Starting To Love You -Part 3-

Tittle: Starting To Love You

Casts:

-Kim HaRa

-Kim Jong Woon

-Lee Joon

-Park Ji Yeon

-Kim Ji Eun

-Other Cast

Genre: Romance, Angst

Length: Chapter

Author: haracheonsa

Also published on www.yewoonfanficworld.wordpress.com main2 yah!!

Since when is it, You come into my heart

My heart keep thumping even for your little smile

For along time, I’ve been waiting for this fate like love

You’re like a cotton candy that melting all day in my heart

You’re like rainbow that coming dazzlingly into my heart

Will you whispered me with your sweet voice

That from the beginning your heart everyday loving me too

I love you just be my love

Why I keep laughing when I heard your playful voice

When your two little eyes stare at me, I even trembling like this.

That my love is you

Do you now?

The day we fall in love like this

Do you believe?

The Cupid’s arrow sent from Heaven

I love you who miraculously come like a gift

Let’s be together forever,

Everyday loving me

I love you just be my love

(The Day We Fall In Love-Park Shin Hye)

***

Hara berjalan keluar dari pelataran parkir SM Entertainment. Dengan langkah gontai, ia melangkahkan kakinya, menuju halte bus yang lumayan jauh dari tempat itu.

Gadis itu sama sekali tidak memperhatikan jalan, ia terus menundukkan kepalanya. Dengan sangat enggan ia menapaki kakinya ditanah.

“Perhatikan jalanmu dengan benar Nona Kim”langkahnya terhenti saat telinganya menangkap suara yang terasa familiar baginya.

Hara menolehkan kepalanya, dan mendapati sosok Jong Woon yang kini tengah berjalan ke arahnya.

Matanya membulat, tapi kemudian senyum khasnya mengembang sempurna dari bibir indahnya.

“Oppa! Kenapa ada disini? Mana mobilmu? Kau sudah pulang kerja?”Hara bertubi-tubi memberikan pertanyaan pada Jong Woon. Membuat namja itu bingung untuk menjawabnya.

“Aissh! Tidak bisakah kau bertanya satu-satu? Kau ini…sering kali tidak memberikanku waktu untuk bicara”kesal Jong Woon sembari mengerucutkan bibirnya.

“Mianhae oppa. Mulutku terkadang  memang susah dikontrol”

“Tapi itulah yang aku suka dari Kim Hara. Hari ini aku mau naik bus bersamamu, maka dari itu aku sengaja tidak membawa mobil. Ayo kita pulang”Jong Woon merangkul pundak Hara agar mereka berjalan berdampingan.

“Bagaimana latihanmu hari ini? Apa melelahkan?”tanya namja itu, kini ia merubah rangkulannya menjadi genggaman di tangan Hara.

“Begitulah. Tapi aku sangat senang hari ini…”

“Wae? Pasti karna aku menjemputmu?”tebak Jong Woon asal dengan penuh percaya diri.

“Bukan karna itu, tapi karna aku akan melakukan rekaman sebentar lagi. Itu tandanya mimpiku akan menjadi kenyataan oppa”ucapnya senang, matanya menerawang jauh, membayangkan dirinya berdiri di atas panggung dan menyanyikan sebuah lagu.

“Yak Kim Hara! Kau pasti mulai berkhayal lagi kan?”ejek Jong Woon. Dia tersenyum meremehkan.

“Memangnya kenapa kalau aku berkhayal, itu kan manusiawi oppa. Hidup tanpa khayalan itu akan terasa hampa”bela Hara tak mau kalah. Dia meleletkan lidahnya ke arah Jong Woon.

Saking asyiknya bercengkrama sembari berjalan, kini mereka sudah sampai tepat di halte bus. Dan yang ditunggu pun datang, bus tujuan Gangnam sudah tiba.

“Oppa! Bus nya sudah datang! Ayo kita naik”Hara menyeret lengan Jong Woon. Keduanya langsung mengambil posisi duduk di antara banyaknya kursi penumpang.

“Jujur ini pertama kalinya aku naik bus”aku Jong Woon. Mata Hara membelalak lebar mendengarnya.

“Jinjja oppa? Ara, kau kan besar di Inggris tentu saja ini pertama kalinya untukmu”ucapnya mengerti. Ia alihkan pandangannya keluar, melihat indahnya kota Seoul saat malam hari.

“Hara~ya! Aku boleh meminjam pundakmu?”Jong Woon menempatkan kepalanya ke pundak Hara, tanpa menunggu gadis itu mengiyakan permintaannya.

Matanya terpejam, karna perjalanan memang masih membutuhkan waktu yang lama. Mungkin sekitar 30 menit lagi mereka akan sampai ke tempat tujuan.

Hara menyunggingkan senyum, melihat tingkah Jong Woon yang terkadang luar biasa manjanya. Namun di lain kesempatan ia bisa menjadi pria dewasa yang penuh perhatian padanya.

Ia terkejut ketika tangan Jong Woon bergerak, menggenggam tangan kirinya lembut. Gadis itu tak menolak, ia juga ikut menggenggam jemari Jong Woon sama lembutnya.

***

~At Jong Woon’s House~

 

Jong Woon mengacak rambutnya frustasi. Sedari tadi ia mencoba memfokuskan pikiran ke pekerjaannya. Namun hasilnya nol.

Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi, padahal pekerjaan kali ini benar-benar membutuhkan pemikiran keras bagi otaknya.

Namja itu memijit pelipis dan dahinya, berharap tindakan itu mengurangi pusing di kepalanya. Tapi pikiran yang mengganggu itu kembali menyerang, tak bisa dihalau olehnya.

Ia melirik jam dinding di sudut sana, pukul 10.

Apa ia sudah pulang latihan?? Atau malah ia sudah tidur?

Jong Woon kembali mengacak rambutnya. Gadis bernama Kim Hara itu selalu saja mengganggu system kerja otaknya.

Bahkan seharian ini ia tak bisa sepenuhnya fokus terhadap pekerjaan. Ia merasa tersiksa dengan perasaan yang tersembunyi ini.

Selama 1 tahun, ia memendam rasa cintanya. Tentu bukan hal yang mudah untuknya, ditambah lagi ia memang sudah menyukai Hara sejak pertama kali bertemu.

Memikirkan itu saja membuatnya merasakan getaran aneh di dadanya.

Sesungguhnya ia ingin mengungkap perasaannya selama ini kepada Hara. Namun ia merasa belum ada waktu yang tepat untuk membicarakannya.

Ia terlalu takut akan kenyataan pahit yang akan diterimanya nanti. Gadis itu menolak pernyataan cintanya. Jong Woon belum siap menerimanya.

Kim Ji Eun-adik Jong Woon-tampak sedang memperhatikan oppanya diam-diam. Ia merasa sangat terganggu melihat oppanya yang menampakkan wajah frustasi itu.

Semakin memperlihatkan betapa bodohnya ia, begitulah pikirnya.

Ji Eun berjalan menghampiri meja Jong Woon, meletakkan segelas cappuccino di meja kerja namja itu.

“Oppa belum mau tidur?”tanya Ji Eun lalu menyesap teh hangatnya.

“Pekerjaanku sangat banyak. Sketsa bangunan ini harus ku selesaikan minggu ini juga”jawabnya, masih dengan wajah lesunya.

“Kurasa pekerjaan oppa tidak akan selesai jika oppa masih seperti ini”ucap Ji Eun berusaha memancing pembicaraan dengan oppanya.

“Apa maksudmu?”alisnya terangkat, menandakan ia tidak mengerti apa maksud perkataan adiknya.

“Hati dan pikiran oppa itu tidak ada disini. Bagaimana bisa berkonsentrasi coba?”

“Aissh, aku semakin tidak mengerti arah pembicaraanmu Ji Eun~ah”ia berucap dengan nada gusar.

“Apa oppa sudah memberitahu perasaan oppa padanya?”tanya Ji Eun lagi dan langsung dimengerti oleh Jong Woon.

“Maksudmu siapa? Hara?”ujarnya memastikan.

Ji Eun hanya menganggukan kepalanya.

“Tau apa kau tentang perasaanku padanya? Tck, seakan kau begitu paham tentang semuanya”cibir Jong Woon sembari memajukan bibirnya kesal.

“Aku tau semuanya. Kalau oppa menyukainya, tapi sampai sekarang masih tidak ada kemajuan dari hubungan kalian. Payah! Oppa itu payah”ejeknya yang langsung mendapat tatapan mematikan dari oppanya.

“Anak kecil tau apa hah? Kau bahkan belum berpengalaman dalam hal ini”

Mendengar ucapan itu, Ji Eun menjadi kesal. Ia mendenguskan nafasnya kasar dan bersiap menumpahkan kekesalannya pada Jong Woon.

“Yakk…oppa! Aku sudah 20 tahun, itu artinya aku tidak lagi bisa disebut anak kecil. Aku ini sudah dewasa oppa”katanya dengan nada meninggi. Matanya membulat lebar hampir keluar dari kelopaknya.

Jong Woon terdiam dan hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.

“Sebenarnya yang pantas disebut seperti itu ya oppa. Mengaku sebagai lelaki dewasa, tetapi tidak bisa memahami perasaan wanita”cibir gadis itu tak mau kalah. Ia terus mencari celah untuk mengejek oppanya.

“Seorang wanita mana mungkin akan mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Oppa lah yang harus berinisiatif untuk menyatakannya duluan.”Ji Eun sok menasehati Jong Woon yang tampak tidak terima.

“Aisssh, anak ini! Jangan sok tau Ji Eun~ah. Kau itu tidak tau apa-apa!”ucap Jong Woon penuh penekanan.

“Kalau aku memang mengetahuinya, bagaimana?”ujar Ji Eun masih mendebat omongan oppanya.

“Aku tidak mau mendengar lagi ocehanmu Ji Eun~ah! Pergilah…”perintahnya pada Ji Eun. Namun yang diperintah seperti tidak mengindahkan ucapannya.

“Apa oppa takut ditolak?”tampaknya Ji Eun masih penasaran, ia terus saja mengorek informasi dari Jong Woon.

Jong Woon terdiam lagi. Ucapan adiknya hari ini begitu mengena di hatinya. Baiklah, untuk kali ini ia tidak bisa lagi berdebat dengan Kim Ji Eun.

“Apa aku benar? Haha, jadi Oppa takut bertepuk sebelah tangan? Lalu, apa yang oppa lakukan selama setahun ini?”Ji Eun menahan tawanya begitu tahu kenyataan yang sebenarnya. Bahwa Jong Woon takut perasaannya itu bertepuk sebelah tangan.

“Memangnya apa yang harus aku lakukan padanya?”Jong Woon menyerah. Tidak mau lagi mengelak atas semua tuduhan Ji Eun yang entah mengapa selalu tepat.

“Oppa paboya, tentu saja membuatnya jatuh cinta. Memangnya apa lagi?”Ji Eun merasa kesal karna Jong Woon sama sekali tidak mengerti maksud ucapannya.

“Aku sudah berusaha. Tapi aku masih belum bisa membuatnya menatapku sebagai seorang laki-laki. Sekarang ini ia hanya menganggapku sebagai sahabat mungkin…”

“Jelas saja, ia hanya menganggap oppa sebagai sahabat, oppa kan belum menyatakan perasaan oppa sesungguhnya. Mana mungkin ia langsung akan mengerti kalau oppa mencintainya, sementara oppa sendiri masih tetap diam. Tidak bergeming dari posisi oppa sejak awal hubungan kalian. Apa itu yang namanya usaha?”tuturnya panjang lebar, tak memberikan sedikit pun celah bagi Jong Woon untuk memotong pembicaraanya.

“Yakk Ji Eun~ah! Kau membuatku tambah pusing dengan ocehanmu itu”merasa tidak tahan lagi, Jong Woon langsung bangkit dari kursi seperti ingin membungkam mulut Ji Eun. Membuat gadis itu menciut, dan langsung terdiam.

“Baiklah adik kecilku yang sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Lebih baik kau pergi ke kamarmu, dan berhentilah menasehatiku dengan segala ocehanmu. Aku akan mengurus masalahku sendiri, tanpa perlu bantuan darimu”Jong Woon medorong pelan tubuh Ji Eun, agar gadis itu segera pergi dari hadapannya.

“Araseo. Aku akan pergi ke kamar sekarang juga”ia kembungkan pipinya kesal lalu melenggang pergi.

Namja itu berpikir keras atas apa yang telah diucapkan adiknya. Ada benarnya memang, kalau ia tidak menyatakannya. Bagaimana gadis itu bisa tahu?

Aku tau, akulah yang harus memulainya.

 

***

 

~At Restaurant~

 

Jong Woon membukakan pintu mobil untuk Hara, gadis itu tampak canggung diperlakukan bak seorang putri oleh namja itu.

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke arah restaurant yang akan mereka masuki. Sebuah restaurant yang menjorok ke arah Sungai Han. Romantis bukan??

Namja itu menyambut lengan Hara, dan mengajaknya masuk ke dalam. Terlihat sepi ketika mereka di dalam. Apa ini memang service khusus yang dilakukan Jong Woon untuk Hara??

Mereka kembali melangkahkan kaki lebih ke dalam sana, Hara tercengang saat melihat tempat dinner mereka yang bisa dibilang tidak biasa.

Banyak lilin-lilin kecil menghias, gemericik air dari Sungai Han dan juga sebuah piano hitam yang bertengger tepat di dekat meja mereka.

“Kau suka?”tanya Jong Woon membuyarkan segala lamunan Hara.

“Menurut oppa, apa aku harus menyukainya?”tanya Hara balik, membuat kerutan di dahi Jong Woon bertambah.

“Tentu harus suka. Kalau tidak, kau benar-benar kelewatan Hara~ya!”

Hara terkekeh, dan langsung menyambangi tempat duduknya. Matanya tak lepas menatap kearah aliran Sungai Han yang selalu membuatnya terpana. Tak peduli ini sudah ke berapa kalinya ia melihat sungai kebanggaan warga Seoul itu.

Jong Woon pun ikut mengarahkan penglihatannya ke arah pandangan yang sama dengan Hara. Namun sejurus kemudian, matanya lebih tertarik melihat ekspresi Hara yang berbinar-binar.

Mengapa Tuhan begitu baik terhadapmu? Menciptakan kau dengan segala keindahan yang ada pada dirimu?

“Oppa! Mana pesanannya? Mengapa belum datang juga?”tukas gadis itu tiba-tiba.

“Tck! Ara, aku akan memanggilkan pelayannya” Tak butuh waktu lama, pelayan itu sudah tiba dan membawakan buku menu pada mereka.

Hara terlihat kebingungan memilih, pada akhirnya ia menyuruh Jong Woon yang memesankan makanan untuknya.

“Baiklah kami pesan Steak saja!”Jong Woon menatap Hara seakan meminta jawaban dan langsung dibalas anggukan olehnya.

“Oppa pintar sekali memilih tempat ini! Neomu neomu neomu johahae”gadis itu memperlihatkan aegyo-nya, membuat Jong Woon tergelak melihatnya.

“Aku mempersiapkan semuanya dengan kerja keras, mana terima kasihmu?”

“Gomawo oppa! Untuk semuanya. . .”Hara mengukir senyuman di bibirnya, membuat Jong Woon kembali merasakan degup jantungnya yang mulai berpacu kuat. Tanpa kendali.

“Selamat menikmati”ucap pelayan restaurant itu ramah, mempersilahkan mereka untuk segera menyantapnya.

“Gansahamnida”ujar mereka hampir bersamaan.

Mereka berdua begitu sangat menikmati hidangan ala Barat itu. Tak ada sedikit pun pembicaraan di antara keduanya.

Jong Woon mendesah pelan, berusaha mencairkan suasana. Tapi gadis itu? Oh tidak.

Ia masih sibuk dengan dunianya sendiri. Jong Woon merasa ada tembok tinggi yang dibangun Hara untuknya.

“Hara~ya! Kau mau mencoba punyaku?”tawar Jong Woon saat gadis itu sedang sibuk menyantap steak sembari melihat indahnya sungai.

“Bukankah rasanya sama saja?”balas Hara. Lebih tepatnya balik bertanya pada namja itu.

“Aaa…buka mulutmu!”perintah Jong Woon, mengabaikan omongan Hara.

Hara menelan steak itu dengan keheranan yang jelas tergambar di wajahnya.

“Sudah kubilang rasanya sama saja oppa. Mengapa hari ini kau terlihat aneh?”

“Apanya yang aneh? Aku telihat biasa”ia menyudahi kegiatan makannya. Begitu pula dengan Hara.

“Oppa, mainkan sebuah lagu untukku!” Hara mengerlingkan sebelah matanya tanda memohon. Dan kalau sudah seperti itu Jong Woon tak akan bisa menolaknya.

“Baiklah. Kali ini kau sangat beruntung Hara, karna dapat mendengar suaraku”

“Yah, I’m lucky girl!”

Jemari Jong Woon mulai menari di atas tuts-tuts piano itu, ia pejamkan mata dan mulai membuka suaranya.

Oneuldo nae gieogeul ttarahemaeda
I gil kkeuteseo seoseongineun na
Dasin bol sudo eomneun niga nareul butjaba
Naneun tto I gireul mutneunda

Neol bogo sipdago
Tto ango sipdago
Jeo haneulbomyeo gidohaneun nal

Niga animyeon andwae
Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru handareul tto illyeoneul
Na apado joha
Nae mam dachyeodo joha nan
Geurae nan neo hanaman saranghanikka

Na du beon dasineun
Bonael su eopdago
Na neoreul itgo salsun eopdago

Niga animyeon andwae
Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru handareul tto illyeoneul
Na apado joha
Nae mam dachyeodo joha nan
Geurae nan neo hanaman saranghanikka

Nae meongdeun gaseumi
Neol chajaorago
Sorichyeo bureunda
Neon eodinneungeoni
Naui moksori deulliji annni
Naegeneun

Na dasi sarado
Myeot beoneul taeeonado
Harudo niga eobsi sal su eomneun na
Naega jikyeojul saram
Naega saranghal saram nan
Geurae nan neo hanamyeon chungbunhanikka

Neo hanaman saranghanikka

 

Hara terpana dibuatnya. Suara namja itu benar-benar indah, membuat jantungnya berdebar tak menentu ketika indera pendengarnya menangkap suara barithon khas Jong Woon.

Belum lagi isi dari lagu itu yang sekali lagi membuatnya tersentuh. Untuk saat ini ia benar-benar tersihir oleh permainan musik namja itu.

“Itu lagu untukmu!”ucap Jong Woon saat kembali duduk di hadapan Hara.

“Jjincayo?”gadis itu tampak salah tingkah apalagi Jong Woon menatap matanya dalam. Baru kali ini ia merasakan hal semacam itu ketika bersama Jong Woon. Sebab selama ini ia selalu bertingkah seperti biasa.

Hara melarikan pandangannya ke arah lain, tidak mau membalas tatapan Jong Woon. Ia gigit bibir bawahnya, berharap itu bisa mengurangi rasa gugup yang mendadak menghinggapinya .

“Ehhmm, Hara~ya! Aku mau bicara serius padamu!”

“Ne? Katakan saja oppa!”

Jong Woon mendenguskan nafasnya kuat. Semakin membuat Hara was-was menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut Jong Woon.

“Aku mungkin bukan orang yang pandai merangkai kata seperti namja di luar sana. Tapi saat ini aku akan mencoba sebisaku!”

“Bisakah kau mengijinkanku untuk mengenalmu lebih jauh? Ah tidak-tidak, bukan seperti itu. Maksudku, apa kau mengijinkanku untuk hadir dalam kehidupanmu? Bukan sebagai seorang sahabat, tapi lebih dari itu. Aku ingin kau mulai menatapku sebagai seorang lelaki Hara~ya!”lanjutnya lagi. Masih menatap mata Hara intens.

“Aku tau, mungkin sampai saat ini kau masih belum bisa melupakan mantan kekasihmu. Tapi aku…tidak bisa lagi menunggu kapan kau akan benar-benar lepas darinya. Bahkan kau sendiri tidak tahu kapan itu akan terjadi, benar bukan? Jadi, inilah saat yang tepat menurutku. Aku ingin kau menjadi kekasihku!”

Keterkagetan itu terlihat jelas di wajah Hara. Ia tidak menyangka kalimat ini akan meluncur dari mulut Kim Jong Woon. Ia bahkan hampir tak bisa mengambil nafas dengan benar. Rasa yang tidak terlalu dimengertinya itu menyerang begitu saja. Tidak seperti biasanya ia begitu.

Hara menarik nafas dalam-dalam, memenuhi kebutuhan paru-parunya yang terasa minim oksigen di dalamnya. Agak lama ia mengendalikan diri, ia mulai menyuarakan apa yang sejak tadi mendesak ingin keluar.

“Sebenarnya selama ini aku mengetahui isi hatimu padaku. Ji Yeon yang mengatakannya, bukan aku bermaksud untuk pura-pura tidak tahu atau mengabaikan perasaanmu, hanya saja aku masih butuh waktu untuk memastikan itu semua. Dan sekarang oppa sudah menyatakannya, semua pertanyaan yang mengganjal pikiranku sudah terjawab semua”

“Lalu?”Jong Woon menyipitkan matanya. Menunggu ucapan selanjutnya dari Hara.

“Aku akan mencobanya. Tidak, tapi aku akan berusaha untuk mencintai oppa sama seperti oppa mencintaiku. Bagaimana? Apa oppa masih menginginkan jawaban yang lain?”

“Aniyo. Itu lebih dari cukup. Mungkin aku belum bisa membuatmu bahagia saat ini, tapi aku berjanji tidak akan membuatmu mengeluarkan air mata”ucapnya tulus, matanya juga ikut memperlihatkan ketulusannya.

“Oppa sudah berada di sampingku, itu sudah bisa membuatku bahagia!!”

“Gomawo…”

“Ucapan terima kasihmu tidak kuterima. Aku yang seharusnya mengucapkan itu, kau terlalu baik padaku. Bahkan aku merasa kata itu tidak pantas lagi aku utarakan pada oppa”

Jong Woon menggenggam jemari Hara yang menganggur di atas meja, mentransfer segala rasa yang tereaksikan di dalam hatinya melalui genggaman itu.

Mata sipitnya tak sedikit pun luput dari wajah Hara. Menulusuri setiap lekuk wajah gadis yang mungkin suatu saat nanti, akan menjadi gadisnya yang bisa ia nikmati keindahan wajahnya kapan pun dia mau.

“Aku juga tidak terlalu mengharapkan ucapan itu keluar dari mulutmu. Hanya dengan tetap membiarkanku berada di sisimu, itu lebih dari sekedar pantas untuk membalas kebaikanku. Dan ketahuilah suatu hal bahwa aku mencintaimu sangat tulus, dan rasa ketulusan itulah yang ingin aku letakkan di dasar hatimu.”

Hara tak mau melewatkan momen romantis ini begitu saja. Ia ikut menggenggam tangan Jong Woon erat, mewakili semua jawaban yang ingin ia ungkapkan.

“Saranghae…”gumam Jong Woon dengan senyuman yang memeta jelas di wajahnya.

***

~At Recording Room~

 

Senyuman indah itu tak pernah pudar dari wajahnya sejak tadi. Meskipun rasa gugup dan takut juga menguasainya sekarang.

Semua orang di dalam sana sibuk mengarahkan Hara untuk melakukan recording ini. Sebab ini pertama kalinya untuk Hara, dan ini juga album pertamanya sebagai seorang penyanyi.

Ji Yeon yang juga berada di sana, merasakan aura yang sama dengan Hara. Ia jadi panik sendiri melihat sahabatnya yang terkadang menunjukkan wajah tegangnya.

Hembusan nafas kuat yang terakhir kali terdengar oleh Ji Yeon, sebelum Hara masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi tempat Hara menyanyi. Melakukan rekaman suara.

Ia angkat sebelah tangannya, bermaksud menyemangati Hara. Gadis itu juga melafalkan sesuatu yang tentu saja tak dapat terdengar oleh Hara.

Namun cukup bagi Hara untuk mengerti, ia anggukkan kepalanya dan tersenyum kemudian.

Music director itu mengacungkan jempolnya, tanda semua harus di mulai. Hara menganggukkan kepalanya. Lagi.

Alunan musik indah itu perlahan mengalun, memenuhi ruangan yang tidak terlalu besar itu.  Hara memejamkan matanya  perlahan, dari ekspresinya terlihat bahwa ia begitu menikmati permainan musik yang terdengar.

Suara lembut Hara mulai terdengar, dengan penuh perasaan ia ungkapkan segala perasaan hatinya melalui lagu itu.

I’ll forget you. Lagu yang ia ciptakan selagi waktu senggangnya, jelas lagu ini ia tujukan untuk Lee Joon. Mantan pacarnya.

Sebuah pengharapan yang ia susun menjadi beberapa alenia dan membentuk sebuah lagu yang indah.

Belum lagi bait dari lagu itu yang benar-benar menyentuh dan bisa dipastikan para pendengar juga ikut merasakan kedalaman makna yang terkandung di dalamnya.

Saking menghayati lagu yang ia bawakan, tanpa di sadari setetes air mata lolos dari kelopak matanya.

Dengan segala upaya, ia tahan air mata itu agar tidak berubah menjadi isakan. Sebab kalau itu sampai terjadi, bisa dipastikan proses recording ini akan hancur karna ulahnya sendiri.

“Geureol geomnida, ijeul geomnida nado geureul geomnida” Musik berhenti mengalun. Selesai. Lagu yang ia bawakan terdengar sempurna dan sangat indah.

Suara riuh tepuk tangan menggema di ruangan yang mereka tempati. Hara keluar dari ruangannya, dan bernafas lega.

Ji Yeon langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan, Hara membalasnya dengan sukacita.

“Aku berhasil Ji Yeon~ah!”teriak Hara cukup histeris, kedua gadis itu heboh sendiri tanpa memperdulikan sekitarnya.

“Kau yang terbaik”sahut Ji Yeon penuh semangat.

“Kau melakukannya dengan baik Hara~ya!”ucap Lee Sajangnim tersenyum ke arah Hara yang tentu saja gembira bukan main mendengarnya.

“Gansahamnida Sajangnim. Kau juga sudah bekerja keras. Gansahamnida” ia tundukkan kepalanya berkali-kali. Tanda terima kasihnya.

“Sudahlah tidak perlu seperti itu. Hari ini sampai disini dulu dan besok kita akan melakukan rekaman lagi”jelas Tuan Lee yang langsung dapat dimengerti oleh Hara. Gadis itu mengangguk semangat.

“Kalau begitu aku pergi…”semua orang pergi dari ruangan recording, kecuali dua sahabat itu yang masih ingin melepaskan rasa kebahagiaan mereka dengan berpelukan.

Drtdrdt~

Ponsel Hara bergetar. Dengan cekatan ia merogoh saku coat-nya dan mengambil ponselnya.

Ada sms dari Jong Woon oppa. Nama itu jelas terpampang di layar LCD I-phonenya. Seketika senyum itu mengembang dan jarinya dengan lancar bermain di atas layar.

From: Jong Woon oppa

Apa rekaman mu sudah selesai?? Maaf, tidak bisa menemanimu.

Mau kujemput??

To: Jong Woon opa

Asal tidak merepotkanmu oppa saja..

Ia menekan tombol send cepat. Tak berlangsung lama sudah ada balasan dari namja itu.

From: Jong Woon oppa

Baiklah. Tunggu aku disana, dalam 10 menit aku akan sampai disana.

Tidak. 5 menit pun aku bisa J

To: Jong Woon oppa

Kalau 5 menit oppa tidak ada disini. Oppa akan habis di tanganku!!

 

From: Jong Woon oppa

Dasar gadis jahat!!

Tawanya meledak begitu saja saat membaca pesan singkat itu. Jelas hal itu membuat Ji Yeon terheran melihat Hara, ia menghampiri Hara yang masih tertawa tanpa alasan yang jelas menurut Ji Yeon.

Ji Yeon memanjangkan lehernya, berusaha mengetahui apa penyebab Hara tiba-tiba tertawa seperti itu. Namun aksinya tidak berhasil, karna Hara cepat-cepat menyembunyikan ponselnya.

“Ada apa denganmu hah? Kenapa tiba-tiba tertawa? Dan mengapa juga kau tidak memperbolehkanku melihat apa yang sebenarnya kau tertawakan?”tanya Ji Yeon bertubi-tubi, namun yang ditanya malah acuh dan melenggang pergi.

Ji Yeon mendengus sebal, mengepalkan tangannya kuat. Aura menakutkan menguar begitu saja darinya.

“Jika dia bukan sahabatku. Sudah kuhabisi dia”ujarnya berapi-api. Namun itu tak sungguhan, karna Ji Yeon mengenal Hara dari kecil. Gadis itu suka sekali mengacuhkan orang yang berbicara dengannya. Dan kebiasaannya itu belum juga hilang, ketika ia beranjak dewasa.

“Ji Yeon~ah! Kau mau pulang atau tidak?”seru Hara dari kejauhan. Ji Yeon menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan menghampiri Hara yang tampaknya sudah lumayan jauh dari tempatnya sekarang.

***

“Hai”sapa Jong Woon ketika Hara mulai terlihat batang hidungnya.

Hara melirik jam tangannya. Lalu memandang Jong Woon dengan tatapan kagum. Sementara Jong Woon tersenyum penuh kemenangan.

Ia benar-benar menepati ucapannya. Yang membuat Hara kagum bukan karna Jong Woon menepatinya. Namun lebih ke bagaimana ia bisa kemari dalam waktu 5 menit bahkan jarak dari kantornya ke sini bukanlah suatu jarak yang bisa ditempuh dengan waktu sesingkat itu.

Gadis itu berjalan mendekati Jong Woon, yang tengah bersandar pada mobil mewahnya.

“Mengapa menatapku seperti itu?”tanya Jong Woon yang tidak mengerti arti tatapan Hara.

“Masih berlagak polos! Jelas-jelas kau sudah ada disini, sebelum kau mengirimkanku sms. Iya kan?”tebak Hara yang membuat namja itu tergelak melihat ekspresi sebal Hara yang kentara.

“Baiklah aku mengaku. Sudah, jangan perlihatkan wajah sebalmu itu. Merusak penglihatanku tau!” Hara hendak melayangkan tinjunya. Namun gerakannya terhenti di udara dan langsung mengecup pipi Jong Woon kilat.

“Sekarang bukan hanya penglihatanmu yang rusak. Tapi wajahmu juga akan ikut rusak oppa!” Jong Woon memencet hidung gadis itu, menyebabkan hidung Hara memerah karna perlakuan itu.

“Rasakan itu Kim Hara!” Hara mengelus hidungnya yang merah dan meringis kesakitan.

“Kalian?”Ji Yeon terkejut mendapati Hara yang sedang bercanda dengan Jong Woon. Dan yang dipergoki hanya menyengir lebar ke arah Ji Yeon.

“Apa yang kalian lakukan disini?”tanya Ji Yeon skeptis.

“Bukan melakukan hal-hal yang aneh”jawab Hara enteng yang ditanggapi dengusan oleh sahabatnya.

“Apa aku melewatkan sesuatu di antara kalian?”goda Ji Yeon sembari menggoyang-goyangkan tubuh Hara. Keduanya langsung diam, tidak tahu harus menjawab apa.

“Oh, baiklah! Aku tidak akan mengganggu momen kalian saat ini. Karna aku tidak mau menjadi obat nyamuk lagi yang hanya bisa mendengar ocehan kalian berdua. Aku pergi…”secepat kilat Ji Yeon melesat pergi, meninggalkan dua insan itu di sana.

“Kim Hara! Kau berhutang cerita padaku…”jerit Ji Yeon, menunjukkan senyuman jahilnya dan kembali melanjutkan langkahnya lagi.

Jong Woon tertawa sejenak, detik berikutnya ia membuka pintu mobilnya. Mempersilahkan Hara masuk ke dalamnya.

“Masuklah”perintah namja itu dengan senyuman semanis mungkin. Hara pun mengikuti perintah Jong Woon, masuk kedalam mobil dan duduk di bangku depan.

Hara hendak memakai seat belt-nya, sedikit merasa kesusahan. Tangan Jong Woon mau tak mau harus membantunya dan akhirnya berhasil.

Detak jantung keduanya mulai berdegup kencang. Apalagi dengan jarak wajah mereka yang sedekat ini.

Bisa Hara rasakan hembusan nafas Jong Woon yang hangat menerpa tengkuknya. Keadaan ini sungguh ingin membunuhnya.

Aroma tubuh khas namja itu pun menguar begitu saja, memenuhi rongga hidungnya. Membuat paru-parunya harus bekerja dua kali lebih keras dari sebelumnya. Karna oksigen yang tersisa di dalam serasa menipis, dan saat ini ia membutuhkan udara berlebih agar paru-parunya kembali normal.

Mata mereka saling bertatapan, bertemu di satu titik. Sedikit pun keduanya tidak mengedipkan matanya sama sekali. Lama mereka beradu pandang pada akhirnya Jong Woon lah yang mengalah.

Karna tak mau kehabisan akal, ia memundurkan wajahnya. Kembali berkonsentrasi untuk menyetir dan ia mulai mengemudikan mobilnya pergi dengan otomatis.

***

“Tidak mau mampir dulu?”tanya Hara basa-basi pada Jong Woon saat mereka sudah ada di pelataran parkir apartment Hara. Sudah setahun ini ia lebih memilih untuk membeli sebuah apartment, dengan alasan ia ingin hidup mandiri. Tapi bukan Hara namanya kalau ia tidak merepotkan ibunya, membawakan makanan dan membersihkan rumah kalau ibunya berkesempatan kesana.

“Mungkin lain kali! Aku ingin kau istirahat lebih awal, besok adalah hari yang melelahkan bagimu”

Hara tersenyum sejenak, lalu keluar dari mobil Jong Woon. Ia berdiri di dekat mobil Jong Woon dengan tangan yang bersedekap di dadanya.

“Masuklah. Cuaca sudah semakin dingin!”

Gadis itu menggelengkan kepalanya. Dan masih tetap tak bergeming dari posisinya.

“Oppa dulu yang pergi, aku ingin melambaikan tanganku saat mobil oppa sudah menjauh!”ujarnya kemudian. Memperlihatkan lagi sisi kekanakannya.

“Arasseo…setelah itu kau harus langsung masuk. Jangan berkeliaran tengah malam! Dan langsung tidur, aku tidak mau kau jatuh sakit!” kata Jong Woon memperingatkan. Wajahnya terlihat serius sekaligus tulus.

“Cih! Oppa bersikap seakan aku ini istrimu saja!”canda gadis itu sambil mendenguskan nafasnya.

“Itu akan terjadi sebentar lagi!”

“Baiklah aku pergi…selamat malam”

Hara melambaikan tangannya dengan sumringah. Sampai pada akhirnya mobil hitam Jong Woon benar-benar sudah tak telihat lagi.

 

***

Two Years Later

~At Waiting Room~

 

Hara memperhatikan wajahnya yang terpantul di cermin. Menghapus setitik demi setitik peluh yang membasuh di sekitar wajahnya.

Dengan gerakan pelan, ia memiringkan lehernya yang teras nyeri. Jadwal manggung yang mencekik leher, membuat sekujur tubuhnya akan terasa sakit-sakit setelah selesai perform.

Belum lagi acara-acara off air yang harus ia hadiri. Belakangan ini banyak sekali tawaran yang datang, untuk meminta Hara menjadi bintang tamu.

Faktanya gadis ini sedang menjadi Idola warga Korea sekarang. Sebagai seorang penyanyi berbakat dengan berbagai keahlian lain yang ia miliki.

Dalam waktu yang singkat, namanya sudah melejit ke seluruh penjuru Korea Selatan. Siapa yang tak mengenal Hara? Penyanyi dengan suara malaikatnya yang begitu indah di dengar.

Beberapa menit sebelum ini,  bahkan ia baru menyudahi konser tunggalnya yang bertajuk ‘Angel Hara Concert’. Acaranya berlangsung sukses yang ditonton ribuan orang yang selalu setia melihatnya diatas panggung.

Penampilannya di atas panggung selalu terlihat mempesona. Dan membius ribuan pasang mata yang memandangnya. Kemungkinan eksistensi gadis itu akan berlangsung lama, mengingat banyaknya penggemar yang semakin mengidolakannya.

Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki seseorang yang masuk ke ruangannya saat ini. Tanpa menoleh, ia sudah tahu yang seseorang kini mulai menghampirinya itu. Karna siluet tubuhnya terpantul di cermin yang ada dihadapannya.

Tangan namja itu melingkar di sekitar leher Hara. Namun gadis itu terlihat acuh akan kedatangannya. Kim Jong Woon.

“Kau mulai lagi dengan tatapan membunuhmu itu hah?” Jong Woon mengecup singkat pipi gadis itu lalu membebaskan tubuh gadisnya. Tak tertangkap ekspresi apa pun dari wajah Hara, ia hanya memandang kosong cermin di depannya.

Melihat tatapan mata itu semakin tajam ke arahnya, walaupun tidak secara langsung membuat nyali Jong Woon sedikit menciut. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menghampiri tempat gadis itu.

“Baiklah, aku mengaku salah kali ini. Aku terlambat datang dan hampir tidak menyaksikan penampilan terakhirmu. Tapi setidaknya aku datang kan, kurasa ini lebih baik dari kemarin”

Penjelasan Jong Woon belum juga merubah raut wajah Hara, ia masih bungkam seribu bahasa. Tidak berniat membalas omongan Jong Woon yang jelas-jelas merasa bersalah karna keterlambatannya.

Hara bangkit dari kursinya, menghindari namja yang membuatnya kesal setengah mati. Jong Woon dengan cepat menangkap lengan Hara. Gadis itu sudah berusaha melepaskannya, namun genggaman tangan Jong Woon sudah tak ingin melepasnya lagi.

“Hara~ya! Jebal, jangan seperti ini!” pinta Jong Woon dengan suara melemah.

~TO BE CONTINUE~

HAI….

Part 3 nya dataaaang *ngerusuh*

Sepertinya sebentar lagi bakal ending deh, tapi aku gak tau kapan? Hahaha #evilaugh

Kasian juga ini melihat yeobo-ku menderita cuma gara2 ngejer cewek kayak aku #PD

Udah ah, daripada kebanyakan bacot mendingan aku pamit aja…

Don’t forget to RCL yaaah, kritik dan saran aku tunggu demi kemajuan dan juga kelancaran ff ini *cie…cie*

Tapi kalian udah baca ajah aku udah terima kasih bgt kok J

Thanks to admin yang mau ngepost ff abal ini, and thanks to readers yang bersedia membaca+comment di ff aku…

See you next time!!

Gansahamnida #Bow

3 Comments (+add yours?)

  1. septyhafidz
    Aug 21, 2012 @ 19:58:30

    keren banget thor,tp part selanjutx jangan lama2 ya!

    Reply

  2. ondobu
    Aug 21, 2012 @ 22:57:34

    akhirnya bisa baca juga yang part3.
    di tunggu lanjutannya thor 🙂

    Reply

  3. feb
    Aug 24, 2012 @ 01:39:58

    ternyata hara bisa nerima jong woon,

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: