I’ll leave,so you can live better

Title : I’ll leave,so you can live better

Author : Muthia Deliana ( @LEEMUTHIA )

Backsound : SNSD – Forever, I’m Alone – Tiffany

Ps : Mian readerdeul kalau ffnya ga kena alias ga romantis,yang nulisnya emang ga romantis-_- Saran dan kritik ditunggu loh 😉

~~~

“it is life, it is love,

Love always hurt, some just so worth it to stand to,

some just so not worth it and we’ve just got to, let it go.”Muthia

Cinta tidak seperti pertemanan yang akan abadi selamanya. Cinta itu akan berujung,tetapi tidaklah persahabatan yang dimulai dengan ketulusan. Begitu lah dari sekian banyak kata puitis yang Yoona tulis dari tangan ajaibnya. Hanya bisa menulis,menulis dan menulis setiap saat. Bahkan untuk sekedar menghirup udara segar,Yoona enggan. Dia hanya menikmati setumpuk kertas berserakan mengelilingi nya. Begitulah setiap hari yang Yoona kerjakan selain bekerja dan belajar.

Yoona ingat kejadian itu. Kejadian dimana saat dia dikhianati oleh sahabat nya sendiri. Walaupun sudah 3 tahun berlalu, Yoona tetap tidak bisa melupakan kejadian yang sangat menyayat hatinya. Namun apalah Yoona tanpa sebuah Topeng kecil bertengger di wajah mulusnya. Ia tetap tersenyum dan tetaplah menjadi anak yang menyenangkan. Dan sejak saat itu Yoona mulai jarang bertemu dengan temannya,karena akan terus mengingatkan dia tentang betapa pedihnya sebuah pertemanan yang didahului atas dasar cinta,perebutan dan kemenangan diri sendiri.

Hari ini Yoona akan pergi ke tempatnya bekerja,tak jauh dari rumahnya. Tapi dia harus menaiki Bus ketempatnya bekerja agar lebih cepat. Dengan tergesa-gesa ia berjalan ke halte dan menaiki tangga-tangga kecil halte tersebut.

Tak kurang dari 10 menit,Bus itu telah sampai kembali ke halte tersebut. Yoona mengambil karcis dan mengantri. Akhirnya ia dapat masuk ke Bus tersebut walau hampir nyaris tidak bisa masuk.

“Annyeong,jagiya. Bagaimana keadaanmu hari ini?apa aku bisa kerumahmu sekarang?Bogoshippeo~”

Ia menoleh kearah seorang lelaki yang sedang tersenyum kecil saat sedang menelepon dengan seseorang. Ia ingat ketika seseorang sedang memeluknya erat dan berkata,”Bogoshippeo” saat dia sedang sakit dan tidak bisa hadir ke sekolah. Ia tersenyum pahit mengenang kejadian itu.

Yoona merogoh sebuah foto usang yang selalu tersimpan di dalam dompetnya yang berwarna coklat. Fotonya bersama temannya. Hal yang selalu ia rindukan semenjak kejadian itu,hal yang selalu membuatnya ingin kembali merasakan manisnya persahabatan.

“Bogoshippeo,Tiffany-ah! Kau sedang dimana sekarang?Aku rindu dengan tawamu,candaan kita dan berbagai hal menarik yang telah kita lalui.” Yoona mengusap-usap foto kecilnya itu. Tanpa sadar ia menjatuhkan air matanya dan cepat-cepat ia menyeka kembali air matanya.

“Ah,kenapa aku menangis?Ini seharusnya tidak terjadi.” Ujar Yoona pada dirinya sendiri sambil berusaha untuk tetap tersenyum. Ia tidak ingin Tiffany juga merasakan hal yang sama.

Ia kembali duduk dengan posisi tegak dan menunggu Bus berhenti dan membawanya kea rah tempatnya bekerja. Tak lama, Dia turun dari Bus dan menuju ke sebuah Butik mewah yang bertuliskan Welcome di pintu butik yang menyambutnya.

Yoona membuka pintu Butik dan ia melihat ke segala arah,belum banyak karyawan yang datang. Hanyalah dua orang karyawan yang sangat dia kenal sedang sibuk membersihkan berbagai debu kecil yang ada di kaca-kaca.

“Annyeong,Yoona-ssi. Bagaimana keadaan mu hari ini?”Sahut Hye Na,teman Yoona yang bekerja di butik yang sama dengan Yoona sambil merapikan beberapa baju dan jas yang tergeletak rapi.

“Baik.”jawab Yoona tersenyum dan dengan segera meletakkan tasnya,bergegas mengganti pakaian dengan pakaian yang telah disediakan.

“Yoona-ah!” Seru Atasan Yoona,dengan segera Yoona menoleh.

“Ne?”Yoona merapikan bajunya dan bergegas menghampiri atasannya.

“Ah,rupanya kau disini. Bantu klien kita memilih baju yang tepat untu pesta pernikahan nya. Ingat,dia tamu penting kita. Sebentar lagi dia akan datang,bersiap-siaplah.”seru Atasan Yoona dengan semangat dan mata yang berbinar. Yoona hanya mengangguk.

Dia kembali merapikan bajunya dan bersiap-siap menyambut “Tamu Spesial” itu kedalam tempat kerjanya. Jarang sekali ada tamu sepenting ini,ujarnya. Ia melihat karyawan lain sedang memperhatikan penampilannya lewat kaca yang berada disekitar sudut butik ini. Yoona hanya menggeleng kepalanya,berdiri dan menunggu Tamu tersebut datang.

“Nah,dia sudah datang.”seru Atasanku dibalik kaca pintu butik. Dengan segera para karyawan lain menyambut kedatangan Tamu tersebut,tak terkecuali Yoona.

Sebuah Mobil berkelas atas bertengger didepan butik kecil,tak lama seseorang memakai jas hitam rapi turun dan membuka pintu mobil tersebut,terlihatlah seorang lelaki yang dianggap sebagai Tamu penting ini turun dengan mengadahkan kepalanya,lalu melihat lurus kea rah karyawan yang tengah menyambutnya itu.

“Waah,tampannya.”Hye Na melirik lelaki tersebut dengan mulutnya yang menganga. Yoona penasaran juga dengan tamu itu,dilihatnya tamu yang memakai jas hitam rapi,kacamata hitam,dan rambutnya yang sedikit berantakan itu.

“Apa tampannya?Tidak sama sekali.”Oceh Yoona.

“Cih,matamu buta.”elak Hye Na sambil tetap memandangi lelaki tersebut.

Yoona hanya tidak habis pikir dengan kelakuan teman-temannya ini. Ia terdiam. Seakan mendapatkan isyarat dari Atasannya,ia mengangguk kemudian berjalan kea rah Tamu tersebut.

“Annyeong,ada yang dapat kami bantu?”Sapa Yoona ramah.

“Apa ini penyambutan untuk tamu sepenting ini?”Tanya Bawahan tamu tersebut dengan Ketus. Yoona hanya terdiam,kemudian menjawabnya lagi dengan ramah.

“Apa kau sedang mencari pakaian lelaki untuk pernikahan,kami menyediakan berbagai macam Jas dari luar negeri,dengan kualitas yang terjamin.”papar Yoona.

“Kami juga menyediakan fashion stylist jika anda membutuhkan.”sambung atasan Yoona,Lee Im Na.

“Tidak usah,kami sangat terburu-buru. Kalian tidak tahu bagaimana pentingnya acara yang akan kami ikuti nanti?Tuan ingin pakaian yang ia pakai sempurna di acara pernikahannya.”

“Tapi..Yasudah lebih baik Tuan melihat dan memilih produk yang kami tawarkan,diantaranya..”

Belum sampai Im Na menyelesaikan perkataannya,Tamu tersebut membuka kacamata hitam yang sedari tadi menempel di matanya,seakan memberikan kesan dingin. Ia telah membuka kacamatanya. Semua terperangah melihat wajah dari tamu ini.

“Donghae..ssi.”lirih Yoona kecil.

Ia berjalan maju kea rah tamu yang dipanggil Donghae ini dengan pikiran yang kosong. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Tuan Donghae menatapnya dengan tatapan dingin. Mereka terdiam. Lama.Bahkan sangat Lama. Donghae,lelaki ini. Lelaki yang membuat Yoona bisa merasakan cinta pertamanya meskipun pada akhir cerita dia memang harus mengalah. Yoona menatap lelaki putih ini dengan tatapan sendu,entah apa yang bergejolak dalam hatinya. Benci,Kesal,Rindu,bahkan rasanya ingin membunuh saja cinta yang dipendam nya ini. Seakan dia sangat tidak pantas untuk Donghae. Bertemunya seperti merasakan tamparan yang dialami hatinya saat 3 tahun yang lalu.

~Flashback~

“Annyeong,Yoona-ah! Bagaimana,apa semua Pr mu telah kau kerjakan hari ini?”sapa Tiffany sambil merangkul bahu Yoona.

“Berhentilah berbicara seperti itu,Tiffany!Memuakkan~~”Yoona memasangkan tampang wajah menjijikkannya.

“Hahaha,waeyo?kan aku sedang senang hari ini.” Seru Tiffany sambil bersenandung ria.

“Mwo?senang?waeyo?!ceritakan padaku!”Seru Yoona menguncang-guncang tubuh Tiffany dengan semangat.

“Mau tahu?”Tanya Tiffany centil.

“Tentu saja!Cepat,aku sudah tidak sabar. Ayolah jangan membuatku penasaran,Tiffany Hwang!” Yoona kembali memohon.

“Ne,ne. Aku akan ceritakan. Aku..menyukai seorang namja di sekolah ini.”Tiffany berusaha menceritakannya,meskipun semburat merah sudah tampak sejak saat mereka bertemu di gerbang sekolah.

“JINJJA?Kau serius,Tiffany?jangan coba-coba membohongiku.”jawab Yoona serius.

“Serius.. aku tidak bohong.”jawab Tiffany serius.

“Beritahu aku siapa orangnya,Tiff.”kata Yoona dengan semangat.

“Hm..sebenarnya ini sudah sangat lama. Aku menyukainya saat aku dan dia sedang ikut pertandingan cerdas cermat. Kau pasti tahu orangnya siapa.” Jelas Tiffany.

“Aku?memangnya siapa?Yoochun?Eunhyuk?Jungsoo?atau Joong Ki?” Yoona bertanya dengan pertanyaan beruntun.

“Bukan..Bukan semuanya.”tukas Tiffany cepat.

“Lalu?”

“Donghae-ssi.”

Yoona yang semula tersenyum girang,menyimpan cepat senyumannya dan menggantinya dengan wajah yang murung. Ia menundukkan kepalanya dan berusaha untuk tidak terlihat bersedih. Ia menegakkan kembali wajahnya dan segera memakai topeng dengan wajah yang menyenangkan.

“Donghae-ssi?Wah chukkei,Tiffany!Aku senang melihatmu gembira seperti ini.” Yoona memeluk Tiffany erat seakan ingin menangis sejadi-jadinya di hadapan sahabatnya itu. Tiffany membalas balik pelukan Yoona dengan tatapan bingung.

“Waeyo,Yoona-ah?Aku tidak pergi,aku tetap disini. Jangan menyambutku dengan pelukan seakan kita terpisah jarak yang jauh.”Tanya Tiffany.

“Ah~aniya,aku terlalu kesenangan. Wah chukkae,tiffany-ah!”Jawab Yoona tertawa dan memukul bahu temannya itu dengan gembira.

“Ne,cepatlah mencari namjachingu. Aku kan ingin melihat kita menggandeng cheossarang kita sambil tertawa seperti ini.”ujar Tiffany tulus. Cheossarang?Bahkan Cinta pertama ku saja kau rebut Tiffany!,gumam Yoona dalam hati.

“Hahaha,kau bisa saja. Kalau Cheossarangku lebih baik darimu bagaimana?”Tanya Yoona berbohong.

“Memangnya kau sudah punya Cheossarang?”Tanya Tiffany balik.

Yoona pura-pura berpikir,”Menurutmu?” Senyumnya penuh arti sambil meninggalkan Tiffany yang tengah kebingungan.

“Ya!Kau Curang Yoona-ah!Beritahu aku siapa Cheossarang mu!”Teriak Tiffany semangat.

~~~~~

“kamu selalu diam,

tapi diam-mu bukanlah emas

diam-mu tanda ketidakpastian,

juga menandakan ketidaksiapan,
untuk menetap dan memberi harapan

hati-hati,

diam-mu sudah merobek hatiku.”

Setelah Kejadian itu,Yoona hanya terdiam menanggapi berbagai macam cerita Tiffany bersama cheossarangnya,Donghae. Calon Cinta pertamanya,maksudnya. Yoona hanya tersenyum tanpa membalas cerocosan Tiffany tentang Donghae. Ia juga malas melihat temannya sendiri menyukai pria yang disukainya. Kalau begini kan jadinya repot?

Yoona meneguk segelas air putih lalu melemparkan pandangannya pada sekolompok lelaki yang tengah menempati meja duduk yang telah disediakan di kantin,salah satunya Donghae.

“hei,tiff. Lihat.”Aku melirik Tiffany dan menuntun Tiffany untuk melirik kea rah Donghae dan sekelompok teman-temannya itu.

“Kyaa..dia terlihat tampan.”Seru Tiffany.

“ehm..begitu.”jawab Yoona cuek.

“hah?maksudmu,yoongie?”Tanya Tiffany tapi tetap pada pandangan nya kea rah Donghae.

“Ah,aniya..”kilah Yoona.

Donghae memang tampan,dia mungkin sangat cocok jika dipasangkan dengan Tiffany yang memang juga banyak diincar oleh namja-namja disekolah Yoona. Tapi hati Yoona seakan berkata tidak ingin melihat Tiffany memandang wajah lelaki yang disukainya itu begitu mendalam. Tatapan Tiffany setiap hari pada Donghae selalu membuat hatinya merasa sakit meskipun ia terus menerima perlakuan itu. Yoona tidak ingin Tiffany terluka,tapi mengapa hatinya selalu menentang apa yang ia lakukan?

Yoona menghela napas dan membuang muka. Melihat Tiffany seperti ini rasanya seperti disayat pisau sendiri oleh orang yang selama ini dia selalu percaya. Memang Yoona tidak memberitahu siapa yang dia suka,tapi saat itu Tiffany telah mengatakannya. Percuma saja Yoona mengatakannya kalau nantinya Tiffany malah sakit hati dan berusaha menjauh darinya. Biarlah ia yang sakit sendiri.

Lama-lama sakit yang dirasakan Yoona sendiri ini bertambah besar,sesak selalu memenuhi dada dan pikirannya ketika melihat Tiffany meluncurkan aksinya untuk mendekati Donghae. Dari mulai mengajaknya berbincang,mengajaknya jalan disekitar sekolah,sampai membantu membuat Pr. Yoona hanya seperti menjadi orang ketiga diantara mereka. Ia terus terdiam dan lagaknya seperti orang yang tak punya hati,bahkan ia tidak bisa menangis melihat lelaki yang ia cintai dekat dengan temannya sendiri.

Diam-diam Yoona menangis sendiri di kamarnya,ia tidak bisa membohongi perasaannya. Semakin lama ia semakin mencintai Donghae. Semakin besar kekuatannya untuk menghapus cinta itu dari hatinya,semakin cepat pula rasa cinta itu menyebar kedalam hati Yoona.

“Yoongie-ah,waeyo?kenapa kau sendiri seperti ini.”Tanya Tiffany sambil duduk disamping Yoona yang tengah menikmati daun berguguran.

“Mollayo.”Jawab Yoona singkat. Tiffany memandang wajah Yoona yang jarang sekali tertawa.

“Yoongie..”

“Mwo?”

“Waeyo?Kenapa kau telah berubah seperti ini?”Tanya Tiffany seperti tahu akan perasaan Yoona.

“Ah,aniya.gwenchana.”Yoona balik memandang Tiffany sambil tersenyum. Yoona kembali menepis lamunannya.

“Yoona..sebenarnya ada apa dengan kau?mengapa kau seperti ini?kau menjauh dariku.”ujar Tiffany sedih.

“ah,ani.. aku hanya merasa sedang tidak enak badan saja.”

“Jinjja?aku rasa kau menyimpan sesuatu dariku.”

“Mwo?aku tidak menyimpan apa-apa. Percayalah.”jawab Yoona sambil memukul pundak Tiffany.

Hening,Yoona ingin menangis. Siapapun orangnya dia ingin menangis sejadi-jadinya di pundak mereka. Tapi dengan siapa? Yoona bisa saja menyembunyikan raut wajah gelisahnya saat bersama Tiffany. Tapi hatinya tidak.

“Tiffany..”ujar Yoona lirih.

“mwo?waeyo Yoona-ah?”Tanya Tiffany balik.

“Apa kau pernah merasakan perasaan sakit yang menusuk-tusuk hatimu saat kau tahu lelaki yang kau sukai berdekatan dengan temanmu sendiri?”

Tiffany terdiam. Ia mulai mencerna satu per satu dari kata Yoona. Tiffany mulai curiga apa yang dikatakan Yoona.

“ehm,mollayo. Aku sama sekali belum pernah jatuh cinta sebelum ini.”jawabnya.

Yoona menarik napas kembali. Ia berusaha untuk tetap tegar didepan temannya. Ia tidak ingin menyakiti hati sahabat yang telah dipercayainya ini.

“Kalau begitu..pacari Donghae. Sebelum ia direbut oleh orang lain.”jawab Yoona dengan pandangan lurus. Tiffany kaget. Ia tidak mengerti apa yang barusan Yoona katakan.Yoona tersenyum kosong.Tiffany pun kembali tersenyum,senyum yang penuh dengan makna.

“Pasti,Yoongie.Aku pasti bisa mendapatkannya.”

~~~~

“Ah,kemana bukuku?apa tertinggal di loker ya?”Yoona kembali mengubek-ubek tas nya dan mencari buku hangulnya yang dipinjamnya dari Tiffany.

“Pasti Tiffany marah sekali kalau aku menghilangkan buku itu.”gelisah Yoona.

Ia berjalan dan tetap mencari-cari buku hangul didalam tasnya,tanpa ia sadari ia telah menabrak seseorang yang sedang terburu-buru dihadapannya.

Bruk

Mereka terjatuh. Yoona berusaha berdiri dan mengumpulkan barang-barangnya yang telah berserakan di tanah. Ia menoleh kea rah orang yang ditabraknya itu dengan wajah marah.

“Kalau jalan,hati-hati! Jangan asal menyeruduk orang!”marah Yoona dengan tampang innocent nya.

Orang yang ditabraknya tadi berdiri,lalu membersihkan debu yang menempel sebentar di kemeja sekolahnya.

“Mianhae.”jawabnya singkat.

Ia membalikkan badannya,dan betapa terkejutnya Yoona melihat sosok lelaki yang ada di hadapannya ini. Kalian sudah dapat menebak siapa bukan?Donghae,tentu saja dia. Dia memperbaiki poni nya yang bertengger didepan rambutnya,dan keadaan tersebut membuat Yoona tidak dapat berkata apa-apa dan terus memandang lelaki tersebut tanpa ampun.

“Waeyo?Jangan memandangku seperti itu.”Baru pertama kali dia berkata itu pada Yoona ,seakan mendapatkan kejutan Yoona tidak kehilangan suara dan ia hanya tetap terdiam mematung dihadapan Donghae.

“Kenapa tidak menjawab?Untung saja aku yang bertanya duluan. Jarang-jarang orang sepertiku ingin menyapa kau.”jawabnya cuek.

Yoona kembali tersadar,dengan cepat ia mengelaknya.”Melihat kau?untuk apa aku melihat kau?”elaknya.

“Hahaha,tak mengaku juga rupanya. Jadi daritadi kau melihat siapa?Melihat ketampanan ku?”Tanya Donghae genit.

“Siapa bilang aku melihat ketampananmu?Sama sekali tidak!Bahkan aku tidak sudi.”jawab Yoona berbohong. Ia tidak ingin menunjukkan sisi sukanya pada Donghae,terlalu tidak tepat pada waktu seperti ini.

“Sampai kapan kau mau berbohong,Yoona-ssi?”Senyumnya,lalu meninggalkan Yoona yang masih terdiam di tengah perkarangan sekolah.

“Kau tidak ingin kan orang yang kau cintai jatuh kepelukan orang lain?”Tanyanya sekali lagi sambil menoleh kea rah Yoona dengan tersenyum penuh arti.

~~~~

Yoona masih bingung dengan kejadian tadi sore. Apa maksud dari Donghae berkata seperti itu?Apa ia tahu kalau dialah yang Yoona suka selama ini?Tapi ah,tidak mungkin. Ia terlalu bermimpi. Mana mungkin Donghae-ssi mau dengan gadis biasa seperti dia.

Yoona tersenyum. Mungkin saat itu lebih tepatnya Tiffany melihat kejadian saat Yoona dan Donghae berdekatan tak kurang dari 40 cm itu. Terlalu dekat ya,tapi memang begitulah kejadiannya. Bahkan Yoona terlalu kegirangan meskipun hanya berkata sepatah dua kata kepada Donghae.

“Donghae-ssi,kenapa kau selalu dingin kepadaku?”Ujar Yoona tersenyum,lalu merebahkan tubuhnya yang lelah ke tempat tidur bersprei pink itu.

“Yoona!!” Tiffany berteriak sambil melambaikan tangannya. Yoona tersenyum.

“Ya!pabo kalau kau memanggil aku seperti itu.”celutuk Yoona.

“Kalau aku memanggilmu dengan suara kecil,bisa-bisa kau tidak menghirau teriakanku.”omel Tiffany.

“Hahaha,waeyo?sepertinya ada hal penting yang ingin kau katakan.”

“Kok,kamu tahu?ah yasudah memang aku ingin memberitahu sesuatu.”

“tentang apa?”

“Donghae.”

“hm..ada apa dengan nya?”Tanya Yoona pura-pura cuek.

“Tadi sore,aku kan ada pelajaran tambahan. Dan kulihat Donghae sedang menunggu seseorang dengan membawa bunga yang ia pegang di tangan kirinya. Karena penasaran,aku bertanya langsung.”papar Tiffany serius.

“Dan dia menjawab apa?”Tanya Yoona penasaran.

“Dan dia menjawab,dia membawa bunga itu..”

“Untuk siapa?”Tanya Yoona balik. Jangan untuk Tiffany,kumohon..Ujar Yoona dalam hati dengan gelisah.

“….untukku.”

DEG.

“Dan dia…mengajakku berpacaran.”jawab Tiffany lagi.

“Dan kau menerimanya?”

“…Ne.”jawabnya dengan senyum tersirat dari bibirnya.

Kini Yoona lemah,seketika kakinya lemas tidak dapat menampung tubuhnya lagi dengan seimbang. Namun Yoona berusaha untuk tetap berdiri tegak meski bulir-bulir air mata ini hampir tumpah kepermukaan wajah halusnya.

Bagai disambar petir,berita itu langsung mengiris-iris hatinya dengan kasar. Entah rasa apa yang dialaminya saat mendengar berita itu. Tersenyum?selalu. Tapi apa bisa dia tersenyum saat hatinya ingin sekali menusuk temannya ini?

“Ch..Chukkei,Tiffany H..Hwang.”Yoona mencoba untuk tetap mengucapkan selamat kepada temannya dengan mata yang berbinar.

“Ah,gomawo Yoongie!Aku senang sekali. Berpuluh ribu senangnya..”Peluknya.

Yoona tersenyum,ibarat ia kalah. Kalah dari pertarungan cintanya selama ini. Yoona menundukkan kepalanya. Tetesan airmata mengalir pelan,pelan pelan..sangat pelan. Lama-lama Yoona mengepal tangannya. Berusaha menguatkan segalanya,segalanya belum berakhir. Yoona lelah. Lelah menyimpan ini sendirian. Cinta itu tidak adil. Kenapa ia tidak pernah datang untuk orang yang benar-benar mencintai seseorang?

Yoona melepaskan pelukan Tiffany dan menyeka airmatanya. Tiffany heran,belum pernah ia melihat Yoona berlinangan airmata seperti ini.

“Waeyo yoona-ssi?”

“Aniyoo,gwenchana. Aku terharu.”Jawab Yoona tertawa menyembunyikan semua perasaan tak karuan nya. Cintanya kalah,biarkanlah perlahan-lahan cinta ini terkubur dalam di dasar hati,meski saat ini Yoona seperti tak punya hati lagi. Hati yang kosong.

~~End Flashback~~

“Yoona-ssi?”Tanya Donghae dengan keheranan.

“Donghae-ah,akhirnya kita bertemu lagi disini.”jawab Yoona sambil tersenyum pahit. Yoona teringat semua masa lalunya. Ia teringat saat segalanya berakhir dramatis. Hidup yang diajalani seakan tidak ada arah. Semuanya berubah.

“Ne. Tiffany terus saja menanyakanmu.”

“Bagaimana keadaannya?Aku sangat ingin bertemu dengannya.”

“Dia baik-baik saja. Tenanglah.”Jawab Donghae ramah.

“Jadi kau kesini untuk apa?”Tanya Yoona keheranan.

“K..kau mau menikah dengan Tiffany?”Tanya Yoona lagi,memberanikan diri.

Donghae mengangguk. Memang tidak ada hati sedikitpun untuk Yoona. Yoona meneteskan airmata. Bulir bulir itu seakan jatuh percuma hanya untuk seseorang yang menggantungkan cintanya,yang selalu membuatnya berharap bahwa dia akan jadi yang terakhir hanya untuk Donghae. Tapi dia salah,sangat salah. Kini Yoona hanya bisa menarik napas panjang,melihat kea rah langit lalu tersenyum..sakit.

“Chukkei,Donghae-ssi. Semoga kau dan Tiffany bahagia. Titip salamku untuknya,naebogoshippeo.”jawab Yoona. Yoona menunduk,tak mampu melihat wajah Donghae yang sangat membuat semua nadinya terpotong,dan darahnya membeku.

“Apa kau tidak senang?”Tanya Donghae.

“Senang,bahkan sangat senang. Jaga dia,Donghae-ssi.”sahut Yoona sambil memukul pundak Donghae.

“Ya,pasti.”jawab Donghae.

Yoona tersenyum untuk Donghae. Hanyalah perasaan sakit tak terbalaskan ketika tahu orang yang kau cintai menikah dengan temanmu sendiri. Dan Yoona sudah lelah,Yoona ingin mengakhiri semuanya. Semua yang telah diperjuangkannya,dilaluinya yang kini hanya menghasilkan sia-sia belaka. Tubuhnya bergetar,Kini bibir mungilnya terkunci rapat. Ia membungkam seribu kata setelah tersenyum lemah kepada Donghae sampai akhirnya Donghae telah memilih baju yang dikenakannya pada saat Pernikahan nanti.

“Yoon,bagaimana kalau kita bertemu lagi di café sekitar tempat kerjamu?”Tanya Donghae.

“Eh?Kau mau bertemu lagi denganku?”Tanya Yoona balik.

“Ne,tentu saja aku mau. Aku menunggumu besok jam 5. Jangan sampai telat.”Ujar Donghae. Yoona terdiam keheranan.

“Untuk apa?Untuk apa aku kesana?”

“Kau akan tahu kenapa.”kata Donghae tersenyum lalu membalikkan badannya berjalan dan masuk kedalam mobil.

Yoona mengamati mobil Donghae yang berlalu pergi sampai akhirnya tidak terlihat lagi. Ia menutup matanya dan berusaha menguatkan kejadian semua ini. Dia pasti bisa hidup tanpa Donghae,pasti.

Yoona mengarahkan pandangannya ke sekitar sambil menunggu seseorang yang akan datang. Huh,walaupun dia masih sangat kecewa apa yang dikatakan Donghae kemarin,dia tetap menepati janjinya. Dan waktunya sudah lewat dari janji kemarin. Kemana saja Donghae?gerutu Yoona.

Yoona celingak-celinguk dan berjalan kesana-kemari tetap saja dia tidak menemukan Donghae. Agak jengkel,tapi tak apalah. Toh jarang bertemu Donghae seperti ini.

“Mianhae,jeongmal Mianhae Yoongie-ah!”Seseorang menepuk pundak Yoona,Yoona menoleh. Ternyata Donghae yang dinantikannya datang juga.

“Kemana saja kau?”Tanya Yoona sedikit kesal.

“Aku?Tadi ada urusan penting dengan klien,membahas tentang..”

“Ah cukup!Aku tidak mau mendengar tentang bahasan kalian itu. Cepat,kau mau membicarakan apa?” Tanya Yoona blak-blakan.

“Ah,kajja kita masuk dulu. Biar kita membicarakan masalah ini di dalam.”Donghae menarik tangan Yoona,Yoona tersentak. Ia membiarkan hal itu terjadi padanya.

“Duduk.”ujar Donghae.

“Tanpa disuruh pun,aku akan duduk.”ketus Yoona.

Yoona dan Donghae duduk berhadapan,Tak lama seorang Waiter pun datang membawa daftar isi makanan dan minuman dari café ini. Setelah memilih,Yoona akhirnya angkat bicara.

“ya Donghae-ah!Sebenarnya ada apa?Kenapa tiba-tiba kau ingin bertemu denganku?”

Donghae terdiam dan menatap Wajah Yoona dalam,kemudian ia mengarahkan pandangannya kea rah kaca café tersebut.

“Donghae-ah! Jawab. Jangan diam seperti ini.”Marah Yoona.

“Kenapa dari dulu kau ketus padaku?”Tanya Donghae serius.

Yoona gelagapan,”A..aku?ketus?”

“Ya.Kau.”jawab Donghae santai.

Yoona terdiam sambil memandang Donghae dengan lirikan tajam. Apa ia mau mengkritikku habis-habisan?tanya Yoona.

“To do point saja,apa maksudmu sekarang menemuiku.” Kata Yoona.

Donghae melirik Yoona,”Bukannya kau sudah tau mengapa?”

“Babo!Karena aku tidak tahu makanya aku bertanya padamu.”

Donghae membetulkan cara duduknya. “Aku ingin membicarakan sesuatu tentang..kita.”

“Kita?”seru Yoona.

“Ya,kita. Kau dan aku.”

“Memangnya ada apa antara kau dan aku?”tanya Yoona polos.

“Jujur saja,kau pernah menyukai ku kan?”tanya Donghae langsung. Yoona terhenyak mendengarnya. Ia tidak mengerti kenapa Donghae tahu semua tentang dirinya.

“Ah~~tidak mungkin,aku tidak mungkin menyukaimu. L..lagian mana mungkin aku merebut namjachingu temanku sendiri.”elak Yoona.

“Ahaha~kau jangan menipuku. Aku tahu semua tentang dirimu.”sahut Donghae sambil mengeluarkan evil smirk nya.

“MWO?jadi selama ini kau memata-matai ku?ah aniyaaaa~”

“Berhentilah melebih-lebihkan seperti itu. Tinggal katakan iya atau tidak.”ancam Donghae.

Yoona menarik napas dan menghembuskannya,Ia kelihatan ingin sekali menangis dipangkuan Donghae. Tapi itu tidak mungkin,dan tidak akan terjadi. Yoona menatap mata Donghae tajam,tatapan mereka saling bertemu hingga akhirnya Tangisan Yoona tidak bisa dibendung lagi. Ia mengeluarkan tetesan airmata itu dari kedua matanya.

“Kau mau tahu jawabannya,kan?Kalau iya,waeyo?Aku mencintai mu,LEE DONGHAE! Sejak saat kita satu kelas pada saat SMP,aku menyukaimu. Aku mungkin berharap lebih tentang dirimu. Aku selalu menyapamu,dan kau sama sekali dingin. Kau bersikap manis kepada semua yeoja terkecuali aku,apa karena aku jelek?Apa karena aku babo?Aku tidak seperti Tiffany,Donghae-ssi. Aku bukan dia..” Yoona menitikkan airmata dan kemudian menangis tanpa mengeluarkan suara.

“Kalau begitu,kenapa kau mau melihatku memacari temanmu sendiri?Apa kau tidak senang?Apa sekarang kau puas?Kau puas kan melihat temanmu bahagia.”jawab Donghae dengan mata yang nanar.

“Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu,Donghae-ssi. Tapi aku tahu,segala yang kulakukan ini demi Tiffany. Aku tidak ingin mengecewakannya. Biarlah aku yang menderita,daripada melihatnya menderita.”tatap Yoona.

“Babo. Belum puas kau menyiksa aku seperti ini?”Tanya Donghae dengan nada meninggi.

“Menyiksa kau?Sama sekali tidak..aku tidak pernah ingin melihat kau tersiksa. Jadi apa hubungannya dengan kita?Apa maksudmu?!”Lawan Yoona.

Donghae diam seribu bahasa. Ia melihat perempuan didepannya ini yang sudah melihatnya dengan tampang penasaran. Ternyata Yoona memang benar-benar polos. Bahkan sampai sekarang saja dia tidak tahu apa yang dikatakan oleh Donghae.

“Saranghae Yoongie-ah. Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai Tiffany.” Rintih Donghae.

Yoona menutup mulutnya dengan tangan. Tidak sangka selama ini Donghae juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

“Jinjja?Kau tidak berbohong?” Tanya Yoona.

“Aku serius!untuk apa aku membohongimu.”jawab Donghae.

“Kau tahu,aku selalu merasakan hal yang aneh semenjak bertemu denganmu. Entah kenapa berada di dekatmu membuatku merasa nyaman,Kau menyenangkan,ramah,cuek,dan aku suka semuanya tentang kamu.”

“Dan kenapa baru sekarang kau mengatakan semua ini?”tanya Yoona.

“Karena tidak ada waktu yang tepat. Kau selalu menjaga jarak denganku. Aku tidak tahu lagi aku harus memakai cara apa agar kau menampakkan sisi sukamu padaku. Aku putus asa.” jelas Donghae.

Yoona berdiri. Ia tidak sanggup melihat Donghae dalam keadaan seperti ini.

“Donghae-ssi. Pergilah bersama Tiffany. Jangan melihat keadaanku. Aku tidak apa-apa,aku masih bisa bernafas tanpa kau. Tiffany lebih membutuhkan kamu daripada aku.”Ucap Yoona pelan sambil memukul pundak Donghae.

“Sekali saja kuharap kau jangan merendah seperti ini.”jawab Donghae menggenggam tangan Yoona.

“Hh,aku sama sekali tidak merendah,Donghae-ssi. Sudah kubilang aku hanya ingin Tiffany bahagia. Aku bahagia melihat temanku sendiri menikah dengan orang seperti kau,orang yang dicintainya.”

“Yoong,aku..”

“Sudahlah,gwenchanayo. Aku masih bisa tersenyum. Lihat kan aku tertawa bahagia seperti ini.”Yoona memasang wajah bahagia. Ia menggenggam tangan Donghae erat.

Diam-diam Donghae melirik Yoona,langsung saja ia menggenggam tangan Yoona dengan erat dan memeluknya. Yoona dengan heran melihat Donghae yang memeluknya erat bahkan untuk bernapas pun tidak diizinkan. Begitu beratkah Donghae tanpa Yoona?

“Donghae-ya,aku tetap disini.” Yoona menunjuk kedada Donghae dengan tersenyum. Donghae kembali memeluknya erat.

“Lepaskan. Aku ingin pulang.”Jawab Yoona yang tenggelam di pelukan Donghae. Donghae kembali menundukkan kepalanya melihat raut wajah Yoona,ia mengelus-elus rambut Yoona dan mengacak-acaknya.

“Pulanglah.” Jawab Donghae melepaskan pelukannya dan mendorong Yoona untuk menjauh dari tubuhnya sedikit. Donghae memasukkan tangannya ke dalam saku jasnya dan berjalan meninggalkan Yoona yang berdiri mematung melihat kepergian Donghae.

“Kau itu misterius,Donghae-ssi.”

~~~~~

Hari ini seperti biasa,tidak ada yang special dari hari-hari lainnya. Yoona tetap melakukan aktivitas nya seperti biasa. Yah,mungkin hari ini Yoona tidak berkerja. Dia akan membereskan apartement nya yang berantakan. Dilihat surat-surat yang ditulisnya dan kertas-kertas yang berserakan dari seluruh penjuru kamar mungilnya.

Dengan semangat ia mengumpulkan kertas itu,merapikan seprai tempat tidurnya,membuka jendela kamar dan membersihkannya,dan tak lupa dia juga akan membeli beberapa makanan dari Supermarket di dekat Apartementnya.

Yoona sudah siap dengan membersihkan apartementnya,kini ia memakai Jaket bulu yang tebal untuk keluar dari Apartement.

“Huh,udara dingin sekali..”serunya sambil menghangatkan tangannya.

Akhirnya Yoona sampai di Supermarket. Ia mengambil beberapa sayuran dari deretan sayur-sayuran dan berhubung Yoona ingin memasak beef,akhirnya ia mengambil beberapa daging segar yang terpampang jelas disamping deretan sayuran.

Ia menjelajah kederetan lainnya. Tak sengaja ia melihat Tiffany yang sedang berbelanja. Yoona memberanikan diri untuk menyapanya.

“Annyeong,Tiffany-ssi.”sapanya. Tiffany yang sibuk memilih Buah-buahan segar menoleh.

“Annye…Yoona-ah?!”Pekik Tiffany.

“Kenapa terkejut seperti itu?Aku kan bukan hantu.”celutuk Yoona dengan wajah cemberut.

“Hahaha..Mianhae aku memang terkejut. Kau sangat cantik sekarang,bolehkah aku memelukmu?”Tanya Tiffany dengan manja.

“Ah,tentu saja.”Yoona membuka tangannya lebar-lebar dan memeluk sahabatnya itu. Sudah beberapa tahun Yoona tidak mencium aroma parfumnya,mendengar suaranya,bahkan memeluknya.

“Kau kenapa ada di Supermarket ini?”Tanya Yoona.

“Aku sedang membeli makanan untuk Calon suamiku. Nanti malam aku akan memberinya kejutan.” Seru Tiffany sambil memamerkan barang-barang belanjaannya. Yoona hanya tersenyum kecut.

“Oh,semoga berhasil Tiffany-ah.”Yoona memukul pelan bahu Tiffany.

“Oh ya,jangan lupa untuk datang ke acara pernikahanku dengan Donghae.” Tiffany menyodorkan selembar undangan pernikahan dengan mata yang berbinar-binar. Yoona membuka Undangannya dan melihat tanggal pernikahan mereka. Hari Selasa?Bukankah itu hari tepat dimana dia akan meninggalkan Korea?

“Chukkae. Kuharap pernikahan kau dengan Donghae akan bahagia.”Yoona kembali menepuk bahu Tiffany dan memeluknya.

“Eumh,Yoon..aku pergi dulu. Ada pekerjaan yang sedang menantiku.” Tiffany melepaskan pelukannya dengan menoleh kearah handphone miliknya.

“Ne.”jawab Yoona singkat dan Tiffany dengan buru-burunya langsung meninggalkan Yoona menuju kea rah kasir.

Didalam perjalanan,Yoona masih terus saja memikirkan pernikahan itu. Mungkin dalam hatinya alangkah baiknya jika pernikahan itu dibatalkan,tapi dia menolak. Dia malah menginginkan pernikahan itu terjadi.

“Apa aku tidak menyesal,meninggalkan Donghae?” Pertanyaan itu terus berputar dalam pikirannya.

“Mungkin untuk sekarang kau akan menyesal,tapi setidaknya kau telah punya cinta sejati. Dan kau telah berusaha untuk mendapatkannya sampai batas yang kau mampu. Jika memang tidak dipertemukan,mungkin hanya Dia yang tau.”gumam Yoona menguatkan hatinya dan tetap pada prinsipnya.

Ia meletakkan seluruh belanjaannya dan duduk di sofa. Ia melirik tiket menuju Paris yang tergeletak bersama selembar kertas beasiswa di meja. Ya,Yoona akan mengikuti beasiswa yang diidam idamkannya itu. Sesuai dengan cita-citanya,ia akan berangkat ke Paris pada hari Selasa untuk mengikuti kuliah jurusan design disana. Dan itu tidak disia-siakannya.

“Kau lelah memikirkan dia. Lebih baik begini.”gumamnya dalam hati.

~~~~~

*Donghae’s side*

Hari ini pernikahanku dan Tiffany. Aku harap semuanya akan lancar-lancar saja. Aku terpaku pada cermin yang terus saja kupandangi tanpa menghiraukan waktu yang terus saja berlanjut. Aku mengambil tuxedoku dan kupakai,kusibak sedikit tirai horden kamarku,dan banyak tamu-tamu yang penting,teman eomma dan appaku yang datang. Aku tidak sedikitpun melihat gadis itu. Gadis yang kuharap hadir dan melihatku saat terakhir kali. Atau lebih baik dia tak usah datang?

Aku masih tidak ingin menikah dengan Tiffany,setelah kejadian tadi malam aku sama sekali merasa bersalah kepadanya. Entah karena Aku terus bingung,dan aku tidak sanggup melihatnya nanti berdampingan denganku.

*Flashback*

“Tiff..ada yang ingin kubicarakan.” Aku langsung menatapnya serius ketika dia menyuruhku untuk datang kerumahnya.

“Eh?Mwo?apa yang ingin kau bicarakan?”Serunya manja sambil memelukku.

“Ak-ku..”

“waeyo?”tanya Tiffanny penasaran.

“A-kku mencintai Yoona.” Ujarku dingin. Seketika wajahnya berubah. Tiffany yang tadinya manja denganku melepaskan tangannya dan menatapku tak percaya. Ia menatap mataku seakan ingin meminta jawaban.

“Aku mencintainya,dari mulai saat kami SMP. Dan sampai sekarang aku bahkan tidak bisa melupakannya.” Sambungku dengan perasaan tak karuan.

“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”tanya Tiffany dengan tatapan nanar.

“Aku tidak ingin membuat perasaanmu terluka. Kau..aku tahu kau sudah percaya padaku. Dan aku tidak ingin mengecewakanmu. Tapi tetap saja aku masih memikirkannya.”

Tiffany menggenggam tangannya keras. Ia berjalan kea rah ku. Ia ingin menampar laki-laki yang berada didepannya.

“Tampar saja,aku berhak untuk ditampar.”jawabku pasrah.

“Kenapa aku baru sekarang mengatakannya?Apa kau ingin ada terus kebohongan yang kau sembunyikan saat kita menikah nanti? Kebohongan apa lagi,Lee Donghae?”Serunya didalam isakan nya yang terus menerus dan sama sekali dihiraukannya.

“Lebih baik kita akhiri ini semua. Aku tidak mau kau terluka. Aku memang namja yang bodoh,dan tidak seharusnya aku menjadi suamimu karena aku tak pantas.”sahutku sambil memeluknya. Kurasakan tangisannya yang jatuh. Ia memang rapuh,aku tak kuat melihat yeojaku sendiri kusakiti.

“Jangan tinggalkan aku sendirian,aku takut. Aku memimpikan semua yang terjadi besok. Aku tidak ingin semua hancur,aku ingin bersama mu. Aku akan tetap percaya padamu walaupun kau tetap berbohong kepadaku. Aku tidak mau sendiri,Donghae. Tidak mau..”Ia memelukku lebih erat dan kuusap kepalanya. Tubuhnya bergetar. Aku mengecup kepalanya pelan.

“I’ll be here for you,no matter what happen.” Jawabku dengan memegang dagunya. Ia terlihat ketakutan,dan tidak membalas tatapanku sama sekali.

“Jinjja?Kau akan tetap menepati janjimu menikahkanku?”tanyanya yang masih berada didadaku.

“Ya. Apapun.”jawabku tersenyum pahit. Aku merasakan ada sesuatu yang menolakku untuk berbicara seperti itu,tapi entahlah kata hatiku malah mengatakan sebaliknya.

*End Flashback*

“Donghae?” Eomma menghampiriku.

“Ah,ne eomma. Waeyo?” terdengar suara eomma yang segera membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan kulihat Eomma berdiri dihadapanku bersama Tiffany yang berada di belakangnya.

“Kau siap?”ujar eomma.

“Ne,aku sudah siap eomma.”jawabku dengan gugup.

“Yasudah,kalian siap-siap saja. Eomma tinggal dulu ya,Donghae?”Senyum Eomma mengembang dan menepuk bahuku yang gugup. Huh,aku berusaha mengangguk meskipun untuk bernapas saja susah.

Tiffany berjalan kearahku dengan perasaan yang sama denganku,tak karuan. Aku sama sekali tidak ingin memandang Tiffany,karena akan mengingatkanku lagi pada kejadian tadi malam.

“Donghae,kau gugup?”tanyanya saat aku berusaha untuk membuang semua rasa gugupku. Ia juga memandang kearah tamu-tamu yang kian lama semakin banyak.

“Kuharap,kau tidak usah memikirkan kejadian tadi malam.”sahutnya dan ia mengenggam tanganku. Aku berusaha meliriknya.

“Aku sama sekali tidak mengingatnya.”jawabku.

“Syukurlah. Aku harap Yoona juga bisa mendapatkan namja seperti kau diluar sana. Oh ya,aku sudah mengundangnya dan kuharap dia datang.”

“Kuharap juga begitu.”ujarku kemudian menatap jendela lagi. Tiffany melepaskan genggamannya dan meninggalkanku yang masih tidak ingin turun menemui tamu-tamu undangan itu.

Aku berjalan membelakangi jendela dan kuhelakan nafasku sekali lagi. Kali ini aku siap,apapun resikonya. Aku akan menikah,dan itu yang akan terjadi pada setiap namja yang sudah dewasa seperti aku. Dengan siapa aku akan menikah,yang penting aku akan membuatnya bahagia. Meskipun dengan orang yang tidak kucintai sekalipun. Walaupun dengan berat hati,aku tetap akan menikahinya. Karena itu janji dari gadis yang kucintai.

Aku bimbang dengan pernikahan yang akan kujalani ini. Im Yoona,kuharap kau hadir melihatku sekali saja.

*end of Donghae’s side*

Hai Donghae,kuharap kau bahagia bersama Tiffany.

Jujur saja aku ingin menangis dan ingin menghentikan pernikahan itu.

Tapi itu mustahil.

Aku tidak bisa menolak keinginanku sendiri.

Maaf aku tidak bisa hadir ke acara pernikahanmu.

Hari ini aku akan terbang ke Paris,meneruskan cita-citaku

Mungkin 5 tahun lagi aku akan kembali,Membawa suami dan anak-anakku

Dan kuharap aku bisa melihat keluargamu yang bahagia

Jangan memikirkan aku

Aku selalu ada disisimu dan kau juga

Aku ingin Tiffany bahagia,tolong bahagiakan dia,Donghae-ssi.

Semoga pernikahan kalian abadi selamanya.

Im Yoona.

15 Comments (+add yours?)

  1. KyuHaeHyukMin_No
    Dec 01, 2011 @ 17:06:50

    Aish ……..
    kok sad ending yak ….
    pdhal lagee seneng”nya sma YoonHae couple ………………..
    jdi bneran nich mreka ptus n’ mnjalani hdup msing” ………..

    Reply

  2. Kim lily
    Dec 01, 2011 @ 18:07:12

    Waah…sad ending..tp xeren!cara penulisanya enax buat di baca n d pahami..menurut q yg slah di sini donghae,..coz dari awal dy cuma manfaatin fany buat mancing reaxsinya yoona..tp axhrnya dy g bisa lepas..harusny dy terus terang dari awal..yach,axibatnya dy yg nanggung sndri…buat sequelnya dong cingu..xhusus buat yoona yg d xtemuin ma cinta yg baru biar yoona g sedih teruz,tp tetep d bumbui ma persaingan cinta,truz cowny agax tengil tp romantis gitu#plak….pengenya yg jd coupleny yoona si abang xuda#plak..plak..!maxlum demen banget siyoong ato yoongwon couple!

    Reply

  3. haeyoung
    Dec 01, 2011 @ 19:10:29

    Aihh nyesek banget akhirannya. Kesian dongenya 😦 author ffnya bagus 🙂

    Reply

  4. mrs.cho
    Dec 01, 2011 @ 19:57:30

    aigooo endingnya nyesekkk ;(

    Reply

  5. Kyusurh3
    Dec 01, 2011 @ 20:49:25

    Wah…
    Di sini yoona baik bangett.
    Ngerelain org yg di cintai bwt shabatnya sendiri.
    Jarang nie da org kyk gni.

    Reply

  6. mochichi
    Dec 01, 2011 @ 22:21:06

    ff-nya DAEBAK!
    wahhh, cma sad end.
    nice ff

    Reply

  7. Park Yejin
    Dec 02, 2011 @ 08:19:06

    sad ending T.T

    Reply

  8. Icha Hyora
    Dec 02, 2011 @ 14:27:21

    Huwaaaa 😥
    Feel nya dapet banget thor..

    Kenapa sad ending si?

    Reply

  9. Super Senior
    Dec 02, 2011 @ 15:07:40

    feelnya dpet bnget,author..
    nyesek bnget bacanya,tapi suka..
    kata2nya enak buat dibaca..
    nice ff..

    Reply

  10. Mischa Jung
    Dec 03, 2011 @ 11:47:55

    Yaahhh…sad ending…
    Tiffany agak egois jg…yoona baik bgt….
    Pdhl aku lg demen yoonhae couple..

    Reply

  11. shofi mutsaqofah
    Dec 03, 2011 @ 17:10:24

    huaaaaaaa sedih banget ceritanya 😥 aku terharu banget bacanya dan salut sama sifatnya yoona 🙂
    daebak thor ^.^

    Reply

  12. celin
    Dec 03, 2011 @ 18:23:45

    sad ending…. 🙂

    Reply

  13. Flo
    Dec 03, 2011 @ 23:09:47

    huhuhu….
    kasihan yoona…
    nyesek bgt rasanya, berasa merasakan yg yoona rasakan
    setuju banget klo dibikin sequelnya….
    yoona dapat cinta yg baru n’ sukses dengan kariernya hbis lulus…
    plis..plis… dibikin yah sequelnya….

    Reply

  14. Lethi
    Dec 03, 2011 @ 23:57:54

    sad ending, pengen nangis author T.T

    Reply

  15. kang hye sun
    Dec 10, 2011 @ 21:00:34

    .bagiku cerita nya masih ngegantung..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: