Will You Be The Last

Judul: Will You Be The Last
Penulis: @shvla731

Blue cafe sore itu tidak terlalu ramai. Cukup nyaman untukku dan Siwon bercengkrama. Saling menceritakan hari- hari yang kita jalani secara terpisah. Terkadang kami tertawa, mendengus kesal, bahkan berkaca- kaca nyaris menitikkan air mata. Tidak terasa sudah dua jam kami menghabiskan waktu berdua seperti ini. tentu saja tak terasa, karena sudah dua minggu kami tidak bertemu.
Tiba- tiba lagu Andante dari super junior mengalun pelan di ponselku.
“Yoboseyo” jawabku setelah menekan tombol hijau di layar ponselku. “Ne, ne, oke.” Kumasukkan kembali ponselku ke dalam tas lalu menatap lembut siwon oppaku. “Aku harus segera ke rumah sakit. Mianhae” kataku sambil nyengir.
“Apa lagi sekarang? Pasien itu lagi?” nampak raut kecewa dari wajah Siwon.
“Oh, ayolah oppa. Oppa tau ini tanggungjawabku kan. Aku akan segera menemui oppa lagi” kataku menenangkan.
“Kemarin kau merengek karena rindu padaku. Sekarang aku datang meluangkan waktu untukmu tapi coba lihat, kau malah meninggalkanku demi pasien itu!” siwon menaikkan beberapa oktaf suaranya dan itu sangat mengejutkanku.
“Sejak kapan oppa jadi kekanakan seperti ini?!” aku tak mau kalah dan ikut ikut menaikkan suaraku. Aku menyambar tas tanganku dan segera hendak berlalu meninggalkan siwon tapi dengan cepat tangan kekar siwon menahan pergelangan tanganku.
“Mianhae, chagiya” katanya melembut.
“Sudahlah oppa, tidak apa” kataku akhirnya lalu kini benar- benar meninggalkannya sendiri.
***
Aku Lee Sohyuk, mahasiswa Seoul National University fakultas kedokteran yang sedang menjalani masa dokter muda di Seoul National University Hospital. Mendapat dosen pembimbing seorang profesor hebat sangatlah tidak mudah. Pasien yang ditangani bukanlah pasien sembarangan sehingga aku harus rela meluangkan banyak waktukku di rumah sakit. Terlebih sejak sebulan ini aku mendapat tanggungjawab untuk merawat salah satu pasien profesor Jang, dosenku itu. Pasienku itu seorang ahjumma berusia 60 tahun yang menderita kelainan klep jantung. Profesor Jang memintaku untuk terus menstabilkan kondisinya sambil menunggu donor jantung yang cocok.
Dan aku adalah yeojachingu dari salah satu member super junior, choi siwon. Kami sudah bersama sejak 2 tahun lalu. Kami merahasiakan hubungan ini dari siapa pun. Hanya dua sahabatku yang tau mengenai hubunganku dan siwon. Bahkan tidak semua member super junior tau tentang hubungan ini, hanya leeteuk oppa dan yesung oppa yang tidak sengaja memergoki kami bersama di hendle and gretel beberapa waktu lalu. Kebodohan kami juga sih, bertemu di cafe yang sudah jelas- jelas milik salah satu member super junior. Ah, pabo!
***
Kukenakan jas putihku ketika sudah menginjakkan kaki di rumah sakit. Aku segera menuju ke ruang perawat untuk mendegar sedikit penjelasan mengenai kondisi terbaru pasienku dari perawat yang tadi meneleponku. Beberapa perlatan medis sudah kugenggam, aku segera menuju ke ruang inap pasien. Bibi itu terbaring lemah setelah mendapat obat penenang dari perawat. Aku melakukan beberapa tindakan medis untuk dapat mengetahui keadaannya secara pasti. Detak jantung dan tekanan darahnya berangsur normal. Aku duduk di samping pembaringannya untuk memantau sebuah mesin di meja.
“Gomawo, dokter” ucap ahjumma itu tiba- tiba mengejutkanku.
“Ahjumma sudah merasa lebih baik?” aku berbalik untuk menghadap ahjumma itu. Ahjumma hanya mengangguk. Aku menarik kursiku untuk lebih dekat ke ranjang. Dan lagi lagi aku menghabiskan banyak waktuku dengan ahjumma walau hanya untuk mengobrol. Kami membicarakan banyak hal, tentang pekerjaannya, tentang orang tuaku, pendidikan dan banyak hal lain.
Tiba tiba poselku berdering. Ada nomor siwon di layarnya. Kureject telponnya dan kembali mengalihkan perhatian pada ahjumma.
“Telepon dari siapa?” tanya ahjumma saat tau aku mereject panggilan di ponselku.
“Tidak apa ahjumma.” Aku berusaha tetap tersenyum.
“Namjachingumu?”
“Mwo?” kenapa tebakannya tepat sekali. Ponselku kembali berdering dan masih telepon dari siwon.
“Angkatlah” hajumma tersenyum.
“Ne, tunggu sebentar ahjumma. Mianhae” aku berjalan keluar ruangan sambil menekan tombol hijau di ponselku.
Aku masih diam sejak kuterima telepon siwon oppa. Aku menunggunya bicara lebih dulu namun ia juga tidak segera bicara. Aku hendak memulai pembicaraan namun siwon oppa mendahuluiku,
“Chagiya, mianhae” katanya lembut. Aku menghela nafas sejenak.
“Ne, gwenchana oppa.”
“Aku tau aku keterlaluan. Aku hanya sangat merindukanmu makanya aku mau kau meluangkan waktu untukku.”
“Aku tau oppa. Mian karena aku tidak bisa benar benar lepas dari pekerjaanku.”
Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan siwon di ponsel, aku kembali masuk ke ruangan ahjumma. Dia nampak sedang membuka buka sebuah majalah. Aku berjalan menuju kursi di samping tempat pembaringannya.
“Apa aku membuatmu tidak bisa berkencan dengan namjachingumu?” aku sedikit terkejut dengan perkataanya yang tiba tiba.
“Ah, aniyo ahjumma. Namjachinguku sedang di Tokyo.” Kataku berbohong agar ahjumma tidak merasa bersalah.
“Oh, syukurlah.” Ahjumma tersenyum lalu kembali menelusuri halaman halaman di majalahnya. Ternyata yang dibaca adalah majalah fashion. Aku dapat melihat banyak gambar contoh gaun pengantin di dalamnya. Walaupun aku agak heran mengapa ahjumma berumur 60 tahun justru melihat lihat gaun pengantin.
“Dokter, anakku akan segera menikah” katanya dengan mata berbinar binar.
“Oh, chukkaehamnida.” Aku tak kalah berbinar binar.
“Karena itu aku harus tetap sehat agar dapat menghadiri pernikahan anakku” ahjumma memandangku “dokter, bantulah aku untuk tetap sehat.” Kali ini ahjumma menggenggam tanganku.
“Pasti ahjumma, itu sudah menjadi tugasku.” Kuberikan senyumanku. Ahjumma menyodorkan majalahnya ke hadapanku,
“Kau suka gaun yang mana?” aku berpikir sejenak lalu menunjuk salah satu gambar gaun pengantin berwarna putih. “Ah, pilihan yang bagus. Aku rasa kita memiliki selera yang sama.” Ahjumma tersenyum nampak sangat senang, ia membelai rambutku seperti anaknya sendiri.
***
Sudah satu minggu sejak hari itu, aku dan siwon oppa sudah berbaikan dan hubungan kami baik baik saja. Aku dapat meyakinkannya bahwa sebentar lagi ahjumma akan mendapatkan donor jantung. Nampaknya dia cukup bisa berbasar sampai aku menyelesaikan kewajibanku itu. Karena setelah ahjumma mendapat donor jantung lalu kembali sehat, aku tidak harus memantau kondisinya 24 jam penuh dan aku akan punya banyak waktu untuk namjachinguku.
Kucek sekali lagi penampilanku di kaca. Sempurna, setidaknya menurutku. Aku tersenyum melihat bayanganku sendiri yang nampak cocok dengan mantel biru pemberian siwon oppa. Tiba tiba ponselku berdering dan segera kuangkat.
“Yoboseyo” sapaku lebih dulu.
“Omona Sohyuk-ah kau ingin aku mati kedinginan di luar? Cepatlah keluar, lama sekali kau berdandan.” Aku cemberut mendengar ucapan siwon oppa di ponsel.
“Ah ne ne, aku turun.” Jawabku dengan nada kesal.
“Ppali dokter Lee Sohyuk.” Katanya lalu segera memutus telepon. Kumasukkan ponselku ke dalam tas dan segera turun ke loby.
Keluar dari loby, ternyata siwon sudah menungguku di luar mobil lengkap dengan penyamarannya yang akan menyembunyikan identitasnya dari perhatian publik. Dia memang tampak kedinginan, dia terus menggosokkan kedua tangannya yang sudah menggunakan sarung tangan. Aku tersenyum melihat itu lalu segera mendekat padanya.
“Annyeong oppa.” Kataku manja sambil melingkarkan tanganku di lengannya.
“Uh, chagiya aku hampir saja mati kedinginan.” Siwon mencubit pelan pipiku lalu tersenyum.
“Mianhae oppa.” Kulemparkan senyuman termanisku agar dia dengan senang hati memaafkanku.
“Ne, kajja” siwon membukakan pintu mobil untukku lalu dia duduk di belakang kemudi.
Siwon menjalankan mobilnya hati-hati karena memang sedang tidak dikejar waktu. Hari ini kami sengaja meluangkan waktu sehari penuh untuk berdua. Kami akan pergi ke taman bermain seperti kencan pertama kami. Kebetulan hari ini jadwal siwon kosong dan aku sudah menitipkan semua urusan pasien pada perawat di rumah sakit. Lagipula profesor Jang juga sedang di Seoul jadi jika ada pasien yang bermasalah bisa segera menghubungi Profesor Jang.
Kami sampai di sebuh taman bermain yang tidak begitu ramai karena ini bukan hari libur. aku dan siwon oppa tak henti hentinya menyunggingkan senyum karena terlalu bahagia. Hampir semua wahana yang ada kami nikmati satu per satu. Mulai dari perahu dayung, sepeda air, roller coaster, dan masih banyak lagi. Tepat pukul 6 sore, kami menaiki wahana bianglala yang sangat tinggi. Kami sampai di puncak tertinggi ketika matahari mulai terbenam dan lampu- lampu mulai dinyalakan. Pemandangan dibawah terlihat sangat indah, kerlip kerlip lampu kecil rumah rumah penduduk hingga lampu lampu gedung pencakar langit menambah indah suasana sore kota Seoul.
“Betapa ini sangat indah kan oppa?” kataku tanpa mengalihkan mataku dari pemandangan yang menakjubkan itu.
“Ne, sangat indah. Tapi tidak lebih indah dari yeoja di sampingku.” Katanya sambil matanya berputar menikmati pemandangan yang terhampar.
“Oppa bisa saja.” Aku tersenyum lebar sambil mencubit ringan pinggangnya. Kami kembali terdiam menikmati pemandangan itu. Aku dapat merasakan kalau siwon merapatkan duduknya denganku. Tanganya juga mulai merangkul pundakku. Aku hanya terdiam pura pura tidak tahu sampai akhirnya siwon memanggilku
“Chagiya” katanya berbisik di telingaku. Aku menoleh padanya yang ternyata sedang menatapku tajam. Perlahan namun pasti siwon mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Siwon juga mulai menutup matanya begitu pula denganku. Hembusan nafasnya semakin dekat menyentuh permukaan kulit wajahku dan tiba tiba ponselku berdering sehingga dengan terpaksa siwon menjauhkan kembali wajahnya.
“Yoboseyo.” Kataku di ponsel. Aku mendengar siwon mendengus kecil di sampingku dan itu membuatku tersenyum geli.
“Mwo? Memangnya profesornya Jang kemana? Ne, Ne, arasso.” Teleponnya terputus.
Aku menatap siwon oppa dengan pandangan sedih dan menyesal. Siwon menatapku dengan pandangan penuh tanya dan penasaran dengan pembicaraanku di telepon.
“Mianhae oppa” kataku sambil melingkarkan tanganku di lengannya.
“Kau harus ke rumah sakit?”
“Profesor Jang sedang berada di Busan. Mianhae, aku tidak akan lama.” Kusandarkan kepalaku di pundaknya.
“Tidak apa, ini sudah tanggung jawabmu. Aku bisa mengerti.” Katanya menenangkanku sambil membelai lembut rambutku.
“Keure? Kita lanjutkan setelah aku pulang dari rumah sakit. Aku janji.” Kuberikan kecupan ringan di pipinya. Siwon hanya mengangguk sambil tersenyum sangat bahagia.
Siwon oppa mengantarku sampai depan gerbang rumah sakit. Dia tidak menungguku karena ada urusan dengan Leeteuk oppa.
Aku segera menemui ahjumma yang tiba- tiba saja drop. Aku juga sedikit bingung karena saat terakhir kali aku mengecek kondisinya, dia nampak lebih sehat menyambut donor jantung yang kabarnya akan siap 1 bulan lagi. Untuk mengatasi kondisi kesehatan ahjumma yang tiba- tiba drop, aku harus menghubungi profesor Jang yang sedang ada di Busan. Karena itulah aku dapat mengembalikan kondisi ahjumma lebih cepat. Setelah memastikan ahjumma akan baik- baik saja, aku memutuskan kembali ke apartemen.
Aku baru saja mandi dan berganti pakaian ketika ponselku berdering dan ada nama siwon oppa di layarnya.
“Yoboseyo” sapaku.
“Kau di apartemen?”
“Ne” jawabku singkat.
“Turunlah, aku sudah di luar.” Lalu siwon oppa memutuskan teleponnya. Aku segera mengenakan mantel dan berlari ke luar.
Siwon oppa sudah menungguku dengan posisi yang sama seperti tadi pagi. Tanpa banyak bicara, setelah mengecup keningku dia membukakan pintu mobil. Siwon mengendarai mobilnya ke daerah yang cukup asing untukku. Sepertinya siwon oppa belum pernah mengajakku ke tempat ini. dia menepikan mobilnya di sebuah tanah lapang berumput pendek rapi yang sangat indah di malam hari karena banyak kunang kunang di sana.
Dengan pandangan bingung aku turun dari mobil dengan siwon oppa yang berjalan di belakangku.
“Oppa, ini tempat apa?” kataku sambil tetap memandang ke sekeliling tanah lapang itu.
“Kau suka?” siwon memandangku yang masih kebingungan.
“Oppa bercanda? Tentu saja aku suka, ini sangat indah.” Kini aku berbalik untuk menatap mata siwon. Dia membalas tatapanku dengan lembut. Tapi entah mengapa aku tak dapat mengartikan pandangannya kali ini. aku masih berusaha menemukan jawabannya dengan terus menatap matanya yang tiba- tiba berkaca- kaca.
Siwon menarik tubuhku dalam dekapannya. Aku semakin dibuat bingung. Ada apa dengan namjaku? Apa dia sedang sedih? Apa ada yang dia sembunyikan dariku?
“Oppa, ada apa?” tanyaku masih dalam dekapannya. Aku dapat merasakan siwon menggeleng pelan.
“Tidak ada, aku hanya terlalu mencintaimu.” Aku tersenyum kecil mendengar itu.
“Oppa, nado saranghaeyo” aku membalas pelukannya tak kalah erat.
Kami menghabiskan waktu memandangi langit malam dengan bintang bintang terang di sekitar kami yaitu kunang kunang. Aku jadi berpikir bagaimana hidupku tanpanya. Aku tidak yakin aku dapat bernafas dengan baik jika siwon oppa tak ada di sampingku.
Aku dan siwon oppa sampai di depan pintu apartemenku.
“Oppa, aku akan masuk” kataku sambil menunjuk pintu di belakangku.
“Masuklah, aku akan melihatmu sampai kau hilang di balik pintu.” Katanya datar sambil tetap memandangiku.
Aku sungguh merasa ada yang aneh padanya malam ini. kuhela nafas yang sedikit berat karena aku belum juga tau apa yang menyebabkannya seperti ini. kupaksakan seulas senyum padanya lalu berbalik dan mulai meraih pintu. Belum sempat aku membuka pintu, siwon meraih tubuhku dan kembali memelukku namun kali ini dari belakang. Aku dapat merasakan nafasnya yang tidak teratur di tengkukku. Detak jantungnya juga lebih cepat daripada orang normal.
“saranghaeyo chagiya.” Bisiknya pelan namun cukup jelas untuk kutangkap. “Maaf aku harus meninggalkanmu. Aku sungguh tidak menginginkan ini tapi aku harus. Kau boleh menganggapku pengecut atau apa. Yang harus kau tau adalah aku hanya mencintaimu. Sejak aku mengenalmu, tidak ada satu yeojapun yang dapat membuat pikiranku beralih darimu. Tapi aku harus menikah dengan yeoja yang telah Eomma pilihkan untukku dan bodohnya aku tidak bisa menolak itu. Berjanjilah kau akan melupakanku dan mencari namja lain yang tidak pengecut sepertiku.”
Tanpa terasa setitik demi setitik airmata menetes ke pipiku. Aku bingung sekaligus sedih. Aku cukup mengerti apa yang yang sedang dibicarakannya. Walapun siwon tidak mengatakan kata- kata itu. Tapi intinya adalah bahwa hubungan kami akan berakhir mulai dari sekarang. hubungan bertahun tahun yang sudah kami jalani akan berakhir mulai malam ini. tidak ada lagi jalan- jalan ke taman bermain bersama, tidak ada lagi sembunyi sembunyi untuk kencan, semuanya akan segera berakhir.
Siwon melepaskan pelukannya lalu berlari menuju pintu lift. Dengan cepat lift terbuka dan ia masuk dengan tenang. Aku hanya dapat memandangi punggungnya yang semakin jauh.
“Oppa, saranghaeyo” kataku lirih.
Apakah ini benar benar terjadi? Bukankah tadi pagi kami baru saja mengulang kencan pertama kami? Mengapa secepat itu berakhir? Tidak, tentu saja tidak secepat itu. Kami sudah berpacaran selama 3 tahun. Ya, selama ini kami memang merahasiakan hubungan ini bahkan dari orang tua kami. Dan apa karena itulah orang tua siwon oppa menjodohkannya dengan yeoja lain. Tapi jika orang tua siwon oppa tau bahwa anaknya sudah memiliki yeojachingu, apakah mereka akan tetap melakukan perjodohan itu? Sekalipun mereka tau, apakah mereka akan menerimaku?
***
Kulirik sekali lagi layar ponselku. Tidak ada. Ini sudah hari kelima siwon tidak menghubungiku sama sekali. Tidak ada sms maupun telepon yang masuk darinya. Berulang kali kucoba meneleponnya mengiriminya sms namun tak ada satupun yang dijawab.
“Dia tidak menjawabnya?” tanya Yesung oppa sambil meletakkan dua minuman di meja lalu duduk di sampingku. Aku menggeleng pelan.
“sama sekali tidak” jawabku lesu.
“Aku rasa dia butuh waktu, bukan hanya kau yang tersiksa dengan ini. siwon juga pasti sama tersiksanya denganmu.” Kata Yesung oppa. “Sudah lama dia tidak ke dorm. Setelah latihan juga langsung pulang tanpa banyak bicara dengan kami.” Lanjutnya.
“Menurut oppa, apakah ada yang bisa aku lakukan?”
“Maksudmu bicara dengan orang tuanya?” Yesung oppa nampak sedikit terkejut dengan pertanyaanku.
“Entahlah, tapi jika itu perlu aku akan melakukannya.” Kataku lemah karena aku tau itu adalah ide bodoh yang sia sia.
“Aku pikir kau tau bagaimana orang tua siwon.”
“Aku tau oppa…..” orang tua siwon oppa adalah sosok orang tua yang cukup tegas. Tidak ada yang boleh dan berani menetang seremeh apapun keputusan mereka.
“kalau begitu itu akan sia sia.” Aku mendengar nada putus asa pada bicara yesung oppa.
Aku menunduk dan menghela nafas berat. Siwon oppa, apakah hubungan kita benar benar hanya sampai di sini?
“Apakah kau mencintai siwon?” tanya Yesung oppa tiba- tiba membuatku mendongakkan kepala kembali. Aku mengangguk pelan karena ragu dengan pertanyaannya. “Kalau begitu percayalah padanya. aku rasa siwon bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja. Aku tau dia sangat mencintaimu dan seberat apapun dia akan memperjuangkannya. Yang perlu kau lakukan adalah tetap mencintainya dan percaya padanya.”
***
Sejak perbincanganku dengan Yesung oppa, aku berusaha untuk kembali menata hidupku tanpa kehadiran siwon oppa di pandanganku walaupun dia tetap hadir di hati dan pikiranku. Aku menyibukkan diri dengan persiapan operasi ahjumma. Aku lebih sering berada di rumah sakit, menemani ahjumma berincang atau hanya sekedar melihatnya tertidur.
Aku bukan berusaha melupakan siwon oppa karena aku tau itu diluar kemampuanku. Terkadang aku merindukannya, sangat rindu sampai tanpa kusadari airmataku mengalir. Ingin sekali pergi bersamanya, menggenggam tangannya dan jalan beriringan. Tapi aku bersyukur karena melalui yesung oppa aku dapat tetap memantaunya.
“Dokter, kau melamun?” tanya ahjumma tiba tiba mengejutkanku.
“Ah, ani” kataku gugup karena kepergok.
“Dokter, kau suka yang mana?” lagi lagi ahjumma menyodorkanku majalah dengan banyak model gaun pengantin dan kali ini majalah yang berbeda lagi.
“Entahlah ahjumma.” Kataku setelah sekilas memandang majalah itu.
“Apa terjadi sesuatu? Kau tampak tidak bersemangat akhir akhir ini.” aku sedikit terkejut karena ahjumma memperhatikanku.
“Tidak terjadi apapun ahjumma” aku terus berusaha mengelak. Ahjumma menutup majalahnya lalu menggenggam tanganku.
“Bukankah kita adalah sepasang ibu dan anak? kenapa kau tidak mengatakannya pada ahjumma?” aku menatap mata ahjumma dan kutemukan kembali kehangatan itu. Kehangatan mata Eomma yang sudah lama tak kulihat karena aku dan eomma tinggal terpisah.
“tidak ada ahjumma, hanya saja aku dan namjachinguku sudah mengakhiri hubungan kami.” Aku menyerah dan mengatakannya pada ahjumma. Tanpa ragu ahjumma memelukku sangat erat.
“Kau akan mendapatkan namja yang jauh lebih baik darinya.”
***
Waktu operasi ahjumma tinggal satu minggu lagi. Profesor Jang menyarankanku untuk berlibur di rumah Eommaku karena nampaknya ia juga menyadari bahwa pikiranku memang sedang tidak baik. Profesor yang akan memantau kesehatan ahjumma menjelang operasinya sehingga aku dapat dengan tenang menikmati liburanku.
Tanpa terasa aku sudah menghabiskan 3 hari jauh dari hiruk pikuk Seoul. Aku merasa moodku lebih baik dan aku telah siap kembali ke rutinitasku. Lagupula, sepertinya aku merindukan ahjumma dan tentu saja siwon oppa. Lama sekali tidak diam diam mengamatinya dari jauh bersama member super junior yang lain.
Kuputuskan hari ini aku kembali ke Seoul. Setelah berpamitan dengan appa dan eomma aku menuju Seoul dengan menggunakan kereta api. Sesampainya di Seoul aku langsung saja ke rumah sakit untuk menanyakan kondisi ahjumma pada profesor Jang karena sebentar lagi ia akan menjalani operasi transplantasi jantung. Semoga ahjumma tetap sehat seperti saat terakhir kali aku melihatnya sebelum berlibur.
Aku membuka ruangan kerja profesor Jang yang tampak lengang. Tumben sekali, seharusnya jam segini profesor sedang ada di ruangannya seperti biasa. Atau mungkin profesor makan siang di luar bersama rekan yang lain? Aku memutuskan menuju ruang perawat dan ternyata profesor sedang ada di sana. dia nampak berbicara dengan beberapa perawat namun tanpa jas putihnya.
“Annyeonghaseyo profesor Jang.” Kataku menyapanya lebih dulu. Dia nampak terkejut dengan kehadiranku.
“Oh, astaga kau kembali lebih cepat dari yang kuperkirakan.”
“Iya profesor, aku tidak nyaman jauh dari rumah sakit untuk waktu yang terlalu lama.” Profesor manggut manggut mendengar pernyataanku. Dia berjalan menghampiriku lalu menepuk pundakku,
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Aku hanya mengangguk. Profesor mengisyaratkan untuk mengikutinya ke ruang kerjanya. Aku berjalan di belakang profesor menuju ke ruang kerjanya.
Aku dan profesor duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja. Profesor nampak sedang menimbang ucapannya. Mungkin dia sedang menyusun kalimat untuk selanjutnya diutarakan padaku.
“Sebenarnya, yang ingin kukatakan adalah……. nyonya Youmi sudah meninggal.” Katanya hati hati. Mataku membelalak mendengar kalimat yang keluar dari mulut profesor. Aku tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
“Tidak mungkin profesor, ahjumma nampak sehat saat aku meninggalkannya.” Aku benar benar tidak percaya.
“Ya, nyonya Youmi meninggal kemarin sore. Dan hari ini adalah upacara pemakannnya. Sebelum meninggal, ia mengatakan padaku bahwa ia ingin kau hadir di pemakamannya. Aku baru saja berniat menghubungimu.”
Aku seakan tak sanggup berkata apapun karena aku merasa ini sangat mendadak untukku. Aku baru saja berbincang dengannya tiga hari lalu dan ia nampak sehat. Sedikit demi sedikit air mataku menetes dan tak bisa kukendalikan.
Tanpa banyak membuang waktu, aku segera menuju apartemenku untuk mengganti pakaian. Bersama profesor Jang aku hadir pada upacara pemakaman ahjumma. Begitu banyak orang yang hadir di upacara pemakaman itu. Satu hal yang membuatku sangat terkejut adalah aku melihat siwon oppa berdiri di samping gundukan tanah tempat ahjumma dimakamkan. Mata siwon oppa tampak sembab dan tak jauh darinya, semua member super junior berdiri menunduk merasakan kesedihan yang sama. Sebenarnya aku sangat heran dengan pemandangan itu, tapi rasa sedihku mengalahkannya. Aku benar benar merasa kehilangan atas meninggalnya ahjumma. Ahjumma sudah aku anggap sebagai pengganti eommaku di seoul.
Upacara pemakaman berjalan lancar tanpa kendala. Tamu tamu berangsur pulang namun aku masih mematung sampai orang terakhir yaitu siwon oppa meninggalkan pemakaman. Sebelum berlalu, siwon oppa berdiri tepat di hadapanku dengan pandangan yang aneh dan nampak terkejut karena kehadiranku.
“Maaf karena aku harus meninggalkanmu. Aku sungguh harus menikah dengan wanita pilihan eommaku. Aku harus karena aku telah membunuh eommaku sendiri.” Kata siwon oppa sebelum berlalu melewatiku.
***
Tepat satu minggu setelah kepergian ahjumma untuk selama lamanya. Dan kini aku tahu bahwa wanita yang selama ini menjadi pasienku itu adalah eomma siwon oppa. Wanita yang menyebabkan aku harus berpisah dengan siwon oppa. Wanita yang menyita banyak waktuku sehingga aku tidak punya cukup waktu untuk bersama siwon oppa. Sedikit ada kemarahan di hatiku terhadap wanita itu. Sungguh, aku tak habis pikir apa salahku padanya sampai dia melakukan itu padaku.
Hari ini aku bertemu lagi dengan Yesung oppa. Jujur, saat pikiranku kalut aku lebih memilih menceritakannya pada yesung oppa. Dia benar benar tempat yang tepat untuk mencurahkan semua isi hatiku.
“Sebenarnya siwonlah yang menyebabkan eommanya kembali drop.” Kata Yesung oppa menceritakan kejadian selama aku meninggalkan seoul 3 hari.
“Bagaimana bisa?”
“sore hari sebelum meninggalnya ahjumma, siwon menjenguk ahjumma. Tak kusangka siwon membicarakan soal penolakannya dengan perjodohan itu. Ahjumma tak bisa mengontrol emosinya karena penolakan siwon lalu kondisinya memburuk. Dan begitulah selanjutnya.” Aku manggut manggut mendengar penuturan yesung oppa. “Aku rasa karena itulah siwon akhirnya memutuskan untuk menerima perjodohan itu. Dia merasa bersalah.”
Tak lama setelah berbincang dengan Yesung oppa, aku mendapat telepon dari rumah sakit bahwa aku mendapat undangan untuk hadir pada pembacaan surat wasiat nyonya Youmi. Sebenarnya aku enggan untuk hadir, tapi bagaimanapun menolak undangan itu tidak sopan.
Tidak banyak yang hadir dalam acara itu. Sepertinya semua yang hadir adalah kerabat dekat atau rekan kerja. Ada juga profesor Jang yang mungkin akan menerima ucapan terima kasih. Dan aku rasa itu juga yang akan aku terima walaupun aku berharap dia juga memberikan ucapan maaf karena telah banyak menyita waktuku untuk siwon oppa terlebih ternyata dia juga yang telah membuat aku harus berpisah dengan siwon oppa. Aku tidak tau ini benci atau apa, hanya saja aku merasa sangat marah padanya.
Aku tidak terlalu memperhatikan surat wasiat nyonya Youmi yang dibacakan oleh pengacaranya dan sampai pada bagian yang ditujukan untuk siwon oppa. Aku melirik sekilas padanya, siwon oppa masih terduduk lesu.
“Choi Siwon anakku, maafkan eomma karena memintamu melakukan sesuatu yang mungkin akan sangat berat untuk kau penuhi. Mungkin permintaan ini memang karena keegoisan eomma. Eomma terlalu ingin menjadikan gadis itu sebagai anak eomma, dan satu satunya cara adalah dengan menjadikannya sebagai istrimu. Eomma mohon carilah dia, mintalah dia untuk menjadi istrimu dan berikan cincin eomma padanya,” pengacara yang membacakan surat wasiat itu mengambil sebuah kotak putih kecil dari tasnya. Ketika kotak itu dibuka, nampak sebuah cincin yang sangat indah, permata kecil mengkilat menghiasinya. “Namanya Lee Sohyuk, dia adalah dokter yang selama ini rela meluangkan banyak waktunya untuk eomma. Eomma sudah menganggapnya seperti anak eomma sendiri. Eomma percaya kau akan melakukan permintaan terakhir eomma ini sekalipun eomma tak bisa melihat pernikahan kalian kelak.”
Aku hanya dapat mematung kaku ketika namaku disebut. Nafasku satu dua, rasanya seperti kesadaranku semakin menurun. Aku tidak yakin dengan apa yang kudengar.
Dapat kulihat dari ujung mataku kalau siwon oppa berdiri dari duduknya lalu menghampiri pengacara yang berdiri di hadapan semua orang. Siwon oppa mengambil cincin di kotak itu dan kini dia berjalan ke arahku. Semakin dekat dan semakin dekat lalu dia berlutut di hadapanku. Detak jantungku semakin tidak karuan ketika siwon oppa menatap tepat di mataku. Tatapan matanya tajam namun penuh cinta sampai aku seakan tak bisa mengalihkan pandangan dari tatapan matanya.
Dia tetap menatap tepat di mataku. Kini aku dapat merasakan kalau tangannya mulai menyentuh jemariku. Oh Tuhan, aku benar benar merasakannya. Siwon oppa memasangkan cincin di jari manisku. Dia melakukannya sambil tetap memandang lurus mataku. Aku merasa pandanganku mulai buram lalu satu per satu tetesan air mata jatuh di pipiku. Dia mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telingaku,
“Will you be the last for my love and my heart?”
Aku menjawabnya dengan anggukan mantap.
.THE END.

16 Comments (+add yours?)

  1. ucisyukrillah
    Feb 20, 2012 @ 14:30:13

    Ga nyangka……endingnya bgni……..sy ktipu……..sy ska critanya….^_^

    Reply

  2. leli
    Feb 20, 2012 @ 15:12:12

    so sweettt

    Reply

  3. DonghaEtha
    Feb 20, 2012 @ 15:47:01

    Gak tau mesti komen apa.
    1 hal, aku suka.
    meski uda prtengahan baca, uda ketebak endingnya gmn

    Reply

  4. LJK~
    Feb 20, 2012 @ 16:07:31

    gyahhaa
    Kirain bakal sad ending
    Haha taunya itu eomma siwon dan prempuan yg d anggapnya anak adlah pacarnya siwon
    Kekeke

    Reply

  5. noe_puchiiko
    Feb 20, 2012 @ 16:27:09

    Nice FF…
    Like the story^^

    Reply

  6. Lyka_BYVFEGS
    Feb 20, 2012 @ 16:40:55

    wah!!!
    tbakanq trnyta bnar, klau yeoja yg may dijodohin ma siwon oppa adalah yeojachingu siwon oppa sndri.

    chingu, aq dpat hdiah kan krna sdah mnbak dgn bnar? *readers sarap#abaikan.

    aq ska chingu, bagus….
    keep writing,,,

    Reply

  7. choiReri
    Feb 20, 2012 @ 16:47:04

    Sumpahh
    Keren bgt crtanya
    Sad + happy ending

    Coba eommanya woonie dri awal ngenalin sma wooniee
    😦

    Reply

  8. nori
    Feb 20, 2012 @ 19:53:11

    ceritanya penuh liku tp berakhir bahagia. .
    pasti siwon melaksanakan wasiat eommanya dg senang hati. .
    bagus ceritanya. .

    Reply

  9. KangSoeun
    Feb 20, 2012 @ 20:27:21

    annyeong ^^
    sy writernya.
    gomawo buat semua komennya. semoga ff selanjutnya bisa lebih baik berkat komen semua ^^

    Reply

  10. sclouds9
    Feb 20, 2012 @ 20:51:58

    aigoo..ya!chingu,ni ff sumpah ya..awalnya nyesek endingnya daebak!speechless..deh..

    Reply

  11. ChaeyeonCho
    Feb 20, 2012 @ 20:54:30

    DAEBAK!
    keren thor,

    Reply

  12. KyuHyukHaeMin_No
    Feb 20, 2012 @ 21:28:37

    nebak” dari awal …..
    agak sedih waktu tahu omma nya Siwon meninggal ,,,,,
    pengennya Omma nya Siwon masih hidup n’ tiba” Siwon n’ Soohyuk gg sengaja bertemu di RS jdi omma nya gg meninggal *khayalan w,,,, hehehe ,,
    Huhuhu ,,,, tapi nice FF ,,, happy ending ……

    Reply

  13. shim eunkyung
    Feb 21, 2012 @ 07:13:08

    Udah bisa nebak di pertengahan.. Hehe
    Tapi ga nyangka aja kalau ahjumma itu eomma kandung siwon

    Reply

  14. Princes fishy-kyu
    Feb 21, 2012 @ 08:27:57

    Uuwwww…..><
    sukaa baged,,?!!..^^~
    nice ff! 🙂

    Reply

  15. lee vie ontaemintz
    Apr 26, 2012 @ 12:54:30

    suka suka suka,
    pengen jdi lee sohyuk,

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: