ANOTHER

(Annyeong yeorobun… Saya ngeksis kembali dengan ff baru duet EunHae. Pokoknya, jangan mikir ini yaoi ya. Ini murni bukan yaoi, toh kalian nggak akan menemukan hal-hal ‘begitu’ di sini, hehehe. Okay, enjoy it. You have to leave a coment! Gomapta)

***

Eunhyuk’s part

Aku melangkah pelan di jalan-jalan  kota saat jam tangan Guess-ku menunjukkan pukul sebelas malam. Udara tak terlalu dingin, walau sebenarnya mungkin ini sudah lima belas derajat celcius. Maklum, mendekati musin dingin. Anehnya, aku selalu merasa kepanasan jika malam tiba.

Ponselku berdering. Aku mengangkatnya, ternyata itu Heechul-hyung, kakak lelakiku. Dia minta dijemput dari kantornya karena mobilnya baru saja masuk bengkel. Aku hanya mengiyakan. Menolak permintaannya sama saja mati.

Jadi aku kembali ke rumah, mengeluarkan Pajero Sport-ku, dan melarikannya di jalan yang sudah lumayan lengang. Yang kutuju adalah sebuah gedung mewah, tempat kakakku bekerja, sekaligus perusahaan milik keluarga kami. Kedua orangtuaku memang kaya (maksudku, mereka, bukan aku yang masih kuliah dan masih harus meminta jatah dari mereka), mereka memiliki sebuah perusahaan pengembangan software terbesar di Korea. Dan salah satu kantor pusatnya, diwariskan pada kakakku, Heechul-hyung. Kalau kalian pikir aku iri, bah, apa yang kuirikan? Aku sama sekali tidak berniat meneruskan bisnis keluarga ini. Biarlah Hyung-ku yang melakukannya, toh dia sangat cakap dalam mengelola perusahaan. Aku saja kuliah di jurusan Seni, mana mengerti tentang tetek bengek macam pengelolaan usaha begini? Dan untungnya―oh Tuhan terima kasih―kedua orangtuaku memberiku kebebasan.

Hidupku memang sempurna.

Aku sampai di gedung mewah yang merupakan kantor pusat. Dimana ayahku? Oh, jangan tanya. Sejak Heechul-hyung mengelola perusahaan dengan baik, mereka selalu pergi bersenang-senang dan melepaskan tanggung jawab perusahaan ke pundak Hyung. Sekarang mereka ada di Kepulauan Karibia, menikmati indahnya matahari musim panas.

Tanpa minat, kumasuki gedung yang sudah sepi itu. Karyawan, semuanya, aku yakin sudah pulang. Dan Hyung masih ada di sini, yah dia memang sedikit gila kerja. Aku menunggu di depan meja resepsionis (yang juga sedang kosong), lalu kukirim message ke Hyung, mengatakan aku sudah di lantai bawah.

Ketika menunggu itulah, mataku menangkap sosoknya. Lelaki itu mungkin seumuran denganku, atau hanya setahun dua tahun lebih muda, mungkin. Kulitnya putih agak pucat, tertutup jaket tebal murahan. Rambutnya agak panjang melewati tengkuknya, namun sebenarnya tidak bisa juga dibilang gondrong. Matanya coklat gelap, dan bibirnya membentuk seulas senyum tipis. Secara keseluruhan, dia tampan. Aku akan bilang mungkin dia artis kalau saja dia tidak sedang mengelap tembok kaca gedung ini.

Oke, jadi aku menyadari satu hal. Yang kuperhatikan itu adalah seorang pekerja semacam cleaning service atau office boy. Dia sedang membersihkan tembok kaca dengan serius. Kulirik jam tanganku, hampir pukul setengah dua belas. Keningku mengeryit, kenapa dia masih bekerja? Apa kakakku tidak tahu bahwa jam pekerja hanya sampai jam delapan?

“Eunhyukkie.” Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh dan mendapati Hyung-ku sudah berdiri di sampingku. “Kajja, kita pulang. Aku sudah lapar.”

Aku mengangguk. Pikiranku tentang lelaki cleaning service itu buyar dan sedikit terlupakan. “Kau belum makan? Aish, jinjja, kalau Ibu tahu kau belum makan, mulutmu bisa dijejali kimbab!”

“Makanya, ayo pulang dan makan!” Dia menarikku keluar gedung.

***

Donghae’s part

Aku menyelesaikan pekerjaanku mengelap kaca gedung besar ini. Lumayan lelah juga, karena aku sudah bekerja sejak pagi. Kulihat seorang memasuki gedung ini dengan santai. Dia tampan sekali (tapi aku bukan gay, aku hanya mengakui dia tampan!) dan terlihat sangat modis dan keren. Dia memakai jaket kulit berwarna coklat yang keren dan terlihat mahal, dan sepatu Nike edisi terbatas. Kuperhatikan tadi dia turun dari mobil sport-nya, yang tentunya mahal juga. Aku mendesah, sampai matipun aku tak akan bisa memilikinya.

Kufokuskan pikiranku pada pekerjaanku. Kalau terlalu lama memandangnya, aku bisa benar-benar iri. Kurasa dia menunggu seseorang. Dan benar saja, dari pantulan kaca, kulihat direktur perusahaan ini datang dan menepuk pundak lelaki itu. Direktur yang baru, namanya Kim Heechul. Menurut gossip, selain pekerja keras, dia juga ramah dan baik pada semua orang, tak terkecuali pekerja bawahan sepertiku. Namun aku jarang sekali melihatnya langsung.

Mereka berdua lalu keluar dari gedung dan pergi. Sepuluh menit kemudian, aku membereskan alat-alat kerjaku, dan masuk ke ruangan yang disediakan untuk para cleaning service. Hanya ada aku. Sebenarnya jam kerjaku berakhir pukul delapan malam, namun karena aku butuh uang, aku meminta pada penanggung jawabku untuk menambah jam kerja dan akhirnya dikabulkan. Dia memang begitu baik padaku.

Aku mengambil tas dan barang-barangku yang lain dari laci. Ada sebuah amplop coklat yang kupegang, gajiku bulan ini. Kukeluarkan dan kuhitung, tepat. Ini bisa untuk menebus obat ibuku dan melunasi biaya rumah sakit. Yah, ibuku mengidap kanker, dan sejak sebulan yang lalu harus dirawat di rumah sakit. Ini berarti aku harus semakin giat bekerja untuk mendapatkan uang.

Namun tiba-tiba, perutku terasa perih. Aku sampai harus membungkuk untuk menahan sakitnya. Rasanya seperti ditusuk ribuan jarum tak kasat mata. Kucengkeram backpack-ku erat-erat. Penyakit lambungku pasti kumat lagi. Dengan susah payah kebuka tasku, dan mengeluarkan obat yang biasa kuminum, tapi ternyata sudah habis. Sial. Aku juga baru ingat, terakhir kali aku makan adalah kemarin malam.

Aku melirik amplop coklat yang tergeletak di lantai. Aku bisa membeli makanan untukku, tapi kalau begitu berarti aku tak bisa membeli obat untuk ibuku. Sedang pihak rumah sakit terus mendesakku melunasi biaya perawatan ibuku yang tidak sedikit. Aku menggeleng. Bagaimanapun, ibuku lebih penting. Lagipula, aku masih bisa menahan lapar kok.

Hingga sekitar lima belas menit, rasa sakitku baru hilang. Aku berdiri, merapikan bajuku, dan berjalan keluar.

***

Aku masuk ke kamar rawat ibuku dengan hati-hati. Seperti yang kuprediksi, dia belum tidur. “Ibu, kenapa belum tidur?” tanyaku, lalu duduk di sampingnya.

Ibuku adalah wanita tercantik yang pernah kukenal. Dia begitu lembut, pengasih, dan murah senyum. Sayang, kanker itu merebut wajah meronanya, menggantinya dengan wajah pucat seputih kertas dan membuat rambut ibuku yang hitam legam dan indah itu rontok karena pengaruh kemoterapi. Ibuku tersenyum, mengusap wajahku.

“Bagaimana Ibu bisa tidur kalau putra kesayangan Ibu belum pulang?” tanyanya sambil tersenyum. Ah, senyumnya memang tak pernah hilang.

Aku ikut tersenyum. “Ibu, aku baik-baik saja kok.”

“Kau sudah makan?” tanyanya lagi. Firasat seorang ibu memang tak pernah meleset.

Aku mengangguk cepat. “Tentu saja. Ibu juga sudah kan? Apa makanan di sini tidak enak? Kapan-kapan aku akan membuatkan bubur untuk Ibu, ya,” ujarku, berusaha melucu. Ibuku hanya tertawa, dia tahu seberapa parah kemampuanku memasak.

“Ibu terlalu menyusahkanmu, ya?”

“Aniya!” aku berkata cepat, menggeleng keras-keras. “Jangan pernah berkata begitu. Aku bisa mengatasi semuanya. Ibu tenang saja.” Dan ibuku mengangguk dengan senyum dipaksakan. Kubenarkan selimutnya, lalu berkata lagi, “Ibu sebaiknya tidur, aku akan berjaga di sini.”

“Donghae-ya, kau sebaiknya pulang saja. Kau terlihat lelah, dan wajahmu sedikit pucat,” ucapnya, mengusap pipiku lagi. Aku mengeryit, apa Ibu lupa bahwa kulit anaknya memang begini? Tapi demi membuatnya tenang, aku mengangguk setuju.

Sekitar satu jam kemudian, aku sampai di rumah dengan bis terakhir. Rumahku sebenarnya hanyalah apartmen kecil yang terletak di pinggir kota. Awalnya kami tidak tinggal di sini, namun di sebuah rumah yang walaupun juga tak besar namun sangat nyaman. Keadaan berubah saat ibuku mulai sakit, dan rumah itu terpaksa kami jual untuk menutupi biaya perawatan. Dan akhirnya, disinilah rumahku, walau sempit namun sewa apartmen ini murah. Kenapa aku yang harus menanggung semuanya? Kemana ayahku? Oh, jangan tanyakan dimana lelaki brengsek itu.

Aku masuk ke dapur, melihat apa ada sesuatu yang bisa dimakan. Hanya ada sebungkus mie instan. Untunglah, setidaknya masih bisa dimakan. Aku membuat mie instan dengan cepat dan dalam sepuluh menit, aku siap menyantapnya, kalau saja rasa sakit itu tidak datang lagi.

Aku meringis kesakitan. Bodohnya, aku lupa membeli obat di apotek. Jadilah untuk beberapa lama aku bergulingan di lantai apartmenku, menahan sakit. Kugigit bibirku, berharap itu bisa mengurangi rasa sakitku, tapi sia-sia. Berkali-kali kuyakinkan diriku bahwa aku tidak akan mati hanya gara-gara sakit lambung begini. Tapi kusadari atau tidak, perutku benar-benar sakit dan rasanya aku bisa mati kapan saja.

Namun berangsur-angsur, rasa sakit itu hilang. Aku duduk bersila, ingin menyantap makananku yang sudah separuh dingin. Sudah berapa lama ya aku selalu makan malam mie instan? Aku tahu itu tak baik untuk kesehatan, apalagi untuk lambungku yang payah ini, tapi mau bagaimana lagi?

***

Eunhyuk’s part

Aku terbangun gara-gara seorang pelayan menyingkap tirai jendela kamarku. Sudah pagi ternyata, dan sinar matahari menembus masuk melalui tembok kaca. Aku duduk, mengumpulkan nyawaku yang masih terpencar-pencar, ketika dongsaengku, magnae di keluargaku, datang. Dia berdiri di pintu kamarku, dengan matanya tak lepas dari layar PSP yang digenggamnya.

“Heechul menyuruhmu turun untuk sarapan. Palli,” katanya dengan wajah datar. Dia memang sedikit ngelunjak dan kurang ajar. Yah, hasil didikan ibuku yang memanjakannya.

“Kyu, kalau Hyung mendengarmu memanggilnya begitu, dia akan membunuhmu!” kataku memperingatkan. Dia hanya mengedikkan bahunya tak peduli, lalu pergi. Cih, dasar dongsaeng menyebalkan!

Cepat-cepat aku bangun dan masuk ke kamar mandi.

Selesai aku mandi dan berganti dengan pakaian santai (ini hari Sabtu dan aku libur kuliah), aku turun dan menemukan kedua saudaraku di meja makan. Heechul-hyung sedang membaca koran paginya, sedang Kyuhyun, yah bisa ditebak dia sedang apa. Si maniak game itu.

Keluarga kami memang mewajibkan makan pagi bersama. Dan walau kedua orangtuaku yang sok-romantis-menikmati-honeymoon-kedua-di-Karibia itu tidak di sini, tetap saja kami melakukannya. Lagipula, itu menyenangkan kok.

“Hyukkie, kudengar kau ingin stereo baru untuk mobilmu?” tanya Heechul-hyung, menurunkan korannya.

Aku mengambil setangkup roti dan mengolesinya dengan selai strawberry banyak-banyak. Kyu sampai mendesah mual melihat rotiku penuh selai merah. “Ne, Hyung. Aku sedang menabung… Aish, jinjja, harganya mahal sekali…” Aku sedikit menggerutu.

Stereo itu harus dipesan di US sana, dan harganya tak main-main, hampir seperdelapan mobil-ku itu. Kalau kau pikir kami mudah mendapatkan uang karena orangtua kami kaya, itu tidak benar. Memang sih kaya, tapi mereka menerapkan prinsip bahwa siapapun yang ingin mendapatkan barang mewah dan mahal, harus membelinya sendiri dengan cara menabung uang saku kami, atau cara lain seperti membantu di perusahaan, dan uang kekurangannya baru akan ditutupi oleh mereka.

Jadi, kau pikir, bagaimana Heechul-hyung atau aku mendapatkan mobil mewah kami? Aku menabung dari uang jajanku, dan bekerja membantu di perusahaan sebagai desainer produk. Kyu, dia bisa membeli segala jenis game console terbaru juga dengan menabung dan membantu di kantor (walau ‘membantu’ itu kata yang tidak tepat untuknya, karena di kantor dia hanya bermain game dan tidur).

“Kau bekerja saja di kantor. Perusahaan sedang akan meluncurkan produk baru, dan kuharap kau mau mendesainkannya. Musim panas lalu, kerjamu hebat dan kau dipuji oleh Ayah. Kau tahu tidak, desain buatanmu itu bagus dan membuatnya laris di pasaran,” kata Heechul-hyung panjang lebar.

Aku hanya nyengir. Aku kan hanya mendesain halaman pembuka di software rancangan mereka. “Baiklah, akan kupikirkan. Aku sedang semangat mengikuti kelas tari, jadi aku takut perhatianku akan bercabang jika aku magang di kantor,” kataku, lalu kugigit rotiku. Hum…yummy…

“Oke.”

Sebenarnya, bukannya aku malas atau apa, tapi kelas tari hanya diadakan saat liburan musim dingin. Memang aneh sih, menari saat banyak orang lain bergelung di kamar menikmati kehangatan. Tapi masalahnya, aku tidak begitu terpengaruh dengan musim dingin, dan aku suka menari. Lagipula, aku bukannya tidak tahu kenapa Hyung sedikit memaksaku untuk magang. Tentu saja, dia ingin aku mulai menggeluti bidang ini. Walau aku lulusan Sekolah Seni, tapi tetap saja dia ingin adiknya bergabung di perusahaan keluarga. Yah, itu pasti ajaran ayah kami. Pasti ayah kami menyuruh Hyung untuk membujukku. Siapa tahu aku tertarik bekerja di perusahaan. Itu sih sama saja, apapun jurusan yang kuambil, jatuhnya juga mengelola perusahaan.

***

Sore hari, kugunakan waktuku untuk jalan-jalan. Aku masuk ke sebuah café di tengah kota, dan menikmati pemandangan orang-orang yang lalu-lalang dari tembok kacanya. Café ini milik seorang temanku.

“Selamat datang. Ada yang mau Anda pesan, Tuan?” Seorang pelayan menghampiriku sambil menganggsurkan buku menu. Aku menoleh dan sedikit terkejut melihat siapa pelayan itu. Dia namja yang bekerja membersihkan kaca di malam saat aku menjemput Heechul-hyung.

“Kau?” gumamku, menunjuknya. Dia terlihat bingung melihat ekspresiku. “Kau yang bekerja di Perusahaan Kii kan?” tanyaku, menyebutkan nama perusahaanku.

Dia mengangguk dengan bingung. Namun sedetik kemudian dia tersenyum. “Ne, Tuan. Maaf, apa Tuan ingin memesan sesuatu?”

“Hot coffe saja, dan cake strawberry,” kataku tanpa melihat daftar menu. Aku cukup sering ke sini sih, jadi sudah hapal. “Oh, ya, dua porsi ya.”

“Baik, silakan ditunggu sebentar, Tuan,” ucapnya ramah, setelah mencatat pesananku, lalu dia pergi ke belakang konter. Aku memandang kepergiannya dan tersenyum. Sepertinya dia orang baik dan menyenangkan.

Sekitar lima menit kemudian, dia datang membawa nampan yang berisi dua gelas hot coffe dan dua piring kecil cake. Diletakkannya pesananku itu di meja, sambil berkata ramah, “Silakan dinikmati.”

“Chamgaman,” kataku mencegahnya pergi. Dia menoleh bingung. “Duduklah.” Dan dia duduk di depanku dengan sikap rikuh. “Temani aku ngobrol.”

“Hah?”

“Siapa namamu?”

“Lee… Lee Donghae…”

Kukeluarkan ponselku dan kuhubungi seseorang. “Siwonnie, aku pinjam karyawanmu sebentar yang bernama Lee Donghae.”

“Never mind,” sahut Siwon dari seberang. “Awas saja kalau kau mengerjainya, dia satu dari sedikit  karyawanku yang kusukai.”

“Aku bukan mau memakannya kok.” Aku tertawa kecil. “Hanya mau mengajaknya mengobrol. Aku kesepian.”

“Oke.”

Lalu kututup flip ponselku. Donghae menatapku dengan pandangan bengong. Aku memperhatikan mata coklat gelapnya, yang sepertinya tak asing bagiku. Wajahnya mengingatkanku akan seseorang, tapi aku tidak bisa mengingat siapa orang itu. Pokoknya dia terasa begitu familier bagiku, walau aku sepenuhnya sadar aku baru saja mengenalnya. “Tidak akan ada yang memarahimu karena kau duduk di sini saat jam kerjamu. Tenang saja,” kataku. Dia mengangguk kaku. “Oh ya, kenalkan, namaku Lee Hyukjae, tapi kau boleh panggil aku Eunhyuk saja.”

“Ne, Eunhyuk-sshi…”

“Bukan begitu!” aku sedikit gemas. “Panggil Eunhyuk tanpa embel-embel seperti itu. Araseoh?”

“Ne. Eunhyuk…”

“Bagus.” Aku berdecak, lalu mengangsurkan secangkir hot coffe dan sepiring cake untuknya. “Makan ini, kau kelihatan kurus sekali. Kau pasti belum makan sejak pagi kan?”

Dia malah menatapku dengan pandangan tak mengerti.

***

Donghae’s part

Aku benar-benar tidak mengerti. Dia berbuat baik padaku. Mengajakku duduk dan memberikan secangkir hot coffe dan cake strawberry padaku, yang baru dikenalnya. Aku ingat, dia adalah namja yang kukagumi karena dia tampan dan keren (dan sangat amat kaya), yang kutemui kemarin lusa.

“Aku hanya ingin punya teman mengobrol,” katanya ketika kutanya kenapa dia memperlakukanku dengan baik. “Hyung-ku sibuk bekerja, dan dongsaengku tak bisa lepas dari game-nya. Padahal sesekali aku ingin mengajak mereka hang out bareng, seperti dulu.”

Ketika mengatakannya, matanya seolah berkata bahwa dia kesepian. Aku hanya mengangguk-angguk tak mengerti. Bagaimana aku bisa mengerti kalau aku saja tak punya saudara? Keluarga yang kupunya hanya ibuku, dan ayahku yang brengsek yang sekarang aku tak tahu dia dimana.

“Jadi, Donghae-ya, ceritakan tentang dirimu. Kau masih kuliah? Eh, berapa sih umurmu?” tanyanya dengan semangat.

“Aku sembilan belas tahun, dan ya, masih kuliah. Sebenarnya aku bekerja sampingan di…” Aku ragu-ragu mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku bekerja di manapun yang bisa menghasilkan uang dengan halal. “…hanya dua tempat kok, di gedung perusahaanmu dan di sini.”

“Wow!” soraknya. “Kau pekerja keras.” Aku hanya nyengir menanggapi ucapannya. “Berarti kau sebaya denganku. Jadi mulai sekarang kau harus jadi temanku, oke?”

Aku melongo lagi. Tidak salah nih? Seorang namja kaya raya menjadikanku temannya?

“Hei, hei, jangan menatapku seakan aku datang dari planet asing!” katanya, seolah bisa melihat isi kepalaku.

***

Eunhyuk’s part

Donghae itu orang baik. Aku sudah mengenalnya selama dua minggu, terhitung sejak pertemuan kami di café Siwon itu. Dia benar-benar seorang pekerja keras. Maksudku pekerja keras, adalah benar-benar pekerja. Aku tahu dia masih kuliah di sebuah universitas negeri yang biasa saja, yang yah…bisa kukatakan jauh beda dengan kampus elite yang menjadi tempatku belajar selama ini. Anehnya, dia mengambil jurusan Ilmu Hukum. Ketika kutanya apa dia ingin jadi seorang pengacara atau hakim atau apa, inilah jawabannya.

“Hanya fakultas itu yang menawarkan beasiswa penuh dan tidak menuntut biaya terlalu tinggi.”

Dan selanjutnya, aku tidak berani mengungkit lagi perkara kampusnya itu. Walau secara tersirat aku tahu bahwa dia ingin kuliah di jurusan lain yang lebih cocok untuknya. Bisnis Manajemen, mungkin. Jurusan yang dulu diambil kakakku, dan mengantarkannya sehebat sekarang.

Dan wah, wah, wah… Donghae itu sedikit keras kepala. Dia benar-benar tak ingin orang lain mengetahui kesulitannya. Aku saja tidak pernah diberi kesempatan untuk membantunya. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa dia harus kuliah sambil bekerja. Maksudku, memang banyak orang yang melakukannya, tapi dia berbeda. Tidak ada orang seumurku yang bekerja sekeras itu, setahuku sih begitu. Ketika kutanyakan alasannya, dia hanya tersenyum dan bilang akhir-akhir ini kebutuhan hidupnya sedang naik. Memangnya dimana sih orang tuanya? Masak ada orang tua yang tega membiarkan anaknya seperti ini?

Aku sering mengajaknya keluar untuk sekadar makan atau bermain seusai dia bekerja. Rasanya asyik sekali mempunyai teman yang tidak memandangku karena aku orang kaya atau apa. Aku yakin dia bukan tipe orang yang bisa memanfaatkan orang lain (mungkin malah biasanya dia dimanfaatkan).

***

Siang hari ini, aku duduk di depan ruang gawat darurat rumah sakit. Tidak, tidak, bukan aku yang sakit. Ini hanya ketololan kecil yang biasa terjadi di rumah kami. Jadi, tadi saat di rumah, Kyu sedang bermain game di kamarku. Dia memainkannya sambil menyandar di balkon kamarku, yang letaknya di lantai dua. Entah karena dia terkejut ketika ponselnya berdering atau apa, dia menjatuhkan PSP-nya dari balkon. Kebodohan tidak berhenti sampai di situ. Kyu langsung meloncat dari balkon untuk mengambil PSP-nya yang jatuh. Aku tidak tahu, Kyu itu sebenarnya jenius atau idiot. Dan di sinilah dia, harus menerima lima jahitan di sikunya karena ―syukurlah, demi Tuhan― dia jatuh menimpa deretan pot bunga ibuku dan tidak membentur lantai. Ibu pasti akan menggorok leherku kalau anak kesayangannya mati atau cacat seumur hidup.

Akhirnya kutelepon Heechul-hyung, yang tentu saja masih ada di kantor.

“Yoboseyo?” sapanya.

“Uhm…Hyung, aku sedang ada di rumah sakit.”

“Waeyo?”

Kuceritakan perihal magnae kami yang jatuh dari balkon hanya gara-gara berusaha menangkap PSP-nya. Tidak seperti yang kuduga, Hyung malah tertawa santai.

“Oh, hanya itu. Tahu tidak, saat libur musim semi kemarin, saat di Sungai Seine, dia juga begitu.” Hyung terkekeh. Aku tidak tahu cerita itu, karena saat mereka berlibur ke Perancis, aku sedang ada ujian. “Kami naik boat di Sungai Seine, dan Kyu menjatuhkan PSP-nya ke sungai. Dia akan ikut nyebur kalau saja Ibu tidak menjerit-jerit histeris.” Mataku membelalak. Dongsaengku memang benar-benar idiot. Apa dia tidak tahu sedingin apa Sungai Seine saat musim semi? Tolol.

Kami lalu mengakhiri pembicaraan kami karena Hyung harus menerima tamu. Dan tak lama kemudian, Kyuhyun keluar, dengan siku kiri diperban. Tampangnya sih baik-baik saja, hanya sedikit cemberut. “PSP-ku tidak bisa diselamatkan,” sungutnya. Aku hanya geleng-geleng kepala. Masih bisa-bisanya memikirkan PSP. Benar-benar!

“Kata perawat di dalam, kau bisa membereskan pembayaran di meja administrasi,” katanya datar.

“Tunggu di sini. Dan jangan macam-macam. Mengerti?”

Dia mengangguk bosan. Aku berdiri dan berjalan menuju arah yang ditunjuknya. Beberapa orang sedang mengantri di depan loket pembayaran. Berarti aku juga harus ikut mengantri? Aish…

Aku memainkan ponselku dengan bosan ketika kudengar ada suara seseorang yang sangat kukenal. Aku mendongak, dan sedikit terkejut ketika melihat Donghae sedang berusaha meminta pengertian petugas administrasi.

“Ah, Paman, kumohon, tolong beri aku waktu tiga hari lagi. Aku akan segera melunasinya, tapi ibuku harus segera dioperasi,” katanya dengan nada memohon. Aku mengeryit, berjalan mendekatinya.

Paman penjaga loket terlihat sebagai orang lelaki separuh baya yang baik dengan wajah simpati. Dia menggeleng. “Maaf Anak Muda, aku bukannya tidak mau menolong. Tapi ini sudah ketentuan rumah sakit. Kau harus membayar separuh biayanya di muka, baru ibumu bisa menjalani operasi.”

“Tapi ibuku sekarat!” Dia berteriak, nyaris menangis. “Jebal… Paman, ibuku harus segera menjalani operasi…”

“Maaf, aku tidak bisa membantumu.” Paman itu menggeleng dengan sedih.

Kutarik Donghae keluar dari barisan. Dia tersentak kaget ketika melihatku. Wajahnya pias, tidak bisa ditebak. Kuajak dia duduk di bangku tunggu. Dia hanya menunduk.

“Jadi,” kataku. “Ibumu sakit?”

“Ne.”

“Kau temanku bukan?” tanyaku, menahan kesal.

“Ne.”

Aku menarik nafas berat. Rasanya ada sesuatu di hatiku yang mengamuk. Aku kesal, dan marah. Padanya. Tapi percuma saja, aku tidak mungkin marah padanya saat seperti ini. Aku akan menyimpan kemarahanku untuknya nanti. “Kalau kau menganggapku teman, kenapa kau tak bilang padaku tentang kesulitanmu?” tanyaku, sedikit menggeram.

Dia diam, tidak menjawab.

“Berapa yang kau butuhkan untuk melunasi semuanya?”

Dia masih diam, menunduk.

“Katakan berapa!” teriakku keras. Kesabaranku mulai menipis.

“Lima juta won,” jawabnya lirih.

Hanya lima juta won dan dia tidak mengatakannya padaku selama ini? Keterlaluan!

“Tunggu di sini. Kau akan kubunuh kalau beranjak dari sini,” ancamku. Dia memandangku tak mengerti, tapi lalu mengangguk. Aku berdiri, dan berlari melesat keluar. Kukendarai mobilku menuju bank terdekat. Semoga masih sempat.

***

Donghae’s part

Aku memandang kepergian Eunhyuk dengan bingung. Apa yang akan dilakukannya?

Baiklah, aku memang salah karena tidak memberitahunya tentang ibuku. Tapi itu hanya karena aku tidak mau merepotkannya. Maksudku, ini masalahku. Dan aku harus menyelesaikannya sendiri. Aku malah tidak punya bayangan untuk meminta bantuannya atau apa.

Kuhembuskan nafasku dengan pelan. Ibuku sekarat. Walau aku tak pernah mau mengakui hal tersebut, tapi itu benar adanya. Dokter bilang operasi harus segera dilakukan. Dan biayanya lima juta won. Oke, kalau aku sekaya temanku yang aneh itu, uang bukan masalah bagiku. Tapi sekarang, melunasi biaya mukanya saja yang satu juta won aku tidak sanggup.

Kuacak rambutku dengan kesal. Andai ayahku ada di sini…

Aish, sudahlah, kenapa juga masih mengharapkannya. Dia itu sudah meninggalkan ibu, dan pergi entah kemana. Membiarkan ibu berjuang keras membesarkanku seorang diri. Aku marah padanya, pada ayahku. Tapi sebagian kecil hatiku merindukannya.

Sekitar setengah jam kemudian, Eunhyuk datang, terengah-engah karena berlari, lalu menyerahkan sebuah amplop besar coklat kepadaku. Aku menatapnya tak mengerti.

“Gunakan ini untuk melunasi biaya operasi ibumu,” katanya.

“MWO?!” Aku nyaris berteriak. Jadi isi amplop ini uang?

“Aish, kau itu benar-benar deh,” gerutunya. “Pakai ini, dan jangan banyak tanya!”

“Tapi…ini uangmu!”

“Lalu?”

“Bagaimana aku harus mengembalikannya?” tanyaku panik.

Kening Eunhyuk mengerut. “Apa sih yang kau pikirkan? Dasar bodoh! Yang penting sekarang adalah ibumu, kan? Kalau nanti kau sudah bisa bekerja dan punya banyak uang, baru kembalikan padaku! Mengerti?”

Aku mengangguk. Dia tersenyum, lalu mengeluarkan secarik kertas kecil dan memberikannya padaku. “Ini alamat rumahku. Pokoknya, jangan segan menemuiku kalau kau ada kesulitan!”

Aku mengangguk lagi. “Gomapta,” bisikku.

***

Eunhyuk’s part

Oke, baiklah, aku tidak tahu harus marah, kesal, atau apa.

Setelah tiga hari, dia sama sekali tidak menghubungiku!

Teman macam apa itu?

Tiga hari, setelah peristiwa di rumah sakit itu, Donghae belum menghubungiku sama sekali. Tidak, tidak, aku bukannya mengkhawatirkan uangku, aku hanya mengkhawatirkan dia dan ibunya. Kenapa aku tidak bisa menghubunginya? Oh, dia tidak punya ponsel (aku serius! Dia satu-satunya manusia—selain nenek buyutku—yang tidak memiliki ponsel di jaman sekarang). Dan bodohnya, aku juga tidak bertanya dimana alamat rumahnya.

Malam itu, aku dan kedua saudaraku sedang berkumpul di ruang keluarga, bermain poker. Kyu, berhasil kucuri PSP-nya dan kusembunyikan, akan kukembalikan dengan syarat dia mau menemaniku main poker (hahaha, kena kau, Kyu!). Dan Heechul-hyung, yah, dia memang suka bermain poker sih. Di luar hujan deras sekali dan petir menyambar-nyambar. Itulah kenapa aku mengajak mereka bermain, karena aku tidak mau sendirian di kamar saat badai seperti ini.

“Kyu, jangan curang!” Hyung memperingatkan. Kyu hanya mendengus sebal saat taktik kotornya ketahuan. Dia mencomot kue pisang hangat yang baru saja selesai dibuatkan oleh pelayan kami.

Ketika sedang asyik bermain itulah terdengar suara bel pintu berdering. Kami saling menyuruh siapa yang membuka pintu. Akhirnya, Heechul-hyung menendang pahaku dan menyuruhku membuka pintu.

“Aish, sial sekali…” gerutuku sambil berdiri, lalu berjalan ke arah pintu utama. Kuputar kunci pintu itu dan kutarik gagang pintu membuka. Aku membeku sesaat.

Donghae. Berdiri dengan tubuh basah kuyup, memeluk sebuah amplop coklat yang kalau ingatan dan mataku masih bagus, adalah amplop berisi uang yang kuberikan padanya kemarin lusa. Bibirnya menggigil gemetar.

“Kukembalikan,” ucapnya lirih sambil menyodorkan amplop itu. Aku menerimanya masih dengan wajah shock. Baru saja kuterima amplop itu, dia ambruk tepat di depan mataku.

***

“Aish, ini sih namanya cari mati… Temanmu ini punya otak tidak sih sebenarnya? Menerobos hujan seperti ini sama saja dengan ketololan Kyu yang mengambil PSP-nya lalu ikut jatuh dari balkon.” Heechul-hyung mengomel sambil memeras handuk kecil yang basah dan meletakkannya di dahi Donghae.

Kuraba keningnya. Panas sekali. Pantas dia bisa pingsan, demamnya saja setinggi ini. Setelah dia ambruk tepat di depanku, aku memanggil Heechul-hyung dan Kyu. Kami membawanya ke kamarku, dan mengganti bajunya yang basah dengan bajuku yang kering. Untung satu ukuran.

“Hyung punya teman gelandangan?” tanya Kyu dengan nada dingin. Dia berdiri di ambang pintu kamarku sambil memainkan PSP yang berhasil direbutnya tadi.

“Ya! Kalau ngomong jangan sembarangan!” teriakku. Kyu hanya mengedikkan bahunya. Aku mendengus sebal. Masak temanku dibilang gelandangan? Yang benar saja!

“Siapa namanya?” tanya Hyung. Dia mengelap tangan Donghae dengan handuk lain yang juga telah dibasahi dengan air hangat.

“Lee Donghae.”

“Hum…”

Lalu kuceritakan semuanya pada mereka. Tentang perkenalanku dengan Donghae, dan bagaimana aku meminjaminya uang untuk biaya operasi ibunya. Namun entah kenapa malah dikembalikan padaku lagi (aku sudah memeriksanya, dan bahkan amplop itu masih tersegel sama persis ketika aku mengambilnya dari bank, dari tabunganku). Heechul-hyung memberiku saran untuk menelepon ke rumah sakit tentang keadaan ibu Donghae.

“Yoboseyo, ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang perawat ketika kutelepon pihak rumah sakit.

“Ne. Aku hanya ingin tahu keadaan seorang pasien yang bernama…” Aku diam. Oh Tuhan, aku kan tidak tahu siapa nama ibu Donghae!

“Aku tidak tahu nama ibunya!” kataku pada Hyung tanpa suara.

“Bilang saja yang bertanggung jawab atas pasien itu adalah Lee Donghae.”

Aku mengangguk. “Hem…maksud saya, seorang bernama Lee Donghae adalah penjamin pasien itu.”

“Joa, chamgamaneyo,” katanya. Kurasa dia sedang memeriksa file-filenya. “Atas nama Lee Donghae, pasien itu bernama Lee Hayoon. Nyonya Lee Hayoon meninggal  dua hari yang lalu dan jasadnya telah diambil oleh keluarganya sesaat setelah kematiannya. Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?”

Aku diam.

Tidak. Aku membeku. Lagi.

Tanpa salam, kututup flip ponselku. Kutatap Heechul-hyung lekat-lekat, lalu ganti kupandang Donghae.

“Hyung?”

“Ne?”

“Ibunya telah meninggal dua hari yang lalu.”

Dan kurasa, setelah aku mengatakannya, hyungku itu juga diam dan tak menyahut. Kupandang lagi wajah Donghae yang pucat itu. Ternyata benar kata pepatah. Orang baik tak pernah bernasib mujur.

“Apa dia boleh tinggal di sini?” tanyaku setelah kami terdiam beberapa lama.

“Shiroh!!!” Malah Kyu yang menjawab. Aku melemparkan pandangan kesal padanya. Lalu ganti kupandang Heecul-hyung.

“Kalau aku sih tidak masalah,” katanya.

“Hyung!” Kyu berteriak.

Heechul-hyung mengabaikannya. “Tapi lebih baik kau menghubung Ibu atau Ayah, minta ijin pada mereka.”

“Semoga mereka tidak mengijinkannya,” sambar Kyu lagi.

Kupelototi dia. “Kau kenapa sih?!”

“Aku tidak mau serumah dengan gembel!” katanya, menunjuk Donghae dengan dagunya, lalu dia berjalan pergi. Aku hanya menarik nafas, berusaha bersabar. Dia memang sangat kekanakan.

Lalu aku menghubungi ibuku.

“Yoboseyo?” sapanya dengan suara sedikit terlalu gembira. Oke, maksudku mungkin, sangat gembira. Karena terdengar irama lagu pesta, sepertinya mereka sedang pesta koktail atau apa. “Eunhyukkie? Ada apa?”

“Ibu…uhm…apa temanku boleh menginap di sini?” tanyaku.

“Boleh saja,” Ibu menyahut santai, lalu terdengar ia terkikik. Jangan-jangan dia mabuk?

“Uhm, maksudku, tinggal di sini untuk waktu yang lama, Bu…” jelasku. Sepertinya kata ‘menginap’ itu berarti ‘hanya tinggal selama satu-dua hari’.

“Hah?”

Aku akhirnya, untuk kedua kalinya dalam satu jam ini, menjelaskan keadaan Donghae. Ibu hanya diam, entah mendengarkan, entah tertidur, entah sedang berdansa dengan Appa. “Bu, jadi bagaimana? Apa boleh?”

Ibuku tetap diam.

“Ibu?”

Aku akhirnya ikut diam, sampai ibuku berteriak. “YA! KENAPA MASIH DIAM SAJA? CEPAT SIAPKAN KAMAR UNTUKNYA!”

Aku tersenyum lebar. Berulang kali kuucapkan terima kasih padanya. Dia memang baik hati, Ibu maksudku. Tipe ibu yang selalu update tentang masalah fashion, yang akan bersorak kegirangan jika merasa senang, dan langsung mengatakan tidak suka jika ada hal yang tidak sesuai dengan hatinya. Yah, tipe ibu gaul.

***

Donghae’s part

Aku terbangun dengan kepala berat dan sedikit pusing. Baru kusadari bahwa ini bukan di kamarku. Maksudku, kamar ini terlalu mewah. Sangat mewah. Luas, dan..yah, aku tidak tahu kata apa lagi yang bisa kugunakan selain mewah. Ranjangnya empuk dan hangat sekali.

Kuingat-ingat lagi apa yang terjadi semalam. Aku mencari alamat rumah Eunhyuk untuk mengembalikan  uangnya. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi.

Ingatanku kembali ke tiga hari yang lalu.

Saat itu, setelah Eunhyuk menyerahkan uangnya padaku, aku berlari ke kamar ibuku untuk mengabarkan berita gembira ini, bahwa dia bisa dioperasi. Namun yang dikatakannya sangat mengejutkan. Dia menggenggam tanganku dan berbicara dengan suara sangat lemah.

“Donghae-ya, kau anak kesayangan Ibu,” ucapnya. Aku mengangguk. “Ibu selalu bangga padamu. Mulai sekarang, kau harus menjalani hidupmu dengan lebih baik, kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan Ibu.”

“Maksud Ibu?” tanyaku tidak mengerti.

Ibu tersenyum. “Ibu tidak pernah meminta operasi, bukan? Ibu tahu seberapa lama waktu Ibu, jadi jangan berjuang lagi untuk Ibu. Sudah cukup, Anakku…”

“Aniya!” kerasku. Aku menggeleng kuat-kuat. “Ibu harus sembuh!”

“Donghae-ya…” Ibu membelai rambutku. “Umur manusia bukan kita yang memutuskan. Ibu mohon, hentikan ini semua. Bisakah?”

Aku menggeleng. Mataku terasa panas, dan tangan Ibu mengusap pipiku lembut. Aku bahkan tidak sadar aku sudah menangis. “Jangan pergi, Bu…”

Ibuku tersenyum, menggeleng. “Ibu selalu ada di sini, di hatimu.” Dia menunjuk dadaku. “Sepeninggal Ibu, berjanjilah kau akan hidup lebih baik. Kau harus menyelesaikan kuliahmu, mengerti?” Aku mengangguk dengan susah payah. “Apa kau tahu betapa bangganya Ibu memiliki anak seperti dirimu?” Aku menggeleng. Dia tersenyum kecil. “Kau satu-satunya harta Ibu yang berharga.”

Aku meletakkan kepalaku di dadanya. Ibu memelukku, mengusap punggungku, seperti yang biasa dilakukannya dulu ketika aku masih kecil dan tidak bisa tidur. Tangisku makin keras.

“Apa Ibu pernah mengatakannya padamu? Kau begitu tampan, seperti ayahmu…”

Bahkan sekarang, aku tidak mengingat ayahku. Perasaan benciku padanya tertutupi oleh suatu perasaan lain. Entahlah, aku ingin dia juga ada di sini, di saat-saat Ibu akan pergi meninggalkanku.

Selanjutnya, aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Aku tahu bahwa Ibu meninggal, lalu dimakamkan. Tapi peristiwa itu hanya mampir di otakku, kemudian hilang.

Lalu aku di sini.

Aku masih akan bertanya-tanya kamar siapa ini jika saja Eunhyuk tidak muncul di depan pintu, membawa nampan. “Wah, kau sudah bangun ternyata!” katanya, tersenyum senang. Dia bergerak menghampiriku, lalu duduk di pinggir ranjang. Aku berusaha bangkit tapi dia menekan keningku, membuatku rebah lagi. Baguslah, lagipula aku memang masih pusing.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.

Aku diam. Apa aku terlihat tidak baik-baik saja? Maksudku, aku sudah bisa mengendalikan perasaan sedihku. Aku tidak berteriak-teriak, atau menangis meraung-raung. Aku cukup tahu diri kok.

“Ya,” jawabku singkat.

Dia tersenyum, menyiratkan duka di matanya. “Dengar, aku minta maaf kalau aku…”

“Tidak. Kau tidak menyinggungku sama sekali,” potongku cepat. Dia tersentak, memikirkan bagaimana aku bisa tahu apa yang akan dikatakannya. Itu cukup mudah, karena hampir semua orang akan menyampaikan begini “Maaf, aku menyinggung topik sensitif ini.” Begitu lah.

“Aku sudah bicara dengan ibuku,” katanya lagi. “Kau akan tinggal di sini.”

“Apa?” Mataku membeliak.

“Kau akan tinggal disini,” ulangnya, menekan kata tinggal dengan sangat.

“Tapi aku masih punya rumah!” kataku, nyaris berteriak demi meyakinkannya.

Eunhyuk mendesah lelah. Dia melemparkan sebuah surat lusuh yang kukenali. “Kau sudah tak punya rumah. Jangan bohong. Kau sudah menjual apartmenmu untuk biaya pemakaman ibumu kan?”

Aku menunduk. Kubuka surat yang telah kugenggam sejak aku mendapatkannya. Surat jual beli apartmen itu. Ya, kujual kamar apartmenku yang kecil itu untuk biaya pemakaman ibuku dan tentu saja, menebus biaya rumah sakit yang kurang. Aku datang ke rumah Eunhyuk hanya untuk mengembalikan uang yang kupinjam kemarin, yang tentu saja sama sekali tidak kugunakan.

“Aku tidak bisa,” kataku, menolak.

Dia berjengit. “Waeyo? Memangnya kau mau tinggal dimana?”

Kali ini aku bingung bagaimana menjawab pertanyaannya. Aku sama sekali tidak memikirkan dimana aku akan tinggal. “Aku…ehm…akan mencari pekerjaan dan…”

“Pembual!” umpatnya. “Jangan berbohong padaku! Kau pikir aku akan membiarkanmu menggelandang dan tidur di kolong jembatan? Oh, yang benar saja, Donghae-ya!”

Aku nyengir. Sebenarnya pikiran itu pernah menghinggapiku. Kalau aku tidak mendapat tempat tinggal, mungkin aku memang bakalan jadi gelandangan.

“Tinggallah di sini. Orangtuaku sudah setuju kok. Kau bisa bekerja sambil tetap meneruskan kuliahmu. Oh ya, aku sudah menyiapkan kamar untukmu.”

Entah mengapa, aku mengangguk.

***

Eunhyuk’s part

Bagus. Aku sudah bisa membujuknya. Ia mau tinggal di sini, bersamaku. Masalahnya hanyalah, Kyu, magnae-ku yang tetap menolak kehadirannya dan terus-menerus menganggap Donghae adalah gelandangan yang kupungut dari jalanan.

“Ah, bau apa sih di sini? Oh, pantas saja, ternyata ada gembel yang nyasar kemari,” sindirnya saat kami duduk bersama di meja ketika makan siang.

Donghae membeku. Aku, secara refleks, mengendus baunya. Dia baru saja mandi, dan baunya wangi kok. Maksudku, Donghae memang bukan tipe orang berbau badan. Dan berani sumpah, keringatnya tidak sebau keringatku, kalaupun dia berkeringat.

“Kyuhyunnie!” Heechul-hyung menyepak kakinya pelan, sambil memelototinya. “Bersikaplah sopan!”

Kyuhyun hanya mencibir, dia memandang Donghae dengan sinis. “Aku bersikap wajar kok…pada gembel kan memang begitu!”

Kulirik Donghae, dia menggigit bibir bawahnya. Dia pasti tersinggung. Aku melemparkan pandangan membunuh pada Kyu, lalu menarik tangan Donghae. “Kami akan makan di luar!” Kuajak dia keluar. Heechul-hyung hanya mengangguk pasrah, dan sebentar lagi dia pasti akan mendamprat Kyu. Biar saja, anak itu pantas mendapatkannya.

“Kita mau kemana?” tanya Donghae.

“Makan.”

“Tapi kita bisa makan di rumah kan?”

“Dan membiarkan Kyu menyindirmu habis-habisan? Atau kau lebih memilih melihatku merobek mulutnya yang tajam itu?”

Dari sudut mataku kulihat dia menggeleng.

***

Setelah kami selesai makan (kami makan di café Siwon, ngomong-ngomong), kami kembali ke rumah. Dan… surprise! Kedua orangtuaku sudah kembali dari pelesirannya!

“Oh, Hyukkie!” Ibuku berdiri dari sofa, masih dengan gaun terusan santai bercorak bunga-bunga Hawaii dan topi pantai yang lebar. Dia memelukku dengan erat. “Ibu kangen padamu…”

“Hum…aku juga…” kataku setengah hati. Ibu pasti hanya membual seperti biasanya. Padahal di Karibia sana dia sama sekali tak ingat untuk meneleponku.

Ibu melepas pelukannya dan memandang Donghae yang berdiri dengan kikuk di sampingku. “Wow, ini pasti teman yang dikatakan Hyukkie? Kyu bilang kau gel…”

“Ibu!” Aku memperingatkannya dengan pandangan mata. Ibuku bukan orang yang bermulut tajam kayak Kyu, tapi dia sangat amat polos hingga apapun yang dikatakan Kyu akan dipercayainya.

“Ups, maaf,” Ibu tersenyum ramah. Dia memberi pelukan singkat pada Donghae, lalu menepuk pipinya. “Oh, kau tampan sekali… Wah, aku punya empat anak tampan! Leeteuk-ah, yeobo, lihat dia, kenapa dia mirip dirimu ya?”

Ayahku, yang masih terlihat muda di usianya (sama-sama terlihat muda, seperti Ibu), berdiri dari sofa. Dia…yah, walau sifatnya tak beda jauh dari Ibu, tapi tetap lebih tenang dan dewasa (sepertinya di rumah ini tidak ada yang benar-benar waras). Dia mendekati kami, dan tersenyum pada Donghae. Appa memberiku pelukan-sekilas, lalu menjabat tangan Donghae.

“Anak malang,” gumamnya. “Kau boleh tinggal di sini.” Ayah tersenyum. Kulihat Donghae mendesah lega.

***

Leeteuk’s part

Aku mencari-cari sandal kulit favoritku. Di rak tempat sandal dan sepatu, tidak ada. Di taman, tempat biasanya aku meninggalkannya sembarangan, juga tidak ada. Di kamarku apalagi.

“Ah, Sayang, jangan menghalangi pandanganku,” kata istriku, Eunmi, yang sedang menonton acara tivi, sedang aku membungkuk-bungkuk di depan pandangannya.

“Kau tahu dimana kutaruh sandal kulit itu?” tanyaku.

Dia memutar bola matanya. “Oh, ya Tuhan, berapa sih umurmu? Kau kan meninggalkannya di kamar tamu sebelum kita pergi berlibur. Saat aku ngambek dan menyuruhmu tidur di kamar lain. Ingat?!”

Aku mengingat-ingat. Sekitar dua minggu yang lalu, semalam sebelum kami berangkat berlibur, kami bertengkar (masalah sepele sih, karena aku malas mandi setelah pulang dari kantor dan Eunmi tidak mau tidur denganku yang belum mandi) dan akhirnya aku tidur di kamar tamu.

Dengan setengah mengeluh aku keluar dan menuju kamar tamu yang sekarang beralih fungsi menjadi kamar tetap Donghae. Oh ya, ngomong-ngomong, Donghae itu teman baik anakku. Dia baru saja kehilangan ibunya dan dia sangat miskin (kasihan betul dia), jadi kami menampungnya di sini. Aku sih tidak keberatan. Mungkin saja dia berbakat dan mau menjadi salah satu pegawaiku nanti, hehehe.

“Tok. Tok. Tok.” Kuketuk pintu kamarnya. “Donghae-ya, ini aku.”

Tak berapa lama, pintu itu dibuka dan kepala anak itu menyembul dari baliknya. Dia tersenyum kikuk menyambutku. “Oh, Tuan Park…”

“Kan sudah kubilang panggil aku Ahjussi saja,” potongku.

“Uhm…iya, Ahjussi… Ada yang bisa kubantu?” Dia bertanya sopan. Ah, andai saja anak-anakku ada yang sesopan dia.

“Aku mencari sandal kulit favoritku. Boleh kucari di sini?”

“Tentu saja, silakan.”

Aku masuk dan tertegun karena kamar yang awalnya kutinggalkan berantakan bisa jadi serapi ini. Yah, mungkin pelayan juga membersihkannya tapi aku yakin, si Donghae ini pasti orang yang rapi.

Aku mencari-cari di kolong tempat tidur, di dekat lemari, di kamar mandi. Dan akhirnya kutemukan di bawah meja. “Ah, sudah ketemu…” Kata-kataku terpotong karena aku melihat sebuah foto berbingkai kayu hitam. Foto itu, seorang wanita cantik, yang sangat kukenal.

“Donghae-ya,” panggilku. Dia mendekat. “Siapa wanita di foto itu? Apa namanya Lee Hayoon?!”

“Oh, bagaimana Ahjussi mengenal ibuku?”

Dan begitu kudengar perkataannya, sandal yang kupegang terjatuh. Kutatap ia dengan takut-takut. “Siapa…nama ayahmu?”

Dia tersentak mendengar pertanyaanku. Lalu menggeleng. “Ibu tidak pernah mengatakan siapa ayahku.”

Dan kutemukan persamaannya. Rambutnya hitam kelam, persis ibunya, dan hidungnya juga diwarisinya dari sang ibu. Namun mata coklat gelapnya dan bentuk bibirnya yang tipis… Tidak salah lagi.

Dia anakku!

***

Aku tidak bisa tidur malam ini.

Otakku penuh dengan pikiran-pikiran yang ruwet dan ingatan yang begitu jelas, hingga sekarang, dua puluh tahun setelah kejadian itu.

Lee Hayoon, ibu Donghae. Dan sekaligus ibu dari anakku. Anak haramku. Oh, tidak, aku tidak ingin menggunakan istilah itu. Donghae hanyalah anakku yang tidak sah.

Kejadiannya hampir dua puluh tahun yang lalu. Ketika itu, aku sudah punya istri, dan anak, yaitu Heechul. Bahkan Eunmi sedang mengandung Eunhyuk. Aku ditugaskan oleh ayahku untuk pergi ke Mokpo, untuk mengurusi salah satu cabang perusahaan di sana. Aku pergi, dan melakukan tugasku dengan baik. Hingga ketika aku berjalan-jalan di pantai, aku bertemu dengannya. Hayoon, dia gadis yang sangat cantik. Aku tidak tahu apa yang merasukiku, aku mulai mencintainya. Walau ya, aku sudah punya keluarga. Aku menjalin  hubungan diam-diam dengan Hayoon, selama sebulan aku di Mokpo. Aku tak memberitahunya bahwa aku sudah memiliki keluarga, aku takut dia meninggalkanku.

Dan setelah kurang lebih satu bulan, tugasku selesai. Aku pulang ke Seoul, meninggalkan Hayoon, yang ternyata hamil. Aku benar-benar tidak tahu dia hamil. Aku pulang begitu saja, meninggalkannya. Ketika aku kembali ke Mokpo, setahun kemudian, dia sudah pindah rumah. Kata orang-orang di sana, Hayoon melahirkan anak tanpa suami. Ya, aku memang brengsek. Aku benar-benar jahat.

Sekarang, mungkin ini karma. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada mereka. Tapi apapun itu, kurasa itu lumayan buruk. Lebih jahatnya adalah, aku membiarkan anakku sendiri menderita!

Tidak. Aku harus menebusnya. Aku harus menebus kesalahanku yang lalu. Donghae adalah anakku. Dia tak boleh menderita lagi.

***

Aku bangun dan mendapati di meja makan hanya ada Eunmi. Kutengok kiri-kanan. “Dimana yang lain?” tanyaku.

“Sudah pergi. Heechul ke kantor, Eunhyuk ke kampus, dan Kyu ke sekolah,” jawabnya sambil mengoleskan selai coklat pada roti.

“Dan Donghae?” tanyaku. Dia kan anakku juga.

“Uhm…mungkin ke kampus juga.”

Aku duduk di samping Eunmi. Dia memberikan setangkup roti isi padaku. “Apa kau tidak enak badan? Tadi malam rasanya kau gelisah dan tidurmu tidak nyenyak.”

Aku menggeleng. Bagaimana aku harus mengatakan padanya bahwa aku dulu pernah berselingkuh? Dan anakku yang lain ada di depan mata kami. Bagaimana aku bisa jadi pria jahat yang mengkhianati wanita sebaik Eunmi?

***

Eunhyuk’s part

Aku berjanji untuk menjemput Donghae di kampusnya. Kampus yang…yah, sebenarnya aku tidak tega mengatakannya. Baiklah, mungkin satu kata. Murahan. Eh, benar kok, ini memang kampus murahan. Aku yakin sebenarnya Donghae bisa masuk ke universitas elite dengan otaknya itu, sayangnya yah, lagi-lagi tentang uang. Apa kaupikir dia mau menerima uang beasiswa cuma-cuma dariku?

“Eunhyukkie,” sapanya, menepuk bahuku. Aku menengok, senang karena dia memanggilku dengan sapaan akrab. “Maaf, lama menunggu?”

Aku menggeleng. “Tidak kok. Eh, kau sudah makan belum?”

Dia diam, itu tandanya belum. “Ya! Ini sudah lewat tiga jam dari makan siang! Aish, kau ini!” Aku menariknya masuk mobil secepatnya. “Kita makan dulu yuk.”

“Yah, baiklah,” sahutnya.

Sepanjang perjalanan, entah mengapa dia begitu pendiam. Ada yang aneh, menurutku. Tapi aku tidak tahu apa. Dia kan memang tidak banyak omong. Namun, baru separuh perjalanan, dia mulai gelisah. Aku menoleh padanya sesekali. “Kau kenapa?” tanyaku.

Dia menggeleng, memegangi perutnya. Wajahnya jadi sangat pucat dan dia menggigit bibirnya. Terlihat sangat kesakitan. “Ya! Kau kenapa, Lee Donghae?”

Tapi rupanya dia lebih sibuk dengan sakitnya daripada menjawab pertanyaanku. Aku mulai panik. Dia mencengkeram dashboard mobil hingga buku-buku jarinya memutih. Aku berusaha bertanya, tapi percuma. Kularikan mobilku ke arah rumah sakit. Tapi waktu tercepat mungkin kami sampai di sana adalah sepuluh menit lagi. Dan Donghae sudah mengerang kesakitan.

“Donghae-ya, gwenchana, kita akan segera sampai,” kataku, dengan suara bergetar.

Dia hanya mengangguk dengan susah payah. Lalu dia terbatuk beberapa kali dan yang kulihat selanjutnya adalah…kaos putihnya sudah berwarna merah.

“Kau berdarah?” tanyaku, cemas luar biasa. Dan detik selanjutnya, Donghae pingsan. Masih kulihat sisa-sisa darah di mulutnya. Rasa dingin yang tak nyaman mulai menjalari kakiku, naik sampai lututku. Aku ketakutan. Pikiranku terbagi antara dirinya dan jalanan. Kupacu mobilku makin cepat, aku ngebut kesetanan.

***

Aku menunggu di luar ruang gawat darurat, dengan perasaan campur aduk. Takut, cemas, khawatir, bingung, dan kesal.

Keluargaku sudah kuhubungi. Dan Ayah, entah kenapa, terdengar paling cemas dan ketakutan. Maksudku, ibuku juga cemas, tapi tidak seheboh Ayah. Mungkin sebentar lagi mereka datang.

Dan benar saja. Mereka terlihat berjalan dengan tergesa menuju ke arahku.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Ayah, wajahnya pias dan pucat.

Aku menggeleng. “Kangin-ahjussi sedang memeriksanya.” Kangin-ahjussi adalah adik ayahku yang sekaligus adalah pamanku. Dia dokter yang kebetulan menangani Donghae.

“Kenapa dia sampai begitu?” Ayah mendesak.

“Molla. Tahu-tahu dia bilang perutnya sakit dan dia…muntah darah.”

Ibu memekik kecil, wajahnya terlihat ngeri.

“Dia hanya menyusahkan saja.” Kata-kata itu meluncur dari bibir Kyu, yang kutebak diseret ibuku untuk ikut kesini. Hampir saja kutonjok dia kalau Ayah tidak membentaknya.

“Kyuhyunnie!” bentaknya. “Jangan bicara sembarangan tentangnya!”

Dan Kyu mengkeret. Meski aku tidak tahu kenapa Ayah begitu membela Donghae. Namun aku tak sempat menanyakannya, sebab Kangin-ahjussi keluar dari ruang periksa dan memandang kami.

“Ikut aku ke ruanganku,” katanya singkat. Ayah mengikutinya, dan aku juga. Sedang Ibu dan Kyu masuk ke ruang rawat.

Kami masuk ke ruang kerja Kangin-ahjussi dan duduk di depannya, di seberang meja. “Apa…bagaimana dengannya?” Ayah mendahuluiku bertanya.

Kangin-ahjussi mengeluarkan selembar kertas dari amplop besar. Dipelajarinya kertas itu, mungkin kertas hasil pemeriksaan. “Radang lambung kronis.”

Aku dan Ayah berjengit kaget. “Apa? Bagaimana bisa?!”

Kangin-ahjussi hanya menggeleng. “Telat makan, makan makanan instan, kelelahan, stress, dan sebagainya. Ah, kalian memberinya makanan apaan sih?”

“Dia baru tinggal tiga hari di rumah kami,” jawab Ayah.

“Benar,” timpalku.

Kangin-ahjussi menghela nafas. “Dia harus istirahat total. Mungkin sekitar satu atau dua minggu. Aku akan memberinya obat, dan harus dia minum secara rutin, kalau tidak aku bahkan tidak bisa menjamin dia akan sembuh dan tidak mati.”

“Tapi dia hanya sakit lambung biasa kan?” desakku. “Ahjussi?”

“Hei, Bocah,” jawab Kangin-ahjussi, sambil mengetuk pelan keningku dengan map plastik. “jangan sepelekan penyakit, seberapapun tidak parahnya hal itu di matamu.”

“Dia akan baik-baik saja kan?” tanya Ayah.

“Uhm, kuharap begitu, Hyung… Ya, memangnya siapa bocah itu?”

Aku baru saja membuka mulutku untuk menjawab bahwa dia adalah sahabatku, ketika secara mengejutkan Ayah berkata, “Dia anakku.”

Aku dan Kangin-ahjussi tersentak kaget. Aku memandangnya lekat-lekat, mencari kebohongan di mata ayahku, tapi yang kutemukan hanya pengakuan dan kejujuran.

“Dia anakku dari Lee Hayoon. Maafkan Ayah, Eunhyukkie, itu kesalahan Ayah dulu.”

Aku tidak begitu mendengar penjelasan panjang-lebar Ayah mengenai bagaimana dulu hubungannya dengan ibu Donghae, dan mengkhianati ibuku. Otakku sibuk menegaskan pada diriku bahwa aku dan Donghae bersaudara.

Aku memang dulu berharap Donghae adalah saudaraku. Tapi itu hanya harapan main-main karena aku suka punya teman sepertinya. Dan ketika itu menjadi kenyataan, benar-benar terlihat mengerikan. Kyu mungkin punya alasan untuk memanggang Donghae hidup-hidup.

Dan sekarang aku melihat benang merahnya.

Itulah kenapa aku dulu merasa sangat familier terhadapnya. Matanya, gerak tubuhnya, cara bicaranya, caranya tertawa, semua itu mengingatkanku pada ayahku sendiri, yang sialnya adalah ayahnya juga. Tak perlu tes DNA untuk tahu Donghae adalah anaknya yang lain.

***

Kami berjalan dengan membisu sepanjang jalan menuju kamar rawat Donghae. Aku cukup tahu bagaimana mengendalikan perasaan. Aku marah, tentu saja. Tapi otakku masih bekerja. Satu-satunya orang yang pantas menerima kemarahan adalah ayahku sendiri. Apa aku marah pada Donghae? Tentu saja tidak. Aku cukup mengerti bahwa dia tidak tahu apa-apa, bahwa ini bukan kesalahannya.

Ayah membuka pintu dengan pelan. Di dalam sudah ada Ibu, Kyu, dan Heechul-hyung. Aku duduk di samping ranjang Donghae, lalu kugenggam tangannya. Dingin dan lemah.

“Hai,” sapaku. Dia membuka matanya sedikit, lalu tersenyum dengan susah payah. “Merasa baikan?” Dia hanya mengedip sedikit. Tapi aku tahu, apapun yang nanti kami bicarakan, dia akan mendengarnya dengan baik.

“Aku ingin bicara dengan kalian,” Ayah memulai. Dia menarik nafas panjang. “Donghae adalah anakku.”

Reaksi pertama datang dari Ibu. Dia tertawa kecil. “Sayang, apa yang kau katakan? Kau mau mengangkat Donghae jadi anakmu?”

“Bukan, bukan,” Ayah menjelaskan dengan pandangan frustasi. “Donghae anakku dari wanita lain…” Dan pengakuan meluncur dari bibirnya. Ibu mematung. Kyu dan Heechul-hyung juga. Kugenggam tangan Donghae lebih erat lagi. Aku tak berani melihat bagaimana ekspresinya, sungguh.

Heechul-hyung beranjak. Dia pergi dengan membanting pintu. Dan mungkin bantingan pintu itu menyadarkan Ibu dan Kyu.

Aku sudah pernah bilang kan, bahwa ibuku adalah wanita yang spontan. Dia berteriak, tidak, lebih tepatnya menjerit. Dan dari matanya mengalir airmata. Aku menunduk, tidak tega melihat ekspresi terluka di wajah wanita yang melahirkanku itu.

“KENAPA?! KENAPA KAU TEGA, LEETEUK-AH?” jerit Ibu. Dia mulai menangis dan tak bisa meneruskan ucapan, atau makiannya.

“Apa yang Ayah lakukan? Tidak mungkin lelaki gembel itu adalah saudaraku!” Kali ini suara Kyu, terdengar sangat marah. “Kenapa Ayah tega?”

“Ayah menyesal, sungguh. Ayah minta maaf… Hanya saja semua ini sudah terjadi…”Suara Ayah terdengar merana.

Dan selanjutnya, mereka bertengkar. Mereka bertiga. Ayah, Kyu, dan Ibu. Aku tidak mengerti apa persisnya yang mereka ributkan. Tapi itu jelas sangat menganggu. Aku melihat Donghae. Dia mati-matian menahan tangisnya. Dia, adikku.

Tanpa pikir panjang, aku merenggut vas bunga di meja samping ranjang, lalu membantingnya di tanah. Vas itu pecah berantakan dengan suara berisik, dan isinya berhamburan kemana-mana. Aku tidak peduli. Mereka bertiga akhirnya terdiam.

“Bisakah kalian bertengkar di tempat lain?!” teriakku putus asa. “Kumohon…ada Donghae disini…”

***

Donghae’s part

“Kumohon…ada Donghae disini…”

Kata-kata itu meluncur dari mulut Eunhyuk dengan nada yang membuat miris. Aku hanya diam. Selain karena tubuhku memang lemas dan sulit digerakkan, juga karena kenyataan yang baru saja kudengar.

Ayah yang meninggalkanku dengan ibuku, membuatnya berjuang keras sendirian demi aku. Ayah yang tidak peduli ketika ibuku sekarat. Ayah yang tidak peduli ketika aku kehilangan satu-satunya keluarga yang menyayangiku. Ayah yang kubenci.

Sekaligus kurindukan.

Ada di sini. Dia adalah ayah Eunhyuk, orang yang selama ini sudah begitu banyak menolongku dan membantuku tanpa pamrih.

Aku bahkan terlalu terguncang untuk sekadar berekspresi.

Mereka akhirnya keluar. Ayahku, mendekat ke ranjang dan berlutut, tapi aku memalingkan wajahku. Aku belum bisa menerima kenyataan ini. Dia akhirnya keluar juga.

“Mereka sudah pergi,” kata Eunhyuk memberitahu.

Aku mengangguk.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya. Kali ini aku menggeleng, itu keadaanku sebenarnya. Aku tidak baik-baik saja. Eunhyuk bangkit. “Istirahatlah. Aku berjaga di luar.” Dia lalu membiarkanku sendiri.

Kali ini, aku baru menyadari bahwa dadaku sesak karena menahan tangis dan kepedihan.

“Ibu…” isakku. “Ibu…bawa aku denganmu…”

***

Dua hari selajutnya, seperti berlalu begitu saja.

Eunhyuk setiap hari menemaniku. Hanya dia. Aku tahu yang lain pasti membenciku. Pasti. Dan ayahku? Dia tak menjengukku lagi. Kurasa aku juga belum punya keberanian untuk bertemu dengannya lagi.

Namun hari ini, yang mengejutkan adalah Heechul-hyung datang. Dengan seikat bunga matahari berwarna kuning cerah, dia tersenyum lebar. Seolah tidak terjadi apapun di antara kami. Eunhyuk membiarkan kami berbicara berdua, dan dia beralasan harus ke kantin di bawah.

“Donghae-ya,” ucap Heechul-hyung. Aku menoleh padanya. “Mianhe.”

“Untuk apa, Hyung?” tanyaku tak mengerti.

“Karena tempo hari aku bersikap kekanakan. Aku marah padamu. Dan setelah kupikir-pikir, kau kan sama sekali tidak salah.”

Aku tersenyum kecil. “Jangan dipikirkan, Hyung. Aku baik-baik saja, kok.”

Heechul-hyung mengangguk. “Kau juga dongsaengku kan? Aku janji aku juga akan menyayangimu seperti yang lainnya.”

“Gomapta.”

Heechul-hyung tersenyum simpul. “Ada yang ingin bertemu denganmu,” katanya, lalu beranjak membuka pintu. Dan yang muncul selanjutnya adalah orang yang paling ingin kuhindari.

Ayahku.

Heechul-hyung membiarkan kami berdua. Park-ahjussi, uhm, maksudku Ayahku, duduk di samping ranjangnya. Dia hanya menunduk, namun bisa kurasakan penyesalan yang memancar dari dirinya. Aku tidak peduli.

“Donghae-ya,” panggilnya pelan. Aku tidak menjawab. “Ayah minta maaf.”

Hari ini kenapa begitu banyak yang minta maaf padaku?

“Ayah tahu kau tidak bisa memaafkan Ayah segampang itu. Tapi percayalah, Ayah benar-benar menyesal dan… Itu semua kesalahan, Donghae-ya, Ibumu dan aku…”

“Jadi aku lahir dari kesalahan?” tanyaku sarkastis.

Dia menggeleng kuat-kuat. “Bukan! Bukan itu maksud Ayah! Ayah benar-benar menyayangimu…”

“Katakan itu saat Ibu rela menjual perhiasan satu-satunya agar aku bisa masuk sekolah! Katakan itu saat kami menjual rumah untuk biaya pengobatan Ibu! Katakan itu saat aku…saat aku kehilangan Ibu! Katakan itu saat…saat… Ibu…” Aku tidak bisa meneruskan ucapanku, karena airmataku keluar lebih dulu dan tangisku meledak. Aku menunduk, menutupi wajahku dengan tangan.

Ayah terlihat begitu merasa bersalah, dan airmata jatuh di pipinya. Dia memandang ke arah lain, hanya agar tidak melihatku menangis. “Kumohon,” katanya. “Maafkan aku, Nak…”

Dan dia melakukan sesuatu yang selalu kuinginkan sejak dulu. Dia memelukku. Dia memelukku. Dia membiarkan aku menangis di pelukannya. Dan dia mengusap punggungku, seperti cara Ibu untuk menenangkanku.

“Ibu sudah pergi, Ibu sudah pergi…”

Kuulang-ulang kata-kata itu. Aku sendiri tak tahu apa maksudku mengulang kata-kata itu. Kurasa aku hanya ingin menegaskan padanya bahwa aku sendirian.

“Uljima… Uljima… Ayah menyesal untuk itu… Maafkan Ayah…”

Aku masih menangis. Ganti kupeluk dia. Aku telah merindukannya sejak aku masih bayi. Aku begitu menginginkan ayahku. Tapi kenapa seperti ini jadinya? Kenapa Tuhan tak pernah adil padaku?

“Ayah,” bisikku lirih. Untuk pertama kalinya aku memanggilnya begitu. Dan aku tahu dia terkejut, sekaligus bahagia.

***

Hari ini aku pulang dari rumah sakit. Dan yang menyambutku… Uh, ini mengejutkan. Semuanya ada di rumah, kecuali Kyu (yah, aku tahu alasannya, dia pasti tidak mau melihatku). Eunmi-ahjumma, duduk di sofa. Wajahnya lebih pucat dari biasanya, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Aku merasa bahwa aku telah menyakiti wanita itu. Heechul-hyung menyambutku dengan ceria, seperti biasa.

Ayah dan Eunhyuklah yang menjemputku dari rumah sakit. Aku senang (sekali) mengetahui kenyataan bahwa perlakuan Eunhyuk padaku tidak berubah. Tetap baik padaku.

“Wah, kau sudah sembuh total! Aish, jadi mulai sekarang kau harus makan makanan yang sehat, dan hati-hati. Lambungmu itu payah sekali kelihatannya,” kata Heechul-hyung. Aku hanya nyengir. Dia menarikku ke sofa, duduk di sebelah ibunya. Aku memberinya padangan Hyung-apa-tidak-ada-kursi-lain-selain-di-sini padanya. Tapi dia hanya mengerling. Aku menoleh gugup pada Ayah dan Eunhyuk, tapi rupanya mereka sengaja meninggalkan kami berdua.

“Apa kau sudah merasa baikan?” Eunmi-ahjumma membuka percakapan. Aku menatapnya dengan kikuk, lalu mengangguk. Dia sama sekali tidak tersenyum. Wajahnya datar.

“Ahjumma, aku minta maaf kalau…”

“Tidak, kau tidak salah sama sekali,” potongnya cepat. “Satu-satunya yang bersalah adalah suamiku. Ayahmu.” Dia menghela nafas berat. “Dengar, aku tidak pernah menyangka bahwa ini akan terjadi di keluargaku yang kuanggap sempurna. Aku tidak…aku hanya tidak menyangka Leeteuk tega berbuat seperti itu. Tapi itu dulu, dan aku cukup tahu bahwa tak adil rasanya mengungkit kesalahan yang telah disesalinya.”

Sampai di sini, aku tahu bahwa wanita di depanku ini adalah wanita yang bijak.

“Aku juga tak pernah siap menerima kenyataan bahwa… bahwa suamiku punya anak dengan wanita lain. Tapi ini semua sudah terjadi. Dan aku bukan gadis umur tujuh belas tahun yang akan marah-marah atau ngambek, atau minta putus, hanya karena masalah seperti ini. Tapi, mungkin kau perlu tahu satu hal, Donghae-ya. Aku tidak pernah, tidak pernah sekalipun, menyalahkanmu atas apa yang terjadi. Aku masih belajar untuk menerimamu di keluarga ini. Dan kuharap kita bisa sama-sama berusaha.” Dia memandangku lekat-lekat, lalu tersenyum. Tulus.

***

Eunhyuk’s part

Aku mendesah lega ketika melihat Ibu bisa tersenyum pada Donghae. Bukan senyum palsu, kurasa. Karena Ibu bukan tipe orang yang bisa berbohong atau berakting. Jika dia tersenyum, itu artinya tulus dari hati.

Kurasa Ayah juga sama seperti Ibu. Pada awalnya dia pasti shock mengetahui kenyataan bahwa dia memiliki anak dari wanita lain. Tapi aku yakin, setelah perbincangan mereka di rumah sakit tempo hari, aku tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Ayah adalah orang yang adil. Dia juga akan berbuat adil untuk anak-anaknya. Satu-satunya yang kukhawatirkan adalah Kyuhyun. Dia sama sekali tidak mau bicara pada kami (mungkin hanya pada Ibu). Dia sakit hati, tentu saja. Dan kecewa. Kurasa dia kesal dan marah karena sekarang semua orang di rumah ini menerima Donghae. Berkali-kali aku mencoba menjelaskan padanya bahwa ini semua bukan kemauan Donghae. Tapi tetap saja, baginya, yang bersalah dan patut disalahkan adalah Donghae.

Yah, memang susah ngomong sama anak-anak.

Aku akhirnya mengikuti Donghae, yang sudah ada di kamarnya. Kubuka kamarnya tanpa mengetuk pintu, dan aku kaget melihatnya sedang membereskan bajunya (yang masih di dalam tas dan baru dibawa pulang dari rumah sakit) dan memasukkannya ke dalam lemari.

“Apa yang kau lakukan?!” tanyaku setengah berteriak, lalu menyerobotnya. Kuambil pakaian yang ada di tangannya, dan kumasukkan ke lemari baju. “Kau kan harus istirahat!

Dia menggeleng. “Tapi aku harus membereskan…”

“Kan ada aku! Ya ampun, apa kau bahkan tak bisa minta tolong?!” Aku geleng-geleng kepala.

“Tidak, aku harus membereskannya sendiri,” kerasnya. Aku harus menariknya ke ranjang dan memaksanya berbaring.

“Tidur. Dan jangan membantah!” kataku. Dia hendak menolak ketika aku akhirnya berkata, “Ini perintah kakakmu!” Dan dia menutup mulutnya.

Aku tersenyum penuh kemenangan. Lalu mulai kurapikan baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam lemari. “Aku sudah bicara pada Ayah, tentang kuliahmu. Dan Ayah setuju, sangat setuju, untuk memindahkanmu ke kampusku. Kau akan masuk ke jurusan yang kau inginkan. Asyik sekali, bukan?” celotehku.

“Hah?!” Seperti yang kuduga, dia kaget. “Tapi di sana kan mahal sekali, aku tidak…”

“Kau kan anak Ayah juga. Ya ampun, kau bahkan lupa bahwa kau adalah anggota keluarga kami? Kau lupa bahwa Ayah mampu membiayaimu?! Lagian,” aku diam sejenak. “kurasa Ayah tidak setuju kau meneruskan kuliah di tempat yang…uhm, tidak layak untuk seorang anak pemilik perusahaan besar.”

Aku menoleh ke belakang dan melihat Donghae tersenyum lebar. “Terima kasih,” ucapnya. Aku mengangguk. Jadi teringat bagaimana reaksi Ayah saat aku bilang “Donghae kuliah di tempat yang mirip gedung jaman penjajahan!”. Ayah jadi sangat sangat terkejut dan berkata, “Ya ampun, kita harus memindahkannya ke tempat lain yang lebih pantas untuknya! Ayah tidak mau anak Ayah mendapat pendidikan yang ecek-ecek!”

Hahaha, aku sukses membuatnya satu kampus denganku!

Saat aku selesai membereskan pakaiannya, dia sudah jatuh tertidur. Kudekati dia, lalu duduk di sampingnya dan kubetulkan selimutnya. Wajahnya masih sedikit pucat. Aku tersenyum. Akhirnya aku punya saudara yang waras dan asyik diajak ngobrol. Kurasa aku harus berterimakasih pada Ayah karena tanpa sengaja dia memberiku seorang saudara yang bisa menemaniku (tahu sendiri kan, Heechul-hyung sudah tak bisa bermain denganku, dan Kyu lebih memilih game dibanding aku, hyung-nya).

Aku mengambil sebuah foto berbingkai kayu hitam yang dia letakkan di meja kecil di samping ranjangnya. Foto ibunya. Wanita itu, kurasa dulunya dia sangat cantik (sampai-sampai ayahku terpikat padanya). Aku jadi tidak perlu bertanya-tanya bagaimana Donghae mendapatkan wajah sempurna, yang nyaris membuatku iri. Yah, kombinasi Ayah-Ibunya menjelaskan segalanya.

Kusentuh pelan foto itu. “Hai, Bi,” sapaku pada wanita di foto itu. “Aku kakak Donghae yang baru. Jangan khawatir, aku akan menjaganya mulai sekarang.”

***

Kyuhyun’s part

Aku membencinya.

Benar-benar membencinya hingga rasanya aku bisa membunuhnya kapan saja.

Pertama, dia datang ke rumahku dengan penampilan gembel-nya. Kedua, dia membuat kedua kakakku menampungnya. Ketiga, kedua orangtuaku setuju dia tinggal di sini. Keempat, dia membuat ayahku mengakui bahwa dia adalah anaknya. Kelima, dan ini yang paling kubenci, dia menghancurkan keluargaku.

Mungkin dia tidak benar-benar menyadari sebesar apa masalah yang berhasil ditimbulkannya. Tapi, aku mendengar kedua orangtuaku bertengkar. Malam saat Ayah mengumumkan pada kami bahwa Donghae adalah anaknya dari wanita lain, kami bertengkar. Aku masih ingat Eunhyuk-hyung melempar pecah sebuah vas hanya agar kami pindah tempat bertengkar. Oh, rasanya aku ingin mencekik Donghae saat itu juga. Aku ingin dia melihat pertengkaran kami, yang timbul gara-gara dia. Aku ingin dia merasa bersalah atas itu. Tapi, kami akhirnya pulang, dan pertengkaran itu berlanjut di rumah. Dari kamarku bahkan aku bisa mendengar suara saling teriak Ayah dan Ibu.

Aku marah, dan sakit hati. Bisa-bisanya Ayah melakukan ini pada kami. Tapi yang lebih membuatku marah dan kesal adalah Ibu. Ya, Ibu mau menerima Donghae sebagai anak ayahku yang lain. Aku tidak tahu ibuku itu terlalu baik, atau apa, yang jelas itu menyebalkan. Dan kedua hyung-ku. Yah, mereka memang menyukai Donghae sih.

Kurasa di rumah ini hanya aku yang sangat berniat mengusirnya.

“Aku tidak mau makan satu meja dengan gembel!” kataku sarkastis saat Donghae datang dan menarik kursi untuk duduk. Kami sedang makan malam sekarang. Makan malam pertama dimana ada anggota keluarga baru. Yiek!

Donghae diam, terpaku di tempat. Heechul-hyung membantunya menarik kursi dan memaksanya duduk.

“Kyuhyunnie, kita sedang makan,” kata Ayah memperingatkan. “Donghae-ya, tidak apa, duduklah.”

Aku mendengus sebal. Kami lalu mulai makan. Ibu sama sekali tidak berkomentar, dia terlihat biasa saja. Dan selanjutnya, obrolan pun mengalir. Seperti biasa. Aku heran, bisa-bisanya mereka mengobrol santai dengan seorang gembel yang tiba-tiba hadir dan ikut-ikutan bercanda.

“Jadi ketika Ayah merangkul wanita itu, suaminya datang  dan Ayah baru sadar bahwa ternyata Ibu kalian berdiri di dekat konter pizza!” kelakar Ayah. Ibu, Heechul-hyung, Eunhyuk-hyung, dan Donghae tertawa mendengarnya. Ayah sedang menceritakan saat di Karibia dia salah merangkul wanita, yang dia kira adalah Ibu.

“Oh, Sayang, kau benar-benar konyol waktu itu,” tambah Ibu, lalu tertawa. Maksudku tertawa adalah benar-benar tertawa, seakan tidak terganggu dengan adanya makhluk menyebalkan bernama Donghae di sampingnya.

“Ayah,” panggilku. Ayah menatapku sambil tersenyum. “Aku tidak mau tinggal dengan dia!” Sambil berkata begitu, aku melempar pandangan menusuk ke arah Donghae.

Mereka semua terdiam, menatapku. Aku mendapat perhatian. “Aku tidak mau tinggal dengannya! Pokoknya tidak mau! Bisa-bisanya kalian membiarkannya masuk ke keluarga kita! Aku tidak mau tinggal dengan gelandang…”

“Kyu!” bentak Heechul-hyung. Dia menatapku tajam. Aku tidak peduli.

“Kenapa?!” pekikku. “Kenapa kalian bersikap seolah ini normal? Aku tidak mau menerimanya! Aku benci dia!” Aku menunjuk Donghae dengan telunjukku. “Usir dia, atau…”

“Atau kau yang Ayah usir?!”

Perkataan Ayah membuatku membeku. Ayah menatapku tajam. “Ayah membelanya?”

Ayah menghela nafas panjang. “Tidak. Tidak ada satupun yang mendapat perlakuan istimewa dari Ayah, Kyuhyunnie,” ucap Ayah. “Ayah hanya mencoba bersikap adil. Donghae sudah tinggal hampir dua puluh tahun bersama dengan ibunya, dalam keadaan yang…yah, memprihatinkan. Tanpa perhatian dari Ayah secuilpun. Sedangkan kau, sejak lahir kau mendapatkan segalanya. Tidakkah menurutmu itu adil sekarang untuk Donghae tinggal bersama kita?”

Aku menggeleng. Tetap merasa bahwa itu tidak adil. “Sampai matipun aku tidak akan menerimanya!” Dan setelah itu aku berdiri, lalu berjalan cepat masuk ke kamarku.

***

Aku masuk ke kamarnya dengan diam-diam. Dia tidur pulas. Saking pulasnya sampai-sampai tidak merasakan kehadiran seseorang di kamarnya. Kupandang wajah menyebalkannya, yang berhasil menghasut Ayah, serta semua keluargaku yang lain. Dia berperan sebagai si anak baik-baik dan berhasil mendapatkan perhatian semua orang. Membuat mereka tidak lagi memperhatikanku.

Aku berjingkat ke samping ranjangnya. Aku bingung sendiri, sebenarnya mau apa sih aku di sini? Lalu kulihat botol obat di mejanya. Tablet-tablet pil dalam botol itu masih bersisa banyak. Setahuku, itu adalah obat dari Kangin-ahjussi untuknya, sepulangnya dari rumah sakit. Kuambil botol itu, lalu aku keluar dari kamarnya. Aku masuk ke kamarku sendiri, lalu membuang seluruh isi botol itu ke toilet. Hahaha, ayo kita lihat sepanik apa dirinya begitu tahu obatnya yang mahal itu hilang!

***

Donghae’s part

Seingatku aku meletakkannya di meja kamarku. Tapi sekarang entah kemana. Obat itu, Kangin-ahjussi memberikannya padaku, berkata bahwa itu obat yang penting dan aku harus meminumnya dua kali sehari (pagi dan malam) untuk mencegah penyakit lambungku kambuh.

Tapi pagi ini, ketika akan berangkat ke kampus (oh ya, aku sekarang sekampus dengan Eunhyuk), aku tidak menemukannya.

“Donghae-ya, palli! Kita bisa terlambat!” teriak Eunhyuk dari luar.

“Ya!” jawabku. Aku mengedikkan bahu tidak peduli. Aku kan sudah sembuh, tidak memerlukan obat itu lagi. Mungkin.

***

Malam ini, kami makan malam seperti biasa. Namun aku tidak selera makan. Sejak tadi siang perutku mual dan terasa tidak enak. Bahkan beberapa kali terasa perih.

“Kau baik-baik saja?” tanya Eunhyuk, memandangku khawatir. Aku mengangguk, lalu tersenyum.

Hanya ada aku, Eunhyuk, dan Heechul-hyung saat makan malam. Ayah dan Eunmi-ahjumma sedang menghadiri pesta pernikahan kolega mereka. Kyuhyun ada di kamarnya. Kurasa dia selalu meminta makanannya diantar oleh pelayan ketika ada aku di meja makan. Aku tidak menyalahkannya. Dia memang pantas marah dan benci padaku.

“Aku ke kamar dulu,” pamitku pada mereka berdua. Heechul-hyung memandangku sekilas, lalu mengangguk. Eunhyuk menatapku tak setuju.

“Tapi kau belum makan!” protesnya.

“Aku sudah kenyang kok,” sahutku, lalu melesat masuk ke kamar.

Pilihanku tepat. Karena begitu aku menutup pintu, rasa perih di perutku muncul lagi. Aku membungkuk di lantai sambil mencengkeram perutku. Dengan susah payah aku menyeret tubuhku naik ke tempat tidur.

Ketika sampai di tempat tidur itulah tiba-tiba Kyuhyun masuk ke kamarku. Aku berusaha menampakkan wajah biasa saja padanya. Aku tidak mau membuat siapapun khawatir (walau aku tahu persis, kalaupun aku menjerit-jerit kesakitan, paling-paling Kyu hanya akan menoleh sebentar, lalu tidak peduli).

“Ada…apa, Kyu?” tanyaku susah payah.

Dia menaikkan alisnya sekilas. “Aku hanya ingin bilang, bahwa sebaiknya kau tahu diri, Gembel,” katanya dingin.

Aku hanya mengangguk. Perutku lebih sakit daripada ucapannya sih. Kuggigit bibir bawahku sampai terasa sakit. Setidaknya aku harus bertahan agar tidak pingsan di depannya.

“Aku ingin bilang bahwa aku membencimu! Kau itu… Hei, kau dengar aku tidak sih?!” Dia mulai menghentak-hentakkan kakinya kesal. Mataku sudah tak fokus memandangnya, karena pandanganku kabur. Perutku semakin perih dan untuk sesaat aku ingin mati saja daripada merasakan sakit ini.

“Ya! Aku bicara padamu!” teriaknya. Wajahnya malah terlihat khawatir, kalau aku tidak salah lihat.

Tenggorokanku terasa aneh, dan aku terbatuk-batuk. Kulihat sprei yang berwarna kuning gading itu kotor oleh noda darah. Oh tidak, jangan lagi. Tapi ketakutanku benar. Darah itu terus keluar dari mulutku sementara aku batuk-batuk hebat. Aku ngeri sendiri melihat sebanyak apa darah yang kumuntahkan keluar.

***

Kyuhyun’s part

Aku baru pertama kali melihat orang muntah darah. Dan dia persis di depanku. Yah, aku memang membencinya, tapi ada satu dorongan yang kuat, yang membuatku meloncat padanya.

Kutegakkan badannya, dan aku bergidik ngeri. Wajahnya sudah seputih kertas, mulutnya bebercak noda darah (maksudku darah adalah darah segar berwarna merah). Bajunya sudah tak berwarna lagi. Darah itu merembes mengotori bajunya, bahkan sprei dan sarung bantal. “Ya, Donghae! Ya!” teriakku panik. Kuguncang-guncang badannya, tapi dia terus batuk mengeluarkan darah. Aku tak tahu mana yang lebih buruk. Tapi kurasa lebih baik dia pingsan saja daripada terus mengeluarkan darah seperti ini.

Pintu kamarnya menjeblak terbuka. Eunhyuk-hyung masuk dengan tergesa, dan terkejut melihat kami. Dia berlari, dan wajahnya memucat begitu melihat apa yang terjadi.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” raungnya, padaku. Aku bisa melihat kemarahan di matanya. Dia mendorongku menjauh dari Donghae, yang sekarang sudah lemas dan jatuh di lengan Eunhyuk-hyung.

“Aku…aku tidak…” Aku tergagap, bingung.

Eunhyuk-hyung berteriak, memanggil Heechul-hyung. Dan segalanya terjadi begitu cepat. Kedua hyung-ku menggotong tubuh Donghae keluar dari kamar. Aku mengikuti mereka. Mereka memasukkan Donghae ke mobil dan membawanya pergi, ke rumah sakit mungkin.

Tidak ada yang repot-repot mau mengajakku!

Aku panik, sebenarnya. Walau aku membencinya, tapi aku juga tidak ingin dia mati. Dengan terburu-buru kukeluarkan mobilku, dan aku mengikuti mereka.

***

Eunhyuk’s part

Aku dan Heechul-hyung menunggu di luar. Aku menggigil ketakutan. Bayangan Donghae yang batuk darah hebat tak bisa dienyahkan dari pikiranku. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, dia terus mengeluarkan darah dan membanjiri mobilku dengan cairan merah kental. Bukan mobilku yang kukhawatirkan, tapi dirinya! Demi Tuhan, demi apapun, dia adalah adikku! Bisakah kau bayangkan kau melihat saudara kandungmu, duduk di sebelahmu, dengan terus-terusan memuntahkan darah dan kau sama sekali tidak bisa melakukan apapun? Itu yang terjadi padaku! Aku hanya bisa berkata sambil menangis, meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja. Tapi aku tahu itu percuma. Aku sendiri bahkan tidak yakin apa dia akan baik-baik saja.

Heechul-hyung kembali duduk di sebelahku. “Aku sudah mengabarkan pada Ayah dan Ibu,” katanya. Aku hanya mengangguk.

“Aku memang payah,” ucapku. Heechul-hyung memandangku dengan pandangan bertanya. “Ayah pernah memintaku untuk menjaganya. Tapi ternyata aku tidak bisa. Kupikir aku kakak yang baik tapi ternyata aku… aku…”

Heechul-hyung menarikku, merangkul pundakku. Aku menahan tangisku, tapi rasanya percuma. “Kadang kita tak bisa selalu melakukan apa yang kita inginkan,” katanya. “Aku juga selalu ingin melindungi kalian. Kau, dan Kyuhyun. Tapi rasanya, aku adalah kakak terburuk ketika melihat kalian terluka atau bagaimana. Ingat saat kau diganggu temanmu dan aku tidak bisa menolong?” Aku mengangguk. “Saat itu aku merasa sangat lemah, karena tidak bisa melindungimu. Ingat saat Kyu menabrakkan mobilnya ke pohon ketika pertama kali belajar menyetir? Aku duduk di sampingnya, dan aku tidak bisa mencegahnya terluka. Yah, kadang kita tak bisa selalu melindungi orang yang kita sayangi. Kita hanya bisa berusaha melakukannya.”

Aku diam. Kurasa kata-kata kakakku memang benar. Aku baru menyadari, ternyata dia bukan orang cuek yang tidak peduli pada adik-adiknya. Dia sangat memedulikan kami.

“Apa dia akan baik-baik saja?” tanyaku takut-takut.

“Yah, kalau dia bisa bertahan waktu dulu, kenapa sekarang tidak?” Heechul-hyung nyengir.

Tak berapa lama, Kyu datang, dengan wajah ketakutan. Dan selanjutnya, Ayah dan Ibu. Mereka panik sekali, terutama Ayah. Aku tidak tahu apa yang harus kujelaskan padanya. Kubiarkan Heechul-hyung berkata bahwa kami menemukan Donghae di kamarnya, sudah batuk darah hebat, lalu membawanya ke sini.

Sekitar setengah jam kemudian, Kangin-ahjussi keluar dari ruangan itu. Dia mendekati kami, dengan wajah yang sulit ditebak. “Beritahu aku,” katanya. “apa kalian mengawasinya minum obat?!”

Kami saling pandang. Tidak ada yang mengawasinya. Kenapa aku ceroboh sekali?! Entah kenapa, Kyu menunduk, tak berani menatap kami.

“Sekali lagi kejadian seperti ini,” lanjut Kangin-ahjussi. “aku tidak yakin bisa menyelamatkan nyawanya.”

***

Donghae’s part

Aku terbangun dengan seorang dokter dan beberapa perawat di sampingku. Kukerjapkan mataku pelan-pelan. Oh, kupikir mereka yang berbaju putih itu malaikat atau apa, ternyata aku masih hidup.

Aku mencoba untuk fokus dan tetap bangun, tapi sulit sekali. Mulutku terasa asin dan agak pahit. Yah, ini selalu kualami kalau habis kumat. Aku ingin bertanya pada dokter itu, yang kalau tidak salah adalah Kangin-ahjussi. Tapi aku takut kalau aku membuka mulutku dan tiba-tiba memuntahkan sesuatu (kalau aku memuntahkan makanan sih tidak apa, tapi masalahnya aku sama sekali belum makan, dan aku yakin yang kumuntahkan pasti hanya asam lambung, atau lebih parah lagi, darah).

Seluruh persendianku rasanya copot, membuatku sulit bergerak dan merasa lelah luar biasa. Perutku masih terasa sakit, tapi tidak sesakit tadi. Tenggorokanku sakit seperti aku baru saja menelan pasir. Dan dadaku agak sesak. Bayangkan saja, aku baru mengeluarkan hampir seperdelapan darah dalam tubuhku. Apa yang kuharapkan coba?

“Bagaimana rasanya?” tanya Kangin-ahjussi, wajahnya terlihat khawatir.

Aku mengangguk. Maaf Ahjussi, aku bukannya tidak sopan, tapi aku benar-benar lelah dan tidak bisa bicara banyak.

“Jawab aku, apa kau tidak minum obatmu hari ini?” tanyanya lagi. Aku ragu menjawab, lalu menggeleng. “Ah, sudah kuduga. Tahukah kau sepenting apa obat itu? Kau itu benar-benar tidak menyadari penyakitmu ya? Kalau radang lambungmu ini dibiarkan, lama-lama akan membunuhmu! Wah, aku belum pernah dengar ada transplantasi lambung nih.”

Dia pasti hanya bercanda. Kuharap begitu. Aku hanya tersenyum lemah menanggapinya. Kangin-ahjussi ikut tersenyum. “Akan kupanggil keluargamu.”

Sejenak, dia pergi keluar, dan menit berikutnya, semuanya masuk. Maksudku semuanya adalah, semua keluarga ayahku. Ayah, Eunmi-ahjumma, Heechul-hyung, Eunhyuk, dan Kyuhyun. Mereka berderet di samping ranjangku. Ayah mendekatiku dengan raut muka cemas, lalu mengusap poniku pelan.

“Kau ini,” katanya dengan suara bergetar. “Bisakah jangan membuat Ayah khawatir?”

***

Eunhyuk’s part

“Kau ini. Bisakah jangan membuat Ayah khawatir?” tanya Ayah, sambil mengusap kepala Donghae pelan.

“Mi…mian…he…” ucap Donghae begitu lirih. Ayah duduk di kursi di sampingnya, lalu menggenggam tangannya.

“Jangan lupa minum obat, oke? Kangin bilang dia tidak mau menyelamatkan nyawamu lagi kalau kau begini untuk ketiga kalinya. Mengerti?”

Donghae mengangguk patuh.

Aku tersenyum lega melihatnya. Kudekati dia, aku duduk di ranjangnya. Donghae melihat ke arahku, lalu melempar senyum. “Terimakasih,” ucapnya tanpa suara. Aku mengangguk. Wajahnya masih pucat, walau tidak sepucat dan semengerikan tadi (di mobil). Masih ada sedikit bercak darah di sudut bibirnya. Hah, para perawat tadi tidak becus membersihkannya. Kuambil sepotong tissue lalu kubasahi dengan air sedikit. Aku mengelap noda darah itu pelan-pelan. Donghae menggumamkan terima kasih lagi.

“Do… Donghae…” Kyuhyun berkata takut-takut pada Donghae. Aku bingung, dia kenapa ya?

Donghae memandangnya heran juga.

“A…aku…minta maaf… Aku… minta maaf…” ucapnya pelan. Dia menunduk, tidak berani menatap satupun dari kami.

“Untuk apa?” tanya Donghae, suaranya parau.

Kyu tidak menjawab. Dan aku menemukan jawabannya sendiri. Kyu tak mungkin minta maaf kalau dia tidak punya salah. Dan dia yang ada di kamar Donghae saat kejadian tadi. Tidak salah lagi. “Kyu, jangan bilang kau mengambil obat Donghae!” tebakku. Dan sialnya, Kyu diam, pelan-pelan mengangguk.

“A..aku…benci dia… Kubuang obatnya…ke toilet…” akunya lirih.

Kemarahanku memuncak. Ayah berdiri juga saking marahnya. “Apa yang kau lakukan pada kakakmu?!” bentak Ayah, hampir berteriak. Aku menoleh pada Donghae yang bergerak gelisah. Matanya berkaca-kaca. “Kumohon,” erangnya. “Jangan ada pertengkaran…”

Aku mengenggam tangannya, berusaha meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi sepertinya tidak. Ayah sangat marah sekarang. Aku juga. Kyu sudah benar-benar kelewatan.

“Aku…aku benci dia, Ayah!” Kyu sedikit meratap. “Kupikir aku bisa mengerjainya sedikit dengan…”

PLAKK!!!

Sebuah tamparan yang cukup keras menghampiri pipi Kyu. Kami semua terhenyak. Bukan, bukan aku atau Ayah atau Heechul-hyung yang melakukannya, tapi IBU! Ibu, menampar Kyu anak kesayangannya? Apa ini nyata?

“IBU TIDAK PERNAH MENGAJARIMU UNTUK MENJADI PEMBUHUH, KYU!!!” teriak Ibu. Matanya berkilat marah.

Kyu menangis. Kurasa bukan karena tamparan Ibu yang membuatnya begitu, tapi kata-kata Ibu. Mungkin dia menyesal karena sudah mengecewakan Ibu.

“Maaf, Donghae-hyung, maaf… Maafkan aku… Aku tidak berniat mencelakaimu… Maafkan aku…” Kyu meratap, dia berlutut di samping ranjang Donghae. “Kau boleh membenciku sekarang, Hyung…maafkan aku…”

Kulihat setetes air mata jatuh dari sudut mata Donghae. Dia tersenyum tulus pada Kyu. “Kyuhyunnie, kemarilah, tidak ada seorang kakak yang membenci adiknya.”

Dan Kyu menubruk Donghae, lalu memeluknya.

***

Lima hari setelah dia dirawat di rumah sakit, dia diijinkan pulang dengan bersyarat (Kangin-ahjussi mengancam sambil berkata, “Aku tidak mau menolongnya kalau dia lupa minum obat lagi!” yang sukses membuat Kyu―ini yang mengherankan―langsung bersumpah akan mengawasi Donghae minum obat).

Keadaan di rumah kami semakin baik. Maksudku, tidak ada lagi yang membenci satu sama lain. Kyu malah sekarang menempel erat pada Donghae. Dimanapun ada Donghae, di situ ada dia. Aku heran sendiri, bagaimana dulu aku yang dekat dengan Donghae, dan sekarang malah si magnae yang begitu. Tapi tidak apa, karena itu artinya bermain bertiga, hahaha (Heechul-hyung tidak masuk hitungan, dia kan sudah terlalu tua untuk bermain bersama).

Hari ini, kami pergi ke makam ibu Donghae. Sebenarnya hanya aku, Donghae, dan Ayah yang pergi. Heechul-hyung ke kantor, Kyu ada ujian di sekolah, dan Ibu harus mengepas gaun untuk pernikahan keponakannya besok.

“Hai, Bu,” sapa Donghae, bicara pada batu nisan marmer yang bertuliskan nama ibunya. “Aku kesini membawa Ayah, dan…saudaraku yang baru.”

“Hayoon-ah,” kata Ayah, duduk di samping batu nisan itu. Matanya berkaca-kaca. “Aku minta maaf untuk segalanya. Aku menyesal untuk apa yang telah kulakukan pada kalian. Tapi percayalah, aku tidak menyesal karena kau telah melahirkan Donghae. Dia hebat. Aku bangga padanya. Dan kumohon, percayakan dia padaku. Aku akan mendidiknya menjadi orang hebat yang luar biasa…”

Aku tahu Donghae menangis. Dia pasti merindukan ibunya. Diam-diam, aku mengusap airmataku yang jatuh.

“Ibu, jangan khawatir,” ucap Donghae. “Aku akan baik-baik saja, seperti pesan Ibu.”

Kupandang batu nisan itu, rasanya seolah Hayoon-ahjumma ada di sini. Dia tersenyum padaku dan berbisik, “Tolong jaga dia.”

Aku mengangguk.

***

THE END

By: ILALANG NAVISA

65 Comments (+add yours?)

  1. neneng
    Feb 16, 2011 @ 13:03:08

    wooww….good story

    Reply

  2. babyhae
    Feb 16, 2011 @ 13:12:59

    blahh…banjir banjir….air mata habis…

    sumpah ini nguras emosi…itu si Hae..apalagi pas ibunya pamitan itu T_____________T

    Reply

  3. Trackback: Tweets that mention ANOTHER « Superjunior Fanfiction -- Topsy.com
  4. chris~wonnie~hyunnie
    Feb 16, 2011 @ 14:25:09

    Nangis~~~
    Gak tau knp, pas baca bait pertama, aku dah tau siapa yg bikin…
    Alasannya:
    1. Cast.a Donghae #plakk
    2. Bahasa.a selalu daebak dan unik
    Keep writing, onnie…! ^^

    Reply

  5. ilalang navisa
    Feb 16, 2011 @ 14:53:07

    hahaha…makasih ya chingu2, 🙂

    chriswonniehyunnie: wahaha, saya punya readers sejati. Makasih ya. Oh ya, kalo mau baca ff2 saya yg lain, bisa buka gamefishydictator.wordpress.com.

    Reply

  6. yoan suka suju ajj
    Feb 16, 2011 @ 15:02:42

    banjire air mata aku bacanya ….daebak…..

    Reply

  7. hahaendless
    Feb 16, 2011 @ 15:08:20

    ak ikt comment lgi y nav..hehe.
    Diitung2 ak bca ffmu ini udh brbnyk kali tpi te2p aj pgn nangis..
    Huhuhu…
    Ak tggu krya lainny naviing..

    Reply

  8. ^~Mrs.Andrew~^
    Feb 16, 2011 @ 15:39:15

    saia selalu suka alur yg author buat, cara nuturi ceritanya enak

    Reply

  9. puput
    Feb 16, 2011 @ 16:22:54

    Keren bgt,tp kyu ga sjahat tu loh
    Dtnggu ceritany lg y ^^
    LANJUT..

    Reply

  10. ilalang navisa
    Feb 16, 2011 @ 18:17:38

    wohoho, makasih chingu2… Oke, author fighting! 😀

    Reply

  11. mei.han.wom
    Feb 16, 2011 @ 18:54:24

    banjir aer mata….ih keren bgt….cerita’x seru BGT….yg bagian terakhir lucu…si kyukyu yang dekat bgt sama haehae….
    nice chingu…^^

    Reply

  12. Hwang Min Hyo
    Feb 16, 2011 @ 19:21:02

    WOW!
    ff ini luar biasa!!!
    Fresh banget..udah lama ga baca ff kaya gini 😀

    Reply

  13. Han Yeosin
    Feb 16, 2011 @ 19:49:24

    ceritanya keren… bikin emosi naek turun…
    like it…

    Reply

  14. mei.han.won
    Feb 16, 2011 @ 19:54:08

    sedih….tpi akhir’x happy end….
    Aigoooo kyu ya….tega nian kau jaat ma bank haehae…XDDD tpi syukur dej kyukyu akhir’x sador….
    NICEEEEE BGTTTT….

    Reply

  15. yokyuwon
    Feb 16, 2011 @ 20:01:18

    hiks-hiks…banjir bandang kamar gw..mengharukan…aku ska ni ff….author’na daebakk..akhir’na happy ending…^^

    Reply

  16. mrs.choi_407
    Feb 16, 2011 @ 20:10:48

    Kereeeeeeen 😀

    Reply

  17. arum
    Feb 16, 2011 @ 20:11:34

    ceritanya bener2 keren…..
    suka bgt dgn tema seperti ini
    ayo ditunggu karyanya yg lain….

    Reply

  18. shinhyunrin
    Feb 16, 2011 @ 20:37:04

    Yaaaa
    ko ngegantung author . .
    tp daebak . . .
    mantap 🙂

    Reply

  19. Love Kyu
    Feb 16, 2011 @ 21:32:47

    daebakk~!
    Tapi,, onn..
    Kyuhyun gk sejahat itu kokkkkkkk,,
    dia emg evil, tp gk sejahat itu kok (TT^TT) *lupa kalo cuma ff

    Tapi,, ff nya keren bgt onn,,
    bantal yg saia pegang udh basah kuyup nih,
    wkaka,,

    pokoknya udah deh,, gk tw lg pgn ngomong apa,,
    *spechless

    Reply

  20. Leedantae
    Feb 16, 2011 @ 21:46:36

    huwaaa…
    Keren,, ffnya sedih, tp ngasih banyak makna..
    Itu teri bisa jadi bijaksana kenapa? Ga cocok onn,,aku ngakak pas bayangin mukanya serius,hehe

    Reply

  21. nympha42
    Feb 16, 2011 @ 21:54:39

    ceritanya ngalir…suka. tapi saya nangis.

    goodjob author.

    Reply

  22. totoronoe
    Feb 16, 2011 @ 22:01:10

    Berhasil ngebuat ane nangis.
    sdih bnget crita’y 😦

    di tunggu ff slanjut’y~

    Reply

  23. fishae
    Feb 16, 2011 @ 22:15:27

    huaaa…..mengharukan bgt!bagus bgt ampe ga bs berkata2….
    gambaran perasannya ngena bgt!
    1. salut ama Nyuk yg dsni sgt mengerti perasaan n posisi Hae
    2. Chulie jg Hyung yg kelihatannya cuek tp baek n bijak
    3. peran Kyu jahat bgt sampe pengen gw jitak! *ditimpuk kyu pake PSP, ga tangkep ahhhh*
    emosinya dapet bgt,jd sedih n terharu bacanya!
    good job author!!! d^^b

    Reply

  24. ailovesfishy
    Feb 16, 2011 @ 22:40:31

    Author sayang.. thank you for making this great ff! T.T
    btw,pas baca tiba2 aku keinget ama cerita baker king kim takgu.. si donghae jd takgu, si kyu jd majun.. hehe (pasti terinspirasi dari takgu jg kan? :p)
    tp yg pasti aku suka banget sama alur dan pemilihan bahasanya.. pokoknya DAEBAK bgt deh! ^^
    ditunggu ff selanjutnyaaa.. ^o^
    saran: kyknya ff ini trlalu panjang untuk dijadikan one shot, jd hanya org2 tertentu saja yg “kuat” baca ini sampai habis.. 🙂 mungkin lebih baik dijadikan per chapter, krn f ini bagus bgt dan sayang kalo dilewatkan..

    Reply

  25. ikANDonghae
    Feb 16, 2011 @ 23:43:34

    Daebak!
    Keren ffny..

    Luthu wkt dbilang heechul tlalu tua untuk bmain bsama hyuk,hae,ma kyu..
    Wkwkwk

    cuma satu yg ganjal,,
    ayah bmarga Park tapi knapa hyuk pake marga Lee??
    Tapi scara ksluruhan aqw suka ff ne..
    Bkin emosi jd naik trun..

    Reply

  26. Je_hae fishy
    Feb 17, 2011 @ 02:23:56

    Niatnya iseng2 buka ff, asal plih judul eh.. Ktmu ni ff, aaa.. Gak kuat pas ngebayangi Donghae sakit, ampe merem melek ngebayanginnya.. * spa suruh ngebyangin * Untng happy ending, Donghae oppa jaga kesehatanmu…

    Reply

  27. ilalang navisa
    Feb 17, 2011 @ 05:04:25

    hehehe, makasih udah baca dan komen. Iya, sarannya author tampung nih, keknya emang kepanjangan jd oneshot.ehehe.

    Reply

    • Mrs.VithaKyuHae
      Feb 18, 2011 @ 19:56:18

      Chingu keren banget FFnya..wah Daebak deh…
      sumpah dari awal baca sampe akhir ni air mata banjir bandang….ckckck..Thor tanggung jawab…hehehehe
      FF selanjutnya cepetan yak*maksa critanya*…:D

      Reply

  28. ndeehyuk
    Feb 17, 2011 @ 05:22:50

    aku….
    aku….
    aku g ngapa2in kecuali nangis baca ini…
    hiks… sedi banget…
    tapi untung semuanya happy ending…
    hiks..

    Reply

  29. facebook
    Feb 17, 2011 @ 05:55:58

    i love it

    Reply

  30. kyuhthaa
    Feb 17, 2011 @ 09:15:19

    huhu,,yeobo q emang paling kurang ajar!*bang6a* lho? Tp untg dia sadar.
    Duh hae yg penyayang suka dhe liat’a di sjm perfecto, btl2 perfec dhe thu muka, ngalah2in siw0n. *lho malah curht sya* hehe
    buat author daebak dhe p0koke smua jemp0l q berikan untkmu, asal dkembalikan lg *haha gaje*

    Reply

  31. trielfishy
    Feb 17, 2011 @ 09:24:17

    sumpah ya ini ff menguras air mata..dari awal sampai akhir aku nangis terus…keren keren..perannya semua dapet banget…dan donghae..oh my yeobo! Kyu jahat banget disini…

    Reply

  32. lady elf
    Feb 17, 2011 @ 10:17:00

    (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
    Bagus ff’y

    Reply

  33. dhila_kudou
    Feb 17, 2011 @ 10:44:26

    bener2 daebak..!!!
    emang ff yang eonni bikin selalu daebak dan mengharubiru..T,T

    penceritaannya keren, mengalir lancar..
    terus berkarya eonn..^^

    Reply

  34. ikantumi
    Feb 17, 2011 @ 16:38:33

    gue nangis bacanya di bait22 terakhir!! apalagi cast yang teraniyaya itu adalah bias gue sendiri, si donghae~! gak tega banget bacanya TT…TT
    kyuhyun kau kejam sekali~~ baca ini gue pengen bunuh elu #plak *digambar sparkyu* tpi seenggaknya kyu uda sadar dan akhirny baik22 sama donghae~!
    cara penulisannya jg terkendali bgt, daebak deh buat authornya! XD

    Reply

  35. VayTeuKey
    Feb 17, 2011 @ 20:28:12

    pkok x ska bgt. eunhae forever. teuki ayah yg bjak. kyu jaat bgt sech?

    Reply

  36. sakura*teukie
    Feb 17, 2011 @ 21:14:00

    Sumpah ceritanya bagus banget, ini udah ke 5x na aku baca ni ff…. bagus thor… lanjutkan kreasi mu…………. 3x…
    Law da sequel na lebi bagus…. he3x…

    Reply

  37. fiteukhae
    Feb 17, 2011 @ 22:16:24

    Sumpah demi apapun aku banjir airmata bacanya. Sumpaaaah…aaaahh ini cerita nguras airmata. Apalagi castnya donghae. T___T pas bgt.

    Reply

  38. Minji_evilkyu
    Feb 17, 2011 @ 22:19:16

    Daebakk!
    Banjirr air mata, disini feel family nya ngena bgt,
    masing2 karakternya kuat,
    moral value nya dapet,
    kyu nya, yah cocoklah dapet peran begitu,
    hua jjang!

    Reply

  39. hyukbumnik
    Feb 17, 2011 @ 22:33:25

    demi Tuhan aku nangis baca ini ff. baguuuuus banget. pokonya top bgt. jarang ada ff kaya gini T.T aku sukaaaaaa jeongmal *peluk eunhae*

    Reply

  40. Heelumination Park
    Feb 17, 2011 @ 23:15:47

    Satu kata buat ff n authornya, DAEBAK!!
    Udah lama ga nemu ff brothership kaya gini..
    Keren abis..
    Keep writing ya thor, kayanya aku bakalan jadi pembaca setiamu.. 😀

    Reply

  41. someone2109
    Feb 17, 2011 @ 23:19:46

    hua…. authornya buat readers nangis nih T_T
    kasian nasib donghae T_____T
    kyu kejam bngt
    bahasanya bgs ^^

    *BRB NANGIS… T_T *

    Reply

  42. nony
    Feb 17, 2011 @ 23:24:55

    amaziiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing . speechless . cuma bisa nahan aer mata (abis malu nangis di ruang tamu cos bacanya di sana) nahan nangis sambil senyum! ngena bgt . kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen!! salut salut 😀

    Reply

  43. GaemSA
    Feb 18, 2011 @ 04:58:57

    Nguras air mata ni ffnya TT____TT
    Nangis benerannn T.T

    awal2nya kirain Kyuhyun kocak gitu orgnya.. Ternyata… -_- tapi akhirnya jadi baik X)

    Like this ff C:

    Reply

  44. ilalang navisa
    Feb 18, 2011 @ 04:59:23

    hehehe…makasih bgt ya chingu2, udah nyempatin baca+komen. 🙂

    Reply

  45. Jikyung_siwon_yesung
    Feb 18, 2011 @ 14:30:19

    AUTHOR ! TANGGUNG JAWAB ! UDAH BUAT AKU NANGIS DARI AWAL,. . ,
    sumpeh, nangis smpe guling” bca ni ff. ,
    puass gw bc ni crita, udh panjang, bkin sdih, perfect ff. Oke dah crita’a *ngelap airmta*

    Reply

  46. SpecialChoiYoungRa(최영라)
    Feb 18, 2011 @ 17:15:50

    Huweeeeee
    Sumpaahhhh
    Suka bgt ama nih ff
    Kyu oppa kejaaammmm
    Uri donhae oppa jdi tmbh skt kaaannn
    Dsar evil magnae!!

    Nice ff chingu

    Reply

  47. mikyu tofu
    Feb 18, 2011 @ 18:59:06

    aku suka suka suka sukaaa…. banget,,, keren.. walau tingkah kyu nyebelin banget disini.. #ditabok sparkyu and ELF.. tapi aku suka banget.. aku berkaca-kaca.. kereenn

    Reply

  48. Amanda Choi Minhae
    Feb 18, 2011 @ 22:29:57

    huueeee…
    ada ingus bandang australia di kamar gua.. 0 ueeeekk, jorokk. 0.
    idih si kyu, evil banget dah, mau aja aku campakin dia ke seaword..
    hhehehe
    super duper junior keren dah ni epep..
    author daebak.

    Reply

  49. mutia
    Feb 18, 2011 @ 22:43:44

    suka banget sama ff nya …. sangat menguras air mata TT______TT tp ceritanya beneran keren

    Reply

  50. -deewookyu-
    Feb 18, 2011 @ 23:52:12

    sumpah …sedih banget …..

    suka banget dengan HEECHUL yang cuek tapi perhatian

    suka juga sama EnhYUk yang care banget

    suka juga sama si Magnae, walaupun EVIL nya sempat keluar tp cuma sesaat,

    suka juga sama LEETEUK yang sudah membuat empat orang anak yang sempurna,

    suka juga sama Nyonya TEUKI , yang Easy Going ……

    Sallluuuuut …. 4 jempol tuk Author…. buat yang bagus ky gini lagi ….

    …. jangan lupa main cast : Tetep ada MY LOVELY HEECHUL

    Reply

  51. kimhankha
    Feb 19, 2011 @ 12:38:15

    Hiks .. dikirain Eunhyuk mau kawin sama Donghae .. 😦 *plak!
    Ceritanya keren .. n_n

    salam kenal chingu .. 😀

    Reply

  52. kimhankha
    Feb 19, 2011 @ 12:43:38

    eh, numpang lewat doang ya.. 😀 trus Kyu perannya keren!! X3

    Reply

  53. tifa
    Feb 19, 2011 @ 15:05:28

    ini ceritanya DAEBAK banget thor.
    bikin banjir bandang.

    Reply

  54. sjh94
    Feb 22, 2011 @ 19:29:33

    SEDIH……..!! ><
    keren sekaligus sedih banget pas Eunmi Teuk Kyu berantem, Hyuk cuma megangin Donghae abis itu ngelempar vas, aaaaaaaa :'''{
    NICE FANFICTION!

    Reply

  55. chocolate princess
    Feb 24, 2011 @ 17:43:16

    huhuhuhu crtanya ckup mnguras air mata T.T
    kyu dsni pngen guw iket di po’on saking gemesnya !!^^
    dan eunhae brjalan dgn sangat baik 🙂

    Reply

  56. tikanew
    Mar 07, 2011 @ 14:19:02

    wooowww…bagus bgt cerita.aaaaa! bikin nagis T.T Kereenn! X)

    Reply

  57. anchovynu
    Mar 18, 2011 @ 17:06:28

    ahhh….. ffnya keren chingu :)))
    hampir nangis nih bacanya, tapi gak nangis soalnya bacanya di sekolah, mungkin kalau di rumah udah nangis deh T_____T

    donghaenya kasian sekali, menyedihkan. tapi, two thumbs up !!! keren :))

    Reply

  58. parkhyujin
    Apr 16, 2011 @ 06:19:18

    Huaaaah!!!! SÙper daebaaaaak!!!!!!! Banjir air mata nih pagi2 dikasih beginian huuuuaaaaa 😥 bagus ceritanyaaaa bener deeeeh 😥

    Reply

  59. specialACHAdays
    Aug 16, 2011 @ 20:07:55

    kenapaaa ceritanya sangat bagus !!!! *kata sangat diulang beberapa kali* .. kerennnnn demi apaaa cool bagus kereennnn semuanyaaa dehhh~
    AUTHOOORRR AJARKAN AKU MEMBUAT SEPERTI INI *cium author (?)

    Reply

  60. Pujie
    Mar 19, 2013 @ 17:57:13

    Ceritanya bner2 mengharukan. Pokoknya no coment, semua tersusun rapi dan menarik. Brothershipnya kerasa bnget. Daebakkkkk!!!!\\(>o<)//

    Reply

  61. Rhana Eunhae
    Jun 11, 2013 @ 08:34:43

    Ini FF paling mengharu biru yang pernah aku baca. Sebenernya aku udah baca kurang lebih dua tahun yang lalu, dulu belum sempat komen karena gak tau caranya, tapi tiba tiba keinget ff ini dan pengen baca, susah buat nyarinya, karna aku lupa judulnya *saking udah lama
    akhirnya aku cari dengan kata adegan adegan yang aku ingat disini dan akhirnya ketemu! Seneng banget bisa baca lagi. :’D
    sekarang bisa aku bookmark. Thanks author! Sukaaa banget FFnya 😀

    Reply

  62. sofia risma
    Jun 10, 2014 @ 06:52:31

    Waaaah ceritanya feelnya dapet banget . Nice FF

    Reply

  63. bola online
    Oct 01, 2019 @ 20:38:14

    This post is worth everyone’s attention. How can I find out more?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: