THE WAY TO LOVE’S SEQUEL—THE FIRST GIFT

(Annyeong! Kali ini saya memenuhi permintaan readers yang minta cerita ini dibikin sekuel. Nah, berhubung ini adalah afterstory, silakan komen juga ya… Gomapta)

***

Aku memandang kalender dengan merana. Tinggal dua minggu lagi, dan aku sama sekali belum menyiapkan apapun. Aku bahkan belum kepikiran ingin memberinya apa.

“Kau sudah mendapatkan hadiahnya?” tanya Miyung.

Aku menggeleng. “Memikirkannya saja belum. Aish, bagaimana ini Miyung-ah? Tinggal dua minggu lagi…”

Miyung ikutan berpikir. “Benar juga. Kenapa kau tak tanyakan saja padanya dia ingin hadiah apa?”

“Sudah.”

“Lalu?”

Aku mengingat-ingat jawabannya saat itu. Aku hanya ingin kau.

“Hah, dia tidak menjawab dengan serius,” sahutku, menghela nafas panjang lalu menghembuskannya keras-keras. “Apa dia kubelikan hadiah natal saja?”

Miyung menoyor kepalaku pelan. “Ya! Ulang tahun Donghae itu jauh dari hari natal! Memangnya kau, yang ulang tahunnya hanya beberapa hari menjelang natal?!”

Aku hanya mengedikkan bahu. Aku benar-benar bingung mau memberi kado apa untuk Donghae, namjachinguku itu. Aku kepikiran untuk membelikannya topi, tapi begitu melihat koleksi topi miliknya, aku jadi bingung sendiri, topi macam apa lagi yang harus kuberikan padanya? Aku juga ingin membelikan polo shirt atau jaket untuknya, tapi itu terlalu sederhana. Mau kuberikan perhiasan atau apa? Yah, dia hanya mau memakai gelang perak peninggalan ibunya.

Ketika aku melamun, tiba-tiba ponselku berdering. Donghae. “Yoboseyo?” sapaku.

“Ya!” Donghae berteriak. Aku sampai harus menjauhkan telingaku dari ponselku. “Cepat datang! Aku sudah menunggu selama hampir setengah jam! Kalau dalam lima menit kau tidak datang, aku akan pulang!”

“Andwe!” jeritku. “Jangan pulang… Aku butuh kau, Bodoh! Tunggu sebentar lagi, aku masih ada di rumah Miyung.”

“Palli!” kata Donghae singkat sebelum menutup sambungan telepon. Cih, sifatnya sama sekali tidak berubah.

“Miyung-ah, aku harus pergi sekarang,” pamitku pada Miyung. Dia menatapku heran. “Donghae berjanji akan mengajariku kalkulus untuk ujian minggu depan.”

“Oke. Hati-hati di jalan,” katanya.

“Annyeong…” salamku sambil berlari keluar kamarnya.

***

Walau aku dan Donghae sudah resmi jadian sebagai sepasang kekasih, tapi rasanya kami seperti bukan sedang berpacaran. Hampir tiap hari kami bertengkar, mempermasalahkan hal kecil. Seperti, aku kami akan bertengkar memperebutkan jus strawberry yang tinggal satu di mesin penjual minuman. Kami juga akan bertengkar kalau dia mulai mengataiku bodoh (dan aku mengatainya si Rusuh). Kami juga mempertengkarkan hal-hal seperti, ketika aku tidak mengerti apa yang telah dijelaskannya mengenai aplikasi integral.

“Kau ini bodoh atau tolol sih?” keluh Donghae frustasi. “Sudah kubilang, garis ini diputar menurut sumbu x, dan jangan gunakan metode silinder! Metode silinder hanya untuk daerah yang diputar di sumbu y! Lihat ini, metode yang harus kau gunakan adalah metode cincin! Mengerti tidak?”

Aku menggeleng. “Kenapa tidak boleh pakai metode silinder saat diputar di sumbu x?”

“Karena kau akan kesulitan menghitungnya!”

“Lalu, kenapa ada metode cincin? Lihat, kenapa jari-jari kedua ini harus dikurangi jari-jari pertama? Kenapa tidak langsung dihitung keduanya?” Aku menunjuk pada gambar kurva di buku kalkulusku.

“Karena daerah tengah tidak dihitung! Demi Tuhan, Kim Sunri, begini saja kau tidak mengerti?! Otakmu dimana sih? Aish, bagaimana dulu kau bisa melewati ujian masuk sih?!”

“Ya! Kenapa kau terus mengataiku? Aku kan minta tolong baik-baik padamu!” Aku mulai  emosi. Dia selalu mengataiku bodoh. Aku memang bodoh, tapi setidaknya jangan terus mengatakannya padaku dong!

Donghae berdecak kesal. “Tapi aku sudah mengulanginya ratusan kali, dan kau tetap tidak mengerti! Ujianmu itu minggu depan, dan aku tidak mau kau mendapat nilai D lagi!”

“Kau pikir aku suka mendapat D?” rutukku, mengingat nilai ujian kalkulusku yang pertama.

“Berapa nilai fisika dasarmu?” tanya Donghae.

“B.”

“Ya! Bagaimana kau bisa dapat nilai B di fisika dasar sedangkan basic-nya matematika saja kau dapat D?”

“Mana kutahu!” Aku mendorong buku kalkulusku dengan kesal.

Kami sama-sama diam, kelelahan bertengkar. Aku merutuki otakku yang sama sekali tidak bisa sinkron dengan angka-angka dan kurva-kurva begini. Donghae tidak kalah menyebalkannya. Dia seolah berlomba dengan soal-soal kalkulus untuk membuat darahku mendidih.

Aku mulai merasa perutku mulas. Begini nih kalau aku sudah stres. “Donghae, pinjam kamar mandinya,” kataku. Dia hanya mengangguk, menunjuk kamar mandi yang letaknya tak jauh dari ruang tamu.

Namun, begitu aku masuk, di atas lantai kamar mandi ada sesuatu berwarna putih yang membuat keinginanku buang air mendadak hilang. Ya ampun, Lee Donghae, bagaimana bisa dia meninggalkan celana dalamnya sembarangan begini! Kupungut benda mengerikan itu dan keluar.

“Kenapa cepat sekali?” tanyanya heran.

“Bagaimana aku bisa buang air kalau ada ini di sana!” jawabku sambil melemparkan benda itu ke arahnya, yang telak mengenai mukanya. Donghae mengambilnya dan wajahnya bersemu merah. Dengan cepat disembunyikannya benda itu di balik badannya.

“Dasar tolol,” umpatku, merasa menang.

***

Aku masuk ke kamar dengan lesu. Minta diajari Donghae, sama sekali tidak membawa hasil. Aku hanya dibentak-bentak dan dikatai bodoh. Masih mending kalau kami tidak belajar, minimal kami bisa bermesraan, tapi boro-boro bermesraan, akur saja tidak.

Sampai di dalam kamar, sudah ada Seohyun-unni, unni-ku yang sedang bekerja di depan laptopnya.

“Unni…” kataku menempel padanya. Dia menoleh. “Ajari aku kalkulus…”

“Bukankah hari ini Donghae berjanji akan mengajarimu?” Seohyun-unni ganti bertanya.

Aku mendengus kesal, menggeleng. “Hanya tambah pusing saja diajari olehnya. Dia sebenarnya juga bodoh sih.”

Unni malah tertawa mendengar keluhanku. “Kau tidak tahu, Donghae selalu mendapat nilai A ditiap ujian kalkulus.”

“MWO?!” pekikku histeris. “A?! A sempurna?”

Unni mengangguk. “Dia terkenal di angkatannya. Memang sih dari luar dia terlihat bodoh, tapi jangan remehkan dia. Namjachingumu itu benar-benar pandai lho.”

“Cih,” desisku. “Tapi dia tidak pandai mengajariku. Masih mending diajari Unni atau Siwon-sunbae.” Dan kali ini Unni mengangguk, bersedia mengajariku. Aku, tentu saja, bersorak riang. Lee Donghae, akan kutunjukkan padamu bahwa pacarmu ini bisa walau tanpa bantuanmu!

“Ya, bagaimana dengan kado yang akan kau berikan padanya?” Unni tiba-tiba mengalihkan perhatianku.

Aku menggeleng pasrah. “Molla.”

“Kenapa kau tidak membuat sesuatu untuknya? Misalnya, syal rajutan atau…”

“Unni, aku tidak bisa merajut sama sekali,” potongku.

Unni mengedip sekilas. “Kau tidak berniat belajar?”

Mataku terbelalak. Otakku sibuk mencerna perkataan Unni-ku itu. Ya ampun, aku baru ingat bahwa dia sangat mahir merajut! “Unni…jebal, ajarkan padaku caranya!”

***

Aish, kemana sih si Bodoh itu? Aku sudah menunggu selama lebih dari lima belas menit, di tengah udara yang mulai dingin ini. Kurapatkan jaket tebalku. Dingin sekali… Sunri itu bodoh atau apa sih, menyuruhku datang ke taman saat sore begini. Mana dia telat lagi. Jinjja, kenapa dia jadi sering terlambat kalau janjian? Padahal dulu dia lebih tepat waktu daripadaku.

“Haaaa… Donghae, mianhe…” Sunri terlihat berlari-lari menghampiriku. Sesampainya di hadapanku, dia menangkupkan tangannya, dan pasang wajah innocent. Dia memang ingin dicekik!

“Aku sudah hampir mati beku, Bodoh!” kataku kesal.

Dia malah mengeryit tanpa rasa bersalah. “Kau yang bodoh, kenapa menunggu di sini? Tuh ada gazebo kan?” Dia menunjuk pada gazebo kecil di seberang kami berdiri. Ya ampun, sekarang aku yang tolol.

“Aku hanya tidak mau kau tidak melihatku,” kilahku, lalu cepat-cepat kutarik dia ke gazebo itu. Kami duduk di bangku gazebo dan Sunri mulai mengeluarkan buku dari tasnya. “Kenapa lagi?”

“Ada soal yang tidak kumengerti,” katanya singkat. Dia membuka halaman-halaman bukunya, mencari-cari. “Seohyun-unni sedang keluar dengan Siwon-sunbae, aku jadi tidak tahu harus minta tolong pada siapa.”

“Kenapa tidak ke Miyung atau Kyuhyun saja? Rumahnya kan lebih dekat ke rumahmu,” kataku. Letak apartmenku memang agak jauh dari rumah Sunri, sekitar lima belas menit naik bis. Makanya kami sering janjian bertemu di taman Sungsugi ini, karena letaknya di tengah-tengah. Lagipula, bagaimanapun, taman ini pernah jadi saksi bisu perjuangan kami menolong orang.

Kali ini Sunri mengeryit, dia menggeleng. “Aku sudah kesana. Saat kubuka pintu kamar Miyung, dia dan Kyuhyun sedang berciuman. Aku kan tidak mungkin mengganggu mereka.”

Aku tertawa kecil, membayangkan Sunri membuka pintu dengan polosnya dan menemukan kedua temannya itu malah sedang bermesraan.

Sunri menunjukkan soal di bukunya, yang ternyata soal fungsi transenden. Aku mulai menghitungnya di kertas lain dan menjelaskannya pada Sunri. Pada ketiga kalinya aku menjelaskan, barulah dia mengerti. Aku benar-benar heran, bagaimana dia bisa sebodoh ini dalam pelajaran kalkulus. Padahal nilai-nilainya di mata kuliah lain sama sekali tidak buruk. Malah bisa dibilang bagus. Hanya gara-gara kalkulus, indeks nilainya jadi jeblok. Benar-benar deh.

“Donghae-ya…” katanya setengah merajuk, setelah aku selesai mengajarinya. Aku menoleh. Dia tersenyum malu-malu sambil mendekatkan wajahnya padaku. “Apa warna kesukaanmu?”

Aku mengeryit. Untuk apa dia menanyakan hal ini? Aku menatap wajahnya yang mengedip-kedip jenaka. Kudekatkan wajahku juga padanya. “Ya, kau minta dicium?”

Sunri seketika memberengut. “Aku bertanya apa warna kesukaanmu! Bukannya minta dicium! Ah, otakmu benar-benar yadong!”

Aku tertawa geli, mengacak rambutnya. “Kukira itu pertanyaan basa basi, setelah kau melihat Miyung dan Kyuhyun berciuman, kau jadi ingin juga. Habisnya, ekspresimu ini seolah kau minta kumakan. Graukk!” Aku membuat gerakan seolah-olah memakannya.

Sunri hanya menaikkan satu alisnya, lalu mendesah kesal dan melengos ke arah lain. “Kau ini macam-macam saja!”

“Ya, Kim Sunri,” panggilku, memegang dagunya dan memalingkan wajahnya padaku kembali. “Kau tahu tidak, di keningmu ini tertulis, AKU INGIN DICIUM DONGHAE begitu!” Dengan jariku aku seolah menuliskan sesuatu di keningnya. Sunri hanya diam, sambil mengerjap-kerjapkan matanya tidak mengerti. Dasar otak udang.

“Jangan-jangan kau yang ingin dicium?” tanyanya menyelidik.

Aku mendengus kesal. “Kenapa baru nyadar? Dan kenapa diam saja? Cepat cium aku!” kataku.

“Cih, dasar yadong. Mana ada orang yang minta dicium terang-terangan begini?”

Aku mendelik padanya. Dan dia akhirnya menyerah. “Baiklah, baiklah, Lee Donghae, tutup matamu!”

Kuturuti permintaannya. Kupejamkan mataku. Sedetik kemudian, dia menempelkan bibirnya di bibirku lalu melepasnya, hanya sekejap saja. Kubuka mataku. “Apa-apaan itu?”

Dia nyengir. “Ciuman masa kini.”

Mana ada ciuman yang hanya menempelkan bibir sekilas dan sudah? Seperti anak kecil saja. Tapi ya sudahlah, toh untuk selanjutnya, aku masih bisa menyerangnya. Hehehe… Aku sudah ketularan Eunhyuk sepenuhnya, mungkin.

***

“Unni, kusut lagi…” keluhku sambil menunjukkan benang berwarna biru tua yang mulai kusut di tanganku. Unni dengan sabar membetulkannya. Aku baru mulai belajar merajut. Dan ternyata itu sama sekali tidak mudah! Ya ampun… Sejak tiga jam yang lalu aku belajar, aku bahkan baru bisa membuat rantai.

“Kapan bisa jadi syal?” tanyaku, sambil memasukkan terus membuat rantai.

“Setelah kau cukup mahir membuat rantai,” jawab Seohyun-unni. “Rantai itu sebenarnya hanya akan jadi alasnya.”

“Mwo?” kataku. Aku lunglai seketika. Membuat rantai saja susahnya minta ampun, apalagi yang lain?

Tapi Unni terus menyemangatiku. Dia bilang kalau aku rajin, aku bisa menyelesaikannya tepat sebelum ulang tahun Donghae, yang jatuh dua minggu lagi.

Kim Sunri, fighting!

***

Akhir-akhir ini Sunri aneh sekali. Dia jarang datang ke fakultasku. Padahal, sebelum-sebelumnya, dia sering sekali mampir dan ikutan bermain bersamaku dan teman-temanku (bahkan dia lebih akur jika dengan teman-temanku dibandingkan denganku, namjachingunya sendiri). Eunhyuk dan Ahjae, sahabatku, mulai menanyakan dimana Sunri, karena tidak biasanya dia absen datang selama dua hari lebih.

“Mana kutahu,” sahutku sambil menyedot jus strawberry. Aku jadi teringat akan pertengkaranku dengannya yang sering memperebutkan jus strawberry.

“Ya, kau ini kekasihnya, harusnya tanya dong dia dimana dan sedang apa!” kata Ahjae, sambil memukul pelan kepalaku dengan gulungan kertas.

“Habisnya dia mulai menyebalkan! Masak kalau aku datang ke kelasnya dan ingin mengajaknya jalan-jalan seusai kuliah, dia selalu menolak dan beralasan harus pulang cepat! Itu kan menyebalkan!” Aku menggerutu sendiri. Sunri memang berbakat bikin orang kesal.

Aku menghabiskan jus-ku sambil membaca materi kuliah hari ini. Eunhyuk dan Ahjae, yang duduk di depanku, malah mulai bermesraan. Mereka memang sepasang kekasih. Aku mulai gerah melihat mereka saling cubit dan tertawa terkikik, apalagi begitu melihat Eunhyuk mulai memonyong-monyongkan bibirnya.

“Ya!” sentakku sambil menggebrak meja. “Bisakah kalian tidak menunjukkan hal-hal seperti itu di depanku?”

Eunhyuk pasang tampang tak bersalah. “Memangnya kenapa? Kalau kau ingin juga, panggil Sunri kemari.”

Ahjae hanya memeletkan lidahnya dan tertawa. Cih, lebih baik aku yang menyingkir.

***

Karena bosan, aku akhirnya berjalan-jalan ke daerah perbelanjaan. Di sini, toko-toko berderet rapi, menjual aneka jenis barang. Aku tak punya niat untuk berbelanja. Hanya saja, kalau nanti aku melihat barang bagus, aku ingin membelikannya untuk Sunri. Dia kan tidak pernah kuberi hadiah, jadi sesekali bolehlah aku memberinya sesuatu.

Hem, apa ya yang cocok untuk Sunri? Kalung? Ah, dia kan sama sekali tidak feminin, nanti pasti kalung itu sering dicopot. Cincin? Nanti dikiranya aku mengajaknya menikah. Sweater? Sunri lebih suka memakai hoodie. Atau sebaiknya kubelikan buku kalkulus untuknya, agar dia lebih giat belajar? Yah, itu saja deh.

Aku berjalan masuk ke sebuah toko buku. Namun, bahkan sebelum aku masuk, kulihat sosok seorang yang sangat kukenal. Sunri. Sedang apa dia di toko pakaian dan aksesoris? Dengan seorang namja yang tidak kukenal pula!

Aku berjingkat mengintip mereka. Tunggu, sepertinya aku kenal namja itu. Kalau tidak salah dia Heechul-hyung, seniorku saat SMP. Kenapa dia bisa bersama dengan Sunri? Apa mereka saling kenal? Mereka terlihat akrab sekali. Heechul-hyung terlihat menunjukkan sesuatu pada Sunri. Syal? Dia mau membelikan Sunri syal?

Dasar Sunri bodoh. Kenapa bisa-bisanya dia jalan-jalan dengan namja lain sedang aku sendiri malah tidak dipedulikan? Karena kesal, aku memilih untuk pulang.

Di tengah perjalanan, kutelepon Miyung.

“Yoboseyo, Donghae, ada apa?” tanya Miyung.

“Yoboseyo, Miyung, kau satu SMA dengan Sunri kan dulu?”

“Ne. Waeyo?”

“Kau kenal Kim Heechul?”

“Heechul-sunbae? Ne, dia kakak kelas kami.”

“Apa hubungan dia dengan Sunri?”

“Oh… Heechul-sunbae itu mantan kekasihnya Sunri.”

***

Kata Seohyun-unni, aku harus melakukan survei. Maksudnya, model syal seperti apa yang sedang tren saat ini. Aku tidak mungkin memberikan pada Donghae syal rajutan dengan model jadul, bukan? Aku akan membeli sebuah syal, dan nantinya Unni akan mengajarkannya padaku cara membuatnya. Jadi, aku datang ke pusat perbelanjaan ini. Di sini ada aneka jenis toko. Termasuk toko-toko yang menjual perlengkapan baju dan sejenisnya.

Aku masuk ke sebuah toko pakaian. Di etalase tokonya terpampang beberapa manekin memakai baju musim gugur. Beberapa manekin lainnya memamerkan pakaian musim dingin. Sebentar lagi musim gugur berakhir dan berganti ke musim dingin. Pantas saja udara semakin dingin.

“Selamat datang,” sapa seorang pramuniaga toko ini. “Ada yang bisa kami bantu, Ahgessi?”

“Oh, ne,” anggukku. “Aku ingin tahu syal rajutan yang sedang tren saat ini.”

“Baiklah, tunggu sebentar,” katanya ramah lalu masuk ke jajaran pakaian.

Aku sedang melihat-lihat koleksi baju musim dingin ketika seseorang memanggilku. Aku menoleh dan mendapati Heechul-oppa, mantan namjachinguku berdiri di belakangku.

“Ternyata benar, Sunri-ya, kupikir aku salah orang,” katanya tersenyum lebar. Dia menghampiriku dan merangkulku sekilas.

“Oppa, bagaimana kabar Oppa?” tanyaku. Walau kami sudah lama berpisah, tapi kami selalu berusaha menjaga agar hubungan kami sebagai teman tidak putus. Namun, akhir-akhir ini aku sudah tidak berhubungan dengannya lagi karena kesibukan kuliahku, dan dia juga sibuk kuliah.

“Baik, tentu saja. Dan kau sendiri? Wah, kau makin manis saja,” katanya tergelak. Aku hanya tertawa kecil. “Sedang apa kau di sini? Eh, kau tidak tahu ya, ini salah satu cabang toko Umma. Cabang ini baru saja dibuka lho. Aku bisa menberikan diskon khusus untukmu, Sunri-ya.”

“Haa…baiklah! Oppa, kau memang baik. Gomapta,” ujarku senang. Tepat saat itu pramuniaga yang tadi mencarikan syal untukku sudah kembali dengan membawa sebuah syal berwarna putih gading.

“Ahgessi, ini salah satu syal rajut koleksi kami,” ujarnya. Kuterima syal itu dan kulihat-lihat. Sepertinya pola rajutan ini tidak susah.

“Kau mencari syal?” tanya Heechul-oppa. Aku mengangguk. “Untuk namjachingumu?” Aku kembali mengangguk malu-malu. “Yaa…beruntung sekali namja itu menerima hadiah darimu.”

“Aniya, biasa saja kok. Aku hanya ingin merajutkan untuknya.”

“Oh ya?” Mata Heechul-oppa berbinar. “Kalau begitu aku carikan model syal yang lain lagi. Kujamin kau pasti suka, dan tidak susah kok membuatnya.” Heechul-oppa melesat pergi dan kembali dengan beberapa contoh syal yang tak kalah bagusnya.

“Wuahhh… Oppa, ini bagus sekali…” kataku senang.

***

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Lelah sekali. Kuliah seharian, dan sorenya mendapat kejutan, melihat Sunri bersama namja lain. Aku memijit kepalaku, rasanya pening seketika melihat Sunri malah bersama namja lain daripadaku. Apa aku cemburu? Tentu saja! Dia itu milikku. Milikku, dan tidak ada yang boleh merebutnya.

Heechul-hyung. Sejak SMP, dia kan terkenal playboy. Apa dulu Sunri juga korban ke-playboy-annya? Si Sunri itu kan rada tolol dan mudah dibohongi. Ah, dan untuk apa juga sekarang Sunri bertemu lagi dengannya?

Kulirik jam beker di meja samping ranjangku. Pukul satu malam. Apa Sunri sudah tidur? Kuputuskan untuk meneleponnya.

“Yoboseyo?” sapa Sunri.

“Kau belum tidur?” tanyaku spontan.

“Eh, belum. Aku sedang mera… Aku sedang belajar kalkulus! Ada apa meneleponku malam-malam begini?”

Aku mengerutkan kening heran. Sunri belajar kalkulus sampai malam begini? Apa tidak salah? Setahuku, dia orang yang lebih memilih tidur daripada belajar. “Aniya. Besok aku ingin mengajakmu kencan.”

“Ah, aku tidak…”

“Tidak ada kata tidak bisa,” tegasku. “Jam sepuluh di Taman Sungsugi. Kalau kau tidak datang, aku sendiri yang akan datang ke rumahmu dan menyeretmu keluar.”

“Araseoh, araseoh,” katanya menyerah. Aku bersorak dalam hati.

“Ya, Kim Sunri, apa kau mencintaiku?” tanyaku.

“Apa? Kau tanya apa tadi?”

“A…aniya, tidak tanya apa-apa,” kataku gugup. Dasar si Bodoh Sunri! Bisa-bisanya dia memintaku mengulang pertanyaan memalukan macam itu. “Baiklah, sudah malam. Kau harus tidur. Kalau kau mengantuk dan memaksakan belajarpun percuma.”

“Ne,” sahutnya. “Kau sendiri juga cepat tidur sana.”

***

Aku sedang merajut syal untuk Donghae, ketika dia menelepon. Dan yang membuat kaget adalah dia memaksaku untuk menemaninya main besok. Padahal besok adalah hari Sabtu dan aku ingin seharian di rumah, menyelesaikan syal untuknya ini. Aku sudah mendapat contoh syal yang bagus dari toko Heechul-oppa, dan Unni sudah mengajarkan caranya padaku. Kini aku tinggal melanjutkannya saja.

“Tidak ada kata tidak bisa,” katanya tegas. Aku hanya mengangguk, percuma saja mendebatnya. “Jam sepuluh di Taman Sungsugi. Kalau kau tidak datang, aku sendiri yang akan datang ke rumahmu dan menyeretmu keluar.”

“Araseoh, araseoh.”

“Sunri-ya, sudah malam, cepat tidur,” kata Seohyun-unni dari ranjangnya. Aku mengangguk padanya. Tepat pada saat itu Donghae mengatakan sesuatu, tapi aku tidak begitu jelas mendengar apa yang dikatakannya.

“Apa? Kau tanya apa tadi?” tanyaku.

“A…aniya, tidak apa-apa,” sahutnya, terdengar gugup dan malu. Dasar aneh.

***

Keesokan harinya, aku datang ke taman Sungsugi. Tempat kami selalu janjian bertemu. Kenapa di sini? Karena letaknya di tengah-tengah antara rumahku dan apartmen Donghae. Dan karena di sinilah tempat pertama kami bisa akur untuk pertama kalinya.

Aku berlari-lari kecil menghampiri Donghae yang sudah menunggu di bangku taman. Dia melihat ke arahku dan mendengus kecil. “Telat lima menit.”

“Hanya lima menit,” kataku ngos-ngosan. Entah kenapa, kalau janjian dengannya, aku selalu terlambat. Padahal aku berangkat dari rumah sudah lebih awal.

“Kita akan kemana?” tanyaku akhirnya.

Donghae menggeleng. “Aku juga bingung.”

“Ya!” sentakku. “Kau ini, mengajak kencan, tapi tidak tahu mau kemana! Dasar aneh!”

Donghae hanya mengedikkan bahunya tidak peduli. Dasar menyebalkan! Aku ingat syal di rumah yang belum selesai kurajut. Aku baru tidur jam tiga pagi tadi dan jam delapan sudah harus bangun untuk bersiap-siap kencan dengan Donghae. Tapi yang mengajak kencan malah bingung begini. Sial. Tahu begitu tadi aku tidak usah datang saja sekali, kuselesaikan syalku.

Donghae menggandeng tanganku, mengajakku berjalan. Kami berjalan bersisian di jalanan taman. Saling diam. Yah, lebih baik tenang begini daripada bertengkar. Tapi kenapa rasanya malah aneh ya?

“Bukankah itu Shin-ahjumma?” tanya Donghae, tiba-tiba menunjuk pada seorang wanita yang sedang mendorong kereta bayi, tak jauh dari kami. Di sebelahnya, berdiri suami Shin-ahjumma.

“Shin-ahjumma!” panggilku, melambai ke arah mereka. Shin-ahjumma dan Ahjussi menoleh, mereka melihat kami dan ikut melambai. Aku dan Donghae berjalan cepat menghampiri mereka.

“Sunri-ya, Donghae-ya, apa kabar kalian?” tanya Shin-ahjumma ramah. “Kalian sudah lama tidak main ke rumah.”

Aku hanya nyengir. Sejak kami menolong Shin-ahjumma melahirkan, beberapa kali kami datang ke rumahnya, menengok Haeri, anak mereka yang diberi nama dengan mengambil namaku dan Donghae.

“Annyeong, Haeri-ya,” sapaku pada bayi perempuan di kereta dorong itu. Bayi yang belum genap satu tahun itu tertawa melihatku. Lucu sekali… Aku mengangkatnya dari kereta dorong dan menggendongnya. Donghae ikutan menggodanya, membuat Haeri semakin tertawa kesenangan. Dia memang akrab dengan kami.

“Kami sibuk kuliah, Ahjumma,” jawab Donghae. “Apalagi mengajari Sunri, dia bebal sekali sih.”
“Ya!” gertakku. Kuinjak kakinya sampai dia merasa kesakitan. Membuatku malu saja di depan Ahjumma dan Ahjussi.

“Hahaha…” Ahjumma dan Ahjussi malah kompak tertawa.

Tiba-tiba ponsel Ahjussi berbunyi. Dia menyingkir sebentar untuk berbicara di telepon. Namun, ketika kembali, wajahnya terlihat kusut dan sedih.

“Ada apa, Yeobo?” tanya Shin-ahjumma.

“Kakek Dongja meninggal,” ujarnya singkat.

Shin-ahjumma terlihat terpukul. “Ah, bagaimana ini? Kita harus kesana.”

Ahjussi mengangguk. “Kita tak mungkin membawa Haeri ke rumah duka.”

“Eh, Ahjumma, Ahjussi, ada apa?” tanyaku memberanikan diri bertanya.

“Kakekku,” jawab Ahjussi. “Aku baru saja mendapat kabar bahwa dia meninggal. Kami harus ke Gwangju sekarang untuk menghadiri pemakamannya, tapi kami tak bisa membawa Haeri ke sana. Tidak baik membawa bayi ke rumah duka.”

“Eh, bagaimana kalau kami saja yang merawatnya sementara Ahjumma dan Ahjussi pergi?” Donghae menawarkan. Aku menatapnya. Lumayan baik juga dia.

Ahjumma dan Ahjussi terlihat lega. “Benarkah? Gumawoyo, Donghae-ya, Sunri-ya. Kami benar-benar tertolong. Tolong jaga Haeri ya. Semua keperluannya ada di tas ini.” Shin-ahjumma menunjukkan tas di bawah kereta dorong Haeri. “Rencananya kami ingin mengajaknya ke kebun binatang. Tolong kalian jaga dia ya. Kalau ada apa-apa, telepon kami saja. Dan ini kunci duplikat rumah kami.”

Ahjussi menyerahkan sebuah kunci yang digantungi hiasan beruang kecil. Donghae menerimanya dan menyimpannya dalam saku jins-nya. Tak berapa lama, mereka pun pergi meninggalkan kami.

“Baiklah, kemana kita sekarang?” tanyaku, meletakkan Haeri ke kereta dorong. Lelah juga menggendongnya terus.

“Kebun binatang saja,” sahut Donghae setelah berpikir sejenak. “Bukankah tadi Ahjumma dan Ahjussi berniat mengajak Haeri ke kebun binatang?”

Aku mengangguk setuju. Kudorong kereta Haeri ke halte bis, sedang Donghae membawakan tas berukuran sedang yang berisi barang-barang keperluan Haeri. Ketika kami naik bis, beberapa orang memandang ke arah kami sambil tersenyum-senyum. Mungkin mereka gemas melihat Haeri yang sekarang ada di gendonganku.

“Donghae, sepertinya Haeri haus. Mana susunya?” tanyaku ketika Haeri mulai gelisah dan menjulurkan lidahnya.

Donghae dengan sigap membuka tas Haeri dan mengeluarkan sebotol susu yang masih hangat. Kubuka botol itu dan kuberikan pada Haeri. Benar kan, dia haus.

“Acara kencan kita malah jadi acara menjaga bayi, hohoho…” Donghae tertawa terkekeh sambil menjawil pipi Haeri dan mengajaknya bercanda. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Donghae memang suka dengan bayi dan anak-anak.

Sekitar setengah jam kemudian, kami sampai di kebun binatang. Donghae membeli dua tiket untuk kami. Kami pun masuk dan mulai melihat ke kandang gajah. Kenapa gajah? Karena saat melihat gajah, tangan Haeri melambai ke arah itu. Kupikir dia suka dengan gajah.

“Lihat itu, gajahnya minum dari baskom besar,” kata Donghae sambil menunjuk seekor gajah yang sedang menyedot air. “Haeri-ya, lihat itu, anak gajahnya mirip kau ya.”

“Ya!” sentakku. “Bagaimana bisa kau menyamakan Haeri dengan gajah? Kau ini ada-ada saja.”

Donghae hanya tertawa nyengir. Kulihat Haeri tertawa-tawa saja. Rupanya dia senang ke kebun binatang.

***

“Ya, bagaimana bisa kau menyamakan Haeri dengan gajah? Kau ini ada-ada saja,” ucap Sunri, memandangku tak habis pikir.

Aku hanya nyengir. Biar saja. Memang iya kok. Maksudku, mereka sama-sama lucu, Haeri dan anak gajah itu. Sunri menggendong Haeri dan menunjukkan hewan-hewan lain padanya. Kali ini, rasanya aku tak salah mengajaknya kesini. Sepertinya bukan hanya bayi itu yang menikmatinya, tapi juga Sunri. Dia ikut terpana melihat ada burung merak yang mengepakkan ekornya. Seperti anak kecil saja (Sunri maksudku, bukan burung meraknya).

Sekitar pukul satu siang, kami sudah kelelahan keliling kebun binatang ini. Haeri bahkan sudah menghabiskan dua botol susunya ditambah dengan makanan ringan untuk bayi. Sunri, dia tak kalah kekanakannya. Dia ikut memakan biskuit bayi milik Haeri. Katanya sih enak. Dasar bodoh.

Kami duduk di sebuah bangku di dekat restoran. Aku sudah kelaparan, tapi Sunri belum mau diajak makan siang. Akhirnya kami malah duduk-duduk sambil bercanda.

“Lee Donghae?” Seorang lelaki tua berumur sekitar enam puluh tahunan tiba-tiba menyapaku. “Lee Donghae kan?”

Aku mengamati wajahnya. Oh, aku ingat. Dia mantan guruku ketika di sekolah menengah pertama dulu. “Park-songsaenim? Songsaenim, bagaimana kabar Songsaenim?” tanyaku, berdiri menyambutnya.

Park-songsaenim tersenyum ramah. Dia menepuk-nepuk bahuku dan mengangguk-angguk. “Baik, baik. Ya, kau terlihat sehat-sehat saja, Donghae-ya. Sekarang kuliah dimana?”

“Di Myeongji, Songsaenim,” jawabku.

Park-songsaenim tiba-tiba melihat ke arah Sunri yang sedang memangku Haeri, duduk di belakangku. Mereka bercanda sambil berebut biskuit bayi.

“Ya, istrimu cantik sekali. Anakmu juga manis. Aku tidak menyangka kau ternyata sudah menikah. Pasti berat ya menjadi seorang ayah yang juga mahasiswa. Aigoo, Donghae-ya kau harus semangat ya.”

“Mwo?” Aku terbelalak. Kupandang Sunri dan Haeri. Istri? Anak?

Tiba-tiba tercium aroma daging panggang dari arah restoran. Aku berpaling ke arah Sunri. Dia paling tidak suka dengan bau daging panggang. Benar saja. Dia berdiri dan menyerahkan Haeri padaku, lalu berlari ke toilet terdekat sambil menutup mulutnya karena mual.

“Ya, istrimu bahkan sudah hamil lagi? Ckckck, ternyata kau cukup berusaha ya.” Park-songsaenim menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Song…songsaenim, bukan begitu,” ucapku berusaha menjelaskan. Aku bingung sendiri bagaimana harus mengatakannya. “Dia bukan…”

“Jangan malu, Donghae-ya. Kau harusnya bangga,” potong Songsaenim, sambil kembali menepuk pundakku.

Saat itu, Sunri kembali. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan mual. Dia menghampiri kami dan mengambil kembali Haeri dari gendonganku. Park-songsaenim tiba-tiba mengusap rambut Sunri, seraya berkata, “Jaga baik-baik kandunganmu, ya Nak. Kau harus jadi ibu yang baik dan istri yang baik untuk Donghae. Baiklah, Donghae-ya, aku pergi dulu. Cucuku sudah menungguku pasti. Kabari aku kalau anakmu sudah lahir ya. Annyeong.”

Aku masih sedikit shock dan termangu ketika Park-songsaenim pergi. Sampai Sunri menepuk bahuku dan bertanya, “Apa aku terlihat seperti orang hamil?”

Aku menggeleng frustasi. “Lupakan.”

***

Aku kembali menatap Haeri, yang tertidur di pangkuan Sunri. Apa dia mirip denganku? Bagaimana bisa orang mengira kami adalah keluarga? Dan Sunri. Ya ampun, dipandang dari sudut manapun, dia masih seperti bocah, bagaimana bisa disebut sebagai istriku?

“Berikan padaku,” kataku ketika kulihat Sunri terkantuk-kantuk. Dia memindahkan Haeri dengan hati-hati ke pangkuanku. “Bersandar saja di bahuku kalau ingin tidur,” kataku lagi. Sunri hanya mengangguk dan menyandarkan kepalanya ke bahuku, lalu benar-benar tertidur! Ya Tuhan, dia ini gadis macam apa sih?

Kami sedang berada di dalam bis dalam perjalanan pulang dari kebun binatang. Ternyata mengajak bayi jalan-jalan itu lebih melelahkan dibanding kencan. Berkali-kali kami harus mengganti popoknya, lalu meminumkan susu untuknya. Tapi tidak apa-apa, aku lumayan menikmatinya kok.

Tak berapa lama, kami turun di halte di depan rumah Shin-ahjumma. Kubuka pintu rumah mereka, sedang Sunri mendorong kereta Haeri sambil setengah mengantuk. Kami masuk dan aku menggendong Haeri ke kamar tidurnya. Kuletakkan dia dengan hati-hati di boks bayinya. Ketika aku kembali, Sunri sudah benar-benar ketiduran di sofa.

“Ya, Kim Sunri,” kataku, menggoyang-goyangkan badannya. Tapi dia tidak bergeming. Dasar tukang tidur. Ini pasti gara-gara kemarin dia belajar kalkulus sampai larut malam, dan aku memaksanya kencan menemaniku.

Kulihat jam tanganku. Hampir jam enam sore. Aku duduk di bawah sofa, sambil mengusap rambut  Sunri. Rasanya lembut dan wangi. Kusandarkan kepalaku ke lengan sofa, dan entah sejak kapan aku juga tertidur.

***

Aku menguap lagi. Ngantuk sekali… Tapi kembali kubuka mataku lebar-lebar. Aku tidak boleh tertidur    ! Kufokuskan perhatianku pada benang yang sedang kurajut sekarang. Aku hampir menyelesaikannya. Tinggal sekitar sepuluh sentimeter lagi dan selesai. Walau begitu, jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap melek, dan akhirnya selesai! Aku memandang puas hasil karyaku. Syal rajut sepanjang satu meter lebih berhasil kuselesaikan! Kim Sunri, kau memang hebat!

Dan aku akhirnya tertidur dengan senyum masih mengembang.

Keesokan harinya, aku terbangun dengan buru-buru. Hari ini jadwal kuliahku kosong, tapi aku harus pergi membeli kotak kado untuk membungkus syal ini. Hari ini ulang tahun Donghae, 15 Oktober, dan aku berniat memberikan ini padanya tepat setelah dia selesai kuliah. Jadwal kuliahnya selsai jam enam sore. Dan begitu dia keluar kelas, tadaaa!!! Aku akan menyambutnya dengan hadiah ini. Dia pasti senang!

Aku tersenyum-senyum saja memikirkan hari ini yang akan berjalan lancar. Aku mandi dan bersiap pergi membeli kotak kado.

Di tengah jalan, aku bertemu dengan Heechul-oppa, yang ternyata juga sedang libur kuliah dan berniat membelikan hadiah untuk kekasihnya sebagai kado anniversary.

“Wah, kebetulan sekali, Oppa,” kataku semangat. “Aku juga berniat membeli kotak kado untuk Donghae.”

Heechul-oppa tersenyum. “Sunri-ya, nanti kau bantu aku memilih kalung untuk Saena ya.”

Aku mengangguk mengiyakan. Kami akhirnya pergi ke pusat pertokoan di pusat kota Seoul. Pertama, Heechul-oppa membantuku memilihkan kotak kado untukku. Dia memilih kotak berwarna biru cobalt yang yang unik. Aku sih setuju saja. Toh warna kesukaan Donghae kan memang biru. Dan syal yang kubuat juga berwarna biru tua. Lalu, aku membantu Heechul-oppa membeli kalung untuk Saena-unni, kekasihnya.

“Coba kau pakai ini,” kata Heechul-oppa memasangkan kalung perak berbandul bentuk hati kecil. “Kalau kau cocok, pasti Saena juga cocok memakainya.”

***

Dasar Ahjae dan Eunhyuk sialan. Aku yang malah disuruh membeli barang-barang ini. Dosenku sedang pergi ke Jerman, dan dia meninggalkan anak didiknya dengan segudang tugas. Kelompokku; aku, Eunhyuk, dan Ahjae, juga beberapa temanku yang lain kebagian membuat maket presentasi. Dan menurut undian, akulah yang harus berangkat membeli alat-alatnya. Dengan sedikit kerepotan, aku membawa gabus ukuran tiga sentimeter sebanyak beberapa lembar, cat, dan alat-alat lainnya. Susah juga jadi anak teknik mesin. Untung saja, maket presentasi itu dibuat dari gabus, bukan dari pretelan mesin asli.

Aku jadi ingat Sunri. Dia kan anak teknik geologi, apa juga sering disuruh membuat tugas seperti ini? Ah, paling juga dia sering keluar masuk hutan.

Tapi, ngomong-ngomong tentang Sunri, sepertinya aku melihatnya. Kali ini… Dengan Heechul-hyung lagi? Mereka ada di toko yang menjual berbagai jenis kado dan hadiah. Kali ini apa lagi? Ketika kutajamkan penglihatanku, aku jadi geram sendiri. Sepertinya Heechul-hyung berniat membelikan Sunri kalung. Dia memasangkan kalung di leher Sunri. Dan Sunri terlihat senang, karena dia mengacungkan jempolnya, tanda bagus. Heechul-hyung memberikan kalung itu pada pramuniaga, yang langsung membungkusnya.

Aku berpaling, tidak perlu melihatnya untuk menebak bahwa kalung itu pasti diberikan pada Sunri. Sepertinya dia cari masalah denganku.

***

“Miyung-ah?” sapaku begitu Miyung mengangkat telepon dariku. “Aku sudah ada di kampus. Sebentar lagi Donghae akan selesai kuliah. Ya Tuhan, aku tidak sabar memberikan hadiah ini untuknya. Pasti dia senang sekali…”

“Ne,” sahut Miyung, terdengar ikut senang. “Kau sudah berusaha, Sunri-ya. Aku yakin dia akan suka dengan syal buatanmu itu.”

“Oh iya, tadi aku bertemu dengan Heechul-oppa.”

“Jinjja? Dimana?”

“Di toko, saat aku hendak membeli kotak kado untuk Donghae. Ternyata dia sedang membeli kalung untuk Saena-unni, dan aku membantunya memilihkan kalung itu. Habisnya, dia juga membantuku memilih kotak kado sih.”

“Waah…beruntung sekali Saena-unni mendapatkan kalung itu. Coba Kyuhyun juga memberikan satu untukku.”

Aku tertawa mendengarnya. Tentu saja dia juga kenal dengan Heechul-oppa dan Saena-unni, karena mereka berdua adalah senior kami saat di sekolah menengah pertama. Setelah mengucapkan fighting padaku, Miyung menutup teleponnya. Aku menunggu di bangku taman kampus. Kotak kado berisi syal rajutan ada di pangkuanku. Bagaimana ya reaksi si Rusuh itu begitu melihat kejutan dariku? Pasti sangat senang. Hahaha, tentu saja, kalau dia tidak senang akan kucekik dan kupaksa senang. Hohoho…

Sekitar pukul enam kurang, aku mengirim pesan ke dia untuk datang ke taman kampus. Dia membalasnya singkat saja, dan bilang bahwa ada yang ingin dikatakannya padaku.

Aku menunggu dengan berdebar-debar. Baru pertama kali ini rasanya aku berdebar karena menunggunya. Apa bajuku sudah rapi? Apa rambutku tidak berantakan? Ugh, aku benar-benar gugup.

Sekitar pukul enam lewat, Donghae datang. Wajahnya kusut ketika melihatku. Apa dia sedang banyak tugas?

“Donghae!” sapaku bersemangat. Dia hanya mengangguk, lalu duduk di sampingku. Kusembunyikan kotak kado itu di balik punggungku, sebagai kejutan. “Saeng…”

“Darimana saja kau tadi?” tanyanya ketus ketika aku akan mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Dia menatapku tajam.

“Aku tidak…”

“Jawab aku!” katanya dengan nada meninggi. “Kau berniat selingkuh di belakangku?”

“Apa?” Aku mengerutkan kening bingung. Selingkuh?

“Kau tak perlu bohong lagi! Aku melihatmu kencan dengan Heechul-hyung. Dua kali aku melihatmu bersamanya! Apa lagi kalau bukan kencan? Dia membelikanmu syal, dan juga kalung kan? Kau mengkhianatiku, Kim Sunri!”

“Chamgaman,” kataku, tertawa bingung. “Kau salah sangka. Aku dan Heechul-oppa sama sekali tidak…”

“Kita putus!”

Aku diam. Hingga kata-kata itu berhasil kumengerti artinya. “Apa?”

“Kita putus,” ulangnya. “Aku tidak sudi punya kekasih yang hobi berselingkuh. Aku tidak menyangka kau ternyata semurahan itu.”

Entah bagaimana, mataku terasa panas. Kata-katanya benar-benar menusuk hatiku. Dia memang baik dan perhatian, tapi kalau marah, dia selalu menggunakan kata-kata kasar untuk menyakitiku. Aku berdiri, dan airmataku sudah benar-benar jatuh sekarang. Kulemparkan ke badannya kado yang sedianya akan kuberikan padanya sebagai kejutan. Lalu aku berlari meninggalkannya.

Aku tidak akan mempedulikannya lagi. Si Rusuh itu, aku benar-benar membencinya!

Aku terus berlari sambil menangis. Entah kenapa kakiku mengarah ke ruang musik yang sering dipakai Unni untuk berlatih piano, sekaligus ruangan yang dulu sering dijadikan ajang bertengkar antara aku dan Donghae. Aku duduk memeluk lutut di pojok ruangan, dan menangis.

Akhirnya, kutelepon Miyung, untuk memintanya datang kemari.

“Yoboseyo?” sapa Miyung. “bagaimana kejutan…”

“Donghae brengsek!!!” umpatku keras. Kurasa Miyung terkejut di seberang sana.

“Ya, Sunri-ya, ada apa?”

“Dia…dia…memutuskanku… huhuhu… Miyung, dia benar-benar brengsek!!!” Aku menangis histeris.

“Apa? Sekarang kau dimana? Aku akan kesana sekarang…”

“Di ruang musik.”

Miyung tidak menjawab. Ketika kulihat, sial, baterai ponselku habis. Aku menangis makin keras. Sial. Sial. Sial.

Dan ketika aku masih menangis sesenggukan di pojok ruangan, tiba-tiba terdengar suara kunci diputar. Aku mendongak dan melihat seorang petugas kampus beranjak pergi, setelah mengunci ruang musik! Aku berlari dan menggedor-gedor pintu, sambil berteriak agar dibuka. Tapi sepertinya percuma, karena petugas itu tidak berbalik.

Lampu-lampu mulai dimatikan, dan keadaan menjadi gelap. Tangisku makin hebat. Aku takut gelap, dan aku tidak suka sendirian. Sial sekali aku hari ini, sudah dituduh selingkuh, diputuskan, ponsel mati, terkunci di ruang gelap, sendirian pula!

***

Aku memungut kotak berwarna biru cobalt yang tadi dilemparkan Sunri untukku. Seperti kotak kado. Ketika kubuka, isinya adalah sebuah syal rajut berwarna biru tua. Syal ini indah sekali. Di dalam tumpukan syal itu ada sebuah surat.

Saengil chukkae, Lee Donghae. Semoga kau selalu diberkahi, dan selalu sehat. Aku berdoa juga untuk kelanggengan hubungan kita. Terima kasih karena kau sudah membantuku, dan aku juga sudah menyusahkanmu terlalu banyak. Untuk selanjutnya, aku janji tidak akan menyusahkanmu lagi. Tapi jangan memanggilku dengan sebutan Bodoh lagi ya.

Aku mencintaimu.

Kim Sunri.

Kulipat surat itu, tepat ketika Miyung meneleponku.

“Donghae, apa yang sudah kaulakukan pada Sunri?!” pekiknya begitu aku mengangkatnya.

“Apa?”

“Kenapa kau memutuskannya?”

“Karena…” aku ragu menjawabnya. “…karena dia selingkuh dengan Heechul-hyung.”

“Bodoh!!!” teriaknya mengataiku. “Heechul-sunbae hanya membantunya memilih kotak kado untukmu! Dan Sunri hanya membantunya memilihkan kalung yang akan diberikan pada Saena-unni, kekasih heechul-sunbae!”

“Mwo?” tanyaku keras. “Apa?”

“Itu benar!”

“Jadi aku salah paham?” tanyaku pelan.

“Tentu saja! Dia sudah bekerja keras membuatkan syal itu untukmu.”

Aku melirik syal di tanganku. “Sunri membuatnya sendiri?”

“Demi Tuhan! Kau pikir dia membelinya?! Sekarang, cepat cari dia! Tadi dia meneleponku sambil menangis, dan ketika kuhubungi berkali-kali tidak bisa.”

Aku menutup sambungan telepon dengan Miyung dan terpaku sejenak. Apa yang sudah kulakukan pada Sunri? Ya Tuhan… aku benar-benar idiot!

Dengan cepat aku berlari ke arah tadi dia pergi. Lorong-lorong kampus sudah sepi. Dan lampu-lampu di beberapa ruang kelas juga sudah dimatikan. Dimana Sunri? Kupangil  berkali-kali namanya, tapi tidak ada sahutan. Kubuka kelas-kelas yang sudah kosong dan belum dikunci. Tidak ada. Dimana si Bodoh itu?

Aku berlari ke gedung seni. Kakiku seperti ditarik oleh sesuatu untuk masuk ke gedung ini. Ketika kususuri lorong-lorongnya, aku seperti mendengar suara orang menangis.

“Sunri? Kim Sunri?!” panggilku. Tidak ada jawaban. Aku mengikuti arah suara tangis itu. Ruang musik? Mungkinkah?

Aku sampai di depan ruang musik yang dulu sering kusambangi itu dan diam sejenak. Benar, suara tangis itu berasal dari sini.

“Sunri? Kaukah itu?” tanyaku, sambil berusaha membuka pintunya yang ternyata dikunci.

“Donghae?” balasnya. Seketika hatiku lega. Ternyata benar.

“Ya, cepat keluar! Kenapa mengurung diri di dalam?”

“Pergi!” pekiknya. Dan ketika mendengarnya berkata begitu, hatiku sakit luar biasa. Dia mengusirku? “Pergi! Aku benci kau! Kau sudah memutuskanku kan? Sekarang pergi! Kau mengataiku murahan dan sebagainya. Mau apa lagi kesini? Belum puas mengataiku?! Pergi!!!”

Aku meneguk ludahku susah payah. Benarkah tadi aku mengatakan hal-hal itu? Ya ampun, jahat sekali aku. Aku benar-benar sudah menyakitinya. “Sunri, dengar, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud kasar padamu. Hanya saja…hanya saja, aku cemburu. Aku marah melihatmu dengan lelaki lain, apalagi dia mantan namjachingumu,” jelasku.

Sunri diam sejenak. Lalu berkata pelan, “Aku tidak selingkuh…”

“Aku tahu, eh…bukan, maksudku, aku baru tahu setelah diberitahu Miyung. Sekarang aku percaya padamu.”

“Lalu? Kau kan sudah memutuskanku.”

“Ya sudah, aku memintamu kembali jadi yeojachinguku.”

“Apa?”

“Maukah kau jadi yeojachinguku, Kim Sunri?”

“Aku tidak dengar!”

“Kim Sunri, maukah kau kembali jadi yeojachinguku?” ualngku sedikit lebih keras.

“Tidak dengar!”

“YA! BODOH, KAU HARUS KEMBALI JADI YEOJACHINGUKU! KALAU TIDAK AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!!!” teriakku kesal. Sunri ini sedang mempermainkanku deh.

“Hehehe…oke, aku mau,” katanya terkekeh.

“Sialan. Kau mempermainkanku ya?” sungutku.

“Kan impas.” Sunri masih tertawa terkekeh.

“Cih…” dengusku. Walau begitu, aku lega juga. Kami kembali berbaikan. “Sekarang, cepat keluar dan kita pulang.”

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Pintunya…terkunci.”

Gubrakk!!!

“Kenapa tidak bilang dari tadi?” kataku kesal. “Kau ini bodoh atau apa sih? Kenapa bisa sampai terkunci? Aish…” Aku berusaha membuka pintu itu, tapi nihil. Mau kudobrak sekalipun, yang ada malah bahuku yang akan hancur. Pintu ini tebal sekali.

“Ya! Kau ini, baru tadi minta maaf, kenapa mangataiku lagi? Dasar idiot!” umpat Sunri.

“Lalu bagaimana sekarang? Kau telepon siapa saja sana, ponselku di tas, kuletakkan di kelas tadi.”

“Ponselku mati.”

“Aish…jinjja.” Aku berdecak sebal. Ini sih namanya musibah. “Kau tunggu dulu di sini, kuambil tasku.”

“Jangan!!!” pekik Sunri. “Jangan tinggalkan aku! Aku takut sendirian di sini!”

Aku mengalah. Yah, dia memang si Bodoh yang penakut. Akhirnya, aku memilih duduk menggelosor di depan pintu. Sunri juga sepertinya duduk di balik pintu ini, berpunggungan denganku.

“Sunri,” panggilku.

“Ne?”

“Gomapta.”

“Hem?”

“Untuk syal ini.” Kupeluk syal biru tua yang terasa hangat ini, lalu kulilitkan di leherku. “Syalnya bagus sekali. Ini alasanmu jarang bertemu denganku? Karena membuatnya?”

“Ya. Aku juga mengorbankan jam tidurku lho,” ujarnya, terlihat senang. “Oh ya, ada satu lagi yang ingin kukatakan padamu, aku yakin kau akan senang.”

“Apa?” Aku bersiap mendapat kejutan kedua darinya.

“Ujian kalkulusku dapat C! Yeah…hebat bukan? Hahaha…”

Ya ampun…kupikir apa.

“Chukkae, Sunri,” kataku, walau bagaimanapun aku ikut senang. Jerih payahku mengajarinya tidak sia-sia.

Kami terdiam cukup lama, terhanyut dalam pikiran masing-masing. Selama mungkin hampir satu jam kami terus berdiam. Mungkin ini lebih baik daripada ocehan kami yang dulu-dulu dan tidak bermutu. Dengan diam begini, aku bisa merasakan perasaan Sunri. Tapi, apa dia tahu perasaanku juga?

“Sunri?”

“Ya?”

“Saranghaeyo.”

Kurasa di balik pintu ini dia tersenyum. Selama berpacaran, aku belum pernah sekalipun mengatakan aku mencintainya. Aku hanya berkata aku menyukainya. Mungkin sekarang, setelah merasakan perasaan takut akan kehilangannya, aku bisa berkata bahwa aku mencintainya.

“Donghae?”

“Ya?”

“Aku lapar.”

Jeddueng!!!

“Sialan,” umpatku. “Kukira kau akan berkata bahwa kau juga mencintaiku!”

“Tapi aku benar-benar lapar!” katanya ngotot.

“Ya, kau ini sama sekali tidak romantis!” kataku.

“Bagaimana ini? Perutku keroncongan…”

“Araseoh, araseoh! Aku akan mencari makanan dan juga minta tolong agar pintunya dibuka! Tenang saja, aku tidak akan lama kok,” kataku sambil berdiri. Baru selangkah aku berjalan, kudengar Sunri berkata pelan.

“Mungkin ini sedikit terlambat, tapi… saengil chukkae. Selamat ulang tahun, Donghae.”

Aku hanya tersenyum.

***

THE END

By: ILALANG NAVISA

12 Comments (+add yours?)

  1. babyhae
    Feb 20, 2011 @ 15:22:17

    so sweet……pas ngajak haeri jalan-jalan. itu Hae sampe frutrasi ngeyakinin sonsaengnimnya kalo imajinasinya salah wkwkwkwk…udah Hae,,rejeki XD

    Reply

  2. choheiryeong
    Feb 20, 2011 @ 16:07:00

    waah .. keren, paling suka part yang sunri-nya kekunci haha ^^

    Reply

  3. mei.han.won
    Feb 20, 2011 @ 17:05:43

    kereeeennnnn….seruuuuuu jugaaa….
    Si haehae…maen putus aza deh…kecian sunri kan….XDDDD

    buat FF yang bnyk lagi yak…suka sma FF buatan author’x nih…. 🙂

    Reply

  4. marshafishy
    Feb 20, 2011 @ 21:14:21

    seru-seru, mereka berdua lucu banget hehe.
    mau lanjutan cerita mereka lagi hehe 😀

    Reply

  5. ilalang navisa
    Feb 21, 2011 @ 06:19:10

    wahaha…makasih udah baca dan nyempetin komen -bow-
    iyah, ntar muga2 bisa bikin sekuelnya lagi. 🙂

    Reply

  6. hyukjaEunhyuk
    Feb 21, 2011 @ 07:13:52

    huakakakakk..
    Seru…
    Acara kencan brubah jd jagain bayiiii..
    Uououoooo..
    Ah donge pabo!!! *cekek donge*
    cemburuan yeeee….
    Bgus bgt ff thor d^^b

    Reply

  7. puput
    Feb 21, 2011 @ 10:11:30

    XD..ha..ha.. luchu,jd iri liat gaya pcran donghae&sunri..
    LANJUT dnk ^^

    Reply

  8. arum
    Feb 21, 2011 @ 10:50:30

    ceritanya bagus, salah pahamnya ga gitu berlarut2
    ayo bikin ff lg yg bagus, ditunggu….

    Reply

  9. love ye_jin
    Feb 21, 2011 @ 11:03:12

    bgus….
    suka dech….
    kasian si Sunri…
    itu mah namanya udah jatuh, ketimpa tangga pula!
    tapi bgus…..

    Reply

  10. chris~wonnie~hyunnie
    Feb 21, 2011 @ 14:11:33

    Daebak…!
    Suka bgt ama tulisan.a author~~~
    Aku tunggu ff2 berikutnya ya… 😀

    Reply

  11. chocolate princess
    Feb 23, 2011 @ 00:31:28

    two thumbs up ff nya kereeen !!^^
    pngen nangis T.T tp jg so sweet 🙂

    Reply

  12. gynesjelf
    Feb 23, 2011 @ 15:16:54

    wah,,
    akhirnya ada juga sekuelnya…
    q suka banget ma ni ff…
    ceritanya lucu…
    suka deh ma HaeRi… XDD
    ditunggu sekuel selanjutnya yaaaaa~~~ ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: