BE MY YEOJA

BE MY YEOJA
Casts:

Note:
– PG-15
– Biar lebih afdol, baca dulu https://superjuniorff2010.wordpress.com/2012/01/07/our-wedding-2 (tapi gak baca juga gak pa – pa ^^)
***
Moni’s self

Kuhela nafasku, bersiap menghadapi hari ini. Kucek sekali lagi pakaian yang kupakai lalu keluar. Kuamati keadaan sekelilingku, setengah mati berharap semoga yang kuinginkan terjadi. Ternyata benar, semua tamu itu sudah punya pasangan sendiri – sendiri. Akhirnya, aku bisa istirahat juga malam ini.
Aku berjalan kearah bar ditengah lalu berdiri disamping bartender yang juga temanku, Kang Hyosim.
“Hyosim-i,” sapaku.
Ia menatapku, “Annyeong, Moni-ya. Aigoo.. Neomu yeppuh,”
Aku tersipu, “Gomawo, Hyosim-i. Kau juga cantik. Sepertinya malam ini aku bisa istirahat. Semua sudah punya pasangan,”
“Ne, kau benar. Aku juga lelah. Ternyata menjadi wanita panggilan tak seenak yang kurasakan,”
“Kalau saja bukan karena uang aku juga tak mau,” jawabku. Baru saja Hyosim mau membalas omonganku ketika meja bar dipukul oleh seseorang. Kami menatap orang itu dan aku menghela nafas seperti biasa. Namja ini lagi.
“Annyeong, Moni-ya, Hyosim-i,” sapanya.
“Annyeong, Daesan ssi. Mau pesan apa?” balas Hyosim ramah.
Ia tersenyum, “Seperti biasa,”
“Denganku juga, Oppa?” tanyaku, bersikap tak antusias. Demi menunjukkan aku malas bermain malam ini.
Ia menggeleng, “Ani. Ada temanku yang berulang tahun disini. Dia sudah menyiapkan semuanya, lengkap,”
Diam – diam aku bernafas lega. Asal kalian tahu badanku akan remuk semua kalau bermain dengan Kim Daesan itu. Kuulas sebuah senyuman, “Ya sudah, Oppa, bersenang – senanglah. Akan kulayani kalian semampuku,”
Baru saja aku menutup mulut, kulihat seorang namja mendekati Daesan sambil berkata, “Daesan-ah, pesankan aku juga,”
“Pesan aja sendiri,” jawab Daesan. Namja itu menatapku dan Hyosim. Ia tersenyum padaku dan nyaris memesan. Kenapa nyaris memesan? Karena aku tak tahu ia memesan apa, karena aku meleleh melihat senyumannya dan…

***
Kubuka perlahan mataku dan melenguh. Wajah pertama yang kulihat adalah raut muka Hyosim yang khawatir.
“Moni-ya, gwaenchanayo?” tanyanya.
Aku tersenyum kecil, “Gwaenchana,”
“Ada apa dengamu? Kenapa semalam kau pingsan?” tanyanya lagi, membuatku mengingat apa yang terjadi semalam. Semalam Daesan mendatangi bar dan ia memesan sesuatu. Setelah itu teman Daesan, seorang namja juga, datang. Namja itu menatapku, tersenyum padaku lalu… Aku pingsan.
“Apa kau kelelahan? Sepertinya kemarin kau tak dipesan siapapun,” kata Hyosim berspekulasi.
Aku tersenyum, berusaha bangun. “Sepertinya iya, Hyosim-i. Selain itu karena kemarin aku melihat senyuman yang membuatku meleleh,”
“Mwo?”
“Kau tahu kan siapa teman Daesan ssi yang kemarin mendatangi kita?” Hyosim menggeleng. Dasar memang Hyosim yang buta. Aku berdecak kesal, “Ya, Hyosim-i. Teman Daesan ssi itu Eunhyuk alias Lee Hyukjae, member Super Junior,”
“Mwo?! Benarkah?”
Aku mengangguk senang, “Kau kan tahu aku Jewel. Melihat langsung biasku ada disana, dengan senyumannya membuatku meleleh. Dan akhirnya pingsan,”
Hyosim tertawa, “Ya, karena kau terlalu gembira melihat Eunhyuk Oppa, kau mempermalukan dirimu sendiri dihadapannya,”
Aku merengut sebal. Benar juga apa yang dikatakannya, aku mempermalukan diriku sendiri.

***
Pagi ini lumayan dingin. Kueratkan mantelku lalu duduk disebuah kursi ditaman. Kukeluarkan sesuatu dari dalam tasku dan menatapnya, beberapa lembar uang. Kuhitung perlahan ketika tiba – tiba pandanganku menggelap.
“Ada apa ini?” batinku. Aku mendongak dan terkejut melihat sesosok namja yang ada dihadapanku. Eunhyuk Oppa?
“Omo, kau bisa mengenaliku bahkan saat aku menyamar seperti ini?” ujarnya tak percaya. Apakah aku menyuarakan pikiranku tadi?
Lalu saat aku tersadar lagi kulihat Eunhyuk sudah duduk disampingku. Aku benar – benar kaget sekaligus senang. Jantungku berdebar keras. Tuhan, apa ini mimpi? Aku bisa bertemu dengan biasku secara tidak sengaja seperti ini.
Kutatap Eunhyuk yang tengah merilekskan badannya. Ia mengenakan hoodie biru muda, training hitam dengan garis torquise dan sepatu keds putih. Capuchon jaketnya dipakai beserta kacamata hitam. Aku diam – diam tertawa. Penyamaran apa ini? Bahkan yang bukan ELF-pun akan mengenali namja ini sebagai Eunhyuk kalau dia hanya menyamar seperti ini.
“Ada apa menatapku seperti itu? Apa aku terlalu tampan?” katanya penuh dengan kepedeannya.
Aku tergagap, “Mwo? Ah ani, Eunhyuk ssi,”
Ia menghela nafas, “Ya, sudah kuduga semua yeoja yang kutemui akan berkata seperti itu. Ujungnya pasti ia akan berkata Donghae atau member lain lebih tampan dariku,”
Aku tertawa, “Ani, Eunhyuk ssi, kau tetap tertampan kok,” Langsung aku menutup mulutku. Ya, babo Moni, kelepasan berbicara.
Eunhyuk menatapku dengan mata berbinar, “Benarkah? Wow, baru kali ini ada yeoja yang berbicara seperti itu padaku,”
“Aigoo… Pasti banyak jewel yang berteriak mengatakan kau tampan, Eunhyuk ssi…”
“Oppa, panggil saja aku begitu. Kau bukan noona-ku kan? Lagipula kalau kau memanggilku Eunhyuk, identitasku akan terbongkar,”
Aku tersenyum, “Ne, Oppa. Pasti banyak jewel yang berteriak seperti itu kan? Banyak yeoja yang bilang kau tampan,”
“Ya ya ya, aku memang tampan kok,” ujarnya, narsis. Aku tertawa. Dasar namja aneh, tapi aku suka.
“Jadi, apa yang kau lakukan pagi begini? Di taman, sendirian lagi,” tanyanya, “Apa kau pingsan lagi?”
Pipiku bersemu, “Oppa, jangan mengungkit masalah itu lagi,” Aku malu sekali biasku mengungkit aibku, “Ani, aku mengambil shift yang lebih panjang,”
“Jadi uang yang kau pegang tadi tipsmu?”
Aku kaget, Eunhyuk melihatku membawa uang? Aku segera mengarang bebas, karena aku malu dan takut kalau aku ketahuan mendapatkan uang itu darimana, “Ne, uang bonus,”
Ia baru mau menyambung ketika aku berdiri, “Baiklah, Oppa, aku pergi dulu. Aku mau pulang. Annyeong higyeseyo,”
“Ah tapi…”
Aku berhenti dan menghadapnya lagi, “Oppa, kalau kau suka dengan minuman di bar kami dan ingin mencoba lagi, datang saja. Akan kulayani kau semampuku, arraseo? Gomawo, Oppa. Annyeong,”
Aku berjalan lagi meninggalkannya kala ia berseru, “Hei, neo nuguya?”
Aku tersenyum, “Oh Moni imnida,”
“Ne, Moni-ya, annyeong higaseyo. Akan kusempatkan datang ke bar mu,”

***
Eunhyuk menepati janjinya. Walau sudah lewat 3 hari sejak kami bertemu di taman itu, ia tetap datang ke bar.
“Annyeong, pelayan pribadiku,” sapanya ketika ia menghampiriku di bar.
“Annyeong, Oppa, mau pesan apa?”
“Bawakan aku terserah asal tak terlalu memabukkan,”
“Ne, tunggu sebentar,” kuambilkan pesanannya. Hyosim menghampiriku, “Kau kenal dengan Eunhyuk Oppa? Sebegitu dekatnya?”
Aku mengangguk, “Begitulah,” jawabku. Setelah minuman itu selesai, aku bergegas membawanya menuju meja Eunhyuk. Namun yang kulihat bukan Eunhyuk melainkan Daesan.
“Pesanan Eunhyuk ssi,” ujarku begitu meletakkan gelas diatas meja. Daesan tersenyum. Ia menarik wajahku mendekati wajahnya lalu mencium lembut bibirku.
“Ya, Oppa, kau tidak memesanku, jangan melakukan hal aneh – aneh padaku,” protesku.
“Mian, Moni-ya. Aku ingin memesanmu tapi yeojachingu-ku akan kemari. Jadi aku tak mungkin bersamamu,” jawabnya.
“Memesan? Memesan apa?” sela seseorang. Kami menoleh, ada Eunhyuk berdiri sambil membersihkan tangannya dengan tisu. Aku setengah mati berharap Eunhyuk tak mendengar percakapanku dengan Daesan tadi.
“Ani, Hyukie, kubilang aku ingin memesan sesuatu yang spesial untuk Saeri nanti,” jawab Daesan. Aku menghela nafas lega Daesan berhasil mengelabui Eunhyuk.
“Oh,” jawab Eunhyuk, “Moni-ya, ini pesananaku?”
“Ne, Oppa,”
“Gomawo. Jangan lupa nanti kalau kupanggil kau langsung kemari, arra? Kau kan pelayan pribadiku,”
“Ya, Oppa, tenang saja,” jawabku lalu meninggalkan mereka berdua. Dalam hati aku terus mengucap syukur karena Eunhyuk tak mendengar percakapanku dengan Daesan tadi.

***
“Uangmu akan kutransfer nanti,” kata Daesan sambil merenggangkan badannya.
“Ne, aku percaya padamu, Oppa. Jangan lupa bonusnya. Kau membuatku lelah,” sahutku sambil mengenakan pakaianku.
“Gomawo, jagiya,” kata Daesan mesra. Ia lalu menyelimuti lagi dirinya dengan selimut. Aku tersenyum. Walau Daesan adalah namja yang paling sering memesanku, tapi dia tetap baik padaku.
Kupakai kaosku ketika pintu diketok. Aku menoleh menatap Daesan, “Ottohke?”
“Buka saja. Paling room boy mengantar sarapan,” jawabnya. Kuturuti saja perintahnya. Kubuka pintu berwarna putih itu dan seketika mataku melotot, melihat sosok namja yang berdiri disana.
“Eunhyuk Oppa?” ujarku tertahan. Dapat kulihat ia juga bingung menatapku ada dikamar apartemen Daesan. Belum selesai kekagetannya, Daesan datang menghampiriku sambil berkata, “Jagi, nuguya?”
Aku semakin bingung. Disaat aku sudah bisa agak dekat dengan biasku, Eunhyuk harus melihatku habis melayani seseorang. Ditambah Daesan mendekatiku masih dengan mengenakan boxernya.
“Hyukie?” seru Daesan tak percaya.

***
Sudah seminggu sejak Eunhyuk melihatku ada dikamar yang sama dengan Daesan. Kalau Eunhyuk melihatku seperti itu, dia pasti bisa menduga apa pekerjaanku yang sebenarnya. Kuhela nafasku, kenapa aku harus mengecewakan biasku sendiri?
Hyosim memukul bahuku pelan, “Moni-ya, gwaenchanayo?”
Aku tersenyum lemah pada Hyosim, “Gwaenchana, Hyosim-i,”
“Sudahlah, Moni-ya, jangan bersedih. Kita kan sudah tahu konsekuensi bekerja seperti ini. Jadi jangan dipikir terlalu dalam. Lagipula Eunhyuk Oppa kan hanya biasmu, bukan namjachingumu,”
Benar juga apa yang dikatakan Hyosim. Eunhyuk kan hanya biasku. Tapi kenapa aku takut Eunhyuk menganggapku buruk? Mungkin karena aku sangat ingin dekat dengan Eunhyuk, kesempatan itu datang lalu aku menghancurkannya sendiri.
“Mau kutemani ijin ke Bos? Kurasa kau bisa istirahat malam ini,” tawar Hyosim. Kupikir sejenak tawaran Hyosim itu lalu mengiyakannya. Akhirnya kami berusaha minta ijin pada bos kami. Dan untungnya bosku itu sedang baik jadi aku diijinkan pulang lebih awal malam ini.
Setelah meninggalkan bar, aku naik bus. Bus ini lumayan sepi, mengingat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, jadi wajar kalau sudah sepi. Untung pakaianku wajar malam ini, jadi tak mengundang masalah.
Begitu turun dari bus, segera kupasang headset-ku. Kuputuskan berjalan ke apartemen sambil mendengarkan lagu dari HP-ku. Setelah sekitar beberapa menit berjalan, langkahku terhenti karena dikejutkan oleh kedatangan seseorang.
“Moni-ya,” sapa namja itu. Kupandangi lekat namja itu, bau alkohol. Pasti namja itu mabuk berat.
“Changsim ssi, kau mabuk lagi?” tanyaku padanya, sekedar basa – basi. Asal kalian tahu, Hyo Changsim adalah anak buah Jo Dongshik, seorang pria hidung belang yang sering memesanku.
“Aigoo… Kau khawatir padaku?” ujarnya sedikit tidak nyambung dengan yang kutanyakan. Aku agak meringis lalu kuputuskan meninggalkannya.
“Sudahlah, aku capek, mau pulang. Annyeong higyeseyo, Changsim ssi,” ujarku lalu meninggalkan Changsim. Tiba – tiba tanganku ditahan oleh Changsim.
“Ya, Moni-ya, jangan pergi dulu. Ayo nikmati malam bersamaku,” ajaknya dengan nada mabuk. Aku meringis.
“Ani, Changsim ssi. Bosmu saja kutolak apalagi kau. Aku capek,” jawabku lalu melepas cengkraman tangannya. Segera kutinggalkan Changsim dengan mempercepat langkahku. Tapi lagi – lagi tanganku berhasil ditangkapnya.
“Kajja, Moni-ya. Akan kubayar kau berapapun, tapi mainlah denganku. Selama ini kau terus dengan bos, denganku tidak. Aku kan juga mau menikmati tubuhmu,” ujarnya, agak vulgar.
Kali ini bahkan Changsim berhasil memegang kedua tanganku, memaksa diriku menghadapnya. Yah, wajah Changsim lumayan juga. Aku yakin dia bisa membayar tarifku. Tapi aku benar – benar lelah. Apalagi setelah Eunhyuk melihatku selesai melayani Daesan saat itu, aku seperti kehilangan semangat melayani orang.
Changsim mendekatkan wajahnya padaku. Aku berusaha menghindar. Nafasnya benar – benar berbau alkohol. Dia sepertinya mabuk berat. Changsim semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku, berusaha menciumku. Aku sudah pasrah. Tapi aku tetap berontak, aku benar – benar malas melakukan ‘itu’ malam ini, walaupun hanya menciumku.
Tiba – tiba pegangan Changsim dilenganku melemah. Mataku yang terpejam langsung terbuka. Kulihat Changsim agak terhuyung. Ada apa dengannya? Ketika kutolehkan kepalaku kesamping, kulihat seorang namja dengan mantel, syal, topi, dan kacamata hitam memukul Changsim.
Changsim bangkit. Ia berusaha membalas namja yang memukulnya itu. Biar dalam keadaan mabuk, Changsim yang terlatih dengan taekwondo itu bisa membalas. Namun namja pemukul itu bisa menghadapinya. Beberapa kali wajah namja itu dipukul Changsim, tapi luka yang diterima Changsim lebih banyak. Hingga akhirnya Changsim terjatuh ditanah dengan wajah kesakitan.
“Pergi kau dari sini!” suruh namja itu. Aku hanya diam melihatnya. Aku terlalu kaget dengan kehadiran namja itu.
“Moni-ya, gwaenchanayo?” tanya namja itu sambil meringis menahan sakit.
Aku segera tersadar. Kuajak namja itu ke kursi taman. Disana kuberikan air minum yang kubawa. Ia meminumnya dengan perlahan. Kuambil juga tisuku dan membersihkan keringat serta luka diwajahnya. Ia beberapa kali meringis.
“Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Oppa. Gwaenchanayo?” tanyaku balik. Ia mengangguk. Diletakkannya botol air minumnya disampingnya. Aku terus membersihkan wajahnya.
“Kenapa Oppa disini?” tanyaku padanya, “Kurasa Super Junior tak ada jadwal semalam ini,”
“Aku rekaman Sukira, Moni-ya. Leeteuk Hyung pulang dengan Seunghwan Hyung,” jawabnya. Ia menatapku, “Tapi kau tak apa kan, Moni-ya?”
“Ne,” jawabku singkat. Setelah kutempelkan plester dilukanya, aku menunduk. Dengan suara pelan aku berkata, “Gomawo, Oppa,”
“Cheonma, Moni-ya,” jawabnya.
Aku segera berdiri, “Oppa, aku pulang dulu. Annyeong higyeseyo,”
Baru aku mau maju selangkah, tanganku ditahan olehnya, “Chakkaman, Moni-ya,”
Ia melepas tangannya, “Mwo, Oppa?”
“Apa benar kau…” Eunhyuk menggantung kalimatnya. Ia sepertinya ragu ingin bertanya tentang hal ini padaku atau tidak.
“Wanita panggilan? Kau ingin bertanya seperti itu kan? Ne, Oppa, profesiku selain pelayan bar adalah itu. Waeyo? Kau malu sekarang pernah mengenalku?” cecarku. Ini sudah sering terjadi sejak aku menggeluti bidang memalukan ini.
“…”
Kuhela nafasku, “Semua orang akan menyesal pernah bertemu dan berteman denganku, Oppa. Jadi kau tak perlu merasa bersalah kalau kau sekarang ingin meninggalkanku,” ujarku, “Gomawo, Oppa, sudah menolongku tadi. Annyeong higyeseyo,”
Tapi lagi – lagi Eunhyuk menahan tanganku, “Chakkaman, Moni-ya,”
“Apa lagi, Oppa? Kau mau memintaku mundur jadi Jewel? Ne, akan kulakukan. Toh aku juga malu sendiri melihat biasku sudah tahu aibku,”
“Ani, siapa yang memintamu seperti itu?”
Kutatap namja berambut blonde itu. Ia tersenyum kecil.
“Bagiku, apapun yang kau kerjakan bukan masalah untukku. Seseorang mengerjakan sesuatu pasti ada alasannya. Aku yakin kau bekerja seperti itu pasti juga punya alasan kan?” ujarnya sarkatis.
“Masa’ kita baru berteman sebentar lalu kau mau memutuskannya begitu saja. Moni-ya, aku bukan namja seperti Donghae yang bisa dekat dengan siapapun. Berteman denganmu sudah anugerah untukku, masa’ kau mau kita berpisah? Lagipula, apa kau tak menyesal memutus tali pertemanan dengan biasmu sendiri?”
Aku diam. Menunduk. Eunhyuk membalik badanku supaya aku menatapnya. Kutengadahkan kepalaku.
“Jeongmalyo? Kau tak malu atau kecewa padaku?” tanyaku memastikan. Ia menggeleng dan tersenyum manis. Kususut air mataku yang tak sengaja menetes itu lalu balas memberikan senyumku.
“Jadi?” tanya Eunhyuk, ia mengacungkan jari kelingkingnya padaku. Kuulurkan jariku dan menyambutnya. Tanda pertemanan terjalin.
“Gomawo, Moni-ya, mau jadi temanku,” kata Eunhyuk, “Ah, akhirnya aku bisa berteman dengan yeoja,”
Aku tertawa, “Kasihan sekali kau, Oppa, tidak pernah berteman dengan yeoja,”
“Ya, itu benar. Kasihan sekali kan biasmu ini?” jawabnya.
Aku diam. Kuberanikan diriku bertanya sesuatu padanya, “Tapi, Oppa, ada yang mau kutanyakan,”
“Mwo?”
“Kau berteman denganku murni karena ingin berteman kan? Bukan karena ingin berhubungan singkat denganku?” Sengaja kutanyakan ini karena aku sering sakit hati ketika berteman dengan seorang namja. Terkadang namja itu hanya ingin menikmati tubuhku makanya mereka berteman denganku.
Kulihat raut wajahnya berubah. Entah apa maksud ekspresi itu. Kusambung kalimatku, “Kalau kau tak tulus padaku, sebaiknya hentikan ini semua. Kalau kau hanya mau pelayananku, hubungi bar-ku,”
Ia menghela nafas, “Aku tahu kau tersiksa dengan pekerjaanmu itu, Moni-ya. Masa’ untuk berteman denganku kau juga harus tersiksa? Ani, Moni-ya, aku tulus berteman denganmu,”
Aku menghela nafas lega, “Gomawo, Oppa. Tak salah aku menjadi seorang Jewel,”

***
Eunhyuk’s self

Sejak kejadian malam itu, aku dan Oh Moni bisa berteman dekat, namun tak ada satupun member SuJu yang tahu. Memang sengaja kusembunyikan hubunganku dengan Moni itu dari mereka, nanti saja kalau aku sudah berhasil merebut hatinya baru kuperkenalkan.
Kami mempunyai cara khusus untuk bertemu setiap harinya, karena kami tahu tak mungkin aku setiap hari pergi ke bar-nya. Lagipula kalau aku kesana, hasrat untuk melaksanakan tujuan awalku berteman dengannya semakin besar, mengingat disana ia selalu tampak menggoda. Yah, sebenarnya itu tuntutan pekerjaannya. Dan lagi kalian tahu kan aku dikenal sebagai Master of Yadong. Ya begini ini otakku.
Cara bertemu kami adalah pergi jogging bersama tiap hari. Walau tak bisa tiap hari, tapi kami sering bertemu dengan metode seperti ini. Kami janjian bertemu ditaman dekat dorm lalu jogging bersama. Setelah itu duduk disebuah kursi dan mengobrol sampai Donghae atau member lain meneleponku menanyakan dimana aku. Selain itu kami sering telepon atau SMS. Pokoknya hidupku lebih berwarna dan menantang sejak berteman dengannya.
Seperti pagi ini, aku sedang duduk dibalkon sambil menunggu sarapan buatan Ryeowook jadi. Datang Donghae dengan 2 gelas susu.
“Mana sarapannya?” tanyaku.
“Belum jadi. Kau kan tahu Wookie akan membuat menu lengkap, pembuka, makanan, penutup. Dia bilang 5 menit lagi jadi. Makanya kubawakan kau susu, Hyung,” jawabnya.
“Gomawo,”
Donghae duduk disampingku, “Jadi, siapa yeoja itu?”
Kutatap dia dengan tatapan bingung, “Yeoja?”
Donghae mengangguk, “Ne,”
Aku masih bingung dan berusaha mempertahankan ekspresi ini walau jujur aku sudah paham apa maksud Donghae.
Donghae melanjutkan, “Aish, Hyung, jangan berusaha membohongiku. Aku tahu kau sedang dekat dengan seorang yeoja. Yeoja yang selalu kau temui setiap jogging kan? Yeoja yang selalu kau telepon dan kirimi SMS itu. Benar kan?”
Wuah, kenapa Donghae yang paling polos diantara kami bisa menebak semuanya? Akhirnya kuputuskan mengaku saja.
“Kau tahu darimana semuanya?”
Donghae tertawa, “Kau kan tahu aku paling tidak bisa menahan penasaran, sifat khas anak – anak. Makanya kuikuti kau beberapa hari ini, kubuka HP-mu. Mian, Hyung. Hyungdeul dan dongsaeng juga menyadari perubahanmu. Kami semua menyadari kau sedang jatuh cinta,” jawabnya dengan nada romantis, “Jadi, siapa yeoja itu?”
Semua member? Apa selama ini aku kentara sekali tengah dekat dengan seorang yeoja? Babo Hyukjae! Jadi percuma selama ini kau berusaha merahasiakannya.
Kuhela nafasku, “Dia Oh Moni,”
“Mwo? Omonim?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Dia omonim kau aboji? Sudah sejauh apa hubungan kalian sampai memanggil seperti itu?”
Kujitak kepalanya, “Ya, babo Donghae! Oh Moni, namanya Oh-Mo-Ni. Bukan omonim ibu,” Bahkan kugerakkan tanganku diatas meja membentuk huruf Oh Mo Ni. Memang cara baca ‘Oh Mo Ni’ dan ‘Omonim’ hampir sama. Ia manggut – manggut.
“Mian, Hyung. Lapar, jadi otakku tak bisa berpikir dengan baik,” jawab Donghae sambil mengelus kepalanya yang kujitak tadi.
Diam sejenak sampai Donghae berkata, “Hyung, dia manis ya. Cantik,”
Aku yang tengah meneguk susuku terdiam. Apa maksudnya dia berkata begitu?
“Kenalkan aku padanya, ya, Hyung,” pinta Donghae. Aku mendengus. Sudah kuduga. Pasti playboy satu itu minta dikenalkan pada Moni. Tapi sesuatu dalam hatiku melarangku untuk mengenalkan Moni pada Donghae.
“Shireo,”
“Waeyo?”
“Kau pasti akan merebutnya dariku. Dia kan temanku,” jawabku gamblang. Lalu Donghae tertawa kecil, “Ne, Hyung. Mana ada suami yang mau pisah dari istrinya? Dasar aboji dan omoni,”
Aku ingin sekali melemparinya dengan sandal rumahku. Tapi urung karena rugi sandalku. Kepala Donghae kan termasuk keras. Nanti sandalku malah rusak kena kepalanya. Lebih baik kutahan emosiku daripada uangku terkuras lagi. (Eunhyuk pelit!)

***
“Namamu aneh ya,” ujarku padanya setelah jogging.
“Waeyo?”
“Oh Moni, kalau diucapkan seperti omoni. Gara – gara itu aku digoda Hyungdeul dan dongsaeng. Mereka bilang kau omoni aku aboji,”
Moni tertawa, “Jadi kau menyesal diejek berpacaran denganku?”
Aku mati kutu. Bukan menyesal, tapi malu. “Ani, kenapa harus menyesal?”
“Jadi kalau kau berpacaran denganku, kau tak akan menyesal kan?” godanya. Aigoo… Apa maksudnya ia berkata begitu?
Moni tertawa, “Hei, Oppa, aku hanya bercanda. Aku tak memintamu jadi pacarku. Aku hanya menyukaimu sebagai fans,”
Moni lalu meminum minumannya. Tapi mendengarnya berbicara seperti itu tadi membuatku memikirkan sesuatu. Aku menyukainya. Moni juga menyukaiku. Mungkinkah dia mau menjadi yeojachinguku? Masa’ magnae kami sudah punya istri, hyung-nya belum.
Sepertinya aku harus segera menjadikannya Omoni dan aku Aboji. Mungkin nanti malam.

***
Moni’s self

“Kau mau kemari?” tanyaku pada Eunhyuk lewat telepon. Eunhyuk baru saja mengabariku kalau dia mau ke bar.
“Ne, Moni-ya. Ada yang mau kubicarakan denganmu. Tak apa kan?”
Aku berpikir sejenak. Hari ini ada jadwal gak ya?
“Ada pesanan?” tanya Eunhyuk. Dia memang sudah tahu pekerjaanku, dan juga alasanku bekerja seperti ini.
Kalian mau tahu alasanku? Orangtuaku pernah meminjam uang ke bosku dan tak bisa mengembalikannya sampai utangnya membengkak. Sampai akhirnya kedua orangtuaku meninggal, hutang itu tak terbayar.
Sebagai gantinya aku bekerja di bar bosku ini. Dan untuk membayar hutang, gajiku akan dipotong separuh. Padahal bunganya belum terbayar, apalagi hutang pokoknya. Sampai suatu hari bosku memberi kesempatan. Kalau aku mau menyerahkan ‘sesuatuku yang paling berharga’ padanya, bunganya akan dihentikan. Jadi aku tinggal membayar tanpa takut hutangku terus membengkak.
Ancamannya kalau aku tak mau, sisa keluargaku yang ada di Busan akan dicarinya dan entah apa yang akan dilakukannya. Ya sudah, aku tak bisa berbuat apa – apa lagi kan? Akhirnya bosku berhasil mendapat ‘sesuatuku’ itu dan demi mempercepat pelunasan hutang itu, aku diijinkan ‘menjual’ diriku. Akhirnya ya seperti ini.
Dan Eunhyuk sudah tahu semua itu. Bahkan dia tahu keinginanku menjadi penyiar radio seperti dirinya. Yang kusuka adalah Eunhyuk tak berubah. Dia tetap menganggapku teman dan fansnya. Inilah yang kusuka dari namja itu. Dan boleh dibilang saat ini perasaanku padanya tidak hanya perasaan suka fans ke biasnya, tapi suka seorang yeoja ke namja. Tapi selalu kutanamkan dalam hatiku kalau tak mungkin bisa aku berpacaran dengannya.
“Moni-ya,” panggil Eunhyuk lagi. Aduh, karena terlalu bingung memikirkan jadwal, aku jadi lupa dengan Eunhyuk.
“Ah, mian, Oppa. Malam ini ada interview di radio,” jawabku. Ini benar, aku memutuskan mendaftar menjadi penyiar disebuah radio yang cukup terkenal. Semoga aku bisa menjadi penyiar sesuai keinginanku.
“Mwo?! Interview di radio? Whoa, kau benar – benar ingin jadi penyiar? Fighting, Moni-ya!” ujar Eunhyuk menyemangati.
Kedua sudut bibirku tertarik membentuk senyuman, “Gomawo, Oppa. Kau juga, fighting!”
Akhirnya setelah saling mengucapkan salam dan semangat, telepon ini ditutup. Kuhela nafasku. Oh Moni, fighting! Jadilah penyiar, mulai kehidupanmu dari awal dan lupakan rasa sukamu pada Eunhyuk!

***
Apa jatuh cinta bisa mempengaruhi keberuntunganmu? Molla. Tapi sejak aku ‘suka’ pada Eunhyuk si anchovy itu, aku merasa keberuntungan selalu berpihak padaku.
Sebut saja waktu aku interview jadi penyiar. Entah karena kemampuan atau keberuntungan, aku terpilih jadi salah satu dari 3 penyiar baru di stasiun itu. Dan mulai minggu depan aku bisa menyiarkan sebuah program. Selain itu sejak aku suka padanya, kehidupanku jadi lebih berwarna. Aku sering bahagia, bahkan menurut Hyosim aku lebih sering tersenyum belakangan ini. Yah, jatuh cinta memang indah ya? Begini ini rasanya.
Tapi… Kalau jatuh cinta pada orang yang menurutmu terlalu baik untukmu, bagaimana? Aku bingung. Disatu sisi aku mencintainya, ingin bersamanya. Namun disisi lain melihat kehidupannya sebagai Eunhyuk of Super Junior, aku merasa sangat tak pantas untuknya. Ottohke? Molla. Aku hanya bisa pasrah. Satu – satunya rencanaku adalah menghilangkan kata cinta untuknya dari hatiku.
Lamunanku terhenti ketika ponselku berbunyi. Kurogoh tasku dan mengangkatnya, “Yeoboseyo,”
“Annyeong, Moni-ya,” sapa Eunhyuk diseberang sana. Refleks aku tersenyum, tapi segera kuhilangkan. Aku benar – benar akan berusaha melupakannya.
“Oppa, waeyo?” tanyaku datar.
“Ingin mengajakmu makan malam, bagaimana?”
“Mwo? Makan malam?”
“Ne,”
“Kapan?”
“Malam ini. Bagaimana? Kau tak ada jadwal kan?”
Aku sudah mengosongkan jadwalku beberapa hari kedepan demi menyiapkan siaranku. “Tak ada, Oppa. Ya sudah, tak apa. Aku bisa ijin ke bos malam ini,”
Kudengar ia mendesah lega, “Gomawo, Moni-ya. Akhirnya keinginanku makan malam bersamamu tercapai! Kalau begitu nanti malam kau kujemput dirumahmu ya?”
“Ne, Oppa. Tunggu aku didepan apartemen saja. Jangan buat keributan, arra?”
“Ne. Kujemput kau jam 7. Dandan yang cantik,” pesannya sebelum menutup telepon. Aku tersenyum lagi. Aigoo… Kalau begini caranya, bagaimana bisa aku melupakan cintaku padanya?

***
“Aigoo… Neo neomu yeppeo,” puji Eunhyuk begitu melihatku masuk dalam mobilnya. Memang malam ini aku mengenakan dress hitam selutut berkerah tanpa lengan dengan stiletto setinggi 5 cm. Walau aku hanya pegawai bar, tapi bajuku termasuk bagus lho.
Pipiku bersemu, “Gomawo, Oppa. Kau juga tampan,”
Ia terkekeh, “Aku memang tampan, Moni-ya,” ujarnya narsis. Aku jadi ikut tertawa. Ya Tuhan, dia benar – benar tampan malam ini. Walau hanya memakai shirt putih, jas hitam semi formal, celana jeans hitam dan sneakers, penampilannya luar biasa bagus.
“Tapi, Oppa, kau tak pakai penyamaran?”
“Untuk apa?”
“Kalau kita makan bersama dan ketahuan netizens, bisa jadi headline,”
“Tenang saja. Aku sudah memberitahu pihak restoran. Jadi kita bisa aman disana. Aku pernah membawa yeojachinguku kesana, dan aman – aman saja,” jawabnya lugas. Mendengar ia pernah membawa yeojachingunya kesana, ada 2 perasaan yang terbit dihatiku. Pertama, aku tak perlu khawatir besok aku di-bash oleh ELF seluruh dunia. Kedua, aku sedih (?) karena aku bukan yeoja pertama yang dibawanya kesana. Ya Tuhan, apa sebegitu besarnya rasa sukaku padanya?
Tak lama kami sudah sampai disebuah restoran besar. Kalau dilihat dari design luarnya, aku yakin harga makanan dalam restoran ini selangit. Yah, sejak kapan Eunhyuk tak pelit seperti ini?
“Silahkan,” ujar Eunhyuk mempersilahkanku duduk disalah satu kursi berlapis kain putih nan elegan itu. Aku tersenyum lalu duduk. Kemudian Eunhyuk duduk didepanku.
Beberapa saat kemudian seorang pelayan wanita datang menanyakan pesanan kami. Setelah memesan makanan dan minuman kami mulai ngobrol. Sampai tak menyadari yang kami pesan satu persatu datang. Akhirnya kami menyelesaikan makan malam itu sambil mengobrol.
“Jadi, bagaimana interview-mu? Dari tadi aku belum bertanya,” tanya Eunhyuk.
Kulap mulutku dengan lap yang disediakan, “Sukses, Oppa. Sepertinya ilmu bicaramu itu berhasil kau tularkan padaku,”
Ia tertawa, “Tapi aku akui kau memang pintar bicara. Aku hanya membantu,”
“Gomawo, Oppa,” ujarku, “Sebentar lagi aku akan menjadi penyiar sepertimu,”
Ia diam sejenak kemudian bertanya, “Hmm… Moni-ya, jangan tersinggung, ya. Aku ingin bertanya sesuatu,”
“Mwo?”
“Kalau kau sudah jadi penyiar, kau… Akan berhenti dari pekerjaan tambahanmu?” tanyanya hati – hati. Aku kaget. Jujur aku belum memikirkan sampai kesitu.
“Molla, Oppa,” jawabku jujur.
“Berhentilah, Moni-ya,” sarannya.
“Waeyo? Hutangku belum terbayar lunas,”
“Tapi kau kan bisa melunasinya sambil bekerja sebagai penyiar. Walau tak sebanding dengan hasil dari pekerjaan tambahanmu, tapi ini lebih baik,”
Kukerutkan keningku. Kenapa Eunhyuk seakan melarangku bekerja jadi wanita panggilan seperti ini? Padahal selama ini dia baik – baik saja dengan pekerjaanku. Tapi aku tersenyum, “Aigoo… Oppa, ada apa denganmu? Kau seperti Eommaku yang tahu pekerjaan tabu anaknya,”
Ia diam.
“Atau kau mulai tak suka dengan pekerjaanku? Kan sudah kubilang, Oppa, kau akan kesusahan berteman denganku,”
“Ani, Moni-ya. Bukan itu alasannya,” jawabnya cepat. Ia menghela nafas, “Alasannya…”
Ia menggantung kalimatnya. Entah kenapa jantungku berdebar menanti kelanjutan kalimatnya. Apa yang mau dikatakannya?
Eunhyuk akan membuka mulut saat sebuah suara menyapa mereka. Kami menoleh dan melihat Kim Daesan dengan Hong Saeri, pacarnya, ada disana. Daesan menghampiri kami.
“Hyukjae-ya, Moni-ya, annyeong haseyo,” sapanya pada kami. Kami tersenyum.
“Annyeong, Daesan ssi,” jawabku, sepertinya mewakili kami berdua. Ia tersenyum menggoda pada kami.
“Whoa, kalian berdua sedang kencan ya?” goda Daesan. Pipiku bersemu. Kutundukkan kepalaku.
“Aish, jangan buat gosip, Daesan-i. Kami hanya makan malam,” jawab Eunhyuk. Diam – diam aku menghela nafas lega. Ternyata namja polos satu ini bisa mengelak dari tuduhan Daesan. Kudengar Daesan tertawa kecil.
“Hmm… Oppa, aku ke toilet dulu,” kataku, “Annyeong, Daesan ssi,” Aku segera berlalu dari hadapan mereka. Sebenarnya aku tak perlu ke kamar mandi. Aku kesana hanya untuk menenangkan debaran jantungku karena godaan Daesan tadi.

***
Eunhyuk’s self

“Ternyata kalian berdua dekat sekali, ya?” tanya Daesan.
“Ya, lumayan dekat. Waeyo?” jawabku. Ia menggeleng dan tersenyum.
“Aniyo. Hanya penasaran dengan tujuanmu berteman, ah tidak, berdekatan dengannya. Kalau melihat dari suasana malam ini yang romantis, kurasa kau mau menjadikannya pacarmu, iya kan?”
DEG! Kenapa Kim Daesan ini bisa menebak sebaik ini? Apa kelihatan sekali aku ingin menyatakan cintaku pada Oh Moni malam ini?
“Aigoo… Itu bukan urusanmu, Daesan-i,” jawabku.
Ia tertawa, “Ya ya ya, Hyukjae-ya. Aku juga tak bermaksud merebutnya darimu. Aku sudah punya Saeri kok,”
Aku diam, hanya meneguk air putih yang memang disediakan sejak kami datang. Daesan melanjutkan omongannya, “Jadi, jelaskan padaku apa alasanmu mendekatinya?”
“Alasan?”
“Ne, tujuanmu, motivasimu berteman dengannya. Apa itu?”
Aku diam, memikirkannya, “Kurasa berteman tak perlu alasan kan? Aku hanya cocok dengannya dan dia yeoja yang baik, jadi ya sudah,”
Ia tersenyum evil, “Bukan karena ingin menikmati tubuhnya?”
DEG! Lagi – lagi dia bisa menembakku secara tepat seperti ini. Tapi bukan itu tujuanku berteman dengannya. Memang awalnya itu tapi sekarang bukan. Sekarang tujuanku hanya melindunginya.
“Jaga mulutmu, Daesan-i!” tukasku, “Kenapa bisa kau berpikiran seperti itu?”
“Tidak, hanya kaget saja yeoja yang biasa kupesan untuk memuaskanku bisa menjadi teman seorang penyanyi sepertimu. Kurasa lingkungan kalian terlalu berbeda,” jelasnya, “Lagipula sudah sering Moni berteman dengan seorang namja, tapi namja itu hanya menginginkan tubuhnya,”
Aku diam.
“Tapi, Eunhyuk-i, kurasa sebagai master of yadong, kau pasti hanya menginginkan tubuhnya, iya kan?” tanya Daesan lagi. Kurasa temanku satu ini agak terganggu pikirannya. Ngomongnya ngelantur. Kenapa dia terus menanyakan alasanku berteman dengan Moni? Aku hanya khawatir Moni mendengarnya berbicara.
“Ne, kuakui begitu. Tapi…”
Aku tak melanjutkan kalimatku begitu mendengar seorang waiter tak jauh dari kami berkata, “Mian, Ahgassi,”
Kulihat siapa yang mengalami kecelakaan itu, dan mataku melotot. Moni?!
Dapat kulihat air mata menumpuk dipinggiran matanya. Ia berusaha menahan tangis. Ya Tuhan, apa dia mendengar pembicaraanku dengan Daesan?
“Moni-ya,” panggilku, “Ini hanya…”
Moni mengambil tas dan mantelnya, menghampiriku dan menamparku, “Kau jahat, Oppa! Kukira kau tulus. Ternyata… Cih, kau sama saja dengan namja lain. Sudah kubilang, kalau hanya hubungan singkat aku bisa berikan, tapi jangan dengan dalih berteman. Aku benci padamu!”
Kupegangi pipiku yang ditamparnya barusan. Aku langsung mengejarnya yang berjalan cepat. Begitu sampai didepan restoran, aku terlambat. Ia sudah naik bus dari halte terdekat. Sial!

***
Moni’s self

Menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Ah, kenapa sepertinya aku begitu direndahkan? Bahkan Eunhyuk Oppa berteman denganku hanya karena menginginkan tubuhku. Ya Tuhan.
Kuambil HP-ku ketika benda itu berbunyi, “Yeoboseyo,” sahutku lemah.
“Aigoo… Moni-ya, gwaenchanayo?” tanya Hyosim diujung sana. Kususut air mataku.
“Gwaenchana, Hyosim-i. Waeyo meneleponku?”
Bukannya menjawab pertanyaanku dia justru berkata, “Jujur, Moni-ya. Kau dimana sekarang? Perlu kujemput?”
Kubiarkan air mataku menetes lagi, “Di bus,”
“Kutunggu di halte dekat apartemen, arraseo?”
“Gomawo, Hyosim-i,” jawabku lalu memutuskan hubungan. Biar Eunhyuk Oppa tak tulus padaku asal masih ada orang lain yang mempercayaiku dan tulus berteman denganku.

***
“Moni-ya!” seru Hyosim sambil menepuk bahuku. Aku terlonjak kaget. Kenapa siang – siang seperti ini ia mengagetiku?
“Wae?”
“Jam berapa siaranmu?” tanyanya sambil beranjak ke dapur. Ingin memasak untuk makan siang paling.
Aku mendesah, aku bahkan lupa kalau nanti siaran perdanaku. Semua gara – gara Eunhyuk! “Jam 7,”
“Kalau tidak salah itu jadwalnya program curahan hati kan?” tanya Hyosim sambil menatapku. Aku mengangguk.
“Ya, Moni-ya, jangan begitu. Sudahlah, lupakan saja Oppa brengsek itu. Nanti kau siaran perdana. Kalau buruk bisa membuatmu gagal jadi penyiar,” hibur Hyosim. Aku mengangguk dan tersenyum lemah. Tiba – tiba HP-ku berbunyi. Kulihat telepon masuk dan nama Eunhyuk menari diatas layar. Kubiarkan saja. Setelah 3 kali berbunyi dari orang yang sama, ada SMS masuk, juga dari orang yang sama. Kubiarkan saja. Akhirnya Hyosim yang mengambilnya.
“Orang brengsek ini. Sudah menyakitimu, memenuhi HP-mu pula,” ujarnya. Ya, itu memang benar. 20 missed calls dan puluhan SMS dari Eunhyuk sudah terkumpul di HP-ku sejak 3 hari lalu.

***
Eunhyuk’s self

Sudah nyaris sebulan sejak Moni meninggalkanku di restoran malam itu. Selama itu pula Moni tak mengangkat teleponku ataupun membalas SMS-ku. Dia benar – benar mengacuhkanku. Sebegitu benci kah dia padaku? Tapi itu tak salah. Dia berhak marah. Hanya saja, kenapa waktunya tak tepat?
Selama ini aku hanya bisa menjaganya dari belakang. Mengikutinya diam – diam, hanya sekedar memastikan dia aman – aman saja. Mengintipnya dari jauh didalam bar cuma untuk memuaskan keinginanku menatapnya. Berjauhan dengannya selama sehari saja membuatku kangen setengah mati, apalagi hampir sebulan seperti ini. Satu lagi, aku hanya bisa menatapnya saat siaran atau mendengarkan siarannya kalau aku tak sempat.
Kulihat Moni agak berubah sejak saat itu. Ia memang masih dan selalu menghadirkan senyumannya pada setiap pelanggan. Tapi senyuman itu terkesan dipaksakan dan senyuman itu terlihat pedih. Tubuhnya juga agak mengurus, tak terlalu berisi seperti dulu.
“Eunhyuk-ie!” seru seseorang dan memukul pundakku. Kutolehkan kepalaku, ada Donghae disana dengan raut wajah khawatir.
“Wae?”
“Kenapa kau seperti mayat hidup begitu?” tanyanya. Kugetok kepalanya. Sudah tahu aku bad mood dia malah mengejekku seperti mayat hidup.
“Ya, Hyung, appo!” serunya mengelus kepalanya yang kujitak, “Maaf deh, salah ngomong. Gwaenchanayo?”
“Shireo,” jawabku lemah. Ia duduk disebelahku.
“Karena yeoja itu?” Aku hanya bisa mengangguk.
“Minta maaflah padanya, Hyung,” katanya. Aku menatapnya heran.
“Do something so she can forgive you,” lanjutnya. Kujitak lagi kepalanya, “Ya, Donghae-ya! Aku sedang malas buka kamus,”
Ia meringis, “Mian, Hyung, hanya teringat quote yang kubaca disalah satu buku. Lakukan sesuatu supaya dia bisa memaafkanmu,”
Kuserapi kata – kata Donghae. Apa yang harus kulakukan?
“Cari keadaan dimana dia tak bisa mengelak darimu. Jelaskan semua padanya dan minta maaflah. Urusannya nanti mau memaafkanmu atau tidak,” nasihat Donghae. Kutatap couple-ku itu, bagaimana bisa dia sebegitu dewasanya menasihatiku?
“Whoa! Buku yang kubaca itu berguna sekali. Bisa menjadi bahanku menasihatimu,” ujar Donghae tiba – tiba. Kujitak lagi kepalanya. Jadi nasihatnya tadi nyadur dari buku? Tapi biar dari buku, kurasa nasihatnya bisa kugunakan.

***
Moni’s self

Hari ini siaranku yang kesekian. Untunglah siaran perdanaku saat itu diterima dengan sangat baik, jadi aku bisa menjadi penyiar tetap disini, dengan program yang sama. Program curahan hati? Ternyata banyak juga peminatnya.
Setiap hari dipilih 3 curhatan terbaik dan akan dibahas sampai tuntas. Lalu beberapa penelepon akan memberi tanggapannya. Kupikir program ini hanya bagi orang cengeng, tapi peminatnya banyak. Itu berarti orang cengeng banyak ya? 😀
“Moni-ya,” sapa Shin Yoonji, atasanku.
“Wae, Eonnie?”
Ia menyerahkan sebuah kertas padaku, “Ini masalah yang akan kau bahas malam ini,” Kuambil dan kubaca sekilas. Dari Lee Eunjae.
“Seperti biasa, ya? Tapi kalau bisa sapa pengirim e-mail ini, arra?” instruksi Yoonji.
“Ne, Eon,” jawabku dan berlalu ke ruang siaran. Dijalan kubaca e-mail dari Lee Eunjae yang sudah di-print itu. Lumayan menarik ceritanya.

***
“Annyeong haseyo, selamat malam semua. Back to Heart’s Voice Program, denganku Oh Moni,” sapaku. Beruntung aku menguasai bahasa Inggris.
“Heart’s Voice kali ini akan membahas satu masalah terakhir, dan sepertinya paling menarik. Jangan lupa bergabung denganku, lewat telepon, SMS atau e-mail,”
“Oke, masalah yang akan kita bahas adalah e-mail dari Lee Eunjae. Annyeong haseyo, Lee Eunjae. Dimanapun kau, hubungi kami ya? Berikan tanggapanmu atas solusi yang kami beri,” ujarku, “Oke, lanjut,”
Dear Heart’s Voice
Annyeong, Lee Eunjae imnida. I’m a man, 26 tahun, dari Seoul. Aku akan cerita masalah yang baru ini menimpaku.
Aku bertemu dengan seorang yeoja disebuah bar, dia bekerja disana. Kami berteman. Awalnya dia minder berteman denganku apalagi setelah kutahu pekerjaan sambilannya — mian, pekerjaan sambilannya privasi jadi tak bisa kuberitahukan.
“Ne, Eunjae ssi, tak apa,” komentarku.
Setelah aku meyakinkannya untuk berteman denganku, akhirnya dia percaya diri menjadi temanku. Akhirnya hubunganku dengannya terus berkembang menjadi lebih baik dan lebih dekat. Kata temanku aku jadi seperti orang gila karena terus tersenyum. Ya itu memang benar, membayangkannya saja bisa membuatku tersenyum.
Tiba – tiba aku ikut tersenyum, dan kau tahu siapa yang ada dibayanganku? Eunhyuk! Segera kusingkirkan pikiran itu sebelum meracuniku lebih dalam. Sudah jelas namja itu hanya menginginkan tubuhku, bukan pertemanan denganku, kenapa aku masih jatuh cinta padanya?
Kusadari akhirnya, aku jatuh cinta padanya. Oh nae yeoja, saranghae. Dan tibalah waktunya kunyatakan cinta padanya. Tapi sebelum aku sempat menyatakannya, dia salah paham. Dia menyangka aku tak tulus dekat dengannya. Padahal itu salah. Memang awalnya ada maksud tersendiri bagiku mendekatinya. Namun semua itu hilang seiring waktu berlalu. Tujuanku sekarang adalah melindunginya, tulus mencintainya. Tapi dia tak mau mendengarku. Dia marah padaku.
“Jelas dia marah padamu, Eunjae ssi,” komentarku dalam hati. Ini juga yang kurasakan saat aku tahu alasan Eunhyuk berteman denganku.
Tapi aku tak masalah dia marah padaku. Aku yakin dia pasti sakit hati begitu tahu tujuanku, walau itu tujuan awalku. What should I do?
Aku tersenyum, “Omo, Eunjae ssi, ceritamu begitu menarik. Baiklah, solusi dari kami adalah carilah waktu dimana kau bisa bicara dengannya tanpa membuatnya bisa mengelak darimu. Jelaskan semua padanya dan minta maaflah padanya. Kalau urusan memaafkan atau tidak itu bukan urusanmu. Yang penting kau sudah minta maaf padanya, Eunjae ssi,”
Kuhela nafasku. Kuharap Eunhyuk juga melakukan ini padaku. Menjelaskan semua padaku lalu minta maaf. Aissh… Ada apa denganku? Kenapa aku terus memikirkan namja kurang ajar itu? Segera kuenyahkan pikiran tak penting itu.
“Baiklah, siapa mau berkomentar? Lewat telepon bisa, SMS bisa, e-mail juga bisa. Let’s go,” kataku, “Yeoboseyo?”
“Halo,” jawab seorang namja disana.
“Yeoboseyo. Neo nuguseyo?” tanyaku.
“Lee Eunjae imnida,” jawabnya. Aku tersenyum.
“Omo! Inilah dia penulis e-mail kita tadi,” ujarku, “Bagaimana, Eunjae ssi? Solusi yang kuberi tadi bagus kan?”
Ia tertawa kecil, “Ne. Gomawo, Moni ssi,”
“Cheonma, Eunjae ssi. Do the best! Fighting!” semangatku padanya. Ya, aku merasa senasib saja dengan yeoja yang diceritakan Eunjae itu.
Ia tertawa lagi, tawanya indah sekali, mengingatkanku dengan tawa Hyukjae. Ya, lagi – lagi aku memikirkan biasku itu. Aku harus melakukan sesuatu supaya Eunhyuk tak mampir ke otakku lagi.
“Eunjae ssi, masih disitu?” tanyaku.
“Ne,”
“Kau tahu, menurutku yeoja yang kau suka itu adalah yeoja beruntung,” kataku.
“Waeyo?”
“Molla. Mendengarmu bicara seperti ini membuatku berpikiran kau sosok ideal untuk dijadikan namjachingu,” jawabku jujur.
“Gomawo, Moni ssi, kau membuat semangatku minta maaf padanya bangkit lagi,” sahutnya. Aku tersenyum.
“Cheonma,”
“Hmm… Moni ssi, kau mau tahu siapa yeoja beruntung itu?” tanyanya.
Aku langsung semangat. “Nuguseyo?”
“Kau,”
Apa telingaku salah menangkap? Apa yang dikatakan Eunjae tadi? Aku?
Aku tertawa, “Ya, Eunjae ssi. Jangan bercanda. Siapa yeoja beruntung itu?”
“Kau, Moni ssi. Kaulah yeoja yang kusayang, Oh Moni,” sahutnya lagi.
Aku terhenyak. Apa maksudnya dia bicara begitu?
“Kau… Siapa kau?” tanyaku. Aku yakin dia mengenalku. Dia pasti bukan Lee Eunjae.
“Kau lupa dengan suaraku?” tanyanya balik. Kudengarkan suaranya dan mengerti.
“Sudah ingat?” tanyanya lagi. Eunhyuk Oppa?
“Oppa?!” gumamku.
“Ne, Moni-ya. Kau sudah ingat?”
Aku langsung ingin menutup teleponnya. Walau aku ingin mengobrol dengannya, tapi aku masih marah padanya. Aku menoleh ke Yoonji yang menjaga telepon. Namun dia diam saja saat kuisyaratkan dia mematikan telepon. Apa Yoonji sudah bekerja sama dengan Eunhyuk?
“Kau bilang solusinya adalah kita harus bicara dalam keadaan dimana kau tak bisa mengelak. Saat inilah waktunya, kau tak bisa mengelak dariku,”
“…”
“Lalu kau bilang aku harus menjelaskan semuanya. Semua sudah kujelaskan, Moni-ya. Memang itu tujuan awalku, tapi semua sudah berubah. Sekarang tujuanku bersamamu hanya untuk mencintaimu, melindungimu,” jelas Eunhyuk. Aku diam, menunduk dan tanpa terasa menahan tangis.
“Ta… Tapi Oppa…”
“Mianhae, Moni-ya. Mian sudah pernah tak tulus padamu. Tapi sekarang aku benar – benar tulus berteman denganmu,”
“Solusi berikutnya aku harus minta maaf padamu. Oh Moni, dengarkan aku. Aku minta maaf padamu. Mianhae. Jeongmal mianhae,” katanya. Dapat kutangkap sebuah ketulusan disana. Ya Tuhan, apa ini benar?
“Sebenarnya solusimu kurang satu lagi,”
Aku mendongak, “Mwo?”
“Saranghae, Moni-ya. Kau lupa mencantumkan nyatakan cintamu padanya. Tapi kutambahi sendiri. Saranghae, Moni-ya. Neomu neomu neomu saranghae,” katanya. Air mataku menetes. Kali ini aku tak bisa berbohong. Aku mencintainya. Aku menyayanginya.
“Maukah kau mencintaiku juga?” tanyanya. Tuhan, jantungku berdetak cepat sekali. Aku benar – benar tak menyangka biasku menyatakan cintanya padaku.
“Ne, Oppa,” jawabku singkat dan lirih.
“Gomawo, Moni-ya,” ujar Eunhyuk dengan nada kelegaan.

***
“Annyeong haseyo, Oppadeul. Oh Moni imnida,” kataku memperkenalkan diri. Aku benar – benar tak percaya aku ada dihadapan Oppadeul of Super Junior.
“Jadi ini yeojachingu-mu?” goda Leeteuk. Pipiku bersemu.
“Ya, Hyung, dia baru datang. Jangan langsung menggodanya,” kata Eunhyuk, “Tapi memang benar, dia yeojachinguku,”
“Chukhae, Eunhyuk-ie!” seru Sungmin dan menepuk bahu Eunhyuk. Mereka tertawa bersama. Lalu semua ikut – ikut menyelamati kami. Ya Tuhan, aku kan baru jadi pacar Eunhyuk, kenapa mereka seperti ini? Andai aku jadi istrinya, bagaimana jadinya?
“Hei, diamlah! Kalian tak kasihan pada Donghae Oppa?!” seru seorang yeoja. Kutolehkan kepalaku kearah dapur, ada seorang yeoja bercelemek krem memegang panci berisi kimchi jjigae.
Setelah meletakkannya diatas meja, ia mengelap tangannya dicelemeknya lalu melepasnya. Kemudian yeoja itu menghampiriku, “Annyeong haseyo, Eonnie-ya. Cho Eunri imnida,”
Cho Eunri? Dia… Kutatap Kyuhyun. Evil itu tersenyum, “Kenalkan, dia istriku,”
Mwo? Kyuhyun sudah punya istri. Sepertinya aku butuh penjelasan dari Eunhyuk nantinya.
“Kenapa perlu kasihan padaku?” tanya Donghae sambil memakan apelnya. Memang namja satu itu maniak sekali dengan healthy food.
“Kau kan couple-nya Eunhyuk Oppa,”
“Hei, Eunri-ya, kau salah. Yeojachinguku memang Moni-ya, tapi belahan jiwaku tetap Donghae-ya,” jawab Eunhyuk. Kami semua tertawa.
“Geurae, Eunri-ya. Yang perlu dikasihani itu Leeteuk Hyung. Usia hampir kepala 3, mau masuk wamil, tapi tak laku juga,” sambung Donghae. Leeteuk yang mendengarnya langsung bangkit.
“Apa kau bilang?!” serunya dan mengejar Donghae sambil bersiap memukulnya.
“Ya, Hyung, mian. Aku hanya bercanda,” kata Donghae sambil lari tunggang langgang didalam dorm itu. Aku tertawa dan bergeleng – geleng. Sepertinya menjadi bagian dari Super Junior itu menyenangkan.
“Eonnie-ya,” panggil Eunri.
“Wae?”
“Welcome to Super Junior,” sambutnya. Aku tersenyum padanya. Hahaha…. Welcome to Super Junior. Kira – kira, siapa yeoja beruntung (atau sial) berikutnya yang bergabung denganku dan Eunri? Molla.

T.A.M.A.T

10 Comments (+add yours?)

  1. nori
    Feb 20, 2012 @ 13:35:24

    so sweet. .
    eunhyuk tetep cinta sama moni walopun pekerjaan moni kyk gt. .
    dan menjadi bagian dr yeoja beruntung (mungkin sial) dr suju. .
    nice ff. .

    Reply

  2. xna_cloudsjewelspumpkins
    Feb 20, 2012 @ 18:03:16

    Ohhh..so sweeet chingu^^
    g kbyang hyukkie puny yeochngu seorg psk..
    Kirain ne squel na…crt ttg wookie trnyt eh trnyta…
    Ntr crt na brsmbg dgn mmbr yg bda y??
    g sbr nggu umin n yesung..hmm chullie jg..

    Reply

    • han dongsun
      Feb 21, 2012 @ 05:20:00

      Gomawo udh baca chingu^^
      Iya, bersambung.ny ke member lain..
      Klo ceritanya yesung, umin sm chullie insya allah yaa.. ^^

      Reply

  3. hanatomi
    Feb 20, 2012 @ 18:19:55

    Daebak!really really nice ff! aku suka! syok habis! teruskn mnulis,ya author? Fighting! (^0^)

    Reply

  4. Nindia indriani
    Feb 20, 2012 @ 20:28:04

    Eunhyuk so sweet banget.

    Reply

  5. cho nabila
    Feb 20, 2012 @ 20:48:32

    siapan lagi yaa?
    pastinya nunjuk diri sendiri heheheheh
    this good ff daebak buat authornya =D

    Reply

  6. ChaeyeonCho
    Feb 20, 2012 @ 22:19:21

    Ddaebakkkkk,kereenn
    mau dong jadi The next,Couple nya Yeye oppa thoor*aegyoo

    Reply

  7. tiara bedingfield
    Feb 23, 2012 @ 14:51:22

    aku suka author,aku ikutin lih dr yg our wedding daebakk !!

    Reply

  8. ping
    Feb 25, 2012 @ 00:26:07

    hyaaa nice ff >,<b
    aku bacanya geregetan sendiri terus senyum senyum sendiri aaaaa
    hyuk drives me crazy! lol

    ditunggu ya author ff hyuk lainnya ^0^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: