[FF/PG15/Part 2/All My Heart]

Title: All My Heart

Author: onkyuhyukcae, kyumaiihae, ddinddinwookey..

Rating: PG15

Genre: Love Story

Part: 2/?

CAST:

• Lee Sang Hee a.k.a Kyumaiihae
• Lee Ae Ja a.k.a Onkyuhyukcae
• Kim Dae Na a.k.a Ddinddinwookey
• Choi Seung Rin a.k.a Nellminhojunsungie
• Kibum / Kim Kibum
• Eunhyuk / Lee Hyukjae
• Donghae / Lee Donghae
• Super Junior members

***
Aeja pov.

“Silahkan masuk dan perkenalkan diri kamu.” Sambut Pak Guru kepada anak baru itu.

“Kyaaaa!! Handsome nya~!!”

“Imut~ <3!!”

“Aku nggak pernah liat cowok kaya gituh!!”

“Aigo! Ada idol baru di sekolah kita nih.. Yey!”

“Keren~!”

“Aku mau minta nomor telponnya!!”
Serentak teman-teman di kelasku berteriak terpesona ngga jelas melihat seorang anak laki-laki masuk ke kelasku. Pak Guru pun menenangkan semua murid-murid di kelas. Anak laki-laki itu berdiri di samping Pak Guru lalu memperkenalkan dirinya. Tunggu, aku kenal dengan wajah anak itu. Aku pernah bertemu sebelumnya..

***Flashback***

Aeja pov.

Akhirnya sampai juga di Bandara Incheon. Perjalanan pulang kurang lebih selama 12 jam dengan menggunakan pesawat membuat badanku pegal-pegal. Kulihat 3 sahabatku yang juga kelelahan dan segera mencari tempat istirahat sementara. Kami habis liburan sekolah ke Indonesia selama seminggu. Sanghee yang ternyata merasa lebih lelah dibanding kami bertiga sudah menemukan tempat peristirahatan istirahat yang cocok. Bandara Incheon tumben-tumbennya dipenuhi banyak orang sehingga kami berempat yang ingin pergi ke tempat peristirahatan harus berhati-hati supaya tidak berpencar satu sama lain dalam kerumunan orang. Ku mengeluarkan handphone Cyon berwarna sapphire blue dari dalam tas dan mengaktifkannya. Segera ku telpon oppa ku untuk memberitahu kalau adiknya sudah sampai di bandara dan minta dijemput secepatnya. Sambil menempelkan handphone di telinga kanan, aku mengikuti Sanghee dan dua sahabatku lainnya, Kim Daena dan Choi Seung Rin dari belakang.

“Aigo!” tertiakku tiba-tiba.

Seketika aku terjatuh di tengah kerumunan orang. Tas dan handphoneku terlepas dan jatuh dari peganganku. Ku mendongak ke atas, ku tidak melihat mereka. Tiga sahabatku hilang entah kemana. Aku kehilangan mereka.

“Ya! Kamu bisa hati-hati nggak sih?” kata seorang laki-laki di depanku yang juga terjatuh.

Dia memakai topi hitam yang kayak seniman pakai. Aku nggak tahu apa namanya karena terlalu pasif soal fashion. Makanya aku sering dibilang anak tomboy oleh teman-temanku karena selalu pakai t-shirt dan celana jeans. Ku perhatikan lagi, kulitnya putih, matanya agak sipit, hidungnya mancung dan lumayan imut. Laki-laki itu berdiri dan melihatku dengan rasa kesal. Mataku terus melihat dia serasa dihipnotis. Rupanya dia sangat tinggi. Kurang lebih tinggi badanku sepundaknya.

“Ya! Kenapa kau melihatku seperti itu? Cepat bangun! Babo(3)!”ejek dia.

“Ya! Nggak usah ngomong kayak gituh kali! Kamu yang babo!” ejek aku gantian.
Aku mengambil tas dan berdiri. Lalu mencari handphone ku yang hilang.

“Handphone ku. Handphone ku hilang! Gimana nih.” cemas ku sambil mencari-cari ke arah lantai.

“Aku tadi masih teleponan dengan oppa ku. Gimana kalau nanti oppa ku cemas. Nanti dikirain ada apa-apa. Semua ini gara-gara kamu! Kalau aja kamu nggak nabrak aku nggak akan handphone ku bisa hilang!”

“Apaan? Kamu yang nabrak aku tahu! Dasar idiot! Babooo!!” Kesal laki-laki itu.

“Sebentar lagi pesawat menuju Amerika akan segera berangkat. Dimohon bagi penumpang yang menggunakan pesawat menuju Amerika agar segera masuk ke dalam pesawat. Kami ulangi, sebentar lagi pesawat menuju Amerika akan segera berangkat. Dimohon bagi para penumpang yang menggunakan pesawat menuju Amerika agar segera masuk ke dalam pesawat. Terima kasih.”

“ Oh, aku harus pergi.” Kata orang itu sambil berlari ke arah pintu masuk.

“Ya!! Kamu mau kemana??! Jangan kabur! Ya!!!” teriakku sekeras mungkin supaya laki-laki itu balik. Namun usahaku tidak berhasil. Dia berlari dan segera masuk begitu saja. Seperti sudah lupa kalau dia barusan menabrak orang.

“Sialan! Orang tidak bertanggung jawab! Nabrak orang malah kabur! Huh! Pulang-pulang kok sial!” gerutu aku. Aku menemukan handphone ku tergeletak dengan layar terlihat panggilan yang sudah diputus oleh kakak. Pasti kakak cemas.

***

Kibum pov.

Aku menabrak seseorang tadi. Sebenarnya aku merasa kasihan, tapi karena harus cepat-cepat masuk pesawat aku tidak bisa menolong dia. Entah kenapa awalnya aku berkata kasar padanya padahal mau meminta maaf. Dia berambut hitam sepundak dan tinggi badannya kira-kira sepundakku. Sepertinya dia bukan orang Korea. Matanya besar dan kulitnya agak coklat dibanding perempuan Korea lainnya.

“Lumayan juga dia. Mudah-mudahan ketemu lagi nanti waktu aku kembali ke sini.” Melihat ke luar jendela pesawat sambil senyum-senyum penasaran.

***

Donghae pov.

★Neol saranghaetdeon ee nae mami, neol barabwatdeon nae du nuni ajikdo yeogie… Oh baby say goodbye oh jamsiman goodbye annyeongiran mareun jamsi jeobeodulke… Jeo muneul yeolgoseo han georeum naemilmyeon kko kkeuteuro jeonhaejineun neoui sumgyeol.. ★

“Yeoboseyo. Aeja-a? Eottokhe? Sudah sampai di bandara? Bentar lagi oppa jemput kamu. Mungkin oppa jemput kamu bareng Eunhyuk. Tapi oppa harus beres-beres… Aeja-a?! Kamu tidak apa-apa? Kamu kenapa? Aeja-a?” segera ku tutup handphoneku. Karena cemas adik perempuanku satu-satunya terjadi apa-apa, aku berlari ke rumah Eunhyuk sambil memanggil Eunhyuk yang sedang makan cemilan di depan TV.

“Eunhyuk ah!! Cepat antarkan aku ke bandara! Aku takut terjadi apa-apa pada adikku dan teman-temannya! Kau juga harus cemas pada adikmu! “ wajahku pucat. Bingung melakukan apa. Cemas sekali. Seandainya aku bisa lancar mengendarai mobil, mungkin nggak akan serepot ini.

“Kajja!! Tenangin dirimu! Jangan terlalu cemas. Positive thinking dulu! Tenang…” Eunhyuk berusaha menenangkan ku.

***

Author pov.

Aeja melihat dari kejauhan diantara kerumunan orang-orang, sahabat-sahabatnya sudah duduk dan menengok kiri kanan dengan cemas mencarinya. Aeja pun segera menghampiri mereka yang sudah kebingungan.

“Aeja-a! Kamu dari mana saja sih? Tiba-tiba hilang. Kami sangat cemas tahu! Kamu tahu kita sudah kayak kambing mau di sate hidup-hidup gara-gara temannya hilang entah ke mana ditambah kelelahan.” Omel Kim Daena.

“Jangan buat si nenek lampir ini ngomel terus menerus. Nanti tambah tua aja.” Sindir Choi Seungrin ke Kim Daena.

“Enak aja nenek lampir. Kamu kali..” ledek Daena gantian.

“Mianhae eonni. Jeongmal mianhae yeorobuneul.. Aku tadi ditabrak orang yang nggak tanggung jawab. Masa nabrak langsung kabur aja. Nolongin buat berdiri juga kagak. Kesel baget.” Cerita Aeja ke sahabat-sahabatnya.
Tiba-tiba Donghae dan Eunhyuk datang.

“Aeja-a! Kamu nggak apa-apa? Tadi kenapa? Tiba-tiba terdengar kalau handphone mu terjatuh.” Tanya Donghae.

“Nggak apa-apa kok oppa. Tadi cuma ditabrak orang aneh waktu nelpon oppa terus handphone nya jatuh. Mianhae oppa..” jelas singkat Aeja.

“Tuh kan nggak apa-apa. Makanya jangan negative thinking dulu.” Kata Eunhyuk ke Donghae.

***Flashback End***

Aeja pov.

Oh, dia yang di bandara waktu itu. Rupanya dia anak baru di sekolah ini, bisa aku kerjai dia.

“Hehehe..” tawaku sambil menutup mulutku dengan tangan sehingga tidak terlalu terdengar sampai ke sekelilingku.

“Kamu kenapa ketawa-ketawa sendiri? Aneh.” Tanya anak yang duduk disebelah kanan mejaku.

“Siapa yang ketawa. Aku nggak ketawa kok.”

“Jelas-jelas kamu tadi ketawa ngga jelas gituh.”

“Kenapa kamu tahu kalau aku ketawa tadi?”

“Aku selalu memperhatikan kamu tau. Sepertinya kamu kenal anak baru itu.”

“Nggak kok. Aku tadi ketawa gara-gara merasa mungkin oppa ku sudah kena hukuman Kepsek.” Bohongku nggak terlalu besar-besar banget kan.

“Oh, mianhae. Aku cuma penasaran aja.”
Lanjut tersenyum padaku, lalu memperhatikan ke depan kelas. Aku merasa aneh anak itu memperhatikanku terus. Ah, nggak usah dipikirin. Eh? Aku barusan melewatkan perkenalan anak itu. Aku sama sekali tidak memperhatikannya. Siapa namanya ya? Kok jadi penasaran begini? Nanti aku tanya Sanghee-a aja, gampang itu mah.

“Nah, kamu sekarang duduk di meja kosong paling belakang dekat jendela sana. Semoga kamu mendapatkan teman yang banyak ya.” Pak Guru menunjukkan kepada anak itu meja dibelakangku yang kebetulan kosong dari awal tahun pelajaran baru. Aku kaget Pak Guru menyuruhnya duduk di belakang mejaku. Anak itu berjalan ke arah mejaku. Aku memperhatikannya, dia memberi salam padaku.

“Annyeong! Semoga kita jadi teman baik.” Sambil tersenyum yang dapat membuat semua perempuan di dunia ini bisa terpesona sama dia. Tebaknya nggak tuh. Malahan aku tambah kesal dengannya karena dia duduk di balakang ku.

“Kyaaa!! Aeja-a kenal dengan dia yah?”

“Kok bisa kenal sih?”

“Jadi iri, ih!”

“Pacarnya ya?”
Tidak sadar kalau semua teman-teman di kelas pada memperhatikanku dengan anak itu. Aku merasa malu sekali sambil menutup mukaku dengan kedua tangan. Lalu aku memperhatikan anak itu lewat bayangan dari kaca jendela. Ih, dia ketawa. Sialan nggak tahu malu. Liat aja nanti.

***

Hampir waktunya bel pulang sekolah berbunyi

“Sanghee-a! Nanti pulang bareng yuk. Aku takut pulang sendiri.” Sambil memasukkan buku-buku ke dalam tas. Sanghee yang duduk di sebelah meja anak aneh itu membuat ajakkan ku terdengar anak aneh itu.

“Hmm. Mianhae Aeja-a. Aku masih ada latihan di club. Kalau kamu mau pulang bareng-bareng, kamu harus nunggu aku sampai beres latihan. Gimana? Mau nggak?” sesal Sanghee.

“Oh, begitu ya. Gimana ya? Aku malas nunggu kalian beres latihan. Lagi pula ada si Kunnyuk. Rasanya mau mukulin dia terus.”

“Gimana kalau kamu pulang bareng aku aja? Dijamin aman deh.” Nyambung si anak aneh dibelakangku.

“Hah?” tengok aku ke belakang.

“Ngapain kamu nyambung-nyambung. Kayak kabel listrik aja. Nggak ada hubungannya sama kamu. Weeek. Kamu masih punya hutang sama aku tau!”

“Yaudah. Kalau kamu nggak mau pulang bareng aku. Nanti nyesel lho.” Meyakinkan aku.

“Nggak akan pernah!”

“Teeeeeeeeeeeeet!!”
Bel pulang sekolah berbunyi. Semua teman di kelasku mulai meninggalkan kelas.

“Kamu beneran mau pulang sendiri? Mian ya.” tanya Sanghee kepadaku.

“Ia. Tenang aja. Aku juga nggak boleh takut lagi. Kan aku ikut club Debus. Hahaha.” Meyakinkan Sanghee.

“Yah.. Hati-hati di jalan ya.”

“Sampai ketemu di rumah ya Sanghee-a!”
Aku dan Sanghee meninggalkan kelas. Kami berpisah di depan aula sekolah, lalu aku melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Baru sampai di halte bus, aku merasa ada orang yang mengikutiku dari belakang. Dari perkiraanku, ada 4 orang. Eh, 6 orang yang mengikutiku. Pikiranku langsung nggak karuan. Gimana ini? Kalau aku melawan mereka semua, jelas pasti aku kalah. Mereka ada banyak sedangkan aku cuma seorang diri. Walaupun aku ikut Debus, nggak akan bisa. Aku itu masih pemula. Tuhan, tolong aku.

***

Kibum pov.

Aku mengikuti anak perempuan yang pernah ku tabrak di bandara waktu itu. Ku pikir dia mau menerima ajakan pulang denganku, rupanya tidak. Tapi karena aku penasaran dengan dia, aku mengikuti dia pulang ke rumahnya. Dari kejauhan aku melihat 6 orang berbaju preman seperti sedang mengikuti anak itu. Aku segera bersiap-siap untuk menolong anak itu jika orang-orang aneh itu menyerang dia. Mereka menyerang anak itu! Nggak akan aku biarkan…!!

***

Aeja pov.

“Hai anak kecil. Habis pulang sekolah ya?” tanya orang-orang yang mengikutiku dari belakang.

“Ditanya kok diam aja? Hati-hati lho.. Jangan pulang sendirian.”
Mereka mengerumuniku sehingga aku tidak bisa kabur dari mereka . Kenapa aku jadi kaku begini? Tanganku nggak bisa digerakan. Aku takut.

“Boleh minjam tasmu nggak?”

“Bu.. bu.. buat a.. apa?”

“Cuma minjam aja kok.”

“Ngg.. Nggak. Nggak boleh!”

“Masa nggak boleh sih. Kalau gitu minjam handphone kamu boleh?”
Ya Tuhan! Aku takut banget!! Seseorang! Dowa juseyo!! Tiba-tiba salah satu dari 6 orang itu terjatuh ke bawah dilanjutkan yang lainnya. Apa yang terjadi? Aku melihat seorang anak berbadan tinggi dan memakai seragam sekolahku memukuli mereka berenam dengan sebatang balok kayu. Sepertinya dia salah satu murid di sekolahanku. Tuhan, Gomapseumnida!

“Ya! Kamu baik-baik saja?” tanya anak itu selesai memukuli orang-orang jahat itu. Orang-orang jahat itu kabur setelah mereka dipukuli. Tanpa sadar aku memeluknya karena ketakutan.

“Ya!! Lepaskan! Malu tau!” teriak dia.

“Hiks.. Gomawo. Aku nggak tahu jadi bagaimana kalau kamu nggak nolongin aku.”

“Ya..ya..ya.. Itu memang tugasku menolongmu. Hmm.. Kalau kamu mau kayak gini terus juga nggak apa-apa. Hehehe”

Eh? Rasanya aku kenal suara itu? Aigo! Aku segera melepaskan pelukanku dari dia. Lalu aku mendongak ke atas dan melihat anak itu. Aagh! Dia anak aneh itu!! Ya ampun.

“Oh, udah ya? Ku pikir mau sampe besok. Hehe. Udah dibilangin pulang bareng aku aja. Untung aku ngikutin kamu, kamu bisa selamat kan.”

“Aaagh..” malu abis rasanya.

“Makasih deh. Yaudah kamu temenin aku pulang sampai rumah ya.”

“Beneran nih?”

“Terpaksa. Takut ada orang jahat lagi. Thanks ya.”

***

Kibum pov.

Aku dipeluk dia? Nggak salah tuh? Dia kan rada jutek gitu sama aku. Kesempatan dalam kesempitan lah. Akhirnya dia mau pulang juga sama aku. Kami sempat mampir ke cafe kecil di pinggir jalan dekat sungai Han. Aku mentraktir dia makan. Dia suka banget Fettuchini. Makannya aja sampai belepotan kemana-mana. Anak langka ini. Dia bercerita panjang lebar tentang orang tuanya yang kerja di luar negeri sehingga dia hanya tinggal berdua di rumah dengan kakaknya. Mudah-mudahan aku bisa berkenalan dengan kakaknya. Dia sungguh berbeda dari pikiranku sebelumnya. Kalau kita sudah akrab dengannya dia bakalan berbagi banyak cerita. Maupun gembira atau sedih. Dia sangat sedih sekali karena jarang bertemu dengan kedua orang tuanya. Jadi dia menganggap kakaknya adalah ayahnya juga.

Langit terlihat mendung sekali. Ku rasa aku harus mengantar dia pulang segera.

“Ya! Kita pulang yuk. Mendung tuh.” Ajakku.

“Ye. Gomawo. Eh, sebelum itu aku belum tahu namamu. Tadi waktu di kelas aku tidak memperhatikanmu minhae.”

“Oh, tanya orang aja. Moregesseumnida” Mengajak dia bercanda.

“Ih, nama sendiri masa nggak tahu. Aneh.”

“Hahaha. Kajja! Jibe Kapsida!”

***

*Sampai di depan rumah Aeja*

Author pov.

“Ini rumahmu?” tanya Kibum sambil melihat sekeliling rumah Aeja.

“Yup. Mau masuk?”

“Boleh? Kalau ada kakak kamu gimana? Aku kan masih teman baru kamu.”

“Teman? Sejak kapan kamu jadi teman ku?”

“Barusan aku merasa kita adalah teman yang sudah ditakdirkan.”

“Aku nggak mau punya teman kayak kamu. Weeek~.”

Tiba-tiba dari atas langit turun setetes air kemudian disusul beribu-ribu tetesan air hujan yang sangat lebat. Hujan turun sangat deras. Membuat Kibum tidak bisa langsung pulang. Walaupun dengan payung, bisa-bisa payung itu rusak diterjang angin yang kencang.

“Jja! Masuk! Palli! Palli! Palli!” ajak Aeja ke Kibum sambil berlari ke dalam rumahnya.
Kibum pun mengikuti Aeja dari belakang.

“Yah.. Gimana ini?” bingung Kibum.

“Sudah… Kamu masuk ke rumahku dulu aja. Nanti aku bikinin coklat panas. Duduk dulu sana, di ruang tamu.”

“Gomawo, Aeja-a.”

“Ne. Gwaenchana. Kamu tahu namaku dari mana?”

“ Aku nanya ke anak yang duduk di sebelah kanan mejaku. Dia sahabatmu kan?”

“Dari mana juga kamu tahu kalau di sahabatku?”

“Pakai insthing dong.”

Aeja begitu curiga sekali dengan Kibum. Kemudian dia pergi ke dapur membuatkan coklat panas untuk Kibum.

“Nih coklat nya. Hati-hati, masih panas tuh.”

“Gomawo”

Terdengar suara pintu depan terbuka, Donghae pulang dari latihan clubnya.

“Aeja-a? Ada tamu ya? Kok ada sepatu di depan?” tanya Donghae dari depan.

“Itu kakakmu?” tanya Kibum juga.

“Ne, dia kakakku yang ku ceritain waktu itu. Ku kenalin ya.”

“Aeja-a, dia tamunya? Kalau nggak salah dia anak baru yang masuk di kelasmu kan?”

“Matseumnida! Oppa, tadi aku sempat diserang orang-orang jahat. Habis itu dia nolongin aku. Terus aku minta dia nemenin sampai ke rumah.” Jelas Aeja ke Donghae.

“Geraeyo? Kamsahamnida karena sudah menolong adikku yang pendek ini.”

“Oppa! Apa maksudmu dengan pendek?”

“Kamu memang pendek! Sering makan sayur dong! Minum uyu(22) aja nggak cukup!”

“Hahaha.. Aeja-a! Kamu memang pendek.” Tambah Kibum.

“Ah.. Aeja nggak terima! Pasti nanti Aeja bakalan tinggi! Aeja punya target tingginya 180 cm!” nggak terima Aeja.

“Nggak mungkin!!” nggak percaya Kibum dan Donghae bersamaan.

“Hujannya sudah reda. Aku pulang sekarang. Terimakasih atas coklatnya sama tempat berteduhnya.” Ijin Kibum.

“Lain kali sering-sering main ke sini ya! Kalau cuma berdua aja masih sepi.” Kata Donghae ke Kibum dengan gembira.

“Ne, hyung. Kalau adikmu yang ngajak aku! Meonjeo silyehagesseumnida(23)! Sampai jumpa besok, Aeja-a!” tersenyum dan melambaikan tangan ke Aeja-a. Tanpa sadar juga, Aeja melambaikan tangan ke Kibum.

***

Aeja pov.

Kok ngerasa nyesel sih si anak aneh itu pulang. Rasanya masih mau ngobrol panjang lebar dengannya. Eh? Jangan-jangan seorang Lee Aeja satu-satunya anak perempuan yang mengikuti club Dubes bisa suka dengan anak aneh yang gayanya sok imut gituh? Hii.. ada-ada aja. Apa beneran ya? Tapi aku masih belum tahu namanya. Pikiran apa ini? Jangan banyak ngehanyal, nggak baik. Kalau suka juga nggak apa-apa. Hmm~ ❤

“Kamu kenapa senyum-senyum ke arah pintu depan? Teman mu juga sudah pulang. Kamu ajak dia lagi ya. Kakak kesepian di rumah. Cuma ada kamu aja yang buat diajak ngobrol, jadi bosen nih.” Kata oppa tiba-tiba ke aku sehingga membuatku kaget.

“Pasti oppa!”

***

Eunhyuk pov.

“Siapa dia yang habis keluar dari kamarnya Aeja-a? Kalau nggak salah dia anak baru itu? Ngapain dia di rumahnya Aeja-a?” memandang anak laki-laki itu dari dalam rumah lewat jendela depan.

“Ya! Oppa! Lagi ngeliantin siapa?” tanya Sanghee.

“Itu.. anak itu.. dia anak baru yang masuk ke kelasmu kan? Nuguya(24)?”

“Oh itu.. Dia Kim Kibum. Baru masuk sekolah aja dia langsung terkenal se sekolah. Katanya sih dia pindahan dari Amerika. Cakep lho, oppa. Di kelasku banyak yang suka sama dia.”

“Oh.. Terus tadi oppa liat dia habis keluar dari rumahnya Aeja-a. Apa hubungannya ya?” jadi penasaran.

“Begini, tahu kan kejadian Donghae oppa cemas sama Aeja-a waktu pulang dari Indonesia. Donghae oppa sampai ngirain kalau Aeja-a terjadi apa-apa yang parah banget. Rupanya Aeja-a cuma ketbrak orang terus handphonenya jatuh. Nah, yang nabrak aeja-a itu Kibum.” Cerita Sanghee.

“Rupanya dia yang nabrak Aeja-a ku.” Akhirnya aku mengerti.

“Aeja-a ku? Maksud oppa apa?” tanya Sanghee penasaran.

“Aa..Ani ani aniyo.. Yaudah, oppa mau mandi dulu. Bikinin Ramyeon ya!”

“Hmm.. Jangan-jangan Eunhyuk oppa suka sama Aeja-a? Bagaimana ini? Aku jadi khawatir.” Cemas Sanghee.

***

To be Continue..

Terima kasih telah membaca FF kita. Jika ada kesalahan dalam pengetikan dan bahasa, mohon maaf . Maaf juga kalau FF gaje ^^

add FB kita : onkyuhyukcae (Laetitia Cae Hermawan ), kyumaiihae (Maiia Violenta 사랑 종규민동해), ddinddinwookey(Dinddindkornelkeyjinowookie Shineesuju)


5 Comments (+add yours?)

  1. ChoiDongKyung
    Jan 28, 2011 @ 16:16:59

    Tbc..

    Author lanjut 🙂

    Reply

  2. ecisarangHYUK
    Jan 28, 2011 @ 19:26:07

    akhirnya ada part 2nya…
    g kapok2..minta part 3nay ah author..hhehhe

    Reply

  3. yokyuwon
    Jan 29, 2011 @ 05:40:36

    hahh!!! ini ff mu cae~ssi??! wow keren…next part na AsAp ching..GPL…ntar basi lohh…*plaaaakk*hehehe…

    Reply

  4. queenloveminho
    Jan 29, 2011 @ 14:30:59

    mkind bwt pnazarand. aeja ska ma kibum ato eunhyuk. lnjud asap.

    Reply

  5. May4teukie
    Jan 29, 2011 @ 16:07:29

    Haha~bum lucu

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: