Missing You~

Aku menatap kosong hamparan bunga tulip di hadapanku. Ingatanku
kembali berkelana ke masa-masa 3 tahun silam. Sampai saat ini, aku
bahkan belum lupa pada pertemuanku dengannya pertama kali.

“Melamun lagi?” suara Hyera menginterupsi lamunanku.

Aku menoleh dan tersenyum samar padanya. “Tidak. Ah~ aku hanya
teringat sesuatu.”

“Kau bohong.. Aku tau itu..” matanya menyelidik menatap raut wajahku.
Aku memalingkan wajah kembali menghadap pemandangan indah didepanku.
Kecintaanku terhadap bunga tulip membuat ku menanamnya sedikit tepat
dibawah balkon lantai atas sehingga langsung bisa kunikmati saat
berdiri merenung di balkon seperti yang sedang aku lakukan sebelum
Hyera datang membuyarkan lamunanku.

Hyera, Han Hyera. Ia sahabat yang paling dekat denganku. Meskipun aku
tertutup dari orang lain, tapi Hyera selalu bisa menebak hatiku.
Serapi apapun aku menutupinya, Hyera satu-satunya yang tidak bisa
kubohongi. Terkadang aku merasa sahabatku yang satu ini punya indra
keenam.

“Kau merindukannya..” tutur Hyera tiba-tiba dan terdengar hati-hati.

Aku terperangah mendengar tebakan yang keluar dari bibir Hyera. Ya,
jauh di dalam hatiku, aku merindukannya. Satu-satunya lelaki yang bisa
mengisi hatiku sedalam ini. Tidak pernah sebelumnya aku mencintai pria
yang benar-benar bisa membuatku memikirkannya tiap saat. Dia berbeda.
Ada hal lain yang membuatku mencintainya. Bukan sekedar senyum indah
atau wajah tampannya.

Air mata menggenang di pelupuk mata ku. Sungguh, aku begitu
merindukannya. Selama beberapa tahun ini aku memendam rindu yang
menyiksa perlahan-lahan. Tidakkah ia merasakan hal yang sama? Apa ia
bahagia lebih dari saat ia bersamaku?

Aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Bahkan terlalu takut
hanya untuk sekedar melihat wajahnya. Selama ini aku hanya mencari
tahu kabarnya melalui media massa maupun internet meskipun aku tahu
persis kemana aku harus pergi mencarinya.

“Ternyata aku benar.. Mudah sekali menebak hati mu, Jang HaeKyun,”
tegas Hyera lirih kepada dirinya sendiri.

Aku hanya diam tidak memberikan reaksi apa pun padanya. Tidak perlu
memberi jawaban pada Hyera, karena itu tidak membantunya untuk berubah
pendapat. Hyera hanya tahu satu hal: aku merindukannya. Dan hal itu
adalah suatu kebenaran.

Aku menghela napas panjang. “Kau tahu apa yang aku rasakan. Dan kau
selalu tahu itu,” gumamku sembari menyeka airmata yang turun ke pipi.
Hyera menghampiriku dan memberi pelukan sahabatnya.

“Apa perlu aku menghubunginya untukmu?” alisnya terangkat saat menatapku.

“Tidak. Terimakasih atas tawaranmu, Hyera.” aku tersenyum kecut. Aku
benar-benar tidak punya nyali untuk itu. Setidaknya untuk sekarang.
Aku hanya ingin menenangkan hati meskipun itu tidak benar-benar
membantu perasaanku menjadi lebih baik.

“Tolong berhenti menangis. Aku tidak akan pernah menyuruhmu untuk
berhenti mencintainya karena hati bukanlah sesuatu yang bisa diatur.
Aku juga akan terus menyuruhmu untuk berharap karena harapan adalah
awal dari mimpimu jadi nyata.” Hyera diam sejenak. Ia meneruskan,
“menangislah kalau kau masih ingin melegakan hati. Menangis
sekeras-kerasnya sekarang, tapi setelah itu jangan pernah menangis
lagi.”

Hyera berjalan meninggalkan aku sendiri, memberikanku privasi untuk menangis.

Amsterdam, kota tua nan indah ini sangat mengagumkan. Pemandangan
eksotis memanjakan mata pelihatnya, termasuk aku yang masih takjub
melihat bagaimana kincir angin menggerakkan turbin-turbin air untuk
mengaliri ladang. Mimpiku untuk menginjakan kaki di negara ini
akhirnya tercapai meski harus melalui jalan hidup yang kurang
menyenangkan hingga membawaku kesini.

Aku selalu ingin melihat bunga tulip, membayangkan berdiri di ujung
taman yang dipenuhi bunga tulip dan melihatnya bagai permadani
berlukiskan ribuan bunga. Sayangnya aku belum sempat mencari di mana
tempat seindah itu berada karena aku masih disibukkan dengan urusan
pekerjaan. Dan tentu saja masalah hati, yang paling mendasari alasan
kenapa aku langsung menerima tawaran untuk pindah tugas di Belanda,
negara yang punya keindahan yang ingin kulihat.

“Kau sibuk?” aku bertanya pada sahabatku.

“Tentu saja tidak pernah untukmu~” Hyera tersenyum menanggapi
pertanyaanku. “Why, dear?” ia menutup buku yang sedang dibacanya,
menaruhnya di meja dan menghampiri aku yang berjalan menuju taman
belakang.

“Kurasa aku membutuhkan waktu untuk melepaskan pikiran yang selama ini
menggelayuti hatiku.” Aku mengatakannya dengan nada sakartis.

Hyera hanya tersenyum mendengar kata-kataku. Aku bisa merasakan
tatapan skeptis dari matanya langsung.

“And then..?” aku menunggu reaksi dari sahabatku -yang terkadang
sangat mengesalkan- ini. Ia sama sekali tak menjawab, hanya tersenyum
seperti gadis idiot.

Aku menatapnya tajam.

“Kenapa?” tanyanya singkat.

Aku menatapnya lagi, sekarang pandangan bingung. “Kenapa??” aku balik bertanya

“Kenapa tidak dari dulu kau lakukan? Hahaha..” serunya sembari
tertawa. Ia mengambil bukunya lagi, membuka acak halaman yang tadi ia
baca.

Aku memutar kedua bola mataku, mendaratkan pukulan ringan di pundak
sahabatku. “Kenapa kau tidak mengajakku dari dulu?” aku mencibirnya.

“Aku kira orang sepertimu yang lebih suka berkutat dengan pekerjaan
dan laptop -meskipun sedang patah hati- tidak butuh refreshing” Hyera
menjulurkan lidahnya padaku yang ku balas dengan ‘jeweran’ di telinga
kanannya.

—-

Awal musim semi di bulan Maret, di mana pertumbuhan bunga tulip yang
merupakan bunga khas Belanda mulai mekar memamerkan kelopak indahnya
dengan beragam warna dan corak gradasi. Aku dan Hyera memutuskan untuk
tidak menyia-nyiakan waktu dengan datang ke pameran kebun tulip yang
memang hanya dibuka untuk umum pada musim semi dari bulan Maret hingga
bulan Mei saja.

Keukenhof, kebun bunga tulip yang tersohor dan mampu menyihir siapa
pun yang memandangnya. Hyera yang tidak terlalu fanatik dengan tulip
tiba-tiba saja menarik lenganku dengan penuh semangat menerobos
orang-orang yang berkerumun diantara bunga-bunga. Kami berhenti di
depan hamparan tulip yang memiliki motif seperti coretan-coretan kuas
di ke-enam kelopaknya yang besar.

“Ahh~ ini sangat cantik!” decak kagum meluncur dari mulutku dan Hyera.
Kami mengagumi karya Tuhan yang amat menakjubkan ini.

“Hyera, tolong ambilkan gambar tulip ini,” pinta ku pada sahabatku
yang sedang memasang wajah bodohnya sambil terus menatap sepetak
hamparan tulip.

“Umm.. aku lupa memasang baterai kamera.” Ia menyunggingkan senyum tak
bersalah yang kusambut dengan tatapan membunuh. “Oke, tunggu sebentar.
Aku akan membeli baterai yang kita butuhkan,” pamitnya terburu-buru
sebelum aku benar-benar membunuhnya.

Dengan hati-hati, aku menyentuh kelopak tulip berwarna biru keunguan
dengan pola semburat warna kuning yang terlihat rapuh. Aku merasa
bahwa jati diriku dipantulkan oleh bunga tulip ini. Mereka terlihat
kokoh nan elok tetapi sangat rapuh karena warna-warna dan pola atau
corak yang dihasilkan adalah berasal dari virus yang menyerang bagian
kelopak bunga tulip. Tidak ada bedanya dengan posisiku saat ini yang
terlihat tegar dan rapuh bersamaan.

Tidak sabar menunggu Hyera, aku mengambil ponsel genggamku di tas dan
memotret beberapa gambar untuk dijadikan wallpaper. Saat aku sedang
memfokuskan kamera ponsel, tidak sengaja aku melihat sosok laki-laki
tegap dengan postur tubuh yang sangat ku kenal.

Aku terhenyak. Sosok itu…

Aku lupa dengan niat awalku untuk mengabadikan bunga-bunga nan indah
itu dalam bingkai foto. Yang kulakukan adalah bangkit, berusaha
mengejar sosok itu diantara lalu lalang pengunjung. Suasana yang cukup
ramai membuatku agak kesulitan, aku kehilangan sosoknya.

“Hae Kyun!” aku menoleh dan berhenti mendengar namaku disebut. Rupanya
Hyera telah kembali dari membeli baterai dan melihatku berlari-lari.

“Kenapa kau berlari? Kau tidak sedang kecopetan kan?” nada bingung dan
khawatir tampak dalam suara sahabatku.

Aku tidak mengubris pertanyaannya melainkan menyapukan pandangan ke
sekeliling ku. Mencari-cari sosok itu. Ke manapun mataku mencari, aku
tak bisa melihatnya seakan hal yang tadi kulihat tidaklah eksis.

“Tidak ada..” gumamku lirih namun masih dapat di dengar oleh Hyera.

“Siapa?” ia ikut menoleh kesana kemari meski tidak tahu siapa yang aku maksud.

Aku memandang sahabatku sambil mempertimbangkan apa yang baru saja ku
lihat. Pada akhirnya kuputuskan untuk tidak memberitahunya, ia pasti
akan menganggapku berhalusinasi.

“Nothing” jawabku singkat dengan senyum agar lebih meyakinkan.

—-

Kembali pada rutinitasku sehari-hari dengan segala kesibukan bekerja.
Melelahkan memang, tapi inilah tuntutan. Beruntungnya aku dan Hyera
satu kantor dan satu ruangan, itu memudahkan kami menghabiskan waktu
bersama, mencuri kesempatan untuk bergosip dan sebagainya.

“Hae Kyun…”

Aku bergumam tidak jelas menjawab panggilan Hyera tanpa melepaskan
pandanganku dari layar komputer.

“Kau akhir pekan besok mau menemaniku?” Hyera setengah berbisik karena
suasana kantor sedang sepi. Semua karyawan berkonsentrasi pada
pekerjaan mereka, termasuk aku.

“Hmm.. kemana?”

“Ke tempat pembuatan keju dan sepatu tradisional Belanda. Temani aku
ya? Aku ingin mengirimkan beberapa oleh-oleh ke Seoul,” bisiknya penuh
harap. Ia menanti putusan dariku.

Melihat aku yang hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya, Hyera
mulai berisik dengan memanggil-manggil namaku. Sengaja aku hanya diam,
mengumamkan sesuatu yang tak bisa didengarnya dengan jelas.

“JANG HAE KYUN !! ARE YOU STILL THERE??!” teriaknya dengan wajah kesal.

Aku menoleh sekilas, menyadari perubahan suasana yang terjadi, aku
menjawab sekenanya. “Iyaaaaa,” lalu kembali berkutat dengan komputerku
sedangkan Hyera mendengus kesal dari seberang meja.

Akhir pekan tiba. Aku menemani Hyera pergi ke rumah keju yang berjarak
beberapa kilometer dari apartment. Aku mengamati rumah-rumah mungil di
sisi jalan yang sengaja dibangun beruntun. Rumah-rumah itu sebenarnya
hanya satu lantai tetapi memiliki loteng yang di jadikan sebuah kamar
dengan jendela bulat yang menghadap ke jalan dan di cat dengan
warna-warna permen. Unik dan menarik.

“Lucu ya?” Hyera mengikuti arah pandangku.

“Ah, cocok untuk satu keluarga kecil,” jawabnya senang. Aku tahu apa
yang bermain di otaknya.

“Kau mau memilikinya satu?” aku melirik Hyera. “Aku rasa Siwon pasti
mengabulkan apapun keinginanmu kalau kau mau menikah dengannya.”

“Haekyun-ah! No such thing! You shut up!” gerutunya dengan mimik
sebal. Tapi aku yakin hatinya senang, aku bisa melihat pipi
kemerahannya saat aku menyebutkan nama pria yang belakangan ini
menjadi kekasihnya.

“I shut my mouth,” kulirik Hyera penuh arti, “Mrs. Choi.” Aku terkikik
geli. Hyera hanya menatapku dengan pandangan siap membunuh sebelum
melemparkan tas kecilnya.

“Hyera, kau mau membeli oleh-oleh untuk satu komplek?” seruku saat
melihat sepatu yang di borongnya. Yang ditanya hanya nyengir. Aku
menggelengkan kepala kemudian beranjak ke sisi lain toko.

Mataku menelusuri tiap sudut toko dan berbelok ke tempat pembuatan
sepatu, disana sedang ada panduan kepada para turis saat tidak sengaja
aku melihat laki-laki memakai kaus lengan panjang berdiri dibelakang
para turis lainnya. Aku hanya bisa melihat siluetnya dari samping tapi
aku tahu pria itu tersenyum saat berbicara dengan temannya yang berada
disampingnya, tak lama kemudian ia memunggungiku.

Senyum itu, hanya ada satu orang yang punya senyum seperti itu di dunia ini.

‘Apa aku begitu merindukannya hingga mengira dia ada di mana-mana?’
suara hatiku bertanya-tanya.

Aku mencoba sedikit menyipitkan mata agar pandanganku lebih fokus,
tetap saja sosoknya yang menghiasi pandangan mataku.

“Hae Kyun!” sebuah tangan menepuk pundak ku dari belakang. Aku menoleh
[lagi-lagi] mendapati Hyera tersenyum sumringah. Kulirik laki-laki
tadi, namun ia bersama turis-turis yang lain berjalan menuju belakang
toko dan aku hanya bisa menatap punggungnya yang mulai menjauh.

“Ayo pulang,” Hyera menarik lenganku keluar dari toko. Aku
terseok-seok mengikutinya, masih dengan memikirkan laki-laki tadi.

Was it him? Was that the particular smile I’ve been missing?

—–

Dengan hanya memakai baju tidur tipis, Hyera masuk ke kamarku tanpa
mengetuk, membiarkan pintu kamar tetap terbuka. Sementara aku
mengeringkan rambut, Hyera duduk di sofa kamar yang menghadap persis
ke balkon. Ia mengambil beberapa camilan di laci meja disamping sofa
dan memakannya sembari membaca majalah yang tadi dibawanya saat masuk
ke kamarku.

Aku meliriknya dari cermin kemudian berputar dari kursi dan menyambar
majalah lain yang ia bawa. “Pinjam”, kataku singkat tanpa menunggu
respon darinya. Aku membolak-balik halaman dengan tidak sabar, tanpa
sengaja aku membuka halaman tepat di mana membahas tentang topik yang
membuatku tak bergeming. Ku tatap lekat-lekat gambar yang ada di dalam
majalah tersebut.

Deg!

Aku berusaha menelan ludah dengan susah payah.

Aku melihatnya! Ya, aku melihatnya. Meskipun hanya melihat
punggungnya. Punggung yang dulu pernah menjadi sandaranku itu kini
sedang berjalan menjauh. Tak kubaca artikel di bawahnya karena aku
terlalu fokus pada foto itu.

‘I’d rather seeing your face than your back cause it means you are
walking away’..

Hatiku sesak, sangat sakit rasanya. Seperti diremas remas dengan
kencang tanpa menyisakan ruang untuk bernapas. Bahkan tak ada sedikit
udarapun yang bisa dialirkan. Sekejap, aku rasa aku mati.

Kau tau? Aku begitu merindukanmu. Aku berharap bisa melihat wajahmu
lagi suatu hari nanti. Tapi yang selalu ku lihat hanyalah punggungmu,
selalu punggungmu yang menyisakan bayangan. Punggungmu yang selalu
berjalan menjauh dari jangkauanku.

Emosiku meluap, aku terisak. Jika benar yang selama ini aku temui
adalah dirinya, kenapa harus selalu melihat punggungnya? Aku ingin ia
berbalik dan mendekat meskipun bukan untukku. Aku ingin melihat
senyumnya. Aku ingin melihat sorot matanya yang teduh. Aku ingin
melihat wajah ‘bocah’ nya saat bersamaku.

‘Just talk with me, coz I want u to stay here with me’

Sejak ia memilih untuk meninggalkan kesibukannya di dunia tarik suara
dan lebih tertarik dengan akting, di saat yang bersamaan juga ia pergi
meninggalkanku. Tidak mengatakan apapun, tidak lagi menghubungiku
dengan tiba-tiba. Ia menghilang tanpa muncul kembali dihadapanku. Aku
memahaminya, namun ia seakan tidak mengerti halusnya perasaanku. Ia
terus berlalu dari hadapanku tanpa menoleh.

‘And I knew that he’s the only precious one in my life. I missed our memories’

Memori tentangnya muncul kembali ke permukaan setelah bertahun-tahun
kututup agar tidak tersentuh, kukunci dengan gembok terkuat yang
kumiliki. Karena satu hal, aku takut jika kenangan itu kembali aku
akan hancur. Seperti sekarang, perlahan-lahan pecah menjadi kepingan
halus.

Hatiku penuh kerinduan terhadapnya. Aku sangat merindukannya. Tidak,
lebih tepat aku merindukan memori tentang aku dan dia.

“Haekyun,” Hyera memanggilku. Suaranya membuat air mata ini tak
tertahankan.  Selama ini aku berusaha menjadi pribadi yang kuat,
seseorang yang tak menangisi masa lalunya. Tapi di hadapan Hyera, aku
hanya ingin menjadi seorang gadis.

“Hei baby, what’s wrong.” Tanpa peringatan, aku berlari masuk dalam
pelukan Hyera. Ia terhenyak kaget, namun mendengar isakan tangisku,
Hyera tak melakukan apapun selain membelai lembut punggungku.
“Haekyun…”

“Aku merindukannya Hyera, aku merindukannya.” Suaraku yang bercampur
dengan segukan dan isakan terdengar samar, tapi aku tahu sahabatku
mengerti lebih dari ucapan verbalku. “Aku ingin memeluknya, berada
dalam dekapannya. Aku masih ingat wangi tubuhnya, senyuman manisnya,
cengiran bocahnya. Aku ingat semuanya, dan kini aku merindukan semua
hal itu.”

Kurasakan bahu Hyera bergerak, ia juga menangis. Aku tak ingin menjadi
gadis yang kuat. Sekali ini, aku ingin menjadi Haekyun yang lemah,
yang menangisi masa lalu karena begitu merindukan kekasihnya yang
telah lama hilang entah kemana.

“Kenapa aku tak bisa sepertimu? Kenapa kekasihku tak bisa selalu di
sampingku? Kenapa, Hyera? Kenapa…” aku terduduk lemas, Hyera ikut
bersimpuh di hadapanku masih dengan posisinya yang memelukku.

“Maafkan aku, Haekyun. Maaf…”

Hyera menatap sahabatnya yang tertidur lemah di tempat tidurnya.
Matanya yang sembab kini tertutup rapat, dibuai mimpi. Ia bernafas
lega. Haekyun bukan tipe yang meledak-ledak seperti tadi. Dan kejadian
barusan, menunjukkan bahwa Haekyun si insensitif itu sudah tak kuasa
menahan rindu.

Ponselnya hanya dimain-mainkan di tangan, Hyera tak yakin apa ia harus
melakukan hal ini atau tidak. Nomor yang akan dihubunginya, ia sudah
menghubunginya beberapa kali sebelum bertolak ke Amsterdam. Hyera
selalu mengabarkan keadaan Haekyun padanya.

Dan kini, ia tahu ia harus memberitahunya. Apapun resikonya.

“Oppa-ya,” sapa Hyera saat nada sambung ponselnya terangkat. “Haekyunnie…”

Terdengar helaan nafas berat di ujung telepon. “Aku sudah memutuskan,
Hyera.” Suaranya dingin, datar tanpa ekspresi. “Aku akan pergi, aku
tak ingin ia sakit.”

“Dia menderita tanpamu, oppa. Mengertilah!” rengek Hyera, memohon agar
ia melakukan sesuatu untuk membangkitkan kembali HaeKyun yang kini
luluh lantak.

“Aku mengerti itu, Hyera. Sangat mengerti.” Suara pria itu berubah
menghalus, dan bergetar menahan tangis. “Bayangkan, jika kini aku
kembali padanya. Aku tahu ia akan amat senang, kami akan merajut kisah
kami yang sempat tertunda. Tapi, jika kemudian aku harus pergi lagi,
meninggalkannya sendiri. Kau tahu kan apa yang akan terjadi?”

Hyera diam. Ia tak ingin membayangkan sesuatu yang buruk menimpa
sahabatnya. Gadis itu terlihat kuat dari luar, namun ia amat sangat
rapuh. Haekyun secantik kristal, berkilau indah. Tapi semua orang tahu
bagaimana rapuhnya benda cantik itu.

“Ia rapuh, ia akan hancur..,” kata pria itu seakan bisa membaca
pikiran Hyera. “Dan aku tak bisa melihatnya hancur untuk kedua kalinya
karena pria bodoh sepertiku.”

“Tapi ia mencintaimu,” kata Hyera beralasan.

Pria itu menghela nafas berat,  seakan mengisyaratkan apa yang
dikatakannya hanyalah ilusi. Bahwa sebenarnya ia juga ingin kembali
merengkuh gadis kesayangannya kembali dalam pelukannya. “Dan aku
mencintainya, aku tak ingin ia hancur..”

“Sudah bangun?” aku mendengar suara yang familiar. Kubuka perlahan
mataku, beradaptasi dengan cahaya matahari yang merangsak masuk lewat
daun jendela. “Aih, thanks God hari ini libur. Aku sudah punya rencana
untuk kita berdua hari ini.”

Kulihat Hyera dengan santainya merapikan meja riasku yang berantakan.
Beberapa alat make-up milikku memang tergeletak tanpa urutan di meja
kayu itu. Jarang sekali Hyera mau membereskannya untukku.

“Jangan menatap aneh begitu,” katanya menyadari aku yang menatapnya
bingung. Ia lalu berjalan mendekat dan duduk di sisi tempat tidurku.
“Aku kangen jaman SMA kita dulu, main ke sekolah yuk?”

“Kau sakit ya?” tanyaku sarkkastis. Temanku ini skrup otaknya longgar satu ya?

Ia mengerucutkan bibirnya.“Apa?”

“Kita di Amsterdam sekarang, dan bangunan SMA kita ada di Seoul.
Memang kau punya pintu kemana saja?”

Aku mungkin memang patah hati, dan amat histeris tadi malam. Tapi aku
punya cukup akal sehat yang bisa digunakan untuk tahu jarak
Amsterdam-Seoul tidak selangkah kaki.

“Meremehkan sekali sih,” Hyera menatapku sebal.“Aku bilang main ke
sekolah, memangnya di Amsterdam tidak ada bangunan sekolah apa?”

Aku tercengang. Hal seperti itu tak pernah mampir ke otakku. Ya,
sekarang aku mengerti maksudnya, ia hanya ingin menghiburku. Kejadian
semalam memang mengagetkan, aku sendiri terkejut aku bisa seekspresif
itu. Hyera pasti sedang mencari cara untuk menghiburku.

“Kita main, lihat-lihat kehidupan anak SMA. Bagaimana?” tanyanya lagi
dengan wajah penuh harap. Aku tak bisa menolaknya, aku tak pernah bisa
menolak keinginannya. Lagipula aku tahu yang ia lakukan sekarang ini
murni untuk menghiburku.

“Aku mandi dulu,” kataku sambil tersenyum, meyingkap selimut yang
menemani tidurku lalu beranjak menuju kamar mandi.

Kibum tersenyum memandang sepasang sahabat yang tertawa riang, saling
mencicipi es krim yang dijual di depan salah satu sekolah menengah
swasta di kota tulip itu. Senyum itu menular, saat kau melihat
seseorang bahagia, sesakit apapun kau saat itu, kau akan ikut
tersenyum. Merasakan kebahagiaan orang lain.

Ini hari terakhirnya di Amsterdam setelah seminggu ini menghabiskan
waktunya di negeri kincirangin itu. Kibum datang bukan tanpa alasan,
jelas ia ingin memastikan sesuatu. Memastikan seseorang, lebih
tepatnya lagi.

Ia mampir ke Keukenhof, hanya untuk menikmati wajah gadis yang
dicintainya bahagia memandang hamparan tulip nan indah. Tentu ia
bahagia, walau hanya bisa memandang dari jauh, dari balik kerumunan.

Hari-harinya dipenuhi dengan senyum gadis itu.  Bahkan saat gadis itu
mencari sosoknya dengan bingung di balik pintu toko Keju. Demi apapun
Kibum ingin sekali menghadapinya, muncul di hadapannya dengan real lalu
menarik gadis itu dalam pelukannya. Tapi itu tak mungkin, ia hanya
akan menambah luka gadis itu. Dan ia tak mau itu terjadi.

“Karena aku mencintaimu, aku tak ingin kau terluka lagi…” Kibum
berbisik pada angin yang menerpa wajahnya, setengah berharap angin itu
akan mampir ke telinga gadis itu untuk memberitahukan segalanya.
“Walaupun kau hanya bisa melihat punggungku, aku akan berusaha melihat
senyummu.”

Kibum berbalik arah, bersiap meninggalkan pilar itu untuk segera
keluar dari kawasan sekolah itu. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh
sekali lagi, menggumankan perasaannya.

“Karena kau yang paling berharga untukku, kristalku yang paling cantik…”

the end.

ps : AYO KOMEEENN~~ ini ff spesial buat yang kangen Kibum, dan tentunya buat temanku tersayang Trisa 🙂 i miss him too -_-

oya ini bukan murni buatan aku, tapi juga buatan si jalang Shalof (yang setengah ke bawah, hhehe) . She can always make a good story [and i’m envy!]

54 Comments (+add yours?)

  1. shalof
    Feb 04, 2011 @ 16:36:51

    SPOOOTTTT!!!!

    edited–
    asoynya jadi admin bisa ngedit2 seenak jidat hahahaha

    kok aku jadi nangis sendiri yaa? huuu~ kibuuumm~

    Reply

  2. monchul
    Feb 04, 2011 @ 16:56:46

    AAAAAH AKU JUGA KANGEN KIBUMMIE TT_TT
    WELLLL sukses bikin aku merinding! Dan kenapaaa perannya disini kayak wujud setan, temennya Jumunjin *pikiran nyeleneh
    Siapalah, kamu, kamu berdua, kalian, terimakasih atas ff nya! *brb nntn vidio2 yg ada kibum*

    Reply

  3. yokyuwon
    Feb 04, 2011 @ 17:09:15

    yeahh…mizz kibum too!!!

    Reply

  4. chochoilee_rin
    Feb 04, 2011 @ 17:09:32

    Kibum chicken*brbngumpuliboom*

    Abis. Baca saia jd emosi! Brb
    Ntar klo udh sadar komen lg *sigh*

    Reply

  5. fiteukhae
    Feb 04, 2011 @ 17:15:52

    Huaaaa…. Kibum… 😥 FFnya nyakitin ya? Huhu.
    Keren! Suka sama gaya bahasanya.

    Reply

  6. HwangFie
    Feb 04, 2011 @ 17:26:08

    Huweeee baca ini kuk jadi campuraduk gni prasaannya… >.<
    terharu.geregetan.unik.kangen.yang pasti kerasaaaaa banget emosinya.. #hahagwikutemosi

    AUTHORDUO, SuperNice story ^^d

    Reply

  7. ghe
    Feb 04, 2011 @ 17:31:00

    sediiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih.
    yah tapi kalo emg jodohnya gk bakal kemana kok hehe.
    ceritanya bgus bgt deh, kerasa sedihnya jadi pengen nangis kan haha.

    iyaya si kibum apakabar sih? -_-

    Reply

  8. chochoilee_rin
    Feb 04, 2011 @ 18:02:13

    Feelnya dpt se.. Moga trisa abis baca ini ga bundir*plakplakplak*

    Makanya td sempet kesel ama mbum, walo kangen T.T
    Karakternya itu loh meye2 gmn..jd inget org yg meye2 gtu..
    Ya tapi bener sih ga selamanyakan 2 org yg saling cinta kudu jadi satu..*jleb*

    *deepsigh*

    Reply

  9. Me83
    Feb 04, 2011 @ 18:23:17

    wah ini crita memainkan imajinasiku xD Kibum baik2 aja tau, dia lagi sma aq /plaak
    jujur aq suka sma endingnya, ga tau knp lebih suka ending yg kayak begitu wkwkwkwk… *wew yg laen pde nangis terharu juga -..-

    Reply

  10. Kyeon
    Feb 04, 2011 @ 18:25:06

    nae sarangi jejariro ojin mothago, keudae nunmul mankeum molli ganeyo, naneun ijoya hajyo geuda NEOMU GEURIWO nareul apeuge hajireul mollado, ijoyo

    siapa yg tau itu lirik lagu apa? yap itu lirik lagu SM The Galau yg Missing You

    SM The Galau itu ada 4member, isinya sasha, tata, trisa, sama [nama disamarkan]

    sedih ye kl kangen kibum ;(

    haekyuuuuun, kibum pasti balik, bntr lg di 5jib. suamiku cb? 15bulan lg baru balik *lap ingus

    INI BAGUUSSSS. beuh, no koment lah! hebat hebat hebat!!

    i LOF it

    Reply

  11. AmayaKawaii
    Feb 04, 2011 @ 18:30:02

    Really miss u ki bum. . .
    Keren critany,,daleeem kyk lautan hehehe

    Reply

  12. dhila_アダチ
    Feb 04, 2011 @ 19:22:12

    *gigit jari*
    keren eonn..kereeeeen…b^^d
    apalagi latarnya di belanda..fufufufu…
    after story..after story…

    Reply

  13. tomomikazuko13
    Feb 04, 2011 @ 19:42:27

    miss you bummie 😥
    berharap secepatnya kamu gabung lagi dear..
    nice ff, endingnya bikin air mata keluar tanpa permisi *halah bahasanya*
    ga ada yang mati sih, tapi tetep aja bikin mewek *dua jempol buat authornya*

    Reply

  14. Mrs.Choi407
    Feb 04, 2011 @ 20:12:57

    Nice ff 🙂

    Beneran kangen kibum, dy kapan balik lagi yaa?? Miss him -.-

    Reply

  15. Kyeon
    Feb 04, 2011 @ 22:15:32

    kita 3H1K (?) . yg paling UNYU dan GA ALAY cuma yg namanya dr K

    #kakakakaboooooorrr XD

    Reply

  16. minoNoona
    Feb 04, 2011 @ 22:23:08

    kaga ngartiiiii.. -,-
    pengen ngerasain sedih dari ‘angstnya’ tapi ga bisa karena terlalu banyak pertanyaan yg mengganggu.. ^^;;
    kalo kibum emang cinta sama haekyun kenapa dia harus ninggalin haekyun? ok, mungkin yg pertama bisa diterima tapi kenapa dia berencana untuk meninggalkan haekyun lagi seandainya dia kembali sm haekyun?
    apa yg ada dipikiran kibum sampai dia ngerasa kalo meninggalkan haekyun itu merupakan keputusan yg terbaik buat haekyun, dan bahkan untuk dirinya sendiri.. *getok kibum supaya sadar*

    so i wanna say sorry to authors [both of you], forgive me, but i cant feel the angst of this missing you.. blame my stupid and small brain that cant digest the message of this fic.. ^^;; *bowing*

    Reply

  17. elfnote13
    Feb 04, 2011 @ 22:30:44

    Thoor wae? Wae? Kenapa sad ending?
    Buat epilog , gak mau tau pkoknya buat! Tega amat ,
    Huwee*srot

    Reply

  18. zee a.k.a nanami
    Feb 04, 2011 @ 22:48:10

    terharu T.T
    nice ff thor~!!

    Reply

  19. trisa
    Feb 04, 2011 @ 23:47:49

    kepada saudara distatatatatatatadado ,sasashapigila harap menghadap trisa sekarang juga !!!mau dikasi cipok satu satu, cipok pake siwon ma heechul ?? *maunya !!!!* hahaha
    ih kok ada line i’d rather bla bla itu sih ?!! >,<
    both you gals, one song for ya : u know me so well..girls i heart you..girls i lop u~~ *joget semes*

    thankyou ya sayang, ini ngena banget loh..untung nerusin bacanya di kost, kalo nggak…. bisa dilemparin receh di bus disangka nangis gak punya ongkos hahaha aku udah gak mau nangis loh.. gara gara siapa ini ?!jawab !!hahahaha

    okay cut it off, comment sebagai reader : keren, aku suka penjelasannya,view belandanya juga bikin pengen kesana bnget banget.. tapi kita kok intim banget sha ?gue khawatir ending aslinya malah ada tris-sha couple saking gak hae-bum atau si-sha gagal.. *sigh* bahahahahaha
    .
    .
    .
    .
    btw, ehem.. ampe akhir cerita pun haekyun-kibum gak bersatu ya ?hemmm..

    Reply

    • tata hyeonie
      Feb 05, 2011 @ 00:11:51

      aku bingung mau jawab apa haha~
      *pelokheechul*

      gini tris ceritanya ; aku sm sasha mikir ampe bingung krn klo kita bikin sad end asli kaya feel kmu ke kibum, takut kmu sedih. tp klo bkin happy ending, tkut kmu mkirnya “coba benran”, so sama2 bikin kmu sedih haha

      loh kamu gatau apa, belanda itu kn negara cita2 aku ! haha dan tulip itu bungan kesukaan aku hihi jdnya aku msukin ke ff ini krn emang smua kesukaan aku :-p

      heem klo itu sih urusan shalof, wkwkwk lagi2 ask shalof. readers diatas yg komen jg pd nanyanya pas yg bagian bikinan shalof XD

      Reply

  20. trisa
    Feb 04, 2011 @ 23:55:34

    bentar.. ini angst ??angst itu bykannya yg sadis sadis ?eh tapi geuning ini mah beneran sadis.. mengoyak ngoyak hat haekyun !!!!!!!!! jahatttt !!!

    Reply

  21. parkhasung
    Feb 05, 2011 @ 08:19:33

    Aaaa after story dong onn, endingnya ga asik

    Tp daebak kok ff-nya keren

    Reply

  22. firaakpopers
    Feb 05, 2011 @ 14:38:44

    kata-katanyaaa menusuuk jero gitu (?) waaahh nice FF eon :-bd iyaa eon betul , buat after storynyaa dongss , tapi happy ending (kebanyakan req hehe)

    Reply

  23. ndeehyuk
    Feb 05, 2011 @ 16:13:16

    hmm…
    jadi kibum yah….
    critanya dalem amat sih (?)

    corak pada tulip itu karena virus…
    wew… pelajaran kuliah w itu. hehehe *plak*

    Reply

  24. IsTi_KiHae
    Feb 05, 2011 @ 18:23:05

    ff’y bgs…
    kangen kibum..

    Reply

  25. Shillacsw
    Feb 05, 2011 @ 19:13:48

    Aduh duh duh, jd kangen kibum oppa..
    Miss that killer smile..
    5jib bharap sgt kibum comeback, udah kangen ampe ubun2.. Lol

    Reply

  26. chris~wonnie~hyunnie
    Feb 05, 2011 @ 19:20:59

    Kibummie~~~!!!
    Onnie bikin aku tambah kangen si Killer Smile dehh~ *siapa suruh baca?? #plakkk*
    Daebak…………..!!!!!!
    Hyera eksis~ #ditabok org.a
    Nice ff, onn~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~!

    Reply

  27. my prince mbumm
    Feb 05, 2011 @ 20:32:59

    missing you kibum,,,,,

    Reply

  28. my prince coude
    Feb 05, 2011 @ 20:36:04

    missing you oppa..

    Reply

  29. brina
    Feb 06, 2011 @ 00:03:20

    lama g’ main di blog ini, tau2 lngsung nemu ff gini…. air mataku tumpah…. *sentrup sentrup ingus*

    Reply

  30. han hyun neul
    Feb 06, 2011 @ 10:09:19

    woaaaah author sedih banget ff nya.. nyelekit(?) banget pas bacanya! kata katanya keren! kerenkerenkeren >.<

    Reply

  31. Love Ye_Jin
    Feb 06, 2011 @ 11:17:20

    KERENNN!!!!
    Aku nangis bc nya…
    Jd kangen sm Kibum ne….

    Reply

  32. kim wina love heechul
    Feb 06, 2011 @ 12:58:26

    FF-nya bikin aku tambah kangen ama kibum

    Reply

  33. nindy
    Feb 23, 2011 @ 09:08:25

    ending-nya sedih amat ya T.T
    sukses menambah kangen sama kibum oppa
    ff-nya bagus ^^

    Reply

  34. sandika han's wifey
    Apr 09, 2011 @ 14:48:10

    omooooo so sweet~
    maaf telat baru baca ._.v 4thumbs up!

    Reply

  35. BabyChullie
    Apr 10, 2011 @ 08:03:45

    Astaga sekaliNya baca, salah milih epep sayah…,
    kok epep yg dbaca sayah sedih mulu ya,?
    Aigoo KiBum-ah hwahhh balik atuh,!hhehe

    Reply

  36. Trackback: Missing You~ (via Superjunior Fanfiction 2010) « seulouvre
  37. CoFFiee~
    May 08, 2011 @ 18:22:06

    akuu baca FF ini lagi deh akhirnya, karena lupa muka kibum gimana?//ditaboookkkbolakbalik

    abis sih mas mbum lama banget kaga keliatan!

    aku suka agst, yang nangis-nangis gimana gituu.. /slap lagi

    k trisa, hwaiting, nanti kalo mas mbum balik lagi di 5jib getok aja kepalanya pake bibir.. wkwkwk/ kabuuurrr

    Reply

  38. devinardelia
    Jun 11, 2011 @ 13:46:13

    aaaahh.. bikin kangen kibum beneraaaaaann.. :(( sediiih.. :(( tapi kereeeeen 😀 ak suka quotesnya, yang ‘I’d rather seeing your face than your back cause it means you are
    walking away’. :’)

    Reply

  39. Kim Gaeul
    Jun 13, 2011 @ 15:09:46

    huhuhuhu…..kangen kibuuuuuummmm t_t

    Reply

  40. Qhaa Chibum
    Jul 11, 2011 @ 08:42:43

    Uda pernah baca pas Onet di hape ,
    tapi gak bisa ngoment .

    Nih epep beneran buat aku jatuh .
    Sedih tak terkira .

    Apa memang pada dasarnya ” Kibum” memang begitu yaa ?
    Gak Kibum Asli atau yang Samaran tetap ajja gitu .

    Reply

  41. kiswa kyuroshaki
    Oct 21, 2013 @ 18:11:48

    huwaa…mewek bcny…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: