Waiting For you

By: Nam Hee Rin

Suasana telah menunjukkan malam hari, ketika suatu sosok keluar dari sebuah kedai minum dan berjalan memasuki kegelapan. Jika kita perhatikan kita dapat mengenalinya sebagai member Super Junior, yaitu Kangin, yang melangkah dengan tegap meski telah meminum 2 botol soju.

Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia menyaksikan adegan seorang wanita yang dikepung oleh beberapa pria berbadan kekar. Sebagai seorang lelaki yang bertanggung jawab, maka Kangin pun menghampiri mereka dan berhenti tepat di antara wanita itu dan pria-pria tersebut.

“Maaf, tapi alangkah baiknya jika kalian tak mengganggu seorang wanita, apalagi dengan sistem mengepung. Itu akan menurunkan martabat kalian sebagai pria.” ucap Kangin dengan baik-baik.

“Pergilah kau, jangan mencampuri urusan kami jika kau masih ingin hidup tenang.” gertak seorang pria.

“Aku memang ingin hidup tenang, namun tidak dengan cara membiarkan seorang gadis dikepung oleh pria seperti kalian.” jawab Kangin.

“Masih muda sudah kurang ajar rupanya. Hei, kau, beri dia pelajaran.” suruh seorang pria pada pria lainnya.

Setengah dari kelompok pria itu pun mulai menyerang Kangin, sedangkan yang lain berusaha menangkap wanita itu. Kangin berusaha sebisa mungkin hanya menghindar dari pukulan yang bertubi-tubi tanpa membalasnya, namun karena keadaan semakin terdesak akhirnya Kangin terpaksa memukul beberapa di antara mereka yang telah melukai Kangin. Segera setelah dikira kelompok pria itu cukup lengah, Kangin menarik wanita itu dan segera berlari ke tempat yang dikiranya cukup aman lalu berhenti.

“Hei, nona, apa kau baik-baik saja? Siapa sebenarnya mereka?” tanya Kangin.

“Tanpa kau pun aku akan baik-baik saja, karena mereka takkan berani melukaiku. Mereka adalah suruhan pamanku yang disuruh membawaku pulang kembali.” sahut wanita itu datar.

“Apa yang kaulakukan sampai-sampai pamanmu mengirimkan utusan yang menyeramkan?” sambung Kangin.

“Itu bukan urusanmu. Baiklah, aku permisi dulu, terimakasih atas bantuanmu meski itu tak perlu.” ucap wanita itu lalu menghilang dalam kegelapan.

“Aish, wanita itu, sudah kutolong tak tahu berterima kasih. Sudahlah, aku pulang saja.” gerutu Kangin.

Sementara itu di tempat lain…

“Bos, maaf kami tak dapat membawa nona pulang karena ada sedikit gangguan. Besok kami pasti akan berhasil dan juga memberi pelajaran pada pembuat gangguan itu.” ujar seorang pria yang sepertinya merupakan pemimpin kelompok tadi.

“Tak perlu, aku punya rencana lain.” kata seorang pria yang duduk di kursi utama ruangan itu. “Yang pastinya akan berhasil dan sangat menarik untuk diperhatikan.” gumam lelaki itu sambil tersenyum licik.

Keesokan paginya, Seoul dihebohkan dengan berita pagi di surat kabar yang menyatakan bahwa Kangin berkelahi dengan beberapa pria sepulang minum karena mabuk. Di artikel itu terdapat beberapa cuplikan foto dan link video. Namun, sebab perkelahian itu masih dirahasiakan, atau entah penulis artikel itu tak mengetahuinya.

“Yah, Kangin-ah, apa yang telah kau lakukan kemarin malam? Untuk apa kau berkelahi? Pantas saja badanmu memar-memar saat pulang kemarin.” tegur Leeteuk.

“Aku sedang malas membicarakannya.” jawab Kangin.

“Cepat atau lambat kau tetap harus memberitahu kami, karena nanti siang manager akan datang kemari.” sambung Shindong.

“Kangin hyung, ada wanita yang menunggu di luar, katanya ada urusan penting, tapi ia tak terlihat seperti fans kita.” ujar Ryeowook.

Kangin pun dengan malas berjalan keluar dan melihat seorang wanita dengan topi yang menutupi sebagian mukanya. Merasa diperhatikan, wanita itu pun menoleh dan mendesah lega seraya melepas topinya dan menghampiri Kangin.

“Annyeonghaseyo Kangin-ssi, Nam Hee Rin imnida, aku wanita yang kemarin kau tolong.” sapa wanita itu sambil membungkukkan badannya sedikit.

“Untuk apa kau kemari lagi?” tanya Kangin dingin.

“Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa bukan aku yang menyebarkan berita itu. Aku sama sekali tak ada maksud untuk memperburuk nama baik seseorang. Kumohon kau tak salah paham.” pinta Heerin.

Kangin terdiam sebentar dengan tatapan meneliti wanita itu, lalu setelah beberapa saat ia berkata, “Baiklah, kurasa aku percaya padamu. Ada lagi yang ingin kau katakan padaku?”.

“Ehm, bisakah aku minta tolong padamu?” tanya Heerin.

“Jika bukan hal yang sulit dilakukan dan tak merugikanku kupikir tak ada masalah.” sahut Kangin.

“Aku ingin meminta tolong padamu untuk tidak membeberkan sebab kejadian itu pada publik, karena itu akan berdampak cukup besar pada perusahaan keluargaku. Kau bisa mengarang alasan lain, dan aku bisa membantumu.” jelas Heerin.

“Dan apa keuntungan yang bisa kudapat jika aku melakukan hal itu untukmu?” tanya Kangin.

“Aku tak bisa menjanjikan apapun untukmu, karena aku tak tahu apa yang kauinginkan. Tapi aku akan mengabulkan satu permintaanmu jika aku sanggup.” ucap Heerin.

“Baiklah, mengecewakan wanita bukan prinsipku. Ada lagi yang ingin kau minta?” kata Kangin.

“Ya, aku ingin kau ikut denganku untuk memikirkan alasan lain untuk kau katakan, karena kita tak mungkin membicarakannya di dormmu.” sahut Heerin.

“Kau benar-benar memiliki banyak permintaan. Baiklah, aku akan mengambil beberapa barang terlebih dahulu.” balas Kangin kemudian masuk ke dalam dormnya.

Beberapa saat kemudian Kangin keluar dari dalam dorm kemudian mereka turun ke lapangan parkir dan pergi menggunakan mobil Heerin karena mobil Kangin akan mudah diketahui oleh para wartawan yang telah menunggu di depan gedung apartemen. Mereka menuju sebuah kafe dekat apartemen dan mulai berbincang-bincang. Namun beberapa saat kemudian Heerin merasa ada yang janggal lalu ia memberitahu Kangin agar mereka segera pergi.

Sesampainya mereka di dekat mobil, Heerin mengetahui apa yang ia rasa janggal. Ada yang membuntutinya.

Mereka segera masuk ke mobil dan melajukannya dengan kencang. Mobil yang membuntuti mereka pun melakukan hal yang sama.

“Kemana kita akan pergi? Sudah 20menit mereka mengejar kita.” ucap Kangin sambil sesekali melihat ke belakang.

“Apa kau memiliki acara penting yang harus dihadiri hari ini?” tanya Heerin tetap fokus pada jalanan.

“Kurasa tidak, aku memang harus menemui managerku namun sepertinya itu bisa ditunda, tak ada jadwal perform dal bila ada konferensi pers mungkin akan dilakukan besok. Kenapa?” jelas Kangin.

“Sepertinya kita harus pergi untuk beberapa hari. Selain mencari tempat aman dari kejaran mereka juga membahas lebih lanjut masalah ini. Bilang pada managermu kau butuh untuk menenangkan diri dulu.” jawab Heerin.

Kangin pun mengirim pesan pada managernya, dan memperhatikan bahwa mereka sudah tak ada di dalam kota, mobil yang mengejar mereka pun telah hilang dari pandangan. Sekitar 1,5 jam kemudian mereka tiba di sebuah vila yang terlihat cukup besar.

“Dimana kita?” tanya Kangin setelah turun dari mobil dan melihat ke sekeliling.

“Ini villa keluargaku, di luar Seoul. Kita akan menginap disini selama beberapa hari, kuharap kau merasa nyaman dan tak keberatan. Kau juga bisa menggunakan pakaian kakak priaku. Ayo masuk.” sahut Heerin.

Setelah masuk, mereka berbincang-bincang namun hal itu tak bertahan lama karena keduanya ingin bersantai dan melupakan sejenak masalah mereka. Mereka pun melakukannya selama berhari-hari, dan Kangin sengaja menonaktifkan teleponnya.

Perlahan, tanpa mereka sadari, tumbuh benih cinta yang harusnya tak terjadi di antara mereka, seperti rumput liar yang tumbuh di pantai. Namun, tak ada hal yang mudah, pasti ada suatu tantangan yang harus dijalani untuk menggapainya, dan masalah yang paling besar adalah apakah orang itu dapat bertahan sampai tantangan itu berhasil diselesaikan.

Suatu malam, ketika Kangin telah menuju kamarnya untuk beristirahat, Heerin pergi keluar sebentar untuk menghirup udara segar. Tapi, ia menemukan sosok yang sudah tak asing lagi baginya.

“Paman? Apa yang kaulakukan disini?” tanya Heerin kaget.

“Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi bebas dari jangkauanku? Sudah kukatakan berkali-kali, jangan terlena dengan kemudahan yang kau dapat, karena pasti ada yang terselubung dalam kebaikan itu.” jawab pamannya.

“Apa yang paman inginkan dariku?” ucap Heerin.

“Kau tahu pasti apa yang kuinginkan. Namun, aku juga tahu bahwa kau akan menolaknya, maka aku memikirkan cara lain. Maafkan aku bila kau anggap aku mengancam.” kata pamannya.

Pamannya pun mulai menjelaskan, dan wajah Heerin terlihat mengeras. Setelah selesai, Heerin pun mengajukan perlawanan.

“Apa yang membuatmu berpikir kali ini aku akan berubah pikiran karena ancamanmu?” tanya Heerin.

“Karena aku mengenalmu sebaik orangtuamu.” sahut pamannya singkat.

Pamannya pun kemudian pergi meninggalkan Heerin yang berdiri mematung disana dengan perasaan gelisah.

Keesokan paginya Heerin keluar kamar dengan wajah lesu. Kangin yang menyadarinya langsung menanyakan alasannya, namun Heerin menjawab karena kelelahan saja. Sarapan dilalui dalam keadaan sunyi.

“Kangin-ah, jika kau disuruh memilih antara kebahagiaan yang menyakitkan yang sudah lama kau raih, dengan kebahagiaan murni yang baru tercapai, mana yang akan kaupilih?” tanya Heerin tiba-tiba.

“Mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” balas Kangin.

“Hanya ingin tahu saja, cepat jawab.” sahut Heerin.

“Hemm..sepertinya aku akan memilih kebahagiaan menyakitkan yang sudah lama, karena jika kita mencoba mungkin kita akan bisa menikmatinya, sedangkan kebahagiaan baru mungkin takkan selamanya menyenangkan, bisa saja di akhir itu menjadi menyakitkan.” jelas Kangin.

Heerin hanya tersenyum tipis dan mengangguk lalu kembali menyantap sarapannya tanpa semangat. Kangin yang melihatnya hanya merasa heran, namun tak bisa berbuat apa-apa. Selesai makan Heerin memberitahu Kangin bahwa mereka akan kembali ke Seoul hari itu juga, tapi Heerin tak memberitahu Kangin alasan kepulangan mereka yang mendadak itu.

Sesampainya di Seoul, mereka langsung menuju dorm Super Junior dalam keadaan sunyi. Setibanya disana, sesaat sebelum Kangin keluar dari mobil Heerin, ia membuka pembicaraan.

“Tapi kita belum memutuskan dengan pasti alasan apa yang akan kukatakan pada publik.” ucap Kangin.

“Kau takkan perlu mengatakan apapun. Baiklah, aku ada acara setelah ini, aku pergi dulu.” jawab Heerin dan mobilnya pun langsung melaju kencang dan menghilang di tengah keramaian.

Kangin berjalan memasuki gedung apartemen menuju dormnya. Setibanya disana, ia langsung disambut oleh member lain yang jelas terlihat cemas sekaligus lega melihat Kangin telah kembali.

“Kangin-ah, kemana saja kau selama ini? Kami sangat mencemaskanmu, terlebih lagi ponselmu tak kau aktifkan.” kata Leeteuk.

“Aku hanya berusaha menenangkan diri. Manager hyung, aku sudah siap untuk melaksanakan konferensi pers.” ujar Kangin.

“Sudah tidak perlu lagi. Memang saat kau pergi, pria yang berkelahi denganmu hendak menuntutmu ke pengadilan dengan alasan penyerangan dalam keadaan tak sadar. Namun, tadi pagi tiba-tiba ia membatalkan tuntutannya karena katanya yang pertama menyerangnya adalah orang lain yang langsung kabur. Jadi sekarang kau sudah aman.” jelas managernya.

Kangin membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencerna semua info yang baru ia dapatkan, dan perlahan ia menyadari segala hubungan tuntutan itu dengan tingkah laku Heerin tadi pagi. Ia segera menghubungi Heerin dan memaksa untuk bertemu pada sore harinya.

Di pinggir pantai yang sedang ditemani oleh langit senja itu tampak sosok yang duduk sambil menatap langit, dan ada sosok lain yang menghampiri dari belakang.

“Kukira kau takkan datang.” ucap Kangin pada sosok yang sedang duduk itu.

“Aku bukanlah seorang pengecut yang pergi tanpa menjelaskan apapun.” sahut Heerin.

“Kalau begitu kurasa kau sudah mengerti bahwa kau harus menjelaskannya padaku.” kata Kangin.

“Baiklah. Setelah keluargaku meninggal dalam kecelakaan 7 tahun yang lalu, pamanku lah yang merawat serta melatih agar aku siap menjadi pewaris perusahaan keluargaku, dan selama itu pamanku yang akan memegang kendali perusahaan. Di surat warisan yang entah mengapa telah disiapkan oleh orangtuaku, aku akan mewariskan seluruh harta keluarga pada umur 17, namun karena saat itu aku masih belum siap, maka diundur menjadi waktu yang semestinya dalam hukum yaitu 21 tahun.” jelas Heerin.

“Seperti yang kautahu, sekarang aku berumur 22 tahun, yang berarti semestinya aku sudah memegang kendali perusahaan sejak setahun yang lalu. Namun, aku terus melarikan diri dari kenyataan karena aku masih tak merasa percaya diri dengan kemampuanku. Aku juga tahu pamanku memaksaku mengambil kendalinya bukan karena ingin mengekangku, tetapi karena ia mengidap penyakit jantung yang kian memburuk. Sebenarnya aku merasa tak tega, namun rasa rendah diriku mengalahkan segalanya.

“Sampai pada akhirnya malam itu aku kabur darinya karena ia hendak menyekolahkanku khusus kepemimpinan perusahaan tanpa seijinku. Lalu kau menolongku dan kita mengalami kejadian menyenangkan selama seminggu terakhir ini, tapi pamanku yang sudah memahamiku tahu bahwa aku akan membawamu ke villa itu dan kemarin malam ia menemuiku untuk mengungkapkan penawaran.

“Ia mengatakan bahwa jika aku masih tak mau mengikuti keinginannya, ia akan menyuruh suruhannya yang mengajukan tuntutan padamu agar memasukkannya ke pengadilan. Awalnya aku tak mau, tapi saat kutanya tadi pagi aku pun mendapatkan jawabannya.” ucap Heerin mengakhiri penjelasannya.

“Mengapa kau rela mengorbankan kebahagiaanmu demi aku yang baru saja kau kenal?” tanya Kangin.

“Karena tak peduli seberapa lama aku kenal pada seseorang, jika aku sudah sangat menyayanginya, aku akan melakukan apapun untuk membahagiakannya, dan pamanku memanfaatkan kelemahanku itu.” jawab Heerin.

“Maksudmu…” ucapan Kangi terpotong oleh Heerin.

“Ya, saranghaeyo.” ungkap Heerin.

Kangin pun terdiam karena tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi pernyataan cinta mendadak itu. Tiba-tiba, Heerin berdiri dari duduknya.

“Baiklah, sepertinya aku sudah menjelaskan segala sesuatunya padamu. Sekarang aku harus pergi, penerbanganku untuk sekolah itu akan segera berangkat. Selamat tinggal.” kata Heerin.

Saat mulai membelakangi Kangin berjalan menuju mobilnya, tiba-tiba tangan Heerin ditarik dan Kangin memeluknya dengan erat.

“Aku baru mengetahui bahwa ternyata memang ada orang yang setelah menyatakan cintanya langsung mengucapkan selamat tinggal, namun aku tak ingin benar-benar menjadi pihak yang ditinggalkan seperti dalam film.” kata Kangin.

“Hah?” tanya Heerin yang masih kaget dengan adegan spontan ini.

“Jika kau sudah menyelesaikan sekolahmu dan tak terlalu sibuk dengan urusanmu, temui aku lagi.” jawab Kangin.

“Maksudmu…” “Ya, ada yang ingin kusampaikan padamu, jawabanku atas ucapanmu tadi.” bisik Kangin.

Kangin pun melepas pelukannya dan melihat Heerin dengan muka yang bersemu merah dan senyum yang merekah.

“Baiklah, tadi kau bilang harus pergi. Sampai jumpa, bukan selamat tinggal.” ujar Kangin.

“Ya, sampai jumpa.” sahut Heerin, lalu membungkuk sopan, kemudian kembali melangkah menuju mobilnya.

Kangin pun menatap kepergian Heerin dengan perasaan campur aduk, sedih namun tak sabar menunggu sampai saat itu tiba.

Setelah itu, meski sikap publik padanya sudah membaik, namun ia merasa perlu menghindar sementara dari pers, dan setahun setelah kejadian itu ia memutuskan untuk menjalani wajib militer agar sikapnya lebih matang. Dua tahun kemudian ia pun selesai menjalani wamil dan hendak kembali ke dorm Super Junior.

Dalam perjalanan yang memang dilakukan pada malam hari, tiba-tiba Kangin melihat bayangan seseorang yang sedang dikelilingi oleh beberapa orang. Mungkin pemerasan, pikirnya. Setelah beberapa saat berpikir, ia pun mendekati gerombolan itu.

“Hei, apa yang kalian lakukan di tempat seperti ini?” seru Kangin.

Sekelompok orang itu melihat ke arah Kangin, lalu mereka berlari meninggalkan korbannya. Kangin lalu melihat ke arah si korban yang dari bayangannya seperti wanita.

“Nona, sekarang kau sudah aman. Apa yang kaulakukan bepergian di daerah sini malam hari?” ucap Kangin.

“Menunggumu. Apa kau sudah melupakanku, Kangin-ah?” balas wanita itu yang kemudian berjalan ke tempat yang lebih terang.

“Heerin-ah…” gumam Kangin.

Ia pun memutar kembali otaknya. Ini tempat yang sama dengan tempat pertama kali Kangin menyelamatkannya dari suruhan pamannya, dan jika tidak salah lihat, ada suruhan paman Heerin saat itu yang tadi Kangin lihat sedang mengepung Heerin. Kangin pun tersenyum geli.

“Mengapa kau tersenyum sendiri? Aku ingin menagih jawabanmu.” kata Heerin.

“Apa masih perlu kau tanyakan lagi? Tentu saja, nado saranghaeyo.” sahut Kangin yang lalu memeluknya seperti saat mereka berpisah dulu, namun kali ini Heerin melingkarkan tangannya ke punggung Kangin sambil tersenyum.

 

the end

4 Comments (+add yours?)

  1. ny.choi_siwon
    Apr 11, 2011 @ 05:44:22

    keren nih thor !
    four thumbs up lah ! hhe 😀
    bisa jadian akhirnya , hahai

    Reply

  2. secretev
    Apr 11, 2011 @ 16:21:24

    makasiiih 😀

    ayo ayo semuanya dibaca dibaca seru looooh *promosi* ^^

    Reply

  3. Nina andrean
    Apr 12, 2011 @ 06:45:05

    seandainya kangin oppa bsa kembali secepat itu seperti di ff ini pasti elf akan sangat bahagia hehe
    tapi tanpa kisah cinta kkk
    aku tau satu hal kangin oppa punya alasan yg jelas melakukan hal2 itu

    Reply

  4. raechan
    May 02, 2011 @ 19:51:40

    ffnya romantis.. cocok banget sama karakternya kangin, tapi kok kayak kecepetan ya alur ceritanya? *digampar author*
    fighting author!!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: