INVISIBLE

          Title             : INVISIBLE

Author                   : Sora Jang

Genre           : Romance

Length                   : Oneshoot

***

          Yeoja POV

Dia menatap benda mungil berwarna putih itu lagi. Ini sudah yang ke lima sejak aku melihatnya duduk di kursi makan tepat di hadapanku. Wajahnya kembali cemas, jari-jari tangannya kembali menekan tombol benda mungil tersebut. Kembali menghubungi orang yang sama tentu saja. Dia menempelkan benda mungil itu di telinganya, tatapan matanya tampak tak fokus ia arahkan ke sembarang titik. Saat telinganya menangkap tak ada respon di ujung sana, wajahnya seketika itu dipenuhi oleh raut putus asa. Raut putus asa yang selalu dia simpan hanya untuk orang itu, orang yang saat ini entah ada di mana. Raut putus asa yang bahkan tidak pernah sedikitpun dia tunjukkan untukku.

Aku berhenti menatapnya, mengalihkan tatapanku dari wajah putus asanya. Memilih untuk menyelamatkan diriku sendiri dari rasa sakit yang selalu menyeruak setiap kali dia memperlihatkan wajah itu untuk orang lain, bukan untukku. Sebut aku bodoh, ya aku memang bodoh. Sama bodohnya seperti dia yang selalu ada di samping wanita itu setiap saat meskipun ia amat sangat paham bahwa wanita itu tidak pernah menganggapnya ada. Dia selalu tak terlihat di mata wanita itu, sama seperti aku yang selalu tak tampak di mata dia.

“Mi-young ah angkat teleponnya, ayolah. Kau bisa membuatku gila.” Aku mendongak dengan cepat begitu kalimat tersebut keluar dari mulutnya. Dia memijat pelan keningnya, terlalu putus asa. Aku menelan air liurku, membasahi tenggorokanku yang perih. Rasa sakit itu terasa amat sangat nyata.

“Mi-young ah…” Suaranya tak kalah putus asa sekarang, ditekannya lagi tombol benda mungil tersebut, tak ingin menyerah hanya dengan satu, dua, atau tiga panggilan. Aku masih tertunduk, terus menyuapkan nasi dan kimchi ke dalam mulutku, terdiam seperti biasa tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Percuma, tentu saja percuma, karena seperti apapun kata mengalir dari mulutku, dia tidak akan mendengarnya. Tidak saat seperti ini, saat dia terlampau cemas pada wanita itu.

Dia berlari ke arah pintu tanpa menatapku. Selalu. Dia selalu melakukannya setiap kali dia harus pergi menemui wanita itu. Wanita bernama Park Mi-young yang selalu dicintainya dengan cara paling tak logis, sama seperti caraku mencintainya.

Ya, tak logis. Karena hanya wanita bernama Mi-young itulah yang bisa membuat dia selalu mampu berbuat bodoh tanpa merasa lelah sekalipun. Hanya wanita bernama Mi-young itulah yang bisa membuatnya lupa bahwa ada aku di sampingnya, bahwa aku mencintainya.

Aku mencintai dia, mencintai pria itu. Pria bodoh yang sayangnya mencintai wanita lain, bukan aku. Aku mencintainya dengan cara paling tak logis seperti cara pria itu mencintai wanita bernama Mi-young. Bagaimana bisa aku tidak mencintainya? Dia seperti malaikat, bahkan sampai saat ini aku tidak percaya bahwa dia adalah seorang manusia, bahwa aku selalu berkhayal suatu saat nanti dia akan benar-benar pergi dariku dan kembali ke surga dengan sayap putih miliknya.

Ya, dia malaikat. Malaikat yang terlampau baik sampai entah dengan alasan apa dia bersedia menampungku di rumah miliknya. Bersedia menampungku, gadis yang bahkan tidak dikenalnya sejak satu tahun yang lalu. Entah karena saat menemukanku dia kasihan melihat kondisiku yang menyedihkan? Terduduk kedinginan di depan pagar rumahnya dan tidak memiliki tujuan setelah dua hari sampai di Seoul dari Busan. Dia malaikat, malaikat yang selalu memperkenalkanku sebagai adiknya pada orang-orang di sekitar rumahnya, yang tanpa ragu menyelipkan marganya di depan namaku. Malaikat yang terlampau baik hingga tidak perduli berapa kali wanita bernama Mi-young itu menolaknya, pria itu tetap memaksa untuk terus berada di sampingnya.

Setelah pria itu pergi, aku terpaku menatap mangkuk berisi nasi yang tergenggam erat di tangan kiriku, aku menghembuskan nafas, mengusir rasa sesak yang sejak tadi mati-matian kutahan. Detik berikutnya, saat aku kembali menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutku, air mataku jatuh perlahan.

***

Namja POV

“Kau tidak seharusnya datang kemari.” Mi-young berdiri di hadapanku, menatapku yang kini berdiri kaku di depan pintu rumahnya, dia menatapku dengan mata lelahnya. Wajahnya pucat, sama seperti yang selalu kulihat selama tiga bulan ini. Aku memalingkan wajahku dari sosoknya, menatap tak jelas ke arah tumpukan salju yang menutup sempurna halaman rumahnya. Sejenak kami sama-sama terdiam.

“Saljunya semakin lebat, pulanglah.” Suaranya terdengar kembali, suara pelan yang terdengar berbeda dengan apa yang terekam dalam otakku selama. Suaranya selalu terdengar ceria, dulu. Kenapa kau membiarkan pria itu merubahmu menjadi gadis yang tidak kukenal Mi-young ah?

“Aku mohon pulanglah.” Kali ini suara Mi-young benar-benar terdengar pelan. Aku menghembuskan nafas, menatapnya yang kini sedang tertunduk.

“Aku hanya cemas padamu Mi-young ah, kau tidak menjawab teleponku.” Suaraku kini terdengar, Mi-young menatapku.

“Apa kau akan pergi jika aku berjanji akan menjawab teleponmu saat kau menghubungiku nanti?” Mi-young menatapku dengan sorot jengah. Aku mengangguk pelan, lalu kembali tertunduk.

“Kalau begitu pulanglah.” Dia menutup pintu rumahnya, membiarkan aku terpaku sendiri di balik pintu tersebut. Untuk kesekian kalinya aku menghembuskan nafas, sebelum akhirnya berjalan dengan langkah gontai, meninggalkan rumahnya.

Aku memang pria bodoh, selalu rela merasa sakit hanya agar aku bisa bertahan di sampingnya. Bertahan di samping gadis yang aku cintai selama lima tahun terakhir. Ya, aku mencintai Mi-young, mencintainya sejak pertama kali melihat senyum puasnya setelah berhasil  mengalahkanku pada pertandingan taekwondo saat kami masih sama-sama menjadi siswa sekolah menengah.

Seharusnya saat itu aku membencinya mengingat fakta bahwa dia lah orang yang pertama kali membuatku kalah sepanjang sejarah pertandingan taekwondoku selama ini, dan sebagai catatan, pertandingan waktu itu adalah pertandingan yang amat sangat penting untukku, pertandingan seluruh siswa sekolah menengah se Korea, ditambah lagi dia seorang perempuan.

Ya, seharusnya sebagai orang normal, aku harus membencinya, tapi begitu aku melihatnya tersenyum lebar sambil membetulkan ikatan rambutnya, aku sadar bahwa aku mencintainya.

Dua bulan kemudian kami bertemu lagi saat sama-sama menjadi mahasiswa. Awalnya aku berpikir bahwa Mi-young akan mengacuhkanku begitu aku memutuskan untuk mendekatinya, tentu saja mengingat bahwa dua bulan sebelumnya kami berdua baru saja menjadi lawan dalam pertandingan penting, tapi ternyata lagi-lagi aku salah.

Dia tersenyum lebar dan langsung berbicara dengan nada ramah padaku seolah-olah kita berdua adalah teman lama yang sudah tidak bertemu hampir bertahun-tahun. Setelah aku mendengar suara tawanya yang entah bagaimana selalu berhasil membuatku nyaman, untuk kedua kalinya aku kembali sadar bahwa aku semakin mencintainya.

Sejak saat itu aku selalu memperhatikannya, selalu ingin berada di dekatnya, selalu ingin mendengar tawanya. Dan meskipun aku selalu menyembunyikan perasaanku dari Mi-young, aku bahagia karena aku selalu bisa berada di sampingnya. Meskipun Mi-young selalu tidak bisa melihat bagaimana perasaanku padanya, aku bahagia karena aku masih bisa mendengar tawa renyahnya.

Ya, aku bahagia meskipun terkadang aku harus melewati malam-malamku dengan memikirkan bagaimana caranya membuat Mi-young paham tentang perasaanku. Memikirkan apakah Mi-young memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak. Aku bahagia, meskipun akhirnya semuanya berubah sejak tiga bulan yang lalu, saat dengan tiba-tiba Mi-young menjadi pendiam dan lebih sering memilih untuk menghindariku.

Awalnya begitu Mi-young bersikap aneh padaku, aku berpikir bahwa aku telah membuatnya marah, aku membuatnya kesal dengan candaanku padanya, dengan komentar-komentar konyolku padanya seputar berat badannya yang mulai naik, tentang jerawat yang tidak kunjung menghilang di wajahnya, tentang kedua pipinya yang semakin terlihat chubby.

Aku mengira bahwa semua komentar konyolku itulah penyebab sikap aneh Mi-young padaku, tapi ternyata aku salah. Bukan karena itu Mi-young tiba-tiba berubah menjadi pendiam, bukan karena itu Mi-young tiba-tiba menghindariku, bukan karena semua itu.

Semuanya karena pria bernama Choi Siwon itu. Pria yang sempat menjadi kekasihnya jauh sebelum aku mengenal Mi-young. Dan yang paling membuatku sakit adalah bukan fakta bahwa dia ternyata sudah memiliki kekasih jauh sebelum kami bertemu, tapi lebih pada fakta bahwa Mi-young menyembunyikan semuanya dariku selama ini. Dia menyembunyikan semuanya serapi itu sampai aku tidak pernah menyadarinya sedikitpun.

Pria itu, Choi Siwon, memutuskannya tiga bulan yang lalu, tepat saat hubungan mereka genap tujuh tahun. Aku tidak pernah tahu kenapa mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah, lebih tepatnya kenapa pria bernama Choi Siwon itu memutuskan untuk berpisah dengan Mi-young. Mi-young tidak bercerita padaku tentang alasannya, dan aku pun tidak tertarik untuk mencari tahu alasannya.

Bukan karena aku bahagia dengan kenyataan satu itu, tapi lebih karena aku sadar bahwa Mi-young akan merasa lebih sakit jika aku harus mengingatkannya kembali tentang hal yang tentu saja ingin sekali dia lupakan.

Aku tidak pernah mengenal pria bernama Choi Siwon itu. Bagaimana wajahnya, apakah dia tampan atau tidak. Bagaimana sosoknya, apakah dia tinggi atau pendek, apakah dia kurus atau gemuk. Bagaimana latar belakang keluarganya, apakah dia berasal dari keluarga kaya atau miskin. Apakah dia romantis atau tidak. Aku tidak pernah tahu, tapi yang ada di otakku saat mendengar dia memutuskan Mi-young, gadis yang sudah dipacarinya selama tujuh tahun adalah bahwa bagaimana pun sosok Choi Siwon itu, dia adalah pria paling bodoh di dunia.

Ya, dia adalah pria paling bodoh karena sudah dengan bodohnya membuat gadis sebaik dan sesempurna Mi-young menderita. Karena telah membuatnya sakit hati.

Sejak pria bernama Choi Siwon itu memutuskan hubungan mereka, Mi-young yang sejak awal adalah gadis tegar perlahan mulai berubah menjadi gadis yang tidak kukenal. Mi-young yang awalnya selalu benci menghabiskan waktunya di dalam rumah kini lebih memilih untuk mengurung dirinya di dalam kamar miliknya.

Mi-young yang awalnya selalu tidak berhenti tertawa kini lebih memilih untuk terdiam sambil menatap kosong jendela kamarnya. Mi-young yang dulu selalu bisa menghabiskan dua mangkuk jajangmyeon kini lebih memilih untuk menolak setiap makanan yang aku atau orang tuanya tawarkan.

Pria bernama Choi Siwon itu entah dengan cara apa berhasil membuatnya menjadi gadis yang tidak aku kenal. Seberapa kerasnya aku berusaha membuat Mi-young kembali seperti dulu, dia tetap tidak memperdulikanku. Tidak perduli seberapa kerasnya usahaku untuk membuatnya melupakan sosok pria bernama Choi Siwon itu, Mi-young tetap sama, tidak melihatku sedikitpun. Sama seperti selama ini, saat pria bernama Choi Siwon itu belum muncul dalam ingatanku.

***

Mi-young POV

Aku menatap sosok pria bodoh itu dari balik jendela kamarku. Menatap sosoknya yang kini sedang berjalan di halaman rumahku dengan langkah gontai dan kepalanya yang tertunduk. Menatap sosoknya yang perlahan menjauh meninggalkan rumahku. Aku tersenyum sinis begitu sosok itu menghilang dari pandanganku, menertawakan sikap bodohnya. Ya, sikap bodohnya yang selalu bertahan di sampingku setiap saat tidak perduli seberapa acuhnya sikapku terhadapnya.

Aku tahu pria bodoh itu menyukaiku, amat sangat tahu. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya jika tatapan tulusnya itu hanya dia berikan padaku. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya jika sikap lembut dan penuh perhatiannya itu hanya dia tunjukkan padaku. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya saat suara bernada cemas miliknya hanya aku dengar saat dia mengkhawatirkanku. Aku mengetahui semuanya sejak awal.

Tapi selama ini aku lebih memilih untuk berpura-pura tak tahu dengan perasaanya padaku. bersikap seperti orang bodoh. Bersikap bahawa dia tidak memiliki perasaan yang lebih. Bersikap bahwa sikapnya padaku hanyalah sikap seorang sahabat biasa. Berharap bahwa pria bodoh itu akan berhenti mencintaiku begitu aku bersikap acuh padanya. Tapi ternyata aku salah, sialnya dia tidak berhenti mencintaiku.

Mungkin orang-orang akan menyebutku sebagai gadis paling bodoh karena telah menyia-nyiakan orang yang sudah begitu tulus mencintaiku. Menyia-nyiakan sosok malaikat di hadapanku. Tapi bukankah cinta itu tidak bisa dipaksakan? Benar, aku tidak bisa memaksa diriku untuk mencintainya karena aku lebih mencintai pria lain. Pria yang telah menjadi orang yang amat sangat penting bagiku selama ini. Karena aku lebih mencintai sosok Choi Siwon. Pria yang sayangnya telah menorehkan luka yang amat sangat dalam di hatiku. Sedalam luka yang mungkin selama ini telah aku torehkan di hati pria bodoh itu.

Pria itu, Choi Siwon, adalah definisi cinta menurutku selama tujuh tahun terakhir ini. Pria itu, Choi Siwon, adalah definisi bahagia menurutku selama tujuh tahun terakhir ini. Hanya pria bernama Choi Siwon itulah yang selalu membuat jantungku berdetak dengan kecepatan paling tak normal hanya karena dia tersenyum dan memperlihatkan kedua lesung pipinya yang tergurat sempurna di pipinya.

Hanya pria bernama Choi Siwon itulah yang selalu membuatku gila hanya karena dia menyentuhku. Hanya pria bernama Choi Siwon itulah yang selalu membuatku kehilangan oksigen setiap dia memelukku. Hanya pria bernama Choi Siwon itulah yang berhasil membuatku tersadar bahwa pangeran tampan tidak hanya ada dalam dongeng atau cerita buatan Disney saja. Hanya pria bernama Choi Siwon itulah yang selalu membuatku bahagia, setidaknya sebelum peristiwa tiga bulan lalu itu terjadi.

Peristiwa tiga bulan lalu saat dia dengan tiba-tiba memutuskan hubungan kami hanya karena alasan konyol yang aku kira hanya ada dalam drama yang kutonton atau buku romance yang kubaca. Perjodohan. Alasan yang amat sangat konyol, sekonyol sikap Siwon yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan hubungan kami. Hubungan tujuh tahun kami.

Tentu saja aku amat sangat sakit dengan peristiwa tersebut. Normal bukan? Orang yang kau cintai selama ini tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkanmu hanya karena alasan konyol. Tentu saja sakit. Rasanya seperti aku kehilangan alasan untuk bertahan hidup. Dan saat aku terpuruk, mengisolasi diriku dengan mengunci diri di dalam kamar, pria bodoh itu selalu ada di dekatku, menolak untuk berhenti mencemaskanku. Menolak untuk meninggalkan rumahku saat aku menolak untuk menemuinya.

Pabo. Kau hanya membuatku merasa semakin terlihat buruk.” Aku berguman pelan sambil kembali mengalihkan tatapanku ke luar jendela kamar, menatap jejak kakinya yang tercetak sempurna di atas tumpukan salju di halaman rumahku.

***

Yeoja POV

        Aku menatap pintu berwarna putih itu dengan lekat, mengalihkan sejenak tatapanku dari piring-piring kotor yang saat ini telah bercampur dengan busa sabun di kedua tanganku. Dengan perlahan aku membalikkan badan, mencari cara agar bisa senyaman mungkin menatap pintu berwarna putih tersebut, menatapnya dengan puas. Puas menatap pintu berwarna putih yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri, hanya terhalang oleh meja makan.

Aku menatap lekat pintu berwarna putih itu, namun kali ini tatapanku kosong, kembali teringat kebiasaan konyol yang selalu aku lakukan sejak pertama kali aku tiba di rumah ini. Kebiasaan konyol yang selalu berjongkok di depan pintu berwarna putih tersebut saat pria itu sedang mandi. Ya, kebiasaan konyol yang aku lakukan hanya karena aku ingin mendengar suara pria itu saat dia menyanyikan sebuah lagu di sela-sela mandinya.

Kebiasaan konyol bukan? Ya, kebiasaan yang benar-benar konyol tapi justru entah kenapa perlahan menjadi sebuah rutinitas yang selalu aku lakukan setiap pagi. Harus aku akui, meskipun pria itu melakukannya hanya karena keisengan semata, aku justru selalu menyukai suaranya. Menyukai suaranya yang ternyata amat sangat merdu.

Setiap pagi aku akan bangun lebih awal hanya agar aku tidak melewatkan kebiasaan konyolku itu. Ajaib, aku yang selalu benci bangun pagi tiba-tiba rela menyingkirkan selimut dan turun dari ranjang hangatku sambil bertelanjang kaki hanya untuk duduk berjongkok di depan pintu kamar mandi, mendengarkan suaranya saat pria itu bernyanyi di sela-sela mandinya.

Aku selalu melakukannya setiap pagi, setidaknya sampai sebelum tiga bulan yang lalu, saat tiba-tiba pria itu berhenti bernyanyi. Aku harus bangun setiap pagi dengan perasaan kecewa karena pria itu tidak lagi memiliki alasan untuk mengeluarkan suara merdunya di sela-sela mandinya. Tentu saja, sekarang waktunya selalu dia habiskan untuk berpikir bagaimana agar membuat wanita bernama Mi-young itu kembali seperti dulu. Benar, dia sibuk memikirkannya, bahkan saat dia sedang mandi pun dia masih memikirkannya. Sejak tiga bulan yang lalu bukan suara merdunya lagi yang terdengar oleh telingaku, tapi bunyi gemericik air, sama seperti saat ini.

“Kau melamun?”

Aku terperanjat kaget saat suara bernada lembut miliknya tertangkap jelas di telingaku. Dengan cepat aku membalikkan badanku, membelakanginya, kembali berpura-pura sibuk dengan tumpukkan piring kotor yang sempat aku abaikan.

Aniya, aku hanya sedang berpikir tentang menu makan malam nanti.” Aku menjawab dengan cepat, hanya jawaban asal-asalan yang kuharap akan berhasil membuatnya berhenti bertanya padaku.

Aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu ceroboh, melamun sambil tidak berhenti mengalihkan tatapanku dari pintu kamar mandi, padahal tentu saja dia bisa muncul kapan saja. Aku berubah menjadi gugup saat kudengar langkah kakinya perlahan berjalan mendekat ke arahku. Dugaanku benar, beberapa detik kemudian dia sudah berdiri di samping kananku. Dia menarik bahuku, menghadapkanku padanya. Aku terpaku, membulatkan kedua mataku. Tanganku yang penuh dengan busa terkepal erat.

“Ada apa denganmu, kenapa kau berubah akhir-akhir ini? Apa kau sedang ada masalah?” Dia mendekatkan wajahnya di depan wajahku. Aku menelan air ludah, terlalu terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba tersebut.

Tidak, aku tidak berubah sedikitpun. Aku masih seperti ini. Masih mencintaimu, masih selalu menunggumu pulang sampai aku tertidur pulas di sofa ruang tamu rumahmu. Aku masih seperti ini. Masih suka bangun pagi-pagi dan duduk berjongkok di depan pintu kamar mandi hanya untuk mendengarkanmu bernyanyi. Aku masih suka menciumi pakaianmu dan memakainya sebelum aku memasukkannya ke dalam mesin cuci. Menciuminya seolah aku bisa merasakan aroma tubuhmu. Memakainya seolah kau sendiri yang memelukku. Bahkan aku masih selalu memikirkan bagaimana cara agar bisa membuatku terlihat di hadapanmu. Aku masih seperti ini, tidak ada yang berubah.

“Apa kau mulai menyukaiku?” Pria itu memamerkan seringai miliknya sambil menatapku dengan tajam, menatap ke dalam dua bola mataku, menguncinya. Aku kembali menelan air liurku, membasahi tenggorokanku yang tiba-tiba terasa amat sangat kering. Aku terpaku sambil menatapnya dengan tatapan polos, mencari raut serius di wajahnya. Aku tetap terdiam, tidak bisa menjawab sepatah katapun.

Detik berikutnya pria itu tersenyum, senyum pertama yang kulihat sejak dia mulai sibuk dengan Mi-young tiga bulan lalu. Senyum yang selalu aku rindukan. Aku kembali menatap matanya, menatap mata teduh miliknya. Mata teduhnya yang selalu membuatku merasa nyaman.

Aku menghembuskan nafas sejenak lalu perlahan membuka mulutku untuk menjawab pertanyaanya, “jika aku memang mencintaimu, lalu apa kau juga akan mencintaiku oppa?” Aku mendengar suara pelan seperti bisikan itu keluar dari mulutku, keluar dengan nada putus asa. Di depanku, aku melihat wajah pria itu menegang, dia tidak menjawab pertanyaan bodohku, hanya menatap wajahku dengan kedua bola matanya yang memancarkan raut bingung. Selama beberapa detik kami berdua terdiam.

“Berhenti bercanda denganku dan selesaikan pekerjaanmu, anak nakal. Kau bisa terlambat kuliah, arasseo?” Pria itu mengacak rambutku dengan lembut sambil tersenyum. Setelah itu dia menghilang dari pandanganku, masuk ke dalam kamar miliknya. Sementara itu, aku masih berdiri dengan busa di tanganku. Berdiri sambil tetap menatap kosong pintu kamar mandi berwarna putih tersebut, mengasihani sikap bodoh yang sudah aku lakukan beberapa detik lalu. Anak manis? Tentu saja, selamanya aku hanya akan menjadi anak manis untuk pria itu.

***

          Namja POV

          “Jika aku memang mencintaimu, lalu apa kau juga akan mencintaiku oppa?”

Suara itu entah kenapa berdengung dengan jelas di telingaku, membuatku kembali teringat pada raut wajahnya saat anak nakal itu mengucapkan kata-kata tersebut. Tatapannya saat dia mengucapkan kata-kata tersebut entah kenapa harus berbeda seperti saat selama ini dia menatapku. Seperti tatapanku saat aku menatap Mi-young. Tatapan penuh dengan berbagai hal yang tidak mungkin bisa dijelaskan hanya dengan kalimat-kalimat. Dan untuk alasan itu, aku merasa takut.

Ya, aku takut. Takut membuatnya sakit hati. Sakit hati karena jika memang dia memiliki perasaan padaku, aku tidak akan memapu membalasnya. Anak nakal itu akan berubah menjadi diriku, menjadi seperti aku yang hanya akan merasa kelelahan karena Mi-young tidak pernah melihatku ada di hadapannya. Dan aku tidak ingin anak nakal itu merasakan apa yang selama ini aku rasakan.

Tidak, aku tidak pernah mempermasalahkan tentang seberapa lelahnya aku selama ini. Bukan itu. Aku hanya tidak ingin dia melakukan hal yang sebaiknya pantas dia lakukan untuk pria lain, bukan aku. Aku ingin dia menghabiskan waktu berharganya untuk pria yang lebih pantas, bukan aku. Karena aku tidak mungkin bisa mencintai wanita lain selain Mi-young. Tidak akan bisa.

***

          Mi-young POV

“Aku membelikan jajangmyeon ini di kedai langganan kita, makanlah. Kau sudah lama tidak makan jajangmyeon di sana bukan?” Suara pria bodoh itu terdengar dengan jelas di telingaku, nada suaranya riang, berusaha membujukku untuk memakan jajangmyeon yang dibawanya.

Aku mengalihkan tatapanku dari jendela kamar, menatapnya dengan tatapan berdosa. Dia balas menatapku, menatap lekat ke dalam bola mataku. Sebuah senyuman terukir di bibirnya.

Aku bangkit, mendekatinya yang saat ini sedang duduk di sisi ranjang milikku. Pria bodoh itu masih menatapku dengan lekat. Aku duduk di sampingnya.

Pabo, sampai kapan kau akan selalu bersikap baik seperti ini padaku? Kau hanya menyakiti dirimu sendiri bukan?” Aku menatapnya lekat, suaraku terdengar pelan.

Pria bodoh itu menghembuskan nafas pelan, dia menunduk sejenak, mengaduk jajangmyeon yang kini tergenggam di tangannya. Aku masih menatapnya lekat.

“Kau salah, aku tidak pernah merasa menyakiti diriku sendiri. Justru kau yang menyakiti dirimu sendiri Mi-young ah. Kau membunuh dirimu sendiri.” Suara pria bodoh itu sama pelannya dengan suaraku tadi, lirih.

Saat mendengar uapannya aku menggigit bibir bawahku, sesuatu yang pedas menyeruak di kedua mataku. Aku yakin dia masih menatapku dengan lekat meski sekarang wajahnya mengabur dalam pandanganku.

“Dengarkan aku Mi-young ah, kau tidak perlu membunuh dirimu sendiri hanya karena selama ini duniamu hanya berpusat pada pria bernama Choi Siwon. Aku tahu, aku tidak tahu apa-apa tentang siapa dan bagaimana seorang Choi Siwon hingga kau seperti kehilangan separuh jiwamu saat dia akhirnya memutuskan pergi dari sisimu. Tapi kau harus tahu, kau bukan saja menyakiti dirimu sendiri dengan sikapmu saat ini. Kau menyakiti semua orang, keluargamu, teman-temanmu. Jadi aku mohon, jangan seperti ini lagi Mi-young ah.” Suara pria bodoh itu semakin lirih. Aku hanya bisa terdiam.

“Kalau aku memintamu untuk selalu ada di dekatku selamanya, lalu apa kau mau melakukannya?” Aku mendengar suaraku sedikit bergetar, dan pria bodoh itu hanya bisa menatapku dengan tatapan bodohnya saat pertanyaan itu terlontar dari mulutku.

***

          Yeoja POV

Malam ini aku terduduk sendiri di sofa ruang tamu seperti biasanya, menunggu pria bodoh itu pulang. Dengan gerakan pelan aku mengalihkan sejenak tatapanku ke arah jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul satu pagi. Aku menghembuskan nafasku yang tiba-tiba terasa amat sangat sesak.

Sedetik kemudian aku memfokuskan tatapanku pada handphone berwarna hitam yang sejak tadi tergenggam di tangan kananku, berharap pria bodoh itu menghubungiku untuk memberikan kabar tentang keberadaannya agar setidaknya aku tidak perlu cemas dan berpikir gila tentang apa yang sedang dilakukannya saat ini.

Selama lima menit aku tetap menatap benda mungil tersebut, tapi nihil, benda tersebut tidak memberikan respon apapun. Aku menggigit pelan bibir bawahku. Dengan gerakan malas aku melempar benda tersebut ke atas meja di sampingku, lalu aku membenamkan wajahku di kedua lututku.

Semenit kemudian dengan gerakan refleks aku mendongakan kembali wajahku saat bunyi yang kuhapal berasal dari handphoneku terdengar nyaring di telingaku. Aku meraih handphone tersebut dengan tangan bergetar. Sekilas aku membaca namaya tertera di layar handphoneku.

Yobeoseyo.” Dengan suara bergetar aku menjawab panggilannya.

“Apa kau sedang menungguku pulang?” Suara pria bodoh itu terdengar cemas. Aku mengangguk pelan, namun sedetik kemudian aku mengiyakan pertenyaannya begitu aku sadar bahwa pria bodoh itu tidak akan melihat anggukanku.

“Tidurlah, aku tidak akan pulang malam ini. Mi-young memintaku untuk menemaninya.”  Suara pria bodoh itu selalu lembut, sama seperti saat dia mengucapkan kalimat tersebut. Tapi entahlah, suaranya kali ini justru terdengar menyakitkan hatiku.

Keurae, aku akan tidur sekarang. Annyeong.” Aku berusaha mati-matian membuat suarak terdengar normal, dan aku berharap getaran dalam suaraku tidak bisa tertangkap jelas oleh telinganya. Setelah itu aku memutuskan sambungan telepon kami, melempar handphone itu entah kemana. Detik berikutnya aku hanya bisa memeluk erat kedua kakiku, membenamkan wajahku di kedua lututku, menggigit bibir bawahku, terisak pelan. Sesuatu yang terasa pahit menyeruak di tenggorokanku, rasa sakit terasa nyata di dadaku. Amat sangat nyata hingga rasanya aku seolah mati.

***

          Namja POV

        Aku berjongkok menatap sosok anak nakal tersebut dengan lekat. Anak nakal itu kini sedang terlelap sambil bersandar di pintu kamarku. Aku melepaskan jaket putih yang kukenakan dan dengan hati-hati menyelimutinya dengan jaket tersebut. Aku membelai rambut pendek miliknya dengan lembut, tetap berhati-hati agar aku tidak membangunkannya. Namun ternyata tanganku memang selalu tak beruntung, begitu aku membelai rambutnya, anak nakal itu terbangun.

“Maafkan aku, aku membangunkanmu.” Aku tersenyum padanya, wajahku meringis pelan, penuh penyesalan. Anak nakal itu balas menatapku dengan setengah menyipitkan matanya.

“Bangunlah, kau sebaiknya tidur di kamarmu. Kalau kau tidur di sini, cahaya mataharinya akan mengganggumu.” Aku berucap pelan. Anak nakal itu beringsut, membenarkan posisi tidurnya.

“Aku suka di sini oppa, di sini hangat.” Anak nakal itu menjawab pelan. Aku lalu duduk di sampingnya, bersender di pintu kamarku.  Selama beberapa saat kami hanya terdiam sambil memejamkan mata.

“Kali ini berhasil bukan oppa? Mi-young eonni akhirnya luluh bukan?” Suara anak nakal itu terdengar pelan, seolah berguman. Begitu aku mendengar ucapannya, aku membuka kedua mataku, dengan gerakan pelan aku menatapnya, dia masih sama, memejamkan kedua matanya.

“Bagaimana kau tahu?” Aku menjawab dengan suara yang sama, pelan, tanpa mengalihkan tatapanku dari wajahnya.

“Untuk pertama kalinya kau tidak pulang ke rumah dan Mi-young eonni memintamu untuk menemaninya.” Masih dengan mata terpejam, anak nakal itu kembali menjawab. Aku tersenyum, kini aku pun kembali menyenderkan kepalaku di pintu sambil memejamkan mataku, kembali pada posisi awal.

“Kau benar, akhirnya dia melihatku.” Aku berucap pelan.

“Kalau begitu, sebagai ucapan selamat, bolehkah aku bersandar di bahumu oppa?” Suaranya sama saja, terdengar lirih. Aku mengangguk cepat tanpa membuka mataku, menolak untuk menatap raut wajahnya. Takut jika aku menemukan raut luka di wajah polosnya. Dan detik berikutnya dia pun bersandar di bahuku.

***

            Yeoja POV

“Kau benar, akhirnya dia melihatku.”

Saat ucapan itu keluar dari mulutnya, aku membuka kedua mataku, mengalihkannya pada sosok pria bodoh itu. Pria bodoh yang saat berada di sampingku sambil memejamkan kedua matanya. Aku menatapnya dengan lekat, kedua mataku memanas, butiran-butiran bening menggumpal di mataku, siap untuk keluar. Aku menggigit bibir bawahku, menahan isakanku. Berharap agar pria bodoh itu tidak membuka kedua matanya agar dia tidak melihat butiran-butiran itu jatuh sempurna di kedua pipiku. Aku tidak ingin dia melihatnya karena aku tidak ingin repot-repot mencari alasan omong kosong untuk menjelaskan padanya tentang airmata sialan ini.

“Kalau begitu, sebagai ucapan selamat, bolehkah aku bersandar di bahumu oppa?” Aku mendengar suaraku yang untungnya terdengar normal, dia menganggukkan kepalanya dengan cepat tanpa membuka matanya. Aku semakin menggigit keras bibirku, kembali menahan isakanku. Lalu aku pun menyandarkan kepalaku di bahunya. Aroma tubuhnya yang sering kucium dari pakaiannya menyeruak di hidungku, membuat rasa sakit dalam dadaku semakin terasa nyata. Membuat tenggorokanku semakin tercekat.

***

          One month later, Yeoja POV

“Apa ini benar-benar cocok untukku?” Pria bodoh itu menatap sosoknya yang terpantul dalam cermin dengan tatapan bingung. Sesekali dia membetulkan letak tuxedo putih yang saat ini sedang dikenakannya. Aku yang berdiri di sampingnya hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkah pria bodoh itu yang seperti anak kecil.

Saat melihatku sedang terkekeh, dia dengan cepat mengalihkan tatapannya dari cermin besar yang ada di sudut kamarku, mengalihkannya padaku.

“Kenapa kau malah menertwakanku anak nakal? Apa aku terlihat lucu di matamu?” Pria bodoh itu menatapku dengan tatapan galak miliknya, kedua matanya membulat. Aku kembali terkekeh, membuatnya akhirnya menjitak kepalaku, membuatku akhirnya meringis kesakitan.

“Kau benar oppa, kau kelihatan lucu sekali, seperti anak umur tujuh belas tahun yang sedang pusing memilih baju untuk kencan pertamanya. Kau seperti itu sekarang.” Aku menjawab sambil tetap terkekeh.

“Aish, tentu saja aku pusing anak nakal. Aku bahkan bukan hanya memilih baju untuk kencan pertama, tapi untuk pernikahan.” Dengan cepat dia menjawab, suaranya terdengar gusar.

Aku menghela nafas, lalu dengan gerakan cepat aku meraih kedua bahunya, merapikan dasi kupu-kupu yang melekat di lehernya, merapikan kerah kemeja warna putihnya, merapikan jas putih yang dikenakannya. Dia diam sambil menatapku polos. Begitu selesai, aku membalikkan badannya menghadap ke arah cermin besar tadi.

“Lihat dirimu oppa, kau tampan sekali bukan? Baju ini cocok untukmu, dan kau akan menjadi pria paling tampan besok, percayalah padaku.” Aku berucap sambil menatap sosoknya dalam cermin, pria bodoh itu melakukan hal yang sama.

Jinjjayo?” Dia kini membalikan badannya lagi menghadapku, menatapku dengan lekat. Aku tersenyum, pelan kusentuh rambut hitam tebalnya, merapikan rambutnya. Dia masih terdiam.

Jinjjayo, kau tampan sekali oppa. Amat sangat tampan.” Aku menjawab sambil masih merapikan rambutnya, menolak menatap matanya. Takut dia bisa melihat apa yang selama ini terpendam dalam hatiku.

“Kalau begitu, sebagai ucapan terima kasih karena kau telah memilihkan tuxedo dan membuatku terlihat tampan, aku akan memelukmu selama sepuluh menit, apa kau setuju?” Pria bodoh itu tersenyum sambil menatapku lekat. Aku terkekeh pelan lalu dengan cepat menganggukkan kepalaku, berharap dia cepat memelukku agar aku bisa mengelurakan air mata tanpa dilihat olehnya.

Lalu, tepat saat dia memelukku dengan erat, airmata milikku pun jatuh.

***

          Namja POV

Oppa, apa aku akan menganggapku gila jika aku katakan padamu bahwa sebenarnya aku masih ingin tinggal bersamamu? Aku tidak pernah pandai mengucapkan salam perpisahan, jadi dibandingkan dengan ucapan perpisahan, yang ingin aku katakan padamu adalah sesuatu yang lain. Seperti ‘sebaiknya kau harus banyak-banyak tersenyum. Kau tahu alasannya kenapa? Karena saat tersenyum kau terlihat benar-benar tampan.’ Oppa, terima kasih untuk semuanya, sudah menganggapku seperti adikmu sendiri selama ini. Bahkan sudah rela menyelipkan marga Lee di depan namaku. Aku harap kau selalu bahagia bersama Mi-yeong eonni. Aku mencintaimu Lee Donghae oppa. 

Aku menggigit bibir bawahku saat membaca pesan singkat yang dituliskan anak nakal itu di sebuah kertas yang sempat diberikannya padaku begitu upacara pernikahanku selesai. Tulisan rapi milik anak nakal itu mengabur di kedua mataku, bahkan kini basah oleh tetesan air mata yang mengalir jatuh dari kedua bola mataku. Maafkan aku anak nakal. Maafkan aku yang tidak bisa mencintaimu. Maafkan aku.

***

          Yeoja POV

Aku mengencangkan mantel berwarna merah yang kini melekat ditubuhku, berharap udara dingin malam ini sedikit berkurang. Dengan langkah pelan aku terus melangkahkan kakiku di atas tumpukan salju yang menutup sempurna jalanan. Aku terus melangkahkan kakiku menyusuri jalan tanpa benar-benar tahu kemana tujuanku.

Sial, aku tidak memiliki seorang kerabat pun di Seoul. Menginap di tempat salah satu teman kuliahku bukan ide yang terdengar bagus mengingat ini sudah pukul satu pagi. Tentu saja semua orang tidak akan mau repot-repot menyingkirkan selimut yang membungkus hangat badan mereka untuk membukakan pintu saat udara sedang dingin seperti sekarang.

Dan aku pun terpaksa harus terus melangkahkan kakiku, berharap bisa menemukan penginapan di dekat sini karena aku sudah tidak tahan lagi harus menahan hawa dingin yang semakin menyiksaku. Sejenak aku berdiri di depan sebuah rumah yang cukup luas, berdiri di bawah lampu jalan yang juga terletak di dekat pagar tersebut. Berdiri di bawah lampu jalan tersebut dengan pikiran konyol bahwa lampu tersebut akan membuatku sedikit hangat. Aku melompat-lompat kecil sambil menggosok-gosokkan kedua tanganku, berharap suhu tubuhku akan terasa lebih hangat.

“Yak darimana saja dirimu? Kenapa kau perlu menghabiskan waktu begitu lama untuk sampai di sini?” Sebuah suara bernada kesal dan marah terdengar jelas di telingaku, aku mengalihkan kepalaku, mencari asal suara tersebut.

Saat aku sedang berusaha mencari asal suara tersebut, tiba-tiba pagar tempat aku kini berdiri terbuka lebar denga suara keras. Dan kini di hadapanku berdiri seorang pria jangkung yang sedang menatapku dengan wajah kesal miliknya. Matanya membulat, menatapku galak. Aku mundur beberapa langkah saat pria itu berjalan mendekatiku.

“Yak kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku hah? Kenapa kau perlu menghabiskan waktu begitu lama untuk sampai di sini? Apa kau tahu, aku hampir mati bosan karena menunggumu.” Pria itu mencengkram tangan kananku begitu disadarinya aku ingin berlari meninggalkannya.

Cheogiyo, aku bukan orang yang kau maksud. Aku tidak mengenalmu.” Aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkramannya. Pria itu berdecak kesal, menolak untuk melepaskan tanganku, sebaliknya, kini dia menyeretku agar memasuki rumahnya. Aku terus menolak, tapi tenaganya sangat besar, aku tidak bisa melepaskan cengkramannya.

Kini kami berdua sudah berada di halaman rumahnya. Pria itu menutup kembali pintu pagarnya, mengabaikan diriku yang terus meronta-ronta ingin keluar.

“Lepaskan aku, aku tidak mengenalmu. Aku bukan orang yang kau tunggu. Lepaskan aku.” Aku terus meronta-ronta. Pria itu kembali menyeretku ke depan pintu rumahnya. Lalu kini di depan pintu rumahnya, dia melepaskan cengkraman tanganku.

“Kau memang tidak mengenalku, tapi aku yakin kau akan jatuh cinta padaku cepat atau lambat. Kau hanya perlu tinggal bersamaku untuk membuktikannya.” Dia memamerkan seringainya. Aku membulatkan kedua mataku begitu mendengar ucapannya yang amat sangat percaya diri tersebut.

Tanpa memperdulikan sikapku yang tampak bingung, pria aneh itu membuka pintu rumahnya, berjalan memasuki rumah besar miliknya, meninggalkan diriku yang masih bingung. Beberapa detik kemudian dia berlari menghampiriku lagi, menyempulkan kepalanya dibalik pintu.

“Namamu? Siapa namamu?” Dia menatapku dengan tatapan polos miliknya, aku diam sejenak.

“So…Ra, Jang So-Ra.” Aku menjawab dengan ragu. Begitu mendengar jawabanku, pria aneh itu kembali menghilang, berlalu ke dalam rumahnya. Aku menghembuskan nafas sejenak, mencoba mencerna semuanya. Belum juga aku mendapat jawabnnya, pria aneh itu sudah berteriak dari dalam rumah.

“Soie-ya cepat masuk ke dalam, temani aku bermain Starcraft!”

Aku membuka mulutku lebar-lebar begitu mendengar teriakannya. Soie-ya? Siapa yang mengizinkannya memanggilku dengan sebutan menjijikan tersebut? Dasar pria aneh!

“Soie-ya, cepat masuk ke dalam, apa kau tuli?!” Teriakan itu terdengar lagi. Aku menggertakkan gigiku, merasa kesal dengan ucapannya. Dengan kesal aku mengacak rambut pendek milikku, aku berjalan dengan langkah malas ke arah pintu rumah miliknya yang terbuka lebar. Sebelum akhirnya aku masuk ke dalam rumah tersebut, mataku sempat menangkap sebuah tulisan yang terpahat elegan di sebuah papan nama di tembok luar rumahnya, sebuah tulisan yang tidak pernah kusangka akan terpahat sempurna di hatiku suatu saat nanti. Dan nama itu adalah, CHO KYUHYUN.

  

 

Leave a comment

25 Comments

  1. Ahn Kyu Ri

     /  May 16, 2012

    Aissh! Kurang Memuaskn Thor! Mau .a Ttp Ma Hae Az!

    Reply
    • Hehehe mian mengecewakan, lain kali bikin yang lebih baik lagi deh…
      Makasih udah baca+komen :-)

      Reply
  2. akh, aku suka kata”nya. Kereeenn!!
    Itu diujung tw” ada Kyu,wkwk
    Gpp ma kyu aj, biar sora’nya awet muda. Wkwkwk

    Reply
    • Huaaah makasih :-)
      Haduuuh sora bukan jadi awet muda kalo sama kyu, tapi cepet tua gara kelakukan iblisnya kekeke…

      Makasih udah baca+komen ya :-)

      *kiss*

      Reply
  3. Fi Drei Elf

     /  May 16, 2012

    Awalny miris… Tp akhirny te”p (?), kyuhyun nunggu jodohny didpan rumah, ya ampun bener” gila ^^v

    Reply
    • Kekeke iyo, dia nunggu jodohnya di depan rumah…
      Aigooo udah kayak zaman dulu di kampung2 gitu hahaha….

      Thanks ya :-)

      Reply
  4. trililiii

     /  May 16, 2012

    endingnya.. aku sebenernya suka kalo sora mewek aja sih *jahat*. tp ending yg gantung gini jg suka.. hehe. after all aku suka dr awal smpe akhir.. angst nya ngena..

    Reply
    • Wah kasian atuh sora kalo dia endingnya gak jadi sama siapa-siapa…

      Kekekeke syukurlah kalo suka :-)

      Thanks for reading :-)

      Reply
  5. kyaaa…daebak!daebak eonni.aq suka kata2nya.tu kyu nya nyempil di bawah yak?akhirnya soie menemukan kyu.couple favoritku..haha

    Reply
    • Hehehe maksih saeng…
      Kamu komen double ya? di WP juga perasaan kamu komen ;-)

      Hohoho aku gak tega bikin sora sama yang lain selain kyu, they perfect together *ngarep*

      Makasih ya saeng udah baca and komen juga *kiss and hug*

      Reply
  6. cemoymoy

     /  May 17, 2012

    dr awal bc ngbayangin namjanya donghae ato kyu, mkn ktengah yakin ni donghae, kyu ga cocok melow gt..kekee bener tryt.. hoho
    sora beruntung y? ditampung sm cwo2 keren..pergi dr donghae msk ke rmh kyu..good..
    tp maksud kyu nyeret2 sora apa? ga kenal jg tryt..*bingung*

    Reply
    • Kekeke bingung ya?

      Sengaja, pengen bikin kesan Kyu ntu makin aneh. Selain evil, dia tuh aneh dengan nunggu orang yang diyakininya jodoh dia di depan rumah….
      Pengen bikin readers juga berpikir beda2 kenapa kyu bisa nyeret sora ke rumahnya…

      Makasih ya udah bca :-)

      Reply
  7. 박하라

     /  May 17, 2012

    Sequel, thor… Pengen tau lanjutan.nya :D

    Reply
  8. aku kirain tadi cowo yg diawal itu kyuhyun hehehehe :D dan sempet nebak kalo cowo yg marah2 ke sora itu hae (ngarep akhirnya sora sama hae) hahahaha ternyata malah si setan. tapi bagus kok. kalo 1-10, authornya mau aku kasih nilai 9,5 :)) daebak!

    Reply
    • Huaaah seneng, berarti harapan aku kalo readers jadi pada punya khayalan masing2 soal tokoh2 di ff ini kesampean juga…

      Dikasih 9.5? Aigoo ntu kebagusan buat ff abal2 punya ku nie…
      But, makasih ya :-)

      Reply
  9. Jiaah karna di sini di tag nya nama Kyu,ak kira prtama itu Kyu.. eh ga taunya Donghae
    Tp bgus kok,soalnya akhir”nya sm Kyu kkk

    Reply
  10. Dikira namja yg pertama kyu , ternyata hae . Haha

    Reply
  11. adegan duduk di depan pintu kamar mandi itu tetep yg paling megang! :D
    *culik Hae*
    Okay, kembali merapat ke tembok…. XD
    (kode internal yg cuma kita yg tau)

    Reply
  12. Tami

     /  May 17, 2012

    Endingyna gk seru thor..
    Bikin lanjutannya dong.. Jadi biar lebih seru

    Reply
  13. Arin

     /  May 17, 2012

    xixixi, Kyu ono2 ae nunggu jodoh depan pintu
    kalo yang dateng nenek2 genit gimana hayo ? XD
    keep writing ^^

    Reply
  14. ryui

     /  May 17, 2012

    Huwoooooooo!! Daebak *tepuk tangan dengan tampang kagum* aaaaaaaaaa!!! Daebak!!!! Dasar HAE BABO *ditendang fans hae* , akhirnya Sora menemukan jodohnya (˘̩̩̩⌣˘̩ƪ) *ambil tisu*…. Kalo kyuhyun nungguin jodohnya di depan rumah, aku bakal jongkok depan rumah kyu sampe dia narik aku wakakaka!!!!! Oh iya pokoknya ff ini 1 kata 6 huruf
    » D-A-E-B-A-K

    Reply
  15. Geregetan -_- knp ga dari dulu aja ketemu ama kyu nya fufufu *gigit jarinya hae* (?). Tapi nice ff kok thor.

    Reply
  16. Selvi

     /  May 19, 2012

    FF nya bagus :)
    tapi endingnya kurang…
    Sora jadinya anak tampungan terus nih Hahaha..
    Kaget banget pas baca nama “Donghae Oppa”

    Miris banget ceritanya :(

    Reply
  17. dian

     /  March 10, 2014

    daebak !! Ceritanya keren,
    lanjutkan :)

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,258 other followers

%d bloggers like this: