Our Imperfect Fairytale

Judul : [ONE-SHOT] Our Imperfect Fairytale

Author : summersea-pearl

Cast : Song Yun (FC), Lee DongHae, Lee HyukJae

Genre :  Romance, Angst

Rating : PG-15

 

——————————————————-

 

 

 

Apa yang kau pikirkan ? Apa yang kaurasakan ? Entah bagaimana, aku merasa tidak mampu untuk membacanya, bahkan setelah kutatap dalam-dalam sepasang mata indahmu itu.

 

Atau, mungkin, hanya mungkin, aku tidak mau membaca apa yang kau pikirkan karena aku tahu hal itu hanya akan menyakiti hatiku lebih dalam lagi.

 

——————————————————-

 

Bersandarlah padaku, keluarkanlah airmatamu disisiku, dan hempaskanlah semua beban didadamu itu denganku. Aku akan menangis bersamamu, dan bahkan apabila aku tidak mampu memberimu solusi yang kauinginkan, aku dapat berjanji kalau kau takkan menghadapi semua ini seorang diri.

 

Dan…. Maaf…. Maafkan aku telah menyakitimu dan mengecewakanmu. Kau adalah lelaki paling hebat yang pernah kutemui. Kau memang pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih hebat dariku.

 

——————————————————-

 

“Yun ? Yeobo-yah…”

“Apa ?” Jawabnya setengah terpaksa karena ia harus terbangun dari lamunan nyenyaknya.

“Aku telah memanggil namamu lebih dari empat kali. Sepertinya kata kunci supaya suaraku didengar olehmu adalah, ‘yeobo’ ya.” Canda si lelaki seraya menyapu poni cokelat tuanya untuk tidak menghalangi pandangannya.

“Tidak, aku memikirkan banyak hal sekarang.”

“Apa itu ? Ceritakanlah padaku. Apa yang sedang mengganggumu ?” DongHae mengecup lembut dahi Yun, sebagai usahanya untuk menenangkan wanita keras kepala itu. Dan mungkin, berharap agar ia bisa lebih percaya padanya, setidaknya cukup percaya untuk memberitahunya tentang masalah-masalah di kehidupannya.

“Entahlah. Tebak.” Ucapnya girang, senyum merekah di wajah cerianya sebelum membalas ciuman DongHae, namun kali ini di bibirnya.

DongHae sedikit kecewa dengan jawabannya, karena jawaban itulah yang selalu ia dapatkan setiap ia menanyakan pertanyaan tersebut. Walaupun begitu yang sebenarnya ia rasakan, namun hei, ia juga laki-laki, ia menyukai kecupan yang Yun berikan padanya. Tepat ketika kekasihnya akan menarik bibirnya, DongHae menahan bagian belakang kepalanya agar ia dapat menikmati kecupannya lebih lama lagi. Gadis itu hanya tergelak pelan dalam sesi ciuman mereka, tentu saja, membuat DongHae juga tersenyum samar.

“Hihihi, kau ini. Niatku kan hanya memberimu kecupan barang 1-2 detik. Aku tidak menyangka kau senakal itu.” Ucap Yun seakan-akan ia membenci reaksi lelaki itu dengan memukul pelan lengannya.

“Jadi apa masalahmu ? Biar kutebak.” Ujar DongHae seraya membetulkan posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Yun, kakinya dilipat menyilang, serta tangannya terletak di kedua belah pahanya seperti sedang melakukan meditasi.

“Baik. Silahkan tebak.” Yun tersenyum, menyesuaikan posisi duduknya juga.

“Soal ayahmu ?”

“Bukan.”

“Soal keuanganmu ?”

“Aku selalu memiliki masalah itu, tapi bukan itu yang kumaksud.”

DongHae melenguh, “Sudah berapa kali kukatakan, kalau kau ada kesulitan finansial, kau hanya perlu memijit tombol ‘1’ di telepon genggammu, dan dalam beberapa menit, di ATMmu akan tertransfer sejumlah uang.” Usulnya sambil mengacak-acak rambut Yun perlahan.

“Sudahlah. Kau tahu aku tidak suka bergantung pada orang lain dalam aspek itu. Lanjutkan menebak !”

“Eum… Kalau begitu….. Soal kakakmu ?”

“Memang kakakku kenapa ?”

“Aku tidak tahu. Tapi tidak menutup kemungkinan adanya masalah dengan kakakmu bukan ?”

“Betul. Tapi bukan itu juga.”

“Aduuuuh…. Aku kehabisan tebakan ! Tak bisakah kau memberitahuku yang sebenarnya saja ?”

“Kalau kau kehabisan tebakan, aku juga kehabisan kata-kata untuk menjawab. Aku perlu bersiap-siap untuk ke tempat kerjaku. Minggir, oppa !” Serunya dan beranjak dari sofa empuknya..

“Sekarang kan hari Kamis, ini hari liburmu bukan ?” Tanyanya.

“Ehhh— soal itu. Kau kehabisan tebakan sih, jadi aku sudah tidak mood berbicara denganmu lagi.” Kata Yun dan memalingkan pandangannya.

“Aaaaaaa~~ jangan pergiiiii~~” Desah DongHae dengan manja, tangannya melingkar disekeliling pinggang Yun.

“Lepaskan akuuuu~~”

“Tidak mauuuu~~~”

“Kau ini kekanak-kanakkan sekali sih, oppa.” Balas Yun lagi seraya mengelus pipi DongHae penuh cinta.

“Dan kau mengatakan bahwa kau sebaliknya ?” DongHae menatap jauh kedalam lapisan terdalam matanya. Mencoba menerka apa yang menyebabkan matanya terlihat begitu sendu.

“Kita memang ditakdirkan untuk bersama ya sepertinya. Aku untukmu, dan kau untukku.” Jawabnya lagi, mendapatkan ciuman di atas kepalanya, merasakan bibir lembutnya dari balik ketebalan rambut hitam bergelombangnya. Dan walaupun ia mengerti ini tidak akan menjadi kali terakhir mereka bertemu satu sama lain, namun ia tidak mau membiarkan bibirnya terlepas dari kulitnya.

“Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaanmu ?”

“Hm-hmm, p-pekerjaanku baik baik saja.” Kini posisi mereka berganti dengan berpelukan. Kepala Yun tersandar di dada bidang DongHae, otot-otot kuatnya dapat ia rasakan dari balik jas dan kaos hitam yang ia kenakan sekarang.

“Kalau begitu, apa ini ada hubungannya denganku ?”

“… Tidak. Kau masih sesempurna biasanya.”

“Benarkah ?” Senyum bahagia tersirat di bibir tipisnya, pelukannya mengerat disekeliling pinggang Yun.

“Tentu saja. Aku amat bersyukur memilikimu dihidupku.”

“Mengapa aku merasakan kehadiran kata ‘tapi’ ya di akhir kalimatmu ?” Sebut DongHae dengan teliti.

Yun terkekeh licik, “Tapi…. Kau kekanak-kanakkan, egois, manja, posesif, kadang terlalu cuek, dan tidak menghargai orang lain.”

DongHae memutar bolamatanya, “Tentu saja, tidak ada orang yang sempurna. Kalau aku bisa menghapus sifat-sifatku itu, aku akan menjadi sempurna. Nanti Tuhan bisa marah padaku.” Candanya.

“Bodoh, Tuhan tidak untuk dijadikan bahan candaan.” Jawab Yun.

“Maaf. Kalau begitu…. Kau sedang mencintai orang lainkah ?”

“Bodoh. Apa mungkin aku mencintai orang lain selain laki-laki sempurna yang ada di depanku ini ?”

“Tidak menutup kemungkinan kan ?”

“Memangnya ada ‘kemungkinan’ ? Semua ‘kemungkinan’ telah tertutup rapat didetik kau berjalan pelan menuju kehidupanku.” Ujar Yun sebal.

“Baiklah. Aku senang mendengarnya. Kemanapun kau pergi, kau harus terus mengingat arti cincin di jari manismu ini ya.”

“Iya, iya, kau adalah tunanganku. Bisakah kau berhenti mengatakan kalimat itu setiap kita akan berpisah ?” Balas Yun, pura-pura muak.

“Iya, dengan cincin ini, tandanya kau telah menjadi batas wilayahku. Dan tidak ada seorangpun yang bisa memilikimu selain aku.”

“Baiklah, oppa… Kau sekarang seharusnya bergegas ke bandara bukan ?” Tanya wanita itu dengan wajah tak berdosa. Seketika, DongHae menoleh ke arah jam dinding di arah jam tiganya, matanyapun terbelalak. “Yeobo-yaaaahhhh !!!! Aku telah terlambat setengah jam ! Pasti HanKyung-hyung akan mendampratku habis-habisan ! Apa yang harus kulakukan !?” Ucapnya panik.

“Yang jelas, hanya duduk disini samasekali tidak akan membantumu.” Ucap Yun sarkastis.

“Baik. Aku akan berangkat sekarang.” DongHae berdiri, masih menatap mata Yun penuh sayang.

“Haruskah ?”

“Sayangnya aku harus. Aku akan merindukanmu. Aku akan sangat merindukanmu. Sampai jumpa delapan bulan kedepan.” Ucapnya. Sekarang wajahnya berubah murung, lidahnya kaku menahan tangis yang sudah diujung ekor matanya.

“Ciuman perpisahan ? Tidakkah aku pantas mendapatkannya ?” Kesal Yun, mencoba untuk mempermudah suasana. Walaupun usahanya bisa dibilang gagal sejak suaranya pecah menahan airmata yang akan jatuh.

“Tentu saja, maafkan aku.” Tanpa ba bi bu, bibirnya menyambut bibir penuh Yun dengan lembut namun, keduanya mengerti bahwa masing-masing dari mereka tidak menginginkan perpisahan terjadi. Sakit memang, namun apa yang dapat mereka berdua lakukan ? Mereka hanyalah dua orang yang dengan bodohnya jatuh cinta dengan satu sama lain tanpa memandang konsekuensi yang ada apabila mereka memandang serius perasaan mereka.

Kecemburuan, kesepian, dan kesendirian akan selalu menyelimuti hati mereka selama mereka berada dalam komitmen mereka ini. Dan yang lebih menyakitkan adalah, fakta bahwa tidak ada yang dapat mereka lakukan mengenai hal ini.

“Baiklah, apabila kau terus menciumku. Kau tidak akan berangkat-berangkat, oppa. Hati-hati ya disana, jangan jatuh cinta pada wanita lain, makan dengan teratur, jangan menggunakan tubuhmu secara berlebihan, jangan tidur terlalu malam, dan…. Aku sangat, sangat mencintaimu… Kau harus tahu itu.” Katanya dengan airmata yang akhirnya menetes dari kedua matanya, meluluhlantakkan DongHae dari dinding pertahanannya yang ia kira sekarang cukup kuat untuk melihat seorang perempuan yang menangis. Terlebih lagi apabila itu adalah wanita yang amat dicintainya.

“Jangan menangis, kau tahu aku benci melihatmu menangis.” Jari DongHae dengan lembut menyapu airmatanya dan mengecup pipinya untuk yang terakhir kalinya.

“Bodoh ! Ini debu ! Pergi sekarang ! Teman-temanmu menunggu ! Fans China menunggu ! Pergi sekarang !!” Seru Yun membanting pintu di wajahnya.

“Yun-ah…” Panggilnya pelan dari belakang pintu.

“Ce–cepat pulang.” Hanya dua kata itu yang bisa DongHae dengar dari luar, selain dari isakan dan suara lolongan tangis.

“Maaf…. A-aku… Mencintaimu, sangat sangat mencintaimu.” Jawabnya sedih, sebelum ia melangkah mendekati Audi A5 putihnya yang terparkir rapi didepan rumah Yun.

Semakin ia mencoba membendung airmatanya, semakin banyak yang menetes jatuh, membentuk genangan kecil di lantai keramiknya.

 

——————————————————-

 

“Aku kemarin satu pesawat dengan Super Junior M !! Bisakah kaubayangkan !? Sekarang postingan blogku mencapai lebih dari 10.000 pengunjung hanya karena satu post foto-foto mereka ! Satu pesawat dengan idolaku sendiri ! Aku merasa seperti di alam mimpi !”

KALAU aku mau membuat blog, aku akan mempost semua foto-foto ciumanku dengan DongHae, dan dalam hitungan beberapa detik akan tersebar ke seluruh dunia !

“Oh ya ? Bagaimana ?! Apa kau melihat DongHae !? Kau tahu aku suka sekali dengannya ! Apa ia tampan ?”

Cih, tentu saja ia tampan ! Memang kaupikir aku akan mau dengannya kalau ia tidak tampan !? Well, walaupun ia memiliki banyak kualitas lain, selain dari segi fisik. Dia baik, lembut, penyabar, pengertian– oke, aku bisa berbicara lebih dari 72jam apabila menyangkut topik kehebatan DongHae.

“Tentu saja ! DongHae sangat tampan, ia bagaikan malaikat !”

Tentu saja, kekasihku memang malaikat yang jatuh dari surga untuk menemaniku seumur hidupku !

 

Apa tidak sebaiknya aku meneleponnya saja ? Memastikan ia selamat sampai asramanya ? Apa tidak ? Kalau begitu, aku akan terkesan menungguinya setiap siang dan malam. Ini tidak baik untuk egoku. Ia akan kegirangan kalau ia tahu aku menungguinya setiap hari. Lagipula, ia selalu menghubungiku dua hari sekali. Jadi seharusnya aku tdak sekangen ini padanya. Namun…. Aku merindukannyaaaa~~ sangat sangat merindukannya ! Ini bukan salahku kan kalau ia merupakan orang yang ngangenin ?

Baik, yang terbaik adalah..

Tidak. Aku tidak akan meneleponnya sebelum ia meneleponku duluan.

…….

…….

…….

“Yeobosaeyo ?” Ucap suara mengantuk disana.

“Oppa ? A-apa benar kau sudah pulang dari China ?” Ucapku gugup, setelah menelan egoku bulat-bulat dengan menanyakan pertanyaan bodoh itu padanya.

“Iya, apa kau begitu merindukanku sehingga kau memantau seluruh kegiatan SJM ku ?” Ucapnya setengah mendesah, yang kukenali sebagai suara setengah tidurnya.

“Ya sudah, tidur lagi saja kau. Annyeong~.”

“Aku bercanda ! Aku juga merindukanmu ! Aku sangat-sangat merindukanmu ! Apa kabarmu ? Apa aku diundang kerumahmu siang ini ?” Ucapnya dengan suara yang 100% sadar.

“Hihihi, apa kau perlu undangan ? Kau memiliki kunci rumahku dan kunci hatiku, kau akan disambut kapanpun kau datang.” Aku tersenyum membayangkan sosoknya yang kira-kira lima jam kedepan akan membuka pintu depanku dengan wajah gugup.

“Arasseo. Tunggu aku disana ya.”

“Baiklah, aku akan memasakkanmu makanan yang enak. Hari ini kan hari spesial kita.”

“Iya, pertama kalinya bertemu setelah lebih dari delapan bulan.”

Jantungku berdebar tak karuan, setelah sekian lama, aku masih diberi kesempatan untuk menemuinya, laki-laki yang kucintai dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Entah apa dari dirinya yang membuatku segila ini padanya, yang jelas aku sama sekali tidak mengerti apa yang kurasakan ini cinta, atau mungkin kata ‘cinta’ itu sendiripun tidak cukup untuk membendung luapan perasaanku pada lelaki mempesona itu.

 

——————————————————-

 

“Song Yun ! Buka pintunya.” Ucap suara lembut dari luar.

“Oppa… Apa yang kau lakukan disini !?”

“Ini… Dia… Apa tidak sebaiknya kau mengurusnya ? Aku tidak tega untuk membuangnya.”

“A-apa ? Tidak, aku tidak mencintaimu ! Aku hanya mencintai DongHae oppa, sekarang kau sebaiknya menjauh dari kehidupanku ! Aku hanya melihat masa depanku dengan DongHae oppa ! Tidak denganmu !”

“Lihat dia ! Aku tahu kau mencintai DongHae ! Tapi, apa benar kau setega ini ?”

“A-aku… Aku… Ya. Eh….” Yun kehabisan kata-kata untuk menjawab laki-laki didepannya ini.

“Kalau begitu, baiklah. Aku akan membesarkannya seorang diri, malam itu merupakan sebuah kesalahan, namun aku tidak mau ada satu korban lagi. DongHae sudah cukup dijadikan korban.”

“B-biarkan aku berpikir dulu.” Bisikku pelan dan menutup pintu depan perlahan-lahan.

 

——————————————————-

 

“Yun-ah, makanlah yang banyak. Kau terlihat kurus kering, kau tahu ?” Ujar DongHae perhatian.

“Tidak, hari ini adalah harimu. Kau yang harus makan banyak. Nikmati hari ini, bersenang-senanglah. Aku akan melakukan apapun yang kauminta.” Ucap Yun lagi, mengistirahatkan ujung dagunya diatas permukaan tangannya, senyum bahagianya tak pernah pudar.

DongHae menatap tajam kearahnya, dengan sinaran mata paling seriusnya, ia mengelus pipi kiri Yun dengan sentuhan yang seakan tidak mau menghancurkannya. “Apa yang terjadi denganmu selama aku tidak ada ?” Ucapnya, mencoba untuk tidak terdengar curiga.

“Apa ? Y-ya, semuanya berjalan normal. Kecuali berubahnya fakta bahwa aku tidak lagi memiliki orang yang dapat kujadikan tempat bersandar. Waeyo oppa ?” Tanyanya balik.

DongHae terdiam sebentar dan kembali memakan makanannya, yang berbeda hanyalah ia kini tidak berbicara sepatah kata apapun dan atmosfer di ruangan itu terasa lebih tegang dan suram dari yang sebelumnya ceria.

“Kau tahu mengapa aku menanyakan hal itu ?”

Yun hanya menggelengkan kepalanya pasrah, karena memang ia tidak mengerti jalan pikiran kekasihnya itu, orang yang ia pikir sangat ia kenal.

“Aku tau perbedaan pada kilauan matamu. Aku selalu tahu kapanpun kau memiliki masalah, dan aku juga tahu kalau kau baru saja berbohong padaku. Kau sedang ada beban pikiran bukan ? Ayolah, ceritakan semuanya padaku. Apa gunanya kau punya aku kalau tidak untuk memberimu keamanan ?” Ucapnya sehalus mungkin, meski hatinya merasa perih.

“Tidak. Kau salah. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kaukhawatirkan.” Tangis Yun seketika disinggung tentang masalahnya.

“Aish, jinjja. Kemarilah, aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan hal yang tidak ingin kauceritakan. Kau tidak perlu menangis begini.” Kata DongHae seraya menarik kepala Yun kedalam pelukannya.

“Jangan menangis ya ? Ayo, berhentilah.” Ia membelai setiap helai rambut Yun dengan tulus.

“Ini bukan salahmu.” Ia berucap, DongHae terdiam menunggu Yun menyelesaikan kata-katanya.

“Kau samasekali tidak salah untuk ingin mengetahui masalahku. Sejujurnya, aku ingin kau mengerti seluk beluk hidupku, hanya…”

“Hanya ?”

“Hanya saja, aku belum siap untuk memberitahumu sekarang ini.” Katanya diantara isak tangisnya.

“Hei, hei, beritahu aku satu hal…”

Yun mendongakkan kepalanya keatas sebagai respon.

“Apa kau mencintaiku ?” Tanyanya.

“Tentu saja ! Aku sangat mencintaimu !” Serunya yakin.

Mengecup dahinya, DongHae berkata, “Untuk sekarang, hanya itu yang Ingin kuketahui.”

 

——————————————————-

 

“Baik. Aku akan menjaganya. Tapi, tak bisakah kita menunggu untuk memberitahu DongHae tentang hal ini ? Aku mencintainya, dan aku ingin ia mengerti keadaanku.”

Apa maksudnya ?

“Ya, dia memang pantas tahu. Kenapa kau tidak memberitahunya barusan ? Ia bukan baru saja kembali dari sini ?”

“A-aku tidak siap memberitahunya. Aku telah berbuat sangat jahat padanya, sangat tidak sepadan dengannya yang tak melakukan hal lain selain berbuat baik padaku dan mewarnai hidupku.”

Apa yang ia katakan ? Apa yang telah ia perbuat memangnya ? Dengan siapa ia berbicara.

Namun mengabaikan berontakan pikiran-pikirannya, ia lanjutkan mencuri dengar percakapan yang sedang berlangsung didalam. Selang beberapa detik kemudian, suara tangis terdengar.

“A-aku tidak mampu memberitahunya ! Aku tidak bisa membuatnya menangis ! Walau aku tahu ia memang perlu mengetahui ini, tak bisakah kau saja yang memberitahu DongHae oppa ? Aku sudah tidak sanggup lagi, oppa…”

Suara tangis Yun membuat telinganya sakit, seperti mendengar gelas pecah dan mendengarkan setiap serpihannya-serpihannya terbentur, pecah hingga membentuk ribuan kepingan-kepingan kecil. Suara tangis kembali terdengar, namun kini, suara itu lebih mirip suara….

Bayi ?

Tak pikir dua kali, ia membuka pintu dengan satu putaran kecil. Menunjukkan wajahnya dari belakang pintu.

“Oppa… S-sudah berapa lama kau–.”

“HyukJae ?” Ucap DongHae pelan.

“DongHae…”

“Ini ?” DongHae tergugup, menunjuk ke arah bayi perempuan yang tergeletak di sofa ruang tamu Yun. Yun dan EunHyuk tidak mampu berkata apa-apa. Siapa yang akan menyangka bahwa DongHae telah berdiri diluar, mendengarkan percakapan mereka daritadi ?

DongHae mendekat kearah bayi tersebut, menariknya kedalam genggaman lengannya, menggendongnya dengan kikuk. Tapi berangsur-angsur menyesuaikan dan dalam hitungan waktu tiga puluh detik, ia sudah terlihat seperti ayah natural dengan kemampuan merawat anak yang sangat ahli. Mengecup pipi bayi tersebut dengan senyum terurai di bibirnya, si bayi juga sudah berhenti menangis, melainkan ia tertawa geli melihat ekspresi lucu DongHae yang menggendongnya dengan sayang.

“Sepertinya dia bosan barusan, apa tak sebaiknya kau beri ia makan dulu Yun-ah ? Ia juga kelihatannya tidak suka melihat ibunya menangis.” Senyum DongHae kearah Yun yang berlinangan airmata dipipinya.

“Seperti aku. Aku juga tidak suka melihatmu menangis.” Iapun mencium kening Yun seraya berjalan kearah pintu depan.

“Ah, kami akan meninggalkanmu sebentar. Hyukkie, ikut aku.”

 

——————————————————-

 

“Itu anak kalian berdua ?” Mulai DongHae dan meneguk jus jeruk ditangannya.

“Ya.”

“Sejak kapan ?”

“Kurang lebih, setahun yang lalu. Entahlah, kau berada di China untuk waktu yang lumayan lama.”

“Apa yang terjadi ?”

EunHyuk tertawa kecil, “Kau mau dengar versi aslinya atau versi yang telah kita rencanakan untuk diberitahu padamu ?”

“Pertanyaan macam apa itu ? Tentu saja versi aslinya ! Dasar konyol.” DongHae meneguk lagi jusnya.

“Aku mencintainya. Mungkin sejak kalian belum mulai berpacaran.”

DongHae terdiam, menungguinya selesai berbicara. “Yah, siapa yang tahu kalau yang akan ia cintai adalah kau dan bukan aku ? Sepertinya, malam itu aku sedikit tak terkontrol. Sehingga…”

“Aku mengerti. Kau tidak perlu menjelaskannya sedetil itu.”

“Baiklah. A-aku hanya Ingin kau tahu bahwa aku tidak perlu menikahi Yun, kau bisa menikahinya dan membesarkan anak kami. Sepertinya ia malah lebih menyukaimu daripada aku.”

“Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu ?”

“Hei ! Jangan salahkan aku ! Apa kau tidak melihat caranya menyambutmu barusan ? Itu 5x lebih ramah dari caranya menyambutku biasanya !”

Kedua lelaki itupun tertawa, mulai bercanda lagi hingga topik berubah serius. “Siapa namanya ?”

“Aku belum tahu… Kami samasekali tidak memikirkannya. Yang kita pikirkan sekarang hanyalah bagaimana untuk memberitahumu.”

“Sekarang kan aku sudah tahu ! Berilah ia nama ! Pasti ia sedih sekali tidak diberi nama. Ayo kita kedalam.” Ajak DongHae.

 

Seketika mereka membuka pintu, pemandangan Yun yang sedang memberikan ASI masuk ke pandangan mereka. Wajah DongHae sekejap berubah merah, tampangnya menunjukkan bahwa ia akan melakukan apapun untuk melarikan diri dari tempat itu,

“Oh, mungkin kita bisa masuk nanti saja.” Ucap DongHae mendadak berubah pikiran, setengah mendorong EunHyuk keluar juga.

“Sudahlah, toh kalian sudah melihatnya ini.” Sela Yun.

“Hei ! Kapan aku pernah melihatnya !?” Seru DongHae jelas lupa bagaimana ia pernah melihatnya, karena kalau memang pernah, pasti ia akan mengingatnya.

“Waktu aku selesai mandi ?! Entah bagaimana, kau tiba-tiba berada di kamarku ! Bisa-bisanya kau melupakan itu.” Ucap Yun menenang di akhir kalimatnya, dan memfokuskan diri ke aktivitas sebelumnya.

DongHae mendekat, duduk disebelah Yun, menatap kearah manusia baru yang berada di genggaman Yun dengan mata berkilauan, airmata menggenang, entah karena sayang, bahagia atau sakit.

“Lee HwaYoung.” Kata DongHae mendadak, mengagetkan semua orang di ruangan.

“Kecantikan yang abadi ?” Tanya EunHyuk.

DongHae mengangguk pelan. Yun tersenyum, “Nama yang cantik.”

 

——————————————————-

 

“Yun-ah, bisakah aku meminta satu permintaan padamu ?”

“Apapun, oppa. Apapun untukmu.”

“Menikahlah dengan Hyukkie.”

“Tidak.”

“Kumohon ?”

“Tidak.”

“Ayolah, untukku ?”

“Tidak. Sekalipun kau mau bersujud dihadapanku memohon-mohon dengan airmata diwajahmu, aku tidak akan pernah menyetujuinya.”

“Kenapa ?”

“Hanya… Apa kau harus menanyakan alasanku ? Kuyakin kau sudah mengetahuinya dengan sangat jelas. Aku melihat masa depanku hanya denganmu. Bukan dia.”

“HwaYoung akan memiliki masa depan yang Indah apabila ia memiliki ayah dan ibunya.”

“Kau bisa menjadi ayahnya, oppa.”

“Tentu. Aku tahu, tapi apa tidak lebih baik ia mengetahui siapa ayah kandungnya ?”

“Aku mengerti… Tapi, aku tidak mencintai EunHyuk oppa. Setidaknya tidak sebesar cintaku padamu, oppa.”

“Tapi kau mencintainya kan ?”

“Sebatas teman. Dan itu final. Tidak ada lagi yang bisa dikembangkan diantara kita.”

“Belajarlah untuk mencintainya. Tidak ada yang tidak mungkin. Lagipula… Menikahinya adalah penyelesaian yang terbaik bagi kalian semua. Kalian bertiga.” Ucap DongHae lembut, mengelus-elus permukaan tangan Yun.

“Tapi kau ? Bagaimana denganmu ? Kau pantas juga mendapatkan akhir yang bahagia.”

“Tidak seperti ini.” Sela DongHae tegas.

“Tidak, kita berempat akan menemukan akhir yang bahagia, tidak ada yang harus sedih disini. Ayolah oppa, berpikir.”

“Tidak. Kalian bertiga pantas bahagia. Kalian memiliki cinta yang lengkap dengan adanya HwaYoung.”

“Tentu, dengan ketidakhadiran rasa ‘cinta’ itu sendiri !” Tegasnya sarkastis.

“Yun ! Jangan kekanak-kanakkan ! Kau sudah dewasa, kau sudah punya anak, sudah saatnya kau memutuskan kebahagiaan yang tidak milikmu saja. Tapi milik bersama !” Bentak DongHae, seketika membuat Yun berlinangan airmata.

Yun terkekeh, “Sepertinya menyangkal fakta tidak mengubah kenyataan ya. Ini tetap akan menjadi yang terbaik, walau bagaimanapun juga. Aku berulang kali berkata bahwa pasti ada jalan lain selain ini, tapi, nyatanya, ini merupakan satu-satunya jalan.”

“Memang, memang ini satu-satunya jalan. Pahit atau manis, mau atau tidak mau, kau harus menerimanya dengan hati yang lapang.”

“Aku mencintaimu, oppa.”

“Aku juga.” Dengan itu, ia mengecup kening Yun, untuk yang terakhir kalinyakah ? Tidak ada yang tahu.

 

——————————————————-

 

Tibalah saat dimana mereka berkumpul, mendeklarasikan sebuah cinta di chapel kecil pada sisi kota. Hanya beberapa orang yang berkumpul disitu, perayaan inipun tidak diadakan secara besar-besaran. Namun bagi yang menghadirinya, acara ini sespektakuler acara yang diadakan di hotel bintang lima dengan makanan a la Eropa tersaji di setiap sudut ruangan, tebak saja, EunHyuk Super Junior akan menikahi wanita dari kalangan biasa.

Mereka semua bahagia, tidak dapat dipungkiri. Kebahagiaan mereka berbeda-beda, ada yang bangga karena akhirnya mereka berdua menikah, ada yang bernapas lega, ada yang memang murni bahagia dan senang atas pencapaian EunHyuk dan Yun.

Kalau ada satu orang yang sedih, itu hanyalah DongHae. Namun, kesedihan dalamnya samasekali tidak ia coba untuk perlihatkan. Ia tersenyum lebar di sisi sahabatnya, bagaimana ia bisa berada disisi EunHyuk ? Tentu saja, DongHae ia pilih sebagai The Groom’s Man, juga sebagai ayah baptis dari putri tercintanya.

Ia menelan airmatanya, tidak mengatakan satu patah katapun pada siapapun. Sakit, menyiksa ? Memang, namun ia sudah terbiasa. Ia terus diam dengan senyuman diwajahnya, sampai ia dengar kerumunan orang berbisik-bisik, “Dimana mempelai wanitanya ? Lama sekali.”

Ia cepat beraksi, ia berjalan menuruni altar, menuju pintu luar, seketika dibuka, ia menghadap ke kiri dan menemui sang mempelai wanita yang sedang menangis, punggungnya ia sandarkan pada dinding beton.

“Yun, apa yang sedang kaulakukan disini ? Cepat masuk, selesaikan ini. Aku sudah kelaparan sekali.”

Mendengar suara DongHae, Yun malah semakin keras mengisak. Cairan bening terus menerus berjatuhan membasahi pipinya dan gaun putihnya yang menyapu hingga ke rerumputan hijau dibawah sepatu hak 10cm berwarna pink pastel, seperti warna buket bunga yang ada di genggamannya.

“Kenapa ? Jangan seperti ini. Kau akan menghancurkan HyukJae kalau begini.” Jelas DongHae.

“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu ! Aku tidak bisa membayangkan seberapa sulit hidupku tanpamu. Dan aku tahu, kau juga pasti sangat mencintaiku kan ? Bahkan lebih dari rasaku padamu, aku tahu ! Kau lebih mementingkan kebaikanku dibandingkan kebaikanmu sendiri.”

“Betul.” Jawab DongHae singkat.

“Lantas ? Apa maksudmu melakukan ini semua padaku ? Pada kita ? Dengan yang kaulakukan sekarang, kau bukanlah menunjukkan cinta, namun hanya pengorbanan semata.” Tanyanya lagi tanpa memberi DongHae waktu untuk menjelaskan tujuannya.

“Aku mencintaimu, aku merelakanmu demi orang lain. Karena… Kau sudah kuanggap wanita paling hebat yang pernah ada, untuk wanita sehebat dirimu. Aku menginginkan seorang suami yang tepat untukmu, suami yang membutuhkanmu, suami yang akan menghargaimu, suami yang mencintaimu, suami yang akan melindungimu, suami yang akan memelihara anak-anakmu dengan cinta, suami yang setia padamu, yang memperlakukanmu bagaikan ratu. Setidaknya itulah standarku untuk memilih suami untukmu.” Jelas DongHae.

“Lalu… Mengapa kau memilihnya ? Kenapa kau tidak bercermin, melihat seberapa indahnya kau, dan memilih dirimu sendiri ?” Ucap Yun terbata-bata, lidahnya kelu, terhalang oleh airmata yang masih berjatuhan.

“Aku masih kekurangan dua hal. Aku tidak membutuhkanmu sebesar ia membutuhkanmu, dan yang kedua, aku bukan ayah dari anak-anakmu, setidaknya, aku bukan ayah dari putri pertamamu. Jagalah HwaYoung baik-baik. Hargailah dia seperti orang dewasa yang telah mengerti semuanya. Bukan sebagai anak kecil.” Jawab DongHae.

“Tentu, oppa. Aku mencintaimu, dan akan terus melakukan hal itu. Aku, aku tidak akan melupakanmu seumur hidupku. Kau akan tetap menjadi cinta seumur hidupku. Walau apabila pada akhirnya nanti aku memang harus mencintai EunHyuk oppa, aku akan 100x lebih mencintaimu.” Balas Yun seraya memeluk leher DongHae erat seakan ia tidak mau pernah melepaskannya.

“Tidak apa-apa, cinta bukanlah perasaan yang dapat dipaksakan. Aku juga mencintaimu. Sekarang masuklah, Hyukkie menunggumu didalam, kau tahu ia benci menunggu kan ?” Kata DongHae dengan nada menghibur sebelum mengelus rambutnya dan menghapus airmata Yun.

“Baiklah oppa, terimakasih telah membantuku hingga sejauh ini.”

“Sebentar, aku masuk dulu. Kau boleh masuk setelah aku masuk, oke ? Kau harus terlihat bahagia.”

 

Tak beberapa lama, DongHae membuka gagang pintu dan memunculkan wajahnya dengan senyum, berkata, “Mempelai wanitanya hanya gugup dan perlu memastikan beberapa hal saja. Pernikahannya jadi, kok.” Ucapnya bercanda, mengundang tawa dari para undangan, lalu melangkah pasti menuju altar.

HyukJae menatapnya, matanya mengucapkan ‘tidak terjadi apa-apa kan padanya’.

“Tenang saja, ia tidak apa-apa, seperti yang kukatakan, hanya gugup dan sedikit ragu. Itu saja.” Kata DongHae meyakinkan EunHyuk yang mulai panik.

“Kau… Benar-benar harus mencintainya, arasseo ? Dia adalah wanita yang hebat, wanita yang kucintai, terlebih lagi. Kau takkan kumaafkan apabila menyakitinya barang sehelai rambut saja.” Ancam DongHae.

EunHyuk meringis, namun menunjukkan senyum pada akhirnya, memeluk lelaki yang telah ia anggap adiknya sendiri sejenak, membisikkan pada telinganya “Terimakasih.”

 

Pintu depan perlahan terbuka, memunculkan heroin dari perayaan sakral ini. Senyum lebar terurai dibibirnya, tatapannya menatap lurus kearah calon suaminya. Sesampainya di ujung altar, ia menyapa calon suaminya, “Kau… Terlihat menawan.” Yun merapikan kerah tuxedo HyukJae dan menyapu debu di bajunya. DongHae memutar bolamatanya, ia tidak menyangka Yun akan melakukan dua aksi favoritnya terhadap HyukJae.

EunHyuk juga tidak menyangka kata-kata itu akhirnya akan keluar dari mulutnya, ia membalas dengan, “Kau wanita tercantik dengan atau tanpa gaun pengantin.” Ucap EunHyuk menempelkan bibirnya sekejap diatas bibir Yun. Perlakuan ini memberi satu lagi tusukan di hati DongHae, dimana ia sangka ia sudah siap melihat hal-hal ini didepan matanya.

 

 

 

 

“Aku mencintaimu sebesar ini, cukup untuk mengorbankan seluruh hidupku untukmu, melakukan semuanya untukmu, untuk memberikan cintaku, hatiku, jiwaku, dan nyawaku untukmu. Aku, Lee HyukJae akan meminang Song Yun, untuk kujadikan wanita, sahabat, sekaligus istriku seumur hidup. Aku berjanji akan mencintaimu cukup untuk mendengarkanmu, membimbingmu, memeluk dan menjadi seseorang yang dapat kaujadikan pegangan seumur hidupmu.”

 

“Dimana aku merasakan dingin, kau selalu ada untukku dan memberikanku kehangatan, ketika hidupku terasa gelap, kau menari masuk dan memberikanku cahaya. Aku, Song Yun, bersedia untuk menerima Lee HyukJae sebagai suamiku. Dengan ini, mari kita buat dua kehidupan menjadi satu, mari kita berjanji untuk saling menghormati dan menghargai pendapat satu sama lain.”

 

“You may now kiss the bride.” Ucap sang pendeta mempersilahkan. Tidak perlu menghitung berapa lama yang mereka butuhkan untuk mendekat, hal pertama yang DongHae lihat adalah wanita yang ia cintai berciuman dengan salah satu dari sahabat terdekatnya.

Cengkraman tajam dapat ia rasakan di dada sebelah kirinya, hingga akhirnya ia menyadari bahwa itu adalah telapak tangannya sendiri yang mengepal keras di dadanya, mencoba untuk mengalahkan rasa sakit dihatinya dengan rasa sakit fisik.

Namun apa daya ?

Kini ia sudah tidak bisa melakukan apa-apa walau ia sangat ingin menarik Yun jauh, pindah ke negara lain dan hidup dengannya serta memiliki happy ending seperti yang ia inginkan dari dulu. Namun, inilah jalan menyakitkan yang telah ia pilih, sudah terlambat baginya untuk mengubah segalanya.

Yang dapat ia lakukan sekarang hanyalah, ya, memalingkan wajah.

 

——————————————————-

 

Even if I regret, it’s too late- I can’t see you anymore

The tears of the shadows of my memories are watching over that place

 

31 Comments (+add yours?)

  1. mataharii
    Jan 18, 2012 @ 21:34:02

    ceritanya sedih.donghae pengorbananya sgt berat 😦

    Reply

  2. Aria kudo
    Jan 18, 2012 @ 21:37:35

    keren banget…

    Reply

  3. Phiet
    Jan 18, 2012 @ 21:57:22

    Daebakk!!
    Good story!
    Tp kasiha haeppa 😦

    Reply

  4. 143kyu_ulfa
    Jan 18, 2012 @ 22:05:43

    terharu T.T

    Reply

  5. shaaaaw
    Jan 18, 2012 @ 22:06:32

    Aaaaa thor knp sad ending sih? T^T

    Reply

  6. m1t _hyun
    Jan 18, 2012 @ 23:29:27

    proud to Haeppa….

    Reply

  7. Flo
    Jan 19, 2012 @ 01:53:49

    poor haeppa….
    berasa ngerasain apa yg haeppa rasain…
    bagus thor ceritanya, tp kasihan haeppanya T_T

    Reply

  8. cloudyeppa
    Jan 19, 2012 @ 05:12:17

    aigoo… kasian banget haeppa nya.. feelnya kerasa banget chingu..

    Reply

  9. amal
    Jan 19, 2012 @ 05:58:02

    kyaaa donghae.
    hae & hyuk suka sama tipe cewe yg sama ya???
    di WGM, mereka malah minta dpt cewe kembar. hahaha…
    1 buat hyuk, 1 buat hae. ckckck…

    Reply

  10. shim eunkyung
    Jan 19, 2012 @ 06:07:00

    Hiks
    Sedih banget. Tapi emang lebih baik nikah sama hyukkie,habis udah ‘itu’ sih

    Reply

  11. maviraaa
    Jan 19, 2012 @ 06:10:32

    Its saaaaaad ending for hae, and happy ending for hyukieeee huaaaaa T.T

    Reply

  12. elfebryani
    Jan 19, 2012 @ 10:09:20

    OMOOO HAEPPA hiks hiks TT_TT
    saluut bgt ama haeppa ngorbanin cewe yg dia cintai 😥
    huuaa authornya DAEBAK 🙂

    Reply

  13. Yopvie
    Jan 19, 2012 @ 12:18:57

    aigo~ hae oppaaaaaa…sama aku aja 😀

    Reply

  14. FishyEvil
    Jan 19, 2012 @ 13:12:53

    hwaaa!! kesian sma Hae oppa T_T

    Reply

  15. beky
    Jan 19, 2012 @ 13:44:33

    eunhyuk gila

    Reply

  16. kakkna
    Jan 19, 2012 @ 15:56:59

    so sweet 😀

    #sok banget gw na

    Reply

  17. heevitator
    Jan 19, 2012 @ 16:25:11

    Donghae nyaaaaa T.T
    feel nya dapet bgt thor! Udah nangis kalo gaada orang di dideketku wkwk

    Reply

  18. niqclif_1027
    Jan 20, 2012 @ 11:51:04

    Daebak…
    smpai bkin banjir kasur..hikss T_T
    tp knpe sad ending thor?? tpi whtever lah yg pnting DEBAK.. 🙂

    Reply

  19. han gi
    Jan 20, 2012 @ 21:11:10

    kerennnnn

    Reply

  20. han eun ji
    Jan 21, 2012 @ 22:03:41

    andeeeeeeeh donghae oppanya sad ending T_T

    Reply

  21. Ivana Hwang
    Jan 23, 2012 @ 12:33:31

    daebak! feel nya dapeeet banget thor 😀

    nice ff, johahaeee~ ❤

    Reply

  22. anakingusan
    Jan 24, 2012 @ 17:06:18

    kasian donghae..
    huhuhu..

    Reply

  23. KeNamGiL
    Jan 25, 2012 @ 17:28:43

    Worth to read 🙂

    Reply

  24. Tary_Kyu
    Jan 27, 2012 @ 02:42:43

    sedih banget nih ff,,, ahh oppa ada aku disini….

    Reply

  25. Nindia indriani
    Feb 02, 2012 @ 17:42:56

    Keren banget.
    Donghae kasian banget.

    Reply

  26. sophiemorore
    Feb 02, 2012 @ 17:51:50

    nangissss *ambil saputangan donghae*

    Reply

  27. arvina ELFishy
    Jul 29, 2012 @ 04:56:31

    kok haeppa g marah y wkt tau trnyt yeochingu ny pny anak dr laki2 lain? Kyny ada yg lost dr crita diatas dr tempo brhubungan sm hyukppa smp nglahirin anaknya.mian mnurutqu hrsnya dicritain cz aneh ja tb2 dah da bayi ja n haeppa liat itu smua mlh diem ja. Mian author klw trlalu jujur ^^,

    Reply

  28. ryeonggulove
    Jul 29, 2012 @ 06:36:39

    sedih bgt ceritanya… its so sweet, keep writing thor…

    Reply

  29. dindaPJJ
    Aug 06, 2012 @ 22:58:06

    hae oppa kasian 😦
    keren thor! ><

    Reply

  30. dindaPJJ
    Aug 06, 2012 @ 22:59:20

    daebak! ><

    Reply

  31. malumaluin
    Aug 07, 2012 @ 00:02:27

    demi bang yeye dan segala ke anehannya..sumpah ini sempurna..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: