A Design for Love – Aiden’s View [part 7, LAST]

Author: Mutiara R. Utami

Bandara SSQ II, Pekanbaru, enam bulan kemudian.

“Dasar, masa nggak pake resepsi, sih? Padahal aku udah punya segudang ide buat gaun pengantinmu,” sungut Casey.

Casey dan keluarga Kim saat itu sedang di Bandara mengantar kami. Kemarin akhirnya kami menikah secara sederhana, undang kerabat dan tetangga kanan kiri aja. Lalu hari ini kami akan naik pesawat ke Sulawesi, tempat rumah idaman kami dibangun di tepi pantai.

“Kok, kau yang bawel, sih? Mama papaku aja nggak,” protes Kim.

“Mama, sih, asal Kim bahagia aja,” timbrung ibunya—sekarang sudah jadi ibuku juga. “Asal nggak kayak mayat hidup lagi aja, kayak lima tahun belakangan ini,” tambahnya menyindirku.

“Mamaaa,” Kim menggandeng Mama, lalu menatapku agar aku mengatakan sesuatu.

Saat melamar Kim, restu Mama lah yang paling sulit kudapatkan. Aku mengerti alasannya, beliau sakit hati karena aku, pria asing ini, telah membuat anaknya merana selama lima tahun, tapi akhirnya beliau luluh juga. Aku curiga, sedikit banyak Casey memiliki peran dibalik keluarnya restu Mama.

*Maaf, Author nimbrung sebentar… Yang membujuk mama Kim supaya ngerestuin Aiden emang Casey, tapi itu cerita lain lagi 😉

Lanjuuut…*

“Mama, Papa, aku janji, nggak akan lagi membuat Kim nangis. Aku nggak akan mengulang kebodohan yang sama, Ma, Pa,” ujarku sungguh-sungguh, dan sama seperti Kim, Mama tipe yang pengomel, tapi akhirnya membiarkanku dan Kim. Sedangkan Papa, beliau berkata bahwa jika pria ini pilihan Kim dan Kim yakin akan bahagia bersamanya, maka beliau akan memberikan restunya.

Terdengar pengumuman bahwa kami harus segera naik ke pesawat. Kim berkaca-kaca saat memeluk ayah dan ibunya, lalu Casey.

“Casey, kau sahabatku dari kecil, udah kayak saudaraku sendiri. Makasih banyak atas semuanya. Jangan banyak main-main lagi, cari satu orang cewek aja, lalu berbahagialah,” kata Kim.

Casey menepuk pundaknya, “Bego, nggak usah segitunya deh, Sulawesi nggak jauh, aku bakal mampir ke tempat kalian. Soal cewek, gampanglah… biar udah empat puluh tahun juga masih banyak cewek yang ngantri mau jadi istriku.”

“Kau emang nggak pernah berubah, Bro,” Kim meninju lengan Casey pelan.

“Saat aku ke Sulawesi ntar, aku bakal ketemu sama keponakanku, kan? Buat yang banyak, ya?” godanya di telinga Kim.

Kim memerah sampai ke pangkal rambut dan melirikku, sedang Casey tertawa puas. Aku mengalihkan pandangan dan bersikap seakan-akan tidak mendengar kalimat Casey tadi.

“Yo,” Casey meninju bahuku pelan, “mulai sekarang dia jadi urusanmu. Akan sangat merepotkan, tapi aku dan keluarganya mempercayaimu. Jadi, jangan sampai aku harus turun tangan lagi mempertemukan kalian berdua.”

“Aku tahu, terima kasih, Bro,” aku balas meninju bahunya pelan.

Setelah menyalami Papa dan Mama sekali lagi, kami masuk ke terminal keberangkatan, diiringi lambaian tangan mereka.

Sulawesi, satu tahun berikutnya.

“Sayang, aku pulang…” panggilku sambil membuka pintu.

“Lama banget pulangnya!” semprot Kim, “Aku udah kelaparan dari tadi tahu, kalau mau lembur mendadak telepon dulu, kek!”

Aku berusaha sabar menghadapi omelannya, “Maaf, Sayang, tadi Bu Dina—”

“Siapa itu?! Baru EMPAT BULAN nikah kamu udah berani selingkuh!” jeritnya lalu masuk kamar dan membanting pintu.

Mau nggak mau aku emosi juga mendengar tuduhan tak berdasarnya, tapi hari sudah larut dan aku capek setelah tadi ada masalah pada data penelitian dan Bu Dina, atasanku, memintaku merevisi semuanya hari ini juga.

Aku melempar tas dan kemejaku asal saja di ruang kerja, tidak sedikitpun merasa bersalah melihat ruangan yang sudah dirapikan istriku. Ya, empat bulan lalu kami menikah dan pindah ke rumah ini, rumah yang dibangun berdasarkan rancangan Kim di tahun ketiga kuliahnya dulu. Awalnya semua baik-baik saja, bagiku tiap hari penuh kebahagiaan, layaknya pasangan pengantin baru lainnya, tapi mendadak semuanya berubah. Seminggu ini rasanya seperti neraka dunia, mood Kim berada di titik terjelek selama aku mengenalnya dan apa pun yang kulakukan selalu salah di matanya, seperti yang baru saja terjadi. Apa pun yang kulakukan untuk memancing senyumnya selalu gagal, dan dengan malam ini lima hari sudah aku terpaksa tidur di sofa. Sial, sebenarnya apa sih maunya? Memang apa salahku?

Aku berjalan ke meja makan, tempat Kim meninggalkan makan malamku. Dia pasti sudah makan malam karena hanya ada satu piring di meja. Dalam keadaan biasa aku pasti merasa bersalah tidak memberitahunya aku pulang telat dan membiarkannya makan malam sendirian—apa boleh buat, pikiranku tadi terlalu sibuk dengan data-data itu—tapi malam ini, setelah dia membanting pintu rasanya aku muak. Apa yang harus kulakukan sekarang? Masa baru empat bulan menikah kami udah retak begini?

Besok paginya aku terbangun mencium aroma roti panggang di dapur. Kim sudah menyiapkan sarapan lengkap di meja dan dia tersenyum menyambutku, seakan-akan dia semalam tidak pernah meneriakiku.

“Pagi, Sayang, maaf, semalam aku kesal karena lama menunggumu pulang,”katanya ringan dengan nada yang selalu bisa melunakkanku.

Aku duduk dan dia mengoleskan roti panggang untukku. Ini satu hal lagi yang membuatku pusing, moodnya berubah-ubah dengan cepat.

“Kim,” tanyaku hati-hati, “ada masalah apa sebenarnya?”

Kim memandangku bingung.

“Ayolah, katakan apa salahku, seminggu ini kamu marah-marah padaku padahal aku tidak merasa sudah melakukan hal yang salah,” kataku frustasi.

Kim menggeleng, “Kamu aneh, deh, ayo makan,” katanya seperti orang amnesia saja.

“Hari ini aku bakal pulang cepat, kita ngobrol, ya,” kataku akhirnya yang disambut dengan senyum cerah Kim.

Siang itu aku pulang dengan bunga mawar putih di tangan, berharap hal ini bisa melunakkan hati Kim. Tapi rupanya aku salah.

“Bunga nggak bisa dimakan, ngapain kamu buang-buang uang?” tanyanya tanpa bangkit dari meja gambarnya begitu melihat bunga itu. Lenyap sudah kemanisannya pagi ini.

Aku menarik nafas panjang, lalu meletakkan bunga itu di sofa. Aku mendekatinya lalu sedikit memijat pundaknya, kebalik, harusnya aku yang dapat pijatan setelah dijadikannya sasaran omelan berhari-hari.

“Kamu ini, padahal kalau cewek lain pasti senang dibawain bunga sama suaminya yang pulang cepat,” kataku.

“APA?! Emang kamu bawain bunga buat siapa lagi?!” tiba-tiba dia marah, sementara aku cuma bisa bengong.

“Loh… tenang dulu, Sayang, bukan itu maksudku,” aku mencoba membujuknya.

“Enggak! Ngapain kamu banding-bandingin aku sama cewek lain terus? Aku capek, Aiden! Dasar playboy kamu!” jeritnya dan aku melihat matanya berkaca-kaca sebelum dia mendorongku keluar kamar kerjanya dan lagi-lagi membanting pintu.

Aku terdiam. Curang, bisa-bisanya dia pakai air mata segala, kalau udah begitu mana bisa aku ngomong apa-apa lagi? Tapi masa dia nangis cuma gara-gara satu kalimat itu, sih? Sebenarnya apa maunya, sih?

Di dalam kudengar dia berbicara menumpahkan kekesalannya di telepon, sepertinya dia menelepon mama. Aku menelan ludah, bisa gawat kalau mertuaku itu salah paham. Kedengarannya Kim sedang bercerita aku berselingkuh. Kurapatkan telingaku dengan daun pintu, berusaha menguping ketika tiba-tiba pintu menjeblak terbuka.

“Nih, mama mau ngomong!” Kim mengacungkan hapenya—setengah melempar, sebetulnya, untung aku bisa menyambar hape itu sebelum jatuh ke lantai. Lalu dia pergi keluar, mungkin berjalan-jalan di pantai.

Aku mendekatkan hape ke telinga, “Halo?”

“Aiden? Ini Mama,” sahut ibu mertuaku di telepon.

“Iya, Ma, tadi Kim udah bilang Mama mau ngomong sama Aiden,” kataku pelan.

Terdengar mama menghembuskan nafas di ujung sana, “Coba sekarang kamu yang ngomong sama Mama, Mama mau tau ada apa, sih, sebenarnya?”

“Ma, mungkin Mama nggak percaya sama Aiden, tapi sumpah, Ma, Aiden juga nggak ngerti kenapa Kim marah-marah terus. Aiden nggak pernah ngelakuin apa-apa yang salah, kok, Ma. Aiden nggak mungkin selingkuh, Ma,” aku berusaha menerangkan.

Seandainya mama lebih percaya pada Kim, habislah aku. Apalagi dulu mama tidak dengan mudah merestuiku menikahi Kim karena aku pernah meninggalkannya lima tahun.

“Iya, iya, Mama percaya, kok, sama Aiden,” kata beliau tak disangka-sangka, “tapi kalian kan udah nikah empat bulan…”

“Bukan, Ma, kami baru nikah empat bulan. Nggak mungkinlah baru empat bulan Aiden udah macam-macam. Lima tahun Kim nggak ada aja Aiden nggak pernah punya hubungan sama perempuan lain,” potongku.

“Bukan itu maksud Mama, kamu dengar dulu, dong. Maksud Mama, coba kamu bawa dia ke dokter dulu,” kata Mama, membuatku cemas.

“Hah? Maksud Mama Kim sakit gitu? Aduh, iya, deh, Ma, bawa ke dokter umum atau spesialis?” tanyaku panik.

“Aduuuh, mantukuu,” keluh Mama geram, “Udah nikah empat bulan, kok, nggak kepikiran, sih? Ya bawa ke dokter kandungan gitu, atau dokter umum juga cukup, kok, cuma sekedar ngetes ini, kok.”

“Heh?” aku bengong. Maksudnya?

“Atau pakai alat tes kehamilan aja juga nggak apa-apa, mudah-mudahan akurat, kok,” Mama masih nyerocos di telepon sementara kepalaku terasa berputar-putar.

Maksud Mama… Maksud Mama… Kim sekarang…?

“Aiden,” tiba-tiba kudengar Kim memanggilku dan aku berbalik, kaget melihat wajahnya pucat, “aku pusing,” gumamnya sebelum ambruk di sofa ruang tengah.

“Oke, Ma, udah dulu ya,” aku memutuskan sambungan dengan panik lalu cepat-cepat menelepon dokter.

***

Ternyata, aku baru tahu kalau gejala orang hamil bukan cuma muntah-muntah dan ngidam duren di musim rambutan doang. Kayaknya, khusus buat Kim ada gejala tambahan berupa mood yang naik turun, tiba-tiba hobi menjadikanku sasaran lempar benda apa saja yang dipegangnya, serta mendadak saja nama cewek lain jadi tabu disebut di depannya, biar itu nama monyet betina peliharaan tetangga juga terlarang keluar dari mulutku.

Ah, biarlah, sekarang setelah tahu alasannya, aku malah bahagia diapain aja sama dia. Dan setelah tahu sedang mengandung, tiap kali moodnya normal Kim akan minta maaf akan kelakuannya dan dengan senang mengelus-elus perutnya yang sebenarnya belum memperlihatkan dia sedang mengandung.

“Sebentar lagi kita akan punya anak, bagaimana menurutmu?” tanyanya.

“Mau nggak mau aku berpikir apa aku sanggup menghidupinya dengan baik. Biaya makannya, popoknya, sekolahnya nanti…” aku menjawab serius.

“Itu kita tanggung berdua,” kata Kim santai, “yang penting kamu bahagia, nggak?”

“Itu nanya atau nanya? Dari dulu aku pengen banget menggandeng anakku, melihatnya belajar jalan, terus kalau dia jatuh dan menangis aku akan bertanya di mana yang sakit terus memeluknya,” paparku senang, ikut mengelus perutnya, “mudah-mudahan dia cepat belajar jalan.”

“Konyol,” tawa Kim, “lahir aja belum udah disuruh jalan. Kamu maunya laki-laki atau perempuan?”

“Sama aja, laki-laki atau perempuan dia pasti manis banget karena dia anak kita,” jawabku.

Uuuh, kalau saja tiap hari di awal kehamilannya mood Kim seperti ini. Sayangnya mood jeleknya lebih mendominasi dan hari ini lagi-lagi aku harus tidur di sofa gara-gara dia marah-marah untuk alasan yang lagi-lagi aku nggak ngerti. Aku cuma bisa pasrah, mengingat bahwa ini semua bawaan si kecil.

“Gimana, nih, Ma? Masa sampai anak kami lahir Kim bakal begini terus?” aku mengadu pada mama di telepon.

“Sabar aja, deh, kan kamu juga yang berbuat, tuh,” tawa mama di telepon.

“Maksud Mama?”

“Iya, kan, semua gara-gara kamu? Gara-gara siapa lagi, coba? Kalau bukan gara-gara kamu dia juga nggak bakalan hamil, kok. Makanya, sekarang terima aja akibatnya, paling cuma di tiga bulan pertama aja, kok,” mama masih tertawa sementara aku takjub, kok ada mertua yang ngasih wejangan ngaco begini.

*Dan dialog di atas diambil dari kisah nyata XD yeah, I have one crazy life*

Oke, deh, demi anakku yang dikandungnya, aku rela diomelin enam kali sehari. Aku rela mesti tidur di sofa tiga kali seminggu. Aku rela mesti nyariin asam pedas telur ikan patin kemana-mana (*bilang aja pengarangnya yang pengen*). Aku rela apa aja, asal Kim dan kandungannya sehat-sehat aja dan sembilan bulan lagi aku bisa mendengar tangisan pertama anak kami. Aku merebahkan diri di sofa, kali ini sambil tersenyum.

Bulan demi bulan berlalu, perut Kim makin lama makin membesar. Benar kata mama, setelah tiga bulan mood Kim enggak lagi turun naik seenak jidat, biar pun dia masih punya macam-macam kelakuan aneh, seperti pengen banget nyoba keliling naik motor gede, yang biar kata ngidam juga nggak bakal aku izinin. Sekarang aku jadi punya kebiasaan baru sebelum pergi dan setelah pulang, yaitu mengelus perut Kim karena bayi kami di dalamnya mulai sering bergerak-gerak dan menendang perut Kim.

“Mungkin dia laki-laki, tendangannya kuat sekali,” kata Kim.

“Mungkin perempuan, tapi tomboy kayak kamu dulu,” kataku.

Kami sepakat tidak akan melihat apakah dia laki-laki atau perempuan lewat scan USG, biar saja hal itu jadi kejutan.

“Kalau gitu peralatan dan dekor kamar bayinya warna netral aja, ya… biru?” usul Kim saat sedang memilih-milih pakaian bayi.

“Gimana kalau pink?” tanyaku sambil mengambil selimut bayi berwarna semburat merah muda, “Toh, masih bayi ini, dia nggak bakalan bisa protes soal warna.”

Kim memandangku heran, “Bukannya kamu benci warna pink?”

“Sekarang aku suka, apalagi warna pink yang seperti ini,” sahutku.

“Kenapa?”

Aku melingkarkan tangan di pinggangnya, “Soalnya warnanya sama dengan warna pipimu.”

“Hah?”

“Iya,” aku mendekatkan bibir di telinganya lalu menambahkan dalam bisikan, “itu warna pipimu waktu pertama kali kucium.”

Dia menjauhkan wajah karena kaget, lalu memukulku pelan, “Sayang, ini di mall! Kalau orang denger, kan, bikin malu aja.”

Aku tersenyum melihat reaksinya yang langsung salah tingkah begitu, “Makanya aku bisikin. Emang bener gara-gara itu sekarang aku suka pink, kok.”

“Apa, sih? Udah, nggak usah ngaco, deh,” dia meringis malu, wajahnya memerah.

Begitulah, tak terasa hari berganti dan akhirnya penantian kami sudah memasuki bulan kesembilan.

Aku jadi dag-dig-dug tiap hari, takut kalau-kalau bayinya lahir di saat aku sedang di tempat kerja. Setiap hari aku bekerja secepat kilat, pokoknya gimana bisa pulang cepat, deh. Menurut perhitungan dokter, kelahirannya bisa kapan saja dalam minggu ini. Aku tadinya mau ngambil cuti supaya bisa nemenin Kim dua puluh empat jam full di rumah, tapi kata Kim itu berlebihan. Apalagi papa dan mama sejak minggu lalu datang ke Sulawesi dalam rangka menunggu kelahiran cucu pertama mereka.

“Mau dikasih nama apa anak kalian nanti?” tanya Papa saat kami selesai makan malam dan aku sedang mengangkat piring-piring kotor ke bak cuci.

“Aiden maunya nama yang ada hubungannya dengan laut… kalau Kim maunya nama yang ada hubungannya dengan langit,” jawab Kim sambil mengikutiku menghampiri bak cuci piring. “Udah, duduk aja, biar aku yang cuci piringnya,” katanya sambil mendorongku kembali duduk di meja makan menemani Papa dan Mama.

“Kami juga tanya Casey, tapi nama yang diusulkannya aneh-aneh semua,” kataku sambil tertawa mengingat hebohnya Casey di telepon beberapa hari lalu.

“Iya, tuh, Casey juga nggak sabar, pengen punya ponakan, katanya. Kapan, sih, anak itu mau mulai serius memikirkan untuk berkeluarga?” timpal Mama.

“Mama, kan, tahu Casey emang begitu. Mungkin seumur hidup dia nggak bakal nikah,” ucap Kim sambil mencuci piring.

“Tapi kalian kan belum tahu anak ini laki-laki atau perempuan, gimana bisa nentuin nama?” tanya Papa.

“Yah, makanya kami nyiapin nama buat kemungkinan yang mana aja. Iya, kan, Sayang?” aku memanggil Kim.

PRAAAANG!!

Piring yang sedang dicucinya jatuh dan pecah. Aku merasa dejavu, kejadian ini persis dengan yang terjadi di flat Casey enam tahun lalu, saat Kim kaget ketika pertama kali aku memanggilnya ‘Sayang’. Tapi masa, sih, sekarang dia kaget lagi? Dia kan udah biasa kupanggil begitu. Dia berbalik pelan, wajahnya sedikit shock dan dia menatapku dalam-dalam.

Melihat ekspresinya aku tahu dia bukannya kaget mendengarku memanggilnya ‘Sayang’.

“Aiden…” panggilnya sambil memegangi perutnya.

Aku langsung menghampirinya, “Ada apa, Sayang?”

“Eeeh, bayinya… kurasa sekarang waktunya,” dia berusaha berbicara dengan nada setenang mungkin, tapi aku melihatnya berkeringat menahan sakit.

“Ketubannya pecah!” Mama berseru tertahan.

Berikutnya tahu-tahu aku sudah menggendong Kim ke mobil dan melarikannya ke rumah sakit.

***

Sekarang pukul satu dini hari dan aku berdiri mondar-mandir kayak setrikaan di luar ruang bersalin. Menunggu dengan perasaan gembira, takut, dan cemas bercampur jadi satu. Mama juga mondar-mandir bersamaku, sementara Papa duduk tenang dibalik koran yang dibacanya terbalik.

Sudah berjam-jam kami menunggu, aku mulai takut, sepertinya ada yang tidak beres…

Dokter keluar dari ruangan, tapi aku tidak mendengar suara tangisan.

“Prosesnya sulit, kita terpaksa operasi, kalau tidak nyawa ibu dan bayinya dalam bahaya. Apakah diantara Anda ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan Ibu Kim? Untuk berjaga-jaga…”

Jantungku berdebar keras, tangan dan kakiku terasa dingin, aku berdiri mematung sementara papa ikut suster ke laboratorium untuk menyumbangkan darahnya. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhku. Tidak, tidak, tenanglah, semua akan baik-baik saja… sebentar lagi aku akan bertemu dengan istri dan anakku dan kami akan tersenyum bahagia… sebentar lagi… semoga…

***

Sulawesi , satu tahun kemudian.

Seorang bocah perempuan kecil dibawa berjalan-jalan di pantai oleh ayahnya yang mengenggam kedua tangannya erat-erat sambil setengah membungkuk karena bocah itu jelas belum cukup tinggi untuk dapat menggapai tangan sang ayah jika ayahnya berjalan tegak. Bocah yang kira-kira baru berumur satu tahun itu tampak sedang belajar berjalan, langkahnya lambat, goyah, dan satu-satu, namun tidak satu pun tanda kebosanan terlihat di wajah ayahnya itu.

Bocah itu tertawa dan melepaskan genggamannya, tanda dia ingin mencoba berjalan dengan usahanya sendiri. Sang ayah tersenyum dan memperhatikan anaknya melangkah satu-satu sambil sedikit berayun ke kanan dan kiri, belum bisa menjaga keseimbangannya sepenuhnya. Ayahnya mengiringi tiap langkah si bocah, tangannya terulur, siap menjaga kalau-kalau bocah itu terjatuh.

Dan akhirnya, setelah berjalan tujuh langkah, si bocah jatuh terduduk di pasir. Tidak ada luka, hanya saja terjatuh membuatnya terkejut dan mulai mengalirlah air matanya. Ayahnya tersenyum dan menggendongnya.

“Cup cup cup, anak Ayah jatuh, sakit, Nak? Mana yang sakit? Di sini? Di sini?” ayahnya memeluk dan mencium si bocah yang pelan-pelan menghentikan air matanya.

“Nggak apa, anak Ayah hebat, kok. Nah, sakitnya hilang, kan?” kata ayahnya sambil mengangkat dan mengayun-ayunkan si bocah di udara. Segera saja si bocah lupa akan tangisannya dan dia tertawa bersama ayahnya.

Tiba-tiba sebuah taksi berhenti di dekat mereka dan turunlah seorang pria berpenampilan modis.

“Sora! Paman Casey datang, aduuh, ponakanku manis sekali! Aiden, sini, biar aku main sama Sora,” pria yang baru saja datang itu mengulurkan tangan dan mengambil si bocah dari gendongan ayahnya.

Digendong oleh orang yang baru dilihatnya, biasanya anak-anak akan menangis, tapi Sora tertawa senang digendongan Casey.

“Dia menyukaimu, padahal biasanya dia nangis kalau ketemu orang baru. Sora, Ayah cemburu,” keluh Aiden sambil mencubit pipi Sora.

“Iya, dong, auraku kan sama dengan mamanya. Tolong bawa koperku,” pintanya seenaknya.

“Kapan sampai?” tanya Aiden saat mereka berjalan menuju rumah.

“Baru saja, aku langsung suruh supir taksinya ngebut, aku nggak sabar pengen ketemu Sora, dia mirip kamu, mudah-mudahan kalau udah gede dia nggak galak kayak Kim, ya, kan? Sora, jangan jadi cewek galak kayak mamamu ya?” kata Casey sambil memainkan tangan Sora.

“Ngomong-ngomong soal Kim, aku ikut sedih,” kata Casey pelan.

Aiden hanya menunduk dan tersenyum menanggapinya.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Casey hati-hati.

“Baik, aku sudah belajar menerima kenyataan sekarang. Yang penting Kim selamat,” jawab Aiden.

“Tapi berarti Sora nggak bisa dapat adik. Sora, kamu selamanya akan jadi anak tunggal, pasti kamu dimanja sama ayah ibumu, ya,” kata Casey gemas pada Sora yang memainkan rambut Casey yang sekarang dicat pirang itu.

*Ini aku tulis pas Bonamana baru keluar, jadi ceritanya rambut Heechul baru dicat pirang*

“Memang, sih, impianku punya tiga anak. Kim tahu itu dan cukup tertekan gara-gara itu. Tapi nggak apa, biar pun sekarang rahim Kim sudah diangkat, yang penting Kim dan Sora sehat. Bagiku itu adalah keajaiban dan itu sudah sangat lebih dari cukup,” senyum Aiden.

“Casey?! Kau sudah datang?” seru seorang wanita yang berdiri menyambut mereka di pintu rumah, masih memakai celemek.

“Jangan ungkit-ungkit masalah ini di depan Kim, dia masih sedih soal ini,” bisik Aiden sambil menyikut Casey sementara Kim menghampiri mereka. Casey tidak sempat menjawab dan hanya mengangguk karena Kim sudah terlalu dekat.

“Gimana? Anakku cantik, kan?” tanya Kim pada Casey sambil  melepaskan celemeknya dan mengambil Sora yang menjulurkan badan minta digendong begitu melihat ibunya datang.

“Iya, dong, soalnya dia mirip bapaknya,” tawa Casey, “dia udah bisa ngomong apa aja? Bisa menggambar nggak dia? Atau main musik?” tanya Casey bersemangat.

“Casey, dia baru satu tahun lebih sedikit,” tawa Aiden.

“Ah, benar juga, aku terlalu bersemangat merasa seperti dapat anak juga,” tawa Casey.

“Makanya, cari istri, jangan baju terus diurusin,” sela Kim.

“Iya, iya, gampang, kan udah aku bilang biar umurku empat puluh aku bakal masih laku. Ngomong-ngomong, aku lapar,” ujar Casey.

“Benar, ini juga sudah waktunya Sora minum susu,” Aiden memperhatikan Sora yang mulai merengek-rengek.

“Aku udah selesai masak, kok, masuk aja dan makan sesukamu,” kata Kim sambil medahului masuk karena Sora mulai menangis.

“Habis makan aku mau main sama Sora lagi, ya,” ujar Casey bersemangat.

“Ngomong-ngomong, kopermu berat sekali, apa isinya?” tanya Aiden sambil mengangkat koper milik Casey menaiki tangga teras rumahnya.

“Baju bayi, rancanganku, kira-kira lima puluh setel, semuanya buat Sora, nanti setelah makan kita coba dan foto satu-satu,” jawab Casey sambil mengambil alih kopernya setelah melepaskan sepatunya.

“Apa kau berencana menggelar fashion show anak kami? Lalu oleh-oleh untuk kami mana?” tuntut Aiden.

“Apa kalian ponakanku? Enggak, kan? Kalian nggak imut lagi, ngapain aku bawain oleh-oleh? Oleh-olehnya cuma buat Sora,” tawa Casey sambil menyeret kopernya dan masuk.

“Kurasa aku bisa terima alasan itu…” Aiden mengangguk-angguk, senang karena Casey yang bebas, nyentrik, dan penuh ide gila itu kelihatan sangat menyayangi anaknya. Aiden mendongak, menatap bulan dan bintang-bintang yang mulai menampakkan diri, di wajahnya terukir senyum bahagia, lalu dia menyusul masuk dan menutup pintu.

***

Sesange garyeojin noonmool heulligo isseul ddaedo

Noonbooshin geudaega isseo himnaeyeo wooseul soo inneun hangsang HAPPY TOGETHER

Neon naui jeonbooya neon naui choigoya

Nae saram geudae nooga mweoraedo neon nae sarang~~~

Jogeum deo gakkai sarang neowa naega jigeum idaero eonjerado gyeote isseo

Ddaeroneun jichyeoseo apeugo himdeulmyeon geujeo neon gidaemyeon dwae Uhh~

An dwendago malgo shilpaehanda malgo (sarang haengbok jigeumbooteo)

Nooga mollajweodo geudaen hal soo ijjyo (sarang haengbok yeongweontorok)

Ijen byeonchi malgo hamkke wooseobwayo (sarang haengbok neowa naega)

Yeogi inneun modoo hangsang haengbokhagi (sarang haengbok hamkke hagi)

Yeongweonhi HAPPY TOGETHER

Even when the tears that are hidden from the world flow

Because the dazzling you is with me, i can gain strength and laugh again always, HAPPY TOGETHER

You’re my everything… you’re my best..

My person… no matter what anyone says, you’re my love~~

A little bit closer, love… i’ll always be by your side so we’re like how we are now

When you’re feeling exhausted and hurt and pained… all you have to do is lean on me

Don’t say that you can’t, don’t say that you’ll fail (love, happiness, from now on)

Even if no one acknowledges you, you can do it (love, happiness, forever and ever)

Now don’t change and smile all together  (love, happiness, you and me)

Everyone here will now always be happy (love, happiness, doing it together)

Forever HAPPY TOGETHER

[Super Junior – Happy Together]

***

TAMAT

Daaan seperti yang aku ungkit sedikit di atas, cerita ini masih punya banyak POV yang semuanya endingnya beda-beda karena tokoh utamanya ganti… semuanya ada di kepala, mungkin suatu saat akan aku post, tapi untuk sementara ADFL break dulu, takut chingudeul pada bosen bacanya =D

Ohya, kalau mau contact saya, silakan via twitter @heeshinju atau dari heeshinju.wordpress.com

Sampai ketemu di ff selanjutnya… Goma wo, sarang hae…

11 Comments (+add yours?)

  1. syalala
    Jan 18, 2011 @ 06:16:26

    neomu johahaeee XD ngakak sambil terharu bacanya. Itu mertuanya pada nyentrik banget ya hahaha “sementara Papa
    duduk tenang dibalik koran
    yang dibacanya terbalik”
    X’D keren banget ffnya. Apa ada yang versi casey POV?

    Reply

  2. May4teukie
    Jan 18, 2011 @ 09:13:19

    Kasian kim ga bs py anak lg.
    Tp syukur slamet..

    Reply

  3. mei.han.won
    Jan 18, 2011 @ 11:17:34

    ending yg memuaskan….hehehe

    Reply

  4. LopeLopeKJW
    Jan 18, 2011 @ 12:40:20

    aigoo.. hepi ending, walopun kim’a gak bakal bisa punya anak lagi
    tapi satu anak juga cukup kok
    itung2 ikut program pemerintah,
    dikit anak
    he 🙂
    chullie oppa,
    eh
    casey, cepet lah kau punya pasangan 🙂

    Reply

  5. bini Teuki
    Jan 18, 2011 @ 14:15:17

    hhah, akhirnya selesai juga ff ny ^^
    uwaah daebak ^^ sora itu sakit ya? atau baru bisa jalan?
    kkk heechul oppa emng gila #plak emng anakny hae mau diikutin Fashion show? kk XD

    keep writing chingu^^ aku tunggu ff kamu selanjutnya:)

    Reply

  6. leedantae
    Jan 18, 2011 @ 21:41:53

    Lucu bgt 🙂
    Suka akhirnya

    Reply

  7. Ocha
    Jan 19, 2011 @ 20:17:16

    Ortunya Kim nyentrik ih, keren, hahaha…
    Minta POV yang laen dong…

    Reply

  8. imma
    Oct 27, 2015 @ 00:47:28

    Aku deg2an baca bagian menjelang akhir. Aku takut aja,kim meninggal.. Untung gak sesuai bayanganku..
    Sekali lagi,maaf baru komen di part akhir..

    Reply

  9. byr
    Jan 05, 2017 @ 00:42:46

    JEMPOLLLL

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: