~~4 hati, 3 cinta, 2 pasangan, 1 tujuan–>Bahagia~~ (part 2)

author: dilahryeo (park soojin)

Selama 5 tahun Sungmin oppa selalu menolak setiap aku membahas masalah pernikahan, ia selalu menunda dan menunda. Sampai akhirnya aku mendapat kabar dari seorang temanku, Sungmin oppa sedang menunggu seseorang. Ia menunggu seorang gadis untuk menikah, bukan dengannya tentunya, dengan siapapun asal ia segera menikah, baru saat itu ia akan menikahiku. Konyol. Hanya satu kata itu yang ad di otakku saat temanku memberitahu hal ini. Aku berusaha untuk tidak mempercayainya, siapa gadis yang telah membuat Sungmin oppa menunggu seperti itu.

Aku mencari tau tentang gadis itu, dan akhirnya aku tau. Gadis itu adalah Park SooJin, cinta pertama Sungmin oppa.

******

Sungmin pov

Aku menatap SooJin yang sedang menyantap makan siangnya perlahan. Gadis itu duduk sendiri, masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Wajahnya tampak keras dan tegas, tidak seperti SooJin yang selama ini kukenal, SooJin yang lemah dan rapuh. Aku memandangnya dari jauh, dari sudut cafeteria dan terhalang sebuah pohon kecil yang menjadi bagian dari dekorasi kafetaria ini. Aku memang sengaja tidak menemuinya, hanya ini yang bisa kulakukan memantaunya dari jauh.

Park SooJin, cinta pertamaku. Tak pernah bisa kulupakan dari pikiranku, tak bisa kuhilangkan dari hatiku. Ia memiliki tempat istimewa di hatiku, tak dapat tergantikan, bahkan oleh Han Seung MI tunanganku. Kalian pasti menganggapku lali-laki bejat bukan. Tapi coba kalian lihat gadis yang sedang makan sendirian itu. Ia selalu begitu selama 5 tahun ini, sendirian. Patah hati membuatnya menutup hatinya selamanya, dan merubah karakter pribadinya. Ia menjadi seorang penyendiri, dan selalu sibuk mengejar karirnya menjadi seorang peneliti. Kini ia sudah menjadi ketua tim R n D (research and Development) dari sebuah produsen pertanian terkemuka di negri ini. Karirnya sebagai peneliti begitu gemilang, bertahun-tahun hanya menjadi bagian dari tim, kini ia sudah bisa menjadi ketua tim. Tapi ia masih tetap sendiri. Dan ini membuatku menguatkan tekad, aku akan menunggunya, sampai ia menemukan seseorang yang akan membuatnya bahagia, baru aku akan mengejar kebahagiaanku seutuhnya bersama Han Seung Mi.

Han Seung Mi, gadis yang selama ini mendampingi hidupku, yang amat sangat menyayangiku. Terkadang ada perasaan bersalah yang teramat besar dalam hatiku, melupakannya sejenak saat aku berkonsentrasi memikirkan hidup cinta pertamaku yang menjadi beku karena patah hati. Entah mendapat keyakinan dari mana, aku merasa Seung Mi akan dengan setia menungguku. Pada waktunya nanti aku pasti akan membahagiakannya dengan seluruh hati dan hidupku. Tunggu aku di batas waktu Seung Mi-ya, dan semua akan menjadi indah pada waktunya.

Ryeowook pov

Aku menerima sebuah foto yang diangsurkan oleh ayahku, foto seorang gadis manis yang sedang tersenyum. Namun ada kekosongan yang terpancar dari wajahnya, seolah senyum itu dipaksakan untuk menutupi sesuatu yang teramat berat untuk dipikulnya sendirian.

“Gadis itu bernama Park SooJin, anak pertama keluarga Park JoongSoo, relasi bisnis sekaligus sahabat terbaik ayah.” Ucap ayah saat aku sedang memandangi foto gadis itu.

“Park SooJin,” gumamku pelan, membuat ku teringat pada suatu kejadian di masa lalu. Tentang seorang gadis yang selalu ada dipikiranku selama bertahun-tahun.

Ayah meninggalkanku sendiri sementara aku masih memandang foto gadis di tanganku, aku tidak menyadari kepergian ayah karena sibuk dengan pikiranku sendiri. Tiba2 pikiranku tertuju pada satu lembar foto yang pernah kuselipkan dalam buku harian lamaku beberapa tahun yang lau. Aku segera menghampiri laci paling bawah dari lemari di sisi kamarku, kemudian mulai mengobrak-abrik isinya.

Dapat, buku harian itu masih tersiampan rapi di bagian laci terbawah, diantara buku-buku catatanku semasa kuliah. Perlahan aku membuka buku harian ku yang kini sudah tampak kumal termakan waktu. Buku itu membuka tepat di tengah, di tempat aku menyelipkan selembar foto hasil kamera polaroid. Aku mengambil foto tersebut dan mendekatkannya padaku agar sosok dalam foto itu terlihat jelas, foto seorang gadis dengan latar belakang pantai berpasir putih di belakangnya. Aku membaca sebuah tulisan di bawah foto tersebut yang merupakan tulisan tanganku sendiri, ‘Park SooJin 28 Desember 2010’.

Kini aku mensejajarkan foto yang ku barusan kuambil dengan foto yang tadi diberikan oleh ayah. Aku tersenyum lebar, ternyata memang sama, keduanya foto gadis yang sama, foto seorang gadis manis yang sedang tersenyum. Hanya saja ada yang berbeda dengan senyumannya. Di foto lama itu, senyuman gadis itu tampak cerah dan ia terlihat sangat bahagia. Kenapa senyuman gadis itu kini berbubah? Tanpa sadar aku meraba dadaku, ada yang berdetak kencang dsana, seakan menuntunku untuk segera berlari menemui ayahku.

“Aku mau abeoji, tapi biarkan aku melakukannya dengan caraku sendiri.” Ucapku setelah sampai di depannya, setelah berhasil mengatur napasku yang terengah-engah karena berlari.

“Baiklah, kau yang paling tau apa yang harus kau lakukan. Tapi ayah sungguh berharap kau berhasil melakukannya.” Jawab ayah bijak.

“Kamsahamnida abeoji, jeongmal kamsahamnida.” Ucapku senang sambil membungkukkan badanku berkali-kali.

SooJin pov

Aku menatap Omma dan Appa yang memandangku tak percaya, seakan aku baru saja mengatakan hal yang mustahil di dunia.

“Kau serius nak? Benar2 serius?” Tanya Omma sangsi.

“Ne omma, bukankah 5 tahun yang lalu aku sudah mengatakannya pada omma. Aku akan meminta hal ini saat aku merasa siap. Terima kasih untuk Appa dan Omma yang selama ini dengan sabar menunggu keputusanku.” Jawabku sopan

“Ahh, SooJin~aa, omma terlalu bahagia mendengarnya, kau tau itu kan nak,” Omma membawaku dalam pelukannya, mianhe omma, mianhe telah membuat kalian khawatir selama ini.

5 tahun yang lalu, saat aku terpuruk karena patah hati, aku memutuskan untuk tidak pernah mencoba berhungan dengan segala yang bernama cinta. Saat itu aku begitu hancur, patah hati ap yang membuatmu begitu merasa sakit, seperti itulah perasaanku. Sampai akhirnya aku berkata pada orang tuaku, pada saat nya nanti, saat aku sudah merasa siap, tolong carikan aku seorang laki-laki untuk menjadi suamiku. Ya, aku memang minta dijodohkan, menikah dengan laki-laki manapun yang dipilih orangtuaku untuk dijodohkan padaku. Karena aku ingin memberikan keturunan untuk keluargaku. Aku tidak mau mencari cintaku sendiri. Aku anak tunggal, aku tau omma dan appa pasti mengharapkanku untuk memberi mereka cucu, untuk itulah aku mengatakan hal tersebut pada mereka.

Dan setelah 5 tahun menunggu, setelah 5 tahun kuputuskan untuk tenggelam dalam penelitian-penelitan ilmiah yang aku ikuti. Berusaha menyibukkan diri untuk melupakan segala sakit hatiku, kini aku merasa siap untuk mengatakan bahwa aku sudah bersedia untuk menikah. Aku tidak mau menunda lagi, usia Appa dan Omma yang membuatku memutuskan ini, mereka yang baru mendapatkan aku setelah 10 tahun menikah, mereka sudah tidak muda lagi. Rambut mereka sudah bercampur antara hitam dan putih. Aku tidak ingin membuat mereka menggu lebih lama lagi. Tidak ada hal lain yang menjadi keinginanku saat ini, selain melihat mereka bahagia, melihat mereka bisa tenang melihatku. Ya, aku tau selama 5 tahun ini mereka sangat khawatir dengan keadaanku. Kekhawatiran tampak jelas di wajah mereka, dan itu semakin membuatku merasa menjadi anak yang tak berguna. Sudah hampir 26 tahun aku membuat mereka repot, kini saatnya mereka melepasku, dan menghabiskan masa tua mereka dengan tenang dan bahagia, tanpa perlu memikirkan aku dengan segala permasalahanku.

********

Seung Mi pov

Aku merasa kaget memandang ruangan yang terbuka di hadapanku. Aku mencoba untuk tidak percaya dengan apa yang kulihat. Seperti nya malam ini akan menjadi malam yang penuh kejutan untukku.

Benar saja, ia melamarku, Sungmin oppa melamarku untul menjadi istrinya. Untuk menjadi satu-satunya wanita di hati dan hidupnya.

Sebuah cincin telah melingkar di jari manisku, dengan alunan musik klasik yang lembut mengiringi, Sungmin oppa menciumku hangat, ciuman yang terasa sangat indah seumur hidupku. Sarangheyo Sungmin oppa, jeongmal sarangheyo, yeongwonhi. (^_^)

********

SooJin pov

Appa mengangsurkan sebuah amplop putih padaku, tidak ada satu huruf pun yang tertera pada amplop putih tersebut, hanya saja amplop tersebut tertutup rapat, dan di bagian tengah tampak sedikit tebal. Jelas ini bukan amplop kosong, pikirku.

“Bukalah di kamarmu” perintah appa lembut, aku hanya mengangguk. Kemudian berbalik dan bergegas menuju kamarku. Tidak sabar dengan isi amplop putih tersebut.

Amplop itu berisi selembar foto, dengan sebuah tulisan di balik foto tersebut. “Tepi Sungai Han, 11 Januari 2015, 04.00 PM”

Foto itu sendiri berisi sosok seorang pria tampan yang sedang tersenyum sambil mengangkat dua jari tengah dan telunjuknya. Nugu? Batinku bertanya-tanya.

“Dialah orangnya”, sebuah suara membuatku menoleh kea rah pintu kamar, Omma dan Appa suda berdiri dsana, keduanya tersenyum. “Cepat bersiap-siap karena 2 jam lagi pertemuannya” lanjut omma sambil tetap tersenyum penuh arti.

AKu segera melihat kalender dan jam dinding di kamarku, 11 Januari, 02.00 PM. Benar seperti yang omma katakan, pertemuannya 2 jam lagi. Tapi kenapa omma bisa tau, aku memandang omma heran, amplopnya kan tadi tertutup rapat.

“Omma yang measukkan foto itu ke amplop dan menutupnya rapat,” jelas omma seakan membaca keherananku, seketika itu juga aku tersenyum lebar.

“Kurae, aku akan bersiap-siap, kalian tunggu saja aku di ruang tengah, aku akan berdandan secantik mungkin”. Kataku sambil mengedipkan sebelah mata kemudian mendorong mereka pelan dri depan pintu kamarku.

Tepi sungai Han 03.55 PM

Aku memang sengaja datang lebih awal, untuk memberikan kesan pertama yang baik untuknya. Kupikir perjodohan ini akan terasa monoton, pria datang bersama orang tuanya, kemudian kami duduk bersama di ruang tamu, dan pembicaraan basa-basi yang sangat membosankan. Klasik, seperti perjodohan dalam film. Tapi ini berbeda, pria itu datang sendiri, tidak ke rumah ku, tapi di tempat seperti ini, tepi sungai Han. Tempat ini selalu ramai setiap hari nya, riuh oleh anda dan tawa gembira. Aku senang melihat pemandangan dsini, air sungai yang mengalir jernih, anak-anak kecil yang berlarian, dan orang-orang yang tersenyum dan tertawa dengan tulus.

Aku tersenyum memandang semua itu, sambil mencoba meredam perasaan yang tiba-tiba bergejolak di dadaku. Aku merasa seperti menunggu seseorang untuk berkencan. Perasaan seperti apa ini, bukankah aku telah menutup hatiku untuk segala hal yang berhubungan dengan cinta, tapi kenapa kali ini terasa berbeda. Tanpa sadar aku melirik jam tanganku, 04.10. pria itu telat 10 menit pikirku.

“Aku sudah berdiri disini sejak 10 menit yang lalu, dan aku tidak terlambat”. Sebuah suara membuat ku menoleh ke samping kiriku. Seorang pria sedang tersenyum manis padaku, senyum itu, dan wajah itu, dia pria di foto.

“Ya, aku pria yang difoto, yg memintamu datang kesini. Annyong, Kim Ryeowook imnida. Senang sekali bertemu denganmu”. Ucap pria di depan ku ramah, ia sedikit membungkukkan badannya saat memperkenalkan dirinya.

“Anyyong, Park SooJin imnida. Kau membuatku kaget dengan ucapanmu yang tiba-tiba, tapi aku juga senang bisa bertemu denganmu.” Jawabku beusaha tak kalah ramah. Namun pria di hadapanku malah tergelak, tulang pipinya yang menonjol terlihat jelas saat ia tertawa, membuat pria itu tampak semakin menawan. Aisshh, pikiran apa ini.

“Waeyo? Apa aku salah bicara?”

“Mianhe, aku tak bermaksud menertawakanmu, hanya saja, kau tampak sangat lucu”.

“Hah?? Apanya yang lucu, kau pikir aku badut lucu sampai membuatmu tertawa begitu”. Jawabku sebal, aihh, pria ini ternyata menyebalkan.

“Ahh, jangan ngambek begitu SooJin~aa, walalupun masih terlihat cantik tapi aku lebih suka melihatmu tersenyum, seperti saat kau memandang anak-anak yang berlarian tadi”.

“Jadi sejak tadi kau memperhatikanku, aisshhh, kau seperti penguntit saja”.

“aku hanya tidak ingin mengganggumu, kau sepertinya sangat menikmati pemandangan di depanmu. Jadi aku hanya bisa memperhatikanmu dalam diam”. Jawab pria itu yang menurutku hanya alasannya saja.

“Alasan, jadi ap maumu?” desisku.

“Aku hanya ingin bicara, tidak disini, tapi di bangku panjang di sebelah sana.”jawabnya sambil menunjuk ke satu arah.

********

SooJin pov

Aku menatap Omma dan Appa yang memandangku tak percaya, seakan aku baru saja mengatakan hal yang mustahil di dunia.

“Kau serius nak? Benar2 serius?” Tanya Omma sangsi.

“Ne omma, bukankah 5 tahun yang lalu aku sudah mengatakannya pada omma. Aku akan meminta hal ini saat aku merasa siap. Terima kasih untuk Appa dan Omma yang selama ini dengan sabar menunggu keputusanku.” Jawabku sopan

“Ahh, SooJin~aa, omma terlalu bahagia mendengarnya, kau tau itu kan nak,” Omma membawaku dalam pelukannya, mianhe omma, mianhe telah membuat kalian khawatir selama ini.

5 tahun yang lalu, saat aku terpuruk karena patah hati, aku memutuskan untuk tidak pernah mencoba berhungan dengan segala yang bernama cinta. Saat itu aku begitu hancur, patah hati ap yang membuatmu begitu merasa sakit, seperti itulah perasaanku. Sampai akhirnya aku berkata pada orang tuaku, pada saat nya nanti, saat aku sudah merasa siap, tolong carikan aku seorang laki-laki untuk menjadi suamiku. Ya, aku memang minta dijodohkan, menikah dengan laki-laki manapun yang dipilih orangtuaku untuk dijodohkan padaku. Karena aku ingin memberikan keturunan untuk keluargaku. Aku tidak mau mencari cintaku sendiri. Aku anak tunggal, aku tau omma dan appa pasti mengharapkanku untuk memberi mereka cucu, untuk itulah aku mengatakan hal tersebut pada mereka.

Dan setelah 5 tahun menunggu, setelah 5 tahun kuputuskan untuk tenggelam dalam penelitian-penelitan ilmiah yang aku ikuti. Berusaha menyibukkan diri untuk melupakan segala sakit hatiku, kini aku merasa siap untuk mengatakan bahwa aku sudah bersedia untuk menikah. Aku tidak mau menunda lagi, usia Appa dan Omma yang membuatku memutuskan ini, mereka yang baru mendapatkan aku setelah 10 tahun menikah, mereka sudah tidak muda lagi. Rambut mereka sudah bercampur antara hitam dan putih. Aku tidak ingin membuat mereka menggu lebih lama lagi. Tidak ada hal lain yang menjadi keinginanku saat ini, selain melihat mereka bahagia, melihat mereka bisa tenang melihatku. Ya, aku tau selama 5 tahun ini mereka sangat khawatir dengan keadaanku. Kekhawatiran tampak jelas di wajah mereka, dan itu semakin membuatku merasa menjadi anak yang tak berguna. Sudah hampir 26 tahun aku membuat mereka repot, kini saatnya mereka melepasku, dan menghabiskan masa tua mereka dengan tenang dan bahagia, tanpa perlu memikirkan aku dengan segala permasalahanku.

********

Seung Mi pov

Aku merasa kaget memandang ruangan yang terbuka di hadapanku. Aku mencoba untuk tidak percaya dengan apa yang kulihat. Seperti nya malam ini akan menjadi malam yang penuh kejutan untukku.

Benar saja, ia melamarku, Sungmin oppa melamarku untul menjadi istrinya. Untuk menjadi satu-satunya wanita di hati dan hidupnya.

Sebuah cincin telah melingkar di jari manisku, dengan alunan musik klasik yang lembut mengiringi, Sungmin oppa menciumku hangat, ciuman yang terasa sangat indah seumur hidupku. Sarangheyo Sungmin oppa, jeongmal sarangheyo, yeongwonhi. (^_^)

********

SooJin pov

Appa mengangsurkan sebuah amplop putih padaku, tidak ada satu huruf pun yang tertera pada amplop putih tersebut, hanya saja amplop tersebut tertutup rapat, dan di bagian tengah tampak sedikit tebal. Jelas ini bukan amplop kosong, pikirku.

“Bukalah di kamarmu” perintah appa lembut, aku hanya mengangguk. Kemudian berbalik dan bergegas menuju kamarku. Tidak sabar dengan isi amplop putih tersebut.

Amplop itu berisi selembar foto, dengan sebuah tulisan di balik foto tersebut. “Tepi Sungai Han, 11 Januari 2015, 04.00 PM”

Foto itu sendiri berisi sosok seorang pria tampan yang sedang tersenyum sambil mengangkat dua jari tengah dan telunjuknya. Nugu? Batinku bertanya-tanya.

“Dialah orangnya”, sebuah suara membuatku menoleh kea rah pintu kamar, Omma dan Appa suda berdiri dsana, keduanya tersenyum. “Cepat bersiap-siap karena 2 jam lagi pertemuannya” lanjut omma sambil tetap tersenyum penuh arti.

AKu segera melihat kalender dan jam dinding di kamarku, 11 Januari, 02.00 PM. Benar seperti yang omma katakan, pertemuannya 2 jam lagi. Tapi kenapa omma bisa tau, aku memandang omma heran, amplopnya kan tadi tertutup rapat.

“Omma yang measukkan foto itu ke amplop dan menutupnya rapat,” jelas omma seakan membaca keherananku, seketika itu juga aku tersenyum lebar.

“Kurae, aku akan bersiap-siap, kalian tunggu saja aku di ruang tengah, aku akan berdandan secantik mungkin”. Kataku sambil mengedipkan sebelah mata kemudian mendorong mereka pelan dri depan pintu kamarku.

Tepi sungai Han 03.55 PM

Aku memang sengaja datang lebih awal, untuk memberikan kesan pertama yang baik untuknya. Kupikir perjodohan ini akan terasa monoton, pria datang bersama orang tuanya, kemudian kami duduk bersama di ruang tamu, dan pembicaraan basa-basi yang sangat membosankan. Klasik, seperti perjodohan dalam film. Tapi ini berbeda, pria itu datang sendiri, tidak ke rumah ku, tapi di tempat seperti ini, tepi sungai Han. Tempat ini selalu ramai setiap hari nya, riuh oleh anda dan tawa gembira. Aku senang melihat pemandangan dsini, air sungai yang mengalir jernih, anak-anak kecil yang berlarian, dan orang-orang yang tersenyum dan tertawa dengan tulus.

Aku tersenyum memandang semua itu, sambil mencoba meredam perasaan yang tiba-tiba bergejolak di dadaku. Aku merasa seperti menunggu seseorang untuk berkencan. Perasaan seperti apa ini, bukankah aku telah menutup hatiku untuk segala hal yang berhubungan dengan cinta, tapi kenapa kali ini terasa berbeda. Tanpa sadar aku melirik jam tanganku, 04.10. pria itu telat 10 menit pikirku.

“Aku sudah berdiri disini sejak 10 menit yang lalu, dan aku tidak terlambat”. Sebuah suara membuat ku menoleh ke samping kiriku. Seorang pria sedang tersenyum manis padaku, senyum itu, dan wajah itu, dia pria di foto.

“Ya, aku pria yang difoto, yg memintamu datang kesini. Annyong, Kim Ryeowook imnida. Senang sekali bertemu denganmu”. Ucap pria di depan ku ramah, ia sedikit membungkukkan badannya saat memperkenalkan dirinya.

“Anyyong, Park SooJin imnida. Kau membuatku kaget dengan ucapanmu yang tiba-tiba, tapi aku juga senang bisa bertemu denganmu.” Jawabku beusaha tak kalah ramah. Namun pria di hadapanku malah tergelak, tulang pipinya yang menonjol terlihat jelas saat ia tertawa, membuat pria itu tampak semakin menawan. Aisshh, pikiran apa ini.

“Waeyo? Apa aku salah bicara?”

“Mianhe, aku tak bermaksud menertawakanmu, hanya saja, kau tampak sangat lucu”.

“Hah?? Apanya yang lucu, kau pikir aku badut lucu sampai membuatmu tertawa begitu”. Jawabku sebal, aihh, pria ini ternyata menyebalkan.

“Ahh, jangan ngambek begitu SooJin~aa, walalupun masih terlihat cantik tapi aku lebih suka melihatmu tersenyum, seperti saat kau memandang anak-anak yang berlarian tadi”.

“Jadi sejak tadi kau memperhatikanku, aisshhh, kau seperti penguntit saja”.

“aku hanya tidak ingin mengganggumu, kau sepertinya sangat menikmati pemandangan di depanmu. Jadi aku hanya bisa memperhatikanmu dalam diam”. Jawab pria itu yang menurutku hanya alasannya saja.

“Alasan, jadi ap maumu?” desisku.

“Aku hanya ingin bicara, tidak disini, tapi di bangku panjang di sebelah sana.”jawabnya sambil menunjuk ke satu arah.

********

Sungmin pov

“Jadi begitu ceritanya Sungmin~aa, hari itu ia menjelaskan rencana perjodohan ini. Dia bilang dia akan melakukan pendekatan selama satu bulan padaku, seperti orang-orang berpacaran pada umumnya. dan apabila setelah satu bulan tetap tidak ada ketertarikan diantara kami, perjodohan ini akan dibatalkan. Kau tau Sungmin~aa, selama ia melakukan pendekatan, jantungku selalu berdetak tak karuan, entah ap yang aku rasakan, sampai aku menyadari bahwa ia telah berhasil membuka hatiku, memenuhi hati dengan semua tentangnya. Dan kemarin malam, tepat sebulan setelah perjanjian kami, ia melamarku dengan sangat romantis. Aku sangat bahagia Sungmin~aa. Kau bisa melihatnya kan?” gadis di hadapanku bercerita panjang lebar, matanya berbinar-binar saat sedang bercerita tadi. Jelas aku bisa melihat kebahagian itu SooJin~aa.

“Ya, aku dapat melihatnya. Kau akhirnya berhasil mendapatkan cintamu SooJin~aa”. Jawabku lembut sambil membelai kepalanya dengan halus.

“Kau bisa melepaskanku sekaran Sungmin~aa. Sudah cukup pengorbananmu untukku, kau juga harus mendapatkan kebahagiaanmu. Arachi??” ucap gadis itu sambil menatapku lurus. Reflek aku menarik tanganku dari kepalanya kemudian memaksakan seulas senyum dan berkata,

“Aku tidak melakukan apa-apa untukmu SooJin~aa”.

“Kau tidak usah berpura2 lagi padaku Sungmin~aa, aku tau selama ini kau menunda pernikahanmu, karena kau masih berat padaku kan. Sampaikan maaf ku untuk Seung Mi-ssi, maaf karena telah merebut sebagian perhatian kekasihnya selama 5 tahun terakhir. Kau memang sahabatku yang tiada duanya Sungmin~aa.” Ucapan SooJin membuatku terperangah, dari mana ia tau semua itu, satu-satunya orang yang pernah aku ceritakan tentang hal ini hanyalah sahabatku Cho Kyuhyun, dan kurasa tidak mungkin SooJin tau dari Kyuhyun karena mereka berdua bahkan tidak saling mengenal.

“Aku bisa membaca semuanya sendiri Sungmin~aa” kata gadis di depan ku seolah mengetahui yang aku pikirkan.

“Aku hanya tidak bisa melihatmu terus bersedih SooJin~aa, untuk itulah aku berjanji untuk selalu ada untukmu. Dan pernikahan akan menjadikanku kesulitan untuk memenuhi janjiku”.

“Aku juga sudah tau itu Sungmin~aa. Yang terpenting sekarang, aku sudah bahagia, dan kau juga harus bahagia, arachi??”

Aku mengangguk pasti, “Ne, ara..” jawabku lembut, kemudian menariknya pelan ke dalam pelukanku, pelukan terakhir dari seorang sahabat. Semoga kau benar-benar bahagia untuk selamanya SooJin~aa.

*********

Ryeowook pov

Besok malam adalah hari pernikahanku, sekaligus hari ulang tahun SooJin calon istriku. Bahagia sekali rasanya hidupku saat ini. Sejak pertama kali bertemu dengannya lagi di tepi sungai Han, aku sudah yakin dengan perasaanku. Aku pun bertekad, akan membuatnya jatuh cinta padaku dalam waktu sebulan. Kesepakatan untuk melakukan pendekatan selama sebulan yang kubuat dengannya hanyalah sebagai alasan saja. Aku yakin bisa membuatnya tidak mampu untuk menolakku.

Selama sebulan aku berusaha mendekatinya, melakukan hal-hal yang membuatnya menyukaiku. Namun perjuanganku sebenarnya tidaklah mulus, kesan pertamaku di hadapannya, aku adalah laki-laki yang menyebalkan. Dan itu membuatku sempat frustasi. Aku memang bukan laki-laki romantis yang pandai mengambil hati gadis-gadis. Entah mengapa aku punya keyakinan untuk membuatnya jatuh cinta denganku dalaam waktu satu bulan. Orang bilang benci dan cinta beda-beda tipis, mungkin itu yang bisa aku lakukan, tetap menjadi diriku sendiri yang tampak menyebalkan, dan juga menjadi sosok yang tiba-tiba bisa menjadi sangat romantis.

Tepat sebulan waktu pendekatanku, aku berniat untuk melamarnya. Sore itu aku menyiapkan kejutan untuknya. Responnya tentu saja lebih mengejutkan dari pada kejutan yang berusaha kubuat. Tapi aku sangat senang karena kejutanku berakhir ‘happy ending’. SooJin menerima lamaranku.

Terima kasih telah membuka hatimu untukku, aku berjanji akan membuat mu tersenyum, selamanya. Sarangheyo Yeongwonhi Park SooJin.

********

Epilog

Bali, 28 Desember 2010

Ryeowook melangkahkan kakinya gontai, sesekali ia menendang pasir pantai di kakinya. Siang terik seperti ini sangat panas di Bali. Coba kalau ia sedang berada di negaranya, kota Seoul pasti sedang diselimuti salju tebal saat ini. Ia mengeluh kepanasan sendirian. Untung saja pantai dan pemandangan dsini sangat indah, ia jadi tidak perlu merasa menjadi orang yang begitu malang. Kalau bukan karena ayahnya yang mengutusnya untuk mengurus bisnisnya di kota ini, ia tidak akan mau pergi jauh dari Seoul di bulan seperti ini. Seoul bulan desember adalah waktu yang sangat disenanginya. Ia senang bermain bola salju, berseluncur, dan bermain ice skeating. Kekanakan memang, apalagi untuk seorang pemuda yang sudah berusia 22 tahun sepertinya.

Tadi pagi urusan bisnisnya sudah selesai, perjalanan pulangnya sedang diurus oleh orang suruhannya. Ia mendapat kabar bahwa pesawat yang akan berangkat ke Seoul hari itu hanya ada pukul 11 malam, dan itu membuatnya menunggu. Bosan menunggu di hotel, ia memutuskan untu berjalan-jalan di pantai, alih-alih menghilangkan kebosanan, ia malah tersiksa dengan panas yang menyengat di siang hari seperti ini. Seandainya ia belum membeli oleh-oleh, mungkin saat ini ia sudah menjelajahi toko-toko souvenir untuk membeli barang-barang unik sebagai oleh-oleh. Tapi itu tak dilakukannya, karena di kamar hotelnya, terdapat sebuah kantong plastic besar berisi oleh-oleh, yang sudah dibelinya sejak kemarin. Ia bahkan merasa kantong itu sangat besar dibandingkan dengan koper pakaiannya. Karena itulah ia tidak mau ke toko souvenir hari ini, ia takut kantong plastiknya akan semakin membengkak sampai melebihi kapasitas untuk dibawa dlam pesawat.

Ryeowook memutuskan untuk duduk di bawah sebuah pohon kelapa, tidak banyak berpengaruh memang, tapi ia merasa itu lebih baik dari pada ia terus berjalan sendirian. Ia duduk sambil menluruskan kakinya ke depan, kemudian memejamkan matanya, merasakan desiran angin panyai yang menerpa wajahnya.

Ia hampir saja tertidur saat mendengar sebuah suara dengan bahasa yang tak asing di telinganya. Ia pun membuka matanya dan melihat seorang gadis sedang berusaha berbicara dengan penduduk lokal. Sepertinya gadis itu tidak bisa bahasa inggris, karna yang ia tau penduduk lokal daerah ini biasa menggunakan bahas inggris untuk berbicara pada semua turis walaupun bahasa sehari-hari yang mereka gunakan bukan bahasa inggris. Gadis itu mencoba menjelaskan dengan isyarat tubuh namun wanita paruh baya yang diajaknya bicara tidak juga mengerti. Dari bahasa yang digunakan, ia langsung tau kalau gadis itu juga bersal dari negri yang sama dengannya.

Ia pun bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis itu, “Ada yang bisa saya bantu?” Tanya ryeowook sopan setelah berada di dekat gadis itu.

Gadis yang ditegurnya terlonjak kaget, ia sepertinya sangat senang mendengar seseorang berbicara dengannya menggunakan bahasa ibunya.

“Apakah anda orang korea?” tanyanya bersemangat, Ryeowook hanya mengangguk sopan sebagai jawabannya.

“Kalau begitu, tolong bantu aku. Aku hanya minta difoto dengan kamera Polaroid ini, tapi Ahjumma tadi sepertinya menganggap kamera ini hanya mainan dan tidak mau membantuku.”

“Ne, arasso, kau mau di foto di mana, biar aku yang membantumu.”

Ryeowook tersenyum penuh arti menatap kamera Polaroid di tangannya, pantas saja ahjumma tadi mengira kamera ini mainan, kamera di tangannya berwana kombinasi antara putih dan pink, selain itu terdapat beberapa stiker hello kitty yang menempel di kamera tersebut.

Gadis itu sudah bersiap untuk dioto. Ia berdiri membelakangi pantai yang berpasir putih tersebut, ia pun tersenyum, siap untuk difoto.

“Ckrik…”….”Kreeeetttt….” *anggep aj itu bunyi hasil poto yang keluar,hihi*

*Ryeowook melihat gambar itu kemudian dengan cepat berkata, “Yang ini gambarnya kurang bagus, bagaimana kalau kau difoto sekali lagi?”

“Jinjayo? Kurae, foto satu kali lagi.” Seru gadis itu riang, ia kembali memasang posenya, dengan kepala yang sedikit dimiringkan dan tersenyum lebar, namun kali ini ia mengangkat kedua jari tengah dan jari telunjuknya, kemudian meletakkannya di pipi sebelah kanannya, kyeopta, pikir Ryeowook saat itu.

Gadi itu sedang memandangi hasil foto keduanya saat tiba2 telpon di sakunya berdering. Dan setelah menutp telponnya, ia terlihat terburu-buru.

“Gomawo atas pertolongannya, aku duluan ya, dadah.” Ucap gadis itu sambil menyambar kamera Polaroid yang masih dipegang Ryeowook,kemudian tergesa-gesa menjauh.

Ryeowook segera tersadar akan sesuatu, ia masih memegang hasil foto gadis itu yang pertama, ia pun berteriak, “Nona fotonya, nona Siapa namamu?”

“NamakuPark SooJin, dan foto itu buatmu saja, sampai jumpa, dadah…” gadis itu menjawab sambil balas berteriak dari jauh, sambil berlari ia membalikkan badannya dan melambai pada Ryeowook, kemudian berbalik dengan cepat dan melesat pergi.

Ryeowook hanya memandanag gadis itu tak percaya, mendapat foto seorang gadis di pertemuan mereka yang pertama, mereka bahkan belum sempat berkenalan.

Ryeowook teringat sebuah pena di saku nya, mengeluarkannya, kemudian menuliskannya di bawah foto tersebut, ‘Park Soo Jin, Bali 28 Desember 2010’.

 

…………………The End……………….

 

kamsahamnida bwt yg udah baca….

tolong tinggalkan jejak ya…

bekas ceplakan sendal atau sepatu juga boleh….

kuitansi belanja juga gpp dah, asal keliatan,hehehe…

 

Akhir kata author mengucapkan, Jongmal Kamsahamnida ^^

*bungkuk 90 derajat*

5 Comments (+add yours?)

  1. ndeehyuk
    Jan 28, 2011 @ 08:31:39

    suka suka suka…..!!!
    Terus aja dibaca lagi dibaca lagi….
    Hehehe
    Tapi diatas ada part yang dobel tuh…

    Reply

  2. wookayevil
    Jan 28, 2011 @ 13:05:53

    ryeowook kemaren ke bali? aq jga udh ketemu, trus dy nembak aq, tp aq tolak, aq jadian ama taemin soalnya…
    *gila*
    bagoes! lagi dong yang pake ryeowook ya?
    *apasih*

    Reply

  3. siput
    Jan 29, 2011 @ 02:38:41

    Sebenernya seung mi itu maase gantung akh ending bwt dia *plak*

    Bwt after story yg seungmi donk! Wuakakkakakaakak

    Reply

  4. yokyuwon
    Jan 29, 2011 @ 06:12:00

    eh..dah ending?! ada afterstory na gk ?!!nice ff ching..

    Reply

  5. Jaehyunmi
    Feb 15, 2011 @ 00:42:47

    Woooww…
    kerennn… alurnya rapi, enak bacanya 😀
    Nice ff chingu ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: