“Ini berkat kalian, Sunri-ya, Donghae-ya. Gumawo. Aku benar-benar sangat berterima kasih.” Mata Shin-ahjumma berkaca-kaca. Aku dan Donghae mengangguk.

“Dia perempuan?” tanyaku.

“Ne, seorang yeoja.”

“Cantiknya…” gumamku, memegang pipinya. Halus dan lembut sekali. Bayi itu membuka mulutnya dan menguap. Ih…betapa imutnya bayi ini. “Dia cantik sekali bukan?” Aku minta persetujuan Donghae.

Donghae memandang bayi itu dengan tatapan kagum. “Ya, cantik sekali. Baru kali ini aku melihat bayi yang baru lahir. Ahjumma, apa aku boleh memegangnya?”

Aku tertawa mendengar dia minta izin begitu. Shin-ahjumma tentu saja mengangguk. Dan tangan Donghae terulur menyentuh pipi bayi itu. Donghae tersenyum senang. “Kulitnya halus…” katanya polos. Kembali kami tertawa mendengar ucapannya itu.

“Kami sudah memutuskan akan memberinya nama apa.” Shin-ahjumma mengerling pada suaminya. “Namanya Haeri.”

“Haeri?” Aku dan Donghae kompak menyahut.

“Ne. Itu singkatan dari nama kalian. Donghae dan Sunri. Haeri berarti malaikat penolong. Karena bagi kami, kalian adalah malaikat penolong yang dikirim Tuhan,” jelas suami Shin-ahjumma.

Aku dan Donghae bertatapan, lalu tersenyum, mengangguk setuju.

“Haeri. Nama yang bagus,” komentar Donghae pelan.

*

Aku sampai di rumah dengan badan pegal-pegal dan capek luar biasa. Maklum saja, aku yang tak pernah berolahraga berat harus lari dengan membantu Donghae membopong seorang yang mau melahirkan. Ditambah capek mental. Dan sekarang sudah jam…delapan malam. Lengkaplah sudah. Aku masuk ke kamar, melemparkan tasku, dan langsung rebah di ranjang. Rasanya ranjang adalah tempat paling nyaman sedunia, saat ini.

Aku berniat memejamkan mataku ketika kudengar suara derum mobil berhenti di depan rumahku. Karena kamarku ada di lantai dua, dan menghadap tepat ke pekarangan depan, maka aku mendengarnya dengan jelas. Itu bukan Appa, karena aku mengenali mobil Appa. Dan tentu saja, aku tahu, mobil kami ada di garasi. Kubuka sedikit tirai jendelaku, Seohyun-unni? Buru-buru aku keluar kamar, ingin menyambutnya karena ternyata dia sudah datang dari Busan. Dan ingin tahu juga siapa yang mengantarnya.

Tapi, ketika kubuka pintu, yang kudapati adalah sebuah pemandangan yang selamanya tak ingin kulihat.

Seohyun-unni dan Siwon-sunbae…berciuman.

Mataku menatap tajam mereka, tanpa mereka menyadari aku ada di ambang pintu. Lama-lama, penglihatanku kabur. Ya Tuhan, kenapa aku harus menangis?

Buru-buru aku menutup pintu, dan berlari kembali kekamarku. Kubenamkan wajahku ke bantal dan menangis keras-keras. Ternyata selama ini yang dimaksud Unni adalah Siwon-sunbae. Tak heran sih, mereka kan teman sekelas. Lagipula, mungkin selama ini memang Siwon-sunbae hanya menganggapku sebagai adik. Tidak lebih. Seohyun-unni pantas mendapatkannya.

Tapi tetap saja, aku sakit hati. Aku senang Unni mendapat orang yang baik dan sopan, juga pintar seperti Sunbae, tapi aku juga sedih. Kenapa bukan aku?!

*

TBC…

By: ILALANG NAVISA

9 Comments (+add yours?)

  1. Love Kyu
    Jan 14, 2011 @ 18:52:06

    ini bukannya udh?? sampe tamat malah,,,

    Reply

  2. syalala
    Jan 14, 2011 @ 18:53:23

    ini kan udah pernah dipublish ampe tamat kan? -_-‘a

    Reply

  3. ecisarangHYUK
    Jan 15, 2011 @ 06:20:23

    huah…keren..LANJUT yu ah..
    Jgan lama2 ya.hahaha

    Reply

  4. ilalang navisa
    Jan 15, 2011 @ 08:38:24

    ini udah pernah dipublish kan ya?
    -,’

    Reply

  5. D~
    Jan 15, 2011 @ 17:44:36

    Ini kan udah pernah dipublish sampe terakhir kan??

    Reply

  6. Nurul's Sea
    Jan 15, 2011 @ 20:20:48

    Hmm,, Iya.. Repost, udah tamat malahan..

    Sy mau nyari lanjutanny dulu..
    Mau baca ulang 😀

    Reply

  7. sisiondubu
    Jan 15, 2011 @ 22:31:05

    Udh pernah publish ya??
    Bru baca, brb cari part 2,wkwk

    Baguss ffnya….

    Reply

  8. mhyhae
    Apr 06, 2011 @ 00:28:01

    Iya, kyakx sdh dpublish. . . Tp ttap mw bca lg coz critax bgus. . . Sy suka. . . Sy suka. . .

    Reply

  9. mhyhae
    Apr 06, 2011 @ 00:31:32

    Critax bgus. . . Lnjut ya. . .

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: