Wish upon a star

Cast :

  1. Kim ki bum(Super junior)
  2. Jang Hyo Hyun
  3. Kim Heechul(Super junior)

Genre: Drama

“Annyonghaseo.” Hyohyun memberi salam saat seorang namja masuk ke toko. “Anda mau beli bunga apa?”

“Seperti biasa.”

“Mwo? Maaf saya pegawai baru di sini, bunga apa yang kamu cari.”

“Rose.” Ucapnya datar.

“Oh, perapa tangkai?”

“Satu.”

“Oh, pasti untuk pacar ya?” Namja itu hanya diam. Hyohyun menyerahkan bunga, namja memberikan uangnya dan kemudian pergi. Hyohyun menatap kepergiannya.

*           *           *

“Kamu mencari bunga rose lagi???” Namja itu mengangguk. Hyohyun memberikan setangkai bunga rose pada namja itu. Setelah menyerahkan uangnya, namja itu ke luar dari toko. Hyohyun menatap kepergian namja itu yang berhasil menarik perhatiannya selama tiga hari ini.

“Oppa.” Panggil Hyohyun saat Heechul masuk membawa beberapa pot bunga anggrek.

“Apa?”

“Apa namja itu selalu membeli bunga rose setiap hari?”

“Siapa yang kau maksudkan?”

“Yang baru saja keluar, oppa melihatnya kan?”

“Oh, Kibum maksudmu?” Heechul sibuk menyemprot anggrek yang ia bawa.

“Jadi namanya Kibum? Kenapa ia selalu membeli bunga rose setiap hari?”

“Dia memang seperti itu, sudah tiga bulan ini dia selalu membeli bunga rose setiap hari.”

“Romantis sekali dia, pacarnya beruntung sekali.” Gumam Hyohyun.

*           *           *

Seminggu sudah Hyohyun mengamati Kibum yang berhasil menarik perhatiannya. Hari ini Hyohyun memutuskan untuk mengikuti Kibum, entah dari mana ia mendapatkan kebaranian itu. Hyohyun menunggu-nunggu kehadiran Kibum dengan gelisah.

“Kemana dia? Biasannya jam segini sudah ada…” Kata Hyohyun dalam hati.

“Hyun-ah, kau gelisah sekali seperti cacing kepanasan.” Tegur Heechul yang sedari tadi heran melihat Hyohyun. Hyohyun melemparkan tangkai bunga anggrek ke arah Heechul, Heechul menghindar. “Memangnya kau menunggu siapa?”

“Tidak ada,” jawab Hyohyun berbohong. Akhirnya orang yang di tunggu datang, Kibum masuk toko dengan mengenakan t-shirt warna biru laut yang membuatnya semakin tampan dimata Hyohyun. Hyohyun mengambil bunga rose dan membungkusnya dengan rapi. “Ini bunganya,” Hyohyun menyerahkannya sambil tersenyum. Kibum mengambil dan memberikan uangnya tanpa sepatah katapun dan pergi. “Oppa, aku mau keluar sebentar ya,” ijin Hyohyun.

“Mau ke mana?”

“Aku ada urusan sebentar.” Hyohyun meyambar tasnya dan pergi.

“Hyun-ah, jangan lama.” Teriak Heechul saat Hyuhyun keluar dari toko.

*           *           *

Hyohyun mengendap-endap di belakang Kibum.

“Kemana ia pergi?” Tanya Hyuhyun dalam hati, berkali-kali ia mengumpat dan menjaga jarak agar Kibum tidak mengetahui kalau ia sedang diikuti. Hyohyun mengikuti Kibum saat naik bus, ia menunduk dan menguraikan rambut panjangnya untuk menutupi wajahnya agar tidak dilihat Kibum saat ia naik bus. Bus berhenti dan Kibum turun, Hyohyun mengikutinya dari belakang dengan sembunyi-sembunyi, ia melihat Kibum masuk ke pemakaman umum.

“Pemakaman? Mau apa dia ke pemakaman?”

Hyohyun masih mengikutinya dan kemudian bersembunyi di balik pohon besar sambil memandang Kibum dari kejauhan. Kibum terhenti saat di sebuah gundukan tanah, entah makam siapa itu. Ia meletakan bunga rose dan kemudian pergi. Hyohyun segera beranjak dari tempat persembunyiannya di bawah pohon, saat ia berlari tiba-tiba ia tersandung batu dan terjatuh. Ia mengaduh kesakitan saat melihat lutut kanannya berdarah.

“Kau terluka?” Tanya sebuah suara. Ia mendongak melihat pemilik suara yang berdiri dihadapannya. Muka Hyohyun merah padam saat melihat Kibum di hadapannya. Ia ketahuan!!!

“Ah, aku tidak apa-apa,” Hyohyun berbohong, padahal lutunya sakit sekali. Ia mencoba bangkit, tapi lututnya tak bisa menopangnya, dan ia hampir jatuh lagi. Kibum dengan sigap menahannya yang hampir jatuh.

“Kau bilang tidak apa-apa, tapi menopang badan sendiri tidak bisa.” Hyohyun jadi malu sendiri. Kibum memapahnya keluar dari tempat pemakaman. “Tunggu di sini dulu.” Kata Kibum sambil membantu Hyohyun duduk di halte bus terdekat.

Tak berapa lama kemudian Kibum datang membawa sesuatu di tangannya.

“Kemarikan kakimu.”

“Mwo? Ah… tidak usah, aku tidak apa-apa.” Kibum meraih kaki Hyohyun dan meletakan di pangkuannya.

“Lututmu membentur batu, kau bilang tidak apa-apa. Apa mungkin saat kau di tabrak mobil, kau juga akan bilang tidak apa-apa?” Kibum membersihkan luka Hyohyun dan meneteskannya dengan obat luka, Hyohyun mengaduh kesakitan.

“Mianhae sampai merpotkanmu begini.”

“Kau mengikutiku?” Kontan wajah Hyohyun memerah yang kontras dengan kulit putihnya. Hyohyun terdiam sejenak.

“Mianhae… Aku hanya penasaran melihatmu selalu membeli bunga rose setiap hari.” Kibum diam sambil memplaster luka Hyohyun. “Hwanasseo?”

“Anio. Hwa annasseo, lain kali jangan mencelakai dirimu sendiri untuk hal yang tidak menguntungkanmu. Apa untungnya kau mengikutiku?”

“Aku hanya penasaran,” ucap Hyohyun tertunduk.

Bus datang…

“Ayo naik, aku akan mengantarkanmu.” Kibum mengulurkan tangannya dan memapah Hyohyun masuk ke dalam bus.

*           *           *

“Hyun-ah, kakimu kenapa?” Tanya Heechul menghampiri Hyohyun.

“Aku terjatuh.”

“Makanya kalau jalan hati-hati.” Heechul mengetuk-ngetuk lutut Hyohyun yang cidera.

“Aww… Oppa sakit,” Hyohyun mengamankan lututnya dari kejahilan Heechul, Heechul duduk di samping Hyohyun sambil membantunya merangkai bunga.

“Oppa, bolehkah aku bertanya?”

“Mweoda?”

“Aku mengikuti Kibum dan ia pergi ke pemakaman, di sana ia meletakan bunga rose di sebuah makan. Oppa tahu makam siapa itu?”

“Kau mengikutinya? Kurang kerjaan. Mungkin itu makam Eomma-nya, tiga bulan yang lalu Eommanya meninggal karena kecelakaan mobil, sejak saat itu ia selalu membeli bunga rose setiap hari. Karena kehilangan Eommanya dia menjadi pemurung. Kenapa?”

“Anio, tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu.”

“Kau tertarik dengannya? Sepertinya kau sangat ingin tahu tentangnya.”

“Oppa cerewet sekali.” Hyohyun malu dan melemparkan tangkai bunga rose yang kering. Heechul tertawa.

“Hei, di mana kau beli liontin itu? Maeu joseumnida, aku jadi pengen beli.” Heechul mengamati kalung Hyohyun dengan lionting bentuk bintang.

“Ah, oppa ini selalu saja ingin menyamai barangku. Liontin ini pemberian seseorang.”

“Siapa? Kekasihmu?”

“Bukan. Seseorang tujuh tahun lalu yang telah menyelamatkanku saat lomba piano, saat itu aku takut sekali untuk tampil sampai-sampai aku menangis, tiba-tiba ada seorang namja menghampiriku dan memberiku liontin ini. Dia bilang sebagai penyemangatku dan keberuntunganku.”

“Jadi sejak kecil kau sudah jadi pianis? Pantasan sekali permainanmu bagus.”

“Itu semua karena dia, karena liontin ini aku jadi termotivasi, aku harap saat aku bertemu dengannya lagi aku bisa menunjukan aku bisa jadi pianis yang hebat.”

“Memangnya kalian tidak pernah bertemu lagi?” Hyohyun menggeleng.

“Saat lomba selesai, aku ingin pergi menemuinya untuk mengucapkan terima kasih, tapi aku tidak menemukannya. Sampai sekarang aku masih ingat dengan wajah kecilnya.” Kata Hyohyun sambil mengenang tujuh tahun yang lalu.

Flash back…

Hyohyun merasa gugup sekali saat ia akan tampil. Rasanya ia ingin menanggis saat melihat peserta-peserta lain yang seperti pianis professional, mungkin jam terbang mereka sudah banyak. Sedangkan Hyohyun? Ini adalah pertandingan pertamanya. Setiap peserta lain selesai memamerkan bakatnya di panggung di hadapan ratusan orang dan juri, pasti ia mendengar gemuruh tepuk tangan. Ia sangat takut. Berkali-kali ia meremas erat gaun putihnya.

“Peserta selanjutnya Jin ye cho, dengan nomor 14, membawakan Fantaisie impromtu posthumous op.66.” Suara pembawa acara mengema ke penjuru ruangan dan terdengar sampai ruang tunggu. Hyohyun semakin gugug, itu artinya ia akan tampil sebentar lagi, karena ia berada di nomor urut 15. Apa yang harus ia lakukan??? Hyohyun merasa sangat gugup sekali dan akhirnya ia menangis sendiri.

“Hey kamu kenapa?” Tanya sebuah suara yang berdiri di hadapannya.

“Aku gugup sekali. Aku takut kalau aku tidak bisa bermain sebagus mereka.” Kata Hyohyun masih menangis. Namja kecil itu tiba-tiba menghapus air mata Hyohyun dengan tisu.

“Sudah jangan menangis lagi, nanti permainanmu jadi jelek.”

Hyohyun mengangguk dan menghapus air matanya. “Ini pertandingan pertamaku. Aku takut sekali, peserta yang lain tampil bagus sekali.”

“Kau tak usah takut. Ini untuk mu.” Namja itu menyerahkan sebuah liontin bentuk bintang di telapak tangan Hyohyun.

“Untukku?”

“Ne. Itu untuk keberuntungan dan penyemangatmu. Aku selalu membawa itu kalau aku ikut pertandingan, itu selalu menjadi penyemangatku. Aku ingin menjadi seorang bintang. Bintang pianis yang hebat.”

“Kenapa kau memberikannya ke padaku? Ini sangat berarti untukmu.”

“Kau lebih membutuhkannya dari pada aku. Sekarang giliranmu untuk jadi seorang bintang, tunjukan bakatmu kepada mereka, buat mereka kagum dengan permainanmu. Jadilah pianis yang hebat.”

“Gomawo.” Hyohyun tersenyum dan melepas kalungnya. Ia memasang liontin itu dengan kalungnya.

“Jang hyo hyun. Ayo siap-siap, sebentar lagi giliranmu.” Seorang petugas menghampiri Hyohyun.

“Tampilah sebaik mungkin, tunjukan kau adalah seorang bintang. Haeng-haeng bire yo!” Kata namja itu sebelum mereka berpisah. Hyohyun menganguk dan tersenyum. Hyohyun menoleh kearah namja itu untuk terakhir kali, namja itu melambaikan tangannya dan tersenyum.

Flash back end…

*           *           *

Hyohyun berjalan menikmati malam sambil menyusuri tepi sungai Han. Ia merapatkan jaketnya. Tiba-tiba matanya menangkap sesosok namja yang duduk sambil menatap sungai Han. Namja itu menyadari keberadaan Hyohyun.

“Sedang apa kau di sini?” Tanya Kibum saat Hyohyun menghampirinya.

“Aku hanya jalan-jalan saja.”

“Gadis bunga, kau mengikutiku lagi?”

“Mwo? Anio, kau ini PD sekali.”

“Duduklah.” Hyohyun menurut saja apa yang di suruh Kibum, ia duduk di samping Kibum.

“Ireumi mwoyeyo?”

“Jeoneun Jang Hyo Hyun ragohaeyo. Panggil saja aku Hyohyun. Kau Kibum kan?”

“Ne.”

“Kibum-ah, bolehkah aku bertanya?”

“Doemnida.”

“Kenapa kau setiap hari selalu membeli bunga rose? Apa kau tidak bosan setiap hari harus ke toko bunga? Mengapa tidak menanam sendiri saja?” Kibum tertawa menampilkan senyum menawannya.

“Kau ini penasaran sekali. Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu.”

“Ya sudah, aku juga tidak berharap kau menjawab pertanyaanku.”

Dalam beberapa jam Hyohyun dan Kibum mulai akrab karena suasana mulai mencair, kebanyakan Kibum hanya tersenyum saat mendengar ocehan Hyohyun. Hyohyun selalu bersemangat saat ia bercerita.

“Hyun-ah,”

“Mwoeda?”

“Mulutmu tidak lelah?” Tanya Kibum tertawa kecil saat melihat ekpresi Hyohyun saat ia bertanya.

“Anio, kenapa??? Aku terlalu banyak bicara ya?”

“Hahahaha… Apa mulutmu tid…”

“Hey! Chogi pwaeyo, bintang jatuh!” Teriak Hyohyun sambil menunjuk ke arah langit yang membuat Kibum tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Hyohyun memotong pembicaraannya. Hyohyun segera memejamkan matanya dan mulutnya berkomat-kamit. Kibum hanya memperhatikannya.

“Kau itu unik.”

“Mwo?” tanya Hyohyun saat membuka matanya kembali.

“Selain banyak bicara kau juga melakukan hal aneh seperti itu. Itu bukan bintang jatuh, tapi meteor.”

“Terserah itu mau meteor atau bintang jatuh, tapi setiap ada kejadian itu, aku selalu meminta sesuatu ke pada Tuhan. Aku sudah melakukannya sejak aku masih kecil.”

“Memang apa yang kau pinta?”

“Kau ini penasaran sekali. Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu.” Kibum tertawa saat mendengar kata-kata Hyohyun yang pernah diucapkannya saat Hyohyun bertanya kepadanya.

*           *           *

“Oppa! Oppa mau kemana?”

“Aku mau mengantarkan bunga ini ke rumah Kibum, katanya ia hari ini tidak bisa kemari, jadi ia minta bunganya di antar kerumahnya saja.” Jawab Heechul sambil memasukan bunga mawar putih ke keranjang sepeda.

“Aku saja!” Hyohyun merebut posisi Heechul dari sepedanya.

“Aissh.. kamu ini, hati-hati dong. Ya sudah, kamu saja yang mengantarkan bungannya. Ini alamatnya.” Heechul menyerahkan selembar kertas kecil alamat Kibum.

“Hyun berangkat dulu ya, dadah oppa…” Hyohyun mulai mengayuh sepedanya. baru beberapa meter, ia kemudian berhenti dan memutar arah sepedanya. Heechul heran.

“Kenapa kembali lagi?” Hyohyun bukannya menjawab pertanyaan Heechul, malah ia berlari ke dalam toko dan mengambil tanaman rose yang masih kecil. “Hey, Hyun-ah mau kau apakan tanaman itu?”

“Potong saja dari gajihku.” Jawab Hyohyun sambil memasukan ke dalam keranjang sepedanya dan kemudian pergi. Heechul hanya menggeleng-geleng.

Hyohyun semangat mengayuh sepedanya menuju rumah Kibum. Dua minggu sudah berlalu semenjak Hyohyun mengenal Kibum, sekarang mereka mulai akrab. Kadang mereka meluangkan waktu sore bersama.

Ting… Nong…Ting…Nong…

Hyohyun memencet bel saat ia tiba di depan pintu rumah Kibum. Kibum membukakan pintu.

“Annyeonghaseo. Ini aku mengantarkan bunga.”

“Masuklah.” Kibum mempersilahkan.

“Ini bunga pesananmu, dan ini untukmu.” Hyohyun menyerahkan bunga rose pesanan KIbum dan ……

“Untukku?”

“Ne, itu mawar terbaik di tokoku. Nanti kalau berbunga, kau tidak perlu repot-repot pulang pergi membeli bunga.”

Kibum tersenyum, “Tapi aku tidak bisa menanamnya.”

“Kau ini payah sekali, masa menanam saja tidak bisa? Sini biar aku yang tanam.”

Kibum mengantarkan Hyohyun ke taman belakang dan memberikannya scop tangan utuk menggali tanah.

“Tanamannya harus disiram setiap hari, pagi dan sore.” Kata Hyohyun seteh menanam bunga rose di taman belakang.

“Ayo istirahat dulu, aku akan membuatkan minuman untukmu.” Kibum mengantarkan Hyohyun di ruang keluarga dan kemudian menghilang ke dapur. Hyohyun duduk sambil mengamati sekitarnya, ada sebuah. Ia bangkit sambil melihat-lihat foto yang terpajang di dinding dan rak. Beberapa piala dan mendali terpajang rapi di atas rak besar di samping tv. Ada rasa kagum dari diri Hyohyun pada Kibum.

“Dia hebat juga, piala dan mendalinya banyak.” Kata Hyohyun dalam hati. Tiba-tiba ada satu piala yang menarik perhatian Hyohyun yang terpajang bersama foto-foto keluarga di sampingnya, sepertinya piala itu sangat special dan piala itu sangat familiar baginya. Piala yang berwarna keemasan setinggi 30 cm dengan bentuk kunci G dan dikelilingi oleh bentuk tuts-tuts piano.

Mata Hyohyun membaca tulisan yang ada pada piala. Juara 1 The fantastic of Mozart. “Rupanya dia pianis?” Dan saat mata Hyohyun melihat sebuah foto keluarga di samping piala, Hyohyun terkejut saat melihat namja kecil yang berumur sekitar 12 tahun tersenyum bahagia sambil memegang piala dengan pelukan hangat dari kedua orang tuanya yang juga tersenyum lebar.

Hyohyun sangat familiar dengan wajah kecil namja itu, itu wajah namja yang telah menyelamatkannya tujuh tahun lalu yang telah memberinya liontin. Itu artinya Kibum adalah namja kecil itu.

Kibum masuk membawa segelas orange juice dingin.

“Kibum kau ternyata pianis?”

“Dulu iya, sekarang tidak lagi.”

“Kenapa?”

“Aku tidak mau main piano lagi. Aku sekarang membenci piano.”

“Kenapa?”

“Pokoknya aku tidak mau menyentuh piano lagi. Karena piano Eomma menjadi meninggal. Andai saja aku tidak memaksanya untuk menonton pertandinganku, beliau pasti tidak akan mengalami kecelakaan mobil. Harusnya aku biarkan saja beliau sibuk dengan pekerjaannya.” Kibum mulai menahan air matanya karena terlalu sedih mengenang kematian Eommanya.

“Dan gara-gara itu kau berhenti main piano?”

“Kau tidak tahu rasa bersalah yang aku alami.”

“Harusnya kau menebus kesalahanmu dengan menjadi paianis yang hebat. Bukan berhenti menjadi pianis gara-gara rasa bersalahmu terhadap kematian Eomma-mu. Eomma-mu pasti merasa sedih sekali melihatmu seperti sekarang, padahal beliau sudah rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk melihatmu. Sekarang kembalilah kepada pianomu.”

“Memangnya kau siapa? Berani memerintahku? Kau hanya gadis bunga yang selalu ingin tahu urusanku.” Suara Kibum mulai meninggi.

“Memang, aku hanya gadis bunga yang selalu ingin tahu urusanmu. Ternyata orang yang dulu menjadi penyemangatku adalah orang yang pengecut, dia bilang kalau dia ingin menjadi seorang bintang pianis yang hebat, tapi sekarang dia malah menjadi seorang pengecut karena tidak berani menghadapi kenyataan.”

“Apa maksudmu?” Tanya Kibum. Hyohyun melepas kalungnya dan melepas liontin bintang dari kalungnya. Ia menghampiri Kibum dan menaruhnya di telapak tangan Kibum.

“Ini milikmu yang pernah kau berikan padaku tujuh tahun lalu, kau bilang kau ingin menjadi bintang pianis yang hebat. Aku rasa sekarang giliranmu yang membutuhkannya. Gomawo, karena pernah meminjamkanku liontin ini untuk menjadi penyemangatku.” Kemudian Hyohyun pergi meninggalkan Kibum yang masih terkejut, orang yang di hiburnya tujuh tahun lalu saat perlombaan ternyata adalah Hyohyun.

*           *           *

Hyohyun murung sambil memainkan kelopak bunga matahari. Sudah tiga hari Kibum tidak datang lagi ketoko semenjak kejadian itu.

“Bego, kenapa aku mengatakan seperti itu? Ia pasti sangat marah, dia pasti sangat terluka karena kepergian ibunya. Kenapa mulutku tak bisa di control saat itu? Bodoh…” Hyohyun merutuki diri sendiri sambil mecopot kelopak matahari yang tinggal setengah. Heechul mengamatinya.

“Hyun-ah kenapa akhir-akhir ini kau murung semenjak kau pulang dari rumah Kibum? Terjadi sesuatu denganmu? Apa Kibum berbuat sesuatu yang tidak senonoh denganmu?” Hyohyun menggeleng lesu.

“Aku merasa bersalah dengannya, mungkin dia marah denganku karena perkataanku. Buktinya, sudah tiga hari dia tidak kemari.”

“Memangnya kau bilang apa dengannya?”

“Ternyata dia adalah namja yang telah menolongku tujuh tahun lalu. Dan aku bilang dia adalah seorang pengecut saat aku tahu dia berhenti bermain piano karena dia merasa bersalah dengan kematian Eommanya. Oppa, eotteoge hajyo?”

“Minta maaf saja padanya.”

“Aku takut kalau dia tidak mau memaafkanku.”

“Coba saja, aku yakin dia pasti mau memaafkanmu. Sekarang ayo kita pergi.”

“Kemana?”

“Pulang, memangnya kau mau bersemayam di toko? Ini sudah malam, makanya jangan banyak melamun.” Hyohyun sadar sat melihat kearah jam tangannya yang menunjukan pukul 20.15. Hyohyun meraih tasnya dengan lesu dan keluar.

“Hyun-ah, mau kemana?” Tegur Heechul saat melihat Hyohyun pulang ke arah yang berbeda.

“Aku hanya mau jalan-jalan sebentar.”

“Ya sudah, jangan pulang terlalu malam. Hati-hati ya.” Kata Heechul saat mereka berpisah. Hyo menyusuri trotoar dengan lesu sampai akhirnya ia tiba di pinggir sungai Han, ia duduk di tangga pinggir sungai. Beberapa kali ia menghirup nafas dalam-dalam dengan Kibum yang terus berenang-renang di pikirannya.

“Jangan berjalan sendirian saat malam.” Hyohyun menoleh ke arah suara. Ia terkejut saat tahu milik suara itu adalah Kibum yang duduk di sampingnya.

“Sedang apa kamu di sini?”

“Aku hanya ingin menemuimu saja. Mianhae untuk beberapa hari yang lalu, aku tidak bermaksud untuk berkata begitu.”

“Justru aku yang seharusnya minta maaf padamu, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu dan berkata lancang padamu.”

“Gomawo. Setelah kejadian itu aku berpikir lagi, ternyata apa yang kau bilang ada benarnya juga, Eomma pasti sedih bila melihatku begini. Selama ini aku hanya mengurung diriku dalam rasa bersalah, apalagi setelah kepergian Eomma, Appa pindah ke luar negri karena terlalu sedih atas kepergian Eomma.”

“Aku turut prihatin.”

“Tidak apa-apa, sekarang waktu untukku bangkit. Aku ingin mengejar mimpiku lagi, menjadi bintang pianis yang hebat.”

“Hwaiting!” Ucap Hyohyun sambil mengepalkan tangannya memberi semangat pada Kibum, Kibum tertawa kecil melihat semangat Hyohyun. “Hey! Chogi pwaeyo .Ada bintang jatuh!” Hyohyun kemudian memejamkan kedua matanya utuk beberapa saat.

“Memangnya berdoa saat ada benda langit jatuh bisa terkabul?” Tanya Kibum  setelah Hyohyun membuka matanya.

“Ne, buktinya saja sekarang kau sudah mulai ceria lagi. Dulu saat melihat bintang jatuh, aku berdoa pada Tuhan semoga kau bisa kembali seperti dulu lagi, menjadi ceria dan tidak pemurung lagi. Dan sekarang terkabul.”

“Jadi selama ini kau mendoakan ku? Kau perhatian sekali denganku, jangan-jangan kau mulai tertarik denganku?”

“Eng… Anio, kau ini PD sekali.” Wajah Hyohyun dirasakannya mulai panas karena menahan malu, padahal memang benar, Hyohyun sejak awal sudah tertarik dengan Ki Bum.

“Lihat, ada bintang jatuh lagi. Sekarang giliranmu.” Hyo menyuruh Kibum untuk berdoa, Kibum menurut saja apa yang disuruh Hyohyun. “Memangnya kau berdoa apa?” Tanya Hyo saat Kibum membuka matanya.

“Aku berdoa semoga nona cerewet yang di sampingku selalu menghiburku.” Hyohyun tersenyum saat mendengar kata-kata Kibum yang membuat hatinya seperti berbunga-bunga. “Kalau kau, tadi berdoa apa?”

“Em… Rahasia.”

“Kau curang, ayo beritahu aku.”

“Tidak mau.”

“Ayo beritahu aku, aku penasaran.”

“Tidak mau.”

Dan saat sebuat bintang jatuh lagi, mereka sama-sama berdoa dalam hati masing-masing semoga semua bisa menjadi lebih baik.

“Hyo,” panggil Ki Bum.

“Wae?”

“Joahaeyo.”

-The End-

13 Comments (+add yours?)

  1. KyuChulHanDimsum_Anya
    Jan 30, 2011 @ 15:37:33

    first ? wuaaaaa !! *gila

    nice epep .. tapi kok akhir.a ngegantung gitu ya ?
    after story pleasee 😀

    Reply

  2. woo~minki
    Jan 30, 2011 @ 15:45:27

    omo. .ceritanya manis.
    sweet banget.aku suka. .

    Reply

  3. LopeLopeKJW
    Jan 30, 2011 @ 16:53:08

    ndeehh.. bummie *colek kibum*
    haha.. sweet

    Reply

  4. HeeHwa
    Jan 30, 2011 @ 17:51:52

    ouuuwwaaa…bumma so sweettt
    q suka kta” bumma” yg ‘joahaeyo’…eung..terkesan.. romantis??

    Reply

  5. mei.han.won
    Jan 30, 2011 @ 19:15:14

    NICE FF…. 🙂

    Reply

  6. petalsha
    Jan 30, 2011 @ 19:56:56

    Baguusss..
    Afterstorynya aku mau deeehh..
    Masa endingnya cuma johahae doang.. Lanjut yaa thor!! *maksa*

    Reply

  7. Jung Mischa
    Jan 30, 2011 @ 20:45:16

    Huwaaa..kereeen…
    Ffnya manis bgt…dibkin after storynya lg pliss..

    Reply

  8. tanti_kyuhae
    Jan 30, 2011 @ 22:25:39

    like this.
    Omo boem boem yeobo kau romantis jg.

    Reply

  9. Laptop Batteries
    Jan 31, 2011 @ 12:48:28

    Heechul wearing a satellite dish on his head…. Searching for space big star kim hee chul i guess XD

    Reply

  10. SpecialChoiYoungRa(최영라)
    Jan 31, 2011 @ 14:40:29

    huwaaaaa
    Jadian dah
    Jadiannn
    Nice ff chingu!

    Reply

  11. puteunmin
    Feb 01, 2011 @ 16:47:41

    astaga,kibum romantis as usual.
    Apa lg kalo ditambah senyum mautnya..
    Btw mau deh ngeliat bintang jatuh sama hyuk /pletak
    simple but entertaining author. Great one 😀

    Reply

  12. nia'zquidward likilikilik
    Dec 19, 2012 @ 15:28:16

    .like this

    Reply

  13. I LIKE uu`
    Jan 14, 2013 @ 17:33:57

    Keren buanget !!
    Romantis & so sweet banget !

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: