Where You Are…

 

Cast : Park Areum, Kim Heechul, Park Jungsoo

Length : Oneshot

Genre : Romance, angst, AU

Terinspirasi ma MV lama, Where You Are-nya Jessica Simpson and Nick Lachey… sedih bgt nie lagu. Ok, let’s cekidot ^^

* * *

Matahari mulai merambat turun mendekati peraduannya di barat. Aku melirik jam dindingku. 4.30 PM. Aku menuruni tangga dan mendapati Lee ahjuma sedang menyiram tanaman di halaman rumah. Orangtuaku dan Jungsoo oppa baru akan berada dirumah menjelang makan malam. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.

Aku melangkahkan kakiku ke pusat kota, sekedar menghirup udara luar. Terlalu lama dikamar membuatku bosan. Aku mampir di sebuah café, tak jauh dari tempatku berdiri sekarang.

Kling!

Bel pintu berbunyi saat aku melangkah masuk ke dalam.

“Selamat datang!” Sapa sang pemilik café ramah. Aku membalasnya dengan senyum kecil dan langsung mencari tempat duduk disamping jendela besar. Seorang pelayan menghampiriku untuk menawarkan buku menu. Aku memesan sponge cake dan secangkir vanilla latte. Lagi, aku menatap kosong ke luar jendela.

* * *

“Oppa, perlengkapanmu sudah semua?” Tanyaku pada Heechul oppa. Saat ini aku sedang membantu mengepak beberapa barang dalam kopernya.

“Jankkanman. Ehm… sepertinya sih sudah semua.” Katanya tak yakin. “Tapi kalau tidak, aku kan bisa menyuruhmu mengantar kesana, hehehe.”

“Aish, itu pasti alasanmu saja agar saat kau kangen, aku bisa menemuimu.” Keluhku.

“Ahaha, darimana kau tau?”

“Tentu saja, aku tau pikiran licikmu oppa.” Balasku dengan senyum evil. “Tapi maaf saja ya, aku tidak akan tertipu akal bulusmu.”

“Nappeun yeojaya, tidak sayang pada namjachingu-mu ya?” keluhnya sedikit cemberut.

“Aku hanya bercanda oppa.” Ucapku mencubit pipinya gemas. “Saranghae, oppa. Aku pasti merindukanmu. Tapi kita sudah sepakat tidak akan bertemu sampai kau mendapat gelar master dan kembali kesini kan?” aku mengingatkan.

Ia tersenyum lembut. “Dua tahun tidak terlalu lama kok.”

“Cepat kembali yah. Kau tau kan aku paling benci sendiri tanpamu.” Pintaku.

“Ne. Aku akan cepat kembali.” Janjinya. “Dan saat aku pulang nanti, kau harus siap kuculik menuju altar untuk menjadi Mrs. Kim.”

Aku hanya tersenyum malu menanggapinya.

“Omo! Khaja, kita bisa terlambat kalau tidak cepat.” serunya tiba-tiba.

“Eh? Eoddi?” tanyaku heran. Ia membalas dengan senyum evil.

“Surprise! Aku tidak akan mengatakannya padamu. Yang penting kau harus menyiapkan diri untuk perjalanan jauh.”

“Mwo? Tapi aku belum bilang pada Jungsoo oppa.”

“Aku sudah minta izin padanya. Tapi kita harus pulang sebelum jam 12 malam.”

“Jinja? Gomawo oppa!” Pekikku memeluknya erat.

“Aw! Hya, kau bisa membunuhku dengan pelukanmu ini!” Keluh Heechul oppa.

“Hehe, mianhe oppa.”

Selanjutnya ia langsung menarik tanganku menuju mobilnya dan mulai mengemudi. Aku tidak tau ia membawaku kemana, aku hanya sempat melihat papan penunjuk jalan menuju Mokpo. Mokpo? Aku juga tidak tau untuk apa, karena setiap aku bertanya ia menutup mulutnya. Aish, dasar!

Akhirnya setelah berjam-jam perjalanan, ia menghentikan mobilnya disebuah restaurant tepi pantai. Ia membukakan pintu dan menggandeng tanganku menuju ke dalam tempat itu. Udara lembab khas pantai dan ornament-ornament bertema laut begitu terasa ditempat ini. Meja dan kursinya terbuat dari kayu kelapa, membuat tenpat ini semakin artistic. Ia mengajakku menuju sebuah meja yang berada dibalkon lengkap dengan makanan yang sudah tersedia, tepat menghadap laut luas dan dinaungi langit malam. Cahaya bulan yang sedang purnama menambah keindahan malam ini.

“Eotte? Kau suka?” Tanyanya.

“Oppa~ ini sangat indah! Darimana kau tau tempat sebagus ini?”

“Aku minta bantuan Donghae.”

“Ah, pantas saja. Donghae oppa kan berasal dari sini. Tapi…”

“Wae?” tanyanya heran.

“Tempatnya bagus. Tapi oppa, kau yakin makanan disini enak? Tempatnya sepi begini, tidak ada pengunjung lain selain kita.” Bisikku, takut kedengaran pelayan yang berdiri tak jauh dari kami.

Heechul oppa tertegun. Tak lama tawanya meledak, membuatku semakin bingung.

“Oppa! Kenapa malah ketawa sih?” Protesku.

“Hmpph… hahaha, pabo yeojaya! Tentu saja sepi, tempat ini sudah kupesan, makanya tidak ada pengunjung lain.” Ia menjelaskan sambil memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa.

Aku menunduk malu dengan wajah yang kuyakin sudah semerah kepiting rebus. “Na mollasseo. Habisnya oppa belum pernah seperti ini.”

“Wae? Tidak menyangka aku bisa romantis?” godanya.

“Aish, dasar! Siapa bilang? Aku cuma heran.”  Elakku.

Ia mendengus pelan, tak puas dengan kata-kataku. Ia menggeser kursinya dan bangkit.

“Oppa? Eoddiga?” tanyaku melihatnya pergi. Ia tak menjawab, malah langsung menghampiri sebuah piano ditengah ruangan. Tak lama, ia mulai memainkan intro salah satu lagu kesukaanku.

 

Do you hear me? I’m talking to you

Across the water Across the deep blue ocean

Under the open sky

Oh my, baby I’m trying

 

Ia mengisyaratkan padaku untuk mendekat. Aku menghampirinya dan ikut menyenandungkan lagu itu.

 

Boy I hear you in my dreams

I feel you whisper across the sea

I keep you with me in my heart

You make it easier when life gets hard

 

Aku mengingat hubunganku dengannya yang berawal dari persahabatan masa kecil. Aku ada diantara persahabatannya yang terlebih dahulu terjalin dengan Jungsoo oppa.

 

Lucky I’m in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again

Oh~

 

They don’t know how long it takes waiting for a love like this

Every time we say goodbye I wish we had one more kiss

I’ll wait for you, I promise you

I will

 

Lucky I’m in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again

Lucky we’re in love in every way

Lucky to have stayed where we have stayed

Lucky to be coming home someday

 

And so I’m sailing through the sea

To an island where we’ll meet

You’ll hear the music fill the air

I’ll put a flower in your hair

 

Though the breezes through the trees

Move so pretty, you’re all I see

As the world keeps spinning round

You hold me right here right now

 

Lucky I’m in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again

Lucky we’re in love in every way

Lucky to have stayed where we have stayed

Lucky to be coming home someday

Oh~

(Lucky – Jason Mraz feat. Colbie Caillat)

 

“You’ll be coming home, right?” Tanyaku lagi.

Ia tersenyum. “Yes I will, as long as you wait for me.”

“Don’t ever doubt that.” Sahutku.

“Aish, sudahlah, hentikan percakapan berbahasa inggris ini.” desahnya.

“Ahaha, pabo. Bukannya oppa mau melanjutkan kuliah di Amerika, baru sedikit bicara bahasa inggris, oppa sudah menyerah.” Ejekku.

“Hya, awas kau ya!” Serunya mengejarku ke balkon. Ia menyerang dengan gelitikan dipinggangku sampai aku menyerah. Kami pun melanjutkan acara makan malam yang tertunda akibat kejadian tadi.

Setelahnya, kami melepas alas kaki dan berjalan menyusuri pantai. Pasir pantai yang halus terasa menggelitik telapak kakiku. Riak air laut yang dingin juga membuatku memekik kecil setiap kali menerpa kakiku. Tapi hatiku terasa hangat karena dia menggenggam tanganku erat.

“Hei, kau percaya aku bisa mengambil bintang untukmu?” tanyanya tiba-tiba. Aku tertawa.

“Oppa, kau ini. Mana mungkin kau bisa mengambil bintang yang jaraknya jutaan kilometer dari bumi?” Jawabku logis.

“Bisa. Lihat saja nanti. Kau mau bintang yang mana?”

Aku menunjuk satu bintang yang paling terang. “Yang itu.”

“Baik. Lihat ya.”

Ia mengangkat tangannya keatas, dan seolah menggenggam sesuatu.

“Aku sudah mengambilnya. Lihat saja ditanganku.” Suruhnya.

Aku menggelengkan kepalaku skeptis. Aish, dasar, seperti anak kecil saja. Tapi tak urung aku menuruti perintahnya. Perlahan aku membuka tangannya, dan aku terkejut mendapati sebuah bintang ditangannya. Memang bukan bintang asli, tapi sebuah cincin dengan ornament berbentuk bintang.

“Would you marry me? Mmm… maksudku setelah aku pulang nanti.” Pintanya.

Aku tak bisa menjawab. Hanya anggukan yang menjadi jawabanku. Ia memasangkan cincin itu dijari manisku dan mencium lembut keningku. Kemudian ia merogoh saku dan mengeluarkan ponsel shiny black-nya. Ia memutarkan sebuah lagu ballad, dan mengulurkan tangan padaku.

“Oppa, aku tidak bisa berdansa.” Tolakku. Ia memutar bola matanya.

“Aish, merepotkan!” serunya sebelum mengangkat tubuhku. Ia menumpukan kakiku diatas kakinya. Ia memeluk pinggangku. Aku melingkarkan tanganku dilehernya. Ia melangkahkan kakinya mengikuti irama lagu. Untuk pertama kalinya, kami berdansa dibawah sinar bulan Mokpo. Perlahan ia mendekatkan wajahnya. Aku memejamkan mata dan merasakan bibirnya menyentuh lembut bibirku.

* * *

Hujan mulai turun walau dalam bentuk rintik kecil. Semakin lama menjadi deras dan mengalir membentuk sungai kecil dipermukaan jendela. Kulihat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh saat tiba-tiba mataku menangkap sesuatu dibawah pohon rindang diseberang jalan. Aku mengusap mataku tak percaya. Dia! Ya Tuhan, benarkah itu dia? Dia yang kini sedang menatapku?

“Ini pesanan anda, nona.” Seru pelayan itu mengagetkanku. Aku kembali menoleh ke seberang jalan. Tidak ada! Kemana dia?

“Nona?” tegur pelayan itu lagi. Aku merogoh isi tasku dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu segera pergi tanpa menghiraukan panggilan pelayan itu. Aku harus mencarinya, harus!

Aku menyeberang jalan seperti orang gila, bahkan tak peduli dengan cacian dari beberapa pengendara mobil yang hampir menabrakku. Aku terus berlari dan berlari. Aku juga tak peduli dengan rinai hujan yang membasahi bajuku. Langkahku terhenti sampai ke taman terdekat.

“Oppa! Aku tau kau ada, oppa!” Panggilku frustasi. “Jebal, keluarlah oppa!” Pintaku memelas. Tak ada jawaban. Hanya bunyi hujan yang semakin deras mengguyur tubuhku.

“Oppa, kau bohong! Kau bilang hanya pergi dua tahun kan? Ini sudah tiga tahun, oppa! Kau bilang akan kembali selama aku menunggu. Aku masih menunggumu oppa!” Teriakku, berharap ia mendengarku di suatu tempat.

“Oppa… bogoshippo… “ Ucapku terisak. Tubuhku merosot menyentuh tanah berlumpur itu.  Aku kehilangan dia lagi.

* * *

And I can see your face

Your kiss I still can taste

Not a memory erased

 

Aku melihatmu. Ya, aku selalu melihatmu. Ingin rasanya menghampirimu, melindungimu dari hujan dan menghapus air matamu.

 

Now baby there were times when selfishly

I’m wishing that you were here with me

So I can wipe the tears from your eyes and make you see

That every night while you are dreamin’

I’m here to guard you from a far

And anytime I fell alone

I close my eyes and dream of where you are

* * *

“Areumie!” Panggil seseorang. Suara yang sudah sangat kukenal.

“Oppa… Jungsoo oppa.”

Ia menghambur ke arahku, memayungiku dan memasangkan jaketnya padaku. “Ah, syukurlah! Kau tau, aku panik saat Lee ahjuma menelponku dan bilang kau meninggalkan rumah! Kau juga tidak meminum obatmu siang tadi kan? Khaja! Sesampainya dirumah kau harus segera meminumnya.” Ajaknya merangkul bahuku. Aku melepaskan rangkulannya.

“Areumie, waeyo?”

“Oppa, dia sudah kembali.”

Jungsoo oppa mengernyit heran. “Nugu?”

“Oppa, Heechul oppa sudah kembali! Dia sudah menyelesaikan studinya. Aku harus mencarinya sampai ketemu!”

Kulihat Jungsoo oppa tersentak. Tapi perlahan pandangan matanya melembut. “Areumie, sudahlah. Sekarang kita pulang ya?” Bujuknya.

“Oppa, aku tidak bohong! Aku benar-benar melihatnya tadi, tapi saat aku mengejarnya…”

“Areumie, hentikan! Jangan bicarakan dia lagi!” bentak Jungsoo oppa.

“Oppa, dia menepati janjinya! Tapi aku tidak tau kenapa dia tidak mau menemuiku! Aku…”

“Sudah cukup! Kau tau dia tidak akan kembali!”

“Wae, oppa?! Wae?! Bo… hong… Oppa bohong! Dia sudah berjanji akan kembali selama aku menunggunya! Dia…”

“Areumie! Sampai kapan kau akan terus bersembunyi dibalik penyakit depresimu?! Ini sudah setahun, Areumie…” ucap Jungsoo oppa terisak.

Berbagai gambaran berkelebat diotakku. Setahun lalu, aku begitu ceria menantinya tiba di bandara Incheon. Tapi entah kenapa pesawatnya terlambat satu jam. Tiba-tiba salah satu stasiun TV menayangkan berita kecelakaan pesawat. Semua penumpang tewas dalam kecelakaan tersebut. Pesawat itu…

Aku terduduk lemas. Dadaku serasa dipukul palu. Sakit dan sesak. Cincin dijariku semakin mengaburkan bahwa semua ini nyata.

 

Oh, I see your star shining down on me

And I’ll do anything if I could just

Be right there where you are

Where you and I will breathe together once again

We’ll be dancing in the moonlight just like we used to do

And you’ll be smilin’ back at me

Only then will I be free

When I can be where you are

* * *

“A… andwaeyo… Andwae!!” Pekik gadis itu. Ia berlari meninggalkan Jungsoo. Jungsoo terus mengejarnya tanpa peduli saat ini mereka sedang menyeberangi jalan. Dan kemudian… hanya suara rem berdecit disusul tubuh yang terpental mengusik kepadatan lalu lintas hari itu. Tetesan darah membaur dengan hujan yang turun, membuat jalan itu memerah seketika.

* * *

Epilog…

Gadis itu menatap orangtuanya juga eonni yang disayanginya. Duka terlihat jelas diwajah mereka karena kehilangan salah satu anggota keluarga. Didepannya sebuah batu nisan tegak berdiri.

Inyoung merasa seseorang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan mendapati adiknya yang melakukan hal itu.

“Sudah waktunya kita pulang.” Ucapnya. Inyoung mengangguk dan mengajak serta kedua orang tuanya, sementara adiknya melakukan penghormatan terakhir.

“Annyeong… Areumie.” Sapa Jungsoo. Ia meletakkan rangkaian bunga lily diatas nisan tersebut. “Haengbokhae.” Ucapnya sebelum pergi.

“Nan jeongmal haengbokhaeyo, oppa.” Bisiknya dibawa angin semilir. Saat itu ia merasakan dekapan hangat seseorang. Ia tersenyum dan menumpukan tangannya diatas sepasang tangan yang melingkari pinggangnya.

 

Baby I still believe

I’ve got to believe

I will touch you that sweet day that you take me there

Where you are

 

“Khaja.” Ajaknya. Gadis itu mengangguk, mensejajarkan langkahnya menuju cahaya terang yang menyambut mereka.

* * *

The End ^^

* * *

Gimana? Agak ragu, kelamaan hiatus nih saia, keke =D *jiah, ky sebelumnya bgs aje XD*

Tadinya mw dibikin Chul meninggal coz perang ma Korut pas wamil, tapi ga jadi ah, saia ganti, takut kejadian beneran *Author belum siap jd janda, kekeke =D amit-amit dah, jgn ampe kejadian, pkoknya harus pulang dlm keadaan selamat dari wamil ntar*.

 

17 Comments (+add yours?)

  1. juna
    Mar 27, 2011 @ 12:18:37

    TT__TT
    Nangissssss
    Hiiikzzz

    Reply

  2. Cho Kyun An
    Mar 27, 2011 @ 12:41:30

    *sad mode on* huwaaaa,,….sedih bnget critanya TT.TT

    Reply

  3. ahn yoon ri
    Mar 27, 2011 @ 12:58:29

    huwee, nangis ? ga ding
    terharu ?
    ya! owe telsentuh /plakk
    keren, thor

    Reply

  4. yokyuwon
    Mar 27, 2011 @ 13:08:20

    TT__TT
    *sad.story .com*

    Reply

  5. meylutfi
    Mar 27, 2011 @ 13:20:08

    mewek, kasian!
    jangan sampe kyak gto

    Reply

  6. tomomikazuko13
    Mar 27, 2011 @ 14:43:21

    bagus ffnya chingu 🙂
    bahasanya enak dibaca,
    tapi kenapa sediiiihhhh?:'(
    kasian banget areumnya

    Reply

  7. kang soo in
    Mar 27, 2011 @ 14:50:18

    Speechless

    Reply

  8. tomomikazuko13
    Mar 27, 2011 @ 14:50:36

    bagus ffnya chingu 🙂
    bahasanya enak dibaca,
    tapi kenapa sediiiihhhh?:'(
    kasian banget areumnya.. hiks

    Reply

  9. Nara
    Mar 27, 2011 @ 15:10:33

    aah bias gue heechul T__T
    eh si chul romantis amat ya disini, dia kan bisa romantis cuma ke sohee *nangis jeles*

    Reply

  10. Song kyu chi
    Mar 27, 2011 @ 15:35:18

    Wowwwwww~ daebbak authoor!! 🙂
    gak nyangka kalo heechul oppanya bakal meninggal, penuh kejutan hehehe 😀

    Reply

  11. Kim Mi Hi
    Mar 27, 2011 @ 18:47:37

    Aku kok gk nge dong yach?? #plakk mianhae, aku emg lemot! >,<

    Reply

  12. Carrie Cho
    Mar 27, 2011 @ 19:27:12

    ngga bisa–dan susah ngebayangin Heechul jadi romantis! :33 dari dulu susaaaah kalau baca ff dia kalau yang romantis.
    mentok-mentok paling belagunya, sengaknya, sotoynya, hahahaha *dirajam chulie yang makin bt, sama petals*

    but, i like this 😉 hehehehe.

    Reply

  13. IsTi_KiHae
    Mar 27, 2011 @ 19:52:47

    awal’y aku senyam senyum sendiri ngebayangin heechul romantis… XD
    trnyata ending’y tragis, dua2’y meninggal… ;(

    Reply

  14. yeppipo
    Mar 27, 2011 @ 22:55:46

    T.T
    huee
    biz bc ff han skg chul
    omo
    malam ini penuh air mata

    bagus bagus !

    Reply

  15. nuri
    Mar 28, 2011 @ 16:21:36

    i like it..

    Reply

  16. kikoks
    Mar 28, 2011 @ 16:44:38

    Uwaaaah speechless..
    Awalnya senyum2 liat heechul bisa sangat romantis, ah ga bayangin :))
    Eh tau – tau meninggal, hua so sweet sekali :)) penuh air mata 😀
    Daebak author, kata2nya bikin ikut terhanyut ama alur ceritanya.
    Seolah2 bisa bayangin jadi park areum yg kehilangan heechul 🙂

    Reply

  17. lophaxia
    Mar 28, 2011 @ 17:42:43

    hwaaa, akhirnya dipost, kekeke 😀 mkch bwt admin ^^
    to readers : mkch udh baca 🙂 pas bkin lg mood sdih *emo bgt lah pkoknya*, jdilah ff bergenre angst ini, tp g tw bgs ato g… *up to readers lah*
    hehe, byk yg g bs byngin Chul romantis? Ju2r, saia perlu konsentrasi utk itu, kekeke 😀 ngayal abizzz… Biasanya ngeliat dy cuek doank sih… Tp mw gmn lg, saia plg ska ma Chul di suju ^^ skli lgi, thanks 4 reading 😀

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: